Anda di halaman 1dari 15

SALPINGITIS

(Renesha Sashitharan, Rai Asri Pancani)

I. PENDAHULUAN

Salpingitis merupakan suatu gangguan infeksi dan inflamasi pada tuba fallopi dan
tergolong dalam penyakit inflamasi pelvik. Adapun penyakit inflamasi pelvik adalah
endometritis (endometrium), salpingitis (tuba fallopi), oophoritis (ovarium), myometritis
(dinding uterus), parametritis (lig. teres uteri) dan peritonitis (peritoneum pelvik). Walaupun
salpingitis digolongkan dalam penyakit inflamasi pelvik, namun kebanyakan literatur
mendefinisikannya sebagai suatu hal yang sama. Salpingitis merupakan infeksi yang serius dan
merupakan penyebab ginekologis yang paling umum yang mengakibatkan nyeri panggul kronis
dan infertilitas.(1-3)

Gangguan akut ini sering terjadi karena disebabkan oleh invasi Neisseria gonorrhoeae
atau Chlamydia trachomatis ke bagian atas genitalia perempuan lewat infeksi menular seksual.
Infeksi pada satu tuba biasanya akan menyebabkan infeksi ke tuba yang lain karena bakteri
tersebut bermigrasi lewat saluran limfe. Apabila tuba fallopi terinfeksi, hal ini menyebabkan
terjadinya jaringan parut, maka jaringan parut ini dapat menyebabkan tahanan terhadap ovum
yang telah terfertilasi untuk ke uterus sehingga dapat menyebabkan terjadinya kehamilan
ektopik.(4,5)

Faktor risiko untuk salpingitis meliputi hubungan seksual pertama pada usia muda,
perilaku seksual berisiko tinggi, tidak konsisten atau tidak menggunakan perlindungan
penghalang serta penggunaan kontrasepsi dalam rahim (IUD) dan lain-lainnya.(2,6)

II. INSIDENS DAN EPIDEMIOLOGI

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), terdapat kurang lebih 31 milyar
kasus infeksi gonorrhea dan 22.5 milyar kasus infeksi chlamydia di seluruh dunia dan
prevalensinya tinggi di benua Afrika dan Asia.(5)

Prevalensi salpingitis dalam kalangan perempuan didapati meningkat pada perempuan


yang mempunyai pasangan lebih dari satu sebanyak 5 kali lipat, karena perempuan tersebut lebih

1
mudah terinfeksi terhadap gonorrhoeae dan chlamydia. Sebanyak 75% kasus salpingitis
ditemukan pada perempuan berusia 16-25 tahun atau golongan dengan usia seksual aktif.(1,4)

Selain itu juga, penggunaan IUD dapat meningkatkan resiko sebanyak 2 hingga 9 kali
untuk terinfeksi bakteri dan menderita salpingitis. Hal ini biasanya terjadi dalam jangka waktu
satu bulan karena terdapat kemungkinan bahwa bakteri menetap di ujung pangkal IUD. Namun
begitu, penggunaan kondom dan kontrasepsi oral dapat mengurangkan resiko terjadinya
salpingitis karena adanya proteksi terhadap infeksi. (1,2,4,6)

III. ETIOLOGI

Penyebab salpingitis adalah infeksi bakteri yang terjadi akibat perpindahan


mikroorganisme yang terdapat pada vagina dan serviks ke tuba. Penyebab iatrogenik seperti
penggunaan IUD dan prosedur invasif dapat menjadi kontributor untuk terjadinya salpingitis. (4,6)

Bakteri-bakteri yang sering menyebabkan salpingitis adalah(4,6):

