Anda di halaman 1dari 14

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MENURUNNYA SEMANGAT BELAJAR

SISWA

JURNAL

Fitriyani Minangkabau
03291511010
Program Studi Pendidikan Kimia FKIP UNKHAIR

Abstrak : Masalah dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi menurunnya minat belajar pada siswa. dengan tujuan penelitian
untuk mengetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi rendah minat belajar
siswa. adapun metode penelitian yang di gunakan oleh peneliti yakni kualatif
deskriptif. berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi rendahnya minat belajar siswa yaitu faktor inten yang
meliputi kondisi siwa, kemampuan intelektual, motivasi, kebiasaan belajar siswa.
Dan faktor ekstern yang meliputi lingkungan, motivasi, kondisi guru, keluarga
atau orang tua, serta keadaan ekonomi

Kata Kunci : Faktor-faktor menurunnya belajar siswa

ABstract : The problem in this research are the factors that influence learning on
students' declining interest. with the aim of research to determine the factors
that affect low student interest. As for the research methods used by the
researchers kualatif descriptive. based on the results of this study concluded that
the factors that influence student learning, namely low interest inten factors
which include the condition of Shiva, intellectual ability, motivation, study habits
of students. And external factors that include environmental, motivation,
conditions of teachers, parents or peers, as well as the state of the economy.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau


potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.
Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan
perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah
input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Atau dalam
artian lain Belajar adalah suatu proses perubahan didalam kepribadian
manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalambentuk peningkatan
kualitas dan kuantitas seperti peningkatan kercakapan, pengetahuan, sikap,
kebiasaan, pemahaman,ketrampilan, daya fikir, dan lain-lain kemampuan.
Sedangkan masa remaja merupakan dimana seorang individu mengalami
peralihan dari satu tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi,
tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah. Oleh
karenanya, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial,
yakni masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya
perubahan social. Hal itu dapat menyebabkan menurunnya minat belajar
yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan social. Hal itu dapat
menyebabkan menurunya minat belajar yang ditimbulkan oleh banyak faktor
pendorong. Oleh sebab itu, dalam jurnal ini akan membahas sebab-sebab
apa yang melatar belakangi menurunya semangat belajar remaja serta
bagaimana solusinya.

1.2 Rumusan Masalah


 Faktor apa yang mempengaruhi menurunnya semangat belajar siswa?
 Bagaimana solusinya ?

1.3 Tujuan
 Untuk mengetahui faktor menurunnya semangat belajar siswa
 Untuk mengetahui solusinya

PEMBAHASAN

2.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Menurunnya semangat Belajar

Pendidikan dianggap sangat penting sebagai bekal untuk menjalani


kehidupan dalam masyarakat. Dengan kata lain berate menyangkut
pembelajaran seseorang. Faktor-faktor belajar adalah peristiwa belajar yang
terjadi pada diri pembelajar, yang dapat diamati dari perbedaan perilaku
sebelum dan sesudah berada di dalam proses belajar, sebab dalam makna
belajar adalah adanya perubahan perilaku seseorang kearah yang lebih baik
dalam melaksanakan pembelajaran. Faktor yang mempengaruhi seseorang
dalam belajar itu banyak jenisnya. Faktor – faktor belajar itupun dibagi menjadi
dua bagian yaitu faktor intern yang berasal dari dalam dan factor ekstern atau
berasal dari luar.

Factor intern banyak dipengaruhi dari dalamdiri siswa itu sendiri dan
faktor eksternal dipengaruhi oleh lingkungan, baik itu lingkungan keluarga,
lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Antar kedua faktor itu masing
masing bisa mempengaruhi seseorang untuk meningkatkan prestasinya yang
diperoleh dengan cara belajar.

