Anda di halaman 1dari 22

BAB II

PENGUJIAN TARIK

2.1. Tujuan
1. Praktikan dapat mengetahui dan memahami sifat sifat mekanik dari suatu logam
atau paduannya (kekuatan tarik, kekuatan luluh, Modulus Elastisitas,
perpanjangan,tegangan.)
2. Praktikan dapat mengetahui dan memahami prinsip kerja dari alat pengujian
tarik (universal tensile streingth.
3. Praktikan dapat mengetahui dan memahami kurva uji tarik dalam pengujian tarik
( kurva mesin, kurva teknis, dan kurva tegangan regangan sebenarnya).
4. Praktikan dapat mengetahui dan memahami cara mencari titik luluh
menggunakan metoda offset padas kurva tegangan-regangan teknis.
5. Praktikan dapat mengetahui dan memahami standar pengujian dalam pengujian
tarik pada logam.

2.2. Teori Dasar


Pada dasarnya percobaan tarik ini dilakukan untuk menentukan respons material
pada saat dikenakan beban atau deformasi dari luar (gaya-gaya yang diberikan dari luar,
yang dapat menyebabkan suatu material mengalami perubahan struktur, yang terjadi
dalam kisi kristal material tersebut).Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk
menguji kekuatan suatu bahan atau material dengan cara memberikan beban gaya yang
sesumbu. Uji tarik mungkin adalah cara pengujian bahan yang paling mendasar. Uji
tarik rekayasa banyak dilakukan untuk melengkapi informasi rancangan dasar kekuatan
suatu bahan dan sebagai data pendukung bagi spesifikasi bahan. Pada uji tarik, benda uji
diberi beban gaya tarik sesumbu yang bertambah secara kontinyu, bersamaan dengan itu
dillakukan pengamatan terhadap perpanjangan yang dialami benda uji. Kurva tegangan
regangan rekayasa diperoleh dari pengukuran perpanjangan benda uji.
Prinsip Kerja Mesin Uji Tarik.

10
BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

Pengujian merupakan pengujian yang paling sederhana, dan sudah mengalami


standarisasi di seluruh dunia, misalnya di Amerika dengan ASTM E8 dan Jepang
dengan JIS 2241. Dengan menarik suatu bahan kita akan segera mengetahui sejauh
mana material itu bertambah panjang. Alat eksperimen untuk uji ini harus memiliki
cengkeraman (grip) yang kuat dan kekakuan yang tinggi (highly stiff). Standar
pengujian tarik yang digunakan adalah American Society for Testing Materials (ASTM)
E 8M-04 sebagai acuan metode pengujian standar pengujian tarik material logam
dengan mengambil standar detail dari ASTM A 370-03 yang merupakan metode
pengujian standar untuk pengujian mekanik produk baja karena spesimen yang
digunakan adalah baja.
Mesin uji tarik untuk material terdiri atas beberapa bagian yaitu bagian atas disebut
sebagai Crosshead (bagian yang bergerak yang menarik benda uji) yang terdiri dari
sepasang ulir silinder yang akan membawa atau menggerakan bagian crosshead. Pada
bagian bawah di buat statis. Bagian crosshead terdapat sensor load cell yang akan
mengukur besarnya gaya tarik, sedangkan untuk mengukur perubahan panjang
digunakan strain gages atau extensometer.Dengan menarik suatu bahan maka akan
mengetahui bagaimana bahantersebut bereaksi terhadap tenaga tarikan dan mengetahui
sejauh mana material itu bertambah panjang.
Engineering Stress-Strain Curve

Gambar 2.1 Kurva Teknis


Kurva di atas menunjukkan hubungan antara gaya tarikan dengan perubahan
panjang. Profil ini sangat diperlukan dalam desain yang memakai bahan
tersebut.Biasanya yang menjadi fokus perhatian adalah kemampuan maksimum bahan