1. Neisseria gonorrhoeae
N. gonorrhoeae adalah salah satu bakteri yang paling sering ditemukan
pada penderita penyakit inflamasi pelvik. N. gonorrhoeae menjadi bakteri
penyebab jika:
a) Gejala terjadi dalam 1 minggu menstruasi
b) Tidak pernah mengidap penyakit inflamasi pelvik
c) Pasangan terinfeksi dengan gonorrhoeae
d) Ada eksudat endoserviks yang mengandung intraselular gram
negatif diplococci dengan tiga atau lebih leukosit
Jika N. gonorrhoeae sudah bermigrasi ke tuba, ini akan menyebabkan
reaksi inflamasi berat, kemudian tuba akan menjadi edema dan
terobstruksi oleh eksudat purulen.(6)
2. Chlamydia trachomatis
Chlamydia trachomatis merupakan bakteri yang paling sering ditemukan
selain N. gonorrhoeae pada pasien salpingitis. Pasien biasanya tidak
mempunyai gejala dalam beberapa bulan setelah terinfeksi. Bakteri ini
akan menetap dalam tuba tanpa disadari dan secara perlahan-lahan

2
menyebabkan inflamasi yang lebih berat dan merusak mukosa tuba. Hal
ini menyebabkan terjadinya abses tuba.(6)
3. Bakteri anerobik seperti Bacteroides spp
Bakteri anerobik adalah flora normal pada serviks dan vagina. Infeksi
bakteri anerobik biasanya ditemukan pada pasien yang pernah mengidap
penyakit inflamasi pelvik karena sudah diinvasi oleh bakteri sebelumnya
sehingga pasien salpingitis yang terinfeksi oleh bakteri anerobik
menunjukkan gejala yang lebih berat seperti abses dan resisten terhadap
antibiotik.(6)
4. Bakteri aerobik selain N. gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis seperti
Escherichia coli(6)
5. Mycoplasma hominis dan T-mycoplasma(6)

IV. ANATOMI

Organ genitalia perempuan terdiri dari (7):

a) Organ externa
Vulva adalah bagian organ externa genitalia perempuan yang terdiri dari mons
pubis, labium majus, labium minus, vestibulum vaginae, clitoris, bulbus vestibule,
glandula vestibularis Bartholini dan glandula paraurethralis Skene.(7)
b) Organ interna
1. Vagina
Vagina merupakan suatu saluran fibromaskular yang menghubungkan vulva dan
serviks uteri. Pada ujung kaudal vagina, terdapat suatu lubang yang dikenal
sebagai orificium vagina yang bermuara ke vestibulum vagina dan dikelilingi oleh
otot-otot dari diaphragma pelvis (m. levator ani) dan diaphragma urogenital (m.
perineal transversal). Pada ujung cranial vagina terdapat pula tonjolan serviks
uteri yang membentuk portio vaginalis. Di sekeliling portio ini, membentuk
seperti leher yang dikenal sebagai fornix vagina.(7)

3
2. Uterus
Uterus merupakan organ muskular yang terletak di dalam kavum pelvik. Uterus
berfungsi untuk menghubungkan sperma ke tuba fallopi. Selain itu, uterus juga
berfungsi untuk implantasi ovum yang telah difertilasi dan tempat perkembangan
fetus sampai persalinan terjadi.(7)
Uterus berada di antara:
 Kaudal : vagina
 Dorsal : rektum
 Ventral : vesica urinaria

Uterus terdiri dari fundus, korpus, isthmus dan serviks uteri. Dinding cavum uteri
dilapisi oleh (dari luar ke dalam) (7):

 Perimetrium
 Myometriun
 Endometrium
3. Tuba fallopi
Perempuan mempunyai sepasang tuba fallopi yang merupakan saluran
penghubung antara sperma dengan ovum. Selain itu, tuba fallopi juga
menfasilitasi oosit sekunder dan ova yang telah difertilasi(dibuahi) untuk
ditransportasi ke uterus. Tuba fallopi dibagi kepada 4 bagian (medial ke lateral)(7):
 Intramural
 Isthmus
 Ampulla
 Infundibulum
Pada ujung tuba fallopi, yaitu infundibulum, terdapat proyeksi seperti jari yang
dikenal sebagai fimbriae yang terhubung dengan ujung lateral ovarium.(7)
4. Ovarium
Ovarium merupakan sepasang organ yang homolog dengan testis pria. Ovarium
berfungsi untuk memproduksi gamet dan hormon perempuan. Ovarium terfiksasi
dengan lig. suspensorium ovarica (superior), lig. ovarii proprium (inferior) dan
mesovarium (posterior).(7)

