Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb.
Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadiran Allah SWT. Atas limpahan rahmat
dan karunia-Nya lah sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah ini, yang berjudul “
Perilaku Kelompok Dalam Organisasi” dapat selesai pada waktu yang telah di
tentukan. Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi besr
Muhammad Saw.
Dengan terselesianya makalah ini, tak lupa penulis menyampaikan ucapan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyususnan makalah ini
Penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu
kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca.
Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga saja makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua. Terimakasih

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Teluk Kuantan, Desember 2017


Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………....................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 . Latar Belakang.................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah................................................................................ 1
1.3. Tujuan.................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 . Macam - Macam Bentuk Kelompok................................................... 2
2.2. Dasar - Dasar Daya Tarik Antara Orang Dan Model Daya Tarik........ 6
BAB III. PENUTUP
3.1 . Kesimpulan......................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 14

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kelompok merupakan bagian dari kehidupan manusia. tiap hari manusia akan
terlibat balam kelompok.demikian pula kelompok merupakan bagian dari organisasi.
hampir pada umumnya manusia yang menjadi anggota dari suatu organisasi besar atau
kecil adalah sangat kuat kecendrungannya Untuk mencari keakraban dalam kelompok-
kelompok tertentu.dimulai dari adanya kesamaan tugas pekerjaan yang di lakukan,
kedekatan tempat kerja, seringnya berjumpa, dan barang kali adanya kesamaan
kesemangan bersama, maka timbullah kedekatan satu sama lain.
Manusia berkelompok karena ingin menciptakan hubungan yang lebih dari
sebelumnya, setidaknya ada beberapa hal yang melatar belakangi manusia berklompok
atau beroganisasi, bisa saja karena adanya motivasi yang berbeda dari tiap individu dalam
klompok itu. Kemudian membentuk kelompok-kelompok kecil dalam sebuah organisasi,
dan beberapa hal lainnya.

1.2. Rumusan Masalah


Dalam pembahasan perilaku organisasi akan banyak membahas tentang apa itu
organisasi itu, apa saja ruang lingkup dari perilaku organisasi itu, dan seterusnya. Dalam
kesempatan ini focus pembahasan kami ada pada perilaku kolompok dalam organisasi.
Yang mana perilaku kelompok dalam organisasi ini terbagi dalam lima sub bab, yaitu,
teori pembentukan kelompok, kemudian bentuk-bentuk kelompok, dilan jutkan dengan
dasar-dasar daya tarik antar orang, dan model-model daya tarik antar orang, terakhir ialah
beberapa teori organisasi.

1.3. Tujuan
1. Bagaimana Macam - Macam Bentuk Kelompok
2. Dasar - Dasar Daya Tarik Antara Orang Dan Model Daya Tarik

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Macam - Macam Bentuk Kelompok


1.Kelompok Formal dan Informal
– Kelompok Formal
Ditandai dg peraturan/anggaran dasar dan anggaran rumah tangga dan pembagian tugas
yang jelasEx : Partai Politik, Koperasi
-Kelompok Informal
Tidak didukung oleh peraturan/anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang ada.
Sifatnya berdasarkan kekeluargaan dengan perasaan simpatik. (Ex : Kelp Arisan)
2.Kelompok terbuka dan tertutup
Kelompok terbuka adalah suatu kelompok yang secara tetap mempunyai rasa tanggap
akan perubahan dan pembaharuan
Kelompok tertutup adalah suatu kelompok yang kecil kemungkinannya untuk menerima
perubahan dan pembaharuan atau memiliki kecenderungan untuk tetap menjaga
kestabilan yang telah ada.
3.Kelompok primer Dan Sekunder
– Kelompok Primer
Merp kelompok sosial dimana interaksi sosial terjadi yg anggotanya saling mengenal
dekat & memiiki hubungan yg erat dlm kehidupan (Ex : keluarga, rukun tetangga, kelp
diskusi, kelp agama dll)
– Kelompok sekunder:
Terjadi apabila interaksi sosial dilakukan secara tidak langsung, berjauhan dan sifatnya
kurang kekeluargaan. Hubungan sifatnya lebih objektif.
(Ex : Partai politik, Himpunan serikat pekerja, dll)
Fungsi Kelompok
Fungsi Kelompok dalam organisasi
– Kelompok sasaran untuk mengerjakan tugas yang kompleks dan saling berkaitan dan
sukar dilakukan oleh individu
– Sarana pencetus gagasan baru pemecahan persoalan dengan tujuan cepat dapat

