Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT


PADA KLIEN DENGAN CEDERA KEPALA

Oleh :
KELOMPOK III

NURUL HALIMAH VIVI CANDRA FEBRIANTI


EKO BUDI LAKSONO ANGGI PRASETIA ARNATA
PUTRI ANGGRAENI PERTIWI ABI YAZID AL BASTOMI
DESI RIASARI BAHRI MAHROJI
VANDHIRA DWI ASTUTI ERVAN CANDRA TRISNANTO
DEVI MARTIAN SANDI YUDHA S.A.P

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
UNGARAN
2017
LAPORAN PENDAHULUAN
CEDERA KEPALA

A. Konsep Penyakit/Gangguan/Trauma
1. Pengertian
Menurut Smeltzer & Bare (2002), cedera kepala adalah cedera
yang terjadi pada kulit kepala, tengkorak dan otak, Cedera kepala
merupakan proses dimana terjadi trauma langsung atau deselerasi
terhadap kepala yang menyebabkan kerusakan tengkorak dan otak
(Pierce & Neil. 2006). Adapun menurut Brain Injury Assosiation of
America (2009), cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala,
bukan bersifat congenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh
serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau
mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan
kognitif dan fungsi fisik.
Beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan, bahwa cedera
kepala adalah trauma pada kulit kepala, tengkorak, dan otak yang
terjadi baik secara langsung ataupun tidak langsung pada kepala yang
dapat mengakibatkan terjadinya penurunan kesadaran bahkan dapat
menyebabkan kematiaan.
Menurut, Smeltzer & Bare (2002) cedera kepala ada 2 macam
yaitu:
a. Cedera kepala terbuka
Luka kepala terbuka akibat cedera kepala dengan
pecahnya tengkorak atau luka penetrasi, besarnya cedera kepala
pada tipe ini ditentukan oleh massa dan bentuk dari benturan,
kerusakan otak juga dapat terjadi jika tulang tengkorak menusuk
dan masuk kedalam jaringan otak dan melukai durameter saraf
otak, jaringan sel otak akibat benda tajam/tembakan, cedera kepala
terbuka memungkinkan kuman pathogen memiliki abses langsung
ke otak.

b. Cedera kepala tertutup


Benturan kranial pada jaringan otak didalam tengkorak
ialah goncangan yang mendadak. Dampaknya mirip dengan sesuatu
yang bergerak cepat, kemudian serentak berhenti dan bila ada
cairan akan tumpah. Cedera kepala tertutup meliputi: kombusio
gagar otak, kontusiomemar, dan laserasi.

B. Klasifikasi Cedera Kepala


Berat ringannya cedera kepala bukan didasarkan berat ringanya
gejala yang muncul setelah cedera kepala (Alexander PM, 2005). Ada
berbagai klasifikasi yang dipakai dalam penentuan derajat cedera kepala.
The Traumatic Coma Data Bank mendifinisikan berdasarkan skor Skala
Koma Glasgow (Glasgow coma scale)
Tabel 1. Kategori Penentuan Keparahan cedera Kepala
berdasarkan Nilai Skala Koma Glasgow (SKG)
Penentuan Deskripsi
keparahan
Minor/ SKG 13 – 15
Ringan Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi
kurang dari 30 menit. Tidak ada fraktur tengkorak, tidak
ada kontusia cerebral, hematoma
Sedang SKG 9 – 12
Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30
menit tetapi kurang dari 24 jam. Dapat mengalami fraktur
tengkorak.
Berat SKG 3 – 8
Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari
24 jam. Juga meliputi kontusia serebral, laserasi atau
hematoma intracranial
sumber :keperawatan kritis, pendekatan holostik vol, II tahun
2005, hal:226

Tabel 2. Glasgow Coma Scale (Skala Koma Glasgow)


1. Membuka Mata
Spontan 4
Terhadap rangsang suara 3
Terhadap nyeri 2
Tidak ada 1
2. Respon Verbal
Orientasi baik 5
orientasi terganggu 4
Kata-kata tidak jelas 3
Suara Tidak jelas 2
Tidak ada respon 1
3. Respon Motorik
Mampu bergerak 6
Melokalisasi nyeri 5
Fleksi menarik 4
Fleksi abnormal 3
Ekstensi 2
Tidak ada respon 1
Total 3 – 15
Penggolongan cedera kepala berdasarkan periode kehilangan
kesadaran ataupun amnesia saat ini masih kontroversional dan tidak
dipakai secara luas. Klasifikasi cedera kepala berdasarkan jumlah Glasgow
Coma Scale (GCS) saat masuk rumah sakit merupakan definisi yang
paling umum dipakai. (Satyanegara, 2010).