4
Gambar 1: Anatomi bagian-bagian dari pelvik perempuan (dikutip dari kepustakaan no. 7)

Gambar 2: Anatomi vagina (dikutip dari kepustakaan no. 7)

5
Gambar 3: Anatomi uterus dan adnexa (dikutip dari kepustakaan no. 7)

V. PATOFISIOLOGI

Sebagian besar kasus salpingitis terjadi dalam 2 tahap yaitu: tahap pertama dengan
melibatkan infeksi vagina dan leher rahim. Infeksi menular seksual ini biasanya asimptomatis.
Pada tahap kedua, infeksi tuba terjadi akibat perjalanan mikroorganime dari vagina dan leher
rahim ke dalam kavum uteri. Meskipun mekanisme yang tepat mengenai perjalanan
mikroorganisme ini tidak diketahui, penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang
mungkin terlibat.(3,4)

Secara fisiologis, serviks menghasilkan lendir yang berfungsi sebagai mekenisme


defensif fungsional berlakunya perjalanan mikroorganisme ke kavum uteri. Namun, efektivitas
mekanisme ini bisa berkurang karena terjadinya perubahan hormon progesteron yang terjadi
pada saat awal dan akhir menstruasi. Selain itu, penggunaan antibiotik dan infeksi menular
seksual (IMS) akan menyebabkan perubahan dalam lingkungan serviko-vaginal. Hal ini dapat
mengganggu keseimbangan flora endogen dan menyebabkan organisme yang biasanya non-

6
patogenik untuk tumbuh terlalu cepat dan naik ke dalam kavum uteri. Hubungan seksual juga
menyebabkan peningkatan infeksi karena ritme kontraksi rahim mekanis. (2-4)

Organisme paling sering terisolasi adalah Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia


trachomatis. Namun, tidak seperti infeksi pada bagian tubuh yang lain, studi baru pada lapangan
laparoskopi yang lebih sensitif dan spesifik menemukan salpingitis akut dengan polimikrobial
pada sampai dengan 30-40% dari kasus. Mikroorganisme yang terlibat termasuk Gardnerella
vaginalis, Mycoplasma hominis, Ureaplasma urealyticum, herpes simplex virus-2 (HSV-2),
Trichomonas vaginalis, cytomegalovirus, Haemophilus influenza dan lain-lain.(2-4)

VI. DIAGNOSIS

A. GAMBARAN KLINIK

Pasien salpingitis ditandai dengan berbagai gejala dan variasi yang signifikan. Pasien
mungkin juga dapat datang tanpa sakit parah. Seringkali, pasien datang dengan gejala pada awal
atau akhir siklus menstruasi karena terjadinya penurunan hormon progesteron dan mengakibat
penipisan mukosa penghalang serviks.(1,2)

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) telah membuat kriteria untuk
mendiagnosis PID (salpingitis) yaitu(1,3):

 Kriteria minimal (1 atau lebih)

 Nyeri pada abdomen bawah

 Nyeri pada adnexa

 Nyeri apabila ada gerakan serviks

Nyeri perut merupakan gejala yang paling umum ditemukan pada pasien. Biasanya
nyeri digambarkan sebagai tumpul, sakit atau kram, bilateral, dan tetap, tetapi dimulai
beberapa hari setelah permulaan periode menstruasi terakhir dan cenderung dipicu oleh
gerakan, latihan, atau koitus. Abdomen mungkin sedikit distensi dan bunyi menghilang.
Nyeri perut dari salpingitis biasanya berlangsung kurang dari 7 hari. Jika sakit ini
berlangsung lebih dari 3 minggu, kemungkinan bahwa diagnosis PID menurun.(1,2,6,8)

7
 Kriteria tambahan (pasien harus memiliki 1 atau lebih bagi kriteria ini)(2,3,8)

 Suhu badan lebih tinggi dari 38º C

 Serviks abnormal atau cairan vagina keluar serta ada penemuan sel darah putih
pemeriksaan mikroskopi saline