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 11


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

tersebut dalam menahan beban. Kemampuan ini umumnya disebut Ultimate Tensile
Strength (tegangan tarik maksimum). Kurva di atas (gambar 1) merupakan kurva
standar ketika melakukan eksperimen uji tarik. Eadalah gradienkurva dalam daerah
linier, di mana perbandingan tegangan (σ) dan regangan (ε) selalu tetap. Ediberi nama
Modulus Elastisitas atau Young Modulus. Kurva yang menyatakan hubungan antara
strain dan stress seperti ini disingkat kurva SS (SS curve).
Hampir semua logam pada tahap awal dari uji tarik, hubungan antara beban atau
gaya yangdiberikan berbanding lurus dengan perubahan panjang bahan tersebut. Ini
disebut daerah linier atau linearzone. Di daerah ini, kurva pertambahan panjang vs
beban mengikuti aturan Hukum Hooke yaitu rasio tegangan (stress) dan regangan
(strain) adalah konstan. Stress adalah beban dibagi luas penampang bahan dan strain
adalah pertambahan panjang dibagi panjang awal bahan.
Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut :
Persamaan dalam mencari tegangan (σ) dan regangan adalah sebagai berikut :

F ∆l
σ= ε=
A l0

Di mana,
σ = Tegangan (Pa)
F = Gaya/beban (N)
A = Luas penampang (m2 )
ε = Regangan
Bentuk bahan yang diuji, untuk logam biasanya dibuat specimen dengan dimensi seperti
pada gambar berikut :

Gambar 2.2 Spesimen Uji Tarik

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 12


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

Gambar 2.3 Ilustrasi Pengukuran Regangan pada Spesimen

Perubahan panjang dari spesimen dideteksi lewat pengukur regangan (strain gage)
yang ditempelkan pada spesimen seperti diilustrasikan pada gambar . Bila pengukur
regangan ini mengalami perubahan panjang dan penampang, terjadi perubahan nilai
hambatan listrik yang dibaca oleh detektor dan kemudian dikonversi menjadi perubahan
regangan. Setiap material mempunyai kurva stress-strain yang berbeda – beda
tergantung dari komposisi danbeberapa faktor seperti perlakukan panas. Adapun kurva
tegangan-regangan dipengaruhi oleh :

1. Temperatur
Faktor temperatur sangat mempengaruhi bentuk kurva tegangan - regangan.
Secara umum hubungan dari temperatur terhadap material biasanya semakin
meningkatnya temperatur material akan meningkatkan keuletan (ductility) dan
ketangguhan (toughness) material, menurunkan modulus elastisitas, titik luluh,
dan UTS-nya.
2. Strain Rate
Strain rate adalah laju deformasi benda ketika mendapat beban. Dalam proses
manufaktur, benda kerja akan meregang terdeformasi sesuai dengan
kecepatan beban yang diterimanya. Strain rate merupakan fungsi perubahan
geometri benda / spesimennya. Efek dari strain rate pada flow stress adalah
semakin tinggi strain rate, makin tinggi flow stress. Efek ini adalah kebalikan
dari efek temperature pada flow stress.

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 13


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

Gambar 2.4 Grafik Strain Rate


Secara umum, dengan meningkatnya strain rate, maka kekuatan material akan
meningkat.
3. Efek Tekanan Hidrostatik
Efek tekanan hidrostatik mempengaruhi dari sifat material sebagai berikut:
a. Meningkatkan strain rate
b. Punya efek kecil (dapat diabaikan) terhadap kurva tegangan-regangan
c. Tak ada efek pada strain atau beban maksimum saat necking.
4. Efek Radiasi
Perubahan sifat material karena efek radiasi mengakibatkan kondisi material
sebagai berikut:
a. Yield stress naik
b. Tensile strength dan hardness meningkat
c. Ductility dan toughness menurun
Tegangan Regangan Teknik
Sifat-sifat mekanik material yang dikuantifikasikan salah satunya dengan kuat
tarik dapat diperoleh dengan pengujian tarik. Pada pengujian tarik uniaksial atau uji
satu arah, benda uji diberi beban atau gaya tarik pada satu arah dan gaya yang
diberikan bertambah besar secara kontinu. Pada saat bersamaan benda uji akan
bertambah panjang dengan bertambah gaya yang diberikan. Berdasarkan hasil
pengujian tarik yaitu berupa data gaya dan perpanjangan, maka dapat dianilisis untuk
menentukan tegangan dan regangan secara teknis, yaitu persamaannya:

