Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Syukur Alhamdulillah Penulis
ucapkan dari lubuk hati Penulis kehadirat Allah yang telah memberikan kesempatan untuk
menyelesaikan tugas ini dengan baik. Sholawat serta salam Penulis haturkan kepada Nabi Muhammad
SAW.

Makalah yang berjudul “Transpirasi dan Stomata” ini semoga dapat menambah pengetahuan
bagi para pembaca.

Kami menyadari bahwa yang kami tulis ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Dan oleh
sebab itu, kami sangat mengharapkan adanya masukan dari para pembaca, baik berupa kritikan ataupun
saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini, supaya lebih baik untuk masa yang
akan datang.

Dan terima kasih atas semua bantuan dari semua pihak yang terkait dalam penyusunan ini baik
secara langsung maupun tidak langsung.

Kemudian kepada Allah kami bertaubat dan kepada manusia kami memohon maaf atas kesalahan
dan kekhilafan dalam penulisan makalah ini.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………. .......................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Transpirasi................................................................. 3

B. Faktor Yang Mempengaruhi Transpirasi .................................. 5

C. Mekanisme Kerja Stomata (Membuka dan Menutupnya

Stomata) ........................................................................ 7

D. Mekanisme Transpirasi Melalui Daun ............................. 9

2
E. Pelepasan Panas pada Transpirasi .............................................. 9

F. Fungsi Transpirasi Tumbuhan .................................................... 10

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan .................................................................................. 11

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 12

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Transpirasi merupakan peristiwa keluarnya air dalam bentuk uap melalui permukaan
tumbuhan terutama bagian stomata. Proses transpirasi ini berlangsung selama tumbuhan atau
tanaman masih dapat hidup. Peneliti di Utah State University berhasil menghitung berapa banyak
jumlah air yang hilang melalui transpirasi pada tanaman jagung mulai dari berkecambah sampai
panen. Jumlah air yang hilang melalui transpirasi pada tanaman jagung adalah setara dengan
total 450 mm curah hujan, atau untuk menghasilkan 1 kg air yang hilang melalui transpirasi.
Selama musim panas tahun 1974, John Hanks, seorang ilmuwan tanah di Universitas Negeri
Utah, terus melacak berhati-hati dari jumlah air yang diperlukan untuk tumbuh pada sebuah
tanaman jagung di perguruan tinggi pertanian Greenville. Untuk dewasa tanaman, setara dengan
600 mm air hujan ditambahkan ke lapangan ini menguap dari tanah, tetapi sebagian besar 450
mm melewati sisa tanaman ke atmosfer. Pada tanaman, biasanya merujuk ke air internal yang
hilang melalui stomates, kutikula, atau lentisel. Melanjutkan perhitungannya, Hanks
menunjukkan bahwa 600 kg air yang tertuang oleh tanaman jagung untuk setiap 1 kg jagung
kering (biji-bijian) yang dihasilkan.
Mengapa begitu banyak air yang hilang ke atmosfer melalui tanaman untuk
menghasilkan 1 kg berat kering pada tumbuhan? Hal ini disebabkan karena bahan yang