C. Etiologi
Rosjidi (2007), penyebab cedera kepala antara lain:
a. Kecelakaan, jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan
mobil.
b. Kecelakaan pada saat olah raga, anak dengan ketergantungan.
c. Cedera akibat kekerasan.
d. Benda tumpul, kerusakan terjadi hanya terbatas pada daerah dimana
dapat merobek otak.
e. Kerusakan menyebar karena kekuatan benturan, biasanya lebih berat
sifatnya.
f. Benda tajam, kerusakan terjadi hanya terbatas pada daerah dimana
dapat merobek otak, misalnya tertembak peluru atau benda tajam.

D. Manifestasi Klinis
Gejala-gejala yang ditimbulkan tergantung pada besarnya dan
distribusi cedera otak.
a. Cedera kepala ringan menurut Sylvia A (2005) yaitu :
1) Kebingungan saat kejadian dan kebinggungan terus menetap
setelah cedera.
2) Pusing menetap dan sakit kepala, gangguan tidur, perasaan cemas.
3) Kesulitan berkonsentrasi, pelupa, gangguan bicara, masalah
tingkah laku.
Gejala-gejala ini dapat menetap selama beberapa hari, beberapa
minggu atau lebih lama setelah konkusiocedera otak akibat trauma
ringan.
b. Cedera kepala sedang, menurut Diane C (2002) yaitu :
1) Kelemahan pada salah satu tubuh yang disertai dengan
kebinggungan atau hahkan koma.
2) Gangguan kesedaran, abnormalitas pupil, awitan tiba-tiba deficit
neurologik, perubahan TTV, gangguan penglihatan dan
pendengaran, disfungsi sensorik, kejang otot, sakit kepala, vertigo
dan gangguan pergerakan.
c. Cedera kepala berat, menurut Diane C (2002) yaitu :
1) Amnesia tidak dapat mengingat peristiwa sesaat sebelum dan
sesudah terjadinya penurunan kesadaran.
2) Pupil tidak aktual, pemeriksaan motorik tidak aktual, adanya
cedera terbuka, fraktur tengkorak dan penurunan neurologik.
3) Nyeri, menetap atau setempat, biasanya menunjukan fraktur.
4) Fraktur pada kubah kranial menyebabkan pembengkakan pada
area tersebut.
5) Penurunan Kesadaran

