Anda di halaman 1dari 340

International Conference for Midwives (ICMid)

KATA PENGANTAR

Simposium Internasional untuk magister kebidanan ini merupakan kegiatan


yang pertama kali diselenggarakan oleh mahasiswa S2 Kebidanan Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran, hal ini selaras dengan salah satu capaian
pembelajaran yaitu mampu melakukan program kemitraan dengan stakeholder
dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kebidanan untuk
memecahkan masalah kesehatan ibu dan anak di Indonesia.
Pada awal tahun akademik 2015-2016 (20-21 April 2016) bertempat di
Gedung Pusat Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan Terpadu Rumah Sakit
Pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran diselenggarakan
Simposium Internasional dengan tema “The Role of Master of Midwifery in
Developing Education and Midwifery Service”. Selain kegiatan diatas sebelumnya
juga telah diselenggarakan kegiatan simposium dengan tema “Penguatan Profesi
Bidan Melalui Optimalisasi Sistem Pendidikan dan Pengembangan Pelayanan
Kebidanan” dan dua tema workshop yaitu “Learning Approach dalam Pelayanan
Kebidanan dan Excellent Service With Excellent Character”, kemudian telah
diselenggarakan juga kegiatan workshop nasional “Penerapan Pembelajaran Asuhan
Kebidanan Terintegrasi” yang bertempat di Hotel Candi, Medan pada tanggal 5-7
Februari 2015. Pada rangkaian kegiatan di atas juga dilakukan publikasi makalah
bebas dari para mahasiswa Program Studi Magister Kebidanan berupa artikel yang
bersumber dari telaah jurnal dan ada satu kegiatan Free Paper Competition dari
peserta diluar mahasiswa Magister Kebidanan baik dalam maupun luar negeri.
Kegiatan publikasi makalah bebas dan Free Paper Competition tersebut
dibantu oleh sejumlah pakar yang sesuai dengan bidang keilmuannya. Untuk itu
kami ucapkan terimakasih dan penghargaan yang tinggi kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dengan meluangkan waktu dan mencurahkan pikirannya demi
terwujudnya proceeding book ini. Saran dan kritik selalu kami harapkan demi
tercapainya manfaat dari penerbitan proceeding book ini.

Bandung, April 2016

Farid Husin

i
International Conference for Midwives (ICMid)

PROCEEDING BOOK 1ST INTERNATIONAL CONFERENCE FOR MIDWIVES


(ICMID)

Penyusun:
Mahasiswa Magister Kebidanan, Dosen Kebidanan, Praktisi Kesehatan (Bidan dan Dokter)

ISBN: 978-602-74456-0-4

Editor:
Dr. Farid Husin, dr. Ir., SpOG (K)., M.Kes., MH.Kes
Prof. Dr. Johannes C. Mose, dr., SpOG (K)
Prof. Dr. Herman Susanto, dr., SpOG (K)
Prof. Firman F. Wirakusumah, dr., SpOG (K)
Prof. Dr. Jusuf S. Effendi, dr., SpOG (K)
Prof. Dr. Dany Hilmanto, dr., SpA (K)
Dr. Anita D. Anwar, dr.,SpOG (K)
Hery Herman, dr., SpOT., PhD
Dr. Dwi Prasetyo, dr., SpA(K). M.Kes
Dr. Achadiyani, dr., M.Kes
Dr. Deni K. Sunjaya, dr., DESS
Dr. Dewi Marhaeni Diah Herawati, drg., M.Si

Penyunting
Tim Publikasi Ilmiah
Magister Kebidanan FK UNPAD

Desain Sampul dan Tata Letak


Erliana Ulfah (Mahasiswa Magister Kebidanan FK UNPAD)

Penerbit:
Prodi Magister Kebidanan FK UNPAD

Redaksi:
Gedung Pusat Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan Terpadu
Rumah Sakit Pendidikan Lantai 4
Prodi Magister Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Jl. Eijkman No. 38 Bandung 40161
Telp : (022) 2032170, 2038114, 2038115
Fax : (022) 2037823
Email : ic.formidwives@gmail.com

Cetakan Pertama, April 2016

Hak cipta dilindungi undang-undang


Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin
tertulis dari penerbit

ii
International Conference for Midwives (ICMid)

DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar i
Susunan Redaksi ii
Daftar Isi iii

KEHAMILAN
Gentle Birth Practice During Prenatal Class for Smooth Labour 1
Jiarti Kusbandiyah, Yuniar Angelia Puspadewi

Education Post Partum Since Antenatal By Midwife : An Effective Method To 7


Prevent Postpartum Depression
Sarma Nursani Lumbanraja, Citra Aryanti

The Correlation of Knowledge and Family Support with Behaviour of 15


Pregnant Women in Sumurejo Villages District of Gunung Pati Semarang
Dita Wasthu Prasida, Istiana

Risk Factors of Abortion in DR. H. Abdul Moeloek Hospitals Lampung 19


Province In 2014
Analia Kunang

Determinants of Activeness Antenatal Care Pregnant woman in the village of 26


Bantul Dlingo Mangunan
Nining Tunggal Sri Sunarti

A Comparison Between the Risanto’s and Johonson’s Formula to Estimated 34


Fetal weight Based on Uterine Fundal Height
Yossy Wijayanti

Differences In Blood Plasma Levels Of Vitamin C In Term Pregnancy With 40


Premature Rupture Of Membranes And Blood Plasma Levels of Vitamin C In
Term Pregnancy Without Premature Rupture of Membranes
Defrin, Mira Dewita, Rosfita Rasyid

Difference of Activin a Serum in Preeclampsia and Normal Pregnancy 47


Yusrawati, Marry Denita Wati. MZ

Correlation Between Length of Work with Midwives Attitude to Lotus Birth 53


in dr. Andi Abdurrahman Noor Hospital in Tanah Bumbu
Aprilawati Wina Helena, Sari Anggrita, Ulfa Ika Mardiatul

Relation Knowledge and Attitude Towards The Use of Health Book Mother 58
and Child In District Clinics Wanakerta Karawang In 2015
Nita Farida

Knowledge Relationship With Attitude Pregnant Women In Choosing The Aid 63


Delivery Hypnobirthing Techniques In Private Practice Midwife In The
Bojonagara Bandung
Dini Saraswati Handayani, Onih Sri Hartati, Nadia Devianti

iii
International Conference for Midwives (ICMid)

Implementasi Metode Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS) 73


Untuk Mengatasi Nyeri Persalinan Kala I Fasa Aktif pada Ibu Bersalin
Waifti Amalia, Nicky Danur Jayanti

PERSALINAN
The effectiveness of jasmine aromatherapy To decrease the intensity of labor 77
pain Stage I Active Phase in Takerharjo
Lilin Turlina, Citra N
86
The Relationship Between Prenatal Educations Through Classes Of Pregnant
Women And Childbirth Assisted By Health Workers In Argasunya Village of
Cirebon City In 2015
Pepi Hapitria

Comparison Pain Intensity On Active Phase I Primiparas and Multiparas 93


Given Hypnobirthing Therapy In Maternity Clinic Medan
Lolita Nugraeny, Juita Sari, Purnama Handayani

NIFAS
Working Mother VS Exclusive Breastfeeding: Obstacles and Challenges for 101
Midwifery Services Breastfeeding is Woman Right but Being Exclusively
Breastfed is the Baby’s Right
Nabila Zuhdy

Factors that Affect Success and Failure of Exclusive Breastfeeding in Infants 106
at Desa Kecomberan Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon 2016
Elit Pebryatie, Nina Nirmaya Mariani, Zahra Dinila

Effects of Birth Interval and Parity Among Working Mothers on Duration of 116
Breastfeeding In Cirebon
Rinela Padmawati, Nurasih

Citrus aurantifolia to decrease strie gravidarum and create a slimmingtummy 121


to women in postpartum
Yuniar angelia Puspadewi, Senditya Indah Mayasari

Correlation Between Mother Works Perception and Gift Exclusive 126


Breastfeeding at Area Puskesmas Siwalan Regency Pekalongan
Dewi Mayangsari, Putrie Fikialia Wijaya

Determinant of Giving Exclusive Breastfeeding on Health Officers at Working 132


Area of Public Health Center Karawang Regency in 2014
Yayuk Sri Rahayu

Effect of Suturing Intrauterine Device On The Continuity In The 140


Trancaesarean Postpartum Contraception Method
Ariadi, Ade Aulia

iv
International Conference for Midwives (ICMid)

The Factors that Affecting in Giving Exclusive Breast Feeding to The Working 145
Mothers at Rambutan Junior High School Banyuasin District In 2014
Tri Sartika

BBL, NEONATUS, BAYI, BALITA, DAN ANAK PRA SEKOLAH


Standard Assessment of Health Care Providers Input at Basic Emergency 153
Obstetric and Newborn Care (BEmONC) In Mantangai Health Care In
Kapuas District
Rahayu Y P, Daulay Ramalida

Correlation Between Macronutrient Composition of Breast Milk and Weight 159


Gain of Neonates
Joserizal Serudji, Dwi Pratiwi Kasmara

Differences In Anthropometry of The Newborn According to Nutritional Status 168


of Women Before Pregnancy
Yusrawati, Yulia Netri, Gustina Lubis

Factors Related To Occurrence Of Low Birth Weight In General Hospital 178


Palembang Bari Region in 2013
Ayu Devita Citra Dewi

PENDIDIKAN
The Influence of Peer Tutoring with Partograf Fulfillment Skills at Level II 186
Students at Akademi Kebidanan Yogyakarta
Tuniroh, Istri Bartini, Masyi Wimy Johandhika

Relationship Between Psychosocial Stressors and Learning Achievement of 192


Students of DIV Midwife Aanvulen Educators at STIKES ‘Aisyiyah
Yogyakarta In 2013
Septiwiyarsi, Dhesi Ari Astuti

Structure Oral Case Analiysis and Demonstration (SOCAD) Evaluation of 200


Learning Askeb Pathology Practicum: Case Studies Akademi Kebidanan
Yogyakarta
Eka Nur Rahayu

KB DAN KESEHATAN REPRODUKSI


Difference of Flour Albus Incidents Between the Acceptor Combined 207
Injectable Contraception and AKDR
Arkha Rosyaria Badrus

The Sexual Behaviour of Commercial Sex Workers and Custumers In Gang 213
Dolly Surabaya
Miftahul Khairoh

An In Vitro Activity Test Of Beluntas Leave’s Fraction (Pluchea indica Lees) 223
Compared With Ketokonazol On Candida albicans
Bina Marsasi, Yuwono, Salni

v
International Conference for Midwives (ICMid)

The Effect of Tamarind-Ginger Infused Water to Decrease The Pain of 234


Dysmenorrhea
Amirul Amalia

Correlation Between Eating Style, Menarche Pattern And Tea Consumption 242
With Iron Deficiency Anemia Towards Female Teenagers In The Area of
Ciparay Kabupaten Bandung
Ratih Ruhayati, Yosi Arum Lestari

The Role of Midwives In Prevention Transmission Hiv From Mother to Baby 250
(PPIA) (Case Study in dr. M. Yunus Hospital Bengkulu)
Mika Oktarina

Risk Factor of Vaginitis in Gynecology Polyclinic Dr. Doris Sylvanus 257


Palangkaraya Hospital
Riyanti, Oktaviani, Heti Ira Ayu

Factors Relating to Anemia Among Female Teenagers of Junior High School 2 267
of Binbaz Islamic Boarding School Piyungan Bantul Yogyakarta In 2013
Eprina Intami, Sulistyaningsih

REGULASI
Master of Midwifery Role In Developing Midwifery Education 275
Fatiah Handayani

Why Mothers Die: A Qualitative Study 284


Juariah

An Analysis of The New Zealand Midwifery Standards Review Process As 297


Part of The New Zealand Midwifery Council’s Recertification Programme to
Assess Its Suitability For The Indonesian Midwives Relicensure Process
Renny Ernawati Ully

Continuum of Care to Improve Maternal and Neonatal Health in The District 314
Subang
Marliana Rahma, Reni Ardiani

Relationship Perception of Illness with The Utilization of Health Services in 320


The Kabil Primary Health Care Nongsa Districts 2015
Derry Trisna Wahyuni S

BIOLOGI MOLEKULER
The Influence of Vitamin A on IFN-Gamma and IL-4 in Postnatal Rats 327
(Rattus Norvegicus)
Dian Hanifah, Pande Mande Dwijauasa, Retty Ratnawati

vi
International Conference for Midwives (ICMid)

GENTLE BIRTHING PRACTICE DURING PRENATAL CLASS


FOR SMOOTH LABOUR

Jiarti Kusbandiyah, Yuniar Angelia Puspadewi


Program Studi Kebidanan STIKES Widyagama Husada Malang

ABSTRACT

Labour is one of natural process experienced by woman in her life cycle. Obstruction triggered
by anxiety and pain on labour may cause artificial intervention like Sectio Caesarrean (SC). At
2011, The precentage of SC increased dramatically until until 30-80% at privatec hospital in
Indonesia in. Anxiety and pain during labour can be decreased by increasing ability of
relaxation and preparing physical, psycological, phycososial and spiritual need during
pregnancy and labour.Gentlebirthing was one of the best choices to minimize obstruction and
medical intervention. This study aimedfor analizing the role of gentlebirthinging for the
smooth labour. The method used was descriptive explorative to describe gentlebirthinging
process during pregnany and labour and the effect for labour process at stage I, II and III. The
sample used was 20 pregnant women at Poskeskel Dadaprejo Junrejo Batu. Most of respondents
had good ability on breathing technique(85%), relaxation (80%) and pelvic rocking (90%), but
had difficulty on perineum massase (50%) and endorfin massage (40%). The Effect was First
stage went normally less than 1 cm/hour, less than 60 minutes on second stage dan less than 15
minutes at third stage. It is recommended that pregnant women, medical staff, health department
and education instiitution could apply gentlebirthinging on prenatal class for smooth labour.

Keywords : Gentlebirthing, labour

PENDAHULUAN Setiap wanita menginginkan


Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia persalinan berjalan lancar dan dapat
meningkat drastis pada tahun 2013 sebesar melahirkan bayi secara sempurna . Persalinan
359/100.000 kelahiran hidup, lebih tinggi dari seharusnya merupakan moment yang
tahun 2012 yang mencapai 224/100.000 membahagiakan yang tidak perlu ditakuti
Kelahiran Hidup (KH), semakin jauh dari target oleh seorang wanita, tetapi masih banyak
MDG`s yaitu AKI dapat mengalami penurunan perempuan yang merasa khawatir, cemas dan
sampai 102/100.000 KH pada tahun 2015. gelisah menanti saat kelahiran tiba.1
Menurut Kemenkes tahun 2013, Angka kematian Secara teori disampaikan bahwa 90-
Bayi (AKB) juga belum mencapai target, pada 95% persalinan seharusnya dapat berjalan
tahun 2012 masih berkisar 32/1000 KH, padahal normal pervaginam tanpa komplikasi.
target yang harus dicapai adalah 28/1000 KH. Di Faktanya, masih banyak persalinan yang
Kota Malang, preeklamsi menduduki peringkat berakhir dengan induksi dan seksio Caesaria
pertama penyebab kematian ibu. Kematian (SC). Di Indonesia, tercatat angka kejadian
banyak terjadi pada proses persalinan dengan SC di rumah sakit pemerintah sekitar 20-
penyebab utama perdarahan sebesar 31,79 % 25%, sedangkan di rumah sakit swasta
disusul dengan preeklamsia sebesar 24, 62% dan sekitar 30-80% dari total persalinan. Di Jawa
partus lama sebesar 4,74%. Timur angka persalinan SC mencapai 38,3%
Persalinan merupakan suatu proses alamiah dari seluruh persalinan pada tahun 2010.
yang dialami perempuan sebagai salah satu Angka di rumah sakit swasta Kota Malang
siklus kehidupan. Persalinan merupakan puncak terlihat lebih tinggi yaitu mencapai 80%.2
peristiwa dari serangkaian proses kehamilan.

1
International Conference for Midwives (ICMid)

Di Rumah Sakit Kabupaten Malang prosentase 55% ibu bersalin mengalami kecemasan.5His
persalinan normal selama kurun waktu 2011 bisa terjadi dengan baik jika hormon oksitosin
sekitar 60-70% dari total persalinan dan dalam tubuh mencukupi. Hormon ini akan
sisanya sekitar 30% adalah persalinan dengan . diproduksi dengan baik jika seorang wanita
Studi pendahuluan oleh Tangkis3 pada bulan merasa rileks dan tidak dalam keadaan cemas.
April 2012 di wilayah kecamatan Kalipare Kecemasan yang dialami seorang wanita akan
Kabupaten Malang diperoleh data untuk meningkatakan produksi hormon serotonin
jumlah persalinan normal bulan maret 2012 yang bisa menghambat kerja oksitosin.
sejumlah 39 orang sedangkan untuk persalinan Akibatnya seorang ibu bersalin yang
SC adalah 10 orang. seharusnya bisa bersalin secara normal harus
Menurut WHO tahun 2003 angka kejadian dilakukan intervensi medis induksi persalinan
partus lama yang berakhir dengan SC sebesar dengan oksitosin drip yang menyebabkan rasa
21%. Menurut laporan dari salah satu rumah nyeri bertambah hebat.4
sakit di Lumajang tahun 2010, terdapat 5 Kecemasan dan rasa nyeri dapat
penyebab terbesar dilakukannya SC yaitu diminimalisir dengan meningkatkan
indikasiCephalo Pelvic Disproportion(CPD) kemampuan ibu untuk melakukan relaksasi
sebesar 22%, kelainan letak 22%, Preeklamsi selama kehamilan dan persalinan serta
Berat (PEB) sebesar 15%, indikasi persalinan persiapan-persiapan fisik dan psikologis.
lama (prolonged labour ) sebesar 40% dan Sayangnya, petugas kesehatan masih banyak
APB sebesar 11%. Jumlah SC pada menggunakan biomedical model dalam
primigravida tercatat lebih besar yaitu 72% memberikan asuhan pada ibu bersalin.Salah
dibandingkan dengan multigravida sebesar satu ciri biomedical model berarti fokus bahwa
28%.Penyebab ini tidak jauh berbeda dengan kelancaran persalinan disebabkan oleh faktor
penyebab di Kota Malang. power, passage dan passanger, jarang melihat
Menurut penelitian yang dilakukan oleh pada faktor psikologis, psikososial dan
Kartika tahun 2010 prolonged labour yang spiritual.Persiapan persalinan lebih banyak
terjadi bukan karena kelainan letak bayi karena untuk persiapan fisik sehingga kecemasan
sebagian besar (70%) presentasi bayi belakang yang merupakan penyebab penting juga dalam
kepala dengan berat badan 2500-4000 sebesar kelancaran persalinan belum tersentuh dengan
97,9%. Pemanjangan persalinan tersebut ternya baik. Penelitian oleh Tridamayanti6, 2012 pada
banyak disebabkan oleh ketuban pecah dini salah satu bidan praktek di Malang, dari 10
(68,8%), mengalami kegagalan drip oksitosin persalinan, terdapat 7 persalinan yang
(39,4%) dan kelainan his (inertia uteri) sebesar dilakukan episiotomi. Banyak hal yang
41,7%). Kelainan his ini bisa disebabkan oleh menyebabkan dibutuhkannya episiotomi saat
banyak hal, bisa penyebab medis, fisiologis persalinan salah satunya adalah kelenturan
atau psikologis. vagina yang sebenarnya bisa dilatih sejak
His atau kontraksi mutlak dibutuhkan untuk hamil.Posisi persalinan yang lazim digunakan
terjadinya pembukaan serviks saat proses juga tidak bervariasi hanya lithothomi dan
persalinan maupun untuk pengeluaran bayi. dorsal recumben.Padahal posisi persalinan bisa
Secara fisiologis, kontraksi akan menyebabkan sangat beragam untuk meminimalisir
rasa nyeri karena adanya penekanan pada terjadinya robekan jalan lahir.
syarat di daerah ganglion servikale. Penelitian Gentlebirthing adalah salah satu cara utuk
oleh Sartika, 2012 sebesar 67% responden mempersiapkan ibu hamil saat kehamilan.
mengalami nyeri persalinan pada kala I Dangentlebirthing bukan hanya memandang
dengan tingkat sedang. Nyeri persalinan kala II ibu bersalin dari segi fisiologis tetapi
dengan tingkat berat sebesar 90% juga memandang ibu bersalin sebagai klien secara
disampaikan oleh Ermawati pada penelitiannya holistik sebagai makhluk bio psiko sosial dan
tahun 2012. His akan memicu terjadinya kultural. Kunci dari gentlebirthing adalah
kecemasan pada ibu bersalin, tercatat sebesar meminimaslisir tindakan medis dengan

2
International Conference for Midwives (ICMid)

persalinan yang lembut dan alamiah. persalinan selama kehamilan dilakukan dengan
Kemampuan komunikasi bidan mutlak membuka mother class dengan konsep
diperlukan, design dari tempat praktek yang gentelbirth begitu juga saat proses persalinan.
dibuat seperti bersalin di rumah merupakan Di Kota Malang dan Batu belum diteliti secara
daya tarik sendiri dari klien dan seni sangat kualitatif dan kuantitatif tentang efek
dibutuhkan disini. Seperti hasil penelitian gentlebirthing dan terhadap proses persalinan
Triananda, 2011 di salah satu di daerah pujon baik pada keadaan janin maupun pada ibu.
bahwa alasan memilih tempat prsalinan adalah Dari wawancara dengan bidan disampaikan
fasilitas dan keramahan pertugas. Teknik bahwa lebih banyak efek positif dari teknik ini,
dalam gentlebirthing yang dipersiapkan sejak ibu menjadi lebih tenang dan persalinan lebih
kehamilan membuat vagina menjadi lebih lancar.
lentur dengan berbagai cara antara lain pelvic Penelitian ini bertujuan untuk meneliti
rocking, birthball, senam hamil, yoga, belly seberapa besar peran gentlebirthingyang
dance dan lain sebagainya. dilakukan saat kehamilan terhadap kelancaran
Praktek yang sering digunakan adalah proses persalinan sehingga dapat menjadi
sebatas pada senam hamil, teknik lain belum alternatif pilihan bagi bidan untuk
banyak di laksanakan oleh bidan padahal penatalaksanaan persalinan sayang ibu.
beberapa penelitian menunjukkan bahwa
dengan pelvic rocking bisa menurunkan METODE
kejadian nyeri punggung saat persalinan8, Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif
birthball dapat mengurangi kecemasan saat dilakukan untuk menjelaskan seberapa peran
melahirkan.5 Relaksasi dapat dilatih selama dangentlebirthinging untuk kenyamanan proses
kehamilan dengan dilakukan selama persalinan. Data diambil dengan menggunakan
kehamilan, penelitian oleh Jiarti tahun 2013 lembar observasi dan partograf. Sampel adalah
mendapatkan hasil bahwa, dengan dilakukan Variabel dianalisis secara deskriptif .
hypno selama kehamilan, ibu hamil merasa
lebih tenang dan kecemasan menjadi DISKUSI
berkurang. Relaksasi dengan disertai Penelitian dilaksanakan mulai akhir april
gentlebirthingakan mendapatkan hasil yang sampai awal agustus 2014. Hasil penelitian ini
lebih maksimal. meliputi karakteristik responden, proses
Di Malang, belum banyak bidan yang prenatal class, proses persalinan kala I, kala II
mempersiapkan kelas ibu hamil secara holistik. dan kala III persalinan.
Di Kota Batu baru terdapat 2 bidan yang Berikut tabel yang sebagian hasil
menggunakan gentlebirthing salah satunya penelitian tentang karakteristik, lama kala I,
adalah bidan Nurul Aini, Amd.Keb. Persiapan kala II dan kala III persalinan.

Tabel 1. Kemampuan responden dalam melakukan teknik hipnobirthing dan gentlebirthinging


setelah pertemuan ketiga di Polindes Dadaprejo Batu Mei s.d Agustus 2014
Kemampuan
Perlu Belum
No Teknik Menguasai Jumlah
latihan Menguasai
1 Olah nafas 17 (85%) 3 (15%) 0 (0%) 20 (100%)
2 Relaksasi 16(80%) 4 (20%) 0 (0%) 20 (100%)
3 Pelvic rocking 18 (90%) 1 (5%) 1 (5%) 20 (100%)
4 Perinuem massage 1 (5%) 9 (45%) 10 (50%) 20 (100%)
5 Endorfin massage 11 (55%) 8 (40%) 1 (5%) 20 (100%)
6 Birthplan 11 (55%) 0 (0%) 9 (45%) 20 (100%)

3
International Conference for Midwives (ICMid)

Tabel 1 menunjukkan setelah diberikan kelas partisipasi dari paangan karena perlu
prenatal dimana didalamnya terdapat muatan manipulasi pada daerah intim, kemungkinan
dan gentlebirthinging, sebagian besar responden belum terbiasa dengan hal tersebut
responden berhasil menguasai teknik olah sehingga sulit untuk dilakukan atau
nafas dan relaksasi. Kedua teknik ini sangat diiplementasikan oleh responden.
penting digunakan pada saat proses persalinan Dari banyak teknik yang digunakan
untuk mengurangi raa nyeri saat kontraksi, tersebut, oleh nafas, relaksasi dan pelvic
dengan teknik olah nafas yang baik, oksigenasi rocking yang banyak digunakan saat proses
dari ibu ke janin menjadi optimal sehingga persalinan. Dengan menggunakan kombinasi
meminimaliasi terjadinya asfiksia pada bayi dari ketiga teknik tersebut, maka proses
baru lahir. Olah nafas yang baik dapat persalinan menjadi lebih tenang dan lancar.Hal
memperbesar rongga dada dan merelaksasikan tersebut tertuang pada tabel di bawah ini.
otot-otot jalan lahir sehingga bagian bawah
janin bisa turun ke dalam panggul dengan Tabel 2. Respon ibu bersalin terhadap rasa
lancar. nyeri yang dirasakan di Polindes Dadaprejo
Teknik gentlebirthing yang sudah banyak Batu Mei s.d Agustus 2014
dikuasai oleh responden adalah pelvic
rocking. Pelvic rocking adalah tekinik Respon terhadap Frekuensi %
bergoyang diatas gymball. Teknik ini nyeri persalinan
mempunyai beberapa keuntungan, yang Gelisah 3 15%
pertama dengan bergoyang di atas gymball Sedikit Gelisah 3 15%
maka ibu akan menjadi rileks karena Tenang 9 45%
mengikuti arah rasa sakit sehingga rasa sakit Sangat tenang 5 25%
akan berkurang. Keuntungan kedua yaitu Total 20 100%
dengan melakukan pelvic rocking maka rongga Tabel 2 menunjukkan bahwa selama
panggul akan terbuka lebih lebar. Hal ini proses persalinan, adaptasi responden terhadap
memungkinkan janin mengalami penuurunan rasa nyeri berbeda-beda, sebagian besar dalam
dengan optimal dan meminimalisasi kelainan kategori tenang dan sangat tenang yaitu
presentasi.7 sebanyak 14 orang atau 70%. Sedangkan
Beberapa teknik yang masih belum bisa sisanya sebanyak 30% masih terlihat
dikuasi oleh responden adalah perineum kegelisahan saat merasakan nyeri.
massage dan endorfin massage. Perineum Hal ini mengindikasikan bahwa ibu
massage adalah teknin yang digunakan untuk yang diberikan kelas prenatal lebih tenang
melenturkan perineum dengan cara memijat dalam menghadapi persalinan sehingga bisa
perineum dengan essensial oil selama menghadapi rasa nyeri dengan tenang. Hal ini
kehamilan sehingga diharapkan saat persalinan berdampak positif bagi ibu, bayi maupun
perineum menjadi elastis dan diharapkan dapat penolong sendiri. Ibu bisa menjalani proses
menurunkan kejadian laserasi jalan lahir. dengan baik, keadaan janin baik dan penolong
Sedangkan endorfin massage adalah teknik lebih ringan karena tidak harus mengeluarkan
untuk mengeluarkan endorfin dan oksitosin tenaga ekstra untuk memberikan asuhan untuk
dengan cara memijat daerah kanan kiri mengurangi rasa nyeri karena ibu sudah bisa
vertebra. Teknik ini sulit dikuasai karena melakukannya secara mandiri.8
dalam pelaksanaannya membutuhkan

4
International Conference for Midwives (ICMid)

Tabel 3. Upaya yang digunakan responden untuk mengurangi dan mempercepat proses
persalinan di Polindes Dadaprejo Batu Mei s.d Agustus 2014
Upaya untuk mengurangi Frekuensi Total (%)
nyeri
Ya Tidak
Olah nafas 20 (100%) 0 (0%) 15%
Pelvic rocking 15 (75%) 5 (25%) 15%
Jalan-jalan 11 (55%) 9 (45%) 45%
Endorfin massage 1 (5%) 19 (95%) 25%
Essential oil 1 (5%) 19 (95%)
Tabel 3 menunjukkan bahwa upaya yang Endorfin massage jarang digunakan karena
dilakukan responden untuk mengurangi rasa membutuhkan kolaborasi antara ibu dan
nyeri sangat beragam. Semua (100%) pasangan.
responden menggunakan olah nafas, banyak Saat kelas prenatal jarang ibu hamil
yang menyukai untuk menggunakan pelvic yang diantarkan oleh suami sehingga pelvic
rocking (75%), tetapi sangat sedikit yang rocking lebih mudah digunakan oleh ibu
menggunakan endorfin massage (hanya 5%). hamil.9

Tabel 4. Usia kehamilan, Lama Kala I, kala II dan Kala III persalinan
Keterangan Usia Jumlah Kecepatan Lama Kala Lama Kala
Kehamilan kehamilan persalinan II III
Mean 39,4 2,2 0,65 24,7 11,7
Median 40 2 0,66 25 10
Modus 40 2 0,60 30 10
Minimal 35 1 0,3 5 5
Maksimal 43 5 1 50 15
SD 2,11 1,10 0,21 13,42 2,97

Tabel 4 menunjukkan bahwa usia kehamilan hal yang normal karena rata-rata plasenta lahir
responden saat persalinan rata-rata berusia 39,4 dalam 10-15 menit dengan batas maskimal 30
minggu dan kebanyakan berusia 40 minggu. menit. Berdasarkan tabel 20 terlihat bahwa
Ini adalah usia paling idel untuk melahirkan sebagian besar responden mengeluarkan
karena seluruh organ bayi sudah berfungsi perdarahan kurang dari 100 cc sebanyak 90%.
dengan baik dan optimal. Sisanya sebanyak 10% mengalami
Jumlah kehamilan rata-rata adalah perdarahan > 100 cc tetapi tidak lebih dari 500
kehamilan ke-2. Kehamilan ini beresiko rendah cc. Hal ini berarti seluruh responden termasuk
karena uterus tidak banyak mengalami distensi kategori normal karena dikatakan mengalami
yang menyebabkan gangguan kontraksi, tetapi perdarahan post partum adalah jika
masih ada responden yang hamil ke-5, hal ini perdarahan lebih dari 500cc.10
berpotensi terjadi gangguan kontraksi yang
menyebabkan proses persalinan menjadi SIMPULAN
lambat dan terjadi perdarahan pasca persalinan. Sebagian besar responden mengusai dalam
Dilihat dari kecepatan persalinan, rata- teknik olah nafas (85%), relaksasi (80%), dan
rata responden mengejan selama 24 menit. pelvic rocking (90%), tetapi banyak yang
Waktu ini bisa dikatakan relatif cepat karena mengalami kesulitan dalam melakukan
batas lama kala II pada primigravida adalah 2 perineum massage (50%), endorfin massage
jam atau 120 menit sedangkan pada (40%) dan belum banyak yang bisa menguasai
multigravida adalah 60 menit atau 1 jam. birthplan yaitu sebanyak 45%. Lama kala I
Dilihat dari lama kala III, rata-rata plasenta seluruhnya kurang dari 1 cm/jam, kontraksi,
sudah lahir dalam 10 menit. Hal ini merupakan DJJ dan penurunan seluruhnya normal. Kala II

5
International Conference for Midwives (ICMid)

pada seluruh responden berjalan normal yaitu Punggung terhadap intensitas nyeri kala I
kurang dari 60 menit. Kala III pada seluruh fase laten persalinan normal melalui
responden berjalan normal kurang dari 15 peningkatan kadar endorfin. Jurnal
menit. Dari hasil tersebut diharapkan seluruh Kesehatan Andalas.2015 Vol 4 no.1
komponen bisa menerapkan gentlebirthinging 10. Vakilian K, Keramot A. The Effect of The
dalam kelas prenatal Breathing Technique with and without
Aromatheraphy on the length of the active
phase and second stage labour. Nursing
DAFTAR PUSTAKA and midwifery Studies.2013.1(13).
1. Bobak, 2008. Bobak. Buku Ajar
Keperawatan Maternitas.EGC.Jakarta.
2. Aura, 2011. Angka Kejadian SC di
Indonesia. www.depkes.co.id. Diakses 15
Mei 2012.
3. Tangkis, Pamuji. Hubungan Antara
Pengetahuan Dan Sikap Dengan
Mobilisasi Pada Ibu Pasca Operasi Sectio
Caesaria (SC) Di Wilayah Kecamatan
Kalipare Kabupaten Malang. Tugas Akhir.
STIKES Widyagama Husada.2012
4. Sartika, Dewi. Pengaruh Latihan Pelvic
Rocking Terhadap Penurunan Nyeri
Punggung Pada Kehamilan Trimester III
Di Bps Hj. Ena Mualifah, Amd. Keb.
Kecamatan Pakis Kabupaten Malang.
Tugas Akhir. STIKES Widyagama
Husada.2012
5. Herawati, Rimanuri. Hubungan Pemberian
Terapi Birthball Terhadap Tingkat
Kecemasan Ibu Hamil Trimester III Di
BPS PMI Gadungsari Kecamatan
Tirtoyudho Kabupaten Malang. Tugas
Akhir. STIKES Widyagama Husada.2012
6. Ermawati. Pengaruh Pemberian Terapi
Cermin Terhadap Intensitas Nyeri Pada
Ibu Inpartu Kala II Di BPS Roudhotul
Nasikha Ngemplakrejo Kota Pasuruan.
Tugas Akhir. STIKES Widyagama
Husada. 2012
7. Mirzakhani M, Hejazinia Z, Galmakani N.
The Effect of Birthball Exercises During
Pregnancy on Mode Of Delivery in
Primiparous Woman.Article 2. Volu 3.
Issue 1;January 2015(269-275)
8. Kamalifard M, Shahnazi M, Ghahvechi A.
The Effect of Breathing Technique on
Pain Intensity and Psysiological
Responses to labour pain. Jorunal of
caring science. J.Caring.sci.2012.Jun
1(2):73-78
9. Yeni Aryani, Masrul, Lisma
Evareny.Pengaruh Massase Pada
6
International Conference for Midwives (ICMid)

EDUCATION POST PARTUM SINCE ANTENATAL BY MIDWIFE :


AN EFFECTIVE METHOD TO PREVENT POSTPARTUM DEPRESSION

Sarma Nursani Lumbanraja, Citra Aryanti


Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Postpartum depression (PPD) can harm both mother and her child. Providing education about
postpartum period was considered to be effective in preventing the symptoms of PPD. However,
studies still showed different results and it was unclear whether applying education since
antenatal will decrease postpartum depression. This study was conducted in pregnant women
that admitted to Delima Clinic in 2015. Subjects were randomly divided into 3 groups: control
group, antenatal group (received education since the antenatal period), and postnatal group
(received education since the immediate postnatal period). Education was carried out by trained
midwives. Diagnosis of PPD was assessed 7 days postpartum by Edinburgh Postnatal
Depression Scale questionnaire. A total of 22 women was included respectively in the three
groups. Twenty-five subjects (38%) experienced postpartum depression with total EPDS
questionnaire’s score was 7.91 ± 4,083. This study showed a significant difference of
postpartum depression among the control, antenatal, and postnatal groups (p=0.02; X 2 7.865).
Only 4 subjects (16%) in the antenatal group experienced postpartum depression. This study
showed a significant difference in the incidence of postpartum depression among the control,
antenatal, and postnatal groups with the lowest incidence of postpartum depression in antenatal
group. From the observation, the subject stated that maternal education that started since
antenatal will reduce their fears about labor and strengthen their confidence after birth.

Keywords: Postpartum depression, education, antenatal, postnatal.

PENDAHULUAN sampai 1 tahun bahkan menjadi rekuren setiap


Depresi postpartum (PPD) adalah kondisi wanita itu berada dalam fase postpartum
penurunan mood yang terjadi pasca persalinan. selanjutnya.6 Walaupun PPD sama dengan
Prevalensi PPD rata-rata ditemukan 10-15% depresi, namun dalam periode postparum,
pada seluruh kelompok umur, namun dalam depresi yang terjadi dapat mempengaruhi dua
beberapa kelompok, prevalensi ini bisa orang, ibu dan anaknya. Depresi yang dialamai
mencapai 35%.1 Di negara berkembang, ibunya akan mengurangi waktu pengurusan
Dennis et al. (2006) menemukan prevalensi anaknya, tidak sepenuh hati dalam pengurusan
PPD sebesar 13%.2 Di Medan, Sinaga et al. anak sheingga mengangguan ikatan ibu-anak,
(2015) menunjukkan prevalensi PPD yang yang berimbas ke gangguan pertumbuhan dan
cukup tinggi yaitu 26% dengan kasus perkembangan anak. Dalam kondisi yang lebih
terbanyak pada wanita yang berusia <20 tahun, parah, PPD dapat memicu infantisida.7 PPD
primipara, memiliki pendidikan menengah ke ditegakkan dengan kriteria Diagnostic and
bawah, penghasilan rendah, dan melahirkan Statistical Manual of Mental Disorders-4,
dengan persalinan spontan pervaginam.3 Pada yaitu depresi mayor yang terjadi dalam 1 bulan
postpartum, pengaruh fluktuasi hormonal postpartum. Namun, kriteria ini sulit
segera setelah persalinan, stres dalam digunakan dan tidak terlalu objektif dalam
pengurusan anak, perubahan pola tidur akibat menilai gejala PPD yang berbeda dalam setiap
tangisan anak, komorbiditas maternal, dan individual. Beberapa kuesioner telah
defisiensi nutrisi dapat memperburuk PPD. 4 dikembangkan untuk diagnosis PPD.8Kadir et
PPD biasanya timbul pada 3 bulan pertama al. (2004) menunjukkan bahwa EPDS lebih
postpartum dengan puncak pada minggu ke 4- superior dibandingkan kuesioner GHQ dan
6.5 Sebanyak 50% kasus PPD dapat bertahan HDS dalam mendeteksi wanita dengan depresi

7
International Conference for Midwives (ICMid)

postparrtum yang ditentukan dengan clinical melaksanakan antenatal care pertama, tidak
interview schedule. Cut off point ditentukan memiliki gangguan psikologis lain, tidak
terbaik 11.5 dengan sensitivitas 95.1% dan merokok, tidak minum alkohol, dan tidak
spesifisitas 72.7%.9Kondisi depresi telah memiliki keganasan. Alur pada penelitian ini
banyak dikaitkan dengan kurangnya persiapan subjek diberikan kuesioner yang berisi faktor
ibu dalam menghadapi bahwa ia akan memiliki sosiodemografis dan karakteristik obstetrik
seorang anak.10 Pemberian edukasi secara dini, pasien, yang meliputi pertanyaan usia pasien,
khususnya oleh bidan, akan menjadi suatu pekerjaan, pendidikan, dan paritas.
intervensi yang tepat untuk prevensi PPD. Randomisasi dilakukan dengan program
Edukasi meliputi informasi mengenai periode komputer untuk membagi subkjek menjadi 3
postpartum dan pelatihan bagaimana cara kelompok, kelompok yang menerima edukasi
mengurus anak. Edukasi secara interpersonal mengenai depresi postparum sejak antenatal,
dianggap sebagai edukasi yang paling efektif. pada postnatal, atau tidak mendapat edukasi
Edukasi ini menganalisis masalah psikis sama sekali. Subjek pada kelompok 1 (kontrol)
maupun fisik yang dialami wanita dan diberikan perawatan antenatal care standar.
memberikan solusi atas hal tersebut dan Subjek pada kelompok 2 (antenatal)
memberi saran mengenai kondisi postpartum.11 mendapatkan tambahan edukasi mengenai
Strass (2002) menunjukkan bahwa edukasi kondisi postpartum selama 1 jam pada setiap
oleh bidan secara signifikan memperbaiki kunjungan antenatal (K1-K4) dan edukasi
mood pasien, kehidupan sosial yang membaik, postnatal. Subjek pada kelompok 3 (postnatal)
dan kepastian bahwa mereka tidak sendiri.12 mendapat edukasi mengenai kondisi
Edukasi banyak yang dilakukan postnatal, postpartum sejak hari 0 postpartum sampai
tetapi meta analisis Dennis et al. (2005) pada 4 pulang dari rawatan di klinik bersalin. Edukasi
RCT menunjukkan bahwa kejadian PPD lebih antenatal meliputi persiapan mental, kebutuhan
rendah pada wanita yang menerima edukasi ibu dan bayi, persiapan dana, persiapan
sejak antenatal dibandingkan baru menjelang persalinan, dan adaptasi dengan
menerimanya sejak postnatal (RR 1.21 vs RR kondisi telah memiliki anak. Edukasi postnatal
0.76), namun hal ini tidak berbeda secara sama dengan edukasi antenatal kecuali
signifikan.2 persiapan menjelang persalinan. Edukasi
dilakukan oleh bidan yang sebelumnya telah
METODE dilatih untuk melakukan konseling postpartum.
Desain Penelitian ini adalah penelitian kohort Setelah 1 minggu postpartum atau saat pasien
prospektif yang di lakukan di klinik bersalin kontrol berobat jalan ke institusi kami, kami
Delima di Belawan tahun 2015. Proses menilai adanya kejadian depresi postpartum
pengambilan sampel dilakukan dengan dengan menggunakan kuesioner EPDS.
menggunakan cluster sampling. Pada pasien, Skoring dilakukan menggunakan skoring
dijelaskan terlebih dahulu mengani tujuan dan Likert dengan skala 0-3 untuk menilai
prosedur penelitian dan bagi yang setuju untuk keparahan gejala. Pada pertanyaan no 1, 2, dan
berpartisipasi, diharuskan menandatangani 4, skor 0-3 dilakukan dari bawah ke atas. Pada
informed consent. pertanyaan no 3, 5-10, skor 0-3 dilakukan dari
Penelitian ini telah disetujui oleh Komite atas ke bawah. Bila total skor <11.5, pasien
Etik Fakultas Kedokteran Universitas dikategorikan tidak mengalami PPD, namun
Sumatera Utara.Subjek pada penelitian ini bila total skor >11.5, pasien diaktegorikan
adalah seluruh wanita hamil yang berkunjung mengalami PPD. Analisis statistik pada
ke klinik bersalin di Medan diikut sertakan penelitian ini data ditabulasi dan dianalisis
pada penelitian. Wanita hamil diikuti dari menggunakan SPSS 17.0, Inc (Chicago, IL).
periode antenatal pertama sampai 1 bulan Data dinyatakan dalam mean, standar deviasi,
postnatal. Periode follow up dikontrol dengan dan persentase. Untuk menilai hubungan
ketat dan bila wanita tidak menghadiri 1 kali karakteristik dan kejadian PPD, digunakan Chi
antenatal care, wanita ini dikeluarkan dari Square tau Fischer Exact. Untuk menilai
penelitian. Kriteria inklusi subjek penelitian ini perbedaan kejadian PPD dalam ketiga
adalah berusia >20 tahun, primigravida, baru kelompok edukasi, digunakan Chi Square,
8
International Conference for Midwives (ICMid)

Fischer Exact, atau ANOVA. Batas signifikan


yang ditetapkan adalah 95%.
yang berkunjung dari sejak awal kehamilan
HASIL sampai bersalin di Klinik Delima tahun 2015.
Penelitian ini dilakukan pada 66 wanita hamil

9
International Conference for Midwives (ICMid)

Karakteristik subjek penelitian dapat dilihat postnatal) juga tidak menunjukkan perbedaan
pada tabel 1. Tidak ada perbedaan yang signifikan (masing-masing p=0.622;
karakteristik baik usia, pekerjaan, maupun p=0.12; p=0.68). Hal ini membuat kekuatan
pendidikan terhadap kejadian PPD (masing- penelitian ini semakin baik menilai efek
masing p=0.308; p=0.464; p=0.846). edukasi terhadap kejadian postpartum pada
Karakteristik demografis diantara ketiga kedua kelompok.
kelompok penelitian (kontrol, antenatal, dan
Tabel 1. Karakteristik subjek penelitian
Karakteristik Depresi postpartum Tidak depresi p value
postpartum
Usia 24.68 ± 2.968 24.05 ± 4.025 0.308
Pekerjaan
Tidak bekerja 4 (16%) 5 (12.2%) 0.464
Bekerja 21 (84%) 36 (87.8%)
Pendidikan
SMP 5 (20%) 6 (14.6%) 0.846
SMA 19 (76%) 33 (80.5%)
Perguruan tinggi 1 (4%) 2 (4.9%)

Diagnosis PPD dilakukan dengan paling banyak dikeluhkan dibandingkan 10


menggunakan kuesioner EPDS. Sebanyak 7 gejala lain. Gejala yang paling jarang
subjek (10.6%) mengaku tidak dapat sama dikeluhkan adalah pikrian untuk melukai diri
sekali tertawa dan melihat sisi yang lucu dari saya sendiri sempat terlintas di pikiran saya
sesuatu hal. Gejala ini juga menjadi gejala (Tabel 2).
Tabel 2. Diagnosis PPD berdasarkan kuesioner EPDS
Pertanyaan Rerata 0 1 2 3
Saya sanggup tertawa dan 0.97 ± 29 17 13 7
melihat sisi yang lucu dari 1.037 (43.9%) (25.8%) (19.7%) (10.6%)
sesuatu
Saya mencari kesenangan 0.85 ± 26 25 14 1
atas sesuatu 0.808 (39.4%) (37.9%) (21.2%) (1.5%)
Saya menyalahkan diri 0.8 ± 29 22 14 1
saya dengan tidak 0.827 (43.9%) (33.3%) (21.2%) (1.5%)
beralasan ketika sesuatu
nampak serba salah
Pertanyaan Rerata 0 1 2 3
Saya merasa cemas tanpa 0.94 ± 19 33 (50%) 13 1
alasan yang jelas 0.742 (28.8%) (19.7%) (1.5%)
Saya merasa takut atau 0.82 ± 28 23 14 1
cemas tanpa alasan yang 0.821 (42.4%) (34.8%) (21.2%) (1.5%)
jelas
Banyak hal-hal yang 0.73 ± 27 30 9 0 (0%)
menguasai pikiran saya 0.692 (40.9%) (45.5%) (13.6%)
Saya merasa begitu tidak 0.88 ± 20 34 12 0 (0%)
bahagia hinggga saya 0.691 (30.3%) (51.5%) (18.2%)
mengalami kesulitan tidur
Saya merasa sedih atau 0.82 ± 17 44 5 (7.6%) 0 (0%)
terpuruk 0.552 (25.8%) (66.7%)

10
International Conference for Midwives (ICMid)

Saya begitu tidak bahagia 0.59 ± 30 33 (50%) 3 (4.5%) 0 (0%)


sehingga saya menangis 0.581 (45.5%)
Pikrian untuk melukai diri 0.53 ± 42 15 7 2 (3%)
saya sendiri sempat 0.808 (63.6%) (22.7%) (10.6%)
terlintas di pikiran saya
Sebanyak 25 subjek penelitian (38%) menerima edukasi sejak antenatal
mengalami depresi postpartum (Tabel 3). Skor menunjukkan insidensi depresi postparum.
kuesioner EDDS total adalah 7.91 ± 4.083. Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan
Depresi postpartum paling banyak ditemukan signifikan kejadian PPD antara kelompok
pada kelompok yang tidak menerima edukasi kontrol, antenatal, dan postnatal (p=0.02; X2
untuk persiapan postparum (13 subjek, 52%). 7.865).
Hanya 4 subjek (16%) di kelompok yang
Tabel 3. Perbedaan kejadian depresi postpartum pada kelompok kontrol, antenatal, dan postnatal
Edukasi Depresi Tidak depresi p value Skor EPDS p value
postpartum postpartum
Kontrol 13 (52%) 9 (22%) 0.02 9.05 ± 3.697 0.11
Antenatal 4 (16%) 18 (43.9%) (X2= 7.865) 5.82 ± 4.316 (F= 4.853)
Postnatal 8 (32%) 14 (34.1%) 8.86 ± 3.532
Total 25 (100%) 41 (100%) 7.91 ± 4.083
Bila meninjau dari skor EPDS, tidak mekanisme biologis yang sama dengan
ditemukan perbedaan signifikan antara ketiga gangguan depresi mayor. Pada depresi,
kelompok (p=0.11) (Tabel 3). Uji post hoc terjadi gangguan integritas sirkuit neuronal
Tukey menunjukkan perbedaan signifikan dan penurunan volume otak. Rangsang
hanya antara kelompok kontrol dan antenatal sitokin proinflamasi pada stres akan
(p=0.02) serta antenatal dan postnatal menganggu perkembangan sinaps dan
(p=0.029). Namun, tidak ada perbedaan neuronal. Hal ini akan menyebabkan
signifikan antara kelompok kontrol dan gangguan neurotransmitter dan menimbulkan
postnatal (p=0987). gangguan mood berupa depresi. Dalam
kondisi postpartum, penurunan hormon
DISKUSI estrogen dan progesteron, akan menurunkan
Kejadian PPD ditemukan semakin tinggi aktivitas serotonergik pusat. Penurunan
insidensinya. Pada penelitian ini, Sebanyak serotonin seperti yang diketahui akan
25 subjek penelitian (38%) mengalami membuat penurunan mood atau depresi.18
depresi postpartum. Angka ini lebih tinggi Diagnosis PPD pada penelitian ini
dibandingkan yang ditunjukkan penelitian menggunakan EPDS karena ini merupakan
sebelumnya. Berbagai faktor dapat kuesioner yang sederhana, mudah dipahami,
mempangaruhi termasuk etnis dan ras. PPD dan hanya membutuhkan waktu <10 menit
terutama terjadi pada primigravida di mana untuk diselesaikan.19 Kuesioner ini telah
seorang wanita bisa jadi belum siap untuk divalidasi di Afrika Selatan,20 Australia,21
memiliki seorang anak.13 PPD dapat Belanda,22 Brazil,23 Hongkong,24 Italia,25
membawa pengaruh buruk bagi ibu dan Swedia,26 dan Malaysia9 dengan sensitivitas
anaknya.14 Hubungan ibu dan anak akan 49-95% dan spesifisitas 67-100%. Edukasi
menjadi negatif dan datar sehingga anak akan psikis mengenai kondisi hormonal dan
menjadi susah diatur dan aversi.15,16 Beberapa fisiologis yang akan di alami selama periode
penelitian bahkan menunjukkan risiko postpartum ditemukan efektif dalam
gangguan pertumbuhan, perkembangan, menurunkan dan mencegah gejala PPD.27,28
kontrol emosional, dan rendahnya fungsi Walaupun begitu, banyak penelitian yang
kognitif di kemudian hari.17 PPD memiliki menemukan edukasi hanya bersifat plasebo.

11
International Conference for Midwives (ICMid)

Buist et al. (2010) gagal menunjukkan Uji post hoc Tukey menunjukkan perbedaan
efektivitas edukasi antenatal dalam mencegah signifikan hanya antara kelompok kontrol dan
PPD. Edukasi antenatal sudah mencakup antenatal (p=0.02) serta antenatal dan
informasi mengenai kondisi psikis, kesiapan postnatal (p=0.029). Namun, tidak ada
mental, kondisi rumah tangga, dan kondisi perbedaan signifikan antara kelompok kontrol
lain yang dikeluhkan pasien.29 Hayes et al. dan postnatal (p=0987). Penelitian ini
(2001) juga menunjukkan edukasi yang menunjukkan hasil yang sama dnegan meta
dilakukan pada trimester 2 serta pemberian analisis Dennis et al. (2005) pada 4 RCT
buku pengetahuan kebidanan untuk dibawa menunjukkan bahwa kejadian PPD lebih
pulang tidak menunjukkan penurunan PPD rendah pada wanita yang menerima edukasi
yang signifikan.30 Tam et al. (2003) bahkan sejak antenatal dibandingkan baru
melakukan edukasi pada kelompok wanita menerimanya sejak postnatal (RR 1.21 vs RR
berisiko tinggi terhadap PPD dan tidak 0.76), namun hal ini tidak berbeda secara
menunjukkan perbedaan yang signifikan signifikan.2 Hasil penelitian mengisyaratkan
mengenai kejadian PPD dengan kelompok perlunya dilakukan edukasi dari antenatal,
yang tidak menerima edukasi.31 Beberapa tidak hanya dimulai pada masa postnatal.
peneliti, sama dengan penleitian ini Walaupun begitu, perlu diketahui bahwa
menunjukkan adanya penurunan kejadian beberapa faktor turut mempengaruhi
PPD yang signifikan pada kelompok yang keberhasilan edukasi seperti pengaruh
diberikan edukasi, baik antenatal maupun dukungan dari pasangan.35 Bila sudah terjadi
postnatal. Phipps et al. (2013) menujukkan PPD, harus dilakukan kombinasi terapi
bahwa edukasi sejak antenatal secara psikologis dan farmakologi. Untuk terapi
signifkan menurunkan kejadian PPD.32 psikologis, dapat dilakukan terapi
Moshki et al. (2014) menunjukkan pemberian interpersonal atau kognitif. Bila tidak ada
edukasi selama 1 bulan pertama postpartum respon, disarankan untuk menambahkan
secara signfiikan menurunkan kejadian SSRI atau antidepresan trisiklik.36,37
depresi postpartum.33 O’ Hara et al. (2000)
menunjukkan bahwa terapi interpersonal SIMPULAN
selama 12 minggu pada 120 wanita Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan
postpartum yang mengalami PPD signifikan kejadian PPD antara kelompok
menunjukkan berkurangnya gejala depresi kontrol, antenatal, dan postnatal dengan
yang signifikan.34 Subjek dalam penelitian ini kejadian depresi postpartum ditemukan
sangat antusias dalam mendengarkan edukasi paling rendah pada kelompok yang menerima
yang dilakukan oleh bidan terlatih. Mereka edukasi sejak antenatal.
aktif bertanya terutama mengenai hal-hal
yang perlu dipersiapkan saat menjelang DAFTAR PUSTAKA
persalinan. Mereka menyatakan bahwa hal ini 1. Moses-Kolko, Eydie and Erika Kraus
akan mengurangi ketakutan yang berlanjut Roth. Antepartum and Postpartum
pasca persalinan yang akan mempengaruhi Depression: Healthy mom, healthy
kesiapannya dalam pengurusan anak baby. Journal of the American Medical
nantinya. Tidak dapat dipungkiri bahwa Women’s Association 2004; 59: 181-
dalam penelitian ini, ditunjukkan hanya 4 191.
subjek (16%) di kelompok yang menerima 2. Dennis CL, Chung-Lee L: Postpartum
edukasi sejak antenatal menunjukkan depression help-seeking barriers and
insidensi depresi postparum. Penelitian ini maternal treatment preferences: a
menunjukkan adanya perbedaan signifikan qualitative systematic review. Birth
kejadian PPD antara kelompok kontrol, 2006, 33: 323-331.
antenatal, dan postnatal (p=0.02; X2 7.865).

12
International Conference for Midwives (ICMid)

3. Sinaga R, Kaban RF, Aldiansyah D, Arch Womens Met Health 2011; 14(1):
Barus RP, Nasution SA & Tala MR. 55-56.
Gambaran skrining depresi postpartum 12. Strass P. Rural community health:
pada wanita postpartum dengan Postpartum depression support.
menggunakn Edinburgh depression Canadian Nurse 2002; 98(3), 25-28.
scale di RSUP H. Adam Malik dan RSU 13. Thurgood S, Avery DM & Williamson
dr. Pirngadi Medan. Available at: L. Postpartum depression (PPD). Am J
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123 Clin Med 2009; 6(2): 17-22.
456789/41355/6/Abstract.pdf 14. Burke L. The impact of maternal
4. Parry BL, Newton RP. depression on familial relationships. Int
Chronobiological basis of female- Rev Psychiatr 2003; 15:243–255.
specific mood disorders. 15. Moses-Kolko E & Roth E. Antepartum
Neuropsychopharmacology 2001; 25(5): and Postpartum Depression: Healthy
102-8. mom, healthy baby. Journal of the
5. O’Hara MW, Swain AM: Title Rates American Medical Women’s
and risk of postpartum depression-a Association 2004; 59: 181-91.
meta-analysis. Int Rev Psychiatry. 1996, 16. Perfetti J, Roseanne C, and Capri-Mara
8: 37-54. F. Postpartum Depression:
6. Garcia-Esteve L, Ascaso C, Ojuel J, Identification, screening, and treatment.
Navarro P. Validation of the Edinburgh Wisconsin Medical Journal 2004;
Postnatal Depression Scale (EPDS) in 103(6):56-63.
Spanish mothers. J Affect Disord 2003; 17. Grace SL, Evindar A, Stewart D. The
75:71-6. effect of postpartum depression on child
7. Beck CT. Teetering on the edge: a cognitive development and behavior: a
substantive theory of postpartum review and critical analysis of the
depression. Nurs Res 1993; 42: 42-8. literature. Arch Womens Ment Health
8. Seyfried LS, Marcus SM: Postpartum 2003; 6: 263–274
mood disorders. Int Rev Psychiatry. 18. Hay DF, Pawlby S, Sharp D, Asten P,
2003, 15(3): 231-10. Mills A & Kumar R. Intellectual
9. Kadir AA, Nordin R, Ismail SB, Yaacob problems shown by 11ಣyearಣold children
MJ, Mustapha WM. Validation of the
whose mothers had postnatal
Malay Version of Edinburgh Postnatal
depression. J Child Psychol Psychiatry
Depression Scale for Postnatal Women
2001; 42:871–889
in Kelantan, Malaysia. Asia Pacific
19. Cox, J.L., Holden, J.M., and Sagovsky,
Family Medicine, 2004; 3(1-2): 9-18
R. 1987. Detection of postnatal
10. Dietz, Patricia M., Selvi B.Williams,
depression: Development of the 10-item
William M. Callaghan, Donald J.
Edinburgh Postnatal Depression Scale.
Bachman, Evelyn P. Whitlock, and
British Journal of Psychiatry 150:782-
Mark C. Hornbrook. Clinically
786.
Identified Maternal Depression Before,
20. Lawrie TA, Hofmeyr GJ, De Jager M &
During, and After Pregnancies Ending
Berk M. Validation of the Edinburgh
in Live Births. American Journal of
Postnatal Depression scale on a cohort
Psychiatry 2007; 164(10): 1515-20.
of South African women. South African
11. Zlotnick C, Capezza NM, Parker D. An
Medical Journal 1998; 88(10), 1340-
interpersonally based intervention for
1344
low-income pregnant women with
21. Boyce PM & Todd AL. Increased risk
intimate partner violence: a pilot study.
of postnatal depression after emergency

13
International Conference for Midwives (ICMid)

caesarian section. The Medical Journal preparation for parenthood classes. J


of Australia 1992; 157: 172-174 Affect Disord 2004; 79:113–126.
22. Pop VJ, Komproe IH and Son VM. 29. Buist A, Westley D, Hill C. Antenatal
Characteristic of the Edinburgh Post prevention of postnatal depression. Arch
Natal Depression Scale in the Women Ment Health. 1999;1:167-73.
Netherlands. Journal of the Affective 30. Hayes BA, Muller R, Bradley, BS.
Disorder 1992; 26, 105-110 Perinatal depression: a randomized
23. Santos IS, Matijasevich A, Tavares BF, controlled trial of an antenatal education
Barros AJ, Botelho AP, Lapolli C, et al. intervention for primiparas. Birth.
Validation of the Edinburgh Postnatal 2001;28(1):28-35.
Depression Scale (EPDS) in a sample of 31. Tam WH, Lee DT, Chui HF, Ma KC,
mothers from the 2004 Pelotas Birth Lee A, Chung TK. A randomised
Cohort Study. Cad. Saúde Pública 2007; controlled trial of educational
23(11): 2577-2588. counseling on the management of
24. Carpiniello B, Parionte CM, Serri F, women who have suffered suboptimal
Costa G & Carta MG. Validation of outcomes in pregnancy. BJOG.
Edinburgh Postnatal Depression scale in 2003;110(9):853-9.
Italy. Journal of Psychosomatic 32. Phipps MG, Raker CA, Ware
Obstetric and Gynecology 1997; 18(4): CF, Zlotnick C. Randomized controlled
280-285. trial to prevent postpartum depression in
25. Lee DTS, Yip SK, Chiu HFK, Leung adolescent mothers. Am J Obstet
TYS, Chan KPM, Chau IOL, Leung Gynecol. 2013; 208(3): 1921-6.
HCM and Chung TKH. Detecting 33. Moshki M, Beydokhti TB. The effect of
postnatal depression in Chinese women: educational intervention on prevention
Validation of the Chinese version of the of postpartum depression: an application
Edinburgh Postnatal Depression Scale. of health locus of control. J Clin
British Journal of Psychiatry 1998; 172: Nursing 2014; 23(15-16): 2256-2263.
433-437. 34. O’Hara MW, Stuart S, Gorman LL &
26. Wickberg B and Hwang CP (1996). The Wenzel A. Efficacy of interpersonal
Edinburgh Postnatal Depression Scale; psychotherapy for postpartum
validation on a Swedish community depression. The Cochrane Library 2000;
sample. Acta Psychiatrica Scandinavia, 4: 1-29.
94, 181-184. 35. Misri, S., Kostaras, X., Fox, D., &
27. Elliott SA, Leverton TJ, Sanjack M, Kostaras, D. The impact of partner
Turner H, Cowmeadow P, Hopkins J, support. 2000
Bushnell D. Promoting mental health 36. Gupta S, Masand PS, Rangwani, S.
after childbirth: a controlled trial of Selective serotonin reuptake inhibitors
primary prevention of postnatal in pregnancy and lactation. Obstet
depression. Br J Clin Psychol 2000; Gynecol Surv 1998;53(12):733-6.
39:223-241 37. Epperson CN, Jatlow PI, Czarkowski K,
28. Matthey S, Kavanagh DJ, Howie P, Anderson GM. Maternal fluoxetine
Barnett B, Charles M. Prevention of treatment in the postpartum period:
postnatal distress or depression: an effects on platelet serotonin and plasma
evaluation of an intervention at drug levels in breastfeeding mother-
infant pairs. Pediatrics2003;112(5):e4

14
International Conference for Midwives (ICMid)

RELATIONSHIPS KNOWLEDGE AND SUPPORT FAMILY WITH


BEHAVIOR PREGNANT MOTHER IN RESPONSE PREGNANCY MYTHS IN
THE SUMUREJO VILLAGE SEMARANG

Dita Wasthu Prasida, Istiana


Program Studi DIV Bidan Pendidik STIKES Karya Husada Semarang

ABSTRACT

Indonesian society know so many myths related to pregnancy,which if not adhered will impact to
the fetus and mother.The preliminary study of 10 pregnant women in the village Sumurejo
District of Gunung Pati, 2 pregnant women brought scissors/pin mounted on the clothes so that
the fetus be spared from harm,3 pregnant women were not dare to eat bananas attached for fear of
having conjoined twin babies,2 pregnant women believed if her husband killed the animal may
result in defects in infants according to the deeds done, and 3 pregnant women always consume
herbal medicine because it was highly recommended by the biological mother/mother-in-law.
This study was to know correlation of Knowledge and the Family Support with behavior of
pregnant women in response to pregnancy myths in Sumurejo District of Gunung Pati Semarang.
The study was a correlation analytic approach Cros Sectional. The population were 62 pregnant
women in the village Sumurejo. A sample of 56 respondents to the sampling technique is simple
random sampling. There is significant correlation between knowledge with pregnant women's
behavior in response to pregnancy myths that exist in the community in the Village Sumurejo
District of Gunung Pati Semarang with p value of 0,007,and there is significant correlation
between family support with pregnant women's behavior in response to pregnancy myths that
exist in the community in the Village Sumurejo District of Gunung Pati Semarang with p value
of 0,004.Society especially pregnant women to seek more information about the myth of
pregnancy in the community either through books or the mass media as well as indirectly related
to pregnancy believe in the myth, as myths surrounding pregnancy sometimes the truth can not
be guaranteed.

Keywords: knowledge, family support, behavior of pregnant women related to pregnancy myths
selalu membawa gunting/peniti yang dipasang
PENDAHULUAN di pakaian agar janin terhindar dari mara
Masyarakat Indonesia mengenal begitu banyak bahaya, 3 ibu hamil tidak berani makan pisang
mitos terkait kehamilan, utamanya di pedesaan dempet karena khawatir akan melahirkan bayi
daerah Jawa berlaku begitu banyak mitos kembar siam, 2 ibu hamil sangat meyakini
(larangan) seputar kehamilan yang beredar di apabila ia atau suami membunuh binatang
masyarakat, dari segi makanan, kesehatan, maka akan berakibat kecacatan pada bayi
tindak-tanduk, ataupun semua hal yang sesuai perbuatan yang telah dilakukan, karena
berkaitan dengan keseharian si ibu hamil hal ini pernah dialami oleh kerabatnya dimana
ataupun si jabang bayi. Tradisi ini amat kuat ada ibu yang melahirkan anak yg cacat karena
diterapkan oleh masyarakat. Beberapa mitos sang suami melanggar pantangan tersebut.
bahkan dipercaya sebagai amanat/pesan dari Tiga ibu hamil selalu mengkonsumsi jamu
nenek moyang yang jika tidak ditaati akan karena sangat dianjurkan oleh ibu kandung/ibu
menimbulkan dampak/karma yang tidak mertua. Padahal menurut Hidayati, tidak semua
menyenangkan1. bahan alami aman bagi kita dan tidak semua
Studi Pendahuluan dilakukan terhadap yang aman bagi orang dengan kondisi normal,
10 ibu hamil di Desa Sumurejo Kecamatan aman pula bagi ibu hamil. Bahan alami dari
Gunung Pati diperoleh bahwa 2 ibu hamil tumbuhan tertentu mengandung zat berbahaya

15
International Conference for Midwives (ICMid)

bagi janin, maka sebaiknya ibu hamil pengindearan terhadap suatu objek tertentu.
menghindari minum jamu apalagi belakangan Penginderaan terhadap objek terjadi melalui
ini marak sekali beredar jamu-jamu dengan panca indra manusia yakni penglihatan,
tambahan berbagai bahan kimia berbahaya 2 pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Perilaku adalah respon individu terhadap Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
suatu stimulus atau suatu suatu tindakan yang melalui mata dan telinga 5
dapat diamati dan mempunyai frekuensi Dukungan Keluarga adalah informasi verbal,
spesifik, durasi dan tujuan baik disadari mupun sasaran, bantuan yang nyata atau tingkah laku
tidak. Perilaku merupakan kumpulan berbagai yang diberikan oleh orang-orang yang akrab
faktor yang saling berinteraksi. Sering tidak dengan subjek didalam lingkungan sosialnya
disadari bahwa interaksi tersebut amat atau yang berupa kehadiran dan hal yang dapat
komplek sehingga kadang-kadang kita tidak memberikan keuntungan emosional atau
sempat memikirkan penyebab seseorang pengaruh pada tingkah laku penerimaannya 6
menerapkan perilaku tertentu. Karena itu amat
penting untuk dapat menelaah alasan dibalik METODE
perilaku individu, sebelum ia mampu Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif
mengubah perilaku tersebut3 dengan metode analitik korelasi. Penelitian ini
Mitos berupa nasihat, anjuran, ataupun menggunakan pendekatan cross sectional,
larangan. Beberapa mitos dapat bertahan menganalisis hubungan pengetahuan,
karena memberikan nasehat yang sesuai dukungan keluarga dengan perilaku ibu hamil
dengan pengalaman sehari-hari tetapi tidak dalam menanggapi mitos kehamilan di
semua mitos yang kebenarannya belum tentu Kelurahan Sumurejo Kecamatan Gunung pati
benar adanya yang terbukti salah atau tidak Kota Semarang.Penelitian dilaksanakan
efektif. Karena masih banyaknya masyarakat dengan bulan Juli 2015 – Februari 2016.
yang percaya terhadap pola fikir zaman dahulu Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil
sehingga masih bertahan hingga saat ini. di Desa Sumurejo Kecamatan Gunung Pati
Dampak yang ditimbulkan menjadi sebuah dengan jumlah populasi ada 62 ibu hamil.
mitos 4 Sampel dalam penelitian ini sebanyak 56 ibu
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” hamil.
dan ini terjadi setelah orang mengadakan

DISKUSI

Tabel 1 Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil dengan Perilaku Ibu Hamil dalam
Menanggapi Mitos Kehamilan yang ada di masyarakat

Perilaku
Pengetahuan Mendukung Tidak mendukung Total P Value
F % F % F %
Baik 19 86,4 3 13,6 22 100 0,007
Cukup 14 48,3 15 51,7 29 100

Kurang 2 40,0 3 60,0 5 100

Jumlah 35 62,5 21 37,5 56 100

16
International Conference for Midwives (ICMid)

Hasil uji statistik Chi-Square diperoleh sangat melekat dimasyarakat dan meskipun
nilai signifikan p-value sebesar 0,007 dengan pengetahuan ibu hamil baik namun ibu hamil
taraf signifikan 5% nilai α adalah 0,05, karena takut jika ia akan mendapat dampak buruk
nilai p-value < α (0,007 < 0,05), maka dapat baik baginya ataupun bagi si jabang bayi jika
disimpulkan bahwa Ho ditolak Ha diterima ia tidak berperilaku mendukung mitos yang
yang artinya ada hubungan yang signifikan sudah turun temurun ada di masyarakat selama
antara pengetahuan ibu hamil dengan perilaku ini. Penelitian ini serupa dengan penelian
ibu hamil dalam menanggapi mitos kehamilan Endarti (2012) dengan hasil penelitian
yang ada di masyarakat di Kelurahan menunjukkan adanya hubungan yang
Sumurejo Kecamatan Gunung Pati Kota signifikan antara pengetahuan ibu hamil
Semarang. dengan perilaku ibu hamil dalam
Hasil Penelitian ini menunjukkan pula mengkonsumsi gizi seimbang dengan nilai
dimana ada responden yang memiliki probabilitas sebesar 0,005 taraf signifikan 5%7
pengetahuan baik namun masih berperilaku
mendukung mitos kehamilan yang ada di
masyarakat, hal ini dikarenakan banyak faktor
yang bisa mempengaruhi perilaku ibu hamil
diantaranya dipengaruhi oleh dorongan dari
keluarga terdekat serta budaya yang sudah

Tabel 2 Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Ibu Hamil dalam Menanggapi
Mitos Kehamilan yang ada di masyarakat

Perilaku
Dukungan Keluarga Total P
Mendukung Tidak Value
mendukung
F % F % F %
Mendukung 24 80,0 6 20,0 30 100 0,004

Tidak Mendukung 11 42,3 15 57,7 26 100

Jumlah 35 62,5 21 37,5 56 100

mitos, namun responden masih berperilaku


Hasil uji statistik Chi-Square diperoleh mendukung mitos-mitos kehamilan yang
nilai signifikan p-value sebesar 0,004 ada di masyarakat, hal ini dikarenakan ibu
dengan taraf signifikan 5% nilai α adalah hamil masih tetap beranggapan jika ia tidak
0,05, karena nilai p-value < α (0,004 < berperilaku mendukung mitos, ibu hamil
0,05), maka dapat disimpulkan bahwa Ho merasa takut akan karma/dampak buruk
ditolak Ha diterima yang artinya ada yang akan diterima, sehingga ia tetap
hubungan yang signifikan antara dukungan mematuhi mitos/amanat yang sudah turun
keluarga dengan perilaku ibu hamil dalam temurun ada di masyarakat terkait mitos
menanggapi mitos kehamilan yang ada di kehamilan tersebut. Dukungan keluarga
masyarakat di Kelurahan Sumurejo sangat penting peranannya dimana keluarga
Kecamatan Gunung Pati Kota Semarang. sebagai orang pertama yang berhubungan
Hasil penelitian ini menunjukkan pula ada dengan ibu hamil, dukungan keluarga
responden yang tidak mendapat dukungan menggambarkan seperangkat perilaku
dari keluarga untuk berperilaku mendukung interpersonal, sifat kegiatannya

17
International Conference for Midwives (ICMid)

berhubungan dengan individu dalam posisi DAFTAR PUSTAKA


dan situasi tertentu (Setiadi, 2008).Peran 1. Kusumandani, W. Bidan Sebuah
individu dalam keluarga didasari oleh Pendekatan Midwifery of
harapan dan pola perilaku dari keluarga, Knowledge. Nuha Medika.
kelompok dan masyarakat. Ibu hamil akan Yogyakarta.2010:127
mengikuti dan menjalankan mitos-mitos 2. Hidayati, N. Mencegah Kehamilan
kehamilan jika anggota keluarga seperti Bayi Cacat. Rapha Publishing.
suami, ibu kandung maupun mertua selalu Yogyakarta. 2013: 18
mengarahkan agar ibu hamil mengikuti 3. Wawan, A. Teori dan Pengukuran
budaya turun-temurun yang terkadang Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
belum tentu kebenarannya itu. Hasil Manusia. Nuha Medika.
penelitian ini sejalan dengan penelitian Yogyakarta. 2010: 48
yang pernah dilakukan oleh Setyawati 4. Florentina. Kontroversi 101 Mitos
(2014) tentang pantang makan pada ibu Kesehatan. Penebar Plus. Jakarta.
nifas di Desa Cranggang Kabupaten Kudus, 201
dengan hasil ada hubungan antara 5. Notoatmodjo, S. Promosi Kesehatan
dukungan keluarga dengan perilaku dan Ilmu Perilaku. Rineka Cipta.
pantang makan pada ibu nifas dengan nilai Jakarta. 2012:138
p-value sebesar 0,000 taraf signifikan 5% 6. Putri, A. Panduan Cerdas
Kehamilan. Genius Publisher.
SIMPULAN Yogyakarta.2009: 39
1. Responden sebagian besar mempunyai 7. Komalasari, H, Bukhori, A, Dina I.
pengetahuan yang cukup mengenai Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil
mitos kehamilan yang beredar di Tentang Mitos Seputar Kehamilan
masyarakat. Di Desa Pegirikan Tahun 2013
2. Respondensebagian besar mendapat (Skripsi). Poltekkes Tegal; 2015
dukungan dari keluarga dalam
3. menanggapi mitos kehamilan yang
beredar di masyarakat.
4. Responden sebagian besar memiliki
perilaku yang mendukung terhadap
mitos kehamilan yang ada di
masyarakat.
5. Ada hubungan yang signifikan antara
pengetahuan ibu hamil dengan perilaku
ibu hamil dalam menanggapi mitos
kehamilan yang ada di masyarakat di
Kelurahan Sumurejo Kecamatan
GunungPati Kota Semarang.
6. Ada hubungan yang signifikan antara
dukungan keluarga dengan perilaku ibu
hamil dalam menanggapi mitos
kehamilan yang ada di masyarakat di
Kelurahan Sumurejo Kecamatan
Gunung Pati Kota Semarang.

18
International Conference for Midwives (ICMid)

RISK FACTORS OF ABORTION IN DR. H. ABDUL MOELOEK HOSPITALS


LAMPUNG PROVINCE IN 2014

Analia Kunang
STIKES Muhammadiyah Pringsewu Lampung

ABSTRACT

Abortion shows the release of the results of a pregnancy before the fetus can live outside the
womb, complications that occur during childbirth is the leading cause of death in infants who
previously lived at the time labor begins, but then stillbirth Data abortions in hospitals Abdoel
Moeloek in the year 2013 as many as 18, 5% of mothers due to pregnancy high risk of 30.8% due
to disease and other factors remaining. The aim of research for known risk factors of abortion in
hospitals DR. H. Abdul Moeloek Lampung Province in 2014. This research is a quantitative
research study design analytic survey with cross sectional approach. The study was conducted at
Hospital DR. H. Abdul Moeloek of the month from October to December 2014. The population
in this study were all pregnant women who were treated ≤ 28 weeks, both the abortion or not
abortion that as many as 1,834 labor. the total sample of 95 respondent. Sampling in this research
using random sampling. The results showed no association of age (p = 0.002 and OR = 12,300),
the relationship of parity (p = 0.001 and OR = 5.723), distance relationship gestation (p = 0.014
and OR = 3.250), the relationship of maternal disease (p = 0.001 and OR = 4.625), anemia
relationship (p = 0.000 and OR = 75,000) with the incidence of abortion in hospitals Abdul
Moeloek 2013. Anemia is the most dominant factor related to abortion (p = 0.000 and OR =
46.017). Suggestion: Advise the mother to seek to protect themselves from diseases that have a
high risk of childbirth complications that require action abortion. and can give mom the
motivation to perform routine antenatal care as well as carry out prenatal care.

Keywords: Risk Factors, abortion

PENDAHULUAN Indonesia adalah tingginya angka kematian


Berdasarkan badan organisasi kesehatan dunia ibu. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan
(WHO) persentase kemungkinan terjadinya Indonesia (SDKI) pada tahun 2012 rata-rata
abortus cukup tinggi. Sekitar 15-40% angka angka kematian ibu (AKI) tercatat mencapai
kejadian, diketahui pada ibu yang sudah 359 per 100.000 kelahiran hidup. Rata-rata
dinyatakan positif hamil dan 60-75% angka kematian ini jauh melonjak dibanding hasil
abortus terjadi sebelum usia kehamilan SDKI tahun 2007 yang mencapai 228 per
mencapai 12 minggu. Diperkirakan frekuensi 100.000 kelahiran hidup.3.Abortus atau
keguguran spontan berkisar antara 10-15% 1. keguguran adalah pengeluaran hasil konsepsi
Namun demikian, frekuensi seluruh keguguran sebelum janin dapat hidup di luar kandungan
yang pasti sukar ditentukan, karena abortus dan sebagai batasan digunakan kehamilan
buatan banyak yang tidak dilaporkan, kecuali kurang dari 28 minggu.2,3
bila telah terjadi komplikasi. Juga karena Kehamilan juga telah terbukti
sebagian keguguran spontan hanya disertai berhubungan dengan risiko keguguran .
gejala dan tanda ringan, sehingga wanita tidak Perempuan yang hamil dalam waktu enam
datang ke dokter atau rumah sakit.1,2 bulan setelah kelahiran sebelumnya telah
Kematian saat melahirkan biasanya ditemukan memiliki lebih rendah tingkat
menjadi faktor utama mortalitas wanita muda keguguran dibandingkan mereka yang hamil
pada masa puncak produtivitas.2 Masalah yang lebih dari enam bulan setelah terakhir .5,6
menjadi prioritas bidang kesehatan di

19
International Conference for Midwives (ICMid)

Keguguran didefinisikan sebagai sebanyak 69 (71,9%). Pada paritas ibu


penghentian atau kurangnya deteksi aktivitas diketahui sebanyak 15 (15,6%) berisiko dan
jantung dalam kantung kehamilan atau sebanyak 81 (84,4%) paritas tidak berisiko.
ketidakmampuan untuk mendeteksi kantung Hasil penelitian Asiawati (2007)
kehamilan yang ditetapkan sebelumnya setelah dengan judul faktor-faktor yang berhubungan
perdarahan vagina selama 12 minggu dengan abortus di Kabupaten Tanggamus
berikutnyatransfer embrio . Kehamilan dengan tahun 2010-2011 pada uji bivariat adalah ada
regresi trofoblastapi tanpa bukti sonografi hubungan antara ekonomi (p=0,025), riwayat
kehamilan yangtidak dianggap sebagai obstetrik (p=0,002), gizi ibu hamil (p=0,029),
keguguran6. Semua wanita yang penolong persalinan (p=0,038), dan kelainan
palingkehamilan baru-baru ini mengakibatkan congenital (p=0,000) terhadap abortus. Dari
keguguran trimester pertama( < 13 selesai beberapa faktor tersebut diketahui bahwa
minggu ) atau , jika kehamilan terbaru lakukan faktor dominan yang berpengaruh terhadap
tidak mengakibatkan keguguran , yang telah abortus adalah riwayat obstetrik dengan
mengalami keguguran. 6,7,8 (pvalue=0,001 dan OR=7,908).
Istilah abortus dipakai untuk Penelitian ini bertujuan untuk
menunjukkan pengeluaran hasil kehamilan mengetahui faktor risiko kejadian abortus di
sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. RSUD DR. H. Abdul Moeloek Provinsi
Sampai saat ini janin yang terkecil, yang Lampung Tahun 2014.
dilaporkan dapat hidup di luar kandungan,
mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. METODE
Akan tetapi karena jarangnya janin yang Jenis penelitian ini adalah penelitian
dilahirkan dengan berat badan di bawah 500 kuantitatif dengan rancangan penelitian survey
gram dapat hidup terus, maka abortus analitik dengan menggunakan pendekatan
dianggap sebagai pengakhiran kehamilan cross sectional, alasan pemilihan rancangan ini
sebelum janin mencapai berat 500 gram atau didasarkan bahwa studi ini cocok untuk
usia kehamilan kurang dari 20 minggu. Secara mempelajari kasus-kasus yang jarang dan
umum abortus dapat disebabkan oleh wanita disebabkan oleh lebih dari satu faktor
itu sendiri (maternal) yaitu abnormalitas penyebab.
traktus genitalis, trauma, infeksi rubella, Lokasi penelitian ini dilakukan di RSUD
infeksi chlamydia, penyakit-penyakit vaskular, DR. H Abdul Moeloek Provinsi Lampung,
kelainan endokrin, penyakit sistemik, faktor dengan menggunakan data rekam medik
imunologis, dimana jika kondisi ini tidak selama tahun 2013. Adapun waktu penelitian
terkontrol dengan baik dapat meningkatkan dilakukan pada bulan Oktober-Desember
resiko keguguran.9,10,11 2014.
Beberapa penelitian sebelumnya Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu
menjelaskan tentang determinan kejadian hamil yang dirawat ≤ 20 minggu, baik yang
abortus yaitu penelitian Sarwani dan Budi abortus maupun yang tidak abortus di RSUD
(2011) dengan judul penelitian Pemodelan DR. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung
kuantitatif determinan-determinan yang Tahun 2013 pada bulan Januari sampai dengan
mempengaruhi abortus (studi kasus RSUD Desember 2013 yaitu sebanyak 1.834
Margono Soekarjo Purwokerto) mendapatkan persalinan. Penentuan jumlah sampel dihitung
hasil tingkat pendidikan ibu rendah sebanyak dengan rumus Slovin, hasil perhitungan
65 (67,7%) dan tingkat pendidikan tinggi didapati jumlah sampel adalah sebesar 94,83
sebanyak 31 (32,3%). Status pekerjaan ibu dan hasil pembulatan sampel yaitu sebesar 95
diketahui sebanyak 48 (50%) ibu bekerja dan responden penelitian. Criteria sampel
48 (50%) ibu tidak bekerja. Usia ibu berisiko penelitian yaitu: Ibu bersalin yang dirawat di
sebanyak 27 (28,1%), dan tidak berisiko RSUD DR. H. Abdoel Moeloek Provinsi

20
International Conference for Midwives (ICMid)

Lampung Tahun 2013. Periode perawatan dari 4. Distribusi Frekuensi Jarak Kehamilan
bulan Januari sampai dengan Desember 2013. Jarak Jumlah Persen
Melahirkan anak pertama, kedua dan
Berisiko 34 35,8
seterusnya
Tidak Berisiko 61 64,2
Hasil Univariat Total 95 100,0
1. Distribusi Frekuensi Kejadian Abortus
Abortus Jumlah Persen Berdasarkan tabel di atas terdistribusi
Abortus 44 46,3 bahwa responden dengan jarak kehamilan
berisiko adalah sebanyak 34 (35,8%)
Tidak Abortus 51 53,7 responden, sedangkan responden dengan jarak
Total 95 100,0 kehamilan tidak berisiko sebanyak 61 (64,2%)
responden.
Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan
bahwa responden yang mengalami kejadian 5. Distribusi Frekuensi Penyakit Ibu
abortus adalah sebanyak 44 (46,3%) Penyakit Ibu Jumlah Persen
responden, sedangkan yang tidak mengalami
Ada Penyakit 42 44,2
kejadian abortus sebanyak 51 (53,7%)
responden. Tidak Ada 53 55,8
Total ki 95 100,0
2. Distribusi Frekuensi Usia
Usia Jumlah Persen Berdasarkan tabel di atas, terdistribusi
Berisiko 43 45,3 bahwa responden yang memiliki riwayat
penyakit adalah sebanyak 42 (44,2%)
Tidak Berisiko 52 54,7 responden, sedangkan sebagian responden
Total 95 100,0 yang tidak memiliki riwayat penyakit yaitu
sebanyak 53 (55,8%) responden.
Berdasarkan tabel di atas, terdistribusi
bahwa responden dengan usia berisiko yaitu 6. Distribusi Frekuensi Anemia
<20 tahun atau >35 tahun adalah sebanyak 43 Anemia Jumlah Persen
(45,3%) responden, sedangkan responden
Anemia 46 48,4
dengan usia tidak berisiko yaitu usia 20-35
tahun adalah sebanyak 52 (54,7%) responden. Tidak Anemia 49 51,6
Total 95 100,0
3. Distribusi Frekuensi Paritas Berdasarkan tabel di atas, terdistribusi
Paritas Jumlah Persen bahwa responden yang mengalami anemia
Berisiko 46 48,4 adalah sebanyak 46 (48,4%) responden,
sedangkan responden yang tidak mengalami
Tidak Berisiko 49 51,6 anemia adalah sebanyak 49 (51,69%)
Total 95 100,0 responden.