3
terkandung dalam tanaman sebagian besar adalah senyawa kerangka karbon, di mana karbon
tersebut berasal dari udara dalam bentuk karbondioksida (CO2), tumbuhan menyerap CO2
tersebut melalui stomata. Jika tumbuhan ingin menyerap lebih banyak CO2 maka stomata harus
dibuka lebar. Konsenkuensinya jika stomata membuka lebar maka akan semakin banyak
tumbuhan kehilangan air, karena baik CO2 maupun uap air bergerak melalui stomata yang sama.
Penyebab lainnya yaitu karena pada siang hari tumbuhan menerima radiasi, sebagian dari radiasi
matahari ini akan diserap tumbuhan. Jika serapan energi matahari ini tidak diimbangi dengan
usaha untuk membebaskan energi tersebut, maka suhu tumbuhan akan meningkat. Peningkatan
suhu yang berlebihan akan sangat menganggu metabolisme tumbuhan, transpirasi merupakan
proses yang banyak membutuhkan energi dalam tahap penguapan dari molekul-molekul air.
Sebuah pohon dewasa mungkin akan kehilangan beberapa ratus galon air melalui daun pada
hari yang panas dan kering. Sekitar 90% dari air yang masuk ke akar tanaman ini digunakan
untuk proses ini. Rasio transpirasi adalah rasio massa air tertuang dengan massa bahan kering
yang dihasilkan; rasio transpirasi tanaman cenderung turun antara 200 dan 1000 (yaitu, tanaman
terjadi 200-1000 kg air untuk setiap kg bahan kering dihasilkan).
Secara alamiah tumbuhan mengalami kehilangan air melalui penguapan. Proses
kehilangan air pada tumbuhan ini disebut transpirasi Pada transpirasi, hal yang penting adalah
difusi uap air dari udara yang lembab di dalam daun ke udara kering di luar daun. Kehilangan air
dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air ke dalam daun dari berkas pembuluh
yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan dari tanah ke akar.
Ada banyak langkah dimana perpindahan air dan banyak faktor yang mempengaruhi
pergerakannya.
Sehubungan dengan transpirasi, organ tumbuhan yang paling utama dalam melaksanakan
proses ini adalah daun, karena pada daunlah kita jumpai stomata paling b anyak. Kalau kita
bandingkan transpirasi stomata ini dengan transpirasi melalui sarana lainnya, maka yang melalui
stomata paling banyak dilakukan, oleh karenanya kita fokuskan bahasan kita pada transpirasi
stomata saja. Transpirasi penting bagi tumbuhan, karena berperan dalam hal membantu
meningkatkan laju angkutan air dan garam mineral, mengatur suhu tubuh dengan cara
melepaskan kelebihan panas dari tubuh dan mengatur turgor optimuin di dalam sel.
Berdasarkan uraian di atas maka timbul pertanyaan : Bagaimana proses transpirasi terjadi ?,
faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya ? serta bagaimana cara membuka dan menutupnya

4
stomata?.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Transpirasi
Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan
tumbuhan melalui stomata. Kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian
tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut
sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Transpirasi merupakan bagian
dari siklus air, dan itu adalah hilangnya uap air dari bagian tanaman (mirip dengan berkeringat),
terutama pada daun tetapi juga di batang, bunga dan akar. Permukaan daun yang dihiasi dengan
bukaan yang secara kolektif disebut stomata, dan dalam kebanyakan tanaman mereka lebih
banyak pada sisi bawah dedaunan. Transpirasi juga dapat mendinginkan tanaman dan
memungkinkan aliran massa nutrisi mineral dan air dari akar ke tunas. Aliran massa air dari akar
ke daun disebabkan oleh penurunan hidrostatik (air) tekanan di bagian atas dari tumbuhan karena
difusi air dari stomata ke atmosfer. Air diserap pada akar dengan osmosis, dan semua nutrisi
mineral dilarutkan perjalanan dengan melalui xilem tersebut.
Tingkat transpirasi secara langsung berkaitan dengan partikel penguapan air dari
permukaan tanaman, terutama dari bukaan permukaan, atau stomates, pada daun. Stomata untuk
sebagian besar kehilangan air oleh tanaman, tetapi beberapa penguapan langsung juga terjadi
melalui permukaan sel-sel epidermis daun. Transpirasi pada tumbuhan yang sehat sekalipun