E. Patofisiologi
Patofisiologis dari cedera kepala traumatic dibagi dalam proses
primer dan proses sekunder. Kerusakan yang terjadi dianggap karena gaya
fisika yang berkaitan dengan suatu trauma yang relative baru terjadi dan
bersifat irreversible untuk sebagian besar daerah otak. Walaupun kontusio
dan laserasi yang terjadi pada permukaan otak, terutama pada kutub
temporal dan permukaan orbital dari lobus frontalis, memberikan tanda-
tanda jelas tetapi selama lebih dari 30 tahun telah dianggap jejas akson
difus pada substasi alba subkortex adalah penyebab utama kehilangan
kesadaran berkepanjangan, gangguan respon motorik dan pemulihan yang
tidak komplit yang merupakan penanda pasien yang menderita cedera
kepala traumatik berat.
1. Proses Primer
Proses primer timbul langsung pada saat trauma terjadi.
Cedera primer biasanya fokal (perdarahan, konusi) dan difus (jejas
akson difus).Proses ini adalah kerusakan otak tahap awal yang
diakibatkan oleh benturan mekanik pada kepala, derajat kerusakan
tergantung pada kuat dan arah benturan, kondisi kepala yang bergerak
diam, percepatan dan perlambatan gerak kepala. Proses primer
menyebabkan fraktur tengkorak, perdarahan segera intrakranial,
robekan regangan serabu saraf dan kematian langsung pada daerah
yang terkena.
2. Proses Sekunder
Kerusakan sekunder timbul beberapa waktu setelah trauma
menyusul kerusakan primer. Dapat dibagi menjadi penyebab sistemik
dari intrakranial. Dari berbagai gangguan sistemik, hipoksia dan
hipotensi merupakan gangguan yang paling berarti. Hipotensi
menurunnya tekanan perfusi otak sehingga mengakibatkan terjadinya
iskemi dan infark otak. Perluasan kerusakan jaringan otak sekunder
disebabkan berbagai faktor seperti kerusakan sawar darah otak,
gangguan aliran darah otak metabolisme otak, gangguan hormonal,
pengeluaran bahan-bahan neurotrasmiter dan radikal bebas. Trauma
saraf proses primer atau sekunder akan menimbulkan gejala-gejala
neurologis yang tergantung lokasi kerusakan.
Kerusakan sistem saraf motorik yang berpusat dibagian
belakang lobus frontalis akan mengakibatkan kelumpuhan pada sisi
lain. Gejala-gejala kerusakan lobus-lobus lainnya baru akan ditemui
setelah penderita sadar. Pada kerusakan lobus oksipital akan dujumpai
ganguan sensibilitas kulit pada sisi yang berlawanan. Pada lobus
frontalis mengakibatkan timbulnya seperti dijumpai pada epilepsi
lobus temporalis.
Kelainan metabolisme yang dijumpai pada penderita cedera
kepala disebabkan adanya kerusakan di daerah hipotalamus.
Kerusakan dibagian depan hipotalamus akan terjadi hepertermi. Lesi
di regio optika berakibat timbulnya edema paru karena kontraksi
sistem vena. Retensi air, natrium dan klor yang terjadi pada hari
pertama setelah trauma tampaknya disebabkan oleh terlepasnya
hormon ADH dari daerah belakang hipotalamus yang berhubungan
dengan hipofisis.
Setelah kurang lebih 5 hari natrium dan klor akan dikeluarkan
melalui urine dalam jumlah berlebihan sehingga keseimbangannya
menjadi negatif. Hiperglikemi dan glikosuria yang timbul juga
disebabkan keadaan perangsangan pusat-pusat yang mempengaruhi
metabolisme karbohidrat didalam batang otak. Batang otak dapat
mengalami kerusakan langsung karena benturan atau sekunder akibat
fleksi atau torsi akut pada sambungan serviks medulla, karena
kerusakan pembuluh darah atau karena penekanan oleh herniasi
unkus.
Gejala-gejala yang dapat timbul ialah fleksiditas umum yang
terjadi pada lesi tranversal dibawah nukleus nervus statoakustikus,
regiditas deserebrasi pada lesi tranversal setinggi nukleus rubber,
lengan dan tungkai kaku dalam sikap ekstensi dan kedua lengan kaku
dalam fleksi pada siku terjadi bila hubungan batang otak dengan
korteks serebri terputus.
Gejala-gejala Parkinson timbul pada kerusakan ganglion
basal. Kerusakan-kerusakan saraf-saraf kranial dan traktus-traktus
panjang menimbulkan gejala neurologis khas. Nafas dangkal tak
teratur yang dijumpai pada kerusakan medula oblongata akan
menimbulkan timbulnya Asidesil. Nafas yang cepat dan dalam yang
terjadi pada gangguan setinggi diensefalon akan mengakibatkan
alkalosisi respiratorik. Cedera otak sekunder tejadi setiap saat setelah
terjadi benturan. Faktor-faktor yang menyebabkan cedera otak
sekunder adalah:
a. Hematoma intracranial :
1) Epidural
2) Subdural
3) Intraserebral
4) Subarahnoid
b. Pembengkakan otak
Mungkin terjadi dengan atau tanpa hematoma intrakranial. Hal ini
diakibatkan timbunan cairan intra atau ekstrasekuler atau bendung
vaskuler.
c. Herniasi : tentorial dan tonsiler
d. Iskhemi serebral, akibat dari:
1) Hipoksia / hiperkarbi
2) Hipotensi
3) Peninggian tekanan intrakranial
e. Infeksi : Meningitis, abses serebri