2.1.1 Faktor Internal (keadaansiswa).


Faktor internal terdiri dari dua faktor, yakni:
a. Faktor fisiologis
Faktor fisiologis yaitu meliputi segala hal yang berhubungan dengan
keadaan fisik/jasmani individu seseorang, dan pada umumnya sangat
berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Faktor tersebut meliputi
kondisi fisik yang normal dan kondisi kesehatan fisik. Menurut Noehi Nasution,
dkk. dalam Syaiful Bahri Djamarah, bahwa, “orang yang dalam keadaan segar
jasmaninya berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan”.
Anak-anak yang kekurangan gizi; mereka lekas lelah, mudah mengantuk, dan
sukar menerima atau memperhatikan pelajaran. Kebanyakan remaja saat ini
kurang memperhatikan kesehatannya.

b. Faktor Psikologis
Faktor Psikologis yaitu yang di sebabkan oleh kondisi kejiwaan individu
yang meliputi:
1. Minat
Menurut Slameto bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa
keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada
dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan
sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar
minat.
Minat ini sangat mempengaruhi semangat belajar, semakin besar minat
belajar seseorang maka semakin bersemangatlah orang tersebut untuk giat
belajar dan sebaliknya jika seseorang tidak memiliki minat maka dia akan enggan
belajar. Pada umumnya minat ini timbul dengan motivasi dari kesadaran dirinya
sendiri. Namun, kebanyakan remaja saat ini cenderung bersemangat jika setelah
mendengarkan motivasi dari seseorang bukan dari kesadaran dirinya sendiri
secara utuh. Hal ini, menyebabkan semangat belajar hanya bersifat sementara
saja dan akhirnya kembali enggan belajar.

2. Inteligensi (kecerdasan)

Menurut Wechler dalam Dimyati dan Mudjiono, bahwa inteligensi adalah


suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak
secara terarah, berpikir secara baik, dan bergaul dengan lingkungan secara
efisien. Kecakapan tersebut menjadi aktual bila siswa memecahkan masalah
dalam belajar atau kehidupan sehari-hari. Inteligensi-diantara berbagai faktor
yang dapat mempengaruhi belajar, faktor integritas sangat besar pengaruhnya
dalam proses dan kemajuan individu. Apabila individu memiliki inteligensi rendah
sulit untuk memperoleh hasil belajar yang baik dan sebaliknya. Dengan kata lain
kecerdasan sangat menentukan perkembangan belajr seseorang. Saat ini
kebanyakan remaja yang memang minat belajarnya kurang merasa pesimis
dengan inteligensinya sehingga enggan untuk melanjutkan sekolah.

3. Bakat

Disamping inteligensi, bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya


terhadap proses dan hasil belajar seseorang dalam suatu bidang tertentu. Bakat
adalah “salah satu kemampuan manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan
sudah ada sejak manusia itu ada”.
Banyak remaja saat ini tidak mengetahui bakat sebenarnya yang dimiliki
sehingga salah dalam memilih jurusan atau cita-citanya. Sehingga kesulitan
dalam proses pembelajarannya. Dan menyebabkan rasa enggan bahkan ada
yang benar-benar membenci pelajaran tersebut. Namun ada juga yang
mengetahui bakat yang dimilikinya tapi tidak dapat mewujudkanya kerena
faktor-faktor tertentu.

4. Motivasi
Motivasi adalah “daya penggerak atau pendorong untuk melakukan
sesuatu pekerjaan, yang bisa berasal dari dalam diri dan juga dari luar”.
Motivasi didefinisikan sebagai kekuatan psikologis yang menggerakkan seseorang
ke arah beberapa jenis tindakan(Haggrat, 1989) dan sebagai suatu kesediaan
peserta didik untuk menerima pwmbelajaran.

Motivasi yang berasal dari dalam diri (intrinsic) yaitu dorongan yang
datang dari sanubari, umumnya karena kesadaran akan pentingnya sesuatu at-
au dapat juga karena dorongan bakat apabila ada kesesuaian dengan bidang
yang dipelajari. Motivasi yang berasal dari luar (ekstrinsik) yaitu dorongan yang
datang dari luar (lingkungan), misalnya dari orang tua, guru teman-teman dan
anggota masyarakat. Seseorang yang belajar dengan motivasi kuat, akan
melaksanakan semua kegiatan belajarnya dengan sungguh-sungguh, penuh
gairah atau semangat. Sebaliknya, belajar dengan motivasi yang lemah, akan
malas bahkan tidak mau mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan dengan
pelajaran. Jadi kuat lemahnya motivasi seseorang turut mempengaruhi
keberhasilannya.
5. Konsentrasi Belajar

