Anda di halaman 1dari 31

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 1

BAB I ...................................................................................................................... 3

PENDAHULUAN .................................................................................................. 3

1.1 LATAR BELAKANG .................................................................................. 3

1.2 RUMUSAN MASALAH ............................................................................. 4

1.3 TUJUAN PENULISAN ............................................................................... 4

1.4 MANFAAT PENULISAN ........................................................................... 4

BAB II ..................................................................................................................... 5

PEMBAHASAN ..................................................................................................... 5

2.1 PENGERTIAN RUANG PERSONAL ......................................................... 5

2.2 MANFAAT DAN TUJUAN RUANG PERSONAL .................................... 7

2.3 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPERNGARUHI RUANG PERSONAL 8

2.4 JENIS-JENIS RUANG PERSONAL.......................................................... 10

2.5 RUANG PERSONAL DAN DESAIN ARSITEKTUR .............................. 11

2.6 PENGERTIAN PRIVASI ........................................................................... 12

2.7 JENIS PRIVASI .......................................................................................... 15

2.8 TUJUAN DAN MANFAAT PRIVASI ..................................................... 16

2.9 FAKTOR-FAKTOR PENGARUH PRIVASI ........................................... 17

BAB III ................................................................................................................. 19

STUDI KASUS PERSONAL SPACE DAN PRIVASI ....................................... 19


3.1 IDENTITAS OBJEK STUDI..................................................................... 19

4.1 RUANG PERSONAL PADA LIPPO MALL, KUTA ............................... 20

4.2 FAKTOR PENGARUH RUANG PERSONAL PADA LIPPO MALL,


KUTA................................................................................................................ 24

4.3. PENGARUH RUANG PERSONAL TERHADAP DESAIN


ARSITEKTUR LIPPO MALL, KUTA ............................................................ 27

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 31


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Ruang merupakan elemen yang sangat penting dalam arsitektur. Secara
harfiah, ruang (space) berasal dari bahasa Latin, yaitu spatium yang berarti
ruangan atau luas (extent). Jika dilihat dalam bahasa Yunani dapat diartikan
sebagai tempat (topos) atau lokasi (choros) yaitu ruang yang memiliki ekspresi
kualitas tiga dimensi. Menurut Aristoteles, ruang adalah suatu yang terukur dan
terlihat, dibatasi oleh kejelasan fisik, enclosure yang terlihat sehingga dapat
dipahami keberadaanya dengan jelas dan mudah. Dalam arsitektur, ruang terbagi
menjadi ruang publik dan ruang personal. Ruang publik ruang terbuka yang
memungkinkan terjadinya pertemuan antar manusia untuk saling berinteraksi.
Karena pada ruang ini seringkali timbul berbagai kegiatan bersama, maka ruang-
ruang terbuka ini dikategorikan sebagai ruang umum. Sedangkan ruang personal
sendiri lebih bersifast tertutup dimana civitas yang ada didalamnya dapat memiliki
privasi.
Perngertian secara harfiah dari Ruang personal merupakan bagian dari
individu begitu juga privasi, setiap individu manusia pasti memiliki ruang
personal dan privasi yang berbeda. Perbedaan ruang personal dan privasi ini
dipengaruhi beberapa faktor seperti, faktor budaya, tipe kepribadian,umur ,dan
jenis kelamin. Setiap individu pasti menginginkan interaksi yang nyaman dimana
itu dipengaruhi oleh ruang personal dan privasi itu sendiri. Ruang personal dan
privasi ini masih bersifat subjektif yang keakuratan datanya masih subjektif juga.
Dengan kata lain hubungan dengan arsitektur ialah khususnya bagi arsitek
yang mendesain dan merencananakan suatu bangunan bisa mengasah kepekaan
yang dipengaruhi oleh ruang personal dan privasi itu sendiri.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dalam penulisan ini akan
diuraikan beberapa rumusan masalah yang nantinya dapat dijadikan pedoman
dalam penulisan, sehingga permasalahan itu terfokus. Adapun rumusan
masalahnya adalah :
1. Pengertian ruang personal dan privasi ?
2. Faktor apa saja yang mempengaruhi ruang personal dan privasi ?
3. Apa pengaruh ruang personal pada desain ?

1.3 TUJUAN PENULISAN


Adapun tujuan pelaporan dan penulisan makalah dari hasil observasi objek ini
yaitu,
1. Mengetahui pengertian ruang personal dan privasi.
2. Mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi ruang personal dan privasi
3. Mengetahui pengaruh ruang personal pada desain

1.4 MANFAAT PENULISAN


Adapun manfaat yang dikemukakan dalam penulisan ini yaitu :
1. Sebagai dasar untuk menanamkan dan memberikan pemahamanruang
personal dan privasi.
2. Dapat dijadikan acuan sebagai sumber bacaan, khususnya mahasiswa
arsitektur.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN RUANG PERSONAL