Berdasarkan tabel di atas terdistribusi Hasil Bivariat


bahwa responden dengan paritas berisiko yaitu Hasil uji statistik tentang hubungan usia
primipara adalah sebanyak 46 (48,4%) dengan kejadian abortus menggunakan chi
responden, sedangkan paritas tidak berisiko square diperoleh nilai p=0,002, menunjukkan
yaitu multipara sebanyak 49 (51,6%) bahwa ada hubungan antara usia dengan
responden. kejadian abortus di RSUD Abdul Moeloek
Tahun 2014

21
International Conference for Midwives (ICMid)

Hubungan paritas dengan kejadian abortus dibandingkan variabel lainnya seperti


abortus didapati hasil uji statistik dengan usia, karena nilai p pada variabel anemia
menggunakan chi square diperoleh nilai adalah p=0,000 dan OR=46,017. Dominasi
p=0,001 yang menunjukkan bahwa ada variabel anemia dibandingkan variabel lainnya
hubungan antara paritas dengan kejadian di karenakan perolehan nilai p paling kecil dan
abortus di RSUD Abdul Moeloek Tahun 2014 OR paling besar sehingga dapat
Hubungan jarak kehamilan dengan diinterpretasikan bahwa ibu hamil dengan
kejadian abortus hasil uji statistik dengan anemia lebih berpeluang mengalami kejadian
menggunakan chi square diperoleh nilai abortus sebesar 46 kali dibandingkan ibu hamil
p=0,014 yang menunjukkan bahwa ada yang tidak anemia.
hubungan antara jarak kehamilan dengan
kejadian abortus di RSUD Abdul Moeloek DISKUSI
Tahun 2014 1. Hubungan Usia dengan Kejadian
Hubungan penyakit ibu dengan kejadian Abortus
abortus hasil uji statistik dengan menggunakan Kejadian abortus terjadi pada ibu yang
chi square diperoleh nilai p=0,001 yang berusia <20 tahun/>35 tahun sebanyak 33
menunjukkan bahwa ada hubungan antara (76,7%) responden dan kejadian abortus pada
penyakit ibu dengan kejadian abortus di RSUD ibu yang berusia 20 tahun - 35 tahun sebanyak
Abdul Moeloek Tahun 2014. 41 (78,8%) responden. Dengan demikian
Hubungan anemia dengan kejadian secara presentase responden yang berusia <20
abortus, hasil uji statistik dengan atau >35 tahun lebih banyak mengalami
menggunakan chi square diperoleh nilai kejadian abortus dibandingkan responden yang
p=0,000 yang menunjukkan bahwa ada berusia antara 20-35 tahun.
hubungan antara anemia dengan kejadian Hasil uji statistik didapatkan nilai
abortus di RSUD Abdul Moeloek Tahun 2014. Pvalue=0,002 yang berarti pada nilai α=0,05%
Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa adalah (Pvalue<0,05). Sehingga dapat
variabel yangmempunyai nilai p>0,05 sudah disimpulkan ada hubungan antara usia dengan
tidak ada, sehingga tidak ada variabel yang kejadian abortus di RSUD Abdul Moeloek
harus dikeluarkan dari model. Hasil akhir Tahun 2014. Adapun derajat keeratan
multivariat sebelum dilakukan uji interaksi hubungan 2 variabel dapat dilihat pada nilai
dapat diketahui bahwa terdapat dua faktor OR=12.300 (4,657-32,490), artinya ibu yang
yang berhubungan dengan kejadian abortus berusia <20 tahun atau >35 tahun mempunyai
yaitu; usia dan anemia. Hasil ini juga risiko mengalami kejadian abortus 12,3 kali
menjelaskan bahwa faktor yang paling dibandingkan ibu yang berusia antara 20-35
dominan berhubungan dengan kejadian tahun.
abortus di RSUD Abdul Moeloek Tahun 2014 Hasil penelitian sejalan dengan teori yang
adalah anemia (p; 0,000 dan OR; 46,017). dikemukakan bahwa usia yang terlalu dini dan
Tahap berikutnya adalah pembuatan model usia yang terlalu tua juga berisiko terhadap
multivariat dengan interaksi variabel. terjadinya komplikasi persalinan, oleh
Hasil akhir uji interaksi didapati variabel karenanya usia ibu dijadikan sebagai salah satu
yang dapat masuk dalam model akhir adalah faktor penyebab terjadinya kelahiran dengan
variable usia dan anemia, berarti bahwa hanya abortus7. Sesuai dengan penjelasan Depkes RI
ada dua faktor prediksi yang secara signifikan yang disertakan pada Kartu Menuju Sehat
berhubungan dengan kejadian abortus. Pada (KMS) bahwa umur ibu kurang dari 20 tahun
model akhir multivariate telah diketahui dari atau lebih dari 35 tahun merupakan salah satu
persamaan regresi yang menunjukkan bahwa faktor risiko tinggi pada ibu dan janin.
variabel anemia merupakan variabel paling Dalam kurun reproduksi sehat dikenal
dominan berhubungan dengan kejadian usia aman untuk kehamilan dan persalinan

22
International Conference for Midwives (ICMid)

adalah 20-35 tahun. Kematian maternal pada meningkatnya jumlah paritas yang cukup
usia ibu kurang dari 20 tahun ternyata 2-5 kali bulan sampai dengan paritas keempat.
lebih tinggi dari pada kematian maternal pada Penelitian dalam populasi yang besar
usia ibu antara 20-35 tahun. Resiko kematian menunjukkan ada perbedaan jumlah paritas
maternal meningkat kembali pada usia > 35 dengan kejadian abortus pada paritas 2- 4,
tahun (Wiknjosastro, 2002). namun pada paritas pertama dan lebih dari 5
Primipara muda yang berusia kurang dari ternyata kejadian abortus meningkat.
16 tahun dan primipara tua yang berusia diatas Menurut Hutabarat dalam Manuaba
35 tahun merupakan risiko tinggi. Hal serupa (2005) yang membagi faktor risiko tinggi
dikemukakan oleh Herbert Hutabarat yang berdasarkan kehamilan salah satunya
mengemukakan usia yang memiliki risiko berdasarkan paritas untuk primipara atau
tinggi adalah kurang dari 20 tahun atau lebih grande multipara. Dari hasil pemaparan
dari 35 tahun. Dari penjelasan tersebut maka tersebut maka bagi ibu hamil khususnya ibu
dapat disimpulkan bahwa usia berhubungan priimipara dan grande multipara harus
dengan terjadinya abortus.3,12 melakukan perawatan dan perhatian serta
Hasil analisis penelitian sejalan dengan kontrol kehamilan untuk menghindari tindakan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Damanik persalinan tidak normal. Banyaknya jumlah
(2009) Muthmainndah (2008) dan Turyanto ibu hamil primipara menuntut petugas
(2008) yang menyimpulkan bahwa faktor usia kesehatan untuk lebih intensif memberikan
berhubungan signifikan terhadap kejadian informasi yang lengkap tentang kehamilan dan
abortus (p=0,000). perawatanannya.
Hasil penelitian sejalan dengan hasil
2. Hubungan Paritas dengan Kejadian penelitian yang dilakukan oleh Damanik
Abortus (2009) Muthmainnah (2008) dan Turyanto
Kejadian abortus lebih dominan terjadi (2008) yang menyimpulkan bahwa faktor
pada ibu dengan paritas primipara sebanyak 31 paritas juga memiliki hubungan signifikan
(67,4%) responden, sedangkan ibu dengan dengan kejadian abortus.
paritas multipara sebagian besar adalah tidak
mengalami abrotus yaitu sebanyak 36 (73,5%) 3. Hubungan Jarak Kehamilan dengan
responden. Dengan demikian secara presentase Kejadian Abortus
responden yang primipara lebih banyak yang Kejadian abortus lebih dominan terjadi
mengalami abortus dibandingkan responden pada ibu dengan jarak kehamilan <2 tahun
multipara. yaitu sebanyak 22 (64,7%) responden,
Hasil uji statistik didapatkan nilai sedangkan ibu dengan jarak kehamilan >2
Pvalue=0,001 yang berarti pada nilai α=0,05% tahun sebagian besar adalah tidak mengalami
adalah (Pvalue<0,05). Sehingga dapat abrotus yaitu sebanyak 39 (63,9%) responden.
disimpulkan ada hubungan antara paritas Dengan demikian secara presentase responden
dengan kejadian abortus di RSUD Abdul yang memiliki jarak kehamilan <2 tahun lebih
Moeloek Tahun 2014. Adapun derajat keeratan banyak yang mengalami kejadian abortus
hubungan 2 variabel dapat dilihat pada nilai dibandingkan responden dengan jarak
OR=5,723 (2,363-13,859), artinya ibu kehamilan >2 tahun.
primipara mempunyai risiko mengalami Hasil uji statistik didapatkan nilai
kejadian abortus 5,7 kali dibandingkan ibu Pvalue=0,014 yang berarti pada nilai α=0,05%
multipara. adalah (Pvalue<0,05). Sehingga dapat
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori disimpulkan ada hubungan antara jarak
yang dikemukakan oleh Krisnadi (2009), kehamilan dengan kejadian abortus di RSUD
bahwa abortus lebih sering terjadi pada paritas Abdul Moeloek Tahun 2014. Adapun derajat
pertama. Kejadiannya akan berkurang dengan keeratan hubungan 2 variabel dapat dilihat

23
International Conference for Midwives (ICMid)

pada nilai OR=3,250 (1,353-7,806), artinya kehamilan secara teratur untuk mengantisipasi
ibu dengan jarak kehamilan <2 tahun kemungkinan terhadap adanya risiko penyulit
mempunyai risiko mengalami kejadian abortus persalinan.
3,2 kali dibandingkan ibu dengan jarak
kehamilan >2 tahun. SIMPULAN
Hasil penelitian sejalan dengan hasil 1. Distribusi frekuensi responden usia
yang dilakukan oleh Turyanto (2008) berisiko (<20 tahun/>35 tahun) sebanyak
mengenai faktor-faktor resiko terjadinya 43 (45,3%) responden, dan usia tidak
abortus di Rumah Sakit Hasan Sadikin berisiko (20-35 tahun) sebanyak 52
Bandung, menjelaskan bahwa jarak kehamilan (54,7%) responden.
memiliki hubungan dengan terjadinya abortus 2. Distribusi frekuensi responden primipara
dengan nilai p=0,015. sebanyak 46 (48,4%) responden, dan
responden multipara sebanyak 49 (51,6%)
4. Hubungan Riwayat Penyakit dengan responden.
Kejadian Abortus 3. Distribusi frekuensi responden jarak
Kejadian abortus lebih dominan terjadi kehamilan <2 tahun sebanyak 34 (35,8%)
pada ibu dengan adanya riwayat penyakit yaitu responden, dan responden jarak kehamilan
sebanyak 28 (66,7%) responden, sedangkan >2 tahun sebanyak 61 (64,2%) responden.
ibu yang tidak memiliki riwayat penyakit 4. Distribusi frekuensi responden memiliki
sebagian besar adalah tidak mengalami abrotus riwayat penyakit sebanyak 42 (44,2%)
sebanyak 37 (69,8%) responden. Dengan responden, dan tidak memiliki riwayat
demikian secara presentase ibu yang memiliki penyakit sebanyak 53 (55,8%) responden.
riwayat penyakit lebih banyak yang 5. Distribusi frekuensi responden anemia
mengalami kejadian abortus dibandingkan ibu sebanyak 46 (48,4%) responden, dan tidak
yang tidak memiliki riwayat penyakit. anemia sebanyak 49 (51,69%) responden.
Hasil uji statistik didapatkan nilai 6. Distribusi frekuensi responden dengan
Pvalue=0,001 yang berarti pada nilai α=0,05% kejadian abortus sebanyak 44 (46,3%)
adalah (Pvalue<0,05). Sehingga dapat responden, dan tidak abortus sebanyak 51
disimpulkan ada hubungan antara penyakit ibu (53,7%) responden.
dengan kejadian abortus di RSUD Abdul 7. Ada hubungan antara usia dengan kejadian
Moeloek Tahun 2014. Adapun derajat keeratan abortus di RSUD Abdul Moeloek Tahun
hubungan 2 variabel dapat dilihat pada nilai 2013, (p=0,002 dan OR=12,300).
OR=4,625 (1,939-11,031), artinya ibu yang 8. Ada hubungan antara paritas dengan
memiliki riwayat penyakit mempunyai risiko kejadian abortus di RSUD Abdul Moeloek
mengalami kejadian abortus 4,6 kali Tahun 2013, (p=0,001 dan OR=5,723).
dibandingkan ibu yang tidak memiliki riwayat 9. Ada hubungan antara jarak kehamilan
penyakit. dengan kejadian abortus di RSUD Abdul
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil Moeloek Tahun 2013, (p=0,014 dan
penelitian yang telah dilakukan oleh Turyanto OR=3,250).
(2008) dan Damanik (2009) yang 10. Ada hubungan antara penyakit ibu dengan
menyimpulkan bahwa ada hubungan kejadian abortus di RSUD Abdul Moeloek
signifikan antara penyakit dengan terjadinya Tahun 2013, (p=0,001 dan OR=4,625).
abortus. 11. Ada hubungan antara anemia dengan
penyakit tersebut dapat membahayakan kejadian abortus di RSUD Abdul Moeloek
keselamatan ibu dan anak pada saat persalinan, Tahun 2013, (p=0,000 dan OR=75,000).
serta dapat mengakibatkan terjadi risiko 12. Anemia merupakan faktor paling dominan
kejadian abortus. Maka dengan demikian, ibu yang berhubungan dengan kejadian abortus
perlu melakukan kunjungan ANC selama

24
International Conference for Midwives (ICMid)

di RSUD Abdul Moeloek Tahun 2013, challenging diagnostic and therapeutic


(p=0,000 dan OR=46,017). quagmire, Med Princ Pract, 24 suppl 1:38-
55, Pubmed
DAFTAR PUSTAKA 11. Gallot V, et al., 2015, Early recurrent
1. Anonim., 2006, Unsafe Abortion: Global miscarriage: evaluation and management,
and Regional Estimates of Incidence of J Gynecol Obstet Biol Reprod, Nov
and Mortality due to Unsafe Abortion 6;43(10):812-841, Pubmed
with a Listing of Available Country Data. 12. Wong LF, Porter TF., De Jesus GR.,
Third Edition. Geneva: Division of 2014, Reccurent early pregnancy loss and
Reproductive Health (Technical Support) antiphosphollipid antibodies: where do we
WHO. stand, Lupus, oct;23(12):1226-8, Pubmed
2. Djoerban., 2006. Mengantisipasi
Kemungkinan Preeklampsia. Jurnal
Kesehatan http://www.pdpersi.com.
Diunduh pada tanggal 25/09/2014.
3. Azhari. 2012. Masalah Abortus dan
Kesehatan Reproduksi Perempuan.
Makalah Seminar Kelahiran Tidak
diinginkan (aborsi) Dalam Kesejahteraan
Reproduksi Remaja, Palembang 25 Juni
2012.
4. Cunningham, G.F. et al. 2005. Obstetri
William. EGC. Jakarta.
5. Dewi Nany, Vivian Lia dan Sunarsih Tri.
2011. Asuhan Kebidanan pada ibu Nifas.
Salemba Medika. Jakarta.
6. Hahn KA., et al, History of oral
contraceptive use and risk of spontaneous
abortion, Ann Epidemiol, 25(12):936-941,
Pubmed
7. Andersen JT., 2015,
Diclofenac/misoprostol during early
pregnancy and the risk of miscarriage: a
Danish nationwide cohort study, Arch
Gynecol Obstet, Pubmed PMID:
26585175 Nov 19
8. Jia CW, et al., 2015, Aneuplody in early
miscarriage and its related factors, Chin
Med J, oct 20;128(20):2772-6, Pubmed
9. Borges AL, et al., 2015, Contraceptive use
following spontaneous and induced
abortion and its association wit family
planning services in primary health care:
results from a Brazilian longitudinal
study, Reprod Health, Oct 15;12:94,
Pubmed
10. Diejomaoh MF., et al, 2015, Reccurent
spontaneous miscarriage is still a

25
International Conference for Midwives (ICMid)

DETERMINANTS OF ACTIVENESS ANTENATAL CARE PREGNANT


WOMAN IN THE VILLAGE OF MANGUNAN DLINGO BANTUL

Nining Tunggal Sri Sunarti


Akademi Kebidanan Yogyakarta

ABSTRACT

Pregnancy is a wonderful thing because it involves changes in the physiological,


biological and psychological change a woman's life. Antenatal Care is a program that is
planned in the form of observation, education and medical treatment to pregnant women,
to obtain a process of pregnancy and childbirth safe and satisfactory. It's important to
know the determinant activity of antenatal care to pregnant women.These researchers
used observational analytic design with cross sectional approach. The research was
conducted in the Mangunan village Dlingo District of Bantul. A sample of 34 people.
Instrument research used closed questionnaire that asked directly to the respondent. Data
analysis used chi square.Characteristics of respondents 79.4% were 20-35 years old,
47.1% were Junior Hight School, 64.7% were a housewives, 73.5% have an income of
less than 1 million, 58.8% were a secundigravida, 41.2% were the second trimester,
58.8% of respondents have a KIA book and have read it, 91.2% of respondents have
done antenatal care. maternal age associated with the activity of antenatal care of
pregnant women with the result p value 0.039. Maternal parity status associated with the
activity of antenatal care of pregnant women with the result p value of 0.032.

Keywords: Determinants, antenatal care, pregnant woman

PENDAHULUAN merupakan faktor penting dalam


Kehamilan adalah hal luar biasa karena menurunkan angka kematian ibu. Angka
menyangkut perubahan fisiologis, kematian ibu (AKI) di Indonesia
biologis dan psikis yang mengubah berdasarkan data SDKI 2012 masih
hidup seorang wanita 1. Kehamilan juga tinggi yaitu 359 per 100.000 kelahiran
merupakan suatu perubahan hormonal, hidup, angka ini lebih tinggi dibanding
merupakan bagian dari respon ibu AKI tahun 2010 yaitu 214 per 100.000
terhadap kehamilan yang dapat kelahiran hidup. Penelitian tentang
menimbulkan stres, dapat menjadi antenatal care sangat penting untuk
perubahan mood, hampir sama seperti dilakukan. Para peneliti banyak
saat mereka akan menstruasi atau selama melakukan penelitian tentang
menopause2. Asuhan antenatal adalah pemanfaatan pelayanan antenatal 4,5.
suatu program yang terencana. Asuhan Pelayanan antenatal masih efektif
antenatal meliputi observasi, edukasi dan dilakukan untuk mencegah terjadinya
penanganan medik pada ibu hamil, untuk kematian ibu6. Pemanfaatan pelayanan
memperoleh suatu proses kehamilan dan antenatal dapat dilihat dari kunjungan
persalinan yang aman dan memuaskan. antenatal yang dilakukan oleh ibu hamil.
Kunjungan antenatal sebaiknya Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2010
dilakukan minimal 4x selama kehamilan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
yaitu K1 sampai dengan K43. Cakupan cakupan K4 sebesar 82,76% yang mana
pelayanan antenatal merupakan indikator belum mencapai target standar nasional
keberhasilan pelayanan kesehatan ibu K4. Lima Kabupaten di Provinsi
dan anak. Keberhasilan program ini Yogyakarta, Kabupaten Bantul

26
International Conference for Midwives (ICMid)

menempati peringkat terendah sebesar pendekatan cross sectional. Penelitian


83,56%. Tahun 2011 cakupan K4 dilaksanakan di Desa Mangunan
mengalami peningkatan menjadi 89,66 Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul.
dan tahun 2012 menjadi 91,78. Responden berjumlah 34 orang.
Mangunan adalah sebuah Desa yang Instrumen penelitian menggunakan
terletak di Wilayah Kecamatan Dlingo. kuesioner tertutup. Instrumen berisi
Desa Mangunan merupakan desa di tentang data demografi dari responden
bawah binaan Puskesmas Dlingo I. Desa seperti nama, umur, pendidikan terakhir,
Mangunan memiliki 6 wilayah pekerjaan, penghasilan, paritas, trimester
pedukuhan. Hasil studi pendahuluan kehamilan, kepemilikan buku KIA serta
jumlah ibu hamil sebanyak 34 orang. keaktifan dalam melakukan pemeriksaan
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti kehamilan.Jenis data yang dipakai dalam
determinan keaktifan periksa hamil pada penelitian ini adalah data primer. Data
ibu hamil di Desa Mangunan Kecamatan primer diperoleh dari sampel sebagai
Dlingo Kabupaten Bantul. subyek penelitian melalui pengisian
kuesioner tertutup yang ditanyakan
METODE secara langsung kepada responden.
Penelitian ini menggunakan desain Ujistatistik menggunakan chi-square.
analitik observasional dengan

DISKUSI
Karakteristik informan dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 1. di bawah ini.
Tabel 1. Karakteristik responden berdasarkan umur
Variabel Frekuensi (n=34) Persen (%)
Umur
< 20 th dan > 35 Tahun 7 20,6
20-35 tahun 27 79,4
Pendidikan
SD 3 8,8
SMP 16 47,1
SMA 14 41,2
PT 1 2,9
Pekerjaan
Pengraji 1 2,9
Petani 3 8,8
Pedagang 2 5,9
Buruh 1 2,9
Karyawan Swasta 4 11,8
Ibu Rumah Tangga 22 64,7
Lain-lain 1 2,9
Penghasilan Keluarga (rupiah)
<1 Juta 25 73,5
≥1 – 3 juta 6 17,6
>3 juta 3 8,8
Paritas
Primigravida 11 32,4
Sekundigravida 20 58,8
Multigravida 3 8,8
Trimester Kehamilan
Trimester 1 6 17,6
Trimester 2 14 41,2

27
International Conference for Midwives (ICMid)

Trimester 3 14 41,2
Kepemilikan Buku KIA
Tidak punya 2 5,9
Punya tidak dibaca 12 35,3
Punya dibaca 20 58,8

Berdasarkan Tabel 1. di atas sebagian besar merupakan ibu yang masuk dalam
besar responden berumur 20-35 tahun kategori usia reproduksi sehat. Usia
sebanyak 27 (79,4%). Pendidikan reproduksi sehat merupakan usia terbaik
responden terbanyak adalah SMP yaitu bagi perempuan untuk mengalami
sebanyak 16 orang (47,1%). Pekerjaan proses kehamilan. Pada usia ini adalah
responden terbanyak adalah ibu rumah kurun waktu yang sehat bagi seorang
tangga sebanyak 22 orang (64,7%). ibu untuk hamil dan melahirkan yaitu
Penghasilan responden terbanyak adalah antara usia 20 sampai dengan 35 tahun7.
<1 Juta sebanyak 10 orang (73,5%). Umur merupakan salah satu faktor yang
Sebagian besar responden adalah mempengaruhi dalam proses kehamilan.
sekundigravida yaitu sebanyak 20 orang Pada umur kurang dari 20 tahun seorang
(58,8%). Sebagian besar responden perempuan masih belum tahu dan belum
dalam masa Trimester 2 sebanyak 14 siap untuk menjalani proses kehamilan.
orang (41,2%). Sebagian responden Pada umur lebih dari 35 tahun ibu
memiliki Buku KIA dan dibaca merasa sudah banyak pengalaman
sebanyak 20 orang (58,8%). sehingga kadang merasa sudah tahu dari
Berdasarkan hasil penelitian, sebagian pengalamannya, padahal semua
responden berusia 20-35 tahun sebanyak kelompok umur ini seharusnya aktif
27 79,4%. Dari data tersebut ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan
yang ada di Desa Mangunan sebagian kehamilan.
Keaktifan responden dalam periksa hamil ditunjukkan pada Tabel 2. di bawah ini.
Tabel 2. Keaktifan dalam periksa hamil
Variabel Frekuensi (n) Persen (%)
Aktif 31 91,2
Tidak aktif 3 8,8
Total 34 100

Tabel 2. Menunjukkan sebagian besar hamil yang aktif melakukan


responden aktif melakukan periksa pemeriksaan akan mendapatkan banyak
hamil sebanyak 31 orang (91,2%). manfaat seperti pemberian tablet Fe,
Keaktifan periksa hamil penting untuk multivitamin dan informasi kesehatan.
mengetahui kondisi kehamilan ibu. Ibu

Tabel 3. Hubungan umur ibu dengan Keaktifan periksa hamil pada Ibu Hamil di Desa
Mangunan
Keaktifan Periksa Hamil
Umur Ibu Aktif Tidak Aktif Total p
f % F % f %
<20 th dan >35 tahun 5 14,7 2 5,8 7 20,5
0,039
20-35 tahun 26 76,5 1 2,9 27 79,4
Jumlah 31 91,2 3 8,7 34 100

28
International Conference for Midwives (ICMid)

Berdasarkan Tabel 3. Umur ibu cenderung lebih teratur karena masih


berhubungan dengan keaktifan periksa merasa bahwa pemeriksaan kehamilan
hamil dengan p value 0,039. Ibu yang sangat penting. Umur 20-35 tahun
berumur 20-35 tahun lebih aktif merupakan masa reproduksi yang baik
dibandingkan ibu yang berumur Umur untuk hamil 8. Penelitian di Gorontalo
<20 th dan >35 tahun. Umur ibu menunjukkan ada hubungan umur
berguna untuk mengantisipasi diagnosa dengan pemanfaataan pelayanan
masalah kesehatan dan tindakan yang antenatal 9.
dilakukan. Pada umur 20-35 tahun

Tabel 4. Hubungan Pendidikan ibu dengan Keaktifan Periksa Hamil pada Ibu Hamil
di Desa Mangunan
Keaktifan Periksa Hamil
Pendidikan Ibu Aktif Tidak Aktif Total p
f % F % f %
SD 3 8,8 0 0 3 8,8
SMP 15 44,1 1 2,9 16 47
0,792
SMA 12 35,3 2 5,9 14 41,2
PT 1 2,9 0 0 1 2,9
Jumlah 31 91,1 3 8,8 34 100
Hasil analisis statistik pada Tabel 4. maka semakin baik pula
menunjukkan p value sebesar 0,792. pengetahuannya10. Hasil analisis uji
Tabel 4. menunjukkan ibu hamil yang statistic menunjukkan p value sebesar
berpendidikan SMP lebih aktif dari ibu 0,792 hal ini berarti tidak ada hubungan
hamil yang berpendidikan SD, SMA, dan antara pendidikan ibu dengan keaktifan
PT. Pendidikan ibu dalam penelitian ini periksa hamil. Penelitian ini sejalan
masih dalam pendidikan menengah dengan penelitian di Papua yang
pertama. Sesuai dengan program menunjukkan tidak ada hubungan antara
pemerintah bahwa masyarakat Indonesia tingkat pendidikan ibu dengan kunjungan
harus menyelesaikan wajib belajar 9 antenatal11. Pendidikan yang tinggi tidak
tahun. Tingkat pendidikan SMP masih selalu berpengaruh terhadap perilaku
dipandang kurang untuk mengahadapi positif. Penelitian di wilayah kerja uptd
permasalahan kesehatan khususnya Puskesmas Tunggangri Kecamatan
kehamilan. Tingkat pendidikan turut pula Kalidawir Kabupaten Tulungagung
menentukan mudah tidaknya seseorang menunjukkan pendidikan ibu tidak ada
menyerap dan memahami pengetahuan pengaruh yang signifikan terhadap
yang mereka peroleh pada umumnya, kepatuhan ANC12.
semakin tinggi pendidikan seseorang

29
International Conference for Midwives (ICMid)

Tabel 5. Hubungan Pekerjaan ibu dengan Keaktifan Periksa Hamil pada Ibu Hamil di
Desa Mangunan
Keaktifan Periksa Hamil
Pendidikan Ibu Aktif Tidak Aktif Total p
f % F % f %
Pengrajin 1 2,9 0 0 1 2,9
Petani 3 8,8 0 0 3 8,8
Pedagang 2 5,9 0 0 2 5,9
Buruh 1 2,9 0 0 1 2,9 0,077
Karyawan Swasta 4 11,8 0 0 4 11,8
Ibu rumah tangga 20 58,8 2 5,9 22 64,7
Lain-lain 0 0 1 2,9 1 2,9
Jumlah 31 91,1 3 8,8 34 100
Tabel 5. menunjukkan bahwa ibu rumah menunjukkan p value sebesar 0,077 yang
tangga lebih aktif dibandingkan ibu artinya penelitian ini tidak ada hubungan
hamil yang bekerja. Semakin sibuk ibu antara pekerjaan ibu dengan keaktifan
hamil semakin sedikit kesempatan periksa hamil. Penelitian ini sejalan
melakukan kunjungan antenatal. dengan penelitian di Medan yang
Semakin sibuk seorang ibu hamil dengan menunjukkan tidak ada hubungan antara
pekerjaan maka kesempatan untuk pekerjaan ibu dengan kunjungan
mendapatkan pelayanan antenatal antenatal13. Penelitian di Semarang juga
semakin kecil sehingga peluang untuk menunjukkan pekerjaan tidak ada
memeriksakan kehamilannya cenderung hubungannya dengan kunjungan ulang
menurun12. Hasil analisis statistik antenatal8.

Tabel 6. Hubungan Penghasilan Keluarga dengan Keaktifan Antenatal Care pada Ibu
Hamil di Desa Mangunan
Keaktifan Periksa Hamil
Penghasilan Keluarga Aktif Tidak Aktif Total P value
f % F % f %
<1 Juta 22 64,7 3 8,8 25 73,5
≥1 – 3 juta 6 17,6 0 0 6 17,6 0,585
>3 juta 3 8,8 0 0 3 8,8
Jumlah 31 91,1 3 8,8 34 100

Tabel 6. menunjukkan bahwa ibu hamil keluarga merupakan salah satu faktor
yang memiliki penghasilan keluarga <1 seseorang melakukan pemeriksaan
Juta lebih aktif melakukan periksa hamil kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan
dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak ada hubungan penghasilan keluarga
memiliki penghasilan keluarga ≥1 – 3 dengan keaktifan periksa hamil. Hal ini
juta dan >3 juta. Hasil analisis uji karena periksa hamil pada layanan
statistik menunjukkan p value sebesar kesehatan banyak yang digratiskan
0,585 yang artinya tidak ada hubungan sehingga tidak memerlukan biaya dalam
antara penghasilan keluarga dengan melakukan pemeriksaan. Penghasilan
keaktifan periksa hamil. Pengasilan keluarga merupakan status sosial

30
International Conference for Midwives (ICMid)

ekonomi. Faktor ekonomi berkaitan ekonomi seorang wanita penting untuk


dengan penggunaan pelayanan antenatal menentukan pemanfaatan pelayanan
di Kenya14. Status social dan kondisi antenatal15.

Tabel 7. Hubungan Paritas dengan Keaktifan Periksa Hamil pada Ibu Hamil di Desa
Mangunan
Keaktifan Periksa Hamil
Paritas Aktif Tidak Aktif Total p
f % F % f %
Primigravida 8 23,5 3 8,8 11 31,3
Sekundigravida 20 58,8 0 0 20 58,8 0,032
Multigravida 3 8,8 0 0 3 8,8
Jumlah 31 91,1 3 8,8 34 100
Tabel 7. menunjukkan bahwa p value paritas 1 cenderung lebih banyak
sebesar 0,032 hal ini berarti ada melakukan kunjungan antenatal karena
hubungan antara paritas dengan merupakan pengalaman kehamilan yang
keaktifan periksa hamil di Desa pertama. Penelitian di Aceh
Mangunan. Paritas adalah jumlah anak menunjukkan bahwa tidak ada
yang dilahirkan oleh ibu baik lahir mati hubungan antara paritas dengan
maupun lahir hidup. Pada ibu dengan pemanfaatan pelayanan antenatal16.

Tabel 8. Hubungan Trimester Kehamilan dengan Keaktifan Periksa Hamil pada Ibu
Hamil di Desa Mangunan
Keaktifan Periksa Hamil
Paritas Aktif Tidak Aktif Total p
f % f % f %
Trimester 1 6 17,6 0 0 6 17,6
Trimester 2 12 35,3 2 5,9 14 41,2 0,563
Trimester 3 13 38,2 1 2,9 14 41,2
Jumlah 31 91,1 3 8,8 34 100
Tabel 8. Menunjukkan p value risiko yang sama. Baik pada Trimester
sebesar 0,563 yang berarti Trimester I, trimester II maupun trimester III
dalam kehamilan tidak berhubungan memiliki kesempatan yang sama untuk
dengan keaktifan periksa hamil, hal ini melakukan pemeriksaan kehamilan.
karena semua umur kehamilan memiliki
Tabel 9. Hubungan Kepemilikan Buku KIA dengan Keaktifan Periksa Hamil pada Ibu
Hamil di Desa Mangunan
Keaktifan Periksa Hamil
Kepemilikan Buku KIA Aktif Tidak Aktif Total p
f % f % f %
Tidak Punya 1 2,9 1 2,9 2 5,8
Punya tidak dibaca 11 32,4 1 2,9 12 35,3 0,101
Punya dibaca 19 55,9 1 2,9 20 58,8
Jumlah 31 91,2 3 8,8 34 100

31
International Conference for Midwives (ICMid)

Tabel 9. menunjukkan secara statistik DAFTAR PUSTAKA


bahwa p value sebesar 0,101 yang 1. Maulana M. 2008. Cara Cerdas
berarti kepemilikan buku KIA tidak Menghadapi Kehamilan dan
berhubungan dengan keaktifan periksa Mengasuh Bayi, Yogyakarta:
hamil. Namun dilihat dari data crosstab Katahati
ibu yang memiliki buku KIA dan di 2. Bobak, Lowdermill. Jensen. 2005.
baca lebih aktif melakukan periksa Buku Ajar Keperawatan
hamil. Ibu yang memiliki buku KIA Maternitas. Jakarta : EGC
cenderung akan membaca buku KIA 3. Rosfanty, 2010. Pentingnya
sehingga mengingatkan waktu untuk Antenatal Care (ANC).
melakukan pemeriksaan kehamilan. http://www.who.int/gho/maternal
Kepemilikan buku KIA akan health/ert/index.html2010 . Diakses
mempengaruhi pengetahuan ibu 20 September 2013.
sehingga cenderung meningkatkan 4. Nielsen, B. B., Liljestrand, J.,
pengetahuan ibu tentang kehamilan. Thilsted, S. H., Joseph, A., &
Hedegaard, M. 2001.
SIMPULAN Characteristics of antenatal care
1. Ibu hamil di Desa Mangunan attenders in a rural population in
Kecamatan Dlingo Kabupaten Tamil Nadu, South India: a
Bantul menurut umur 79,4% communityǦbased crossǦsectional
berusia 20-35 tahun. Berdasarkan study. Health & Social Care in the
pendidikan sebagian besar community, 9(6), 327-333.
berpendidikan SMP sebanyak 5. Villar, J., Ba'aqeel, H., Piaggio, G.,
47,1%, berdasarkan pekerjaan Lumbiganon, P., Belizán, J. M.,
sebagian besar adalah ibu rumah Farnot, U., & Langer, A. (2001).
tangga sebanyak 64,7%, WHO antenatal care randomised
berdasarkan penghasilan keluarga trial for the evaluation of a new
sebagian besar kurang dari 1 Juta model of routine antenatal care.
Rupiah sebanyak 73,5%, The Lancet, 357(9268), 1551-1564.
berdasarkan paritas 58,8% adalah 6. McDonagh, M. (1996). Is antenatal
sekundigravida, berdasarkan care effective in reducing maternal
trimester kehamilan sebagian besar morbidity and mortality?. Health
trimester 2 dan trimester 3 policy and planning, 11(1), 1-15.
sebanyak masing-masing 41,2%, 7. BKKBN. 2008. Modul Kesehatan
Berdasarkan kepemilikan buku KIA Reproduksi Remaja. Yogyakarta:
58,8% punya buku KIA dan dibaca, BKKBN
2. Ibu hamil di Desa Mangunan 8. Ari, P. 2005. Hubungan Beberapa
Kecamatan Dlingo Kabupaten Karakteristik Ibu Dan Persepsi Ibu
Bantul yang aktif melakukan Terhadap Kualitas Pelayanan
antenatal care sebanyak 91,2%. Dengan Kunjungan Ulang
3. Determinan keaktifan periksa hamil Antenatal di Wilayah Kerja
didapatkan hasil bahwa yang Puskesmas Padangsari Kota
berhubungan adalah umur dan Semarang Correlation Between
paritas, sedangkan yang tidak Several Mother's Characteristics
berhubungan adalah pendidikan and Perception of Service Quality
ibu, pekerjaan ibu, penghasilan with Antenatal Revisiting in Area
keluarga, trimester kemamilan dan of Padangsari Community Health
kepemilikan buku KIA. Center City of Semarang (Doctoral

32
International Conference for Midwives (ICMid)

dissertation, Diponegoro 13. Simanjuntak (2002) Magadi, M. A.,


University). Madise, N. J., & Rodrigues, R. N.
9. Rabi'atul, a. S. O., yusuf, z. K., & 2000. Frequency and timing of
husain, i. D.2013. Faktor-faktor antenatal care in Kenya: explaining
yang berhubungan dengan the variations between women of
kunjungan antenatal care di different communities. Social
puskesmas mongolato kecamatan science & medicine, 51(4), 551-
telaga kabupaten gorontalo 561.
tahun.2013. KIM Fakultas Ilmu- 14. Fatmi, Z., & Avan, B. I. 2002.
Ilmu Kesehatan dan Keolahragaan, Demographic, socio-economic and
1(1). environmental determinants of
10. Notoatmodjo, 2007. Pendidikan utilisation of antenatal care in a
dan Perilaku kesehatan.Cetakan 2 rural setting of Sindh, Pakistan.
Jakarta. PT Rineka Cipta. Journal-Pakistan Medical
11. Sarminah. 2012.Faktor-faktor yang Association, 52(4), 138-142.
Berhubungan dengan Antenatal 15. Sriwahyu, A., Yusad, Y., &
Care di Provinsi Papua 2010. Mutiara, E. 2014. Faktor Yang
Skripsi Universitas Indonesia Berhubungan Dengan Pemanfaatan
12. Zahroh, l., & wulandari, a. (2014). Antenatal Care (ANC) Di Wilayah
Faktor-faktor yang mempengaruhi Kerja Puskesmas Kecamatan Lawe
kepatuhan antenatal care (anc) pada Sumur Kabupaten Aceh Tenggara
ibu hamil trimester iii di wilayah Tahun 2013. Gizi, Kesehatan
kerja uptd puskesmas tunggangri Reproduksi dan Epidemiologi, 2(6).
kecamatan kalidawir kabupaten
tulungagung. Jurnal strada, 3(1).

33
International Conference for Midwives (ICMid)

DIFFERENCES ACCURACY BETWEEN RISANTO AND JOHNSON


FORMULAS FOR ESTIMATING BABY WEIGHT BASED ON HIGH
FUNDUS UTERI

Yossy Wijayanti
STIKES Muhammadiyah Pringsewu

ABSRACT

Large birthweight of the baby or less will potentially cause health problems in infants,
continue to affect the life and future of the baby. With an accurate prediction method,
the estimated weigth of the baby with more extreme or less may be known and some
precautions can be taken to resolve the issue before delivery. This study aims to
determine the difference in accuracy (precision) between estimated fetal weight based
Johnson formula and estimated fetal weight based Risanto formula. This type of
research is observational analytic method, the cross-sectional approach. The sampling
technique used is the exhaustive sampling, which all used the sample population is the
total number of pregnant women with at term gestational age who will give birth in
RSUD at Pringsewu,. Data were analyzed using t test. The total sample obtained 34
respondents. Based on the paired t-test is known that there are significant differences
between birth weight infants with EFW by Risanto with a mean difference 32.37,
p=0.024 and birth weight with EFW by Johnson with a mean difference of 59.47,
p<0.001. Of trials that compared the accuracy of the Johnson and Risanto formulas
obtained an average of 3099.34 grams for EFW by Risanto and EFW by Johnson of
3191.18 grams, with a mean difference of 91.84 grams , p<0.001. There was a
statistically significant difference between the Risanto and Johnson formulas with
actual birth weight, and the average estimated fetal weight according to the Johnson
formula higher than the estimated fetal weight according to the Risanto formula.

Keywords: Newborn, estimated fetal weight according to the Risanto formula,


estimated fetal weight according to the Johnson formula.

yang sederhana, cepat dan reliabel dalam


PENDAHULUAN memperkirakan berat janin masih dalam
Berat lahir bayi yang besar atau kurang perdebatan. Dua metode utama dalam
akan berpotensi menimbulkan masalah memperkirakan berat janin adalah
kesehatan pada bayi, selanjutnya dapat abdominal palpasi dan mengukur tinggi
mempengaruhi kehidupan dan masa fundus uteri, yang kedua adalah dengan
depan bayi. Abnoralitas persalinan dan pemeriksaaan ultrasonografi. Pada
komplikasi neonatus berkaitan dengan pemeriksaan antenatal, penilaian berat
berat lahir yang ekstrim.1 janin dapat dilakukan dengan palpasi
Berat janin tidak dapat diukur secara abdomen ibu, pemeriksaan palpasi
langsung dan dapat diperkirakan dari kurang tepat dalam memprediksi janin
karakteristik anatomi maternal.2 Terdapat besar atau kecil, tetapi penggunaan pita
metode lain yang tersedia, tetapi metode ukur untuk menilai jarak symphisis-

34
International Conference for Midwives (ICMid)

fundus uteri dapat menjadi panduan yang kurang dapat diketahui dan beberapa
berguna bagi pemeriksa. Sebagian besar pencegahan dapat dilakukan untuk
pemeriksa mengukur tinggi fundus uteri. mengatasi masalah tersebut sebelum
Ramus pubis, umbilikus dan prosesus persalinan. Abnoralitas persalinan dan
siphoideus adalah titik referensi dalam komplikasi neonatus berkaitan dengan
mengukur tinggi fundus uteri.3,4 berat lahir yang ekstrim.1 Taksiran berat
Tinggi fundus uteri dapat digunakan janin yang ditentukan saat usia
untuk memperkirakan usia kehamilan. kehamilan aterm berguna untuk
Rumus Mc Donald memperkirakan usia menentukan manajemen pada akhir
kehamilan bedasarkan tinggi fundus kehamilan, misalnya indikasi seksio
uteri. Rumus Johnson adalah modifikasi seasarea pada kasus curiga makrosomia
dari Mc Donald dalam menentukan pada wanita dengan gestasional diabetes.
taksiran berat janin berdasarkan Di sisi lain, janin tumbuh lambat harus
pengukuran jarak simpisis-fundus uteri. diketahui saat masih in utero sehingga
Taksiran berat janin berdasarkan rumus klinisi dapat lebih ketat dalam memonitor
Johnson adalah: (tinggi fundus uteri – n) dan merencanakan metode persalinannya
x 155 dimana n= 12 jika kepala berada di untuk mengurangi risiko kematian
simpisi pubis atau di atasnya dan n= 11 perinatal.8
jika kepala dibawah simpisis pubis.3,5 Di beberapa negara penentuan
Pada negara yang berbeda terdapat estimasi berat janin dengan mengukur
perbedaan kurva pertumbuhan tinggi tinggi fundus uteri terkadang
fundus uteri (TFU) berdasarkan metode dikombinasikan dengan metode prediksi
yang digunakan dan diduga karena secara klinis lainnya misalnya dengan
perbedaan etnik dan sosio-ekonomi. melihat latar belakang dan riwayat
Diperlukan adanya kurva pertumbuhan penyakit ibu. Karakteristik wanita hamil
TFU yang standar pada populasi tertentu seperti ukuran ibu, paritas, etnik dan
di daerah tertentu.Salah satu kesepakatan jenis kelamin bayi mempengaruhi
dalam Art Conference di Swedia, 1990, pertumbuhan janin dan berat janin. Berat
kurva pertumbuhan standar harus lahir bayi dipengaruhi oleh tinggi fundus
berdasarkan pada populasi luas dan uteri, usia kehamilan saat pengukuran
secara geografi berbeda.6,7 TFU, paritas, presentasi bagian terendah
Di RS Sardjito Yogyakarta pernah janin dan jenis kelamin janin.8,9
dipublikasikan rumus regresi untuk Beberapa penelitian mengenai
menentukan taksiran berat janin taksiran berat janin berdasarkan TFU
berdasarkan TFU, rumus tesebut adalah yang pernah dilakukan adalah:
Rumus Risanto sesuai dengan nama 1. Penelitian Buckmann dan Tlale
penemunya. (2009) membuat sebuah formula
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menentukan taksiran berat lahir
untuk mengetahui perbedaan akurasi berdasarkan TFU dengan suatu
(ketepatan) antara taksiran berat janin analisis regresi. Formula untuk
berdasarkan rumus Johnson dan taksiran menentukan TBJ adalah: TBJ (gram)
berat janin berdasarkan rumus Risanto. = 100 (TFU-5). Dengan formula ini,
Berat lahir bayi yang besar atau 65% dari subjek penelitian sesuai
kurang akan berpotensi menimbulkan dengan berat lahir (65%, 95% CI
masalah kesehatan pada bayi yang dapat 59,2%-70,4%) dengan sensitivitas
mempengaruhi kehidupan dan masa 82% dan spesifitas 80% serta
depan bayi. Dengan penggunaan metoda negative predictive value 99% pada
prediksi yang akurat, bayi dengan TFU 40 cm.
perkiraan berat yang ekstrim lebih atau

35
International Conference for Midwives (ICMid)

2. Sebuah penelitian oleh Khani et al fundus uteri berdasarkan data


(2009) membandingkan antara pemeriksaan yang diperolehdari hasil
palpasi abdomen, rumus Johnson dan pengukuran.
pemeriksaan ultrasonografi dalam Penelitian ini dilakukan di RSUD
menentukan taksiran berat janin. Pringsewu Lampung. Populasi sumber
Dalam penelitian ini, pada berat bayi dalam penelitian ini adalah ibu hamil
sesuai usia kehamilan tidak terdapat dengan umur kehamilan cukup bulan
perbedaan yang bermakna dalam yang akan melahirkan di Rumah Sakit
menentukan TBJ menggunakan yang berjumlah 34 orang. Teknik
palpasi abdomen, rumus Johnson sampling yang digunakan dengan
ataupun USG. Perbedaan bermakna exhaustive sampling, dimana semua
terjadi pada bayi kecil masa populasi dipakai sampel penelitian.10
kehamilan atau bayi besar masa Teknik analisis data pada penelitian
kehamilan. ini Karakteristik sampel data kontinyu
3. Sebuah penelitian mengenai uji dideskriptifkan dalam n, mean, SD
validitas Rumus Johnson minimal, maximal. Data kategorikal
dibandingkan Rumus Risanto pernah dideskriptifkan dalam n dan persen.
dilakukan tetapi tidak dipublikasikan. Kesesuaian atau kesepakatan estimasi
Meskipun pernah terdapat penelitian berat bayi menurut Rumus Johnson dan
mengenai uji validitas rumus Johnson Rumus
dan rumus Risanto, tetapi jumlah Risanto diukur dengan koefisien
sample tidak banyak dan populasinya korelasi (r). Kemaknaan korelasi dari
belum tersebar (RS Sardjito, RSU statistik diuji dengan uji t. Kemaknaan
Banyumas< RSUP Suradji) Oleh statistik ditunjukkan dengan nilai p.
karena itu penulis ingin melihat Akurasi dari estimasi berat bayi
perbedaan taksiran berat janin menurut Rumus Risanto maupun Rumus
berdasarkan rumus Johnson dan Johnson untuk digunakan sebagai
berdasarkan rumus Risanto dengan prediktor, dianalisis dengan uji t.
jumlah subjek penelitian lebih banyak
dan populasi subjek penelitian secara DISKUSI
geografi lebih bervariasi. Penelitian ini dilaksanakan di RSUD
Pringsewu, berdasarkan hasil
METODE pengambilan sampel diperoleh 34
Jenis penelitian ini kuantitatif.Penelitian responden.
ini merupakan observasional analitik Karakteristik responden dalam
dengan pendekatan cross sectional. penelitian ini dapat dilihat pada Tabel
Sekelompok ibu hamil dengan umur berikut:
kehamilan cukup bulan yang akan Tabel 1. Karakteristik Responden (Umur,
melahirkan, dilakukan pengukuran tinggi Usia Hamil, BMI dan BBL)
fundus uteri, dan dicatat data tinggi
Karakteristik N Mean SD Min Mak
Umur 34 28,94 9,41 15,00 49,00
Usia hamil 34 39,35 0,85 38,00 41,00
BMI 34 24,41 1,02 22,31 26,98
BBL 34 3131,71 409,65 2500,00 4400,0
0
Sumber: Hasil Analisis SPSS; Juni 2015 penelitian ini berumur antara 15 sampai
Berdasarkan tabel diatas, 49 tahun dengan usia kehamilan antara
menunjukkan bahwa responden dalam 38 sampai 41 minggu. BMI responden

36
International Conference for Midwives (ICMid)

antara 22,31 sampai 26,98. Sedangkan Tabel 2. Karakteristik Responden


BBL antara 2500 sampai 4400 gram (Paritas, Persalinan, Dan Jenis Kelamin)
dengan rata-rata BBL 3131,71 gram.
Karakteristik Responden Frek (%)
Paritas :
a. Primigravida 14 41,2%
b. Multigravida 20 58,8%
Persalinan :
a. Vaginal 26 76,5%
b. Seksio sesarea 8 23,5%
Jenis Kelamin :
a. Laki-laki 21 61,8%
b. Perempuan 13 38,2%
Sumber: Hasil Analisis SPSS; Juni 2015 Selanjutnya data diuji dengan koefisien
Karakteristik responden pada tabel korelasi.
diatas menunjukkan bahwa berdasarkan
paritas, mayoritas responden dengan paritas Table 4. Korelasi antara BBL, TBJ Risanto
multigravida sebanyak 20 orang (58,8%). dan TBJ Johnson
Berdasarkan persalinan responden, Koefisien
p
mayoritas responden melakukan persalinan korelasi (r)
BBL TBJ
vaginal yaitu sebanyak 26 orang (76,5%) Risanto
0,986 0,000
dan yang melakukan persalinan dengan BBL TBJ
0,986 0,000
seksio sesarea ada sebanyak 8 orang Johnson
(23,5%). Jenis kelamin bayi yang lahir dan TBJ TBJ
0,986 0,000
Risanto Johnson
digunakan dalam penelitian ini mayoritas
Sumber: Hasil Analisis SPSS; Juni 2015
laki-laki yaitu sebanyak 21 orang (61,8%)
Berdasarkan hasil diatas menunjukkan
Hubungan Variabel Bebas Dan
bahwa nilai korelasi antara masing-masing
Variabel Tergantung
variabel sebesar 0,986 dengan nilai
Sebelum dilakukan uji antara varibel
signifikansi sebesar 0,000 (p<0,001).
bebas dan variable tergantung, data terlebih
dahulu dilakukan uji normalitas untuk
mengetahui apakah data yang dimiliki
berdistribusi normal atau tidak.Untuk uji
normalitas karena jumlah data kurang dari
50 maka digunakan uji Shapiro-Wilk.
Tabel 3. Uji Normalitas Data Berat Bayi
Gambar 1. Korelasi antara BBL dengan
Lahir
TBJ Risanto
Variabel P
Berat Bayi Lahir 0,119
Table 5. Hasil Uji Paired Sample T-Test
TBJ Risanto 0.158
Antara BBL dan TBJ Risanto
TBJ Johnson 0,158
Sumber: Hasil Analisis SPSS; Juni 2015
Sumber: Hasil Analisis SPSS; Juni 2015 Berdasarkan hasil diatas menunjukkan
Dari tabel 3 terlihat bahwa nilai p untuk bahwa nilai sig (p) yang diperoleh sebesar
berat bayi lahir adalah 0,119 dan nilai p 0,024. Maka terdapat perbedaan rata-rata
untuk kedua data taksiran berat janin BBL dengan TBJ Risanto. Rata-rata BBL
adalah 0.158 yang menunjukkan bahwa sebesar 3131,71 gram dan TBJ Risanto
data penelitian terdistribusi normal. sebesar 3099,34 gram dengan selisih

37
International Conference for Midwives (ICMid)

sebesar 32,37 gram. Berdasarkan hasil (76,5%) dengan Jenis kelamin bayi
tersebut nilai rata-rata TBJ Risanto lebih terbanyak adalah laki-laki yaitu sebanyak
kecil dari nilai rata-rata BBL. 21 orang (61,8%).
Tabel 5. Hasil Uji Paired Sample T-Test Berdasarkan uji paired t-test diketahui
Antara BBL dan TBJ Johnson bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
BBL
TBJ
Beda antara berat bayi lahir dengan TBJ Risanto
Johnson SD p dengan beda rerata 32,37 (p=0,024) dan
(n = 34) Mean
(n = 34)
3131,71 3191,18 -59,47 89,55 <0,001 berat bayi lahir dengan TBJ Johnson
Sumber: Hasil Analisis SPSS; Juni 2015 dengan beda rerata sebesar 59,47
Berdasarkan hasil diatas menunjukkan (p=0,000). Hal ini dapat diakibatkan oleh
bahwa nilai sig (p) yang diperoleh sebesar karena ada perbedaan jenis timbangan bayi
0,001.Maka terdapat perbedaan rata-rata yang digunakan.Dalam penelitian ini
BBL dengan TBJ Johnson. Rata-rata BBL timbangan bayi yang digunakan adalah
sebesar 3131,71 gram dan TBJ Johnson timbangan elektrik dimana berat
sebesar 3191,18 gram dengan selisih ditampilkan sampai dengan 4 desimal
sebesar 59,47 gram. Berdasarkan hasil (sampai sepersatuan).Hasil ,mungkin akan
tersebut nilai rata-rata TBJ Johnson lebih berbeda ketika timbangan bayi yang
besar dari nilai rata-rata BBL. digunakan adalah timbangan manual yang
Table 6. Hasil Uji Paired Sample T-Test pada umumnya digunakan, dimana skala
antara TBJ Risanto dan TBJ Johnson yang dapat dibaca oleh penggunanya hanya
TBJ dapat dideskripsikan dalam seperseribuan
TBJRisanto Beda
(n= 34)
Johnson
Mean
SD P dan seperseratusan. Faktor lain yang dapat
(n=34) mempengaruhi hasil sebagaimana
3099,34 3191,18 91,84 80,1 <0,001 dideskripsikan oleh penelitian sebelumnya
Sumber: Hasil Analisis SPSS; Juni 2015 adalah ukuran maternal (BMI), paritas,
Berdasarkan hasil diatas menunjukkan jenis kelamin bayi, etnis, kondisi air
bahwa nilai sig (p) yang diperoleh sebesar ketuban, dan adany abnormalitas uterus.11,
0,001.Maka terdapat perbedaan rata-rata 12
TBJ Risanto dengan TBJ Johnson. Rata- Dari uji yang membandingkan akurasi
rata TBJ Risanto sebesar 3099,34 gram formula Risanto dan formula Johnson
dan TBJ Johnson sebesar 3191,18 gram didapatkan rata-rata untuk TBJ Risanto
dengan selisih sebesar 91,84 gram. sebesar 3099,34 gram dan TBJ Johnson
Berdasarkan hasil tersebut nilai rata-rata sebesar 3191,18 gram, dengan beda rerata
TBJ Johnson lebih besar dari nilai rata-rata sebesar 91,84 gram (p=0.000). Berdasarkan
TBJ Risanto. hasil tersebut nilai rata-rata TBJ Johnson
lebih besar dari nilai rata-rata TBJ
PEMBAHASAN Risanto.Perbedaan ini muncul karena
Karakteristik subyek penelitian dari 34 kedua formula tersebut mempunyai rumus
wanita menunjukkan bahwa responden yang berbeda dalam menentukantaksiran
dalam penelitian ini berumur antara 15 berat janin.
sampai 49 tahun dengan usia kehamilan Meskipun secara statistik antara TBJ
antara 38 sampai 41 minggu. BMI Risanto dan TBJ Johnson mempunyai
responden antara 22,31 sampai 26,98. perbedaan yang bermakna terhadap berat
Sedangkan BBL antara 2500 sampai 4400 bayi lahir yang sesungguhnya, namun
gram dengan rata-rata BBL 3131,71 gram. secara klinis beda rerata sebesar 32,37
Jika dilihat berdasarkan paritas, jenis gram untuk TBJ Risanto dan 59,47 gram
persalinan dan jenis kelamin bayi lahir, untuk TBJ Johson tidaklah bermakna.
maka diketahui bahwa mayoritas responden Terlebih jika timbangan bayi yang
adalah multigravida sebanyak 20 orang digunakan adalah timbangan digital yang
(58,8%), dan jenis persalinan terbanyak
adalah persalinan vaginal yaitu 26 orang

38
International Conference for Midwives (ICMid)

hanya dapat dibaca dalam seperseribuan In Training at the University Hospital


dan seperseratusan. of the West India, West India Med J;
Dec; 62 (9):829-32.
SIMPULAN 5. Van Asten JHAG. H., Dolmans
Terdapat perbedaan statistik yang WMV. 1995. Single pre-delivery
signifikan antara berat bayi lahir dengan symphysis-fundal height measurement
taksiran berat janin Risanto (Beda mean as a predictor of birthweight and
32,37). Perbedaan tersebut secara statistik multiple pregnancy. British Journal of
signifikan. Obstetrics and Gynecology.102: 525-
Terdapat perbedaan statistik yang 529.
signifikan antara berat bayi lahir dengan 6. Shittu A.S., Kuti O., 2007, Clinical
taksiran berat janin Johnson ( Beda mean - Versus Sonographic Estimation of
59,47). Perbedaan tersebut secara statistik Foetal Weight in South West Nigeria,
signifikan (p < 0,001). Journal of Health Popul Nutr,
Terdapat perbedaan statistik yang Mar;25(1):14-23.
signifikan antara rumus Risanto dan rumus 7. Eckhart Buchmann and K. Tale. 2009.
Johnson dengan berat bayi lahir yang A Simple Clinical Formula for
sesungguhnya. Rumus Johnson lebih Predicting Fetal Weight in Labour at
tinggi estmasinya dibanding dengan rumus Term-Derivation and Validation.
Risanto ( Beda mean -91,84). Perbedaan Journal SAMJ, 99/6: 457-460.
tersebut secara statistik signifikan 8. Soghra Khani et.al. 2011. Comparison
(p<0,001). of Abdominal Palpation. Johnson’s
Technique and Ultrasound in the
DAFTAR PUSTAKA Estimation of Fetal Weight in Northern
1. Cuninghaam FG., Leveno KJ., Bloom Iran.Midwifery, 27: 99-103.
SL., Hauth JC., Rouse DJ.,Spong CY. 9. Mongelli M, Gardosi J. 1999.
2010.William Obstetrics. 23rd ed. New Symphysis-fundus height an
York: TheMcGraw Hill Companies, 10. pregnancy characteristics in
Inc. ultrasonografi-dated
2. Khani S., Ahmad SM., Mohseni MA., pregnancies.Journal Obstetrics &
Mohammadpour TRA. 2009. Gynecology. 94: 591-594.
Comparison of abdominal palpation, 11. Murti B. 2006. Desain dan Ukuran
Johnson’s technique and Sampel untuk Penelitian Kuantitatif
ultrasonografiin the estimation of fetal dan Kualitatif di Bidang Kesehatan.
weight in Northern Iran. Midwifery: an Yogyakarta: Gadjah Mada University
International Journal. 27: 99- Press.
103.measurement and sonographically 12. Khoury FR., Stetzer B., Myers SA.,
measured fetal abdominal Mercer B., 2009, Comparison of
circumference in the prediction of high Estimated Fetal Weight Using Volume
and low birth weight at and 2-Dimensional Sonography and
term.Ultrasonography Obstetric Their Relationship to Neonatal
Gynecology. 6:776-81. Markers of Fat , Journal Ultrasound
3. Pernoll ML. 2002. Handbook of Med, 28:309-315.
Obstetrics and Gynecology. 10th ed. 13. Kacem Y et al., 2013, Comparison of
Singapore:The Mc Graw HillMedical Two-Dimensional US and MR
Publishing Devision. Imaging Assessment, Journal
4. Simms-Stewart D et al., 2013, Radiology, Vol 267 Issue 3, 902-910.
Comparison of Ultrasonographic
Estimated Foetal Weight and Actual
Birth Weight Performed by Residents

39
International Conference for Midwives (ICMid)

DIFFERENCES IN BLOOD PLASMA LEVELS OF VITAMIN C IN TERM


PREGNANCY WITH PREMATURE RUPTURE OF MEMBRANES AND
BLOOD PLASMA LEVELS OF VITAMIN C IN TERM PREGNANCY
WITHOUT PREMATURE RUPTURE OF MEMBRANES

Defrin, Mira Dewita, Rosfita Rasyid


Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang

ABSTRACT

Premature rupture of membranes is the most common complications of pregnancy. The


incidence of premature rupture of membranes in pregnancy ranged from 6% to 10% and
20% of these cases occur before 37 weeks gestation. The incidence of premature rupture of
membranes in Indonesia ranges from 4.5% to 7.6% of all pregnancies. 1 This research was
conducted to determine the cross sectional differences in the blood plasma levels of vitamin
C in term pregnancy premature rupture of membranes with blood plasma levels of vitamin C
in term pregnancy without premature rupture of membranes in M. Jamil Padang hospital,
Achmad Muchtar Bukittinggi hospital, and Pariaman Hospital.There are significant
differences in blood plasma levels of vitamin C in term pregnancy with premature rupture of
membranes and term pregnancy without premature rupture of membranes ( P < 0.05). Mean
levels of vitamin C in blood plasma at term pregnancy with premature rupture of membranes
lower than in the blood plasma levels of vitamin C in term pregnancy without premature
rupture of membranes.

Keywords: Premature rupture of membrane in aterm, blood plasma levels of vitamin


C

PENDAHULUAN dimana setiap komponen mempunyai peran


Ketuban pecah dini merupakan salah satu penting dalam metabolisme yang penting
dari komplikasi kehamilan yang paling untuk integritas fisiologi untuk
sering dijumpai. Insiden kejadian ketuban perkembangan kehamilan. Amnion
pecah dini pada kehamilan berkisar antara memperoleh kekuatannya melalui kolagen.
6% sampai 10% dan 20% dari kasus ini Bagaimana membran fetal dapat melemah
terjadi sebelum kehamilan 37 minggu. dengan mekanisme eksogenus dan
Insiden ketuban pecah dini di Indonesia endogenus masih dalam investigasi yang
berkisar 4,5% sampai 7,6 % dari seluruh aktif. Faktor endogenus seperti variasi lokal
kehamilan.1 pada penipisan membran atau kolagen dan
Ketuban pecah dini menyebabkan faktor eksogenus seperti efek yang
peningkatan komplikasi dalam kehamilan diakibatkan oleh metabolisme mikroba, host
baik terjadi pada usia kehamilan aterm atau akibat nikotin yang mengurangi
maupun preterm. Risiko infeksi setelah aktivitas antriprotease juga menyebabkan
terjadi pecahnya ketuban berpengaruh gangguan membran lokal.3
kepada ibu, fetus atau neonatus. Insiden Kekuatan dan integritas korioamnion
infeksi pada neonatal setelah ketuban pecah dipertahankan oleh keseimbangan faktor
dini yang lebih dari 24 jam kira-kira 1% dan intrinsik yang meregulasi sintesis dan
jika terdapat korioamnionitis klinis risiko degradasi jaringan penyambung. Degradasi
meningkat menjadi 3% hingga 5 %.2 kolagen dalam korioamnion dikontrol oleh
Korioamnion merupakan lapisan yang matriks metalloproteinases. Pelepasan
banyak dan kompleks yang terdiri dari matriks metalloproteinase diatur oleh tissue
epitelial dan elemen jaringan penunjang

40
International Conference for Midwives (ICMid)

inhibitors of metalloproteinases atau vitamin C plasma darah pada kehamilan


TIMPS.3 aterm dengan ketuban pecah dini dengan
Molekultidak stabilyangdihasilkanterus kadar vitamin C plasma darah pada
menerusdalam tubuh yang dikenal dengan kehamilan aterm tanpa ketuban pecah dini di
reactive oxygen species (ROS) dikatakan RS.Dr.M.Djamil Padang, RSU Achmad
dapat menghasilkan kerusakan jaringan yang Mochtar Bukittinggi, RSUD Pariaman.
menyebabkan prematur rupture of Pada subjek yang sesuai dengan kriteria
membrane (PROM) / ketuban pecah dini. inklusi dan ekslusi, dilakukan pengambilan
Pemaparan korioamnion dengan ROS sampel darah sebanyak 5 cc, dimasukkan ke
dikatakan meningkatkan matriks tabung vacutainer 5 cc dan dilakukan
metalloproteinase sehingga menyebabkan sentrifuge kemudian serum dipisahkan 2 cc
ketuban pecah dini. Normalnya ada dimasukkan dalam microtube dan dikirim ke
keseimbangan antara produksi dan eliminasi laboraturium kesehatan daerah untuk
dari ROS. Stres oksidatif terjadi ketika diperiksa kadar vitamin C dalam plasma
prooksidan melebihi antioksidan.4 darah. Pemeriksaan dengan menggunakan
Vitamin C (asam askorbat) adalah Kit ascorbic acid khusus serum tipe KT671-
vitamin yang larut dalam air yang tidak 100 menggunakan metode kromatografi.
disintesis oleh manusia oleh karena itu Hasil dicatat lalu dilakukan analisa data.
vitamin esensial ini harus didapat dari Penelitian telah dilakukan untuk
makanan. Seperti yang kita ketahui vitamin mengetahui perbandingan antara kadar
C merupakan salah satu anti oksidan. Tubuh vitamin C plasma darah hamil aterm dengan
menggunakan berbagai antioksidan untuk ketuban pecah dini dengan hamil aterm tanpa
membatasikerusakan jaringan yang ketuban pecah dini di beberapa rumah sakit
disebabkan radikal bebas. Asam askorbat di Sumatera Barat. Penelitian ini dilakukan
secara langsung merangsang sintesis pada wanita hamil yang datang ke kamar
kolagen. Asam askorbat juga berfungsi bersalin rumah sakit Dr. M. Djamil Padang,
sebagai reducing agent dengan mengirim RSU Achmad Mochtar Bukittinggi, RSUD
atom hidrogen dengan elektron tunggalnya Pariaman dan pemeriksaan dilakukan di
ke ROS. Asam askorbat membuat kolagen Laboratorium Kesehatan daerah Padang pada
kuat dan stabil.5 periode Maret 2014 – September 2014. Total
Stres oksidatif terjadi ketika prooksidan jumlah wanita yang diikutsertakan dalam
melebihi antioksidan sehingga dapat perhitungan statistik setelah kriteria inklusi
menyebabkan ketuban pecah dini dan salah dan eksklusi terpenuhi adalah 144 orang,
satu peran vitamin C mengirim atom yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 72
hidrogen dengan elektron tunggalnya ke orang pada kelompok hamil aterm dengan
ROS sehingga membuat kolagen lebih kuat ketuban pecah dini dan 72 orang pada
dan stabil oleh karenanya peneliti ingin kelompok hamil aterm tanpa ketuban pecah
membandingkan antara kadar vitamin C dini.
plasma darah hamil aterm pada ketuban Dari 144 sampel yang memenuhi kriteria
pecah dini dengan hamil aterm tanpa ketuban inklusi dan eksklusi didapatkan karakteristik
pecah dini di beberapa rumah sakit Sumatera sampel penelitian berdasarkan usia, paritas,
Barat yaitu RSUP.Dr.M.Djamil Padang, merokok dan infeksi seperti yang terlihat
RSU Achmad Mochtar Bukittinggi, RSUD pada tabel 1
Pariaman.

METODE
Penelitian ini dilakukan dengan metode cross
sectional untuk mengetahui perbedaan kadar

41
International Conference for Midwives (ICMid)

Tabel 1. Karakteristik Sampel Penelitian yang signifikan, hal ini terlihat dari nilai p
value sebesar 0,174 (p > 0.05).
Wanita hamil aterm tanpa KPD yang
infeksi lebih kecil dibandingkan wanita
hamil aterm dengan KPD sedangkan pada
wanita hamil aterm tanpa KPD yang tidak
infeksi lebih tinggi dibandingkan wanita
hamil aterm dengan KPD yang tidak infeksi.
Hasil statistik lebih lanjut terdapat perbedaan
infeksi (kadar leukosit) pada ibu hamil aterm
tanpa ketuban pecah dan hamil aterm dengan
ketuban pecah memiliki memiliki perbedaan
yang signifikan, hal ini terlihat dari nilai p
value sebesar 0,002 (p < 0.05).
Tabel 2. Perbandingan kadar vitamin C
Hasil analisis statistik seperti terlihat plasma darah hamil aterm dengan ketuban
pada tabel 1 berdasarkan usia responden, pecah dini dengan hamil aterm tanpa ketuban
didapatkan nilai rerata usia yang hampir pecah dini
sama pada wanita hamil aterm tanpa KPD TANPA KPD KPD P
n = 72 n = 72
dengan hamil aterm pada KPD. Hasil analisis
statistik lebih lanjut, perbedaan usia pada ibu Minimum 0,35 nmol/mL 1,78nmol/mL
hamil aterm tanpa ketuban pecah dan ibu Maksimum 306,43nmol/mL 210,71nmol/mL 0.001
hamil aterm dengan ketuban pecah tidak MeanKadar 97,56 nmol/mL 60,07 nmol/L
vitamin C
memiliki perbedaan yang signifikan, hal ini SD 78,28 nmol/mL 50,33 nmol/L
terlihat dari nilai p value sebesar 0,600
(p>0,05). Kadar vitamin C plasma darah hamil
Wanita hamil aterm tanpa KPD nullipara aterm tanpa ketuban pecah dini memiliki
jumlahnya lebih kecil dibandingkan wanita lebih tinggi dibandingkan dengan kadar
hamil aterm dengan KPD nullipara vitamin C plasma darah hamil aterm dengan
sedangkan pada paritas multipara, wanita ketuban pecah dini. Uji normalitas yang
hamil aterm tanpa KPD lebih tinggi dilakukan menggunakan Kolmogorov
dibandingkan hamil aterm dengan KPD. Smirnov distribusi normal hal ini terlihat dari
Hasil analisis statistik lebih lanjut, paritas p value pada kadar vitamin C plasma darah
pada ibu hamil aterm tanpa ketuban pecah wanita hamil aterm tanpa KPD sebesar 0.110
dan hamil aterm dengan ketuban pecah tidak dan p value pada kadar vitamin C plasma
memiliki perbedaan yang signifikan, hal ini darah wanita hamil aterm dengan KPD
terlihat dari nilai p value sebesar 0,153 (p > sebesar 0.174 ( p > 0.005) sehingga bisa
0.05). dilakukan uji-t. Hasil analisis statistik dengan
Wanita hamil aterm yang merokok uji-t didapatkan perbedaan bermakna rerata
dengan KPD lebih besar dibandingkan kadar vitamin C plasma darah antara
wanita hamil aterm yang merokok tanpa kelompok hamil aterm tanpa ketuban pecah
KPD sedangkan wanita hamil aterm dengan dini dengan hamil aterm dengan ketuban
KPD yang tidak merokok lebih rendah pecah dini, hal ini dapat dilihat dari nilai p
dibandingkan wanita hamil aterm tanpa KPD value 0,001 (p < 0.05).
yang tidak merokok. Hasil uji-t didapatkan Kadar vitamin C plasma darah hamil
perbedaan merokok pada ibu hamil tanpa aterm tanpa KPD yang paling banyak yaitu
ketuban pecah dan hamil aterm dengan pada nilai kisaran antara 80-90 nmol/mL
ketuban pecah tidak memiliki perbedaan sedangkan kadar vitamin C plasma darah

42
International Conference for Midwives (ICMid)

hamil aterm dengan KPD yang paling saluran reproduksi sistemik dan lokal.
banyak yaitu pada nilai kisaran antara 10-20 Nikotin dan cotinine terkonsentrasi di lendir
nmol/Ml. serviks dibandingkan dengan serum dan
konstituen asap rokok juga mengganggu
PEMBAHASAN aktivitas endogen antibakteri dan dapat
A. Pembahasan Hasil mengganggu pendekatan makrofag ke
Analisis data karakteristik sampel pada mikroba.
peelitian ini didapatkan hasil kejadian Hasil analisis data karakteristik sampel
ketuban pecah dini pada wanita hamil yang pada penelitian ini didapatkan pada pasien
merokok lebih sering dibanding dengan dengan infeksi ( kadar lekosit darah >
wanita hamil tanpa ketuban pecah dini, 16.900/mm3) kejadian wanita hamil aterm
namun hasil ini tidak bermakna secara dengan ketuban pecah dini lebih sering
statistik (p>0.05). Hal ini mungkin karena terjadi dibanding wanita hamil aterm tanpa
wanita merokok bagi negara timur seperti ketuban pecah dini. Terdapat satu wanita
Indonesia tidak sebanyak negara barat dan hamil aterm tanpa ketuban pecah dini dengan
data yang didapat disini merupakan perokok infeksi yaitu sampel nomor 45 (lampiran 6)
pasif sehingga untuk menilai apakah dengan kadar vitamin C plasma darah 13,21
merokok berhubungan dengan kejadian nmol/L sedangkan pada wanita hamil aterm
ketuban pecah dini harus dengan jumlah dengan ketuban pecah dini terdapat 7 orang
sampel yang lebih besar lagi. Risiko ketuban dengan nomor sampel 83, 87, 105, 106, 107,
pecah dini pada preterm meningkat dua kali 124 dan 142 dengan kadar vitamin C plasma
lipat pada wanita yang merokok selama darah berturut-turut yaitu 3,21 nmol/mL,
kehamilan. Ibu yang merokok berhubungan 159,28 nmol/mL, 22,5 nmol/mL, 13,92
dengan peningkatan kejadian ketuban pecah nmol/mL, 35,35 nmol/mL, 46,07 nmol/mL
dini. Hasil dari sebuah studi kasus kontrol dan 57,14 nmol/mL.
yang besar menunjukkan bahwa peningkatan Infeksi dikatakan dapat menurunkan
risiko ketuban pecah dini yang dengan kadar vitamin C. Pada penelitian ini pada
merokok (OR = 2,2, 95% CI, 1,4-3,5) dapat sampel nomor 45 yaitu hamil aterm tanpa
dikurangi dengan berhenti merokok sebelum ketuban pecah dini dengan infeksi
konsepsi (OR = 1,4, 95% CI, 0,9-2,0) dan didapatkan kadar vitamin C yang cukup
pada trimester pertama(OR = 1,6, 95% CI, rendah yaitu 13,21 nmol/mL dan pada hamil
0,8-2,9).6 aterm dengan ketuban pecah dini dengan
Gosselin k et al tidak menemukan infeksi didapatkan kadar vitamin C plasma
hubungan merokok (>10 batang per hari) darah dengan kisaran < 60 nmol/mL namun
dengan ketuban pecah dini pada (OR =0,94, pada sampel no 87 (pada hamil aterm dengan
95% CI, 0,48-1,8). Mekanisme patofisiologi ketuban pecah dini dengan infeksi )
dimana merokok bisa membuat ketuban didapatkan kadar vitamin C plasma darah
pecah dini yaitu nikotin dan metabolit utama 159,28 nmol/mL oleh karenanya untuk
cotinine dan karbon monoksida, hidrogen menilai apakah infeksi menurunkan kadar
sianida, nitrogen oksida dan komponen lain vitamin C plasma darah diperlukan sampel
dari asap tembakau didistribusikan ke yang lebih banyak lagi karena pada
jaringan dan cairan seluruh tubuh. Merokok penelitian ini hanya 5,55% kasus yang
meningkatkan risiko ketuban pecah dini terdapat infeksi. Infeksi menyebabkan
dengan gangguan dari sistem sitokin, menurunnya kadar vitamin C karena hal
penurunan fungsi leukosit, perubahan faktor yang tidak dapat dijelaskan, Mac lenan
nutrisi esensial, dan melalui gangguan fungsi (1977) mengatakan hal ini akibat efek dari
dan perkembangan plasenta yang normal. migrasi Polimorfonuklear yang kaya vitamin
Merokok mungkin juga merusak fungsi imun C ke tempat infeksi dengan konsekuensi

43
International Conference for Midwives (ICMid)

penggantian dengan lekosit yang imatur yang sampel yang lebih besar lagi untuk menilai
memiliki konsentrasi kadar vitamin C yang apakah pemberian suplementasi vitamin C
relatif rendah. Pada sampel no 124 (infeksi berhubungan dengan kejadian ketuban pecah
dan merokok) dan didapatkan kadar vitamin dini. Begitu juga dengan penelitian yang
C plasma darah 46,07 nmol/mL. dilakukan Rizka (2011) menghasilkan hal
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa yang berlawanan dimana pada hasil
terdapat perbedaan kadar vitamin C plasma didapatkan kadar vitamin C pada pasien
darah hamil aterm dengan ketuban pecah dini hamil aterm dengan ketuban pecah dini lebih
dengan hamil aterm tanpa ketuban pecah dini tinggi dibanding dengan hamil aterm tanpa
dimana kadar vitamin C plasma darah hamil ketuban pecah dini.
aterm dengan ketuban pecah dini lebih Literatur mengatakan kadar normal
rendah dibanding dengan kadar vitamin C vitamin C plasma darah yaitu 26,1-84,6
plasma darah hamil aterm tanpa ketuban umol/L (>0,6mg/dl, > 20 ug/108 sel, > 114
pecah dini. Belum banyak penelitian yang nmol/108 sel) dan dikatakan defisiensi jika <
membandingkan kadar vitamin C plasma 11 umol/L (0,2mg/dl, <10 ug/108 sel, < 57
darah hamil aterm dengan ketuban pecah dini nmol/108 sel). Dari hasil penelitian ini
antara hamil aterm tanpa ketuban pecah dini memang didapatkan kisaran yang cukup luas
namun dari hasil penelitian ini sejalan yaitu kadar vitamin C plasma darah hamil
dengan beberapa penelitian-penelitian yang aterm dengan ketuban pecah dini memiliki
sebelumnya pernah dilakukan7 tetapi pada nilai rerata 60.07± 50.33 nmol/mL, dengan
beberapa penelitian yang lain menunjukkan nilai terkecil 1.78 nmol/mL dan nilai terbesar
hal yang sebaliknya dimana justru kadar 210.71 nmol/mL dan kadar vitamin C
vitamin C plasma darah hamil aterm dengan plasma darah hamil aterm tanpa ketuban
ketuban pecah dini lebih tinggi dibanding pecah dini memiliki nilai rerata 97.56 ±
dengan kadar vitamin C plasma darah hamil 78.28 nmol/mL, dengan nilai terkecil 0.35
aterm tanpa ketuban pecah dini.7 nmol/mL dan nilai terbesar 306,43 nmol/mL
Penelitian yang memperlihatkan hasil namun jika dilihat dari lampiran 7, 58,35 %
senada yaitu penelitian yang dilakukan kadar vitamin C plasma darah wanita hamil
E.Casanueva (1998) dimana pada penelitian tanpa ketuban pecah dini yaitu < 90
tersebut dikatakan kadar vitamin C < 1,8 nmol/mL sedangkan 58,33% kadar vitamin C
ug/108 sel meningkatkan resiko kejadian plasma darah wanita hamil tanpa ketuban
ketuban pecah dini bahkan dikatakan kadar pecah dini yaitu < 60 nmol/mL.
vitamin C < 1,8 ug/108 sel pada usia Vitamin C (asam askorbat) adalah
kehamilan 28 minggu menunjukkan vitamin yang larut dalam air yang tidak
predictive value yang tinggi (p<0.05). disintesis oleh manusia. oleh karena itu
Penelitian Tejero et al (2003) menunjukkan vitamin esensial ini harus didapat dari
konsenterasi vitamin C pada wanita dengan makanan. Seperti yang kita ketahui vitamin
ketuban pecah dini saat hamil aterm lebih C merupakan salah satu anti oksidan. Asam
rendah dibanding dengan wanita hamil aterm askorbat secara langsung merangsang
normal ( tanpa ketuban pecah dini). sintesis kolagen. Asam askorbat berfungsi
Berlawanan dengan penelitian Barret et al sebagai reducing agent dengan mengirim
(1994) tidak ditemukan hubungan antara atom hidrogen dengan elektron tunggalnya
rendahnya kadar vitamin C dengan kejadian ke ROS dengan elektron tunggal yang tidak
ketuban pecah dini dan pada penelitian berpasangan pada cincin luarnya. ROS
tersebut dikatakan pemberian suplemen sekarang dengan elektron yang berpasangan
vitamin C tidak dapat mencegah kejadian di cincin luarnya menjadi stabil. Asam
ketuban pecah dini walau pada penelitian askorbat membuat kolagen kuat dan stabil.6
tersebut dikatakan diperlukannya jumlah Asam askorbat juga mempengaruhi ekspresi

44
International Conference for Midwives (ICMid)

metalloproteinase 2 (MMP-2). Pada analisis SIMPULAN


pada medium kultur terjadi penurunan 1. Kadar rerata vitamin C plasma darah
MMP-2 mRNA dengan penambahan asam pada kehamilan aterm tanpa ketuban
askorbat. Pada eksperimen ini terjadi pecah dini yaitu 97,56 nmol/mL ( ± 78,28
peningkatan produksi kolagen I terhadap nmol/mL ).
respon dari pemaparan asam askorbat. Selain 2. Kadar rerata vitamin C plasma darah
itu fungsi vitamin C yaitu keterlibatannya pada kehamilan aterm dengan ketuban
pada hidroksilasi proline dan lysine pada pecah dini yaitu 60,07 nmol/mL (± 50,33
residu prokolagen. Reaksi ini dikatalisasi nmol/mL).
oleh prolihydroxylase seperti 3. Kadar rerata vitamin C plasma darah
lysihydroxylase yang membutuhkan Fe dan pada kehamilan aterm tanpa ketuban
askorbat. Langkah ini terjadi pada fibroblast pecah dini lebih tinggi dibandingkan
dan telah diamati pada kultur sel membran dengan kadar vitamin C plasma darah
amnion. Dikatakan askorbat juga berperan pada kehamilan aterm dengan ketuban
dalam memodulasi ekspresi mRNA pada pecah dini di RS.DR.M.Djamil Padang,
sintesis kolagen seperti halnya ekspresi gen RSU Achmad Mochtar Bukittinggi dan
kolagen tipe I,III dan X.9 RSUD Pariaman.

KELEMAHAN PENELITIAN DAFTAR PUSTAKA


1. Teknik Pengambilan Sampel 1. Dewoto, H.R. (2007). Vitamin dan
Kelemahan pada penelitian ini yaitu teknik Mineral dalam Farmakologi Dan Terapi.
pengambilan sampel diambil dengan Editor Sulistia G. Ganiswarna. Edisi
consecutive sampling dimana semua subyek Keempat. Jakarta: Farmakologi Fakultas
yang datang secara berurutan dan memenuhi Kedokteran-Universitas Indonesia. Hal.
kriteria inklusi dan eksklusi dimasukkan 733.
dalam penelitian sampai jumlah sampel 2. Moore, R. M, Mansour, J. M. &
terpenuhi dan consecutive sampling Redline, R. W. 2006. The Physiology Of
merupakan non probability sampling namun Fetal Membrane Rupture: Insight
jangka waktu penelitian ini cukup panjang ( Gained From The Determination Of
lima bulan ) sehingga dapat menyerupai hasil Physical Properties. Placenta 27, 1037-
probability sampling. 1051
3. Janice, F. I. & James, M. A. 1996. The
2. Pemeriksaan Laboratorium Pathobiology Of Premature Rupture Of
Kelemahan lain pada penelitian ini yaitu Membranes. Seminars In Perinatology,
karena pemeriksaan kadar vitamin C belum Vol 20, No 5 (October), Pp 344-368.
menjadi pemeriksaan rutin atau pemeriksaan 4. Mariangela, L, Perrone, S. & Vezzosi, P.
yang sering digunakan sehari-hari sehingga 2007. Association Between Oxidative
dapat saja terjadi kesalahan dalam hasil Stress In Pregnancy And Preterm
pemeriksaan kadar vitamin C plasma darah Premature Rupture Of Membranes.
namun permeriksaan sudah dilakukan pada Clinical Biochemistry 40, 793–797.
laboraturium yang profesional yaitu 5. Bornaa, S, Bornab & Daneshbodie 2005.
Laboraturium Kesehatan Daerah di Padang Vitamins C And E In The
dan sudah sesuai dengan langkah-langkah 6. Latency Period In Women With Preterm
yang ada dalam petunjuk pemeriksaan kadar Premature Rupture Of Membranes.
vitamin C dengan menggunakan kit ascorbic International Journal Of Gynecology
acid khusus serum dari Bioviosion tipe And Obstetrics 90, 16-20.
KT761-100.

45
International Conference for Midwives (ICMid)

7. Esther, C, Ortego, F. V. & Pfeffer, F. American Journal Obstetri And


1998a. Vitamin C And Premature Gynecology, 433.E1-433.E8.
Rupture Of Chorioamniotic Membranes.
Nuhition Research, 18 No.2, 241-245.
8. Graham, B. & Jauniaux, E. 2011.
Oxidative Stress. Best Practice &
Research Clinical Obstetrics And
Gynaecology 25, P. 287–299.
9. Joseph, S, Freire, S. & Pinto, J. L. 2008.
Antioxidant Supplementation And
Premature Rupture Of The Membranes:
A Planned Secondary Analysis.

46
International Conference for Midwives (ICMid)

DIFFERENCE OF ACTIVIN A SERUM IN PREECLAMPSIA AND


NORMAL PREGNANCY

Yusrawati, Marry Denita Wati. MZ


Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang

ABSTRACT

Preeclampsia is a major source of morbidity and maternal mortality in worldwide.


Aproximetly 10 % -15 % of maternal deaths are directly related to preeclampsia / eclampsia.
The incidence of preeclampsia / eclampsia in Indonesia range from 2.1 % -8.5 % on all
pregnant women 2 and the incidence of preeclampsia has increased from year to year in M
Djamil Hospital , namely 111 cases in 2010 , 137 cases in 2011 , and 211 cases in 20133.
Preeclampsia is characterized by an inflammatory response after ischemia and reperfusion
and than will release cytokine than trophoblast produce activin A so that the levels are
increased. The aim of research to prove the difference between the levels of activin A
preeclampsia with normal pregnancy.The study design was cross-sectional, observational
taken with consecutive sampling technique. The study was conducted at the hospital. Tk III
Dr. Reksodiwiryo, RS Bhayangkara Padang, Padang Rasidin hospitals, Anak Air Health
Centre and C Laboratory of Biomedical Faculty of Medicine Andalas University Padang on
July to November 2015.The level of activin A was measure by ELISA methodin the
laboratory of Biomedical Faculty of Medicine Unand. Test data normality by the Shapiro-
Wilk test and unpaired t test for mean difference of activin A and using SPSS version 19.0.
The results showed the mean levels of serum activin A in preeclampsia group was 3.163 ±
2.942 ng / ml and 0.922 ± 0.407 ng / ml in normal pregnant (p< 0.001). It is concluded that
there are significant differences between the levels of serum activin A preeclampsia with
normal pregnancy.

Keywords : Activin A, Preeclampsia, normal pregnancy

PENDAHULUAN tahun 2011, 158 kasus pada tahun 2012, dan


Preeklamsia adalah sindrom multi sistem 211 kasus pada tahun 2013 3
yang didiagnosis dengan adanya hipertensi Preeklamsia ditandai dengan respon
dan proteinuria setelah 20 minggu inflamasi setelah iskemia dan reperfusi6
kehamilan pada wanita yang sebelumnya yang akan mengeluarkan sitokin dan faktor
memiliki tekanan darah / tensi yang normal4 inflamasi seperti TNF-α, dan IL-1β dari
Menurut Haggerty (2012)5 patofisiologi plasenta yang memicu trofoblas
preeklamsia berkembang karena adanya menghasilkan aktivin A lebih banyak7
kelainan plasentasi dan gangguan vaskular Aktivin A membantu invasi trofoblas pada
sistemik maternal. awal kehamilan.8. Pada preeklamsia
Angka kejadian preeklamsia/ terjadinya peningkatan aktivin A
eklamsiadi Indonesia berkisar antara 2,1%- merupakan mekanisme kompensasi plasenta
8,5% pada seluruh wanita hamil 2 dan data agar invasi trofoblas terus berlanjut dan
di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang berhasil9.
angka kejadian preeklamsia mengalami Aktivin A meningkatkan transkripsi
peningkatan dari tahun ke tahun yaitu 111 endotel NADPH oksidase 2(NOx2) yang
kasus pada tahun 2010, 137 kasus pada merupakan molekul kunci dalam
produksiRadical Oxygen Species (ROS)

47
International Conference for Midwives (ICMid)

yang dapat berkontribusi untukpeningkatan dilakukan pada 20 orang subjek dengan


stres oksidatif endotel11, mengganggu preeklamsia dan 20 orang subjek hamil
pembentukan tubulus endotel secara in vitro normal. Setelah semua sampel (serum)
yaitu 55% lebih pendek dibandingkan terkumpul, pemeriksaan kadar aktivin A
kontrol sehingga mampu merusak fungsi dilakukan di Laboratorium Biomedik
endotel 12 selanjutnya akan menyebabkan Fakultas Kedokteran Andalas Padang.
permeabilitas vaskular meningkat, Berdasarkan uji normalitas dengan uji
peningkatan tekanan darah, udem dan shapiro-wilk (sampel ≤ 50), variabel kadar
proteinuria15 aktivin A didapatkan p < 0,05kemudian
Pada kehamilan normal konsentrasi dilakukan transformasi data kadar aktivin
aktivin A meningkat pada trimester ketiga A.
dan terjadi peningkatan kadar pada wanita Tabel 1 Rerata kharakteristik subjek
dengan preeklamsia berat9 penelitian
Kadar serum aktivin A secara
signifikan sudah meningkatsejak usia
kehamilan 15-19 minggu dan didapatkan
kadar yang tinggi pada usia kehamilan 27-
30 minggu pada pasien preeklamsia
dibandingkan dengan normotensi9
Aktivin A sebagai marker preeklamsia
masih merupakan suatu perdebatan, oleh
karena itu peneliti melakukan penelitian
mengenai perbedaan kadar serum aktivin A
pada penderita preeklamsia dengan
kehamilan normal.

METODE
Penelitian ini merupakan penelitian analitik Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa
observasional dengan pendekatan cross ibu dengan preeklamsi berat memiliki rerata
sectional dilakukan di RS. Tk III dr. usia ibu hamil pada kelompok cenderung
Reksodiwiryo, RS Bhayangkara lebih tua dari pada kelompok kehamilan
Padang,RSUD Rasidin Padang dan normal yaitu 31,35±7,081 tahun pada
Puskesmas Anak Air Padang, untuk kelompok preeklampsia berat dan
pemeriksaan kadar serum aktivin A 29,05±5,424 tahun pada kehamilan normal.
dilakukan di Laboratorium Biomedik Usia kehamilan ibu hamil normal dan
Universitas Andalas Padang preeklamsia berat disamakan dengan rerata
Pada subjek yang sesuai dengan kriteria usia kehamilan adalah 35,65 minggu pada
inklusi dan ekslusi, setelah dilakukan ibu hamil normal dan 35,75 minggu pada
penjelasan dan informed consent dilakukan preeklamsia. Rerata paritas ibu hamil
pengambilan darah vena ibu hamil dan normal lebih kecil dari pada ibu dengan
dijadikan serum untuk kemudian diperiksa preeklamsia berat. Rerata kadar leukosit
kadar serum Aktivin A di laboratorium pada preeklamsia berat lebih tinggi dari
biomedik FK UNAND. pada ibu hamil normal, yaitu
12201,50±3177,593 mm3 pada preeklamsia
HASIL PENELITIAN berat dan 9725,00±2490,165 mm3 pada ibu
Pengumpulan data penelitian dilakukanpada hamil normal. Rerata kadar hemoglobin
bulan Juli sampai September 2015di RS Tk pada preeklamsia berat lebih tinggi dari
III dr. Reksodiwiryo, RS Bhayangkara pada ibu hamil normal, yaitu 11,61±1,157
Padang, RSUD Rasidin Padang dan
Puskesmas Anak Air Padang. Penelitian

48
International Conference for Midwives (ICMid)

gr% pada preeklamsia berat dan preeklamsia berat dan 0,824±0,408 ng/ml
10,63±1,187 gr% pada ibu hamil normal. pada hamil normal.
Rerata Indeks Masa Tubuh sebelum Tabel 4. Perbedaan kadar serum Aktivin A
hamil pada preeklamsia berat lebih tinggi subjek penelitian
dari pada ibu hamil normal, yaitu
25,096±2,929 kg/m2pada preeklamsia berat Variabel Beda p
dan 21,06±2,683 kg/m2 pada ibu hamil Rerata 95% CI value
normal.
Kadar
Tabel.2 Distribusi frekuensi kharakteristik 0,893-
Aktivin 2,253 <0,00
subjek penelitian 3,613
A
Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat
bahwa adanya perbedaan yang bermakna
kadar serum aktivin A antara preeklamsia
dengan ibu hamil normal dengan nilai p
< 0,001 pada usia kehamilan yang sama.

DISKUSI
Berdasarkan hasil penelitian dapat
dilihat bahwa ibu dengan preeklamsi berat
memiliki rerata usia cenderung lebih tua
Riwayat preeklamsia pada subjek dari pada kelompok kehamilan normal yaitu
penelitian diketahui bahwa 3 orang (100%) 31,35±7,081 tahun pada kelompok
ibu yang memiliki riwayat preeklamsia preeklampsia berat, dan 29,05±5,424 tahun
mengalami preeklamsia berat pada pada kehamilan normal. Hasil penelitian ini
kehamilan sekarang, sedangkan pada subjek mendukung hasil penelitian Jasovic-Siveska
yang tidak ada riwayat preeklamsia & Stoilova(2011)yaitu bahwa preeklamsia
didapatkan 17 orang (45,9%) mengalami lebih banyak terjadi pada usia 31-35 tahun.
preeklamsia pada kehamilan yang sekarang. 13

Hasil juga menunjukkan bahwa2 orang Hasil penelitian dapat dilihat bahwa
(100%) ibu yang memiliki riwayat rerata paritas ibu preeklamsia lebih besar
hipertensi mengalami preeklamsia berat (2,70 ± 1,455) dari pada hamil normal
pada kehamilan sekarang dan 18 orang (2,50 ± 1,147). Nulipara memiliki risiko
(47,4%) dengan tidak memiliki riwayat hampir 3 kali lipat untuk terjadi preeklamsia
hipertensi, mengalami preeklamsia pada Nulipara dan ibu memiliki riwayat tekanan
kehamilan yang sekarang. darah tinggi memiliki risiko untuk terjadi
Tabel.3. Rerata kadar aktivin A subjek preeklamsia. Preeklamsia sering terjadi
penelitian pada wanita nulipara .Pada penelitian ini,
baik ibu preeklamsia maupun ibu hamil
Variabel normal memiliki rerata paritas di atas2,
Rerata Standar
n (ng/ml) Deviasi sehingga ini menunjukkan banyak faktor
Kadar risiko yang berhubungan dengan
Aktivin Preeklamsia preeklamsia selain dari paritas.
20 3,077 2,976
A berat
20 0,824 0,408 Pada penelitian ini didapatkan kadar
Hamil Normal hemoglobin pada ibu preeklamsia lebih
Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa tinggi dari pada ibu hamil normal yaitu
kadar serum aktivin A pada kelompok 11,61±1,157 pada ibu dengan preeklamsia
preeklamsia lebih tinggi dari hamil normal berat dan10,63±1,187 pada ibu hamil
yaitu 3,077±2,976ng/ml pada ibu normal. Hasil penelitian ini memperkuat
penelitian sebelumnya. Penelitian yang

49
International Conference for Midwives (ICMid)

dilakukan Sarrel(1990) mendapatkan hasil sebelumnya yaitu kadar aktivin A lebih


peningkatan kadar hemoglobin merupakan tinggi pada preeklamsia dibandingkan
penyebab vasokonstriksi pada preeklamsia, dengan hamil normal. Hasil penelitian
sehingga ibu dengan preeklamsia cenderung Diesch (2006), kadar serum aktivin A lebih
memiliki kadar hemoglobin yang tinggi.14 tinggi pada preeklamsia dibandingkan hamil
Hasil penelitian ini didapatkan rerata normal (12,056 vs 7,068 ng/mL, p<0,001)
kadar leukosit pada preeklamsia adalah pada rereata usia kehamilan 35,0 minggu.
12201,50±3177,593/mm3, lebih tinggi dari Perbedaan kadar aktivin A sudah terlihat
pada ibu hamil normal yaitu 9725,00± sejak awal onset preeklamsia muncul di
2490,165/mm3.Hasil penelitian ini trimester dua kehamilan (3,483 vs 1,324
memperkuat penelitian sebelumnya yaitu ng/mL, p < 0.001). Peningkatan kadar ini
penelitian Mihu(2010), bahwa kadar menunjukkan bahwa aktivin A dapat
leukosit pada preeklamsia menjadi biomarker independen untuk
12985,5±2128.9/mm3 lebih tinggi dari identifikasi awal dan pemantauan
hamil normal yaitu 10908.5±2259.25/mm3, preeklamsia17
dan terdapat perbedaan kadar leukosit Hasil penelitian ini berbeda dengan
antara preeklamsia dengan hamil normal penelitian Grobman & Wang (2000) di
(p<0,001).15 Chicago Amerika pada 12 orang
Hasil pada penelitian ini didapatkan preeklamsia dan 24 ibu hamil normal
bahwa indeks masa tubuh pada ibu dengan usia kehamilan disamakan dengan
preeklamsia lebih besar dari ibu hamil rerata usia ibu dengan preeklamsia adalah
normal yaitu25,096±2,929 kg/m2pada 23,9 tahun dan ibu hamil normal 22,6 tahun.
preeklamsia berat dan 21,06±2,683 kg/m2 Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak
pada ibu hamil normal. ada perbedaan kadar aktivin A antara
Hasil ini mendukung hasil penelitian preeklamsia dengan hamil normal yaitu
Bodnar (2005) yaitu peningkatan IMT kadar aktivin A pada ibu hamil normal yaitu
berhubungan dengan preeklamsia.Wanita 0,111 ng/ml (0,105-0,123) dan pada
dengan obesitas (BMI ≥30 kg/m2) berisiko preeklamsia berat 0,113 (0,109-0,125)
untuk preeklamsia hampir 3 kali lipat.17 ng/ml.
Hasil penelitian didapatkan bahwa ada Pemeriksaan aktivin A bebas dilakukan
3 orang (100%) ibu yang memiliki riwayat dengan satu langkah monoklonal antibodi
preeklamsia mengalami preeklamsia berat dengan ELISA dan diukur pada panjang
pada kehamilan sekarang dan ada2 orang gelombang 490 nm setelah penambahan
(100%) ibu yang memiliki riwayat orthophenylene diamina danhidrogen
hipertensi mengalami preeklamsia berat peroksida. Perbedaan hasil penelitian
pada kehamilan sekarang. Studi Hnat, Grobman dengan peneliti adalah rerata usia
(2002) melaporkan bahwa preeklamsia kehamilan ibu, rerata usia ibu dan metode
secara signifikan lebih tinggi terjadi pada yang digunakan dalam melakukan
wanita dengan riwayat preeklamsia pemeriksaan aktivin A.18
sebelumnya (17,9%) dibandingkan pada Sumber dihasilkannya aktivin A lebih
wanita nullipara (5,3%).16 banyak adalah plasenta. Disfungsi endotel
Pada penelitian ini rerata kadar serum adalah masalah utama pada preeklamsia.
aktivin A pada hamil normal adalah Sindrom maternal ini dapat disebabkan oleh
0,824±0,408 ng/ml dan rerata kadar aktivin oksidatif stres yang berhubungan dengan
A pada ibu dengan preeklamsia adalah penyakit arteri spiralis (Keelan & Mitchell,
3,077±2,976ng/ml. Uji statistik lebih lanjut 2007).19 Pada penelitian Bersinger (2002)
didapatkan perbedaan kadar serum aktivin mengatakan bahwa keberadaan aktivin A
A yang bermakna antara preeklamsia distimulasi karena adanya sitokin
dengan hamil normal dengan nilai p<0,001. proinflamasi yang meningkat pada
Hasil penelitian ini mendukung penelitian

50
International Conference for Midwives (ICMid)

preeklamsia. Sitokin pro inflamasi (TNF-α placental villous trophoblasts in


dan IL-1β) menghasilkan aktivin A7 culture. Eur J Endocrinol,145:505-
511.
SIMPULAN 8. Bearfield, C., Jauniaux, E., Groome,
1. Rerata kadar serum aktivin A ibu N., Sargent, I., & Muttukrishna, S.
preeklamsia adalah 3,163 ± 2,942 (2005). The secretion and effect of
ng/ml inhibin A, activin A and follistatin on
2. Rerata kadar serum aktivin A ibu first-trimester trophoblasts in vitro.
hamil normal adalah0,922 ± 0,407 Journal of Endocrinology, 909–916.
ng/ml 9. Rebecca, L. J., Stoikos, C., Findlay, J.
3. Terdapat perbedaan kadar aktivin A K., & Salamonsen, L. A. (2006). TGF-
antara preeklamsia dengan hamil bsuperfamily expression and actions in
normal. the endometrium and
placenta.Reproduction, 217-232.
10. Rebecca, L., Rutu, A., Pavitra, D.,
DAFTAR PUSTAKA Sebastian, H., Christopher, G. S.,
1. Duley, L. (2009). The global impact of Grant, R., et al.(2014). Activin and
pre-eclampsia and eclampsia. NADPH-oxidase in
SeminPerinatol, 33 : 130–7. preeclampsia:insights from in vitroand
2. Anom, I., & Kusuma, A. (2012). High murine studies. Am J Obstet Gynecol,
Level of TUmor Necrosis Factor 1e1-1e12
(TNF)-α is a risk Factor for 11. Seshini, G., Euan, M., Wallace, &
Preeclampsia. Indones J Obstet Rebecca, L. (2014). The relationship
Gynecol, 107-11. betweenActivin A and anti-angiogenic
3. Bagian Rekam Medik RSUP factors in the development of pre-
M.Djamil. (2013). Data Medical eclampsia.An International Journal of
Record. Padang: RS.Dr. M. Djamil. Women’s Cardiovascular Health, 3-6.
4. American College of Obstetricians and 12. Powe, C., Levine, R., & Karumanchi,
Gynecologists. (2002). Diagnosis and S. (2011). Preeclampsia, a disease of
Management of preeclampsia and the maternal endothelium ; The role of
eclampsia. Int J Gynaecol Obstet, antiangiogenic factor and implication
77(1) :67-75. for later cardiovascular disease.
5. Haggerty, C. L., Seifert, M. E., Tang, American Heart Association, Inc,
G., Olsen, J., Bass, D. C., 2856-2869. Preeclampsia Foundation.
Karumanchi, S. A., (2012). Second (2010). Preeclampsia: A Decade of
trimester anti-angiogenic proteins and Perspective, Buildinga Global Call to
preeclampsia. Pregnancy Hypertensi. Action. Melbourne, Florida:
NIH Public Access, 158–163.66 Preeclampsia Foundation.
6. Poston, L., Igosheva, N., Mistry, H., 13. Jasovic-Siveska, & Stoilova, J. (2011).
Seed, P., Shennan, A., & Rana, S. Previous pregnancy history, parity,
(2011). Roleof oxidative stress and maternal age and risk of pregnancy
anti oxidant supplementati on induced hypertension. BMJ, 188-91.
inpregnancy 14. Sarrel, P., Lindsay, D., Poole-Wilson,
disorders.Am.J.Clin.Nutr., 1980S– P., & Collins, P. (1990).
1985S. Hypothesis:inhibition of endothelium-
7. Mohan, A., Asselin, J., Sargent, I., derived relaxing factor by
Groome, N., & Muttukhrishna, S. haemoglobin in thepathogenesis of
(2001). Effectof cytokines and growth pre-eclampsia. Elsevier, 1030–1032.
factors on the secretion of inhibin A, 15. Mihu, D., Sabau, L., Costin, N.,
Activin A andfollistatin by term Ciortea, R., Oancea, M., & Malutan,

51
International Conference for Midwives (ICMid)

A. (2010). Evaluation of Leukocytes


and Neutrophils, Markers of
InflammatorySyndrome in
Preeclampsia. Appl Med Inform, 15-
22.
16. Hnat, M., Sibai, B. M., Caritis, S.,
Hauth, J., Lindheimer, M. D.,
MacPherson, C., et al. (2002).
Perinatal outcome in women with
recurrent preeclampsia compared with
women who develop preeclampsia as
nulliparas . AJOG, 422– 426.
17. Diesch, C., Holzgreve, W., Hahn, S.,
& Zhong, X. (2006). Comparison of
activin Aand cell-free fetal DNA
levels in maternal plasma from
patients at high risk for preeclampsia.
Prenat Diagn, 1267-1270.