4
menyebarluaskan informasi
– Kelompok dapat menjadi penghubung penting dalam fungsi pekerjaan
– Sebagai mekanisme pemecahan persoalan yang memerlukan informasi dari anggota
kelompok
– Mempermudah pelaksanaan keputusan
– Sebagai wahana sosialisasi
Fungsi Psikologis individu dalam kelompok
– Kelompok merupakan sarana utama untuk memenuhi kebutuhan sebagai anggota
kelompok Ex: Kebutuhn kasih sayang, dukungan
– Kelompok merupakan sarana untuk mengurangi rasa cemas, kurang aman, dan
ketidakberdayaan
– Anggota kelompok merupakan mekanisme pemecahan persoalan dan menjelaskan
tugas
Fungsi yang berhubungan dengan tugas
-Tugas – tugas yang dibebankan kepada kelompok dengan cara bekerjasama,
memecahkan bersama akan dapat menyelesaikan tugas – tugas / persoalan dengan lebih
baik karena adanya dukungan dan bantuan orang lain.

Bentuk-Bentuk Kelompok Sosial


Kelompok sosial adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan
keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok sosial diciptakan oleh anggota
masyarakat. Kelompok sosial juga dapat memengaruhi perilaku para anggotanya.
Berikut ini berbagai macam kelompok atau asosiasi dalam masyarakat:
a. In group-Out group
In group (kelompok dalam) merupakan kelompok sosial yang diantara anggota-
anggotanya saling simpati dan mempunyai perasaan dekat satu dengan lainnya. Misalnya
klik. Sedangkan outgroup (kelompok luar) ialah kelompok yang berada di luar suatu
kelompok yang ditandai oleh adanya antagonisme, prasangka atau antipati. Misalnya
orang-orang kulit hitam di lingkungan orang-orang kulit putih.

5
b. Kelompok Primer dan sekunder
Klasifikasi ini dikemukakan oleh C.H. Colley (1909). Kelompok primer dan
sekunder dibedakan berdasarkan ada tidaknya ciri saling mengenal atau kerjasama yang
erat dan bersifat personal di antara anggota-anggotanya.

c. Gemainschaft dan Gesselschaft


Gemainschaft (paguyuban) adalah suatu bentuk kehidupan bersama yang anggota-
anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni, bersifat alamiah dan kekal.
Hubungan antar-anggota kelompok paguyuban memiliki ciri : (1) intim, (2) privat, dan
(3) eksklusif. Misalnya keluarga.
Menurut Tonnies, ada tiga tipe gemeinschaft, yaitu: (1) gemainschaft by blood,
contohnya keluarga atau kelompok kekerabatan (klen), (2) gemainschaft of place,
misalnya orang-orang se-RT/RW, (3) gemainschaft of mind, yaitu paguyuban yang terdiri
atas orang-orang yang memiliki jiwa atau ideologi yang sama, sehingga meskipun
bertempat kediaman yang saling berjauhan dan tidak memiliki kesamaan keturunan atau
keluarga tetapi tetap memiliki hubungan yang erat, intim, kekal dan dalam. Misalnya:
kelompok keagamaan (umat), sekte, kelompok kebatinan, dan sebagainya.
Sedangkan Gesselschaft (patembayan) adalah suatu bentuk kehidupan bersama
yang didasarkan pada ikatan lahir dan bersifat kontraktual. Contohnya: Sebuah
perusahaan atau organisasi buruh.