 Elevasi kadar sedimentasi eritrosit

 Peningkatan kadar C-reaktif protein

 Pemeriksaan laboratorium terhadap infeksi serviks dengan trachomatis C atau N


gonorrhoeae

 Kriteria definitif (temuan tambahan)

 Pada prosedur laparoskopi, tampak kelainan yang konsisten dengan salpingitis

B.. GAMBARAN RADIOLOGIK

1. Hysterosalpingography (HSG):

HSG adalah suatu alat radiografik yang sering digunakan untuk mengevaluasi uterus dan
tuba fallopi. Biasanya HSG digunakan untuk mengevaluasi infertilitas, riwayat aborsi spontan
yang rekuren, evaluasi post-operatif bagi perempuan yang melakukan ligasi tuba dan lain-lain.
Gambaran HSG pada pasien salpingitis ditemukan dengan tampaknya divertikel atau kantung
kecil yang terisi oleh kontras pada tuba fallopi. Biasanya, gambaran ini disertai dengan ujung
ampulla tuba dilatasi karena terjadinya hydrosalpynx. Tuba mungkin menjadi non-paten apabila
terjadinya obstruksi jika proses inflamasi sudah kronis.(9-12)

8
B
C

Gambar 4: Pemeriksaan HSG. A: Pengisian kontras masuk ke dalam uterus, B: bentuk uterus normal, C:
tampak kontras mengisi kedua tuba fallopi, D: tumpahan bahan kontras ke intraperitoneal dari tuba (spill
+), kedua tuba paten.(dikutip dari kepustakaan no. 9) B

Gambar 5: Pemeriksaan HSG dengan; Salpingitis isthmica nodusom (SIN). A: tampak kontras mengisi
kavum uteri, bentuk dan ukuran uterus normal, tidak tampak filling defect. B: Kedua tuba terisi kontras.
Pada kedua tuba pars isthmus, tampak divertikel atau kantung kecil yang terisi oleh kontras. C: Tampak
spill (+) pada tuba kanan, tuba kiri spill (-). Ujung ampulla tuba kiri tampak dilatasi sesuai gambaran
hydrosalpynx. (dikutip dari kepustakaan no. 11)

9
2. Ultrasonography (USG):

Pada pasien salpingitis, pemeriksaan USG yang sering dianjurkan adalah transvaginal
atau transabdominal. Namun, tuba fallopi sulit dievaluasi pada salpingitis akut. Pada gambaran
ultrasound penderita salpingitis yang kronis adalah termasuk tuba menebal (biasanya > 5 mm),
saluran tuba berisi cairan dan terdapatnya cairan yang terlihat di kavum Douglasi. Temuan ini
sendiri tidak spesifik untuk membuat diagnosis definitif bagi salpingitis. Namun, pada penderita
yang datang dengan abses, maka, gambaran ultrasound dapat terlihat sebagai kompleks massa
adnexal dengan multipel internal echo.(2,13,14)

Gambar 6: Pemeriksaan USG. A: Pada ultrasound transvaginal, tampak gambaran complex free fluid. B:
Pada sisi pandang koronal kiri adnexa tampak dilatasi pada tuba fallopi dilatasi disertai cairan yang
echogenik. Temuan adalah cocok dengan gambaran pyosalpynx. U: uterus, T: tuba fallopi, FF: free fluid
(dikutip dari kepustakaan no. 14)

3. CT-Scan:

Pada pasien salpingitis adalah sulit ditemukan kelainan pada CT scan jika tiadanya abses terjadi.
Inflamasi pada tuba akan menyebabkan lapisan lemak pada pelvik menghilang dengan penebalan
lapisan fascia. Jika hydrosalpinx terjadi, maka akan terlihat struktur fluid-filled tubular pada
adnexa. Bagi abses tubo-ovarian, gambaran CT scan akan terlihat seperti massa yang mempunyai
batas yang tebal dan tegas serta irregular.(2,13)

10
Gambar 7: CT-Scan dengan abses tubo-ovarium. Tampak adanya penebalan dari dinding kedua-dua tuba
(dikutip dari kepustakaan no. 14)

