Anda di halaman 1dari 12

Fakor Determinan yang Memengaruhi Budaya Keselamatan Pasien di RS

Pemerintah Kabupaten Kuningan

Lia Mulyati, Dedy Rachman, Yana Herdiana


STIKes Kuningan, Jawa Barat
Email: lia_mulyati@rocketmail.com

Abstrak

Budaya keselamatan merupakan kunci untuk mendukung tercapainya peningkatan keselamatan dan kesehatan
kerja dalam organisasi. Upaya membangun budaya keselamatan merupakan langkah pertama dalam mencapai
keselamatan pasien. Terdapat beberapa faktor yang berkontribusi dalam perkembangan budaya keselamatan yaitu;
sikap baik individu maupun organisasi, kepemimpinan, kerja tim, komunikasi dan beban kerja. Penelitian ini
bertujuan mengetahui faktor determinan yang berhubungan dengan terciptanya budaya keselamatan pasien di RS
Pemerintah Kabupaten Kuningan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan incidental sampling 88 orang
perawat pelaksana. Rancangan penelitian menggunakan survey analitik dengan pendekatan cross sectional, uji
hipotesis digunakan Chi Square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukan terdapat pengaruh yang
signifikan antara persepsi terhadap manajemen (p 0.0005, odd rasio 21.3), dukungan tim kerja (p 0.0005, odd
rasio 13.34), stress kerja (p 0.006, odd rasio 3.94), kepuasan kerja (nilai p 0. 002) dengan budaya keselamatan
pasien. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan kondisi kerja dengan budaya keselamatan pasien dengan nilai p
0.507. Berdasarkan analisis multuvariat diperoleh persepsi terhadap manajemen menjadi factor determinan dengan
nilai p 0.000 < α 0.05. Simpulan; unsur pimpinan memiliki pengaruh yang signifikan dalam menciptakan budaya
keselamatan pasien. Pimpinan memiliki kewenangan dalam menerapkan system yang berlaku dalam organisasi,
oleh karena itu gaya kepemimpinan, teknik komunikasi serta kemampuan manajerial merupakan suatu hal yang
sangat perlu diperhatikan dalam menciptakan atmosfer kerja yang kondusif sebagai upaya terciptanya budaya
keselamatan pasien. Berdasarkan hasil penelitian bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan model
yang sesuai diterapkan untuk meningkatkan budaya keselamatan pasien, pelatihan keterampilan komunikasi
efektif serta pengembangan model pendidikan antar profesi sebagai upaya peningkatan kemampuan kolaborasi.

Kata kunci: Budaya keselamatan pasien, stress kerja, kepuasan kerja.

Determinant factors that are Influencing Patient Safety Culture in a


Government-owned Hospitals in Kuningan Regency

Abstract

Safety culture is a key to support the achievement of occupational health and safety in an organization. An
effort to build safety culture is the first step in ensuring patient safety. There are some factors that contribute
in the development of safety culture, namely, individual and organizational attitude, leadership, team work,
communication, and work load. This study aimed to identify the determinant factors that are related to achievement
of patient safety culture in a government-owned hospital in Kuningan Regency. Eighty eight samples of nurses
were recruited using incidental sampling technique. The research design was using cross sectional study, the
hypothesis testing were using Chi Square and multiple logistic regression. The results showed that there were
significant influenced between perception towards management (p= 0.0005, odd rasio 21.3), team work support
(p= 0.0005, odd rasio 13.34), work-related stress (p= 0.006, odd rasio 3.94), work satisfaction (p= 0. 002)
with patient safety culture. There was not significant influenced between work condition and patient safety (p=
0.507). The multivariate analysis showed that perception towards management was the determinant factor for
patient safety culture (p 0.000 < α 0.05). In conclusion, leaders have significant influence in creating patient
safety culture. Leaders have authority to implement systems in the organization. Therefore, leadership style,
communication technique, and managerial ability are important in order to create a conducive atmosphere for
developing patient safety culture. As recommendation, transformational leadership is a model that is appropriate
to be applied in order to increase patient safety culture, trainings of effective communication and inter-
professional education model are also needed to increase the collaboration skills among health professionals.

Keywords: Patient safety culture, work-related stress, work satisfaction.

Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016 179


Lia Mulyati : Faktor Determinan yang Memengaruhi Budaya Keselamatan Pasien di RS

Pendahuluan organisasi (KKP-RS 2007). Upaya


menciptakan atau membangun budaya
Keselamatan pasien (patient safety) merupakan keselamatan merupakan langkah pertama
isu penting dan global dalam pelayanan dalam mencapai keselamatan pasien, seperti
kesehatan. Isu tersebut sudah menjadi perhatian halnya yang tercantum dalam ”Tujuh
sejak tahun 1990an dan semakin menjadi Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah
perhatian sejak adanya laporan dari Institute Sakit” di Indonesia, yaitu membangun
of Medicine (IOM) tahun 1999 (dalam James. budaya keselamatan pasien, memimpin dan
JT 2013), menyatakan bahwa di Amerika mendukung staf, mengintegrasikan kegiatan-
Serikat diproyeksikan terjadi 44.000 sampai kegiatan manajemen risiko, meningkatkan
dengan 98.000 kematian setiap tahun akibat kegiatan pelaporan, melibatkan dan
dari medical error yang sebenarnya dapat berkomunikasi dengan pasien, belajar dan
dicegah. Data Kejadian Tidak Diharapkan di berbagi pengalaman tentang keselamatan
Indonesia sendiri masih sulit diperoleh secara pasien serta menerapkan solusi-solusi untuk
lengkap dan akurat, tetapi dapat diasumsikan mencegah cedera (KKP-RS 2007). Budaya
tidaklah kecil (KKP-RS, 2007). keselamatan dibangun oleh berbagai faktor
Keselamatan pasien (patient safety) (dimensi), menurut NHS (2010) dimensi
merupakan sistem rumah sakit yang membuat budaya keselamatan adalah kepemimpinan,
asuhan pasien lebih aman, mencegah kerja tim, komunikasi, beban kerja dan sistem
terjadinya cedera yang disebabkan oleh keamanan.
kesalahan tindakan atau tidak mengambil Rumah Sakit Pemerintah Kabupaten
tindakan yang seharusnya dilakukan. Kuningan merupakan rumah sakit pemerintah
European Society (2006) dalam report for tipe B, yang dijadikan sebagai pusat pelayanan
Methodes and Measures Working Group kesehatan masyarakat Kuningan, Ciamis dan
of WHO patient safety (2009), menyatakan Majalengka, dengan rata-rata BOR 90-95%
budaya keselamatan pasien merupakan untuk setiap ruangannya. Selain itu RS ini juga
integrasi pola individu dan perilaku organisasi dijadikan sebagai lahan praktek mahasiswa
didasari oleh keyakinan dan nilai-nilai untuk kesehatan sewilayah III Cirebon dengan
meminimalkan kondisi yang membahayakan jumlah praktikan dalam satu shift di satu
pasien secara terus menerus. ruangan rata-rata 6 – 10 orang, tentunya dengan
Colla et al, (2005) mengungkapkan bahwa jumlah pasien dan praktikan yang begitu
tujuan dari budaya keselamatan kerja adalah banyak dengan latar belakang institusi yang
; (1) menghasilkan norma-norma perilaku,(2) beragam tidak menutup kemungkinan untuk
mengurangi kecelakaan dan cedera, (3) terjadinya kejadian yang tidak diharapkan
memastikan bahwa isu tentang keselamatan atau kejadian nyaris cedera, hal ini dibuktikan
pasien menjadi perhatian seluruh anggota dengan terjadinya beberapa kesalahan dalam
organisasi, (4) meningkatkan kemampuan pemberian obat dan tindakan prosedur invasif
anggota organisasi untuk saling berbagi ide- yang dilakukan oleh mahasiswa pada masa
ide dan keyakinan tentang risiko, kecelakan praktik klinik mahasiswa periode bulan
dan kondisi perburukan kesehatan, (5) Oktober – Desember 2013. Hal tersebut terjadi
meningkatkan komitmen masyarakat tentang karena kurangnya pengawasan dan koordinasi
keselamatan, (6) menentukan gaya dan antara perawat dan clinical instructur dengan
kemampuan merancang program kesehatan mahasiswa. Kejadian nyaris cedera atau
dan keselamatan organisasi. Colla et al (2005) kejadian yang tidak diharapkan yang pernah
menyatakan organisasi dengan budaya positif terjadi berdasarkan hasil observasi peneliti
dikarakteristikan dengan adanya komunikasi dalah terjadinya sepsis pada beberapa pasien
yang saling percaya, saling berbagi persepsi post operasi, pasien jatuh di kamar mandi,
tentang pentingnya keselamatan dan adanya kelemahan motorik ekstremitas bawah pasca
keyakinan terhadap kemampuan melakukan operasi dengan anestesi lumbal, kegagalan
tindakan pencegahan. pasein dan keluarga dalam mengambil
Budaya keselamatan merupakan kunci keputusan akibat kurangnya informasi dari
untuk mendukung tercapainya peningkatan tim pemberi pelayanan kesehatan. Hal lain
keselamatan dan kesehatan kerja dalam yang berisiko mengancam keselamatan

180 Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016


Lia Mulyati : Faktor Determinan yang Memengaruhi Budaya Keselamatan Pasien di RS

pasien adalah kurangnya fasilitas pendukung satu petugas kesehatan di RS, kejadian yang
pelaksanaan asuhan keperawatan seperti tidak diharapkan sendiri tidak pernah ada
alat ganti balutan sehingga satu set balutan pelaporan secara aktual, dan hanya menjadi
digunakan untuk beberapa pasien, tidak ada bahan perbincangan dikalangan petugas
ruang khusus penyimpanan obat sehingga kesehatan di tempat kejadian. Berdasarkan
penyimpanan dan persiapan pemberian obat hasil rekapitulasi angket yang diisi oleh pasien
dilakukan di nurse station, bercampur dengan dan keluarga pasien rata-rata tingkat kepuasan
buku rekam medik pasien dan peralatan pasien di ruang rawat inap berada pada rentang
lainnya. 65–70% dan hal tersebut masih kurang dari
Hal paling mendasar di rasakan dapat yang ditargetkan oleh pihak manajemen.
mempengaruhi keselamatan pasien yang Kondisi tersebut membuat penulis
diungkapkan oleh kepala ruangan bedah kelas tertarik untuk melakukan survei tentang
3 adalah beban kerja perawat yang berlebihan, budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit
untuk dinas pagi perawat yang berdinas hanya Pemerintah Kabupaten Kuningan. Hasil
3 orang ditambah kepala ruangan sedangkan penelitian ini dapat digunakan oleh rumah
untuk dinas sore dan malam hanya 2 orang sakit sebagai acuan untuk menyusun strategi
dengan jumlah rata-rata pasien 30 orang. dalam upaya meningkatkan kualitas asuhan
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah dan meningkatkan keselamatan pasien.
Diagram Alur Penelitian
ASPEK YANG DITELITI TARGET LUARAN YANG DICAPAI

Persepsi manajer tentang budaya keselamatan, - Teridentifikasinya faktor-faktor yang


kondisi kerja meliputi team work dan komunikasi, mempengaruhi budaya keselamatan pasien
Lingkungan Kerja mengenai fasilitas serta stress - Tersusunnya strategi untuk meningkatkan
kerja dan kepuasan kerja perawat budaya keselamatan
- Terbentuknya ruangan model untuk
keselamatan kerja
Melakukan:
Diperoleh hasil kajian tentang resiko kecelakaan;
• Asesmen resiko, Insiden Investigasi,
membangun kesadaran akan nilai keselamatan
Identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan
pasien; adanya dukungan Pimpin dan dukung staf;
dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis mengintegrasikan aktivitas pengelolaan resiko;
insiden, pengukuran tingkat stress dan kepuasan mengembangkan sistem pelaporan; diperoleh
kerja kemampuan belajar dari insiden dan tindak
lanjutnya serta implementasi solusi untuk
meminimalkan timbulnya resiko.

Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah:

Tersusunnya pengkajian dan perencanaan budaya keselamatan melalui :


- Observasi keselamatan / assessmen resiko
- Instruksi keselamatan tindakan
- kontrol bahan/benda berbahaya
- informasi keselamatan pengunjung
- Kajian tingkat stress dan kepuasan kerja

Penelitian lanjutan :
Pengembangan model keselamatan kerja di ruang perawatan
- Terbentuknya ruangan model untuk keselamatan kerja

Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016 181


Lia Mulyati : Faktor Determinan yang Memengaruhi Budaya Keselamatan Pasien di RS

Metode Penelitian dan 61, 4% menyatakan stres, 67% responden


menyatakan kondisi kerjanya kurang baik,
Penelitian ini merupakan penelitian survei namun sebagian besar 84,1% responden
analitik dengan desain penelitian cross menyatakan puas terhadap pekerjaan yang
sectional. Sampel dalam penelitian ini dijalaninya saat ini. Sebagian besar 65,9%
sebanyak 88 perawat RS Pemerintah responden menyatakan budaya keselamatan
Kabupaten Kuningan. Instrumen penelitian kerja di Rumah Sakit Pemerintah Kabupaten
menggunakan quesioner yang diadopsi dari Kuningan kurang baik (tabel 1).
Safety Attitudes Questionnary (SAQ) yang Dari 45 responden menunjukan bahwa tim
dikembangkan oleh Sexton et al., (2006), yang kerja yang mendukung sebagian besar 57,8%
terdiri dari 6 dimensi yaitu; iklim tim kerja memiliki budaya keselamatan pasien yang
(teamwork climate), iklim keselamatan (safety baik sementara 43 responden yang merasa tim
climate), persepsi manajemen, kepuasan kerjanya kurang mendukung 90,7% memiliki
kerja, kondisi kerja, dan stres. Analisis data budaya keselamatan pasien yang kurang baik.
menggunakan Chi-Square untuk bivariat dan Berdasarkan hasil analisis didapatkan nilai p
Regresi Logistik Ganda untuk multivariat. 0.0005 dan nilai odd rasio 13,34 pada CI 95%
(4,1 – 43,72).
Dari 51 responden yang memiliki persepsi
Hasil Penelitian yang baik terhadap manajemen 54,9% (28
orang) memiliki budaya keselamatan pasien
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa yang baik dan 45,1% memiliki budaya
sebagian besar 51,1% responden menyatakan keselamatan pasien yang kurang baik sementara
bahwa tim kerja mendukung terhadap budaya dari 37 responden yang memiliki persepsi
keselamatan pasien, sementara 58% memiliki yang kurang baik terhadap manajemen 94,6%
persepsi yang baik terhadap manajemen RS memiliki budaya keselamatan pasien kurang
Tabel 1 GambaranTim Kerja, Persepsi Perawat terhadap Manajemen, Stres Kerja, Kondisi
Kerja, Kepuasan Kerja dan Budaya Keselamatan Pasien
Variabel Frekuensi Persentase
Tim Kerja
Mendukung 45 51.1
Kurang Mendukung 43 48.9
Persepsi Perawat Terhadap Manajemen
Baik 51 58
Kurang Baik 37 42
Stress
Stress 54 61.4
Tidak Stress 34 38.6
Kondisi Kerja
Baik 29 33
Kurang Baik 59 67
Kepuasan Kerja
Puas 74 84.1
Kurang Puas 14 15.9
Budaya Keselamatan Pasien
Baik 30 34.1
Kurang Baik 58 65.9

182 Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016


Lia Mulyati : Faktor Determinan yang Memengaruhi Budaya Keselamatan Pasien di RS

Tabel 2 Distribusi Responden Berdasarkan Tim Kerja, Persepsi terhadap Manajemen, Stres
Kerja, Kondisi Kerja dan Kepuasan Kerja terhadap Budaya Keselamatan Pasien
Variabel Budaya Keselamatan Pasien Total OR P Value
Baik Kurang (95% CI)
n % n % n %
Tim Kerja
Mendukung 26 57.8 19 42.2 45 100 13.34 0.0005*
Kurang Mendukung 4 9.3 39 90.7 43 100 (4.1 – 43.72)

Persepsi Terhadap Manajemen


Baik 28 54.9 23 45.1 51 100 21.3 0.0005*
Kurang Baik 2 5.4 35 94.6 37 100 (4.6 – 98.19)

Stres
Tidak Stres 18 52.9 16 47.1 34 100 3.94 0.006*
Stres 12 22.2 42 77.8 54 100 (1.55 – 9.98)

Kondisi Kerja
Baik 8 27.8 21 72.4 29 100 0.641 0.507*
Kurang Baik 22 37.3 37 62.7 59 100 (0.24 – 1.69)

Kepuasan Kerja
Puas 30 40.5 44 59.5 74 100 0.002*
Kurang Puas 0 0 14 0 14 100

Tabel 3 Hasil Analisis Pemodelan Multivariate Regresi Logistik Ganda ; Tim Kerja, Persepsi
terhadap Manajemen, dan Stres Kerja
Variabel B P-Wald P-Value OR CI 95%
Tim Kerja 2.235 10.542 0.001 9.346 2.43 – 36.02
Persepsi terhadap menajemen 2.983 12.302 0.000 19.742 3.73 – 104.5
Stres kerja 1.615 5.309 0.021 5.026 1.27 – 19.85
Konstanta -4.752

Tabel 4 Hasil Uji Interaksi; Tim Kerja dengan Stres Kerja, Persepsi terhadap Manajemen dengan
Stres Kerja, Persepsi terhadap Manajemen dengan Tim Kerja, Kondisi Kerja dengan
Kepuasan Kerja, Kondisi Kerja dengan Tim Kerja, Stres Kerja dengan Kepuasan Kerja
Interaksi Variabel P -Value
Tim kerja dengan kepuasan kerja 0.093
Tim kerja dengan stress kerja 0.0005*
Persepsi terhadap manajemen dengan stress kerja 0.0005*
Persepsi terhadap manajemen dengan tim kerja 0.0005*
Kondisi kerja dengan kepuasan kerja 0.219
Kondisi kerja dengan tim kerja 0.872
Stress kerja dengan kepuasan kerja 0.093
* Signifikan terhadap alpha 0.005

Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016 183


Lia Mulyati : Faktor Determinan yang Memengaruhi Budaya Keselamatan Pasien di RS

baik dan hanya 5.4% (2 orang) memiliki stres kerja, dan persepsi terhadap manajemen
budaya keselamatan pasien yang baik, hasil dengan tim kerja.
analisis selanjutnya didapatkan nilai p 0.0005 Berdasarkan analisis multivariate dengan
dengan odd rasio 21.3 CI 95% (4.6 – 98.19). menggunakan regresi logistik ganda, maka di
Dari 54 responden yang merasakan dapatkan persamaan sebagai berikut :
adanya stres kerja sebagian besar 77.8% (54 y = konstanta + a1x1 + a2x2+………..aixi
orang) memiliki budaya keselamatan pasien y = -4.752 + 2.235(tim kerja) + 2.983 (persepsi
yang kurang baik dan hanya 22.2% yang terhadap manajemen) + 1.615 (stres kerja)
memiliki budaya keselamatan pasien yang Persamaan ini dapat diaplikasikan untuk
baik. Sementara dari 34 responden yang tidak memprediksi probabilitas budaya keselamatan
merasakan stres kerja 52.9% memiliki budaya pasien dengan menggunakan rumus:
keselamatan kerja yang baik dan 47.1% (16
orang) memiliki budaya keselamatan pasien p = 1/(1+e-y)
yang kurang baik, dan hasil analisis lanjutan
didapatkan nilai p 0.006 dengan odd rasio Di mana:
3.94 CI 95% (1.55 -9.98). p = probabilitas untuk terjadinya suatu
Dari 59 responden yang merasakan kondisi kejadian
kerja kurang baik sebagian besar 62.7% e = bilangan natural = 2.7
memiliki budaya keselamatan pasien yang y = konstanta + a1x1 + a2x2+………..aixi
kurang baik dan hanya 37.3% memiliki budaya a = nilai koofisien tiap variabel
keselamatan pasien yang baik, sementara x = nilai variabel bebas
dari 29 responden 72.4% memiliki budaya Berdasarkan hasil test Hosmer dan
keselamatan pasien yang kurang baik dan Lameshow didapatkan p-value 0.955 > dari
hanya 27.8% memiliki budaya keselamatan alpha 0.05 artinya persamaan yang diperoleh
pasien yang baik. Berdasarkan analisis mempunyai kalibrasi yang baik dengan AUC
lanjutan di dapatkan nilai p 0.507 dengan odd (area under curve) 91.1 % artinya persamaan
rasio 0.641CI 95% (0.24 – 1.69). ini memiliki kemampuan diskriminasi yang
Dari 74 responden yang memiliki kepuasan sangat kuat/ sangat memuaskan.
kerja yang baik 59.5% memiliki budaya
keselamatan pasien yang kurang baik dan
hanya 40.5% memiliki budaya keselamatan Pembahasan
pasien yang baik dan dari 14 responden yang
memiliki kepuasan kerja yang baik , seluruhnya Hasil penelitian ditemukan sebagian besar
100% memiliki budaya keselamatan kerja 65.9% (58 orang) perawat memiliki budaya
yang kurang baik dan dari hasil analisis keselamatan pasien yang kurang baik. Data
lanjutan di temukan nilai p 0.002 (tabel 2). tersebut menunjukan bahwa kemungkinan
Hasil analisis multivariat yang menjadi terjadi kesalahan atau kejadian yang tidak
faktor determinan yang mempengaruhi budaya diharapkan pada pasien yang di rawat di
keselamatan pasien adalah tim kerja dengan Rumah Sakit Pemerintah Kuningan masih
nilai p 0.001, setelah dikontrol oleh persepsi tinggi.
terhadap manajemen dan stres kerja, persepsi Kejadian yang tidak diharapkan atau
terhadap manajemen dengan nilai p 0.000 kejadian nyaris cedera bukan hanya saja
setelah dikontrol tim kerja dan stres kerja kesalahan dari faktor manusianya/kelalaian
dan stres kerja dengan nilai p 0.021 setelah petugas pemberi pelayanan namun terdapat
dikontrol tim kerja dan persepsi terhadap faktor lain yang memberikan kontribusi
manejemen, dan yang menjadi factor penentu sehingga terjadi kejadian yang merugikan
adalah persepsi terhadap manajemen dengan pasien, seperti yang di kemukakan oleh Reason.
nilai p 0.000 dengan odd rasio 19.742 (tabel J.T dalam (Reason J.T et al., 2008) tentang
3). Swiss Chees Model yang menggambarkan
Berdasarkan tabel 4 di atas dapat diketahui proses terjadinya kecelakaan melalui ilustrasi
bahwa terdapat tiga variabel yang signifikan potongan-potongan keju Swiss. Terdapat
berinteraksi yaitu tim kerja dengan stres empat lapisan yang menyusun terjadinya suatu
kerja, persepsi terhadap manajemen dengan kejadian kecelakaan, yaitu: organizational