18. Grobman, W., & Wang, E. (2000).


Serum Levels of Activin A and
Inhibin A and theSubsequent
Development of Preeclampsia. ACOG,
390-4.
19. Keelan, J. A., & Mitchell, M. (2007).
Placental cytokines and preeclampsia.
Frontiers in Bioscience , 2706-2727.

52
International Conference for Midwives (ICMid)

THE CORRELATION BETWEEN THE LENGTH OF WORK AND THE


MIDWIVE’S ATTITUDE TO LOTUS BIRTH IN DR. ANDI
ABDURRAHMAN NOOR HOSPITAL IN TANAH BUMBU

Aprilawati Wina Helena, Sari Anggrita, Ulfa Ika Mardiatul


Akademi Kebidanan Sari Mulia Banjarmasin

ABSTRACT

Lotus Birth is new method which is not all midwives respond this method in attending labor,
the midwife’s respond based on their attitudes which was influenced by some factors, one of
them is length of work (experiences) as a birth attendant. This study was used
analyticalobservasional design. The target of this study was all midwives has working in the
hospital, as much as 30 midwives which was chosen by total sampling. The data was analyzed
by length of work of each midwife. Most of them have been worked for more than 3 years, as
much as 19 midwives (63,3%). The midwives who have positive and negative attitude has the
same number. And respondens who has positive attitudes based on the least statement about
the benefit of lotus birth and plasental further care. Based on the data, the analysis results are,
p = 0,02 <ߙ= 0,05. There is correlation between length of work and midwives attitude to
lotus birth method in Dr. Andi Abdurrahman Noor hospital in Tanah Bumbu district.

Keywords: Length of work, Midwife’s Attitude, Lotus Birth

PENDAHULUAN Kabupaten Tanah Bumbu adalah


Jumlah bayi yang meninggal di Indonesia salah satu kabupaten di provinsi
berdasarkan estimasi SDKI 2012 mencapai Kalimantan Selatan. Tanah Bumbu sebagai
160.681 anak. (Depkes RI, 2014) Angka kabupaten yang memiliki luas 5.067 km2,
kematian bayi di Indonesia termasuk salah dengan jumlah penduduk kurang lebih
satu paling tinggi di Asia Tenggara. Hal itu 300.000 jiwa yang terdiri dari berbagai
terlihat dari perbandingan dengan jumlah macam suku bangsa dan budaya. Salah
angka kematian bayi di negara tetangga satunya adalah suku Bali dengan
seperti Vietnam yang mencapai 18 per kebudayaan yang masih kental sehingga
1000 kelahiran hidup dan Singapur dengan metode lotus birth di kabupaten ini masih
3 per 1000 kelahiran hidup sedangkan di dilakukan.
Indonesia mencapai 32 per 1000 kelahiran Sebagai salah satu upaya penurunan
hidup pada tahun 2012 (SDKI, 2012). faktor infeksi angka kematian bayi saat ini
Angka kematian bayi di provinsi mulai berkembang metode persalinan yang
Kalimantan Selatan selama tahun 2011 diharapkan dapat mengurangi trauma
tercatat sebanyak 718 per 100.000 persalinan pada ibu dan bayi. Metode
kelahiran hidup dan meningkat pada tahun persalinan gentle birth adalah metode
2012 yaitu 816 per 100.000 kelahiran persalinan yang tenang, lembut, santun dan
hidup (Profil Kesehatan Kalsel, 2012). Dan memamfaatkan semua unsur alami dalam
pada tahun 2013 yaitu 727 per 100.000 tubuh seorang manusia, yang sering
kelahiran hidup (Profil Kesehatan Kalsel, dikenal pada gentle birth antara lain water
2013) birth, hypnobirthing dan lotus birth.
Angka kematian di kabupaten Tanah Metode lotus birth mungkin terdengar
Bumbu mencapai 28 per 100.000 kelahiran kurang familiar jika dibandingkan dengan
hidup pada tahun 2013 dan diantaranya 6 water birth atau hypnobirthing. Metode ini
bayi meninggal dikarenakan tetanus. adalah sebagian dari budaya dahulu dan

53
International Conference for Midwives (ICMid)

saat ini mulai dikembangkan di Amerika.


(Aprilia, 2011). HASIL DAN PEMBAHASAN
Lotus birth dilakukan sebagai langkah 1. Analisis Univariat
preventif untuk melindungi bayi dari a. Karakteristik Menurut Lama Kerja
infeksi dengan pemotongan tali pusat yang Berdasarkan hasil penelitian
tidak steril, sehingga dapat menurunkan dihasilkan distribusi responden
angka kematian bayi di Indonesia, menurut lama kerja adalah sebagai
meskipun lotus birth ini adalah metode berikut: Diagram 1.1 Distribusi
yang baru tidak semua bidan merespon Frekuensi Responden Berdasarkan
metode baru dengan pertolongan persalinan Lama Kerja di RSUD Dr. Andi
ini, respon bidan biasanya di dasari oleh Abdurrahman Noor Tanah Bumbu
sikap bidan yang dipengaruhi oleh
beberapa faktor, salah satunya adalah lama LAMA KERJA
kerja (pengalaman) sebagai tenaga
kesehatan yang menolong kelahiran. ≤ 3 tahun > 3 Ttahun
Dengan demikian lama kerja (pengalaman)
63.3
dikatakan terampil jika mempunyai 36.7
pengalaman kerja klinik lebih dari 3 tahun
(Handoko, 2008). Faktor lama kerja/
pengalaman dengan sikap bidan inilah yang PERSENTASE
kelihatannya menjadi fenomena
penerimaan terhadap metode baru ini. Berdasarkan diagram 1.1 diatas, lama
Kabupaten Tanah Bumbu memiliki Rumah kerja ≤ 3 tahun sebanyak 11 orang (36,7%),
Sakit Umum Daerah yang bernama Dr. dan lama kerja > 3 tahun sebanyak 19
Andi Abdurrahman Noor dimana rumah orang (63,3%). Lama bekerja adalah lama
sakit tersebut merupakan tempat rujukan waktu untuk melakukan suatu kegiatan atau
pertama. Maka perlu dibuktikan lama waktu seseorang sudah kerja (Tim
kebenarannya, apakah ada hubungan lama Penyusun KBBI, 2010).
kerja dengan sikap bidan pada metode Lama bekerja adalah suatu kurun waktu
lotus birth di RSUD Dr. Andi atau lamanya tenaga kerja itu bekerja
Abdurrahman Noor. disuatu tempat. (Handoko, 2008). Masa
kerja adalah rentang waktu yang telah
METODE ditempuh oleh seorang bidan dalam
Metode penelitian ini menggunakan melaksanakan tugasnya, selama waktu
metode survey analitik dengan pendekatan itulah banyak pengalaman dan pelajaran
Cross Sectional (Notoatmodjo,2010). yang dijumpai sehingga sudah mengerti
Dalam rancangan penelitian ini, peneliti apa keinginan dan harapan ibu hamil
mencoba menghubungkan lama kerja kepada seorang bidan tersebut.
dengan sikap bidan pada metode lotus birth Pengalaman adalah guru yang paling
di RSUD Dr. Andi Abdurrahman Noor baik mengajarkan kita tentang apa yang
Tanah Bumbu Tahun 2015. Populasi dalam telah kita lakukan, baik itu pengalaman
penelitian ini adalah seluruh bidan yang baik maupun pengalaman buruk, sehingga
bekerja di RSUD DR. Andi Abdurrahman kita dapat memetik hasil dari pengalaman
Noor Tanah Bumbu Tahun 2015 dengan tersebut. Semakin lama bekerja semakin
jumlah 30. Sampel dalam penelitian ini banyak pengalaman dan semakin banyak
adalah total sampling yaitu teknik kasus yang akan ditangani membuat
pengambilan sampel dengan mengambil seorang bidan akan mahir dan terampil
seluruh anggota populasi sebagai menyelesaikan pekerjaan.
responden atau sampel (Sugiyono, 2010). Berdasarkan diagram 1.1 dapat di lihat
bahwa frekuensi lama kerja paling banyak

54
International Conference for Midwives (ICMid)

adalah lama kerja >3 tahun (63,3%) dan


untuk lama kerja ≤ 3 tahun (36,7%), Ini PERNYATAAN SIKAP
dikarenakan sebagian besar responden P1 P2 P3 P4 P5
berusia 26-35 (tahap stabilisasi), yang
mana pada tahap ini individu berada dalam P6 P7 P8 P9 P10
jenjang dimana pekerjaan merupakan P11 P12 P13 P14 P15
bagian dari kehidupan yang berjalan 18 18
dengan menyenangkan. semakin tua umur 13
10 12 12
8 8
pegawai, maka semakin tinggi komitmen 5 6
3 4 3 6
2
terhadap organisasi, dan akan menyenangi
pekerjaannya, sehingga semakin tua orang
akan enggan berganti-ganti pekerjaan
dibandingkan orang yang lebih muda yang Keterangan :
selalu ingin tahu, mencoba dan P1 :Salah satu mamfaat metode lotus
membutuhkan pengalaman sehingga sering birth akan mengurang resiko anemia
berganti-ganti pekerjaan. pada bayi
b. Karakteristik Menurut Sikap P2 :Jika menggunakan metode lotus birth
Berdasarkan hasil penelitian dihasilkan bayi akan lambat menangis dibanding
distribusi responden menurut sikap adalah dengan langsung memotong tali
sebagai berikut: Diagram 1.2 Distribusi pusat, ini merupakan mamfaat lotus
Frekuensi Berdasarkan Sikap Bidan Pada birth yang lain
Metode Lotus Birth di RSUD Dr. Andi P3 :Kemudian mamfaat yang lainnya
Abdurrahman Noor Tanah Bumbu. adalah tali pusat yang dibiarkan akan
tetap menyuplai darah dari plasenta
SIKAP kebayi
P4 :Setelah plasenta lahir oksigen akan
POSITIF NEGATIF tetap mengalir melalui tali pusat
sampai bayi benar-benar dapat
50 50 bernafas sendiri
P5 :Bounding attacment pada persalinan
dengan metode lotus birth akan lebih
PERSENTASE singkat dibandingkan dengan
persalinan yang langsung memotong
Berdasarkan diagram 1.2 dapat dilihat tali pusat setelah bayi lahir ini adalah
bahwa frekuensi sikap positif dan sikap mamfaat lotus yang lain
negatif yaitu 50%. Berdasarkan hasil P6 :Sebaiknya tunggu transfusi penuh
penelitian Distribusi Frekuensi Sikap darah secara alami dari pusat kebayi
Mengenai sikap bidan pada metode lotus sebelum menangani plasenta
birth disajikan sebagai berikut: Diagram P7 :Ketika plasenta telah lahir, sebaiknya
1.3 Distribusi Frekuensi Sikap Positif tempatkan plasenta pada tempat
Berdasarkan Item Pernyataan khusus didekat ibu ini merupakan
penanganan awal plasenta
P8 :Penanganan awal plasenta
seharusnya tidak perlu ditaruh pada
wadah yang kering
P9 :Dalam penanganan awal plasenta
sebaiknya tidak berhati-hati
mencucinya yaitu dengan air yang
bersih

55
International Conference for Midwives (ICMid)

P10:Untuk melakukan perawatan lanjut, Sikap menurut Notoadmodjo (2009)


plasenta seharusnya ditaruh pada merupakan reaksi atau respon yang masih
wadah yang menyerap seperti tertutup dari seseorang terhadap suatu
underpad stimulus atau objek. Menurut Wawan dan
P11:Dengan menaburkan garam pada Dewi (2010) sikap adalah evaluasi yang
bagian plasenta akan mempercepat dibuat manusia terhadap dirinya, orang
proses pengeringan palcenta, ini lain, objek atau isue. Sikap merupakan
adalah alternatif perawatan lanjut interaksi atau respon seseorang yang masih
plasenta tertutup terhadap suatu stimulus atau objek.
P12:Dengan menggunakan bunga-bunga/ Sedangkan menurut Azwar (2009) sikap
wewangian yang diberikan pada merupakan evaluasi umum yang dibuat
plasenta akan membuat plasenta tidak manusia terhadap dirinya sendiri, orang
berbau ini adalah cara lain perawatan lain, objek issue. Dalam interaksi sosialnya
lanjut plasenta individubereaksi membentuk pola sikap
P13:Tas yang digunakan dalam perawatan tertentu terhadap objek psikologis yang
lanjut plasenta akan menyulitkan ibu dihadapinya, diantaranya berbagai faktor
menggendong bayi dan plasenta saat yang mempengaruhi pembentukan sikap
bersamaan adalah pengalaman pribadi, kebudayaan,
P14 :Dalam perawatan lanjut plasenta orang lain yang dianggap penting, media
seharusnya tidak menggunakan air massa (televisi, surat kabar), institusi
yang bersih ketika membasuhnya pendidikan dan lembaga agama serta faktor
P15 :Dengan menggunakan metode emosi dalam diri individu.
persalinan lotus birth akan Pengukuran sikap dilakukan dengan
mengurangi AKB memberikan 15 pernyataan diharapkan
Berdasarkan diagram 1.3 dapat dilihat responden dapat merespon dari pernyataan
bahwa frekuensi responden yang memiliki dengan memilih lima alternatif jawaban
sikap positif berdasarkan item pernyataan yang disediakan, yaitu : sangat setuju,
yang paling sedikit yaitu mamfaat lotus setuju, netral, tidak setuju dan sangat tidak
birth, dan penanganan awal setuju.
plasenta.Diagram 1.4 Distribusi Frekuensi Pada pernyataan sikap ada 9 pernyataan
Sikap Netral Berdasarkan Item Pernyataan positif dan 6 pernyataan negatif, skor nilai
20 19 tertinggi yaitu 5 dan skor nilai terendah
yaitu 1. Dalam penelitian yang dilakukan di
12 13 11 11 RSUD Dr. Andi Abdurrahman Noor Tanah
10 10 10 11
10 8 8 Bumbu didapatkan hasil sikap bidan pada
7
5 4 5 metode lotus Birth memiliki kategori postif
dan kategori negatif yaitu sama sebanyak
50%.
0 P1 P2 P3 P4 P5 Jika dianalisa lebih lanjut berdasarkan
1
P6 P7 P8 P9 P10 item pernyataan tentang mamfaat lotus
birth, penanganan awal plasenta dan
P11 P12 P13 P14 P15
perawatan lanjut plasenta tampak bahwa
ada 2 soal yang menyatakan bahwa ada
Berdasarkan diagram 1.4 dapat frekuensi responden yang memiliki sikap
dilihat bahwa frekuensi responden yang positif berdasarkan item pernyataan yang
memiliki sikap netral berdasarkan item paling sedikit yaitu perawatan lanjut
pernyataan yang paling sedikit yaitu soal plasenta soal nomor 9 (3 orang) dan
nomor 7 tentang penanganan awal plasenta. mamfaat lotus birth soal nomor 15 (2
orang).

56
International Conference for Midwives (ICMid)

2. Analisis Bivariat 2. Antara sikap postif dan sikap negatif


Hubungan lama kerja dengan sikap yaitu masing-masing sebanyak 15
bidan pada metode lotus birth dapat dilihat orang (50%).
pada tabel silang sebagai berikut :Diagram 3. Ada hubungan lama kerja dengan
2.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan sikap bidan pada metode lotus birth
Hubungan Lama Kerja Dengan Sikap dengan nilai p = 0,02 < α 0,05
Bidan Pada Metode Lotus Birth di RSUD
Dr. Andi Abdurrahman Noor Tanah DAFTAR PUSTAKA
Bumbu 1. Depkes RI, 2014. Jadilah Kartini
Indonesia Yang Tidak Mati Muda
Sikap Bidan Pada (Pencanangan Kampanye Peduli
Kesehatan Ibu 2014) tersedia dari
Metode Lotus Birth www.depkes.go.id/article/print/201404
300001.html
Positif Negatif
2. Badan Pusat Statistik, 2012. Survei
43.3 Demografi dan Kesehatan Indonesia
30
20 (SDKI). 2012. Jakarta: Badan Pusat
6.7 Statistik.
3. Departemen Kesehatan RI. 2012.
≤ 3 Tahun> 3 Tahun Profil Kesehatan Kalsel. From
http/www.depkeskalsel.go.id.
Berdasarkan tabel 2.1 dapat dilihat 4. Departemen Kesehatan RI. 2013.
bahwa ada 6,7% lama kerja bidan ≤ 3 tahun Profil Kesehatan Kalsel. From
memiliki sikap negatif (menolak) pada http/www.depkeskalsel.go.id.
metode lotus birth dan lama kerja bidan > 3 5. Aprilia, Yesie. Brenda Liynn
tahun mempunyai sikap negatif (menolak) Ritchmond. 2011. Gentle Birth. Jakarta
43,3%. Sedangkan untuk sikap positif : PT. Gramedia.
(menerima) dengan lama kerja ≤ 3 tahun 6. T. Hani, Handoko, 2008. Manajemen
diperoleh 30% dan untuk lama kerja >3 Personalia dan Sumber Daya Manusia.
tahun sebanyak 20%. Yogyakarta. BPFE
Berdasarkan hasil uji chi-square 7. Notoatmodjo, Soekidjo, 2008.
didapatkan nilai p = 0,02 ߙ= 0,05 maka p Metodologi Penelitian Kesehatan.
<ߙ, sehingga Ho di tolak dan Ha diterima, Jakarta: Rineka Cipta.
artinya ada hubungan lama kerja dengan 8. Sugiyono. 2010. Metodologi Penelitian
sikap bidan pada metode lotus birth di Bisnis (Pendekatan Kuantitatif,
RSUD Dr. Andi Abdurrahman Noor Tanah Kualitatif, dan R&D). Bandung :
Bumbu. Alfabeta.
9. Tim penyusun KBBI. 2010. Jakarta.
SIMPULAN Gramedia Pustaka Utama.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah 10. Wawan, A. Dan Dewi M. 2010. Teori
dilakukan terhadap 30 bidan yang bekerja & Pengukuran Pengetahuan, Sikap,
di RSUD Dr. Andi Abdurrahman Noor dan Perilaku Manusia Dilenglapi
Tanah Bumbu, maka dapat diambil Contoh Kuesioner. Yogyakarta : Nuha
kesimpulan : Medika
1. Sebagian besar responden memiliki
lama kerja ≤ 3 tahun sebanyak 19
orang (63,3%).

57
International Conference for Midwives (ICMid)

RELATION KNOWLEDGE AND ATTITUDE TOWARDS THE USE OF


HEALTH BOOK MOTHER AND CHILD IN DISTRICT CLINICS
WANAKERTA KARAWANG IN 2015

Nita Farida
Program Studi DIV Bidan Pendidik STIKES Kharisma Karawang

ABTRACT

One of the policies or government efforts to reduce maternal mortality and infant mortality ,
among others Making Pregnancy safer and procurement of books KIA . MCH handbook is
expected to increase community participation in controlling maternal health. KIA book
coverage results obtained until December 2014 amounted to 63.49 % , amounting to 93.37 %
K1 coverage Basically coverage and coverage MCH book K1 should be the same , since the
book was first given the current KIA mother pregnancy check (Dinas Kesehatan Karawang ,
2014). Objective knew knowledge relationship and attitude of pregnant women on the
utilization of MCH handbook in Public Health Center of Wanakerta , Karawang regency in
2015 . Design Cross -sectional study . Population : pregnant women to health centers
Wanakerta checkups . Sample: the majority of pregnant women who already have the book
KIA , and came Wanakerta checkups at health centers in June 2015. Results : The majority
of women have taken advantage of KIA book ( 58.9 % ) , higher education ( 83.1 % ) ,
usianya20 -35 years ( 87.1 % ) , more multigravida parity ( 68 % ) , 97 % high knowledge
and a positive attitude ( 83.1 % ) . Statistical test results obtained Attitude p = 0.031 so that
there is a relationship between knowledge with the use of books MCH behavior and test
results obtained attitude statistical p-value = 0.018 so that there is a relationship between
attitude and behavior of the utilization of KIA book .

Keywords : Knowledge, attitude, utilization of MCH Book

PENDAHULUAN orang, akan tetapi penurunan ini belum


Angka kematian ibu di Jawa Barat masih menunjukkan angka yang signifikan 1.
cukup tinggi yakni pada tahun 2012 Berbagai upaya berupa peningkatan
terdapat 208 kasus, dan pada tahun 2013 pelayanan kesehatan masyarakat yang
terdapat 781 kasus, dengan angka ini Jawa efektif, efisien serta terjangkau oleh
Barat menduduki peringkat tertinggi masyarakat pun telah diperkenalkan,
dalam jumlah AKI 2. Salah satu kabupaten sehingga memunculkan intervensi-
di Jawa Barat yaitu Kabupaten karawang intervensi untuk mengatasi masalah
menjadi penyumbang AKI cukup tinggi, kesehatan khususnya ibu dan anak. Salah
pada tahun 2012 terdapat 55 kasus satu kebijakan atau upaya pemerintah
kematian ibu, 16 kasus diantaranya dalam menurunkan angka kematian ibu
(29,09%) kematian saat hamil. pada tahun dan angka kematian bayi antara lain
2013 terjadi peningkatan jumlah kematian Making Pregnancy safer dan pengadaan
ibu, yaitu sebanyak 64 kasus kematian ibu buku KIA. Buku KIA telah diperkenalkan
yang tersebar di 50 Puskesmas, dan Data sejak tahun 1994 dengan bantuan Badan
terkini dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kerjasama Internasional Jepang (JICA).
Karawang menerangkan bahwa terjadi Buku ini diarahkan untuk meningkatkan
penurunan angka kematian ibu untuk tahun pengetahuan dan pemahaman masyarakat
2014 ini yaitu dari 64 orang menjadi 59 tentang kesehatan ibu dan anak, alat
monitor kesehatan dan alat komunikasi

58
International Conference for Midwives (ICMid)

antara tenaga kesehatan dengan pasien. dibandingkan ibu yang tidak memiliki
Buku KIA ini diharapkan dapat buku KIA. Ibu yang memiliki buku KIA
meningkatkan partisipasi masyarakat walaupun pengetahuannya kurang atau
dalam mengontrol kesehatan ibu. Melalui karena tidak pernah membaca informasi
SK Menkes No 284/Menkes/SK/III/2004 dibuku KIA tetap akan terbiasa dengan
tentang buku KIA, Menkes RI informasi kesehatan karena tenaga
memutuskan buku KIA sebagai buku kesehatan akan selalu mempergunakan
pedoman resmi yang berisi informasi dan buku KIA sebagai panduan dalam
catatan kesehatan ibu dan anak, dan satu- pemberian informasi/ layanan KIA sebagai
satunya alat pencatatan pelayanan panduan dalam pemberian informasi/
kesehatan ibu dan anak sejak ibu hamil, layanan KIA 6.
melahirkan dan selama nifas hingga bayi Pada survei pendahuluan peneliti
yang dilahirkan berusia 5 tahun 3. dilokasi penelitian, buku KIA telah
Buku KIA berisi informasi dan materi didistribusikan pada seluruh Puskesmas
penyuluhan tentang gizi dan kesehatan ibu yang ada diwilayah Kabupaten Karawang
dan anak, kartu ibu hamil, KMS balita dan (50 Puskesmas), tetapi Hasil cakupan buku
catatan pelayanan kesehatan ibu dan anak. KIA di Puskesmas Wanakerta masih
Buku KIA disimpan dirumah dan dibawa dibawah cakupan kunjungan ibu hamil
selama pemeriksaan dari mulai kehamilan pertama kali (K1). Hasil capaian cakupan
dipelayanan kesehatan (Juknis penggunaan buku KIA sampai bulan Desember 2014
buku KIA, p,1). Petugas kesehatan akan didapatkan cakupan Buku KIA sebesar
mencatat hasil pemeriksaan ibu dengan 63,49%, cakupan K1 sebesar 93,37% Pada
lengkap dibuku KIA, agar ibu dan dasarnya cakupan buku KIA dan cakupan
keluarga lainnya mengetahui dengan pasti K1 seharusnya adalah sama, karena buku
kesehatan ibu dan anak. Program ini KIA diberikan pertama kali saat ibu
diupayakan sebagai upaya peningkatan periksa hamil 1. Tetapi walaupun demikian
pelayanan kesehatan ibu dan anak, karena banyak fenomena dimasyarakat bahwa
dengan pencatatan sedini mungkin status pemeriksaan kehamilan yang pertama ini
kesehatan ibu dan anak dapat (K1) hanya dilakukan untuk mengecek
menganatisipasi risiko tinggi pada apakah positive hamil atau tidak,
kehamilan ibu dan untuk mengetahui formalitas cek keadaan janin dan
perkembangan serta pertumbuhan balita 4. menganggap bahwa Buku KIA hanya buku
Hasil penelitian di Kota Sawahlunto Bidan yang harus dibawa sewaktu
Hasanbasri dan Ernoviana dapat pemeriksaan karena bidan akan mencatat
disimpulkan petugas kesehatan tidak hasil pemeriksaan dalam buku tersebut,
memanfaatkan buku KIA sebagai materi tetapi pada kenyataanya mereka tidak
penyuluhan sewaktu melakukan faham bahwa buku KIA adalah buku
pemeriksaan kesehatan ibu hamil, ibu bayi pegangan ibu. Hasil penelitian di
dan anak balita. Bagian yang tidak Puskesmas Kalibagor pada tahun 2009
dilakukan pengisian antara lain : didapatkan hasil yaitu cakupan buku KIA
pencatatan pelaksanaan pemeriksaan termasuk kategori status kurang baik.
neonatus, berat badan anak pada KMS, Pencapaian target masih kurang dari target
pemberian vitamin A anjuran pemberian cakupan buku KIA karena cakupan buku
rangsangan perkembangan dan nasehat KIA yang diperoleh yaitu sebesar 65%
pemberian makan serta bagian catatan masih dibawah pencapaian cakupan
penyakit dan masalah perkembangan 5. kunjungan pertama ibu hamil (K1) sebesar
Ibu yang memiliki buku KIA lebih 92,6% 7.
sering berkunjung ke pelayanan kesehatan

59
International Conference for Midwives (ICMid)

Berdasarkan latar belakang diatas, yang sudah mempunyai buku KIA, dan
peneliti tertarik untuk menggali lebih datang memeriksakan kehamilannya
lanjut tentang Determinan pemanfaatan adalah 124 orang.
buku Kesehatan Ibu dan Anak oleh ibu
hamil di wilayah kerja Puskesmas HASIL PENELITIAN
Wanakerta Kabupaten Karawang Tahun Hasil penelitian menunjukkan bahwa
2015. 58,9% ibu hamil telah memanfaatkan buku
KIA dan 41,1% tidak memanfaatkan Buku
METODE KIA.
Penelitian ini merupakan penelitian Tabel 1. Distribusi umur, tingkat
dengan disain studi Cross Sectional. pendidikan, paritas, dan social ekonomi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh Ibu hamil terhadap pemanfaatan buku KIA
ibu hamil yang datang memeriksakan diri di Puskesmas Wanakerta, Karawang tahun
ke Puskesmas Wanakerta. Sampel pada 2015
penelitian ini yaitu sebagian ibu hamil
VARIABEL Frekuensi Persentase
124 100%
Umur
< 20 tahun - >35 tahun 16 12,9
20 tahun – 35 tahun 108 87,1
Tingkat pendidikan
Rendah (SD, SMP) 21 16,9
Tinggi (SMA, PT) 103 83,1
Pengetahuan
Rendah 26 21,0
Tinggi 98 79,0
Sikap
Negatif 21 16,9
Positif 103 83,1
Paritas
Primigravida 56 45,2
Multigravida 68 54,8
Usia responden lebih banyak pada (83,1%) sedangkan responden dengan
kategori usia 20-35 tahun yaitu 108 orang pendidikan SD-SMP sebanyak 21 orang
(87,1%), sedangkan usia <20 dan >35 tahun (16,9%).
berjumlah 16 orang (12,9%), dari hasil ini Distribusi sikap responden lebih banyak
diperoleh usia minimal responden yaitu 16 dengan responden bersikap positif yaitu 103
tahun, dan usia maksimal 40 tahun, dengan orang (83,1%) dan bersikap negative
usia rata-rata yaitu 26 tahun. Distribusi sebanyak 21 orang (16,9). distribusi paritas
pendidikan responden didapatkan lebih lebih tinggi dengan paritas multigravida
banyak responden yang berpendidikan sebanyak 68 orang (54,8%) dan paritas
tinggi (SMA-PT) sebanyak 103 orang primipara sebesar 45,2% .

60
International Conference for Midwives (ICMid)

Tabel 2. Hubungan pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap pemanfaatan buku KIA di
Puskesma Wanakerta tahun 2015

Pemanfaatan Buku KIA OR


P Value
Variabel Tidak Ya (95 % CI)
N % N %
Rendah 16 61,5 10 38,5 0,031 2,880
Pengetahuan
Tinggi 35 35,7 63 64,3 (1,181-7,024)
Negatif 14 66,7 7 33,3 0,018 3,568
Sikap
Positif 37 35,9 66 64,1 (1,322-9,626)

Hasil uji statistik diperoleh nilai p= Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil
0,031 maka dapat disimpulkan ada penelitian sistriani, 2014 dengan sebagian
perbedaan yang signifikan proporsi antara besar responden 52% memiliki kualitas baik
ibu hamil berpengetahuan tinggi dan ibu dalam penggunaan buku KIA. Hal ini
hamil dengan pengetahuan rendah terhadap dilihat dari kepatuhan ibu membawa buku
perilaku pemanfaatan buku KIA, sehingga KIA serta kelengkapan isi buku KIA.
ada hubungan antara pengetahuan dengan Pengetahuan merupakan domain penting
perilaku pemanfaatan buku KIA dalam menentukan perilaku seseorang,
Hasil uji statistic sikap diperoleh nilai semakin baik pengetahuan seseorang maka
p= 0,018 maka dapat disimpulkan ada lebih berpeluang besar untuk berperilaku
perbedaan yang signifikan proporsi antara baik. Hasil penelitian didapatkan ibu hamil
ibu hamil yang bersikap positif dan ibu yang berpengetahuan tinggi sebesar 79%
hamil dengan sikap, sehingga ada hubungan dan pengetahuan rendah 21%, dengan
antara sikap dengan perilaku pemanfaatan proporsi ibu hamil yang telah
buku KIA. memanfaatkan buku KIA sebesar 86,3%
dan pengetahuan rendah sebesar 13,7%.
PEMBAHASAN Dari pertanyaan yang diajukan ke ibu hamil
Salah satu tujuan Program Kesehatan Ibu didapatkan 96,7% ibu hamil sudah
dan Anak (KIA) adalah meningkatkan mengetahui dengan baik bahwa buku KIA
kemandirian keluarga dalam memelihara adalah buku kesehatan ibu dan anak. Hasil
kesehatan ibu dan anak. Dalam keluarga, uji statistik diperoleh nilai p value 0,031
ibu dan anak merupakan kelompok yang sehingga ada hubungan antara pengetahuan
paling rentan terhadap berbagai masalah dengan perilaku pemanfaatan buku KIA.
kesehatan seperti kesakitan dan gangguan Hasil penelitian ini sejalan dengan Sistriani,
gizi yang seringkali berakhir dengan 2014 dimana ibu dengan pengetahuan tinggi
kecacatan atau kematian. Untuk lebih besar 56% dibandingkan dengan
mewujudkan kemandirian keluarga dalam pengetahuan yang rendah yaitu 44%. Hasil
memelihara kesehatan ibu dan anak maka penelitian ini didukung dengan penelitian
salah satu upaya program adalah yang dilakukan Fatimah, Maryamah, dan
meningkatkan pengetahuan dan Sukamti (2009) di tiga Puskesmas wilayah
keterampilan keluarga melalui penggunaan Jakarta Timur terhadap 148 ibu hamil
Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA). didapatkan ada hubungan antara
dari 124 responden sebagian besar pemanfaatan Buku KIA dengan
responden telah memanfaatkan Buku pengetahuan. Ibu hamil yang memanfaatkan
Kesehatan Ibu dan Anak. Yaitu 58,9%. buku KIA dengan pengetahuan baik sebesar

61
International Conference for Midwives (ICMid)

49 (84,5%) dan ibu hamil yang SIMPULAN


memanfaatkan Buku KIA berpengetahuan 1. Ada hubungan antara sikap ibu hamil
rendah 58 (64,4%) dengan OR yang terhadap pemanfaatan buku Kesehatan
menunjukkan ibu hamil dengan Ibu dan anak dengan hasil uji statistic
pengetahuan baik mempunyai peluang diperoleh nilai p value 0,018.
3,004 kali untuk memanfaatkan buku KIA 2. Ada hubungan antara pengetahuan ibu
dibandingkan ibu hamil dengan hamil terhadap pemanfaatan buku
pengetahuan rendah. Kesehatan ibu dab anak dengan hasil uji
Sikap adalah reaksi atau respon statistik diperoleh nilai p value 0,031.
seseorang yang masih tertutup terhadap
suatu stimulus atau obyek 8. Dengan kata
lain dapat dikatakan bahwa sikap adalah DAFTAR PUSTAKA
tanggapan atau persepsi seseorang terhadap 1. Dinas Kesehatan Kabupaten
apa yang diketahuinya. Jadi sikap dapat Karawang. Profil Kesehatan
langsung dilihat secara nyata, tetapi hanya Kabupaten Karawang Tahun 2014
dapat ditafsirkan sebagai perilaku yang 2. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.
tertutup. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Tahun 2013
83,1 ibu hamil bersikap positive dan 16,9% 3. Departemen Kesehatan Republik
memiliki sikap negative. Hal ini terlihat dari Indonesia. Pedoman Umum
85,2% ibu hamil menyatakan bahwa buku manajemen Penerapan BukuKIA.
KIA perlu didiskusikan dengan petugas Jakarta : Departemen Kesehatan
kesehatan dan keluarga. Hasil uji statistik Republik Indonesia : 2010
diperoleh nilai p value 0,018 maka dapat 4. Hasanbasri dan Ernoviana 2006.
disimpulkan ada perbedaan yang signifikan Pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan
proporsi antara ibu hamil yang bersikap Anak di Dinas Kesehatan Kota
positif dan ibu hamil dengan sikap negative Sawahlunto. (Edisi 2006, Diakses
terhadap perilaku pemanfaatan buku KIA, tanggal 3 April 2014).
sehingga ada hubungan antara sikap dengan 5. Ernoviana M.H, 2005. Pemanfaatan
perilaku pemanfaatan buku KIA. Buku Kesehatan Ibu dan Anak di Dinas
Hasil ini sejalan dengan penelitian yang Kesehatan Kota Sawahlunto (Edisi
dilakukan Fatimah dkk (2009) menyatakan 2005)
bahwa Penelitian tentang pemanfaatan 6. Hagiwara, A; Ueyema, M; Ramlawi,
Buku KIA di Puskesmas Wilayah Jakarta A; Sawada’ Y 2012. Is Maternal and
Timur tahun 2009 menunjukkan hubungan Child Health (MCH) Handbook
antara pemanfaatan buku KIA dengan sikap Effective In Improving Health Related
ibu hamil, sebanyak 69 ibu hamil (66,3%) Behaviour ? Evidence From Palestine.
telah memanfaatkan buku KIA dan ibu Pubmed, 34 (1): 34-35
hamil yang bersikap kurang baik 7. Colti Sistriani, Elviera Gamelia, Dyah
memanfaatkan Buku KIA sebanyak 38 Umiyarni Purnama Sari, 2012 Fungsi
(86,4%), dan berdasarkan OR menunjukkan Pemanfaatan Buku KIA terhadap
bahwa ibu hamil yang bersikap baik Pengetahuan Kesehatan Ibu dan Anak
mempunyai peluang 0,311 kali untuk Pada Ibu. Artikel penelitian Unsoed
memanfaatkan buku KIA dibandingkan ibu hal 353-356
hamil yang bersikap kurang baik. 8. Notoatmodjo Soekidjo (2007),
Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku,
Jakarta Rineka Cipta : Hal 178

62
International Conference for Midwives (ICMid)

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP IBU HAMIL


DALAM MEMILIH PERTOLONGAN PERSALINAN TEHNIK
HYPNOBIRTHING DI BIDAN PRAKTEK SWASTA
DI WILAYAH BOJONAGARA BANDUNG

Dini Saraswati Handayani, Onih Sri Hartati, Nadia Devianti


Program Diploma Kebidanan FK.UNPAD

ABSTRACT

Anxiety in the delivery is resulting blood flow to the uterus, which can harm the fetus, and
become one of the reason why partus prolonged and resulting the increase of maternal and
infant mortality. One of the effort to eliminate anxiety during delivery is by hypnobirthing
techniques.The objective of this research is to find the relationship between the knowledge
and the attitudes of pregnant women to choose childbirth assistance with hypnobirthing
techniques at private practice midwife in the bojonagara bandung.The method was by
analytlic with cross sectional approach. The data using was primary data. The sample was
from all the pregnant women who presented in the private practice midwife during period of
22 April 2014 to May 11, 2014 to taling 105 respondents.The results of the research showed
that the knowledge of mothers on the hypnobirthing is 46.6%, was classified as deficient.
The decision to choose child birth assistance of Hypnobirthing was negative 46.7%.
Statistically knowledge of mother about Hypnobirthing and the decision to choose child birth
assistance on the Hypnobirthing technic. The test result was by using Chi-square test with
Significancy figures of p = 0.0.It was found that there was relationship between the
knowledge of the pregnant women and the decision to choose childbirth assistance on
hypnobirthing technics at private practice midwife in the bojonagara bandung.

Keywords : knowledge, attitude, hypnobirthing

PENDAHULUAN

Proses persalinan merupakan proses alamiah berdampak pada faktor psikologis ibu yang
dan fisiologis yang menyertai kehidupan menyebabkan semakin tingginya tingkat
bagi setiap wanita. Walaupun memiliki sifat kecemasan ibu. 1
yang fisiologis, tidak sedikit ibu dan Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan
keluarga sering merasakan ketakutan yang di Indonesia berdasarkan data rikesdas 2013
disebabkan oleh rasa nyeri bahkan sampai sudah mencapai target 89 %. Sedangkan di
mengancam jiwa ibu tersebut. Rasa nyeri Jawa Barat target pertolongan persalinan
persalinan itu sendiri disebabkan oleh dengan tenaga kesehatan masih di bawah
perubahan fisiologis dan biokimia dalam rata rata nasional sebesar 87,53 %. Banyak
tubuh ibu sehingga terjadilah kontraksi pada faktor yang menyebabkan masih rendahnya
rahim ibu.Selain itu penelitian lainnya pertolongan persalinan oleh tenaga
menyatakan bahwa selain faktor fisiologis kesehatan sehingga berdampak pada
dalam proses persalinan, yang dapat tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di
meningkatkan kecemasan ibu karena mereka Indonesia. 2
memandang atau menilai bahwa proses Adapun faktor faktor yang menyumbang
persalinan itu sangat menakutkan. Sehingga tingginya AKI disebabkan oleh, hipertensi

63
International Conference for Midwives (ICMid)

dalam kehamilan, perdarahan, komplikasi hypnobirthing masih sangat kurang.


puerperium, kelainan amnion, partus lama Menurut Romadhomah dari hasil
dan lain lain. Selain itu teori Lawrence penelitiannya diperoleh pengetahuan tentang
Green mungkin dapat digunakan sebagai manfaat hypnobirthing pada proses
latar belkang pencetus terjadinya faktor persalinan berada di kategori cukup 37,1%
diatas. Menurut Lawrence green ada tiga lebih besar daripada kategori baik dan
faktor yang mempengaruhi seseorang dalam kurang. ibu tidak mengerti manfaat
menentukan pengambilan keputusan persalinan dengan hypnobirthing.
terutama dalam memilih pelayanan Sedangkan manfaat hypnobirthing dalam
kesehatan, diantaranya ; Pertama, faktor proses persalinan sangat membantu untuk
predisposisi yang disebabkan oleh mengurangi tingkat kecemasan ibu.
pengetahuan dan sikap ibu dalam memilih Ambang nyeri masing masing individu
persalinan. Kedua, faktor penentu yang sangat beragam, dengan tehnik hypno
disebabkan oleh sarana prasarana pelayanan birthing seseorang dapat merasakan nyaman
kesehatan, Ketiga, Faktor penguat, yang ketika ada kontraksi, dengan menanamkan
disebabkan oleh lingkungan (keluarga, sugesti yang positif. Adapun manfaat
tokoh masyarakat dll). 2,3 hypnobirthing dalam persalinan adalah
Faktor predisposisi memiliki peran dalam meningkatkan kadar endokrin dalam tubuh
perubahan perilaku seseorang dalam sehingga ibu dapat merasakan nyaman saat
memilih penolong persalinan. Persepsi ternjadinya nyeri saat persalinan
seseorang dalam proses persalinan berbeda- berlangsung, 1,6
beda. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Tehnik Hypnobirthing ini juga dapat
oleh Astria Y menyatakan bahwa 52,5% ibu mengurangi resiko komplikasi dalam
hamil trimester 3 mengalami kecemasan persalinan, mempercepat pemulihan pasca
dalam mempersiapkan persalinan. Adapun salin, menghilangkan keletihan berlebihan,
faktor penyebab kecemasan memiliki membuat proses persalinan alami menjadi
berhubungan yang signifikan dengan sesuatu yang indah dan tidak traumatis. 7
pendidikan dan paritas ibu. Agnita Berdasarkan hasil survey pendahuluan pada
menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang 14 ibu hamil trimester 3 dengan riwayat
significant antara ibu primigravida dengan paritas 1 7 responden menyatakan tingkat
multigravida terhadap tingkat kecemasan kecemasan sedang dalam menghadapi
dalam menghadapi kehamilan. Adapun persalinan sebanyak 5 responden dan 2
penyebab dari tingkat kecemasan tersebut responden dinyatakan tingan kecemasan
disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya ringan. Dari ketujuh responden tingkat
pengetahuan rendah, umur ibu, paritas ibu pengetahuan akan persalinan dengan
dan traumatis.Selain itu ada penelitian lain hypnobirthing 4 pengetahuannya kurang, 1
yang menyampaikan bahwa faktor usia, orang pengetahuannya sedang dan 2 orang
pendidikan dan paritas memiliki peran pengetahuannya baik. Sedangkan pada
penting dalam pengambilan keputusan.3,4,5 paritas 2 dan 3 sebanyak 7 responden,
Saat ini pelayanan kesehatan, khususnya berada di tingkat kecemasan sedang
pertolongan oleh tenaga kesehatan dengan sebanyak 7 orang. Pada 7 responden paritas
hypnobirthing sudah cukup banyak. Dengan 2 dan 3 tingkat pengetahuan akan hypno
tehnik hypnobirthing bidan berperan sebagai birhting cukup. Selain itu survey
pendamping persalinan. Hal ini merupakan pendahuluan juga dilakukan pada 10 ibu
upaya dalam membantu ibu dalam proses hamil yang sudah melakukan kunjungan 1
persalinan yang nyaman. Beberapa sebanyak 5 orang terpapar informasi tentang
penelitian menyampaikan bahwa persalinan nyaman dengan hypnobirthing
pengetahuan ibu hamil mengenai oleh bidan dan 5 orang terpapar informasi

64
International Conference for Midwives (ICMid)

tentang persalinan nyaman dengan melakukan kunjungan pada BPM ini yang
hypnobirthing dari keluarga/teman/media. terdiri dari Usia ibu hamil, pendidikan ibu
Dari 10 ibu hamil ada tersebut 8 orang hamil dan paritas ibu, sebagai berikut;
memiliki sikap positif ingin melahirkan
disarana pelayanan yang menyiapkan Diagram 1 Distribusi karakteristik usia
persalinan nyaman dengan hypnobirthing ibu hamil
dan 4 responden masih ragu memilih tempat
persalinan yang menyediakan persalinan
nyaman dengan hypnobirthing. Usia
9.52% 9.52%
Atas dasar latar belakang tersebut maka
penulis merasa perlu melakukan penelitian <19 tahun
ini sebagai dasar dari bagian perencanaan
20-35 tahun
asuhan kebidanan pada ibu hamil dan
bersalin selanjutnya yang berupa edukasi >35 tahun
mengenai kelas ibu hamil nyaman bersalin 80.96%
dengan tehnik hypnobirthing.

METODE
Data untuk penelitian ini diperoleh dari hasil
wawancara yang dilakukan oleh tim pada Dalam distribusi karakteristik usia
BPM yang telah melakukan pelayanan yang tertuang dalam diagram 1, jelas usia
persalinan nyaman dengan hypnobirthing di reproduktifibu berada di rentang usia 21-35
wilayah bojonagara kota Bandung. Pada saat tahun, dapatdilihat sekitar 85 (80,96%)
proses wawancara kuesioner yang responden berusia 20-35 tahun. Sedangkan
digunakan sudah dinyatakan valid dan rentang usia kurang dari 20 tahun sebanyak
reliabel. Populasi peneltian ini adalah 10 (9,52%) dan usia lebih dari 35 tahun
seluruh ibu hamil yang melakukan sebanyak 10 (9,52%). Ini menandakan
pemeriksaan kehamilan pada BPM tersebut bahwa ibu sudah cukup matang dalam
selama periode 22 April -11 Mei 2014. melalui proses persalinan nanti, baik secara
Penelitian ini menggunakan metode fisiologis maupun psikologis. Beberapa
analitik, dengan menggunakan pendekatan penelitian menyatakan bahwa usia memiliki
cross sectional study. Adapun kriteria peran penting dalam proses kedewasaan
eksklusi pada penelitian ini adalah ibu hamil seseorang. Seperti yang disampaikan oleh
yang tidak bersedia menjadi responden dan Rina dalam penelitiannya disampaikan
ibu hamil yang tidak akan bersalin BPM ini. bahwa usia seseorang dapat mempengaruhi
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tingkat kecemasan seseorang, dan secara
pengetahuan dan sikap ibu hamil dalam tidak langsung yang disebabkan oleh
memilih pertolongan dengan persalinan pengetahuan seseorang. Usia
nyaman dengan tehnik hypno birthing. mempengaruhi terhadap daya tangkap dan
Variabel dependen pada penelitian ini pola pikir seseorang. 7
adalah pertolongan persalinan nyaman Semakin bertambah usia akan semakin
dengan tehnik hypno birthing. berkembang pula daya tangkap dan pola
pikirnya, sehingga pengetahuannya yang
HASIL DAN PEMBAHASAN diperolehnya semakin membaik. Terkait
SIMPULAN dengan Hypnobirthing, harapannya dengan
usia yang cukup, mereka telah sedikitnya
Berdasarkan penelitian tersebut maka terpapar dengan hypnobirthing, yang saat ini
diperoleh data karakteristik responden yang sudah sangat sering diberitakan di media

65
International Conference for Midwives (ICMid)

sosial. Dengan harapan mereka mengetahui persalinan dengan tehnik hypnobirthing


bagaimana persalinan dengan hypnobirthing. sudah terpapar.
Diagram 2 Distribusi karakteristik Diagram 3 Distribusi karakteristik
pendidikan ibu hamil paritas ibu

20% 0%
Pendidikan
18.10% 7.62% 17.10%
SD
80%
SMP
SMA/SMK
57.10%
PT 1-2 3-5

Pada diagram 2 dijelaskan bahwa Pada diagram 3 disampaikan bahwa


pendidikan responden berada terbanyak di frekuensi ibu dengan paritas 1-2 sebanyak
latar belakang pendidikan SMA/SMK 84 (80%) responden dan 3-5 sebanyak 21
sebesar 60 (57,1%), Perguruan Tinggi (20%) responden.
sebesar 19 (18,1%), SMP sebesar 18 Hal ini dapat mempengaruhi seseorang
(17,1%) dan pendidikan SD 8 (7,62%) yang dalam mengambil keputusan. Berdasarkan
artinya mereka telah cukup terpapar dengan pengalaman seseorang juga dapat secara
ilmu tentang kesehatan reproduksinya. langsung mempengaruhi pengetahuan
Dengan harapan mereka mampu mencari seorang ibu hamil. Oleh karena itu
informasi yang tepat dalam proses pengalaman memiliki peran penting bagi
pengambilan keputusan minimal dalam seorang ibu dalam mencari informasi,
menghadapi kebutuhan pelayanan kesehatan mencari pelayanan kesehatan dan dalam
saat ibu akan melahirkan. Faktor pendidikan proses pengambilan keputusan.
seseorang sangat berperan penting dalam Pengalaman merupakan bagian dari
proses pengambilan keputusan, karena orang proses pengetahuan yang memiliki sifat
tersebut akan lebih mudah dalam mencari pengetahuan praktek secara langsung.
informasi yang orang tersebut butuhkan. Namun perlu diingat bahwa pengetahuan
Hal ini biasanya akan dimiliki oleh orang yang berasal dari pengalaman memiliki sifat
yang memiliki latar belakang pendidikan terbatas. Berbeda dengan pengetahuan yang
tinggi. Namun sebaliknya jika orang tersebut berasal tidak secara langsung, sifatnya luas
memiliki pendidikan yang kurang, biasanya tidak hanyak sebatas pengalaman seseorang
orang tersebut akan cenderung sulit melainkan banyak orang. Pada kasus ibu
menerima informasi dan bahkan sulit sekali hamil berdasarkan paritas, pengetahuannya
mencari informasi yang mereka butuhkan, hanya sebatas pengalaman ibu sendiri saat
biasanya ini akan kita jumpai pada orang hamil dan melahirkan. Pengetahuan ini
orang yang memiliki latar belakang bersifat sensasional yang bersifat parsial.11
pendidikan dasar. Berbeda dengan pengetahuan rasional
Apabila kita melihat diagram 2 diatas ialah pengetahuan hasil penangkapan indera
jelas sangat tinggi dengan harapan bahwa terhadap kondisi objektif, hasil penelitian,
pendidikan responden yang cukup baik, hasil perenungan dan hasil penyimpulan dari
maka pengetahuan responden mengenai pengetahuan sensasional. Pengetahuan
rasional biasanya diperoleh ibu melalui

66
International Conference for Midwives (ICMid)

banyak cara, seperti mengikuti seminar, persalinan menjadi persepsi yang positif.
membaca buku, jurnal, majalah atau media Pemberian sugesti positif dapat membantu
sosial. 11 ibu melalui proses persalinan yang nyaman.
9.10
Paritas ibu sangat berperan penting
terhadap persepsi seseorang terhadap rasa Berdasarkan diagram 1,2 dan 3 diatas
nyeri saat persalinan. Terutama pada ibu ibu jelas bahwa usia , pendidikan dan paritas
yang pernah melalui proses persalinan. Jika memiliki peran yang penting dalam
ibu memiliki pengalaman negatif terhadap mempengaruhi pengetahuan seseorang.
proses persalinan, maka ini akan berdampak Masing masing saling terkait satu dengan
terhadap proses persalinan selanjutnya. yang lainnya. Sehingga dapat disimpulkan
Hypnobirthing dapat membantu ibu untuk seperti bagan dibawah ini;
merubah persepsi negatif terhadap proses
Bagan 1. Proses pengetahuan ibu hamil

Usia

Pengetahuan Ibu Hamil

Pengetahuan Pengetahuan
rasional sensasional

Pendidikan Paritas

Tabel 1. Distribusi karakteristik berdasarkan pengetahuan tentang teknik


hypnobirthing

Pengetahuan

Karakteristik Total
Baik Cukup Kurang

f n f N F n F n
Usia
<20 tahun 4 40 0 0 6 60 10 100
20-35 tahun 44 52 3 3,5 38 45 85 100
>35 tahun 5 50 0 0 5 50 10 100
Pendidikan
SD 2 25 1 12,5 5 62,5 8 100
SMP 8 44 1 5,5 9 50 18 100
SMA/SMK 30 50 1 2 29 48 60 100
PT 13 68,5 0 6 31,5 19 100
Gravida
1-2 44 52,4 2 2,4 38 45,2 84 100

67
International Conference for Midwives (ICMid)

3-5 9 43 1 4,7 11 52,3 21 100


Jumlah 53 50,4 3 3 49 46,6 105 100%
Bagan 2 Faktor karakteristik ibu hamil
Berdasarkan tabel 1 yang menyatakan mengenai pengetahuan ibu tentang hypno
bahwa usia ibu sangat berperan penting birthing
terhadap pengetahuan seseorang. Hal ini
dapat kita lihat bagi ibu dengan rentang usia
20-35 tahun berada di pengetahuan yang
baik sebanyak 44(52%), pengetahuan cukup Karakteristik ibu Hamil :
(Usia,Pendidikan dan Paritas)
3 (3,5%) dan kurang 38 (45%), jelas bahwa
semakin matang usia maka akan semakin
matang pula seseorang dalam mengambil
keputusan. Terutama saat ini pengetahuan
ibu mengenai hypnobirthing baik, sehingga Pengetahuan
harapannya adalah ia akan memutuskan
untuk memilih tempat bersalin yang
membuat ia nyaman terutama oleh tenaga
kesehatan yang memang sudah terlatih. Baik Cukup Kurang
Seperti kita ketahui persalinan dengan
hypnobirthing dapat membantu ibu untuk
lebih nyaman dalam melalui proses Sehingga secara menyeluruh
persalinan. Karena tingkat kecemasan ibu berdasarkan tabel 1 tampak bahwa tingkat
bersalin dan keluarga jelas akan pengetahuan ibu hamil mengenai teknik
mempengaruhi tingkat kepercayaan diri ibu Hypnobirthing di BPM ini memiliki
saat akan melalui proses persalinan. Tingkat pengetahuan kurangsebesar 46,7%. Hal ini
kecemasan ibu bersalin akan berdampak menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan
negatif bagi ibu dan bayi. Seperti penelitian ibu hamil yang memeriksakan diri BPM
yang telah dilakukan olehusia memiliki tersebut mengenai teknik Hypnobirthing
hubungan yang sangat significant terhadap belum semuanya baik, disebabkan selain
tingkat kecemasahan.4 karena tidak semua ibu hamil yang
Selain usia, peran pendidikan seorang memeriksakan kehamilannya mau mengikuti
ibu hamil tidak kalah penting terutama pada kelas Hypnobirthing sebagai sarana guna
saat kita memberikan informasi atau menambah pengetahuannya. Juga usia masih
pendidikan kesehatan bagi ibu yang akan relatif muda, pendidikannya hanya tamat
bersalin dengan bantuan tehnik hypno SMA, baru memiliki anak ke satu dan ke
birthing agar persalinan yang akan dua sehingga semua ini dapat
dilaluinya nyaman. Pendidikan seorang ibu mempengaruhi pengetahuan ibu tersebut.
juga memiliki hubungan yang significan Adapun pengetahuan adalah hasil dari tahu
terhadap tingkat kecemasan, sehingga dan terjadi setelah orang melakukan
diharapkan semakin tinggi pendidikan ibu penginderaan terhadap objek tertentu.
maka tingkat kecemasan akan semakin Dari pengertian tersebut dapat penulis
berkurang, karena ibu tresebut akan simpulkan bahwa pengetahuan merupakan
berusaha untuk mencari informasi mengenai segala sesuatu yang diketahui seseorang
tehnik hypnobirthing. 4 melalui sejumlah penginderaan baik indera
penglihatan, pendengaran, rasa dan raba
yang menghasilkan suatu informasi tertentu.
Sedangkan pengetahuan ibu hamil mengenai
teknik Hypnobirthing yang diajarkan pada

68
International Conference for Midwives (ICMid)

saat ibu mengikuti kelas Hypnobirthing batin antara istri, suami serta bayi
diantaranya tentang manfaat dan fungsi dari yang dikandung.
tehnik Hypnobirthing yang salah satunya d) Aura positif dan tenang yang
dapat mengurangi/ menghilangkan rasa dimiliki oleh suami/pendamping
nyeri pada saat persalinan tanpa persalinan akan mempengaruhi
menggunakan obat-obatan serta bermanfaat aura ibu bersalin dan orang-orang
baik bagi ibu, janin, maupun suami sebagai sekitarnya.
pendamping persalinan. Tehnik Pengetahuan tentang teknik Hypnobirthing
Hypnobithing merupakan salah satu teknik yang benar sebaiknya diberikan oleh tenaga
otohipnosis (self hypnosis), dalam kesehatan terlatih (telah mengikuti pelatihan
menghadapi dan menjalani kehamilan serta mengenai teknik Hypno birthing). Informasi
persiapan melahirkan sehingga para wanita yang dimiliki oleh tenaga kesehatan tesebut
hamil mampu melalui masa kehamilan dan harus diberikan pada ibu hamil secara
persalinannya dengan cara yang alami, bertahap sejak dalam masa kehamilan
lancar dan nyaman.8 Dan yang lebih penting trimester I atau trimester II. Kelas Hypno
lagi adalah untuk kesehatan jiwa dari bayi birting minimal dilakukan sebanyak 3x
yang dikandungnya, sedangkan menurut pertemuan selama masa kehamilan. Dalam
Andriana, ada beberapa manfaat yang Kelas tersebut ibu hamil belajar
diperoleh lewat metode tersebut yaitu : meningkatkan pengetahuan mengenai teknik
1) Meminimalkan bahkan menghilangkan Hypnobirthing serta persiapan-persiapan
rasa takut, ketegangan, bahkan sindrom lain dalam menghadapi persalinan.
rasa sakit dan kepanikan selama proses Namun, berdasarkan hasil penelitian ini
persalinan dan periode setelahnya masih banyak ibu hamil yang memeriksakan
sehingga tidak menjadi trauma. diri di BPM ini belum mengikuti kelas
2) Meminimalkan, dan bahkan Hypnobirthing. Sehingga informasi tentang
menghilangkan keinginan untuk teknik Hypnobirthing belum mereka
menggunakan obat bius dan obat dapatkan oleh karena itu ibuhamil yang
penghilang rasa sakit saat bersalin. memeriksakan diri di BPM tersebut masih
3) Manfaat untuk bayi yaitu getaran ada yang berpengetahuan kurang.
tenang dan damai akan dirasakan oleh Tabel 2. Distribusi sikap ibu dalam
janin yang merupakan dasar dari memilih bersalin dengan metode
perkembangan jiwa dan pertumbuhan hypnobirthing.
janin lebih sehat karena keadaan
tenang akan memberikan hormon- Sikap Frekuensi Presentase
hormon yang seimbang ke janin lewat
plasenta, meningkatkan produksi Air Positif 56 53,3%
Susu Ibu, menjaga suplai oksigen
kepada bayi selama proses persalinan Negatif 49 46,7%
sehingga menghasilkan generasi muda
yang sehat, cerdas, dan kreatif . Jumlah 105 100%
4) Sedangkan manfaat untuk suami atau
Dari tabel 2 terlihat bahwa sikap ibu hamil
pendamping persalinan yaitu :
dalam memilih pertolongan persalinan
a) Dengan belajar Hypnobirthing,
dengan teknik Hypnobirthing di BPM ini
suami/pendamping persalinan lebih
ada yang masih bersikap negatif (46,7 %).
tenang dalam mendampingi proses
Dengan sikapnya itu ibu hamil tersebut tidak
persalinan.
akan merasakan manfaat dari Hypnobirthing
b) Emosi suami akan lebih stabil
diantaranya sikap tidak takut, tidak cemas
dalam kehidupan sehari-hari.
bahkan tidak khawatir menghadapi rasa
c) Membantu memperbaiki dan
nyeri persalinan. Dengan menunjukkan
memperkuat hubungan dan ikatan

69
International Conference for Midwives (ICMid)

sikap negatif, ibu hamil tidak akan memiliki dikembangkan pertama kali oleh Constance
keyakinan bahwa teknik Hypnobirthing ini Palinsky yang digunakan untuk mengelola
dapat mengurangi bahkan menghilangkan rasa sakit dengan cara meningkatkan
rasa nyeri saat persalinan. Sesuai dengan hormon Endorphin yang ada didalam tubuh
penelitian dilakukan oleh Lamaze tentang kita. Teknik ini bisa dipakai untuk
analgesik psikologis dimana ibu yang akan mengurangi rasa tidak nyaman selama
melahirkan diberikan persiapan psikologis proses persalinan dan meningkatkan
pada saat kehamilan dengan cara pemberian relaksasi dengan memicu perasaan nyaman
sugesti dan motivasi. Berdasarkan penelitian melalui permukaan kulit .
tersebut didapatkan hasil bahwa 10-15 % Sikap negatif ibu terhadap teknik
persalinan berlangsung tanpa nyeri dan Hypnobirthing juga digambarkan dari kelas
tanpa tambahan pemberian obat-obatan. Hal Hypnobirthing yang tidak diikutinya selama
ini dikarenakan kecemasan yang timbul hamil, sehingga tidak ada upaya ibu untuk
pada saat persalinan dapat diatasi dengan belajar tentang relaksasi, afirmasi, serta
latihan fisik dan mental. 8.9 fokus agar persalinan berjalan lancar, yang
Sikap ibu hamil yang negatif dalam akhirnya ibu hamil tersebut tidak dapat
memilih pertolongan persalinan dengan mengetahui perbedaan antara persalinan
tehnik Hypnobirthing juga akan dengan menggunakan teknik Hypnobirthing
menganggap kelas Hypnobirthing menjadi dengan persalinan tanpa Hypnobirthing.
tidak penting. Padahal dalam kelas tersebut Sikap ibu yang negatif ini dapat
selain diajarkan tentang tehnik relaksasi juga dipengaruhi oleh berbagai fenomena saat ini
diajarkan bahwa peran suami sebagai yang diantaranya menganggap hypnosis
pendamping sangatlah penting, setiap suami adalah hal yang tidak baik hal ini merupakan
diharapkan untuk mengikuti pelatihan salah satu yang menyebabkan ibu tersebut
tersebut sehingga dalam pendampingan yang besikap negatif.
dilakukannya akan dapat menenangkan ibu Tabel 3. Distribusi silang antara
bersalin tersebut, dengan begitu proses pengetahuan ibu tentang tehnik
persalinan dapat berjalan lancar. hypnobirthing dengan sikap ibu dalam
Selain itu secara psikologis istri memilih pertolongan persalinan dengan
membutuhkan pendampingan suami selama meggunakan tehnik hypnobirthing.
proses persalinan karena proses persalinan
merupakan masa yang paling berat bagi Sikap Jum P
seorang ibu, dimana ibu membutuhkan lah value
(+) (-)
dukungan dari berbagai pihak, terutama dari Pengetahuan Baik 41 12 53
suami agar dapat menjalani proses Cukup 1 2 3 0,000
persalinan sampai melahirkan dengan aman Kurang 14 35 49
dan nyaman. Perhatian yang didapat seorang Jumlah 56 49 105
ibu pada masa persalinan akan terus
dikenang oleh ibu terutama bagi mereka Berdasarkan tabel 3 menunjukkan hasil
yang pertama kali melahirkan dan dapat bahwa dengan pengetahuan yang kurang,
menjadi modal lancarnya persalinan serta sikap terbanyak adalah sikap negatif. Tabel
membuat ibu menjadi merasa aman dan silang antara pengetahuan dengan sikap
tidak takut menghadapi persalinan. negatif kemudian dilakukan uji hipotesis
Sikap ibu yang negatif, maka sikap kategorik dengan kategorik. Hasil uji
terhadap pijat endorfin pun akan tidak baik menggunakan Chi-square menunjukkan
karena tidak yakin bisa membuat ibu lebih angka Significancy p=0,000. Jika dibanding
rileks yang mana relaksasi ini akan membuat nilai signifikansi suatu hubungan yang mana
persalinan berjalan lancar. Seperti yang kita p<0,05, berarti H1diterima, ujistatistic
ketahui Endorphin Massage merupakan menunjukkan ada hubungan yang signifikan,
suatu metode sentuhan ringan yang maka dapat diambil kesimpulan bahwa

70
International Conference for Midwives (ICMid)

secara statistic terdapat hubungan antara yang menunjukkan atas segala sesuatu yang
pengetahuan ibu mengenai teknik telah dipilihnya dengan menanggung segala
Hypnobirthing dengan sikap ibu dalam resiko yang terjadi. Dalam penelitian ini
memilih pertolongan persalinan dapat disimpulkan bahwa karakteristik ibu
menggunakan teknik Hypnobirthing. Hal ini hamil berdasarkan usia, pendidikan dan
terbukti bahwa persalinan dengan dibantu paritas memiliki peran penting dalam proses
tehnik hypnobirthing dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil terhadap persalinan
proses persalinan secara spontan, nyaman dengan tehnik hypnobirthing.
mengurangi penggunaan obat epidural dan Pengetahuan memiliki hubungan yang
efektif untuk proses persalinan selain itu ibu significant terhadap sikap ibu dalam
bersalin yang menggunakan tehnik memilih pertolongan persalinan dengan
hypnobirthing ternyata sangat berdampak tehnik hypnobirthing.
pada waktu persalinan yang relative lebih
cepat dibandingkan ibu yang melahirkan DAFTAR PUSTAKA
tanpa tehnik hypnobirthing.10.12
Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa 1. Danuatmaja, B.,Persalinan normal tanpa
ibu hamil dengan tingkat pengetahuan yang rasa sakit, Puspa swara Depkes
kurang menunjukan sikap negatif terhadap RI.,Jakarta 2004
pemilihan persalinan menggunakan teknik 2. Kementerian Kesehatan Republik
Hypnobirthing. Dengan memiliki Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia
pengetahuan yang kurang mengenai fungsi, Tahun 2013. Jakarta: Kemenkes RI
manfaat, serta cara tentang teknik 2014; 72-75
Hypnobirthing dalam persalinan akan 3. Green Lawrence W., Kreuter.M.W.
berhubungan dengan sikap yang diambil ibu Health Program Planning. An Education
untuk tidak memilih persalinan dengan And Ecplogical Approach., Fourth
teknik tersebut, hal ini dikarenakan ibu Edition. Boston. Mc Graw Hill. 2005
tersebut belum mengetahui bahwa terdapat 4. Astria Y. Hubungan Karakteristik Ibu
perbedaan antara persalinan dengan Hamil Trimester III dengan Kecemasan
menggunakan teknik Hypnobirthing dengan dalam menghadapi persalinan di
persalinan tanpa teknik Hypnobirthing. poliklinik Kebidanan dan Kandungan
Karena tidak diyakininya bahwa teknik RSUP Fatmawati Tahun. Syarif
Hypnobirthing dalam persalinan dapat Hidayatullah.Jakarta 2009
mengurangi/menghilangkan rasa nyeri, 5. Agnita U. Widia L. Perbedaan tingkat
sehingga ibu dapat melewati masa kecemasan primigravida dengan
kehamilan dan persalinan dengan nyaman multigravida dalam mengahdapi
maka ibu tersebut tidak memilih teknik ini kehamilan. Ejournal.unri.ac.id
untuk membantu proses persalinannya. 6. Romadhomah. Trixie S. Indri AP.
Sikap Negatif, juga akan membentuk Hubungan Pengetahuan ibu Hamil
kecenderungan ibu untuk menjauhi, tentang Hypnobirthing dengan sikap ibu
menghindari, membenci, dan tidak hamil terhadap terapi hypnobirthing di
menyukai tehnik tersebut, sehingga proses BPM Ny. Mul Agus. Jurnal Kebidanan
pengetahuan yang didapatkan ibu pun Vol 2.2013.Jurnal.unimus.ac.id
kurang mampu merubah ibu untuk bersikap 7. Rina. Hubungan Intensitas
positif terhadap pengetahuan Hynobirthing Hypnobirthing dengan tingkat
yang telah didapatkannya untuk kecemasan ibu hamil menghadapi
mengaplikasikan dalam kehidupannya. persalinan di BPM Tri Rahayu
Seperti yang telah kita ketahui tahapan sikap Setyaningsih. Sleman Yogyakarta 2014.
yang paling tinggi menurut pendapat 8. Kuswandi Lanny. Keajaiban
Notoatmojo, 2007 adalah bertanggung Hypnobirthing, Jakarta. PT puspa
jawab (Responsible). Yaitu sikap positif swara, 2010

71
International Conference for Midwives (ICMid)

9. Cyna AM, Andrew MI (2006). 11. Prawironegoro Darsono. Filsafat Ilmu.


Antenatal self –hypnosis for labbour Jakarta.Nusantara Consulting. 2010 ;
and childbirth: http://www.pubmed.gov 100-104
10. Amy S. Mary N. Research overview : 12. Nuraisyah S. Pengaruh tehnik
Self-hypnosis for labour and birth. hypnobirthing terhadap lamanya proses
(online Journal) 2011 (diunduh 12 Juli persalinan di klinik sumiariani
2014) tersedia dari kecamatan medan johor Provinsi
https://www.hypnobabies.com sumatera utara.(thesis) Sumatera Utara
2012

72
International Conference for Midwives (ICMid)

IMPLEMENTASI METODE TRANSCUTANEUS ELECTRICAL NERVE


STIMULATION (TENS) UNTUK MENGATASI NYERI PERSALINAN KALA 1
FASE AKTIF PADA IBU BERSALIN

Waifti Amalia, Nicky Danur Jayanti


Ptogram Studi Kebidanan STIKES Widyagama Husada Malang

ABSTRACT

Painful in giving birth is a kind of contraction painful in uterus that can cause the increase of
sympathetic nervous system activity. If this problem does not handled immediately, further it
can cause worry, strained, afraid, and stress of pregnant mothers. The most tiring and painful in
pregnant mothers happen in the first active phase. Those problems can be handled by
pharmacologic and non-pharmacologic method. One of non-pharmacologic method is using a
tool called Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS). The purpose of this study is
that to know the effect of TENS method toward painful in the first active phase in giving birth on
maternity.The method used in this study are pre test and post test. While the subject of this
study is giving birth mothers who are fulfilled the inclusion criteria. After 15 minutes
observation using TENS, the result of the study shows that giving birth mothers who are given
TENS method, experience reduction of painful. From the data analysis, it is obtained that the Z
value = -4,378 and A syimp Sig value (2-tailed) = 0,001. Compared with α = 0,05, A syimp
Sig (2-tailed) <α, so that Ho is refused, means that there is an effect on Transcutaneous
Electrical Nerve Stimulation (TENS) method toward painful in the first active phase in giving
birth mothers as the mechanism of TENS itself is that blocking the painful message which has
been translated by the brain so that the message will not reach the hypothalamus. From this
study, it is concluded that there is an effect in using TENS method toward painful in the first
active phase in giving birth mothers. The target of this research is to find the right technique
TENS method, especially in order to improve the quality of maternal and quality of care in
maternity.

Keywords : TENS method, Painful, Active Phase

PENDAHULUAN
Persalinan normal adalah suatu proses dengan baik. Pada fase ini kontraksi
pengeluaran hasil konsepsi yang dapat semakin lama, kuat dan semakin sering2.
hidup dari dalam uterus melalui vagina ke Penanganan nyeri bisa dilakukan
dunia luar1. Kontraksi dari otot – otot rahim secara farmakologis dan non farmakologis.
dapat menyebabkan rasa nyeri persalinan. Secara farmakologis yakni dengan
Rasa nyeri pada persalinan adalah nyeri pemberian obat-obatan analgesik dan
kontraksi terus yang dapat mengakibatkan penenang. Sedangkan secara
peningkatan aktifitas sistem saraf simpatis. nonfarmakologis melalui distraksi,
Untuk itu, intervensi untuk mengurangi relaksasi dan stimulasi kulit 3. Sebagian
nyeri pada saat persalinan perlu menjadi besar pasien seringkali menganggap
prioritas dalam asuhan kebidanan ibu penanganan nyeri dengan pemberian obat-
bersalin, sehingga ibu bisa mengontrol obatan adalah satu-satunya pilihan yang
nyeri secara optimal dan bisa lebih yang terbaik. Namun metode
kooperatif dalam menjalani masa nonfarmakologis jika diterapkan juga
persalinan. Sehingga terapi atau instruksi sangat membantu dalam menghilangkan
yang diberikan oleh bidan bisa dilakukan rasa nyeri4. Selain tindakan farmakologis

73
International Conference for Midwives (ICMid)

untuk menanggulangi nyeri ada pula 3. Setelah diukur nyerinya, memasang 2


tindakan non farmakologis untuk elektroda yaitu elektroda positif dan
mengatasi nyeri terdiri dari beberapa elektroda negative pada daerah
tindakan penanganan salah satunya yaitu pinggang setingkat thorakal 10 ke
stimulasi elektrik atau TENS masing – masing responden, setelah itu
(Transcutaneus Electrical Nerve diatur kekuatan intensitas TENS sesuai
Stimulation). TENS (Transcutaneus dengan kenyamanan responden dan
Electrical Nerve Stimulation) merupakan dilakukan selama 15 menit.
suatu alat yang menstimulasi pada kulit 4. Menanyakan kembali tingkat nyeri yang
dengan menggunakan arus listrik ringan dirasakan ibu setelah diberi metode
yang di hantarkan melalui elektroda luar5. TENS.
Metode ini menggunakan stimulasi listrik
voltase rendah secara langsung pada daerah
5. Pada saat pemberian metode TENS ibu
tidak sedang ditemani oleh keluarga
yang dirasakan nyeri oleh ibu.
ataupun suaminya, sedangkan peneliti
Dari hasil studi pendahuluan yang
juga tidak memberikan intervensi
dilakukan di BPM Dillah Sobirin wilayah
apapun kepada ibu.
kabupaten Malang, didapatkan data bahwa,
ibu bersalin pada bulan Januari – Pebruari 6. Sebelumnya peneliti juga memberikan
2013 sebanyak 29 orang. Penatalaksanaan penjelasan dimana responden bisa
nyeri persalinan yang dilakukan terhadap memilih atau menunjukkan skor nyeri
ibu bersalin di tempat tersebut adalah dengan ketentuan ujung yang paling kiri
dengan menggunakan metode relaksasi tidak terdapat rasa nyeri dan ujung yang
yang sederhana seperti menarik nafas paling kanan nyeri hebat.
panjang saat terjadi kontraksi persalinan 7. Lembar observasi ini diberikan kepada
dan memijat area pinggang bagian responden dan di check oleh peneliti
belakang. Berdasarkan hal tersebut, maka dengan syarat sebelumnya responden
peneliti ingin menelitiimplementasi metode menandatangani inform consent.
Transcutaneous Elektrical Nerve Data yang terkumpul dilakukan: editing,
Stimulation (TENS) untuk mengatasi nyeri coding, scoring, transfering, tabulating,
persalinan kala I fase aktif pada ibu selanjutnya dianalisis statistik dengan
bersalin. program software SPSS 16.
Secara umum penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis metode HASIL DAN PEMBAHASAN
Transcutaneous Elektrical Nerve Hasil sementara yang dicapai pada
Stimulation (TENS) dalam mengatasi nyeri penelitian ini adalah :
persalinan kala I fase aktif pada ibu 1. Sebelum dilakukan perlakuan dengan
bersalin. metode TENS, masing – masing
METODE responden di wawancara untuk mengisi
Cara penelitiannya adalah sebagaiberikut: lembar data demografi. Selanjutnya
1. Data yang diambil langsung dari ibu pasien diminta untuk menunjukkan titik
bersalin kala I fase aktif di BPM Dillah yang mampu menggambarkan rasa
Sobirin untuk dijadikan responden nyerinya. Dari 25 responden, terdapat
dalam penelitian ini dan pengumpulan 22 responden (88%) yang mengalami
data dilakukan dengan menggunakan nyeri sedang dan 3 responden (12%)
wawancara dan lembar observasi yang yang mengalami nyeri berat.
berisi alat ukur nyeri. 2. Meraba thorakal ke 10 dengan cara ibu
menghadap ke belakang, kemudian
2. Pengukuran nyeri yang dilakukan ketika ditarik garis antara 2 tulang skapula
ibu memasuki kala I fase aktif pada
selanjutnya ditambah 5 tulang ke
pembukaan 6 – 8.

74
International Conference for Midwives (ICMid)

bawah. Selanjutnya membersihkan area bermielin (serabut A-delta) yang jelas


yang akan di beri perlakuan dengan melokalisasi sumber nyeri, mendeteksi
kassa steril, selanjutnya menempelkan intensitas nyeri dan menghantarkan
elektroda selama 15 menit dengan komponen suatu cedera akut dengan
frekuensi yang dikehendaki pasien. segera. Transmisi stimulus nyeri tersebut
3. Mengukur kembali tingkat nyeri setelah berlanjut di sepanjang serabut saraf aferen
diberikan perlakuan dengan metode sampai berakhir di bagian kornu dorsalis
TENS. Dari 25 responden, 23 medula spinalis. Neurotransmiter dalam
responden (92%) mengalami nyeri kornu dorsalis melepaskan substansi P
ringan dan 2 responden (8%) sehingga menyebabkan suatu transmisi
mengalami nyeri sedang. sinapsis dari saraf perifer (sensori) ke saraf
4. Pengujiandengan teknikanalisa data traktus spinotalamus yang menyeberangi
menggunakanWilcoxon Signed Rank sisi yang berlawanan dengan medula
Test.Dari hasil analisa didapatkan nilai spinalis. Impuls nyeri kemudian naik ke
Z = -4,378 dannilai A syimp Sig (2- medula spinalis, maka informasi
tailed) = 0,001. ditransmisikan dengan cepat ke pusat yang
Jikadibandingkandenganα = 0,05maka lebih tinggi di otak untuk mempersepsikan
A syimp Sig (2-tailed) <α, sensasi nyeri 7.
dengandemikianmaka Ho ditolak yang Pada penelitian yang dilakukan
artinyaterdapatpengaruh implementasi oleh Kuntono HP., Haryanto P., Slamet P.,
metodeTranscutaneous Electrical Nerve 2013 mengemukakan bahwa pada pasien
Stimulation (TENS) terhadap nyeri osteosrthritis yang mendapatkan perlakuan
persalinan pada ibu bersalin kala I fase TENS dan quadriceps didapatkan
aktif. penurunan nyeri pada daerah lutut8.
Dari hasil penelitian yang telah Hutagalung R dan Sugijanto, 2007 dalam
dilaksanakan pada 25 responden, penelitiannya mendapatkan hasil bahwa
didapatkan data bahwa terdapat 88 % atau penggunaan gabungan intervensi MWD,
22 responden mengalami nyeri sedang dan TENS dan Traksi Leher Manual
3 responden atau 12 % mengalami nyeri berpengaruh dalam menurunkan intensitas
berat. Sedangkan sesudah pemberian nyeri kepala pada cervical headache9.
metode TENS sebanyak 92 % atau 23 Hasanah K, 2012 dalam penelitiannya
responden mengalami nyeri ringan dan 8 % menyimpulakn bahwa Terapi TENS
atau 2 responden masih mengalami nyeri ditambah kompres panas, lebih efektif
sedang. Nyeri yang dirasakan merupakan menurunkan intensitas nyeri pada pasien
sensasi yang timbul karena adanya trauma OA lutut dibandingkan terapi TENS saja10.
pada jaringan tubuh akibat iskemi otot – 10Rosyid FN dan Putra, dony DP., 2010
otot uterus karena pengaruh hormonal dan dalam penelitiannya tentang TENS
beban sehingga menimbulkan kontraksi. menemukan bahwa TENS lebih efektif
Hal inilah yang merangsang reseptor nyeri dalam menurunkan intensitas nyeri
secara kimiawi untuk mengeluarkan dibandingkan dengan therapies pada pasien
bradikinin, serotonin, histamin, ion K, Simple Fraktur karena TENS memiliki
asam asetilkolin dan asam proteolitik. mekanisme frekuensi dan amplitude yang
Selain itu prostaglandin dan substansi P dapat disetting berdasarkan sensasi nyeri
meningkatkan sensitivitas ujung-ujung yang dialami oleh pasien Simple Fraktur.
serabut nyeri sehingga dapat menimbulkan Fungsi dari frekuensi dan amplitude ialah
rasa nyeri6. dapat menghasilkan aliran listrik sesuai
Proses transmisi nyeri terjadi karena tingkatan nyeri yang dirasakan pasien saat
adanya impuls-impuls nyeri disalurkan ke pemberian terapi11.
sumsum tulang belakang oleh serabut saraf

75
International Conference for Midwives (ICMid)

SIMPULAN William Flexi Terhadap Penurunan


Kesimpulan dari hasil penelitian saat ini Nyeri Pasien Low Back Pain
adalah dengan menggunakan metode TENS Miofascial. Klinik Fisioterapi Mfc
pasien menjadi lebih tenang dalam Yogyakarta
menghadapi nyeri persalinan. Sedangkan 10. Hasanah K, 2012. Pengaruh Terapi
dari hasil wawancara yang didapatkan Transcutaneous Electrical Nerve
responden menyatakan bahwa nyeri yang Stimulation Dan Kompres Panas
dirasakannya sudah banyak berkurang. Dalam Menurunkan Nyeri Pada
Penderita Osteoartritis Lutut. Ilmu
DAFTAR PUSTAKA Keperawatan UGM. Universitas Gajah
1. APN, (2004). Buku Acuan Asuhan Mada
Persalinan Normal. Depkes RI : Jakarta 11. Rosyid FN dan Putra, dony DP., 2010.
2. Danuatmaja, Bonny. (2004). Persalinan Perbandingan Keefektifan Stimulasi
Normal Tanpa Rasa Sakit.PuspaSwarna Saraf Elektrik Tens Dan Terapi Es
: Jakarta Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri
3. Hidayat, Musrifatul. (2008). Pada Pasien Simple Fraktur Diruang
Keterampilan Dasar Praktek Klinik Premedikasi Instalasi Bedah Sentral
Untuk Kebidanan Edisi 2. Salemba RSU Haji Surabaya. Jurnal Ilmu
Medika : Jakarta Kesehatan. Vol. 7 No. 2.
4. Kane, K Taub, A. (1975). A History of
Local Electrical Analgesia. Pain 1 :
125-138
5. Sluka KA. The Neurobiology of pain
and foundations for electrical
stimulation. In: Robinson AJ, Snyder-
Mackler L, editors. Clinical
Electrophysiology. Lippincott Williams
& Wilkins; Philadelphia: 2008. pp.
107–149
6. Lumaksono, 2008. Perbedaan Efek
Tens Dengan Interferensi Dan Latihan
William Flexi Terhadap Penurunan
Nyeri Pasien Low Back Pain
Miofascial.Klinik Fisioterapi Mfc
Yogyakarta
7. Potter dan Perry. (2005). Buku Ajar
Fundamental Keperawatan.Vol 2, Edisi
4. EGC : Jakarta
8. KuntonoHP.,Haryanto P., Slamet P.
2013. Pengurangan Nyeri
Menggunakan Latihan Otot Quadriceps
Dan Tens Dengan Latihan Otot
Quadriceps Dan Fisiotaping Pada
Osteoarthritis Lutut. Jurnal Terpadu
Ilmu Kesehatan, Jilid 3, Mei 2013,
hlm.163-167
9. Lumaksono, 2008. Perbedaan Efek
Tens Dengan Interferensi Dan Latihan

76
International Conference for Midwives (ICMid)

THE EFFECTIVENESS OF JASMINE AROMATHERAPY


TO DECREASE THE INTENSITY OF LABOR PAIN
STAGE I ACTIVE PHASE IN TAKERHARJO

Lilin T, Citra N
Program Studi DIII Kebidanan STIKES Muhammadiyah Lamongan

ABSTRACT

Most women experienced pain during the childbirth (labor pain) that made them and the health
workers looked for alternative therapy to overcome the pain. Aromatherapy has been given as
one of the alternatives to decrease the pain of labor. There are many kinds of aromatherapy that
can be used to minimize the pain, one of them is jasmine aromatherapy.This study was true
experimental research with pre-test and post-test in control group approach. Randomization was
used to take the sample and it got 32 mothers (after giving birth), 16 mothers was in treatment
group and 16 remaining was in control group. It was taken on January - April 2015. The result
of this study was got from the scale measurement of Verbal Descriptive Scale (VDS) in the
observation sheet and the data then analyzed using Wilcoxon Sum Rank Test. This study
showed that only three post-partum mothers (9%) in the treatment group experienced hard pain,
while 8 post-partum mothers (25%) in the control group experienced hard pain. The statistical
test showed that there was a significant difference of pain intensity between treatment group and
control group (p=0.008, p<0.05). It shows that it was effective to give jasmine therapy to
overcome the labor pain intensity of post-partum mothers stage I active phase. It is
recommended that jasmine aromatherapy can be used as an alternative way to decrease labor
pain stage I active phase of post-partum mothers.

Keywords: Jasmine aromatherapy, labor pain, stage I active phase

PENDAHULUAN efektif untuk menurunkan tingkat


Persalinan merupakan hal yang normal kecemasan ibu dan dapat mengurangi rasa
dan menakjubkan bagi ibu dan keluarga. nyeri yang dirasakan.
Rasa kekhawatiran, ketakutan maupun Penelitian yang dilakukan oleh Steer di
kecemasan akan muncul pada saat Inggris tahun 1993 dilaporkan bahwa
memasuki proses persalinan1. Menjelang terdapat 34% wanita mengalami penurunan
proses persalinan, calon ibu akan intensitas nyeri dengan menggunakan
merasakan nyeri yang timbul secara relaksasi dalam persalinan.1 Dari hasil
perlahan. Nyeri persalinan tergolong nyeri penelitian yang pernah dilakukan oleh
akut, akibat dilatasi dan pendataran Ethel E. Burns dkk menyebutkan bahwa
serviks. Rasa nyeri tersebut dialihkan ke 50% ibu merasakan nyaman menggunakan
abdomen, punggung bawah dan rektum.2 aromaterapi tetapi ada 14% merasa tidak
Nyeri persalinan terjadi mulai pembukaan nyaman.
pada kala I dan II tetapi intensitas nyeri Penelitian yang dilakukan oleh
lebih tinggi terjadi pada kala I fase aktif. Mousley W (2006) tentang penggunaan
Akibat dari rasa nyeri yang begitu hebat, aromaterapi di unit maternitas, bahwa
seringkali ibu menjadi tegang dan cemas, dengan menggunakan aromaterapi dapat
hal ini mengakibatkan nyeri semakin memberikan efek relaksasi pada ibu
meningkat. Kebanyakan dari ibu bersalin bersalin3. Sebuah studi yang dilakukan oleh
masih mengalami cemas akibat nyeri yang Kuriyama, H. W (2006) bahwa keuntungan
dialami. Sehingga diperlukan metode lain penggunaan aromaterapi secara psikologis

77
International Conference for Midwives (ICMid)

antara lain dapat menurunkan tingkat nyeri saat kontraksi. Kecemasan ringan dan
dan kecemasan. Secara immunologi sedang sebenarnya akan berefek positif
aromaterapi dapat meningkatkan limfosit terhadap ibu bersalin sehingga dapat
pada pembuluh darah perifer.4 meningkatkan perhatiannya terhadap
Dari hasil survey awal pada tanggal proses persalinannya. Akan tetapi, pada
30 September - 5 Oktober 2014 di Desa kecemasan berat menyebabkan
Takerharjo Kecamatan Solokuro ketidakmampuan ibu untuk menoleransi
Kabupaten Lamongan, diperoleh 5 ibu nyeri persalinan yang dialaminya. Namun
bersalin. Dari 5 ibu yang menjalani ketika nyeri menjadi sesuatu yang
persalinan dan hanya dianjurkan dan mengancam integritas individu, maka akan
dibimbing untuk melakukan teknik sulit bagi individu tersebut untuk
relaksasi yaitu nafas dalam, terdapat 80% mengontrol rasa nyerinya.2
ibu bersalin kala I fase aktif masih Dampak nyeri yang hebat pada proses
mengalami nyeri yang tajam dan tidak persalinan dapat menyebabkan perubahan-
terkontrol ditunjukkan dengan perilaku perubahan fisiologis tubuh yang berakibat
menjerit, tidak mau melakukan anjuran kehilangan banyak cairan tubuh, kelelahan
bidan, selalu mengejan yang tidak dapat yang sangat berat, dan secara psikis dapat
dikendalikan dan selalu menarik-narik apa memicu rasa cemas dan takut yang
yang ada disampingnya, merupakan mencekam yang justru akan memperberat
kategori nyeri yang sangat berat. sensasi nyeri yang dirasakan. Keadaan ini
Sedangkan 20% ibu bersalin kala I fase sangat mengganggu konsentrasi ibu selama
aktif mengalami nyeri persalinan namun proses persalinan. Nyeri persalinan yang
masih relatif tenang ditunjukkan dengan lama menyebabkan hiperventilasi dengan
perilaku menggerakkan badan ke kiri dan frekuensi pernafasan 60-70 kali permenit
ke kanan, mendesis dan membaca istighfar, sehingga menurunkan kadar PaCO2 ibu
merupakan nyeri kategori sedang. dan meningkatkan pH. Apabila kadar
Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui PaCO2 ibu rendah, maka kadar PaCO2
bahwa masih banyaknya ibu bersalin yang janin juga rendah sehingga menyebabkan
mengalami nyeri yang sangat berat saat deselerasi lambat denyut jantung janin,
persalinan kala I fase aktif. nyeri juga menyebabkan aktifitas uterus
Persepsi rasa sakit, cara yang yang tidak terkoordinasi yang akan
dirasakan oleh individu dan reaksi terhadap mengakibatkan persalinan lama, yang pada
rasa sakit dipengaruhi oleh berbagai faktor. akhirnya dapat mengancam kehidupan
Menurut Yuliatun L (2008), faktor-faktor janin dan ibu.1
tersebut antara lain : Umur, paritas, budaya, Menurut Handerson C (2006) ada 2
mekanisme koping, metode relaksasi yang metode pengendalian nyeri yaitu metode
digunakan, kecemasan dan ketakutan, farmakologis dan nonfarmakologis. Secara
keletihan, lama persalinan, posisi maternal farmakologis diantaranya: teknik ILA
dan fetal. Apabila seorang ibu yang (Intrachecal Labor Analgesia), TENS
bersalin mampu melakukan relaksasi (Transcutaneous Electrical Nerve
selama kontraksi maka ibu tersebut akan Stimulation), dan paraservical block 5.
merasakan kenyamanan selama proses Sedangkan metode nonfarmakologis
persalinannya. Penggunaan teknik relaksasi menurut Andriana E (2007), antara lain :
yang akan meningkatkan kemampuan ibu teknik relaksasi, massase, akupuntur,
dalam mengontrol rasa nyerinya, aromaterapi, berendam air hangat,
menurunkan rasa cemas, menurunkan hypnoterapi, terapi musik dan kompres
kadar katekolamin, menstimulasi aliran dingin. Metode nonfarmakologi dapat
darah menuju uterus, dan menurunkan digunakan untuk mengurangi nyeri dan
ketegangan otot. Teknik relaksasi yang memberikan kenyamanan pada persalinan,
digunakan dapat berupa teknik pernafasan

78
International Conference for Midwives (ICMid)

salah satunya dengan menggunakan tertarik untuk melakukan penelitian tentang


aromaterapi. 6 “Efektifitas Aromaterapi Jasmine Terhadap
Aromaterapi merupakan salah satu Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase
metode nonfarmakologis yang digunakan Aktif’’.
untuk meningkatkan kesehatan fisik dan
psikologis. Salah satunya adalah METODE
aromaterapi jasmine (bunga melati) yang Desain yang digunakan dalam penelitian
telah digunakan secara tradisional sebagai ini adalah Trueexperiment dengan
bantuan dalam kelahiran. Melati dapat pendekatan pretest and postest with control
membantu memperkuat kontraksi, yang group. Rancangan ini dengan
juga memiliki kandungan pereda nyeri dan menggunakan dua kelompok. Kelompok
antispasmodik. Secara emosional, melati pertama diberi terapi aroma jasmine selama
memiliki kualitas memberikan energi dan proses persalinan kala I fase aktif
antidepresan. Aromaterapi jasmine (kelompok perlakuan), sedangkan
mempunyai efek positif karena diketahui kelompok kedua tidak diberi terapi aroma
bahwa aroma yang segar, harum terapi (kelompok kontrol). Kedua
merangsang sensori, reseptor dan pada kelompok dilakukan pengukuran intensitas
akhirnya mempengaruhi organ yang nyeri pada saat ibu masuk kala I fase aktif
lainnya sehingga dapat menimbulkan efek (pembukaan 4 cm). Selanjutnya untuk
kuat terhadap emosi. Respon bau yang kelompok perlakuan diberikan aromaterapi
dihasilkan akan merangsang kerja sel jasmine dengan cara inhalasi sampai
neurokimia otak. Sebagai contoh, bau yang pembukaan lengkap, kemudian dilakukan
menyenangkan akan menstimulasi talamus pengukuran intensitas nyerinya kembali.
untuk mengeluarkan endorfin dan enkafelin Kelompok kontrol hanya dilakukan
yang berfungsi sebagai penghilang rasa pengukuran intensitas nyerinya
sakit alami dan menghasilkan perasaan saja.Pengambilan data dilakukan mulai
tenang. 7 bulan Januari sampai dengan April 2015.
Adapun cara penggunaan aromaterapi Penelitian dilakukan di dua tempat yaitu
dapat dilakukan dengan cara inhalasi, pijat BPM Ny. “Y” untuk pengambilan data
aroma, kompres dan berendam. kelompok perlakukan dan BPM Ny. “T”
Penggunaan aromaterapi dengan cara untuk kelompok kontrol.
inhalasi dibagi menjadi 2 yaitu inhalasi
langsung dan tak langsung. Inhalasi
langsung diperuntukkan untuk satu pasien,
sedangkan inhalasi tak langsung dapat
digunakan secara bersamaan dalam satu
ruangan. Inhalasi langsung dapat dilakukan
dengan meneteskan 1-5 minyak esensial
pada tisu atau kapas kemudian dihirup
selama 5-10 menit. 8
Aromaterapi dapat membantu
mengurangi kecemasan, stress, ketakutan,
mual, muntah dan rasa nyeri. Sehingga
diharapkan bidan dapat memberikan
intervensi yaitu pemberian aromaterapi
sebagai terapi nyeri persalinan kala I fase
aktif. Namun penelitian mengenai
aromaterapi sebagai salah satu metode
terapi nyeri saat persalinan masih terbatas.
Sehubungan dengan itu, maka peneliti

79
International Conference for Midwives (ICMid)

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 4.1 Distribusi Responden Melahirkan di Desa Takerharjo Bulan
Berdasarkan Usia Ibu yang Januari-April 2015.
No Frekuensi Total
Usia Kelompok % Kelompok % ∑ %
Perlakuan Kontrol
1 < 20 1 3% 0 0% 1 3%
2 20 – 30 12 38 % 13 41 % 25 79%
3 >30 3 9% 3 9% 6 18%
Total 32 100%
Berdasarkan tabel 4.1 di atas dapat adalah berumur 20-30 tahun yaitu
dijelaskan bahwa hampir seluruhnya 25 responden dan sebagian kecil (3%)
ibu bersalin (79%) baik kelompok ibu bersalin yang berumur <20 tahun
perlakuan maupun kelompok kontrol yaitu 1 responden.