F. Tipe trauma kepala


1. Trauma kepala terbuka
a. Trauma ini dapat menyebabkan fraktur tulang tengkorak dan
laserasi durameter. Kerusakan otak dapat terjadi bila tulang
tengkorak menusuk otak, misalnya akibat benda tajam atau
tembakan.
b. Fraktur linier di daerah temporal, dimana arteri meningeal media
berada dalam jalur tulang temporal, sering menyebabkan
perdarahan epidural. Fraktur linier yang melintang garis tengah,
sering menyebabkan perdarahan sinus dan robeknya sinus
sagitalis superior.
c. Fraktur di daerah basis, disebabkan karena trauma dari atas atau
kepala bagian atas yang membentur jalan atau benda diam.
Fraktur di fosa anterior, sering terjadi keluarnya liquor melalui
hidung (rhinorhoe) dan adanya brill hematom (raccon eye).
d. Fraktur pada os petrosus, berbentuk longitudinal dan transversal
(lebih jarang). Fraktur longitudinal dibagi menjadi anterior dan
posterior. Fraktur anterior biasanya karena trauma di daerah
temporal, sedang yang posterior disebabkan trauma di daerah
oksipital.
e. Fraktur longitudinal sering menyebabkan kerusakan pada meatus
akustikus interna, foramen jugularis dan tuba eustakhius. Setelah
2 – 3 hari akan nampak battle sign (warna biru di belakang
telinga di atas os mastoid) dan otorrhoe (liquor keluar dari
telinga). perdarahan dari telinga dengan trauma kepala hampir
selalu disebabkan oleh retak tulang dasar tengkorak. Pada
dasarnya fraktur tulang tengkorak itu sendiri tidaklah
menimbulkan hal yang emergensi, namun yang sering
menimbulkan masalah adalah fragmen tulang itu menyebabkan
robekan pada durameter, pembuluh darah atau jaringan otak. Hal
ini dapat menyebabkan kerusakan pusat vital, saraf kranial dan
saluran saraf (nerve pathway).

2. Trauma kepala tertutup


a. Komotio serebri (gegar otak)
Penyebab gejala komotio serebri belum jelas. Akselerasi-
akselerasi yang meregangkan otak dan menekan formotio
retikularis merupakan hipotesis yang banyak dianut. Setelah
penurunan kesadaran beberapa saat pasien mulai bergerak,
membuka matanya tetapi tidak terarah, reflek kornea, reflek
menelan dan respon terhadap rasa sakit yang semula hilang mulai
timbul kembali. Kehilangan memori yang berhubungan dengan
waktu sebelum trauma disebut amnesia retrograde. Amnesia post
traumatic ialah kehilangan ingatan setelah trauma, sedangkan
amnesia traumatic terdiri dari amnesia retrograde dan post
traumatic.
b. Edema serebri traumatic
Otak dapat menjadi sembab tanpa disertai perdarahan pada
trauma kapitis terutama pada anak-anak. Pingsan dapat
berlangsung lebih dari 10 menit, tidak dijumpai tanda-tanda
kerusakan jaringan otak. Pasien mengeluh nyeri kepala, vertigo,
mungkin muntah. Pemeriksaan cairan otak mungkin hanya
dijumpai tekanan yang agak meningkat.
c. Kontusio serebri
Kerusakan jaringan otak disertai perdarahan yang secara
makroskopis tidak mengganggu jaringan. Kontosio sendiri
biasanya menimbulkan defisit neurologis jika mengenai daerah
motorik atau sensorik otak. Kontusio serebri murni biasanya
jarang terjadi. Diagnosa kontusio serebri meningkat sejalan
dengan meningkatnya penggunaan CT scan dalam pemeriksaan
cedera kepala. Kontusio serebri sangat sering terjadi difrontal dan
labus temporal, walaupun dapat terjadi juga pada setiap bagian
otak, termasuk batang otak dan serebelum. Batas perbedaan antara
kontusio dan perdarahan intra serebral traumatika memang tidak
jelas. Kontusio serebri dapat saja dalam waktu beberapa jam atau
hari mengalami evolusi membentuk pedarahan intra serebral
(Price & Wilson, 2006).