Menurut Thursan Hakim, bahwa konsentrasi adalah “merupakan suatu


kemampuan untuk memfokuskan pikiran, perasaan, kemauan, dan segenap
panca-indra ke satu objek di dalam suatu aktivitas tertentu, dengan disertai
usaha untuk tidak memedulikan objek-objek lain yang tidak ada hubungannya
dengan aktivitas itu”. Pemusatan perhatian (fokus) tertuju pada objek/isi bahan
belajar maupun proses memperolehnya, dan tidak terpengaruh dengan
sekelilingnya. Konsentrasi sangat mempengaruhi proses belajar seseorang,
apabila konsen-trasi menurun tentu menggangu belajarnya. Hal ini sejalan
dengan pendapat Rooijakker dalam Dimyati dan Mudjiono, mengatakan bahwa
“kekuatan perhatian selama 30 menit telah menurun”. Ia menyarankan agar
guru memberikan istirahat selingan selama beberapa menit.

6. Kematangan dan Kesiapan

Kematangan merupakan suatu “tingkatan atau fase dalam pertumbuhan


seseorang, di mana seluruh organ-organ biologisnya sudah siap untuk
melakukan kecakapan baru”. Misalnya siap anggota tubuhnya untuk belajar.
Dalam konteks proses pembelajaran, kesiapan untuk belajar sangat menentukan
aktifitas belajar siswa. Siswa yang belum siap belajar, cenderung akan berprilaku
tidak kondusif, sehingga pada gilirannya akan mengganggu proses belajar secara
keseluruhan. Seperti siswa yang gelisah, ribut (tidak tenang) sebelum proses
belajar dimulai.

7. Kelelahan

Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani


(fisik) dan kelelahan rohani (psikis). Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah
lunglainya tubuh dan muncul kecenderungan untuk membaringkan tubuh.
Kelelahan ini disebabkan oleh terjadinya kekacauan subtansi sisa pembakaran di
dalam tubuh, sehingga darah tidak atau kurang lancar pada bagian-bagian
tertentu. Sedangakan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan
dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk berbuat sesuatu termasuk
belajar menjadi hilang. Kelelahan jenis ini ditandai dengan kepala pusing,
sehingga sulit berkonsentrasi, seolah-olah otak kehilangan daya untuk bekerja.

8. Kejenuhan dalam Belajar

Menurut Reber yang dikutip oleh Tohirin dalam Muhibbin Syah, bahwa
kejenuhan belajar adalah “rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar,
tetapi tidak mendatangkan hasil”. Seseorang siswa yang mengalami kejenuhan
belajar, sistem akalnya tidak dapat bekerja sebagaimana yang diharapkan dalam
memproses item-item informasi atau pengalaman baru, sehingga kemajuan
belajarnya seakan-akan mandeg (stagnan) tidak mendatangkan hasil.

2.1.2 Faktor Eksternal Siswa


a. Faktor Lingkungan Keluarga

Keluarga adalah “ayah, ibu, dan anak-anak serta famili yang menjadi
penghuni rumah”. Faktor lingkungan rumah atau keluarga ini merupakan
lingkungan pertama dan utama dalam menentukan perkembangan pendidikan
seseorang, dan tentu saja merupakan faktor pertama dan utama pula dalam
menentukan keberhasilan belajar seseorang. Orang tua adalah penanggung
jawab keluarga. Dalam pendidikan keluarga menjadi suatu kebutuhan yang
mendasar, sebab keluarga adalah awal dimana anak mengenal dengan orang
lain dan dirinya sendiri, serta pertama-tama mendapatkan pendidikan, yaitu
pendidikan yang diberikan oleh kedua orang tuanya dan merupakan kewajiban
yang bersifat kodrati dan bersifat agamis. Hal ini diterangkan dalam Firman Allah
surah at-Tahrim ayat 6 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka”.(Qs.At-Tahrim: 6)

Ayat tersebut, jelas peran orang tua di lingkungan keluarga sangat memegang
kunci. Kalau dari awal proses belajar dan perkembangan anak tetap tercurah
oleh para orang tua, maka tercipta kondisi yang ideal bagi terwujudnya pola pikir
anak ke arah pembelajaran yang baik.

