Anda di halaman 1dari 47

STATUS FISIOLOGIS DAN PERFORMA PEDET PERANAKAN

FRIESIAN HOLSTEIN PRASAPIH YANG DIINOKULASI


BAKTERI PENCERNA SERAT DENGAN PAKAN
BERSUPLEMEN KOBALT

SKRIPSI

AHMAD HADZIQ

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
RINGKASAN

AHMAD HADZIQ. D24062504. 2011. Status Fisiologis dan Performa Pedet


Peranakan Friesian Holstein Prasapih yang Diinokulasi Bakteri Pencerna Serat
dengan Pakan Bersuplemen Kobalt. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan
Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama : Prof. Dr. Ir. Toto Toharmat, MAgrSc.


Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Dwierra Evvyernie Amirroenas, MS., MSc.

Masa prasapih pada pedet merupakan periode kritis dan sangat rentan
terhadap perubahan pakan maupun kondisi lingkungan. Beberapa hari setelah lahir,
pedet sangat tergantung pada nutrien asal susu karena mikroba di dalam rumen
belum berkembang dengan baik sehingga belum mampu mencerna komponen pakan
padat. Upaya percepatan peningkatan konsumsi pakan padat dan penyapihan perlu
dilakukan untuk mengurangi biaya penyapihan pedet.
Perkembangan mikroba dan saluran pencernaan pedet diharapkan dapat
dipercepat dengan cara inokulasi bakteri pencerna serat asal rumen kerbau.
Perkembangan mikroba rumen yang lebih cepat, memungkinkan mikroba rumen
menghasilkan vitamin B kompleks termasuk vitamin B12. Inokulasi bakteri pencerna
serat dan suplementasi kobalt (Co) dapat membantu sintesis vitamin B 12 oleh
mikroba dalam rumen pedet. Vitamin B12 hasil sintesis mikroba dapat diserap tubuh
dan meningkatkan sintesis butir darah merah (BDM) sehingga dapat memperbaiki
status fisiologis dan nafsu makan pedet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh inokulasi bakteri pencerna serat terhadap konsumsi nutrien, profil darah,
status fisiologis, pertambahan bobot badan (PBB), dan ukuran tubuh pada pedet yang
mendapat ransum bersuplemen kobalt.
Penelitian ini dilaksanakan bulan November 2009 sampai dengan Maret 2010
di kandang sapi perah Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Hewan
percobaan yang digunakan terdiri atas 9 ekor pedet peranakan Friesian Holstein
(PFH) periode prasapih dengan rataan bobot badan 37,33 ± 5,34 kg. Sebanyak 5
pedet mendapatkan perlakuan kontrol dan 4 pedet mendapat perlakuan inokulasi.
Kedua perlakuan dialokasikan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pedet
dalam perlakuan inokulasi, diinokulasi dengan isolat bakteri pencerna serat sebanyak
20 ml/hari. Peubah yang diamati adalah konsumsi susu dan calf starter, konsumsi
Co, kandungan Co darah, butir darah merah (BDM), hemoglobin (Hb), hematokrit
(packed cell volume/PCV), denyut jantung, laju respirasi, suhu rektal, pertambahan
bobot badan (PBB), dan ukuran tubuh. Data yang diperoleh dianalisis dengan Uji-t.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi segar, konsumsi BK, nilai
rataan profil darah dan pertambahan bobot badan pada pedet perlakuan inokulasi
lebih tinggi daripada pedet kontrol. Konsumsi BK mempengaruhi konsumsi kobalt.
Bobot badan akhir dan ukuran tubuh pedet perlakuan inokulasi lebih besar (P<0,05)
dibandingkan pedet kontrol. Nilai rataan denyut jantung, laju respirasi, dan suhu
rektal pada pedet perlakuan inokulasi lebih rendah (P<0,05) daripada pedet kontrol.
Hal ini mengindikasikan bahwa inokulasi bakteri pencerna serat berpotensi
mempengaruhi kemampuan termoregulasi pedet dalam beradaptasi dengan
lingkungan.

Kata-kata kunci: prasapih, bakteri, kobalt, konsumsi, darah, pedet, adaptasi.


ABSTRACT

Physiologal Status and Performance of Friesian Holstein Grade Pre-Weaning


Calves Inoculated with Fiber Degrading Bacteria and Offered Diet
Supplemented with Cobalt
A. Hadziq, T. Toharmat, D. E. Amirroenas
Calves are very suceptible to feed and environmental condition. Blood circulation
including red blood cell has important roles in adaptation process and
thermoregulation in calves. Red blood synthesis is affected by availability of
cobalamin. Sinthesis and availability of cobalamin depends upon the ruminal
microbes activitis. The present experiment was designed to evaluate the influence of
inoculation of fiber degrading bacteria. Nine new born Friesian Holstein grade
calves were used in the experiment. Four calves were inoculated with fiber degrading
bacteria and other 5 calves were control. Calves were offered milk and calf starter
supplemented with cobalt (Co) for four weeks. Dry matter and Co intake, body
weight, rectal temperature, heart beat, respiration rate and body size were determined
weekly, whereas blood components and Co content were determined at the end of the
experimental period. Data were analysed statistically using t-Test. Dry matter intake,
weight gain, red blood cell, hematocrite and hemoglobine of calves in control group
were lower than that of calves inoculated by fiber degrading bacteria. However, heart
beat, respiration rate and rectal temperature of the calves in the control group were
higher than that of calves inoculated fiber degrading bacteria. It was concluded that
inoculation of fiber degrading bacteria into the rumen of pre weaning calves
increased dry matter intake, weight gain and improve the adaptation capability of
calves to environmental condition.

Keywords: pre-weaning, bacteria, cobalt, intake, blood, calves, adaptation


STATUS FISIOLOGIS DAN PERFORMA PEDET PERANAKAN
FRIESIAN HOLSTEIN PRASAPIH YANG DIINOKULASI
BAKTERI PENCERNA SERAT DENGAN PAKAN
BERSUPLEMEN KOBALT

AHMAD HADZIQ
D24062504

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk


memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
Judul : Status Fisiologis dan Performa Pedet Peranakan Friesian Holstein
Prasapih yang Diinokulasi Bakteri Pencerna Serat dengan Pakan
Bersuplement Kobalt
Nama : Ahmad Hadziq
NIM : D24062504

Menyetujui,

Pembimbing Utama, Pembimbing Anggota,

(Prof.Dr.Ir. Toto Toharmat, MAgrSc.) (Dr.Ir. Dwierra Evvyernie A., MS.,MSc.)


NIP. 19590902 198303 1 003 NIP. 19610602 198603 2 001

Mengetahui:
Ketua Departemen
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan

(Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr.)


NIP: 19670506 199103 1 001

Tanggal ujian : 30 November 2010 Tanggal Lulus : 5 Januari 2011


RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, pada tanggal 02 September 1988.