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 14


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

F ∆l
σ= ε=
𝐴0 l0

Tegangan yang didapatkan dari kurva tegangan teknik adalah dengan cara membagi
beban dengan luas awal penampang benda uji itu.
Tegangan Regangan Sebenarnya
Tegangan-regangan teknik tidak memberikan indikasi karekteristik deformasi
yang sesungguhnya, karena kurva tersebut berdasarkan pada dimensi awal benda uji,
sedangkan selama pengujian terjadi perubahan dimensi. Pada uji tarik logam akan
terjadi penyempitan pada saat beban mencapai harga maksimum. Karena pada tahap
ini luas penampang lintang benda uji turun secara cepat, maka beban yang dibutuhkan
untuk melanjutkan deformasi akan segera mengecil.
Tegangan-regangan teknik menurun setelah melewati beban maksimum.
Keadaan sebenarnya menunjukkan, logam masih mengalami pengerasan regangan
sampai patah sehingga tegangan yang dibutuhkan untuk melanjutkan deformasi juga
bertambah besar. Tegangan yang sesungguhnya adalah beban pada saat manapun
dibagi dengan luas penampang lintang benda uji, luas penampang dimana beban itu
bekerja. Tegangan-regangan rekayasa didasarkan atas dimensi awal (luas area dan
panjang) dari benda uji, sementara untuk mendapatkan tegangan-regangan sejati
diperlukan luas area dan panjang aktual pada saat pembebanan setiap saat terukur.
Perbedaan kedua kurva tidaklah terlampau besar pada regangan yang kecil, tetapi
menjadi signifikan pada rentang terjadinya pengerasan regangan, pada kurva
tegangan-regangan sejati luas area aktual adalah selalu turun hingga terjadinya
perpatahan dan benda uji mampu menahan peningkatan tegangan karena yaitu setelah
titik luluh terlampaui. Secara khusus perbedaan menjadi demikian besar di dalam
daerah necking (pengecilan penampang). Adapun persamaan tegangan sebenarnya
dinyatakan sebagai berikut
Pada saat awal - UTS
Fn
σ= ∑𝑛 = ln(𝑒𝑛 + 1)
Ao

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 15


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

Pada saat terjadi fracture

F Ao
σ= ∑f = ln
𝐴𝑖 Af

Gambar 2.5 Kurva Tegangan Regangan Teknik dan Sebenarnya.

2.3. Metodologi Praktikum


2.3.1. Skema Proses

Siapkan alat dan bahan

Lakukan pengukuran pada spesimen


(diameter dan panjang gauge length)

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 16


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

Letakan spesimen pada grip atas dan


bawah pada mesin uji

Nyalakan mesin uji Tarik dan pastikan


specimen tercengkram grip

Amatilah specimen hingga terjadi


patahan

Lakukan perhiitungan

Analisa dan pembahasan

Kesimpulan
\
Gambar 2.6 Skema proses pengujian tarik
2.3.2. Penjelasan Skema Proses
a. Alat dan bahan yang disiapkan antara lain adalah mesin UTS,
milimeterblok, jangka sorong, panggaris, dan specimen yang akan diuji.
b. Dilakukan pengukuran pada specimen uji sebelum pengujian. Hal ini
bertujuan untuk untuk mengetahui luas penampang awal specimen dan
menentukan daerah dimana nantinya akan terjadi patahan (3 cm di tengah
specimen), dan juga untuk mencari tahu panjang awal dari specimen
tersebut.
c. Spesimen diletakan pada grip yang terdapat pada mesin uji, pastikan
peletakan specimen ini berada di tengah agar patahan yang terjadi tidak
keluar dari gauge length.

