Anda di halaman 1dari 3

Wood Turpentine

Bahan baku pembuatan wood turpentine adalah kayu pinus yang telah dicacah yang kemudian
diekstraksi dan dilakukan destilasi. Turpentine yang telah disuling digunakan sebagai pelarut
untuk resin, pernis dan cat berbasis minyak, dan di dalam pembuatan p-cymene, isoprena,
polimer terpena dan parfum untuk sabun dan kosmetik.
FLOWSHEET PEMBUATAN WOOD TURPENTINE

Pemotongan kayu pinus


menjadi serpihan

Ekstraksi turpentine dari


serpihan kayu pinus menjadi Proses
Crude Sulphate Turpentine batch/kontinu
(CST)

Pemisahan dengan
Black liquor (limbah) turpentine
menggunakan cyclone

P = 0.0657895 atm
Destilasi Crude Sulphate
T = 150°C
Turpentine (CST)
96 % α-pinene, 3% β-pinene, t = 20-24 jam
dan 1% camphene
Hidrolisis produk CST T = 70°C
menggunaan Asam Phospat
Encer t = 3 jam

Destilasi minyak mentah pinus P = vacuum

Turpentine pine Oil 90%

- Deskripsi proses
a. Ekstraksi turpentine dari serpihan kayu pinus menjadi Crude Sulphate Turpentine
(CST)
Serpihan kayu 'dimasak' dalam proses batch atau kontinu, dan metode ekstraksi
turpentine berbeda tergantung metode yang digunakan. Dalam proses batch
turpentin diperoleh dengan venting digester dan kemudian memisahkan serat dan
cairan hitam dari air dan turpentin dalam cyclone separator. Dalam proses
kontinyu turpentine yang diperoleh, meski prosesnya masih layak secara
ekonomi, dan kali ini air dan uap turpentin diperoleh dengan menghilangkan
cairan hitam sebanyak 2 kali. Campuran uap kemudian disalurkan ke kondensor
dan kemudian ke tangki pemisah, dimana dengan densitas yang lebih ringan dan
terpentin terpisah karena perbedaan densitasnya. Cairan yang lebih encer
disalurkan, dan CST aliran atas juga disalurkan ke tangki penyimpanan. Karena
Efek korosif CST, tangki perpipaan dan penyimpanan terbuat dari baja ringan, dan
lainnya. Hasil CST sekitar 12 L per ton pulp kering udara, dan sekitar 1500 ton
b. Destilasi Crude Sulphate Turpentine (CST)
Crude Sulphate Turpentine tadi yang telah didapatkan kemudian didestilasi
kembali pada tekanan 0.0657895 atm (vacuum) dengan suhu hingga 150ᵒC
didestilasi selama 20 hingga 24 jam. Hasil pemisahan didapatkan α-pinene dan β-
pinene. α-pinene digunakan untuk proses tahap selanjutnya sedangkan β-pinene
diekspor menggunakan kapal curah.
c. Produksi Crude Pine Oil
α-pinene yang didapatkan dari CST distillation memiliki komposisi 96% α-
pinene, 3% β-pinene dan 1% camphene. Untuk memisahkan 96% α-pinene dari
kedua komponen itu menggunakan metode hidrolisis menggunakan asam phospat
encer pada suhu 70ᵒC selama 3 jam.
d. Destilasi Crude Pine Oil
Proses destilasi Crude Pine Oil ini berlangsung pada kondisi vacuum dan
memproduksi 3 potongan dan 1 residu. Potongan yang pertama adalah pinene
yang tidak bereaksi, potonga kedua adalah dipenetene dan pada potongan ketiga
adalah 90% Pine Oil. Terpin dan bentuk hidrat lainnya dihasilkan sebagai residu
yang secara berkala habis dari unit destilasi.
- Pengolahan Limbah Black Liquor
Proses pengolahan limbah black liquor dengan recovery boiler menempuh beberapa
tahapan. Pertama, black liquor yang telah dievaporasi akan disemprotkan masuk ke
recovery unit. Di dalam recovery unit, black liquor akan terpapar oleh gas panas
sehingga mengalami beberapa kejadian. Kejadian itu antara lain, pengeringan
(drying), pirolisis (pyrolysis), dan char conversion.
Jadi, mula-mula partikel black liquor mengalami pengeringan yang cepat hingga
melepas uap air. Uap air (steam) ini bisa digunakan untuk menggerakan turbin
pembangkit listrik tenaga uap. Kemudian partikel black liquor masuk ke tahapan
pirolisis dimana terjadi degradasi senyawa organik volatil hingga melepas gas-gas
tertentu. Biasanya gas yang dihasilkan berupa H2, CO, CH4, CO2, H2O, dan gas TRS
(Total Reduced Sulphur). Hasil dari proses pirolisis ini berupa partikel char yang
mengandung 25% senyawa organic non-volatil dan 75% garam anorganik. Tahapan
yang terakhir adalah char conversion yang bertujuan untuk mengubah seluruh
senyawa organik yang tersisa menjadi gas karbon dioksida ataupun karbon
monoksida. Setelah tahapan ini, partikel yang tersisa hanya tersusun atas Na2S dan
Na2CO3. Seluruh proses di atas terjadi dalam waktu yang cepat dalam recovery boiler.
Sisa garam anorganik (smelt) yang mengendap di bagian bawah recovery boiler akan
diubah kembali menjadi larutan pemasak yang digunakan pada proses pulping.
Caranya adalah dengan mencampur smelt dalam air, kemudian dikaustisasikan hingga
menjadi larutan pemasak kembali (white liquor). Jadi, secara keseluruhan diagram
proses recovery boiler adalah sebagai berikut.

Dari gambar di atas ditunjukkan mulai dari proses pulping dengan menggunakan
larutan pemasak white liquor hingga menghasilkan pulp dan limbah black liquor
konsentrasi lemah. Sebelum memasuki recovery boiler, black liquor lemah
dievaporasi sehingga konsentrasinya meningkat. Selanjutnya, black liquor konsentrasi
tinggi disemprotkan ke recovery boiler hingga tersisa smelt di dasar recovery boiler.
Smelt ini dicampur air menjadi green liquor lalu dikaustisasikan menjadi white liquor
yang dapat digunakan kembali pada proses pulping.