Penulis merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara, terlahir dari pasangan Bapak A.
H. Hidayat dan Ibu Sri Hayati.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas di
Cirebon. Penulis memulai pendidikan di bangku taman kanak-kanak pada tahun 1992
di TK Sabilul Khairat Cirebon. Setelah penulis menyelesaikan pendidikan di bangku
TK, penulis melanjutkan sekolah di SDI Al Azhar Cirebon dan penulis berhasil
menyelesaikannya pada tahun 2000. Kemudian penulis menyelesaikan sekolah
menengah pertama di SLTPN 4 Cirebon pada tahun 2003 dan menyelesaikan sekolah
menengah atas di SMA Muhammadiyah 1 Cirebon pada tahun 2006. Penulis
diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor pada tahun 2006 melalui
program USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) dan diterima di Departemen Ilmu
Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan pada tahun 2007.
Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam IKC IPB sebagai kadiv
kerohanian periode 2007-2008, anggota IKC IPB tahun 2006-sekarang, dan
HIMASITER (Himpunan Mahasiswa Nutrisi Ternak) periode 2008-2009 sebagai
anggota Biro Khusus Kewirausahaan (BKK). Penulis pernah mengikuti program
magang di Tri’s Ranch-Tapos, Ciawi, Bogor.
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’aalamin.
Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala
nikmat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan
penulisan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi
Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya hingga akhir
zaman.
Skripsi berjudul “Status Fisiologis dan Performa Pedet Peranakan Friesian
Holstein Prasapih yang Diinokulasi Bakteri Pencerna Serat dengan Pakan
Bersuplemen Kobalt” ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini ditulis
berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis mulai bulan November 2009
sampai Maret 2010 di kandang sapi perah dan Laboratorium Nutrisi Ternak Perah,
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB).
Penyusunan skripsi ini merupakan wujud peran aktif dan kontribusi dalam
industri dan dunia peternakan. Semoga skripsi ini bermanfaat dalam dunia
pendidikan dan peternakan serta menjadi catatan amal shaleh. Amiin.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
membantu penyusunan skripsi ini, hanya Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang
yang akan membalasnya.

Bogor, Januari 2011

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
RINGKASAN ................................................................................................ i
ii
ABSTRACT ................................................................................................... ii1
LEMBAR PERNYATAAN ........................................................................... iii
1
LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... iv2
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................ v3
KATA PENGANTAR ................................................................................... vi3
DAFTAR ISI .................................................................................................. vii
3
DAFTAR TABEL .......................................................................................... ix5
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... x5
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xi5
PENDAHULUAN ......................................................................................... 15
Latar Belakang .................................................................................... 16
Tujuan ................................................................................................ 15
TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................ 24
Pedet Sapi Friesian Holstein .............................................................. 23
Perkembangan Saluran Pencernaan dan Penyapihan Pedet ............... 24
Kondisi Fisiologis Pedet dan Lingkungan ......................................... 35
Pertumbuhan dan Ukuran Tubuh Ternak ........................................... 47
Darah dan Komponennya ................................................................... 48
Probiotik dan Fungsinya .................................................................... 58
Pakan dan Kebutuhan Nutrien ........................................................... 68
Faktor Lingkungan dan Konsumsi Pakan ........................................... 78
Suplementasi Mineral ......................................................................... 88
Mineral Kobalt (Co) ........................................................................... 88
Cobalamin (B12) .................................................................................. 98
MATERI DAN METODE ............................................................................... 10
13
Lokasi dan Waktu .............................................................................. 11
10
Materi ................................................................................................. 11
10
Alat ........................................................................................... 10
Bahan ....................................................................................... 10
Ternak Percobaan ..................................................................... 11
Metode ............................................................................................... 11
Perlakuan .................................................................................. 11
Pembuatan Ransum dan Pemeliharaan Ternak ........................ 11
Penyiapan Probiotik ................................................................. 12
Pengukuran Suhu dan Kelembaban Lingkungan ..................... 13
Pengambilan Sampel Darah ..................................................... 13
Peubah yang Diamati ......................................................................... 13
Konsumsi Calf Starter ............................................................. 14
Analisa Kandungan Kobalt dalam Pakan dan Darah ............... 14
a. Pengabuan Basah (Wet Ashing) ................................ 14
b. Pengukuran Mineral ................................................. 12
14
Profil Darah .............................................................................. 14
15
Denyut Jantung, Laju Respirasi, dan Suhu Rektal ................... 14
15
Pertambahan Bobot Badan ....................................................... 14
15
Suhu dan Kelembaban Lingkungan ......................................... 14
15
Ukuran Tubuh .......................................................................... 14
16
Analisis Data ...................................................................................... 16
15
HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................ 17
15
Konsumsi Susu dan Calf Starter ........................................................ 16
17
Konsumsi Co Pakan dan Kandungan Co Darah ................................. 24
18
Profil Darah Pedet Percobaan ............................................................ 28
19
Denyut Jantung, Respirasi, dan Suhu Rektal ..................................... 30
20
Pertambahan Bobot Badan (PBB) Pedet ............................................ 37
24
Ukuran Tubuh Pedet .......................................................................... 25
28
KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................................... 46
Kesimpulan ........................................................................................ 46 28
28
Saran ................................................................................................... 46
29
UCAPAN TERIMAKASIH ........................................................................... 47
31
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 48
33
LAMPIRAN ................................................................................................... 52
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman
1. Kandungan Nutrien Calf Starter (% BK) yang Digunakan dalam
Penelitian ............................................................................................. 10
2. Rataan Konsumsi Susu dan Calf Starter pada Pedet Prasapih tanpa
atau dengan Inokulasi Bakteri Pencerna Serat .................................... 17
3. Konsumsi Co Pakan dan Kandungan Co Darah Pedet Prasapih tanpa
atau dengan Inokulasi Isolat Bakteri Pencerna Serat .......................... 19
4. Nilai Rataan Profil Darah Pedet Prasapih tanpa atau dengan
Inokulasi Isolat Bakteri Pencerna Serat .............................................. 19
5. Rataan Denyut Jantung, Respirasi, dan Suhu Rektal Pedet tanpa atau
dengan Inokulasi Isolat Bakteri Pencerna Serat .................................. 21
6. Rataan Bobot Badan (BB) dan Pertambahan Bobot Badan (PBB) ..... 25
7. Rataan Ukuran Tubuh Pedet tanpa atau dengan Inokulasi Isolat
Bakteri Pencerna Serat ........................................................................ 26
DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman
1. Kandang Penelitian ............................................................................ 10
2. Pedet yang Digunakan dalam Penelitian ............................................. 11
3. Pemberian Isolasi Bakteri Pencerna Serat pada Pedet dengan Cara
Dicekok ............................................................................................... 11
4. Pembuatan Calf Starter ....................................................................... 12
5. Isolat Bakteri yang Sudah Ditumbuhkan pada Susu Segar Steril …... 13
6. Suhu dan Kelembaban Lingkungan dalam Kandang Pedet Selama
Penelitian ............................................................................................. 23
7. Korelasi Suhu Rektal dan Suhu Lingkungan pada Pagi Hari ………. 24
8. Korelasi Suhu Rektal dan Suhu Lingkungan pada Sore Hari ………. 24
9. Perkembangan Bobot Badan Pedet tanpa atau dengan Inokulasi
Isolat Bakteri Pencerna Serat Selama Penelitian …………………… 25
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman
1. Uji-t Konsumsi Susu dan Calf Starter .............................................. 34
2. Uji-t Konsumsi Co Pakan dan Kandungan Co Darah ....................... 34
3. Uji-t Nilai Profil Darah Pedet ........................................................... 34
4. Uji-t Denyut Jantung, Respirasi, dan Suhu Rektal Pedet .................. 34
5. Uji-t Bobot Badan (BB) dan Pertambahan Bobot Badan (PBB) ...... 35
6. Uji-t Ukuran Tubuh Pedet ................................................................. 35
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Masa prasapih pada pedet merupakan periode kritis dan sangat rentan
terhadap perubahan pakan maupun kondisi lingkungan. Beberapa hari setelah lahir,
pedet sangat tergantung pada nutrien susu karena mikroba di dalam rumen belum
berkembang dengan baik sehingga belum mampu mencerna komponen pakan padat.
Konsumsi susu yang tinggi pada pedet, menyebabkan biaya pakan dan biaya
pembesaran pedet yang tinggi. Upaya percepatan peningkatan konsumsi pakan padat
dan penyapihan perlu dilakukan untuk mengurangi biaya pembesaran pedet.
Konsumsi dan pencernaan pakan padat dapat merangsang perkembangan
mikroba dan saluran pencernaan pedet. Perkembangan mikroba dan saluran
pencernaan diharapkan dapat dipercepat dengan cara inokulasi bakteri. Inokulasi
bakteri pencerna serat (probiotik) asal rumen kerbau diharapkan dapat mempercepat
kemampuan pedet dalam mencerna pakan padat khususnya komponen serat.
Pencernaan serat meningkatkan produksi volatile fatty acids (VFA) dalam rumen.
Produk fermentasi tersebut mampu merangsang pertumbuhan papil rumen. Konsumsi
ransum yang telah mencapai jumlah 500-700 g/hari (Jones & Heinrichs, 2007),
mengindikasikan bahwa rumen pedet telah berkembang dengan baik.
Inokulasi bakteri pencerna serat (probiotik) dan suplementasi kobalt (Co)
dapat membantu proses sintesis vitamin B12 oleh mikroba dalam saluran pencernaan.
Perkembangan mikroba rumen yang lebih cepat, memungkinkan mikroba rumen
menghasilkan vitamin B kompleks termasuk vitamin B12. Vitamin B12 hasil sintesis
mikroba dapat diserap darah dan mempengaruhi sintesis butir darah merah (proses
pematangan sel-sel darah merah) sehingga dapat memperbaiki status fisiologis dan
nafsu makan pedet. Vitamin B12 juga diperlukan untuk metabolisme sel terutama
dalam saluran pencernaan, sumsum tulang, jaringan syaraf, dan sel-sel pertumbuhan,
serta untuk mempercepat pertumbuhan.

