Anda di halaman 1dari 8

BAB I

A. Tempat dan Waktu Penulisan


Tempat di mana Surat pertama Korintus ditulis dikatakan dalam tulisan Paulus

sendiri, yaitu di kota Efesus (16:8-9). Selain itu hubungan yang lancar antara penulis

dengan jemaat Korintus menuntut dua tempat yang berdekatan, seperti Efesus. Kota

Efesus juga menjadi tempat persinggahan Paulus pada perjalanan misinya yang ketiga

(Kis. 19:1-10, 22).1


Paulus singgah di Efesus selama tiga tahun, menjelang akhir persinggahannya itu

sekitar tahun 55 M, Surat 1 Korintus ditulis. Surat 1 Korintus ditulis, setelah ia mengutus

Timotius untuk mengunjungi jemaat di Korintus (1 Kor. 4:17). Paulus menulis tentang

niatnya menetap di Efesus sampai hari Pentakosta (1 Kor. 16:8). Hal ini diperkirakan

karena dua kali Paulus mengacu pada kebenaran-kebenaran Paskah (1 Kor. 5:6-8 dan ps.

15). Ada pendapat bahwa Paulus mengharapkan suratnya tiba di Korintus pada waktu

perayaan Paskah.2

B. Latar Belakang dan Tujuan Penulisan Surat I Korintus


a. Karena laporan yang diterimanya dari orang-orang keluarga Kloe (1:11;5:1), tentang:
1. Di dalam jemaat terjadi perselisihan dan perpecahan, mereka menggolong-

golongkan diri mereka menjadi beberapa kelompok.


2. Jemaat Korintus tidak menjalankan ketertiban dalam jemaat sebagaimana yang

seharusnya.
3. Jemaat Korintus suka mencari-cari perkara dan saling mengadu di hadapan

penghakiman orang kafir.


4. Penyalahgunaan kebebasan orang Kristen.
5. Penyalahgunaan Perjamuan Kudus
b. Karena surat yang diterimanya langsung dari jemaat Korintus (7:1;16:7), tentang:
1. Perkawinan dan berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan perkawinan.

1
M. E. Duyverman, Op.Cit., hlm. 103.
2
V. C. Pfitzner, Ulasan atas 1 Korintus: Kesatuan dalam Kepelbagaian, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006, hlm.
10.

1
2. Mereka membiarkan diri mereka dikelilingi dengan penyembahan berhala. Hal ini

menimbulkan pertanyaan, “Bolehkan makan daging yang sudah dipersembahkan

kepada berhala?”
3. Pakaian dan peranan wanita dalam kebaktian.
4. Karunia-karunia Roh.
5. Arti kebangkitan tubuh.
Sementara surat pertama Korintus di perjalanan, Paulus juga mengutus Timotius ke

Korintus (1 Kor. 4:17). Paulus sudah membuat rencana secara pribadi untuk pergi ke

Korintus setelah melintasi Makedonia (1 Kor. 16:5-9). Akan tetapi di Korintus muncul

orang-orang Yahudi yang menghasut jemaat melawan Paulus. Paulus kemudian

menyebrang dari Efesus ke Korintus, namun kedatangannya tidak diterima dengan baik

oleh jemaat. Mereka malah menghina rasul Paulus (2 Kor. 2:5; 7:12).
Sekembalinya dari Efesus, Paulus menyusun surat ketiga yang bernada keras dan

tegas. Surat itu disinggung dalam 2 Kor. 2:3-4. Sekali lagi, Paulus ingin pergi ke Korintus

(2 Kor. 1:16) tetapi perjalanan itu ditunda. Kemudian barulah ia berangkat ke Makedonia

dan menunggu Titus di sana (2 Kor. 2:12-13; 7:5). Berita yang dibawa oleh Titus

menyenangkan hati Paulus (2 Kor. 7:6-7). Di Makedonia, Paulus menulis surat yang

keempat. Lalu ia sendiri pergi ke Korintus dan tinggal di situ kurang lebih dua tahun

lamanya. Surat keempat itulah yang tercantum dalam Perjanjian Baru sebagai surat kedua

kepada jemaat di Korintus. Paulus menulis paling sedikit empat surat kepada jemaat di

Korintus. Dari keempat surat itu, dua suratlah yang masih kita miliki saat ini.3

C. Gambaran Kota Korintus dan Jemaat Kristen Korintus Sebagai Penerima Surat 1

Korintus
Dalam keadaan perekonomian Korintus yang begitu maju dan berkembang, Paulus

menjalankan tugasnya sebagai seorang rasul Yesus. Keadaan kota Korintus yang begitu

makmur, tidak membuat Paulus hanya hidup dari bantuan Gereja atau dari siapa pun juga.

