Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Istilah farmakognosi pertama kali dicetuskan oleh C.A. Seydler (1815),

seorang peneliti kedokteran di Haalle, Jerman, dalam disertasinya berjudul

Analecta Pharmacognostica. Farmakognosi berasal dari bahasa Yunani,

pharmacon yang artinya itu ”obat” (ditulis dalam tanda petik karena obat disini

maksudnya adalah obat alam, bukan obat sintetis) dan gnosis yang artinya

pengetahuan. Jadi farmakognosi adalah pengetahuan tentang obat-obatan

alamiah (Gunawan, 2004).

Beberapa tahun sebelumnya, J.A. Schmidt menggunakan istilah

farmakognosi sebagai salah satu subjudul dari buku Lebrbuch der Materia

Medika yang diterbitkan di Vienna tahun 1811 mengartikan farmakognosi

sebagai pharma (“obat”) dan cognitif (pengenalan), jadi, farmakognosi

merupakan cara pengenalan ciri-ciri/karakteristik obat yang berasal dari bahan

alam. Menurut Fluckiger, farmakognosi mencakup seni dan pengetahuan

pengobatan dari alam yang meliputi tanaman, hewan, mikroorganisme, dan

mineral. Keberadaan farmakognosi dimulai sejak manusia pertama kali mulai

mengelola penyakit, seperti menjaga kesehatan, menyembuhkan penyakit,

meringankan penderitaan, menanggulangi gejala penyakit dan rasa sakit, serta

semua yang berhubungan dengan minuman dan makanan kesehatan. Pada

awalnya farmakognosi lahir dari jampi-jampi Suku Vodoo yang tanpa disadari

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 1


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

telah ikut menyelamatkan resep-resep rahasia tidak tertulis dari dukun dan

leluhur (Gunawan, 2004).

Pada awalnya masyarakat awam tidak mengenal istilah

“farmakognosi”. Oleh karenanya, mereka tidak bisa mengaitkan farmakognosi

dengan bidang-bidang yang berhubungan dengan kesehatan. Padahal,

farmakognosi sebenarnya menjadi mata pelajaran yang sangat spesifik

dibidang kesehatan dan farmasi. Masyarakat telah mengetahui khasiat dari

opium (candu, kina, kelembak, penisilin, digitalis, insulin, tiroid, vaksin polio,

dsb). Namun mereka tidak sadar bahwa yang diketahui itu adalah bidang dari

farmakognosi. Mereka pun tidak mengetahui kalau bahan-bahan yang

berbahaya seperti minyak jarak, biji saga (sogok telik), dan tempe bongkrek

(aflatoksin) merupakan bagian dari pembicaraan farmakognosi. Pada

hakekatnya, para pengobat herbalis itulah yang nyata-nyata merupakan praktisi

farmakognosi yang pertama (Gunawan, 2004).

Herbarium merupakan istilah yang pertama kali digunakan oleh

Turnefor (1700) untuk tumbuhan obat yang dikeringkan sebagai koleksi. Luca

Ghini (1490-1550) seorang Professor Botani di Universitas Bologna, Italia

adalah orang pertama yang mengeringkan tumbuhan di bawah tekanan dan

melekatkannya di atas kertas serta mencatatnya sebagai koleksi ilmiah (Arber,

1938). Pada awalnya banyak spesimen herbarium disimpan di dalam buku

sebagai koleksi pribadi tetapi pada abad ke-17 Ramadhanil dan Gradstein –

Herbarium Celebense 39 praktek ini telah berkembang dan menyebar di Eropa

(Ramadhanil, 2003).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 2


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

Untuk koleksi objek perlu diperhatikan kelengkapan organ tubuhnya,

pengawetan dan penyimpanannya. Koleksi objek harus memperhatikan pula

kelestarian objek tersebut. Perlu ada pembatasan pengambilan objek. Salah

satunya dengan cara pembuatan awetan. Pengawetan dapat dilakukan terhadap

objek tumbuhan maupun hewan. Pengawetan dapat dengan cara basah ataupun

kering. Cara dan bahan pengawet nya bervariasi, tergantung sifat objeknya.