Tujuan
Mengetahui pengaruh inokulasi bakteri pencerna serat terhadap konsumsi
nutrien, profil darah, status fisiologis, dan pertambahan bobot badan pada pedet
peranakan Friesian Holstein prasapih yang mendapat ransum bersuplemen kobalt.
TINJAUAN PUSTAKA

Pedet Sapi Friesian Holstein


Sapi Fries Hollands (FH) berasal dari propinsi Belanda Utara dan propinsi
Friesland Barat. Sapi FH di Amerika Serikat disebut Holstein Friesian atau Holstein
dan di Eropa disebut Friesian. Sapi FH adalah sapi perah yang mempunyai produksi
susu tertinggi dibandingkan sapi perah lainnya, tetapi kadar lemak susu sapi FH
rendah. Rata-rata produksi susu sapi FH di Amerika Serikat adalah 7.245 kg/laktasi
dengan kadar lemak 3,65%, sedangkan rata-rata produksi susu di Indonesia adalah 10
liter/ekor/hari atau kurang lebih 3.050 kg/laktasi.
Sapi FH termasuk bangsa sapi yang mempunyai daya tahan terhadap panas
paling rendah, sehingga iklim di daerah pemeliharaan perlu dipertimbangkan.
Cekaman panas dapat mempengaruhi suhu tubuh dan metabolisme, sehingga dapat
menimbulkan terjadinya penimbunan panas dalam tubuh ternak. Penimbunan panas
yang berlangsung terus-menerus akan membuat proses pernapasan tinggi sehingga
kebutuhan oksigen untuk metabolisme juga tinggi. Pakan yang cukup diperlukan
agar dapat mempertahankan pertumbuhan dan produksinya (Ungerer, 1985).
Bobot lahir pedet sapi FH berkisar 30-50 kg (Smith & Mangkoewidjojo,
1988). Menurut Parakkasi (1999), bobot lahir dipengaruhi oleh jenis kelamin,
bangsa, bobot induk, umur induk, dan lama kebuntingan. Anak sapi yang baru lahir
memiliki empat bagian perut, tetapi hanya abomasum yang dapat berfungsi (Roy,
1980).

Perkembangan Saluran Pencernaan dan Penyapihan Pedet


Saluran pencernaan pedet saat lahir belum berkembang dan berfungsi dengan
baik, sehingga belum mampu untuk mencerna pakan padat, rumput, atau sumber
serat lainnya. Oleh karena itu, pemberian pakan padat dan hijauan (pakan sumber
serat) pada pedet dilakukan secara bertahap. Saat pedet baru dilahirkan, pakan
pertama yang harus diberikan adalah kolostrum karena pedet hanya mampu
memanfaatkan nutrien susu, kemudian meningkat dengan pemberian susu induk atau
susu pengganti, pakan padat, dan rumput.
Perkembangan dan pertumbuhan pedet setelah lahir sangat bergantung pada
jumlah dan kualitas pakan yang diberikan (Salisbury & Van Demark, 1985). Pada
saat lahir, perut depan pedet belum berkembang seperti pada ruminan dewasa. Bobot
abomasum pedet sekitar setengah berat perut total. Setelah lahir, rumen, retikulum,
dan omasum akan terus berkembang hingga berfungsi baik. Pedet memulai tahap
transisi pada umur 5 minggu dan berakhir umur 12 minggu. Pada tahap ini, pola
metabolisme karbohidrat berubah. Penggunaan glukosa secara langsung yang diserap
dari usus halus sebagai hasil hidrolisis laktosa mulai hilang dan proses
glukoneogenesis asal propionat mulai muncul (Arora, 1989).
Menurut Williamson & Payne (1993), rumen berfungsi dengan baik setelah
anak sapi berumur dua bulan atau jika anak sapi telah mengkonsumsi pakan padat
(rumput atau kosentrat). Menurut Arora (1989), perkembangan rumen dipengaruhi
oleh: (1) pakan kasar yang merupakan stimulus fisik bagi perkembangan kapasitas
rumen, (2) produk fermentasi yang merupakan stimulus kimia bagi perkembangan
papil-papil rumen. Setelah ternak mengkonsumsi pakan berserat tinggi, maka bobot
rumen menjadi lebih berat daripada ternak yang tidak mengkonsumsi hijauan.
Menurut Roy (1980), air susu maupun pakan cair dapat langsung masuk ke
dalam abomasum anak sapi melalui saluran khusus yang disebut oesophageal
groove. Saluran ini terbentuk secara refleks saat protein susu terlarut diberikan.
Sebelum anak sapi berumur 8 minggu, refleks pembentukan oesophageal groove
dapat dirangsang menggunakan air. Tetapi setelah anak sapi berumur lebih dari 8
minggu, maka refleksnya akan berkurang.
Penyapihan dini pada pedet dapat dilakukan pada umur 3-4 bulan (Parakkasi,
1999). Perpanjangan umur sapih dapat menurunkan keuntungan ekonomis,
meningkatkan biaya pakan, dan menghambat perkembangan rumen.