d. Kelompok Formal dan Informal


Klasifikasi ini dikemukakan oleh van Doorn dan Lammers (1964). Kelompok
formal merupakan kelompok yang mempunyai peraturan-peraturan yang tegas dan
sengaja diciptakan. Pada kelompok formal terdapat pembatasan yang tegas mengenai
hak-hak, kewajiban, wewenang, dan tanggung jawab anggota-anggota kelompok sesuai
dengan statusnya masing-masing, baik fungsional maupun struktural.
Kelompok informal merupakan kelompok yang dibangun berdasarkan hubungan-
hubungan yang bersifat personal dan tidak ditentukan oleh aturan-atuan yang resmi.

6
e. Kelompok organik dan mekanik
Klasifikasi ini dikemukakan oleh Emmile Durkheim didasarkan pada ada
tidaknya pembagian kerja dalam kelompok. Di dalam kelompok organik terdapat
pembagian kerja yang rinci dan tegas di antara anggota-anggotanya, sedangkan pada
kelompok mekanik tidak terdapat pembagian kerja. Ada tidaknya pembagian kerja ini
menimbulkan pula sifat solidaritas antar-anggota yang berbeda. Pada kelompok organik
terdapat solidaritas organik, dan dalam kelompok mekanik terdapat solidaritas mekanik.

f. Membership dan reference group


Klasifikasi ini dikemukakan oleh Robert K. Merton. Membership Group
merupakan kelompok dengan anggota-anggota yang tercatat secara fisik sebagai anggota.
Sedangkan reference group merupakan kelompok acuan, maksudnya orang menjadikan
kelompok yang bersangkutan sebagai acuan bertindak dan berperilaku, walaupun secara
fisik ia tidak tercatat sebagai anggota.

g. Kelompok-kelompok semu dan tidak teratur


1) Kerumunan
Kerumunan ialah sekumpulan orang yang tidak terorganisir dan bersifat
sementara. Suatu kerumumnan dapat memiliki pemimpin, tetapi tidak memiliki struktur
dan pembagian kerja. Identitas seseorang akan tenggelam apabila berada dalam sebuah
kerumunan.
Tipe-tipe kerumunan antara lain:
a) Khalayak penonton (pendengar formal atau formal audience)
Kerumunan demikian mempunyai perhatian dan tujuan yang sama, misalnya penonton
bioskop, pengunjung khotbah agama, dsb.
b) Kelompok ekspresif yang direncanakan (planned expressive group)
Kerumunan yang terdiri atas orang-orang yang mempunyai tujuan sama tetapi pusat
perhatiannya berbeda-beda, misalnya kerumunan orang-orang yang berpesta.
c) Kumpulan orang yang kurang menyenangkan (inconvinent aggregations)
Dalam kerumunan semacam ini kehadiran orang lain merupakan halangan bagi
seseorang dalam mencapai tujuan. Misalnya: antre tiket, kerumunan penumpang bus, dst.

7
d) Kumpulan orang-orang yang panik (panic crowd)
Panic crowd adalah kerumunan yang terdiri atas orang-orang yang menghindari bencana
atau ancaman, misalnya pengungsi.
e) Kerumunan penonton (spectator crowd)
Spectator crowd adalah kerumunan orang-orang yang ingin melihat sesuatu atau
peristiwa tertentu. Kerumunan semacam ini hampir sama dengan formal audience,
tetapi tidak terencana.
f) Lawless crowd
Yaitu kerumunan orang-orang yang berlawanan dengan hukum, misalnya: acting mobs,
yakni kerumunan orang-orang yang bermaksud mencapai tujuan tertentu dengan
menggunakan kekuatan fisik. Contoh lain: immoral crowd, seperti formal audience,
tetapi bersifat menyimpang.
2) Publik (massa)
Seringkali disebut dengan khalayak umum atau khalayak ramai. Publik semacam
dengan kelompok hanya tidak menjadi kesatuan, hubungan sosial terjadi secara tidak
langsung, melainkan melalui alat-alat komunikasi massa, seperti: media massa cetak,
elektronik, termasuk pembicaraan berantai, desas-desus, dan sebagainya.