Tabel 4.2 Distribusi Responden Melahirkan di Desa Takerharjo Bulan


Berdasarkan Pendidikan Ibu yang Januari-April 2015.
Frekuensi Total
Kelompok Kelompok
No Pendidikan % ∑ %
Perlakuan Kontrol
1 SD 8 26 % 5 16 % 13 42%
2 SMP 2 6% 4 12 % 6 18%
3 SMA 4 12 % 5 16 % 9 28%
4 Sarjana 2 6% 2 6% 4 12%
Total 32 100%
Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat berpendidikan SD yaitu 13 responden
dijelaskan bahwa hampir sebagian dan sebagian kecil (12%) ibu bersalin
(42%) ibu bersalin baik kelompok yang berpendidikan sarjana yaitu 4
perlakuan maupun kelompok kontrol responden.

Tabel 4.3 Distribusi Responden Melahirkan di Desa Takerharjo Bulan


Berdasarkan Pekerjaan Ibu yang Januari-April 2015.
No Frekuensi Total
Pekerjaan Kelompok % Kelompok % ∑ %
Perlakuan Kontrol
1 IRT 1 35 % 12 38 % 23 73%
2 Buruh/tani 13 9% 2 65 5 15%
3 Swasta 2 6% 2 6% 4 12%
Total 32 100%

Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat sebagai ibu rumah tangga yaitu 23
dijelaskan bahwa sebagian besar responden dan sebagian kecil (12%)
(73%) ibu bersalin baik kelompok ibu bersalin yang bekerja sebagai
perlakuan maupun kelompok kontrol swasta yaitu 4 responden.

80
International Conference for Midwives (ICMid)

Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Paritas Ibu yang Melahirkan di Desa
Takerharjo Bulan Januari-April 2015.
No Frekuensi Total
Paritas Kelompok % Kelompok % ∑ %
Perlakuan Kontrol
1. Primipara 8 25 % 10 31 % 18 56%
2. Multipara 8 25 % 5 16 % 13 41%
3. Grandemulti 0 0% 1 3% 1 3%
Total 32 100%
Berdasarkan tabel 4.4 di atas dapat adalah hamil anak yang pertama yaitu
dijelaskan bahwa sebagian besar 18 responden dan sebagian kecil (3%)
(56%) ibu bersalin baik kelompok ibu bersalin yaitu hamil lebih dari 3
perlakuan maupun kelompok kontrol yaitu 1 responden.
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi
Data Khusus Intensitas Nyeri Persalinan Pada Ibu
Tingkatan Intensitas Nyeri Bersalin Kala I Fase Aktif Sebelum
Persalinan Ibu Bersalin Kala I Fase Pemberian Aromaterapi Jasmine Di
Aktif Sebelum Pemberian Desa Takerharjo Januari - April 2015.
Aromaterapi Jasmine.

No Intensitas Frekuensi Total


Nyeri Kelompok % Kelompok % ∑ %
Perlakuan Kontrol
1 Nyeri sedang 13 41 % 8 25 % 21 66%
2 Nyeri berat 3 25 % 8 25 % 11 34%
Total 32 100%
Berdasarkan tabel 4.5 di atas dapat aromaterapi jasmine yaitu 21
dijelaskan bahwa sebagian besar responden dan hampir sebagian ibu
(66%) ibu bersalin yang mengalami bersalin (34%) yang mengalami nyeri
nyeri sedang pada persalinan kala I berat yaitu 11 responden.
fase aktif sebelum diberikan
Tingkatan Intensitas Nyeri Aktif Setelah Pemberian
Persalinan Ibu Bersalin Kala I Fase Aromaterapi Jasmine.
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Pemberian Aromaterapi Jasmine Di
Intensitas Nyeri Persalinan Pada Ibu Desa Takerharjo Bulan Januari - April
Bersalin Kala I Fase Aktif Setelah 2015.
No Intensitas Nyeri Frekuensi Total
Kelompok % Kelompok % ∑ %
Perlakuan Kontrol
1. Nyeri sedang 16 50 % 12 % 38 % 28 88%
2. Nyeri berat 0 0% 4% 4% 4 12%
Total 32 100%
Berdasarkan tabel 4.6 di atas dapat nyeri sedang pada persalinan kala I
dijelaskan bahwa hampir seluruhnya fase aktif setelah
(88%) ibu bersalin yang mengalami

81
International Conference for Midwives (ICMid)

Efektifitas Aromaterapi Jasmin Persalinan Kala I Fase Aktif Pada Ibu


Terhadap Intensitas Nyeri Ibu. Bersalin Di Desa Takerharjo Bulan
Tabel 4.7 Efektifitas Aromaterapi Januari-April 2015.
Jasmine Terhadap Intensitas Nyeri
No Kelompok Intensitas Nyeri Total
Sebelum Sesudah
Nyeri Sedang Nyeri Berat Nyeri Sedang Nyeri Berat f %
f % f % f % f %
1. Perlakukan 13 41 % 3 9% 16 50 % 0 0% 32 100%
2. Kontrol 8 25 % 8 25 % 12 38 % 4 0% 32 100 %
p = 0,008
Berdasarkan data dari tabel 4.7 di atas, dimana p< 0,05 sehingga H1 diterima
dapat diketahui bahwa hasil uji statistik artinya pemberian aromaterapi jasmine
Wilcoxon Sum Rank Test tentang efektifitas efektif terhadap intensitas nyeri persalinan
aromaterapi jasmine tehadap intensitas nyeri kala I fase aktif.
persalinan kala I fase aktif pada ibu bersalin
di BPM Ny. Yuli Amd Keb sebelum dan
sesudah diberikan aromaterapi jasmine
menunjukkan nilai signifikansi (p=0,008)
apabila nosiseptor mencapai ambang
PEMBAHASAN nyeri, maka akan timbul impuls saraf,
Intensitas Nyeri Ibu Bersalin Kala I yang dihasilkan oleh stimulus nyeri,
Fase Aktif Sebelum diberi menyebar disepanjang serabut saraf
Aromaterapi Jasmine. perifer aferen. Stimulus nyeri
Dari tabel 4.5 di atas menunjukkan ditransmisikan naik ke medulla spinalis
bahwa intensitas nyeri ibu bersalin ke talamus dan otak tengah. Dari talamus,
kelompok kontrol cenderung lebih tinggi serabut mentransmisikan peran nyeri ke
dibandingkan dengan kelompok berbagai area otak, termasuk korteks
intervensi. Rasa nyeri yang terjadi selama sensori dan korteks asosiasi, lobus
kala I juga disebabkan oleh kontraksi frontalis, dan sistem limbic.9
uterus yang terus meningkat untuk Intensitas nyeri ibu bersalin kala I fase
mencapai pembukaan serviks yang aktif setelah diberi aromaterapi
lengkap. Semakin bertambahnya volume jasmine.
dan frekuensi kontraksi uterus maka rasa Intensitas nyeri ibu bersalin pada
nyeri juga akan semakin meningkat. kelompok intervensi, diperoleh skala
Hasil penelitian menunjukkan nyeri yang cenderung lebih rendah
bahwa skala nyeri kelompok kontrol dibandingkan dengan skala nyeri pada
cenderung lebih tinggi dibandingkan ibu bersalin kelompok kontrol atau
dengan skala nyeri pada kelompok kelompok yang tidak diberikan
intervensi. Sesuai dengan teori gate aromaterapi. Dari hasil tabel 4.6 di atas
control, saat inilah pintu gerbang terbuka didapatkan bahwa pemberian aromaterapi
sehingga berdasarkan teori ini serabut jasmine efektif terhadap intensitas nyeri
syaraf mentransmisikan rasa nyeri ke persalinan kala I fase aktif.
spinal cord sebelum ditransmisikan ke Ibu yang mendapatkan aromaterapi
otak. Selain itu, adanya stimulus pada jasmine relatif mampu mengontrol nyeri
tubuh akan menyebabkan pelepasan yang dirasakan. Ibu melakukan relaksasi
substansi kimia seperti histamin, nafas dalam dengan menghirup wangi
bradikinin, kalium. Substansi tersebut aromaterapi jasmine, ternyata mampu
menyebabkan nosiseptor bereaksi, membuat ketegangan ibu saat bersalin

82
International Conference for Midwives (ICMid)

berkurang. Begitu juga ibu yang Hasil penelitian diperoleh bahwa


mendapatkan aromaterapi jasmine lebih aromaterapi yang diberikan kepada ibu
kooperatif dalam menerima asuhan dan bersalin kala I fase aktif berpengaruh
mau melaksanakan anjuran bidan. terhadap intensitas nyeri persalinan.
Jeannie, M (2009) mengungkapkan Berdasarkan tabel 4.5 di atas didapatkan
bahwa respon bau yang dihasilkan ada perbedaan rerata intensitas nyeri pada
merangsang kerja sel neurokimia otak. kelompok intervensi dan kelompok
Sebagai contoh, bau yang menyenangkan kontrol, yang artinya terdapat pengaruh
akan menstimulasi talamus untuk pemberian aromaterapi jasmine terhadap
megeluarkan enkafelin yang berfungsi intensitas nyeri ibu bersalin kala I
sebagai penghilang rasa sakit alami dan berdasarkan skala nyeri VDS (p =0,008.
menghasilkan perasaan tenang. Bau α=0,05 ). Pernyataan di atas didukung
seperti melati, kenanga dan lavender oleh hasil analisis bahwa rata-rata respon
dapat merangsang kerja endofrin pada nyeri pada kedua kelompok homogen
kelenjar ptituari dan menghasilkan efek karena data tersebut berdistribusi normal,
relaksasi. Kelenjar ptituari juga hal tersebut membuktikan bahwa
melepaskan agen kimia ke dalam penurunan skala nyeri pada ibu bersalin
sirkulasi darah untuk mengatur fingsi kala I fase aktif akibat dari aromaterapi
kelenjar lain seperti tiroid dan adrenal. yang diberikan. Mengingat beberapa hasil
Relaksasi merupakan cara alami dengan analisis di atas, maka dapat disimpulkan
melakukan latihan pernafasan sehingga bahwa pemberian aromaterapi jasmine
melepaskan ketegangan pad otot-otot.7 efektif terhadap intensitas nyeri ibu
Relakasi menggunakan aromaterapi akan bersalin kala I fase aktif. Hasil studi
mendorong tubuh memproduksi hormon evaluasi di British Hospital yang
endorfin yang memberikan efek dilakukan oleh Blamey E (2008),
pengurang rasa sakit yang alami.6 menunjukkan penggunaan aromaterapi
Nyeri ibu bersalin semakin pada ibu bersalin kala I fase aktif relatif
mendekati pembukaan lengkap akan mampu mengurangi nyeri selama
semakin betambah, hal ini sesuai dengan persalinan. 10
pendapat Yuliatun L (2008) Pengalaman klinis menyatakan
mengungkapkan bahwa nyeri persalinan bahwa aromaterapi memberikan efek
akan terus meningkat sampai dengan kala keharuman yang menguntungkan tidak
pengeluaran, hal ini disebabkan oleh hanya yang digunakan melalui inhalasi
anoksia miometrium dimana terjadi atau penghisapan, tetapi juga melalui
kontraksi otot selama periode anoksia penyerapan molekul keharuman melalui
relatif menyebabkan rasa nyeri, kulit, diketahui bahwa penghisapan
peregangan serviks yang dapat aroma harum dapat menyebabkan
menyebabkan rasa nyeri yang terutama perubahan psikologis dan fisiologis
terasa pada bagian punggung, penekanan manusia. Tindakan terdahulu yang biasa
pada ganglia saraf yang berdekatan dilakukan dengan perasaan seperti
dengan serviks dan vagina, tarikan pada dengan memberikan harum-haruman
tuba, ovarium dan peritoneum, tarikan dengan harapan dapat menimbulkan efek
dan peregangan pada ligametum fisiologis11. Sebuah penelitian yang
penyangga, penekanan pada uretra, dilakukan oleh Lee S & Ming Ho (2006)
kandung kemih dan rektum, distensi otot- di 87 rumah bersalin di New Zealand,
otot dasar panggul dan perineum. 2 diperolehhasil bahwa sebanyak 60 % dari
Efektifitas Pemberian Aromaterapi rumah bersalin yang diteliti
Jasmine Terhadap Intensitas Nyeri Ibu menggunakan aromaterapi untuk
Bersalin Kala I Fase Aktif. mengurangi rasa nyeri selama persalinan.
Relaksasi merupakan salah satu metode

83
International Conference for Midwives (ICMid)

pengendalian nyeri yang sering 2. Yuliatun Laily. 2008. Penanganan


digunakan dan memberikan masukan Nyeri Persalinan dengan Metode
terbesar bagi seorang wanita. 12 Hal ini Nonfarmakologi. Batumedia :
sesuai dengan penelitian yang dilakukan Malang
oleh Bagharpoosh (2006) menunjukkan 3. Mousley, W. 2006. Aromatherapy
bahwa relaksasi sangat efektif untuk for Psikologist. Www.relactation-
mengurangi nyeri persalinan, merupakan health.com di akses pada 16 Januari
cara mudah yang dapat dilakukan, tanpa 2015 pukul 12.45 WIB
resiko dan hanya memerlukan sedikit 4. Kuriyama H, Watanabe S, Nakaya T,
biaya. 13 Hasil penelitian menunjukkan Shigemori I, Kita M, Yoshida N dkk.
aromaterapi jasmine efektif terhadap Immunological and Psychological
intensitas nyeri persalinan kala I fase Beneffits Of Aromatherapy Massage.
aktif. Hasil tersebut sesuai dengan Journal List. Evidence-Based
pendapat Harry & William (2006) (2008) Complementary and Alternative
yang mengungkapkan bahwa minyak Medicine 2005 Jun; 2(2):179-184 di
essensial jasmine dapat bermanfaat dalam akses pada 19 Maret 2015 pukul :
mengurangi nyeri.14 Pernyataan tersebut 11.45 WIB
juga diperkuat oleh Jeannie M (2009), 5. Handerson, C. 2006. Buku Ajar
bahwa jasmine mempunyai efek Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC
menenangkan, sehingga dapat 6. Andriana, E. 2007. Melahirkan
memberikan ketenangan, keseimbangan, Tanpa Rasa Sakit. Jakarta: PT
rasa nyaman dan keyakinan. Bhuana Ilmu Populer
7
Aromaterapi merupakan tindakan 7. Jeannie, M. 2009. Aromatherapy,
terapeutik dengan menggunakan minyak www.minyakherbal.com di akses
essensial yang bermanfaat untuk pada 20 Oktober 2014 pukul: 14.00
meningkatkan keadan fisik dan WIB
psikologis sehingga menjadi lebih baik. 8. Buckle, J. 2005. Clinical
Penelitian yang dilakukan oleh Mousley Aromatherapy Essential Oils in
W (2006) tentang penggunaan Practice. Second Edition: Churchill
aromaterapi di unit maternitas, bahwa Livingstone New York
dengan menggunakan aromaterapi dapat 9. Potter & Perry, 2006. Fundamental
memberikan efek relaksasi pada ibu Keperawatan Vol: 2. Jakarta: EGC
bersalin. 3 Sebuah studi yang dilakukan 10. Ethel E. Burs, Caroline Blame,
oleh Kuriyama, H. W (2006) bahwa Steven J.Ersser, Lin Barnetson, and
keuntungan penggunaan aromaterapi Andrew J Liyod. An Investigation
secara psikologis antara lain dapat into the Use of Aromatherapy in
menurunkan tingkat nyeri dan Inpartum Midwife Practice. The
kecemasan. Secara immunologi Journal of Alternatife and
aromaterapi dapat meningkatkan limfosit Complementary Mediciene.
pada pembuluh darah perifer. 4 September
2007,6(2):141147.doi10.1089/acm.2
SIMPULAN 000.6.141 di akses pada 19 Maret
Pemberian aromaterapi jasmine efektif pukul: 12.25 WIB
terhadap penurunan intensitas nyeri 11. Hutasoit, A. 2005. Aromatherapy
persalinan kala I fase aktif. untuk Pemula. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka
DAFTAR PUSTAKA 12. Sung Hee Lee. Effect of
1. Mander, R. 2005. Nyeri Persalinan. Aromatherapy Message on
Jakarta : EGC Depression, Self Esteem, Climacteric
Symptoms in the Middle Aged

84
International Conference for Midwives (ICMid)

Women. Korean J Women Health Medica Iranica 2006.44(3):187-190


Nurs. 2002 Jun; 8(2):278-288 diakses tanggal 16 Januari 2015.
Korean, di akses pada 19 Maret 2015 14. Harry & William, 2006. Mengatasi
pukul 13.00 WIB Nyeri Saat Bersalin.
13. M. Bagharpoosh, G. Sangestani M www.klinikkita.wordpress.com di
Goodarzi. Effect of Progressive akses pada 20 Oktober 2014 pukul:
Muscle Relaxation Technique on 13.45 WIB
Pain Relief During Labor. Acta

85
International Conference for Midwives (ICMid)

THE RELATIONSHIP BETWEEN PRENATAL EDUCATIONS THROUGH


CLASSES OF PREGNANT WOMEN AND CHILDBIRTH ASSISTED BY
HEALTH WORKERS IN ARGASUNYA VILLAGE OF CIREBON CITY IN
2015

Pepi Hapitria, Elfi


Program Studi Kebidanan Cirebon Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

ABSTRACT

Health development is one of the supporting elements to improve the Human Development
Index (HDI). Priorities of health development in the period of 2015 - 2019 are through three
pillars of ‘ProgramIndonesia Sehat’ / healthy Indonesia program, one of which is the
strengthening of health services based on continuum. Through the ‘Indonesia Sehat’
program, the priority effort that is taken includes the acceleration of declining in maternal
mortality ratio (MMR) through childbirth assisted by health personnel. According to the
Gender and Children Information System of BP3AKB of West Java Province (SIGA),
presentation of births according to labor assistance in the city of Cirebon in 2012 reached
55.8% by midwives and 71.90% by traditional birth attendants (TBAs). Government efforts
to improve sustainable maternal health services are by providing the allocation of funds
through the Operational Assistance of Performance (Bantuan Operasional Kinerja/BOK) for
the provision of classes of pregnant women in the hopes of positive behavior change so that
mothers check their pregnancy and childbirth at health professionals. Objective: To
determine the relationship of prenatal educations through Classes of Pregnant Women to
childbirth assisted by health personnel in the city of Cirebon in 2015. This was an
observational study with Retrospective Cohort design, using a quantitative approach
supported by qualitative data. The subjects were all pregnant women registered in the
maternal cohort registrars in 2014 and lived in the Village of Argasunya. Analysis of the
data used univariable and bivariable analysis with chi-square, 95% CI with a significance
level of p <0.05. There was no significant relationship between prenatal educations through
classes of pregnant women and childbirth assisted by health personnel (RR = 3.58, 95% CI =
0.89 to 14.39, p = 0.12).

Keywords: prenatal educations, classes of pregnant women, childbirth assisted by health


personnel

PENDAHULUAN Informasi Gender dan Anak BP3AKB


Pembangunan kesehatan merupakan salah Provinsi Jawa Barat (SIGA), presentasi
satu unsur penopang peningkatan Indeks kelahiran menurut pertolongan persalinan
Pembangunan Manusia (IPM). Prioritas di Kota Cirebon Tahun 2012 mencapai
pembangunan kesehatan pada periode 55,8% oleh bidan dan 71,90% oleh paraji.
2015 – 2019 melalui 3 pilar Program Upaya pemerintah untuk meningkatkan
Indonesia Sehat yang salah satunya pelayanan kesehatan ibu secara
adalah penguatan pelayanan kesehatan berkesinambungan menyediakan alokasi
yang berbasis continuum of care. Melalui dana melalui Bantuan Operasional
Program Indonesia Sehat, upaya prioritas Kinerja (BOK) untuk pengadaan kelas
yang ditempuh diantaranya percepatan ibu hamil dengan harapan terjadi
penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) perubahan perilaku positif sehingga ibu
dengan pertolongan persalinan oleh memeriksakan kehamilan dan melahirkan
tenaga kesehatan. Menurut Sistem

86
International Conference for Midwives (ICMid)

di tenaga kesehatan (Profil Dinkes Kota Menurut Totten et al. (2003)(5)


Cirebon, 2014)(1) pendidikan prenatal dapat mempengaruhi
Program kelas ibu hamil yang sudah perubahan perilaku gaya hidup yang
dilaksanakan di Puskesmas wilayah kerja positif pada wanita hamil, dapat
Dinas Kesehatan Kota Cirebon adalah meningkatkan pengetahuan yang
salah satu bentuk pendidikan prenatal berhubungan dengan kehamilan,
yang dapat meningkatkan pengetahuan perawatan bayi serta dapat meningkatkan
ibu hamil, sehingga harapannya terjadi kepercayaan ibu menghadapi persalinan
perubahan perilaku positif yang pada dan kelahiran bayi.
akhirnya ibu memeriksakan kehamilan Pendidikan kesehatan mempunyai
dan melahirkan di tenaga kesehatan. peranan penting dalam mengubah
Dengan demikian persalinan ke tenaga perilaku seseorang dan menimbulkan
kesehatan akan meningkat. Wanita hamil perilaku yang positif sehingga dapat
yang diberikan pendidikan kesehatan meningkatkan derajat kesehatan.
dapat meningkatkan kemampuannya menyatakan bahwa perilaku ditentukan
dalam merawat diri, dimana pendidikan oleh 3 faktor yaitu 1).Predisposing
tersebut sangat bermanfaat bagi wanita factors (factor predisposisi) mencakup
hamil. Pasinlioglu (2004)(2) pengetahuan, sikap, kepercayaan,
Pendidikan kesehatan mempunyai keyakinan, dan nilai-nilai dari seseorang.
peranan penting dalam mengubah 2).Enabling factors (faktor pendukung)
perilaku seseorang dan menimbulkan tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana
perilaku yang positif sehingga dapat kesehatan. 3). Reinforcing factor (faktor
meningkatkan derajat kesehatan. pendorong) adalah sikap, perilaku
menyatakan bahwa perilaku ditentukan petugas kesehatan, perilaku keluarga dan
oleh 3 faktor yaitu 1).Predisposing masyarakat Green & Kreuter (2000). (3)
factors (factor predisposisi) mencakup Salah satu intervensi untuk
pengetahuan, sikap, kepercayaan, perubahan perilaku dibidang kesehatan
keyakinan, dan nilai-nilai dari seseorang. dengan pendekatan pendidikan melalui
2).Enabling factors (faktor pendukung) proses pembelajaran sehingga terjadi
tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana peningkatan pengetahuan, kesadaran dan
kesehatan. 3). Reinforcing factor (faktor mau melakukan tindakan (praktik) untuk
pendorong) adalah sikap, perilaku memelihara dan meningkatkan kesehatan.
petugas kesehatan, perilaku keluarga dan Pendidikan kesehatan dapat diartikan
masyarakat Green & Kreuter (2000). (3) sebagai upaya yang terencana untuk
Salah satu intervensi untuk perubahan perilaku masyarakat sesuai
perubahan perilaku dibidang kesehatan dengan norma-norma kesehatan. Tujuan
dengan pendekatan pendidikan melalui pendidikan kesehatan pada prinsipnya
proses pembelajaran sehingga terjadi agar masyarakat berperilaku sesuai
peningkatan pengetahuan, kesadaran dan dengan nilai-nilai kesehatan
mau melakukan tindakan (praktik) untuk (Notoatmodjo, 2005).(4)
memelihara dan meningkatkan kesehatan. Menurut Totten et al. (2003)(5)
Pendidikan kesehatan dapat diartikan pendidikan prenatal dapat mempengaruhi
sebagai upaya yang terencana untuk perubahan perilaku gaya hidup yang
perubahan perilaku masyarakat sesuai positif pada wanita hamil, dapat
dengan norma-norma kesehatan. Tujuan meningkatkan pengetahuan yang
pendidikan kesehatan pada prinsipnya berhubungan dengan kehamilan,
agar masyarakat berperilaku sesuai perawatan bayi serta dapat meningkatkan
dengan nilai-nilai kesehatan kepercayaan ibu menghadapi persalinan
(Notoatmodjo, 2005).(4) dan kelahiran bayi.

87
International Conference for Midwives (ICMid)

Pendidikan prenatal dapat METODE


bermanfaaat bagi ibu hamil dan bayinya. Penelitian ini merupakan penelitian
Penelitian Warren, (2004) ibu hamil yang observasional analitik dengan rancangan
mengikuti kelas prenatal lebih percaya Retrospective Cohort untuk mengetahui
diri untuk melahirkan dan lebih sedikit hubungan antara paparan pendidikan
menggunakan pereda nyeri saat prenatal melalui kelas ibu hamil dengan
persalinan. Wanita hamil yang persalinan tenaga kesehatan. Faktor risiko
menghadiri kelas pendidikan mengalami dan efek telah terjadi pada masa lalu, efek
perubahan perilaku dalam yang terjadi tersebut ditelusur seolah olah
mempersiapkan kehamilan dan kelahiran. secara prospektif (Sastroasmoro &
Pendidikan prenatal merupakan Ismael, 2006) Variabel pada penelitian ini
pendidikan kesehatan yang berfokus pada terdiri dari variabel bebas (independent
ibu hamil. Pendidikan prenatal variable) yaitu pedidikan prenatal melalui
mempunyai tujuan sejalan dengan tujuan kelas ibu hamil) dan variabel terikat
Making Pregnancy Safer (MPS) agar ibu (dependent variable) persalinan oleh
hamil dapat melahirkan dengan aman dan tenaga kesehatan
lancar, sehingga dapat menurunkan Populasi penelitian ini adalah semua
kesakitan, kecacatan dan kematian ibu ibu hamil di Kelurahan Argasunya Kota
yang berhubungan dengan komplikasi Cirebon pada Tahun 2014. Sedangkan
kehamilan, persalinan, dan selama nifas. sampel dari penelitian ini adalah ibu
MPS mengharapkan agar ibu hamil, hamil pada Tahun 2014 di Kelurahan
melahirkan dan dalam masa setelah Argasunya Kota Cirebon dan memenuhi
persalinan mempunyai akses terhadap kriteria inklusi, ibu tinggal di Kelurahan
tenaga kesehatan yang terlatih, yaitu Argasunya, tercatat pada register kohort
profesi kesehatan yang terakreditasi, ibu pada Tahun 2014. Sedangkan kriteria
seperti bidan, dokter, atau perawat yang ekslusinya adalah ibu yang selama hamil
telah menempuh pendidikan dan dilatih memiliki penyakit berat seperti jantung,
menguasai keterampilan dalam mengelola ginjal, diabetes, hepatitis. Perkiraan besar
kehamilan, persalinan dan periode segera sampel dalam penelitian ini dihitung
setelah melahirkan serta dalam dengan menggunakan pengujian hipotesis
pengelolaan dan rujukan komplikasi pada perbedaan dua proporsi populasi
ibu dan anak (Hapsari, 2004).(6) (Lemeshow, et al., 1997) dengan rumus :
Depkes RI (2002) menyatakan n1 =n2 { Z1-α/2 √ [ 2P (1-P)] + Z 1-β √
persalinan yang ditolong oleh tenaga [P1 (1-P1 ) +P2 (1- P2)]}² / (P1 – P2)²
kesehatan dianggap memenuhi
persyaratan sterilitas dan aman, karena Keterangan:
bila terjadi komplikasi persalinan maka n = besar sampel
penanganan atau pertolongan pertama P = proporsi
pada rujukan dapat segera dilakukan. P1 = proporsi ibu mengikuti kelas ibu
Pada prinsipnya penolong persalinan hamil melahirkan dengan nakes (0,2)
harus memperhatikan sterilitas, P2 = proporsi ibu tidak mengikuti kelas
pencegahan infeksi, metode pertolongan ibu hamil melahirkan dengan nakes(0,5)
persalinan yang sesuai standar pelayanan Dihitung pada confidence interval (CI =
dan merujuk kasus yang memerlukan 95%); dan batas kemaknaan α = 0,05;
pelayanan yang lebih tinggi (Depkes, kuasa statistik (power) 80%, maka Z(1-
2004) α/2) = 1,96 dan Z (1-β) = 0,84
Estimasi proporsi untuk pendidikan kelas
ibu hamil tidak diketahui maka dalam hal
ini perkiraan besar sampel berdasarkan

88
International Conference for Midwives (ICMid)

pada perhitungan detectable alternative dan terarah. Tempat pelaksanaan kelas


menggunakan power and sample size ibu hamil di balai kampung atau di rumah
calculation versi 2.1.31 (Dupont and kader yang cukup memadai. Untuk
Plummer, 2003). Hasil perhitungan yang evaluasi terhadap kelas ibu hamil
diperoleh n=80 berdasarkan perhitungan dilakukan pre-test dan post-test setiap
tersebut sampel pada kelompok yang pertemuan, dimana ibu diminta untuk
mengikuti kelas ibu hamil sebanyak 31 mengisi angket untuk melihat
sampel dan pada kelompok yang tidak peningkatan pengetahuan ibu.
mengikuti kelas ibu hamil 31 sampel, Pengolahan data meliputi editing yaitu
maka total sampel adalah 62. Untuk tahapan untuk mengoreksi kelengkapan
mengantisipasi terjadinya lost followup, dan kejelasan data yang peneliti ambil
maka penambahan jumlah sampel sebesar dari buku kohort ibu tahun 2014 serta dari
30%, sehingga diperoleh jumlah sampel enumerator. Coding dengan
keseluruhan sebanyak 80 sampel. Adapun mengklasifikasikan berdasarkan katagori
cara pengambilan sampel penelitian yaitu masing-masing variabel dengan penilaian
secara non probability dengan teknik ya=0 dan tidak=1. Entry dengan
quota sampling yaitu peneliti membagi memasukan seluruh data menggunakan
populasi dalam kategori kemudian software computer yang sudah
memberikan jatah jumlah sampel untuk ditentukan. Terakhir adalah cleaning
masing-masing kategori. Penelitian ini Analisis data terdiri dari
mencakup Wilayah Kelurahan Argasunya univariabel dan bivariabel dengan
yang terdiri dari 11 RW, namun dari 11 menggunakan software program SPSS.
RW yang ada, 1 RW tidak melaksanakan Analisis univariabel untuk
kegiatan kelas ibu yaitu RW 06, sehingga menggambarkan variabel penelitian
untuk menentukan sampel penelitian dalam bentuk distribusi frekuensi
diperoleh dari perhitungan yaitu sebanyak sedangkan analisis bivariabel untuk
sampel dibagi dengan 10 RW dan mengetahui hubungan antara variabel
diperoleh masing-masing RW sebanyak 8 bebas dan variabel terikat dengan
subjek penelitian. menggunakan uji statistik x2 (chi square
Pelaksanaan kelas ibu hamil di lokasi test) dengan tingkat kemaknaan (α)=0.05.
penelitian sebagian besar sudah sesuai Untuk melihat besarnya risiko terjadinya
dengan paket kelas ibu hamil yaitu efek (outcome) dilihat dalam nilai
dengan cara tatap muka dan diskusi, Relative Risk (RR) dengan CI 95%
menyertakan 10 orang ibu hamil dengan (Murti, 2003)(7)
usia kehamilan lebih dari 5 bulan,
frekuensi pertemuan 3 kali dengan
kesepakatan 3 hari berturut-turut dalam
minggu yang sama dengan peserta yang
sama pula. Pelaksana kegiatan kelas ibu
hamil adalah bidan puskesmas terkait
yang sudah dilatih sebagai fasilitator dan
dosen Program Studi Kebidanan Cirebon
yang sedang melaksanakan pengabdian
masyarakat dan sudah terjadwal untuk
menyampaikan materi dalam pelaksanaan
kelas ibu hamil di Puskesmas Wilayah
Kelurahan Argasunya.
Penyampaian materi menggunakan
flipchart dan disampaikan secara jelas

89
International Conference for Midwives (ICMid)

HASIL PENELITIAN
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Variabel Penelitian
Pendidikan Prenatal melalui Kelas Ibu Hamil dengan Pertolongan Persalinan
oleh Tenaga Kesehatan di Kelurahan Argasunya Kota Cirebon Tahun 2014

Persentase
Variabel Jumlah = 80
(%)
Kelas Ibu Hamil
Mengikuti 40 50
Tidak 40 50
Mengikuti
Persalinan
Nakes 68 85
Non Nakes 12 15
Analisis: Pada tabel 1 terlihat bahwa penolong persalinan sebagian besar oleh tenaga
kesehatan.

Tabel 2
Distribusi Frekuensi Variabel Penelitian
Pendidikan Prenatal melalui Kelas Ibu Hamil dengan Pertolongan Persalinan oleh tenaga
kesehatan di Kelurahan Argasunya Kota Cirebon Tahun 2014

Kelas Penolong Persalinan


Ibu Nakes Dukun Persentase
Hamil N % n %
Ya 37 92,5 3 7,5 100
Tidak 31 77,5 9 22,5 100
Analisis: Pada tabel 2 terlihat bahwa sebagian besar penolong persalinan pada ibu hamil
yang mengikuti kelas ibu hamil adalah 92,5%. Analisis antara variabel bebas (pendidikan
prenatal melalui kelas ibu hamil) dan variabel terikat (persalinan oleh tenaga kesehatan)
menggunakan uji statistik X2 (chi square) dengan tingkat kemaknaan (α) = 0,05. Untuk
melihat besarnya risiko terjadinya efek (outcome) dilihat dalam nilai Relative Risk (RR)
dengan confidence interval (CI) 95%.

Tabel 3
Hubungan Pendidikan Prenatal melalui Kelas Ibu Hamil dengan Pertolongan Persalinan oleh
Tenaga Kesehatan di Kelurahan Argasunya Kota Cirebon Tahun 2014.

Kelas Penolong Persalinan


RR
Ibu Nakes Dukun Ρ
(CI 95%)
Hamil n % n %
Ya 37 92,5 3 7,5 3,58
0,12 0,89 – 14,39
Tidak 31 77,5 9 22,5

90
International Conference for Midwives (ICMid)

Analisis: Pada Tabel 3 menunjukkan sakit saat persalinan, sehingga


bahwa tidak terdapat hubungan yang kekhawatiran ibu hamil berkurang.
bermakna antara pendidikan prenatal Tujuan lainnya dari kelas ibu hamil ini
melalui kelas ibu hamil dengan adalah ibu hamil bisa segera mengerti
pertolongan persalinan dengan dengan tanda-tanda bahaya kehamilan dan bisa
p-value> 0,05 yaitu 0,12 dengan nilai segera berkonsultasi ketenaga kesehatan
RR=3 (CI 95%= 0,89-14,39). sehingga dapat melahirkan dengan aman
(Savitri dkk, 2003).(9)
DISKUSI Hasil penelitian pada Tabel 3
Dari hasil penelitian ini pada Tabel 1 menunjukkan bahwa tidak terdapat
diperoleh bahwa mayoritas penolong hubungan yang bermakna antara
persalinan adalah tenaga kesehatan (85%) pendidikan prenatal melalui kelas ibu
dan penolong peralinan oleh dukun hamil dengan pertolongan persalinan
sebanyak 15%. Salah satu kasus dengan p-value> 0,05 yaitu 0,12 dengan
kesehatan yang masih banyak terjadi di nilai RR=3 (CI 95%= 0,89-14,39). Pada
Indonesia adalah persalinan dengan hasil penelitian ini didapatkan hasil
pertolongan oleh dukun bayi. bahwa pada kelompok ibu hamil yang
Kenyataannya, hampir semua masyarakat mengikuti kelas ibu hamil, penolong
Indonesia baik itu yang tinggal di persalinan sebagian besar ditolong oleh
perdesaan maupun perkotaan lebih tenaga kesehatan, namun masih ada ibu
senang ditolong oleh dukun. Hal tersebut yang mengikuti kegiatan kelas ibu hamil
disebabkan oleh tradisi dan adat istiadat tapi bersalin ditolong oleh dukun bayi.
setempat. Rina A (2009) (8) Hal ini banyak terjadi pada ibu hamil
Hasil penelitian pada Tabel 2 yang berdomisili di Desa Cibogo (RW.
menunjukkan bahwa penolong persalinan 09). Berdasarkan hasil wawancara
oleh tenaga kesehatan pada ibu hamil terhadap enumerator (bidan) dan bidan
yang mengikuti kelas ibu hamil adalah koordinator, bahwa persalinan yang
92,5% sedangkan penolong persalinan ditolong oleh dukun di Desa Cibogo
oleh tenaga kesehatan pada ibu yang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu
tidak mengikuti kelas ibu hamil sebanyak faktor demografi dimana daerah tersebut
77,5%. pendidikan kesehatan berperanan merupakan daerah tambang pasir, tidak
penting dalam mengubah prilaku bisa dilalui oleh kendaraan roda empat,
seseorang dan menimbulkan perilaku jarak antar rumah berjauhan, kepercayaan
yang positif sehingga dapat tidak boleh mengikuti pelayanan KB dan
meningkatkan derajat kesehatan. masih terdapat dukun yang aktif (3
Sedangkan menurut (5)pendidikan orang). Hal lain yang mungkin sebagai
prenatal dapat mempengaruhi perubahan penyebab adalah tidak adanya bidan yang
perilaku gaya hidup yang positif pada menetap di desa tersebut.
wanita hamil, dapat meningkatkan Keberadaan bidan di desa akan
pengetahuan yang berhubungan dengan memberikan kontribusi pemanfaatan
kehamilan, perawatan bayi serta dapat tenaga kesehatan karena persalinan bisa
meningkatkan kepercayaan ibu setiap saat terjadi baik siang maupun
menghadapi persalinan dan kelahiran malam, sehingga keberadaan bidan di
bayi. Green & Kreuter, (2000)(3) tempat memudahkan untuk meminta
Dengan kelas ibu hamil ini ibu pertolongan yang cepat dan terjangkau.
mendapat pengetahuan mengenai Hal tersebut sependapat dengan
kehamilan, persalinan, keadaan tidak pernyataan bahwa idealnya tenaga
menyenangkan serta tidak nyaman kesehatan terlatih tinggal dan merupakan
selama hamil dan cara mengurangi rasa

91
International Conference for Midwives (ICMid)

bagian dari masyarakat yang dilayaninya SIMPULAN


(WHO, 2003)(10) 1. Proporsi ibu yang melahirkan yang
Penelitian yang dilakukan oleh ditolong oleh tenaga kesehatan lebih
Lestari R.D (2014) mengatakan bahwa besar pada ibu yang mengikuti kelas
faktor yang mempengaruhi masyarakat ibu hamil bila dibandingkan dengan
memilih bersalin menggunakan tenaga yang tidak mengikuti kelas ibu
non kesehatan (dukun) adalah Faktor hamil.
ekonomi yang relatif murah, jarak 2. Tidak terdapat hubungan yang
tempuh yang dekat dan dukun selalu ada bermakna antara keikutsertaan ibu
24 jam. Dukun membantu sampai 40 hari dalam pendidikan prenatal melalui
setelah melahirkan. Jarak tempuh kelas ibu hamil dengan pertolongan
puskesmas yang jauh, puskesmas tidak 24 persalinan oleh tenaga kesehatan.
jam, kurangnya pengetahuan dan
informasi tentang pentingnya bersalin DAFTAR PUSTAKA
menggunakan tenaga kesehatan, serta 1. Profil Dinas Kesehatan Kota
kurangnya informasi tentang dampak atau Cirebon. Laporan tahunan tahun
bahaya persalinan menggunakan dukun 2014. Cirebon: Dinkes Kota; 2014.
membuat mereka mengabaikan apa yang 2. Pasinlioglu T. Health education for
mereka ketahui. pregnant women the role of
Menurut penelitian yang dilakukan background charateristics2004.
oleh Warren, (2004)(11) bahwa ibu hamil 3. Green LW, Kreuter MW. Health
yang mengikuti kelas prenatal lebih promotion planning an educational
percaya diri untuk melahirkan dan lebih and environmental approach.
sedikit menggunakan pereda nyeri saat London: Mayfield; 2000.
persalinan. Wanita hamil yang 4. Notoatmodjo S. Promosi kesehatan
menghadiri kelas pendidikan mengalami teori dan aplikasi. Masyarakat
perubahan perilaku dalam PPPTKoPPJPK, editor. Jakarta: PT
mempersiapkan kehamilan dan kelahiran. Rineka Cipta; 2005.
Spiby et al. (1999) (12) menyimpulkan 5. Totten S, Connor KS, Choremiotis
sedikit apapun informasi diperoleh ibu P, Jeswiet J, Macrae K. Evaluation
hamil pada kelas antenatal akan of the KFL & A health unit prenatal
bermanfaat untuk persiapan psikologi education program. In: program
serta mengurangi stress saat melahirkan Phred, editor.: Public Health
Peneliti berpendapat bahwa beberapa Research Education &
kemungkinan lain yang menyebabkan Development Program; 2003.
tidak adanya hubungan yang bermakna 6. Hapsari ED. Kontribusi penting
antara pendidikan prenatal melalui kelas menyelamatkan persalinan sehat
ibu hamil dengan pertolongan persalinan dan buku KIA. Jakarta2004.
adalah paritas dan budaya. Bila dilihat 7. Murti B. Prinsip dan metode riset
dari responden, ibu yang bersalin dengan epidemiologi. Yogyakarta: Gadjah
ditolong oleh dukun bayi adalah ibu yang Mada University Press; 2003.
paritasnya 8 dan 12. Bila melihat riwayat 8. Rina A. Dukun Bayi dalam
persalinan yang lalu, ke dua ibu bersalin Persalinan oleh Masyarakat
tersebut ditolong oleh dukun bayi. Indonesia. Maliara Kesehatan,
Kemungkinan lain yaitu keterlibatan Departemen Promosi Kesehatan dan
orang tua yang menganjurkan anaknya Ilmu Perilaku. 2009;13.
untuk bersalin di dukun bayi.

92
International Conference for Midwives (ICMid)

COMPARISON PAIN INTENSITY ON ACTIVE PHASE I PRIMIPARAS


AND MULTIPARAS GIVEN HYPNOBIRTHING THERAPY IN
MATERNITY CLINIC MEDAN

Lolita Nugraeny, Juita Sari, Purnama Handayani


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Rumah Sakit Haji Medan

ABSTRAK

Hypno-birthing merupakan upaya alami menanamkan niat positif/sugesti ke jiwa/pikiran


bawah sadar dalam menjalani masa kehamilan dan persiapan persalinan. Tujuan penelitian
ini adalah untuk mengetahui perbandingan teknik hypnobirthing terhadap intensitas nyeri
pada ibu bersalin primipara dengan multipara kala I fase aktif di Klinik Bersalin.Jenis
penelitian ini bersifat quasi eksperiment dengan menggunakandesain posttest only control
group design. Populasi dalam penelitian ini di Klinik Bersalin Sumiariani adalah
keseluruhan ibu bersalin primipara dan multipara kala I fase aktif yang menggunakan teknik
hypnobirthing. Sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling pada
ibu bersalin primipara sebanyak 12 orang dan pada ibu bersalin multipara sebanyak 12 orang
yang diberi perlakuan teknik hypnobirthing. Pengumpulan data menggunakan lembar
observasi dengan analisis data uji t. Mayoritas ibu inpartu primiparaberada pada tingkat nyeri
sedang sebanyak 10 responden (83,3%) sedangkan pada ibu inpartu multipara berada pada
tingkat nyeri ringan sebanyak 9 responden (75,0%). Perbandingan tingkat nyeri pada ibu
inpartu primipara dengan multipara kala I fase aktif yang diberi perlakuan teknik
hypnobirthing dengan Uji T Independen nilai thitung sebesar 5,234 dan nilai p value 0,000 (p >
0,05). Terdapat perbandingan intensitas nyeri pada Ibu bersalin primipara dengan multipara
kala I fase aktif yang diberikan terapi Hypnobirthing Di Klinik Bersalin Sumiariani Medan.
Diharapkan kepada perawat/bidan dapat membantu kebutuhan ibu akan rasa nyaman dalam
pengontrolan nyeri secara non farmakologis saat memberikan pertolongan persalinan dengan
menerapkan teknik hypnobirthing.

Kata kunci: Hypnobirthing, Nyeri, Persalinan

PENDAHULUAN
Persalinan dan kelahiran merupakan bahwa pada masyarakat yang telah maju
kejadian fisiologis yang normal. Kelahiran 7-14% bersalin tanpa rasa nyeri dan
seorang bayi juga merupakan peristiwa sebagian besar (90%) persalinan disertai
sosial yang ibu dan keluarga rasa nyeri (Nuraisyah, 2012).
menantikannya selama 9 bulan. Ketika Rasa nyeri pada persalinan dapat
persalinan dimulai, peranan ibu adalah menyebabkan perubahan fisiologi tubuh,
melahirkan bayinya. Peran petugas seperti kenaikan tekanan darah, kenaikan
kesehatan adalah memantau persalinan denyut jantung, dan kenaikan laju
untuk mendeteksi dini adanya komplikasi pernafasan, apabila tidak segera diatasi
di samping itu bersama keluarga maka keadaan ini akan meningkatkan rasa
memberikan bantuan dan dukungan pada khawatir, tegang, takut dan stress (Bobak,
ibu bersalin (Rukiyah, 2009). 20015, Cuningham, 2004)
Persalinan juga disertai rasa nyeri Partus macet atau lama yang dialami
yang membuat kebahagiaan yang selama persalinan salah satunya
didambakan diliputi oleh rasa takut dan disebabkan oleh lemahnya koping ibu
cemas. Beberapa penelitian menunjukkan terhadap rasa nyeri yang dialami selama

93
International Conference for Midwives (ICMid)

persalinan.Nyeri persalinan dialami Childbirth Without Fear pada tahun1944.


hampir sekitar 90% ibu bersalin. Nyeri Terapi hypno-birthing selanjutnya
tersebut dialami oleh primipara dan dikembangkan oleh marie mongan,
multipara. Intensitas nyeri persalinan pada pendiri Hypnobirthing institute pada tahun
primipara lebih berat dikarenakan 1959 (Chandyy, 2011).
intensitas kontraksi lebih berat, terutama Hypnobirthing mengekspolarasi
pada kala I. Hal tersebut disebabkanoleh mitos bahwa rasa sakit adalah hal yang
penipisan serviks primipara terjadi lebih wajar dan dibutuhkan saat melahirkan
dahulu dari pada dilatasi serviks. Selain normal. Wanita yang melahirkan terbebas
itu, primipara belum memiliki dari rasa takut, otot tubuhnya, termasuk
pengalaman terhadap nyeri persalinan otot rahim, akan mengalami relaksasi
sebelumnya yang menimbulkan yang membuat proses kelahiran jadi lebih
ketegangan emosi dan cemas sehingga mudah dan bebas stres. Hypnobirthing
memperberat persepsi nyeri (Yuliatun, bertujuan agar ibu dapat melahirkan
2008). dengan nyaman, cepat dan lancar dan
Penatalaksanaan kebidanan terhadap menghilangkan rasa sakit melahirkan
nyeri persalinan digali dengan tanpa bantuan obat bius apapun. Metode
menggunakan sampel sebanyak 4171 ini juga lebih menekankan melahirkan
pasien yang mengalami kelahiran dirumah dengan cara positif, lembut, aman dan
sakit yang ditolong oleh perawat-bidan bagaimana mencapainya dengan mudah.
pada sembilan rumah sakit di Amerika Hypnobirthing terbukti mampu menjawab
Serikat tahun 1996. Kira-kira 90% dari kekhawatiran ibu hamilpada wanita yang
wanita yang bersalin yang dipilih mengikuti Hypnobirthing prenatal class
menggunakan beberapa tipe lama Kala II adalah 1 jam (Nuraisyah,
penatalaksanaan nyeri untuk persalinan. 2012).
Banyak memilih melalui susunan metode Berdasarkan studi pendahuluan tahun
nonfarmakologis dengan atau tanpa 2010-2013 sekitar 380 kelahiran dengan
farmakologis. Sesuai harapan, metode menggunakan teknik hypnobirthing di
nonfarmakologis adalah pilihan yang Klinik Sumiariani, dan pada tahun 2014
disukai (Nuraisyah, 2012). terdapat peningkatan kelahiran sekitar 240
Di beberapa negara seperti Amerika kelahiran yang menggunakan tehnik
Serikat telah dikembangkan metode non- hypnobirthing.
farmakologis untuk menghadapi Pada ibu bersalin primigravida lebih
persalinan yaitu metode hypnobirthing. cenderung mengalami rasa nyeri yang
Metode ini merupakan metode alamiah berlebihan dibandingkan dengan ibu yang
yang digunakan untuk menghilangkan multigravida. Berdasarkan hal tersebut
rasa takut, panik, tegang dan tekanan- penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
tekanan lain yang menghantui ibu selama perbandingan intensitas nyeri pada Ibu
persalinan (Martalisa, 2003). bersalin primipara dengan multipara kala I
Hypnobirthing merupakan kombinasi fase aktif yang diberikan terapi
antara proses kelahiran alami dengan Hypnobirthing.
hipnosis untuk membangun persepsi Dalam menghadapi proses
positif dan rasa percaya diri serta persalinan, seperti data yang ditemukan
menurunkan ketakutan, kecemasan, dalam penelitian yang dilakukan oleh
tegang dan panik sebelum, selama dan Shawn Gallagher pada tahun 2001 yang
setelah persalinan. Hypnobirthing menyebutkan bahwa fase aktif pada
dicetuskan berdasarkan buku yang di tulis wanita nulipara 12 jam, sementara pada
oleh pakar ginekologi, Dr.Grantly Dick- wanita yang mengikuti Hypnobirthing
Read, yang mempublikasikan buku prenatal class fase aktifnya 4,5 jam.

94
International Conference for Midwives (ICMid)

Sementara Kala II (kala pengeluaran) HASIL DAN PEMBAHASAN


pada nulipara rata-rata 2 jam. 1. Intensitas nyeri pada ibu bersalin
primipara kala I fase aktif
METODE PENELITIAN diberikan teknik hypnobirthing
Jenis penelitian yang digunakan dalam Berdasarkan data hasil penelitian
penelitian ini adalah jenis penelitian quasi di atas didapatkan bahwa tingkat nyeri
eksperiment atau percobaan (experiment yang paling banyak dialami ibu
research). Desain penelitan ini inpartu primipara kala I fase aktif
menggunakan desain posttest only control dengan perlakuan teknik
group design yang mana pada desain hypnobirthing berada pada tingkat
rancangan preeksperimental dengan nyeri sedang sebanyak 10 responden
menambah kelompok kontrol, dengan cara (83,3%) dengan rata-rata 5,00, median
setelah perlakuan dilakukan pengamatan 5,00 (sedang) dan Std.Deviation 1,128.
pada kelompok perlakuan dan pada Hal ini terlihat dari hasil observasi
kelompok kontrol dilakukan pengamatan rata-rata ibu primipara terlihat dari
saja. wajah yang meringis, merintih,
Prosedur pengumpulan data diperoleh menggeliat. Menurut asumsi peneliti
dengan mengidentifikasi ibu yang ingin hal ini karena ibu terlalu takut dan
bersalin kemudian melihat ibu klinik panik, dan tidak merasa tenang
memberi perlakuan hanya pada satu walaupun sudah diberikan teknik
kelompok yaitu ibu-ibu yang bersalin, hypnobirthing. Hal ini disebabkan
penelitian dilakukan selama 28 hari. responden primipara belum pernah
Selanjutnya ibu yang bersalin akan terus mengalami proses persalinan
di observasi bagaimana tingkat nyerinya sebelumnya sehingga dimungkinkan
pada saat kontraksi berlangsung selama responden belum mempersiapkan
proses persalinan. Pada tahap awal pada untuk mengurangi rasa nyeri.
fase laten, ibu tidak diobservasikan, Hal ini sejalan dengan penelitian
peneliti hanya melihat bagaimana tingkat yang dilakukan oleh Iin Nur Azizah
nyeri dan kontraksi pada fase tersebut. (2011) dalam dengan judul pengaruh
Pada fase aktif, peneliti langsung endorphin massage terhadap intensitas
mengobservasikan bagaimana tingkat nyeri Kala I persalinan normal ibu
nyeri dalam adanya kontraksi pada fase primipara di BPS S dan B demak
tersebut. Pada saat mengobservasikan tahun 2011. Penelitian tersebut
intensitas nyeri pada kala I fase aktif dari menunjukan bahwa hasil penelitian
pembukaan 4 cm sampai 10 cm pada diketahui bahwa p value = 0,000, hal
primipara memerlukan waktu penelitian ini menunjukan bahwa ada pengaruh
selama 6 jam sedangkan pada multipara endorphin massage terhadap intensitas
memerlukan waktu selama 4 jam. nyeri kala I persalinan normal ibu
Instrument penelitian ini menggunakan primipara di BPS S dan B Demak
lembar observasi yang bertujuan untuk bahwa ada (p < 0,05), dikarenakan
mengobservasikan intensitas nyeri pada Mekanisme persalinan yang terjadi
kala I fase aktif yang diberikan terapi pada responden dapat memodifikasi
hypnobirthing di Klinik Bersalin dan merubah sensasi nyeri yang
Sumiariani..Lembar observasi ini datang sebelum mereka sampai di
digunakan untuk melihat perbandingan kortek serebri sehingga menimbulkan
intensitas nyeri pada ibu bersalin persepsi nyeri. Hal ini sesuai dengan
primipara dengan multipara kala I fase teori Perry & Potter (2005), berabut
aktif yang diberikan terapi hypnobirthing. kecil mentransmisikan sensasi nyeri
yang keras yang mempunyai reseptor

95
International Conference for Midwives (ICMid)

berupa ujungujung saraf bebas di kulit 3,00 (ringan) dan Std.deviation 0,793.
dan struktur dalam seperti tendon, otot Terlihat dari hasil observasi ekspresi
dan alat-alat dalam. Sedangkan serabut wajah yang tidak mencari perhatian,
besar mentransmisikan sensasi terlihat lebih rileks, posisi normal. Hal
sentuhan, getaran, suhu hangat dan ini disebabkan responden multipara
tekanan halus. pernah mengalami proses persalinan
Nyeri persalinan adalah sebelumnya sehingga dimungkinkan
merupakan pengalaman subjektif responden lebih mempersiapkan untuk
tentang sensasi fisik yang terkait mengurangi rasa nyeri sebagaimana
dengan kontraksi uterus, dilatasi dan dalam penjelasan tentang pengalaman
penipisan serviks, serta penurunan masa lalu. Bahwa seseorang yang telah
janin selama persalinan. Respon mengalami nyeri berulang dan berhasil
fisiologis terhadap nyeri meliputi mengatasinya maka orang tersebut
peningkatan tekanan darah, denyut akan lebih mudah menginterpretasikan
nadi, pernapasann, keringat, diameter perasaaan nyeri sehingga klien
pupil, dan ketegangan otot (Firdayanti, mempunyai persiapan yang lebih baik
2009). Faktor-faktor yang untuk menghadapi perasaan nyeri
mempengaruhi nyeri : persepsi nyeri selanjutnya.
bervariasi tergantung pada keadaaan Hal ini sejalan dengan penelitian
emosional ibu, dukungan mental yang dilakukan oleh Heny Ekawati
selama persalinan dapat membuat ibu (2014) dalam dengan judul hubungan
tenang dan relaksasi, memperbolehkan teknik hypnobirthing terhadap
ibu berjalan-jalan atau mengubah penurunan skala nyeri pada proses
posisi yang nyaman sesuai dengan persalinan kala 1 di wilayah kerja
kehendak ibu, pendamping persalinan puskesmas sugio kabupaten lamongan.
dapat membantu, teknik relaksasi. Penelitian tersebut menunjukan bahwa
Persepsi nyeri yang tergantung pada sebagian besar ibu bersalin yang
latar belakang sosial budaya, koping dilakukan teknik hypnobirthing,
mekanisme, ketegangan emosi : sebagian besar mengalami nyeri
cemas, takut dan panik, paritas sedang atau 76,5%, dikarenakan telah
(pengalaman melahirkan sebelumnya), menggunakan teknik hypnobirthing
pengalaman penganiayaan, komplikasi dan dalam kondisi tenang.sehingga ibu
kehamilan (Hutahaean, 2009). dapat mengendalikan nyeri. ibu yang
Hal ini sesuai dengan penelitian Indria telah terlatih teknik hypnobirthing
Astuti dan Noviyanti bahwasannya dalam persalinan tanpa menggunakan
terdapat pengaruh yang signifikan obat anastesi dan minim dalam
dengan tingkat nyeri dan kemajuan penggunaan alat dalam persalinan.
persalinn pada ibu bersalin dengan nila Sebagian besar ibu bersalin mengalami
p berturut-turut (Seajom, 2015). nyeri sedang atau 65%. Pada kala 1
2. Intensitas nyeri pada ibu bersalin akan timbul HIS yang menyebabkan
multipara kala I fase aktif diberikan nyeri, dan mengeluarkan lendir yang
teknik hypnobirthing bercampur darah ini berasal dari lendir
Berdasarkan data hasil penelitian kanalis servikalis karena servik mulai
di atas didapatkan bahwa pada ibu membuka atau mendatar. Nyeri pada
inpartu multipara kala I fase aktif persalinan ditimbulkan oleh regangan,
dengan perlakuan teknik tekanan serta robekan struktur-struktur
hypnobirthing berada pada tingkat local. Sebagian besar nyeri
nyeri ringan sebanyak 9 responden diakibatkan oleh dilatasi servik dan
(75,0%) dengan rata-rata 2,92, median regangan segmen bawah rahim,

96
International Conference for Midwives (ICMid)

kemudian akibat distensi mekanik, sehingga dapat disimpulkan adanya


regangan dan robekan selama perbandingan teknik hypnobirthing
kontraksi. Intensitas nyeri terhadap intensitas nyeri pada ibu bersalin
berhubungan dengan kekuatan primipara dengan multipara kala I fase
kontraksi dan tekanan yang aktif di klinik bersalin sumiariani medan
ditimbulkan. Kontraksi isometrik pada johor tahun 2015.
uterus melawan hambatan oleh servik Perbedaan nyeri persalinan
dan perineum juga dapat menambah antara multipara dan primipara juga dapat
intensitas nyeri. disebabkan oleh adanya perbedaan
Nyeri berkaitan dengan kala I mekanisme pembukaan serviks yaitu pada
persalinan adalah unik dimana nyeri primipara ostium uteri internum akan
ini menyertai proses fisiologis normal. membuka lebih dahulu sehingga serviks
Meskipun persepsi nyeri dalam akan mendatar dan menipis, sedangkan
persalinan berbeda-beda diantara pada multipara ostium uteri internum
wanita, terdapat suatu dasar fisiologis sudah sedikit membuka ostium uteri
terhadap rasa tidak nyaman/nyeri internum dan eksternum serta penipisan
selama persalinan. Nyeri selama kala I dan pendataran serviks terjadi dalam saat
persalinan berasal dari: Dilatasi yang sama (Rukiyah, 2009), sehingga
serviks, dimana merupakan sumber nyeri pada multipara cenderung lebih
nyeri yang utama, Peregangan segmen ringan dibanding dengan primipara. Hal
uterus bawah , Tekanan pada struktur- ini sejalan dengan penelitian yang
struktur yang berdekatan, Hipoksia dilakukan oleh Jusri Adam dan J. M. L
pada sel-sel otot uterus selama Umboh (2015) dalam dengan judul
kontraksi. Area nyeri meliputi dinding Hubungan antara Umur, Parietas dan
abdomen bawah dan area-area pada Pendampingan Suami dengan Intensitas
bagian lumbal bawah dan sakrum atas Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif
(Maryunani, 2010). Deselarasi di Ruang Bersalin RSUD Prof.
3. Perbandingan Intensitas Nyeri Pada Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo.
Ibu Bersalin Primipara Dengan Penelitian tersebut menunjukan bahwa
Multipara Kala I Fase Aktif Yang Berdasarkan tabulasi silang yang
Diberikan Terapi Hypnobirthing dilakukan antara parietas dengan
Berdasarkan analisis uji T intensitas nyeri didapatkan 25 orang ibu
Independen nilai thitung sebesar 5,234 dan primipara, 1 orang ibu (1,6%) mengalami
rata-rata pada ibu bersalin primipara intensitas nyeri sedang dan 24 orang ibu
sebesar 5,00 sedangkan pada ibu bersalin (38,1%) mengalami intensitas nyeri berat
multipara sebesar 2,92 dengan sedangkan 38 orang ibu multipara, 25
perbandingan intensitas nyeri pada ibu orang (39,7%) mengalami intensitas nyeri
bersalin primipara dengan multipara yang sedang dan 13 orang (20,6%) mengalami
diberikan terapi hypnobirthing dengan intensitas nyeri berat. Hasil analisis uji
perbandingan intensitas nyeri pada ibu Chi-Square didapatkan nilai ρ Value 0,000
bersalin primipara dengan multipara yang (α < 0,05). Didapatkan bahwa nilai P
diberikan teknik hypnobirthing. Intensitas hitung ternyata lebih kecil dari harga kritis
nyeri pada ibu bersalin primipara lebih yang ditentukan, sehingga ditarik
tinggi setelah diberikan teknik kesimpulan bahwa hipotesis Ho ditolak
hypnobirthing dibandingkan dengan dan Ha diterima.Hasil analisis tersebut
intensitas nyeri ibu bersalin multipara menunjukkan terdapat hubungan yang
setelah diberikan teknik hypnobirthing. bermakna antara parietas dengan
Dengan nilai p value 0,000 (<0,05), Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase
artinya Ho ditolak dan Ha diterima, Aktif Deselarasi. Menurut peneliti adanya

97
International Conference for Midwives (ICMid)

hubungan antara parietas dengan dari self hypnosis yang bertujuan untuk
intensitas nyeri yang dirasakan ibu pada membuat proses melahirkan menjadi
persalinan kali I fase aktiv deseleratif sesuatu yang membahagiakan, tanpa
karena ibu primipara memang belum adanya rasa sakit berlebihan (Muhepi,
pernah mempunyai pengalaman Murtiningsih, 2012).
melahirkan termasuk pengalaman nyeri Teknik ini berguna untuk kesehatan
waktu persalinan yang mengakibatkan jiwa janin. Dalam persalinan, rasa nyeri
sulit untuk mengantisipasinya. Selain itu dapat terabaikan dengan relaksasi dan
proses melahirkan yang tidak sama visualisasi, karena dengan pemusatan
dengan multipara, karena pada primipara perhatian pada satu hal saja pada satu
proses penipisan biasanya terjadi lebih waktu. Kondisi rileks memunculkan
dulu daripada dilatasi serviks. Sedangkan endorphin sebagai anestesi alami yang
pada multipara proses penipisan dan menggantikan hormon pemicu rasa sakit
dilatasi serviks terjadi bersamaan. (Gunawan,2007). Teori gate control dari
Pengaruh ini disebabkan oleh adanya Melzack dan Wall (1965) mengusulkan
pengalaman sebelumnya yang dirasakan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau
oleh ibu multipara dimana pengalaman ini dihambat oleh mekanisme pertahanan di
merupakan salah satu factor yang dapat sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini
menyebabkan intensitas nyeri yang mengatakan bahwa impuls nyeri
dirasakan individu berbeda. dihantarkan saat sebuah pertahanan
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dibuka dan impuls dihambat saat sebuah
dilakukan oleh Zaenal Arifin, dkk (2012) pertahanan tertutup. Upaya menutup
dalam dengan judul perbedaan pertahanan tersebut merupakan dasar teori
hypnobirthing dan counter-pressure dalam menghilangkan nyeri (Arifin, 2012).
menurunkan rasa nyeri saat persalinan Manfaat teknik hypnobirthing
kala I. Observasi skala nyeri pada pasien menjelang persalinan : Melatih relaksasi
yang ditolong menggunakan metode untuk mengurangi kecemasan serta
hypnobirthing saat persalinan yang ketakutan menjelang persalinan yang
mengalami nyeri berat terkontrol saat dapat menyebabkan ketegangan, rasa
pertolongan persalinan dengan nyeri, dan sakit saat persalinan, Mampu
menggunakan hipnobirthing sebanyak mengontrol sensasi rasa sakit pada saat
48.8% dan yang mengalami nyeri sedang kontraksi rahim, Meningkatkan kadar
saat persalinan dengan metode endorfin dalam tubuh untuk mengurangi,
hypnobrthing sebanyak 14,4% serta yang bahkan menghilangkan rasa nyeri pada
mengalami nyeri ringan sebanyak 35,8%. saat kontraksi dan persalinan (Kuswandi,
Hal ini menunjukkan bahwa ada 2011).
penurunan nyeri yang cukup nyata bila Metode ini digunakan untuk
pasien yang sedang bersalin dilakukan mengurangi rasa takut, panik, tegang, dan
tindakan hypnobirthing. tekanan-tekanan lain yang menghantui ibu
Hypno-birthing merupakan salah satu dalam proses persalinan. Hypnobrthing
teknik otohipnosis (self hypnosis), yaitu dapat dilakukan dari sejak awal masa
upaya alami menanamkan niat kehamilan, paling tepat adalah pada
positif/sugesti ke jiwa/pikiran bawah trimester pertama. Latihan relaksasi akan
sadar dalam menjalani masa kehamilan berdampak positif bagi janin dan
dan persiapan persalinan. Dengan kestabilan emosi ibu. Walaupun
demikian, setiap ibu hamil dapat Hypnobirthing paling baik dimulai saat
menikmati indahnya masa kehamilan dan trimester pertama kehamilan, namun tidak
lancarnya proses persalinan (Kuswandi, menutup kemungkinan untuk melatih
2011). Hypnobirthing merupakan bagian metoda ini ditrimester akhir. Ibu tetap

98
International Conference for Midwives (ICMid)

akan diajarkan untuk mencapai kondisi 3. Asosiasi Pendidikan Kebidanan


rileks seperti jika mengikuti latihan dari Indonesia, The Southeast Asian
trimester pertama, namun mungkin waktu Journal of Midwifery, vol.1, No. 1,
untuk melatih akan lebih singkat karena 2015.
masa kelahiran telah dekat.selain janin 4. Astuti, DKK. 2015. Pengaruh
dan ibu yang sehat, dan persalinan lancar, Hypnobirthing Terhadap Tingkat
hypnobirthing juga memberikan manfaat Nyeri Dan Kemajuan Persalinan Pada
plus, yaitu mencegah kelelahan yang Ibu Bersalin Di Bpm Kota Cimahi.
berlebihan pasca persalinan, Journal-aipkind.or.id. dibuka tanggal
meminimalkan penggunaan anastesi, 23 Oktober 2015
mengurangi penggunaan alat/tindakan, 5. Chandyy, Dhery. 2011. Melahirkan
mempercepat proses pemulihan Tanpa Rasa Sakit. Jogjakarta : Buku
persalinan, dan membantu kelancaran Biru.
produksi ASI (Ekawati, 2014) 6. Firdayanti. Terapi Nyeri Persalinan
Non Farmakologis. Jurnal Kesehatan.
SIMPULAN Tahun 2009, Nomor 4.
Berdasarkan hasil penelitian tentang 7. Heny Ekawati.2014. Hubungan Teknik
perbandingan intensitas nyeri pada ibu Hypnobirthing Terhadap Penurunan
bersalin primipara dengan multipara kala I Skala Nyeri Pada Proses Persalinan
fase aktif yang diberikan terapi Kala 1 Di Wilayah Kerja Puskesmas
hypnobirthing dapat disimpulkan : Sugio Kabupaten Lamongan.
1. Tingkat nyeri yang paling banyak Stikesmuhla.ac.id. dibuka tanggal 23
dialami ibu inpartu primipara kala I Oktober 2015
fase aktif dengan perlakuan teknik 8. Hidayat, A.A.A. 2007. Metode
hypnobirthing berada pada tingkat Penelitian Kebidanan & Teknik
nyeri sedang sebanyak sedangkan pada Analisis Data. Jakarta : Salemba
ibu inpartu multipara kala I fase aktif Medika.
dengan perlakuan teknik 9. Hutahean. 2009. Asuhan Keperawatan
hypnobirthing berada pada tingkat Dalam Maternitas Dan Ginekologi.
nyeri ringan. Jakarta : TIM
2. Responden primipara yang diberikan 10. Judha, dkk. 2012. Teori Pengukuran
teknik hypnobirthing mayoritas Nyeri Dan Nyeri Persalinan.
mengalami skala nyeri sedang pada Yogyakarta : Nuha Medika.
persalinan dan responden multipara 11. Kuswandi, Lanny. 2011. Keajaiban
yang diberkan teknik hypnobirthing Hypno-Birthing. Jakarta : Pustaka
cenderung mengalami perubahan Bunda, Grup Puspa Swara.
menjadi skala nyeri yang ringan 12. Lailiyana, dkk. 2011. Asuhan
Kebidanan Persalinan. Jakarta :
REFERENSI EGC.
1. Arifin, dkk. 2012. Perbedaan 13. Martalisa & Budisetyani. 2013.
Hypnobirthing Dan Counter-Pressure Hubungan Intensitas Keikutsertaan
Dalam Menurunkan Rasa Nyeri Saat Hypnobirthing dengan Tingkat
Persalinan Kala I. www.poltekkes- Kecemasan Ibu Hamil. ojs.unud.ac.id.
solo.ac.id. Dibuka tanggal 23 Oktober dibuka tanggal 23 Oktober 2015
2015 14. Maryunani, Anik. 2010. Nyeri Dalam
2. Arikunto, Suharsimi. 2013. Prosedur Persalinan. Jakarta : Trans Info
Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Media.
Jakarta : PT Rineka Cipta. 15. Muhepi & Murtiningsih. 2012.
Melahirkan Tanpa Sakit Dengan

99
International Conference for Midwives (ICMid)

Metode Hypnobirthing. Jakarta : 22. Romadhomah, dkk. Hubungan


Dunia Sehat. Pengetahuan Ibu Hamil Tentang
16. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Hypnobirthing Dengan Sikap Ibu
Metodologi Penelitian Kesehatan. Hamil Terhadap Terapi
Jakarta : PT Rineka Cipta. Hypnobirthing Di BPM Ny. Mul Agus
17. Nursalam. 2008. Konsep Dan Grobogan.http://jurnal.unimus.ac.id.d
Penerapan Metodologi Penelitian ibuka tanggal 20 januari 2015
Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba 23. Sukestiyarno. 2014. Statistika Dasar.
Medika. Yogyakarta : ANDI OFFSET
18. Nuraisyah, Sitti. 2012. Pengaruh
Teknik Hypnobirthing Terhadap
Lamanya Proses Persalinan Di Klinik
Sumiariani Kecamatan Medan Johor
Provinsi Sumatera Utara Tahun
2012. Repository.usu.ac.id. dibuka
tanggal 19 januari 2015
19. Riyanto, Agus. 2011. Pengolahan Dan
Analisis Data Kesehatan. Yogyakarta
: Nuha Medika
20. Rukiyah, dkk. 2009. Asuhan
Kebidanan II (Persalinan). Jakarta :
Trans Info Media.
21. Rohani, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan
Pada Masa Persalinan. Jakarta :
Salemba Medika.

100
International Conference for Midwives (ICMid)

WORKING MOTHER VS EXCLUSIVE BREASTFEEDING: OBSTACLES


AND CHALLENGES FOR MIDWIFERY SERVICES BREASTFEEDING IS
WOMAN RIGHT BUT BEING EXCLUSIVELY BREASTFED IS THE
BABY’S RIGHT

Nabila Zuhdy
Sekolah Vokasi Jurusan DIV Kebidanan Universitas Gadjah Mada

ABSTRACT

Today breastfeeding is becoming an international issue and concern to all countries around
the world for its benefits to the baby’s life, mother and further to the country. But as the
gender equality many women works in formal and non-formal sectors. This makes a huge
effect through breastfeeding. This paper conducted a systematic literature review, used data
from published literature with no time limits defined. Indonesia remains under national
target for exclusive breastfeeding until 2014 52,3% compare to the national target 80%. This
condition happened for some reasons like physiology problems, the status of the mother as
working mother, and the labor law that doesn’t support the program. These obstacles could
be challenges for midwifery services so the goals will be achieved. Midwives support
believed to be one of the factors that could make exclusive breastfeeding success.

Keywords: exclusive breastfeeding, working mother, midwifery service

PENDAHULUAN
ASI (Air Susu Ibu) eksklusif berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
hasil dari berbagai penelitian dipercaya Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian
dapat menurunkan angka mortalitas dan Air Susu Ibu Eksklusif, adalah air susu ibu
morbiditas bayi, juga mengoptimalkan yang diberikan kepada bayi sejak
tumbuh kembang dan meningkatkan dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa
kecerdasan otak anak.1 Pneumonia dan menambahkan dan/atau mengganti dengan
diare merupakan dua penyakit penyebab makanan atau minuman lain.5
kematian terbanyak pada bayi dan balita Selain manfaat bagi bayi, bukti-bukti
dan 50% kematian balita juga disebabkan menunjukkan bahwa wanita yang menyusui
oleh kurang tercukupinya gizi. ASI yang bayinya lebih kecil kemungkinan
diberikan secara eksklusif selama enam mengalami depresi pasca melahirkan dan
bulan dilanjutkan hingga dua tahun juga menurunkan risiko kanker payudara
ditambah pemberian makanan pendamping dan kanker ovarium di kemudian hari.6
ASI (MP-ASI) merupakan salah satu Manfaat lainnya adalah mempercepat
intervensi yang efektif untuk menurunkan pemulihan dan kembali ke bentuk prahamil,
angka kematian bayi (AKB).2 Hasil membangun tulang, mendekatkan ibu dan
penelitian menunjukkan anak-anak yang bayi, terjadi kepuasan emosional, dan
mendapatkan ASI eksklusif 14 kali lebih membentuk hubungan ibu anak yang kuat. 3
mungkin bertahan hidup dalam enam bulan Lebih jauh lagi, bagi pemerintah,
pertama kehidupannya dibandingkan anak pemberian ASI dapat menjamin tersedianya
yang tidak disusui.3 Penelitian di Brazil sumber daya manusia yang berkualitas,
menyimpulkan bahwa partisipan penelitian menghemat devisa negara dan menghemat
yang diberikan ASI selama minimal 12 subsidi biaya kesehatan masyarakat karena
bulan memiliki nilai IQ yang lebih tinggi anak yang mendapat ASI lebih jarang jatuh
daripada yang diberikan ASI kurang dari sakit daripada anak yang tidak disusui.3
satu bulan.4 ASI eksklusif menurut

101
International Conference for Midwives (ICMid)

Mengingat demikian besarnya menyebabkan semakin sulitnya


manfaat ASI eksklusif, Kementrian pencapaian ASI eksklusif.
Kesehatan Republik Indonesia telah Bidan merupakan sumber utama
membuat target cakupan ASI eksklusif dalam pemberian support laktasi karena
sebesar 80%. Namun angka ini sangat bidan merupakan tenaga kesehatan yang
sulit untuk dicapai. Salah satu paling bertanggung jawab dalam
hambatannya adalah ibu bekerja baik di implementasi inisiasi menyusu dini
sektor formal maupun non-formal. (IMD). IMD dapat berkontribusi dalam
Wanita memiliki peran yang disebut menyukseskan program ASI Eksklusif.
women’s triple roles, yang terdiri dari Dalam paper ini akan dibahas lebih
women’s productive role (peran produktif mendalam mengenai hambatan dan
seperti bekerja dan berpatisipasi dalam tantangan pelayanan kebidanan terkait
politik), women’s reproductive role ASI eksklusif.
(peran reproduksi, seperti hamil, METODE
melahirkan, dan menyusui), dan women’s Paper ini disusun menggunakan tinjauan
community role (peran dalam komunitas). literatur sistematis, menggunakan data
Dalam kehidupan di masyarakat, dari literatur yang diterbitkan tanpa batas
menyusui utamanya dikaitkan dengan waktu yang ditetapkan. Pencarian
fungsi reproduktif wanita, karena database yang digunakan Google Scholar
masyarakat menganggap menyusui menggunakan kata kunci: ASI atau ASI
hanyalah urusan wanita. Ditambah peran eksklusif atau ibu bekerja dan menyusui,
wanita yang juga bekerja (peran exclusive breastfeeding, working women
produktif). Beban ganda wanita yang and breastfeeding. Paper ini juga
harus bekerja serta menyusui terlebih meninjau undang-undang, peraturan
tidak didukung oleh kebijakan pemerintah, laporan dari Departemen
pemerintah terkait cuti post-partum Kesehatan Indonesia dan data statistik
Indonesia.

Capaian ASI EKSklusif Pada Bayi 0-6 bulan Berdasarkan Provinsi Tahun 2014

Sumber: Ditjen Gizi dan KIA KemenkesRI, 2015

102
International Conference for Midwives (ICMid)

DISKUSI pendahulu sebenarnya tidak mempengaruhi


Profil kesehatan Indonesia 2014 keputusan ibu untuk memberikan ASI
menunjukkan bahwa Indonesia masih secara eksklusif namun mempengaruhi
belum mencapai target nasional untuk durasi pemberian ASI. Wanita yang tidak
pemberian ASI eksklusif (80%) dan hingga bekerja memberikan ASI lebih lama (31%)
2014 pencapaian ASI eksklusif masih daripada wanita yang bekerja (20%).
diangka 52,3%. 7 Kondisi ini terjadi Sebanyak 48,4% ibu yang bekerja
diantaranya karena beberapa alasan seperti menghentikan pemberian ASI antara dua
masalah fisiologi, status ibu bekerja, dan hingga enam bulan karena alasan yang
undang-undang ketenagakerjaan yang tidak terkait dengan pekerjaan,seperti keharusan
mendukung program tersebut. untuk segera kembali bekerja, lingkungan
Alasan utama menghentikan pemberian dan fasilitas tempat kerja yang kurang
ASI eksklusif atau menambahkan makanan mendukung pemberian ASI, dan beban
pendamping ASI sebelum bayi berusia kerja yang mengganggu pemberian ASI di
enam bulan berdasarkan sebuah penelitian tempat kerja.10 Pengertian ASI eksklusif
di Hongkong adalah 44% merasa tidak adalah pemberian ASI tanpa MP-ASI
memiliki ASI yang cukup, 31% memiliki selama 6 bulan penuh, sehingga jika
masalah dengan payudaranya dan 28% pemberian ASI kurang dari 6 bulan atau
merasa kelelahan.8 Masalah ini sebenarnya diberikan MP-ASI sebelum 6 bulan berarti
dapat diatasi dengan dukungan dari bidan. ibu tersebut telah gagal dalam program ASI
Kurangnya produksi ASI terjadi jika ibu eksklusif dan ini menjadi tantangan bagi
tidak menstimulasi payudara dengan bidan.
memberikan ASI sesering mungkin, karena Memberikan ASI eksklusif pada
frekuensi menyusui dan isapan bayi dapat dasarnya dapat dilanjutkan meskipun
menstimulasi produksi ASI. Peran bidan dengan status ibu sebagai ibu yang bekerja.
dalam hal ini sangatlah penting. Bidan Berdasarkan penetian di Singapura,
seharusnya menjadi orang pertama yang sebanyak 41% ibu yang bekerja tetap
mengajarkan ibu cara menyusui yang benar menyusui setelah masa cuti melahirkan
dan memberi informasi tentang pentingnya berakhir, dan 20% di antaranya
ASI eksklusif. Inisiasi menyusu dini (IMD) melanjutkannya hingga 6 bulan.10 Hal ini
yang difasilitasi bidan juga sangat penting membuktikan bahwa menyusui dan bekerja
untuk kesuksesan program ini. Sebuah bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.
penelitian kualitatif menunjukkan bahwa Ini berarti dibutuhkan komitmen yang kuat
mayoritas ibu yang menyusui secara dari ibu dengan statusnya yang bekerja dan
eksklusif mendapatkan pengalaman IMD menjadi tantangan bagi bidan untuk
yang difasilitasi oleh bidan, sedangkan memfasilitasi jika ibu mengalami masalah
mayoritas ibu yang tidak memberikan ASI selama prosesnya.
eksklusif tidak merasakan pengalaman Di Indonesia, program ASI eksklusif
yang sama.1 Konseling permasalahan yang belum didukung oleh pemerintah. Undang-
terkait payudara bisa diberikan oleh bidan, Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang
mulai dari perawatan payudara hingga Ketenagakerjaan Pasal 82, Ayat 1:
masalah-masalah yang sering muncul pekerja/buruh perempuan berhak
selama menyusui seperti puting lecet. memperoleh istirahat selama 1,5 (satu
Alasan lain mengapa Indonesia belum setengah) bulan sebelum saatnya
mencapai target nasional untuk ASI melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah)
eksklusif adalah status ibu sebagai wanita bulan sesudah melahirkan menurut
yang bekerja. Berdasarkan data dari biro perhitungan dokter kandungan atau bidan.
statistik Indonesia pada tahun 2012, Pada Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun
60,67% wanita di Indonesia bekerja.9 1976 Mengenai Cuti Pegawai Negeri Sipil,
Status ini dari beberapa penelitan lamanya cuti-cuti bersalin tersebut dalam

103
International Conference for Midwives (ICMid)

ayat (1) dan (2) adalah 1 (satu) bulan kepada anggota keluarga yang mengambil
sebelum dan 2 (dua) bulan sesudah bagian dalam perawatan bayi. Apalagi ASI
persalinan. Kebijakan ini tentu tidak sejalan perah masih belum umum dikalangan
dengan pengertian pemberian ASI ekslusif. generasi tua. Bidan harus mengambil
11
Undang-undang ini memaksa mereka perhatian besar untuk hal ini.
segera kembali bekerja pada 1,5 hingga 2 Informasi tentang ASI ekslusif dapat
bulan setelah melahirkan. Salah satu solusi diberikan langsung kepada ibu post-partum
yang dapat dilakukan demi keberhasilah dan keluarganya atau melalui pos
program ini adalah dengan memerah ASI pelayanan terpadu (posyandu). Posyandu
(ASI perah). adalah pelayanan kesehatan yang umumnya
Bidan memiliki peranan yang sangat diadakan sebulan sekali dihadiri oleh ibu
penting untuk mendukung ibu yang bekerja hamil, ibu yang memiliki bayi atau anak di
dengan memberikan penyuluhan tentang bawah 5 tahun. Permasalahan yang
ASI perah sehingga mereka bisa menyusui dihadapi oleh bidan di daerah perkotaan
bayi mereka dan tetap bekerja. Penyuluhan diantaranya tidak hadirnya sebagian besar
bisa tentang cara memerah ASI yang aman, ibu-ibu karena posyandu diselenggarakan
bagaimana menyimpannya, bagaimana saat jam kerja ketika sebagian besar wanita
menyajikannya kepada bayi, dan bekerja. Solusinya adalah bidan bisa
menjelaskan masalah yang mungkin terjadi membuat waktu yang lebih fleksibel untuk
selama memerah ASI. Bantuan informasi pelayanan publik ini. Misalnya diadakan
yang jelas dapat membantu ibu bekerja dari saat akhir pekan atau bidan bisa melakukan
dilema menyusui secara eksklusif saat kunjungan rumah untuk memonitoring dan
bekerja. mengevaluasi keberhasilan ibu menyusui
Prevalensi menyusui di kalangan wanita atau bidan dapat memberikan nomor
yang bekerja memang perlu ditingkatkan telepon yang bisa dihubungi jika ibu
mengingat tingginya angka wanita bekerja bertemu kesulitan selama proses menyusui
di Indonesia. Upaya yang dapat dilakukan menyusui.
diantaranya dengan memberikan informasi Bidan harus memberikan dukungan
tentang keuntungan dari menyusui tidak kepada ibu yang bekerja bahwa tidak
hanya untuk ibu tapi juga keluarganya mustahil untuk memberikan bayi yang
karena dukungan keluarga secara terbaik melalui ASI eksklusif karena rasa
psikologis dapat mempengaruhi percaya diri ibu sangat penting untuk
keberhasilan ibu dalam menyusui secara membuat program ini berhasil. Upaya ini
eksklusif. Selain itu, dalam tradisi di harus didukung sepenuhnya oleh bidan
Indonesia, keluarga mengambil bagian sebagai seorang profesional kesehatan,
besar dalam keperawatan bayi. Sebuah sehingga dibutuhkan kerja ekstra oleh
studi di Semarang menemukan bahwa ibu bidan dalam memberikan pelayanan
post-partum yang masih tinggal dengan khususnya terkait ASI eksklusif agar
ibunya (nenek bayi) memiliki program ini dapat sukses dan mencapai
kemungkinan lebih besar bagi bayi target nasional. Dukungan bidan diyakini
diberikan MP-ASI dan makanan pre-lacteal menjadi salah satu faktor yang bisa
seperti madu atau pisang oleh nenek bayi.12 menyukseskan program ASI eksklusif.
Tradisi ini jelas tidak mendukung program
ASI eksklusif, selain itu akan menjadi DAFTAR PUSTAKA
masalah lain bagi kesehatan bayi. Oleh 1. Fikawati S, Syafiq A. Praktik
karena itu penting bagi bidan memberikan Pemberian ASI Eksklusif, Penyebab-
informasi tentang menyusui tidak hanya penyebab Keberhasilan dan
untuk ibu tapi juga keluarga terutama

104
International Conference for Midwives (ICMid)

Kegagalannya. J Kesmas Nas. Daerah Tempat Tinggal, 2009-2012


2009;4(3):120–31. [Internet]. Jakarta; 2016. Available
2. Sitaresmi MN. Isu Kebijakan Tentang from:
Pemberian ASI Secara Eksklusif. https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/
Yogyakarta; 2014. view/id/1606
3. Murkoff H. Kehamilan: apa yang anda 10. Ong G, Yap M, Li FL, Choo TB.
hadapi bulan per bulan. In: Purwoko S, Impact of working status on
editor. Jakarta: Arcan; 2006. p. 407– breastfeeding in Singapore: evidence
10. from the National Breastfeeding
4. Victora CG, Horta BL, de Mola CL, Survey 2001. Eur J Public Health
Quevedo L, Pinheiro RT, Gigante DP, [Internet]. 2005 Aug [cited 2016 Mar
et al. Association between 26];15(4):424–30. Available from:
breastfeeding and intelligence, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/
educational attainment, and income at 16030134
30 years of age: a prospective birth 11. Better Work Indonesia. Undang-
cohort study from Brazil. Lancet Glob undang dan Peraturan Tentang
Heal [Internet]. Victora et al. Open Menyusui. Jakarta; 2012.
Access article distributed under the 12. Afifah DN. Faktor yang Berperan
terms of CC BY; 2015 Apr [cited 2015 dalam Kegagalan Praktik Pemberian
Mar 18];3(4):e199–205. Available ASI Eksklusif. 2007;1–19.
from:
http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/
pii/S2214109X15700021
5. Departemen Kesehatan RI. Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor
33 Tahun 2012 Tentang Pemberian Air
Susu Ibu Eksklusif. Indonesia; 2012.
6. Smerdon P, Wallace RA. ASI Adalah
Penyelamat Hidup Paling Murah dan
Efektif di Dunia [Internet]. New York;
2013. Available from:
http://www.unicef.org/indonesia/id/me
dia_21270.html
7. Kementerian Kesehatan RI. Profil
Kesehatan Indonesia Tahun 2014.
Jakarta: Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia; 2015.
8. SM1 C, EA N, SS L, CY L.
Breastfeeding failure in a longitudinal
post-partum maternal nutrition study in
Hong Kong. J Paediatr Child Heal
[Internet]. 2000;36(5):466–71.
Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/
11036803
9. Badan Pusat Statistik. Persentase
Rumah Tangga menurut Provinsi,
Jenis Kelamin KRT yang Bekerja, dan

105
International Conference for Midwives (ICMid)

FACTORS THAT AFFECT SUCCESS AND FAILURE OF EXCLUSIVE


BREASTFEEDING IN INFANTS AT DESA KECOMBERAN KECAMATAN
TALUN KABUPATEN CIREBON 2016

Elit Pebryatie, Nina Nirmaya Mariani, Zahra Dinila


Program Studi Kebidanan Cirebon Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

ABSTRACT

Infant growth and development are largely determined by the amount of milk obtained. The
percentage of exclusive breastfeeding in infants aged 3-6 months at Desa Kecomberan
Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon had reached 52.83% of 68 infants in the last 6 months.
Researchers are interested in doing research on the factors that affect success and failure of
exclusive breastfeeding in infants at Desa Kecomberan Kecamatan Talun Kabupaten
Cirebon.Research design using qualitative research methods. Samples had obtained by
purposive sampling technique as much as 8 breastfeeding mothers who had infants aged 3-12
months, 4 husbands, and 3 different family members. Data that had been taken is the primary
data from in-depth interviews using interview guide that had been created by the researcher
herself and the tape recorder. The data had been processed according to the variables included in
the study with the method of induction.The overall samples had been found during the research
are as much as 8 families, which consists of 8 breastfeeding mothers, 4 different husbands, and
3 different family members. 4 of the breastfeeding mothers are exclusively breastfed while 4
other mothers did not breastfeed exclusively. Factors that affect success in exclusive
breastfeeding are, mothers’s beliefs about breastfeeding, husband and family’s support, and
mothers’s patience in caring for baby. While the factors that affect failure in exclusive
breastfeeding are maternal employment status, mother's lack of patience in caring for baby, and
lack of husband and family’s support and attention.