Kondisi Fisiologis Pedet dan Lingkungan


Menurut Smith & Mangkoewidjojo (1988), sapi dewasa mempunyai denyut
jantung 40-58 kali/menit, respirasi 27-40 kali/menit, dan suhu rektal 38-39 °C
dengan rataan 38,6 °C. Semakin muda umur ternak, frekuensi denyut nadi akan
semakin meningkat. Hal ini berarti bahwa indikator fisiologis seperti frekuensi
denyut nadi, frekuensi respirasi, dan suhu rektal pada ternak muda lebih tinggi
dibandingkan dengan ternak yang lebih tua.
Salah satu upaya tubuh ternak untuk mempertahankan keseimbangan panas
tubuh saat suhu udara dalam kandang meningkat adalah dengan cara meningkatkan
frekuensi respirasi. Respirasi dapat dipengaruhi oleh sikap badan, kerja fisik, dan
metabolisme. Meningkatnya suhu lingkungan dapat menyebabkan berbagai macam
perubahan reaksi fisiologis hewan yaitu meningkatnya suhu rektal, bertambahnya
frekuensi pernafasan serta denyut nadi semakin cepat.

Pertumbuhan dan Ukuran Tubuh Ternak


Pertumbuhan adalah pertambahan bobot badan atau ukuran-ukuran tubuh
sesuai dengan umur (Rakhmanto, 2009). Perkembangan adalah perubahan ukuran
dan fungsi dari berbagai bagian tubuh, mulai embrio sampai dewasa. Pertambahan
bobot badan pada hewan muda merupakan bagian dari pertumbuhan urat daging,
tulang, dan organ-organ vital. Pertambahan bobot badan pada hewan tua berupa
penimbunan lemak. Pertumbuhan dipengaruhi oleh pakan, bobot lahir, kondisi
lingkungan, dan penyakit (Roy, 1980). Potensi pertumbuhan seekor ternak sangat
dipengaruhi oleh faktor bangsa, jenis kelamin, pakan, lingkungan, dan manajemen
pemeliharaan.
Umumnya, pertumbuhan secara keseluruhan diukur dengan bertambahnya
bobot badan. Besarnya badan dapat diukur dengan ukuran-ukuran tubuh. Kombinasi
berat dan besarnya badan dapat dipakai sebagai ukuran pertumbuhan. Bobot badan
adalah ukuran dari pertumbuhan secara keseluruhan. Penimbangan dilakukan
sebelum pemberian pakan dan minum. Pengetahuan mengenai catatan bobot badan
seekor sapi dapat membantu program pemberian pakan dan pemberian obat-obatan
sesuai dosis, dapat mengetahui laju pertumbuhan sapi dan dapat dengan mudah
menentukan harga jual sapi. Bobot badan juga dapat digunakan untuk menentukan
laju pertambahan bobot badan dan tata laksana pemeliharaan.
Menurut Lawrence & Fowler (2002), pengukuran ukuran tubuh yang
menunjukkan korelasi tertinggi dengan bobot badan adalah lingkar dada. Menurut
Diwyanto (1982), komponen tubuh yang berhubungan erat dengan bobot badan
adalah lingkar dada dan panjang badan. Menurut Williamson & Payne (1993),
mengemukakan bahwa pemakaian ukuran lingkar dada, panjang badan, dan tinggi
pundak dapat memberikan petunjuk bobot badan seekor hewan dengan tepat.

Darah dan Komponennya


Darah adalah cairan dalam pembuluh darah yang beredar ke seluruh tubuh
mulai dari jantung dan segera kembali ke jantung. Darah tersusun atas cairan plasma
dan sel darah (eritrosit, leukosit, dan trombosit), yang masing-masing memiliki
fungsi yang berbeda (Isnaeni, 2006). Darah memiliki peranan dalam tubuh ternak,
antara lain: membawa nutrien, mengangkut oksigen, dan karbon dioksida, serta
berperan dalam pengaturan suhu tubuh (Frandson, 1992). Menurut Smith &
Mangkoewidjojo (1988), sapi mempunyai sel darah merah (BDM) 5,8-10,4
juta/mm3, PCV 33-47 %, dan Hb 8,6-14,4 g/100 ml. Namun, menurut Frandson
(1992), sapi mempunyai sel darah merah (BDM) 7 juta/mm 3, PCV 40 %, dan Hb 12
g/100 ml.
Darah sebagai media pengangkut, dapat digunakan untuk melihat status
nutrisi ternak. Beberapa komponen darah dapat digunakan sebagai indikator yang
baik untuk status kecukupan nutrien. Hallberg (1988) menyatakan bahwa Fe
berperan untuk pembentukan Hb di sumsum tulang. Kadar Hb di bawah normal
menunjukkan ternak mengalami anemia karena kekurangan Fe. Menurut Underwood
& Suttle (1999), Co dan Fe bersifat kompetitif (antagonisme) dalam tingkat absorpsi
di usus halus. Anemia tersebut mungkin timbul karena turunnya konsumsi Fe akibat
sangat tingginya konsumsi Co.

Probiotik dan Fungsinya


Amin (1997) menyatakan bahwa probiotik merupakan makanan tambahan
dalam bentuk mikroba hidup yang berpengaruh positif bagi hewan inang dengan
meningkatkan keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan. Penggunaan
probiotik bertujuan untuk memanipulasi ekosistem rumen sehingga dapat
meningkatkan efisiensi fermentasi rumen dengan cara memaksimalkan degradasi
serat kasar, sintesis protein mikrobial, serta meminimalkan produksi metan,
degradasi protein, dan fermentasi pati di dalam rumen (Amin, 1997). Probiotik tidak
hanya menjaga ekosistem, tetapi menyediakan enzim yang bisa mencerna serat kasar,
protein, lemak, detoksifikasi zat beracun, dan metabolitnya (Sakinah, 2005).
Keuntungan penggunaan probiotik, antara lain: (1) meningkatkan utilisasi
pakan, menurunkan jumlah mikroba patogen, dan meningkatkan sistem kekebalan
tubuh, (2) meningkatkan pertumbuhan (Amin, 1997), (3) menstimulasi konsumsi
bahan kering, (4) merangsang pertumbuhan mikroba rumen seperti protozoa, bakteri
amilolitik, selulolitik, maupun total bakteri (Siti, 1996; Amin, 1997), (5) sebagai
pengganti antibiotika. Keuntungan utama probiotik adalah tidak menimbulkan residu
yang dapat membahayakan konsumen (Sakinah, 2005).
Bakteri pada rumen kerbau memiliki kemampuan lebih baik dibandingkan
bakteri pada rumen sapi karena produktivitas kerbau sudah cukup optimal walaupun
tanpa konsentrat, sedangkan sapi diberikan pakan berupa hijauan dan konsentrat.
Karakteristik bakteri pencerna serat asal rumen kerbau, antara lain: (1) mempunyai
kemampuan mencerna serat kasar secara efisien, (2) laju aktivitas selolulitik lebih
tinggi, (3) daya cerna pakan lebih baik, (4) memproduksi VFA lebih cepat, dan (5)
mempunyai kemampuan tumbuh dan berkembang pada substrat berserat tinggi,
seperti: jerami padi, serat sawit, dan alang-alang (Astuti, 2010).
Probiotik dapat diberikan melalui pakan, air minum, dan kapsul. Pemberian
melalui pakan merupakan cara terbaik untuk memperoleh jumlah dan proporsi yang
tepat. Kunci utama untuk mempertahankan jumlah populasi probiotik yang tinggi
secara permanen di dalam usus ialah pemberian yang berkesinambungan. Pemberian
probiotik secara kontinyu bertujuan untuk menjaga keseimbangan mikroflora usus
(Amin, 1997).