Untuk organ tumbuhan yang berdaging seperti buah, biasanya dilakukan

dengan awetan basah. Sedang untuk daun, batang dan akarnya, umumnya

dengan awetan kering berupa herbarium (Suyitno, 2004).


Herbarium dibuat dari spesimen yang telah dewasa, tidak terserang

hama, penyakit atau kerusakan fisik lain. Tumbuhan berhabitus pohon dan

semak disertakan ujung batang, daun, bunga dan buah, sedang tumbuhan

berbentuk herba disertakan seluruh habitus. Herbarium kering digunakan untuk

spesimen yang mudah dikeringkan, misalnya daun, batang, bunga dan akar,

sedangkan herbarium basah digunakan untuk spesimen yang berair dan

lembek, misalnya buah (Setyawan dkk, 2004).

Herbarium merupakan suatu bukti autentik perjalanan dunia tumbuh-

tumbuhan selain berfungsi sebagai acuan identifikasi untuk mengenal suatu

jenis pohon. Istilah Herbarium adalah pengawetan specimen tumbuhan dengan

berbagai cara.untuk kepentingan koleksi dan ilmu pengetahuan. Koleksi

specimen herbarium biasanya disimpan pada suatu tempat yang diberi

perlakuan khusus pula yang dikenal dengan laboratorium herbarium. Para ahli-

ahli botani menyimpan koleksi herbarium mereka pada pusat-pusat herbarium

di masing-masing Negara. Di Indonesia pusat herbarium terbesar terdapat di

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 3


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

Herbarium Bogoriense Bidang Botani, Puslit Biologi-LIPI berada di wilayah

Cibinong Jawa Barat. Laboratorium ini menyimpan lebih dari 2 juta koleksi

herbarium yang berasal dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia dan dari

berbagai Negara di dunia. (Balai Diklat Kehutanan Makassar, 2011).

B. Tujuan Praktikum

Untuk mengetahui cara mengidentifikasi simplisia daun yang meliputi

identifikasi secara mikroskopik, morfologi (bentuk) dan secara organoleptik (

warna, bau,dan rasa ) yang baik.

C. Manfaat Praktikum.

Dapat mengetahui cara mengidentifikasi simplisia herba yang meliputi

identifikasi secara mikroskopik , morfologi (bentuk) dan secara organoleptik (

warna, bau,dan rasa ) yang baik.

D. Prinsip Percobaan

Mengidentifikasi simplisia herba baik secara morfologi ( bentuk )

dengan bantuan alat indera meliputi warna,bau, rasa dan bentuk dari simplisia.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 4


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman

1. Herba meniran / Phyllantus herba (Retno wulandari)

a. Klasifikasi

Regnum : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Class : Magnoliopsida

Ordo : Euphourbiales

Family : Euphourbiacea

Genus : Phyllanthus

Species : Phyllanthus niruri

b. Morfologi

Tanaman kecil berbatang lunak tumbuh tegak dengan tinggi 30-50

cm, daun kecil dan majemuk susunan daun berhadapan, bunga kecil

berwarna putih kehijauan..

c. Organoleptik

Bau : Khas meniran

Rasa : Agak pahit

Warna : Hijau

d. Kandungan Kimia

Meniran mengandung flavanoid, tanin, alkaloid dan saponin.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 5


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

e. Khasiat Dalam Bidang Farmasi

Menguatkan sistem imun tubuh, antioksidan dan mampu

merangsang kekebalan tubuh..

2. Herba pegagan/ Centella herba (Tandi Harbie, 2015)

a. Klasifikasi

Regnum : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Class : Magnoliopsida

Ordo : Apiales

Family : Apiaceae

Genus : Centella

Spesies : Centella asiatica L

b. Morfologi

Pegagan merupakan tanaman menahun tanpa batang, tetapi dengan

rimpang pendek dan stolon-stolon yang merayap dengan panjang 10-

80 cm , akar keluar dari setiap bonggol, banyak bercabang, yang

membentuk tumbuhan baru helai daun tunggal bertingkai panjang

sekitar 5-15 cm, bunga berwarna putih atau merah muda, tersusun

dalam karangan berupa paying, tunggal atau 3-5 bersama-sama.

c. Organoleptik

Bau : Khas pegagan

Rasa : Agak sedikit asam

Warna : Hijau kecoklatan

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 6


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

d. Kandungan kimia

Garam-garam mineral seperti kalium, natrium, magnesium,

kalsium, dan besi.

e. Khasiat dalam bidang farmasi

Penyakit ayan, batuk asma, mimisan, batuk kering, bisul, darah

tinggi dan tifus.

