Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume12, No.

1Februari2016

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAMANYA WAKTU TANGGAP


DALAM PELAYANAN GAWAT DARURAT DI INSTALASI GAWAT DARURAT
RSUD Dr SOEDIRMAN KEBUMEN

Arif Mahrur 1 Isma Yuniar 2 Sarwono 3


1, 2, 3Jurusan
Keperawatan STIKES Muhammadiyah Gombong

ABSTRAK
Instalasi Gawat Darurat sebagai gerbang utama penanganan kasus
gawat darirat di rumah sakit memegang peranan penting dalam upaya
penyelamatan hidup pasien. Wide (2009) telah membuktikan secara jelas
tentang pentingnya waktu tanggap (respon time). Waktu tanggap tergantung
kepada kecepatan yang tersedia serta kualitas pemberian pertolongan
untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah cacat. Pelayanan pasien
gawat darurat memegang peranan yang sangat penting berdasarkan kaidah
time saving is live saving. Mekanisme waktu tanggap disamping
menentukan keluasan rusaknya suatu organ juga dapat mengurangi beban
pembiayaan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi lamanya waktu tanggap dalam pelayanan gawat darurat di
Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr Soedirman Kebumen Metode penelitian
ini menggunakan pendekatan cross sectional, dengan teknik pengambilan
sampling total sampling, sejumlah 24 responden. Teknik analisis data
menggunakan uji chi square. Sebagian perawat memiliki waktu tanggap
tepat sebanyak 18 (75%). Uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan
antara waktu tanggap dengan tingkat kegawatan (triase) dibuktikan dengan
p=00801. Terdapat hubungan antara waktu tanggap dengan keterampilan
perawat (p=0,007), dan terdapat hubungan antara waktu tangga dengan
beban kerja (p=0,003)
Waktu tanggap perawat dalam pelayanan gawat darurat di Instalasi
Gawat Darurat di RSUD Dr Soedirman Kebumen rata-rata tepat. Tidak
terdapat hubungan antara waktu tanggap dengan tingkat kegawatan dan
terdapat hubungan antara waktu tanggap dengan keterampilan dan beban
kerja perawatan

Kata Kunci: waktu tanggap(respon time), tingkat kegawatan, keterampilan,


beban kerja gawat darurat

PENDAHULUAN (2009) telah membuktikan secara


Instalasi Gawat Darurat jelas tentang pentingnya waktu
sebagai gerbang utama tanggap (respon time) bahkan
penanganan kasus gawat darurat padapasien selain penderita
di rumah sakit memegang penyakit jantung.
peranan penting dalam upaya Mekanisme waktu tanggap,
penyelamatan hidup pasien. Wide disamping menentukan keluasan