Paulus bersikeras untuk membiayai sendiri segala keperluannya, dengan bekerja sebagai

3
C. Groenen OMF, Op. Cit., hlm. 230-231.

2
seorang pembuat tenda.4 Pekerjaan yang dilakukan Paulus sebagai seorang tukang tenda,

ternyata merupakan pekerjaan tangan yang hina bagi orang Yunani. Pekerjaan itu

dipandang sebagai pekerjaannya para budak. Dalam 1 Korintus 9:6, Paulus menyatakan

bahwa ia juga memiliki hak seperti rasul-rasul lain. Ia mempunyai hak untuk dibebaskan

dari pekerjaan tangan, tetapi ia tidak menggunakan hak itu. Paulus yang adalah seorang

warga negara Roma dan pekerjaan seorang budak bagi Paulus tidaklah terbiasa. Ia orang

bebas dan bukanlah budak, tetapi ia memilih menjadikan diri budak, supaya dapat

memenangkan sebanyak mungkin orang.5


Kota yang begitu termasyur terdapat banyak orang-orang kaya, tetapi juga

menyimpan banyak kejahatan. Para pemalas, penipu-penipu, orang-orang malang, hamba-

hamba yang telah melarikan diri juga datang mencari untung di Korintus. Di kota

Korintus terdapatlah kehidupan mewah yang tak terkendali, di samping kemiskinan yang

dahsyat. Kota itu menjadi terkenal juga karena kehidupan susilanya yang buruk. 6

Masyarakat Korintus memiliki reputasi sebagai masyarakat yang paling rendah moralnya,

banyak tingkah laku mereka yang tidak bermoral.7


.
Perkembangan terus dialami oleh kota Korintus, begitu juga dengan pertambahan

penduduknya. Jumlah penduduk di Korintus pada zaman Perjanjian Baru sekitar 600.000

jiwa. Penduduk Korintus terdiri dari bermacam-macam campuran bangsa dan suku.

Sebagian besar penduduknya terdiri dari para budak, yang berkisar 400.000 jiwa. Selain

itu juga terdiri dari para buruh, tukang, pedagang kecil, dan hanya segelintir orang

merdeka yang menjadi warga kota penuh yang kaya dan berkuasa.8

4
William Barclay, Op. Cit., hlm. 140.
5
Tom Jacobs, Paulus: Hidup, Karya dan Teologinya, Yogyakarta: Kanisius dan Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008,
hlm, 72.
6
M. E. Duyverman, Op. Cit., hlm. 98.
7
J. I. Packer, Merrill C. Tenney, William White Jr, Op. Cit.,
8
C. Groenen OMF, Op. Cit.,

3
Penduduk kota Korintus berwatak keras kepala dan rewel. Di
kota ini pelacuran dianggap sebagai hal yang biasa saja,
sebab oleh orang Yunani, hal ini tidak dilihat sebagai
sesuatu yang buruk. Perbuatan-perbuatan mesum
terbuka dan berkembang dengan subur di Korintus. Hal
ini tentu saja didukung oleh suasana kota pelabuhan dan
perdangangan yang ramai seperti Korintus.9 Para pelaut
dan pedangang asing yang berdatangan dari berbagai
tempat juga membawa bersama mereka rupa-rupa
kejahatan, sehingga kota Korintus menjadi kota yang
penuh dengan kemewahan dan sekaligus kenajisan.
Agama-agama yang berasal dari Roma dan Yunani, serta agama-agama yang berasal

dari kawasan timur, khususnya dari Mesir. Ada juga pengaruh budaya Helenis yang

membuat kota Korintus tidak terlepas dari penyembahan kepada para dewi.
Di Korintus terdapat kuil kecil sebagai tempat penyembahan terhadap dewi-dewi. Di

Akropolis terdapat kuil dewi Afrodite. Akropolis adalah sebuah gunung batu dengan

ketinggian 2000 kaki. Gunung itu merupakan benteng yang kuat, sebab barang siapa

memilikinya dan menguasai genting tanah itu, ia dapat berbuat sekehendaknya terhadap

semua rute perdagangan. Gunung itu juga merupakan tempat pemujaan terhadap dewi

Afrodite. Kuil Afrodite mempunyai seribu imam wanita yang sebenarnya adalah pelacur-

pelacur yang dianggap suci. Demi kepentingan sang dewi, imam-imam wanita itu setiap

malam turun ke jalan untuk menjalankan perdagangan mereka yang tak berakhlak.10
Dalam suasana Korintus yang dipenuhi dengan berbagai aliran agama-agama itulah

yang didatangi oleh Paulus. Paulus mendirikan jemaat Kristen yang pertama di Korintus.