G. Perdarahan Intrakranial
1. Perdarahan Epidural
Perdarahan epidural terletak diantara dura dan calvaria.
Umumnya terjadi pada regon temporal atau temporopariental akibat
pecahnya anteri meningea media (Sudiharto 1998). Manifestasi klinik
berupa gangguan kesadaran sebentar dan dengan bekas gejala
(interval lucid) beberapa jam. Keadaan ini disusul oleh gangguan
kesadaran progesif disertai kelainan neurologis unilateral. Kemudian
gejala neurologis timbul secara progesif berupa pupil anisokor,
hemiparese, papiledema dan gejala herniasi transcentorial. Perdarahan
epidural di fossa posterior dengan perdarahan berasal dari sinus
lateral, jika terjadi di oksiput akan menimbulkan gangguan kesadaran,
nyeri kepala, muntah ataksia serebelar dan paresis nervi kranialis. Ciri
perdarahan epidural berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa
cembung.
2. Perdarahan Subdural
Terjadi antara duramater dan arachnoid. Perdarahan subdural
lebih biasa terjadi perdarahan epidural (30 % dari cedera kepala
berat). Umumnya perdarahan akibat pecahnya/robeknya vena-vena
jembatan yang terletak antara kortek serebri dan sinus venosa tempat
vena tadi bermuara, namun dapat pula terjadi akibat laserasi
pembuluh arteri pada permukaaan otak.
Gejala yang sub akut tidak sejelas yang gejala akut.
Perdarahan subdural menjadi simptomatik dalam 3 hari disebut akut,
jika gejala timbul antara 3 sampai 21 hari disebut subakut, sedangkan
lebih dari 21 hari disebut kronik. Gejala yang paling sering pada akut
adalah nyeri kepala, mengantuk, agitasi cara berpikir yang lambat dan
bingung. Gejala yang paling sering pada kronik adalah nyeri kepala
yang semakin berat, cara berpikir yang lambat, bingung, mengantuk.
Pupil edema dapat terjadi dan pupilipsilateral dilatasi dan refleka
cahaya menurun, Hemiparese sebagai tanda akhir biasa ipsilateral atau
kontralateral tergantung pada a[akah lobus temporal mengalami
herniasi melalui celah tentorum dan menekan pendukulus serebri
kontralateral.
Perdarahan subdural biasanya menutupi seluruh permukaan
hemisfer otak dan kerusakan otak dibawahnya lebih berat dan
prognosisnyapun jauh lebih buruk daripada perdarahan epidural.
3. Perdarahan subarahnoid
Perdarahan subaranoid sering terjadi pada trauma kapitis.
Secara klinis mudah dikenali yaitu ditemukannya kaku kuduk, nyeri
kepala, gelisah, suhu badan subfebril. Gejalanya menyerupai
meningitis. Perdarahan yang besar dapat disertai koma. Perdarahan
terjadi didalam ruang subarahnoid karena robeknya pembuluh darah
yang berjalan didalamnya, darah tercampur dengan cairan otak.
Adanya darah didalam liquor serebri spinal akan merangsang meningia
sehingga terjadi kaku kuduk (Smeltzer & Bare, 2001).
H. Pathway
Terlampir

I. Pemeriksaan Diagnostik
a. CT-Scan (dengan atau tanpa kontras) : Mengidentifikasi luasnya lesi,
perdarahan, determinan ventrikuler, dan perubahan jaringan otak.
Catatan : Untuk mengetahui adanya infark / iskemia jangan dilekukan
pada 24 - 72 jam setelah injuri.
b. MRI : Digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras
radioaktif.
c. Cerebral Angiography : Menunjukan anomali sirkulasi cerebral, seperti
: perubahan jaringan otak sekunder menjadi udema, perdarahan dan
trauma.
d. Serial EEG : Dapat melihat perkembangan gelombang yang patologis
e. X-Ray : Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan
struktur garis (perdarahan/edema), fragmen tulang.
f. BAER : Mengoreksi batas fungsi corteks dan otak kecil
g. PET : Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak
h. CSF, Lumbal Punksi: Dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan
subarachnoid.
i. ABGs
Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah pernapasan
(oksigenisasi) jika terjadi peningkatan tekanan intracranial.
j. Kadar Elektrolit : Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai
akibat peningkatan tekanan intrkranial.
k. Screen Toxicologi: Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga
menyebabkan penurunan kesadaran.