Keywords : Breastfeeding Mother, Baby, Exclusive Breastfeeding

PENDAHULUAN
Menurut Survei Demografi Kesehatan Kabupaten Sukabumi merupakan daerah
tingkat pemberian ASI eksklusif telah dengan cakupan pemberian ASI eksklusif
menurun selama dekade terakhir. Hanya tertinggi di Jawa Barat sebesar 85,5%, dan
sepertiga penduduk Indonesia secara yang terendah adalah Kabupaten Subang,
eksklusif menyusui anak-anak mereka pada sebesar 4,0%. Khusus di Kota Cirebon,
enam bulan pertama. Ada banyak hambatan presentasi pemberian ASI eksklusif hanya
untuk menyusui di Indonesia, termasuk mencapai 14,8%, sedangkan di Kabupaten
anggota keluarga dan dokter yang tidak Cirebon mencapai angka yang lebih tinggi,
mendukung. Beberapa ibu juga takut yaitu 19,4%.2 Hasil Survei Demografi dan
menyusui akan menyakitkan dan tidak Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007
praktis, tapi salah satu kendala terbesar menunjukan cakupan ASI eksklusif bayi 0-
adalah kesalahpahaman dari istilah 6 bulan sebesar 32% yang menunjukan
“eksklusif”.1 kenaikan yang bermakna menjadi 42%
Menurut profil kesehatan Provinsi pada tahun 2012. Sementara itu,
Jawa Barat tahun 2012, presentase bayi berdasarkan laporan dinas kesehatan
secara keseluruhan yang diberi ASI provinsi tahun 2013, sebaran cakupan
eksklusif di Jawa Barat mencapai 31,2%.

106
International Conference for Midwives (ICMid)

pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 diolah sesuai variabel yang tercakup dalam
bulan sebesar 54,3%.3 penelitian dengan metode induksi.Proses
Berdasarkan data kesehatan bayi dan pengolahan data kualitatif meliputi
balita di wilayah kerja BPM Sri Resnawati pengumpulan data (data collection),
di Desa Kecomberan Kecamatan Talun reduksi data (data reduction), penyajian
Kabupaten Cirebon, persentase data (data display), danpenarikan
keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada kesimpulan dan verifikasi (conclusion
bayi usia 3-6 bulan cukup tinggi yaitu drawing/ verification).4 Teknik analisa data
sebesar 52,83%, sedangkan persentase menggunakan analisis domain, taksonomi,
kegagalan pemberian ASI eksklusifnya komponen, dan analisis tema.
sebesar 35,85% dan belum diketahui
sebanyak 11,32%. HASIL PENELITIAN
Masih rendahnya cakupan asi eklusif 1. Pandangan Mengenai Pemberian ASI
di desa Kecomberan membuat peneliti Eksklusif pada Bayi
tertarik untuk melakukan penelitian tentang a. Kelompok Responden yang
faktor-faktor yang mempengaruhi Memberikan ASI Eksklusif
keberhasilan dan kegagalan dalam 1) Pandangan Ibu
pemberian ASI eksklusif pada bayi di Desa Sebagian besar informan mengatakan
Kecomberan Kecamatan Talun Kabupaten bahwa mereka pernah mendengarnya dan
Cirebon. mengetahui tentang ASI eksklusif, namun
METODE belum terlalu bisa menjelaskan dengan
Metode penelitian yang digunakan adalah tepat. Hal tersebut dapat dilihat dari
metode penelitian kualitatif yaitu penelitian pernyataan di bawah ini :
untuk memahami fenomena tentang apa “Iya... tanpa makanan sebelum 6 bulan”
yang dialami oleh subjek. penelitian ini (Informan 4)
dilaksanakan di Desa Kecomberan “ASI eksklusif adalah haha ASI yang
Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon pada diberikan kepada bayi dari nol sampe 6
bulan Januari 2016. Teknik pengambilan bulan tanpa ada a apa namanya bantuan
sampel dalam penelitian ini purposive apapun ta haha ya mengkonon lah”
sampling yaitu ibu menyusui yang (Informan 6)
memiliki bayi usia6-12 ulan, suami dan Sebagian kecil ditemukan ibu tidak
keluarga yang memenuhi syarat sebagai mengetahui ASI eksklusif, mereka
responden untuk penelitian ini pada bulan mengaku lupa. Hal tersebut dapat dilihat
Januari 2016 di Desa Kecomberan dari pernyataan di bawah ini :
Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon. “Ngga, ngga... ya pernah denger sih cuma
Jumlah sampel ditentukan dengan teknik lupa...” (Informan 7)
samplingsnow ball (bola salju) yaitu mulai “Ga.. ga tau haha.. taunya ASI yang dari
dari satu menjadi makin lama makin ibu aja” (Informan 8)
banyak. Jumlah responden yang ditemukan Informan memperoleh informasi mengenai
selama melakukan penelitian sebanyak 8 ASI eksklusif sebagian besar dari bidan
ibu menyusui, 4 suami dan 3 anggota dan buku KIA yang dimiliki bahkan dari
keluarga berbeda. Pengumpulan data media sosial. Hal tersebut dapat diliat dari
dilakukan oleh peneliti sendiri (human pernyataan di bawah ini:
instrument) melalui wawancara mendalam. “mmm... dari itu gabung sama sosmed tu
Alat yang digunakan untuk pengambilan yang ASI MP-ASI begitu...” (Informan 4)
data dalam penelitian ini adalah pedoman “Ya dari bidan, buku panduan posyandu,
wawancara yang dibuat dan dipersiapkan dari iklan di tv” (Informan 6)
oleh peneliti sendiri dan menggunakan alat Informan menyadari bahwa pemberian ASI
perekam suara. Data yang diperoleh akan eksklusif penting bagi bayi mereka, karena

107
International Conference for Midwives (ICMid)

mereka tahu dan yakin ASI bermanfaat “... ya mungkin bayinya mencret karena
bagi bayi. Hal tersebut dapat dilihat dari susunya gimana gitu...” (Informan 7)
pernyataan di bawah ini: “... kalo diawal kasihnya formula banyak
“...buat kekebalan tubuh pertama antibodi ASInya dikit tuh suka rewel.” (Informan 8)
ininya, terus buat kedekatan antara ibu dan 2) Pandangan Suami
anaknya juga... kalo buat saya yang abis Suami dari ibu menyusui mengatakan
melahirkan biar cepat langing kembali bahwa mereka juga pernah mendengar dan
katanya...” (Informan 6) mengetahui tentang ASI eksklusif, namun
“Ya biar perkembangan bayinya tiap mereka tidak dapat menjelaskannya dengan
bulannya meningkat gitu...kalo susu kan benar. Hal tersebut dilihat dari pernyataan
kita tiap malem bangun bikin, kalo ASI kan di bawah ini:
sambil tiduran atau sambil duduk kan “ASI.. 6 bulan... tanpa tambahan...”
bisa..” (Informan 7) (Suami 6)
“ya sepengetahuan saya sih ya katanya Ditemukan juga suami yang tidak
penting, biasa kan jaga usus mengetahui tentang ASI eksklusif. Hal
bayinya...lebih hemat, mba, ga usah keluar tersebut dilihat dari pernyataan berikut:
duit banyak...” (Informan 4) “apa.. ga tau..” (Suami 8)
“menurut saya penting, karena menurut Suami informan mengatakan bahwa
saya tubuhnya tuh beda dengan yang asi mereka mengetahui mengenai ASI
pake susu formula... kaya anak saya pilek, eksklusif, bidan dan istrinya. Hal tersebut
masih ASI nih belum makan In syaa Allah dapat dilihat dari pernyataan di bawah ini:
lebih cepet sembuhnya... lebih enak kaya “tau dari istri... bidan” (Suami 6)
meriang tah apa tuh berkurang” (Informan Setiap informan mengatakan bahwa
8) pemberian ASI eksklusif penting bagi bayi
Setiap informan mengetahui kapan usia mereka, karena mereka tahu dan yakin ASI
bayi boleh diberikan makanan tambahan bermanfaat bagi daya tahan tubuh bayi, dan
selain ASI, mereka menjawab dengan cocok untuk bayi. Hal tersebut dapat dilihat
jawaban yang sama yaitu 6 bulan. Hal dari pernyataan di bawah ini:
tersebut dapat dilihat dari pernyataan di “ya lebih bagus, cocok gitu buat bayinya..”
bawah ini: (Suami 6)
“kalo udah 6 bulan baru boleh...” “Lebih bagus aja, biar dedenya lebih kuat”
(Informan 4) (Suami 8)
“umur 6 bulan tuh boleh dikasih Suami dari ibu yang memberikan ASI
makanannya tuh makanan pendamping ASI secara eksklusif menganggap ASI tetap
MP-ASI baru 6 bulan, selain itu nanti dulu lebih unggul dari susu formula. Hal
sebelum 6 bulan” (Informan 6)“Umur 6 tersebut dapat dilihat dari pernyataan ini:
bulan” (Informan 7) “Bagusan ASI lah, susu formula sih jangan
“... 5 selesai ke bulan ke enamya tuh dulu...” (Suami 6)
menginjak ke enamnya...” (Informan 8) “... biasa aja, tapi ya bagusan ASI ya...”
Bagi informan yang memberikan ASI (Suami 8)
secara eksklusif mengatakan bahwa mereka b. Kelompok Responden yang
meragukan susu formula karena banyak Memberikan ASI Tidak Eksklusif
mengandung gula, bayi akan mengalami 1) Pandangan Ibu
diare bila tidak cocok, dan akan lebih rewel Berdasarkan informan yang tidak
jika diberi susu formula dini. Hal tersebut memberikan ASI eksklusif mengatakan
dapat dilihat dari pernyataan di bawah ini: bahwa mereka pernah mendengarnya dan
“Kurang.. ya itu, karena banyak mengetahui tentang ASI eksklusif, namun
mengandung gula.” (Informan 4) belum terlalu bisa menjelaskan dengan

108
International Conference for Midwives (ICMid)

tepat. Hal tersebut dapat dilihat dari “... ya membantu juga sih, saya kan repot
pernyataan di bawah ini : ya suka nganter sekolah, kadang jemput,
“Ngasih ASI aja... ga pake tambahan apa sering ditinggal gitu ya...” (Informan 2)
apa sampe 6 bulan...” (Informan 1) “Intinya sih biasa aja sih ya, yang lebih
“Ya.. ga dikasih makanan lain sebelum 6 bagus kan ASI, tapi kan mau gimana lagi,
bulan” (Informan 2) mau minta sama siapa?... kurang bagus
“... sampe 6 bulan ga dikasih apa-apa.” juga ngga...” (Informan 5)
(Informan 3) 2) Pandangan Suami
“... ASI eksklusif kan air susu Suami dari ibu yang tidakmemberikan ASI
ibu,maksudnya gimana yah...” (Informan eksklusif mengatakan bahwa mereka juga
5) pernah mendengar dan mengetahui tentang
Setiap informan memperoleh informasi ASI eksklusif, namun mereka tidak dapat
mengenai ASI eksklusif sebagian besar dari menjelaskannya dengan benar. Hal
bidan dan buku KIA yang dimiliki. Ada tersebut dilihat dari pernyataan di bawah
juga yang mengetahuinya melalui orang ini
tua, suami. Hal tersebut dapat dilihat dari “... tau... air susu ibu... iya tanpa makanan
pernyataan di bawah ini : tambahan... sampe 6 bulan...” (Suami 2)
“Dari bidan... di buku juga suka ada” “air susu ibu sampe 6 bulan ga dikasih
(Informan 1) apa-apa...” (Suami 5)
“ya... dari buku itu KIA, sama dari bu Informan mengatakan bahwa mereka
bidan...” (Informan 2) mengetahui mengenai ASI eksklusif dari
“ya dari bidan, sama buku” (Informan 3) televisi, bidan dan dari teman. Hal tersebut
“... dari bidan, buku, suami, ibu...” dapat dilihat dari pernyataan di bawah ini:
(Informan 5) “ya.. dari tv tv juga kan suka ada, sama
Informan ibu yang tidak memberikan ASI dari bidan, kalo nganter istri periksa tuh
eksklusif mengetahui kapan usia bayi boleh mba, bidannya suka ngomong...” (Suami 2)
diberikan makanan tambahan selain ASI, “dari temen, soalnya temen saya kan
mereka menjawab dengan jawaban yang istrinya bidan, jadi suka tanya-tanya
sama yaitu 6 bulan. Hal tersebut dapat sayanya...” (Suami 5)
dilihat dari pernyataan di bawah ini: Suami informan menyadari bahwa
“...kalo makanan pendamping pas 6 pemberian ASI eksklusif penting bagi bayi
bulan..” (Informan 1) mereka, karena mereka tahu dan yakin ASI
“6 bulan baru boleh...” (Informan 2) bermanfaat bagi daya tahan tubuh bayi, dan
“Ya.. kudunya sih ya 6 bulan...” (Informan cocok untuk bayi. Hal tersebut dapat dilihat
3) dari pernyataan di bawah ini:
“Umur 6 bulan...” (Informan 5) “iya... untuk daya tahan tubuh....” (Suami
Sebagian besar informan yang tidak 2)
memberikan ASI secara eksklusif “bagus untuk imun sama pencernaan...”
mengungkapkan pendapatnya mengenai (Suami 5)
susu formula bahwa susu formula cukup Suami dari ibu yang memberikan ASI tidak
membantu, hal tersebut dikarenakan ibu eksklusif berpendapat bahwa susu formula
sibuk bekerja dan merasa ASI yang cukup membantu, hal tersebut dikarenakan
diberikan pada bayinya kurang. Hal bayi kurang mendapat cukup ASI dari
tersebut dapat dilihat dari pernyataan di ibunya. Hal tersebut dapat dilihat dari
bawah ini: pernyataan di bawah ini:
“gimana ya... biasa aja sih, cuma agak “...untuk sekarang sih cukup membantu
membantu juga kalo saya lagi sibuk.” juga, abisnya dedenya masih rewel aja
(Informan 1) kalo dah nyusu ibunya, jadi dibikinin lagi.

109
International Conference for Midwives (ICMid)

Nanti kalo udah kenyang baru idep...” bahwa mereka tidak ingin memberikannya
(Suami 2) pada bayi mereka, karena beranggapan
“...ga pa pa kayanya, dibanding ga diisi tidak cocok untuk bayinya, mereka
apa-apa, soalnya susu ibunya keluarnya memilih untuk tidak menanggapi apa kata
sedikit banget...” (Suami 5) orang lain untuk memberikan makanan
2. Sikap dalam Pemberian ASI pada selain ASI. Hal tersebut dapat dilihat dari
Bayi pernyataan ini:
a. Kelompok Responden yang “... ya kalo bisa sih jangan kalo ke anak
Memberikan ASI Eksklusif sendiri mah.. beda dulu sama sekarang...”
1) Sikap Ibu (Informan 4)
Setiap informan yang memberikan ASI “Ya ini takut apa namanya pencernaannya
secara eksklusif mengatakan bahwa mereka terganggu, mba, kan ususnya belum kuat
menyusui bayinya bila bayi ingin disusui banget untuk mencerna apa namanya yang
dan tanpa dijadwal hingga bayi merasa apa yang keras-keras tu lah...” (Informan
cukup ASI, apabila bayi tidur lama mereka 6)
akan membangunkannya, hal tersebut dapat “ga tau ya, bagusnya sih angan sih ya, tapi
dilihat dari pernyataan ini: mendingan ASI aja gitu.” (Informan 7)
“Ngasihnya tiap dedenya mau aja...” 2) Sikap Suami
(Informan 4) Setelah melakukan wawancara mengenai
“...sesering mungkin, kalo sehari kadang 8 dukungan suami pada ibu untuk
kali kadang ya sepengennya anaknya aja, memberikan ASI, suami dari informan
mba, tapi kalo dianya udah tidur lama 3 ibu yang memberikan ASI eksklusif
am atau 2 jam tidurnya lama sayanya mengungkapkan bahwa mereka
bangunin terus dinenenin, kadang 1 jam mendukung pemberian ASI eksklusif,
sekali...” (Informan 6) mereka berinisiatif langsung meminta
“...kalo nangis susu ASI minimal 1 jam...” istrinya untuk berusaha menyusui
(Informan 7) bayinya apabila bayi menginginkan, dan
“... ASInya itu 2 jam sekali, meskipun anak meminta istrinya untuk tidak melakukan
saya tidur ya saya bangunin dengan cara pekerjaannya dulu, bahkan suami
apa pun..” (Informan 8) informan akan memberikan perhatian
Informan yang memberikan ASI eksklusif lebih saat ibu sedang menyusui bayinya.
mengatakan apabila mereka sibuk atau Hal tersebut dapat dilihat dari pernyataan
sedang sakit, mereka masih akan tetap ini:
barupaya memberikan ASI pada bayinya. “kalo nangis dedenya, kasih ke ibunya
Hal tersebut dapat dilihat dari pernyataan suruh nyusu... kadang suka saya pijetin
ini: istri saya kalo lagi nenenin...” (Suami 6)
“masih... susuin dulu, nanti kalo udah tidur “sering saya yang beres-beres rumah, abis
baru pergi..” (Informan 4) istri sayanya sibuk ngurus dede sih..
“ya ditinggal dulu kerjaan rumahnya, nyusuin gitu...” (Suami 8)
mba” (Informan 6) Tanggapan suami informan ibu yang
“masih. Ya kan kerjaannya ditunda aja memberikan ASI eksklusif mengenai
dulu, ya kita nyusuin si dede bayi dulu.” pemberian cairan atau makanan selain
(Informan 7) ASI pada bayi kurang dari 6 bulan
“...ketika dia kan bobo nih, nangis mengungkapkan bahwa mereka tidak
langsung saya kasih nen...” (Informan 8) ingin memberikannya pada bayi mereka,
Tanggapan setiap informan yang karena beranggapan tidak cocok untuk
memberikan ASI eksklusif mengenai bayinya, mereka memilih untuk tidak
pemberian cairan atau makanan selain ASI menanggapi apa kata orang lain untuk
pada bayi kurang dari 6 bulan mengatakan

110
International Conference for Midwives (ICMid)

memberikan makanan selain ASI. Hal “ ya kalo mau, dikasih, kadang kalo masih
tersebut dapat dilihat dari pernyataan ini: kurang waktu kemaren sih dikasih pisang
“jangan udah susu ibunya aja, ga bagus dikit.” (Informan 3)
dikasih macem-macem masih segini “kalo dedenya mau, saya susuin, kadang
sih...” (Suami 6) kalo ga keluar tapi dedenya masih mau ya
“dulu katanya sering gitu, tapi ya anak pake susu formula.” (Informan 5)
saya ya jangan lah, nanti aja, takut Setiap informan yang diwawancarai
kenapa napa...” (Suami 8) mengenai alasan mereka tidak memberikan
3) Sikap Keluarga ASI eksklusif adalah karena mereka sibuk
Keluarga informan ibu yang memberikan bekerja, berat badan bayi turun, bayi rewel,
ASI secara eksklusif mengungkapkan dan ASI sulit keluar. Hal tersebut dapat
bahwa mereka mendukung pemberian dilihat dari pernyataan ini:
ASI eksklusif, sehingga urusan mengurus “...saya kerja, jadi cuma bisa pas saya lagi
bayi pun dibantunya, ketika bayi merasa di rumah aja...” (Informan 1)
lapar keluarga akan memprioritaskan ibu “Kan ini berat badannya turun waktu 10
untuk menyusui bayinya . Hal tersebut hari kontrol kedua tuh... yang turun 2 ons
dapat dilihat dari pernyataan ini: ya... jadi, udah kasih susu formula aja...”
“ibunya suka sering kecapean, jadi masih (Informan 2)
suka saya yang mandiin, ngurusin gitu, “Soalnya itu sih... rewel” (Informan 3)
nanti kalo udah nangis, laper baru “Yaitu sih... kadang ngamuk, kadang kalo
manggil ibunya suruh netek. Susah juga lagi ngga, ngga... susah keluarnya juga...”
sih, tapi ya mau gimana kasian (Informan 5)
dedenya..” (Keluarga 7) Sebagian besar informan yang
Keluarga informan ibu yang memberikan diwawancarai mengenai makanan atau
ASI eksklusif menanggapi bahwa cairan apa yang telah diberikan pada bayi,
memberi makan atau cairan selain ASI mereka menjawab hanya susu formula saja,
pada bayi kurang dari 6 bulan merupakan alasannya karena mereka beranggapan
hal biasa pada zaman dahulu, sekarang bahwa bayi mereka belum boleh diberi
ini keluarga lebih menuruti apa yang makanan tambahan sebelum usia 6 bulan.
dikatakan oleh ibu dari si bayi dalam Hal ini dapat dilihat pada pernyataan ini:
memberikan ASI: “Cuma susu formula aja... saya ga berani
“jaman dulu mah gitu ya neng, cuma kasih yang lain lain dulu, soalnya kan kalo
sekarang sih terserah anak saya aja makanan dikasihnya nanti pas 6 bulan..”
gimana, kata anak saya jangan yaudah (Informan 1)
saya setuju-setuju aja...” (Keluarga 7) “... Cuma susu formula aja... kalo dikasih
b. Kelompok Responden yang makanan lain kan belum boleh, adi yaudah
Memberikan ASI Tidak Eksklusif ini aja.” (Informan 2)
1) Sikap Ibu “ngga, udah itu aja katanya... kan ga boleh
Informan yang tidak memberikan ASI makan apa-apa dulu, susu aja.” (Informan
secara eksklusif mengatakan memilih 5)
bantuan susu formula atau pisang apabila Jawaban berbeda diutarakan oleh salah
merasa ASInya kurang atau sibuk bekerja. seorang informan yang telah memberikan
Hal tersebut dapat dilihat dari pernyataan makanan berupa pisang pada bayinya,
ini: alasannya karena bayi rewel dan dia hanya
“kalo saya ga kerja ya saya susuin, tapi mncoba-coba memberikan pisang agar
kalo lagi kerja ya dikasih susu formula berhenti menangis. Hal tersebut dapat
aja...” (Informan 1) dilihat dari pernyataan ini:
“... pisang aja, ga pake susu formula,
ngga.. Soalnya itu sih... rewel. jadi nyoba-

111
International Conference for Midwives (ICMid)

nyoba kata saya tuh kalo adem ya lanjut mencarikan bahan makanan yang dapat
kalo ga, masih ngerengek aja ya wis lah” memperlancar produksi ASI. Hal tersebut
(Informan 3) dapat dilihat dari pernyataan ini:
Bagi informan ibu yang tidak memberikan “ ... kalo dedenya nangis saya kasihin aja
ASI eksklusif mengatakan mereka akan ke ibunya suruh nyusuin...” (Suami 2)
mengikuti apabila mereka sakit atau sibu “...suka saya suruh makan daun katuk,
bekerja, mereka akan saran dokter atau soalnya katanya bagus buat ASI, saya juga
tetap memberikan ASInya walau sedikit. suka bawain...” (Suami 5)
Hal tersebut dapat dilihat dari pernyataan Tanggapan berbeda dikemukakan oleh
ini: suami informan ibu yang tidak memberikan
“Tergantung ini sih, kalo misalnya air.. ASI eksklusif. Mereka mengatakan bahwa
kalo ASI kan biasanya ga ini ga memberikan cairan atau makanan selain
berpengaruh biasanya, kecuali penyakit ASI tidak baik bagi bayinya dan tidak
tertentu. Tapi kalo misalnya kata dokter menginginkannya, namun mereka masih
misalnya di puskesmas kan harus ragu karena mereka telah memberikan
komunikasi dulu, misalnya boleh nyusuin cairan selain ASI pada bayi mereka karena
ya boleh, kalo ga yaudah.” (Informan 1) terpaksa. Hal tersebut dapat dilihat dari
“Masih... ya paling dikurangi kalo lagi pernyataan ini:
sakit.. kalo mo pergi susuin dulu, kalo mau “... ya pengennya sih jangan mba, takutnya
nyuci saya susuin dulu...” (Informan 2) ngaruh ke daya tahan tubuhnya...” (Suami
“Masih, tetep... ya kaya biasa aja, susuin 2)
dulu sebelum ngapa-ngapain.” (Informan “... bagusnya jangan, cuma ya gatau
3) juga...” (Suami 5)
“Masih, ya itu juga kalo keluar... sebentar 3) Sikap Keluarga
biasanya...” (Informan 5) Dalam wawancara ditemukan, sebenarnya
Berbeda dengan tanggapan yang keluarga informan sudah berupaya
dikemukakan oleh informan ibu yang tidak mendukung pemberian ASI eksklusif,
memberikan ASI eksklusif. Mereka namun karena merasa kesulitan, keluarga
mengatakan bahwa memberikan cairan atau informan akhirnya memilih susu formula
makanan selain ASI tidak bagus untuk sebagai alternatif untuk memenuhi
bayinya, namun karena merasa kesulitan kebutuhan bayi selama ibu tidak ada atau
mereka beranggapan tidak mengapa apabila ibu tidak bisa memenuhi kecukupan ASI
bayi diberi susu formula ataupun pisang bagi bayinya.
karena merasa terpaksa. Hal tersebut dapat “...dukung, tapi susah juga, kalo ibunya
dilihat dari pernyataan ini: lagi kerja saya yang ngurusin...” (Keluarga
“banyak yang suka bilang udah kasih ini 1)
aja, ya, cuma sayanya ga nanggepin.. eh “...saya sering nanya-nanya ke yang lain
pas bulan-bulan ini rewel banget, jadi saya gimana sih caranya biar ASInya keluar
kasih pisang aja nyoba-nyoba, itu juga banyak, terus katanya suruh udah makan
kepaksa...” (Informan 3) ini aja, saya sampein ke anak saya suruh
“yaa.. kan belum waktunya kataya, jadi ikutin, tapi ya tetep aja susah...” (Keluarga
paling kasih susu aja, mba...” (Informan 5) 5)
2) Sikap Suami Keluarga informan ibu yang tidak
Suami informan mengungkapkan bahwa memberikan ASI eksklusif terkadang
mereka sebenarnya mendukung pemberian terpaksa karena bayi tidak mau menyusu
ASI eksklusif, mereka berinisiatif langsung pada ibunya dan karena ibunya tidak bisa
meminta istrinya untuk berusaha menyusui selalu ada di rumah untuk memberi ASI.
bayinya apabila bayi menginginkan, Hal tersebut dapat dilihat dari pernyataan
bahkan sering memberikan saran dan ini:

112
International Conference for Midwives (ICMid)

“...kalo makan pendamping kata anak saya 1) Kebiasaan Keluarga dalam Pemberian
belum boleh, nanti aja kalo udah 6 bulan, ASI pada Bayi
yaudahlah apa kata dia aja... jadi cuma Tidak berbeda dengan keluarga yang
udah susu botol aja...” (Keluarga 1) memberikan ASI eksklusif, mereka yang
“...sebenernya ga bagus, mba.. pengennya tidak memberikan ASI eksklusif sudah
sih ngikut ASI aja, cuma mau gimana ya, tidak mengikuti kebiasaan orang-orang
susah. Jadi kasih susu formula aja, seperti zaman dahulu. Mereka hanya
daripada asupannya sedikit terus dedenya mengikuti saran dari bidan dan meyakini
sakit lagi...” (Keluarga 5) pendapat sendiri seperti menjaga
3. Mitos-Mitos yang ada di Keluarga kebersihan selama menyusui.
dalam Pemberian ASI Eksklusif “... di sini mah uda... biasa aja sih,
pada Bayi neng...” (Informan 1)
a. Kelompok Responden yang “ngga, ngga ada... biasa aja...” (Informan
Memberikan ASI Eksklusif 2)
1) Kebiasaan Keluarga dalam “Ngga. Ya kan kalo misalnya ASI kan
Pemberian ASI pada Bayi harus bersih kan kitanya, kaya awas tadi
Bagi keluarga yang memberikan ASI abis pegang apa, jadi harus jaga
eksklusif mengatakan bahwa mereka sudah kebersihan, takutnya kan lupa...”
tidak mengikuti kebiasaan orang-orang (Informan 5)
seperti zaman dahulu. Mereka hanya 2) Pentangan pada Ibu Menyusui
mengikuti saran dari bidan dan meyakini Pernyataan berbeda diungkapkan ibu yang
pendapat sendiri seperti menjaga tidak memberikan ASI secara eksklusif,
kebersihan selama menyusui. mereka tidak memiliki pantangan selama
“Ngga ada, biasa...” (Informan 4) masa menyusui bayinya. Bahkan hanya
“Ngga, biasa aja” (Informan 6) ditemukan pantangan yang tidak masuk
“Yang kaya gimana?.. ga ada sih..” akal seperti tidak boleh tidur siang dengan
(Informan 7) alasan akan berpengaruh terhadap sikap
“Ngga ada... “ (Informan 8) bayi yang menjadi tidak baik. Hal tersebut
2) Pantangan pada Ibu Menyusui dapat dilihat dari pernyataan ini.
Sebagian besar informan yang memberikan “... ga ada ya...” (Informan 1)
ASI eksklusif mengatakan bahwa mereka “... ngga...” (Informan 2)
memiliki pantangan mengkonsumsi “... ya saya mah ga ada yang
makanan pedas dan asam karena dipercaya dipantangin...” (Informan 3)
dapat berpengaruh terhadap produksi ASI “Ya.. ada sih.. kaya tidur siang gaboleh..
yang dapat membuat pencernaan bayi nanti bayinya ya.. nurut ga nurut sih ya...”
terganggu. Hal tersebut dapat dilihat dari (Informan 5)
pernyataan ini:
“ya paling.. pedes.. takut ngaruh ke PEMBAHASAN
susunya...”(Informan 4) A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
“Ada biasanya sih dari orang tua tuh ga Keberhasilan dan Kegagalan dalam
boleh makan pedes, katanya ya takut nanti Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi
apa pencernaan saya sama dedenya 1. Kepercayaan Ibu
mencret, jangan yang asem-asem, ya Baik ibu yang menyusui bayinya secara
takutnya apa sih kalo yang asem kan eksklusif maupun tidak eksklusif
jadinya lambungnya perih” (Informan 6) memandang positif akan kebaikan ASI
“...semacam pedes-pedes tu dipantang. Ya yang mereka percaya bermanfaat bagi bayi
katanya ga bagus...” (Informan 8) dan dirinya.
b. Kelompok Responden yang Sebagian besar informan beranggapan
Memberikan ASI Tidak Eksklusif bahwa ASI penting untuk bayi karena

113
International Conference for Midwives (ICMid)

dapat menjaga daya tahan tubuh bayi, Suami dan keluarga selalu
menjaga kesehatan pencernaan bayi, memprioritaskan ibu untuk mengurus
mencerdaskan otak bayi, meningkatkan dan bayinya sementara mereka yang melakukan
mempercepat pertumbuhan bayi dan dapat pekerjaan rumah dan mendukung ibu
mempererat kasih sayang antara ibu dan secara emosional sehingga ibu termotivasi
anak. Sebagian anggapan yang disebutkan untuk memberikan ASI eksklusif pada
bukan didasari dari adanya pemahaman bayinya.
mendalam mengenai manfaat ASI, 3. Kesabaran
melainkan lebih kepada kebaikan ASI Salah satu penyebab yang mendorong ibu
secara umum, misalnya mempercepat dalam memberikan susu formula dan MP-
pertumbuhan bayi. ASI dini adalah kurangnya kesabaran ibu
Kepercayaan yang paling banyak dalam menghadapi bayinya yang selalu
ditemukan dalam wawancara terhadap ibu menangis, ibu merasa khawatir dan
yang memberikan ASI eksklusif adalah menganggap bahwa bayinya kurang ASI
pantangan dalam makan makanan pedas. walaupun sudah disusui sehingga ibu
Mereka beranggapan bahwa makanan memilih memberikan susu formula atau
pedas dapat mempengaruhi kesehatan pisang sebagai alternatif agar si bayi
pencernaan bayi melalui produksi ASI merasa kenyang dan tidak rewel disamping
yang mereka berikan pada bayi. Sedangkan ibu merasa kelelahan akibat beban
ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif pekerjaan rumah.
memiliki kepercayaan yang tidak rasional Ibu yang menyusui bayinya secara
seperti tidak boleh tidur siang karena dapat eksklusif memiliki kesabaran dalam
mempengaruhi sifat bayi. mengurus bayinya, mereka juga tetap
2. Dukungan memberikan ASI walaupun dalam waktu
Sebagian besar suami dari beberapa lama dan yakin bahwa ASInya dapat
informan cenderung lebih mempercayakan mencukupi kebutuhan bayi. Mereka lebih
masalah perawatan bayi kepada istri mementingkan kebutuhan bayinya, dan
walaupun kadang mereka berdiskusi mengesampingkan pekerjaan rumah tangga
terlebih dahulu sebelum memutuskan bahkan terkadang mereka mengurus
sesuatu. Para suami umumnya bayinya sambil menyelesaikan
mengingatkan hal-hal yang mereka tahu pekerjaannya di rumah.8,9,10
dapat membahayakan bayinya. Begitu juga
dengan keluarga seperti orang tua atau SIMPULAN
mertua, umunya keluarga yang ikut serta Berdasarkan hasil penelitian dan
mengasuh bayi kadang menganjurkan ibu pembahasan pada bab sebelumnya, maka
untuk memberikan makanan atau cairan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
tambahan pada bayi. 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi
Gagalnya ASI eksklusif didorong juga dari keberhasilan dalam pemberian ASI
kurangnya dukungan keluarga atau suami eksklusif diantaranya adalah,
berupa perhatian. Perhatian yang kepercayaan ibu mengenai ASI,
dimaksudkan adalah berupa dukungan dari suami dan keluarga serta
memprioritaskan ibu untuk menyusui dan kesabaran ibu dalam mengasuh bayi.
mengurus bayinya di tengah kesibukannya 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi
dan membantu atau menggantikan ibu kegagalan dalam pemberian ASI
dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. eksklusif diantaranya adalah status ibu
5,6,7
bekerja untuk memenuhi kebutuhan
Berbeda dengan ibu yang menyusui sehari-hari, kurangnya kesabaran ibu
bayinya secara eksklusif, mereka mendapat dalam mengasuh bayi, kurangnya
perhatian lebih dari suami dan keluarga.

114
International Conference for Midwives (ICMid)

dukungan dan perhatian suami dan http://jurnalkesmas.ui.ac.id/index.php/


keluarga pada ibu menyusui. kesmas/article/view/184.
8. Kriselly, Yarina. Studi Kuaitatif
DAFTAR PUSTAKA terhadap Rendahnya Cakupan ASI
1. UNICEF. ASI Eksklusif, Artinya ASI Eksklusif di Wilayah Kerja
Tanpa Tambahan Apapun. Puskesmas Kereng Pangi Kecamatan
UNICEF.2012 [diunduh 28 Katingan Hilir Kabupaten Katingan
November 2015] Propinsi Kalimantan Tengah Tahun
Tersedia dari 2012 (tesis) UI. [diunduh 29
http://www.unicef.org/indonesia/id/re November 2015] Tersedia dari
allives_19398.html. http://lib.ui.ac.id/opac/ui/detail.jsp?id
2. Dinkes Jabar. Profil Kesehatan =20318215&lokasi=lokal.
Provinsi Jawa Barat Tahun 2012. 9. Saleh, La Ode Amal. Artikel
Depkes. 2012 [diunduh 27 November Penelitian: Faktor-faktor yang
2015] Tersedia dari Menghambat Praktik ASI Eksklusif
http://www.depkes.go.id/resources/do pada Bayi Usia 0-6 Bulan. UNDIP.
wnload/profil/PROFIL_KES_PROVI 2011 [diunduh 28 November 2015]
NSI_2012/12_Profil_Kes.Prov.JawaB Tersedia dari
arat_2012.pdf http://eprints.undip.ac.id/35946/1/424
3. Dinkes Provinsi. Situasi dan Analisis _La_Ode_Amal_Saleh_G2C309009.p
ASI Eksklusif. Kemenkes RI. 2014 df.
[diunduh 27 November 2015]. 10. Madjidi, Arina dan Adiningsih, Sri.
Tersedia dari Hubungan Karakteristik Ibu,
http://www.depkes.go.id/resources/do Dukungan Keluarga, Dukungan
wnload/pusdatin/infodatin/infodatin- Layanan Kesehatan dengan Pola
asi.pdf. Pemberian ASI. Media Gizi
4. Sugiyono. Memahami Penelitian Indonesia. UNAIR. 2013 [diunduh 29
Kualitatif. Alfabeta. Bandung. 2012. November 2015] Tersedia dari
5. Afifah, Diana Nur. Faktor yang http://journal.unair.ac.id/relationship-
Berperan dalam Kegagalan Praktik between-the-characteristics-of-
Pemberian ASI Eksklusif (Studi mother,-family-support,-support-
Kualitatif di Kecamatan Tembalang, services-provision-of-health-with-
Kota Semarang Tahun 2007). UNDIP. pattern-asi-article-6784-media-22-
[diunduh 28 November 2015] category-3.html
Tersedia dari:
http://eprints.undip.ac.id/1034/
6. Natalia, Dayuni. Hubungan antara
Karakteristik Ibu Hamil dengan
Pengetahuan Tentang ASI Eksklusif
di RSUD Arjawinangun Kabupaten
Cirebon Tahun 2015 (KTI).
Politeknik Kesehatan Tasikmalaya;
2015.
7. Fikawati S, Syafiq A. Praktik
pemberian ASI eksklusif, penyebab-
penyebab keberhasilan dan
kegagalannya. Jurnal Kesmas
Nasional. UI. 2009 [diunduh 28
November 2015]Tersedia dari

115
International Conference for Midwives (ICMid)

EFFECTS OF BIRTH INTERVAL AND PARITY AMONG WORKING


MOTHERS ON DURATION OF BREASTFEEDING IN CIREBON

Rinela Padmawati, Nurasih


Program Studi Kebidanan Cirebon Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

ABSTRACT

The longer duration of breastfeeding is believed to be associated with a longer life of an infant;
therefore, each mother is expected to sustainably provide breast milk to her baby until the age of
two years. Many factors can influence breastfeeding, among others, number of children,
employement, birth interval with the youngest child, and so on. This study aimed to determine
the effects of birth interval and parity among working mothers on duration of breastfeeding in
Cirebon. This was an observational study using a cross-sectional study design with a
quantitative approach. The study subjects were breastfeeding mothers that met criteria for
inclusion and exclusion. The data analysis was done with correlation and t-test. The results
showed that birth interval and parity did not have any effects on duration of breastfeeding with a
p value of > 0.05. The study conclusion was that the mean duration of breastfeeding was still in
a good category so that breastfeeding mothers should improve the duration of breastfeeding to
be 24 months. There is a need for supports in terms of facility and infrastructures as well as
mental supports to achieve better duration of breastfeeding.

Keywords : duration of breastfeeding, birth interval, parity

PENDAHULUAN
Kualitas suatu Bangsa dilihat dari 10/1000 dari usia 1-5 tahun dan sebagian
kesejahteraan penduduk dengan melihat besar penyebab kematian bayi baru lahir
salah satu indikator yaitu kesehatan dan dapat ditanggulangi.
gizi penduduk. Kesejahteraan ibu dilhat Penyebab Angka Kematian Bayi
dari tingkat kesehatan dan akses untuk (AKB) diantaranya adalah diare,
mendapatkan pelayanan kesehatan. pneumonia, dan kurang gizi. Salah satu
Kesejahteraan anak dapat dilihat salah cara untuk menekan penyebab AKB dari
satunya dari pemenuhan gizi dimulai saat kurang gizi adalah dengan pemberian ASI
dalam kandungan sampai anak beranjak selama 6 bulan yaitu ASI eksklusif.
besar. Telah kita ketahui bahwa target Menurut Prasetyo (2012) menyebutkan
Millenium Development Goals (MDG’s) bahwa memberikan ASI selama 6 bulan
ke-4 adalah menurunkan AKB dan balita dapat menyelamatkan 1,3 juta jiwa di
menjadi 2/3 dalam kurun waktu 1990- seluruh dunia, termasuk 22 % yang
2015(1). Menurut data Survei Demografi melayang setelah kelahiran.
dan Kesehatan Indonesia tahun 2007 Pada saat bayi dilahirkan gizi yang
(SDKI 2007), Angka Kematian Bayi paling baik adalah Air Susu Ibu (ASI).
sebesar 34/1000 kelahiran hidup (2). Usaha pemerintah dalam meningkatkan
Sebagian besar kematian anak di kesejahteraan anak tercantum dalam UUD
Indonesia saat ini terjadi pada masa baru 1945 dan UU Kesehatan No.36 tahun 2009
lahir (neonatal), bulan pertama kehidupan. pasal 128 yang menyebutkan bahwa
Kemungkinan anak meninggal pada usia “Setiap bayi berhak mendapatkan air susu
yang berbeda yaitu 19/1000 selama masa ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6
neonatal, 15/1000 dari usia 2-11 bulan serta (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis”.

116
International Conference for Midwives (ICMid)

Air Susu Ibu (ASI) merupakan membuat pengalaman ibu menyusui


makanan yang terbaik bagi bayi yang bertambah. Dengan pengalaman yang
diberikan oleh seorang ibu. ASI dapat banyak akan membuat durasi menyusui ibu
menyelamatkan kehidupan seorang bayi lebih lama karena keterampilan ibu lebih
karena kandungan yang sudah dibuat untuk banyak. Faktor lain adalah jarak persalinan
kelangsungan hidup bayi. Oleh sebab itu di dengan anak terakhir juga akan
Indonesia pemberian ASI diatas dua tahun mempengaruhi proses menyusui. Jarak
masih dilakukan. Menurut Roesli (2000) persalinan yang pendek akan mengurangi
menyatakan bahwa anjuran bayi diberikan durasi ibu untuk menyusui karena bila ibu
ASI sampai usia 2 tahun karena tersebut hamil akan menghentikan
dilatarbelakangi oleh alasan ekonomi dan menyusui anaknya. Oleh sebab itu peneliti
kesehatan(3). Sedangkan menurut Nurmiati tertarik untuk melakukan penelitian tentang
(2008) menyatakan bahwa kelangsungan pengaruh jarak persalinan dan paritas pada
hidup bayi di Indonesia salah satu ibu bekerja terhadap durasi menyusui.
kemungkinannya adalah durasi pemberian
ASI, selain dari faktor lain. Semakin lama METODE
bayi diberikan ASI akan semakin lama Penelitian ini merupakan penelitian
hidup bayi tersebut(4). observasional dengan rancangan penelitian
Selain itu manfaat ASI salah satunya cross sectional study dengan pendekatan
yaitu dapat menurunkan AKB terutama bila kuantitatif.Populasi dalam penelitian ini
diberi secara eksklusif. Pemberian ASI adalah ibu menyusui yang bekerja di
Eksklusif sampai bayi berusia 4-6 bulan wilayah Kota Cirebon. Sampel penelitian
akan menjamin tercapainya pertumbuhan ini adalah ibu menyusui yang bekerja di
otak secara optimal. Pemberian ASI Kota Cirebon yang memenuhi kriteria
Eksklusif dengan kolostrum akan inklusi yaitu bersedia menjadi responden,
melindungi bayi dari berbagai penyakit dan mempunyai bayi berumur ≥ 24
infeksi bakteri, virus dan jamur (5). bulan.Kriteria eksklusi dari sampel ini
Pemberian ASI secara eksklusif selama 6 adalah ibu dengan penyakit berat,
bulan dan diteruskan sampai 2 tahun mempunyai bayi lebih dari satu (gemelli),
disamping pemberian Makanan melahirkan bayi prematur dengan jumlah
Pendamping ASI (MP ASI) secara adekuat sampel yang ada adalah 50 orang.
juga terbukti merupakan salah satu Penelitian dilakukan di Puskesmas
intervensi efektif dapat menurunkan AKB yang berada di wilayah Dinas Kesehatan
(6). Kota Cirebon. Penelitian dilakukan mulai
Berdasarkan data Depkes (2009) bulan Mei 2015 sampai dengan November
menyebutkan bahwa rata-rata pemberian 2015. Instrument penelitian ini
ASI sekitar 22 bulan namun pemberian menggunakan daftar tilik yang dibuat
makanan selain masih terlalu dini berdasarkan data yang terdapat pada
diberikan. Masalah ini dapat menyebabkan catatan konselor dan yang ditanyakan
rendahnya kualitas kesehatan bayi di langsung.
Indonesia(7).
Namun banyak kendala yang HASIL
menghambat pemberian ASI sampai 2 Analisis ini bertujuan untuk memberikan
tahun (24 bulan). Dewasa ini banyak ibu gambaran subyek penelitian yang diambil
yang bekerja yang harus meninggalkan sebanyak 50 orang ibu.
bayinya di rumah, sedangkan bayi tersebut
masih membutuhkan ASI. Selain itu
banyaknya anak yang dimiliki ibu akan

117
International Conference for Midwives (ICMid)

Tabel 1. Multipara (17,91 ± 8,90) (-5,08- 2


Karakteristik subyek penelitian 5,68)
(mean
Karakteristik Min max n (%)
± SD) Mean = nilai rata-rata Δmean = beda rata-
Paritas rata p = value SD = standar deviasi CI =
Primipara 14 (28)
nilai confident interval 95%
Multipara 36 (72)
Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa
Umur Ibu paritas tidak mempunyai hubungan yang
20-35 th 42 (84) signifikan dengan durasi menyusui dilihat
>35 th 8 (16)
dari hasil p > 0,05 (0,912)
Jenis Persalinan Tabel 4.
Pervaginam 36 (72) Pengaruh usia ibu dengan durasi menyusui
SC 14 (28) Durasi Menyusui
Nama
(mean ± Δ mean t
Jarak (30,64 0 132 Variabel P
SD) CI
Persalinan ± 1 31 20-35 th (18,54 ± 1,055
Durasi 26,11) >35 th 8,64) (-3,09-
menyusui (18 ± 3,42 0,29
(15,12 ± 9,94)
8,41) 2,41)
Keterangan: Hasil analisis bivariat variabel luar yaitu
Mean = nilai rata-rata SD = standar usia ibu dengan durasi menyusui yang
deviasi tampak pada tabel 4 didapatkan hasil p
n = jumlah responden % = presentase value > 0,05 artinya usia ibu tidak
min = nilai terendah max = nilai tertinggi. mempunyai pengaruh terhadap durasi
menyusui.
Berdasarkan hasil analisis pada tabel 1. Tabel 5.
bahwa subyek penelitian mayoritas Pengaruh jenis persalinan dengan durasi
multipara (72%), berumur 20-35 tahun menyusui
(84%), dengan jenis persalinan pervaginam Durasi Menyusui
(72%), rata-rata jarak persalinan 30,64 Nama
(mean Δ t
bulan, dan durasi menyusui rata-rata 18 Variabel p
± SD) mean CI
bulan, Pervaginam (17,75 -0,33
Tabel 2. SC ± 8,55) (-
Pengaruh Jarak Persalinan dengan Durasi -0,89 0,74
(18,64 6,27-
Menyusui ± 8,32) 4,48)
Durasi Menyusui Hasil analisis pada tabel 5 dapat dilihat
Nama variabel
r p bahwa jenis persalinan tidak ada hubungan
dengan durasi menyusui terlihat dari p
Jarak Persalinan 0.1423 0.3242 value > 0,05 (0,74).

Berdasarkan hasil analisis pada tabel 2 PEMBAHASAN


didapatkan bahwa p value > 0,05 (0,324) Gambaran karakteristik subjek
artinya jarak persalinan tidak mempunyai penelitian
pengaruh terhadap durasi menyusui. Berdasarkan hasil penelitian
Tabel 3. Pengaruh paritas dengan durasi didapatkan bahwa mayoritas respoden
menyusui dengan multipara, berumur 20-35 tahun,
Durasi Menyusui dengan jenis persalinan pervaginam, rata-
Nama
Δ
Variabel (mean ± SD)
mean
tCI P rata jarak persalinan 30,64 bulan, dan
Primipara (18,21 ± 7,31) 0,29 0,11 0,91 durasi menyusui rata-rata 18 bulan, artinya

118
International Conference for Midwives (ICMid)

dengan durasi 18 bulan merupakan durasi dikemukakan oleh Amatayakul K et al


yang dianggap masih dalam rentang baik (1999) bahwa primipara dengan multipara
karena menurut IDAI durasi menyusui mempunyai kesamaan dalam lamanya
yang baik adalah sampai 24 bulan. Artinya pemberian ASI. Yang berpengaruh besar
ibu masih peduli untuk memberikan ASI terhadap durasi menyusui adalah pola
nya walaupun dengan keterbatasan waktu menyusui dan dukungan keluarga,
karena ibu bekerja. sedangkan pengalaman dalam menyusui
Analisis Bivariat : tidak menjadi faktor yang berpengaruh
Pengaruh jarak persalinan dengan terhadap durasi menyusui(10).
durasi menyusui Sejalan dengan penelitian Fahriani
Hasil analisis bivariat didapatkan (2014) yang menyebutkan bahwa tidak
bahwatidak ada pengaruh antara jarak terdapat perbedaan pemberian ASI
persalinan dengan durasi menyusui. Hasil eksklusif antara primipara dan multipara.
penelitian ini berbeda dengan teori yang Proporsi ASI eksklusif yang tinggi pada
didapatkan bahwa perilaku menyusui dapat ibu primipara karena sebagian besar (60%)
menjarangkan waktu kehamilan berikutnya sudah memperoleh konseling ASI sejak
karena faktor hormon yang muncul saat ibu masa kehamilan(11).
menyusui bayinya. Berdasarkan penelitian, Begitu pula dengan subyek penelitian ini,
menyusui bisa dijadikan salah satu metode dimana ibu yang primipara sudah
kontrasepsi dalam mengatur kehamilan mengetahui menyusui yang baik sebelum
berikutnya. Namun menyusui bukan satu- melahirkan sehingga tidak ada
satunya cara dalam mengatur kehamilan Pengaruh usia dengan durasi menyusui
berikutnya pada ibu menyusui. Asumsi Hasil analisis bivariat variabel luar
penulis jarak persalinan tidak ada pengaruh yaitu usia ibu dengan durasi menyusui
terhadap durasi menyusui karena ibu didapatkan hasil tidak pengaruh uisa
bekerja sudah mempunyai pengetahuan terhadap durasi menyusui. Hasil penelitian
yang baik tentang menyusui dan durasi ini tidak sejalan dengan Roesli (2000) yang
menyusui, sehingga walaupun jarak menyatakan bahwa ibu dengan usia
persalinan dekat dengan persalinan produktif yaitu rentang 20-30 tahun
terdahulu tapi tetap memberikan ASI merupakan rentang yang aman untuk
selama mungkin. bereproduksi dan pada umumnya usia
Pengaruh paritas dengan durasi tersebut memiliki kemampuan laktasi yang
menyusui lebih baik dibandingkan dengan usia lebih
Pengaruh paritas terhadap durasi dari 30 tahun(3).
menyusui didapatkan p > 0,05 (0,912) Namun sejalan dengan pendapat
artinya paritas tidak mempunyai kekuatan Fahriani et.al (2014) yang menyebutkan
untuk mempengaruhi durasi bahwa usia ibu tidak mempunyai
menyusui.Hasil penelitian ini sejalan perbedaan pemberian ASI eksklusif karena
dengan Jane (2006) dan Zafar Naeem SH dimungkinkan adanya perbedaan ekstrim
and M (2008) yang mengatakan bahwa antara jumlah ibu > 25 tahun dengan < 25
paritas tidak berhubungan dengan durasi tahun(11).
menyusui walaupun paritas dapat dinilai Ibu bekerja di Kota Cirebon
dari pengalaman ibu dalam menyusui. dimungkinkan sudah mengetahui manfaat
Pengalaman bukan salah satu faktor dalam menyusui dan cara menyusui yang benar
lamanya menyusui karena faktor seperti karena setiap Puskesmas sudah
pengenalan pertama menyusui dan usia ibu melaksanakan kelas ibu hamil yang rutin
yang lebih kuat hubungannya dengan dilaksanakan. Oleh sebab itu ibu bekerja
durasi menyusui(8-9). Sejalan dengan yang yang di Puskesmas Kota Cirebon secara

119
International Conference for Midwives (ICMid)

tidak langsung terpapar pengetahuan SIMPULAN


tentang ASI eksklusif dan menyusui Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan
sehingga usia ibu tidak mempunyai dalam penelitian ini, dapat disimpulkan
pengaruh terhadap durasi menyusui. bahwa :
Pengaruh jenis persalinan dengan durasi 1. Durasi menyusui ibu bekerja rata-rata
menyusui 18 bulan, artinya masih dalam rentang
Hasil penelitian didapatkan bahwa baik.
jenis persalinan tidak ada hubungan dengan 2. Paritas dan jarak persalinan tidak
durasi menyusui. Hasil penelitian ini mempunyai pengaruh terhadap durasi
Sejalan dengan yang dikemukakan oleh menyusui.
Fahriani et al (2014) bahwa tidak terdapat
hubungan antara cara persalinan dengan DAFTAR PUSTAKA
pemberian ASI eksklusif. Pada 1. Purwanti SH. konsep Penerapan ASI
penelitiannya ibu sejak hamil trimester Eksklusif Buku Saku untuk Bidan.
ketiga sudah mendapatkan penyuluhan Jakarta: EGC; 2003.
prenatal. Selain itu, tim persalinan 2. Wijaya AM. Kondisi Angka
berkomitmen melakukan IMD dan saling Kematian Neonatal (AKN), ANgka
bekerja sama untuk terlaksananya proses Kematian Bayi (AKB), Angka
IMD, sehingga durasi menyusui akan lebih Kematian Balita (AKBAL), Angka
lama karena produksi ASI menjadi banyak Kematian Ibu (AKI), dan penyebab di
(11). Indonesia2009.
Namun berbeda dengan Rafael (1996) 3. Roesli U. Mengenal ASI Ekslusif.
menyebutkan bahwa jenis persalinan sectio Jakarta: Trubus Agriwijaya; 2000.
cesarea mempunyai hubungan dengan 4. Nurmiati, Besral. Durasi Pemberian
durasi menyusui. Alasannya karena pada ASI Terhadap ketahanan hidup bayi
saat proses sectio caesar tidak dilakukan Di Indonesia. Makara Kesehatan.
Inisisasi Menyusu Dini (IMD) sehingga 2008;12(2):47-52.
akan mempengaruhi proses laktasi sampai 5. Kasdu D. Anak Cerdas. Anggota
ke lama pemberian ASI. Namun ada juga IKAPI Jakarta: Puspa Swara; 2004.
literatur yang menyatakan bahwa sectio 6. Sitaresmi A. Balita pintar buah-
caesarea hanya mempengaruhi pada inisiasi buahan. Jakarta: Elex Media
menyusu saja tapi tidak pada durasi Komputindo; 2010.
menyusu. 7. Depkes R. Survei Demografi dan
Berdasarkan hasil analisis bivariat Kesehatan Indonesia2009: Available
yang semua variabelnya tidak ada from: www.depkes.go.id.
hubungan dengan durasi menyusui maka 8. Jane A. Scott, Colin W. Binns,
penulis tidak melakukan analisis Wendy H. Oddy, Graham KI.
multivariat. Banyak faktor yang Predictors of Breastfeeding Duration:
mempengaruhi hasil penelitian ini sehingga Evidence From a Cohort Study.
setiap variabel tidak ada yangberhubungan Pediatrics 2006;117:e646-e55.
atau mempengaruhi durasi menyusui. 9. Zafar Naeem Sh, M GIB-.
Faktor yang mempengaruhi bisa Breastfeeding and working full time
diakibatkan karena pengalaman menyusui experiences of nurse mothers in
yang tidak baik sebelumnya, kesadaran Karachi, Pakistan. International
akan manfaat menyusui, ibu bekerja, Journal of Caring Sciences.
fasilitas menyusui bagi wanita bekerja yang 2008;1(3):132-9.
terbatas di tempat bekerja

120
International Conference for Midwives (ICMid)

CITRUS AURANTIFOLIA TO DECREASE STRIEGRAVIDARUMAND


CREATE A SLIMMINGTUMMY TO WOMEN IN POSTPARTUM

Yuniar Angelia Puspadewi, Senditya Indah Mayasari


Program Studi Kebidanan STIKES Widyagama Husada Malang

ABSTRACT
Lime is a fruitthat contains lots ofvitamins, andminerals. Lime contains a lotof useful nutrients
for healthanddisease preventionandhas lots ofvitamin Cthat worksforendurance.Limealso is an
antioxidant that functionsto delay thepremature aging(anti-aging) and to leanpostpartum. In
thepostpartum, the striegravidarum occurs during the pregnancy makes women become not
confident. This makes them try to find waystoeliminateStriegravidarumand create a
slimmingtummyafter child birthing. This study aimed at finding out the effectiveness of lime
(Citrus aurantifolia) to decrease the Striegravidarumand create a slimmingtummy to women in
postpartum. The pretest and posttest technique was conducted. Subjects inthis study were
thefirstday ofpostpartum women. Fat thickness measurementanddocumentation
ofstriaegravidarum were done onthefirstday ofpostpartum. The treatments were cone by
applying lime extract everyday(morning and evening) for 3weeks. After3weeks,
measurementanddocumentation were done again to knowwhetherthere wasreduction infat
thicknessandstriaegravidarum or not. The results showed that most of Strie gravidarum reduced
after the treatment. Based on the analysis of chi square count T> T Ha was valid, so that it can
be concluded that the regularity of applying the lime extract can reduce Strie gravidarum. T-test
analysis obtained from T count> T table shows that there is a difference between thick stomach
and abdominal circumference before and after the lime applied. The use of lime regularly and
properly is effective to decrease striae on the abdomen slimming gravidarun and puerperal
women.

Keywords: Lime, slimnessstomach, striaegravidarum, Postpartum

PENDAHULUAN melahirkan, terutama pada daerah bagian


Seorang wanita dalam kehidupannya akan perut membuat ibu menjadi tidak percaya
mengalami tahapan- tahapan reproduktif diri. Perut ibu yang kendor dan jelek akan
mulai dari menstruasi, hamil, melahirkan, dirasakan semua ibu nifas, dimana dalam
sampai tahap menopause. Salah satu proses hal ini ibu sangat bingung dengan
yang dialami seorang wanita adalah proses bagaimana cara melangsingkan dan
nifas. Perawatan masa nifas ini termasuk menghilangkan garisperut seperti sebelum
dalam perawatan kebidanan dimana hamil. Saat ini banyak ibu-ibu nifas yang
perawatan kebidanan tidak hanya terbatas mengkonsumsi obat diet dan menggunakan
pada masa kehamilan dan persalinan tetapi stagen yang terlalu kencang, atau bahkan
juga masa nifas sampai pulih seperti hanya sekedar mendengar cerita dari ibu-
semula yang semua itu mempunyai tujuan ibu lainnya sehingga banyak diantara
agar kegiatan itu terarah dan terevaluasi1. mereka mengkonsumsi obat diet dari pada
Hal-hal yang menarik dan member ciri memakai ramuan alami.
masa nifas adalah perubahan-perubahan Saat ini cara tradisional untuk
yang dianggap normal dan harus terjadi memperlangsing ibu nifas banyak
untuk memenuhi sebagian dari fungsi ditinggalkan karena dirasa kurang praktis
masa nifas yaitu mengembalikan alias ribet, walaupun cara tradisional lebih
keadaan seperti sebelum hamil. Keadaan aman dan tidak ada efek samping. Ada
bentuk tubuh yang dialami ibu setelah beberapa ramuan alami untuk mengecilkan

121
International Conference for Midwives (ICMid)

perut, khususnya mengecilkan perut bagian mandi 8.


bawah. Seperti salah satunya adalah Berdasarkan study pendahuluan di
pemberian oles jeruk nipis2. BPM Dillah Sobirin bulan Agustus,
Jika dikaji lebih dalam jeruk nipis terhadap 5 ibu nifas ditemukan 3 orang
(Citrus Aurantifolia) adalah salah satu menggunakan oles jeruk nipis dan 2 orang
jenis Citrus Geruk. Jeruk nipis termasuk Ibu nifas tidak menggunakan olesan jeruk
jenis tumbuhan perduyang banyak nipis dengan tujuan untuk melangsingkan
memiliki dahan dan ranting yang dan menghilangkan garisan pada perutnya.
menghasilkan buah dengan nama sama. Berdasarkan penjelasan diatas, maka
Oladipupa, et al. 2014 dalam penelitiannya penulis ingin meneliti tentangolesan jeruk
tentang jeruk nipis mengemukakan bahwa nipis(citrus aurantifolia)untuk mengurangi
ada variasi kimia dalam komposisi sampel striae gravidarum dan kelangsingan perut
minyak yang diteliti yang mungkin dapat pada ibu nifas.
diatribusikan dengan kondisi ekologi dan Secara umum penelitian ini bertujuan
iklim yang berbeda juga dengan sifat untuk menganalisis olesan jeruk
tanaman di berbagai belahan dunia 3. nipis(citrus aurantifolia)untuk mengurangi
Tumbuhan ini dimanfaatkan buahnya, yang striae gravidarum dan kelangsingan perut
biasanya bulat, berwarna hijau atau kuning, pada ibu nifas dan secara khusus ditujukan
memiliki diameter 3-6cm, memiliki rasa untuk melakukan (1) Identifikasi
asam dan agak pahit, agak serupa rasanya kelangsingan perut dan striae gravidarum
dengan lemon. Kandungan jeruk nipis sebelum pemberian olesan jeruk nipis, (2)
yang sudah banyak kita ketahui adalah Identifikasi kelangsingan perut dan striae
kandungan vitamin C nya yang tinggi gravidarum setelah pemberian olesan jeruk
dibanding jenis jeruk lainnya 4. Dommo, et nipis, (3) Menganalisis olesan jeruk
al. 2013 dalam penelitiannya bahwa nipis(citrus aurantifolia)untuk mengurangi
terdapat aktivitas anti-inflamasi dari ekstrak striae gravidarum dan kelangsingan perut
Citrus limon var. Meyer dan Citrus pada ibu nifas
aurantifolia var. "Sans Epines" diukur
dengan metode enzimatik berdasarkan pada METODE PENELITIAN
tindakan menghambat substansi yang akan Penelitian ini termasuk dalam jenis
diuji pada oksidasi asam linoleat oleh 5- penelitian Pra eksperimen dengan
lipoxygenase dari kacang kedelai. menggunakan one group pre test-post test
Pengukuran ini memberikan nilai IC50 dari desainyaitu desain ini digunakan untuk
46,5 ppm dan 49,35 ppm masing-masing meneliti pada satu kelompok dengan
untuk Meyer dan "San Epines" terhadap 0,7 dilakukan pengukuran dan
ppm untuk NDGA 5. Enejoh, et al. 2011 pendokumentasian terlebih dahulu satu kali
dalam penelitiaanya bahwa mengkonsumsi kemudian diberi perlakuan ( treatment ) dan
C. Aurantifolia mentah lebih baik karena setelah itu dilakukan pengukuran dan
nilai gizinya 6. Nallely, 2012 dalam pendokumentasian kembali.
penelitiannya mengemukakan bahwa Dalam penelitian ini yang diobservasi
pemanfaatan senyawa yang terkandung adalah tebal lemak dan striae gravidarum
dalam buah citrus untuk tujuan terapeutik ibu sebelum diberikan olesan jeruk nipis
akan memerlukan evaluasi kegiatan dan setelah diberi olesan jeruk nipis. Dan
sitotoksik dan penentuan nilai indeks 7. dalam desain ini tidak menggunakan
Adapun berbagai alternativetentang kelompok kontrol dan kelompok
jeruk nipis yang digunakan sebagai pembanding.Data yang terkumpul
penghilang garisan pada perut (strie dilakukan: editing, coding, scoring,
gravidarum)yaitu dengan menambahkan transfering, tabulating, selanjutnya
kapur sirih dan minyak kayu putih dan dianalisis statistik dengan program software
dioleskan secara merata setiap hari sehabis SPSS 16.

122
International Conference for Midwives (ICMid)

HASIL DAN PEMBAHASAN chi square 0,000 Sehingga dapat


Hasil penelitian yang dilakukan sebelum disimpulkan bahwa pemberian oles
diberikan oles perasan jeruk nipis pada post perasan jeruk nipis secara teratur dapat
partum hari pertama didapatkan bahwa strie mengurangi strie gravidarum pada ibu post
livide sebanyak 4 orang (20%) dan strie partum.
albican sebanyak 16 orang (80%) dengan Hasil analisa data terhadap efektifitas
keadaan strie yang sama yaitu banyak dan oles jeruk nipis terhadap kelangsingan
jelas. perut ibu nifas diambil dari data di
Pada saat sebelum diberikan oles jeruk BPM Dillah Sobirin Wilayah Malang.
nipis didapatkan hasil dari pengukuran Sedangkan dari analisa data menggunakan
lingkar perut dan tebal lemak sangat menggunakan uji Paired t – Test
kelihatan, hal ini secara subyektif dapat didapatkan hasil t hitung > t tabel, dan α <
dilihat dari tebal lemak minimal 20 mm, 0,05 yaitu 0,00 maka H0 ditolak H1
maksimal 43 mm, rata-rata 28,9500 mm diterima artinya ada efektifitas pemberian
dan standart devisiasi 6 ,18551 mm, oles jeruk nipis terhadap pengembalian
sedangkan data lingkar perut minimal 70 kelangsingan perut ibu nifas.
cm, maksimal 121 cm, rata-rata 91,9000 Hasil analisa data terhadap efektifitas
cm dan standart devisiasi 14,12314 cm. oles jeruk nipis terhadap kelangsingan
Setelah diberikan perasan oles jeruk perut ibu nifas diambil dari data di
nipis didapatkan hasil dari dari 20 BPM Dillah Sobirin Wilayah Malang.
responden, yang rutin memberikan oles Sedangkan dari analisa data menggunakan
jeruk nipis yaitu sebanyak 17 orang (85%) menggunakan uji Paired t – Test
dan tidak rutin memberikan oles jeruk didapatkan hasil t hitung > t tabel, dan α <
nipis sebanyak 3 orang (15%) disebabkan 0,05 yaitu 0,00 maka H0 ditolak H1
karena ibu lupa. Adapun hasil dari diterima artinya ada efektifitas pemberian
pemberian oles jeruk nipis yang berbeda - oles jeruk nipis terhadap pengembalian
beda dari tiap responden yaitu terdapat ada kelangsingan perut ibu nifas.
16 orang (80%) yang mengalami Pengurangan strie pada ibu
pengurangan strie gravidarum setelah dikarenakan tata cara penggunaan oles
pemberian oles jeruk nipis sedangkan ada jeruk nipis yang benar dan teratur
4 orang (20%) yang tidak mengalami dalam pemberiannya. Cara pemberian
pengurangan strie gravidarum setelah oles jeruk nipis yaitu peras jeruk nipis dan
pemberian oles jeruk nipis. Responden ukur dalam gelas ukur hingga 2,5 cc
yang tidak mengalami pengurangan pada kemudian oleskan secara merata pada strie
strie gravidarum disebabkan karena cara gravidarum serta lakukan secara rutin pada
pengolesan jeruk nipis yang tidak merata pagi dan sore hari setelah mandi.
dan terlalu tipis. Ibu post partum sebagai responden
Pada saat setelah diberikan oles jeruk dalam penelitian ini adalah ibu post
nipis didapatkan hasil dari pengukuran partum hari pertama dikarenakan jika post
lingkar perut sebelum diberikan oles partum lebih dari 5 hari maka keadaan
jeruk nipis lingkar perut minimal 59 cm, strie telah berubah. Post partum
maksimal 110 cm, rata-rata 80,9500 cm merupakan pengembalian alat-alat
dan standart devisiasi 14,54747 cm dan kandungan seperti sebelum hamil 5.
tebal lemak sebelum diberikan oles jeruk saifudin
nipis rata-rata rata-rata 28,95000 mm dan Mekanisme kerja jeruk nipis yaitu sari
tebal lemak setelah pemberian oles jeruk buah jeruk nipis merupakan diuretik
nipis rata-rata 15,6000 mm. alami yang lezat. Jeruk nipis
Berdasarkan hasil analisa diatas melarutkan lemak yang menumpuk di sel-
menunjukkan bahwa sig<α (0,05) artinya sel, menghancurkannya, kemudian
H0 ditolak dan H1 diterima dengan hasil membuangnya keluar, menurut B1. Jeruk

123
International Conference for Midwives (ICMid)

nipis dapat merangsang/menghancurkan yaitu ibu nifas yang hari 1-20 hari.
lemak yang ada diperut sehingga Dikarenakan kalau lebih dari 20 hari
mengembalikan kelangsingan perut ibu kekendoran perut ibu nifas sudah agak
nifas. Dan pengembalian kelangsingan kembali dan tidak kelihatan.
perut ibu tersebut juga dikarenakan dari
tata cara penggunaan oles jeruk nipis SIMPULAN
yang benar dan teratur yaitu jeruk nipis a. Ada perbedaan yang signifikan
dioleskan keperut sampai kepunggung antara lingkar perut dan tebal lemak
tunggu sampai kering kemudian dipakai sebelum dan setelah pemberian oles
stagen/ambat, digunakan waktu pagi dan jeruk nipis pada ibu nifas.
sore selama 3 minggu. Pada penelitian b. Hubungan antara pemberian oles jeruk
yang dilakukan oleh Bakare, 2012 tentang nipis dengan keadaan strie gravidarum.
jus lemon terhadap kehamilan pada mencit Ada 17 responden (85%) yang rutin
yang menimbulkan efek efek aborsi tetapi memberikan oles jeruk nipis, 16
tidak ada efek teratogenik jelas diamati 9. responden (94,1%) diantaranya
Loizo, 2012 dalam penelitiannya mengalami pengurangan dan 1 (5,88%)
mengemukakan bahwa potensi responden tidak mengalami
penggunaan C. aurantifolia kulit dan daun pengurangan. Sedangkan dari 3
untuk suplemen untuk kesehatan manusia responden (15%) yang tidak rutin
10
. memberikan oles perasan jeruk nipis
Menurut James Diugan (Anonymus, ketiganya (100%) tidak mengalami
2012) dimana setelah melahirkan, pengurangan pada strie gravidarum.
biasanya rahim akan menurun dan menjadi
lebih berat dari pada sebelumnya. Ibu nifas .
yang dapat digunakan dalam penelitian ini
Inflammatory Potential Of The
DAFTAR PUSTAKA Essential Oils Of The Varieties Of
Citrus Limon And Citrus Aurantifolia
Growing In Cameroon. Journal of
1. Prawirohardjo, S. (2009). Ilmu
Asian Scientific Research, 2013,
Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka.
3(10):1046-1057
2. Anonimus,2012.ManfaatJerukNipis.
6. Enejoh OS., Ogunyemi IO., Bala MS.,
(http://www.Permenkopi–
Oruene IS., Suleiman MM., Ambali
bogsportnotes.com/2012/06/khasiat-
SF., 2011. Ethnomedical Importance
manfaat-jeruk–nifis–part 1 html)
of Citrus Aurantifolia (Christm)
3. Karina, A. (2012). Jeruk Nipis.
Swingle. The Pharma Innovation
Surabaya: Stomata Oladipupo, et al.
Journal. ISSN: 2277- 7695 TPI 2015;
2014. Comparative analysis of
4(8): 01-06
essential oils of Citrus aurantifolia
7. Nallely E. Sandoval-Montemayor,
Swingle and Citrus reticulata Blanco,
Abraham García, Elizabeth Elizondo-
from two different localities of Lagos
Treviño, Elvira Garza-González, Laura
State, Nigeria. American Journal of
Alvarez, María del Rayo Camacho-
Essential Oils and Natural Products
Corona, 2012. Chemical Composition
2014; 2 (2): 08-12
of Hexane Extract of Citrus
4. Sa'adah, S. (2007). Buah-Buah di
aurantifolia and Anti-Mycobacterium
Sekitar Kita. Jakarta: Sinar Wadja
tuberculosis Activity of Some of Its
Lestari.
Constituents. Molecules 2012, 17,
5. Dongmo PMJ., Tchoumbougnang P.,
11173-11184;
Boyom FF., Sonwa ET., Zollo PHA.,
doi:10.3390/molecules170911173
Menut C. 2013. Antiradical,
8. Yuliarti, Nurheti. Sehat, cantik, bugar
Antioxidant Activities And Anti-

124
International Conference for Midwives (ICMid)

denagn herbal dan Obat tradisional.


Yogyakarta : Penerbit Andi. 2010.
ISBN : 978-979-29-1228-9
9. Bakare AA., Bassey RB., Onyeka CA.,
Duru FI. 2012. Lime Juice (Citrus
aurantifolia): Effect on fetal
parameters of pregnant Sprague-
Dawley rats. International Journal of
Medicine and Medical Sciences Vol. 2
(5), pp.114-116, May, 2012
10. Loizo MR, et al. 2012. Evaluation
of Citrus aurantifolia peel and leaves
extracts for their chemical
composition, antioxidant and anti-
cholinesterase activities. Journal of the
Science of Food and Agriculture
Volume 92, Issue 15, pages 2960–
2967

125
International Conference for Midwives (ICMid)

BEHAVIOR RELATIONSHIP WORK WITH MOTHER EXCLUSIVE BREAST


FEEDING IN THE HEALTH SIWALAN DISTRICT PEKALONGAN

Dewi Mayangsari, Putrie Fikialia Wijaya


Program Studi DIV Bidan Pendidik Stikes Karya Husada Semarang

ABSTRACT

Gift scope exclusive breast feeding at only around 25,6% Central Java, at regency Pekalongan
year 2014 show gift scope exclusive breast feeding 3,02%. While data from Puskesmas Siwalan
that give exclusive breast feeding that is around 6,38%. the low scope exclusive breast feeding
based on survey foreword is caused because a large part mother works doesn't give exclusive
breast feeding because behaviour at the job environment example and because time works
difficult to give exclusive breast feeding. Research design that used descriptive correlation with
approach cross sectional. Population in this research entire mothers works to give suck that has
baby the age 7 - 9 months at area Puskesmas Siwalan Regency Pekalongan amount of 36
respondents. Sample in this research numbers 36 with technically total sampling. Research
result shows that mother works at area Puskesmas Siwalan regency Pekalongan a large part
good behavior as much as 20 respondents (55,6%). Mother works at area Puskesmas Siwalan
Regency Pekalongan a large part doesn't give exclusive breast feeding as much as 26
respondents (72,2%). There relationship significant between mother behaviour works with gift
exclusive breast feeding at area Puskesmas Siwalan Regency Pekalongan with p value = 0,022.
Supposed mother works for permanent give exclusive breast feeding until age baby 6 months
and supposed midwife more increase in give elucidation about gift exclusive breast feeding
especially in mother works

Keywords: behaviour, mother works, exclusive breastfeeding

PENDAHULUAN
Air Susu Ibu (ASI) eksklusif adalah bayi Survei Demografi dan Kesehatan
hanya diberi ASI saja selama 6 bulan, tanpa Indonesia (SDKI) 2012 mengumpulkan
tambahan cairan lain seperti susu formula, data tentang pemberian makanan pada bayi
jeruk, madu, air teh, dan air putih, serta untuk semua anak terakhir yang dilahirkan
tanpa tambahan makanan padat seperti ibu dalam kurun waktu dua tahun sebelum
pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan survei. Hanya 27% bayi umur 4-5 bulan
nasi tim. Setelah 6 bulan baru mulai mendapat ASI eksklusif (tanpa tambahan
diberikan Makanan Pendamping ASI makanan atau minuman lain). Selain ASI,
(MPASI). ASI dapat diberikan sampai anak 8% bayi pada umur yang sama diberi susu
berusia 2 tahun.(1) lain dan 8% diberi air putih. Pemberian
World Health Organization (WHO) ASI eksklusif kepada bayi berusia 4-5
pada awal tahun 1980 menyimpulkan bulan dalam SDKI 2012 lebih tinggi
bahwa pendidikan kesehatan tidak mampu dibandingkan dengan hasil SDKI 2007
mencapai tujuannya, apabila hanya (masing-masing 27 persen dan 17
memfokuskan pada upaya-upaya persen).(3)
perubahan prilaku saja.Promosi kesehatan Data yang dperoleh dari profil
harus mencakup pula upaya perubahan kesehatan Kabupaten/Kota tahun 2012
lingkungan (fisik, sosial budaya, politik, menunjukkan cakupan pemberian ASI
ekonomi dan sebagainya) sebagai eksklusif hanya sekitar 25,6%.(4)
penunjang atau pendukung perubahan Data dari DKK (Dinas Kesehatan
perilaku tersebut.(2) Kabupaten) Kabupaten Pekalongan tahun

126
International Conference for Midwives (ICMid)

2014 menunjukkan cakupan pemberian METODE


ASI eksklusif 3,02%.Sedangkan data dari Dalam penelitian yang dilakukan penelitian
Puskesmas Siwalan yang memberikan ASI menggunakan jenis penelitian deskriptif
eksklusif yaitu sekitar 6,38%. kuantitatif dengan desain penelitian
Bagi ibu yang bekerja menyusui korelasi. Penelitian ini adalah untuk
tidak perlu dihentikan. Ibu bekerja tetap mengetahui hubungan perilaku ibu bekerja
harus memberi ASI kepada bayinya karena dengan pemberian ASI eksklusif di
banyak keuntungannya. Jika Wilayah Puskesmas Siwalan Kabupaten
memungkinkan bayi dapat dibawa ke Pekalongan. Populasi dalam penelitian ini
tempat ibu bekerja. Namun hal ini akan adalah semua ibu bekerja yang menyusui
sulit dilaksanakan apabila di tempat bekerja yang memiliki bayi usia 7 – 9 bulan.
atau di sekitar tempat bekerja tidak tersedia Penelitian ini menggunakan pendekatan
sarana penitipan bayi atau pojok laktasi. cross sectional-nya adalah penelitian yang
Bila tempat bekerja dekat dengan rumah, menjelaskan hubungan perilaku ibu bekerja
ibu dapat pulang untuk menyusui bayinya dengan pemberian.ASI eksklusif, yang
pada waktu istirahat atau minta bantuan peneliti lakukan pada waktu itu juga.(7)
seseorang untuk membawa bayinya ke
tempat bekerja.(1) HASIL PENELITIAN
Hasil survei pendahuluan yang di 1. Perilaku Ibu Bekerja
Perilaku Ibu Frekuensi Persentase Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi
Bekerja (%) Perilaku Ibu Bekerja Di Wilayah
Tidak Baik 16 44,4 Puskesmas Siwalan Kabupaten
Baik 20 55,6 Pekalongan
Total 36 100,0 Tabel 4.1 diatas dapat dilihat bahwa
lakukan di Wilayah Puskesmas Siwalan sebagian besar ibu bekerja di Wilayah
Kabupaten Pekalongan pada bulan Juli Puskesmas Siwalan Kabupaten
2015 terdapat 48 ibu nifas yang Pekalongan berperilaku baik sebanyak
melahirkan pada bulan November 2014. 20 responden (55,6%), perilaku tidak
Peneliti temui 10 ibu bekerja yang baik sebanyak 16 responden (44,4%).
menyusui, 7 diantaranya dijumpai ibu
bekerja yang menyusui tidak ASI eksklusif 2. Pemberian ASI Eksklusif
karena perilaku yang di contoh lingkungan Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi
pekerjaannya dan karena waktu bekerja Pemberian ASI Eksklusif Di
yang susah untuk memberikan ASI WilayahPuskesmas Siwalan Kabupaten
eksklusif. Dampak yang ibu rasakan pada Pekalongan
bayinya yang tidak diberikan ASI eksklusif Pemberian Frekuensi Persentase
yaitu bayinya sering mengalami diare ASI (%)
karena terkadang tidak cocok Eksklusif
menggunakan susu formulanya dan Tidak ASI 26 72,2
bayinya sangat mudah tertular penyakit Eksklusif
seperti flu dan panas. Sedangkan 3 ibu ASI 10 27,8
bekerja yang menyusui ASI eksklusif dan Eksklusif
berperilaku memberikan ASI kepada Total 36 100,0
bayinya tanpa memberikan tambahan Tabel 4.2 diatas dapat dilihat bahwa
cairan lain.Yang ibu rasakan yaitu pada sebagian besar ibu menyusui di
bayinya tidak pernah mengalami diare dan Wilayah Puskesmas Siwalan Kabupaten
daya tahan tubuhnya bagus yang jarang Pekalongan tidak memberikan ASI
tertularnya penyakit flu dan panas karena eksklusif sebanyak 26 responden
ibu memberikan ASI eksklusif pada (72,2%) dan sebagian kecil yang
bayinya.

127
International Conference for Midwives (ICMid)

memberikan ASI eksklusif sebanyak 10 Wilayah Puskesmas Siwalan Kabupaten


responden (27,8%). Pekalongan berperilaku baik sebanyak
3. Hubungan Perilaku Ibu Bekerja Dengan 20 responden (55,6%),perilaku tidak
Pemberian ASI Eksklusif baik sebanyak 16 responden (44,4%).
Tabel 4.3 Hubungan Perilaku Ibu Perilaku adalah respon individu
Bekerja Dengan Pemberian ASI terhadap suatu stimulus atau suatu
Eksklusif di Wilayah Puskesmas tindakan yang dapat di amati dan
Siwalan Kabupaten Pekalongan mempunyai frekuensi spesifik, durasi
Pemberian ASI P value dan tujuan baik di sadari maupun tidak.6
Eksklusif Perilaku ibu baik terjadi karena
Perilaku Total
Tidak ASI ASI
Ibu
Eksklusif Eksklus sebagian besar ibu telah melakukan
Bekerja upaya pemberian ASI eksklusif seperti
if
f % f % F % penerapan ASI eksklusif pada ibu yang
Tidak 15 93,8 1 6,3 16 100 0,022 bekerja dengan cara sebelum berangkat
Baik
Baik 11 55,0 9 45,0 20 100
kerja ibu memerah ASI terlebih dahulu
Total 26 72,2 10 27,8 36 100 untuk persediaan bayinya dan ketika
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa ibu ibu lelah pulang kerja, ibu tetap
menyusui di Wilayah Puskesmas memberikan ASI pada bayinya.
Siwalan Kabupaten Pekalongan yang Perilaku ibu bekerja tidak baik
perilaku ibu bekerja tidak baik dengan terjadi karena ibu tidak melakukan
pemberian ASI tidak eksklusif upaya pemberian ASI eksklusif, ibu
sebanyak 15 responden (93,8%), justru memberikan susu formula,
perilaku ibu bekerja kategori tidak baik cairan/ makanan tambahan sebelum
dengan pemberian ASI eksklusif bayi berumur 6 bulan dan ibu tidak
sebanyak 1 responden (6,3%), memberikan ASI perahan selama
sedangkan perilaku ibu bekerja kategori bekerja. Karena terkadang waktu ibu
baik dengan pemberian ASI tidak untuk bekerja sibuk, sehingga tidak
eksklusif sebanyak 11 responden sempat memerah ASInya dan tidak bisa
(55,0%), dan perilaku ibu bekerja langsung pulang untuk menyusui
kategori baik dengan pemberian ASI bayinya. Sebagian ibu juga tidak paham
eksklusif sebanyak 9 responden untuk cara dan tempat penyimpanan
(45,0%). ASI perahannya. Kebanyakan ibu
Hasil uji statistik menggunakan chi- menganggap bahwa ASI dan susu
square dengan fisher exact test formula kandunganya sama. Sesuai
didapatkan hasil nilai ρ=0,022 berarti dengan teori bahwa pemberian ASI
lebih kecil dari taraf signifikansi 5% (ρ eksklusif yang dilakukan ibu bekerja
value : 0,022< α : 0,05). Ini berarti Ha sulit dilaksanakan apabila di tempat
diterima sehingga ada hubungan yang bekerja atau di sekitar tempat bekerja
signifikan antaraperilaku ibu bekerja tidak tersedia sarana penitipan bayi atau
dengan pemberian ASI eksklusifdi pojok laktasi.(1)
Wilayah Puskesmas Siwalan Kabupaten 2. Pemberian ASI eksklusif
Pekalongan. Hasil analisis diperoleh Hasil penelitian menunjukan
pula nilai OR = 12,273 artinya perilaku bahwa pemberian ASI eksklusif di
ibu bekerja baik menyebabkan sebesar Wilayah Puskesmas Siwalan Kabupaten
12.213 kali ibu memberikan ASI Pekalongan masih rendah yaitu dari 36
eksklusif. responden hanya 10 (27,8%) yang
PEMBAHASAN memberikan ASI eksklusif dikarenakan
1. Perilaku ibu bekerja banyak ibu yang bekerja, selain itu
Hasil penelitian menunjukkan adapula ibu yang beralasan karena tidak
bahwa sebagian besar ibu bekerja di tahu dan suruhan dari orang tua untuk

128
International Conference for Midwives (ICMid)

memberikan bayinya makanan manajemen ASI yang baik. Manajemen


tambahan di bawah umur 6 bulan. ASI disini bukan hanya seputar teknik
Pemberian makanan tambahan banyak laktasi di tempat kerja, namun juga
diberikan pada bayi ketika berumur 3 meliputi bagaimana ibu menyiapkan
bulan dan makanan tambahan yang diri dan lingkungannya sebelum ia
diberikan adalah pisang, bubur susu, kembali bekerja.(10)
biskuit, bubur nasi, dan nasi tim. Selain Hasil penelitian menunjukkan
makanan tambahan ibu juga pemberian ASI eksklusif sebagian besar
memberikan tambahan cairan seperti tidak ASI eksklusif disebabkan karena
susu formula, jeruk, madu, air teh, dan responden adalah ibu yang bekerja,
air putih sebelum bayi 6 bulan. sesuai dengan teori menurut Maulana,
Hasil penelitian sesuai dengan (2008) fenomena ibu bekerja yang tidak
pendapat Meutia (2008) yang dapat menyusui secara eksklusif sekitar
mengatakan bahwa pemberian ASI 70%. Sejumlah ibu mengatakan
eksklusif di Indonesia masih sangat terpaksa memberikan susu formula
memprihatinkan. Akibat dari pemberian lantaran produksi ASI menurun karena
ASI dan pemberian makanan tambahan kelelahan setelah seharian bekerja. (11)
yang salah, sekitar 6,7 juta balita atau Peneliti berpendapat, pada ibu
27,3 persen dari seluruh balita di bekerja yang mempunyai produksi ASI
Indonesia menderita kurang gizi dan lancar namun memberikan susu formula
sebanyak 1,5 juta diantaranya dapat dipengaruhi oleh karena
menderita gizi buruk.(8) meningkatnya promosi tentang susu
Faktor-faktor yang formula di berbagai media. Produksi
mempengaruhi pemberian ASI menurut ASI sedikit yang membuat pengeluaran
Notoadmodjo (2003) adalah ASI tidak lancar, menjadikan alasan
karakteristik individu (umur, untuk ibu memberikan susu formula.
pendidikan, dan pekerjaan), Sering kali ibu tidak berhasil menyusui
pengetahuan, sikap, kepercayaan, dan atau menghentikan menyusui lebih dini,
nilai-nilai dari seseorang, lingkungan oleh karena kurangnya kontak untuk
fisik, tersedia atau tidaknya sarana dan menyusui anak sehingga menghambat
fasilitas kesehatan dan perilaku petugas produksi ASI. Ibu bekerja beranggapan
kesehatan lain yang merupakan bahwa semakin sering tidak disusui,
kelompok referensi dari perilaku maka produksi ASI semakin menurun.
masyarakat. Selain itu dukungan dari Hal tersebut dapat terjadi karena ibu
suami atau orangtua sangat membantu yang kurang percaya diri apakah
keberhasilan pemberian ASI. ASInya cukup untuk bayi. Keadaan
Bekerja bukan alasan untuk tersebut, menyebabkan produksi ASI
menghentikan pemberian ASI. Ibu tidak lancar dan dengan sendirinya
bekerja tetap dapat memberikan ASI yang akhirnya ibu memberikan susu
eksklusif dengan cara memerah ASInya formula.
sehari sebelum ibu pergi kerja. ASI Anak tidak mau menyusu atau
pernah dapat tahan disimpan selama 24 enggan menyusu dapat disebabkan
jam di dalam termos es yang diberi es karena puting ibu yang bermasalah,
batuatau dalam lemari es.Tidak terdapat anak sedang sakit, ada infeksi pada
perbedaan kualitas maupun kuantitas mulut bayi dan sebagainya (Siregar,
ASI ibu yang bekerja dengan ibu yang 2004). Sedangkan menurut Winoto dan
tidak bekerja atau ASI perah dengan Assefa (2003), terdapat 21,12%
ASI yang diberikan secara langsung. (9) perilaku ibu bekerja yang tidak
Kunci keberhasilan ASI memberikan ASI eksklusif kepada
eksklusif bagi ibu bekerja adalah anaknya. Kejadian tersebut, sangat

129
International Conference for Midwives (ICMid)

sebanding dengan hasil penelitian yang karena waktu bekerja ibu yang terlalu
menunjukkan informasi bahwa banyak sibuk dan sebagian ada yang berfikiran
ibu bekerja yang memberikan susu bahwa kandungan ASI dan susu
formula karena tidak dapat segera formula sama.
pulang untuk menyusui. Ibu bekerja Hasil diatas menunjukan bahwa
mengatakan bahwa jika mereka merasa ibu bekerja sebagian besar tidak
kerepotan untuk tetap memberikan ASI memberikan ASI eksklusif pada
lewat teknik memerah susu. Ibu lebih bayinya dan apapun perilaku ibu, ibu
cenderung memberikan susu formula tetap tidak memberikan ASI eksklusif
walaupun sebenarnya ASI dengan susu pada bayinya. Karena kebanyakan ibu
formula jauh berbeda. Asalkan susu bekerja, waktu merawat bayinya lebih
formula tersebut tidak merugikan bagi sedikit, sehingga ibu tidak memberikan
anaknya, dan dapat memberikan energi ASI eksklusif pada bayinya.
sehingga bayi atau anak tidak menangis Sebenarnya apabila ibu bekerja masih
selama ditinggal ibu bekerja. bisa memberikan ASI eksklusif pada
Hasil penelitian didukung oleh bayinya dengan cara memompa atau
penelitian yang dilakukan oleh Arvina dengan memerah ASI, lalu kemudian
Dahlan (2011) yang menyatakan bahwa disimpan dan diberikan pada bayinya
sebagian besar ibu yang memilikistatus nanti. Kebanyakan ibu yang bekerja
pekerjaan bekerja 20 (83,3%) tidak tidak memberikan ASI esklusif pada
memberikan ASI eksklusif dan 4 bayinya, tapi ada pula ibu yang bekerja
(16,7%) ibu memberikan ASI dapat memberikan ASI ekslusif pada
eksklusif.(12) bayinya sebanyak 10 orang (27,4%).
3. Hubungan perilaku ibu bekerja dengan
pemberian ASI eksklusif SIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan Hasil penelitian hubungan perilaku
bahwa perilaku ibu bekerja tidak baik ibubekerjadengan pemberian ASI eksklusif
sebagian besar pemberian ASI tidak di Wilayah Puskesmas Siwalan Kabupaten
eksklusif sebanyak 15 responden Pekalongan yang telah dilakukan dengan
(93,8%), sedangkan perilaku ibu sampel 36 responden dapat disimpulkan:
bekerja kategori baik sebagian besar 1. Ibu bekerja di Wilayah Puskesmas
juga pemberian ASI tidak eksklusif Siwalan Kabupaten Pekalongan
sebanyak 11 responden (55,0%). Hasil sebagian besar berperilaku baik.
penelitian menunjukkan ada hubungan 2. Ibu bekerja di Wilayah Puskesmas
antara perilaku ibu bekerja dengan Siwalan Kabupaten Pekalongan
pemberian ASI eksklusif di Wilayah sebagian besar tidak memberikan ASI
Puskesmas Siwalan Kabupaten eksklusif.
Pekalongan. Ada perilaku ibu bekerja 3. Ada hubungan yang signifikan antara
kategori tidak baik dengan memberikan perilaku ibubekerjadengan pemberian
ASI eksklusif karena walaupun ibu ASI eksklusif di Wilayah Puskesmas
dengan pendidikan rendah yang belum Siwalan Kabupaten Pekalongan.
mengetahui cara memerah ASI
eksklusif dan cara penyimpanan ASI DAFTAR PUSTAKA
yang benar, namun ibu sering pulang 1. Utama, Hendra. Bunga Rampai
untuk memberikan ASI kepada bayinya Masalah Kesehatan Dari Dalam
yang tempat kerjanya tidak terlalu jauh Kandungan Sampai Lanjut Usia.
dari rumahnya, sehingga memudahkan Jakarta : Fakultas Kedokteran
ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Universitas Indonesia ; 2007.
Adapun perilaku ibu kategori baik
namun tidak memberikan ASI eksklusif

130
International Conference for Midwives (ICMid)

2. Notoatmodjo, Soekidjo. Promosi


Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan.
Jakarta : Rineka Cipta ; 2012
3. Survey Demografi dan Kesehatan
Indonesia ; 2013
4. Buku Profil Kesehatan Propinsi Jawa
Tengah ; 2013
5. Widuri, Hesti. Cara Mengelola ASI
Eksklusif Bagi Ibu
Bekerja.Yogyakarta: Pustaka Baru ;
2013.
6. A.Wawan dan Dewi M`.Teori dan
Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan
Perilaku Manusia.Yogyakarta : Nuha
Medika ; 2010.
7. Sugiyono.Metode Penelitian
Kuantitatif Kualitatif dan R&D.
Bandung : Alfabeta ; 2012.
8. Meutia, Jurnal Pemberian ASI Pada
Status Ibu Yang Bekerja Dikota
Semarang. http
://www.menegpp.go.id. diperoleh 12
Januari 2009 ; 2008
9. Indah J.S. ASI eksklusif, Hak Setiap
Anak.Diakses 31 Desember 2015,
(from
http://www.indosiar.com/v2010/pk/pk
dok.htm; 2010
10. Suryoprajogo, Nadine. Keajaiban
Menyusui. Yogyakarta : Keyword ;
2009.
11. Maulana M. Panduan Lengkap
Kehamilan, Jakarta: Kata Hati ; 2008

131
International Conference for Midwives (ICMid)

DETERMINANT OF GIVING EXCLUSIVE BREASTFEEDING ON HEALTH


OFFICERS AT WORKING AREA OF PUBLIC HEALTH CENTER
KARAWANG REGENCY IN 2014

Yayuk Sri Rahayu


Program Studi Kebidanan STIKES Kharisma Karawang

ABSTRACT

Breast milk the best food which can be given by mother to her born infant. Only with breast
milk, it is enough to fulfill her infant’s needs until the first six months. Giving breast milk on
infant is very recommended, without food and drink except medicine and vitamin. Data from
Karawang Health Office, giving exclusive breast milk in Karawang Regency is about 29,47 %
in 2012. The aim of this research is known proportion and determinant giving exclusive breast
milk on health officers at working area of public health center Karawang Regency in 2014. The
research design used crossectional study with respondent are health officers who have infants
from 6 months to 12 months totally 242 respondents. The research was done in july 2014. The
data analysis used univariate analysis, bivariate, analysis, and multivariate. The result analysis
shows that presentage of giving exclusive breast milk is still low about 46,3%. The variables
which have significant relationship in giving breast milk are knowledge, formula milk used,
baby sitters support, office support, health officer’s support. The variables which don’t have
significant relationship in giving exclusive breast milk are age,level of education, attitude, faith,
facility. The variables which are very dominant related to give exclusive breast milk on health
officers are knowledge with value (P= 0,002 OR = 384,048). Suggestion for the Head of
Karawang Health office to give more information about the benefit of exclusive breast milk, the
good way of giving exclusive breast milk through training, seminar,health promotion,
counseling and media.