b. Faktor Lingkungan Sekolah


Sekolah adalah lembaga formal terjadinya proses belajar mengajar.
Selain pendidikan dalam keluarga, pendidikan di sekolah diperoleh seseorang
secara teratur, sistematis, bertingkat mulai TK sampai keperguruan tinggi.
Salah satu yang menunjang keberhasilan belajar seseorang di sekolah adalah:
1. Adanya kurikulum yang baik, yakni kurikulum sesuai dengan kemampuan
siswa, sedangkan kurikulum kurang baik adalah kurikulum terlalu padat,
di atas kemampuan siswa.
2. Sarana prasarana, yakni lengkapnya prasarana dan sarana pembelajaran
merupakan kondisi pembelajaran yang baik, karena adanya gedung
sekolah dengan lengkap fasilitas belajar, seperti buku pegangan anak,
ruang ibadah, laboratorium dan lain-lain. Jadi adanya kelengkapan
fasilitas dan sarana dapat mempengaruhi kegiatan belajar anak. Anak
didik dapat belajar dengan baik apabila suatu sekolah memenuhi segala
kebutuhan belajar anak didik.
3. Tata tertib dan disiplin. Menurut Thursan Hakim bahwa salah satu yang
paling mutlaq harus ada di sekolah untuk menunjang keberhasilan belajar
adalah adanya “tata tertib dan disiplin yang ditegakkan secara konsekuen
dan konsisten”. Disiplin tersebut harus ditegakkan secara menyeluruh,
dari pimpinan sekolah yang bersangkutan, para guru, siswa sampai
karyawan sekolah lainnya. Dengan cara inilah dapat mempengaruhi
prestasi belajar para siswa.
4. Guru. Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar
mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya
manusia yang potensial di bidang pembangunan. Guru yang baik adalah
guru yang profesional, mengajar sesuai dengan keahliannya. Apabila
kurang ahli dalam bidang pelajaran tertentu, maka jadi sasarannya adalah
siswa, yang kurang menguasai dengan materi.
5. Relasi guru dengan siswa. Proses interaksi siswa dengan guru,
dipengaruhi hubungan yang ada. Apabila guru dapat berinteraksi dengan
siswa dengan baik, akrab, siswa akan menyukai gurunya, juga akan
menyukai mata pelajaran yang diberikan oleh guru, sehingga siswa
mempelajarinya dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya apabila guru kurang
berinteraksi dengan siswa secara akrab, menyebabkan proses belajar
mengajar kurang lancar. Juga siswa merasa jauh dari guru, maka ia segan
berpartisipasi secara aktif dalam belajar.

c. Faktor Lingkungan Masyarakat


1. Kegiatan siswa dalam masyarakat, yakni kegiatan siswa dalam
masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan
pribadinya. Tetapi kalau kegiatan siswa terlalu banyak maka akan
terganggu belajarnya, karena ia tidak bisa mengatur waktu.
2. Media Massa, yang dimaksud dalam media massa adalah bioskop,
radio, TV, surat kabar, buku-buku, komik. Dan lain-lain. Media massa
yang baik akan memberi pengaruh yang baik terhadap siswa dan juga
terhadap belajarnya. Sebaliknya media massa yang jelek juga
berpengaruh jelek terhadap siswa.
3. Teman bergaul. Pengaruh dari teman bergaul siswa lebih cepat masuk
dalam jiwanya daripada yang kita duga. Teman yang baik membawa
kebaikan, seperti membawa belajar bersama, dan teman pergaulan
yang kurang baik adalah yang suka begadang, pecandu rokok, minum-
minum maka berpengaruh sifat buruk juga.
4. Bentuk kehidupan masyarakat, yakni apabila kehidupan masyarakat
yang terdiri dari orang-orang berpendidikan, terutama anak-anaknya
rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik. Masyarakat yang terdiri
dari orang-orang tidak terpelajar, penjudi, suka mencuri dan
mempunyai kebiasaan yang tidak baik, akan berpengaruh jelek kepada
anak yang berada dilingkungan itu.