2.2. Dasar - Dasar Daya Tarik Antara Orang Dan Model Daya Tarik
Dalam bagian ini menjelaskan alasan mengapa orang tertarik pada orang lain
sehingga terjadi hubungan kelompok.
Dalam hal ini ada beberapa alasan :
1. Kesempatan untuk berinteraksi.
Hal yang membuat manusia tertarik pada orang lain dan kemudian membentuk
satu kelompok adalah kesempatan berinteraksi satu sama lain. Dengan kata lain orang
yang jarang berinteraksi akan sulit untuk saling tertarik. Interaksi timbul karena adanya
daya tarik. Atau daya tarik akan timbul karena adanya interaksi.
Sebuah penelitian membuktikan bahwa lingkungan merupakan salah satu factor
yang dapat menaikkan atau menurunkan kesempatan berinteraksi. Hubungan interaksi
dengan factor lingkungan adalah :

8
a. Hubungan dengan jarak dan fisik
Orang yang tinggal atau bekerja berdekatan mempunyai kesempatan yang lebih
besar dalam berinteraksi. Dengan demikian kesempatan untuk membentuk kelompokn
akan lebih besar dibanding dengan mereka yang tinggal berjauhan.
Seorang peneliti yang meneliti sejumlah kantor ketatausahaan. Hasilnya
membuktikan bahwa jarak sangat mempengaruhi mereka dalam berinteraksi. Karyawan
yang seringkali berinteraksi akan mengembangkan jalinan hubungan karja dan
kesetiaaan.

b. Jarak pisikologi dan arsitektur.


Selain jarak fisik, yang menyebabkan penghalang orang berinteraksi juga adalah
pengaturan letak susunan kerja hasil dari arsitektur. Dengan kata lain pengaturan arsitek
dalam mendesain suatu gedung tempat kerja atau tempat tinggal, memberikan pengaruh
yang cukup besar dalam kesempatan berinteraksi.
Arsitektur dapat menciptakan halangan-halangan atau dorongan-dorongan fisik
atau pisikologi untuk berinteraksi.

2. Status
Status merupakan salah satu daya tarik antarindividu. Ada dua tendensi di bidang
ini. seseorang itu lebih suka berinteraksi dengan orang lain karena adanya kesamaan
status. Dan seseorang itu akan lebih tertarik pada orang yang bersetatus lebih tinggi.
Kecendrungan yang pertama menunjukkan bahwa seseorang yang mempunyai
setatus tinggi lebih menyukai berinteraksi sesamanya. Adapan kecendrungan yang kedua
adalah orang yang dari kelompok status lebih rendah akan lebih ingin untuk berinteraksi
pada orang yang bresetatus lebih tinggi dari dirnya dibanding berinteraksi dengan orang
yang bersetatus sama dengannya.

3. Kesamaan latar belakang


Latar belakang yang sama meruakan salah satu factor penentu dari proses daya
tarik individu untuk berinteraksi sama lain. Kesamaan latar belakang, misalnya usia, jenis

9
kelamin, agama, pendidikan, ras, kebangsaan, dan setatus social. Seseorang akan
memudahkan mereka untuk menemukan daya tarik berineraksi satu sama lain.

