Anda di halaman 1dari 18

Emisi GRK di Sektor Persampahan

Dr. Elanda Fikri, S.KM., M.Kes.


Pendahuluan
 Emisi GRK per sektor (world resources institute) :
1) Sektor pertanian : 3.290,5 MtCO₂e (51,4%)
2) Sektor pertambangan : 1.533,2 MtCO₂e (24,2%)
3) Sektor Persampahan : 1.307,2 MtCO₂e (20,4%)
 Volume sampah yg terus meningkat karena pertumbuhan
penduduk dan peningkatan pola konsumsi.
 Jenis gas rumah kaca (GRK), dan dianggap dominan
inventarisasi GRK nasional adalah CO₂, CH₄, dan N₂O.
 Tahap pertama adalah menentukan data awal dan mengganti
data default yang ada dengan data yang dimiliki.
 Data default IPCC yang diberikan antara lain terkait dengan
timbulan sampah, yaitu 0,7 kg/orang/hari untuk Asia Tenggara
dan 0,76 kg/orang/hari untuk Indonesia.
Kategori emisi GRK di sektor persampahan
1. Pembuangan limbah padat (solid waste disposal); Kegiatan ini
mencakup pembuangan sampah ke TPA kota (managed disposal
site) maupun penimbunan sampah di tanah/lahan kosong
(unmanaged disposal site).
2. Pengolahan limbah padat secara biologis; Kegiatan ini mencakup
pengomposan baik secara aerob (dengan kehadiran oksigen)
maupun anaerob (tanpa kehadiran oksigen).
3. Pengolahan limbah dengan teknologi termal; Kegiatan ini
mencakup insinerasi dan pembakaran di lahan terbuka (open
burning)
4. Pengolahan air limbah (wastewater treatment and discharge);
Kegiatan ini mencakup pengolahan lumpur dari IPAL domestik
maupun industri
Identifikasi Kontribusi Emisi
 Cara: Kuesioner, pengumpulan data sekunder dan
observasi lapangan.
 Didapati bahwa kontribusi emisi GRK berasal dari TPA,
pengomposan, dan pembakaran sampah.
 Dimana TPA menjadi penanganan utama dalam menangani
masalah persampahan di Kota.
 Ex: Kota Pekalongan, yaitu rata-rata timbulan sampah yang
masuk ke TPA Degayu adalah sebesar 99,18 ton/hari atau
36.200 ton/tahun.
Prediksi Emisi GRK sektor persampahan
 Proses penghitungan emisi CH4 dilakukan dengan IPCC
waste model calculation diawali dengan menghitung total
sampah terurai yang ditimbun di T.A
 Sedangkan potensi bangkitan gas Metan dari sampah yang
ditimbun di TPA dapat dihitung dengan persamaan sebagai
berikut:
Penjelasan
 Total sampah terurai yang ditimbun di TPA
(simbol DDOCm )
Jumlah sampah organik yang akan mengalami dekomposisi pada kondisi anaerob di TPA.
Umumnya jumlah sampah terurai yang tertimbun di TPA dinyatakan dalam satuan Gigagram
(Gg).
 Total sampah yang ditimbun di TPA (simbol W)
Diperlukan pengukuran terhadap truk sampah yang masuk ke TPA jembatan timbang.
 Fraksi sampah mudah terurai (simbol DOC )
fraksi senyawa karbon organik yang terdapat di dalam sampah dapat terurai secara biokimia
dan dinyatakan dalam Gg C/Gg sampah.
Penjelasan
 Fraksi DOC terdekomposisi (simbol Docf )
 Estimasi fraksi DOC yang mengalami dekomposisi di TPA, hal ini disebabkan
karena tidak semua senyawa karbon organik pada sampah dapat dengan mudah
terurai atau terurai secara lambat karena tidak semua karbon organik dapat
mengalami dekomposisi pada kondisi anaerob.
 Nilai DOCf yang umum digunakan adalah 0,5.
 Nilai DOCf dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: temperatur,
kelembaban, pH, dan komposisi sampah).