2.2 Solusi
Untuk mengatasi permasalahan dari faktor lingkungan keluarga pertama
dan utama adalah sebagai orang tua harus mengetahui factor mana yang
mempengaruhi semangat belajar anak. . Jika memang kondisi kita sendiri
sebagai orang tua yang kurang kondusif, maka kita mesti jujur. Selain itu,
perhatian orang tua juga sangat penting terutama dalam membangun hubungan
yang terkait dengan kesulitan-kesulitan yang mungkin dialami anak. Juga
hubungan silaturrahmi antara orang tua dan guru, ini juga merupakan bentuk
perhatian terhadap perkembangan belajar anak. Namun disamping itu semua
orang tua juga senantiasa mendoakan.
Persaingan antar saudara (sibbling rivalry) bisa berpengaruh positif
maupun negative pada anak Kebijaksanaan orang tua sangat diperlukan. Bekal
dan modal utamanya adalah pengakuan bahwa tiap anak memiliki ciri dan
kondisi yang memang berbeda, oleh karena itu cara mendorong, membimbing
dan mengarahkannyapun sangat mungkin tidak sama antar anak satu dengan
yang lain.
Sedangkan dari faktor lingkungan sekolah sebaiknya dimulai dari
kesadaran guru untuk bersikap hangat akan cenderung memotivasi semangat
belajar muridnya. Guru yang hangat adalah yang selalu menyapa ramah murid-
muridnya, terbuka, pintar mengajar, tapi juga yang selalu mengoreksi PR yang
dibuat murid-muridnya. Seseorang akan cenderung mengulangi perbuatannya,
jika perbuatan itu memberi rasa senang dan puas. Berikut ini hal-hal yang dapat
meningkatkan motivasi murid yaitu:
1. Memberi angka, Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan
belajarnya.
2. Hadiah
3. Kompetisi
4. Pujian
5. Hukuman
Sedangkan faktor internal hanya dapat diatasi dengan usaha siswa sendiri
dengan membuat dirinya nyaman dan tidak terbebani dalam belajar, contohnya
belajar sambil mendengarkan music, belajar kelompok, tebak-tebakan dengan
teman seputar pelajaran.sedangkan agar dapat berkonsentrasi yaitu dengan rilek
atau bersantai. Untuk sederhananya lakukanlah tips-tips agar semangat dalam
belajar berikut:
1. Bergaul dengan orang yang giat belajar.
Bergaul dengan orang-orang yang senang belajar dan berprestasi, akan
membuat kita pun gemar belajar. Bertanyalah tentang pengalaman di berbagai
tempat kepada orang-orang yang pernah atau sedang melanjutkan
pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, orang-orang yang mendapat beasiwa
belajar di luar negeri, atau orang-orang yang mendapat penghargaan atas
sebuah prestasi.
2. Belajar apapun
Pengertian belajar di sini dipahami secara luas, baik formal maupun
nonformal. Kita bisa belajar tentang berbagai keterampilan seperti merakit
komputer, belajar menulis, membuat film, berlajar berwirausaha, dan lain lain-
lainnya.
3. Bergaulah dengan orang-orang yang optimis dan selalu berpikiran pos.
2.3 Pendidikan
Kata Pendidikan berdasarkan KBI berasal dari kata ‘didik’ dan kemudian
mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses
atau cara atau perbuatan mendidik.

Kata Pendidikan Juga berasal dari Bahasa yunani kuno yaitu dari kata “
Pedagogi “ kata dasarnya “ Paid “ yang berartikan “ Anak “ dan Juga “ kata
Ogogos “ artinya “ membimbing ”. dari beberapa kata tersebut maka kita
simpulkan kata pedagos dalam bahasa yunani adalah Ilmu yang mempelajari
tentang seni mendidik Anak .

Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan


tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran dan pelatihan yang sesuai prosedur pendidikan itu
sendiri.