Jemaat di Korintus mendengar Injil Kristus melalui pelayanan rasul Paulus. Paulus datang

ke Korintus pada perjalanan misi kedua setelah ke Athena. Paulus tinggal bersama

9
M. E. Duyverman, Op. Cit., hlm. 228.
10
William Barclay, Op. Cit., hlm. 140.

4
dengan orang Yahudi yang terusir dari Roma, bernama Akuwila dan isterinya Priskila. Ia

memulai karya penginjilannya di rumah ibadah Yahudi.11

Pada waktu Paulus di Korintus, gubernur yang bertugas bernama Gallio. Gallio adalah

seorang Gubernur yang belum lama bertugas ketika Paulus berada di Korintus. Hal inilah

yang dimanfaatkan oleh orang-orang Yahudi dengan membawa Paulus untuk diadili.

Paulus dituduh telah mengajarkan kepada rakyat supaya menyembah Allah dengan cara

yang berlawanan dengan Hukum Taurat. Tetapi Gallio adalah seorang Gubernur yang

sangat ramah dan adil, sehingga ia memilih untuk tidak memihak dan dijadikan alat bagi

siasat jahat orang-orang Yahudi.12 Galio tidak mau menghakimi Paulus menurut hukum

Yahudi, sedangkan dalam hukum Roma Paulus tidak membuat suatu kejahatan. Dari

peristiwa ini mulai timbullah perselisihan di Korintus di kalangan orang Yahudi, hal ini

membuat Paulus beralih menginjili orang non-Yahudi. Paulus mulai tinggal dan bekerja

di Korintus, dibawah pengamanan tidak langsung dari pemerintah Romawi pada waktu

itu.13

11
Donald Guthrie, Op. Cit., hlm. 27-28.
12
William Barclay, Op. Cit., hlm. 141.
13
Donald Guthrie, Op. Cit., hlm. 28.

5
Dalam perjalanan misinya, Paulus menumpang di rumah Titus Yustus
yang berdampingan dengan rumah ibadah. Hal inilah yang
membuat Paulus seringkali bertemu dengan Krispus, kepala
rumah ibadah. Lama-kelamaan Krispus semakin mengerti akan
kebenaran berita Injil, ia kemudian menjadi percaya beserta
dengan seisi rumahnya. Hal ini berpengaruh besar kepada
pertumbuhan iman jemaat di Korintus selanjutnya. Paulus
memakai rumah Titus Yustus dan membuat banyak orang
percaya.

Begitu banyak masalah yang terjadi dalam jemaat Korintus. Bahkan


Jemaat mulai membandingkan rasul Paulus dengan beberapa
rasul yang datang setelah Paulus. Mereka mulai membuat
penilaian-penilaian dan menggolong-golongkan diri dalam empat
kelompok yang berlainan (1 Kor. 1:10-17).

Ada juga anggota jemaat yang mempersalahkan gaya merasulnya


rasul Paulus. Orang menganggap bahwa Paulus kurang bersifat
karismatis. Paulus kurang memperlihatkan dalam cara ia bekerja
dan gaya hidupnya bahwa Roh berkarya di dalamnya. Ia dinilai
terlalu lemah dan kurang rohani.14

Berbagai masalah muncul dalam jemaat Korintus. Namun, masalah


yang terjadi bukanlah karena ketidakmantapan jemaat yang
muncul dari lingkungannya. Melainkan lebih dikarenakan orang-
orang yang muncul di dalam gereja itu sendiri yang melakukan
ketidakmantapan. Mereka nampaknya telah menampilkan
sejumlah pengaruh, karena orang-orang Kristen di Korintus
ternyata telah diombang-ambingkan dan dikelompok-
kelompokan.15
D. Rangkuman
Paulus datang ke Korintus dalam perjalanan misinya yang kedua, dan tinggal di sana

selama delapan belas bulan. Paulus berada di Korintus antara tahun 49 M dan 52 M, pada

masa pemerintahan Gubernur Galio. Paulus memberitakan Injil dan mendirikan jemaat

14
Tom Jacobs, Op.Cit.,hlm. 145.
15
Willi Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis terhadap Masalah-Masalahnya, Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2010, hlm. 82.