Keywords : Exclusive breasteeding 6-12 month, determinat of giving exclusive breasteeding

PENDAHULUAN
ASI merupakan makanan paling sempurna tentang Pemberian ASI Eksklusif. Namun,
bagi bayi. Pemberian ASI secara Eksklusif implementasi kebijakan nasional tersebut
berarti memberikan zat-zat gizi yang belum optimal. Hal ini dapat dilihat dari
bernilai tinggi yang di butuhkan untuk angka pemberian ASI eksklusif di
pertumbuhan dan perkembangan syaraf dan Indonesia yang masih rendah. Berdasarkan
otak, memberikan zat-zat kekebalan data World Breastfeeding TrendsInitiative
terhadap beberapa penyakit dan 2012 tentang kondisi menyusui di 51
mewujudkan ikatan emosional antara ibu negara berdasarkan pengukuran indikator
dan bayi. yang telah ditetapkan, Indonesia urutan ke
Indonesia dikenal sebagai salah satu 49 dari 51 negara dengan angka menyusui
negara yang memiliki kebijakan nasional hanya sebesar 27,5%.
yang cukup baik dalam memastikan Salah satu tujuan Millenium
dukungan tenaga kesehatan terhadap Development Goal’s (MDG’s) adalah
keberhasilan ibu menyusui. Dua kebijakan menurunkan angka kematian bayi dan
terbaru yang sangat diharapkan dampaknya anak. Begitupun dengan tujuan
bagi peningkatan angka cakupan pemberian pembangunan kesehatan adalah
ASI adalah UU no. 36 tahun 2009 tentang menurunkan angka kematian bayi. Menurut
27
Kesehatan dan PP no. 33 tahun 2012 dalam Profil Kesehatan Indonesia bahwa

132
International Conference for Midwives (ICMid)

angka kematian bayi di Indonesia saat ini dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama
adalah 32 per 1.000 kelahiran hidup 5. setelah kelahirannya.
Sedangkan untuk Jawa Barat angka Pemberian ASI eksklusif dapat
kematian bayi pada tahun 2012 adalah mengurangi tingkat kematian bayi yang
4650, 26. Di kabupaten karawang AKB dikarenakan berbagai penyakit yang
tahun 2012 dalam kurun waktu 1 tahun menimpanya seperti diare dan radang paru-
sebanyak 158 bayi yang meninggal dunia.4 paru, serta mempercepat pemulihan bila
Di Indonesia, menurut data Susenas sakit dan menjarangkan kelahiran.
(survei sosial ekonomi nasional) cakupan Sebagian besar pertumbuhan dan
pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai perkembangan bayi ditentukan oleh
6 bulan 33,6 % pada tahun 2010. Hasil pemberian ASI eksklusif. Banyak
Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 kandungan zat gizi dalam ASI yang tidak
menunjukkan bahwa pemberian ASI terdapat dalam susu formula. Komposisi
eksklusif sampai usia bayi 6 bulan di zat dalam ASI antara lain 88,1% air, 3,8%
Indonesia masih rendah, yaitu hanya lemak, 0,9% protein, 7% laktosa, serta
sebesar 42% . Pemberian ASI eksklusif di 0,2% zat lainnya berupa DHA, DAA,
Jawa Barat bervariasi besarnya di setiap sphynogelin, dan zat gizi lainnya.
21.
Kabupaten/Kota, yaitu berkisar kurang dari Pemberian ASI eksklusif pada 6 bulan
30% sampai ada yang di atas 80%. Secara pertama usia bayi dapat melindungi bayi
keseluruhan, pemberian ASI eksklusif di dari kematian, dan insiden diare.
Jawa Barat pada tahun 2013 adalah sebesar Memberikan ASI eksklusif selama 6
36%, 3. Di kota Karawang pemberian ASI bulan dapat menyelamatkan 1,3 juta jiwa
eksklusif sampai usia bayi 6 bulan pada anak diseluruh dunia, termasuk 22% nyawa
tahun 2012 adalah sebesar 29,47% .4 yang melayang setelah kelahiran.
Pemberian ASI secara penuh sangat Sementara itu menurut UNICEF, ASI
dianjurkan oleh ahli gizi di seluruh dunia. eksklusif dapat menekan angka kematian
Tidak satu pun susu buatan manusia (susu bayi di Indonesia. UNICEF menyatakan
formula) dapat menggantikan ASI. Sebagai bahwa 30.000 kematian bayi di Indonesia
makanan alamiah ASI adalah makanan dan 10 juta kematian anak balita di dunia
terbaik yang bisa diberikan oleh seorang setiap tahun bisa dicegah melalui
ibu kepada bayi yang dilahirkannya. Hanya pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan
dengan ASI saja sudah cukup untuk sejak segera setelah kelahirannya tanpa
memenuhi kebutuhannya hingga ia memberikan makanan dan minuman
berumur kira-kira 6 bulan pertama. tambahan kepada bayi. WHO, UNICEF,
Pemberian ASI ekslusif kepada bayi sangat dan Departemen Kesehatan Republik
dianjurkan. Pemberian ASI eksklusif Indonesia melalui SK Menkes No.
adalah pemberian ASI saja tanpa makanan 33/Men.Kes/SK/IV/2012 telah menetapkan
atau minuman lain kecuali obat dan rekomendasi pemberian ASI eksklusif
vitamin dari usia bayi 0 bulan sampai selama 6 bulan. Dalam rekomendasi
dengan 6 bulan. tersebut, dijelaskan bahwa untuk mencapai
Pedoman internasional yang pertumbuhan, perkembangan, dan
menganjurkan pemberian ASI eksklusif kesehatan yang optimal, bayi harus diberi
selama 6 bulan pertama didasarkan pada ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.
bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi daya Selanjutnya, demi tercukupinya nutrisi
tahan hidup bayi, pertumbuhan, dan bayi, maka ibu mulai memberikan makanan
perkembangannya. Selain itu ASI pendamping ASI dan ASI hingga bayi
memberikan semua energi dan gizi yang berusia 2 tahun atau lebih..

133
International Conference for Midwives (ICMid)

Walaupun WHO dan UNICEF telah sarana, ketepaparan susu formula), factor
menetapkan untuk memberikan ASI reinforcing (dukungan suami, dukungan
eksklusif kepada bayi selama 6 bulan pengasuh, dukungan tempat kerja dan
pertama bayi, namun angka prevalensi dukungan petugas kesehatan).
pemberian ASI eksklusif di beberapa Lokasi penelitian ini adalah wilayah
negara bervariasi. kerja puskesmas Kabupaten karawang.
Dari hasil penelitian Asi di Subang Sampel penelitian ini adalah tenaga
dari 23 posyandu didapatkan bayi usia 0-5 kesehatan yang bekerja dipuskesmas yang
bulan 29 hari yang masih mendapat ASI memiliki bayi usia 6 bulan sampai 12
saja sebanyak 41 bayi (30,4%) dan yang bulan. Data diperoleh melalui
sudah mendapat campuran lain selain ASI wawancaradengan kuesioner kepada tenaga
sebanyak 28 bayi (20,7%). Jumlah bayi kesehatan diwilayah Puskesmas Kabupaten
usia 6-12 bulan dengan ASI eksklusif karawang. Penelitian ini dilakukan pada
sebanyak 34 bayi (25,2%) dan 32 bayi bulan Juli 2014 dengan lokasi penelitian di
lainnya (23,7%) non ASI eksklusif. Puskesmas Kabupaten karawang. Populasi
Sebanyak 57 bayi (42,2%) pernah diare dan penelitian ini adalah seluruh tenaga
78 bayi lainnya (57,8%) tidak pernah diare. kesehatan wanita yang mempunyai bayi
Pemberian ASI eksklusif kepada bayi berusia 6 - 12 bulan di puskesmas
sampai bayi berusia 6 bulan merupakan hal Kabupaten karawang. Sample penelitian ini
penting yang harus dilakukan seorang ibu adalah tenaga kesehatan yang pada saat
mengingat manfaat yang didapat dari penelitian memiliki bayi berusia 6 - 12
pemberian ASI tersebut. Pemerintah bulan. Tehnik pengambilan sampel dengan
melalui Kementerian Kesehatan telah cara cluster sampling yang didalam
mengeluarkan kebijakan terkait pemberian clusternya menggunakan simple random
ASI Ekslusif ditempat kerja dalam sampling. Analisis Bivariat yang dilakukan
peraturan pemerintah Nomor 33 Tahun bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor
2012 tentang Pemberian ASI Ekslusif pada yang berhubungan dengan Pemberian ASI
pasal 30 ayat 3. Ekslusif Pada Tenaga Kesehatan Diwilayah
Rendahnya pemberian ASI Eksklusif Kerja Puskesmas Kabupaten Karawang
di kabupaten karawang 29,47 % Tahun 2014 dengan variabel umur,
dibandingkan dengan jawa barat 36 %, pendidikan, pengetahuan, keyakinan, sikap,
maka penulis tertarik untuk melakukan ketersediaan sarana, keterpaparan susu
penelitian tentang “ Determinan Pemberian formula, dukungan suami, dukungan
ASI Eksklusif pada tenaga kesehatan di pengasuh, dukungan tempat kerja dan
wilyah kerja puskesmas kabupaten dukungan petugas kesehatan dihubungkan
karawang tahun 2014.” dengan variabel terikat yaitu Pemberian
ASI Eksklusif.
METODE DISKUSI
Penelitian ini menggunakan pendekatan Gambaran Pemberian ASI Eksklusif
kuantitatif dengan rancangan Cross pada Tenaga Kesehatan di Wilayah
Sectional (Potong lintang)yaitu dalam Puskesmas Kabupaten Karawang Tahun
penelitian ini pengumpulan data variable 2014.
independen dan dependen dikumpulkan Dari hasil penelitian menunjukkan
dalam waktu yang bersamaan. Variable bahwa gambaran pemberian ASI Eksklusif
independen pada penelitian ini meliputi di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten
faktor predisposisi (umur, pendidikan, Karawang Tahun 2014 yang memberikan
pengetahuan, sikap, keyakinan, dan ASI Eksklusif sebanyak 46,3%sedangkan
pengetahuan, faktor enabling (ketersediaan yang tidak memberikan ASI Eksklusif

134
International Conference for Midwives (ICMid)

sebanyak 53,7%. Memberikan ASI Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten


eksklusif merupakan faktor penunjang Karawang Tahun 2014
kecerdasan si bayi, memang tidak mudah Hasil uji regresi logistik ganda
karena sang ibu harus memberikannya menunjukkan adanya hubungan yang
selama 6 bulan, Dari seluruh hasil yang bermakna antara Keterpaparan Susu
didapatkan, perolehan persentase Formula terhadap pemberian ASI Eksklusif
pemberian ASI Eksklusif pada penelitian (P value = 0,009 OR= 0,504). Hasil
ini masih jauh dibawah target yang penelitian ini sejalan dengan Pa’Baeng-
ditetapkan pemerintah dalam hal ini Baeng di Kelurahan di Makasar tahun 2006
Departemen Kesehatan yaitu 80 %. menunjukkan bahwa ada hubungan yang
Penelitian ini sejalan dengan penelitian bermakna antara pemberian susu formula
yang dilakukan oleh Khairunnisak (2013), dengan pemberian ASI eksklusif.
menunjukkan bahwa ibu yang memberikan Pemberian sampel susu formula ketika
ASI eksklusif sebanyak 33%. Hasil ibu melahirkan atau menyusui dapat
penelitian Bayu kurniawan (2013) mempengaruhi perilaku ibu dalam
menunjukkan angka ASI eksklusif sebesar pemberian ASI eksklusif oleh ibu (Ridwan,
35,3%. Penelitian Giri (2012), 2007).
menunjukkan proporsi pemberian ASI Hubungan Antara Dukungan Suami
Eksklusif pada ibu bekerja sebesar 62,5%. Tenaga Kesehatan dengan Pemberian
Hasil penelitian Ida (2011) di Jakarta, ASI Eksklusif di Wilayah Kerja
menunjukkan proporsi pemberian ASI Puskesmas Kabupaten Karawang Tahun
Eksklusif diwilayah puskesmas sebesar 25, 2014
6 %. Hasil uji regresi logistik ganda
Hubungan Antara Pengetahuan menunjukkan adanya hubungan yang
Tenaga Kesehatan dengan Pemberian bermakna antara Dukungan Suami nakes
ASI Eksklusif di Wilayah Kerja terhadap pemberian ASI Eksklusif (P
Puskesmas Kabupaten Karawang Tahun value = 0,001 OR= 56,860). Hasil
2014 penelitian ini sejalan dengan penelitian
Hasil uji regresi logistik ganda Astuti (2014) di Jakarta, Hariyani (2008),
menunjukkan adanya hubungan yang (Fauzi, 2008), ada hubungan bermakna
bermakna antara Pengetahuan nakes antara pemberian ASI eksklusif dengan
terhadap pemberian ASI Eksklusif (P dukungan suami. Penelitian di DKI Jakarta
value = 0,0005 OR= 106,615). Hasil tahun 2005 menunjukkan bahwa dukungan
penelitian ini sejalan dengan penelitian suami selama ibu menyusui berkaitan
Astuti (2014), Hariyani (2008), (Fauzi, dengan pengalaman sakit dan masalah
2008), ada hubungan anatara pemberian kekurangan ASI selama menyusui bayinya
ASI eksklusif dengan (p<0,05). Tentunya hal ini akan
8
pengetahuan.Menurut Lawrence , mempengaruhi pemberian ASI eksklusif
pengetahuan dan sikap seseorang terhadap kepada bayinya. Dukungan suami tersebut
kesehatan merupakan salah satu faktor antara lain adalah peran suami dalam
predisposisi yang mempengaruhi perilaku membantu ibu selama periode menyusui
seseorang. Diharapkan dengan pengetahuan yaitu dengan membantu pekerjaan rumah
yang tinggi para ibu menyusui lebih tangga dan merawat anak seperti
menggunakan pemenuhan pemberian ASI memandikan anak, memberi makan, dan
secara Eksklusif. mengajak bermain anak serta menghibur
Hubungan Antara Keterpaparan ibu (Februhartanty, 2006). Hasil penelitian
Susu Formula Tenaga Kesehatan Fauzi (2007) di Pidie, Aceh menunjukkan
dengan Pemberian ASI Eksklusif di bahwa faktor dukungan suami

135
International Conference for Midwives (ICMid)

berhubungan bermakna terhadap Hasil penelitian ini sejalan dengan


pemberian ASI eksklusif 4 bulan dan ASI penelitian (Giri, 2012) hubungan antara
eksklusif 6 bulan. Pada pemberian ASI dukungan tempat kerja dengan perilaku
eksklusif 4 bulan, ibu yang dukungan pemberian ASI eksklusif 6 bulan
suami baik berpeluang untuk menyusui didapatkan secara statistik terdapat
eksklusif sebesar 4,59 dibandingkan ibu hubungan bermakna antara dukungan
yang dukungan suami kurang. tempat kerja dengan perilaku pemberian
Keberhasilan ibu dalam menyusui tidak ASI eksklusif 6 bulan P =0,033 OR=3,388.
terlepas dari dukungan yang terus menerus Hubungan Antara Dukungan
dari suami. Motivasi ibu untuk menyusui Petugas Kesehatan Tenaga Kesehatan
akan bangkit jika memperoleh kepercayaan dengan Pemberian ASI Eksklusif di
diri dan mendapat dukungan penuh dari Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten
suami. Jika ibu merasa didukung, dicintai Karawang Tahun 2014
dan diperhatikan, maka akan muncul emosi Hasil uji regresi logistik ganda
positif yang akan meningkatkan produksi menunjukkan adanya hubungan yang
hormon oksitosin sehingga produksi bermakna antara Dukungan Petugas
hormon oksitosin produksi ASI lancar Kesehatan nakes terhadap pemberian ASI
(Swasno, 2008). Hasil penelitian ini sejalan Eksklusif (P value = 0,010 OR= 12,173).
dengan penelitian Bayu (2013), ada Hasil penelitian ini sejalan dengan
hubungan antara pemberian ASI eksklusif penelitian Nurpelita (2007) di Siak terdapat
dengan dukungan suami, p=0,000. hubungan yang signifikan antara dukungan
Hubungan Antara Dukungan petugas kesehatan dengan pemberian ASI
Pengasuh Tenaga Kesehatan dengan eksklusif.Ibu yang mendapat dukungan
Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah petugas kesehatan mempunyai peluang
Kerja Puskesmas Kabupaten Karawang 5,627 kali menyusui secara eksklusif
Tahun 2014 dibanding ibu yang kurang mendapatkan
Hasil uji regresi logistik ganda dukungan dari petugas kesehatan. Hasil
menunjukkan adanya hubungan yang penelitian ini sejalan dengan penelitian
bermakna antara Dukungan Pengasuh yang dilakukan oleh Astuti (2014),
nakes terhadap pemberian ASI Eksklusif Nurpelita (2007), Yamin, (2007)
(P value = 0,003 OR= 27,928). Hasil menunjukkan ada hubungan antara
penelitian ini sejalan dengan penelitian Giri pemberian ASI eksklusif dengan dukungan
(2012) di Jakarta terdapat hubungan yang tenaga kesehatan (2014).
bermakna antara dukungan pengasuh Hubungan Antara Umur Tenaga
dengan pemberian ASI Ekslusif (p = Kesehatan dengan Pemberian ASI
0,018). Bayu (2013), ada hubungan antara Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas
pemberian ASI eksklusif dengan dukungan Kabupaten Karawang Tahun 2014
pengasuh, p=0,000. Hasil uji regresi logistik ganda
Hubungan Antara Dukungan menunjukkan tidak adanya hubungan yang
Tempat Kerja Tenaga Kesehatan bermakna antara Umur nakes terhadap
dengan Pemberian ASI Eksklusif di pemberian ASI Eksklusif nilai P value =
Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten 0,126
Karawang Tahun 2014 Menurut penelitian Irna (2010)
Hasil uji regresi logistik ganda diwilayah Puskesmas Poned Karawang dan
menunjukkan adanya hubungan yang Yamin (2007) tidak semua wanita
bermakna antara Dukungan Tempat Kerja mempunyai kemampuan yang sama dalam
responden terhadap pemberian ASI menyusui. Pada umumnya wanita lebih
Eksklusif (P value = 0,002 OR= 24,701).

136
International Conference for Midwives (ICMid)

muda, kemampuannya menyusui lebih baik dicapai semakin membantu kemudahan


dari pada wanita yang lebih tua. pembinaan akan pentingnya pemberian ASI
Hubungan Antara Sikap Tenaga eksklusif pada bayi (Tarmuji, 2003). Hasil
Kesehatan dengan Pemberian ASI penelitian ini sejalan dengan penelitian
Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas yang dilakukan oleh Nuraeni (2002),
Kabupaten Karawang Tahun 2014 Waleli (2009), Sumiati (2008) bahwa tidak
Hasil uji regresi logistik ganda ada hubungan bermakna antara pendidikan
menunjukkan tidak adanya hubungan yang dengan pemberian ASI eksklusif,.
bermakna antara Sikap nakes terhadap Hubungan Antara Keyakinan
pemberian ASI Eksklusif (P value = 0,694 Tenaga Kesehatan dengan Pemberian
). Hasil penelitian ini sejalan dengan ASI Eksklusif di Wilayah Kerja
penelitian Ida (2012). Hasil uji hubungan Puskesmas Kabupaten Karawang Tahun
antara sikap ibu terhadap ASI eksklusif 2014
denganperilaku pemberian ASI eksklusif 6 Hasil uji regresi logistik ganda
bulan didapatkan bahwa secara statistik menunjukkan tidak adanya hubungan yang
tidakterdapat hubungan bermakna antara bermakna antara Keyakinan nakes terhadap
sikap ibu terhadap ASI eksklusif pemberian ASI Eksklusif nilai P value =
denganperilaku pemberian ASI eksklusif 6 0,859. Hasil penelitian ini sejalan dengan
bulan atau dapat dikatakan tidak penelitian yang dilakukan oleh Astuti
adaperbedaan proporsi perilaku pemberian (2014) didapatkan hasil bahwa tidak ada
ASI eksklusif selama 6 bulan. P hubungan antara keyakinan ibu dengan
value=0,213 OR=1,644. perilaku menyusui dengan hasil p= 0,125.
Hubungan Antara Tingkat Hubungan Antara Fasilitas Sarana
Pendidikan Tenaga Kesehatan dengan Tenaga Kesehatan dengan Pemberian
Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah ASI Eksklusif di Wilayah Kerja
Kerja Puskesmas Kabupaten Karawang Puskesmas Kabupaten Karawang Tahun
Tahun 2014 2014
Hasil uji regresi logistik ganda Hasil uji regresi logistik ganda
menunjukkan tidak adanya hubungan yang menunjukkan tidak adanya hubungan yang
bermakna antara tingkat pendidikan nakes bermakna antara Fasilitas Sarana nakes
terhadap pemberian ASI Eksklusif nilai P terhadap pemberian ASI Eksklusif nilai P
value = 0,830. Hasil penelitian ini sejalan value = 0,767. Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh dengan penelitian yang dilakukan oleh
Rosita (2010) didapatkan hasil bahwa tidak Rosita (2010) didapatkan hasil bahwa tidak
ada hubungan antara pendidikan ibu ada hubungan antara Fasilitas Sarana ibu
dengan perilaku menyusui dengan hasil p= dengan perilaku menyusui.
0,415. Menurut penelitian Nuraeni (2002),
bahwa tidak ada hubungan bermakna SIMPULAN
antara pendidikan dengan pemberian ASI Hasil penelitian menunjukkan bahwa
eksklusif, begitu juga menurut Waleli gambaran pemberian ASI Eksklusif pada
(2009), Sumiati (2008). Pendidikan tentang tenaga kesehatan diwilayah kerja
pemberian ASI merupakan suatu proses Puskesmas Kabupaten Karawang Tahun
merubah kepribadian, sikap, dan pengertian 2014 yang memberikan ASI Eksklusif
tentang ASI , sehingga tercipta kebudayaan sebanyak 46,3%, sedangkan yang tidak
memberikan ASI secara eksklusif tanpa memberikan ASI Eksklusif sebanyak
bahan makanan apapun. Berpedoman pada (53,7%). Terdapat hubungan yang
tujuan pendidikan diperkirakan bahwa signifikan anatara, Pengetahuan (Pvalue =
semakin meningkatnya pendidikan yang 0,0005, OR=106,615), Terpapar Susu

137
International Conference for Midwives (ICMid)

Formula (Pvalue= 0,009, OR=0,504), 8. Green, Lawrence Et.al.1980. Health


Dukungan Suami (P value=0,001 Education Planning. Mayfield
OR=56,860), Dukungan Pengasuh Publishing.
(Pvalue= 0,003 OR=27,928), Dukungan 9. Hartuti. 2006. Pemberian ASI Eksklusif
Tempat Kerja (Pvalue=0,002 OR=24,701), dan Faktor-Faktor yang Berhubungan
Dukungan Petugas Kesehatan diWilayah Kerja Puskesmas Tarusan
(Pvalue=0,010 OR=12,173) dengan Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi
pemberian ASI Eksklusif diwilayah kerja Sumatera Barat Tahun 2006. Tesis.
Puskesmas Kabupaten Karawang Tahun FKM UI.
2014. 10. Hastono.SP. Modul Pertama :
Tidak ada hubungan yang signifikan pengolahan data uji instrumen. FKM
antara umur, pendidikan, keyakinan, Universitas Indonesia, Jakarta. 2006.
Fasilitas Sarana dengan pemberian ASI 11. ---------------------------. Modul Kedua
Eksklusif. : Analisa univariat analisa bivariat.
Dari hasil penelitian variabel FKM Universitas Indonesia, Jakarta.
pengetahuan merupakan variabel yang 12. Ida. Faktor-faktor yang berhubungan
dominan berhubungan dengan Pemberian dengan pemberian ASI Eksklusif 6
ASI Eksklusif pada Tenaga Kesehatan, Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas
dengan nilai p =0,000 dan OR= 106,615 Kemiri Muka Kota Depok. Tesis
setelah dikontrol dengan variabel FKM-UI. 2011.
pengetahuan, keterpaparan susu formula, 13. Jajuli, A.. Faktor-faktor yang
dukungan suami, dukungan pengasuh, Berpengaruh Terhadap
dukungan tempatkerja, dukungan petugas Kelangsungan Pemberian ASI
kesehatan. Eksklusif di Tiga Kabupaten
(Cirebon, Cianjur, dan Ciamis)
DAFTAR PUSTAKA Propinsi Jawa Barat Tahun 2003
1. Alemayehu, Et.al. Determinants of (Analisis Survey Data Dasar Asuh-
Exclusive Breastfeeding Practices in KAP 2). Tesis. FKM-UI. 2007.
Ethiopia Ethiop Journal Health Dev. 14. Khasanah Nur.. ASI atau Susu
2009;23(1):12-18. Formula Ya?. FlashBook.
2. Depdiknas.Kamus besar bahasa Yogyakarta. 2011.
indonesia. PT Gramedia Pustaka 15. Maemunah,.Kamus istilah
Utama. Jakarta. 2008 kebidanan.Buku Kedokteran Jakarta:
3. Depkes.Petunjuk pelakasanaan EGC. 2004.
penerapan indicator Indonesia sehat 16. Maryunani. Asuhan pada ibu dalam
2010. Depkes RI. Jakarta. 2002. masa nifas (Post Partum). Jakarta .
4. Dinkes Kabupaten Karawang. Laporan 2009.
data cakupan ASI eksklusif wilayah 17. Nursalam. Konsep dan penerapan
Kabupaten Karawang. 2013. metodolagi penelitian ilmu
5. Kementrian Kesehatan Indonesia,. keperawatan, Edisi 2.
Profil Kesehatan Indonesia 2011. 2012. pedomanskripsi, tesis dan instrumen
6. Kesehatan Masyarakat, Universitas penelitian Keperawatan. Salemba
Hasanudin 2011. Medika. Jakarta. 2011.
7. Fauzi, Agus. Determinan Perilaku Ibu 18. Notoatmodjo. S..Kesehatan
Dalam Pemberian ASI Eksklusif masyarakat ilmu dan seni, Rineka
diWilayah Kerja Puskesmas Meurah Cipta, Jakarta. 2007
Dua Kabupaten Pidie Jaya Tahun 19. ………………... 2010.Metodologi
2008.Tesis. FKM UI. 2008 penelitian

138
International Conference for Midwives (ICMid)

kesehatan,edisirevisi.RinekaCipta. di Kelurahan Pa’ Baeng-baeng


Jakarta. Makasar Tahun 2006. Diunduh dari
20. Nurpelita, Faktor-faktor yang http://ridwanamiruddin.wordpress.co
Berhubungan Dengan Pemberian ASI m.
Eksklusif di Wilayah Kerja 25. Roesli Utami,dr. Seri 1 Mengenal ASI
Puskesmas Buatan II Siak Tahun eksklusif , Trubus Agriwidia. Jakarta.
2007. Tesis FKM UI. 2007. 2009.
21. Pedoman penulisan Tesis dan ,dr, 2005. Mengenal ASI eksklusif , PT
Bimbingan Tesis, 2013, Program Pusaka pembangunan swadaya
Pascasarjana Universitas Respati nusantara. Jakarta.
Indonesia, Jakarta. ,dr, 2008. Inisiasi Menyusu Dini ASI
22. Perinasia.Manajemen laktasi :menuju eksklusif , Pustaka Bunda. Jakarta.
persalinan aman dan bayi baru lahir 26. Saleha,.Asuhan kebidanan pada masa
sehat,cetakan ke 3. Jakarta. 2007. nifas,SalembaMedika. Jakarta. 2009.
23. Ramadani, M.2009. Hubungan 27. Suyanto.Metodologi dan aplikasi
Dukungan Suami dengan Pemberian penelitian keperawatan,NuhaMedika,
ASI Eksklusif di wilayah kerja Yogjakarta. 2011.
Puskesmas Air Tawar Kota Padang 28. SDKI, 2012. Survei Demografi
Sumatera Barat Tahun 2009. Tesis Kesehatan Indonesia. Jakarta :
FKM-UI. Litbangkes.
24. Ridwan, Amiruddin. Promosi Susu 29. WHO, 2009. “Program Pencapaian
Formula Menghambat Pemberian ASI Eksklusif”,www.who.or.id/ind/
ASI Eksklusif Pada Bayi 6-12 Bulan

139
International Conference for Midwives (ICMid)

EFFECT OF SUTURING INTRAUTERINE DEVICE ON THE CONTINUITY


IN THE TRANCAESAREAN POSTPARTUM CONTRACEPTION METHOD

Ariadi, Ade Aulia


Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang

ABSTRACT

The insertion of an intra uterine device (IUD) is installed immediately after delivery has been
recommended by the World Health Organization, as one method of contraception which is safe
and effective for temporary situation and prevent missed opportunity (unmet need). IUD
insertion after childbirth can avoid discomfort that usually occurs during the interval insertion,
and any bleeding from the insertion can be obscured by lochia. However, postpartum IUD
insertion has disadvantages as well. The risk of the possibility of spontaneous expulsion is very
high.1 The Expulsion rate of IUD insertion immediately postpartum interval is higher than the
installation may even reach 24 % . Insertion IUD immediately after birth by cesarean section
had expulsion rate are lower compared with vaginal delivery. The disadvantage of waiting for 4-
6 weeks postpartum for the insertion interval is the patients would not come to IUD insertion.
Based on these, researchers interested in conducting research on the effect of tied or untied the
IUD currently on expultion rate of IUD in cesarean section in Hospital of Dr.M.Djamil,
Reksodiwiryo in West Sumatra Padang and Distric hospital of Painan. Study is an experimental
study with the method of post-test control group design to determine differences in IUD
expulsion rate tied and not tied when installed during caesarean section at RSUP.Dr.M.Djamil
in Padang, Military Hospital Reksodiwiryo Padang and Painan District Hospital.There were not
significant differences between trancaesarean IUD insertion methods that are not tied ortied (P>
0.05). The percentage of expulsion is not tied 11.4% higher compared to 0% tied
expulsion.Statistically, were not significant differences as obtained P value> 0.05.

Keywords: IUD, tied, trancaesarean

PENDAHULUAN
Kesehatan Reproduksi dalam program Kesehatan Indonesia 2007 menunjukkan
Kependudukan dan Keluarga Berencana bahwa AKI sebesar 228/100.000 kelahiran
adalah kegiatan peningkatan kualitas hidup, AKB 34/1.000 kelahiran hidup, dan
kesehatan reproduksi yang didalamnya diperkirakan jumlah persalinan sekitar 4,5-
menyangkut peningkatan Kelangsungan 5 juta/tahun. Sedangkan menurut Data
Hidup Ibu, Bayi dan Anak (KHIBA), Survey Demografi Kesehatan Indonesia
pencegahan Penyakit Menular Seksual 2012 AKI sebesar 359/100.000 kelahiran
(PMS), HIV dan AIDS, pencegahan hidup, AKB sebesar 32/1.000 kelahiran
Kanker Alat Reproduksi (KAR) dan hidup.2,3
penanggulangan infertilitas sekunder.2 Insersi alat kontrasepsi dalam rahim
Kondisi saat ini tentang kesehatan (AKDR) yang dipasang segera setelah
reproduksi sangat mengkhawatirkan, melahirkan telah direkomendasikan oleh
seperti Kelangsungan Hidup Ibu, Bayi dan WHO, sebagai salah satu metode yang
Anak di Indonesia masih rendah, hal ini aman dan efektif untuk kontrasepsi
terlihat dari masih tingginya Angka sementara. Dalam periode beberapa saat
Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian pasca melahirkan ibu biasanya sangat
Bayi (AKB). Data Survey Demografi termotivasi dan perlu metode yang efektif

140
International Conference for Midwives (ICMid)

untuk kontrasepsi sehingga anak dapat beberapa jam sampai tujuh hari atau lebih
tumbuh dewasa tanpa khawatir untuk setelah melahirkan. Sejak 1970-an,
memikirkan kehamilan selanjutnya yang dilakukan insersi segera postplasenta,
tidak diinginkan.1 pemasangan AKDR yang dilakukan dalam
Dilema terjadi, jika ibu dibuat untuk 10 menit setelah melahirkan plasenta, telah
menunggu selama 6 minggu untuk dianjurkan, beberapa laporan melaporkan
memulai suatu metode kontrasepsi yang tingkat ekspulsinya rendah namun beberapa
efektif, mungkin dapat terjadi kehamilan laporan lagi menyatakan tingkat
yang tidak sengaja atau mungkin pasien ekspulsinya tinggi.5
tidak datang kembali untuk pemasangan Angka ekspulsi pada pemasangan
alat kontrasepsi. Pendekatan ini lebih AKDR postpartum segera lebih tinggi dari
berlaku untuk negara kita di mana pemasangan interval bahkan mungkin bisa
melahirkan mungkin satu-satunya saat mencapai 24%. Angka ekspulsi pada
ketika seorang ibu yang sehat datang dan pemasangan manual dan ring forsep hampir
berkontak dengan petugas kesehatan. sama, tetapi terdapat perbedaan angka
Dibandingkan dengan sterilisasi, ekspulsi pada pemasang yang
bagaimanapun penggunaan alat kontrasepsi berpengalaman dan tidak. Insersi segera
dalam rahim (AKDR) lebih sederhana, setelah bayi lahir saat seksio sesarea
lebih murah, tidak mengganggu produksi berhubungan dengan angka ekspulsi yang
air susu ibu dan reversibel. Penyisipan rendah dibandingkan dengan persalinan
AKDR setelah melahirkan dapat pervaginam. Keuntungan dari insersi
menghindari ketidaknyamanan yang segera mungkin dapat dipertimbangkan,
biasanya terjadi pada saat penyisipan daripada resiko ekpulsinya. Kerugian dari
interval, dan setiap perdarahan dari menunggu 4 – 6 minggu postpartum untuk
penyisipan dapat tersamarkan dengan lokia. insersi interval adalah tidak kembalinya
Namun, pemasangan AKDR postpartum ini pasien untuk pemasangan AKDR. 6
memiliki kelemahan juga. Risiko Variasi ekspulsi berdasarkan waktu
kemungkinan terjadinya ekspulsi spontan insersi :7
sangat tinggi.1 1. Postplasenta : 13% – 16%, namun
Kittur dkk. melaporkan di Mesir dapat lebih rendah 9% – 12,5%
setelah konseling keluarga berencana pasca tergantung pengalaman dari operator.
salin yang menyetujui pemasangan alat 2. Transesarea : 4% – 13%
kontrasepsi postplasenta, 71,2% yang 3. Insersi segera setelah postpartum :
menjadi akseptor, sedangkan dari yang 28% – 37%
menyetujui pemasangan alat kontrasepsi 4. Insersi lambat setelah 48 jam – 4
metode interval hanya 7,2% yang kembali minggu setelah persalinan tidak
untuk pemasangan. Hal hampir serupa juga dianjurkan.
terjadi di Columbia dan Turki. Sedangkan Berbagai usaha dilakukan untuk
pemasangan kontrasepsi selama seksio mengurangi angka ekspulsi AKDR ini
sesarea berhubungan dengan rendahnya terutama saat pemakaian postplasenta dan
ekspulsi dibandingkan pemasangan transesarea. Thiery M dkk melalui
pervaginam, tanpa disertai komplikasi penelitian uji acak klinis menyimpulkan
postoperatif. Insersi alat kontrasepsi dalam bahwa AKDR Delta Loop tidak terbukti
rahim postpartum disimpulkan masih tetap mempunyai angka ekspulsi yang tinggi.
efektif dan bermanfaat.4 AKDR model T (Delta TCu 22OC dan
Pada tahap penelitian awal, sebagian TCu22OC) mempunyai angka ekspulsi
besar insersi postpartum dilakukan di yang rendah, angka ekspulsi yang rendah
beberapa negara yang dilakukan dari juga terjadi pada TCu22OC yang diikat

141
International Conference for Midwives (ICMid)

maupun tidak diikat. AKDR delta loop, didapatkan karakteristik sampel penelitian
delta TCu 22OC dan TCu22O aman untuk berdasarkan umur, paritasdan pembukaan
insersi postpartum baik dari infeksi seperti yang terlihat pada tabel 1.
maupun perforasi.8
Berdasarkan uraian diatas peneliti Tabel 1. Karakteristik Sampel
tertarik untuk melakukan penelitian Penelitian
mengenai pengaruh diikat atau tidaknya
alat kontrasepsi dalam rahim saat seksio
sesarea terhadap angkaekspulsi di beberapa
rumah sakit Sumatera Barat yaitu
RSUP.Dr.M.Djamil Padang, RST
Reksodiwiryo Padang dan RSUD Painan.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan studi
eksperimental dengan metode post test
control group designuntuk mengetahui
perbedaan angka ekspulsi AKDR yang
diikat dan tidak diikat yang dipasang saat
seksio sesarea di RSUP.Dr.M.Djamil
Padang, RST Reksodiwiryo Padang dan Umur ibu rata – rata pada yang diikat
RSUD Painan. sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan
Pada subjek yang sesuai dengan yang tidak diikat (27,95 ± 5,05 tahun dan
kriteria inklusi dan ekslusi, setelah 27,75 ± 5,22 tahun), setelah diuji secara
dilakukan penjelasan dan informed consent statistik ternyata tidak signifikan karena
dilakukan pemasangan AKDR metode didapatkan p > 0,05, maka dari segi umur
transesarea satu kelompok diberikan kedua kelompok dapat dianggap setara
perlakuan diikat dengan kromik cat gut 2.0 Paritas rata – rata yang diikat sedikit
pada endometrium sedangkan yang satu lebih tinggi dibandingkan dengan yang
kelompok tidak diikat. Kemudian 3 bulan tidak diikat (1,95 ± 0,78 dan 1,72 ± 0,79),
setelah pemasangan dilakukan pemeriksaan setelah diuji secara statistik ternyata tidak
ultrasonografi untuk melihat AKDR signifikan karena didapatkan p > 0,05,
intrauterin. maka dari segi paritas kedua kelompok
dapat dianggap setara.
HASIL PENELITIAN Pembukaan rata – rata yang diikat
Selama periode penelitian April – Juli 2014 sedikit lebih kecil dibandingkan dengan
didapatkan responden sebanyak 88 orang yang tidak diikat (1,50 ± 2,36 dan 1,57 ±
pasien yang menggunakan AKDR metode 2,35), setelah diuji secara statistik ternyata
transesarea yang memenuhi syarat inklusi tidak signifikan karena didapatkan p >
dan eksklusi dari RSUP DR.M.Djamil, RS. 0,05, maka dari segi paritas kedua
Tentara Reksodiwiryo dan RSUD M.Zein kelompok dapat dianggap setara.
Painan. Dengan 44 pasien yang
menggunakan AKDR dengan metode
transesarea yang diikat dan 44 pasien yang
menggunakan AKDR metode transesarea
tanpa diikat. Karakteristik pasien adalah
sebagai berikut : Dari 88 sampel yang
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi

142
International Conference for Midwives (ICMid)

Tabel 2. Efek perlakuan diikat dan Karakteristik sampel berupa umur ibu,
tidak diikat pada AKDR terhadap outcome paritas dan pembukaan pasien saat masuk
ekspulsi atau tidak ekspulsi. dinilai untuk menilai keseteraan sampel.
Setelah dilakukan penilaian secara statistik
didapatkan p > 0,05 ada setiap
karakteristik, artinya kedua kelompok
sampel secara karakteristik tidak berbeda
signifikan dan dapat dianggap setara.
Dari penelitian ini didapatkan angka
ekspulsi yang tidak diikat 11,4%
berbanding 0% pada yang diikat.
Kemudian kedua kelompok sampel yang
diikat dan tidak diikat diuji secara statistik
terhadap pengaruhnya kepada outcome
ekspulsi atau tidak ekspulsi dengan
menggunakan Fisher’s Exact Test dan
didapatkan p > 0,05 yang artinya pengaruh
Persentase ekspulsi yang tidak diikat pengikatan terhadap ekspulsi AKDR tidak
lebih tinggi 11,4 % dibandingkan dengan berbeda secara statistik.
angka ekspulsi yang diikat 0%. Secara Penelitian sebelumnya melaporkan
statistik tidak didapatkan perbedaan yang angka ekspulsi yang bervariasi pada pasien
bermakna karena didapatkan nilai P > 0,05 yang menggunakan AKDR metode
yang diuji secara Fisher’s Exact Test transesarea tanpa modifikasi penambahan
karena terdapat dua sel (50,0 %) yang benang. I Cheng Chi tahun 1984
mempunyai nilai kurang dari lima. melaporkan ekspulsi 4,1 %, Ana Lúcia
Letti Müller.dkk 2005, mendapatkan angka
DISKUSI 0%, L.Ryujin 2011 dkk melaporkan angka
Pada penelitian ini didapatkan 88 sampel 6 %, Şevki Çelen dkk 2006 - 2007
yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak melaporkan angka ekspulsi 17,6 %,
memenuhi kriteria eksklusi yang datang ke Norman D Goldstuck melaporkan angka
RSUP Dr.M.Djamil, RS. Tentara 5% - 15% dengan keterangan tambahan
Reksodiwiryo dan RSUD M.Zein Painan. angka eskspulsi tampaknya lebih tinggi
Setelah diberikan penjelasan dan informed terutama pada AKDR model lama.9,10,11,12,13
consent pasien setuju untuk dipasang alat Untuk penggunaan AKDR yang
kontrasepsi dalam rahim. Jumlah pasien dimodifikasi dengan penambahan benang
yang memakai alat kontrasepsi dalam hasilnya juga bervariasi Treiman K, 1988
rahim dan diberikan perlakuan diikat melaporkan bahwa penambahan benang
sebanyak 44 orang dan sisanya tidak diikat. pada AKDR mengurangi ekspulsi tapi
Pengikatan benang pada AKDR hanya sedikit, sedangkan I Cheng Chi
diharapkan dapat menahan AKDR selama melaporkan angka 1,2 %. Hernandez
proses involusi uterus sehingga melaporkan bahwa penambahan benang
mengurangi angka ekspulsi. Penggunaan sedikit berpegaruh dalam mengurangi
benang chormic catgut 2.0 dengan ekspulsi. The Cochrane Collaboration 2010
pertimbangan bahwa chromic mempunyai melaporkan bahwa menambahkan benang
kekuatan maksimal 10-14 hari dan akan yang dapat diserap atau penambahan
terabsorbsi sepenuhnya ketika 120 hari bagian lain tampaknya sedikit bermanfaat
dimana dianggap proses involusi uterus dan mempunyai pengaruh sedikit untuk
sudah selesai. mencegah ekspulsi.14,15,16,5

143
International Conference for Midwives (ICMid)

Dari hasil penelitian ini walaupun dari College of Obstetricians and


gambaran master tabel tampaknya Gynecologysts Practice Bulletin.
pengikatan berpengaruh untuk mengurangi 7. Solter, C. (2008). ParticiPant ’s
ekspulsi namun ternyata ketika diuji secara Guide Intrauterine Devices (IUDs).
statistik tidak ada pengaruh pengikatan Watertown MA: Pathfinder
terhadap angka ekspulsi. International.
8. Thiery M. (1983). Immediate
SIMPULAN postplacental IUD insertion: a
Terdapat perbedaan angka ekspulsi AKDR randomized trial of sutured (Lippes
yang tidak diikat dibandingkan dengan Loop and TCu22OC) and non-sutured
yang tidak diikat (11,4% berbanding 0%) (TCu22OC) models. Contraception,
namun tidak bermakna secara statistik 28(4), 299-313.
karena didapatkan (p > 0,05). 9. I-Cheng Chi, M. D.-W. (1984). Post-
Cesarean Section Insertion of
DAFTAR PUSTAKA Intrauterine Devices. American
1. Nathalie Kapp, K. M. (2009). Journal of Public Health, 74(11),
Intrauterine device insertion during 1281 - 1282.
the postpartum period: a systematic 10. Müller, A. L. (2005). Transvaginal
review. Contraception, 327–336. ultrasonographic assessment of the
2. Juklak BKKBN. (2011). Petunjuk expulsion rate of intrauterine devices
Pelaksanaan Promosi dan Konseling inserted in the immediate postpartum
Kesehatan Reproduksi. Jakarta: period: a pilot study. Contraception,
Direktorat Kesehatan Reproduksi 192–195.
BKKBN. 11. L. Ryujin, M. M. (2011). Immediate
3. Indonesia, S. (2013). Indonesia Postplacental vs. Interval Postpartum
Demographic and Health Survey Insertion of Intrauterine
2012. Jakarta: Statistics Indonesia Contraception. Kaiser Permanente
(Badan Pusat Statistik—BPS) in Northern California, Division of
collaboration with the National Research.
Population and Family Planning 12. Çelen S, A. S. (2011). Immediate
Board (BKKBN) and the Ministry of postplacental insertion of an
Health (MOH). intrauterine contraceptive device
4. Kittur S. (2012). Enhancing during cesarean section.
contraceptive usage by post-placental Contraception, 240–243.
intrauterine contraceptive devices 13. Goldstuck, N. D. (2013, December
(PPIUCD) insertion with evaluation 3). Intrauterine contraception after
of safety efficacy, and expulsion. cesarean section and during lactation:
International Journal of a systematic review. International
Reproduction, Contraception, Journal of Women’s Health, 811-818.
Obstetrics and Gynecology. 14. Treiman K, M. a. (1988). IUDs-A
5. Grimes DA, L. L. (2010). Immediate New Look. Population Information
post-partum insertion of intrauterine Program The Johns Hopkins
devices (Review). The Cochrane University, XVI(1), 1-26.
Collaboration.
6. Espey E, M. M. (2011). Long Acting
Reversible Contraception : Implan
and Intrauterine Device. American

144
International Conference for Midwives (ICMid)

THE FACTORS THAT AFFECTING IN GIVING EXCLUSIVE


BREASTFEEDING TO THE WORKING MOTHERS AT SECONDARY
SCHOOL OF RAMBUTAN SUB DISTRICTS
OF BANYUASIN DISTRICTS IN 2014

Tri Sartika
Program Studi Kebidanan STIK Bina Husada Palembang

ABSTRACT

Breastfeeding in Indonesia is worrying, the percentage of infants exclusively breastfed up to 6


months only 15.3 percent and formula milk feeding increases three times from 10.3% to 32.5%.
This study aimed at determining the factors affecting exclusive breastfeeding in working
mothers, this study is a cross sectional with primary data in 2014 from SMP Rambutan district
Banyuasin regency. The measurement instrument was questionnaire completed by the
respondents. Then, the data were analyzed by using frequency distribution and analyzed with
univariate statistics, bivariate with chi square test with a= 0.05 and multivariate with regression
logistic test. The result of univariate showed that the number of working mothers who gave
exclusive breastfeeding were 26 respondents (55.3%) of 47 samples. Bivariate analysis showed
that there was a significant correlation between attitude variable (0.000), length of work (0.006),
baby sitter (0.002), information distribution (0.000), support from husband (0.015). Them
multivariate analysis showed that information variable was the closest correlated with the
provision of exclusive breastfeeding in working mothers with p value = 0.014 and OR= 28.45.
In improving the provision of exclusive breastfeeding for 6 months particularly in working
mothers, it needs support to give the exclusive breastfeeding; either internal support or external
support.

Keywords: exclusive breastfeeding, kinds of job, attitude, length of work, facilities.

PENDAHULUAN
World Health Organization (WHO) Pola pemberian makanan terbaik bagi
mempromosikan air susu ibu (ASI) sebagai bayi dan anak menurut para ilmuwan dunia
sumber terbaik dari makanan untuk bayi dan telah menjadi rekomendasi WHO
dan anak-anak dan salah satu cara yang adalah memberikan hanya ASI saja kepada
paling efektif untuk menjamin kesehatan bayi sejak lahir sampai dengan umur 6
dan kelangsungan hidup anak. ASI aman bulan; meneruskan pemberian ASI sampai
dan mengandung antibodi yang membantu anak berumur 24 bulan; dan memberikan
melindungi bayi dari penyakit anak yang makanan pendamping ASI (MP-ASI)
umum. ASI sudah tersedia dan terjangkau. kepada bayi mulai usia 6 bulan.
Orang-orang yang diberi ASI sebagai bayi Sayangnya, pada ibu pekerja, terutama di
cenderung menjadi kelebihan berat badan sektor formal, sering kali mengalami
atau obesitas di kemudian hari. Mereka kesulitan memberikan ASI eksklusif
juga mungkin kurang rentan terhadap kepada bayinya karena keterbatasan waktu
diabetes dan tampil lebih baik dalam tes dan ketersediaan fasilitas untuk menyusui
kecerdasan. Jika setiap anak di dunia di tempat kerja. Dampaknya, banyak ibu
diberi ASI, beberapa 220.000 nyawa bisa yang bekerja terpaksa beralih ke susu
diselamatkan setiap tahun.1 formula dan menghentikan memberi ASI
secara eksklusif.2

145
International Conference for Midwives (ICMid)

Bayi yang disusui dengan durasi 6 Nasional. Kementerian Kesehatan


bulan atau lebih memiliki ketahanan hidup menargetkan cakupan ASI Eksklusif 0-6
33,3 kali lebih banyak daripada bayi yang bulan pada tahun 2014 sebesar 80%.8
disusui kurang dari 4 bulan, dan bayi yang Berdasarkan data dari pekerja
disusui dengan durasi 4-5 bulan memiliki perempuan yang ada di SMP Wilayah
ketahanan hidup 2,6 kali lebih baik Kec.Rambutan Kab.Banyuasin, diperoleh
daripada bayi yang disusui kurang dari 4 jumlah pekerja perempuan pada tahun 2014
bulan.4 sebanyak 68 orang (61,3%). Berdasarkan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik hasil wawancara pada 7 pekerja perempuan
RI – Susenas tahun 2009-2012, diperoleh di SMP wilayah Kec. Rambutan
data pekerja perempuan di pedesaan dan Kab.Banyuasin, 5 diantaranya tidak
perkotaan dari 33 Provinsi yang ada di memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan
Indonesia sebesar 60,92% pada tahun 2010, dengan berbagai alasan, salah satunya
61,72% pada tahun 2011 dan 60,67% pada alasan bekerja.9,10,11,12
tahun 2012. Pada tahun 2012, Provinsi
tertinggi dengan pekerja perempuan berada METODE
di provinsi papua dengan presentase Desain penelitian adalah Observasional
sebesar 84,89% dan presentase pekerja Analitik dengan pendekatan cross sectional
wanita terendah berada di provinsi Jawa untuk melihat faktor-faktor yang
Barat. Khusus di Provinsi Sumatera Selatan mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif
pekerja perempuan yang ada di pedesaan pada ibu pekerja di SMP Wilayah
maupun di perkotaan sebesar 68,07% pada Kec.Rambutan Kab.Banyuasin tahun 2014.
tahun 2010, 69,84% pada tahun 2011 dan Subjek penelitian adalah pekerja
pada tahun 2012 sebesar 68,92%, hal ini prempuan berusia 15-49 tahunm, yang ada
dapat terlihat bahwa rata-rata pekerja di SMP Wilayah Kec. Rambutan Kab.
wanita yang ada di Provinsi Sumatera Banyuasin tahun 2014 yaitu SMPN1
Selatan melebihi rata-rata nasional Rambutan, SMPN2 Rambutan, SMPN 3
(60,67%).5 Rambutan dan SMP Putra Maju Rambtan,
ASI eksklusif sangat penting untuk yang memiliki bayi >6 – 24 bulan dengan
balita dari 0-6 bulan. Menurut penelitian Data dikumpulkan dengan cara
dari AIMI dan Save the Children (2011), menyebar angket pada responden,
kesempatan karyawati untuk menyusui dan dilanjutkan dengan pengolahan data
memerah ASI di tempat kerja saat jam menggunakan softwarekomputer dengan
kerja hanya sebanyak 62% pada tahapan editing, Coding, Processing,
perkantoran pemerintah dan 50% pada Cleaning.
perkantoran swasta.6 Analisa data dilakukan dengan uji
Data Riset Kesehatan Dasar statistik univariat, Bivariat dengan chi-
(Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan square, dan Multivariat dengan uji regresi
pemberian ASI di Indonesia saat ini logistik ganda
memprihatinkan, persentase bayi yang
menyusu secara eksklusif sampai dengan 6
bulan hanya 15,3 persen dan pemberian
susu formula meningkat tiga kali lipat dari
10,3% menjadi 32,5%.7 Berdasarkan data
pendahuluan SDKI tahun 2012, dijelaskan
bahwa hanya 27% bayi umur 4-5 bulan
mendapatkan ASI eksklusif, keadaan
tersebut tidak sesuai dengan target

146
International Conference for Midwives (ICMid)

DISKUSI

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan


variabel sikap (p=0,000), paparan
informasi (p=0,000), ketersediaan
pengasuh (p=0,002), lama bekerja (0,006)
dan dukungan suami (p=0,015), memiliki
nilai p ≤0,05, ini berarti kelima variabel
memiliki hubungan yang signifikan dengan
pemberian ASI eksklusif pada ibu pekerja
Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa di SMP Wilayah Kec. Rambutan
dari 47 ibu pekerja di SMP Wilayah Kec. Kab.Banyuasin tahun 2014.
Rambutan Kab.Banyuasin tahun 2014 yang
menyatakan melakukan pemberian ASI
eksklusif ada 26 (55,3%) responden dan
yang menyatakan tidak memberikan ASI
eksklusif sebanyak 21 (44,7%) responden.
Dari 47 responden diperoleh ibu
pekerja yang bekerja sebagai PNS
sebanyak 25 (53,2%) responden, yang
memiliki sikap positif sebanyak 32 (68,1%)
responden, yang terpapar informasi
sebanyak 31 (66%), yang menyatakan Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan
tersedia fasilitas ada 6 (12,8%) responden, variabel jenis pekerjaan, sikap, paparan
yang menyatakan tersedianya pengasuh informasi, ketersediaan pengasuh, lama
sebanyak 24 (51,1%) responden, yang bekerja, penghasilan dan dukungan suami
bekerja dengan lama jam kerja normal masuk ke dalam pemodelan selanjutnya.
(8jam) sebanyak 25 (53,2%) responden,
yang memiliki penghasilan normal
(≥1.825.600,-) sebanyak 27 (57,4%)
responden, dan ibu pekerja yang
mendapatkan dukungan suami untuk
memberikan ASI eksklusif sebanyak 26
(55,3%) responden.

147
International Conference for Midwives (ICMid)

Berdasarkan tabel 4.6 diketahui variabel


yang paling erat hubungannya terhadap
pemberian ASI eksklusif pada ibu pekerja
adalah paparan informasi dengan nilai p
value = 0,014. Kekuatan pengaruh dengan
pemberian ASI eksklusif bisa dilihat dari
nilai OR tertinggi yang menunjukan
variabel dominan atau signifikan adalah
variabel paparan informasi dengan OR
sebesar 28,45 yang artinya ibu pekerja
Berdasarkan tabel 4.4 dan tabel 4.5 yang terpapar informasi berpeluang 28 kali
menunjukkan variabel dukungan suami untuk memberikan ASI ekslusif
(0,661) sebagai variabel pertama yang dibandingkan ibu yang tidak bekerja, yang
dikeluarkan karena memiliki p value >0,05 dikontrol dengan variabel sikap,
yang paling besar, karena ada perubahan ketersediaan pengasuh, penghasilan,
OR >10%, maka variabel dukungan suami dukungan suami dan jenis pekerjaan
kembali dimasukkan dalam permodelan.
Selanjutnya variabel jenis pekerjaan DISKUSI
(0,256)dikeluarkan dari model, perubahan Jumlah ibu pekerja yang memberikan ASI
OR >10%, maka variabel jenis pekerjaan eksklusif sebanyak 26 ibu pekerja atau
masuk kembali dalam model. Langkah 55,3% dari 47 ibu bekerja yang ada di SMP
berikutnya mengeluarkan variabel lama Wilayah Kec.Rambutan Kab.Banyuasin
bekerja (0,254), uji statistik menunjukkan tahun 2014.
perubahan OR >10%, maka variabel lama Karakteristik umur ibu pekerja yang
bekerja kembali masuk dalam model. memberikan ASI eksklusif yang ada di
Tahap berikutnya mengeluarkan variabel SMP Wilayah Kec.Rambutan
ketersediaan pengasuh (0,184), dan Kab.Banyuasin tahun 2014 yaitu dengan
menunjukkan perubahan OR>10%, maka usia terendah 24 tahun dan usia tertinggi
variabel ketersediaan pengasuh 48 tahun, yang masih berada pada kategori
dimasukkan kembali ke dalam model. pasangan usia subur (15-49 tahun). Jenjang
Langkah selanjutnya mengeluaran variabel pendidikan ibu pekerja tersebut dominan
sikap (0,138), terjadi perubahan OR >10% perguruan tinggi dengan persentase 92,3%
sehingga variabel sikap kembali atau berjumlah 24 ibu pekerja, dan jenjang
dimasukkan dan terakhir mengeluarkan pendidikan terendah sekolah menengah
variabel penghasilan (0,057), perubahan sebanyak 2 ibu pekerja (7,3%). Ibu pekerja
OR yang terjadi >10% sehingga variabel yang memberikan ASI eksklusif
penghasilan tetap dimasukkan. merupakan anak pertama (34,6%), kedua

148
International Conference for Midwives (ICMid)

(38,6%), ketiga (19,2), keempat (3,8%) dan faktor determinan pemberian ASI eksklusif
kelima (3,8%). pada ibu bekerja di Kota Parepare tahun
Hubungan variabel jenis pekerjaan 2013, yang menyatakan ada hubungan
dengan pemberian ASI eksklusif di SMP yang signifikan antara jam kerja dengan
Wilayah Kec.Rambutan Kab.Banyuasin pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja,
tahun 2014 yaitu tidak terdapat hubungan dengan p value 0.004.30
yang signifikan antara jenis pekerjaan Hubungan variabel ketersediaan
dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu fasilitas dengan pemberian ASI eksklusif di
pekerja, dengan p value>0,05 yaitu0,326. SMP Wilayah Kec.Rambutan
Berdasarkan penelitian Sriningsih (2011) Kab.Banyuasin tahun 2014 yaitu tidak
yang berjudul faktor demografi, terdapat hubungan yang signifikan antara
pengetahuan ibu tentang air susu ibu dan ketersediaan fasilitas dengan pemberian
pemberian ASI eksklusif tidak ditemukan ASI eksklusif pada ibu pekerja, dengan p
adanya hubungan antara jenis pekerjaan value 0,678. Hasil analisis diatas tidak
dengan pemberian ASI eksklusif dengan p sejalan dengan hasil penelitian Abdullah
value = 0,157.31 (2012) dengan judul determinan pemberian
Hubungan variabel sikap dengan ASI eksklusif pada ibu bekerja di
pemberian ASI eksklusif di SMP Wilayah Kementerian Kesehatan RI tahun 2012,
Kec.Rambutan Kab.Banyuasin tahun 2014 yang menyatakan ada hubungan yang
yaitu terdapat hubungan yang signifikan signifikan antara sikap dengan pemberian
antara jenis pekerjaan dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja, dengan p
ASI eksklusif pada ibu pekerja, dengan p value 0,012.27
value ≤0,05 yaitu0,000. OR 19,500 yang Hubungan variabel ketersediaan
artinya ibu pekerja dengan sikap positif pengasuh dengan pemberian ASI eksklusif
memiliki peluang 19,5 kali untuk di SMP Wilayah Kec.Rambutan
memberikan ASI eksklusif dibandingkan Kab.Banyuasin tahun 2014 yaitu terdapat
ibu dengan sikap negatif. Hasil analisis hubungan yang signifikan antara jenis
diatas sejalan dengan hasil penelitian pekerjaan dengan pemberian ASI eksklusif
Abdullah (2012) dengan judul determinan pada ibu pekerja, dengan p value 0,002.
pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja OR = 8,68 artinya, ibu pekerja yang
di Kementerian Kesehatan RI tahun 2012, tersedia pengasuh berpeluang 8 kali untuk
yang menyatakan ada hubungan yang memberikan ASI ekslusif dibandingkan
signifikan antara sikap dengan pemberian dengan ibu pekerja yang tidak tersedia
ASI eksklusif pada ibu bekerja, dengan p pengasuh. Hasil analisis diatas sejalan
value ≤0,05 yaitu 0,001.27 dengan hasil penelitian Umar (2013)
Hubungan variabel lama bekerja dengan judul faktor determinan pemberian
dengan pemberian ASI eksklusif di SMP ASI eksklusif pada ibu bekerja di Kota
Wilayah Kec.Rambutan Kab.Banyuasin Parepare tahun 2013, yang menyatakan ada
tahun 2014 yaitu terdapat hubungan yang hubungan yang signifikan antara
signifikan antara jenis pekerjaan dengan ketersediaan pengasuh dengan pemberian
pemberian ASI eksklusif pada ibu pekerja, ASI eksklusif pada ibu bekerja, dengan p
dengan p value0,006. OR = 6,78 artinya value 0,013.30
ibu pekerja dengan lama bekerja normal Hubungan variabel paparan informasi
berpeluang 3,8 kali untuk memberikan dengan pemberian ASI eksklusif di SMP
ASI eksklusif dibandingkan dengan ibu Wilayah Kec.Rambutan Kab.Banyuasin
dengan lama bekerja tidak normal. Hasil tahun 2014 yaitu terdapat hubungan yang
analisis diatas sejalan dengan hasil signifikan antara paparan informasi dengan
penelitian Umar (2013) dengan judul pemberian ASI eksklusif pada ibu pekerja,

149
International Conference for Midwives (ICMid)

dengan p value0,000. OR = 24 artinya ibu adalah paparan informasi dengan nilai p


yang terpapar informasi memiliki peluang value = 0,014, dengan OR sebesar 28,45
memberikan ASI eksklusif 24 kali yang artinya ibu pekerja yang terpapar
dibanding ibu yang tidak terpapar informasi berpeluang 28 kali untuk
informasi tentang ASI eksklusif Hasil memberikan ASI ekslusif dibandingkan ibu
analisis diatas sejalan dengan hasil yang tidak bekerja, yang dikontrol dengan
penelitian Umar (2013) dengan judul variabel sikap, ketersediaan pengasuh,
faktor determinan pemberian ASI eksklusif penghasilan, dukungan suami dan jenis
pada ibu bekerja di Kota Parepare tahun pekerjaan.Penelitan ini sejalan dengan
2013, yang menyatakan ada hubungan penelitian Umar (2013) yang menunjukkan
yang signifikan antara paparan informasi hasil analisis bahwa dukgan keluarga faktor
dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu dominan pertama yang mendukung
bekerja, dengan p value 0.000.30 pemberian ASI ekslusif pada ibu bekerja
Hubungan variabel penghasilan dengan p value 0,000 dan OR = 4,852,
dengan pemberian ASI eksklusif di SMP sedangkan faktor dominan kedua yaitu
Wilayah Kec.Rambutan Kab.Banyuasin paparan informasi dengan p value 0,000
tahun 2014 yaitu tidak terdapat hubungan dengan OR = 4,225 yang artinya ibu
yang signifikan antara penghasilan dengan bekerja yang terpapar iklan berpeluang 4,2
pemberian ASI eksklusif pada ibu pekerja, kali untuk memberikan ASI eksklusif
dengan p value 0,128. Hasil analisis diatas setelah dikontrol variabel sosial ekonomi,
sejalan dengan hasil penelitian Kurniawan lama bekerka, pekerjaa ibu.30
(2013) dengan judul determinan
keberhasilan pemberian Air Susu Ibu SIMPULAN
eksklusif di Rumah Sakit Muhammadiyah 1. Jumlah ibu yang memberikan ASI
Lamongan tahun 2013, yang menyatakan eksklusif di SMP Wilayah
tidak ada hubungan yang signifikan antara Kec.Rambutan Kab.Banyuasin tahun
penghasilan dengan pemberian ASI 2014 yaitu sebanyak 26 ibu pekerja
eksklusif, dengan p value 0,800.36 atau 55,3% dari 47 ibu bekerja yang
Hubungan variabel dukungan suami ada di SMP Wilayah Kec.Rambutan
dengan pemberian ASI eksklusif di SMP Kab.Banyuasin tahun 2014.
Wilayah Kec.Rambutan Kab.Banyuasin 2. Karakteristik ibu yang memberikan
tahun 2014 yaitu ada hubungan yang ASI eksklusif di SMP Wilayah
signifikan antara dukungan suami dengan Kec.Rambutan Kab.Banyuasin tahun
pemberian ASI eksklusif pada ibu pekerja, 2014 yaitu usia ibu masih berada
dengan p value 0,015. OR = 5,4 artinya ibu pada kategori pasangan usia subur
pekerja dengan dukungan suami (15-49 tahun). Jenjang pendidikan
berpeluang memberikan ASI eksklusif 5 ibu pekerja tersebut dominan
kali dibandingkan ibu tidak dengan perguruan tinggi (S1), dan
dukungan suami. Hasil analisis diatas pemberian ASI ekslusif dengan
sejalan dengan hasil penelitian Umar paritas terendah anak pertama dan
(2013) dengan judul faktor determinan paritas tertinggi anak ke-5.
pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja 3. Tidak ada hubungan jenis pekerjaan
di kota Parepare, yang menyatakan ada terhadap pemberian ASI eksklusif
hubungan yang signifikan antara dukungan pada ibu pekerja di SMP Wilayah
suami dengan pemberian ASI eksklusif Kec.Rambutan Kab.Banyuasin tahun
pada ibu bekerja, dengan p value 0,000.30 2014.
Faktor dominan yang mempengaruhi 4. Ada hubungan sikap terhadap
pemberian ASI eksklusif pada ibu pekerja pemberian ASI eksklusif pada ibu

150
International Conference for Midwives (ICMid)

pekerja di SMP Wilayah 2. Kemenkes. Ibu Bekerja Bukan Alasan


Kec.Rambutan Kab.Banyuasin tahun Menghentikan Pemberian ASI
2014. Eksklusif ; 2011. (diunduh 21 Januari
5. Ada hubungan lama kerja terhadap 2014). Tersedia dari
pemberian ASI eksklusif pada ibu http://www.depkes.go.id/
pekerja di SMP Wilayah index.php?vw=2&id=1662.
Kec.Rambutan Kab.Banyuasin tahun 3. _______. Kabar Gembira bagi Ibu
2014. Menyusui, Pemerintah Sahkan PP ASI
6. Tidak ada hubungan ketersediaan ; 2012 (diunduh 21 Januari 2014).
fasilitas terhadap pemberian ASI Tersedia dari
eksklusif pada ibu pekerja di SMP http://www.depkes.go.id/index.php?v
Wilayah Kec.Rambutan w=2&id=1875.
Kab.Banyuasin tahun 2014.
7. Ada hubungan ketersediaan
4. Nurmiati & Besral. Durasi pemberian
ASI terhada ketahanan hidup bayi di
pengasuh terhadap pemberian ASI
Indonesia. Jurnal Makara Kesehatan
eksklusif pada ibu pekerja di SMP
Vol:12 No:2 Desember 2008 : 47-
Wilayah Kec.Rambutan
52.Jakarta : UI ; 2008.
Kab.Banyuasin tahun 2014.
8. Ada hubungan paparan informasi 5. Badan Pusat Statistik – RI. Persentase
terhadap pemberian ASI eksklusif Rumah Tangga menurut Provinsi,
pada ibu pekerja di SMP Wilayah Jenis Kelamin KRT yang Bekerja, dan
Kec.Rambutan Kab.Banyuasin tahun Daerah Tempat Tinggal, 2009-2012 ;
2014. 2013. (diunduh 21 Januari 2014).
9. Tidak ada hubungan penghasilan Tersedia dari
terhadap pemberian ASI eksklusif http://www.bps.go.id/tab_sub/ view.
pada ibu pekerja di SMP Wilayah php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_sub
Kec.Rambutan Kab.Banyuasin tahun yek=40&notab=6.
2014. 6. Permana, IR. Keberadaan Pojok ASI di
10. Ada dukungan suami terhadap Indonesia. Fakultas kesehatan
pemberian ASI eksklusif pada ibu Masyarakat Ekstensi Universitas
pekerja di SMP Wilayah Indonesia ; 2012.
Kec.Rambutan Kab.Banyuasin tahun 7. Nuraini Tuti, Madarina Julia &
2014. Djaswwadi Dasuki. Sampel susu
11. Faktor dominan yang mempengaruhi formula dan praktik pemberiaan Air
pemberian ASI eksklusif pada ibu susu ibu eksklusif. Jurnal Kesehatan
pekerja di SMP Wilayah Masyarakat Nasional Vol 7 Nomor 12
Kec.Rambutan Kab.Banyuasin tahun Juli 2013. Fakultas kedokteran
2014 adalah paparan informasi. universitas Gadjah Mada : 2013
8. Survei Demografi dan Kesehatan
DAFTAR PUSTAKA Indonesia tahun 2012. Pemberian ASI
1. World Cancer Research Fund. dan makanan tambahan. 2012
Breastfeeding and cancer prevention ; (diunduh 20 Maret 2014). Tersedia
2013 (diunduh 31 Januari 2013). pada
Tersedia pada http://www.bkkbn.go.id/.../SDKI%202
http://www.wcrfuk.org/cancer_ 012/Laporan%20Pendahuluan%20SD
prevention/recommendations/benefits_ K
of_breastfeeding.php 9. Profil SMPN 1 Desa Sako Kec.
Rambutan Kab. Banyuasin tahun 2014.

151
International Conference for Midwives (ICMid)

10. Profil SMPN 2 Desa Sukapindah Kec. 23. Welford, H. ASI atau Sufor? Panduan
Rambutan Kab. Banyuasin tahun 2014. memilih asupan gizi yang tepat untuk
11. Profil SMPN 3 Desa Siju Kec. bayi. Jakarta : PT Bhuna Ilmu Populer
Rambutan Kab. Banyuasin tahun 2014. ; 2011
12. Profil SMP Putra Maju Desa Sai 24. Simkin, Fenny. Et al. Kehamilan,
Pinang Kec. Rambutan Kab. Melahirkan dan Bayi : Panduan
Banyuasin tahun 2014. Lengkap. Alih Bahasa, lilian Juwono.
13. Notoadmodjo. Promosi kesehatan & Jakarta : Arcan ; 2007
ilmu perilaku. Jakarta : Rineka 25. Risani Ria. Keajaiban Air Susu Ibu.
Cipta.2007 Jakarta : Dunia sehat. 2012
14. Sunaryo. Promosi Kesehatan dan Ilmu 26. Roesli Utami. Panduang konseling
Perilaku. EGC: Buku Kedokteran. menyusui. Sentral laktasi Indonesia.
2006 Jakarta: Pustaka Bunda. 2012
15. WHO. Menyusui adalah sumber 27. Abdullah, G,I. Determinan pemberian
Terbaik dari Makanan ; 2013 (diunduh ASI eksklusif pada ibu bekerja di
19 Januari 2014). Tersedia pada Kementerian Kesehatan RI tahun
http://www.who.int/features/2013/peru 2012. Tesis. Fakultas kesehatan
_ breastfeeding/en/index.html Masyarakat Universitas Indonesia ;
16. Peraturan Pemerintah Republik 2012.
Indonesia NO.33. Pemberian ASI 28. Baskoro, Anto. ASI Panduan Praktis
Eksklusif ; 2012 Ibu Menyusui.Yogyakarta:
17. Maryunani, Ani. Inisiasi Menyusu Banyumedia. 2008
Dini, ASI Eksklusif dan Manajemen 29. Afifah, Diana. Faktor yang Berperan
Laktasi. Jakarta : TIM ; 2012 Dalam Kegagalan Praktik Pemberian
18. Novianti, Ratih. Menyusui itu indah ; ASI Eksklusif. 2007 (diunduh 19 Juli
cara dahsyat memberikan ASI untuk 2014) tersedia di
bayi sehat dan cerdas. Yogyakarta : http://eprints.undip.ac.id.
Octopus ; 2009. 30. Umar, halimah, et al. Faktor
19. Kemenkes. ASI Ekslusif, bayi cerdas, determinan pemberian ASI eksklusif
ibu sehat ; 2013 (diunduh 22 Januari pada ibu bekerja di kota Parepare ;
2014). Tersedia dari 2013 (diunduh 22 Januari 2014).
http://www.depkes.go.id/downloads/ad Tersedia pada
vertorial/ adv_pp_asi.pdf http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/ad1
94cfaf66e0a6e5a982e25a5855341.pdf
20. Ramaih Savitri. Manfaat ASI dan
menyusui. Jakarta : PT Bhuana Ilmu 31. Keputusan Gubernur Sumatera Selatan
Populer. 2006. Nomor : 777/KPTS/
DISNAKERTRANS/2013 tentang
21. Widuri, Hesti. Cara Mengelolah ASI
Upah Minimum Provinsi Sumatera
Eksklusif pada Ibu Bekerja.
Selatan tahun 2014.
Yogyakarta : Gosyen Publishing ;
2013 32. Hidayat, A.A.A. Metode penelitian
kebidanan dan teknik analisis data.
22. Varney, Helen. Buku Ajar Asuhan
Jakarta : Salemba Medika ; 2010.
kebidanan. Alih bahasa, Laily
Mahmuda & Gita Trisetyati. Jakarta : 33. Hastono, Sutanto Priyo. Basic data
EGC ; 2007. analysis for health research training.
Fakutas Kesehatan Masyarakat :
Universitas Indonesia. 2006

152
International Conference for Midwives (ICMid)

STANDARD ASSESSMENT OF HEALTH CARE PROVIDERS INPUT AT BASIC


EMERGENCY OBSTETRIC AND NEWBORN CARE (BEmONC) IN MANTANGAI
HEALTH CARE IN KAPUAS DISTRICT

Rahayu Y P, Daulay Ramalida


Akademi Kebidanan Sari Mulia Banjarmasin

ABSTRACT

Community health center that works as Basic Emergency Obstetric and Newborn Care
(BEmONC) may contribute to reducing the number of Maternal Mortality Rate (MMR) and
Infant Mortality Rate (IMR), it needs to be supported by managing capabilities in giving the
service.Mantangai health care has lack of health care providers so the service wasn’t
optimal.This study was used explorative descriptive with qualitative approach. Data collective
was done by source, method and time triangulation.Mantangai health care has BEmONC
Guidelines which contains about the criteria of main team of BEmONC care provider. Standard
assessment of Mantangai Health care has limitation in human resources and the experiences of
each providers there, so the recruitment and selection had done by village midwife. The
educational qualification was not based on the standard. Mantangai Health Care didn’t have any
Standard Operating Procedure about health care providers input. Generally, health care
providers input at BEmONC in Mantangai health care wasn’t optimal, the recruitment and
selection, education and training, and also placement was not based on standard.

Keywords : Standard Input, Health Care Providers, BEmONC

PENDAHULUAN
Pencegahan kematian maternal dan tersebut diakibatkan oleh penyebab utama
neonatal merupakan salah satu tujuan kematian yang sebenarnya dapat dicegah
terpenting dari pelayanan maternal dan melalui pendekatan deteksi dini dan
neonatal. Sejak 10 tahun yang terakhir ini, penatalaksanaan yang tepat untuk ibu dan
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka bayi (Dinkes, 2014) .
Kematian Bayi (AKB) di Indonesia berada Salah satu kendala utama lambatnya
pada tingkat yang tertinggi diantara negara penurunan AKI dan AKB di Indonesia
berkembang di dunia dan belum adalah hambatan terhadap penyediaan dan
menunjukkan adanya kecenderungan untuk akses pelayanan kegawatdaruratan obstetri
menurun walaupun sudah cukup banyak dan neonatal. Dalam rangka menurunkan
intervensi dalam bentuk berbagai macam angka kematian ibu dan bayi mendorong
program yang dilakukan (JNPK-KR, pemerintah dengan instansi terkait untuk
2008). melakukan program-program yang yang
Kabupaten Kapuas sendiri, pada tahun terkait dengan pelayanan kesehatan ibu dan
2014 jumlah ibu yang meninggal karena anak.
kehamilan dan persalinan sebanyak 20 Puskesmas mampu PONED sebagai
orang dan jumlah bayi yang meninggal salah satu simpul dari sistem
sebanyak 104 orang. Termasuk di penyelenggaraan pelayanan kesehatan
dalamnya, di Kecamatan Mantangai maternal neonatal emergensi dapat
terdapat 1 orang ibu yang meninggal memberikan kontribusi pada upaya
karena persalinannya dan 4 orang bayi penurunan AKI dan AKB perlu
yang meninggal pada tahun 2014. Keadaan dilaksanakan dengan baik agar dapat

153
International Conference for Midwives (ICMid)

dioptimalkan fungsinya. Untuk kategori sumber daya manusia dalam Pusat


terselenggaranya pelayanan yang Kesehatan Ibu dan Anak adalah perawat
berkualitas dan berfungsinya Puskesmas (qualified nurse), asisten perawat (auxiliary
mampu PONED sebagai rujukan antara nurse), bidan, ataupun perawat yang juga
kasus emergensi/komplikasi obstetri dan menguasai keterampilan kebidanan. Secara
neonatal dalam wilayah regional sistem keseluruhan posisi staf di pusat kesehatan
rujukannya perlu didukung dengan ibu dan anak tersebut tidak memenuhi level
kemampuan manajemen dalam untuk menjalankan fungsi PONED
penyelenggaraan pelayanannya. (BEmONC) dan PONEK (CEmONC).
Manajemen pelayanan PONED merupakan Jurnal penelitian yang dilakukan oleh
bagian dari manajemen pelayanan Isabela (2011) menemukan bahwa
kesehatan lainnya dalam lingkup manajemen sistem pelayanan
Puskesmas, sehingga proses perencanaan, kegawatdaruratan obstetri dari
penggerakan pelaksanaan serta perencanaan, pengorganisasian,
pengawasan, pengendalian dan penilaian pelaksanaan dan evaluasi belum berjalan
kinerjanya tidak dipisahkan dari proses dengan baik karena masih terdapat
pelayanan Puskesmas seutuhnya (Kemkes, keterbatasan aspek input meliputi SDM,
2013). keuangan, sarana prasarana, dasar hukum,
Sistem akan berfungsi optimal bila sub SOP atau protap, juklak, juknis, serta
sistemnya berfungsi sebagaimana stakeholder.
seharusnya. Jika sistem kesehatan Hasil diskusi dengan Bidang Pelayanan
dipandang sebagai suatu upaya untuk Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten
menghasilkan pelayanan kesehatan, maka Kapuas mengatakan jumlah puskesmas di
sistem menerima berbagai masukan (input), Kabupaten Kapuas ada 26 puskesmas dan
kemudian berproses menghasilkan luaran jumlah puskesmas yang mampu PONED di
(output) serta hasil akhir adalah outcome Kabupaten Kapuas ada 7 puskemas dan
(dampak). PONED di Puskesmas Mantangai sendiri
Sebagai unsur dalam manajemen, saat ini dari segi kuantitas ketenagaannya
sumber daya manusia kesehatan akan sendiri itu kurang karena salah satu tim inti
mempengaruhi diferensiasi dan kualitas dari PONED yaitu bidan telah berpindah
pelayanan kesehatan, keterbatasan tempat tugas sehingga pelayanan di
keanekaragaman jenis tenaga kesehatan PONED khususnya bidang kebidanan
akan menghasilkan kinerja puskesmas belum optimal.
dalam pencapaian indikator mutu Data kegiatan pelayanan Kesehatan Ibu
pelayanan kesehatan. Dari berbagai faktor dan Anak di Puskesmas Mantangai dapat
yang berperan pada kematian ibu, dilihat dari laporan Kegiatan PONED tahun
keterbatasan sumber daya dan kemampuan 2013 dan 2014 sebagai berikut: sebagian
kinerja petugas kesehatan berdampak besar kegiatan PONED di Puskesmas
langsung pada peningkatan kualitas Mantangai tahun 2013 belum mencapai
pelayanan kesehatan maternal. Di sisi yang target yaitu K4 sebesar 93,79%, persalinan
lain, kesiapan pelayanan kegawatdaruratan Nakes 91,08%, deteksi dini ibu hamil
dalam sistem pelayanan kesehatan nasional resiko tinggi Nakes 73,40% dan bumil,
belum dikelola dan dipersiapkan dengan bulin, bufas mengalami komplikasi dan
baik. dirujuk yaitu tahun 2013 sebanyak 77,52%.
Menurut laporan penilaian yang Sementara pada tahun 2014 terjadi
dilakukan oleh Qazi (2011), berdasarkan penurunan yang signifikan pada kegiatan
penilaian yang dilakukan di fasilitas- PONED di Puskesmas Mantangai saat
fasilitas kesehatan tertentu di Somalia, Bidan PONED sudah berpindah tempat

154
International Conference for Midwives (ICMid)

tugas yaitu K1 93,33%, K4 92,41, Dasar (PONED) di Puskemas Mantangai.


kunjungan Neonatal 90,03%, persalinan Penelitian diawali dengan mengkaji standar
Nakes 89,78%, deteksi dini ibu hamil input perekrutan dan seleksi, pendidikan
resiko tinggi Nakes 73,01 dan bumil, bulin, dan pelatihan, penempatan, reward dan
bufas mengalami komplikasi dan dirujuk punishment, serta terakhir promosi sesuai
71,67%. dengan komponen manejemen ketenagaan.
Berdasarkan data yang ada dan Informasi yang sudah diperoleh dari
pentingnya sistem pelayanan kesehatan informan utama maupun informan
yang dimana standar input adalah salah triangulasi ditanyakan kembali pada waktu
satu indikatornya maka peneliti tertarik yang berbeda untuk mengecek kembali
untuk meneliti “Kajian Standar Input data yang sudah didapatkan.
Ketenagaan Pelayanan Obstetri Neonatal Setelah dilakukan wawancara ulang
Emergensi Dasar (PONED) di Puskesmas dengan informan utama dan informan
Mantangai Kabupaten Kapuas”. triangulasi mengenai standar input
ketenagaan PONED di Puskesmas
METODE Mantangai, mereka mengatakan sesuai
Jenis penelitian ini Deskriptif Eksploratif dengan wawancara yang pertama dilakukan
menggunakan rancangan penelitian dengan sehingga tidak ada perubahan informasi
pendekatan kualitatif yaitu berusaha dengan informasi yang sebelumnya
mendapatkan informasi kajian standar didapatkan.
input ketenagaan PONED di Puskesmas 1. Perekrutan dan Seleksi
Mantangai. Subjek dalam penelitian ini Informasi yang ingin didapat dari hasil
yang berperan sebagai informan utama wawancara mendalam tentang
yaitu Kepala Puskesmas. Teknik perekrutan dan seleksi petugas (tim inti
pengambilan sampel dalam penelitian ini pelaksana PONED) meliputi proses,
adalah non probability sampling dengan syarat, kendala dan upaya yang
metode purposive. Pada penelitian ini dilakukan untuk menghadapi kendala
dilakukan wawancara mendalam kepada perekrutan dan seleksi petugas (tim inti
informan utama, serta 4 orang informan pelaksana PONED) tersebut. Dari hasil
triangulasi. Peneliti mewawancarai wawancara mendalam dengan informan
informan mengenai input ketenagaan utama mengatakan bahwa proses
PONED dan peneliti menggunakan perekrutan dan seleksi para tim inti
pedoman wawancara yang telah dibuat pelaksana PONED dipilih oleh Kepala
sebelumnya, sehingga wawancara yang Puskesmas sendiri setelah ada informasi
dilakukan dapat fokus dan berpola serta bahwa Puskesmas Mantangai akan
peneliti juga melihat dokumentasi yang ada dijadikan sebagai Puskesmas mampu
di Dinas Kesehatan dan Puskesmas. Dan PONED. Terkait dengan manajemen
analisis data pada penelitian ini terdapat Sumber Daya Manusia, Puskesmas
beberapa tahap yang digunakan yaitu: Mantangai memiliki Pedoman
transkripsi, pengorganisasian data, Penyelenggaraan Puskemas Mampu
pengenalan, coding, danmembuat PONED yang diberikan oleh Dinas
kesimpulan atas data kualitatif yang Kesehatan Kabupaten saat Puskesmas
diperoleh. Mantangai dipilih untuk menjadi
Puskesmas mampu PONED. Puskesmas
DISKUSI Mantangai sendiri kekurangan SDM
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dari segi kualifikasi dan kompetensi
bagaimana standar input ketenagaan yang menjadi kriteria dalam perekrutan
Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi dan seleksi tim inti pelaksana PONED

155
International Conference for Midwives (ICMid)

sehingga memilih Bidan desa untuk inti pelaksana PONED. Namun seiring
menjadi salah satu tim inti pelaksana dengan perjalanan waktu, setelah
PONED. Puskesmas Mantangai adanya SK penempatan tim inti
memiliki Pedoman Penyelenggaraan pelaksana PONED ternyata ada kendala
Puskesmas Mampu PONED dalam yang cukup mempengaruhi pelayanan
bentuk soft file yang di dalamnya di Puskesmas PONED yaitu beberapa
mengatur tentang kriteria penyiapan orang dari tim tersebut tidak dapat
tenaga kesehatan di PONED baik dari melayani lagi di Puskesmas PONED
segi perekrutan dan seleksi, pendidikan karena bidan yang menjadi salah satu
dan pelatihan serta penempatan. Selama tim inti pelaksana PONED telah
ini, Puskesmas memiliki kendala berpindah tugas sedangkan dokter yang
dengan keterbatasan jumlah dan tergabung dalam tim inti pelaksana
kualitas SDM dari segi kompetensi atau PONED tidak lama ini meninggal dunia
keterampilan yang tersedia di dikarenakan sakit yang dideritanya.
Puskesmas sehingga hal ini merupakan Sehingga hanya tertinggal 1 orang tim
kendala dalam proses perekrutan dan inti pelaksana PONED yaitu perawat
penyeleksian serta pendidikan tim inti yang melayani di Puskesmas
pelaksana PONED. Sehingga Mantangai. Dengan berkurangnya
Puskesmas Mantangai tidak melakukan formasi tim inti pelaksana PONED
persyaratan khusus untuk merekrut maka pelayanan di Puskesmas
tenaga medis menjadi tim inti pelaksana Mantangai kurang maksimal khususnya
PONED. Kepala Puskesmas sebagai pelayanan maternal. Banyaknya kasus
pemberi kebijakan, merekrut tim inti rujukan ke Rumah Sakit PONEK
pelaksana PONED tanpa memilih jenis dikarenakan bukan kewenangan dan
pendidikan yang dimiliki. Kepala kurang terampilnya para petugas yang
Puskesmas memilih tim inti pelaksana ada dalam mengadapi kasus-kasus yang
PONED dilihat dari lamanya dia ada. Walaupun telah diketahui bahwa
bekerja sehingga mempengaruhi formasi dari tim inti pelaksana PONED
pengalaman dan keterampilannya. saat ini tidak memadai dan seperti yang
Sedangkan dalam hal peningkatan dikemukakan oleh Kabid Yankes bahwa
kompetensi tim inti pelaksana PONED apabila tim inti pelaksana PONED
mengikuti pelatihan yang dilaksanakan tenaganya berkurang maka Puskesmas
oleh Dinas Kesehatan Provinsi tersebut tidak bisa dikatakan sebagai
Kalimantan Tengah yang bekerja sama Puskesmas mampu PONED lagi.
dengan P2KS Provinsi Kalimantan Namun karena terkendala dalam hal
Selatan. Pembagian tugas tim inti anggaran dana maka Dinas Kesehatan
pelaksana PONED sudah ditetapkan Kabupaten dalam waktu dekat belum
pada saat mereka mengikuti pelatihan ada rencana untuk melakukan
PONED. Di mana sesuai profesinya dan perekrutan tim inti pelaksana PONED
kompetensinya tetapi pada prinsipnya di di Puskesmas Mantangai ini.
dalam pelayanannya, mereka 2. Pendidikan dan Pelatihan
melakukannya secara bersama-sama Perlu dipahami bahwa setiap pekerjaan
atau bisa disebut kerja sama tim. Selain atau tugas memerlukan keterampilan
itu, para tim inti pelaksana PONED dan pengetahuan. Dari hasil wawancara,
yang telah memiliki sertifikat diberikan semua informan mengatakan bahwa
surat penugasan dari Kepala Dinas sesuai dengan Pedoman
Kabupaten di mana di dalamnya Penyelenggaraan Puskesmas Mampu
terdapat uraian tugas dan wewenang tim PONED maka tim inti pelaksana

156
International Conference for Midwives (ICMid)

PONED yang dipilih mengikuti diberlakukan metode reward dalam


pelatihan PONED yang diadakan oleh bentuk motivasi psikologis dan
Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan punishment untuk meningkatkan
Tengah bekerjasama dengan P2KS motivasi para anggota tim inti pelaksana
Provinsi Kalimantan Selatan. PONED dalam pelayanannya. Namun
Sedangkan untuk tingkat pendidikan Puskesmas Mantangai belum memiliki
tim inti pelaksana PONED khususnya SOP tentang input ketenagaan yang
perawat yang berpendidikan SPK maka mengatur pemberian reward dan
tidak sesuai dengan kriteria tim inti punishment.
pelaksana PONED. 5. Promosi yang Diberikan
3. Penempatan Bagi Tim Inti Pelaksana PONED, Hasil
Berdasarkan pernyataan informan wawancara mendalam tentang promosi
mengenai penempatan petugas di yang diberikan bagi tim inti PONED,
PONED, semua informan mengatakan semua informan mengatakan bahwa
bahwa pada umumnya sudah ada selama ini hal itu belum pernah
pembagian tugas masing-masing yang dilakukan di Puskesmas PONED
ditetapkan di PONED sesuai dengan Mantangai. Karena untuk promosi,
kompetensi masing-masing namun Puskesmas Mantangai tidak memiliki
secara garis besar, semua pelayanan di SOP input ketenagaan.
Puskesmas dilakukan dengan kerja
sama tim. Dinas Kesehatan Kabupaten SIMPULAN
pun telah memberikan Surat perintah Berdasarkan penelitian Kajian Standar
tugas yang di dalamnya tertera tugas Input Ketenagaan Pelayanan Obstetri
dan wewenang tim inti pelaksana Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di
PONED. Seiring berjalannya waktu, Puskesmas Mantangai Kabupaten Kapuas
setelah adanya SK penempatan tim inti dapat disimpulkan bahwa Puskesmas
pelaksana PONED ternyata ada kendala Mantangai tidak memiliki SOP mengenai
yang cukup mempengaruhi pelayanan input ketenagaan baik perekrutan dan
di Puskesmas PONED yaitu beberapa seleksi petugas, pendidikan dan pelatihan,
orang dari tim tersebut tidak dapat penempatan, reward dan punishment serta
melayani lagi di Puskesmas PONED promosi sedangkan Dinas Kesehatan
karena bidan yang menjadi salah satu Kabupaten memiliki SOP input ketenagaan
tim inti pelaksana PONED telah secara umum saja. Tetapi Dinas Kesehatan
berpindah tugas sedangkan dokternya Kabupaten telah memberikan Pedoman
tidak lama ini meninggal dunia Penyelenggaraan Puskesmas Mampu
dikarenakan sakit yang dideritanya. PONED yang di dalamnya mengatur
4. Reward dan Punishment tentang kriteria tim inti pelaksana PONED.
Salah satu tujuan manajemen sumber
daya manusia, yaitu memastikan DAFTAR PUSTAKA
organisasi memiliki tenaga kerja yang 1. JNPK-KR. Paket Pelatihan Pelayanan
bermotivasi dan berkinerja tinggi, serta Obstetri dan Neonatal Emergensi
dilengkapi dengan sarana untuk Dasar (PONED) Buku Panduan
menghadapi perubahan yang dapat Peserta. Jakarta: Direktorat Jenderal
memenuhi kebutuhan pekerjanya. Bina Pelayanan Publik Departemen
Berdasarkan hasil wawancara diketahui Kesehatan RI. 2008
bahwa dalam menjalankan pelayanan di 2. Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan
Puskesmas PONED, para anggota tim Tengah. Profil Kesehatan Provinsi
inti pelaksana PONED pun Kalimantan Tengah Tahun 2014.