36
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume12, No. 1Februari2016

rusaknya organ-organ dalam, juga dan eksternal yang mempengaruhi


dapat mengurangi beban keterlambatan penanganan waktu
pembiayaan. Kecepatan dan tanggap kasus gawat darurat
ketepatan pertolongan yang antara lain karakteristik pasien
diberikan pada pasien yang (triase), keterampilan perawat dan
datang ke instalasi gawat darurat beban kerja perawat. Hal ini bisa
memerlukan standar sesuai menjadi pertimbangan dalam
dengan waktu tanggap yang cepat menentukan konsep tentang
dan penanganan yang tepat. Hal waktu tanggap penanganan kasus
ini dapat dicapai dengan di Instalasi Gawat Darurat di
meningkatkan sarana, prasarana, rumah sakit.
sumber daya manusia dan Berdasarkan studi
manajemen instalasi gawat pendahuluan yang dilakukan
darurat rumah sakit sesuai penulis pada tanggal 24 Februari
standar (Menkes, 2009) 2015, didapatkan data jumlah
Waktu tanggap dikatakan pasien yang masuk Instalasi
tepat waktu dan tidak terlambat Gawat Darurat RSUD Dr
apabila waktu yang diperlukan Soedirman selama Bulan Januari
tidak melebihi waktu rata-rata 2014-Bulan Januari 2015 adalah
standar yang ada. Salah satu 33,911 pasien. Data tenaga
indikator keberasilan perawat berjumlah 25 perawat
penanggulanagan medik penderita pembagian tim diatur oleh kepala
penderita gawat darurat adalah ruang Insalasi gawat darurat
kecepatan memberikan dengan pembagian sebagai
pertolongan yang memadai kepada berikut, tim bedah dan resusitasi
penderita gawat darurat baik pada 9 perawat, non bedah 7 perawat,
keadaan sehari-hari atau sewaktu tim observasi berjumlah 7 perawat
bencana. Keberhasilan waktu dan perawat magang 2 orang.
tanggap sangat tergantung kepada Waktu tanggap RSUD Dr
kecepatan kualitas pemberian Soedirman Kebumen lebih tunggi
pertolongan untuk dari prinsip umum standar
menyelamatkan nyawa atau penanganan pasien di Instalasi
menvega cacat sejak ditempat Gawat Darurat yaitu 7 menit 16
kejadian, dalam perjalanan hingga detik dianggap perlu untuk
pertolongan rumah sakit melakukan penelitan terkait
(Moewardi, 2003) waktu tanggap.
Yoon et al (2003)
mengemukakan faktor internal
METODE PENELITIAN sectional. Responden dalam
Desain penelitian ini adalah penelitian ini berjumlah 24 dan di
non eksperimental dengan desain ambbil dengan tehnik total
deskriptif korelasional. Rancangan sampling. Uji statistic yang
penelitian yang digunakan dalam digunakan adalah chi square
penelitian ini adala cross

37
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume12, No. 1Februari2016

HASIL DAN BAHASAN tanggap di RSUD Dr Soedirman


Hubungan antara tingkat Kebumen
kegawatan (triase) dengan waktu

Tabel 1 Hubungan antara tingkat kegawatan (triase) dengan waktu tanggap


di RSUD Dr Soedirman Kebumen
Variabel Waktu Tanggap
Tingkat kegawatan (triase) Tidak tepat Tepat
F % f %
Hijau 1 4,2 5 20,8
Kuning 2 8,3 4 16,7
Merah 3 12,5 9 37,5
P value = 0,801
Berdasarkan tabulasi silang (merah). Hal ini kemungkinan
pada tabel di atas diketahui dikarenakan adanya perbedaan
bahwa perawat dengan tindakan prinsip untuk penentuan kategori
triase warna merah dan masuk tingkat kegawatan pasien pada
kategori waktu taggap sebanyak 9 petugas tersebut. Penelitian
(37,5%) kemudian perawat dengan sebelumnya yang dilakukan oleh
tindakan triase warna hijau dan Fadhilah N (2013) dimana pasien
masuk kategori waktu tanggap yang memiliki tingkat kegawatan
tepat sebanyak 5 (20,8%) dan gawat tidak darurat (kuning)
perawat dengan tindakan triase memiliki waktu tanggap yang
warna kuning dan masuk kategori tepat, sedangkan tingkat
waktu tanggap tepat sebanyak 4 kegawatan gawat darurat (merah)
(16,7%). Hasil uji chi square waktu tanggap menjadi lebih
menunjukkan p=0,801 (>0,05) lama. Sehingga, masih ada asumsi
sehingga Ho diterima yang berarti bahwa tingkat kegawatan tetap
tidak ada hubungan antara menjadi faktor yang berhubungan
tingkat kegawatan (triase) dengan dengan waktu tanggap, walaupun
waktu tanggap di RSUD Dr hubungan tersebut tidak secara
Soedirman Kebumen langsung teradi karena berbagai
Berdasarkan hasil kondisi yang teradi di Instalasi
penelitian di Instalasi Gawat Gawat Darurat
Darurat RSUD Dr Soedirman Pada kasus
Kebumen menunukkan tidak ada kegawatdaruratan, perawat harus
hubungan antara tingkat dapat mengatur alur pasien yang
kegawatan (triase) dengan waktu baik, terutama pada jumlah ruang
tanggap (p=0,801). Kemungkinan yang terbatas, memprioritaskan
hal tersebut disebabkan oleh tidak pasien terutama untuk menekan
meratanya penyebaran tingkat jumlah morbiditas dan mortilitas,
kegawatan pasien dalam yang terakhir adalah pelabelan/
penelitian ini dimana lebih dari pengkategorian tingkat
separuh jumlah pasien masuk ke kegawatan. Pelayanan pasien
dalam kategori gawat darurat gawat darurat adalah pelayanan