5
tidak dapat dihindarkan dan jika berlebihan akan sangat merugikan karena tumbuhan akan
menjadi layu bahkan mati. Sebagian besar transpirasi berlangsung melalui stomata sedang
melalui kutikula daun dalam jumlah yang lebih sedikit. Transpirasi terjadi pada saat tumbuhan
membuka stomatanya untuk mengambil karbondioksida dari udara. Lebih dari 20% air yang
diambil oleh akar dikeluarkan ke udara sebagai uap air. Sebagian besar uap air yang ditranspirasi
oleh tumbuhan tingkat tinggi berasal dari daun, selain dari batang, bunga dan buah. Manfaat
transpirasi untuk membantu penyerapan mineral dari tanah dan menghilangkan panas pada daun.
Bila laju transpirasi rendah terjadi defisiensi dan sebaliknya bila laju transpirasi tinggi maka
terjadi peningkatan mineral. Umumnya penyerapan mineral dilakukan bersama dengan
penyerapan air, sehingga transpirasi secara tidak langsung membantu transpor air keseluruh
tubuh tanaman.
Untuk membuat makanan, sebuah tumbuhan harus membentangkan daunnya pada
matahari dan mendapatkan CO2 dari udara. Karbon dioksida akan berdifusi ke dalam daun, dan
oksigen yang dihasilkan sebagai hasil sampingan fotosintesis akan berdifusi keluar dari daun
melalui stomata. Stomata menghubungkan ruang udara yang berbentuk sarang lebah, sehingga
CO2 dapat berdifusi ke sel-sel fotosinterik mesofil. Selama daun masih dapat menarik air dari
tanah dengan cukup cepat untuk menggantikan air yang hilang, maka transpirasi tidak akan
menyebabkan masalah. Ketika transpirasi melebihi pengiriman air melaui xilem, seperti ketika
tanah mulai mengering, daun mulai layu karena sel-selnya kehilangan tekanan turgor. Laju
potensial transpirasi yang paling besar adalah saat hari panas terik, kering dan berangin, karena
semua itu merupakan faktor lingkungan yang menigkatkan penguapan air.
Penyerapan air dari dalam tanah ke bagian atas tumbuhan memiliki arti bahwa tanaman tersebut
harus melawan gaya gravitasi bumi yang selalu mengakibatkan benda jatuh ke bawah. Akan
tetapi, tanaman berhasil melakukan hal itu. Kuncinya ialah tanaman-tanaman ini menggunakan
tekanan akar, tenaga kapilari, dan juga tarikan transpirasi. Namun pada tanaman-tanaman yang
sangat tinggi, yang berperan paling penting adalah tarikan transpirasi. Dalam proses ini, ketika
air menguap dari sel mesofil, maka cairan dalam sel mesofil akan menjadi semakin jenuh. Sel-sel
ini akan menarik air melalu osmosis dari sel-sel yang berada lebih dalam di daun. Sel-sel ini
pada akhirnya akan menarik air yang diperlukan dari jaringan xilem yang merupakan kolom
berkelanjutan dari akar ke daun. Oleh karena itu, air kemudian dapat terus dibawa dari akar ke
daun melawan arah gaya gravitasi, sehingga proses ini terus menerus berlanjut. Proses

6
penguapan air dari sel mesofil daun biasa kita sebut dengan proses transpirasi. Oleh itu,
pengambilan air dengan cara ini biasa kita sebut dengan proses tarikan transpirasi dan selama
akar terus menerus menyerap air dari dalam tanah dan transpirasi terus terjadi, air akan terus
dapat diangkut ke bagian atas sebuah tanaman.
Proses transpirasi ini selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi,
juga dapat mendinginkan tanaman yang terus menerus berada di bawah sinar matahari. Mereka
tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari karena melalui proses
transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu tanaman.
Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus mendapatkan air yang cukup
untuk melakukan fotosintesis agar keberlangsungan hidup tanaman dapat terus terjamin. Struktur
anatomi daun memungkinkan penurunan jumlah difusi dengan menstabilkan lapis pembatas tebal
relatif. Misalnya rapatnya jumlah trikoma pada permukaan daun cenderung meyebabkan lapisan
pembatas udara yang reltif tidak bergerak. Stomata yang tersembunyi menekan permukaan daun
sehingga stomata membuka. Udara memiliki efek penting dalam penjenuhan jumlah udara.
Udara hangat membaewa lebih banyak air dari pada udara dingin. Oleh karena itu, pada saat
panan volume udara akan memberikan sedikit uapa air dengan kelembaban relatif yang lebih
rendah daripada saat dingin. Untuk alasan ini, tumbuhan cenderung kehilangan air lebih cepat
pada udara hangat dari pada udara dingin. Hilangnya uap air dari ruang interseluler daun
menurunkan kelembaban relatif pada ruang tersebut. Air yang menguap dari daun (stomata) ini
menimbulkan kekuatan kapiler yang menarik air dari daerah yang berdekatan dalam daun.

B. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Transpirasi


Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi adalah : faktor-faktor internal yang
mempengaruhi mekanisme buka-tutup stomata, kelembaban udara sekitar tanaman, suhu udara
dan suhu daun tanaman. Angin dapat juga mempengaruhi laju transpirasi. Angin dapat memacu
laju transpirasi jika udara yang bergerak melewati permukaan daun tersebut lebih kering dari
udara disekitar tumbuhan tersebut.
Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi laju transpirasi
1. Cahaya
Laju transpirasi tanaman lebih cepat terjadi di tempat yang terang yang terkena cahaya
matahari. Hal ini terutama karena cahaya merangsang pembukaan stomata pada siang

7
hari,sehingga transpirasi bisa berjalan dengan lancar. Cahaya juga mempercepat transpirasi oleh
pemanasan daun.
2. Suhu
Suhu tumbuhan pada umumnya tidak berbeda banyak dengan lingkungannya. Kenaikan suhu
udara akan mempengaruhi kelembaban relatifnya. Meningkatnya suhu pada siang hari, biasanya
menyebabkan kelembaban relatif udara menjadi makin rendah, sehingga akan menyebabkan
perbedaan tekanan uap air dalam rongga daun dengan di udara menjadi semakin besar dan laju
transpirasi meningkat. Tanaman terjadi lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi karena air
menguap lebih cepat karena suhu meningkat. Pada 30 ° C, daun mungkin terjadi tiga kali lebih
cepat seperti halnya pada 20 ° C.

3. Kelembaban
kelembaban udara sangat berpengaruh terhadap laju transpirasi. Kelembaban menunjukkan
banyak sedikitnya uap air di udara, yang biasanya dinyatakan dengan kelembaban relatif. Makin
besar tekanan uap air di udara, maka akan semakin lambat laju transpirasi. Sebaliknya apabila
sedikit tekanan uap air di udara maka maka laju transpirasinya akan semakin cepat. Tingkat
difusi meningkat setiap substansi sebagai perbedaan dalam konsentrasi zat di dua daerah
increases. Ketika udara sekitarnya kering, difusi air dari daun berlangsung lebih cepat.
4. Angin
Angin adalah suatu perpindahan masa udara dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam
perpindahan masa udara ini, angin akan membawa masa uap air yang berada di sekitar
tumbuhan, sehingga dapat menurunkan tekanan uap air disekitar daun dan dapat mengakibatkan
meningkatnya laju transpirasi. Apabila angin bertiup terlalu kencang, dapat mengakibatkan
keluaran uap air melebihi kemampuan daun untuk menggantuinya dengan air yang berasal dari
tanah, sehingga lama kelamaan daun akan mengalami kekurangan air.
Ketika tidak ada angin, udara sekitar daun menjadi semakin lembab sehingga mengurangi laju
transpirasi. Ketika angin hadir, udara lembab dibawa pergi dan digantikan oleh udara kering.
5. Keadaan Air Tanah laju transpirasi sangat bergantung pada ketersediaan air di dalam tanah,
karena setiap air yang hilang dalam proses transpirasi harus dapat segera diganti kembali, yang
pada dasarnya berasal dari dalam tanah. Berkurangnya air di dalam tanah akan menyebabkan
berkurangnya pengaliran air ke daun dan hal ini akan menghambat laju transpirasi. Tanaman