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 17


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

d. Kemudian, mesin pengujian logam dinyalakan sambil dipastikan grip


atas dan bawah nya tercengkram dengan erat.
e. Diamati spesimen uji tersebut hingga terjadi patahan pada spesimen.
f. Setelah itu, akan didapatkan beban maksimum yang mampu ditahan oleh
material tersebut dan akan di dapat kurva mesin yang menyatakan
hubungan antara beban yang diberi dan perubahan panjangnya yang
nantinya dapat di konversi menjadi kurva teknis dan kurva sebenarnya.
g. Dilakukan analisa dari data yang di dapat serta dari kurva yang telah di
cari.
h. Ditarik kesimpulan dari rangkaian praktikum yang sudah dilakukan.

2.4. Alat dan Bahan


2.4.1 Alat:
1. Alat Uji Tarik UTM : 1 buah
2. Penggaris 30 cm : 1 buah
3. Jangka Sorong 0,05 mm : 1 buah
4. Spidol permanent : 1 buah

2.4.2 Bahan:
1. Baja TP (Tulangan polos) : 1 buah
2. Kertas milimeterblok : 1 buah

2.5. Pengumpulan dan Pengolahan Data


2.5.1. Pengumpulan Data
A. Standar Pengujian : ASTM E8-M
B. Data Sebelum Penarikan :

Tabel 2.1 Data Sebelum Penarikan pengujian Tarik


No Data Keterangan
1 Jenis Material Baja TP (Tulangan polos) SNI 07-2052-2002

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 18


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

2 Panjang Awal (lo) lo = 34.15 mm Panjang Gauge Length Awal

3 Diameter Awal (do) do = 5 mm Diameter Gauge Length


Awal
4 Luas penampang Awal (Ao) Ao = 19.64 mm2 Ao = ¼ 𝜋do2

C. Data Setelah Penarikan:


Tabel 2.2 Data Setelah Penarikan Pengujian Tarik
No Data Keterangan
F max = 1410 kg Diperoleh dari hasil pengujian
1 F max
F max = 73 Kotak pada mesin
2 Skala 1 Kotak = 19.31 kg skala

Fy = 62 Kotak Tentuka posisi Fy dari kurva


3 Fy
Fy = 1197.22 kg mesin lalu hitung bebannya
4 Panjang Akhir (lf) lf = 41.65 mm Panjang Gauge Length Awal

5 Diameter Akhir (df) df = 3.4 mm Diameter Gauge length Awal

6 Luas Penampang Akhir (Af) Af = 9.07 mm2 Af = ¼ 𝜋df2

∆l = 7.5 mm ∆l = lf – lo, lalu bandingkan


7 Pertambahan Panjang (∆l)
∆l = 15 kotak skalanya pada kurva mesin
8 Kekuatan Tarik (𝜎u) 𝜎u = 71.79 kg/mm2 =717.9 MPa 𝜎u = F max/Ao

9 Kekuatan Luluh (𝜎y) 𝜎y = 60.95 kg/mm2 =609.5 MPa 𝜎y = Fy/Ao

10 Keuletan 𝜀 = 21.96% 𝜀 = ∆l/lo x 100 %


11 Modulus Elastisitas (E) E = 277.553 kg/mm2 = 2.7 GPa E = 𝜎y/𝜀

D. Tabel Hasil Perhitungan Kurva Mesin


Tabel 2.3 Tabel Hasil Perhitungan Kurva Mesin
Titik F (Kg) ∆l (mm)
0 0 0
1 77.24 1