3. Herba krokot / Portulaca herba (Tandi Herbie, 2015)

a. Klasifikasi

Regnum : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Class : Magnoliopsida

Ordo : Portulacaceae

Family : Caryophillales

Genus : Portulaca

Species : Portulaca oleracea L.

b. Morfologi

Tanaman ini memilika daun tunggal, berdaging permukaan datar,

tata letaknya duduk tersebar atau berhadapan, bentuk daunnya bulat

telur.

c. Organoleptik

Bau : Khas krokot

Rasa : Pahit agak kecut

Warna : Ungu kecoklatan

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 7


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

d. Kandungan Kimia

Asam organik, alkaloid, komarin, tanin, flavanoid, alanain,

katekolamin, dan saponin.

e. Khasiat Dalam Bidang Farmasi

Sebagai antiflogestik, bakterisida, emolien, diuretik, sedative

lambung dan mengurangi peradangan.

4. Herba kemangi / Portulaca herba (Tandi Herbie, 2015)

a. Klasifikasi

Regnum : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Class : Magnoliopsida

Ordo : Lamiales

Family : Lamiaceae

Genus : Ocimum

Species : Ocimum basilicum

b. Morfologi

Batang tegak bercabang, tinggi 0,6-0,9 m. Daun berbentuk bulat

telur, seluruh atau lebih kurang bergerigi, panjang 2,5-5 cm. tangkai

penunjang lebih pendek dari kelopak, panajng kelopak 5 mm.

c. Organoleptik

Bau : Khas kemangi

Rasa : Sedikit pedas diikuti rasa manis dan dingin

Warna : Hijau kehitaman

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 8


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

d. Kandungan Kimia

Eugenol, sineol, metilkhavikol dan protein.

e. Khasiat Dalam Bidang Farmasi

Dapa digunakan sebagai obat perut kembung, kulit gatal dan kurap.

5. Herba kadok/ piper herba (Tandi Herbie, 2015)

a. Klasifikasi

Regnum : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Class : Magnoliopsida

Ordo : Piperales

Family : Piperaceae

Genus : Piper

Species : Piper sarmentosun Roxb.

b. Morfologi

Merupakan herba tegak dan mendatar, tingginya 0,25 cm-1 meter,

daun berbentuk meruncing seperti jantung, warna hijau sampai hijau

muda mengkilap. Ukurannya 1-15cm x 5-10cm, mempunyai 3-7 urat

daun, bertangkai 0,3-0,5cm, berbulu pendek, bunganya berumah satu,

berbentuk tegak.

c. Organoleptik

Bau : Khas kadok

Rasa : Pahit

Warna : Hijau samapi hijau muda

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 9


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

d. Kandungan Kimia

Saponin, flavonoida, polifenol, minyak atsiri dan dehidrochalcone.

e. Khasiat Dalam Bidang Farmasi

Dapat mengobati susah kencing, asma, sakit perut, malaria, nyeri

tulang, panu, batuk dan nyeri gigi.

6. Herba putri malu/ Mimosa herba (Tandi Herbie, 2015)

a. Klasifikasi

Regnum : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Class : Dicotiledonae

Ordo : Rosales

Family : Mimosaceae

Genus : Mimosa

Species : Mimosa pudica

b. Morfologi

Putri malu tumbuh dipinggir jalan, tanah lapang, tumbuh tidur

ditanah, kadang-kadang tegak, batang bulat berbulu dan berduri. Daun

kecil-kecil tersusun majemuk bentuk lonjong dan ujung lancip warna

hijau bila disentuh akan menutup.

c. Organoleptik

Bau : Aromatik

Rasa : Pahit

Warna : Hijau

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 10


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

d. Kandungan Kimia

Mengandung senyawa mimosine, tranguiliser dan expectrorent.

e. Khasiat Dalam Bidang Farmasi

Mengobati insomnia, bronkhitis, batuk berdahak, Ascariasis dan

rematik.