Istilah personal space pertama kali digunakan oleh katz pada tahun 1973
dan bukan merupakan sesuatu yang unik dalam istilah psikologi, karna istilah ini
juga dipakai dalam bidang biologi, antropologi dan arsitektur.
a. Ruang personal adalah batas-batas yang tidak jelas antara seseorang
dengan orang lain.
b. Ruang personal sesungguhnya berdekatan dengan diri sendiri.
c. Pengaturan ruang personal merupakan proses dinamis yang
memungkinkan diri kita keluar darinya sebagai suatu perubahan situasi.
d. Ketika seseorang melanggar ruang personal orang lain, maka dapat
berakibat kecemasan, stres, dan bahkan perkelahian.
e. Ruang personal berhubungan secara langsung dengan jarak-jarak antar
manusia, walaupun ada tiga orientasi dari orang lain: berhadapan, saling
membelakangi, dan searah.
Beberapa pengertian ruang personal menurut penelitian para ahli :
- Robert Sommer (1969) mendefinisikan ruang personal sebagai suatu area
dengan batas maya yang mengelilingi diri seseorang dan orang lain tidak
diperkenankan masuk ke dalamnya. Ruang personal juga dikatakan
sebagai teritori portabel yang dapat berpindah-pindah. Teritori adalah
tempat yang pintu masuknnya terkontrol.
- Edward Hall (1963) berpendapat bahwa ruang personal adalah suatu jarak
berkomunikasi, dimana jarak antar individu ini adalah juga jarak
berkomunikasi. Dalam pengendalian terhadap gangguan-gangguan yang
ada, manusia mengatur jarak personalnya dengan pihak lain.
Jadi, ruang personal ibarat balon atau tabung sebuah balon yang menyelubungi
kita membatasi orang lain dan tabung tersebut dapat membesar maupun mengecil
tergantung dengan siapa kita berhadapan.

Gambar 2.1 Ruang personal setiap Gambar 2.2 gangguang ruang personal binatang
individu. Sumber ( Wilson, 1984) terhadap manusia.Sumber ( Wilson, 1984)
Gambar 2.3 interaksi burung terhadap ruang personal manusia
Sumber : google.com

Sama seperti manusia, binatang juga dapat membatasi ruang personal yang
mereka miliki terhadap yang lainnya. Namun, lain halnya dengan binatang yang
melakukan reaksi terhadap sesuatu yang dirasa menggangunya berdasarkan naluri
(instinct), manusia melakukan reaksi berdasarkan rasio atau pemikiran dalam
mengontrol prilakunya.

2.2 MANFAAT DAN TUJUAN RUANG PERSONAL


Pengetahuan akan ruang personal dapat melengkapi informasi bagi
seseorang arsitek agar lebih peka terhadap kebutuhan ruang para pemakai ruang.
Beberapa manfaat ruang personal khususnya bagi arsitek seperti :
- Arsitek dapat dengan mudah menentukan jarak antar individu
- Arsitek dapat mengambil keputusan untuk menentukan ruang apa saja
yang dibutuhkan.
- Membantu menentukan jenis ruang, karena setiap individu memiliki sifat
yang berbeda-beda.
Tujuan mengetahui ruang personal ini yaitu untuk membantuk nantinya
para arsitek dalam menentukan pemograman ruang, organisasi ruang, ukuran
ruang dan jenis ruang.

2.3 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPERNGARUHI RUANG PERSONAL