157
International Conference for Midwives (ICMid)

Palangkaraya: Dinas Kesehatan


Provinsi Kalimantan Tengah. 2014
3. Kementrian Kesehatan RI Direktorat
Jendral Bina Upaya Kesehatan.
Pedoman Penyelenggaraan
Puskesmas Mampu Pelayanan
Obstetri-Neonatal Emergensi Dasar
(PONED). Jakarta: Kementrian
Kesehatan RI. 2013
4. Qazi, Zaitoon. Report on Findings:
Emergency Obstetric and Neonatal
Care (EmONC) Needs Assessment in
Selected Facilities in NEZ Puntland –
September 2011. Puntland: Ministry
of Health, Puntland. 2011
5. Isabela, Tirza Vivianri. Analisis
Manajemen Sistem Pelayanan
Kegawatdaruratan Obstetri di
Puskesmas PONED Wilayah
Kabupaten Kupang Tahun 2011
[Tesis]. Semarang: Universitas
Diponegoro; 2011

158
International Conference for Midwives (ICMid)

CORRELATION BETWEEN MACRONUTRIENT COMPOSITION OF


BREAST MILK AND WEIGHT GAIN OF NEONATES

Joserizal Serudji, Dwi Pratiwi Kasmara


Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang

ABSTRACT

Mother's breast milk is a complex biological fluids that contain all the nutrients necessary for
physical and development of a child. Mother's breast milk is tailored to the needs, the rate of
growth of the baby, and his habit of feeding (Sekartini & Tikoalu, 2008).Breast feeding (ASI)
exclusive that had been recommended given for 6 months in fact, it cannot be done well. Based
on the research results the World Breastfeeding Trends Initiative (WBTI) in 2012, only 27.5
percent of mothers in Indonesia who managed to give breast milk (ASI) exclusive. Occording to
those, Indonesia is ranked 49 of 51 countries that support exclusive breast feeding , These
results are still far from the target of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia. In the
year 2010 targeted the number of mothers in Indonesia who gave exclusive breast feeding was
61.5 percent(Kinanti, 2013).Weight loss is one measure to determine the level of child health.
Factors affecting weight loss is genetic, ethnicity, birth weight, premature birth, hormones,
nutrition and the environment. The direct impact of inadequate nutrition, including energy,
protein, carbohydrates, fats and micronutrients due to disease, neglect, or food insecurity
(Anonymous, 2012). Based on those researchers interested in conducting research on whether
there is a correlation macronutrient composition of breast milk and neonatal weight gain. This
study is an obsevasional study with cross sectional design to determine the correlation between
macronutrient composition of breast milk and weight gain of neonates. This study took place at
Laboratorium of General Hospital of Dr. M.Djamil in Padang , at private clinic of midwife and
at house of responden in Padang.There is a negative correaltion between the protein content of
breast milk and neonatal weight gain with the strength of correlation is weak (p> 0.05, r= -
0,313). There is a positive correlation between the fat content of the breast milk and the weight
gain of neonates with the strength of correlation is moderate (p> 0.05, r= 0,415). There is a
positive correlation between the carbohydrate content of breast milk and neonatal weight gain
with the strength of correlation is weak (p> 0.05, r= 0,390).There were correlatios between
macronutrient composition of breast milk and neonatal weight gain.

Keywords: breast milk, macro nutrient compisition, neonates weight gain.

PENDAHULUAN
Air Susu Ibu adalah cairan biologis makanan atau minuman lain (depkes,
kompleks yang mengandung semua nutrien 2013).
yang diperlukan untuk pertumbuh fisik dan Pemberian ASI (Air Susu Ibu)
perkembangan seorang anak. Air susu ibu eksklusif yang selama ini telah dianjurkan
disesuaikan dengan keperluan, laju diberikan selama 6 bulan nyatanya belum
pertumbuhan bayi, dan kebiasaannya dapat terlaksana dengan baik. Berdasarkan
menyusu (Sekartini & Tikoalu, 2008). hasil penelitian World Breastfeeding
ASI Eksklusif adalah ASI yang Trends Initiative (WBTI) tahun 2012,
diberikan kepada Bayi sejak dilahirkan hanya 27,5 persen saja ibu di Indonesia
selama 6 (enam) bulan, tanpa yang berhasil memberi Air Susu Ibu (ASI)
menambahkan dan/ atau mengganti dengan eksklusif. Dengan hasil tersebut, Indonesia

159
International Conference for Midwives (ICMid)

berada di peringkat 49 dari 51 negara yang pada neonatus di Laboratorium RSUP Dr.
mendukung pemberian ASI eksklusif. Hasil M. Djamil Padang, Bidan Praktek Swasta
ini masih jauh dari target Kementerian di Padang, dan Rumah responden di
Kesehatan Republik Indonesia. Pada tahun Padang.
2010 ditargetkan jumlah ibu di Indonesia Pada subjek yang sesuai dengan kriteria
yang memberi ASI eksklusif adalah 61,5 inklusi dan ekslusi, setelah dilakukan
persen. (Kinanti, 2013). penjelasan dan informed consent dilakukan
ASI mengandung banyak faktor dilakukan penelitian ASI dengan
pertumbuhan yang memiliki efek luas pada makronutrien (Protein, lemak, dan
saluran usus, pembuluh darah, sistem saraf, karbohidrat) pada 42 sampel ASI yang
dan sistem endokrin. (olivia ballard & diambil dari ibu post partum pada saat
Ardythe L. Morrow, 2013). ASI neonatus berusia 28 hari. Penelitian ini
mengandung komponen makro dan mikro dilakukan terhadap 42 orang ibu post
nutrien.Yang termasuk makronutrien partum dan neonatus. Dan dilakukan
adalah karbohidrat, protein dan lemak penimbangan berat badan pada bayi baru
sedangkan mikronutrien adalah vitamin & lahir dan neonatus usia 28 hari untuk
mineral. Air susu ibu hampir 90% nya mengetahui hubungan kandungan
terdiri dari air (Hendarto & Pringgadini, makronutrien ASI dengan kenaikan berat
2013) badan neonatus. Pengambilan data
Berat badan merupakan salah satu tolak dilakukan pada bulan September – Oktober
ukur untuk menentukan tingkat kesehatan 2015 dan pemeriksaan komposisi ASI
anak. Faktor yang mempengaruhi berat dilakukan pada bulan Desember 2015,
badan adalah genetik, etnis, berat lahir, karena ada gangguan pada software MIRIS
bayi lahir prematur, hormon, nutrisi dan – Human Milk Analizer maka dilanjutkan
lingkungan. Dampak langsung dari nutrisi pemeriksaan komposisi ASI dibulan
yang tidak memadai termasuk energi, Januari 2016.
protein, Karbohidrat, Lemak dan
mikronutrien disebabkan oleh penyakit, DISKUSI
kelalaian, atau kerawanan pangan (anonim, Penelitian ini dilakukan terhadap 42 orang
2012) ibu post partum dan neonatus. Dan
Berdasarkan uraian dalam latar dilakukan penimbangan berat badan pada
belakang di atas maka dapat dibuat bayi baru lahir dan neonatus usia 28 hari
rumusan masalah penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kandungan
sebagai berikut: “apakah terdapat korelasi makronutrien ASI dengan kenaikan berat
komposisi makronutrien ASI dengan badan neonatus. Pengambilan data
kenaikan berat badan pada neonatus?” dilakukan pada bulan September – Oktober
2015 dan pemeriksaan komposisi ASI
METODE dilakukan pada bulan Desember 2015,
Penelitian ini merupakan studi karena ada gangguan pada software MIRIS
observasional dengan design cross – Human Milk Analizer maka dilanjutkan
sectional study untuk mengetahui korelasi pemeriksaan komposisi ASI dibulan
kandungan protein dalam ASI dengan Januari 2016.
kenaikan berat badan pada neonatus, Dari 42 sampel yang memenuhi kriteria
mengetahui korelasi komposisi kandungan inklusi dan eksklusi didapatkan
lemak dalam ASI dengan kenaikan berat karakteristik sampel penelitian :
badan pada neonatus,dan mengetahui
korelasi komposisi kandungan karbohidrat
dalam ASI dengan kenaikan berat badan

160
International Conference for Midwives (ICMid)

Tabel 1.Karakteristik ibu post partum Protein 1.267 0.2205


No Variabel N (%) Mean ± SD
Lemak 3.762 0.7837
1. Umur 30.64± 4.520
Karbohidrat 6.419 0.8244
2. Paritas 2.17± 1.208

3. Pendidikan Berdasarkan tabel 3 dapat dijelaskan


bahwa rerata kandungan protein dalam ASI
SMP 2 (4.8) sebanyak 1.267, rerata kandungan lemak
SMA 36 (85.7)
dalam ASI sebanyak 3.762 dan rerata
4. Perguruan 4 (9.5)
Tinggi kandungan karbohidrat dalam ASI
sebanyak 6.419
Berdasarkan tabel 1. didapatkan hasil Tabel 4. Distribusi korelasi protein
penelitian dari 42 orang ibu post partum, dengan kenaikan berat badan
rerata usia 30.64 dengan standar deviasi
No Variabel N Mean ± Nilai r NIlai p
4.520, rerata paritas 2.17 dengan standar
deviasi 1.208 dan sebagian besar ibu (85.7 1 Kenaikan 42 766.43 - 0.044
%) pendidikan ibu post partum adalah berat ±181.0
SMA. badan 78 0.313
neonatus
(gram)
Tabel 2. Karakteristik neonatus 2 Kandunga 42 1.267
No Variabel N Mean ± SD n protein ±
(%) dalam ASI 0.2205
(g/dL)
1. Jenis Kelamin
Berdasarkan tabel 4 didapat nilai p = 0.044.
Laki – laki 17 (40.5)
Perempuan 26 (59.5)
Nilai p < 0.05 yang menunjukkan bahwa
2. Panjang Badan 49.60 ± 289.86 Ha diterima berarti ada korelasi yang
lahir (sentimeter) bermakna antara kandungan protein dalam
3. Berat Badan Lahir 3067.14 ± 1.245 ASI dengan kenaikan berat badan neonatus.
(gram)
4. Kenaikan Berat 766.43± 181.078
Nilai korelasi spearman adalah -0.313 ,
Badan neonatus artinya korelasi negatif dengan kekuatan
(gram) korelasi lemah.

Tabel 5 Distribusi korelasi lemak


Berdasarkan tabel 2. dapat dijelaskan dengan kenaikan berat badan
bahwa lebih dari setengahnya (59.5) jenis
kelamin neonatus adalah perempuan. No Variabel N Mean ± Nilai r Nilai
Rerata panjang badan neonatus adalah SD p
49.60 cm, rerata berat badan lahir adalah
3067.14 gram dan rerata kenaikan berat 1. Kenaika 42 766.43± 0.415 0.006
badan neonatus adalah 766.43 g. n berat 181.078
badan
neonatus
Tabel 3 Distribusi frekuensi hasil (gram)
pemeriksaan ASI dengan MIRIS-human 2. Kandung 42 3.762 ±
milk analyzer an lemak 0.7837
dalam
ASI
No Makronutrien Mean SD (g/dL)
(g/dL)
ASI

161
International Conference for Midwives (ICMid)

Berdasarkan tabel 5 didapat nilai p = Unit panas dalam metabolisme adalah


0.006. Nilai p ᦪ 0.05 yang menunjukkan kalori dengan C besar atau kilokalori (1 Cal
bahwa Ha diterima berarti ada korelasi = 1kcal); digunakan untuk menyebut
yang bermakna antara kandungan lemak kandungan energi makanan. Satu kilokalori
dalam ASI dengan kenaikan berat badan adalah jumlah panas yang diperlukan untuk
neonatus. Nilai r=0.415, artinya korelasi menaikkan suhu 1 kg air dari 14,5-15,50C.
positif dengan kekuatan korelasi Sedang. Produksi panas bervariasi pada oksidasi
berbagai makanan, sehingga pengukuran
Tabel 6. Distribusi korelasi karbohidrat jumlah oksigen yang dipakai atau
dengan kenaikan berat badan pengukuran produk akhir oksidasi,
karbondioksida, dan air mendekati nilai
No Variabel N Mean ± Nilai r Nilai yang diperoleh dengan kalorimetri
SD p langsung. (Wahab S. , 1999)
1. Kenaikan 42 766.43± 0.3900 0.011 Perbedaan kalori dari makanan
berat 181.078
badan
ditentukan dari nilai gizi yang ada di
neonatus dalamnya. Zat gizi yang mengandung
(gram) kalori paling tinggi adalah lemak, diikuti
2. Kandungan 42 6.419 ± dengan karbohidrat dan protein. Satu gram
karbohidrat 0.8244
dalam ASI
lemak mengandung sembilan kalori, satu
(g/dL) gram karbohidrat dan protein sama-sama
empat kalori (Kartika, 2014)
Berdasarkan tabel 6 didapat nilai p = Energi yang dibutuhkan anak pada
0.011. nilai p < 0.05 yang menunjukkan berbagai umur dan pada keadaan yang
bahwa Ha diterima berarti ada korelasi berbeda sangat bervariasi.kebutuhan harian
yang bermakna antara kandungan sekitar 80-120 kcal/kg untuk setiap periode
karbohidrat dalam ASI dengan kenaikan 3 tahun berturut – turut. Masa pertumbuhan
berat badan neonatus. Nilai korelasi yang cepat dan perkembangan dekat
spearman adalah 0.390, menunjukkan pubertas memerlukan penambahan
korelasi positif dengan kekuatan korelasi konsumsi kalori. Distribusi kalori pada air
lemah. susu ibu, pada kebanyakan formula, dan
DISKUSI pada diet yang berimbang baik adalah
Berdasarkan tabel 3 dapat dijelaskan bahwa serupa. Sekitar 9-15% kalori berasal dari
rerata kandungan protein dalam ASI protein, 45-55% berasal dari karbohidrat,
sebanyak 1.267, rerata kandungan lemak dan 35-45% berasal dari lemak (Wahab S. ,
dalam ASI sebanyak 3.762 dan rerata 1999)
kandungan karbohidrat dalam ASI Perkiraan rata – rata pengeluaran
sebanyak 6.419 energy pada anak umur 6-12 tahun adalah
Makronutrien (protein, lemak dan metabolism basal, 50%; pertumbuhan,
karbohidrat) telah dianalisis dengan 12%; aktivitas fisik, 25%; dan kehilangan
menggunakan analisis susu manusia melalui tinja sekitar 8%, terutama sebagai
(Miris-Human Milk Analyzer, Swedia). lemak yang tidak diserap (Wahab S. ,
MIRIS-human milk analizer menggunakan 1999).
IR-teknologi (Infrared spektroskopi Pada penelitian ini dapat dihitung total
transmisi- suatu metode yang mengamati kalori makronutrien ASI responden,
interaksi molekul dengan radiasi dengan cara penjumlahan antara kandungan
elektromagnetik) dan bahan acuan standar protein dan karbohidrat dalam g/dL dikali
yang disediakan oleh produsen mesin (Yin 4, dan kandungan lemak dalam g/dL dikali
Shin-an and yang Zhen-yu, 2015). 9. Dan didapatkan total kalori

162
International Conference for Midwives (ICMid)

makronutrien ASI sebanyak 64.602 kkal. yang tinggi pada bayi. Jadi, kandungan
Total kalori pada penelitian ini lebih tinggi protein pada bayi ASI sebagai pengontrol
dari total kalori susu formula standar, yaitu kenaikan berat badan neonatus.
sebanyak 62.80 kkal.Jadi, kalori ASI sudah Penelitian Ziegler (2006), Mengatakan
mencukupi kebutuhan bayi. Sehingga tidak bahwa asupan protein bayi yang diberi ASI
perlu ditambah dengan susu formula. berkurang dengan usia dan sangat cocok
Penelitian ini sesuai dengan pernyataan dengan persyaratan untuk protein selama
maria grunewald bahwa kandungan kalori bulan-bulan awal kehidupan, asupan
dalam ASI matur adalah 50 – 115 kcal, protein bayi yang diberi susu formula
kandungan protein, lemak dan karbohidrat melebihi persyaratan setelah 1-2 bulan
dalam ASI matur adalah 0,63 -1,43, 1,84 – pertama kehidupan. Data konsisten dengan
8,9 dan 6,42 – 7,65. hipotesis bahwa perbedaan asupan protein
Berdasarkan Tabel 4 didapat nilai p = terutama bertanggung jawab untuk
0.044. Nilai p < 0.05 yang menunjukkan perbedaan pertumbuhan antara disusui dan
bahwa Ha diterima berarti ada korelasi bayi diberi susu formula.
yang bermakna antara kandungan protein Penelitian Olivia Ballard (2014),
dalam ASI dengan kenaikan berat badan Protein dari susu manusia dibagi menjadi
neonatus 28 hari. Nilai Korelasi spearman fraksi whey dan kasein atau kompleks,
adalah -0.313 , artinya korelasi negatif dengan masing-masing terdiri oleh array
dengan kekuatan korelasi lemah. yang luar biasa dari protein dan peptida
Kandungan protein dalam ASI mengikuti tertentu. protein paling melimpah adalah
kebutuhan protein neonatus. Pada kasus kasein, α-lactalbumin, laktoferin,
nenatus dengan kenaikan berat badan yang imunoglobulin sekretorik IgA, lisozim ,
tinggi membuat kandungan protein dalam dan serum albumin.nitrogen yang
ASI rendah. Karena menurut penelitian mengandung senyawa Non-protein,
Koletzko B1 (2009), mengatakan bahwa termasuk urea, asam urat, creatine,
asupan protein yang lebih rendah pada bayi kreatinin, asam amino, dan nukleotida,
ASI mungkin mengurangi risiko terdiri ± 25% dari susu nitrogen manusia.
overweight dan obesitas Penelitian ini, hampir sama dengan
Menurut penelitian metanalisis penelitian Schelonka RL 2010),
Dominicia Gidrewicz (2014), kandungan mengatakan bahwa ada kenaikan berat
protein air susu ibu dari minggu pertama badan secara signifikan lebih tinggi dari 2,4
sampai minggu ke 12 mengalami gram / kg / hari [perbedaan rata-rata
penurunan. Pada minggu pertama tertimbang (WMD) 2,36 g / kg / hari;
kandungan protein dalam ASI adalah 1,8 Interval 95% confidence (CI) 1,31-3,40]
(0.4-3.2), minggu kedua kandungan protein dan secara signifikan lebih tinggi akresi
dalam ASI adalah 1.3 (0.8-1.8), minggu nitrogen 144 mg / kg / hari (WMD 143,7
tiga sampai empat kandungan protein mg / kg / hari, 95% CI 128,7, 158,8) pada
dalam ASI adalah 1.2 (0.8-1.6), dan bayi yang menerima susu formula
minggu kesepuluh sampai kedua belas kandungan protein yang lebih tinggi ( ≥3 g
kandungan protein dalam ASI adalah 0.9 / kg / hari tetapi <4 g / kg / hari.
(0.6-1.2). Begitu juga dengan penelitian J
Peningkatan konsumsi protein Escribano (2012), mengatakan bahwa
dikaitkan dengan peningkatan produksi Kecepatan kenaikan berat badan sangat
asam amino dan insulin. Menurut Hasche berkorelasi dengan z-score fat mass (r =
(2010), diperkirakan bahwa hampir 13% 0,564, P <0,001) tetapi tidak menunjukkan
dari kasus dari masa kanak-kanak obesitas hubungan dengan Fat free mass z-skor. Fat
dapat dijelaskan dengan asupan protein free mass menunjukkan tidak ada

163
International Conference for Midwives (ICMid)

hubungan dengan BMI. Namun demikian, disusui. Studi lain menemukan bahwa ±
fat mass sangat berkorelasi dengan BMI di 25% dari variasi konsentrasi lipid antara
6, 12 dan 24 bulan (r = 0,475, P <0,001; r = susu ibu dapat dijelaskan oleh asupan
0,332, P = 0,007 dan r = 0,247, P = 0,051, protein ibu.
masing-masing). Fat free mass dan fat mass Profil asam lemak dari susu manusia
z-skor tidak berbeda secara signifikan bervariasi dalam kaitannya dengan diet ibu,
antara HP dan bayi LP (0.32 ± 1.75 vs - khususnya, dalam rantai panjang asam
0,31 ± 1,17 dan 0,54 ± 2,81 vs -0,02 ± lemak tak jenuh ganda (LCPUFAs).
1,65, masing-masing). hipotesis bahwa LCPUFA asupan di dunia Barat yang
intake protein tinggi pada awal kehidupan miring terhadap asam lemak omega-6,
berhubungan dengan berat badan lebih dengan asupan sub-optimal asam lemak
cepat dan pada gilirannya untuk adipositas omega-3. Asam docosahexanoic (DHA)
yang lebih tinggi. komposisi ASI sangat rendah pada populasi
Penelitian ini hampir sama dengan Amerika Utara; suplementasi harus
penelitian K. Pennington et all (2013) (K. dipertimbangkan untuk wanita menyusui
Pennington and Hospitality 2013), Amerika Utara dengan DHA diet terbatas
menyatakan bahwa protein dirumuskan (Olivia Ballard, 2014)
pada bayi dapat dimodifikasi di kedua Penelitian ini sama dengan penelitian
jumlah (kurang protein) dan jenis Celine Julie Fischer (2014), mengatakan
(hydrolysated) untuk menghasilkan pola bahwa Analisis univariat menunjukkan
kenaikan berat badan lebih mirip dengan hubungan positif yang signifikan antara
bayi ASI. Memodifikasi kandungan protein asupan kumulatif lipid parenteral selama
dari susu formula tidak mengakibatkan minggu pertama dan i) kenaikan berat
perubahan panjang, tetapi menunjukkan badan hingga 28 hari; ii) menambah berat
pertumbuhan linear yang adekuat. badan hingga usia 36 minggu dikoreksi; iii)
Berdasarkan Tabel 5 didapat nilai p = pertumbuhan lingkar kepala sampai hari
0.006. Nilai p ᦪ 0.05 yang menunjukkan 28. Ada korelasi negatif antara
bahwa Ha diterima berarti ada korelasi keterlambatan dalam pengenalan lipid
yang bermakna antara kandungan lemak parenteral dan kenaikan berat badan sampai
dalam ASI dengan kenaikan berat badan hari 28. Dalam analisis multivariat, asosiasi
neonatus 28 hari. Nilai r = 0.415, artinya antara asupan kumulatif lipid parenteral
korelasi Positif dengan kekuatan korelasi dan kenaikan berat badan hingga 28 hari
Sedang. adalah independen dari usia kehamilan saat
Lemak susu manusia ditandai dengan lahir, berat lahir, jenis kelamin, kecilnya
tingginya asam palmitat dan oleat, untuk usia kehamilan, dan asupan enteral
terkonsentrasi di 2-posisi dan yang terakhir (koefisien regresi: 0,19; 95% CI:
di 1 dan 3-posisi dari trigliserida. Lemak 0.01e0.38) dan, sampai 36 minggu,
adalah makronutrien yang paling sangat independen dari usia kehamilan,berat lahir,
bervariasi susu. Hindmilk, didefinisikan jenis kelamin, kecilnya untuk usia
sebagai susu terakhir dari umpan, mungkin kehamilan dan glukosa parenteral dan asam
berisi dua sampai tiga kali konsentrasi amino (0,16; 95% CI:0.04e0.27).
lemak susu yang ditemukan dalam Penelitian D harit (2007) menunjukkan
foremilk, didefinisikan sebagai susu awal bahwa perubahan total kolesterol dari 14
feed. Sebuah studi susu dari 71 ibu selama minggu sampai 6 bulan juga signifikan
periode 24-jam ditemukan bahwa pada kedua kelompok (kelompok 1, 200
kandungan lemak susu secara signifikan bayi ASI dan kelompok 2, 200 bayi
lebih rendah bila disusui di malam hari dan menerima makanan campuran) (P o0.001).
pagi dibandingkan sore atau malam Low-density lipoprotein kolesterol (LDL

164
International Conference for Midwives (ICMid)

C) dan trigliserida secara signifikan lebih manusia adalah variabel paling


tinggi pada kelompok ASI pada 14 minggu macronutrients, tetapi konsentrasi yang
dan 6 bulan. High-density lipoprotein lebih tinggi dari laktosa ditemukan dalam
kolesterol (HDL-C) / LDL-C secara susu ibu memproduksi jumlah yang lebih
signifikan meningkatkan pada 6 bulan di tinggi dari susu. Karbohidrat penting
ASI eksklusif kelompok (P ¼ 0,045). lainnya dari susu manusia adalah
Sebuah korelasi positif ditemukan hanya oligosakarida, yang terdiri sekitar 1 g / dL
pada 14 minggu antara TC ibu dan bayi TC dalam susu manusia, tergantung pada tahap
(r ¼ 0,332), ibu LDL-C dengan bayi LDL- laktasi dan faktor genetik ibu.
C (r ¼ 0,223) di Kelompok makan Oligosakarida adalah salah satu faktor
campuran. bioaktif non-gizi dibahas di bawah (Olivia
Penelitian ini sesuai dengan penelitian Ballard, 2014)
Delplanque (2015),yang mengatakan Gula utama ASI adalah laktosa tetapi
bahwa Lipid adalah penyedia dominan 30 atau lebih oligosakarida, semua
energi, kontribusi 90% dari energi yang mengandung terminal Gal- (beta 1,4) -Glc
disimpan oleh bayi selama 6 bulan dan mulai dari 3--14 unit sakarida per
pertama. Lipid juga merupakan sumber molekul juga hadir. Ini mungkin jumlah
yang efisien deposisi energi: biaya energi dalam agregat sebanyak 1 g / 100 ml susu
untuk mensintesis dan menyimpan lemak matang dan 2,5 g / 100 ml dalam
dari glukosa 25%, sedangkan hanya 1% kolostrum. Beberapa dari mereka mungkin
sampai 4% ketika lipid adalah substrat. berfungsi untuk mengontrol flora usus
Bayi diberi ASI tampaknya memiliki massa karena kemampuan mereka untuk
lemak yang lebih tinggi pada 3 dan 6 bulan mempromosikan pertumbuhan strain
dari formula-makan bayi, sedangkan tertentu dari lactobacilli. Lemak susu
mereka cenderung memiliki lemak tubuh manusia ditandai dengan isi tinggi asam
lebih sedikit pada usia kemudian. Banyak palmitat dan olea.
penelitian dan meta-analisis ditemukan Penelitian Anderson CM (1977),
menyusui dikaitkan dengan risiko sedikit Berat-keuntungan dalam 35 bayi Aborigin
lebih rendah dari obesitas atau kegemukan sedikit kekurangan gizi Australia dipelajari
di kemudian hari. Tidak jelas apakah dan di rumah sakit (49 penerimaan) selama
sejauh mana komponen lipid dalam blind terkontrol rendah laktosa susu
pemberian makanan bayi, namun, persiapan pra-dihidrolisis dan dilarutkan
memberikan kontribusi untuk efek protektif penuh krim susu bubuk. Bayi yang diberi
dari menyusui. Kualitas lipid dipasok ke susu laktosa dihidrolisis naik 70% lebih
bayi adalah sangat penting untuk berat dibandingkan mereka yang menerima
pertumbuhan, perkembangan, dan susu normal. Baik berat badan-keuntungan
kesehatan di masa depan. yang dicapai pada mereka pada susu
Berdasarkan Tabel 6 didapat nilai p = laktosa dihidrolisis terlepas dari berat
0.011. nilai p < 0.05 yang menunjukkan badan standar persentase untuk usia,
bahwa Ha diterima berarti ada korelasi kehadiran diare pada masuk ke
yang bermakna antara kandungan persidangan, dan konsentrasi gula tinja.
karbohidrat dalam ASI dengan kenaikan Penggunaan susu rendah laktosa harus
Berat Badan Neonatus 28 hari. Nilai dipertimbangkan dalam program bantuan
korelasi spearman adalah 0.390, gizi untuk anak-anak yang kekurangan gizi
menunjukkan korelasi positif dengan di seluruh dunia
kekuatan korelasi lemah.
Gula utama ASI adalah laktosa
disakarida. Konsentrasi laktosa dalam susu

165
International Conference for Midwives (ICMid)

SIMPULAN mixed feeding: a comparative study."


1. Terdapat korelasi negatif antara European Journal of Clinical
kandungan protein dalam ASI dengan Nutrition, 2007: 1–7.
kenaikan berat badan neonatus dengan 8. Dahlan, Sopiyudin. Statistik untuk
kekuatan korelasi lemah. kedokteran dan kesehatan. Jakarta:
2. Terdapat korelasi positif antara Salemba Medika, 2011.
kandungan lemak dalam ASI dengan 9. Delplanque, Bernadette*; Gibson,
kenaikan berat badan neonatus dengan Robert†; Koletzko, Berthold‡;
kekuatan korelasi sedang. Lapillonne, Alexandre§; Strandvik,
3. Terdapat korelasi positif antara Birgitta. "Lipid Quality in Infant
kandungan karbohidrat dalam ASI Nutrition: Current Knowledge and
dengan kenaikan berat badan neonatus Future Opportunities." Journal of
kekuatan korelasi lemah Pediatric Gastroenterology &
Nutrition, 2015: 8-17.
DAFTAR PUSTAKA 10. depkes. depkes corporation. Januari
1. Agriculture, Department of. Infant 2013. www.gizikia.depkes.go.id/wp-
Nutrient and Feeding. content/uploads/download/2013/01/B
Washington,D.C: Department of UKU-PP-NO-33-2012_ASI_pdf
Agriculture Press, 2009. (accessed April 15, 2015).
2. Anonim. American pregnancy 11. Edgar, Badriul. "Bedah ASI : Kajian
association corporation. Januari 01, dari berbagai sudut pandang ilmiah."
2013. In Nilai Nutrisi Air Susu Ibu, by
http://americanpregnancy.org/first- Aryono Hendarto and Keumala
year-of-life/newborn-weight-gain/ Pringgadini. Jakarta: IDAI, 2013.
(accessed Maret 05, 2015). 12. EE., Ziegler. "Growth of breast-fed
3. anonim. Factors Affecting Growth. and formula-fed infants." Pubmed,
2012. 2006: 51-9.
http://www.education.vic.gov.au/Docu 13. Februhartanty, J. Profiles of eight
ments/childhood/professionals/support working mothers who practiced
/factorsaffgrowth.pdf (accessed 2012). exclusive breastfeeding in depok
4. Catherine R.L. Brown,,Linda Dodds, Indonesia. Breastfeeding medicine,
Alexandra Legge, Janet Bryanton, 2012.
RN,. “Factors influencing the reasons 14. Gidrewicz, Dominica A, and Tanis R
why mothers stop breastfeeding.” Fenton. "A Systematic review and
quantitative research, 2014: 179-185. meta-analysis of the nutrien content of
5. Céline Julie Fischer ,Delphine preterm and term breast milk." BMC
Maucort-Boulch, Christine Murielle Pediatrics, 2014: 1-14.
Essomo Megnier-Mbo, Laurent 15. Griffiths, M. Improving young child
Remontet, Olivier Claris. "Early feeding practices in indonesia: project
parenteral lipids and growth velocity in overview, Indonesian Weaning
extremely-low-birthweight." Clinical Project. Jakarta: Nutrition directorate,
Nutrition, 2014: 502-508. Indonesian Ministry of Health, 1991.
6. CM, Anderson. "Weight-gain 16. Hendarto, Aryono, and Keumala
inhibition by lactose." Pubmed, 1977: Pringgadini. "Nilai nutrisi air susu
:954-5. ibu." In Bedah ASI, by Badriul Edgar.
7. D Harit, MMA Faridi, A Aggarwal, Jakarta: IDAI, 2013.
SB Sharma. "Lipid profile of term 17. Hikamawati, Isna. "FAKTOR -
infants on exclusive breastfeeding and FAKTOR RISIKO KEGAGALAN

166
International Conference for Midwives (ICMid)

PEMBERIAN ASI SELAMA DUA breast Milk Using Two Method s of


BULAN (Studi Kasus pada bayi umur analysis." Metro Health, 2014: 1-2.
3-6 bulan di Kabupaten Banyumas) ." 27. Putri, Yuki Anggia. Ensiklopedia
Undip Journal, 2008. Kesehatan Anak. Jakarta: Erlangga,
18. Hubertin Sri Purwanti, S.ST. Konsep 2011.
Penerapan ASI Eksklusif. Jakarta: 28. Retno WidyaniPanduan
EGC, 2004. Perkembangan Anak 0 -1
19. J Escribano, V Luque, N Ferre, G tahunJakartaPuspaswara2009
Mendez-Riera, B Koletzko, V Grote, 29. Roesli, Utami. Mengenal ASI
H Demmelmair, L Bluck, A Wright, R Eksklusif. Jakarta: Trubus Agriwidya,
Closa-Monasterolo. "Effect of protein 2005.
intake and weight gain velocity on 30. Ruowei Li, MD, PhDa, Sara B. Fein,
body fat mass at 6 months of age: The Jian Chen, Laurence M. Grummer-
EU Childhood Obesity Programme." Strawn. "Self-reported Reasons for
Pediatric Original Article, 2012: 548- Stopping During the." SUPPLEMENT
533. ARTICLE, 2008: 69-76.
20. K. Pennington, L. Knol, and Human 31. Sastroasmoro, Sudigdo. Dasar - dasar
Nutrition & Hospitality. "The metodologipenelitian klinis. Jakarta:
Relationship between Protein Sagung Seto, 2011.
Composition in Infant Formulas and 32. Schelonka RLGo M. "Higher versus
Changes." Journal of academi of lower protein intake in formula-fed
Nutrition and dietetic, 2013: 9. low birth weight infants." RHL
21. Kementerian Kesehatan Republik commentary, 2010.
Indonesia nomor 33 tahun 33. Sears. "sears orporation." sears
2012http://www.gizikia.depkes.go.id/d orporation. 2015.
ownload/BUKU-PP-NO-33- http://www.askdrsears.com/topics/feed
2012_ASI__.pdf ing-eating/breastfeeding/faqs/how-
22. Kementerian Kesehatan Republik much-weight-will-my-breastfeeding-
Indonesia, Kemenkes. "Riset baby-gain (accessed Mei 01, 2015).
Kesehatan Daerah Dasar 34. Sekartini, Rini, and Jeanne-Roos
(RISKESDA)." Jakarta, 2010. Tikoalu. "Air Susu Ibu dan tumbuh
23. Kinanti, Ajeng Anastasia. WBTI: Kembang Anak." In Bedah ASI, by
Hanya 27,5 Persen Ibu Indonesia yang Badriul Edgar. Jakarta: Ikatan Dokter
Memberi ASI Eksklusif. Jakarta: detik Anak Indonesia, 2008.
health, 2013. 35. Soetjiningsih. ASI : Petunjuk untuk
24. Nikniaz L, Mahdavi R,dkk. tenaga kesehatan. Jakarta: EGC, 1997.
"AssociationBetween Fat Content of 36. Suhardjo. Pemberian makanan pada
Breast Milk and Maternal Nutrional bayi dan anak. Jakarta: Kanisius,
Status and infants weight in Tarbiz, 2010.
Iran." Mal J Nutr, 2009: 37-44. 37. Wahab, A. Samik. Ilmu Kesehatan
25. olivia ballard, JD PhD, and PhD, MSc anak Nelson. Jakarta: EGC, 2000.
Ardythe L. Morrow. "Human Milk 38. WHO, 2009. Infant and Young Child
composition: Nutrients and Bioactive Feeding: Model Chapter for Textbooks
Factors." HHS public access, 2013: for Medical Students and Allied Health
49-74. Professionals.
26. Parat, Sumesh. "Comparison of http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/N
macronutrien Composition of Human BK148970/ (accesed 11 maret 2016

167
International Conference for Midwives (ICMid)

DIFFERENCES IN ANTHROPOMETRY OF THE NEWBORN ACCORDING


TO NUTRITIONAL STATUS OF WOMEN BEFORE PREGNANCY

Yusrawati, Yulia Netri, Gustina Lubis


Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang

ABSTRACT

Most infant deaths are caused by neonatal problems namely low birth weight (LBW). The
incidence of LBW in Indonesia is 10.2% .5 Data from the City Health Office (DKK) Padang in
2013 increased to 171 LBW kasus.6 LBW can be caused by poor nutritional status of mothers
before and during pregnancy. This study aims to determine differences in anthropometric
newborns according to the nutritional status of the mother before pregnancy. The study was
conducted by analytic observational with cross sectional study on 120 pregnant women, the
samples taken by consecutive sampling. Normality test data by Kolmogorov-Smirnov, ANOVA
test is used to look at the differences in the three groups. The mean maternal anthropometry BBL
with underweight are: weight is 2,937.5 ± 340.2 g, body length of 47.1 ± 1.89 cm and head
circumference 33.5 ± 1.46 cm, the mother normalweight are: weight 3,142.5 ± 353.6 grams, body
length of 47.5 ± 1.46 cm and head circumference 34.3 ± 1.27 cm, the weight of overweight
mothers 3.340 ± 393.4 g, body length and 48.4 ± 1.27 cm The head circumference 34.8 ± 1.51
cm (p <0.05). There are differences in mean body weight, body length and head circumference
BBL based on BMI underweight mothers, normalweight, overweight.

Keywords: Nutritional status of the mother before pregnancy, body weight, body length and head
circumference

PENDAHULUAN Salah satu faktor risiko yang berkontribusi


Status gizi ibu hamil dianggap sebagai besar terhadap kematian bayi terutama pada
pengatur yang terpenting untuk masa perinatal yaitu bayi berat lahir rendah
pertumbuhan janin. Seorang ibu yang sehat (BBLR)32.Di Indonesia angka kejadian
akan menghasilkan anak yang sehat. Gizi BBLR tahun 2013 sebanyak 10,2%5,
ibu yang tidak baik akan melahirkan bayi Kejadian BBLR di Sumatera Barat sebesar
dengan berat badan lahir rendah30. Efek gizi 1420 kasus, dikota Padang kejadian BBLR
buruk pada ibu ibu, tapi juga anaknya27. tahun 2013 sebanyak 171 kasus6, ini
Mengurangi kejadian Berat badan mengalami peningkatan dari tahun 2012
lahir rendah salah satunya dengan cara hanya 94 kasus dan survey awal dilakukan
memastikan bahwa ibu hamil mendapatkan di puskesmas Lubuk buaya padang tahun
gizi yang cukup. Status gizi ibu dapat 2014 kejadian BBLR sebanyak 24 kasus
diukur dengan menghitung Indeks Massa dari 1889 jumlah persalinan.
Tubuh (IMT) prahamil, yaitu berat badan Banyak faktor risiko yang dapat
(Kg) dibagi tinggi badan (m) kuadrat1,2. memicu terjadinya berat lahir rendah salah
Menurut laporan Save The Childrens satunya yaitu faktor dari ibu (usia,
yang berjudul Ending Newborn Death primipara, pendidikan yang rendah, status
menyebutkan bahwa kematian bayi gizi ibu sebelum hamil dan selama hamil)
bervariasi di berbagai negara, sekitar 5,9 per dan faktor indeks massa tubuh (IMT) ibu
1000 kelahiran hidup (KH) terjadi di Eropa sebelum hamil dan selama hamil juga
dan 4-5 kali lipat terjadi di Asia dan Afrika. menunjukkan hubungan yang positif dengan
168
International Conference for Midwives (ICMid)

berat badan bayi baru lahir9. Penelitian yang penelitian tentang perbedaan antropometri
dilakukan di Vietnam mendapatkan hasil bayi baru lahir menurut status gizi ibu
bahwa ibu memiliki IMT yang rendah, pada sebelum hamil.
umumnya memilki risiko melahirkan bayi
dengan berat badan lahir rendah untuk usia METODE
kehamilan yang cukup bulan, terutama Jenis penelitian adalah analitik dengan
ketika jumlah kenaikan berat badan pendekatan cross sectional. Lokasi
kehamilan ibu adalah <10 kg8. penelitian di RSUD Dr. Rasidin Padang,
Penelitian yang dilakukan di RST Reksodiwiryo Padang dan RS
Bangladesh bahwa terdapat hubungan yang Bhayangkara Padang. Penelitian
positif antara indek massa tubuh ibu dengan dilaksanakan Pada Oktober - November
berat lahir bayi22. Panjang badan bayi lahir 2015. Populasi penelitian ini adalah semua
paling dipengaruhi oleh usia kehamilan dan ibu dalam masa inpartu yang akan beraslin
(IMT) Indeks Massa Tubuh maternal33. di RSUD Dr. Rasidin Padang, RST
Wanita yang memiliki indeks massa tubuh Reksodiwiryo Padang dan RS Bhayangkara
<26,0 Kg/m² akan memiliki bayi dengan Padang Sampel adalah bagian dari populasi
panjang badan 1,5 cm, lebih panjang dari yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi,
pada wanita yang memiliki IMT <19,8 teknik pengambilan sampel dilakukan
kg/m². dengan consecutive sampling terhadap 120
Berat badan, panjang badan dan orang responden, yang terdiri dari 40
lingkar kepala bayi baru lahir merupakan responden pada masing-masing kelompok
indikator klinis yang penting digunakan Indeks massa tubuh Underweight,
untuk evaluasi pertumbuhan selama periode normalweight dan overweight.
neonatal dan merupakan faktor utama Pengambilan sampel dilakukan oleh
dalam menentukan kelangsungan hidup peneliti di ruang bersalin dengan
anak, pertumbuhan fisik dan perkembangan mengambil data dari responden berupa
mental dimasa depan11. berat badan ibu sebelum hamil, tinggi
Panjang badan dan lingkar kepala badan, setelah bayi lahir dilakukan
bayi baru lahir dapat digunakan untuk pengukuran antropometri bayi baru lahir.
mendiagnosa kondisi patologis potensial Penelitian ini telah mendapatkan
saat lahir dan mendiagnosa kelainan pada persetujuan etik dari Komite Etika
proporsi tubuh, seperti achondroplasia Penelitian Fakultas Kedokteran Unand no.
(cebol) akibat kelainan pertumbuhan tulang, 136/KEP/FK/2015. Data yang diperoleh
hidrosefalus dan microcephalus36. dianalisa dengan uji ANOVA untuk melihat
Berdasarkan latar belakang diatas, perbedaan antara ketiga kelompok.
maka penulis tertarik untuk melakukan

DISKUSI
Tabel 1. Karakteristik Subjek Penelitian
Kelompok
Underweight Normalweight Overweight
No Karakteristik (n=40) (n=40) (n=40) p value
mean±SD mean±SD mean±SD
1 Umur (tahun) 28,60±4,144 28,88±3,930 28,90±4,378 0,938
2 Paritas 2,25±1,171 1,88±0,939 2,28±1,240 0,208
3 Kenaikan BB
14,44±4,263 14,83±4,992 13,25±4,887 0,003
selama hamil

169
International Conference for Midwives (ICMid)

Berdasarkan Tabel 1 hasil uji berat badan selama hamil dengan kelompok
statistik pada karakteristik subjek penelitian IMT underweight, normalweight dan
menunjukkan tidak terdapat hubungan yang overweight (p<0,05).
bermakna antara umur ibu dan paritas pada Distribusi subjek penelitian berdasarkan
kelompok IMT underweight, normalweight pendidikan dan pekerjaan dapat dilihat pada
dan overweight (p>0,05) dan terdapat gambar di bawah ini:
hubungan yang bermakna antara kenaikan

Gambar 1. Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Pendidikan

50% 38.70% 33.30% 33.30% 42.20%


24.40% 28%

0%
Underweight Normalweight Overweight
SMA PT

Gambar 2. Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan pekerjaan


50% 38.10% 44.40%
33.30% 33.30%
28.60%
22.20%

0%
Underweight Normalweight Overweight
Tidak Bekerja Bekerja

Berdasarkan gambar 1 diketahui bahwa underweight lebih banyak ibu yang tidak
pendidikan untuk kelompok IMT bekerja,IMT nomalweight lebih banyak ibu
underweight lebih banyak tamat SMA, IMT yang bekerja dan IMT overweight seimbang
nomalweight seimbang antara tamat SMA antara ibu yang bekerja dan tidak bekerja.
dan Perguruan Tinggi (PT) dan IMT
overweight lebih banyak tamat PT. Tabel 2. Rerata Berat Badan Bayi Baru
Berdasarkan gambar 2 diketahui bahwa Lahir menurut Status Gizi ibu Sebelum
pekerjaan untuk kelompok IMT Hamil

No Variabel Berat badan BBL P


Mean SD 95% CI value

1 Underweight 2,937.5 340,2 2828,7-3046,3


2 Normalweight 3,142.5 353,6 3029,4-3255,6 0,000
3 Overweight 3,340 393,4 3214,1-3465,8

170
International Conference for Midwives (ICMid)

Berdasarkan tabel 2 dari uji statistik Normalweight, overweight dengan p=0,000


terdapat perbedaan rerata berat badan BBL (p-value< 0,05).
menurut status gizi ibu sebelum hamil pada
kelompok IMT underweight,

Tabel 3. Rerata panjang Badan Bayi Baru Lahir menurut Status Gizi ibu Sebelum Hamil

No Variabel panjang badan BBL P value

Mean SD 95% CI
1 Underweight 47,1 1,89 46,52-47,73
2 Normalweight 47,5 1,46 47,03-47,97 0,001
3 Overweight 48,4 1,27 48,02-48,83

Berdasarkan tabel 3 dari uji statistik Normalweight, overweight dengan p=0,001


terdapat perbedaan rerata panjang badan (p-value< 0,05).
BBL menurut status gizi ibu sebelum hamil
pada kelomok IMT underweight,

Tabel 4. Rerata lingkar kepala Bayi Baru Lahir menurut Status Gizi ibu Sebelum Hamil

No Variabel panjang badan BBL P


value
Mean SD 95% CI

1 Underweight 33,5 1,46 33,03-33,97


2 Normalweight 34,3 1,27 33,97-34,78 0,000
3 Overweight 34,8 1,51 34,34-35,31

Berdasarkan tabel 4 dari uji statistik berat lahir16. Mengukur berat badan selama
terdapat perbedaan rerata Lingkar Kepala kehamilan dapatmembantu memprediksi
BBL menurut status gizi ibu sebelum hamil status gizi ibu serta dapat
pada kelomok IMT underweight, memprediksikondisi bayi yang akan
Normalweight, overweight dengan p=0,000 dilahirkan24,29. Berat dan tinggi badan
(p-value< 0,05). diukur untuk mengevaluasi IMT ibu hamil
yang dapat menunjukkan status kesehatan
DISKUSI pada ibu hamil tersebut apakah berat
badannya normal atau tidak15.
Perbedaan Rerata Berat Badan BBL Ibu dengan indeks massa tubuh
menurut Status Gizi Ibu Sebelum Hamil (IMT) normal sebelum hamil menjanjikan
berdasarkan IMT (Underweight, Normal hasil yang lebih baik untuk kehamilan dan
Weight, Overweight) hasil kelahiran bayi.Untukmeningkatkan
Perbedaan rerata berat badan bayi kesehatan pada ibu dan anak, wanitatidak
baru lahir pada ibu underweight, hanyaharus berada dalamkisaran IMT yang
Normalweight, overweight pada uji statistik normal, pada saat hamilkenaikan berat
p=0,000 (p-value< 0,05).Berbagai badan harus mengikutirentang yang telah
penelitian telah banyak mempelajari bahwa direkomendasikan oleh Institute Of
antropometri ibu hamil sebagai prediksi Medicine34. Berat badan ibu hamil harus

171
International Conference for Midwives (ICMid)

memadai, bertambah sesuai dengan umur karena kejadian kekurangan gizi pada
kehamilan. Berat badan yang bertambah trimester III dapat menyebabkan penurunan
dengan normal akan menghasilkan berat suplai zat gizi dari ibu ke janin. Masa
anak yang normal. Total kenaikan berat kehamilan trimester III merupakan saat
badan ibu yang memadai berdasarkan kritis pertumbuhan janin. Pertumbuhan
rekomendasi institute of medicine (IOM) terjadi lebih cepat dibanding trimester
akan menghasilkan hasil dan berat lahir sebelumnya karena adanya proses
yang lebih baik pada bayi21. pematangan sistem-sistem seperti sistem
Berat badan lahir merupakan faktor imun, saraf, digesti dan ekskresi. Proses
penentu yang sangat penting bagi pertumbuhan ini tidak berjalan sempurna
kesejahteraan bayi. Beberapa faktor seperti karena kurangnya suplai zat gizi dari ibu
genetik ibu, sosial budaya, demografi, sehingga kecendrungan mengalami
faktor perilaku, indeks massa tubuh (IMT), malnutrisi seperti pendek meningkat26.
berat badan kehamilan dan lain-lain, Faktor yang berkontribusi menyebabkan
berkontribusi mempengaruhi berat lahir. stunting pada bayi secara khusus meliputi
Asupan gizi dan berat badan selama status gizi maternal dan kesehatan sebelum,
kehamilan adalah dua faktor utama yang selama dan setelah kehamilan, gangguan
dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan pertumbuhansering dimulaidi dalam rahim
bayi baru lahir31. karena nutrisi yang tidak memadai.
Perbedaan Rerata Panjang Badan BBL Pengaruh stunting pada bayi dapat
menurut Status Gizi ibu Sebelum Hamil menganggu pertumbuhan dan
berdasarkan IMT Underweight, Normal perkembangan37.
weight, Overweight) Perbedaan Rerata Lingkar kepala BBL
Perbedaan rerata panjang badan bayi menurut Status Gizi ibu Sebelum Hamil
baru lahir pada ibu underweight, berdasarkan IMT (Underweight,
Normalweight, overweight pada uji statistik Normalweight, Overweight)
p=0,001 (p-value< 0,05). Perbedaan rerata berat badan bayi
Faktor yang paling mempengaruhi baru lahir pada ibu underweight,
panjang badan bayi baru lahir adalah Normalweight, overweight pada uji statistik
Indeks massa tubuh ibu, IMT ibu yang p=0,000 (p-value< 0,05).
rendah melahirkan bayi dengan panjang Lingkar kepala bayi baru lahir
<48 cm dan IMT ibu yang normal merupakan indikator klinis yang penting
melahirkan bayi dengan panjang ≥50 cm38. digunakan untuk evaluasi pertumbuhan
Status gizi kurang selama masa selama periode neonatal dan merupakan
kehamilan merupakan salah satu faktor salah faktor utama dalam menentukan
yang berkontribusi dalam pertumbuhan kelangsungan hidup anak, pertumbuhan
janin yang buruk25. Seorang bayi baru lahir fisik dan perkembangan mental dimasa
apabila panjang badan lahir < 46,1 cm depan11.
untuk laki-laki dan < 45,4 cm untuk Lingkar kepala bayi baru lahir
perempuan akan berdampak jangka dipengaruhi oleh kondisi ibu sebelum
panjang bagi pertumbuhan manusia. Hasil kehamilan. Status gizi ibu yang buruk tidak
penelitian disemarang juga sejalan yang dapat diandalkan untuk mendukung
menyatakan terdapat perbedaaan panjang pertumbuhan dan perkembangan otak. Oleh
badan bayi baru lahir antara ibu hamil karena itu, status gizi ibu yang buruk
underweight dan normalweight (pvalue < menyebabkan lingkar kepala bayi baru
0,05)35. lahir tidak berada dalam kondisi yang
Ibu hamil underweight mempunyai optimal. Selain itu, status gizi ibu yang
risiko untuk melahirkan bayi stunting buruk, seperti kurus (underweight),

173
International Conference for Midwives (ICMid)

memiliki risiko melahirkan bayi dengan nutrisi akan berkurang dibandingkan


lingkar kepala yang kecil. dengan kehamilan sebelumnya. Hal ini
Pemeriksaan lingkar kepala penting akan meningkatkan risiko gangguan
untuk dilakukan untuk melihat gangguan pertumbuhan janin13.
dan kelainan yang terjadi. Lingkar kepala Paritas merupakan salah satu faktor
pada saat lahir biasanya lebih kecil, karena predisposisi terjadinya kelahiran prematur
proses molding yang normal terjadi pada karena jumlah paritas dapat mempengaruhi
persalinan pervaginam biasanya pada hari keadaan kesehatan ibu dalam kehamilan.
ke dua atau ke tiga ukuran tengkorak sudah Berdasarkan penelitian yang dilakukan di
kembali, Lingkar kepala normal 33-37 Jerman didapatkan data bahwa pada wanita
cm4,17. primipara angka kejadian kelahiran
Hubungan Status gizi ibu sebelum hamil prematur lebih besar yaitu 9,5%, sedangkan
berdasarkan Indeks Massa Tubuh angka kejadian pada multipara adalah
Underweight dengan Antropometri Bayi sebesar 7,5%. Hal ini di karenakan oleh
baru lahir kenyataan bahwa wanita multipara akan
Hasil penelitian pada kelompok mencari pengetahuan yang lebih untuk
Underweight ditemukan bayi lahir dengan menghindari risiko yang akan terjadi pada
berat badan lahir rendah (BBLR) sebanyak kehamilan berikutnya berdasarkan
4 bayi (10%) dari 40 responden, dengan pengalaman dari proses persalinan
berat bayi I 2.200 gr, Panjang badan 45 cm, sebelumnya, sehingga dapat mengurangi
lingkar kepala 31 cm, bayi II dengan berat risiko persalinan berikutnya. Persalinan
badan 2.400 gr, panjang badan 45 cm, premature lebih sering terjadi pada
lingkar kepala 30 cm, bayi III dengan kehamilan pertama. Kejadiannya akan
badan 2.200 gr, panjang badan 42 cm, berkurang dengan meningkatnya jumlah
lingkar kepala 30 cm dan bayi IV dengan paritas yang cukup bulan sampai dengan
berat badan 2.400 gr, panjang badan 43 cm, paritas keempat18.
lingkar kepala 33 cm. Berat badan lahir rendah juga
Dari karakteristik ibu berdasarkan cenderung terjadi pada bayi yang
usia dalam batas normal untuk menjalani dilahirkan oleh ibu dengan status ekonomi
kehamilan, dari paritas ibu didapatkan 3 rendah yang meliputi pekerjaan dan
bayi BBLR dilahirkan dengan paritas anak pendidikan dimana pendidikan merupakan
pertama dan 1 BBLR dilahirkan dengan faktor yang sangat penting dalam
paritas anak ke 5 dan dilahirkan oleh ibu menentukan baik buruknya, derajat
tamat SMA dengan pekerjaan ibu adalah kesehatan bayi, dengan berbekal
ibu rumah tangga, usia kehamilan ibu pendidikan yang cukup seorang ibu akan
dalam batas normal, ke empat ibu lebih banyak memperoleh informasi yang
underweight pada kenaikan berat badan dibutuhkan, dengan demikian mereka dapat
selama kehamilan kurang dari rekomendasi memilih serta menentukan alternatif terbaik
yang di anjurkan oleh the institusi of dalam melakukan perawatan dan
medicine (IOM) dimana ibu hanya pemeriksaan kehamilan sehingga dapat
mengalami pertambahan berat badan melahirkan bayi yang sehat dan berat badan
selama hamil 10-11 kg. normal. Wanita yang berpendidikan rendah
Ibu hamil yang telah memiliki anak cendrung kurang peduli terhadap kesehatan
lebih dari empat orang perlu diwaspadai, sendiri. Pendidikan berpengaruh pada
karena semakin banyak anak, rahim ibu kematangan orang dalam memahami dan
pun semakin lemah7. Kehamilan yang memecahkan masalah kesehatannya12,28.
berulang-ulang akan mempengaruhi Untukmeningkatkan kesehatan pada
sirkulasi nutrisi kejanin, dimana jumlah ibu dan bayi, ibu hamil tidak hanyaharus

174
International Conference for Midwives (ICMid)

berada dalamkisaran IMT yang normal, pertumbuhan dalam kandungan serta


pada saat hamilkenaikan berat badan harus asupan zat gizi yang tidak mencukupi
mengikutirentang yang telah untuk mendukung pertumbuhan dan
direkomendasikan oleh Institute Of perkembangan bayi dalam kandungan.
Medicine34. Berat badan ibu hamil harus Panjang lahir bayi akan berdampak
memadai, bertambah sesuai dengan umur pada pertumbuhan selanjutnya, seperti
kehamilan. Berat badan yang bertambah terlihat pada hasil penelitian yang
dengan normal akan menghasilkan berat dilakukan di Kecamatan Pati Kabupaten
anak yang normal. Total kenaikan berat Pati didapatkan hasil bahwa panjang badan
badan ibu yang memadai berdasarkan lahir rendah adalah merupakan salah satu
rekomendasi institute of medicine (IOM) faktor risiko balita stunting usia 12-36
akan menghasilkan hasil dan berat lahir bulan dengan nilai p = 0,000 dan nilai OR
yang lebih baik pada bayi21. Ibu dengan = 2,81, hal ini menunjukkan bahwa bayi
IMT yang rendah dan tidak diikuti dengan yang lahir dengan panjang lahir rendah
kenaikan berat badan yang normal akan memiliki risiko 2,8 kali mengalami
melahirkan bayi berat lahir rendah yang stunting dibanding bayi dengan panjang
dapat mengakibatkan kematian pada masa lahir normal3. Dampak dari stunting ini
neonatal19. adalah tidak hanya pada fisik yang lebih
Terdapat beberapa faktor yang pendek saja, tetapi juga pada fungsi
mempengaruhi antropometri bayi baru lahir kognitifnya14.
yaitu faktor risiko meliputi usia, paritas Lingkar kepala bayi baru lahir
(primipara), pendidikan rendah, status gizi dipengaruhi oleh kondisi ibu sebelum
ibu sebelum dan selama kehamilan dan kehamilan. Status gizi ibu yang buruk tidak
indeks massa tubuh (IMT) ibu sebelum dapat diandalkan untuk mendukung
hamil10. Hasil penelitian 29, didapatkan hasil pertumbuhan dan perkembangan otak. Oleh
bahwa diantara karakteristik ibu seperti karena itu, status gizi ibu yang buruk
usia, jumlah kenaikan berat badan selama menyebabkan lingkar kepala bayi baru
kehamilan, berat pra-kehamilan (IMT) lahir tidak berada dalam kondisi yang
merupakan faktor prediksi untuk berat optimal. Selain itu, status gizi ibu yang
badan lahir. buruk, seperti kurus (underweight)19.
Indek Massa Tubuh (IMT), Untuk mencegah terjadinya BBLR
kenaikan berat ibu selama kehamilan perlu dilakukan upaya pemeriksaan
mempengaruhi pertumbuhan janin dan kehamilan secara teratur dan mengikuti
ukuran bayi baru lahir20. Ibu sebelum anjuran pertambahan berat badan yang
kehamilan dengan IMT underweight telah sesuai rekomendasi Institute Of Medicine
terbukti meningkatkan risiko kelahiran (IOM) menurut indeks massa tubuh Ibu,
prematur dan berat lahir rendah23. Asupan selain itu perlu juga dilakukan perbaikan
gizi dan berat badan selama kehamilan asupan gizi yang baik selama hamil.
adalah dua faktor utama yang dapat
mempengaruhi kesehatan ibu dan bayi baru SIMPULAN
lahir31. Terdapat perbedaan rerata antara berat
Selain ukuran berat badan bayi yang badan, panjang badan dan lingkar kepala
rendah biasanya diikuti dengan ukuran BBL menurut status gizi ibu hamil
panjang badan dan lingkar kepala dibawah berdasarkan indeks massa tubuh
normal, ukuran panjang badan dibawah underweight, normalweight dan
normal dapat meningkatkan kejadian Overweigh.
stunting pada bayi. Penyebab utama
stunting diantaranya adalah hambatan

175
International Conference for Midwives (ICMid)

DAFTAR PUSTAKA To Birthweight And Risks Of Adverse


1. Alayne G. Ronnenberg, Xiaobin Pregnancy Outcomes 10 : 789-796
Wang, Houxun Xing, Chanzhong 11. Fok, H K So, E Wong, P C Ng, A
Chen, Dafang Chen,Wenwei Guang, Chang, J Lau, C B Chow, W H Lee,
Aiqun Guang, Lihua Wang, Louise and the Hong. 2003. Updated
Ryan and Xiping Xu, 2003. Low gestational age specific birth weight,
Preconception Body Mass Index Is crown-heel length, and head
Associated with Birth Outcome in a circumference of Chinese newborns.
Prospective Cohort of Chinese Volume 88:F229-F236
Women.American Society for 12. Fraser DM dan Cooper,MA. 2009.
Nutritional Sciences. 0022-3166. Buku ajar Bidan Myles (edisi 14).
2. Annie E, et al.2009. Kids Count Jakarta.EGC
Indicator Brief Preventing Low 13. Harry & William, 2010. Ilmu
Birthweight. 701 St. Paul Street kebidanan: Patologi & fisiologi
Baltimore, MD 21202 persalinan. Yogyakarta. Andi
3. Anugraheni HS & Kartasurya MI. 14. Hadi, H.2010. Sepertiga Anak Usia
2012. FaktorRisiko Kejadian Stunting Sekolah diIndonesia Alami Stunted.
Pada AnakUsia 12-36 Bulan Di (sitasi 2Januari 2014). Available from :
Kecamatan Pati,Kabupaten Pati. URL
Program Studi Ilmu GiziFakultass :http://www.ugm.ac.id/index.php?page
Kedokteran UniversitasDiponegoro. =rilis&artikel=3070
Journal of NutritionCollege, Volume 15. Hossain B, Tanvir Sarwar, Salim Reja
1, Nomor 1, Tahun2012, Hal : 590- and Mst Nasima, 2013. Nutritional
605. Status of Pregnant Women in Selected
4. Donna L.wong, et al. 2009. Wong’s Rural and Urban Area of Bangladesh. J
essential of Pediatric Nursing,ed6. Nutr FoodSci 3: 219.
Jakarta.EGC doi:10.4172/2155-9600.1000219
5. Depkes RI. 2013. Profil Kesehatan 16. Janantha,D.G.N.G. Wijesinghe and
Indonesia. Jakarta : Depkes RI T.Sivananthawerl, 2009. Maternal
6. Dinas Kesehatan Kota Padang, 2013. Anthropometry as a Predictor of Birth
Profil Kesehatan Kota padang. 391 hal Weight, 21 (1): 89-98
7. Depkes RI. 2005. Profil Kesehatan 17. Kementrian Kesehatan Indonesia
Indonesia. Jakarta : Depkes RI 2010. Profil Kesehatan Indonesia
8. Erika Ota, et al. 2010. Maternal Body 2009. Jakarta: Kementrian Kesehatan
Mass Index And Gestational Weight RI.
Gain And Their Association With 18. Krisnadi dkk. 2009. Prematuritas.
Perinatal Outcomes In Viet Nam: Fakultas Kedokteran Unpad, Bandung.
Published online Nov 10, 2010. 2011; 19. Kalk, Guthmann, Krause1, Relle,
89(2): 127–136. [PubMed] Godes, Gossing, Halle, Wauer,
9. Fatemeh, et al. 2012. Maternal Hocher, 2009. Impact Of Maternal
Anthropometric Measurements And Body Mass Index On Neonatal
Other Factors: Relation With Birth Outcome. 14: 216-
Weight Of Neonates. in Khoy City in 222
north west of Iran Published online 20. Kruithof Bakker, Steegers, Witteman,
Apr 30, 2012. 6(2): 132–137. Moll, Hofman, Mackenbach, Hokken-
[PubMed] Koelega, Jaddoea, (2009) Maternal
10. Fatemeh, et al. 2012. Maternal Weight Anthropometrics Are Associated With
Change Before Pregnancy In Relation Fetal Size In Different Periods Of

176
International Conference for Midwives (ICMid)

Pregnancy And at birth. The Pustaka Sarwono Prawirohardjo,


generation r study. Doi: Jakarta
10.1111/j.1471-0528. 29. Padilha PC, Accioly E, Libera BD,
21. Lumbanraja, Lutana, Usman. 2013. Cha-gas C, Saunders C, 2009.
Maternal weight Gain And Correlation Anthropometric Assessment Of
With Birth Weight Infants. 13th Nutritional Status In Brazilian
International Educational Technology Pregnant Women. Rev Panam Salud
Conference. Procedia - Social and Publica.;25(2):171–8
Behavioral Sciences 103:647 – 656 30. Subarnalata and Basumati, 2006. A
22. Mominul, Kamruzzaman, Toufiq, Study of Nutritional Status of Pregnant
Shrafuzzaman and Bably, 2012. Women of Some Villages in Balasore
Association of Maternal Body Mass District, Orissa. J. Hum. Ecol., 20(3):
Index (BMI) And Mid Upper Arm 227-232
Circumference (MUAC) and Birth 31. Upadhyay, et al. 2011. Association
Weight Of Newborn In The South- between Maternal Body Mass Index
West Region Of Bangladesh.Vol.3 e- And The Birth Weight Of Neonates.
ISSN 2320 –7876 Nepal Med Coll J 2011; 13(1): 42-45
23. Neggers, Y. and Goldenberg, R.L. 32. Wright , S., Mathieson, K., Brearley,
2003. Some thoughts on body mass L., Jacobs, S., Holly, L.,
index, micronutrient intakes and Wickremasinghe, R., with work by
pregnancy outcome. J. Nutr. 133: Renton, A. 2014. Ending Newborn
1737s-1740s. Deaths Ensuring Every Baby Survives.
24. Nahar,S.Mascie-Tylor,C.G.N and Save the Children 1 St John’s Lane
House A.B, 2007. Maternal London EC1M 4AR UK +44 (0)20
Anthropometryas A Predictor Of Birth 7012 6400 savethechildren.org.uk.
Weight,Pub.Health Nutr.10(7):965- 33. Yokoyama Y, Sugimoto M, Ooki S,
970 2005. Analysis Of Factors Affecting
25. Neufeld, L.M., Haas, J.D., Grajeda, R., Birthweight, Birth Length And Head
& Martorell, R. 2004. Changes in Circumference : Study Of Japannese
Maternal Weight from the First to Triplets.8(6): 657-663
Second Trimester of Pregnancy are 34. Yaktine, et al. 2009. Weight Gain
Associated with Fetal Growth and During Pregnancy: Reexamining the
Infant Length at Birth. Am J Clin Nutr, Guidelines. ISBN 978-0-309-13113-1
79: 646-52. 35. Yustiana, 2013. Perbedaan panjang
26. Newman BM,Newman PR. badan bayi baru lahir antara ibu KEK
Development throught life: A dan tidak KEK.prodi imu gizi.fakultas
psychosocial approach. Tenth edition. kedokteran. Undip Semarang.
USA: wadsworth. Cengage learning, 36. William J. Kierans,. Kendall, Leslie T.
2009. Foster, Robert M. Liston, MB, ChB,
27. Prema Ramachandran, M.D, 2002. Terry Tu. 2007. New birth body length
Maternal Nutrition—Effect on Fetal and head circumference charts for the
Growth and Outcome of British Columbia population. Bc
Pregnancy:(II)S26–S34 medical journal vol. 49 no. 2
28. Prawirohardjo,S. 2011. Ilmu
Kebidanan. Edisi Keempat. PT. Bina

177
International Conference for Midwives (ICMid)

THE FACTORS CORRELATION WITH LOW BIRTH WEIGHT IN BARI


HOSPITAL PALEMBANG IN 2013

Ayu Devita Citra Dewi


Program Studi Kebidanan STIK Bina Husada Palembang

ABSTRACT

In Indonesia MDGs number 4 is a decrease in the infant mortality rate (IMR) is most likely fail
to realize. Demographic Health Survey in 2012 showed IMR was 32 per 1,000 live births, while
the target of Indonesia is 23 per 1,000 live births. Neonatal mortality rate is one important
indicator in determining the level of public health. Low birth weight is one of the factors that
affect neonatal mortality. The incidence of babies born with low birth weight in Bari hospital
Palembang in 2013 was 313, this study aimed at finding out the correlation among between age,
parity, education, employment, and the incidence of preeclampsia with low birth weight babies
in Bari hospital Palembang 2013. Case-control studies have been conducted in General Hospital
Bari Palembang by using secondary data from medical records of labor patients with low birth
weight obtained 512 samples divided into 2 groups: 256 samples and 256 control samples of
cases that met the inclusion criteria. The analysis of the samples used a statistical computer
program, through univariate analysis, bivariate analysis using the chi-square, and multivariate
analysis with logistic regression. The results showed that of the 256 respondents (50%) in case
group and 256 respondents (50%) in the control group, the significant association between age
(p value = 0.001, OR= 1,883) parity (p value = 0.004 OR= 1,714 ), education (p value = 0.009
OR=1,600), occupation (p value = 0.141), and preeclampsia (p value = 0.000 OR=2,462) with
the incidence of low birth weight babies. The results of logistic regression analyzes showed that
preeclampsia is a risk factor most associated with the incidence of low birth weight babies (Exp
(B) = 2,381). Based on the result of the research, it is expected that General hospital Bari
Palembang can improve the skills of the medical workers in giving counseling and information
as well as health promotion to the mothers who visit mother and child clinic about the factors
associated with the incidence of low birth weight babies.

Keywords : LBWB, Mother’s age, Parity, Education, Occupation, and Preeclampsia

PENDAHULUAN
World Health Organization (WHO) tahun 2010 yaitu sebanyak 69/1000
menyatakan bahwa semua bayi baru lahir kelahiran hidup, pada tahun 2011 sebanyak
yang berat badannya kurang atau sama 23/1000 kelahiran hidup, sedangkan pada
dengan 2500 gram disebut low birth weight tahun 2012 sebanyak 32/1000 kelahiran
infant (bayi berat lahir rendah) [1]. hidup, AKB bervariasi antara provinsi dari
Di Indonesia MDGs nomor 4 yaitu yang tertinggi 74/1000 kelahiran hidup
penurunan angka kematian bayi (AKB) yaitu di Provinsi Sulawesi Barat sampai
kemungkinan besar gagal tercapai. Hasil yang terendah 21/1000 kelahiran hidup
Survey Demografi dan Kesehatan 2012 yaitu di Kalimantan Timur. Angka
menunjukkan AKB mencapai 32 per 1.000 kematian pada bayi usia di bawah 28 hari
kelahiran hidup, sementara target Indonesia masih cukup tinggi, jumlahpnya mencapai
sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup. 50 persen dari angka kasus kematian bayi
Angka Kematian Bayi di Indonesia pada secara keseluruhan dan umumnya

178
International Conference for Midwives (ICMid)

disebabkan karena kesulitan bernapas saat menggunakannya sekelompok subjek


lahir (asfiksia), infeksi, dan komplikasi kontrol, sehingga hasil korelasi yang
lahir dini serta berat badan lahir rendah.[2] diperoleh bersifat lebih tajam [22].
Prevalensi bayi berat lahir rendah Peneliti disini mengambil sampel
(BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh dengan perbandingan 1:1. Adapun rumus
kelahiran didunia dan lebih sering terjadi mencari sampel minimal kasus dan kontrol
dinegara-negara berkembang atau sosial . Maka didapatkan interval 10 sebagai
ekonomi rendah. Secara statistik pedoman tabel bilangan yang digunakan
menunjukan 90% kejadian BBLR untuk menentukan sampel control dengan
didapatkan dinegara berkembang dan kelipatan 10,20,30,40,…dan seterusnya
angka kematiannya 35 kali lebih tinggi sehingga di dapat 256 sampel dari populasi
dibandingkan pada bayi dengan berat lahir kontrol (BBLN) sebanyak 256 responden
lebih dari 2500 gr. (BBLR).
Menurut Dinas Kesehatan Provinsi
Sumatera Selatan, AKB di Provinsi HASIL DAN PEMBAHASAN
sumatera selatan pada 2009 yaitu sebanyak Hasil Analisa Univariat
36/1000 kelahiran hidup, pada tahun 2010 Tabel 3.1
yaitu sebnayak 31/1000 kelahiran hidup, Distribusi Frekuensi Responden Menurut Varia
sedangkan pada tahun 2011 yaitu sebanyak Independen di RS UD Palembang Bari
26/1000 kelahiran hidup dan pada tahun Tahun 2013
2012 berjumlah 29/1000 kelahiran hidup. Variabel kasus % Kontrol %
[7] Usia ibu
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota 1 Risiko 111 43.4 74 28.9
2 Tidak Risiko 145 56.6 182 71.1
Palembang, AKB di Kota Palembang
Jumlah 256 100 256 100
masih tinggi yaitu pada tahun 2010
Paritas
sebanyak 3/1000 kelahiran hidup atau
1 Risiko 120 46.9 87 34
81/31.383 kelahiran hidup dan kematian
2 Tidak Risiko 136 53.1 169 66
akibat BBLR sebanyak 21 orang (26%), Jumlah 256 100 256 100
pada tahun 2011 yaitu 2,4/1000 kelahiran Pendidikan
hidup atau 73/30.305 kelahiran hidup dan 1 Tinggi 91 35.5 120 46.9
kematian akibat BBLR sebanyak 16 orang 2 Rendah 165 64.5 136 53.1
(22%), sedangkan pada tahun 2012 yaitu Jumlah 256 100 256 100
3,29/1000 kelahiran hidup dan kematian Pekerjaan
akibat BBLR sebanyak 17 orang (29%). [8] 1 Bekerja 171 66.8 101 39.5
Dari studi pendahuluan yang dilakukan 2 Tidak bekerja 85 33.2 155 60.5
peneliti, bahwa angka kejadian BBLR di Jumlah 256 100 256 100
RSUD Palembang Bari pada 3 tahun preeklampsia
terakhir terjadi peningkatan, pada tahun 1 Preeklampsia 118 46,1 66 25.8
2011 kejadian BBLR sebanyak 209 dari 2 Tidak Preeklampsia 138 53,9 190 74.2
1676 persalinan (12,5%), pada tahun 2012
kejadian BBLR sebanyak 190 dari 2200 Distribusi Frekuensi Usia dengan
persalinan (13,1%), dan pada tahun 2013 Kejadian bayi Berat Lahir Rendah
angka kejadian BBLR yaitu sebanyak 313 Berdasarkan tabel 4.2 diatas dari 256
dari 2651 (11,8%) [9]. responden kejadian BBLR usia ibu risiko
sebanyak 111 (43,4%) responden dan usia
METODE ibu tidak risiko sebanyak 145 (56,6%)
Penelitian ini merupakan penelitian survey responden. Sedangkan dari 256 responden
analitik observasional dengan desain BBLN usia ibu risiko sebanyak 74 (28,9%)
penelitian “Case control” atau sering responden dan usia ibu yang tidak risiko
disebut retrospektif merupakan penelitian sebanyak 182 (71,1%) responden.
epidemiologik non eksperimental.
Rancangan penelitian case control
179
International Conference for Midwives (ICMid)

Distribusi Frekuensi Paritas dengan Distribusi Frekuensi Pekerjaan dengan


Kejadian bayi Berat Lahir Rendah Kejadian bayi Berat Lahir Rendah
Berdasarkan tabel 4.2 diatas dari 256 Berdasarkan tabel 4.2 diatas dari 256
responden kejadian BBLR paritas ibu yang responden kejadian BBLR ibu yang tidak
berisiko sebanyak 120 (46,9%) responden bekerja sebanyak 85 (33,2%) responden
dan paritas ibu yang tidak berisiko dan ibu yang bekerja sebanyak 171
sebanyak 136 (53,1%) responden. (66,8%) responden. Sedangkan dari 256
Sedangkan dari 256 responden BBLN responden BBLN ibu yang tidak bekerja
paritas ibu yang berisiko sebanyak 87 sebanyak 101 (33,2%) responden.
(34%) responden dan paritas ibu yang tidak Sedangkan ibu yang bekerja sebanyak 155
berisiko sebanyak 169 (66%) responden. (60,5%) responden.
Distribusi Frekuensi Pendidikan dengan Distribusi Frekuensi Preeklampsia
Kejadian bayi Berat Lahir Rendah dengan Kejadian bayi Berat Lahir
Berdasarkan tabel 4.2 diatas dari 256 Rendah
responden kejadian BBLR ibu Berdasarkan tabel 4.2 diatas dari 256
berpendidikan rendah sebanyak 165 responden kejadian BBLR ibu yang
(64,5%) responden dan ibu berpendidkan mengalami preeklampsia sebanyak 118
tinggi sebanyak 91 (35,5%) responden. (46,1%) responden dan ibu yang tidak
Sedangkan dari 256 responden BBLN ibu preeklampsia sebanyak 138 (53,9%)
berpendidikan rendah sebanyak 136 responden. Sedangkan dari 256 responden
(53,1%) responden. Sedangkan ibu BBLN ibu yang mengalami preeklampsia
berpendidikan tinggi sebanyak 120 (46,9%) sebanyak 66 (25,8%) responden dan ibu
responden. yang tidak preeklampsia sebanyak 190
(74,2%) responden.

Tabel 3.2
Analisa Hubungan Variabel Independen dengan Variabel Dependen
di RS UD Palembang Bari Tahun2013

Faktor Risiko Kasus (%) Kontrol (%) P Value OR Confidence


Interval (95%)
Usia ibu
1 Risiko 111 (43.4) 74 (28.9)
0.001 1,883 1.305-2.715
2 Tidak Risiko 145 (56.6) 182 (71.1)
Paritas
1 Risiko 120 (46.9) 87 (34)
0.003 1,714 1.200-2.448
2 Tidak Risiko 136 (53.1) 169 (66)
Pendidikan
1 Rendah 165 (64.5) 136 (53.1)
0.009 1,600
2 Tinggi 91 (35.5) 120 (46.9) 1.122-2.281
Pekerjaan
1 Tidak Bekerja 85 (33.2) 101 (39.5)
0.141 0.763 0.532-1.095
2 Bekerja 171 (66.8) 155 (60.5)
Preeklampsia
1 Preeklamp sia 118 (46.1) 66 (25.8)
0.000 2,462 1.696-3.573
2 Tidak Preeklamp sia 138 (53.9) 190 (74.2)
Hasil Analisa Bivariat

Hubungan Antara Usia Ibu dengan bayi berat lahir rendah. Dengan demikian
Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah hipotesis yang menyatakan ada hubungan
Hasil uji statistik Chi-squarediperoleh bermakna antara usia ibu dengan kejadian
nilai p value = 0,001 lebih kecil 0,05 hal ini bayi berat lahir rendah terbukti secara
menunjukkan bahwa ada hubungan statistik nilai OR 1,883 berarti usia ibu
bermakna antara usia ibu dengan kejadian berisiko mempunyai peluang 1,883 kali

180
International Conference for Midwives (ICMid)

terhadap kejadian bayi berat lahir rendah dengan kejadian bayi berat lahir rendah.
dibanding dengan ibu yang tidak berisiko. Dengan demikian hipotesis yang
menyatakan ada hubungan bermakna antara
3.1.2.2 Hubungan Antara Paritas Ibu preeklampsia dengan kejadian bayi berat
dengan Kejadian Bayi Berat Lahir lahir rendah terbukti secara statistik nilai
Rendah OR 2,462 berarti preeklampsia mempunyai
Dari Hasil uji statistik Chi- peluang 2,462 kali terhadap kejadian bayi
squarediperoleh nilai p value = 0,003 lebih berat lahir rendah dibanding tidak
kecil 0,05 hal ini menunjukkan bahwa ada preeklampsia.
hubungan bermakna antara paritas dengan
kejadian bayi berat lahir rendah. Dengan Analisa Multivariat
demikian hipotesis yang menyatakan ada Tabel 3.3
hubungan bermakna antara paritas dengan Hasil Analisa Regresi Logistik Model Akhir
kejadian bayi berat lahir rendah terbukti No. Variabel P Value OR
95% C.I. For Exp (B)
secara statistik nilai OR 1,714 berarti Lower Upper
paritas berisiko mempunyai peluang 1,714 1 Usia 0.001 1.917 1.371 2.789
kali terhadap kejadian bayi berat lahir 3 Preeklampsia 0.000 2.494 1.710 3.367
Constant 0.000 0.047
rendah dibanding paritas tidak risiko.
Hubungan Antara Pendidikan Ibu Setelah variabel pekerjaan
dengan Kejadian Bayi Berat Lahir dikeluarkan dari permodelan uji regresi
Rendah logistik berdasarkan analisis multivariat,
Hasil uji statistik Chi-squarediperoleh nilai diketahui bahwa variabel yang berhubungan
p value = 0,009 lebih kecil 0,05 hal ini bermakna dengan kejadian bayi berat lahir
menunjukkan bahwa ada hubungan rendah adalah variabel usia, dan
bermakna antara pendidikan dengan preeklampsia.
kejadian bayi berat lahir rendah. Dengan Berdasarkan tabel 4.6 maka model
demikian hipotesis yang menyatakan ada akhir didapat variabel mana yang paling
hubungan bermakna antara besar pengaruhnya terhadap variabel
pendidikan dengan kejadian bayi dependen, dilihat dari exp (B) untuk
berat lahir rendah terbukti secara statistik variabel yang signifikan, semakin besar
nilai OR 1,600 berarti pendidikan rendah nilai exp (B) berarti semakin besar
mempunyai peluang 1,600 kali terhadap pengaruhnya terhadap variabel dependen
kejadian bayi berat lahir rendah dibanding yang dianalisis. Jadi, dapat disimpulkan
pendidikan tinggi. bahwa dari 2 variabel diatas yang
Hubungan Antara Pekerjaan Ibu dengan merupakan variabel yang paling dominan
Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah berhubungan dengan kejadian bayi berat
Hasil uji statistik Chi- lahir rendah adalah variabel preeklampsia.
squarediperoleh nilai p value = 0,141 lebih
besar 0,05 hal ini menunjukkan bahwa tidak PEMBAHASAN
ada hubungan bermakna antara pekerjaan Usia
dengan kejadian bayi berat lahir rendah. Dari hasil analisis univariat didapatkan
Dengan demikian hipotesis yang distribusi frekuensi usia ibu risiko (<20 dan
menyatakan ada hubungan bermakna antara > 35 thn) pada kelompok kasus sebanyak
pekerjaan dengan kejadian bayi berat lahir 111 (43,4%) responden dan usia ibu risiko
rendah tidak terbukti secara statistik. pada kelompok control sebanyak 74
Hubungan Antara Preeklampsia Ibu (28,9%), hasil penelitian ini didapatkan usia
dengan Kejadian Bayi Berat Lahir berisiko lebih banyak terdapat pada
Rendah kelompok kasus.
Hasil uji statistik Chi- Menurut hasil analisis bivariat diperoleh
squarediperoleh nilai p value = 0,000 lebih bahwa kejadian bayi berat lahir rendah lebih
kecil 0,05 hal ini menunjukkan bahwa ada banyak terjadi pada kelompok usia berisiko
hubungan bermakna antara preeklampsia dan berdasarkan pengujian statistik
181
International Conference for Midwives (ICMid)

menunjukan ada hubungan yang bermakna bahwa ada hubungan antara usia ibu dengan
antara usia ibu dengan kejadian bayi berat kejadian bayi berat lahir rendah.
lahir rendah dengan nilai P value = 0,001 < Paritas
α =0,05 dengan CI (Confidence Interval) Dari hasil analisis univariat didapatkan
95%. Berdasarkan nilai OR=1,883 berarti distribusi frekuensi paritas ibu risiko
usia ibu berisiko mempunyai peluang 1,883 (paritas ≥3 anak) pada kelompok kasus
kali terhadap kejadian bayi berat lahir sebanyak 120 (46,9%) responden dan
rendah dibanding usia tidak risiko. paritas risiko pada kelompok control
Hal ini sejalan dengan hasil penelitain sebanyak 87 (34%), hasil penelitian ini
Ningsih Jaya. Analisis Faktor Risiko didapatkan paritas berisiko lebih banyak
Kejadian BBLR di Rumah Sakit Ibu dan terdapat pada kelompok kasus.
Anak Siti Fatimah Kota Makasar Menurut hasil analisis bivariat diperoleh
didapatkan nilai P < 0,05 dan OR = 6,924 bahwa kejadian bayi berat lahir rendah lebih
pada CI 95 %. karena itu nilai lower limit banyak terjadi pada kelompok paritas
dan upper limit tidak mencukupi nilai 1 berisiko dan berdasarkan pengujian statistik
maka dikatakan bermakna. Ho ditolak menunjukan ada hubungan yang bermakna
sehingga responden yang mempunyai umur antara paritas dengan kejadian bayi berat
< 20 tahun atau > 35 tahun mempunyai lahir rendah dengan nilai P value = 0,003 <
resiko 6,92 kali lebih besar untuk α =0,05 dengan CI (Confidence Interval)
melahirkan BBLR dibandingkan responden 95%. Berdasarkan nilai OR=1.714 berarti
yang mempunyai usia 20 sampai dengan 35 paritas berisiko mempunyai peluang 1.714
tahun. [6]Hasil penelitian ini sejalan juga kali terhadap kejadian bayi berat lahir
dengan hasil penelitian Dwi Septarani. rendah dibanding paritas tidak risiko.
Hubungan umur, paritas, riwayat Hal ini sejalan dengan hasil penelitain
kehamilan, praktik tentang antenatal care Oster Suriani Simarmata. Hubungan
(ANC), status gizi dan beban kerja dengan Kualitas Pelayanan Antenatal Terhadap
kejadian BBLR di Instalasi wilayah kerja kejadian Bayi Berat lahir Rendah Di
puskesmas Cepiring abupaten kendal tahun Indonesia (analisa data sekunder survei
2002 untuk mengetahui hubungan antara demografi dan kesehatan indonesia tahun
usia dengan kejadian BBLR didapatkan p 2007) didapatkan nilai P value= 0,032 <
value = 0,000 lebih kecil dari 0,05, ada 0,05 dan OR = 1,24 pada CI 95 % [14].
hubungan yang bermakna antara usia Hasil penelitian ini sejalan juga dengan
dengan kejadian berat bayi lahir rendah [35] . hasil penelitian Ningsih Jaya. Analisis
Hal ini sejalan dengan teori yang Faktor Risiko Kejadian BBLR di Rumah
disampaikan Winkjosastro. Umur ibu Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Kota
mempunyai hubungan erat dengan berat Makasar, untuk mengetahui hubungan
bayi lahir pada umur ibu yang masih muda, antara paritas dengan kejadian BBLR
perkembangan organ-organ reproduksi dan didapatkan p value 0,0013 < 0,05, ada
fungsi fisiologisnya belum optimal. Selain hubungan bermakna antara paritas dengan
itu emosi dan kejiwaannya belum cukup kejadian berat bayi lahir rendah di Rumah
matang, sehingga pada saat kehamilan ibu Sakit Ibu Dan Anak Siti Fatimah Kota
tersebut belum dapat mengadapi Makasar Tahun 2008 [6] .
kehamilannya secara sempurna, dan sering Hal ini sejalan dengan teori yang
terjadi komplikasi-komplikasi. Telah disampaikan Winkjosastro. Umumnya
dibuktikan pula bahwa angka kejadian kejadian BBLR dan kematian perinatal
persalinan kurang bulan akan tinggi pada meningkat seiring dengan meningkatnya
usia dibawah 20 tahun dan kejadian paling paritas ibu, terutama bila paritas lebih dari
rendah pada usia 26 – 35 tahun, semakin 3. Paritas yang terlalu tinggi akan
muda umur ibu maka anak yang dilahirkan mengakibatkan terganggunya uterus
akan semakin ringan[31] . terutama dalam hal fungsi pembuluh darah.
Berdasarkan hasil penelitian dengan Kehamilan yang berulang – ulang akan
teori yang ada maka peneliti berpendapat menyebabkan kerusakan pada dinding
182
International Conference for Midwives (ICMid)

pembuluh darah uterus. Hal ini akan Hal ini sejalan dengan teori
mempengaruhi nutrisi ke janin pada Notoadmodjo. Tingkat pendidikan ibu
kehamilan selanjutnya, selain itu dapat mengambarkan pengetahuan kesehatan.
menyebabkan atonia uteri. Hal ini dapat Seseorang yang memiliki pendidikan tinggi
menyebabkan gangguan pertumbuhan yang mempunyai kemungkinan pengetahuan
selanjutnya akan melahirkan bayi dengan tentang kesehatan juga tinggi, karena makin
dengan BBLR [25] . mudah memperoleh informasi yang
Berdasarkan hasil penelitian dengan didapatkan tentang kesehatan lebih banyak
teori yang ada maka peneliti berpendapat dibandingkan dengan yang berpendidikan
bahwa ada hubungan antara pendidikan rendah. Sebaliknya pendidikan yang kurang
dengan kejadian bayi berat lahir rendah. menghambat perkembangan seseorang
Pendidikan terhadap nilai-nilai yang baru di kenal [29] .
Dari hasil analisis univariat didapatkan Berdasarkan hasil penelitian dengan
distribusi frekuensi pendidikan rendah teori yang ada maka peneliti berpendapat
(≤SMP) sebanyak 165 (64,5%) responden bahwa ada hubungan antara pendidikan
dan pendidikan rendah pada kelompok dengan kejadian bayi berat lahir rendah.
control sebanyak 136 (53,1%), hasil Pekerjaan
penelitian ini didapatkan pendidikan rendah Dari hasil analisis univariat didapatkan
lebih banyak terdapat pada kelompok kasus. distribusi frekuensi ibu pekerja pada
Menurut hasil analisis bivariat diperoleh kelompok kasus sebanyak 171 (66,8%)
bahwa kejadian bayi berat lahir rendah lebih responden dan ibu pekerja pada kelompok
banyak terjadi pada kelompok pendidikan control sebanyak 155 (60,5%), hasil
rendah dan berdasarkan pengujian statistik penelitian ini didapatkan ibu pekerja lebih
menunjukan ada hubungan yang bermakna banyak terdapat pada kelompok kasus.
antara pendidikan rendah dengan kejadian Menurut hasil analisis bivariat diperoleh
bayi berat lahir rendah dengan nilai P value bahwa kejadian bayi berat lahir rendah lebih
= 0,009 < α =0,05 dengan CI (Confidence banyak terjadi pada kelompok ibu tidak
Interval) 95%. Berdasarkan nilai OR 1,600 bekerja dan berdasarkan pengujian statistik
berarti pendidikan rendah mempunyai menunjukan tidak ada hubungan yang
peluang 1,600 kali terhadap kejadian bayi bermakna antara ibu pekerja dengan
berat lahir rendah dibanding pendidikan kejadian bayi berat lahir rendah dengan
tinggi. nilai P value = 0,141 > α =0,05 dengan CI
Hal ini sejalan dengan hasil penelitain (Confidence Interval) 95%. Berdasarkan
Oster Suriani Simarmata. Hubungan nilai OR=0,763 berarti ibu pekerja hanya
Kualitas pelayanan Antenatal Terhadap mempunyai peluang 0,763 kali terhadap
kejadian Bayi Berat lahir Rendah Di kejadian bayi berat lahir rendah dibanding
Indonesia (analisa data sekunder survei tidak pekerja.
demografi dan kesehatan indonesia tahun Hal ini sejalan dengan hasil penelitain
2007) didapatkan nilai P value= 0,000 < Kun Ika. Hubungan antara preeklampsia
0,05 dan OR = 2,04 CI 95 % [14]. Hasil dengan kejadian bayi berat lahir rendah,
penelitian ini sejalan juga dengan hasil diketahui bahwa pekerjaan responden
penelitian Lia Amalia. Faktor Risiko sebagian besar adalah ibu rumah tangga
Kejadian Bayi Berat lahir Rendah (BBLR) yaitu sebanyak 96 responden (70%) [37] .
Di RSU Dr. MM Dunda Limboto Hasil penelitian ini sejalan juga dengan
Kabupaten Gorontalo Tahun 2011. Untuk hasil penelitian Budiaman, Dkk. Faktor
mengetahui hubungan antara pendidikan yang berhubungan dengan Berat Badan
dengan kejadian BBLR OR = 1,709 dengan Lahir Rendah di puskesmas garuda tahun
batas kemaknaan α = 5%, menunjukan ada 2010, Hasil analisis univariat dalam
hubungan bermakna antara pendidikan penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi
dengan kejadian berat bayi lahir rendah di ibu yang tidak memiliki pekerjaan sebanyak
Di RSU Dr. MM Dunda Limboto 22,1%. Hasil analisis bivariat variabel
Kabupaten Gorontalo. pekerjaan ibu menunjukkan hubungan tidak
183
International Conference for Midwives (ICMid)

bermakna karena p value = 0,900. Dari dan H1 diterima yang berarti ada hubungan
hasil analisis bivariat, maka pekerjaan ibu antara pre eklampsia dengan bayi berat lahir
bukan merupakan faktor risiko yang rendah (BBLR) di RSUD Gambiran Kota
berhubungan dengan berat badan bayi lahir Kediri Tahun 2009 dengan kuat [37] .
[38]
. Berdasarkan hasil penelitian dengan
Berdasarkan hasil penelitian yang teori yang ada maka peneliti berpendapat
diperoleh peneliti bahwa tidak ada bahwa ada hubungan antara preeklampsia
hubungan pekerjaan dengan kejadian bayi dengan kejadian bayi berat lahir rendah.
berat lahir rendah hal ini dapat terjadi
apabila ibu yang tidak bekerja melakukan SIMPULAN
ANC dengan teratur, tidak memiliki riwayat Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor-
penyakit yang diderita, mempunyai faktor yang berhubungan dengan kejadian
pengetahuan yang baik untuk menjaga bayi berat lahir rendah di RSUD Palembang
kesehatan selama kehamilan, sehingga ibu Bari Tahun 2013 dapat disimpulkan
tidak melahirkan bayi dengan berat badan di sebagaii berikut :
bawah 2500 gram. 1. Ada hubungan antara usia ibu berisiko
Berdasarkan hasil penelitian dengan dengan kejadian bayi berat lahir rendah
teori yang ada maka peneliti berpendapat di RSUD Palembang Bari Tahun 2013.
bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan 2. Ada hubungan antara paritas berisiko
dengan kejadian bayi berat lahir rendah. dengan kejadian bayi berat lahir rendah
Preeklampsia di RSUD Palembang Bari Tahun 2013.
Dari hasil analisis univariat didapatkan 3. Ada hubungan antara pendidikan rendah
distribusi frekuensi preeklampsia pada dengan kejadian bayi berat lahir rendah
kelompok kasus sebanyak 118 (46,1%) di RSUD Palembang Bari Tahun 2013.
responden dan preeklampsia pada kelompok 4. Tidak Ada hubungan antara ibu pekerja
control sebanyak 66 (25,9%), hasil dengan kejadian bayi berat lahir rendah
penelitian ini didapatkan preeklampsia lebih di RSUD Palembang Bari Tahun 2013.
banyak terdapat pada kelompok kasus. 5. Ada hubungan antara preeklampsia
Menurut hasil analisis bivariat diperoleh dengan kejadian bayi berat lahir rendah
bahwa kejadian bayi berat lahir rendah lebih di RSUD Palembang Bari Tahun 2013.
banyak terjadi pada kelompok preeklapsia 6. Faktor risiko yang paling berhubungan
dan berdasarkan pengujian statistik dengan kejadian bayi berat lahir rendah
menunjukan ada hubungan yang bermakna di RSUD Palembang Bari Tahun 2013
antara preeklampsia dengan kejadian bayi adalah preeklampsia.
berat lahir rendah dengan nilai P value =
0,000 < α =0,05 dengan CI (Confidence DAFTAR PUSTAKA
Interval) 95%. Berdasarkan nilai OR=2,462 1. Pantiawati I. Bayi Dengan BBLR (Berat
berarti preeklampsia mempunyai peluang Badan Lahir Rendah). Yogyakarta:
2,462 kali terhadap kejadian bayi berat lahir Numed; 2010
rendah dibanding tidak preeklampsia. 2. SDKI.[internet]. Survey Demografi dan
Hal ini sejalan dengan hasil penelitain Kesehatan Indonesia 2012. Diakses 6
Dewi Puspita, Dkk. Dari uji statistik Chi februari 2014: Available from
Square, didapatkan p value 0,001 dimana http://fkm.unej.ac.id/publikasi/lain
0,001 < 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 lain/category/8laporan?download=45:la
diterima, yang berarti ada hubungan antara poran-pendahuluan-sdki-2012.
pre-eklamsia dengan BBLR di RSUD dr. 3. Eurekaindonesia. 2009. Angka
Iskak Tulungagung[39]. Hasil penelitian ini Kematian
sejalan juga dengan hasil penelitian Kun Bayi.www.euerkaindonesia.org.
Ika. Hasil analisa data dengan 4. Word Health Organization (WHO).
menggunakan spearman rank diperoleh [internet]. Development of a Strategy
hasil nilai rho hitung hitung adalah 0,583 Towards Promoting Optimal Fetal
dengan P-Value = 0,000 maka H0 ditolak
184
International Conference for Midwives (ICMid)

Growth 2005. Diakses 28 Januari 2014: 10. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan.