B. Teknik Pengambilan Sampel dan Pengolahan Simplisia

1. Pengumpulan/panen

Waktu panen sangat erat hubungannya dengan pembentukan

senyawa aktif di dalam bagian tanaman yang akan dipanen. Waktu panen

yang tepat pada saat bagian tanaman tersebut mengandung senyawa aktif

dalam jumlah terbesar. Senyawa aktif terbentuk secara maksimal di dalam

bagian tanaman atau tanaman pada umur tertentu.

a. Teknik pengumpulan

Pengumpulan/panen herba dilakukan dengan tangan atau

menggunakan alat maka harus memperhatikan keterampilan dalam

mengambil sampel.

2. Pengolahan Simplisia

a. Sortasi basah dan pencucian

Setelah pemanenan herba dilakukan sortasi basah pada saat

herba masih segar yang bertujuan untuk memisahkan herba dari benda –

benda asing seperti tanah dan kerikil, rumput-rumputan, bagian

tanaman yang tidak digunakan ataupun bagian tanaman yang rusak.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 11


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

Kemudian herba dicuci menggunakan air mengalir.

Pencucian dimaksudkan untuk membersihkan tanaman dari mikroba

yang melekat.

b. Perajangan

Setelah dicuci, herba diangin-anginkan di atas koran kurang

lebih satu malam. Kemudian dirajang atau dipotong kecil-kecil

menggunakan gunting atau kater yang bertujuan untuk memperkecil

luas permukaan sehingga proses pengeringan berlangsung cepat.

c. Pengeringan

Setelah dirajang, proses selanjutnya yaitu pengeringan.

Pengeringan herba kurang lebih 5-6 hari pada suhu kamar 15-300C.

Tujuan pengeringan antara lain:

1) Untuk mendapatkan simplisia yang awet, tidak rusak dan dapat

digunakan dalam jangka waktu yang relatif lama.

2) Mengurangi kadar air, sehingga mencegah pertumbuhan

mikroorganisme seperti terjadinya pembusukan oleh jamur atau

bakteri karna terhentinya proses enzimatik dalam jaringan

tumbuhan yang selnya telah mati. Agar reaksi enzimatik tidak

dapat berlangsung, kadar air yang dianjurkan adalah kurang

dari 10%.

3) Mudah dalam penyimpangan dan dihaluskan bila dibuat

serbuk.

d. Sortasi kering

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 12


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

Sortasi kering dilakukan sebelum perwadahan yang bertujuan

memisahkan sisa-sisa benda asing atau bagian tanaman yang tidak

dikehendaki misalnya bahan-bahan yang terlalu gosong dan bahan-

bahan yang rusak.

e. Pewadahan dan penyimpanan simplisia

Daun yang sudah kering dimasukkan kedalam wadah pot

plastik kemudian diberi etiket (haksel).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 13


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

BAB III

METODE KERJA

A. Alat Dan Bahan

1. Alat

a. Kertas

b. Gunting

c. Kater

d. Talenan

2. Bahan

a. Herba meniran

b. Herba pegagan

c. Herba krokot

d. Herba kemangi

e. Herba kadok

f. Herba putri malu

B. Prosedur Kerja

a. Pengamatan mikroskopik

1. Disiapkan alat dan bahan.

2. Diletakkan serbuk simplisia herba di atas objek glass, sedangkan untuk

sampel segar yaitu potongan melintang yang tiis dan kecil.

3. Dibasahi dengansedikit aquadest dan tutup dengan D’glass.

4. Difiksasi di atas api Bunsen.

5. Diamati jaringan-jaringan pada sampel yang nampak pada mikroskop.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 14


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

6. Difoto hasil pengamatan.

b. Pengamatan organoleptik

1. Disiapkan alat dan bahan.

2. Diambil sampel yang telah di rajang serta sampel tersebut telah

diserbukan dilakukan pengamatan organoleptik yaitu bau, warna dan

rasa.