4. Kesamaan sikap
Bidang ini merupakan tindak lanjut dari kesamaan latar belakang. Kesamaan yang
didasarkan dari pengalaman itu yang melatarbelakangi membawa orang kearah kesamaan
sikap. dari kesamaan sikap ini kemudian dapat dimengerti bahwa misalnya orang yang
sudah kawin teman bergaulnya juga pada orang yang sudah kawin.
Itulah beberapa dasar daya tarik mengapa seseorang berinteraksi dengan orang
lain. Dalam memahami ini mestinya kita tidak melihat dari satu sisi saja. Misalnya,
seorang yang jarak tinggal atau tempat kerjanya berdekatan tetapi tampaknya hubungan
mereka tidak baik. Untuk hal ini jangan dilihat dari dasar jarak, atau pengaturan
arsitektur, barangkali disebabkan oleh latar belakang yang tidak sama. Demikian
seterusnya.

D. Model daya tarik antar orang


Model adalah perwakilan atau percontohan atas beberapa aspek dari dunia
kenyataan. Ada beberapa model daya tarik orang dalam kaitannya dengan jalinan
hubungan antar manusia. Ada tiga variable untuk menentukan daya tarik sesorang dalam
hubungan kerja, yakni :
a. Hasil (H)
b. Tingkat perbandingan (TP)
c. Alternative (A)
Hasil adalah hadiah (rewards) yang dihubungkan dengan hubungan kerja.
Tingkat perbandingan adalah ukuran baku yang dipergunakan oleh seseorang
untuk menilai kepuasan dengan hubungan kerja.
Alternative adalah tujuan dari perbandingan yang ada. Yang memaksa orang yang
bersangkutan berada dalam pilihan yang harus dipilih untuk kelangsungan hubungan
dalam kelompok mereka.
Alternative dapat dirumuskan sebagai tingkat hasil yang paling rendah yang akan
diterima oleh seseorang.

10
E. Panitia Dalam Organisasi
Adalah tidak lengkap jika tidak membicarakan panitia dalam kaitannya dengan
pembahasan kelompok. Menurut Luthans, setiap membicarakan dinamika kelompok
dalam hubungannya dengan perilaku organisasi maka tidaklah lengkap jika tidak
dibicarakan pola perilaku panitia dalam suatu organissi. Panitia merupakan tipe formal
yang amat penting yang dijumpai sekarang ini dalam kehidupan organisasi. Namun
sebagian pihak acapkali meremehkan dan melemparkan ejekan-ejekan. Namun ejekan
maupun sindiran yang diterima oleh panitia karena cara kerja panitia yang buruk.
a. Sifat Dan Fungsi Panitia
Terdapat banyak pengertian untuk panitia. Salah satu yang umum seperti yang
dikatakan Theo Haimann dan William G. Scott, bahwa panitia adalah suatu kelompok
orang-orang yang mempunyai fungsi kolektif. Sementara Harold Koontz dan Cyrl
O’Donnel mendefinisikan dengan lebih sederhana sebagai suatu kelompok dimana semua
permasalahan dipecahkan bersama sebagai suatu kelompok.
Dari pengertian-pengertian di atas terdapat satu hal prinsipil yang ditekankan,
yaitu adanya suatu kelompok orang yang dibentuk untuk mencapai suatu tujuan tertentu,
dimana dalam kelompok ini dapat dibentuk dalam satu kegiatan formal maupun informal.
Sering dijumpai panitia memiliki tugas-tugas khusus beserta wewenangnya. Beberapa
panitia dibentuk secara khusus dan sementara (ad hoc) untuk memecahkan permasalahan
khusus dan kemudian setelah selesai panitia tersebut bubar atau dibubarkan. Tetapi
adakalanya panitia lebih condong sebagai tim, komisi, dewan, atau kelompok gugus tugas
yang sifatnya panjang usia.
Panitia banyak dijumpai dalam setiap organisasi. Ada ratusan panitia dalam
pemerintahan. Baik di bidang, keagamaan, pendidikan, social, kebudayaan. Demikian
pula ada puluhan bahkan ratusan panitia dalam bidang swasta, organisai perusahaan,
bisnis atau yayasan-yayasan. Dari sekian banyaknya panitia memiliki fungsi yang
bermacam-macam. Mulai dari bidang keuangan, kepegawaian, perlengkapan. Dari setiap
tingkat jenjang organisasi mulai dari pucuk jenjang sampai yang paling bawah terdapat
panitia.