J. Penatalaksanaan Medik
a. Tindakan terhadap peningkatan TIK
1) pemantauan TIK dengan ketat
2) oksigenasi adekuat
3) pemberian mannitol
4) penggunaan steroid
5) peningkatan kepala tempat tidur
6) bedah neuro
b. Tindakan pendukung lain
1) dukungan ventilasi
2) pencegahan kejang
3) pemeliharaan cairan, elektrolit, dan keseimbangan nutrisi
4) terapi antikonvulsan
5) klorpromazin  menenangkan pasien
6) selang nasogastrik

K. Proses Penatalaksanaan pada Trauma Kepala yang Memerlukan


Tindakan Bedah Saraf :
Penatalaksanaan trauma kepala yang memerlukan tindakan bedah
saraf, merupakan proses yang terdiri dari serangkaian tahapan yang saling
berkaitan satu sama lain, sehingga sampai pada pengambilan putusan
untuk melakukan tindakan pembedahan. Dalam hal ini meliputi 4 tahapan,
tahapan-tahapan tersebut meliputi:
1. Tahap I
a. Penilaian awal dan Pertolongan pertama
Penilaian awal, prioritas penilaian :
1) Airway
2) Breathing
3) Circulation
4) Periksa adanya kemungkinan kelainan atau perdarahan
5) Tentukan hal-hal sebagai berikut:
a) Lamanya tak sadar
b) Lamanya amnesia post-trauma
c) Sebab-sebab cedera
d) Adanya nyeri kepala, muntah
6) Pemeriksaan fisik umum dan neurologic
Pertolongan pertama yang segera dilakukan bila terjadi
gangguan pernafasan, sirkulasi dan atau gangguan kesadaran:
7) Membebaskan jalan nafas agar tetap terbuka dan bebas
8) Mengontrol atau mengendalikan perdarahan
9) Menanggulangi renjatan (shock)
10) Monitor EKG
b. Diagnosis
 Pemeriksaan Laboratorium
Hb, hematokrit, eritrosit, lekosit, trombosit, elektrolit, gula
darah, BUN, ureum, kreatinin, masa perdarahan dan
penjendalan, golongan darah dan AGD.
 Pemeriksaan penunjang yang khusus
# Foto kepala
# Foto servikal
# Pada trauma multiple perlu dilakukan foto abdomen dan
ekstremitas
# Angiografi Serebral
# CT scan
# Burr holes/trepanasi eksplorasi
c. Indikasi Konsultasi Bedah Saraf (Teddy & Anslew, 1989)
1. Coma yang berlangsung lebih dari 6 jam
2. Penurunan kesadaran atau gangguan neurologik progresif
3. Penderita belum sadar kembali setelah dirawat 24 jam
4. Adanya tanda-tanda neurologik fokal, termasuk yang sudah ada
sejak saat terjadinya cedera kepala.
5. Adanya kejang fokal atau umum setelah trauma.
6. Fraktur impresi terbuka / tertutup
7. Perdarahan intrakranial
2. Tahap II: Observasi perjalanan klinis dan Perawatan suportif
3. Tahap III
a. Indikasi pembedahan
 Perlukaan pada kulit kepala
 Fraktur tulang kepala
 Hematoma intrakranial
 Kontusio jaringan otak yang mempunyai diameter > 1 cm dan
atau laserasi otak
 Subdural higroma
 Kebocoran cairan serebrospinal