8
tidak bisa terus terjadi cepat jika kehilangan air yang tidak dibuat oleh pengganti dari tanah. Bila
penyerapan air oleh akar gagal mengikuti laju transpirasi, kehilangan turgor terjadi, dan tutup
stomata. Ini segera mengurangi laju transpirasi (serta fotosintesis). Jika hilangnya turgor meluas
ke seluruh daun dan batang, layu tanaman.
Ketika tanaman berada di dalam kondisi gelap ataupun malam hari, maka laju transpirasi
akan berkurang dibandingkan apabila tanaman terpapar cahaya. Hal tersebut dapat terjadi karena
pembukaan stomata distimulasi oleh cahaya, dan kemudian cahaya menghangatkan daun yang
dapat memicu proses transpirasi untuk meningkat. Begitupun dengan perubahan temperature,
semakin tinggi temperature maka transpirasi akan semakin besar. Ketika temperatur naik sebesar
10°C, transpirasi akan meningkat sebesar tiga kali transpirasi semula. Konsentrasi uap air di
udara juga memicu terjadinya transpirasi. Apabila terdapat perbedaan konsentrasi uap air yang
cukup signifikan dalam hal ini udara luar lebih kering, maka uap air tersebut akan berdifusi dari
stomata daun menuju ke udara sekitar yang memiliki konsentrasi uap air relatif rendah. Hal
sebaliknya dapat berlangsung apabila konsentrasi uap air lebih tinggi pada udara bebas.
Tanaman gurun banyak jenis khusus fotosintesis, disebut crassulacean metabolisme asam atau
fotosintesis CAM yang stomata tertutup pada siang hari dan terbuka pada malam hari ketika
transpirasi akan lebih rendah.Transpirasi ini berlangsung selama fotosintesis terjadi, yaitu
sewaktu stomata daun membuka untuk pertukaran gas antara karbon dioksida dan oksigen.
Transpirasi merupakan proses yang penting, serta merupakan tenaga penggerak yang mendorong
naiknya air dan bahan mineral lainnya dari akar menuju daun. Naiknya material-material tersebut
berkorelasi untuk melaksanakan biosintesis dalam rangka menyuplai fotosintesis, dan
mendinginkan daun.
Udara yang berada disekitar daun akan meningkat kelembapannya apabila tidak ada
angin yang berhembus, hal tersebut menyebabkan penurunan laju transpirasi. Ketika angin
berhembus, udara lembap akan bergeser dan digantikan oleh udara yang lebih kering. Kelima,
jika kehilangan air melalui transpirasi tidak dapat segera digantikan oleh ketersediaan air di
dalam tanah, maka dapat dipastikan tumbuhan akan mengurangi laju transpirasinya. Sewaktu
akar tumbuhan menyerap air dari tanah dan gagal untuk memenuhi kebutuhan transpirasi yang
cenderung cepat, stomata kemudian akan menutup karena sel penjaga kehilangan tekanan turgor.
Tanaman dapat mengalami kelayuan apabila tekanan turgor yang berkurang tersebut terjadi
dalam jangka waktu yang cukup lama. Perbedaan tipe taanaman memegang peranan penting

9
dalam cepatnya laju transpirasi. Setiap jenis tanaman memiliki tipe maupun jumlah stomata yang
berbeda untuk setiap luasan daun. Selain itu, lingkungan hidup juga berpengaruh. Tanaman
xerofit akan lebih memiliki laju transpirasi yang lebih kecil, dibandingkan dengan tumbuhan
dengan habitat air.

C. Mekanisme Kerja Stomata (Membuka dan Menutupnya Stomata)


Masing-masing stomata diapit oleh sepasang sel penjaga, yang berbentuk seperti ginjal
pada tumbuhan dikotil dan berbentuk seperti halter pada tumbuhan monokotil. Stomata akan
membuka jika tekanan turgor kedua sel penjaga meningkat dan akan menutup apabila tekanan
turgornya rendah. Peningkatan tekanan turgor sel penjaga disebabkan oleh masuknya air ke
dalam sel penjaga tersebut. Pada saat turgor sel penutup tinggi, maka dinding sel penutup yang
berhadapan pada celah stomata akan tertarik kebelakang, sehingga celah menjadi terbuka.
Naiknya turgor ini disebabkan adanya air yang mengalir dari sel tetangga masuk ke sel penutup,
sehingga sel tetangga mengalami kekurangan air dan selnya sedikit mengkerut dan akan menarik
sel penutup kebelakang. Sebaliknya pada waktu tekanan turgor turun, yang disebabkan oleh
kembalinya air dari sel penutup ke sel tetangganya, sel tetangga akan mengembang dan
mendorong sel penutup ke depan sehingga akhirnya stoma tertutup.
Seorang ahli fisiologi yang berasal dari Jepang yang bernama M. Fujiono menyatakan
bahwa sel penutup stomata yang sedang terbuka dalam cahaya, mengandung banyak ion K+
dalam konsentrasi yang tinggibdibanding dengan stomata yang tertutup dalam gelap. Pada saat
stomata membuka akan terjadi akumulasi ion kalium (K+) pada sel penjaga. Ion kalium ini
berasal dari sel tetangganya. Korelasi positif antara peningkatan konsentrasi ion kalium dengan
pembukaan stomata secara konsisten ditemukan pada semua spesies yang telah diteliti. Untuk
menjaga netralitas muatan listrik, maka masuknya ion kalium harus dibarengi dengan masuknya
suatu anion. Asam-asam organik disintesis dalam sel penjaga sebagai tanggapan terhadap faktor-
faktor yang menyebabkan stomata membuka. Asam organik yang disintesis umumnya adalah
asam malat.
Perubahan tekanan turgor yang menyebabkan pembukaan dan penutupan stomata
terutama disebabkan oleh pengambilan dan kehilangan ion kalium (K+) secara reversibel oleh
penjaga. Stomata membuka ketika sel-sel penjaga secara aktif mengakumulasi K+ dari sel-sel
epidermal di sekitarnya. Pengambilan zat terlarut ini menyebabkan potensial air di dalam sel