VII. DIAGNOSIS BANDING

KEHAMILAN EKTOPIK

Kehamilan ektopik merupakan terjadinya implantasi ovum yang telah diinfertilasi


yang bukan pada endometrium uterus. Kebanyakan kehamilan ektopik terjadi di tuba
fallopi. Pasien biasanya datang dengan nyeri pada abdomen atau pelvik, terjadi
pendarahan, amenorrea dan kadangkala pingsan.(1,8,15)

Gestational sac
with a live embryo
and a yolk sac

Uterus
Gambar 8: USG transabdominal dengan kehamilan ektopik pada tuba fallopi. Pada kiri uterus ditemukan
kantung gestational yang terisi embryo. (dikutip dari kepustakaan no. 15)

11
VIII. PENATALAKSANAAN

Karena kesulitan diagnostik dan potensi sequelae serius, Pusat Pengendalian dan
Pencegahan Penyakit (CDC) menyarankan bahwa dokter harus mengobati pasien, yang mana
lebih baik overtreatment dari tidak ada atau tertunda pengobatan. Pengobatan salpingitis dimulai
di klinik gawat darurat, atau harus cepat dimulai dan termasuk antibiotik spektrum luas untuk
menutup lengkap penyebab umum. Semua regimen yang diberi mestilah efektif terhadap
organisme fakultatif negatif-gram, anaerob, dan streptokokus, serta C. trachomatis dan N.
gonorrhoeae.(1,2,4)

Kondisi pasien didasarkan pada ketepatan diagnosis; derajat penyakit; kepatuhan


pengobatan pasien rawat jalan, kehamilan, kemungkinan infeksi anaerob signifikan termasuk
keberadaan abses Tubo-ovarium, IUD, atau sejarah prosedur panggul terakhir; imunosupresi
berdampingan atau penyakit; dan utama masalah kesuburan.(1,2,4)

 Pengobatan rawat inap

 Regimen A: Administer cefoxitin 2 g IV atau cefotetan 2 g IV plus doksisiklin


100 mg IV. Lanjutkan rejimen ini selama 24 jam setelah keadaan klinis pasien
membaik, dan kemudian tambahkan doksisiklin 100 mg PO untuk total 14 hari.
Jika abses tubo-ovarium hadir, gunakan klindamisin atau metronidazol dengan
doksisiklin karena memberi cakupan lebih terhadap bakteri anaerob.(2,4)

 Regimen B: Administer klindamisin 900 mg IV ditambah gentamisin 2 mg / kg


IV. Terapi IV dapat dihentikan 24 jam setelah pasien membaik secara klinis, dan
terapi PO tawaran 100 mg doksisiklin harus dilanjutkan untuk total 14 hari. Jika
abses tubo-ovarium hadir, gunakan klindamisin atau metronidazol dengan
doksisiklin karena memberi cakupan lebih terhadap bakteri anaerob.(2,4)

 Pengobatan Rawat Jalan

 Regimen A: Administer ceftriaxone 250 mg IM sekali sebagai dosis tunggal


ditambah doksisiklin 100 mg PO tawaran selama 14 hari, dengan atau tanpa
metronidazole 500 mg tawaran PO selama 14 hari. Metronidazol dapat

12
ditambahkan jika ada bukti atau kecurigaan untuk vaginitis dalam 2-3 minggu
terakhir.(2,4)

 Regimen B: Administer cefoxitin 2g IM sekali sebagai dosis tunggal dan


probenesid 1 g PO bersamaan dalam dosis tunggal atau dosis tunggal parenteral
cephalosporin generasi ketiga (ceftizoxime atau cefotaxime) ditambah doksisiklin
100 mg PO selama 14 hari dengan atau tanpa metronidazol 500 mg PO tawaran
selama 14 hari. Metronidazol dapat ditambahkan jika ada bukti atau kecurigaan
untuk vaginitis dalam 2-3 minggu terakhir.(2,4)

IX. KOMPLIKASI

Komplikasi dari salpingitis yang tidak dihhjobati dengan tepat adalah terjadinya pus
(pyosalpynx) atau cairan berlebihan (hydrosalpynx) dalam tuba fallopi. Hal ini dapat
menyebabkan abses tubo-ovarium jika cairan atau pus yang terhasil terlalu banyak. Selain itu,
penderita juga beresiko menjadi mandul dan hamil dengan kehamilan ektopik karena terjadi
perubahan secara anatomis.(5,6,8)