Faktor yang memperngaruhi besarnya ruang personal antara lain
1. Jenis kelamin
Heska dan Nelson (1972) mengatakan bahwa salah satu penentu
perbedaan yang bergantung pada diri individu itu sendiri adalah jenis
kelamin. Wanita ataupun pria sama-sama membuat jarak dengan lawan
bicara. Semakin akrab hubungannya dengan lawan bicaranya maka
semakin kecil jarak ruang personalnya.
Gifford (1982), pada pria keakraban sesama jenis tidak
berpengaruh pada ruang personalnya. Pada umumnya, hubungan pria
dengan pria mempunyai jarak ruang personal yang terbesar, diikuti
hubungan antara wanita dan wanita, dengan ruang personal terbesar adalah
antara lawan jenis. Altman (1975) mengemukakan bahwa salah satu
kemungkinan perbedaan besarnya ruang personal dalam kaitan dengan
jenis kelamin ini lebih disebabkan oleh perbedaan dalam sosialisai antara
pria dan wanita daripada karena perbedaan biologis.
2. Umur
Pada umumya, semakin bertambah umur seseorang, semakin besar
jarak ruang personal yang akan dikenakannya pada orang-orang tertentu
(Hayduk,1983). Ruang personal pertama kali akan muncul pada usia
remaja. Usia 12 tahun merupakan usia yang menyerurapi ruang personal
orang dewasa.
3. Tipe kepribadian
Tipe kepribadian berpengaruh pada ruang personal, orang dengan
kepribadian eksternal (merasa bahwa segala sesuatu lebih ditentukan oleh
hal di luar dirinya.) memerlukan ruang personal lebih dibandingkan
dengan orang bertipe internal ( merasa bahwa segala sesuatu ditentukan
oleh hal di dalam dirinya). Orang dengan kepribadian introver (tidak
mudah berteman dan pemalu) memerlukan ruang personal lebih besar.
Sedangkan ekstrover ( orang yang budah berteman ) memerlukan ruang
personal lebih kecil.
4. Latar Belakang Budaya
Latar belakang suku bangsa dan kebudayaan seseorang juga
mempengaruhi besarnya ruang personal seseorang. Seperti orang bali
memiliki ruang personal yang lebih besar karena budaya setempat.
5. Rasa Aman/Ketakutan
Kita tidak keberatan berdekatan dengan seseorang jika merasa
aman dan sebaliknya. Kadang ketakutan tersebut berasal dari stigma yang
salah pada pihak-pihak tertentu, misalnya kitas ering kali menjauh ketika
berpapasan dengan orang cacat, atau orang yang terbelakang mental atau
bahkan orang gemuk. Mungkin rasa tidak nyaman tersebut muncul karena
faktor ketidak biasaan dana dan ada sesuatu yang berbeda.
6. JarakSosial
Sesuai dengan teori jarak sosial Edward Hall (1966) yang
membedakan empat macam jarak yang menggambarkan macam-macam
hubungan, seperti jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, jarak publik.
7. Trauma
Pengalaman yang tidak mengenakkan dapat mempengaruhi ruang
personal seseorang.
8. Gangguan Psikologi atau Kekerasan
Orang yang mempunyai masalah kejiwaan punya aturan sendiri
tentang RP ini. Sebuah penelitian pada pengidap skizoprenia
memperlihatkan bahwa kadang-kadang mereka membuat jarak yang besar
dengan orang lain, tetapi di saat lain justru menjadi sangat dekat
9. Kondisi Kecacatan
Beberapa penelitian memperlihatkan adanya hubungan antara
kondisi kecatatan dengan RP yang diterapkan. Beberapa anak autis
memilih jarak lebih dekat ke orang tuanya, sedangkan anak-anak dengan
tipe autis tidak aktif, anak hiperaktif dan terbelakang mental memilih
untuk menjaga jarak dengan orang dewasa.
10. Persaingan/Kerjasama
Pada situasi berkompetisi, orang cenderung mengambil posisi
saling berhadapan, sedangkan pada kondisi bekerjasama kita cenderung
mengambil posisi saling bersisian. Tapi bisa juga sebaliknya, sepasang
kekasih akan duduk berhadapan di ketika makan di restoran yang
romantis,sedangkan dua orang pria yang duduk berdampingan di meja bar
justru dalam kondisi saling bersaing mendapatkan perhatian seorang
wanita yang baru masuk.
11.Kekuasaan dan Status
Makin besar perbedaan status makin besar pula jarak antar personalnya.
12.Pengaruh Lingkungan Fisik
Ruang personal juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik. Di
ruang dengan cahaya redup orang akan nyaman jika posisinya lebih
berdekatan, demikian halnya bila ruangannya sempit atau kecil. Orang
juga cenderung memilih duduk di bagian sudut daripada di tengah
ruangan.

2.4 JENIS-JENIS RUANG PERSONAL


Gifford dan Price (1979) mengusulkan adanya 2 jenis ruang personal,
yaitu ruang personal alfa dan ruang personal beta.
1. Ruang Personal Alfa
Ruang personal alfa menurt Gifford dan Price merupakan jarak
objektif yang terukur antara individu yang berinteraksi dan ruang
personal beta sebagai suatu pengalaman subjektif dalam proses
mengambil jarak.

2. Ruang Personal Beta


Ruang personal beta menurut Gifford dan Price merupakan
kepekaan seseorang terhadap jarak dalam bersosialisasi. Menurut
penelitian Gifford dan Price, jarak ruang personal beta ini 24% lebih
besar dari pada ruang personal alfa.

 Beberapa Jarak Ruang Personal


Edward Hall (1963) membagi jarak-jarak ruang personal dalam
empat jenis yaitu :
1. Jarak intim, fase dekat ( 0.00-0.15m) dan fase jauh (0.15-0.50m)
2. Jarak personal, fase dekat (0.50-0.75m) dan fase jauh (0.75-
1.20m)
3. Jarak sosial, fase dekat (1.20-2.10m) dan fase jauh (2.10-3.60m)
4. Jarak publik, fase dekat (3.60-7.50m) dan fase jauh ( >7.50m)

2.5 RUANG PERSONAL DAN DESAIN ARSITEKTUR


Ruang personal dimiliki oleh setiap orang. Dengan kata lain, ruang
personal ini merupakan bagian dari kemanusiaan seseorang. Berbagai rumusan
menjelaskan kurangnya ruang personal berarti kurangnya jarak interpersonal. Hal
ini dapat mengakibatkan rasa tidak nyaman, rasa tidak aman, stress, adanya
ketidakseimbangan, komunikasi yang buruk, den segala kendala pada rasa
kebebasan. Jadi, ruang personal berperan dalam menentukan kualitas hubungan
seorang individu dengan individu lainnya.
Pengetahuan akan ruang personal dapat melengkapi informasi bagi
seorang arsitek agar lebih peka terhadap kebutuhan ruang para pemakai ruang.
Terhadap sejumlah penelitian yang memusatkan pengamatannya pada peran ruang
personal dalam lingkungan dan kebanyakan mencakup pengamatan pada tatanan
perabot, terutama di ruang-ruang public, seperti perpustakaan, bandara, sekolah,
dan perkantoran.
Peran suatu ruang personal terhadap desain arsitektur dapat dibagi menjadi
dua, sebagai berikut:

a. Ruang Sosiopetal (Sociopetal)