 Faktor koreksi CH4 untuk dekomposisi aerob di TPA sebelum


kondisi anaerob terbentuk (simbol MCF )
 Setiap TPA memiliki sistem pengelolaan yang berbeda-beda,
 Faktor koreksi CH4 ini ingin menunjukkan bahwa TPA terbuka (open
dumping) akan menghasilkan CH4 yang lebih sedikit daripada TPA yang
terkelola dengan baik.
 Hal ini disebabkan pada TPA terbuka, sampah yang terletak pada bagian
atas akan mengalami dekomposisi secara aerob.
Nilai default MCF untuk setiap jenis TPA

TPA
Degayu

1. Terkelola dengan baik – anaerob: memiliki sistem penempatan sampah yang


baik (sel khusus), kontrol terhadap pemulung, dilakukan penutupan secara
rutin dengan tanah penutup, kompaksi secara mekanis.
2. Terkelola dengan baik - semi aerob: memiliki sistem penempatan sampah
yang baik (sel khusus), tanah penutup permeabel, sistem penyaluran lindi,
struktur pondasi, dan sistem ventilasi.
3. Tidak terkelola degan baik - kedalaman > 5m: TPA yang tidak termasuk
dalam kategori diatas dan memiliki kedalaman lebih dari 5 meter.
4. Tidak terkelola degan baik - kedalaman < 5m: TPA yang tidak termasuk
dalam kategori diatas dan memiliki kedalaman kurang dari 5 meter.
5. Tidak terkategori: TPA liar/ tidak terkontrol.
Penjelasan lanjutan...
 Fraksi emisi CH4 yang dihasilkan di TPA (simbol F)
 Umumnya, sampah yang terdapat di TPA akan
menghasilkan gas dengan komposisi CH₄ sebesar 50%.
 Komposisi sampah yang didominasi oleh minyak (fat and
oil) dalam jumlah besar akan memiliki fraksi emisi CH₄
lebih besar dari 50%.
 Data fraksi emisi CH₄ untuk perhitungan IPCC
ditetapkan menggunakan data default sebesar 50%.
Pendekatan perhitungan emisi GRK
1. Menghitung emisi GRK menggunakan data
default IPCC.
2. Menghitung emisi GRK menggunakan data
komposisi sampah pengambilan sampel.
3. Menghitung emisi GRK menggunakan data DOC
anilisis laboratorium tanpa menggunakan data
komposisi sampah.
4. Menghitung emisi GRK menggunakan data analisis
proximate.
Metode 1 (Menghitung emisi GRK menggunakan data default IPCC)
Contoh :
 Contoh berikut adalah perhitungan potensi emisi GRK
untuk sampah kertas:

 Sehingga perhitungan emisi GRK yang dihasilkan di TPA


Degayu dari sampah kertas:
Data Total dengan Metode 1
Metode 2: menggunakan data komposisi
sampah sampling
 Perhitungan ini menggunakan data komposisi sampah saat
pengambilan sampel, sedangkan data lainnya menggunakan
data default dari IPCC.
 Contoh perhitungan dibawah adalah potensi emisi GRK
untuksampah kertas.
Metode 2 : Potensi emisi GRK menggunakan data
komposisi sampah
Metode 3: menggunakan data DOC analisis laboratorium dengan
kondisi sampah tercampur dan data komposisi sampah

 Metode ini menggunakan data analisis laboratorium yaitu DOC untuk


keseluruhan sampah.

 Data timbulan sampah yang mudah terurai meliputi kertas, tekstil, sampah
dapur, kayu, daun, dan nappies adalah sebesar 79,19% total berat, atau
sebesar 28.666,8 ton/tahun. Perhitungan emisi CH₄ adalah sebagai berikut:
SELESAI