Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Proses persalinan merupakan suatu proses mekanik, dimana suatu
benda didorong melalui ruangan oleh suatu tenaga. Benda yang didorong
adalah janin, ruangan adalah pelvis dan tenaga adalah his, yang mempunyai
dwi fungsi, untuk membuka serviks dan mendorong bayi keluar. Jika ada
disproporsi feto-pelvik maka akan terjadi persalinan patologis.1
Istilah disproporsi sefalopelvik mulai dipakai sebelum abad ke-20 yaitu
persalinan macet akibat dari ketidakseimbangan antara ukuran kepala janin
dan ukuran panggul ibu. Ketidakseimbangan fetopelvik bisa karena panggul
sempit, ukuran janin yang besar, atau biasanya kombinasi dari dua di atas.
Panggul disebut sempit apabila ukurannya 1-2 cm kurang dari ukuran yang
normal. Kesempitan panggul bisa pada pintu atas panggul, ruang tengah
panggul, pintu bawah panggul atau kombinasi dari ketiganya.2
Dalam suatu penelitian didapati prevalensi disproporsi fetopelvik di
Asia Tenggara sebanyak 6,3% dari kelahiran total. Dalam penelitian yang
sama didapati bahwa prevalensi disproporsi fetopelvik di Indonesia berjumlah
3,8% dari kelahiran total. Menurut laporan World Health Organization (WHO)
pada tahun 2005, disproporsi fetopelvik menyumbang sebanyak 8% dari
seluruh penyebab kematian ibu di seluruh dunia.3
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari
normal, yaitu kurang dari 500 cc. Oligohidramnion dapat dicurigai bila
terdapat kantong amnion yang kurang dari 2 x 2 cm, atau indeks cairan pada 4
kuadran kurang dari 5 cm.4
Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan oligohidramnion adalah kelainan
kongenital, PJT, ketuban pecah, kehamilan postterm, insufisiensi plasenta, dan obat-
obatan (misalnya dari golongan prostaglandin). Kelainan kongenital yang paling
sering menimbulkan oligohidramnion adalah kelainan system saluran kemih

1
2

(kelainan ginjal bilateral dan obstruksi uretra) dan kelainan kromosom (triploidi 18
dan 13). Insufisiensi plasenta oleh sebab apa pun akan memicu mekanisme
redistribusi darah. Salah satu dampaknya adalah terjadi penurunan aliran darah ke
ginjal, produksi urin berkurang, dan terjadi oligohidramnion.4
Oligohidramnion yang terjadi oleh sebab apa pun akan berpengaruh buruk
kepada janin. Komplikasi yang sering terjadi adalah PJT, hypoplasia paru,
deformitas pada wajah dan skelet, kompresi tali pusat dan aspirasi mekonium pada
masa intrapartum, dan kematian janin.4

1.2. Maksud danTujuan


Adapun maksud dan tujuan dari laporan kasus ini adalah sebagai
berikut:
1. Diharapkan bagi semua dokter muda agar dapat memahami kasus
mengenai disproporsi kepala panggul dan oligohidramnion.
2. Diharapkan munculnya pola berfikir kritis bagi semua dokter muda
setelah dilakukan diskusi dengan dosen pembimbing klinik tentang
kasus disproporsi kepala panggul dan oligohidramnion.
1.3. Manfaat
1.3.1 Manfaat Teoritis
a. Bagi institusi, diharapkan laporan kasus ini dapat
menambah bahan referensi dan studi kepustakaan dalam
bidang ilmu obstetrik dan ginekologi terutama tentang
disproporsi kepala panggul dan oligohidramnion.
b. Bagi penulis selanjutnya, diharapkan laporan kasus ini
dapat menjadikan landasan untuk penulisan laporan kasus
selanjutnya.
1.3.2 Manfaat Praktis
a. Bagi dokter muda, diharapkan laporan kasus ini dapat
diaplikasikan pada kegiatan kepaniteraan klinik senior
(KKS) dalam penegakkan diagnosis disproporsi kepala
panggul dan oligohidramnion yang berpedoman pada
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap dan runut.
3

b. Bagi dokter umum, diharapkan laporan kasus ini dapat


menjadi bahan masukan dan menambah pengetahuan dalam
mendiagnosis kasus disproporsi kepala panggul dan
oligohidramnion yang selanjutnya melakukan rujukan pada
dokter spesialis yang berkompeten.
c. Bagi pasien dan keluarga, diharapkan laporan kasus ini
dapat memberikan informasi mengenai disproporsi kepala
panggul dan oligohidramnion serta komplikasi yang
mungkin terjadi jika tidak segera dilakukan tindakan.