Istilah sosiopetal merujuk pada suatu tatanan desain arsitektur yang
mampu memfasilitasi interaksi sosial. Tatanan sosiopetal yang paling
umum adalah meja makan, tempat anggota keluarga berkumpul
mengelilingi meja makan dan saling berhadapan satu sama lain.
Selain tata perabot, pembentukan ruang pun akan sangat berperan
dalam keberhasilan dalam keberhasilan membentuk ruang sosiopetal.
b. Ruang Sosiofugal (Sosiofugal)
Istilah sosiofungal merujuk pada suatu tatanan desain arsitektur
yang mampu mengurangi interaksi sosial. Tatanan sosiofugal biasanya
sering ditemukan pada ruang tunggu. Misalnya pada ruang tunggu stasiun
kereta api atau bandara tempat para pengunjung duduk saling
membelakangi.

2.6 PENGERTIAN PRIVASI


Privasi adalah keinginan atau kecenderungan pada diri seseorang untuk
tidak diganggu kesendiriannya, dorongan untuk melindungi ego seseorang dari
gangguan yang tidak dikehendakinya.
o Amos (1977) mengemukakan bahwa privasi adalah kemampuan seseorang
atau sekelompok orang untuk mengendalikan interaksi mereka dengan
orang lain baik secara visual, audio, maupun olfaktori untuk mendapatkan
apa yang diinginkannya. Dari pendapat yang dikemukakan oleh Amos
dapat disimpulkan bahwa ruang privasi interaksi seseorang maupun
sekelompok orang dapat dikendalikan langsung untuk memproteksi diri
dari orang lain dan untuk mendapatkan keinginan yang dingiinkan.
o Irwin Altman (1975) seorang tokoh psikolog lingkungan mengemukakan
bahwa privasi sebagai control selektif dari akses pada diri sendiri ataupun
kelompok. Dapat diartikan inti dari privasi adalah adanya manajemen
informasi dan manajemen interaksi sosial sehingga akses pada dirinya
sendiri dapat diartikan informasi mengenai dirinya sendiri ataupun berarti
interaksi sosial dengan dirinya.
o Rapoport (dalam Soesilo, 1988) mendefinisikan privasi sebagai suatu
kemampuan untuk mengontrol interaksi, kemampuan untuk memperoleh
pilihan-pilihan dan kemampuan untuk mencapai interaksi yang diinginkan.
Privasi jangan dipandang hanya sebagai penarikan diri seseorang secara
fisik terhadap pihak-pihak lain dalam rangka menyepi saja.
o Marshall (dalam Wrightman & Deaux, 1981) dan ahli-ahli lain
(seperti Bates, 1964; Kira, 1966 dalam Altman, 1975) mengatakan
bahwa privasi menunjukkan adanya pilihan untuk menghindarkan diri dari
keterlibatan dengan orang lain dan lingkungan sosialnya. Sedangkan
menurut Altman (1975) privasi adalah proses pengontrolan yang selektif
terhadap akses kepada diri sendiri dan akses kepada orang lain.
Gambar: Privasi untuk diri sendiri
Sumber : google.com
2.7 JENIS PRIVASI
Menurut Holand (1982) jenis-jenis privasi dibedakan menjadi enam jenis
privasi yang dibagi menjadi dua golongan.
a. Golongan pertama adalah keinginan untuk tidak diganggu secara fisik.
Golongan ini terwujud pada tingkah laku menarik diri.
 Keinginan menyendiri (solitude). Privasi dapat diperoleh karena
dibatasi oleh elemen tertentu sehingga bebas melakukan apa saja dan
bebas dari perhatian orang lain.
 Keinginan menjauh (seclusion) dari pandangan dan gangguan suara
tetangga atau kebisingan lalulintas.
 Keinginan untuk dekat dengan orang-orang (intimacy). Misalnya,
dengan keluarga atau orang tartentu saja seperti kekasih, tetapi jauh
dari semua orang lainnya. Privasi dibangun bukan dari lingkungan,
tetapi terbangun ditengah kegiatan.
b. Golongan kedua adalah keinginan untuk menjaga kerahasiaan diri sendiri
yang terwujud dalam tingkah laku hanya memberi informasi yang perlu
(controlofinformation), yaitu:
 Keinginan merahasiakan diri sendiri (anonimity). Privasi yang
diperoleh ketika berada di antara sesama, di daerah orang lain
sehingga seorang bebas berprilaku berbeda dengan yang biasa
dilakukannya, tapi tidak ingin diketahui identitasnya. Misalnya,
seperti presiden yang berkamuflase dengan pakaian penduduk dan
melihat langsung bagaimana keadaan rakyat sesungguhnya berjalan.
 Keinginan untuk tidak mengungkapkan diri terlalu banyak kepada
orang lain (reserve). Privasi ketika seseorang dapat mengontrol
sepenuhnya kondisi bahwa ia tidak dapat diganggu dan ia yakin dan
merasa aman karena sudah memiliki barrierpsikologis terhadap
adanya gangguan.
 Keinginan untuk tidak terlibat dengan tentangga (notneighboring).
Suatu privasi seseorang yang tidak suka kehidupan bertetangga.