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 19


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

2 231.72 2
3 386.2 3
4 502.06 3.5
5 617.92 3.5
6 753.09 3.75
7 907.57 4.25
8 1081.36 4.5
9 1197.22 5
10 1409 7.5
11 1255.15 10.5
12 1100.67 12

E. Tabel Konversi Kurva Mesin ke Kurva Teknis


Tabel 2.4 Tabel Hasil Konversi kurva mesin ke kurva teknis
Titik S 𝑒
0 0 0
1 3.93 0.03
2 11.8 0.058
3 19.66 0.087
4 25.56 0.102
5 31.46 0.102
6 38.34 0.109
7 46.21 0.124
8 55.05 0.131
9 60.95 0.146
10 71.74 0.219
11 63.90 0.307
12 56.04 0.351

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 20


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

F. Tabel Konversi Kurva Teknis ke Kurva sebenarnya


Tabel 2.5 Tabel Hasil Konversi kurva teknis ke kurva sebenarnya
Titik 𝜎 (Kg / mm2) E

0 0 0
1 3.93 0.0295
2 11.8 0.0563
3 19.66 0.0834
4 25.56 0.0971
5 31.46 0.0971
6 38.34 0.103
7 46.21 0.116
8 55.05 0.123
9 60.95 0.136
10 71.74 0.198
11 121.35 0.7725

Kurva

Kurva Mesin
1600 1409.2
1400 1255.15
1197.22
1200 1081.36 1100.67

1000 907.57
F ( Kg)

753.09
800 617.92
600 502.6
386.2
400 231.72
200 77.24
0
0
0 2 4 6 8 10 12 14

Pertambahan Panjang (mm)

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 21


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

80
Kurva Teknis
71.74
70 63.9
60.95
60 55.05 56.04

50 46.21
38.34
40
S

31.46
30 25.56
19.66
20
11.8
10 3.93
0
0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4
e

0.9 Kurva Sebenarnya


0.7725
0.8

0.7

0.6

0.5
E

0.4

0.3
0.198
0.2 0.136
0.0971
0.0834 0.1030.1160.123
0.0971
0.0563
0.1 0.0295
0
0
0 20 40 60 80 100 120 140

𝜎 (Kg / mm2)

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 22


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

G. Gambar

Gambar 2.7 Kurva mesin

Gambar 2.8 Spesimen Spesimen Baja TP Sebelum dan Sesudah Uji Tarik

2.5.2 Pengolahan Data


Pada tabel sebelum pengujian
a) Luas Penampang Awal (Ao) = ¼ 𝜋do2

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 23


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

= ¼ x 3,14 x (5 mm)2
= 19.64 mm2
Pada table setelah pengujian
F maks 1410 Kg
1. Skala = Jumlah kotak = 73 kotak = 19.31 Kg / kotak

2. Fy = jumlah kotak X Skala 1 kotak


= 62 kotak X 19.31 = 1197 Kg
3. Luas Penampang Akhir (∆f) = ¼ 𝜋df2
= ¼ x 3,14 x (3.4 mm)2
= 9.07 mm2
4. Perubahan Panjang (∆l) = lf -lo
= 41.65 mm – 34.15 mm
= 7.5 mm
∆l 7.5 mm
5. Skala 1 kotak = = = 0.5 mm / kotak
Jumlah kotak 15 kotak
𝐹 𝑚𝑎𝑥
6. 𝜎u =
𝐴0
1410𝑘𝑔
=
19.64 𝑚𝑚2
= 71.79kg/mm2
= 717.9 MPa
𝐹𝑦 1197.22 𝑘𝑔
7. 𝜎y = =
𝐴0 19.64 𝑚𝑚2