6
Kristen di Korintus. Ia bekerja dan tinggal bersama dengan seorang Yahudi bernama

Akuwila dan isterinya Priskila. Paulus memulai karya penginjilannya di rumah ibadah

Yahudi. Kemudian ia beralih menginjili orang non-Yahudi. Ia memakai rumah Titus

Yustus dan membuat banyak orang percaya. Selanjutnya Paulus melanjutkan perjalanan

ke Efesus, dalam perjalanan misinya yang ketiga dan menetap di sana selama tiga tahun.

Surat 1 Korintus diperkirakan ditulis menjelang akhir persinggahan Paulus, sekitar tahun

55 M atau 56 M.
Surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus merupakan bagian dari sebuah

korespondensi panjang antara rasul Paulus dengan orang-orang di Korintus. Tidak

diragukan lagi surat itu ditulis oleh rasul Paulus, yang ditujukan kepada jemaat Allah di

Korintus (1 Kor. 1:1; 16:21). Paulus menulis paling sedikit empat surat kepada jemaat di

Korintus. Dari keempat surat itu, dua suratlah yang masih kita miliki saat ini. Surat

pertama Korintus, sesungguhnya adalah surat Paulus yang kedua kepada jemaat di

Korintus.
Maksud Paulus menulis surat kepada jemaat di Korintus, untuk memberikan

penjelasan tentang rupa-rupa kesalahpahaman, dan berbagai dosa yang timbul dalam

jemaat Korintus. Hal ini diketahui Paulus karena laporan yang diterimanya dari orang-

orang keluarga Kloe (1:11;5:1), di samping itu Paulus juga membalas surat yang dikirim

oleh jemaat Korintus (7:1;16:7).


Lingkungan tempat Surat pertama Korintus ditujukan adalah jemaat Korintus, yang

tinggal di Korintus. Korintus adalah Ibukota Propinsi Akhaya, tempat kedudukan

Gubernur Romawi. Letak kota Korintus sangatlah strategis. Semua lalu lintas dan

perdagangan yang tidak melewati laut harus melalui Korintus, baik dari utara ke selatan

maupun dari timur ke barat. Korintus menjadi sangat maju dalam segala bidang, baik

kebudayaan, ekonomi, politik maupun keagamaan. Berbagai macam agama, aliran, dan

kepercayaan mendapat pendukung dan penganut di sana. Korintus juga mendapat

pengaruh budaya Helenis, yang juga membuat kota itu tidak terlepas dari penyembahan

7
kepada para dewi. Kota yang megah itu juga menyimpan banyak kejahatan. Banyak

tingkah laku masyarakat Korintus yang tidak bermoral. Perbuatan-perbuatan mesum

terbuka dan berkembang dengan subur di sana.


Penduduk Korintus mempunyai watak yang sangat dinamis. Mereka terbuka untuk

pengaruh asing, sebab mereka tidak mempunyai pegangan asli dan tradisional. Macam-

macam aliran tersebar di sana dan kota itu terbuka bagi berbagai perkembangan,

pembaharuan, dan masa depan. Penduduk kota Korintus berwatak keras kepala dan rewel.

Hal ini menjadi penyebab seringkali terjadi perselisihan di dalam tubuh jemaat Korintus.

Mereka sangat menghargai kebebasan pribadi dan karunia rohani yang mencolok, serta

bangga atas pengetahuan mereka, sehingga menimbulkan banyak persoalan.


Dibandingkan dengan kota lain, tampaknya Korintus adalah tempat yang paling tidak

sesuai dengan iman Kristen. Tetapi dalam keadaan yang terjepit, Paulus memilih untuk

tetap bersaksi bagi Kristus dan melayani di Korintus. Sebagai seorang hamba Kristus,

rasul Paulus benar-benar menjalankan tugas yang dipercayakan oleh Allah kepadanya.

Berhadapan dengan perselisihan dan berbagai penilaian terhadap para rasul, Paulus tetap

menunjukkan sikap sebagai seorang pelayan yang dapat dipercayai.