2.8 TUJUAN DAN MANFAAT PRIVASI


1. Tujuan Privasi
Privasi adalah kehendak untuk mengontrol akses fisik maupun informasi
terhadap diri sendiri dari pihak orang lain. Semntara itu, ruang personal adalah
perwujudan privasi itu dalam bentuk ruang. Dengan demikian, privasi juga
mempunyai fungsi dan merupakan bagian dari komunikasi. Didefinisikan bahwa
privasi mempunyai tujuan sebagai berikut:
a. Memberikan perasaan berdiri sendiri, mengembangkan identitas pribadi.
Privasi merupakan bagian penting dari ego seseorang atau identitas diri.
Solitude dan intimacykhususnya dapat digunakan seseorang untuk
mengevaluasi diri, merenung bagaimana hidupnya telah berjalan,
bagaimana hubungan dengan sesamanya, dan apa yang harus dilakukan.
b. Memberi kesempatan untuk melepas emosi.
Dalam kesendirian seseorang dapat berteriak sekeras-kerasnya,
,menangis, memandangi wajahnya sendiri di cermin, dan berbicara dengan
dirinya sendiri. Masyarakan bisa membuat seseorang mampu menahan
emosinya sehingga tidak meledakannya di depan umum, kecuali dalam
peristiwa tertentu seperti kematian.
c. Membantu mengevaluasi diri, menilai diri.
Kurangnya control terhadap lingkungan fisik ataupun sosial
menimbulkan rasa kurangnya rasa berhak dan kemandirian diri seseorang.
Apabila seseorang berada di suatu lingkungan baru yang lebih privat, ia
akan merasa memiliki control yang lebih besar atas kehidupannya.
d. Membatasi dan melindungi diri sendiri dari komunikasi dengan orang lain.
Salah satu alasan seseorang mencari privasi adalah membatasi dan
melindungi percakapan yang dibuatnya. Banyak hal yang ingin
disampaikan akan tertahan apabila tempat untuk membicarakannya belum
memenuhi privasi yang diinginkan.
2. Manfaat Privasi
Altman (1975) menjabarkan beberapa manfaat privasi :
a. Manfaat pertama privasi adalah pengatur dan pengontrol interaksi
interpersonal yang berarti sejauh mana hubungan dengan orang lain
diinginkan, kapan waktunya menyendiri dan kapan waktunya
bersama-sama dengan orang lain.
b. Manfaat kedua privasi adalah merencanakan dan membuat strategi
untuk berhubungan dengan orang lain, yang meliputi keintiman /
jarak dalam berhubungan dengan orang lain.
c. Manfaat ketiga privasi adalah memperjelas identitas diri.
d.

2.9 FAKTOR-FAKTOR PENGARUH PRIVASI


1. Faktor Personal
Marshall mengatakan bahwa perbedaan dalam latar belakang
pribadi akan berhubungan dengan kebutuhan akan privasi. Dalam
penelitiannya bahwa anak-anak yang tumbuh dalam suasana rumah yang
sesak akan lebih memilih keadaan yang anonym dan reserve saat ia
dewasa. Sedangkan orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya di
kota akan lebih memilih keadaan anonym dan intimacy. Selain itu Walden
dkk menemukan adanya perbedaan jenis kelamin dalam privasi.
2. Faktor Situasional
Kepuasan terhadap kebutuhan akan privasi sangat berhubungan
dengan seberapa besar lingkungan mengijinkan orang-orang di dalamnya
untuk menyendiri. Peneliti Marshall tentang privasi dalam rumah tinggal,
menemukan bahwa tinggi rendahnya privasi di dalam rumah antara lain
disebabkan oleh seting rumah.
3. Faktor Budaya
Setiap budaya tidak ditemukanadanya perbedaan dalam banyaknya
privasi yang diinginkan, tetapi sangat berbeda dalam cara bagaimana
mereka mendapatkan privasi. Tidak ada keraguan bahwa perbedaan
masyarakat menunjukan variasi yang besar dalam jumlahprivasi yang
dimilki anggotanya.
BAB III
STUDI KASUS PERSONAL SPACE DAN PRIVASI

3.1 IDENTITAS OBJEK STUDI

Gambar 3.1 peta lokasi lippo mall Kuta


Sumber : petatematikindo.files.wordpress.com

Nama Objek : Lippo Mall Kuta, Badung, Bali.


