Anda di halaman 1dari 23

KASUS UJIAN

SEORANG ANAK DENGAN DEMAM TIFOID

PEMBIMBING:

dr. Zuhriah Hidajati, Sp.A, Msi.Med

dr. Lilia Dewiyanti, Sp.A, Msi.Med

dr. Neni Sumarni, Sp. A

dr. Adriana Lukman, Sp. A

PENULIS:

Rosmana Apolla Putera

030.12.243

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK

RSUD KMRT WONGSONEGORO

PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

Semarang, November 2017


KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas
kesehatan dan kemudahan yang dilimpahkan karena berkatNya penulis dapat
menyelesaikan tugas laporan kasus dalam Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan
Anak di RSUD K.R.M.T Wongsonegoro yang berjudul “Seorang Anak Dengan
Demam Tifoid”.
Tidak sedikit hambatan yang dihadapi penulis dalam penyusunan
referat ini, namun berkat bantuan berbagai pihak karya tulis ilmiah ini dapat
diselesaikan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih
sebesar-besarnya kepada dr. Lilia Dewiyanti, Sp.A, Msi.Med, dr. Zuhriah
Hidajati, Sp.A, Msi.Med, dr. Neni Sumarni, Sp.A, dr. Adriana Lukman, Sp.A,
dan dr. Harancang Pandih Kahayana, Sp. A selaku pembimbing atas dukungan
dan pengarahannya selama penulis belajar dalam kepaniteraan klinik Ilmu
Bedah.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat terutama bagi penulis sendiri
dan para pembaca. Penulis menyadari karya tulis ini masih perlu banyak
perbaikan oleh karena itu kritik dan saran diharapkan dari para pembaca.

Semarang, Desember 2017

Rosmana Apolla Putera


BAB I

PENDAHULUAN

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus yang

disebabkan oleh kuman Salmonella typhi.1,2

Di Indonesia, saat ini penyakit demam tifoid masih merupakan penyakit

endemik, terutama di kota-kota besar yang padat penduduknya, seperti halnya di

negara-negara yang sedang berkembang lainnya. Hal ini berhubungan erat dengan

keadaan sanitasi, kebiasaan higiene yang tidak memuaskan dan tingkat pendidikan

yang rendah.3,4

Penyakit ini termasuk penyakit menular yang tercantum dalam Undang-undang

No. 6 Tahun 1962 tentang wabah. Kelompok penyakit menular ini merupakan

penyakit-penyakit yang mudah menular dan dapat menyerang banyak orang,

sehingga dapat menimbulkan wabah.1 Penderita anak biasanya berumur di atas satu

tahun. Sebagian besar penderita (80%) yang dirawat di Rumah Sakit Cipto

Mangunkusumo Jakarta berumur di atas 5 tahun.5

Etiologi demam tifoid adalah kuman Salmonella typhi, basil gram negatif,

bergerak dengan rambut getar, dan tidak berspora.5 Ada dua sumber penularan

Salmonella typhi, yakni pasien dengan demam tifoid dan yang lebih sering adalah

pembawa. Orang-orang tersebut mengekskresi 109 sampai 1011 kuman per gram tinja.

Di daerah endemik transmisi terjadi melalui air yang tercemar. Makanan yang

tercemar oleh pembawa merupakan sumber penularan yang paling sering. Pembawa
adalah orang yang sembuh dari demam tifoid dan masih terus mengekskresi
2
Salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari satu tahun.1

Masa tunas demam tifoid berlangsung 10 sampai 14 hari. Gejala yang timbul

amat bervariasi. Perbedaan ini tidak saja antara berbagai bagian dunia, tetapi juga di

daerah yang sama dari waktu ke waktu. Selain itu, gambaran penyakit bervariasi dari

penyakit ringan yang tidak terdiagnosis, sampai gambaran penyakit khas dengan

komplikasi dan kematian. Hal ini menyebabkan bahwa seorang ahli yang sangat

berpengalaman pun dapat mengalami kesulitan untuk membuat diagnosa klinis

demam tifoid.1 Adapun gejala klinis yang umumnya terjadi adalah demam 5 hari atau

lebih, gangguan pencernaan, dan gangguan kesadaran.6


BAB II

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS

1. Identitas penderita

Nama penderita : An. N

Jenis kelamin : Perempuan

Tempat & tanggal lahir : Semarang, 29 April 2011

2. Identitas orang tua / wali

AYAH : Nama : Tn. E

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Swasta

Alamat : Bangetayu Wetan RT 02/06, Genuk

IBU : Nama : Ny. K

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Alamat : Bangetayu Wetan RT 02/06, Genuk