= 60.95 kg/mm2
= 609.5 MPa
∆𝑙
8. Keuletan (e) = x 100%
𝑙0

7.5 𝑚𝑚
= x 100%
34.15 𝑚𝑚

= 21.96 %

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 24


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

𝜎𝑦
9. Modulus Elastisitas (E) =
𝜀
360.95 𝑀𝑃𝑎
=
0.2196
= 277.5 kg/mm2
= 2.7 GPa
Konversi Kurva Mesin ke Kurva Teknis
1. Titik 0
F0 = 0 kotak x 19.64 kg = 0 kg
∆𝑙0 = 0 kotak x 0.5 mm = 0 mm
𝐹1 0 𝑘𝑔
S0 = = = 0 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2
∆𝑙 0 𝑚𝑚
𝑒0 = = =0
𝑙0 34.15 𝑚𝑚
2. Titik 1
F1 = 4 kotak x 19.31 kg = 77.24 kg
∆𝑙1 = 2 kotak x 0.5 mm = 1 mm
𝐹1 77.24 𝑘𝑔
S1 = = = 3.93 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2
∆𝑙 1 𝑚𝑚
𝑒1 = = = 0,03
𝑙0 34.15 𝑚𝑚
3. Titik 2
F2 = 12 kotak x 19.31 kg = 231.72 kg
∆𝑙2 = 4 kotak x 0.5 mm = 2 mm
𝐹1 231.72 𝑘𝑔
S2 = = = 11.8 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2
∆𝑙 2 𝑚𝑚
𝑒2 = = = 0,058
𝑙0 34.15 𝑚𝑚
4. Titik 3
F3 = 20 kotak x 19.31 kg = 386.2 kg
∆𝑙3 = 6 kotak x 0.5 mm = 3 mm

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 25


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

𝐹1 386.2 𝑘𝑔
S3 = = = 19.6 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2
∆𝑙 3 𝑚𝑚
𝑒3 = = = 0,087
𝑙0 34.15𝑚𝑚
5. Titik 4
F4 = 16 kotak x 19.31 kg = 502.06 kg
∆𝑙4 = 7 kotak x 0.5 mm = 3,5 mm
𝐹1 502.06 𝑘𝑔
S4 = = = 25.56 kg/mm2
𝐴0 19.64 𝑚𝑚2
∆𝑙 3,54 𝑚𝑚
𝑒4 = = = 0,102
𝑙0 34.15𝑚𝑚
6. Titik 5
F5 = 32 kotak x 19.31 kg = 617.92 kg
∆𝑙5 = 7 kotak x 0.5 mm = 3,5 mm
𝐹1 617.92 𝑘𝑔
S5 = = = 31.46 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2
∆𝑙 3,50
𝑒5 = = = 0,102
𝑙0 34.15𝑚𝑚
7. Titik 6
F6 = 39 kotak x 19.31 kg = 753.09 kg
∆𝑙6 = 7.5 kotak x 0.5 mm = 3.75 mm
𝐹1 753.09 𝑘𝑔
S6 = = = 38.34 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2
∆𝑙 3.75 𝑚𝑚
𝑒6 = = = 0,109
𝑙0 34.15𝑚𝑚
8. Titik 7
F7 = 47 kotak x 19.31 kg = 907.57 kg
∆𝑙7 = 7.5 kotak x 0.5 mm = 3.75 mm
𝐹1 907.57 𝑘𝑔
S7 = = = 46.21kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2
∆𝑙 3.75 𝑚𝑚
𝑒7 = = = 0,124
𝑙0 34.15𝑚𝑚