Pakan dan Kebutuhan Nutrien


Kebutuhan nutrien dari anak sapi sangat beragam, dari kebutuhan untuk
hidup pokok hingga untuk memperoleh pertambahan bobot maksimal yang berasal
dari deposit protein dan mineral. Kebutuhan nutrien pada anak sapi antara lain
bergantung kepada umur, bobot badan dan pertambahan bobot badan (Rakhmanto,
2009). Tingkat pertambahan bobot badan maksimum, ditentukan oleh tingkat
konsumsi energi untuk produksi ternak (Roy, 1980). Menurut Cullison et al. (2003),
fungsi pakan bagi ternak adalah menyediakan energi untuk produksi panas dan
deposit lemak, memelihara sel-sel tubuh, mengatur berbagai fungsi, proses dan
aktivitas dalam tubuh.
Bertambahnya konsumsi pakan padat seperti ransum pemula (calf starter)
dan rumput, maka papila rumen akan berkembang yang diikuti dengan pertumbuhan
mikroorganisme rumen (Rakhmanto, 2009). Menurut Swenson & Reece (1993),
mikroorganisme rumen dapat mensintesis asam amino dalam tubuhnya. Jumlah
mikroorganisme rumen akan stabil jika pH rumen mendekati netral yang dicapai
pada umur sekitar 8 minggu (Roy, 1980). Jumlah bahan kering pakan yang dapat
dikonsumsi dalam bentuk cair lebih banyak dibandingkan dengan pakan dalam
bentuk padat, hingga pedet mempunyai bobot hidup 70 kg. Karena energi dari pakan
cair yang berupa susu dapat lebih efisien tercerna oleh pencernaan monogastrik
dibanding dengan pencernaan ruminansia pada pakan padat (Roy, 1980).

Faktor Lingkungan dan Konsumsi Pakan


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi pakan yaitu faktor
hewan, faktor pakan, dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan dapat mempengaruhi
tingkat konsumsi pedet secara langsung maupun tidak langsung. Faktor lingkungan
yang mempengaruhi secara langsung adalah temperatur, kelembaban, dan sinar
matahari (Parakkasi, 1999). Faktor lingkungan yang mempengaruhi secara tidak
langsung adalah cuaca terhadap kualitas bahan makan dan nutrien yang
dikandungnya.
Menurut Parakkasi (1999), temperatur tinggi akan menurunkan tingkat
konsumsi semua breed, tetapi Bos taurus lebih peka terhadap temperatur dibanding
Bos indicus atau bangsa tropis lainnya. Sapi bangsa Frisian Holstein baik induk
maupun dara, menunjukkan penurunan konsumsinya, jika temperatur mencapai
21,1 C. Temperatur lingkungan juga dapat mempengaruhi efisiensi penggunaan
pakan. Pada temperatur di bawah optimum, efisiensi menurun karena pakan lebih
banyak digunakan untuk mempertahankan temperatur tubuh. Sebaliknya, pada
temperatur diatas optimum, ternak akan menurunkan tingkat konsumsi untuk
mengurangi temperatur tubuh. Konsumsi air akan meningkat cepat setelah
temperatur meningkat hingga 34 C.
Suhu dan kelembaban udara di dalam kandang dapat mempengaruhi tingkat
konsumsi pakan dan air. Kelembaban dapat pula mempengaruhi mekanisme
pengaturan temperatur tubuh misalnya pengeluaran panas melalui keringat ataupun
melalui respirasi akan lebih cepat. Pengaruh kelembaban ini penting diperhatikan
khususnya di daerah tropis basah (Parakkasi, 1999).
Ternak dapat memperoleh panas dari dalam tubuh ataupun secara langsung
dari sinar matahari. Tingkat penyerapan panas tergantung tipe kulit ternak. Warna
kulit tidak gelap ataupun licin mengkilap akan memantulkan cahaya lebih banyak
dibandingkan dengan kulit kasar dan gelap. Bulu yang terdapat pada kulit berfungsi
sebagai insulator panas. Pergerakan udara dapat mengubah pengaruh tipe kulit dan
peran insulasi bulu dalam pelepasan udara dari tubuh ternak (Parakkasi, 1999).
Suplementasi Mineral
Bagi ternak ruminansia, mineral digunakan untuk memenuhi kebutuhannya
sendiri, mendukung, dan menyediakan kebutuhan mikroba rumen. Apabila terjadi
defisiensi salah satu mineral, maka aktivitas fermentasi mikroba rumen tidak
berlangsung optimum, sehingga akan berdampak pada penurunan produktivitas
ternak. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya ketersediaan mineral,
diantaranya adalah akibat antagonistik dari mineral anorganik, seperti Zn antagonis
dengan Cu (Rakhmanto, 2009).
Secara umum, mineral mempunyai fungsi sebagai bahan pembentuk tulang
dan gigi yang menyebabkan adanya jaringan yang keras dan kuat; mengatur
keseimbangan ion-ion dalam darah; aktivator sistem enzim; sebagai komponen dari
suatu sistem enzim, sebagai komponen darah, air susu; dan mempunyai sifat yang
khas terhadap kepekaan otak dan syaraf melalui pengaturan keseimbangan antara Ca,
Na dan K dalam cairan di sekitar otot jantung agar jantung dapat berkontraksi dan
berelaksasi. Mineral juga merupakan komponen dalam produksi air susu dan untuk
memelihara keseimbangan asam basa dalam tubuh (Parakkasi, 1999).