10
penjaga menjadi lebih negatif. Kondisi ini memungkinkan air mengalir ke dalam sel secara
osmosis sehingga sel menjadi membengkak. Sebagian besar K+ dan air disimpan di dalam
vakuola, dengan demikian tonoplas juga memainkan peranan penting. Penigkatan muatan positif
sel akibat masuknya K+ diturunkan dengan pengambilan ion klorida (Cl-) melalui pemompaan
ion hidrogen yang dibebaskan pada saat asam organik keluar dari sel, serta melalui muatan
negatif asam oranik setelah kehilangan ion hidrogennya. Penutupan stomata disebabkan oleh
keluarnya K+ dari sel penjaga, yang menyebabkan kehilangan air secara osmotik.
Jumlah air yang dilepaskan juga mempengaruhi laju transpirasi tergantung seberapa banyak air
pada akar tanaman yang telah diserap, dan hal ini juga tergantung pada kondisi lingkungan
seperti sinar matahari, kelembaban, angin dan suhu. Sebuah tanaman tidak boleh dicangkokkan
di bawah sinar matahari penuh karena mungkin kehilangan air terlalu banyak dan layu sebelum
akar rusak dapat pasokan air yang cukup. Perubahan pemanasan dari air menjadi uap. Dan
kemudian keluar melalui stomata. Transpirasi membantu mendinginkan dalam daun karena uap
keluar telah menyerap panas, derajat pembukaan stomata dan permintaan menguapkan suasana
sekitar daun. Jumlah air yang hilang oleh tanaman tergantung pada ukuran, bersama dengan
sekitar intensitas cahaya, suhu, kelembaban, dan kecepatan angin (semua yang mempengaruhi
permintaan menguapkan). Tanah air bersih dan suhu tanah dapat mempengaruhi pembukaan
stomata, dan dengan demikian tingkat transpirasi.

D. Mekanisme Transpirasi Melalui Daun


Mekanisme transpirasi akan mudah dipahami kalau kita mengenal juga anatomi daun
tumbuhan. Transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel sel mesofil ke rongga antar sel
yang ada dalam daun. Dalam hal ini rongga antar sel jaringan bunga karang merupakan rongga
yang besar, sehingga dapat menampung uap air dalam jumlah banyak. Penguapan air ke rongga
antar sel akan terus berlangsung selama rongga antar sel belum jenuh dengan uap air.
Sel-sel yang menguapkan airnya kerongga antar sel, tentu akan mengalami kekurangan air
sehingga potensial airnya menurun. Kekurangan ini akan diisi oleh air yang berasal dari xilem
tulang daun, yang selanjutnya tulang daun akan menerima air dari batang dan batang menerima
dari akar dan seterusnya. Uap air yang terkumpul dalam ronga antara sel akan tetap berada dalam
rongga antar sel tersebut, selama stomata pada epidermis daun tidak membuka. Aapabila stomata
membuka, maka akan ada penghubung antara rongga antar sel dengan atmosfer kalau tekanan

11
uap air di atmosfer lebih rendah dari rongga antar sel maka uap air dari rongga antar sel akan
keluar ke atmosfer dan prosesnya disebut transpirasi. Jadi syarat utama untuk berlangsungnya
transpirasi adalah adanya penguapan air didalam daun dan terbukanya stomata.