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 26


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

9. Titik 8
F8 = 56 kotak x 19.31 kg = 1081.36 kg
∆𝑙8 = 9 kotak x 0.76 mm = 4.5 mm
𝐹1 1081.36 𝑘𝑔
S8 = = = 55.05 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2
∆𝑙 4.5 𝑚𝑚
𝑒8 = = = 0.131
𝑙0 34.15𝑚𝑚
10. Titik 9
F9 = 16 kotak x 19.31 kg = 1197.22 kg
∆𝑙9 = 10 kotak x 0.5 mm = 5 mm
𝐹1 1197.22𝑘𝑔
S9 = = = 60.95kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2
∆𝑙 5 𝑚𝑚
𝑒9 = = = 0,146
𝑙0 34.15𝑚𝑚
11. Titik 10
F10 = 73 kotak x 19.31 kg = 1409 kg
∆𝑙10 = 15 kotak x 0.5 mm =7.5 mm
𝐹1 1409𝑘𝑔
S10 = = = 71.74 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2
∆𝑙 7,5 𝑚𝑚
𝑒10 = = = 0.219
𝑙0 34.15𝑚𝑚
12. Titik 11
F11 = 65 kotak x 19.31 kg = 1255.5 kg
∆𝑙11 = 21 kotak x 0.5 mm 10.5 mm
𝐹1 1255.5 𝑘𝑔
S11 = = = 63.90 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2
∆𝑙 10.56 𝑚𝑚
𝑒11 = = = 0,307
𝑙0 34.15𝑚𝑚

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 27


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

13. Titik 12
F12 = 57 kotak x 19.31 kg = 1100.67 kg
∆𝑙12 = 24 kotak x 0.5 mm = 12 mm
𝐹1 1100.67 𝑘𝑔
S12 = = = 56.04 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2
∆𝑙 12 𝑚𝑚
𝑒12 = = = 0,351
𝑙0 34.15𝑚𝑚
Konversi Kurva Teknis ke Kurva Sebenarnya
1. Titik 0

𝐹1 0 𝑘𝑔
𝜎s0 = = = 0 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2

es0 = ln (1+0) = 0
2. Titik 1

𝐹1 77.24 𝑘𝑔
𝜎s1 = = = 3.93 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2

es1 = ln (1+0,003) = 0,0295


3. Titik 2
𝐹1 231.72 𝑘𝑔
𝜎s2 = = = 11.8 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2

es1 = ln (1+0,058) = 0,056


4. Titik 3

𝐹1 386.2 𝑘𝑔
𝜎s3 = = = 19.6 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2

es3 = ln (1+0,087) = 0,0834


5. Titik 4
𝐹1 502.06 𝑘𝑔
𝜎s4 = = = 25.56 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2

es4 = ln (1+0,102) = 0,0971

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 28


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

6. Titik 5

𝐹1 617.92 𝑘𝑔
𝜎s5 = = = 31.46 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2

es5 = ln (1+0,102) = 0,0971


7. Titik 6
𝐹1 753.09 𝑘𝑔
𝜎s6 = = = 38.34kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2

es6 = ln (1+0,109) = 0,103


8. Titik 7
𝐹1 907.57𝑘𝑔
𝜎s7 = = = 46.21 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2

es7 = ln (1+0,124) = 0,116


9. Titik 8
𝐹1 1081 𝑘𝑔
𝜎s8 = = = 55.05kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2

es8 = ln (1+0,131) = 0,123


10. Titik 9
𝐹1 1197 𝑘𝑔
𝜎s9 = = = 60.95 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2

es9 = ln (1+0146) = 0,136


11. Titik 10
𝐹1 1409 𝑘𝑔
𝜎s10 = = = 71.74 kg/mm2
𝐴0 19.64𝑚𝑚2

es10 = ln (1+0,219) = 0,198


Titik patahan ( fracture)
12. Titik 11
𝐹1 1100.67 𝑘𝑔
𝜎s11 = = = 121.35 kg/mm2
𝐴𝑓 9.07𝑚𝑚2
𝐴𝑜 19.64
es10 = ln 𝐴𝑓 = = 2.165
9.07