II. ANAMNESIS

Kiriman dari : Puskesmas Bangetayu

Dengan diagnosa : Tifoid

Aloanamnesa dengan : Ayah dan ibu pasien

Tanggal / jam : 1 Desember 2017 / 8.30 Wib

1. Keluhan utama : Panas

2. Riwayat penyakit sekarang :

Orang tua pasien mengeluhkan anak demam sejak 5 hari sebelum masuk

Rumah Sakit. Demam, tidak mendadak, muncul perlahan dan tidak terlalu

tinggi, namun berangsur-angsur meningkat setiap harinya. Oleh ibunya,

anak diberi obat penurun panas, panas turun beberapa saat setelah minum

obat, namun kemudian naik lagi. Panas terus-menerus sepanjang hari,

meningkat terutama pada malam hari dan tidak begitu panas pada pagi dan

siang hari. Pada waktu malam hari penderita tekadang mengigau, tidak

berkeringat dan tidak ada kejang. Anak juga mengeluh nyeri di daerah

perut, mual dan muntah, serta buang air besar lembek 1x. Muntah 2-3x. Isi

muntahan berupa air yang diminum, dan terkadang berisi apa yang

dimakan. Nafsu makan anak menurun sejak terjadinya demam, namun

minum masih kuat. Buang air kecil normal seperti biasa dan tidak ada sakit

waktu buang air kecil. Anak tidak ada mengeluh nyeri otot atau nyeri

pinggang, serta tidak ada riwayat bepergian ke luar kota.


3. Riwayat penyakit dahulu :

Orang tua pasien mengatakan bahwa pasien belum pernah dirawat di

rumah sakit sebelumnya.

4. Riwayat kehamilan dan persalinan :

Riwayat antenatal : Saat hamil ibu rutin memeriksakan kehamilannya

ke bidan ataupun ke Puskesmas.

Riwayat natal :

Spontan / tidak spontan : Spontan

Berat badan lahir : 3400 gram

Panjang badan lahir : ibu tidak ingat

Penolong : Bidan

Riwayat neonatal : Langsung menangis, badan kemerahan, dan

gerak aktif

5. Riwayat perkembangan :

Tiarap : 6 bulan/tahun

Merangkak : 9 bulan/tahun

Duduk : 9 bulan/tahun

Berdiri : 11 bulan/tahun

Berjalan : 13 bulan/tahun

6. Riwayat imunisasi

Imunisasi dasar terpenuhi


7. Makanan :

Anak mendapat ASI sejak lahir sampai 6 bulan, dilanjutkan bubur saring

sampai 9 bulan, berisi sayuran, serta lauk (hati ayam, ikan, dan lain-lain)

yang dihancurkan. Anak makan nasi ditambah lauk, tidak suka sayur,

sebanyak 1 piring dan biasanya habis.

8. Riwayat keluarga :

Tidak ada anggota keluarga yang sedang mengeluhkan gejala serupa.

9. Riwayat sosial lingkungan :

Anak tinggal bersama kedua orang tua di rumah dengan ventilasi dan

pencahayaan cukup. Rumah dibersihkan setiap hari. Air untuk minum dan

MCK berasal dari PDAM.

III. PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan umum : tampak sakit sedang

Kesadaran : komposmentis

GCS : 15

2. Pengukuran

Tanda vital:Tensi : 100/70 mmHg

Nadi : 116 X/menit, kualitas: kuat, reguler

Suhu : 36,6 OC

Respirasi : 23 X/menit, reguler

Berat badan : 20 kg

Panjang/tinggi badan : 115 cm


Lingkar lengan atas : -

Lingkar kepala : -

3. Kulit : Warna : Sawo matang

Sianosis : Tidak ada

Hemangioma : Tidak ada

Turgor : Cepat kembali

Kelembaban : Cukup

Pucat : Tidak ada

Lain-lain : -

4. Kepala : Bentuk : Mesosefali

UUB : Sudah menutup

UUK : Sudah menutup

Lain-lain : -

Rambut : Warna : Hitam

Tebal / tipis : Tebal

Distribusi : Tidak

Alopesia : Tidak ada

Lain-lain : -

Mata : Palpebra : Tidak edem, tidak cekung

Alis dan bulu mata : Tidak mudah dicabut

Konjungtiva : Tidak anemis

Sklera : Tidak ikterik

Pupil : Diameter : 3 mm / 3 mm
Simetris : Isokor

Reflek cahaya : +/+

Kornea : Jernih

Telinga : Bentuk : Simetris

Sekret : Tidak ada

Serumen : Minimal

Nyeri : Tidak ada

Hidung : Bentuk : Simetris

Napas cuping hidung : Tidak ada

Sekret : Tidak ada

Lain-lain : -

Mulut : Bentuk : Simetris

Bibir : Mukosa basah, berwarna merah muda

Gusi : Perdarahan (-)

Pembengkakan (-)

Gigi-geligi : Lengkap

Lidah : Tampak kotor, bagian tengah agak putih, dengan tepi

kemerahan

Faring : Hiperemi : Tidak ada

Edem : Tidak ada

Membran / pseudomembran : Tidak ada

Tonsil : Warna : Merah muda

Pembesaran : Tidak ada


Abses / tidak : Tidak ada

Membran / pseudomembran : Tidak ada

5. Leher :

- Vena Jugularis : Pulsasi : Tidak terlihat

Tekanan : Tidak meningkat

- Pembesaran kelenjar leher : Tidak ada

- Kaku kuduk : Tidak ada

- Masa : Tidak ada

- Tortikolis : Tidak ada

6. Toraks :

a. Dinding dada / paru

Inspeksi : Bentuk : Simetris

Retraksi : Tidak ada Lokasi : -

Dispnea : Tidak ada

Pernapasan : Gerakan simetris

Palpasi : Fremitus fokal : Simetris kanan – kiri

Perkusi : Sonor / sonor

Auskultasi : Suara napas dasar : Vesikuler

Suara napas tambahan: Tidak ada ronkhi dan tidak ada

wheezing

b. Jantung :

Inspeksi : Iktus : Tidak terlihat

Palpasi : Apeks : Tidak teraba Lokasi : -


Thrill : Tidak ada

Perkusi : Batas kanan : ICS IV linea parasternalis dextra

Batas kiri : ICS V linea midklavikula sinistra

Batas atas : ICS II linea parasternalis dextra

Auskultasi : Frekuensi : 116 X / menit, Irama : Reguler

Suara dasar : S1 dan S2 tunggal

Bising : Tidak ada Derajat : -

Lokasi : -

Punctum max : -

Penyebaran : -

7. Abdomen :

Inspeksi : Bentuk : Simetris, supel

Lain-lain : -

Palpasi : Hati : Tidak teraba

Lien : Tidak teraba

Ginjal : Tidak teraba

Masa : Tidak teraba

Ukuran : -

Lokasi : -

Permukaan : -

Konsistensi : -

Nyeri : Daerah epigastrika

Perkusi : Timpani / pekak : Timpani


Asites : Tidak ada

Auskultasi : Bising usus (+) meningkat

8. Ekstremitas :

Umum : Akral atas dan bawah hangat, tidak

ada edem. Akral teraba hangat

Neurologis

Lengan Tungkai
Kanan Kiri Kanan Kiri
Gerakan Normal Normal Normal Normal
Tonus Normal Normal Normal Normal
Trofi Normal Normal Normal Normal
Klonus - - - -
Reflek fisiologis + + + +
Reflek patologis - - - -
Sensibilitas Normal Normal Normal Normal
Tanda meningeal - - - -