Mineral Kobalt (Co)


Kobalt (Co) paling banyak terdapat dalam ginjal, kelenjar adrenal, limpa, dan
pankreas. Kobalt terdapat pula dalam jumlah cukup banyak dalam limfoglandula,
sumsum tulang, dan empedu. Konsentrasi normal kobalt dalam hati ruminansia yaitu
sekitar 0,15 ppm. Hanya sedikit Co yang dapat ditemukan dalam darah dan air susu.
Secara normal dalam isi rumen, Co berjumlah sekitar 0,4-0,7 mcg/100g (Parakkasi,
1999). Mikroba rumen menggunakan Co untuk pembentukan molekul
sianokobalamin atau vitamin B12 (Piliang & Djojosoebagio, 2006). Pemberian Co
dapat meningkatkan penampilan karena adanya proses recycle ke dalam rumen
melalui saliva ataupun dinding rumen (Parakkasi, 1999).
Ternak muda membutuhkan lebih banyak Co dibanding ternak dewasa.
Kebutuhan sapi lebih tinggi dibanding kebutuhan domba. Secara menyeluruh untuk
ruminansia di pastura kebutuhannya adalah 0,1 ppm. Kebutuhan ruminansia relatif
lebih tinggi dibanding monogastrik karena ketidakefisienan penggunaan Co dalam
pembentukan vitamin B12 dan penyerapan vitamin tersebut kurang efisien. Menurut
NRC (2001), kebutuhan mineral Co pada anak sapi adalah 0,1-10 ppm.
Gejala yang terlihat bila ternak kekurangan Co adalah nafsu makan menurun,
pertumbuhan terganggu, nafsu makan berkurang, cepat kurus, adanya lakrimasi,
anemia parah (sekunder) dan kemudian hewan dapat mati. Penurunan nafsu makan
yang dimulai dari yang sederhana sampai yang lebih parah dengan segala akibatnya
terhadap penampilan erat hubungannya dengan perubahan populasi mikroba rumen
terutama yang membentuk vitamin B12 dari Co.

Cobalamin (B12)
Menurut Piliang & Djojosoebagio (2006), cobalamin merupakan nama
vitamin B12 karena mengandung mineral kobalt. Vitamin B12 secara perlahan dapat
rusak oleh larutan asam, alkali, sinar, dan zat-zat pengoksidasi atau pereduksi.
Vitamin B12 larut dalam air dan membentuk kristal-kristal berwarna merah yang
disebabkan oleh adanya mineral kobalt dalam molekul.
Cobalamin diperlukan untuk metabolisme sel terutama dalam saluran
pencernaan, sumsum tulang, jaringan syaraf, dan sel-sel pertumbuhan serta untuk
mempercepat pertumbuhan dan proses pematangan sel-sel darah merah. Cobalamin
juga berperan pada metabolisme lemak, protein, dan karbohidrat serta pada absorpsi
dan metabolisme asam folat (Piliang & Djojosoebagio, 2006).
Ruminansia (pedet maupun sapi dewasa) membutuhkan vitamin B12, untuk
mikroba rumen dan jaringan tubuh dalam bentuk koenzim untuk mengkonversi
propionat menjadi metal malonil Co-A sebagai prekursor utama glukosa bagi
ruminansia (Parakkasi,1999). Kebutuhan vitamin B12 ruminansia dewasa cukup
disuplai melalui penyediaan mineral Co yang cukup dalam ransum. Kebutuhan
vitamin B12 untuk anak sapi misalnya dalam produksi veal diperkirakan sebanyak
0,54 mg/kg BB. Sehubungan dengan salah satu bahan pembentuk vitamin B12 adalah
Co, maka suplai Co pada sapi yang rumennya telah berfungsi perlu disediakan dalam
pakan. Walaupun pengaruh pakan terhadap kadar vitamin B12 dalam rumen
bervariasi, namun aktivitas vitamin B12 paling banyak terdapat pada sapi yang diberi
silase, kemudian disusul dengan pemberian hay tercacah (chopped hay) atau bentuk
pellet dan biji-bijian.
MATERI DAN METODE

Lokasi dan Waktu


Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan yaitu pada bulan November 2009
sampai dengan Maret 2010, bertempat di kandang A, kandang sapi perah Fakultas
Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Materi
Alat
Kandang penelitian berupa kandang individu yang berukuran 2 x 1,5 m 2.
Setiap kandang individu dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat minum.
Peralatan yang digunakan adalah timbangan, termometer dan higrometer digital,
stopwatch, sekop, kantong plastik, oven, dan pita ukur.

Gambar 1. Kandang Penelitian

Bahan
Pakan yang diberikan terdiri dari susu segar, calf starter, dan isolat bakteri
pencerna serat (probiotik) asal rumen kerbau. Bahan pakan penyusun ransum
penelitiaan adalah jagung giling (45 %), bungkil kedelai (30 %), pollard (15 %),
molases (10 %) dan CoCl2.6.H2O yang menyumbangkan Co (0,20 ppm). Ransum
disusun dan dihitung berdasarkan kadar nutrien menurut hasil analisa di
Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian
Bogor. Air minum yang diberikan berasal dari air kran yang ada di kandang.
Kandungan nutrien calf starter dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan Nutrien Calf Starter (% BK) yang Digunakan dalam Penelitian
Bahan BK (%) Abu (%) PK (%) LK (%) SK (%) Beta-N (%)
Calf starter 84,03 10,31 23,93 3,84 5,81 56,11
Keterangan: Hasil Analisa di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan (2009)
Ternak Percobaan
Ternak percobaan yang digunakan terdiri atas 9 ekor pedet peranakan
Friesian Holstein (PFH) periode prasapih berumur 2 minggu dengan bobot badan
37,33 ± 5,34 kg. Empat pedet diberi inokulasi bakteri pencerna serat dan 5 pedet
tanpa inokulasi (kontrol).

Gambar 2. Pedet yang Digunakan dalam Penelitian

Metode
Perlakuan
Perlakuan yang diberikan pada penelitian ini adalah P1: kontrol (pedet tanpa
inokulasi bakteri pencerna serat) dan P2: inokulasi.
Semua pedet mengkonsumsi susu dan di tempat pakan disediakan calf starter.
Pedet yang mendapat perlakuan, diinokulasi dengan isolat bakteri pencerna serat
yang sebelumnya ditumbuhkan dalam susu steril. Jumlah inokulan yang diberikan
sebanyak 20 ml/hari per pedet dengan konsentrasi bakteri 4,56 x 109 CFU/ml.

Gambar 3. Pemberian Isolasi Bakteri Pencerna Serat pada Pedet dengan Cara
Dicekok

Pembuatan Ransum dan Pemeliharaan Ternak


Calf starter dibuat dengan mencampurkan bahan ransum secara manual di
atas lantai beralaskan terpal. Pencampuran masing-masing bahan pakan dilakukan
secara bertahap yaitu dengan cara mencampurkan satu persatu bahan pakan mulai
dari bobot atau porsi yang terkecil hingga bobot yang terbesar.

Gambar 4. Pembuatan Calf Starter

Ternak dipelihara dalam kandang individu. Calf starter dan air minum
disediakan ad libitum pada pukul 07.00–08.00 WIB dan pada pukul 15.00–16.00
WIB. Susu diberikan sesuai dengan bobot badan pedet. Isolat bakteri pencerna serat
diberikan sekali sehari pada pagi hari segera setelah pemberian susu.
Jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan pedet
mengkonsumsi pakan tersebut. Jumlah pakan yang diberikan pada pedet ditingkatkan
sedikit demi sedikit setiap harinya. Jumlah pakan yang dikonsumsi dihitung dengan
cara menghitung selisih pemberian dan sisa pakan yang tertinggal pada pagi hari.
Sisa pakan setiap pedet ditimbang lalu dikumpulkan dan disimpan di dalam kantong
plastik secara terpisah.