Lokasi Objek : Lippo Mall Kuta yang berlokasi di Jalan Kartika Plaza,
Kuta, Badung, Bali.
Deskripsi Objek :
Lippo Mall Kuta yang berlokasi di Jalan Kartika Plaza, Kuta, Badung,
dengan luas 33.000 m2, dengan penyediaan area parkir lebih dari 275 kendaraan
roda empat dan 250 kendaraan roda dua. Mengusung konsep modern minimalist,
konsep yang lebih mengedepankan fungsi namun tetap memperhatikan estetika.
Mall dengan berbagai tenants yang tersedia didalamnya ini juga memiliki sebuah
foodcourt yang menawarkan berbagai macam hidangan nusantara dan luar negeri
kepada konsumen yang berkunjung ke pusat perbelanjaan dengan mengambil
konsep bajak laut lapar atau "hungry pirates".
Lippo Mall Kuta juga difasilitasi sebuah jaringan bioskop di bawah
bendera Lippo Group, mengumumkan peresmian bioskop barunya pada tanggal
18 februari 2015 di Kuta, Bali. Bioskop yang terdapat di Lippo Mall Kuta lantai
lower ground, Jalan Kartika Plaza, Lingkungan Segara, Kuta Badung, Bali ini
memiliki tiga layar pertunjukan reguler dan dua layar dengan layanan premium
Cinemaxx Gold dengan total kursi sebanyak 345 buah. Cinemaxx Lippo Mall
Kuta akan memutar film 2D dan 3D. Interior Cinemaxx Lippo Mall Kuta didesain
lebih unik dibandingkan Cinemaxx yang lainnya dengan mural berbagai tokoh
ikonik Hollywood.

4.1 RUANG PERSONAL PADA LIPPO MALL, KUTA


Ruang personal merupakan suatu batasan yang menyerupai
gelembung tidak terlihat yang berada disekeliling tubuh manusia. Batas ini
mencakup batasan seorang individu satu dengan lainnya bisa berbeda tergantung
dari petimbangan-pertimbangan individu itu sendiri, untuk mendapat kan jarak
nyaman antara individu satu dengan individu lainnya. Hal tersebut dapat
disesuaikan dengan melakukan interaksi sesuai jarak yang diinginkan. Pada Lippo
Mall, Kuta ini ruang personal yang akan dibahas objeknya berada pada berbagai
jenis ruang tunggu yang disediakan di dalam mall. Batas-batas dari ruang personal
pada Lippo Mall, Kuta tidak tampak secara fisik saja, namun hal ini dapat diamati
dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : gestur, postur, sikap, dan posisi
seseorang.
Gambar 3.2 Area Ruang Tunggu Cinemaxxx pada Lippo Mall, Kuta
Sumber : Dokumentasi Pribari
Pada gambar 3.1 dapat dilihat beberapa gambaran kegiatan individu dan
kelompok satu dengan lainnya. Pada area ini memiliki karakter yang cukup luas
dengan penempatan beberapa furniture sofa yang jarak satu furniture sofa dengan
yang lainnya sekitar 1,5 meter berfungsi sebagai tempat untuk duduk sembari
menunggu bagi pengunjung yang akan menonton bioskop. Pada ruang tunggu
ticketing dibuat lebih terbuka dan dibatasi dengan sekat menyerupai pembatas tali
agar pengunjung tidak saling mendahului. Terlihat jelas bagaimana tingkat
kenyamanan dari pengunjung yang duduk diruang tunggu dibandingkan dengan
pengunjung yang masih menunggu tiket karena masih berdiri. Kondisi ini juga
mempengaruhi bagaimana ruang personal timbul akibat suatu keadaan yang
disediakan sedemikian rupa, seperti pengunjung yang menunggu tiket dengan
keadaan berdiri dan mengantri maka akan muncul ruang personal dengan sifatnya
intim namun dengan keadaan yang tidak nyaman. Berbeda dengan pengunjung
yang sedang duduk menunggu waktu film ditayangkan ruang personal yang
timbul adalah ruang personal yang bersifat intim dengan tingkat kenyamanan
lebih baik. Dalam suatu kegiatan yang dilakukan dapat terlihat bagaimana ruang
pernonal yang muncul dan dibutuhkan oleh masing-masing individu tersebut.
Kegiatan dari individu atau kelompok ini tidak dibatasi atau dipisahkan oleh
batasan tertentu, namun batasan tersebut muncul akibat adanya kesadaran dan
pengertian dari individu atau kelompok lain. Jika terjadi pelanggaran ruang
personal dari masing-masing individu atau kelompok, kondisi yang terlihat jelas
adalah individu atau kelompok tersebut akan berpindah dengan maksud mencari
tempat yang lebih memungkinkan dengan ruang personal yang diinginkan agar
kegiatan yang dilakukan lebih nyaman.