X. PROGNOSIS

Prognosis bagi salpingitis adalah baik dan berkaitan dengan ketepatan pengobatan yang
tepat. Terkadang, infeksi dapat bertahan meskipun pengobatan telah diberi dan dapat
menghasilkan nyeri punggung, nyeri perut, nyeri panggul, sering menstruasi berat, dan nyeri
selama hubungan seksual secara persisten. Pasien biasanya respon terhadap antibiotik dalam
waktu 48 sampai 72 jam dengan nyeri menurun.(2,5,8)

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Stenchever MA, Droegemueller W, Herbst AL, Mishell DR Jr. Infections of the upper
genital tract. Chapter 23. In: Comprehensive gynecology. 4th ed. US: Mosby; 2002. p.707-
731

2. Shepherd SM. Pelvic inflammatory disease [online] 2010. [cited April 2011]. Available
from http://emedicine.medscape.com/article/256448-overview

3. Anonym. Salpingitis. Better Health Channel [online] 2010. [cited April 2011].

Available from http://www.betterhealth.vic.gov.au/bhcv2/bhcarticles.nsf/pages/Salpingitis

4. Scott JR, Gibbs RS, Karlan BY, Haney AF. Pelvic inflammotory disease. Chapter 32. In:
Danforth's obstetrics and gynecology, 9th ed. UK: Lippincott Williams & Wilkins
Publishers; 2003. p. 914-922

5. Meiner EM, and William HS. Salpingitis [online] 2004. [cited April 2011]. Available from
http://www.mdguidelines.com/salpingitis

6. Chin VP. Pelvic inflammotory disease. Chapter 5 In: Havens CS, Sullivan ND. Manual of
outpatient gynecology. 4th ed. UK: Lippincott Williams & Wilkins Publishers: 2002. p. 67-
76

7. Tortora GJ and Derrickson B. The reproductive system. Chapter 28. In: Principle of
anatomy and physiology. 11th ed. UK: John Wiley & Sons, Inc.; 2006. p. 1076-1082

8. DeCherney AH, Nathan L, Goodwin TM, Laufer N. Sexually transmitted diseases & pelvic
infections. Chapter 41. In: Current diagnosis & treatment obstetric & gynecology. 10th ed.
US: The McGraw-Hill Companies, Inc.: 2007. p. 677-680

9. American College of Radiology (ACR) and the Radiological Society of North America
(RSNA). Hysterosalpingography radiology info [online] 2010. [cited April 2011]. Available
from http://www.radiologyinfo.org/hyserosalp

10. Simpson WL Jr, Beitia LG, Mester Jolinda. Hysterosalpingography: A Reemerging Study
[online] 2006. [cited April 2011]. Available from http://www.rsnaorglrsnarights

14
11. Puscheck EE. Infertility [online] 2010. [cited April 2011]. Available from
http://emedicine.medscape.com/article/274143-overview

12. Eng CW, Tang PH, Ong CL. Hysterosalpingography: Current applications. Singapore
Medical Journal 2007.

13. Mudgil S. Pelvic inflammatory disease/tubo ovarian abscess [online] 2009. [cited April
2011]. Available from http://emedicine.medscape.com/article/404537-overview

14. Chandra S. Role of Laparoscopy in the management of pelvic inflamation disease / Tubo-
ovarian abscess compared to other modalities [online]. [cited April 2011]. Available from
http://www.laparoscopyhospital.com/role-of-laparoscopy-in-the-management-of-pelvic-
inflamation-disease-tubo-ovarian-abscess-compare-to-other-modalites.html

15. Jurkovic D. Ectopic pregnancy. Chapter 14. Ross JDC and Stewart P. Pelvic infection.
Chapter 42. R Edmonds DK. In: Dewhurst’s Textbook of obstetrics & gynaecology. 7th ed.
US: Blackwell Publishing: 2007. p. 106-115. p. 414-421

15