184 Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016


Lia Mulyati : Faktor Determinan yang Memengaruhi Budaya Keselamatan Pasien di RS

influences (pengaruh pengorganisasian dan dan sistem umpan balik). Berdasarkan


kebijakan manajemen dalam terjadinya hal tersebut untuk menciptakan budaya
kecelakaan, unsafe supervision (pengawasan keselamatan pasien maka seluruh lapisan
yang tidak baik), precondition for unsafe mulai dari komitmen pimpinan sampai
act (kondisi yang mendukung munculnya karyawan harus dibenahi. Studi penelitian
aktivitas yang tidak aman). telah menunjukan bahwa kepemimpinan yang
Gaya kepemimpinan demokratik baik mempunyai hubungan yang signifikan
merupakan gaya kepemimpinan yang di dengan perilaku keamanan kerja yang lebih
gunakan oleh pimpinan rumah sakit pemerintah baik dan menurunkan angka kecelakaan
Kabupaten Kuningan dan memiliki struktuk serta meningkatkan kepatuhan terhadap
organisasi dengan garis komunikasi yang keselamatan (Katz-Navon et al., 2005). Sebuah
jelas, sehingga tidak ada kesulitan dalam penelitian lain di Inggris mengungkapkan
mengkomunikasikan permasalahan khususnya bahwa persepsi staf tentang efektivitas
isu-isu tentang keselamatan pasien, namun kepemimpinan manajer senior memiliki
masih di rasakan adanya budaya shaming and hubungan dengan menurunnya keluhan pasien
blaming sehingga ada kekhawatiran dalam dan meningkatnya kepemimpinan klinik
pelaporan kejadian yang tidak diharapkan (Shipton et al, 2008).
dan kejadian nyaris cedera, sehingga jika hal Berdasarkan hasil penelitian ditemukan
tersebut terjadi hanya menjadi perbincangan fakta bahwa tim kerja yang mendukung
atau diatasi pada level manajerial dimana sebagian besar (57.8%) memiliki budaya
kejadian terjadi, hanya kejadian-kejadian keselamatan pasien yang baik sementara
tertentu yang dilakukan pelaporan namun responden yang merasa tim kerjanya kurang
tidak pernah ada umpan balik. Manajemen mendukung (90.7%) memiliki budaya
rumah sakit sudah memiliki komitmen dalam keselamatan pasien yang kurang baik.
meningkatkan budaya keselamatan pasien Berdasarkan hasil analisis bivariat tim kerja
namun belum tersosialisasi secara menyeluruh memiliki hubungan yang signifikan dengan
ke setiap karyawan. budaya keselamatan pasien (p-value 0.0005)
Hal yang paling dirasakan mempengaruhi dan nilai odd rasio 13.34 artinya tim kerja yang
keselamatan pasien adalah precondition mendukung berpeluang sebesar 13 kali lebih
for unsafe act (kondisi yang mendukung besar dalam terciptanya budaya keselamatan
munculnya aktivitas yang tidak aman), pasien.
dimana ditemukan keterbatasan peralatan Di Rumah Sakit Pemerintah Daerah
yang dibutuhkan dalam melakukan asuhan Kuningan 51.13% merasakan memiliki tim
keperawatana, beban kerja perawat yang kerja yang mendukung, hal tersebut ditunjang
cukup tinggi serta metode asuhan yang oleh factor homogenitas budaya yang
digunakan masih bersifat fungsional sehingga sebagian besar berasal dari suku sunda dan
kontroling pelaksanaan asuhan tertumpu pada dan jenjang pendidikan dengan 82% perawat
kepala ruangan. Kondisi tersebut sangat erat telah mengikuti program pendidikan sarjana
kaitannya dengan kebijakan yang diambil keperawatan, hal ini dapat meminimalisir stres
pihak manajemen. budaya akibat perbedaan nilai dan norma,
Menurut Ardern & Jane (2012), budaya serta pola berfikir perawat dalam pencapaian
keselamatan pasien dipengaruhi oleh 3 tujuan asuhan keperawatan akan memiliki
faktor utama yaitu; 1) Sikap dan perilaku kesepahaman, sehingga dapat meminimalkan
(senior management, middle management, friksi yang dapat menimbulkan gangguan
supervisor, karyawan, keselamatan dan pada atmosfer kerja tim.
kesehatan yang representatif serta komitmen Di Rumah Sakit Pemerintah Daerah
anggota komite), 2) lingkungan; (tipe Kuningan perbedaan profesi dalam satu tim
organisasi, finansial, jenis pekerjaan yang tidak terlalu banyak hanya profesi perawat,
dilakukan, desain pekerjaan, kecepatan kerja, dokter dan gizi dengan jumlah tim yang
pelatihan yang tersedia, garis komunikasi, 3) sedikit, serta persepsi mengenai konsep
sistem; (proses pelaporan kejadian/insiden kerja sama dalam tim di masing-masing
yang mengancam keselamatan pasien, profesi masih sama, yaitu saling memenuhi
proses audit, proses inventigasi, komunikasi kebutuhan atau saling melengkapi dalam

Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016 185


Lia Mulyati : Faktor Determinan yang Memengaruhi Budaya Keselamatan Pasien di RS

pemberian asuhan pada pasien. Aktivitas penelitian ini menunjukan bahwa tim kerja
kolaborasi antar profesi masih belum tampak berperan penting dalam mencegah dan
dilakukan karena masing-masing profesi menyebabkan kejadian yang tidak diharapkan;
masih berorientasi pada tugas atau peran dan 2) penelitian tentang persepsi pemberi
fungsinya bukan asuhan yang berfokus pada pelayanan kesehatan terhadap tim kerja; (a)
pasien, sementara menurut Baerg Krista, et persepsi tim kerja dan perilaku keselamatan
al. (2012), pelayanan yang berpusat pada pasien yang relevan dengan perilaku tim
pasien (Patient-Centered Care) merupakan memiliki hubungan dengan kualitas perawatan
pelayanan yang diunggulkan untuk menjawab dan keselamatan pasien, (b) persepsi tim kerja
isu-isu perkembangan penyakit kronis, oleh dan gaya kepemimpinan yang dihubungkan
karena itu kemampuan bekerja sama dalam dengan kepuasan staff yang berdampak
tim, komunikasi dan saling memahami tugas pada peningkatan kemampuan klinik dalam
dan tanggung jawab antar profesi merupakan penyediaan pelayanan pasien yang aman;
hal yang penting dimiliki oleh seluruh anggota 3) studi observasi perilaku tim kerja dengan
tim pemberi pelayanan kesehatan. penampilan klinik yang baik.
Tim kerja yang baik juga sangat didukung Berdasarkan pemodelan regresi logistik
oleh pola komunikasi yang efektif, kesamaan ditemukan bahwa tim kerja merupakan faktor
persepsi terhadap tujuan tim, serta kesamaan determinan budaya keselamatan pasien setelah
norma dan nilai-nilai yang di anut organisasi. dikontrol oleh persepsi terhadap manajemen
Dalam dunia kesehatan, tim kerja dan kerja dan stres kerja dengan odd rasio 9.346 yang
sama tim bergantung pada seberapa banyak menunjukan bahwa individu yang memiliki
perbedaan profesi dalam pengaturan kerja. dukungan yang baik dari tim kerja memiliki
Menurut Flin et al, (2006), terdapat 3 faktor peluang sebesar 9.346 kali lebih besar untuk
utama yang mempengaruhi tim kerja yaitu; memiliki budaya keselamatan pasien yang
1) pemimpin/ketua tim (pengetahuan, baik.
keterampilan, sikap, gaya kepemimpinan dan Tim kerja merupakan hal yang fundamental
personality), 2) anggota tim (pengetahuan, dalam peningkatan kualitas asuhan dan budaya
keterampilan, sikap personality), 3) struktur keselamatan pasien karena tim kerja yang
tim (jumlah/ukuran tim, norma-norma yang akan memberikan warna terhadap atmosfer
berlaku, status, dan keterpaduan). Ketiga kerja, oleh karena itu pimpinan atau pihak
faktor tersebut akan menciptakan dinamika manajemen RS perlu memastikan efektifitas
kerja yang kondusif atau tidak kondusif dan kondusivitas tim kerja. Selain itu untuk
yang merupakan hasil keterbangunan menciptakan budaya keselamatan kerja maka
dari komunikasi, koordinasi, kerja sama, harus ada upaya yang sinergi antara pimpinan,
managemen konflik dan pengambilan ketua tim dan anggota tim yang berinteraksi
keputusan dalam tim. langsung dengan pasien.
Menurut Baker et al., (2003), tim kerja yang Manajemen rumah sakit memiliki pengaruh
buruk dapat menyebabkan kematian atau pada yang cukup besar dalam peningkatan kinerja
umumnya membahayakan pasien, sementara karyawan, khususnya perawat. Berdasarkan
tim kerja yang baik dapat meningkatkan hasil penelitian ditemukan bahwa sebagian
perawatan. Beberapa hasil penelitian lain besar 58% perawat memiliki persepsi yang
tentang perawatan menunjukan bahwa baik terhadap pihak manajemen. Persepsi yang
tim kerja, komunikasi dan kepemimpinan baik dari karyawan terhadap pihak manajemen
merupakan hal yang penting dalam menjaga dapat terbangun dari hasil interaksi positif
keselamatan pasien (Scott-Cawiezel & yang terjadi antara karyawan dengan pihak
Vogelsmeier, 2006). manajemen baik top level manager maupun
Manser (2008), mengungkapkan beberapa middle level manager, selain itu persepsi yang
temuan berdasarkan literature review; terdapat baik juga dapat terbentuk dari kesesuaian
tiga penelitian yang mendukung hubungan antara tuntutan pihak manajemen dengan
antara tim kerja dengan keselamatan pasien harapan karyawan.
adalah; 1) penelitian yang menginvestigasi Berdasarkan hasil penelitian ditemukan
faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terdapat hubungan antara persepsi terhadap
insiden/ kejadian yang tidak diharapkan, manajemen dengan budaya keselamatan