Available from; Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
http://www.who.int/entity/nutrition/topi Prawirohardjo; 2006
cs/lbw_strategy_background.pdf 11. Maryanti D. Buku Ajar Neonatus, Bayi
5. Saifuddin AB. Buku Panduan Praktis dan Balita. Jakarta: Trans Info Media;
Pelayanan Kesehatan Maternal dan 2011
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina 12. Marmi. Asuhan Neonatus, Bayi, Balita,
Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2002 dan Anak Prasekolah. Yogyakarta:
6. Jaya N. Analisis Faktor Resiko Kejadian Pustaka Pelajar; 2012
Bayi Berat Lahir Rendah Di Rumah 13. Rotua SH. (2010). Skripsi Hubungan
Sakit Ibu Dan Anak Siti Fatimah Kota Antara Frekuensi Antenatal Care
Makassar 2009: Jurnal Media Gizi Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir
Pangan Vol. VII, Edisi 1, Januari – Juni Rendah Berdasarkan Usia Kehamilan Di
2009 RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
7. Profil Kesehatan Propinsi Sumatera Fakultas Kedokteran Universitas
Selatan tahun 2012. Sebelas Maret: Surakrta
Http://depkes.go.id.diakses 20 Januari 14. Simarmata OS. (2010). Hubungan
2014. Kualitas Pelayanan Antenatal Terhadap
8. Profil Kesehatan Kota Palembang tahun Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah di
2012. Http:// depkes.go.id.diakses 20 Indonesia (Analisa Data Sekunder dan
Januari 2014 Survei Demografi dan Kesehatan
9. Komite Rekam Medik RSUD IndonesiaTahun 2007) Tesis. Depok:
Palembang Bari, 2013. Universitas Indonesia Winkjosastro.
Ilmu Kebidanan. Jakarta : Bina Pustaka
2007.

185
International Conference for Midwives (ICMid)

THE INFLUENCE OF PEER TUTORING WITH PARTOGRAF


FULFILLMENT SKILLS AT LEVEL II STUDENTS AT AKADEMI
KEBIDANAN YOGYAKARTA

Tuniroh, Istri Bartini, Masyi Wimy Johandhika


Akademi Kebidanan Yogyakarta

ABSTRACT

Partograph is a tool used to help monitoring the progress stage of labor and to obtain information
and also clinic desision. The learning method peer tutoring is effectively used for train students in
the skills to use partograph, by using this learning methods it can be used to create personal
relationship among the students. To know the effect of peer tutoring with the skills of students
level II in the Academy of Midwifery Yogyakarta. This resesrch is uses Quasi Experiment
method with Non Equivalent Control Group approach. The sampel of this research in this using
purposive sampling the number of sample are 42 respondents. The method to collecting the data
were questionnaires and assessment checklist partograph. The method of data analysis was used
In dependent Paired T Test. The results of the reseach stated on the experimental group got
pretest average score was 70.38, while the posttest average score was 83.9. T value obtained by
-10.662 and significance value of 0.000 (p-value<0.05), while the control group got the pretest
average score was 54.34 and posttest average was 66.78, t value obtained as much as -5.992 and a
significance value of 0.000 (p-value<0.05), which means there significant influence of peer
tutoring with use partograph skills at second level II student in Akbidyo. This research indicate
that the effect of peer tutoring with to use partograf skills, then one of the efforts to improve the
skills of students in filling partograph do learning throught peer tutoring method.

Keywords : Effect, Peer Tutoring, Partograf

PENDAHULUAN
Kompetensi bidan sangat penting sekali saat Model pembelajaran yang efektif yaitu
mengisi partograf dimana kompetensi ini dengan menggunakan Peer Tutoring, yaitu
merupakan karakteristik yang mendasari pembelajaran dimana siswa dibagi dalam
seseorang berkaitan dengan efektivitas beberapa kelompok yang masing-masing
kinerja dan tindakan cerdas, penuh kelompok minimal terdapat satu orang
tanggung jawab yang dimiliki individu. siswa yang pandai yang bisa berperan
Partograf digunakan untuk membantu menjadi tutor4). Peer tutoring adalah salah
memantau kemajuan kala satu persalinan satu bentuk dari tutorial yang paling sukses
dan memperoleh informasi serta membuat dengan hubungan personal yang tercipta.
keputusan klinik1). Partograf juga sebagai Peer assisted learning adalah salah satu
syarat legalnya persalinan atau sebagai metode pembelajaran yang telah diterapkan
perlindungan hukum bila terjadi hal-hal dalam pendidikan kedokteran. Mahasiswa
yang tidak diinginkan. Partograf harus yang terbimbing (tutee) merasakan adanya
digunakan untuk semua ibu dalam fase aktif pengaruh metode ini berupa meningkatnya
kala satu persalinan normal untuk kepercayaan diri sehubungan dengan
memantau mengevaluasi dan membuat kompetensi klinisnya. Hasil penelitian
keputusan klinik partus normal maupun menunjukkan bahwa 5 dari 10 kompetensi
dengan penyulit2). Penggunaan partograf klinis yang dinilai, terdapat peningkatan
selama persalinan dipengaruhi oleh factor- kepercayaan diri secara signifikan yang
faktor seperti kurangnya pengetahuan, lebih tinggi pada kelompok intervensi
kurangnya pelatihan dan kurangnya sikap dibandingkkan dengan kelompok kontrol5).
yang mendukung pemanfaatan partograf3).

186
International Conference for Midwives (ICMid)

Berdasarkan pengamatan penulis di Mahasiswa Tingkat II Di Akademi


Akademi Kebidanan Yogyakarta Kebidanan Yogyakarta”.
merupakan salah satu Perguruan Tinggi
Swasta (PTS), saat dilakukan studi METODE PENELITIAN
pendahuluan yang dilakukan penulis Penelitian ini adalah Quasi Eksperiment
didapat hasil bahwa evaluasi mahasiswi saat dengan rancanganNon Equivalent Control
OSCA posttes PKK III tahun 2015 pada Group. Sampel dalam penelitian ini
institusi Akademi Kebidanan Yogyakarta menggunakan purposive sampling yang
menunjuk dari 199 mahasiswi yang berjumlah 42 responden. Pengambilan data
mendapat nilai kurang atau dibawah 70 dengan kuesioner dan checklist penilaian
adalah 40 mahasiswi (20%) data ini di partograf. Metode analisis data
dapatkan dari bagian KPK. Jumlah menggunakan Independen Paired T Test
mahasiswa tingkat II sebanyak 189. yang menggambarkan ketrampilan
Maka dari fenomena itu peneliti sangat pengisian partograf, data yang didapatkan
tertarik untuk melakukan penelitian dengan adalah data primer.
judul “Pengaruh Peer Tutoring Dengan
Ketrampilan Pengisian Partograf pada

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Karakteristik Responden
Berdasarkan hasil data yang didapatkan dari PDPT didapat data responden berdasarkan nilai IPK
sebagai berikut.
Tabel 1 Karakteristik responden
Karakteristik F %
IPK
≤ 3,2 dan ≥ 3,1 25 59,5%
≤ 3,1 dan ≥ 3,0 17 40,5%

Umur
19 tahun 23 54,8%
20 tahun 19 45,2%
Kelas
IV B 13 31%
IV C 13 31%
IV D 16 38%
Total 42 100%
Sumber: Data Primer (2016)

Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa jumlah responden terbanyak dengan IPK ≤ 3,2 dan ≥ 3,1
sebanyak 25 (59,5%) responden, untuk karakteristik umur yang terbanyak adalah responden
dengan umur 19 tahun sebanyak 23(54,8%) respnden dan untuk karakteristik berdasarkan kelas
jumlah responden terbanyak adalah kelas IV D sebanyak 16 (38%) responden.

187
International Conference for Midwives (ICMid)

2. Univariat
Tabel 2 Deskripsi Skor Ketrampilan Pengisian Partograf Pada Kelompok Eksperimen
(Kelompok Peer Tutoring)
Variabel Min Max Mean Std. Deviasi

Pretest 53 88 70,38 8,900

Posttest 77 95 83,93 4,740


Sumber: Data Primer 2016
Berdasarkan tabel 2 rata-rata tertinggi didapatkan padasaat posttest sebesar
83,93. Sedangkan nilai pretest hanya 70,38.

Tabel 3 Tingkat Ketrampilan Mahasiswa Sebelum Dan Sesudah Diberikan Intervensi


Menggunakan Peer Tutoring
No Ketrampilan Pretest Posttest
F % F %
1. Baik 4 9,5 21 100
2. Cukup 15 71,5 0
3. Kurang 2 19 0
Total 21 100 21 100
Berdasarkan tabel 3 sebanyak 15 (71,5%) mahasiswa mendapat nilai. Sedangkan pada saat
posttest responden yang mendapatkan nilai baik sebanyak 21 (100%).

Tabel 4 Deskripsi Skor Ketrampilan Pengisian Partograf Pada Kelompok Kontrol


(Kelompok Tidak Didampingi Tutor)
Variabel Min Max Mean Std. Deviasi
Pretest 39 74 54,34 8,629
Posttest 57 78 66,78 4,919
Sumber: Data Primer 2016
Berdasarkan tabel 4 rata-rata tertinggi didapatkan padasaat posttest sebesar 66,78.
Sedangkan nilai pretest hanya 54,34.

Tabel 5 Tingkat Ketrampilan Pengisian Partograf pada Kelompok Kontrol (Kelompok


Tidak Didampingi Tutor)
No Ketrampilan Pretest Posttest
F % F %
1. Baik 0 0 1 4,8
2. Cukup 8 38,1 20 95,2
3. Kurang 13 61,9 0 0
Total 21 100 21 100
Sumber: Data Primer 2016
Berdasarkan tabel 5 sebanyak 13 ketrampilan kurang pada saat pretest.
(71,5%) mahasiswa mendapat nilai Sedangkan pada saat posttest responden

188
International Conference for Midwives (ICMid)

yang mendapatkan nilai cukup sebanyak 20 (95,2%) responden.

Tabel 6 Hasil Uji Normalitas data pretest dan posttest (Kolmogorov-Smirnov)


Statistik Sig
Pretest 0,389 0,998
Posttest 0,238 1,000
Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat hasil uji pretest dan variable mempunyai nilai
normalitas menggunakan Kolmogorov- signifikasi 1,000 (p>0,05) pada saat
Smirnov bahwa variable mempunyai nilai posttest sehingga data berdistribusi
signifikasi 0,998 (p>0,05) pada saat normal.
Tabel 7 Hasil Uji Homogenitas
Levene Statistic Sig
0,030 0,137
Berdasrkan tabel 7 Hasil uji homogenitas perlakuan dan kelompok kontrol data
menunjukkan bahwa nilai signifikasi dinyatakan homogen.
0,137 (p>0,05), sehingga dapat dinyatakan
hasil pretest dan posttest pada kelompok
3. Bivariat
Tabel 8 Uji Paired t Test pada Kelompok Perlakuan (Peer Tutoring)
Variabel Mean Sig T Hitung
Pretest 70,38 0,000 -10,662
Posttest 83,93
Sumber: Data Primer 2016
Tabel 8 menunjukkan bahwa nilai mean signifikasi 0,000(p-value<0,05), maka
pada saat dilakukan pretest yaitu sebesar dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan
70,38, sedangkan pada saat posttest nilai yang signifikasi antara hasil pretest dan
mean sebesar 83,93. Nilai t hitung posttest terhadap ketrampilan pengisian
diperoleh sebesar -10,662 dan nilai partograf.

Tabel 9 Uji Paired t Test pada Kelompok Kontrol


Variabel Mean Sig T Hitung
Pretest 54,34 0,000 -5,922
Posttest 66,78
Sumber: Data Primer 2016
Tabel 9 menunjukkan bahwa nilai mean signifikasi 0,000 (p-value<0,05), maka
pretest pada kelompok kontrol yaitu dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan
sebesar 54,34, sedangkan pada mean yang signifikan antara hasil pretest dan
posttest nilai sebesar 66,78. Nilai t hitung posttest terhadap ketrampilan pengisian
diperoleh sebesar -5,922dan nilai partograf.
Tabel 10 Uji Independen T-Test
Kelompok Mean T hitung Sig
Kel. Perlakuan 83,93 11,507 0,000
Kel. Kontrol 66,78
Sumber: Data Primer 2016 diperoleh sebesar 11,507 dan nilai
Tabel 10 diatas menunjukkan bahwa nilai signifikan 0,000 (p-value<0,05), maka
mean pada kelompok perlakuan sebesar dapat diartikan ada perbedaan yang
83,93 sedangkan pada kelompok kontrol signifikan antara hasil didampingi tutor
sebesar 66,78. Nilai t hitung yang dan tidak didampingi tutor.

189
International Conference for Midwives (ICMid)

Dari hasil analisis data menggunkan Uji Penelitian sebelumnya menunjukkan


Baivariat bahwa ketrampilan pengisian bahwa kegiatan peer assistant learning
partograf pada mahasiswa tingkat II di meningkatkan 38% kemampuan
Akbidyo yang dinilai dari mahasiswa pada pengisian partograf
pendampingan tutor sebaya (peer dibandingkan sebelum mahasiswa
tutoring) untuk kelompok perlakuan mendapatkan pendampingan oleh peer
didapatkan hasil bahwa ada peningkatan assistant10). Pada penelitian ini
yang signifikan pada kelompok mahasiswa mempunyai pengetahuan
perlakuan dimana selisih nilai pretest yang baik tentang bagaimana mengisi
dan posttest mengalami kenaikan nilai lembar partograf, hal ini diketahui dari
13,55 dibandingkan dengan kelompok hasil kuisener yang telah diisi
kontrol yang hanya mengalami kenaikan mahasiswa dari kelompok perlakuan dan
nilai 12,44 saja. Dari sinilah terbukti kelompok control menunjukkan hasil
bahwa metode belajar dengan yang baik. Tetapi diperoleh hasil yang
menggunakan tutor sebaya (peer berbeda ketika mahasiswa mengisi
tutoring) sangat efektif untuk belajar partograf dengan soal kasus yang
serta melatih ketrampilan dalam berbeda. Mahasiswa tidak bisa
pengisian partograf, hal ini dibuktikan menyelesaikan dengan baik lembar
oleh mahasiswa tingkat II di Akbidyo. partograf dalam waktu 10 menit.
Metode pembelajaran tutor teman Mahasiswa yang menghadiri pertemuan
sebaya meningkatkan hasil belajar dan peer tutoring nampak lebih termotivasi
metode tutor sebaya lebih efektif untuk untuk menraih sukses. Pernyataan ini
meningkatkan hasil belajar berdasarkan didukung data dari hasil nilai prestasi
regulasi diri. Keuntungan lain dari kumulatif (IPK) yang meningkat11).
pembelajaran peer tutoring adalah Sebuah penelitian menunjukkan bahwa
keuntungan untuk tutor itu sendiri6). pelatihan dibutuhkan untuk
Peningkatan sikap dan ketrampilan bagi meningkatkan pengetahuan tentang
para tutor berkaitan dengan konsep partograf. Penelitian ini menyimpulkan
ketrampilan dan konteks pembelajaran, bahwa metode belajar peer tutoring
dan lebih jauh lagi tentang pemahaman sangat efektif untuk belajar dalam
proses belajar mengajar7). Siswa percaya ketrampilan pengisian partograf, dan
bimbingan sebaya dapat mendorong hasinya pun sangat signifikan sehingga
minat dalam kursus, meningkatkan bisa digunakan sebagai metode belajar
berpikir kritis dan keterampilan yang baru untuk kedepanya pada
pemecahan masalah dan menurunkan mahasiswa Akademi Kebidanan
kecemasan siswa, serta menciptakan Yogyakarta.
lingkungan yang aman untuk belajar8).
Peer tutoring bagi mahasiswa tingkat 2 SIMPULAN
dapat menurunkan rasa kecemasan dan Berdasarkan analisis hasil penelitian dan
meningkatkan rasa percaya diri. ¾ dari pembahasan, maka dapat disimpulkan
mereka setuju atau sangat setuju belajar bahwa:
dengan senior mereka, ditambah lagi 1. Ada perbedaan yang bermakna
pendapat beberapa mahasiswa yang antara hasil rata-rata tingkat
menyatakan bahwa ekspresi empathy ketrampilan pengisian partograf pada
dari senior saat tutorial dengan teman kelompok eksperimen yang
sebaya membuat mereka lebih bisa didampingi oleh peer tutoring lebih
memahami topik pembelajaran dan tinggi dibandingkan dengan
mengurangi perasaan terintimidasi 9). kelompok kontrol yang tidak
didampingi oleh peer tutoring.

190
International Conference for Midwives (ICMid)

2. Ada peningkatan ketrampilan 6. Wisati, Susantini W, Indah NK,


mahasiswa dalam pengisian 2013, Penerapan pembelajaran tutor
partograf setelah diberikan intervensi sebaya dalam perkuliahan
dengan menggunakan peer tutoring taksonomi tumbuhan tinggi di prodi
pada kelompok eksperimen pendidikan biologi fmipa
dibuktikan dengan nilai signifikasi universitas negeri Surabaya,
0,000 (p<0,05). http://download.portalgaruda.org/art
3. Peer tutoring merupakan metode icle.php?article=139232&val=4058,
pembelajaran yang efektif. (20.11 WIB, 4 September 2015).
7. Buckley S, Zamora J, 2007, Effects
DAFTAR PUSTAKA of participation in a cross year peer
1. Mathibe-Neke JM, Lebeko FL, tutoring programme in clinical
Motupa B, 2013, The partograph: A examination skills on volu nteer
labour management tool or a tuturs’ skills and attitudes towards
midwifery teachers and teaching,
record?,http://www.academicjourna http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/a
ls.org/journal/IJNM/article-full- rticles/PMC1925072/pdf/1472-
text-pdf/475777B41886, (18.35 6920-7-20.pdf, (19.15 WIB, 30
WIB, 1 Januari 2016). Desember 2015).
2. JNPK-KR, 2007, Asuhan 8. White, Pamela, Rowland, Amy
Persalinan Normal (Normal Birth Beth, Pesis-Katz, Irena, 2012. Peer-
care),Jakarta: JNPK-KR -Led Team Learning Model in a
3. Yisma E, Dessalegn B, Astatkie A, Graduate--Level Nursing Course,
Fesseha N, 2013, Knowledge and Journal of Nursing Education, Vol:
utilization of partograph among 51, Issue: 8,Pages: 471-475,
obstetric care givers in public health 9. Zentz, Suzanne E, Kurtz, et al,
institutions of Addis 2014,Undergraduate Peer Assisted
Ababa,Ethiopia, Learning in Clinical Setting,
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/a Journal of Nursing Education, Vol:
rticles/PMC3552695/pdf/1471- 53, Issue;3 ; S4-S10, Report
2393-13-17.pdf, (19.05 WIB, 2 information from ProQuest July 12th
Januari 2016 2014
4. Sinambela EE, 2014, Meningkatkan 10. Bartini, Istri, Rahayu, E, N, 2014,
hasil belajar aljabar siswa dengan Peer Assisted Learning Sebagai
menggunakan metode tutor sebaya Strategi Pembelajaran Untuk
Di smp negeri 175 jakarta, Meningkatkan Penguasaan
http://journal.lppmunindra.ac.id/ind Ketrampilan Asuhan Persalinan di
ex.php/Formatif/article/view/137, Akademi Kebidanan Yogyakarta,
(8.19 WIB, 4 Septemberr 2015). Prosiding Seminar Dan Rapat
5. Nikendei,C, S. Andreesen, K. Kerja Nasional Asosiasi Institusi
Hoffmann & J. Junger. (2009). Pendidikan Kebidanan Indonesia,
Cross-Year Peer Tutoring on Jakarta: AIPKIND
Internal medicine wards: efect on 11. Hughes, Kathleen S. (2011). Peer
self-assessed clinical Competencies Assited Learning Strategies in
– A Group Control Design Study, Human Anatomy & Psikology, The
Medical Teacher 2009; 31: e32-e35 American Biology Teacher,
Volume 73; 3: 144-147

191
International Conference for Midwives (ICMid)

RELATIONSHIP BETWEEN PSYCHOSOCIAL STRESSORS AND


LEARNING ACHIEVEMENT OF STUDENTS OF DIV MIDWIFE
AANVULEN EDUCATORS AT STIKES ‘AISYIYAHYOGYAKARTA IN
2013

Septiwiyarsi
STIK Bina Husada Palembang

ABSTRACT

Learning achievement is a reflection of the work done by a student in completing the


learning task given to him/her. Learning achievement is influenced by external factors and
internal factors. The purpose of this study is to determine the relationship between
psychosocial stressors and student achievement DIV Aanvulen Midwife Educators' at
STIKES Aisyiyah Yogyakarta in 2013. This study uses the analytic survey method with
time cross sectional approach. The population in this study is all students of DIV
Aanvulen STIKES Midwife Educators' Aisyiyah Yogayakarta. Sampling technique in this
research is systematic random sampling, and numbers of respondent are 46 students. Data
is analyzed using frequency distribution and bivariate is analyzed using Kendall tau
correlation.Based on the research conducted it is shown that there is a significant
correlation between psychosocial stressors and the learning achievement of students of
DIV STIKES Midwife Educators ‘Aisyiyah Yogyakarta. It can be seen from the value of
r count of 0.399 with a significance of 0.018 (p <0,05). The authors suggest to students to
apply their knowledge in order to make them able to manage the stress experienced so it
will not disturb their learning activities and so that they can get maximum learning results.

Keywords: Psychosocial Stressors, academic achievement

PENDAHULUAN
Keberhasilan Proses belajar mengajar dibidang ilmunya. Selama ini banyak
sebagai tujuan utama pendidikan masyarakat yang berpendapat bahwa
tidaklah semata-mata ditentukan oleh untuk meraih prestasi belajar yang tinggi
faktor-faktor yang bersifat akademik, diperlukan kecerdasan yang intelektual
tetapi sangat dipengaruhi oleh faktor- yang tinggi juga. Namun menurut
faktor non akademik, baik yang bersifat penelitian terbaru dibidang psikologi
eksternal dan internal. Faktor eksternal tahun 2008 membuktikan bahwa IQ
dapat berupa dukungan maupun bukan satu-satunya faktor yang
hambatan lingkungan, fasilitas, sistem mempengaruhi prestasi belajar
sosial ekonomi dan kondisi alam. Faktor seseorang, tetapi ada faktor lain yang
internal dapat berupa kondisi kesehatan, dapat mempengaruhi prestasi belajar
psikis dan emosional. Faktor internal seseorang salah satunya adalah stress.2
pada peserta didik memegang peranan Perubahan kondisi psikis dan
yang paling menentukan dalam emosional lebih banyak dialami oleh
keberhasilan proses belajar mengajar mahasiswa baru karena adanya
bila dibandingkan dengan faktor lain.1 perubahan lingkungan, hal ini
Selama menjalani pendidikan tinggi merupakan stressor psikososial dan
tersebut prestasi belajar merupakan tolak tidak semua mahasiswa dapat menerima
ukur penguasaan kompetensi mahasiswa dan menyesuaikan diri dengan berat

192
International Conference for Midwives (ICMid)

ringannya stresor kehidupan yamg dari bagian akademik program studi


dialami. Mahasiswa dengan kesulitan DIV Bidan pendidik Stikes ‘Aisyiyah
menyesuaikan diri dapat merupakan Yogyakarta Jumlah mahasiswa yang
stresor tersendiri yang akhirnya mengikuti remidi 45% yang tersebar
merupakan masalah bagi dirinya yang pada masing-masing 9 mata kuliah. Dari
akan mengahambat proses belajar 182 mahasiswa 81 mahasiswa yang
mengajar sehingga mempengaruhi mengikuti remidi. Dari 81 mahasiswa
prestasi belajar. Keberhasilan prestasi yang mengikuti remidi, 20 mahasiswa
belajar mengajar tidak semata mata mempunyai indeks prestasi antara 2,00-
ditentukan faktor-faktor akademik tetapi 2,75, 51 mahasiswa dengan indeks
dipengaruhi oleh faktor-faktor non prestasi 2,75-3,00 dan 10 mahasiswa
akademik baik bersifat eksternal dengan indeks prestasi >3,00. Dari
maupun internal.3 uraian tersebut peneliti tertarik untuk
Dengan prestasi belajar yang baik melakukan penelitian tentang hubungan
diharapkan nantinya calon pendidik antara stresor psikososial dengan
dapat mentransfer ilmu dengan baik prestasi belajar mahasiswa DIV Bidan
pula. Untuk mencapai harapan-harapan pendidik STIKES ‘Aisyiyah
tersebut mahasiswa DIV Bidan pendidik Yogyakarta. Tujuan Penelitian ini
sering menjumpai hambatan-hambatan adalah diketahuinya hubungan antara
baik eksternal maupun internal. stresor psikososial dengan prestasi
Indeks prestasi masih menjadi belajar mahasiswa DIV Bidan pendidik
wacana untuk mencari pekerjaan. STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta.
setelah lulus kuliah, mahasiswa
memasuki masa perjuangan mencari METODE
pekerjaan tanpa ada bantuan dari orang Desain penelitian ini menggunakan
lain. Lowongan pekerjaan dengan penelitian noneksperiment dengan jenis
keahlian khusus dari perusahaan swasta penelitian survey analitik. Penelitian ini
atau BUMN dan instansi pemerintah menggunakan pendekatan waktu cross
biasanya memasang syarat IP minimal sectional.6 Jenis data dalam penelitian
3,27 untuk semua jurusan. Hal ini ini merupakan data primer diperoleh
menunjukkan bahwa IP merupakan hal dari pengisian angket tertutup yaitu data
yang penting dalam kehidupan tentang karakteristik responden dan
kedepannya .4 sressor psikososial. Data sekunder
Menurut hasil penelitian Stephani diperoleh dari bagian akademik STIKES
yang dilakukan tahun 2006 didapatkan ‘Aisyiyah Yogyakarta yaitu indeks
prevalansi terjadinya stres pada prestasi mahasiswa DIV bidan pendidik
mahasiswa kedokteran Universitas jalur aanvullen.
California sebesar 51%.11 Bahkan Tekhnik pengambilan sampel yang
menurut hasil penelitian yang dilakukan digunakan pada sampel systematic
mustafa Amr terdapat 94,5% mahasiswa random sampling,caranya adalah
stres di FK Universitas Mansours Arab membagi jumlah atau anggota populasi
Saudi.5 dengan perkiraan jumlah sampel yang
Studi pendahuluan dilakukan diinginkan, hasilnya adalah interval
Program studi DIV bidan pendidik di sampel.7182 X 25% = 45,5 atau
daerah ibukota Yogyakarta bahwa Stikes dibulatkan menjadi 46 sehingga
Aisyiyah Yogyakarta mempunyai diperoleh sampel dalam penelitian ini
Prestasi akademik lebih rendah sebanyak 46 sampel yang terdiri dari
dibandingkan dengan Universitas kelas C,D, dan E. Dengan teknik
Respati Yogyakarta. Berdasarkan data systematik random sampling dari jumlah

193
International Conference for Midwives (ICMid)

mahasiswa dibagi jumlah sampel. Jadi Tabel. 3 Karakteristik responden


182/46 = 3,9 maka anggota populasi berdasarkan Tempat Tinggal
yang mempunyai nomor kelipatan 4 Tempat Jumlah Persentase
misalnya 4,8,12 dan seterusnya sampai tinggal
mencapai jumlah 46 anggota sampel. 89.13 %
Analisis deskriptif digunakan untuk Kos 41
menghitung frekuensi dan proporsi dari Rumah 5 10.87 %
masing-masing kelompok dengan sendiri
menggunakan tabel distribusi frekuensi. Total 46 100.0%
Analisa Bivariat menggunakan Uji
statistik menggunakan uji statistik
nonparametris untuk menguji hipotesis Berdasarkan Tabel 3 sebagian besar
asosiatif (hubungan antar variabel) yaitu responden bertempat tinggal Kos
dengan teknik korelasi kendal tau. sebanyak 41 (89,13%)

DISKUSI Tabel. 4 Karakteristik responden


Tabel . 1 Karakteristik Responden berdasarkan status pekerjaan
Berdasarkan Umur
Umur Jumlah Persentase Status Jumlah Persentase
pekerjaan
21 - 22 18 39.1%
tahun
23 - 24 15 32.6% Bekerja 9 19.51%
tahun Tidak 37 80.43%
25 - 26 3 6.5% bekerja
tahun
> 26 10 21.7% Total 46 100.0%
tahun
Total 46 100.0%
Tabel. 4 menunjukkan sebagian besar
Berdasarakan Tabel. 1 sebagia besar responden tidak bekerja sebanyak 37
responden berada dalam rentang usia (80,43%).
21-22 tahun sebanyak 18 reponden
(39,1%). Tabel. 5 Hasil Jawaban Responden
Tabel . 2 Karakteristik Responden terhadap Variabel Stresor Psikososial
Berdasarkan Status
Stressor Frekuensi Presentase
Status Jumlah Persentase Psikososial
11 23,9%
Belum 36 78.2%
menikah Tinggi
10 21,7 % 32 69,6%
Menikah Sedang
Total 46 100.0% 3 6,5%
Rendah
Total 46 100%
Tabel 2 menunjukkan sebagian besar
responden belum menikah sebanyak 36 Berdsarkan tabel. 5 Stresor
(78,2%) Psikososial responden, sebagian besar
responden memiliki stresor psikososial
sedang yaitu dari 46 responden
sebanyak 32 (69,6%) responden
mempunyai stresor psikososial sedang.

194
International Conference for Midwives (ICMid)

sedangkan responden yang mempunyai pekerjaan dan keluarga. Hal tersebut


stresor psikososial tinggi sebanyak 11 memberikan pengertian bahwa
(23,9%) dan stresor psikososial rendah 3 responden mampu mengendalikan stres
(6,55%). secara rinci jawaban responden yang dialaminya karena responden
adalah sebagai berikut : sudah cukup sering bersosialisasi
Berdasarkan tabel. 6 dari 46 dengan orang lain baik melalui
responden hasil penelitian tingkat stresor pendidikan, tempat tinggal kos-kosan
psikososial bahwa 36,9% responden yang harus bersama dengan orang lain,
menyatakan jarang menyempatkan dengan pengalaman tersebut responden
waktu untuk berolahraga sampai bisa mengelola stresor yang dialami.
berkeringat meskipun jadwal kuliah
empat kali dalam satu minggu, 39,3 % Tabel. 7 Prestasi belajar Mahasiswa
responden menyatakan jarang santai
ketika memiliki tugas praktikum yang Kategori Jumlah Persentase
menumpuk, 39,4% responden IP 2,00-2,75 6 13,0 %
menyatakan sering mempunyai perasaan (memuaskan)
yang berubah-rubah (moody) ketika IP 2,76-3,50 38 82,6 %
mendekati UAS. (sangatmemu
askan)
sebanyak 30,4 % responden IP 3,51-4,00 2 4,3 %
menyatakan sering merasa terganggu (Cum laude)
konsentrasi belajar karena mendekati Total 46 100.0%
UAS, 32,5% responden menyatakan
selalu keringat tubuh meningkat ketika
sibuk mengerjakan tugas, 30,4 % Berdasarkan Tabel. 7 bahwa dari 46
responden menyatakan sering pola responden, yang masuk kategori
makan menjadi tidak teratur ketika memuaskan sebanyak 6 orang atau
menyelesaikan tugas dan 41,3% 13,0%, yang mempunyai IP kategori
responden menyatakan sering lupa sangat memuaskan sebanyak 38 orang
ketika mengerjakan karena sibuk atau 82,6% dan yang mempunyai IP
mengerjakan tugas. kategori Cum laude sebanyak 2 orang
Hasil penelitian ini memberikan atau 4,3 %. Berdasarkan indeks prestasi
gambaran bahwa mayoritas responden akademik mahasiswa DIV bidan
mempunyai stresor psikososial sedang, pendidik jalur Aanvulen dapat diketahui
mengindikasikan bahwa pemicu dari bahwa sebagian besar mahasiswa
tingkat stresor sedang adalah stresor mempunyai indeks prestasi sangat
sosial yang datang dari lingkungan memuaskan.
sosial misalkan tempat tinggal,

195
International Conference for Midwives (ICMid)

Tabel. 8 Tabulasi silang stresor psikososial dengan prestasi belajar mahasiswa DIV
Bidan Pendidik Aanvulen STIKES‘Aisyiyah Yogyakarta

Prestasi Memuas Sangat Cumlaude Jumlah


Belajar kan Memuaskan
F % F % F % F %

Stresor
Psikososial
Tinggi 4 8,7 7 15,2 0 0 11 23,9
Sedang 2 4,3 28 60,9 2 4,3 32 69,6
Rendah 0 0 3 6,5 0 0 3 6,5

Jumlah 6 13 38 82,6 2 4,3 46 100

Hasil tabulasi silang Stresor hubungan antara stresor psikososial


Psikososial dengan prestasi belajar dengan prestasi belajar rendah.
mahasiswa DIV Bidan pendidik Stresor psikososial mahasiswa DIV
STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta dalam Bidan pendidik jalur aanvulen di
tabel 8 menunjukkan bahwa dari 46 STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta
responden 32 (69,6%) mahasiswa yang Berdasarkan hasil penelitian
mempunyai stresor sedang diantaranya 2 menujukkan bahwa sebagian besar
(4,3%) dengan prestasi belajar mahasiswa DIV Bidan Pendidik
memuaskan, 28 (60,9%) dengan prestasi Aanvulen STIKES ‘Aisyiyah
belajar sangat memuaskan dan 2 (4,3%) Yogyakarta mempunyai tingkat stresor
dengan prestasi belajar Cumloude. Psikososial sedang yaitu sebanyak 32
Hasil uji korelasi kendall tau orang (69,6%).
didapatkan nilai ρ hitung sebesar 0,339 Hasil penelitian ini memberikan
dengan taraf signifikansi (p) 0,018. gambaran bahwa mayoritas responden
untuk menentukan ada hubungan atau mempunyai stresor psikososial sedang.
tidak maka besarnya taraf signifikansi Salah satu pemicu dari tingkat stresor
(p) dibandingkan dengan nilai taraf sedang adalah stresor sosial yang datang
kesalahan 5% (0,05). Jika nilai p lebih dari lingkungan sosial misalkan tempat
besar dari 0,05 maka dinyatakan tidak tinggal, pekerjaan dan keluarga. Hal
ada hubungan antara kedua variabel dan tersebut memberikan pengertian bahwa
jika nilai p lebih kecil dari 0,05 maka responden mampu mengendalikan stres
dinyatakan ada hubungan antara kedua yang dialaminya sehingga tidak
variabel. Hasil penelitian menunjukkan mengganggu aktivitasnya sehari-hari,
nilai p lebih kecil dari 0,05 (0,018 termasuk dalam belajar. Mereka yang
<0,05) sehingga dapat dinyatakan bisa mengelola berbagai pengalaman
terdapat hubungan atara kedua variabel. dalam hidupnya sejak masa anak-anak,
Dengan demikian dapat disimpulkan remaja hingga menjadi orang dewasa,
bahwa terdapat hubungan antara stresor akan selamat menjalani kehidupan
psikososial dengan prestasi belajar sehari-hari yang selalu terjadi pasang
mahasiswa DIV Bidan pendidik surut dari keadaan yang menyenangkan
STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta tahun ke keadaan yang tidak menyenangkan.
2013. Didapatkan nilai signifikansi Dalam kehidupannya manusia
0,339 maka dapat disimpulkan keeratan mengalami berbagai konflik, frustasi,

196
International Conference for Midwives (ICMid)

dan kegagalan yang akan menyebabkan belajar dengan pujian yaitu 2 orang
cemas, stres dan depresi. (4,34%).
Perubahan kondisi psikis dan Prestasi belajar adalah penguasaan
emosional lebih banyak dialami oleh pengetahuan keterampilan terhadap
mahasiswa karena adanya perubahan mata pelajaran yang dibuktikan melalui
lingkungan, proses belajar mengajar, tes.8 Selama menjalani pendidikan
beban studi yang diambil dan gaya tinggi, prestasi menjadi tolak ukur
belajar, hal ini dapat mengakibatkan penguasaan kompetensi mahasiswa
stres dan tidak semua mahasiswa dapat dibidang ilmunya. Selama ini banyak
menerima dan menyesuaikan diri yang berpendapat bahwa untuk meraih
dengan berat ringganya stresor yang prestasi belajar yang tinggi diperlukan
dialami. kecerdasan intelektual yang tinggi juga.
Slameto (2010) menjelaskan Namun menurut penelitian terbaru
mahasiswa dengan kesulitan dibidang psikologi tahun 2008
menyesuaikan diri dapat merupakan membuktikan bahwa IQ bukan satu-
stres tersendiri yang akhirnya satunya faktor yang mempengaruhi
merupakan masalah bagi dirinya yang prestasi belajar seseorang salah satunya
akan menghambat proses belajar yang adalah stres. 2
mempengaruhi prestasi belajar. Penelitian ini menunjukkan bahwa
Keberhasilan prestasi belajar mengajar sebagian besar responden tinggal
untuk mencapai prestasi belajar tidak dirumah kost bersama teman-temannya
semata-mata ditentukan faktor-faktor yang lain. Keberadaan temen sekelas
akademik tetepai dipengaruhi faktor- membantu responden dalam membentuk
faktor non- akademik baik bersifat kebiasaan belajar. dengan membentuk
eksternal maupun internal. Faktor kelompok belajar ditempat kost dapat
eksternal berupa lingkungan baru, sosial membantu meningkatkan daya tangkap
budaya, sedangkan internal berupa responden terhadap materi pelajaran.
kesehatan berupa kondisi kesehatan Penelitian ini juga menunjukkan
jasmani maupun kesehatan psikis. 12 bahwa terdapat responden yang
Sunaryo (2014) menjelaskan bahwa memiliki prestasi belajar dengan pujian
manusia dalam kehidupnnya secara yaitu 2 (4,34%). Responden yang
bertubi-tubi menjumpai konflik, frustasi memiliki prestasi belajar dengan pujian/
dan kegagalan yang pada waktunya Cumloude dapat dipengaruhi oleh faktor
dapat menjadi kecemasan dan depresi. bakat, minat, perhatian responden
Demikian pula dalam kehidupan sehari- terhadap materi pelajaran yang
hari selalu terjadi pasang surut dari diajarkan, adanya motivasi internal
keadaan yang menyenangkan ke tersebut sedikit banyak membantu
keadaan yang tidak menyenangkan. responden dalam mencapai prestasi
Suatu ketika manusia menemukan belajar yang diharapkan.
dirinya menderita cemas, takut dan Merson Sangalang (1974) cit Tulus
mudah tersinggung.13 (2004) menjelaskan bahwa motif selalu
Prestasi belajar mahasiswa DIV mendasari dan mempengaruhi setiap
Bidan pendidik jalur aanvulen di usaha serta kegiatan seseorang untuk
STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta mencapai tujuan yang diinginkan.
Mayoritas responden mempunyai Apabila dalam belajar, siswa memiliki
prestasi belajar yang sangat memuaskan motif yang baik dan kuat, hal ini akan
yaitu 38 orang (84,78%) sedangkan memperbesar usaha dan kegiatan
yang paling sedikit mempunyai prestasi mencapai prestasi tinggi. 10

197
International Conference for Midwives (ICMid)

Hubungan Stresor Psikososial dengan kesulitan menyesuaikan diri dapat


prestasi belajar mahasiswa DIV merupakan stres tersendiri yang
Bidan pendidik STIKES ‘Aisyiyah akhirnya merupakan masalah bagi
Yogyakarta dirinya yang akan menghambat proses
Responden yang paling banyak belajar mengajar sehingga
mempunyai stresor sedang dengan mempengaruhi prestasi belajar.
indeks prestasi sangat memuaskan yaitu Keberhasilan prestasi belajar mengajar
28 orang (60,9%), sedangkan yang untuk mencapai prestasi belajar tidak
paling sedikit responden yang semata-mata ditentukan faktor-faktor
mempunyai stresor sedang dengan akademik tetapi dipengaruhi oleh faktor-
indeks prestasi pujian yaitu 2 orang faktor non akademik baik bersifat
(4,35), juga memperlihatkan stresor eksternal maupun internal. Faktor
psikososial tinggi dengan indeks prestasi eksternal berupa lingkungan baru, sosial
sangat memuaskan yaitu sebanyak 7 budaya sedangkan internal berupa
orang (15,2%). kondisi kesehatan jasmani maupun
Hasil uji kendall tau didapatkan nilai kesehatan psikis.11
r hitung sebesar 0,339 dengan taraf
signifikansi (p) 0,018 sehingga dapat SIMPULAN
disimpulkan bahwa terdapat hubungan Hasil penelitian menunjukkan Besarnya
yang rendah antara stresor psikososial hubungan keeratan antara stresor
dengan prestasi belajar mahasiswa DIV psikososial dengan prestasi belajar
Bidan Pendidik Aanvulen STIKES mahasiswa DIV Bidan Pendidik
‘Aisyiyah Yogyakarta tahun 2013. STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta tahun
Hasil penelitian ini sesuai dengan 2013 yitu tergolong rendah dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh ernawaty sebesar 0,0339. Hasil uji korelasi
(2010) dengan judul“ Hubungan antara Kendall tauu didapatkan nilai r hitung
stresor psikososial dengan prestasi sebesar 0,018 dengan taraf signifikansi
belajar mahasiswa DIV Bidan Pendidik (p) 0,05 sehingga dapat disimpulkan
angkatan I FK UGM Yogyakarta”. Hasil bahwa terdapat hubungan antara stresor
penelitian diadapatkan ada hubungan psikososial dengan prestasi belajar
yang signifikan antara stres kronis mahasiswa DIV Bidan Pendidik
dengan prestasi belajar r = -0,2691 Aanvulen STIKES ‘Aisyiyah
dengan nilai p (0,039) <0,05. mahasiswa Yogyakarta tahun 2013.
dengan stres kronis mempunyai indeks
pretasi sangat memuaskan, dan DAFTAR PUSTAKA
mahaiswa dengan stres akut mempunyai
indeks prestasi memuaskan.10 1. Syaiful B.D. 2011. Psikologi
Mahasiswa yang mengalami stres Belajar. Rineka Cipta ; Jakarta
akan mengalami tekanan psikologis 2. Bagus, I. 2009. Hubungan antara
yang berat. Tekanan tersebut dapat prestasi belajar dengan kecerdasan
mengganggu konsentrasi belajar yang emosional siswa kelas II SMU Lab
pada akhirnya berpengaruh terhadap School,
prestasi belajar. Namun begitu, (online)http:///www.indoskripsi.co
mahasiswa dapat mengendalikan stres m. (diakses 03 februari 2013)
yang dialaminya maka ia dapat 3. Sukmadinata.N.S. 2011. Landasan
menurunkan stres. Pengendalian stres Psikologi Proses Pendidikan, PT
yang baik akan membantu Remaja Rosdakarya ; Bandung
meningkatkan prestasi belajar. Menurut 4. Ghofur. 2010. Hubungan pengaruh
Slameto (2003), mahasiswa dengan suasana akademik terhadap

198
International Conference for Midwives (ICMid)

prestasi belajar mahasiswa


universitas negeri medan, (online),
Tersedia
http://digilib.unimed.ac.id.
(diakses 04 februari 2013)
5. Mustafa, 2006. Insiden stres pada
mahasiswa FK Universitas
Mansoura Arab Saudi. (online)
tersedia http://www. Journal Of
social work. (Diakses 04 februari
2013)
6. Notoadmodjo, S. 2010.
MetodologiPenelitian Kesehatan.
Rineka Cipta ; Jakarta
7. Sugiyono. 2006. Statistika Untuk
Penelitian, Alfa Beta ; Bandung
8. Balai Pustaka Nasional. 2011.
Pendidikan Indonesia, Rineka
Cipta ; Jakarta
9. Tulus. 2004. Peran Disiplin Pada
Prilaku dan Prestasi Siswa.
Jakarta
10. Ernawaty. 2010. Hubungan antara
stressor psikososial dengan
prestasi belajar mahasiswa D-IV
Bidan Pendidik angkatan I FK
UGM Yogyakarta
11. Stephani, 2006. Prevalansi
terjadinya stres pada mahasiswa
kedokteran Universitas California
(online) tersedia http:// www.
Journal of work. (Diakses 04
februari 2013)
12. Slameto, 2010. Belajar dan faktor-
faktoryang mempengaruhinya.
Jakarta
13. Sunaryo, 2005. Management stres.
Gramedia ; Jakarta

199
International Conference for Midwives (ICMid)

STRUCTURE ORAL CASE


ANALIYSIS AND DEMONSTRATION (SOCAD) EVALUATION OF
LEARNING ASKEB PATHOLOGY PRACTICUMCASE STUDIES
ACADEMY MIDWIFERY IN YOGYAKARTA

Eka Nur Rahayu


Akademi Kebidanan Yogyakarta

ABSTRACT

Midwifery Academy Yogyakarta as one of the institutions have been conducting


evaluations midwifery practical learning an effort to determine effectiveness and
efficiency of learning systems either on purpose, meteri, methods, media, learning
resources, environment and the assessment system itself. The curriculum is lab work
previously done by the method of OSCE whereas midwifery care pathology has been
developed by method SOCAD since 2014, is still not well understood by students and
lecturers themselves. The objective of this study was to evaluate the efficacy evaluation of
practical learning methods SOCAD This study is case study the development of
evaluation methods SOCAD conducted on students of fourth semester course on the care
of the pathology of all classes with the number of samples each 5 people with a focus
group discussions and also of the lecturer of the course of midwifery care pathology. The
instrument used was a questionnaire and indepth interview. The analysis used data
triangulation.This research is helpful for students to mindset in the early detection of
pathology and act upon operational standards. Lecturers said SOCAD exam is not only
hone the skills but also the mindset of students will also be trained in dealing with a case.
However, perceptions of each lecturer in conducting examinations SOCAD still vary.
Experience influential lecturer in assessing students. It is made guide and socialization for
the whole community in the exam SOCAD especially the perception of lecturers during
exams.

Keywords: Oral Case Structure Analisys and Demonstration, evaluation

PENDAHULUAN
Akademi Kebidanan Yogyakarta sebagai lulusan sehingga siap untuk bekerja.
salah satu lembaga pendidikan kebidanan Kompetensi bidan dalam deteksi dini dan
di Yogyakarta mempunyai kurikulum kegawatdaruratan ibu dan anak sangat
untuk membentuk bidan profesional yang dibuthkan di masyarakat sehingga dalam
selalu dinamis berkembang mengikuti matakuliah yang disusun terdapat asuhan
perkembangan global. Kegitan belajar kebidanan patologi kehamilan, persalinan,
mengajar diupayakan untuk membentuk nifas, bayi baru lahir, dan balita.
bidan yang memiliki daya saing , kreatif Pelaksanakan kegiatan pembelajaran tentu
dan inovatif sehingga mampu harus dilakukan evaluasi baik teori dan
memberikan pelayanan secara baik. praktik. 1
Pembelajaran ditempuh oleh mahasiswa Kegiatan identifikasi untuk melihat
selama 6 semester dengan kurikulum 2012 apakah suatu program yang telah
yang sudah dibuat oleh Akademi direncanakan telah tercapai atau belum,
Kebidanan Yogyakarta sebanyak 116 berharga atau tidak, dan dapat pula untuk
SKS. Kurikulum tersebut dibuat melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya.
matakuliah untuk mendukung kompetensi Evaluasi berhubungan dengan keputusan

200
International Conference for Midwives (ICMid)

nilai (value judgement).2 Evaluasi adalah tabel yang spesifik atau kisi-kisi;
proses sistematis dalam mengumpulkan menggunakan tabel spesifik sebagai dasar
dan menganalisis data dalam membuat untuk persiapan tes.6
kebijakan atau keputusan.Proses Tujuan evaluasi atau test menurut domain
pembelajaran praktikum sudah sesuai yaitu kognitif, afektif dan psikomotor, 7
dengan tujuan yang diharapkan. 3 Unsur- Penilaian otentik merupakan penilaian
unsur penentu luaran pembelajaran antara yang dilakuan untuk melihat penampilan
lain guru, materi, strategi, metode, sistem mahasiswa pada situasi yang
evaluasi dan penunjang. Makna evaluasi sesungguhnya dan mendemontrasikan
bagi siswa adalah mengetahui sejauh ketramplan dan pengetahuan esesnsial
mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang bermakna,. Ketrampilan itu
memuaskan atau tidak. Sedangkan bagi merupakan kompetensi spesifik yang
guru mengetahui siswa yang berhak dikuasai secara efektif dan efisien.9
melanjutkan pembelajaran berikutnya dan dimana untuk SOCAD ini domain kognitif
juga menetahui metode dan strategi yang yang dibutuhkan sampai dengan analisis,
di gunakan tepat atau belum. 4 sedangkan untuk domain afektif sampai
Evaluasi pembelajaran dilakukan secara respon, dan untuk psikomotor kemahiran/
menyeluruh dan berkesinambungan kompeten.
mencakup penilaian proses belajar dan Kurikulum 2012 Akademi Kebidanan
hasil belajar. Untuk mencapai tujuan Yogyakarta terdiri dari 116 sks dan 60%
pendidikan salah satu faktor yang penting merupakan praktikum, dalam
adalah proses pembelajaran yang pembelajaran praktikum evaluasi
dilakukan, sedangkan efektivitas dilakukan dengan metode OSCE. Evaluasi
pembelajaran meliputi evaluasi dan pembelajaran praktikum asuhan
penilaian, terhadap proses maupun hasil kebidanan patologi telah dikembangkan
pembelajaran. Penilaian dapat memotivasi dengan metode SOAP mulai tahun 2014
untuk giat belajar secara terus menerus yaitu mahasiswa menndapatkan sebuah
dan mendorong pendidik untuk kasus dan mengembangkan kasus tersebut
meningkatkan kualitas proses dengan menyebutkan data subyektif dan
pembelajaran. Penilaian memberikan obyektif serta membuat diagnosa yang
informasi keberhasilan atau penguasaan sesuai dengan kasus dan melakukan
mahasiswa terhadap materi yang perencanaan dan pelaksanaan. Dalam
diajarkan, dan memberikan umpan balik pelaksanaan SOAP masih banyak sekali
terhadap program pendidikan yang kekurangan dan kelemahan terutama
dilaksanakan. Pembelajaran dibutuhkan dengan instrumen penilaian dan
tenaga pendidik yang memiliki pemahaman dari mahasiswa dan dosen
kemampuan mengajar juga mampu yang beragam. Structure Oral Case
melakukan evaluasi dengan baik dan Analisys and Demonstration (SOCAD) ini
efektif berdasarkan karakteristik di kembangkan dari metode SOAP
matakuliah yang diajarkan. Kegiatan dimana untuk perintah untuk mahasiswa
evaluasi sebagai bagian dari program dan probandus serta penguji sudah diatur
pembelajaran perlu lebih dioptimalkan.5 lebih jelas, sehingga metode ini dipahami
langkah dalam perencanaan suatu tes dengan baik oleh mahasiswa dan dosen
adalah : menentukan tujuan tes; sendiri serta instrumen penilaian sudah
mengidentifikasi hasil belajar yang akan mencoba di standarkan untuk isinya.
diukur melalui tes ; merumuskan hasil Seting tempat ujian dibuat bilik-bilik,
belajar dalam bentuk perilaku yang dimana setiap mata kuliah terdapat 5 bilik
spesifik dan dapat diamati ; menyusun waktu 10-15 menit setiap bilik.
garis besar materi pelajaran yang akan Mahasiswa masuk bilik dan membaca soal
diukur melalui tes ; menyiapkan suatu sesuai kasus, setelah itu mahasiswa di

201
International Conference for Midwives (ICMid)

dalam bilik mengkaji data subyektif dan soal, waktu, probandus, alat, penguji
obyektif seperti bertemu dengan pasien manfaat ujian bagi mahasiswa dan
langsung dengan probandus. Dosen masukan dari metode dalam ujian
penguji menilai dari ceklist yang ada SOCAD. Dan untuk dosen di lakukan
sesuai dengan data subyektif dan obyektif diskusi mendalam tentang instrumen
dan assesment serta implementasi dengan ujian, seting tempat dan alat serta manfaat
demontrasi sesuai kasus baik komunikasi dari ujian ini. analisis yang digunakan
dan edukasi atau prasat ketrampilan. triangulasi data.
Penilaian ujian ketrampilan dengan skor Hasil
0-2 dan hasil akhir adalah jumlah skor Asuhan kebidanan fisiologi telah
dibagi skor tertinggi dikalikan 100%. diberikan pada mahasiswa semester III
Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah dan untuk patologi diberikan kepada
untuk mengevaluasi evaluasi efektivitas mahasiswa semester IV dengan nama
metode pembelajaran praktis SOCAD matakuliah asuhan kebidanan kehamilan,
Metodologi: Penelitian ini merupakan persalinan, nifas, bayi baru lahir dan bayi
penelitian studi kasus dengan pendekatan balita patologi dengan masingmasing sks
explanatory di Akademi Kebidanan 2 kecuali persalinan 3 sks. Untuk
Yogyakarta tahun 2016 dalam pelaksanaan kalender akademik di bagi
pengembangan metode evaluasi ujian menjadi 3 blok dengan materi untuk blok I
SOCAD pada mahasiswa semester IV kelas ABC matakuliah kehamilan, bayi
pada asuhan kebidanan patologi. Populasi dan balita patologi, sedang kelas DE
penelitian ini adalah mahasiswa semester matakuliah persalinan, nifas dan bayi baru
IV sebanyak 195 mahasiswa dengan lahir patologi. Blok II mereka bergantian
tehnik sampling purposive jumlah sampel untuk materi yang diajarkan dan blok III
sebanyak 20 mahasiswa dari 5 kelas mereka praktik klinik kebidanan di
dengan melakukan fokus grup diskusi dan puskesmas. Ketentuan praktikum di
dosen sebanyak 25 dosen bidan pengampu Akademi Kebidanan Yogyakarta untuk 1
praktikum asuhan kebidanan patologi. sks adalah 8 kali pertemuan kelompok
Instrumen yang digunakan adalah kecil (7-8 mahasiswa) dengan dosen,
panduan wawancara. Penelitian untuk dengan mentee sebanyak 6 kali
mahasiswa di lakukan dengan pertemuan, mandiri 2 kali.
memberikan pertanyaan tentang kualitas

Tabel. 1. Ujian Ketrampilan sesuai dengan matakuliah patologi di Akademi kebidanan


Yogyakarta dengan metode SOCAD
Mata Kuliah Jenis ketrampilan Ketrampilan yang
diujikandalam 5 bilik
Kehamilan Ibu Hamil Dengan Hiperemesis Hiperemesis Gravidarum,
patologi Gravidarum,perdarahan antepartum perdarahan antepartum
(abortusdanmolla), (abortusdanmolla),
Ibu Hamil Dengan Hipertensi, Pre – Hipertensi, Pre – Eklamsi, Eklamsi,
Eklamsi, Eklamsi, plasenta Previa, Plasenta Previa, Solusio Plasenta,
Solusio Plasenta, Hamil Dengan Dengan Jantung, Asthma, Diabetes
Jantung, Asthma, Diabetes Melitus, Melitus, Anemia,
Hamil Dengan Anemia Penyakit menular,
Hamil Dengan penyakit menular,
Penggunaan alat CTG
Persalinan Anamnesa Persalinan dengan Penyulit, Penatalaksanaan Tali Pusat
patologi Pemeriksaan Fisik Persalinan dengan Menumbung, persalinan dengan
Penyulit, Persalinan Gemeli, Tali Pusat mall presentasi, Persalinan
Menumbung , persalinan dengan mall emergensi dengan Ekstraksi Vakum,
presentasi, Menyiapkan alatdan Sungsang, Distosia Bahu, Induksi

202
International Conference for Midwives (ICMid)

Persalinan emergensi dengan Ekstraksi Persalinan Oxytocin, Manual


Vakum, Persalinan Sungsang, Plasenta, perdarahan Postpartum
Pertolongan Persalinan dengan dengan Kompresi Bimanual
Distosia Bahu, Induksi Persalinan Eksterna, Kompresi Bimanual
dengan Foley Kateter dan Induksi Interna, Persiapan Operasi Secaria
dengan Oxytocin, Manual Plasenta, (SC)
perdarahan Postpartum dengan KBI-
KBE dan Kondom Uterovagina,
Penatalaksanaan Persiapan Operasi
Secaria (SC) Deteksi dini robekan
jalanlahir, Menyiapkan peralatan
kuretase
Nifas patologi KIE Ibu Nifas dengan post partum KIE Ibu Nifas dengan post partum
blues, Diabetes Melitus, Anemia, Pre- blues, Diabetes Melitus, Anemia,
Eklamsia, Perdarahan Postpartum, Pre-Eklamsia, Perdarahan
Bendungan ASIdan Mastitis, infeksi Postpartum, Bendungan ASI atau
luka perineum, Perawatan ibu Post Mastitis, infeksi luka perineum,
SC Perawatan ibuPost SC
Bayi baru lahir Ventilasi Tekanan Positif (VTP), Ventilasi Tekanan Positif (VTP),
patologi Perawatan Infeksi Tali Pusat, Perawatan Infeksi Tali Pusat,
Pendidikan Kesehatan tentang Metode Pendidikan Kesehatan tentang
Kanguru, KIE Perawatan Bayi pada Metode Kanguru, KIE Perawatan
Ibu dengan Hepatitis, KIE tentang Bayi pada Ibu dengan Hepatitis,
Ikterus, KIE Tanda Bahaya pada Bayi KIE tentang Ikterus, KIE Tanda
Baru Lahir Bahaya pada Bayi Baru Lahir

Bayi dan Demam, Diare, Masalah telinga, Demam, Diare, Masalah telinga,
balita patologi Status gizi, Anemia, Ikterus Status gizi , Anemia, Ikterus,
Inveksi bakteri, Inveksi bakteri,
Masalah pemberian ASI, Masalah pemberian ASI,
Batuk Batuk

Hasil penelitian ini menurut mahasiswa perlu diperbaiki terutama kualitas kasus
sangat bermanfaat karena melatih pola dan kunci jawaban dari probandus, seting
pikir dan juga tindakan dari mahasiswa. tempat harus benar-benar dilihat karena
Kualitas soal ada beberapa yang masing sesuai dengan kewenangan bidan,
membingungkan, waktu 10 menit sudah instrument penilaian dilihat lagi karena
bias dilakukan walaupun ada beberapa masih belum obyektif, perlu ada prosentase
langkah yang tidak dilakukan secara baik, untuk ceklist penilaian dan skornya tidak
probandus sudah memberikan jawaban hanya 0-2 tapi sampai 3. Waktu yang
yang sesuai dengan kunci namun ada yang dibutuhkan kalau benar-benar semua
belum paham saat di demonstrasi, peralatan langkah dikerjakan harusnya lebih 10
yang digunakan untuk demonstrasi sudah menit. Peralatan sudah sesuai standar,
cukup lengkap. Perlu di kaji dan dilihat lagi demonstrasi masih banyak persepsi yang
untuk instrument terutama data yang di berbeda antar pembimbing. Manfaat dari
pegang probandus dan juga chelist ujian ini meningkatkan cara berfikir kritis
penilaian. Mahasiswa mengeluhkan untuk mahasiswa selain ketrampilan
perbedaan persepsi dosen pengampu dan mereka.
penguji terutama dalam demonstrasi.
Dosen melakukan diskusi mendalam
tentang instrumen ujian masih banyak yang

203
International Conference for Midwives (ICMid)

Penilaian tentang kasus: semua harus dilakukan waktu harus di


“ untuk kasus masih ada yang tambah tidak hanya 10 menit” (RM 1)
membingungkan buk… kluenya tidak “Buk... yang penting itu justru tehnis
jelas…. Tapi itu apakah karena dari pelaksanaan atau KIE to buk.. kalau yang
probandus yang tidak paham saya tidak lain itu hanya melihat sebagai langkah
tahu…” ada juga di matakuliah tertentu saaja to buk... waktu 10 menit cukup kalau
itu klue hampir sama…. Jadi bingung..” hanya melihat tehnisnya (RM 9)
(RM 1) “Masalah waktu... kemarin itu sudah
“ buk... kadang jawaban dari probandus cukup buk untuk 10 menit. Tapi mungkin
itu tidak jelas... kita jadi bingung.....” (RM berbeda kalau yang di persalinan.” (RD 8)
5) “ Memang buk... kalau yang dipersalinan
“ Untuk kasus harus dibuat panduan bu masih kurang untuk prasat seumpama
seperti soal vignett harus ada apa saja... untuk pertolongan sungsang kalau sampai
misalnya umur, usia kehamilan .........sama menilai bayi dan atau IMD.... perlu
klue kasus misal mual muntah lebih 10 memang kita batasi sampai mana untuk
kali. Atau bokong sudah lahir tapi apa kesepakatansehingga waktu 10 menit
yang terlihat lha nanti yang lain bisa jadi cukup” (RD 5)
data subyektif dan obyektif” (RD 1) Penilaian tentang penguji
“iya buk... jadi untuk soal jangan terlalu “ Iyaaaaaa..... untuk penguji banyak yang
panjang tapi yang penting data fokus harus beda buk..... kita jadi bingung..... saat
jelas buk...”(RD 2) diajar praktikum dengan dosen A di uji
Penilaian tentang probandus. dengan dosen B bedaa....... hu...hu...hu...” (
“ Probandus kadang kurang tanggap dan RM 5)
saat ditanya jawababnya kurang jelas.” “Mohon dosen itu bisa disamakan persepsi
Kadang mereka saat demonstrasi tidak buk.... biar kami tidak bingung.” (RM 6)
paham harus bagaimana... posisi “ kami di ajari dosen A seperti ini dan
bagaimana.... “ Saat KIE di sampaikan ke dibilangin pembimbing PA beda lagi....
probandus tidak ada taggapan... hanya beda lagi saat di uji...., makanya kami
diam... kami jadi bingung buk.. kaya mati kadang tanya ke mahasiswa lain
gaya gitu.....he....he...”(RM 13) Probandus bagaimana tehnik untuk prasat ini.... kami
harus memang paham dan tanggap dengan jadi galau buukk....akhirnya kami
kasus yang ada terutama saat demonstrasi. menyesuiakan denngan cara penguji
Karena ada lho buk yang tidak paham mengajarkan.... biar aman.... he...he...” (
dengan kasusnya..” (RD 3) Iya buk... ada RM 22)
lho probandus yang diam saja.... terus saat “ Iay buk... kami mengakui masih banyak
harus demonstrasi alat dan kegiatan apa ketidak sepahaman dalam melakuan
yang harus dilakukan masih bingung... jadi tindakan. Yang paling kelihatan adalah
kita harus ngomongi....”(RD 1)“ saat di dalam persalinan.... persepsi dosen dalam
persalinan itu buk.... malah ada yang melakukan prasat muller saja beda beda
harusnya bahu depan belum lahir yang di bu.... ada yang tangannya begini... begini...
pasang bayinya bahu belakang yang ada yang begini... terus begini.... (sambil
kelihatan... hadheh... kita harus bernajak memperagakan). Perlu sumber yang akurat
dari kursi untuk membenarkan posisi” (RD bu.....( RD 6)
4) Iya... kadang dosen mendapat ilmu dari
Penilaian tentang waktu. jaman mereka kuliah... padhal kadanng
“Waktu sudah cukup buk untuk 10 menit ilmu sudah berkembang... jadi perlu up
dengan langkah perasat tidak dilakukan date ilmu terutama yang praktikum dari
seperti cuci tangan kita hanya mendekat ke SpOG yang bisa dipercaya bu.... atau bisa
watafel tetapi tidak melakukan dan APD seperti usul bu C tadi.... tetapkan buku
hanya sebagain dipakai.... tapi kalau sumber yang bisa dipercaya.... (RD 5)

204
International Conference for Midwives (ICMid)

Manfaat penilaian ujian praktikum Evaluasi praktikum dengan menggunakan


dengan SOCAD: metode SOCAD merupakan metode
“ Metode ujian ini sangat bermanfaat penilaian yang baik dan bermanfaat bagi
buk.... karena melatih pola pikir dan mahasiswa Akademi Kebidanan
menggunakan ilmu kita.... kita harus Yogyakarta , namun untuk instrumen
mengerti ilmunya dan harus bisa membuat ataumetode SOCAD harus dibuat panduan
pelaksanaan dengan baik dan yang jelas karena masih banyaknya
benar....tanpa ada kesalahan. (RM 10) permasalahan yang ada saat pelaksanaan
“Iya...betul buk.... kita jadi harus belajar baik dari segi mahasiswa, probandus dan
dan membaca buku... tidak hanya penguji. Hal ini sesuai dengan kriteria task
menghafal ceklist saja.... dan kita jadi lebih untuk penilaian otentik yaitutugas harus
paham tentang data subyektif dan obyektif bermakna bagi siswa dan guru, disusun
suatu kasus.... sangat kita butuhkan buk.... bersama atau melinatkan siswa, tugas
walau kamu belum begitu paham... menuntut mahasiswa untuk mengemukakan
he..he..” ( RM 25) dan menganalisis informasi dan menarik
Waktu kita baca kasus kita langsung kesimpulan, tugas tersebut mahasiswa
berfikir... ini kasus apa ya.... kan dalam harus mengkomunikasikan dengan jelas
satu bilik di sajika beberapa kasus... lha dan mengerjakan atau melakukan
kadang kami itu terpaku dengan kasus tindakan.8 Penilain sendiri harus benar-
yang sudah ada dari cerita teman-teman benar di rancang bisa menggunakan rubrik
buk.... begitu kasus beda... kita harus yang sudah disusun sedemikian rupa,
langsung berfikir untuk data yang harus walau kenyataan subyektifitas akan muncul
kita tanyakan..... o ya buk... masalah prasat tetapi bisa di kurangi. Selain itu deskriptor
kita memang jadi paham walau ada beda dan kinerja harus jelas standar minimalnya.
persepsi di dosen... asal nilai kita bagus Penilaian ini perlu dibuat pandusn dan
bukkk.... (senyum)” (RM 2) standar yang jelas,mengurangi ketidak
“ kami merasakan manfaat untuk kami pahaman, dan menilai ketrampilan secara
sendiri sebagai dosen yang harus elalu psikomotor. Penilaian ini merupakan salah
membaca dan menngupdate ilmu... dan satu cara penialain yang lebih valid untuk
harus terbuka terhadap inovasi sesuai meminimalkan subyektifitas.9 Penilaian
dengan visi misi Akbdyo.... kalau kita lihat otentik membuat mahasiswa memahami
anak-anak jadi mau tidak mau harus lebih dalam dan bisa mengintegrasikan
membaca buku.... tidak hanya celist..... antara pengetahuan, dan informasi yang
mereka kalau kita lihat dengan model ada sehingga dapat mensistesa dalam
OSCE itu hanya kaya robot.... asal jalan kehidupan selain menilai secara personal
sesuai ceklist selesai.... titik. ( RM 12) dan bermafaat.10,12
Iya bener apa yang di katakan bu Dibandingkan dengan penilaian secara
I....mereka dengan metode OSCE itu hanya tradisional pendekatan dengan assessment
menghafal ceklist.... sementara dengan task memberikan komitmen, inovasi dan
model ini.... mereka harus belajar, kolaburasi sehingga siswa benar-benar
membaca dan bisa berkomunikasi dengan belajar baik pengetahuan dan juga
pasien dan melakukan tindakan sesuai ketrampilan sesuai denngan kontekstual
dengan tugas dan fungsi bidan di tempat yang ada.11
pelayanan yang di seting dalam kasus.
Harapannya saat nanti jadi bidan beneran SIMPULAN
kalau ketemu dengan keluhan dan kasus Penelitian ini sangat membantu bagi siswa
seprti ini bidan bisa mendeteksi dini dan untuk pola pikir dalam deteksi dini patologi
melakukan tindakan atau rujukan dengan dan bertindak berdasarkan standar
tepat. ( RD 3) operasional dan dalam kehidupan nyata.
Penilaian secara otentik dengan metode

205
International Conference for Midwives (ICMid)

SOCAD dapat membuat penialain yang Educational-Objectives-Handbook-


lebih obyektif dan lebih efektif. Cognitive/dp/0582280109/bigdogsbow
Saran: Hal ini dibuat panduan dan lofbis/
sosialisasi bagi seluruh masyarakat di 8. Rustaman Nuryani Y, 2006, Penilaian
SOCAD ujian terutama persepsi dosen otentik (autenthentic assesment) dan
selama ujian terutama instrumen penilaian. penerapan dalam pendidikan sians,
Pasca sarjana UPI
DAFTAR PUSTAKA 9. Hammod, Linda Darling, Jon Snyder,
1. Akademi Kebidanan Yogyakarta, 1998, Authentic assesment of teaching
2012, Buku Panduan Akademik in context, Teaching and teaching
Akademi Kebidanan Yogyakarta, education, 16 (2000) 523-545,
Yogyakarta http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/do
2. Siahaan P, 2013, Evaluasi wnload?doi=10.1.1.511.4676&rep=rep
Pembelajaran,Fisika, FPMIPA , UPI, 1&type=pdf
Jakarta 10. Joy Cumming, 1999, Contextualising
3. Osman, Ridwan Mohamed, authentic assessment, Graduate School
Educational, evaluation and testing, of Education, The University of
Creative Common African Virtual Queensland, Brisbane Asutralia,
university. http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/do
4. Rudiyati Sari, Evaluasi wnload?doi=10.1.1.619.9765&rep=rep
pendidikan,Universitas Negeri 1&type=pdf
Yogyakarta. 11. Gallagher, Mary, 2010, From theory to
5. Syamsu Qamar Badu, Implementasi practice: implementing innovative and
Evaluasi Model KIRKPATRICK, authentic assessment task within pre-
Jurnal Penelitian dan Evaluasi service tacher education courses, ATN
Pendidikan edisi Dies natalis ke 48 assessment conference 2010,
UNY sustainability, diversity and inovation,
6. Norman E.Gronlund , 1985, http://www.iml.uts.edu.au/pdfs/GALL
7. Bloom, B.S. (Ed.). Engelhart, AGHER.pdf
M.D., Furst, E.J., Hill, W.H., 12. Joe Norris, 1995, A quest for a theory
Krathwohl, D.R. nad practice of authentic assessment :
(1956). Taxonomy of Educational an arts-based approach, St Francis
Objectives, Handbook I: The Xavier University,
Cognitive Domain. New York: http://www.learninglandscapes.ca/ima
David McKay Co Inc Taxonomy- ges/documents/ll-no3/jnorris.pdf

206
International Conference for Midwives (ICMid)

DIFFERENCE OF FLOUR ALBUS INCIDENTS BETWEEN THE


ACCEPTOR COMBINED INJECTABLE CONTRACEPTION AND
AKDR

Arkha Rosyaria Badrus


Akademi Kebidanan Surya Sehat Surabaya

ABSTRACT

Combined Injection Contraception contains of 25 mg depomedroxi progesterone


asetat and 5 mg estradiol sipionat which is injected once a month.Astradiolsipionat is
a kind of syntetic estrogen hormone that has been existed on
thevaginalecosystem.Estrogen affects the increase in mucos production and
increase glycogen levels,where glycogen nutrients needed by microorganisms, so
that Anaerobic bacteria can survive in the vagina. In a long time,using of AKDR will
decrease population of laktobasillusbacteria andincrease pathogen bacteria population.
Thus, can make the flour albus happened.This circumstances happened because of the
mechanism of foreign objects may increase mucus production so that the growth of
anaerobic bacterial flora increased and replace the lactobacillus that has a high
concentration as thenormal vaginal flora. The purpose of this researchis to know the
difference of flour albus incidentsbetween the acceptorcombined injectable
contraception and AKDR users SS BPS which located in Polehan , Country of
Malang. The study is designed using analytic Observational, with cross-sectional
approach, has population of 30 people with 28 people sampling, consisting of 18
acceptors combined injectable contraception and 10 AKDR acceptors with purposive
sampling. Research instrument is to examine the vulva vagina peparat.The result
showed that the incidence of flour albus in vaginal area usingthe acceptor combined
injectable KB (abnormal categorized) as much as 77.8% while the AKDR acceptors
(abnormal categorized) as much as 80%. Analysis by Chi-Square with Yates
correction notice, with n = 28, with an error α = 0.05 and dk value = 1, thus results of
X ² <X ² table: 0.1178 <3.84, the Ho accepted means no difference in incidence
between the acceptors ofcombined injection contraceptionand AKDR users in SS BPS
which located in Polehan, Country of Malang.

Keywords: Combined Injection Contraception, AKDR Contraception, Flour Albus

PENDAHULUAN Normalnya, seorang perempuan


Keputihan merupakan salah satu memang mengeluarkan lendir pada
masalah yang cukup berpengaruh organ reproduksinya sebagai
pada wanita. Secara fisiologis pembersih bagian tersebut. Seperti
keputihan adalah suatu hal yang halnya lendir pada bagian organ lain
normal dan tidak mengganggu, tetapi seperti mulut, hidung dan lainnya,
apabila berlebihan dan disertai dengan lendir pada organ reproduksi juga
keluhan lain seperti rasa gatal, dan menjadi penyeimbang suhu tubuh.
rasa nyeri pada saat berhubungan Namun, apabila lendir di vagina
seksual maka keputihan dapat jumlahnya banyak, berwarna putih
mengganggu aktifitas dan seperti susu basi atau kuning
keharmonisan rumah tangga kehijauan, bahkan berbau, baik

207
International Conference for Midwives (ICMid)

disertai gatal atau tidak, maka keadaan akseptor kontrasepsi non hormonal
ini disebut vaginistis (keputihan). yang mengalami efek samping
Penyakit keputihan sangat sering keputihan sebanyak 58 akseptor
dijumpai dan menjadi problem pada (Dinkes Malang, 2010).
wanita, sekitar 75 % wanita di dunia Pada kontrasepsi kombinasi yang
pernah mengalami keputihan satu kali mengandung estrogen sintetik dapat
dalam fase hidupnya, dan sebanyak menyebabkan terhambatnya eksresi
45% mengalami kondisi berulang. ( alami tubuh, maka hal tersebut dapat
Endang, 2009). memicu perubahan pada pH vagina.
Pada saat ini di Indonesia ada Dengan tingkat keasaman normal
kecenderungan peningkatan insidensi (3,8-4,5), loktobasillus akan subur dan
terjadinya keputihan, yang salah bakteri pathogen akan mati. Jika
satunya adalah penggunaan tingkat keasaman lebih rendah yaitu
kontrasepsi yang merupakan factor pH di atas 4,5 atau terlalu basah,
predisposisi yang dapat memicu jamur jamur akan tumbuh berkembang
kandida yang semula asymptomatis sehingga laktobasillus akan kalah.
menjadi aktif berkembang biak Sedangkan tingkat keasamannya lebih
sehingga menyebabkan keputihan. tinggi yaitu pH diatas 3,8 akan terlalu
Bagus IG (1997) melaporkan di asam, laktobasillus akan mati dan
RSUD Medan dijumpai keputihan bakteri pathogen akan tumbuh subur
karena infeksi candida 17 % pada dan menyebabkan terjadinya
akseptor AKDR, 11% pada akseptor keputihan. Ringkasnya, vagina dan
pil serta 9 % pada akseptor KB suntik. organ-organ seksual dipengaruhi oleh
Bimantara DC (2000) melaporkan ada tidaknya alkalinasi, dan atau
bahwakeputihan merupakan keluhan bekteri pelindung. Jamur berkembang
yang paling banyak ditemui pada dengan cepat pada keadaan yang
kelompok pemakai AKDR CuT-380 hangat, basa sehingga kelembaban
A yaitu sebanyak 30%.Sedangkan dapat mengganggu ekologi vagina.
Bagus IG melaporkan penyebab Terlalu banyak gula juga dapat
keputihan yang terbanyak oleh jamur menimbulkan gangguan karena
kandida pada kasus yang berasal dari Candida memerlukan gula untuk
poliklinik Ginekologi 34 %, PKBSR pertumbuhannya.
28% dan poliklinik ibu hamil Pada akseptor kontrasepsi AKDR
sebanyak 65%.( Endang, 2009). keputihan terjadi karena ada benda
Menurut data dinkes Kota Malang asing dalam rahim sehingga
dari bulan Januari- Desember 2010 menyebabkan perubahan kolonisasi
didapatkan peserta baru kontrasepsi jamur dari asimtomatis menjadi
hormonal yaitu mencapai 3.575 simtomatis sehingga meyebabkan
akseptor, dan akseptor kontrasepsi perubahan pH dan menyebabkan
non hormonal yang baru yaitu 882 keputihan.
akseptor, sedangkan peserta Pada penggunaan kontrasepsi baik
kontrasepsi hormonal aktif 50.753 hormonal maupun non hormonal
akseptor dan akseptor kontrasepsi dapat menyebabkan terhambatnya
nonhormonal yang aktif sebanyak ekskresi estrogen alami tubuh, maka
1.381 akseptor. Dan dari data diatas hal tersebut dapat memicu perubahan
akseptor kontrasepsi hormonal pada keseimbangan pH vagina
mengalami efek samping keputihan sehingga menyebabkan keputihan.
sebanyak 50 kasus, Sedangkan Dari permasalahn diatas peneliti

208
International Conference for Midwives (ICMid)

tertarik untuk mengetahui perbedaan dan AKDR di peroleh dengan Vulva


kejadian keputihan antara akseptor Vagina Preparat. Untuk mengetahui
suntik Kombinasi dan AKDR. data akseptor suntik kombinasi dan
Menganalisis perbedaan Kejadian AKDR yang sudah menggunakan
keputihan antara penggunaaan kontrasepsi lebih dari 1 tahun peneliti
kontrasepsi suntik kombinasi dan melihat buku kunjungan Kontrasepsi
AKDR di Bidan, kartu akseptor serta
METODE wawancara. Sedangkan Keputihan
Penelitian ini dilakukan di BPS “SS” diukur dengan pengambilan Vulva
Polehan Kota Malang pada bulan mei Vagina Preparat
– Agustus 2013. Jenis penelitian ini Hubungan antar variabel dianalisis
adalah analitik Observasional dengan dengan menggunakan rumus Chi
pendekatan cross sectional. Populasi Square untuk menentukan X² hitung,
dalam penelitian ini adalah seluruh setelah itu dibandingkan dengan X²
akseptor suntik Kombinasi dan tabel. Uji Hipotesis di lakukan untuk
AKDR yang berkunjung ke BPS SS mengetahui apakah ada perbedaan
pada bulan Mei – juni 2013 berjumlah kejadian keputihan antara akseptor
30 orang akseptor KB AKDR dan suntik kombinasi dan AKDR.
suntik kombinasi. Sampel dalam
penelitian ini terdiri dari 28 akseptor. HASIL PENELITIAN DAN
Tehnik sampling yang digunakan PEMBAHASAN
adalah purposive sampling yaitu Untuk melakukan pengujian hipotesis
dengan mengambil kasus atau diperlukan teknik analisis chi square
responden yang sesuai dengan yang digunakan untuk menjawab
keinginan peneliti dan sesuai dengan rumusan hipotesis pertama dan kedua.
kriteria inklusi. Dalam pengujian hipotesis ini
Penelitian ini akan mengkaji 2 digunakan taraf signifikansi sebesar
variabel yaitu aitu akseptor suntik 0,05 atau 5%. Adapun hasil dari
kombinasi dan AKDR dengan pengujian hipotesis dengan uji chi
kejadian keputihan. Masing- masing Square(X²) tersaji dalam Tabel
variable akseptor suntik kombinasi berikut:
Tabel 1 distribusi frekuensi preparat (VVP) dalam kategori tidak
Keputihan Pada akseptor suntik normal.
kombinasi.
Persentase
Keputihan Frekuensi
(%) Tabel 2 distribusi frekuensi
Normal keputihan pada akseptor AKDR
4 2 2,2
Tidak Persentase
14 77,8 Keputihan Frekuensi
Normal (%)
Total 110 100,0% Normal
2
Tidak 20
8
Tabel 1 memperlihatkan distribusi Normal 80
frekuensi pada akseptor suntik Total 110 100,0%
kombinasi . Ada 4 akseptor (22,2%)
yang hasil pemeriksaan vulva vagina Tabel 2 memperlihatkan distribusi
preparat (VVP) dalam kategori frekuensi pada akseptor AKDR . Ada
normal. Ada 14 akseptor (77,8%) 2 akseptor (20 %) yang hasil
yang hasil pemeriksaan vulva vagina pemeriksaan vulva vagina preparat

209
International Conference for Midwives (ICMid)

(VVP) dalam kategori normal. Ada 8 kombinasi 78,8 % hasil pemeriksaan


akseptor (80%) yang hasil vulva vagina preparat berada dalam
pemeriksaan vulva vagina preparat kategori tidak normal. Sedangkan dari
(VVP) dalam kategori tidak normal. dari 10 akseptor kontrasepsi AKDR 80
% hasil pemeriksaan vulva vagina
Tabel 3 Tabulasi silang antara preparat berada dalam kategori tidak
akseptor KB suntik kombinasi dan normal.
AKDR Berdasarkan hasil analisis
menggunakan uji chi Square(X²) dua
Akseptor VVP sampel dengan memperhatikan Koreksi
Tidak Total
NO. Normal
Normal Yates, dengan n = 28, dengan taraf
kesalahan α = 0,05 dan nilai dk = 1
F % F % F %
maka didapatkan hasil X² hitung < X²
1. Kombinasi 4 22,2 14 78,8 18 100
table : 0,1178 < 3,84 maka Ho diterima
2. AKDR 2 20 8 80 10 100 berarti tidak ada perbedaan kejadian
keputihan antara akseptor kb suntik
Total 6 21,4 22 78,6 28 100 kombinasi dan AKDR
Berdasarkan tabel 4.6, didapatkan
dari 18 akseptor kontrasepsi suntik
usia reproduksi. Hanya saja
DISKUSI penggunaan KB suntik kombinasi
Hasil penelitian menunjukkan 38,9 % dalam jangka waktu lama lebih dari 5
akseptor kontrasepsi suntik kombinasi tahun dapat menyebabkan perubahan
berada dalam rentang usia 30-35 pada system reproduksi termasuk pada
tahun dan 40 % akseptor kontrasepsi vagina, sehingga menyebabkan
AKDRberada dalam rentang usia 30- ketidakseimbangan ekosistem pada
35 tahun. Dengan kata lain rata-rata vagina dan dapat menyebabkan
akseptor kontrasepsi suntik kombinasi terjadinya keputihan, dimana
dan AKDR berada dalam rentang usia keputihan bukan merupakan suatu
reproduktif 30-35 tahun. Pada usia penyakit melainkan gejala dari suatu
reproduksi diperlukan metode penyakit. Oleh karena itu diperlukan
kontrasepsi yang sesuai untuk konseling kepada akseptor kontrasepsi
mengatur, menunda atau mencegah kombinasi untuk berganti metode
kehamilan agar bisa mendukung kontrasepsi secara berkala sehingga
program pemerintah membentuk kejadian keputihan dapat dicegah,
keluarga yang berkualitas. selain itu juga harus ditunjang dari
Kontrasepsi suntik kombinasi dan bagaimana akseptor KB tersebut
AKDR sesuai jika dipakai dalam masa menjaga kebersihan daerah
reproduksi karena tidak kewanitaannya.
mempengaruhi hubungan suami istri Dari data yang didapat, diketahui
dan efek samping kecil. Saifuddin bahwa 77,8 % akseptor kontrasepsi
(2006) menyatakan bahwa suntik kombinasi termasuk dalam
keuntungan kontrasepsi suntik kategori keputihan tidak normal dan
kombinasi dan AKDR adalah sangat 80 % akseptor kontrasepsi AKDR
efektif, aman, tidak mengganggu termasuk dalam kategori tidak normal.
hubungan suami istri dan dapat Akseptor kontrasepsi suntik
dipakai oleh semua perempuan dalam kombinasi ataupun AKDR hampir

210
International Conference for Midwives (ICMid)

sebagian besar mengalami keputihan Hasil penelitian yang diperoleh di


yang tidak normal, padahal rentang BPS Ny. Sumiatun Sudemba
usia masih dalam kategori usia Kecamatan Polehan Kabupaten
produktif yaitu antara 20 tahun sampai Malang mulai tanggal 23 Agustus
dengan 40 tahun serta tingkat 2011 s/d 26 Agustus 20011 dengan
pendidikan yang relative tinggi yaitu jumlah sampel 28 orang yang terdiri
SMA. Hal ini diperkuat oleh teori dari 18 akseptor kontrasepsi suntik
bahwa proporsi perempuan yang kombinasi dan 10 akseptor
mengalami keputihan bervariasi kontrasepsi AKDR yang telah
antara 1- 15 % dan seluruhnya menggunakan kontrasepsi satu tahun
memiliki aktivitas seksual yang aktif, atau lebih, disimpulkan tidak terdapat
tetapi jika merupakan suatu gejala perbedaan kejadian keputihan antara
penyakit dapat terjadi pada semua akseptor KB suntik kombinasi dan
umur. ( Masjoer, 2002) Dalam AKDR. Hal ini dapatdisimpulkan
keadaan yang normal, lingkungan bahwa tidak adanya perbedaan
vagina ditandai dengan adanya kejadian keputihan antara akseptor kb
hubungan yang dinamis antara suntik kombinasi dan AKDR di
Lactobacillus achidopilus dengan sebabkan karena banyak factor yang
flora endogen lain, estrogen, glikogen, mempengaruhi selain penggunaan
Ph vagina dan hasil metabolit lain. Kontrasepsi suntik kombinasi dan
Lactobacillus menghasilkan endogen AKDR. Terdapat factor lain yaitu
peroksida yang toksik terhadap bakteri dimana kejadian keputihan juga
pathogen. Karena aksi dari estrogen dipengaruhi oleh pasangan yaitu
pada epitel vagina, produksi glikogen, suami, misalnya suami berganti- ganti
lactobacillus dan produksi asam laktat pasangan( clayton, 2005) Selain itu
yang menghasilkan Ph vagina yang kegemukan juga memicu timbulnya
rendah sampai 3,8 – 4,5 dan pada keputihan hal ini disebabkan karena
level ini dapat menghambat kegemukan dapat membuat kedua
pertumbuhan bakteri lain. Bila keadan paha tertutup rapat sehingga
vagina berubah, dimana ekosistemnya mengganggu sirkulasi udara dan
terganggu dapat membunuh bakteri meningkatkan kelembaban sekitar
pathogen dan menyebabkan vagina, serta menimbulkan
tumbuhnya bakteri lain yang tidak keputihan.( Army, 2007) penyebab
baik. keputihan lainnya disebabkan oleh
Dari data yang didapat pada kebiasaan kita memelihara kuku
penelitian akseptor kb suntik panjang, bila kuku tersebut tidak
kombinasi terdapat 55,6 % yang dirawat akan menjadi tempat
melakukan kebiasaan cebok dari bersarangnya candida, bila kita garuk
depan ke belakang, dan 70% dari pada kulit vagina, akibat garukan pada
akseptor KB AKDR yang melakukan kulit akan mudah terinfeksi sehingga
kebiasaan cebok dari depan candida yang tertimbun dibawah kuku
kebelakang ,Karena personal hygiene tersebut dapat menular ke vagina pada
vagina yang jelek dapat menyebabkan saat mandi dan cebok.
timbulnya keputihan.Hal ini terjadi Berdasarkan hasil pengujian uji
karena kelembaban vagina yang hipotesis didapatkan tidak ada
meningkat sehingga bakteri pathogen perbedaan antara akseptor kontrasepsi
penyebab infeksi akan mati. suntik kombinasi dan AKDR artinya
antara kedua jenis kontrasepsi tersebut

211
International Conference for Midwives (ICMid)

sama-sama menyebabkan keputihan 9. Hurlock, E.B., (1991). Psikologi


yang tidak normal dan hasil tersebut perkembangan (suatu
berlaku di BPS Ny. SS polehan pendekatan sepanjang rentang
Kabupaten Malang kehidupan).(Ed. 5). Alih bahasa:
Istiwidayanti& Soedjarwo.
DAFTAR PUSATAKA Jakarta: Erlangga.
1. Anna Glasier. 2006. Keluarga 10. Katzung, Bertram. 2008.
Berencana dan keshatan Farmakologi Dasar dan Klinik.
Reproduksi. Jakarta: EGC Jakarta: Salemba Medika
2. Arikunto. 2006. Prosedur 11. Murti, Bhisma. 2003. Prinsip
Penelitian Suatu Pendekatan dan Metode Roset. Edisi Kedua.
Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Yogyakarta :Gadjah Mada
3. Aziz, A. 2007. Metode Universty Press
Penelitian Keperawatan dan 12. Notoatmodjo, Soekidjo. 2003.
Teknik Analisa Data