3. Setelah dicatat hasil pengamatan.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 15


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

BAB IV

HASIL PENGAMATAN

Tabel I : Gambar Sampel

No. Gambar Keterangan

Herba Meniran

1 1. Kelenjar oksalat

Herba Krokot
1
2 1. Gabus dan parenkim

2. Sel minyak

Herba
1
3 1. Rambut penutup
2
2. Misofil
3
4 3. Kelenjar minyak

4. Epidermis

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 16


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

No Gambar Keterangan

4 Herba
1
1. Misofil

5 Herba

1 1. Epidermis

6 Herba
1
1. Rambut

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 17


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

Tabel II: Identifikasi senyawa metabolit

 Kelompok 1 Herba Meniran

identifikasi pereaksi hasil Gambar dan

keterangan

Karbohidrat Sampel + iod 0,1 N orang

(-) karbohidrat

Alkaloid Sampel + 1ml HCl 2N +

9ml Aquadest.

1. Tabung I

Filtrate – blanko

2. Tabung II

Filtrat + p.mayer
(-) alkaloid
3. Tabung III

Filtrat + p.Mayer +

FeCl3 1%

Glikosida 1. Glikosida Jantung

Sampel+ 1ml etanol

50% + 1ml

methanol + 2 tetes

KOH 20%
(-) glikosida
2. Gllikosida Saponin

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 18


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

Sampel + Aquadest jantung

Kocok

(-) glikosida

saponin

Tanin 1. Sampel + FeCl3 1%

2. Sampel + HCl p

(-) tannin

(-) tannin

Minyak Sampel + 1ml H2SO4 p

Atsiri

(-) minyak atsiri

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 19


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

 Kelompok 2 Herba alga

identifikasi pereaksi hasil Gambar dan

keterangan

Karbohidrat Sampel + iod 0,1 N

Alkaloid Sampel + 1ml HCl 2N +

9ml Aquadest.

1. Tabung I

Filtrate – blanko

2. Tabung II

Filtrat + p.mayer

3. Tabung III

Filtrat + p.Mayer +

FeCl3 1%

Glikosida 1. Glikosida Jantung

Sampel+ 1ml

etanol 50% + 1ml

methanol + 2 tetes

KOH 20%

2. Gllikosida Saponin

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 20


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

Sampel +

Aquadest Kocok

Tanin 1. Sampel + FeCl3

1%

2. Sampel + HCl p

Minyak Sampel + 1ml H2SO4 p

Atsiri

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 21


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

 Kelompok 3 Herba Krokot

identifikasi pereaksi hasil Gambar dan

keterangan

Karbohidrat Sampel + iod 0,1 N

Alkaloid Sampel + 1ml HCl 2N +

9ml Aquadest.

1. Tabung I

Filtrate – blanko

2. Tabung II

Filtrat + p.mayer

3. Tabung III

Filtrat + p.Mayer +

FeCl3 1%

Glikosida 1. Glikosida Jantung

Sampel+ 1ml

etanol 50% + 1ml

methanol + 2 tetes

KOH 20%

2. Gllikosida Saponin

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 22


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

Sampel +

Aquadest Kocok

Tanin 1. Sampel + FeCl3

1%

2. Sampel + HCl p

Minyak Sampel + 1ml H2SO4 p

Atsiri

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 23


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

 Kelompok 4 Herba

identifikasi pereaksi hasil Gambar dan

keterangan

Karbohidrat Sampel + iod 0,1 N

Alkaloid Sampel + 1ml HCl 2N +

9ml Aquadest.

4. Tabung I

Filtrate – blanko

5. Tabung II

Filtrat + p.mayer

6. Tabung III

Filtrat + p.Mayer +

FeCl3 1%

Glikosida 3. Glikosida Jantung

Sampel+ 1ml

etanol 50% + 1ml

methanol + 2 tetes

KOH 20%

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 24


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

4. Gllikosida Saponin

Sampel +

Aquadest Kocok

Tanin 3. Sampel + FeCl3

1%

4. Sampel + HCl p

Minyak Sampel + 1ml H2SO4 p

Atsiri

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 25


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

Kelompok 5 Herba

identifikasi pereaksi hasil Gambar dan

keterangan

Karbohidrat Sampel + iod 0,1 N

Alkaloid Sampel + 1ml HCl 2N +

9ml Aquadest.