Kemudian kita berlanjut pada UU tentang adanya pendidikan tersebut,


Menurut UU No. 20 tahun 2003 pengertian Pendidikan adalah sebuah usaha
yang di lakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, membangun
kepribadian, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Undang – undang inilah
yang menjadi dasar berdidirinya proses pendidikan yang ada di Negara
Indonesia.
Pengertian pendidikan menurut para Ahli, sebelum kita mengambil
pendapat para filosofi pendidikan dari orang barat, maka kita mengambil
pengertian pendidikan berdasarkan apa yang di sampaikan oleh bapak
pendidikan Nasional Indonesia Ki Hajar Dewantara, beliau telah menjelaskan
tentang pengertian pendidikan sebagai berikut :
“ Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun
maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada
anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat
dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.” Ki Hajar
Dewantara.

Pengertian pendidikan atau definisinya menurut pendapat para Ahli lain


yaitu :

Pengertian pendidikan menurut : Prof. Dr. M.J Langeveld :


“ Pendidikan ialah pemberian bimbingan dan bantuan rohani bagi yang masih
memerlukannya”.

Prof. Zaharai Idris seorang Ahli Epistimologi juga menyampaikan pendapatnya


tentang pengertian pendidikan ialah :
“ Pendidikan ialah serangkaian kegiatan komunikasi yang bertujuan, antara
manusia dewasa dengan si anak didik secara tatap muka atau dengan
menggunakan media dalam rangka memberikan bantuan terhadap
perkembangan anak seutuhnya” .

Terakhir Pengertian Pendidikan Menurut John Dewey :


“ Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan yang
fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama
manusia” .

2.4 Belajar dan Pembelajaran

Belajar Merupakan Tindakan dan Perilaku siswa yang kompleks, sebagai


tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu
terjadi atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi karena siswa
memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari
oleh siswa adalah keadaan alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan,
manusia atau hal-hal yang akan dijadikan bahan belajar.

Belajar adalah proses mencari, memahami, menganalisis suatu keadaan


sehingga terjadi perubahan perilaku, dan perubahan tersebut tidak dapat
dikatakan sebagai hasil belajar jika disebabkan oleh karena pertumbuhan atau
keadaan sementara. (Syaifuddin Iskandar : 2008 : 1)

Sedangkan pembelajaran adalah usaha mengorganisasikan lingkungan


belajar sehingga memungkinkan siswa melakukan kegiatan belajar untuk
mencapai tujuan pembelajaran dengan menggunakan berbagai media dan
sumber belajar tertentu yang akan mendukung pembelajaran itu nantinya.

2.5 Tugas Guru dan Kinerja Guru

2.5.1 Tugas seorang guru dapat diartikan dalam arti luas sebagai
berikut :
1. Menciptakan suasana atau iklim proses pembelajaran yang dapat
memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan bersemangat.
2. Memiliki tugas yang beragam yang berimplementasi dalam bentuk
pengabdian. Tugas tersebut meliputi bidang profesi, bidang kemanusiaan,
dan bidang kemasyarakatan.
3. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih.
4. Mengembangkan nilai-nilai hidup dan kehidupan.
5. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
6. Mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.
7. Sebagai orangtua kedua yang memiliki artian pengganti orang tua di
lingkungan sekolah
8. Merencanakan dan melaksanakan pengajaran

2.5.2 Kinerja guru

Istilah “kinerja” merupakan pengalih bahasaan dari bahasa Inggris


“Performance” yang berarti unjuk kerja atau penampilan kerja. Kinerja adalah
hasil atau taraf kesuksesan seseorang dalam bidang pekerjaanya ,diantara nya
pendapat pendapat para ahli antata lain adalah :

a. Menurut Helfert dalam Veithzal Rivai dan Ella Jauvani Sagala (2009:604),
kinerja adalah suatu tampilan keadaan secara utuh atas perusahaan selama
periode waktu tertentu, merupakan hasil atau prestasi yang dipengaruhi oleh
kegiatan operasional perusahaan dalam memanfaatkan sumber-sumber daya
yang dimiliki.“bahwa kinerja didefinisikan sebagai nilai dari himpunan perilaku
karyawan yang berkontribusi, baik positif atau negatif, untuk pencapaian tujuan
organisasi. Definisi ini berarti, kinerja meliputi perilaku yang berada dalam
kontrol karyawan, tetapi masih dalam batas perilaku pekerjaan (bukan yang
diluar itu) dan relevan dengan kinerja”.
b. Teori lain mengungkapkan bahwa, Kinerja merupakan suatu fungsi dari
motivasi dan kemampuan. Untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan seseorang
sepatutnya memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu.
Kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan
sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan dan
bagaimana mengerjakannya. pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan padanya.