E. Pelepasan Panas pada Transpirasi


Daun yang terdedah pada radiasi matahari, akan menyerap sejumlah besar energi radiasi
tersebut, yang selanjutnya dengan suatu cara akan dilepaskan kembali ke lingkungannya.
Apabila energi ini tidak dilepaskan kembali ke lingkungannya, maka energi tersebut akan diubah
menjadi energi panas dan menaikkan suhu daun. Karena transpirasi merupakan proses yang
mengkonsumsi energi, seringkali dianggap bahwa penguapan air dalam transpirasi ini
merupakan pelepasan panas yang diserap oleh daun tersebut. Beberapa faktor yang
mempengaruhi proses pemindahan panas pada tumbuhan yaitu radiasi neto positif dan negatif
(radiasi neto negatif jika daun meradiasikan lebih banyak energi ke lingkungannya, dan radiasi
positif jika daun menerima atau menyerap lebih banyak energi dari lingkungannya), konveksi
negatif dan konveksi positif (konveksi negatif jika panas pindah dari daun ke udara, dan
konveksi positif jika panas pindah dari udara ke daun), kadar konsumsi panas negatif dan positif
(kadar konsumsi panas negatif jika air diuapkan dari daun, dan kadar konsumsi panas positif jika
air mengembun pada permukaan daun), penyimpanan negatif dan positif (penyimpanan negatif
jika suhu daun turun dan penyimpanan positif jika suhu daun naik), dan metabolisme seperti
fotosintesis atau respirasi.

F. Fungsi Transpirasi Tumbuhan


Beberapa jenis tumbuhan dapat hidup tanpa melakukan respirasi, tetapi jika transpirasi
berlangsung pada tumbuhan akan memberikan beberapa keuntungan bagi tumbuhan tersebut
yaitu : mempercepat laju pengangkutan unsur hara melalui pembulih xilem, menjaga turgiditas
sel tumbuhan agar tetap pada kondisi optimal, dan sebagai salah satu cara untuk menjaga
stabilitas suhu daun. pengangkutan unsur hara tetap dapat berlangsung jika transpirasi tidak
terjadi. Akan tetapi, laju pengangkutan terbukti akan berlangsung lebih cepat jika transpirasi
berlangsung secara optimum. Transpirasi jelas merupakan suatu proses pendinginan, pada siang
hari radiasi matahari yang diserap daun akan meningkatkan suhu daun. Jika transpirasi
berlangsung maka peningkatan suhu daun ini dapat dihindari. Transpirasi itu suatu akibat yang

12
tidak dapat dielakkan. Luasnya permukaan daun yang ada di udara itu suatu kondisi yang
menyebabkan penguapan harus terjadi. Pada tanaman, transpirasi itu pada hakikatnya suatu
penguapan air baru yang membawa garam-garam mineral dari tanah. Transpirasi juga
bermanfaat di dalam hubungan penggunaan sinar matahari. Kenaikan temperatur yang
membahayakan dapat dicegah karena sebagian dari sinar matahari yang memancar itu digunakan
untuk penguapan air.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah Semakin tinggi suhu maka
transpirasi akan semakin cepat, akan tetapi oleh permukaan tanaman yang ditutup dengan
menggunakan plastik, sehingga cahaya matahari dan faktor lainnya tidak masuk secara langsung
pada permukaan tanah, hanya saja suhunya meningkat karena ditutupi oleh plastik sehingga uap
air terperangkap di dalamnya.
Apabila semakin besar tekanan dalam air maka udara yang terdapat permukaan yang
ditutupi plastik tersebut sedikit, hal itu berarti air yang diserap oleh tumbuhan untuk melakukan
transpirasi sedikit, sedangkan semakin kecil tekanan air itu berarti udara yang terdapat pada
permukaan tanah yang di tutupi plastik tersebut banyak itu, hal itu berarti air yang diserap
tanaman untuk transpirasi banyak. Sehingga dari data yang diperoleh laju transpirasi yang paling
tinggi adalah pada tumbuhan yang dikenai sinar matahari, kemudian tumbuhan yang dikenai
angin lalu yang terakhir pada tumbuhan yang berada pada suhu 28oC dan tidak dikenai
pengaruah apapun.

13
DAFTAR PUSTAKA

Dartius. 1991. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. USU-Press. Medan.


Dwijoseputro, D. 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.
Filter, A. H. dan R. K. M. Hay. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. UGM Press. Yogyakarta.
Guritno, B. dan Sitompul, S. M. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman.UGM Press. Yogyakarta.
Heddy, S. 1990. Biologi Pertanian. Rajawali Press. Jakarta.
Lakitan, B. 2007. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Salisbury, dan Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press. Bandung.
Sitompul, S. M. dan Guritno. B. 1995. Pertumbuhan Tanaman. UGM Press. Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, H.S. 1998. Botani Umum. UGM Press. Yogyakarta.
Wilkins, M. B. 1989. Fisologi Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta.

14