Penyiapan Probiotik
Tujuh macam isolat bakteri pencerna serat yang berasal dari rumen kerbau
ditumbuhkan ke dalam susu segar selama 3 hari. Setelah itu tujuh macam isolat
tersebut dipanen dan dicampur menjadi satu wadah. Isolat yang digunakan adalah
hasil isolasi mikroba rumen pencerna serat (Gayatri, 2010; Astuti, 2010) dan
merupakan koleksi Laboratorium Ilmu Nutrisi Ternak Perah. Isolat telah mengalami
pengujian produksi bahan kering (BK) sel isolat bakteri dan nilai CMC-ase. Isolat
bakteri tersebut terbukti mempunyai aktifitas selulolitik.
Gambar 5. Isolat Bakteri yang Sudah Ditumbuhkan pada Susu Segar Steril

Pengukuran Suhu dan Kelembaban Lingkungan


Pengukuran suhu dan kelembaban lingkungan kandang dilakukan dua kali
pada saat bersamaan dengan pemberian pakan dan minum yaitu pada pukul 07.00–
08.00 WIB dan pada pukul 15.00–16.00 WIB. Pengukuran suhu dan kelembaban
dilakukan menggunakan termometer dan higrometer digital.

Pengambilan Sampel Darah


Sampel darah dari masing-masing pedet diambil sebanyak 20 ml dalam 4
tabung vacutainer yang terdiri dari 3 tabung darah berheparin dan 1 tabung darah
non-heparin. Tabung darah yang berheparin dimasukkan ke dalam termos yang berisi
es, sedangkan tabung darah non-heparin tidak dimasukkan ke dalam termos tanpa es
dan semua diletakkan dengan posisi miring.
Darah yang berheparin masing-masing digunakan untuk analisis komponen
darah lengkap dan analisis mineral dalam darah, serta untuk pengambilan plasma
darah. Sedangkan darah yang tidak berheparin digunakan untuk pengambilan serum
darah.

Peubah yang Diamati


Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah: (1) konsumsi susu dan calf
starter, (2) konsumsi Co, (3) kandungan Co darah, (4) profil darah: butir darah
merah (BDM), hemoglobin (Hb), hematokrit (packed cell volume/PCV), (5) denyut
jantung, (6) laju respirasi, (7) suhu rektal, (8) pertambahan bobot badan (PBB), (9)
ukuran tubuh: lingkar dada, lingkar perut, panjang badan, tinggi pundak, dalam dada,
dan lebar dada.
Konsumsi Calf Starter
Konsumsi harian calf starter dihitung dari selisih jumlah calf starter yang
diberikan dengan sisa calf starter yang tidak dikonsumsi dalam 24 jam.

Konsumsi calf starter (g) = pemberian (g) – sisa (g)

Analisa Kandungan Kobalt dalam Pakan dan Darah


Proses analisa kandungan Co dalam pakan dan darah dilakukan dalam dua
tahap yaitu pengabuan basah (wet ashing) dan pembacaan kadar mineral. Pengabuan
basah sampel pakan dan darah dilakukan di Laboratorium Ilmu Nutrisi Ternak Perah,
Fakultas Peternakan IPB. Pembacaan kadar Co dalam sampel yang telah dipreparasi,
dilakukan di Pusat Penelitian Tanah (Puslitan), menggunakan Atomic Absorption
Spectrophotometer (AAS) Hitachi Z5000.

a. Pengabuan Basah (Wet Ashing)


Pengukuran kadar mineral dilakukan setelah sampel dipreparasi dengan
metode pengabuan basah atau wet ashing (Restz et al. 1960). Sampel ditimbang dan
dimasukkan dalam erlenmeyer 100 ml. Ditambahkan HNO3 pekat 5 ml dan dibiarkan
selama 1 jam hingga sampel berwarna kekuningan. Berikutnya dipanaskan di atas
hot plate selama 4 jam, lalu didinginkan. Larutan yang telah dingin ditambahkan
0.4 ml H2SO4 pekat dan dipanaskan kembali. Saat terjadi perubahan warna,
diteteskan larutan campuran HClO4 + HNO3 (2:1). Perubahan warna coklat menjadi
kuning lalu bening. Dipanaskan kembali selama 15 menit. Sampel ditambahkan 2 ml
aquadest dan 0.6 ml HCl pekat secara bersamaan. Panaskan kembali hingga larut dan
didinginkan. Lalu sampel dilarutkan dengan aquadest menjadi 100 ml dalam labu
takar dan disiapkan untuk dianalisis dengan Atomic Absorbtion Spectrophotometer
(AAS).

b. Pengukuran Mineral
Sampel hasil wet ashing dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 2 ml
dengan menggunakan pipet dan ditambahkan 0.05 ml larutan lantan klorida
(LaCl3.7H2O). Lalu disentrifuse dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit.
Setelah itu, larutan standar Co dibuat dengan kadar 0; 0,5; 1, 2, 3, 4, dan 5 ppm di
dalam tabung reaksi yang lain. Masing-masing larutan standar, dimasukkan ke dalam
tabung reaksi dengan menggunakan pipet sebanyak 2 ml. Lalu standar dan sampel
diinjeksikan ke dalam AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Kemudian
absorbansinya diukur dengan AAS pada panjang gelombang 240,7 nm sesuai dengan
jenis mineral yang dibaca yaitu Co.

Profil Darah
Komponen darah yang dianalisis meliputi butir darah merah (BDM),
hemoglobin (Hb), dan hematokrit (packed cell volume/PCV). Analisis dilakukan di
Laboratorium Fisiologi, Departemen Anatomi, Fisiologi, dan Farmakologi, Fakultas
Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Denyut Jantung, Laju Respirasi, dan Suhu Rektal


Denyut jantung, laju respirasi, dan suhu rektal diukur setiap minggu.
Pengukuran denyut jantung dilakukan selama satu menit pada pagi dan sore hari
dengan cara meletakkan tangan pada bagian dada sebelah kiri dekat jantung.
Pengukuran laju respirasi dilakukan selama satu menit pada pagi dan sore hari
dengan cara melihat bagian paru-paru atau melihat pergerakan kembang kempis
perut pedet. Suhu rektal diukur pada pagi dan sore hari dengan cara memasukkan
termometer rektal digital pada anus pedet.

Pertambahan Bobot Badan


Penimbangan pedet dilakukan setiap minggu. Pengukuran pertambahan bobot
badan (PBB) dilakukan dengan penimbangan pedet pada awal dan akhir
pemeliharaan. Penimbangan dilakukan pada pagi hari sebelum ternak diberi pakan.
Pertambahan bobot badan selama penelitian dihitung berdasarkan bobot akhir
pemeliharaan dikurangi dengan bobot awal, sedangkan pertambahan bobot badan
harian (g/ekor/hari) diperoleh dari pertambahan bobot badan selama penelitian dibagi
dengan lamanya pemeliharaan.