Gambar 3.3 Area Void pada Lippo Mall, Kuta


Sumber : Dokumentasi Pribari

Pada gambar 3.3 ruang personal yang muncul antara individu dengan
audience area ini diperuntukkan sebagai area berlangsungnya suatu event yang
memerlukan area yang cukup luas agar dapat menampung massa dalam jumlah
besar. Termasuk ruang personal dengan jarak publik (4-8,3 meter).
Gambar 3.4Area Front Office Gambar 3.5 Area Void pada
Cinemaxxx pada Lippo Mall, Lippo Mall, Kuta
Kuta sumber : dokumen observasi
sumber : dokumen observasi sumber : dokumen observasi

Pada gambar 3.4 ruang personal yang muncul antara individu dengan rekan
bisnis atau kerjanya area ini diperuntukkan sebagai area berlangsungnya suatu
briefing yang sifatnya mendadak dalam kondisi dan situasi tertentu. Selain itu area
front office ini juga berdekatan dengan area tunggu Cinemaxxx Lippo Mall, Kuta.
Termasuk ruang personal dengan jarak sosial (1,3-4 meter), yaitu hubungan
bersifat formal seperti dalam bisnis. Pada gambar 3.5 ruang personal yang muncul
antara sesama individu dengan hubungan yang cukup akrab. Termasuk ruang
personal dengan jarak personal (0,5-1,3 meter), yaitu jarak untuk percakapan
antara teman akrab.
Gambar 3.6 Rest area pada Lippo Mall Kuta
Sumber : Dokumentasi Pribari

Pada gambar 3.7 ruang personal yang muncul antar sesama keluarga area ini
diperuntukkan sebagai area beristirahat sejenak bagi para pengunjung dengan
pemanfaatan kolom selain sebagai element estetika juga sebagai area beristirahat
sambil menikmati view yang ada. Termasuk ruang personal dengan jarak intim (0-
0,5 meter) karena kedekatan yang ditimbulkan.

4.2 FAKTOR PENGARUH RUANG PERSONAL PADA LIPPO MALL,


KUTA
Faktor yang mempengaruhi ruang personal pada Lippo Mall, Kuta ini
hampir sama dengan keseluruhan faktor pengaruh ruang personal pada umumnya
seperti, jenis kelamin, umur, kepribadian, ketertarikan, rasa aman atau ketakutan,
persaingan atau kerjasama, pengaruh lingkungan fisik. Berikut ini adalah
penjelasannya :

1. Jenis Kelamin

Gambar 3.8 eksalator lippo mall Kuta


Sumber : Dokumentasi Pribari
Hampir diberbagai tempat pada umumnya laki-laki memang memiliki
ruang yang lebih besar, seperti kecendrungan mereka untuk menjaga pasangannya
pada kondisi tertentu jika ruang personal mereka terinterfensi maka dapat terjadi
hal yang tidak diinginkan.
2. Umur

Gambar 3.9 Keluarga yang berada di lippo mall kuta


Sumber : Dokumentasi Pribari

Dengan bertambahnya usia seseorang, maka makin besar juga


ruang personalnya, hal tersebut berkaitan dengan kemandirian. Lippo
Mall, Kuta ini dikunjungi oleh berbagai macam usia dari balita hingga
dewasa, hal ini tentunya memiliki tingkat ketergantungan yang berbeda.
Misalnya, sekelompok anak remaja yang berkunjung ke mall ini
cenderung bersama kelompoknya atau dapat berjalan sendiri sesuai dengan
kemandiriannya hal ini menunjukkan bahwa remaja tersebut sudah bisa
menentukan sendiri batas ruang personalnya, berbeda halnya dengan balita
yang masih harus didampingi orang tuanya untuk berjalan di mall yang
belum bisa menentukan sendiri batas ruang personalnya dan masih
memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi.
3. Kepribadian

Gambar 3.10 Pengunjung Lippo Mall Kuta


Sumber : Dokumen Pribadi
Kepribadian tiap orang tentunya berbeda-beda ada yang terbuka
dan ada yang tertutup hal ini berkaitan dengan pengunjung mall yang
memiliki kepribadian ramah atau terbuka cenderung lebih mudah akrab
dan memiliki ruang personal kecil. Sebalikinya pengunjung yang memiliki
kepribadian tertutup atau mudah cemas maka ruang personalnya akan
besar karena menimbulkan jarak yang cukup lebar untuk menghindari
sesuatu dari hal yang dicemaskan.
4. Ketertarikan

Gambar 3.11 pengunjung matahari lippo mall


Sumber : Dokumentasi Pribadi

Ketertarikan dalam hal ini bisa dilihat dari banyak atau sedikitnya
jumlah pengunjung yang memasuki suatu outlet yang ada pada Lippo
Mall, Kuta. Biasanya pengunjung akan mendekati sesuatu jika tertarik.
Kemungkinan bagi sepasang suami istri akan duduk saling berdekatan
dibanding sepasang laki-laki dan perempuan yang kebetulan menduduki
bangku yang ada saat mencoba sebuah produk alas kaki atau sepatu.