38
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume12, No. 1Februari2016

yang memerlukan pertolongan peranan yang sangat penting


segera yaitu cepat, tepat, dan bahwa waktu adalah nyawa ( time
cermat untuk mencegah kematian saving is life safing). (Haryatun,
dan kecacatan, atau pelayanan 2008)
pasien gawat darurat memegang

Hubungan antara Keterampilan perawat dengan waktu tanggap di RSUD


Dr Soedirman Kebumen

Tabel 2 Hubungan antara Keterampilan perawat dengan waktu tanggap di


RSUD Dr Soedirman Kebumen
Waktu Tanggap
Keterampilan Tidak tepat Tepat
f % f %
Cukup 5 20 4 16,7
Terampil
Terampil 1 4,2 14 58,3
P value = 0,007
Berdasarkan tabulasi silang dengan waktu tanggap di RSUD
pada tabel di atas diketahui Ambarawa
bahwa perawat dengan Menurut Oman (2008), di
keterampilan kategori terampil Instalasi Gawat Darurat
dan masuk kategori waktu keterampilan perawat sangat
tanggap tepat sebanyak 14 dibutuhkan terutama dalam
(58,3%), sedangkan perawat pengambilan keputusan klinis
dengan keterampilan kategori dimana keterampilan sangat
cukup terampil dan masuk penting dalam penilaian awal
kategori waktu tanggap tepat perawat harus mampu
sebanyak 4(16,7%). Hasil uji memprioritaskan perawatan
square menunukkan p=0007 (< pasien atas dasar pengambilan
0,05) sehingga Ho ditolak yang keputusan yang tepat, untuk
berrti ada hubungan antara mendukung hal tersebut
keterampilan perawat dengan dibutuhkan keterampilan dalam
waktu tanggap di RSUD Dr melakukan tindakan keperawatan
Soedirman Kebumen Hasil penelitian ini menguatkan
Berdasarkan hasil penelitian di hasil penelitian Asih (2014) yang
Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr menyatakan ada pengaruh
Soedirman Kebumen keterampilan kerja terhadap
menunukkan ada hubungan kinerja perawat sehingga
antara keterampilan perawat menyarankan agar rumah sakit
dengan waktu tanggap (p=0,007). meningkatkan keakapan perawat
Sesuai penelitian yang dilakukan dalam mengambil keputusan yang
oleh Istanto (2002) menyatakan berkaitan dengan tugas
ada hubungan antara keperawatan, sehingga
keterampilan dalam pelaksanaan diharapkan kinerja dapat
standar asuhan keperawatan meningkat secar optimal

39
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume12, No. 1Februari2016

Salah satu faktor yang memiliki tingkat keterampilan


mempengaruhi kinerja karyawan kera menurut Hasibuan (2010)
bagian keperawatan adalah Keterampilan perawat sangat
keterampilan kerja. Skill atau penting karena didalamnya
keterampilan seorang perawat merupakan ujung tombak utama
dapat dilihat saat perawat dalam sebuah pelayanan
melakukan tindakan keperawatan khususnya dalam pelayanan
sesuai dengan SPO (Standar gawat darurat. Dalam konteks
Prosedur Operasional) yang pelayanan kegawatdaruratan,
berlaku. Selain itu, keterampilan aspek asuhan keperawatan pada
kerja perawat dapat dilihat dari tahap pelaksanaan ini harus
pengujian kompetensi perawat. mengacu kepada doktrin dasar
Tingkat kemampuan pelayanan gawat darurat yaitu
seseorang tidak bisa diketahui time saving is live saving
karena kemampuan berasal dari
diri sendiri dalam bekerja Hubungan antara beban kerja
diperlukan keterampilan, keuletan dengan waktu tanggap di RSUD
dan kemampuan berfikir yang Dr Soedirman Kebumen
luas. Setiap individu akan