b. Kontaindikasi
 Adanya tanda-tanda renjatan (Shock), ini biasanya bukan
karena trauma kepalanya tetapi karena sebab-sebab lain,
misalnya ruptur alat viscera (Hepar, lien, ginjal) atau fraktur
berat pada ekstremitas.
 Penderita dengan trauma kepala yang pada waktu masuk rumah
sakit pupil sudah dilatasi maksimal dan reaksi cahaya negatif,
denyut nadi dan respirasi irregular.
c. Tujuan Pembedahan
 Untuk mengeluarkan bekuan darah dan atau jaringan otak yang
nekrotik
 Untuk mengangkat bagian tulang yang menekan atau masuk ke
jaringan otak
 Untuk mengurangi tekanan intrakranial
 Untuk mengontrol perdarahan
 Untuk menutup durameter atau memperbaiki durameter yang
rusak
 Menutup defek pada kulit kepala untuk mencegah infeksi atau
untuk kepentingan segi kosmetik.
d. Persiapan Pembedahan
 Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas
 Pasang infus
 Observasi tanda-tanda vital
 Pemeriksaan laboratorium
 Pemberian antibiotik profilaksi
 Pasang kateter
 Pasang NGT
 Terapi untuk menurunkan TIK
 Pemberian antikonvulsan
4. Tahap IV
a. Pembedahan spesifik
 Perlukaan pada kulit prinsipnya dilakukan “debridemen”
 Pada lesi desak ruang intrakranial traumatic pada prinsipnya
dilakukan kraniotomi yang cukup luasnya.
# Pada Hematom Epidural biasanya dilakukan.
- Trepanasi
- Kraniotomi yang diperluas dengan kraniektomi
Bila diagnosa dengan CT scan yang menunjukkan lesi
dengan jelas, cukup dengan kraniotomi yang terbatas. Pada
epidural hematom yang lebih tebal <1,5 – 1 cm, belum
perlu tindakan operasi.
# Pada Hematom Subdural
Pada Hematom Subdural akut senantiasa diperlukan
kraniotomi yang luas. Tindakan kraniektomi atau membuat
lubang bur tidak dianggap cukup, ini hanya hematom
subdural yang kronis.
# Pada Hematom intraserebral dan kontusio serebri dengan
efek massa yang jelas
Dilakukan tindakan kraniotomi yang cukup luas.
- Bila terdapat kontusio dengan diameter > 1 cm,
dipermukaan korteks hendaknya diisap sampai batas
jaringan otak yang sehat.
- Menimbulkan efek massa yang jelas
- Menyebabkan penyimpangan garis tengah > 4-5 mm
- Volume diperkirakan > 30 cc atau diameter > 3 cm
- Menunjukkan peninggian tekanan intrakarnial > 30
mmHg dan atau berkaitan dengan gangguan neurologik
yang progresif.
Pada hematoma intraserebral yang kronis dapat dilakukan
dengan trepanasi secara konvensional dan aspirasi.
# Pada intraventrikuler hematoma
- Kraniotomi – aspirasi hematom
- Trepanasi – drenase ventrikuler
- Bila timbul tanda-tanda hidrosefalus, dilakukan
ventrikulo-peri-toneal shunt.
Prognosis buruk bila GCS < 8 pada saat masuk dirawat.
Bila GCS > 8 prognosis lebih baik kira-kira 86 % hidupnya
tidak tergantung orang lain.
# Pada subdural higroma
# Pada Rhinorrhea
# Pada Laserasi otak
# Pada fraktur tulang kepala terbuka
# Pada fraktur yang menekan tertutup
b. Evaluasi: komplikasi yang perlu diperhatikan:
 Perdarahan ulang
 Kebocoran cairan otak
 Infeksi pada luka atau sepsis
 Timbulnya edema serebri
 Timbulnya edema pulmonum neurogenik, akibat peninggian
TIK
 Nyeri kepala setelah penderita sadar
 Konvulsi
c. Outcome
Outcome akibat trauma kepala, walaupun sudah dilakukan tindakan
operasi tergantung beberapa factor diantaranya:

 Saat dilakukan operasi


 Tergantung pada penilaian tingkat kesadaran
 Faktor usia
 Tergantung tanda-tanda vital waktu masuk
 Tergantung pada peninggian intrakranial
 Tergantung pada factor hematom: jenis, sifatnya, volume dan
lokalisasinya, misalnya:
# Outcome epidural hematom dengan kontusio serebri lebih
buruk daripada kalau hanya ada epidural hematomnya
(Guillermann, 1996)
# Volume hematom epidural (EDH)
EDH < 50 cc  mortalitasnya 12 %
EDH 50 – 100 cc  mortalitasnya 33 %
EDH > 100 cc  mortalitasnya 66 %