9. Susunan saraf : Tidak ada kelainan

10. Genitalia : Tidak ada kelainan

11. Anus : Tidak ada kelainan

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM SEDERHANA

Darah : Hb 11,8 g/dL

Hematokrit 36,56 %

Leukosit 1.580 /uL

Trombosit 120.000 /uL

Widal O + 1/320

Widal H + 1/320

Na 135; K 3,30; Ca 1.40


Urin : -

Feses : -

V. RESUME

Nama : An N

Jenis kelamin : Perempuan

Umur : 6 tahun

Berat badan : 20 kg

Keluhan utama : panas

Uraian : Sejak + 5 hari SMRS anak mulai panas, tidak

mendadak, muncul perlahan dan tidak terlalu tinggi,

remitten. Setelah minum obat penurun panas, panas

turun namun kemudian naik lagi, terus naik, terutama

saat malam hari, mengigau (+), berkeringat (-),

kejang (-). Anak mengeluh nyeri di ulu hati, mual

(+), muntah (+), muntah 2-3x, berisi air atau

makanan. Nafsu makan menurun namun minum tetap

kuat. BAB lembek 1x, BAK (+) normal, ikterik (-),

nyeri (-). Tidak ada riwayat keluar kota atau ke hutan.

Pemeriksaan Fisik

Kesadaran umum : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Komposmentis GCS : 4 – 5 – 6

Tensi : 100/70 mmHg

Denyut nadi : 116 kali/menit


Pernapasan : 23 kali/menit

Suhu : 36,6 OC

Kulit : Turgor cepat kembali, pucat (-)

Kepala : Mesosefali, UUB dan UUK sudah menutup

Mata : Isokor, cekung (-), anemis (-), ikterik (-)

Telinga : Simetris, sekret (-)

Mulut : Mukosa bibir basah dan merah muda, lidah kotor

Toraks / paru : Simetris, sonor, sn. vesikuler, ronkhi (-),wheezing (-)

Jantung : S1 dan S2 tunggal, iktus (-), apeks (-), thrill (-)

Abdomen : Bising usus (+) meningkat

Ekstremitas : Akral hangat, edem (-)

Susunan saraf : Tidak ada kelainan

Genital : Tidak ada kelainan

Anus : Tidak ada kelainan

VI. DIAGNOSA

1. Diagnosa banding

Observasi Febris: Demam tifoid

Demam dengue

Tuberkulosis Paru

Leptospirosis

Infeksi saluran kemih

2. Diagnosa kerja : Suspek demam tifoid

3. Status gizi : Gizi Normal (standar WHO NCHS)


VII. PENATALAKSANAAN

- Istirahat total

- Peroral - Sefiksim 200 mg 2 x /hari selama 10 hari

- Paracetamol 400 mg 3 x /hari

- Ranitidin 25 mg 2 x /hari

- Ondansentron 2 mg

- Diet lunak, rendah serat, tidak merangsang, tinggi kalori, tinggi protein

VIII. USUL PEMERIKSAAN

- Biakan darah

- Pemeriksaan serologis

- Darah rutin (Hb, WBC, RBC, trombosit, LED, hitung jenis)

- Pemeriksaan hapusan darah tepi

- Urin rutin

IX. PROGNOSIS

Quo ad vitam : Dubia ad bonam

Quo ad functionam : Dubia ad bonam

Quo ad sanationam : Dubia ad bonam

X. PENCEGAHAN

- Menjaga kebersihan perorangan dan sanitasi lingkungan

- Imunisasi aktif

BAB III

PEMBAHASAN

17
Demam tifoid adalah penyakit bakterial yang disebabkan oleh Salmonella

typhi, kuman gram negatif berbentuk batang yang hanya ditemukan pada manusia.7

Salmonella termasuk dalam famili Enterobacteriaceae yang memiliki lebih dari 2300

serotipe. Salmonella typhi merupakan salah satu Salmonellae yang termasuk dalam

jenis gram negatif, memiliki flagel, tidak berkapsul, tidak bersporulasi, termasuk

dalam basil anaerobik fakultatif dalam fermentasi glukosa, mereduksi nitrat menjadi

nitrit.8

Penularan penyakit demam tifoid adalah secara “faeco-oral”, dan banyak

terdapat di masyarakat dengan higiene dan sanitasi yang kurang baik. Kuman

Salmonella typhi masuk ke tubuh melalui mulut bersama dengan makan atau

minuman yang tercemar. Sesudah melewati asam lambung, kuman menembus

mukosa usus dan masuk peredaran darah melalui aliran limfe. Selanjutnya, kuman

menyebar ke seluruh tubuh. Dalam sistem retikuloendotelial (hati, limpa, dll), kuman

berkembangbiak dan masuk ke dalam peredaran darah kembali (bakteriemia kedua).