METODE
Subyek penelitian ini atau sumber penelitian adalah siswa, sedangkan
obyeknya adalah factor-faktor yang mempengaruhi menurunnya pretasi belajar.
Penelitian ini tidak dilakukan penarikan sampel, yang berjumlah kurang lebih 15
orang. Data penelitian ini dikumpulkan dengan teknik : Observasi, Wawancara
dan angket. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
deskriptif kualitatif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Apakah Ada pengaruh dari orang lain dengan turunnya minat belajar para
pelajar?

Yang menjawab “YA” : 82/100 x 100 = 82%


Yng menjawab “TIDAK” : 18/100 x 100= 18%

Jadi, dari hasil di atas bahwa 82%respnden pada pertanyaan pertama


mereka menjawab Yng “YA” karena setiap orang dapat terpengaruh dengan
orang lain dengan setiap ajakan orang. Terutama ajakan teman teman untuk
bermain, misalnya hang out untuk nnton ke bioskop, sepulang nnton psti merasa
capek and jadi malas belajar, bawaanya pingin tidur. Dan ada alas an lain yaitu
katanya sih terhantung dari individunya sendiri.

2. Apakah ada dampak dari turunnya minat belajar para pelajar?


Dari response yang menjawab dampak terhdap turunnya minat pelajar
itu ada, contohnya presatasi dalam belajar akan menurun dan masa depannya
tidak akan cerah.

3. Apakah ada pengaruh dari keluarga yang brokenhome dengan turunnya


minat belajar para siswa?
Jadi hasil di atas bahwa 92% responden pada pertanyaan ketiga mereka
menjawab YA karena kurangnya perhatian dari orangtua padaanak
menyebabkan anak kehilangan jatidirinya dan tujuan hidupnya sehingga rasa
semnagat belajar akan berkurang

Hasil Observasi
Berdasarkan hasil observasi yang saya lakukan, saya mendapatkan bahwa
pengaruh turunnya minat belajar para pelajar itu karena faktor tidak suka sama
mata pelajaran tersebut dan faktor guru yang mengajar .Ketika kita membenci
pelajaran atau gurunya otomatis minat belajar kita tehadapa pelajaran tersebut
berkurang. Bahkan mungkin kita tidak akan bisa memperoleh apapun dari apa
yang telah di ajarkan gurunya

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Menurunnya semangat belajar remaja disebabkan dua faktor yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu yang berasal dari diri individu
sendiri yang ada dua yaitu faktor fisiologi dan faktor psikologi. Sedangkan faktor
eksternal yaitu yang berasal dari luar individu yakni faktetor lingkungannya.
Untuk mengatasi faktor eksternal dengan kesadaran orang tua dan
perhatian mereka terhada proses belajar anak. Selain itu juga dalam hal
pergaulan mencari teman yang giat belajar. Juga perhatian
guru sangat berpengaruh. Sementara faktor internal dengan kesadaran sendiri
akan pentingnya belajar serta cara menyamankan dirinya dalam belajar. Sepeti
bagaimana mengatur waktu dengan baik agar sesuai dengan kebutuhkan.

3.2 Saran
Guru disarankan untuk meningkatkan profesionalisme dalam mengajar agar
tercipta kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Yaitu siswa dapat belajar
dengan senang dan nyaman, sehingga dapat membangkitkan semangat
belajarnya siswa. Dan siswa disarankan agar lebih aktif dalam mengikuti proses
pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi yang memuaskan bagi
siswa.
Daftar Pustaka

Syaifuddin Iskandar, DR, M.Pd, Materi Mata Kuliah Belajar dan Pembelajaran.
2008 Universitas Samawa

Azhari Zakri, (2003).Belajar dan Pembelajaran. Pekanbaru : Yayasan Obor Desa

Hamalik O, (1994). Metode Belajar dan kesulitan-Kesulitan Belajar. Surabaya:


Usaha Nasional.

Sardiman, (2004). Interaksi dan Motovasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada
Sugiono, (2005). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : CV. Alfabeta