Tabel 3 Hubungan antara beban kerja dengan waktu tanggap di RSUD Dr


Soedirman Kebumen
Waktu tanggap
Beban kerja Tidak tepat Tepat
f % f %
Ringan 1 4,2 15 62,5
Berat 5 20,8 3 12,5
P value =0,003
Berdasarkan tabulasi silang waktu tanggap tepat sebantak 3
pada tabel 3 di atas diketahui (12,5%). Hasil ui chi square
bahwa perawat dengan beban menunjukkan p=0,003 (<0,05)
kerja kategori ringan dan masuk sehingga Ho ditolak yang berarti
kategori waktu tanggap tepat ada hubungan antara beban kerja
sebanyak 15 (62,5%) sedangkan dengan waktu tanggap di RSUD
perawat dengan beban kerja Dr Soedirman Kebumen
kategori berat dan masuk kategori

Faktor Paling berpengaruh tanggap dalam pelayanan gawat


terhadap lamanya waktu darurat
Tabel 4 Faktor Paling berpengaruh terhadap lamanya waktu tanggap dalam
pelayanan gawat darurat
Variabel B SE Wald df sig Exp-B
Keterampi 2,667 1,468 3,326 1 0,068 14,538
lan
Beban -1,526 0,725 4,427 1 0,035 0,217
kerja

40
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume12, No. 1Februari2016

Dari hasil uji statistik Menurut Hasibuan (2010) kinerja


multivariat pada tabel di atas tidak hanya dilihat dari faktor
dapat diketahui bahwa hanya keterampilan saja, banyak faktor
beban kerja yang memiliki nilai p- lain yang mempengaruhi seperti
value <0,05 maka perawat dengan halnya beban kerja yang terus
beban kerja ringan 0217x lebih meningkat. Beban kerja yang
kecil masuk kategori waktu tepat terus meningkat harus didukung
dalam waktu tanggap dalam oleh keadaan fisik seorang pekerja
pelayanan gawat darurat. Menurut Irwandy (2007) beban
Sehingga perlu mengurangi beban kerja adalah frekuensi kegiatan
kerja guna lebih meningkatkan rata-rata dari masing-masing
ketanggapan perawat dalam pekerjaan dalam jangka waktu
pelayanan gawat darurat tertentu. Beban kerja meliputi
Berdasarkan hasil penelitian di beban kerja fisik maupun mental.
Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr Akibat beban kerja yang berat
Soedirman Kebumen atau kemampuan fisik yang
menunukkan ada hubungan terlalu lemah dapat
antara beban kerja dengan waktu mengakibatkan seorang perawat
tanggap p=0,003. Semakin ringan menderita gangguan atau penyakit
beban kerja perawat semakin akibat kerja. Beban kerja
cepat waktu tanggap perawat, dan berkaitan erat dengan
semakin berat beban kerja produktifitas tenaga kesehatan
perawat semakin lambat pula dimana 532% waktu yang benar-
waktu tanggap perawat benar produktif yang digunakan
Sesuai dengan penelitian yang untuk kegiatan penunjang
dilakukan Widodo P (2007) yang Bertambahnya beban kera
menyatakan ada hubungan antara seseorang serta keadaan fisik yang
beban kera dengan waktu tanggap kurang mendukung, perawat saat
di Instalasi Gawat Darurat RSU bekerja dapat merasakan
Pandan Arang Boyolali. Beban kelelahan (Eralisa, 2009).
kerja yang berlebihan akan Kelelahan kerja merupakan salah
menimbulkan kelelahan baik fisik satu faktor penurunan kinerja
maupun mental dan reaksi-reaksi yang dapat menambah tingkat
emosional seperti sakit kepala, kesalahan dalam bekera
gangguan pencernaan dan mudah (Nurmianto, 2006). Kelelahan
marah sehingga waktu tanggap kerja yang tidak diatasi dapat
dalam pelayanan gawat darurat menimbulkan berbagai
semakin kurang tepat kecelakaan dalam bekera.
Menurut penelitian Dian Sehingga dapat dipastikan suatu
(2013) ada hubungan kelelahan rumah sakit wajib mengetahui
diakibatkan beban kera dengan tingkat kinerja dan hal yang dapat
kinerja perawat sehingga perlunya menimbulkan permasalahan
sumber daya manusia berupa dalam bekerja yaitu antara lain
perawat untuk dapat kelelahan kera yang dialami
meringankan beban kerja perawat. secara umum pada karyawan, dan