7. Tabung I

Filtrate – blanko

8. Tabung II

Filtrat + p.mayer

9. Tabung III

Filtrat + p.Mayer +

FeCl3 1%

Glikosida 5. Glikosida Jantung

Sampel+ 1ml

etanol 50% + 1ml

methanol + 2 tetes

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 26


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

KOH 20%

6. Gllikosida Saponin

Sampel +

Aquadest Kocok

Tanin 5. Sampel + FeCl3

1%

6. Sampel + HCl p

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 27


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

Minyak Sampel + 1ml H2SO4 p

Atsiri

 Kelompok 6 Herba M

identifikasi pereaksi hasil Gambar dan

keterangan

Karbohidrat Sampel + iod 0,1 N orang

(-) karbohidrat

Alkaloid Sampel + 1ml HCl 2N +

9ml Aquadest.

4. Tabung I

Filtrate – blanko

5. Tabung II

Filtrat + p.mayer

6. Tabung III (-) alkaloid

Filtrat + p.Mayer

+ FeCl3 1%

Glikosida 3. Glikosida Jantung

Sampel+ 1ml

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 28


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

etanol 50% + 1ml

methanol + 2 tetes

KOH 20%

4. Gllikosida (-) glikosida jantung

Saponin

Sampel +

Aquadest Kocok

(-) glikosida saponin

Tanin 3. Sampel + FeCl3

1%

4. Sampel + HCl p

(-) tannin

(-) tannin

Minyak Sampel + 1ml H2SO4 p

Atsiri

(-) minyak atsiri

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 29


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

BAB IV

PEMBAHASAN

Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang

belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain simplisia

merupakan bahan yang dikeringkan. Simplisia dapat berupa simplisia nabati,

simplisia hewani, dan simplisia pelican atau mineral.

Identifikasi farmakognostik simplisia herba meliputi uji mikroskopik,

organoleptik, morfologi serta identifikasi senyawa metabolit. Uji mikroskopik

dilakukan dengan menggunakan mikroskop. Cara ini dilakukan untuk melihat

jaringan-jaringan yang terdapat dalam sampel. Untuk mengetahui mutu dari

simplisia yang akan kita gunakan, dapat dilakukan pemeriksaan yaitu secara

organoleptik, mikroskopik, serta secara kimia.

Pada percobaan kali ini dilakukan untuk mengidentifikasi simplisia herba

yaitu herba krokot, herba putri malu, herba kemangi, herba pegagan, herba kadok,

herba meniran . Pada keenam sampel tersebut dilakukan pengolahan simplisia

secara sistematik, dimana simplisia yang sudah kering di jadikan serbuk dan diuji

organoleptiknya yang meliputi bau, rasa dan warna pada setiap masing-masing

sampel. Sedangkan untuk pengujian morfologinya dibutuhkan simplisia segar

dimana simplisia segar itu di perhatikan bentuknya dari setiap sisi.

Untuk uji mikroskopok sampel dilakukan menggunakan mikroskop, pada

herba krokot berupa serbuk simplisia terlihat epidermis, rambut penutup, kelenjar

minyak dan misofil. Sampel kedua yaitu herba meniran, untuk sampel serbuk

terlihat kelenjar oksalat. Sampel ketiga yaitu herba pegagan terlihat sel minyak.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 30


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

Sampel keempat yaitu herba kemangi berupa serbuk simplisia terlihat pati,

kelenjar dan sel minyak. Sampel kelima yaitu herba kadok yang terlihat pada uji

mikroskopik yaitu misofil dan untuk sampel herba putri malu terdapat jaringan

epidermis.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 31


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Mengidentifikasi farmakognostik simplisia herba yang meliputi

makroskopik, identifikasi secara morfologi (bentuk) dan secara organoleptik (

bau, rasa, dan warna), dan mikroskopik pada simplisia herba.

B. Saran

Praktikan diharapkan memperhatikan proses atau tahap-tahap

persiapan sampel tanaman serta memperhatikan persyaratan yang tertera agar

tidak merusak kualitas simplisia.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 32


LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI DIPLOMA-III

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen


Kesehatan Republik Indonesia

Gunawan. D., Mulyani. S, 2002. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid I. PT


Penebar Swadaya

Hariana, Anief. 2013. 262 Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta : PT


Penebar Swadaya

Herbie, Tandi. 2015. Kitab Tanaman Berkhasiat Obat. Yogyakarta :


OCTOPUS Publishing House

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA Page 33