186 Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016


Lia Mulyati : Faktor Determinan yang Memengaruhi Budaya Keselamatan Pasien di RS

pasien dengan nilai p 0.0005. Dalam harus bersinergi dengan karyawan di


membangun budaya keselamatan pasien berbagai lapisan, oleh karena itu model
diperlukan komitmen bersama dalam kepemimpinan yang paling sesuai adalah
melakukan asuhan kepada pasien bebas model kepemimpinan transformasional.
dari injuri/kejadian yang tidak diharapkan Kepemimpinan transformasional adalah
dan tertuang dalam visi dan misi organisasi, sebuah peroses dimana pimpinan dan para
sehingga upaya-upaya dalam meningkatkan bawahannya berusaha untuk mencapai tingkat
atau menciptakan budaya keselamatan pasien moralitas dan motivasi yang lebih tinggi, hal
terintegrasi di setiap aspek proses kerja. Kanz- ini berbeda dengan model kepemimpinan
Navon et al., (2005), menemukan fakta bahwa transaksional untuk memotivasi agar bawahan
ketika budaya keselamatan menjadi prioritas melakukan tanggungjawab mereka, para
top level manager, unit-unit pelayanan rumah pemimpin transaksional sangat mengandalkan
sakit mengalami lebih sedikit kesalahan pada sistem pemberian penghargaan dan
dalam pelaksanaan asuhan. Shipton et al., hukuman kepada bawahannya (Givens J.R.
(2008) dalam penelitiannya menunjukan 2008).
adanya relevansi antara persepsi staff terhadap Penerapan model kepemimpinan
efektivitas kepemimpinan manager yang transformasional memiliki dampak baik pada
dikaitkan dengan menurunnya angka keluhan tingkat organisasi maupun tingkat individu.
pasien dan tingkat penguasaan klinik yang Menurut Bass et al., (2003), kepemimpinan
lebih baik. transformasional memiliki 4 dimensi yaitu;
Proses untuk embangun persepsi yang baik 1) idealized influence (pengaruh ideal), 2)
para pimpinan/manajer harus menunjukan inspirational motivation (motivasi inspirasi),
komitmen mereka tentang keselamatan 3) intellectual stimulation (stimulasi
pasien, dengan kata lain para pimpinan harus intelektual). 4) individualized consideration
menjadi role model, setiap perilakunya harus (konsiderasi individu), dengan kata lain
menunjukan upaya keselamatan pasien. Selain pemimpin transformasional harus dapat
itu salah satu faktor dalam menciptakan budaya dijadikan panutan (dikagumi, dihormati dan
keselamatan pasien adalah pelaporan kejadian dipercaya), mampu menggugah spirit tim
insiden/kondisi yang tidak diharapkan serta dalam organisasi, mampu menumbuhkan
adanya system umpan balik, kondisi ini belum ide-ide baru, memberikan solusi yang
membudaya di instansi-instansi pelayanan kreatif terhadap permasalahan-permasalahan
kesehatan karena ada faktor ketakutan atau yang dihadapi bawahan, dan memberikan
kekhawatiran atau bahkan menganggap motivasi kepada bawahan untuk mencari
insiden merupakan aib petugas kesehatan yang pendekatan-pendekatan yang baru dalam
harus ditutupi. Budaya belajar dari kesalahan melaksanakan tugas-tugas organisasi,
dan tidak melakukan pelebelan/blaming serta mau mendengarkan dengan penuh
terhadap petugas yang melakukan kesalahan perhatian masukan-masukan bawahan
harus ditunjukan oleh pimpinan. dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan
Berdasarkan pemodelan regresi logistik bawahan akan pengembangan karir.
pesepsi terhadap manajemen merupakan Hasil penelitian menemukan fakta bahwa
factor determinan dan merupakan factor yang 61,4% mengalami stres kerja dan sebagian
paling dominan setelah dikontrol oleh tim besar 77.8% memiliki budaya keselamatan
kerja dan stres kerja mempengaruhi budaya pasien yang kurang baik dan hanya 22.2%
keselamatan pasien dengan odd rasio 19.742 yang memiliki budaya keselamatan pasien
artinya individu yang memiliki persepsi yang yang baik. Sementara responden yang tidak
baik terhadap managemen memiliki peluang merasakan stres kerja sebanyak 38.8%,
19.742 lebih besar untuk berkontribusi 52.9% memiliki budaya keselamatan kerja
terciptanya budaya keselamatan pasien. yang baik dan hanya 47.1% memiliki budaya
Berdasarkan hasil tersebut persepsi keselamatan pasien yang kurang baik.
karyawan terhadap manajemen memiliki Kekurangan tenaga baik sebagai tim
pengaruh paling besar dalam membangun pelayanan kesehatan maupun tenaga
budaya keselamatan pasien, untuk mencapai penunjang merupakan hal yang paling sering
tujuan secara optimal, manajer/pimpinan dikeluhkan oleh perawat. Tuntutan tugas

Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016 187


Lia Mulyati : Faktor Determinan yang Memengaruhi Budaya Keselamatan Pasien di RS

pelaksanaan asuhan terhadap pasien dan tugas (baik dari jumlah maupun IPM) maka tuntutan
administratif serta menangani complain pasien untuk peningkatan kualitas pelayanan yang
dan keluarga merupakan sumber kelelahan diberikan semakin tinggi, hal tersebut
kerja dan stres kerja perawat di rumah sakit dapat menjadi salah satu sumber stres dan
pemerintah Kabupaten Kuningan, oleh karena meningkatnya beban kerja pada perawat, oleh
itu diakui oleh pihak rumah sakit mahasiswa sebab itu dukungan dari pimpinan/manajemen
praktikan diberdayakan untuk melakukan rumah sakit sangat diperlukan dengan
asuhan terhadap pasien. Tumpang tindih melakukan pengaturan sumber daya manusia
antara tugas struktural maupun fungsional disetiap ruang rawat harus disesuaikan baik
juga dikeluhkan oleh sebagian besar kepala jumlah maupun kualifikasi perawat yang
ruangan. dibutuhkan, serta manajemen melakukan
Kondisi stres seseorang ditentukan oleh sistem kontrol dan umpan balik yang baik.
keseimbangan antara tutuntutan yang ditujuka Tidak hanya dukungan dari pihak manajemen
(seperti beban kerja) terhadap sumber daya yang mempengaruhi stres perawat namun
yang dimiliki individu untuk mengatasi dukungan tim kerja juga merupakan factor
tuntutan tersebut (seperti pengalaman, penting yang mempengaruhi kondisi stres
keterampilan), ketika tuntutan yang diterima perawat, hal tersebut sejalan dengan analisis
melebihi kemampuan yang dimiliki maka lanjutan pada penelitian ini yang menemukan
akan menimbulkan kondisi yang tidak adanya interaksi yang signifikan antara
menyenangkan seperti; kecemasan atau persepsi perawat terhadap manajemen dan tim
perasaan tidak sehat, kurang konsentrasi atau kerja dengan stres kerja.
perasaan mudah marah (Cooper et al, 2001). Cooper & Clarke (2003), menyatakan
Stres kerja juga dapat bersumber dari tim kerja bahwa reaksi individu terhadap stres pada
yang tidak saling mendukung serta kondisi gilirannya dapat menyebabkan gejala stres
kerja yang kurang baik. Pada penelitian ini dalam organisasi: seperti pergantian staf
ditemukan sebagian besar responden (67%) tinggi atau ketidakhadiran yang meningkat
menyatakan kondisi kerjanya kurang baik akibat sakit. Stres di tempat kerja juga sangat
dan (48.9%) merasakan tim kerja kurang berkaitan dengan keselamatan kerja: seperti
mendukung. tingkat kecelakaan. Penelitian yang dilakukan
Berdasarkan hasil penelitian stres kerja oleh Departemen kesehatan UK (2011 dalam
memiliki hubungan yang signifikan dengan Farquharson et al., 2012), menemukan fakta
budaya keselamatan keselamatan pasien bahwa 30% perawat menyatakan mengalami
dengan nilai p 0.0006 dan odd rasio 3.94, stres dalam melaksanakan pekerjaannya
dapat diinterpretasikan bahwa perawat dalam satu tahun terakhir, 34% sering berfikir
yang tidak stres memiliki peluang 3.94 kali keluar dari pekerjaannya saat ini, dan 16%
berkontribusi terciptanya budaya keselamatan akan meninggalkan pekerjaannya jika dia
pasien yang baik. Menurut Farquharson et telah menemukan pekerjaan lain.
al, (2012) stres yang dialami oleh perawat Berdasarkan uraian di atas upaya penurunan
dapat menurunkan kondisi kesehatan fisik, stres kerja perlu ditangani secara serius, hal
psikologis, mengurangi kepuasan kerja, tersebut dapat dilakukan secara internal (dengan
meningkatkan angka ketidakhadiran kerja penerapan manajemen koping yang adaptif)
karena sakit, meningkatnya turnover staf dan maupun eksternal yang berhubungan dengan
buruknya penampilan kerja. Menurut Aiken pihak manajerial yaitu dengan menyesuaikan
et al., (dalam Farquharson 2012), tingkat stres antara beban kerja dengan penyediaan sumber
dan beban kerja yang tinggi menyebabkan daya manusia, memberikan kesempatan atau
kurang optimalnya asuhan keperawatan yang memfasilitasi karyawan untuk meningkatkan
diberikan pada pasien, meningkatnya angka kemampuan baik kognitif maupun psikomotor,
pelanggaran terkait dengan keselamatan meningkatkan kuantitas dan kualitas
pasien, dan terjadinya kesalahan yang lebih peralatan yang mendukung pelayanan serta
sering (cognitive failure). meningkatkan iklim kerja yang kondusif.
Pada kondisi saat ini di era pemerintah Hasil penelitian menemukan bahwa
memberlakukan jaminan kesehatan serta sebagian besar 67% (59 orang) menyatakan
adanya perkembangan demografi masyarakat bahwa kondisi kerja mereka kurang baik,