Meskipun melalui peredaran darah kuman menyebar ke semua sistem tubuh dan

menimbulkan berbagai gejala, proses utama ialah di ileum terminalis. Bila berat,

seluruh ileum dapat terkena dan mungkin terjadi perforasi atau perdarahan. Kuman

melepaskan endotoksin yang merangsang terbentuknya pirogen endogen. Zat ini

mempengeruhi pusat pengaturan suhu di hipotalamus dan menimbulkan gejala

demam. Walaupun dapat difagositosis, kuman dapat berkembang biak di dalam

makrofag karena adanya hambatan metabolisme oksidatif. Kuman dapat menetap


atau bersembunyi pada satu tempat dalam tubuh penderita, dan hal ini dapat

mengakibatkan terjadinya relaps atau pengidap (pembawa).2

Diagnosis demam tifoid ditegakkan atas dasar klinis, yaitu anamnesa dan

pemeriksaan fisik. Klinis didapatkan adanya demam, lidah tifoid, meteorismus, dan

hepatomegali serta roseola. Diagnosis ini disokong oleh hasil pemeriksaan serologis,

yaitu titer Widal O positif dengan kenaikan titer 4 kali atau pemeriksaan

bakteriologis didapatkan adanya kuman Salmonella typhi pada biakan darah.3,5,9

Pasien sebelum masuk Rumah Sakit tampak lesu, mengeluh pusing, dan terlihat

tidak bersemangat. Gejala ini diduga merupakan gejala prodromal pada masa

inkubasi Salmonella typhi, yakni perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala,

pusing dan tidak bersemangat.5

Lima hari sebelum masuk Rumah Sakit, pada pasien ini didapatkan demam,

tidak mendadak, muncul perlahan, tidak terlalu tinggi, dan pada sore hingga malam

hari demam lebih tinggi dibandingkan pada pagi dan siang hari, dan berangsur-

angsur meningkat setiap harinya. Tipe demam demikian sesuai dengan gejala yang

ditimbulkan akibat infeksi Salmonella typhi.10

Pada malam hari, pasien sering mengigau dalam tidurnya, tidak berkeringat.

Hal ini dimungkinkan adanya gangguan kesadaran yang merupakan salah satu gejala

dari demam tifoid.5

Selain demam, pasien juga mengalami mual dan muntah, isi muntahan berupa

air dan kadang-kadang berupa apa yang dimakan, pasien buang air besar lembek 1x

disertai menurunnya nafsu makan. Pada demam tifoid, dalam minggu pertama

perjalanan penyakit, keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada
umumnya, yakni demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah,

obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis. Dan pada

pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu badan meningkat.1

Jika perjalanan penyakit demam tifoid pasien terus dimonitor, maka biasanya

pada minggu kedua didapatkan gejala-gejala yang lebih jelas. Gejala yang timbul

pada minggu kedua berupa demam, bradikardi relarif, lidah yang khas (kotor di

tengah, tepi dan ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus.

Gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium, atau psikosis, roseolae

jarang ditemukan pada orang Indonesia.1

Agar semua diagnosa banding tersebut di atas dapat disingkirkan, maka perlu

dilakukan pemeriksaan penunjang guna membuktikan pemeriksaan yang tidak

didapatkan pada anamnesa maupun pemeriksaan fisik.

Biakan darah, pemeriksaan darah rutin, dan tes serologis Widal dilakukan guna

menegakkan diagnosis demam tifoid, pemeriksaan serologis IgM untuk mendeteksi

kemungkinan adanya infeksi campak, tes tourniquet untuk melihat adanya

manifestasi perdarahan pada penderita demam berdarah dengue. Biakan liquor

serebrospinal diharapkan dapat mengetahui ada tidaknya infeksi pada selaput

meningeal. Tes Mantoux digunakan untuk membuktikan ada atau tidaknya infeksi

tuberkulose. Pemeriksaan darah rutin dan hapusan darah tepi berfungsi untuk

mendeteksi adanya kemungkinan terinfeksi malaria.

Dari keseluruhan diagnosa banding yang ada, diagnosa klinis adalah suspect

demam tifoid. Di mana pada periksaan penunjang berupa biakan darah, pemeriksaan
darah rutin dan tes serologis Widal diharapkan dapat menegakkan diagnosa klinis

pasien ini.