11
Panitia-panitia tersebut menjalankan fungsi yang berbeda. Ada panitia yang
melakukan fungsi pelayanan, penasihatan, koordinasi, pemberi informasi, dan ada yang
berfungsi sebagai pembuat keputusan akhir.
b. Segi Positif Dari Panitia
Sebenarnya bekerja dalam sebuah panitia merupakan keuntungan dari tindakan-
tindakan individu. Karena di dalam panitia ditawarkan suatu hal yang berguna, yakni
adanya usaha bersama dalam dan pertimbangan yang menyatu di antara orang-orang
yang bekerja di dalamnya.
Segi positif lainnya ialah bahwa panitia bisa dipergunakan sebagai sarana untuk
mengurangi konflik dan meningkatkan koordinasidi antara bagian-bagian dalam suatu
organisasi. Selanjutnya panitia dapat memelihara tata hubungan horizontal (mendatar) di
antara beberapa satuan organisasi atau departemen yang sama tingkatannya.
Dalam pandangan kemanusiaan, panitia memiliki nilai positif yitu sebagai sarana
untuk meningkatkan motivasi dan ketertarikan yang dipancarkan dalam partisipasi. Suatu
panitia dapat pula dipergunakan sebagai sarana untuk pengembangan dan pertumbuhan
seseorang.
c. Segi Negatif Dari Panitia
Segi negative dari panitia dapat dijumpai melalui kutipan-kutipan ahli menejemen
klasik. Luther Gulick yang memakai panitia hanya sebatas pada situasi yang tidak
normal, karena menurut pemikirannya, panitia seringkali menunda-nunda pekerjaannya,
kurang bertanggung jawab dan menghambur-hamburkan waktu. Urwick demikian pula,
dan bahkan terlampau tajam kritiknya terhadap cara kerja panitia. Salah satu yang paling
menonjol ialah seringkali tidak bertanggungjawab mengeluarkan banyak biaya dan paling
tepat untuk pegawai-pegawai yang mempunyai kualitas jelek.
Sisi negative lainnya ialah bahwa panitia ialah dibaginya pertanggungjawaban.
Sehingga dengan adanya panitia tersebut maka yang ada adalah panitianya yang terdiri
dari orang-orang dalam sebuah kelompok tetapi tidak ada satupun pertanggungjawaban
perorangan, akibatnya jika terdapat keputusan yang dibuat salah jarang orang-orang
tersebut mau mempertanggung jawabkannya. Dengan kata lain orang-orang itu mencari
perlindungan dibalik panitia terhadap keputusan yang tidak bermutu dan salah. Urwick
mengatakan terhadap panitia yangh demikian itu, bahwa panitia hanyalah sekumpulan

12
orang yang bekerjasama dengan predikat “jiwanya tidak bisa dikutuk dan raganya tidak
pula bisa ditendang”. Artinya bahwa dalam panitia terdapat sekumpulan orang, namun
tidak ada pertanggungjawaban perorangan.
Selain itu kelemahan panitia ialah bahwa keputusan yang dibuat seringkali berdasarkan
kompromi, dengan dominasi perorangan atau kelompok.

F. Beberapa Teori Organisasi


A. Sistem Tertutup (Closed System) dan Sistem Terbuka (open System)
1. System Tertutup (Closed System)
Teori ini termasuk dari kelompok teori organisasi klasik yang terkesan kaku, namun
mempunyai andil besar sebagai masukan bagi lahirnya teori-teori modern. Teori ini
menggambarkan organisasi sebagai suatu mesin yang bekerja dengan suatu keteraturan
dan keajekan tertentu, yang menekankan adanya suatu tingkat produktifitas tertentu,
dengan mencapai suatu taraf efisiensi tertentu dan yang dikendalikan oleh legitimasi
otoritas pimpinan. Oleh sebab itu lewat suatu pembagian kerja, spesialisasi dan hubungan
kerja yang hirarkis, maka usaha untuk mencapai tujuan akan sangat tercapai secara
efisien dan efektif. Dengan demikian pemahaman dari pengguna teori ini menekankan
pada peningkatan efisiensi lewat penggerakan (structuring) dan pengendalian
(controlling) dari partisipan manusia.