188 Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016


Lia Mulyati : Faktor Determinan yang Memengaruhi Budaya Keselamatan Pasien di RS

dan hanya 33% (29 orang) yang menyatakan Kepuasan kerja dapat dinikmati dalam
baik. Hasil analisis bivariat ditemukan bahwa pekerjaan, luar pekerjaan, dan kombinasi
kondisi kerja tidak memiliki hubungan yang dalam dan luar pekerjaan. Kepuasan kerja
signifikan terhadap budaya keselamatan merupakan salah satu faktor yang dapat
pasien, pada penelitian ini didapatkan nilai mempengaruhi performa kerja. Pada penelitian
p 0.507 > α 0.05 dengan odd rasio 0.64. ini ditemukan kepuasan kerja memiliki
Kondisi kerja dapat diartikan sebagai kualitas hubungan dengan budaya keselamatan pasien
lingkungan kerja dan dukungan logistik seperti dengan nilai p 0.002 < α 0.05.
sumber daya, peralatan yang diperlukan
untuk operasional pelaksanaan asuhan dan
pedokumentasian serta sistem informasi Simpulan
yang diperlukan. Pada penelitian ini kondisi
kerja yang di eksplorasi adalah penyedian/ Tim kerja, persepsi terhadap pimpinan, stres
peningkatan kualitas sumberdaya manusia, dan kepuasan kerja memiliki hubungan yang
kedisiplinan perawat dan rasa tanggungjawab bermakna terhadap budaya keselamatan
dalam pelaksanan asuhan yang menjunjung pasien. Persepsi terhadap pimpinan
tinggi nilai budaya keselamatan pasien. merupakan faktor determinan terciptanya
Berdasarkan analisis jawaban yang budaya keselamatan pasien, oleh karena itu
disampaikan oleh perawat, pihak manajemen gaya kepemimpinan, teknik komunikasi serta
RS sudah cukup melakukan peningkatan kemampuan manajerial pimpinan merupakan
sumber daya manusia, kondisi ini bisa di lihat suatu hal yang sangat perlu diperhatikan dalam
dalam bentuk pengikutsertaan perawat dalam menciptakan atmosfer kerja yang kondusif
berbagai pelatihan ataupun memberikan sebagai upaya untuk terciptanya budaya
kesempatan untuk melanjutkan pendidikan keselamatan pasien.
ke jenjang yang lebih tinggi. Data lain
menunjukan perawat memiliki anggapan
bahwa supervise tentang kedisiplinan belum Daftar Pustaka
dilakukan secara rutin dan sebagian besar
perawat menilai bahwa di areanya masih Ardern & Jane. (2012). Creating a safety
banyak personil yang tidak mematuhi aturan culture. Government of Western Australia:
yang ditentukan serta keyakinan bahwa Department of Commerce, WorkSafe.
kejadian yang tidak diharapkan merupakan Available at ww.commerce.wa.gov.au/
tanggung jawab perawat dan keterlibatan Worksafe/PDF/Forums/safety_culture-Jane_.
pihak manajemen masih sangat rendah. pdf.
Berdasarkan hal tersebut dapat dianalisis
bahwa dalam upaya menciptakan budaya Baerg, K., et al. (2012). Survey of
keselamatan pasien diperlukan adanya interprofesional collaboration learning needs
strategi peningkatan kesadaran perawat and training interest in health professionals,
terhadap pentingnya penerapan asuhan pasien teachers, and students: An exploratory study.
dengan menjunjung tinggi hak-hak pasien. Journal of Researchin Interprofesional
Kondisi kerja yang kurang mendukung Practice and Education (JRIPE), 2(2), 187–
untuk pelaksanaan keselamatan pasien 200.
dapat dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas
sumberdaya manusianya dan fasilitas yang Baker, G et al. (2003). Patient Safety Leadership
tersedia untuk pelaksanan asuhan terhadap Walk Rounds . The Joint Commission Journal
pasien. on Quality and Patient Safety, 29(1), 16-26(11)
Hasil penelitian menemukan sebagian besar Bass, B., Avolio, B., Jung, D., et al. Predicting
84,1% menyatakan puas dengan pekerjaannya unit performance by assessing transformational
dan hanya 15,9% (14 orang) yang merasa and transactional leadership. Journal of
kurang puas. Kepuasan kerja merupakan sikap Applied Psychology, 88(2), 207–218.
emosional yang menyenangkan dan mencintai
pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh Colla, et al. (2005). Measuring patient safety
moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja. climate: A review of surveys. Qual Saf Health

Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016 189


Lia Mulyati : Faktor Determinan yang Memengaruhi Budaya Keselamatan Pasien di RS

Care, 14, 364–366. Komite Keselamatan Rumah Sakit (KKP-RS)


PERSI. (2007). Pedoman pelaporan insiden
Cooper. (2001). Towards a model of safety keselamatan pasien (IKP). Jakarta.
culture. Safety Science, 32(6), 111–136.
Manser, T. (2009) Teamwork and patient
Cooper, C., & Clarke, S. (2003) Managing safety in dynamic domains of healthcare. A
the risk of workplace stress: Health and safety review of the literature. Acta Anesthesiology
hazards. London: Routledge. Scandinavia, 53, 143–151.

Farquharson, B., Cheryl, B., Derek, J., et al. Reason, J. (2008). The human contribution:
(2012). Nursing stress and patient care: Real- Unsafe acts, accidents and heroic recoveries.
Time investigation of the effect of nursing
tasks and demands on psychological stress, Sexton, B.J., Helmreich, L.R., Neilands, B.T.,
physiological stress, and job satisfaction et al. (2006). The safety attitudes questionnaire:
performance: Study protocol. Jurnal of Psychometric properties, benchmarking data,
Advance Nursing. and emerging research. BMC Health Services
Research, 6, 44.
Flin, Burns, Mearns, Yule, & Robertson.
(2006). Measuring safety climate in health Shipton, H., Armstrong, C., West, M., &
care. Qual Saf Health Care, 15, 109–115. Dawson, J. (2008) The impact of leadership
and quality climate on hospital performance.
Givens, J.R. (2008), Transformational International Journal for Quality in Health
leadership: The impact on organizational and Care, 6, 439–445.
personal outcomes. Emerging Leadership
Journeys, 1(1), 4–24. Scott-Cawiezell, J., & Vogelsmeier, A. (2006).
Nursing home safety: A review of the literature.
James, J.T. (2013). A new, evidence-based Annual Review of Nursing Research, 24, 179–
estimate of patient harms associated with 215.
hospital care. Journal of Patient Safety, 9,
122–128. World Health Organization. (2009). Human
factors in patient safety review of topics
Katz-Navon, T., Naveh, E., & Stern, Z. (2005) and tools; report for methods and measures
Safety climate in healthcare organisations: working. WHO.
A multidimensional approach. Academy of
Management Journal, 48, 1075–1090.

190 Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016