4.3. PENGARUH RUANG PERSONAL TERHADAP DESAIN


ARSITEKTUR LIPPO MALL, KUTA
Pengaruh dan peranan ruang personal terhadap desain arsitektur Lippo
Mall, Kuta ini dapat dibedakan menjadi dua seperti, pertama yaitu dengan
munculnya ruang sosiopetal yang merujuk terhadap suatu tatanan desain
arsitektur agar mampu memfasilitasi interaksi sosial. Pada Lippo Mall, Kuta
terdapat foodcourt Hungry Pirates ini dengan penempatan meja makan sebagai
tempat anggota keluarga berkumpul mengelilingi meja makan dan saling
berhadapan satu sama lain

.
Gambar 3.12 foodcourt area pada lippo mall
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Selain itu pada Lippo Mall, Kuta juga terdapat Pirates bar. Sebuah bar
bernuansa pantai dengan mengusung ikon bajak laut yang sesuai dengan nama
dari bar tersebut. Bar memungkinkan menampung massa dalam jumlah banyak
dengan tingkat interaksi sosial yang cukup tinggi dalam satu tempat.
Gambar 3.13 area Bar pada Pirates Bar lippo Mall Kuta
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Kedua yaitu dengan munculnya ruang sosiofugal yang merujuk pada tatanan
desain arsitektur agar mampu mengurangi interaksi sosial. Tatanan sosiofugal
pada Lippo Mall, Kuta ini biasanya sering ditemukan pada ruang tunggu tempat
para pengunjung duduk saling membelakangi. dan tempat beristirahat bagi
pengunjung yang terdapat pada kolom dengan diberi tempat untuk duduk dan
elemen estetika sebagai penambah daya tarik.

Gambar 3.14 area tungu pada Lippo Mall Kuta


Sumber : Dokumentasi Pribadi
BAB IV
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dari ke 2 hal teresebut semua saling berhubungan semua ini adalah contoh
yang ada dalam setiap diri masing masing individu ke 2 hal ini membentuk
karakter individu dan mempengaruhi prilaku seseorang yang menjadi ke arah
positif maupun negatif semua tergantung bagaimana individu menyikapinya,
antara privasi maupun ruang personal. Hal ini juga dapat menggambarkan
hubungan antara individu dengan dunia luar, bagaimana cara dia berinteraksi
dengan orang lain dan dapat menjalani hubungan baik. Dari 2 hal ini karakter
setiap individu akan terlihat secara natural karena secara tidak langsung mereka
menceritakan hal apa saja yang di bagikan kepada publik dan yang tidak,
bagaimana ruang gerak mereka dalam ruang personalnya. Jadi, ruang personal
sebagai media penghubung antar individu yang sekaligus menjadi batas tak nyata,
sedangkan ruang privasi adalah keinginan dari individu itu sendiri yang ingin
membatasi individu antara individu atau sekelompok orang untuk membatasi diri
dari lingkungan sekitar.
Pengaruh ruang personal pada desain arsitektur Lippo Mall, Kuta terbagi
menjadi dua yaitu pertama dengan timbulnya ruang sosiofetal atau tatanan desain
arsitektur yang merujuk pada ruang pendukung interaksi sosial yang diaplikasikan
dengan adanya foodcourt Hungry Pirates dan Pirates bar, kedua dengan
timbulnya ruang sosiofugal atau tatanan desain arsitektur yang merujuk pada
ruang yang mengurangi interaksi sosial yang diaplikasikan dengan adanya ruang
tunggu serta pemanfaatan kolom yang diberi tempat untuk duduk. Terdapat
sebuah hubungan yang mampu memberikan pemahaman bahwa ruang personal
tiap individu berbeda-beda
3.2 SARAN
Dari penjabaran materi diatas, dapat disimpulkan ruang personal dan
privasi sangat penting dalam mendesain sebuah lingkungan yang berarsitektur.
Seorang arsitektur yang professional setidaknya dapat mewadahi suatu ruang
personal sesuai prilaku manusia umumnya. Dari hal teersebutlah seorang arsitek
dapat memberikan rasa nyaman pada pengguna ruang tersebut.
Privasi seseorang dapat dijadikan panduan khusus untuk membangun
lingkungan yang sesuai, mendesain bangunan yang dapat memenuhi kaidah
arsitektur dan prilaku.
DAFTAR PUSTAKA

Helmi, Avin Fadillah. 1999. Beberapa Teori Psikologi Lingkungan. Buletin


Psikologi. 2

Laurencs, Joyce Marcella. 2004. Arsitektur Prilaku Manusia. Jakarta, PT


Grasindo.

Haryadi dan B.Setiawan. 2010. Arsitektur, Lingkungan dan Perilaku. Yogyakarta


: Gadjah Mada University Press. (hal.42-44)

Prabowo, Hendro.1998. Arsitektur, Psikologi dan Masyarakat. Depok :


Universitas Gunadarma

Sumber Internet :
http://web.unair.ac.id/admin/file/f_34502_Inf_Policy_Privacy.pdf diakses tanggal
28 Okober 2017
http://yulierizkiutami.blogspot.co.id/2011/04/privasi-ruang-personal-personal-
space.html diakses tanggal 28 Okober 2017
elearning.gunadarma.ac.id. Psikologi Lingkungan Bab 5 Ruang Personal dan
Teritorialias.pdf. (hal.49-53) diakses tanggal 28 Okober 2017
www.lippomalls.com diakses tanggal 28 Okober 2017