L. Konsep Asuhan Keperawatan Gawat Darurat


1. Pengkajian Emergency & Kritis
a. Primary Survey
1) Airway
Sebelum melakukan manipulasi, anggaplah ada fraktur servikal
pada setiap penderita multitrauma, terlebih bila ada penurunan
kesadaran atau jejas diatas dari klavikula. Bersihkan jalan nafas
dari segala sumbatan, benda asing, darah dari fraktur
maksilofasial, gigi yang patah dll. Jika panderita sadar dan
dapat berbicara maka airway dinilai baik tetapi tetap perlu
reevaluasi. Lakukan intubasi jika apnea, GCS < 8,
pertimbangan juga untuk GCS 9 dan 10 jika saturasi oksigen
tidak mencapai 90% (PaO2 < 60 mmHg).
2) Breating
Evaluasi meliputi inspeksi terhadap batuk dan pergerakan dada
yang mungkin mengganggu ventilasi, perkusi untuk
menentukan adanya darah atau udara dalam rongga pleura,
auskultasi untuk memastikan masuknya udara kedalam paru.
3) Circulation
Respon awal tubuh terhadap pendarahan adalah takikardi untuk
mempertahankan kardiak output walaupun stroke volume
menurun. Jika aliran darah keorgan vital sudah tidak dapat
dipertahankan lagi, maka timbullah hipotensi.

4) Disability
a) GCS setelah resusitas
b) Bentuk ukuran dan reflek cahaya pupil
c) Nilai kekuatan motorik kiri dan kanan apakah ada parase
atau tidak
5) Eksposure
Dengan menghindarkan hipotermi, semua pakaian yang
menutupi tubuh penderita harus dilepas atau dibuka agar tidak
ada cedera yang terlewatkan selama pemeriksaan.
b. Secondary Survey
1) Kepala dan leher
Dilakukan evaluasi terhadap adanya tanda-tand trauma
eksternal seperti kontusio jaringan acchymosis, laserasi atau
pembengkakan jaringan lunak.
2) Thoraks
Inspeksi perhatikan ada tidaknya luka bentuk dan pergerakan
dinding toraks saat bernafas. Palpasi, perhatikan ada tidaknya
emfisema subkutis dan bermasker luasnya emfisema untuk
evaluasi selanjutnya. Periksa juga tanda-tanda step off tulang,
deviasi, trakea dan nyeri tekan.
3) Abdomen
Dapat dilakukan USG bila tersedia untuk evaluasi koreksi
cairan
4) Ekstremitas
5) Perkiraan kehilangan darah pada beberapa fraktur tertutup
tulang ekstremitas dan pelvis antara lain :
a) Humerus atau radius ulna dapat mencapai ± 200cc
b) Tibia dapat mencapai ± 500cc
c) Femur dapat mencapai ± 1000cc
d) Pelvis dapat mencapai ± 3000cc
c. Tertiery Survey
1) Riwayat kesehatan
2) Riwayat trauma
3) Riwayat penyakit jantung
4) Riwayat infeksi
5) Riwayat pemakaian obat
6) Pemeriksaan laboratorium
7) Analisa gas darah
DAFTAR PUSTAKA

Morton, P.G. (2005). Critical care nursing : a holistic approach. 8thedition.


Philadelphia : Lippincott William & Wilkins.
Musliha (2010). Keperawatan Gawat Darurat Plus Contoh Askep Dengan
Pendekatan NANDA, Nic, Noc, Cetakan Pertama. Yogyakarta :
Nuha Medika.
Muttaqin, Arif. (2008). Pengantar Askep Klien Dengan Gangguan Sistem
Persyarafan. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Price, Sylvia A. (2006). Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit, buku
2, edisi 6. Jakarta: EGC.
Satyanegara, dkk. 2010. Ilmu Bedah Saraf. Edisi IV. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Suzanne C. Smeltzer & Brenda Bare.(2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth. Jakarta: EGC.
T. Heather Herdman, 2015. Diagnosis keperawatan.Jakarata : EGC
Moorhead, 2016. Nursing Outcomes Classification. ELSEVIER
M. Bulechek Gloria, 2016. Nursing Interventions Classification. ELSEVIER