BAB IV

PENUTUP

22
Telah dilaporkan sebuah kasus diduga demam tifoid pada seorang anak

perempuan berusia 6 dengan berat badan 20 kg yang dirawat di bangsal Nakula 4

ruang anak RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang. Diagnosa demam tifoid

ditegakkan berdasarkan anamnesa yang dilakukan pada ibu dan ayah kandung pasien

dan dari hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada pasien, yakni demam selama 5

hari, remitten, disertai rasa mual dan muntah, dengan isi air atau makanan yang

dimakan. Selain itu pasien mengeluhkan buang air besar lembek 1x. Status gizi anak

sendiri tergolong normal. Dapat disimpulkan bahwa anak diduga mengalami infeksi

akut oleh kuman Salmonella typhi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Juwono R. Penyakit tropik dan menular : Demam tifoid. Dalam: Noer MS,
Waspadji S, Rachman AM, et al, penyunting. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid
I. Edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
1996. h. 435-442.

2. Kaspan MF, Soejoso DA, Soegijanto S, et al. Penyakit tropik dan menular:
Demam tifoid. Dalam: Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, penunting.
Pedoman diagnosis dan terapi lab/UPF ilmu kesehatan anak. Surabaya: Rumah
Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo. 1994. h. 187-189.

3. Sumarno, Nathin MA, Ismael S. Tumbelaka WAFJ. Masalah Demam Tifoid pada
Anak. Medika 1980; 20.

4. Rampenan TH, Laurentz. Demam tifoid. Dalam: Rampenan TH, penyunting.


Infeksi tropik pada anak:. Jakarta: EGC. 1995. h. 53-71.

5. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


Tifus abdominalis. Dalam: Hasan R, Alatas H, Latief A, et al, penyunting. Buku
kuliah ilmu kesehatan anak jilid 2. Jakarta: Infomedika. 1985. h. 593-598.

6. Gunawan G. Infeksi: Demam tifoid. Dalam: Yunanto A, Gunawan G dan Muhyi


R, penyunting. Pedoman diagnosis dan terapi bagian/SMF ilmu kesehatan anak.
Edisi I. Banjarmasin: Rumah Sakit Umum Daerah Ulin. 2000. h. 16-17

7. Wheeler DT. typhoid fever. Department of ophthalmology, Oregon health


scienses university; 2001 (online). Available from: URL:
http://www.emedicine.com/med/topic2331.htm.

8. Corales R. Typhoid fever. Department of infectious disease and tropical


medicine, Birmingham heartlands hospital; 2004 (online). Available from: URL:
http://www.emedicine.com/med/topic2331.htm

9. Jonggu MCH. Demam Tifoid dengan Renjatan Septik. MKUH volume 7. 1986:
16-18.

10. Alatas H. Demam tifoid. Dalam : Sunoto, Tambunan T, Madiyono B, Alatas H,


penyunting. Buku panduan tata laksana prosedur baku pediatrik UPF anak rumah
sakit cipto mangunkusumo fakultas kedokteran universitas indonesia. Jakarta:
UPF Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 1990. h. 278-280.

11. Suharso D. Neurologi: Meningitis. Dalam: Fakultas Kedokteran Universitas


Airlangga, penunting. Pedoman diagnosis dan terapi lab/UPF ilmu kesehatan
anak. Surabaya: Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo. 1994. h. 154-158.

12. Santosa G dan Makmun MS. Pulmologi: Tuberkulosis paru. Dalam: Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga, penunting. Pedoman diagnosis dan terapi
lab/UPF ilmu kesehatan anak. Surabaya: Rumah Sakit Umum Daerah Dokter
Soetomo. 1994. h. 238-240.

13. Zulkarnain, Iskandar. Malaria berat (malaria pernisiosa). Dalam: Noer MS,
Waspadji S, Rachman AM, et al, penyunting. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid
I. Edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia. 1996. h.
504-507.

14. Noer MS. Nefrologi: Infeksi saluran kemih. Dalam: Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga, penunting. Pedoman diagnosis dan terapi lab/UPF ilmu
kesehatan anak. Surabaya: Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo. 1994. h.
191-121.