2. Sistem Terbuka (Open System)


Kelompok pengguna teori ini melihat organisasi sebagai sebuah organism, yakni
sebagai suatu sistem yang hidup dengan penekanannya kepada unsur-unsur manusia
sebagai pendukung utamanya. Model konsep ini tidak lagi memandang produksi sebagai
satu-satunya yang paling utama dalam organisasi. Hal yang dipandang penting dalam
konseps pradigma organisme ini ialah manusianya yang memiliki keseimbangan dengan
lingkungan (Psychosocial System.

B. Konsep Prespektif (Edgar Huse dan James Bowditch)


1. Prespektif I

13
Inti dari prespektif I sama dengan paham tradisional yang melihat organisasi dari
prespektif rancangan yang berstruktur. Aliran-aliran dalam prespektif ini hanya
memikirkan isu-isu tentang bagaimana seharusnya organisasi disusun, fungsi-fungsi
yang seharusnya dijalankan, siapa-siapa yang seharusnya menjadi pemimpin dan
bawahan.
2. Prespektif II
Teori organisasi dalam kelompok prespektif ini secara pokok memikirkan bagaimana
suatu informasi dapat disampaikan melalui sarana-sarana tertentu. Pemikiran
semacam ini banyak menggunakan pendekatan matematis sebab sangat dekat dengan
penggunaan computer dan simulasi.
3. Prespektif III
Prespektif ini dinamakan prespektif kemanusiaan (The Human Prespective).
Pandangan pemikiran dalam prespektif ini ialah menekankan bahwa unsure manusia
dalam setiap kerja kelompok dirasakan lebih penting daripada sekedar struktur dan
hirarki yang membentang pada setiap jajaran organisasi.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Manusia sebagai mahluk social senantiasa ada keendrungan untuk berinteraksi
dengan sesamanya. Kelompok adalah perwujudan dari kebutuhan manusia untuk
berinteraksi tersebut.

14
Banyak teori yang mengembangkan suatu anggapan mengenai awal mula
terbentuknya kelompok. Mulai dari anggapan adanya kedekatan ruang kerja maupun
tempat tinggal mereka, sampai kepada alasan-alasan praktis seperti ekonomi, keamanan,
dan alasan-alasan social lainya.
Adapun bentuk-bentuk kelompok itu dapat berupa kelompok primer, yaitu
hubungan keakraban, tatap muka dengan tidak melalui prantara. Bentuk lainnya misalnya
formal dan informal, terbuka dan tertutup.
Orang lain tertarik pada orang lain sehingga terjalin hubungan kerja dalam satu
kelompok. Daya tari mempunyai dasar-dasar tertentu. Dasar-dasar daya trik itu terkadang
karena adanya kesempatan, dan berbagai kemungkinan lainnya.
Bentuk kelompok dalam organisasi adalah panitia. Sedangkan Panitia memiliki
sisi positif dan sisi negative.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2007. Psikologi Sosial. Jakarta: PT Rineka Cipta.


Rakhmat, Jalaluddin. 2009. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sugiyo. 2005. Komunikasi Antar Pribadi. Semarang: UNNES Press.
Sugiyo. 2006. Psikologi Sosial. Semarang: UNNES Press.
Toha MIftah; perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, Jakarta, rajagrafindo
persada. 2011.

15
Imam Wahjono Sentot; perilaku organisasi, Yogyakarta, graha ilmu, 2010.

16