41
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume12, No. 1Februari2016

salah satunya pada perawat Yoo et profesional perawat.


al (2003) mengemukakan faktor Jakarta
internal dan eksternal yang Direktorat Keperawatan dan
mempengaruhi keterlambatan keteknisian Medik Dirjen
penanganan waktu tanggap kasus Yan Med Depkes RI.
gawat darurat antara lain karakter Depkes. RI. 2005.
pasien berdasarkan tingkat Keputusan Menteri
kegawatan (triase), keterampilan Kesehatan RI nomor :
perawat dan beban kerja 836/MENKES/SK/2005
tentang Pedoman
DAFTAR PUSTAKA pengembangan menejemen
Abidin, Z. M. 2011. Makalah kinerja perawat dan bidan.
tentang profesionalisme, Jakarta : Depkes RI.
diakses tanggal 25 februari Depkes. RI. 2005. Modul Pelatihan
2015, Pengembangan Manajemen
http://www.masbid.com. Kinerja Klinik
Arikunto, S. 2006. Prosedur Perawat/Bidan. Jakarta.
Penelitian Suatu Pendekatan Ferdinand, A. 2006. Metode
Praktek, Edisi Revisi VI, Penelitian Manajemen. Edisi
Rineka Cipta, Jakarta. 2. BP Universitas
Basoeki, A.P., Koeshartono, Dipenogoro. Semarang.
Rahardjo, E., & Haryatun N, Sudaryanto A. 2008.
Wirjoatmodjo. 2008. Perbedaan waktu tanggap
Penanggulangan Penderita tindakan keperawatan 17
Gawatt Darurat pasien cedera kepala
Anestesiologi & Reanimasi. kategori I-V di Instalasi
Surabaya: FK. Unair. Gawat Darurat RSUD Dr.
Bertnus. 2009. Faktor Yang Moewardi. Berita Ilmu
Mempengaruhi Keterampilan Keperawatan. 1(2):67-74
Seseorang Dalam Hidayat, A.A. 2007. Metode
Melakukan Sebuah Penelitian Kebidanan dan
Tindakan, diakses dari Teknik Analisis Data. Edisi
http://digilib.unimus.ac.id/ I. Jakarta : Salemba
files/disk1/115/jtptunimus Medika.
-gdl-taufikhida-5749-2- Krisanty, P, et al. 2009. Asuhan
babii.pdf pada tanggal 13 Keperawatan Gawat
maret 2015 Darurat. Cetakan Pertama.
Christian, P. 2008. Kertrampilan Jakarta: Penerbit Trans Info
dalam Keperawatan Kamus Media. Maryuani. 2009
Elektronik. Diakses tanggal Nursalam. 2007. Manajemen
25 desember 2014, Keperawatan, Aplikasi
http://www.content.com. dalam Praktek Keperawatan
Depkes. RI. 2004. Rancangan Profesional. Jakarta :
pedoman pengembangan Salemba Medika
sistem jenjang karir

42
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume12, No. 1Februari2016

Oman, K, Koziol, J, Scheetz. 2008. Reiter J. 2008. Emergency


Panduan Belajar Cesarean Sections: When 30
Emergency. EGC. Jakarta. Minutes is Not Fast Enough.
BTLG Newsletter, page 2.

43