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 29


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

2.6. Analisa dan Pembahasan


Saat sebelum sebelum dilakukan pengujian tarik, specimen terlebih dahulu diukur
dimensinya untuk mengetahui panjang gauge length dan diameter awal specimen yang
nantinya digunakan untuk mendapatkan luas penampang awal. Luas penampang awal
ini dapat digunakan untuk mendapatkan nilai tegangan, sementara panjang awal akan
digunakan saat mencari regangan. Pengukuran dimensi juga bertujuan untuk
memperkirakan daerah dimana akan terjadi patahan saat dilakukan pengujian.
Ketika akan dilakukan pengujian tarik menggunakan mesin universal tensile
strength, letakan specimen pada grip yang ada pada alat dengan seimbang (panjang
specimen pada grip atas harus sama dengan pada grip yang dibawah) agar nantinya
patahan yang terjadi pas terdapat di daerah yang telah ditandai. Pada saat praktikan
melakukan praktikum, patahan yang terjadi tidak pas di tengah spesimen. Hal ini karena
pada saat mesin uji dinyalakan, grip yang di bawah tidak tercengkram dengan erat
menyebabkan posisi dari spesimen tidak seimbang dan terjadi patahan diatas garis
tengah yang telah di tandai sebelumnya.
Beban yang diberikan pada saat praktikum yaitu 1500 Kg sementara beban
maksimal yang dapat diterima oleh material adalam 1410 Kg. Untuk mencari titik luluh
dan pertambahan panjang pada material dapat dilihat pada millimeterblok yang
sebelumnya telah dipasang pada mesin pengujian. Milimeter blok tersebut akan
menunjukan kurva mesin yang menunjukan hubungan antara beban yang diberikan
dengan pertambahan panjang yang terjadi. Untuk mengetahui nilai persis dari beban dan
pertambahan yang ada, maka dilakukan perbandingan antara beban maksimal yang
dapat diterima material dengan jumlah kotak pada milimeterblok saat menunjukan
beban maksimal. Begitupun dengan nilai pertambahan panjang. Setelah dilakukan
perhitungan dengan perbandingan tadi, maka kita dapat mengkonversikan kurva mesin
tersebut ke kurva teknis dengan menghitung tegangan dan regangan dari beberapa titik
pada kurva mesin yang telah dicari nilai gaya dan pertambahan panjang nya. Dan juga
langsung dikonversi ke kurva sebenarnya dengan cara yang sama.
Faktor faktor yang mempengaruhi kekuatan tarik dari material adalah material itu
sendiri, beban yang diberikan, dan ketelitian saat melakukan praktikum. Material yang
berbeda akan menunjukan nilai kekuatan tarik yang berbeda pula karena setiap material

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 30


BAB II PENGUJIAN TARIK Kelompok 09

akan memiliki diameter awal yang beda, struktur mikro yang berbeda, dan memiliki
ketahanan terhadap deformasi yang berbeda pula. Saat praktikum, spesimen yang diuji
memiliki jarak waktu antara necking dan patahan yang relative cepat sehingga seakan
akan tidak terjadi necking. Hal ini berarti spesimen tersebut memiliki sifat yang tidak
terlalu ulet. Hal ini juga dapat dilihat dari hasil patahan material tersebut cup and con
yang ada tidak terlalu besar. Jika material tersebut ulet, maka pengecilan luas
permukaan saat dilakukan pengujian akan berlangsung lebih lama sehingga dapat dilihat
dan dari hasil patahan yang terjadi akan terlihat cup and con pada masing masing
patahan material tersebut.
2.7. Kesimpulan
a. Pengujian Tarik bertujuan untuk mengetahui sifat mekanik material.
b. Kekuatan tarik material yang diuji adalah 717.9 Mpa
c. Kekuatan luluh material yang diuji adalah 609.5 Mpa
d. Modulus Elastisitas material yang di uji adalah 2.7 Gpa
e. Beban maksimal yang dapat diterima material adalah 1410 Kg sama dengan
14100 N
f. Patahan yang ada tidak pas di tengah spesimen karena posisi spesimen yang
tidak seimbang saat dilakukan pengujian.
g. Spesimen tersebut dapat dikatakan spesimen ulet jika dilihat dari adanya cup
and con pada patahan walaupun necking terjadi relative cepat.

Laboratorium Logam Teknik Metalurgi T.A 2017-2018 31