Bobot sapih – bobot awal perlakuan (g/ekor)


PBB (g/ekor/hari) =
Lama Pemeliharaan (hari)

Suhu dan Kelembaban Lingkungan


Pengukuran suhu dan kelembaban lingkungan dilakukan dengan
menggantungkan termometer dan higrometer digital di dalam kandang selama
penelitian. Pembacaan suhu dan kelembaban dilakukan setiap pagi dan sore hari.
Ukuran Tubuh
Ukuran tubuh yang diamati meliputi: lingkar dada, lingkar perut, panjang
badan, tinggi pundak, dalam dada, dan lebar dada. Pengukuran dilakukan setiap
minggu. Lingkar dada diukur dengan cara melingkaran pita ukur (cm) di sekeliling
rongga dada, di belakang sendi bahu (os scapula). Lingkar perut diukur dengan cara
melingkarkan pita ukur di bagian perut. Panjang badan diukur dengan cara mengukur
jarak dari tepi tulang humerus sampai tulang duduk (tuber ischii). Tinggi pundak
diukur dengan cara mengukur jarak dari titik tertinggi pundak (Os vertebra
thoracalis) secara tegak hingga ujung telapak kaki atau permukaan tanah. Dalam
dada diukur dengan cara mengukur jarak dari titik tertinggi pundak (Os vertebra
thoracalis) secara tegak hingga dada bagian dalam. Lebar dada diukur dengan cara
mengukur jarak dari titik ujung dada sebelah kiri hingga titik ujung dada sebelah
kanan.

Analisis Data
Perlakuan inokulasi dan kontrol dialokasikan pada pedet secara acak dalam
Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pedet yang mendapatkan perlakuan kontrol
berjumlah 5 ekor dan pedet dengan perlakuan inokulasi berjumlah 4 ekor. Setiap
pedet merupakan ulangan dalam setiap perlakuan.
Nilai rataan konsumsi nutrien, konsumsi Co, kandungan Co darah, profil
darah: butir darah merah (BDM), hemoglobin (Hb), hematokrit (packed cell
volume/PCV), denyut jantung, laju respirasi, suhu rektal, pertambahan bobot badan
(PBB), ukuran tubuh: lingkar dada, lingkar perut, panjang badan, tinggi pundak,
dalam dada, dan lebar dada dari pedet perlakuan inokulasi dibandingkan dengan nilai
rataan dari pedet perlakuan kontrol menggunakan Uji-t pada α=0,05 (Steel & Torrie,
1991). Hipotesis penelitian ini yaitu:
H0 : Kontrol = Inokulasi; tidak ada perbedaan pengaruh inokulasi
H1 : Kontrol ≠ Inokulasi; terdapat perbedaan pengaruh inokulasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Konsumsi Susu dan Calf Starter


Ransum adalah total bahan pakan yang diberikan pada ternak selama 24 jam,
sedangkan calf starter adalah pakan yang diberikan pada pedet selama periode awal
atau menyusu. Parakkasi (1999) menyatakan bahwa konsumsi merupakan faktor
esensial untuk menunjang kebutuhan dasar hidup atau hidup pokok dan menentukan
produksi. Secara umum, konsumsi dapat meningkat dengan semakin meningkatnya
bobot badan (Amin, 1997), karena kapasitas saluran pencernaan meningkat dengan
semakin meningkatnya bobot badan, sehingga mampu mengkonsumsi pakan dalam
jumlah yang lebih banyak.

Tabel 2. Rataan Konsumsi Susu dan Calf Starter pada Pedet Prasapih tanpa atau
dengan Inokulasi Bakteri Pencerna Serat
Perlakuan
Konsumsi Kontrol (P1) Inokulasi (P2)
Starter Susu Total Starter Susu Total
---------------------------------- (g/ekor/hari) -------------------------------
Segar 152 ± 140 3194 3346 ± 140 324 ± 98 3194 3518 ± 98
BK 126 ± 116 354 480 ± 116 272 ± 82 354 626 ± 82
% BB 1,29 1,42

Pemberian inokulasi bakteri pencerna serat tidak menyebabkan perbedaan


konsumsi harian calf starter dan pakan total. Rataan konsumsi calf stater dan susu
dapat dilihat pada Tabel 2. Semua pedet pada penelitian ini mengkonsumsi susu
segar dalam jumlah yang sama, yaitu sebanyak 3194 g/ekor/hari. Susu yang
digunakan mengandung BK 11,08 %. Konsumsi bahan kering (BK) total pada pedet
perlakuan kontrol (480 g/ekor/hari) lebih rendah daripada pedet perlakuan inokulasi
(626 g/ekor/hari). Konsumsi BK total pada pedet perlakuan kontrol sebesar 1,29 %
bobot badan (BB) dan pedet perlakuan inokulasi sebesar 1,42 % BB. Hal ini
menunjukkan bahwa pedet yang diinokulasi bakteri pencerna serat dapat mencapai
konsumsi maksimum seperti dilaporkan NRC (2001) yang menyatakan bahwa
kebutuhan BK pedet dengan BB 30-55 kg dan pertambahan bobot badan (PBB) 0-
400 g adalah 320-800 g (1,07-1,46 % BB).
Inokulasi bakteri pencerna serat diperkirakan dapat memperkecil partikel
pakan lebih cepat jika dibandingkan dengan pedet tanpa inokulasi. Percepatan
pengecilan ukuran partikel pakan, dapat meningkatkan laju partikel pakan dalam
saluran pencernaan. Semakin voluminous suatu bahan pakan semakin cepat hewan
merasa kenyang karena lambung sudah terisi (Parakkasi, 1999). Laju penghancuran
partikel pakan menjadi partikel yang lebih kecil dapat meningkatkan konsumsi.
Pemberian probiotik nampaknya dapat meningkatkan selera makan pedet.
Namun peningkatan selera makan tidak menyebabkan perbedaan konsumsi bahan
kering. Menurut Parakkasi (1999), tingkat konsumsi sukarela (voluntary feed intake)
adalah jumlah pakan yang dikonsumsi oleh hewan bila pakan tersebut diberikan ad
libitum. Faktor-faktor yang menentukan tingkat konsumsi adalah faktor hewan,
pakan dan lingkungan. Faktor hewan dipengaruhi oleh bobot badan, umur dan
genetik. Chemostatic dan thermostatic, atau status fisiologi hewan sebagai respon
terhadap kondisi lingkungan, dapat mempengaruhi tingkat konsumsi. Hewan selalu
berusaha menyeimbangkan energi yang masuk dan energi yang keluar. Hewan
dengan kemampuan termoregulasi yang lebih rendah diperkirakan akan
mengkonsumsi pakan lebih rendah.

Konsumsi Co Pakan dan Kandungan Co Darah


Inokulasi bakteri pencerna serat tidak menyebabkan perbedaan konsumsi Co
pakan dan kandungan Co darah (Tabel 3). NRC (2001) menyatakan bahwa
kebutuhan Co pedet terpenuhi jika ransum mengandung 0,1-10 ppm. Berdasarkan
konsumsi bahan kering, Co yang dikonsumsi telah memenuhi kebutuhan pedet.
Inokulasi bakteri pencerna serat menyebabkan perbedaan konsumsi BK sehingga
terjadi perbedaan konsumsi Co. Pedet perlakuan inokulasi cenderung mengkonsumsi
Co lebih banyak dibandingkan pedet kontrol.
Menurut Piliang & Djojosoebagio (2006), Co pada ternak sapi dapat
dimanfaatkan dan disintesis menjadi vitamin B12 dalam saluran pencernaan
khususnya rumen dan kolon. Vitamin B12 berfungsi dalam proses pematangan sel-sel
darah merah dan untuk mendukung berlangsungnya fungsi normal semua sel-sel
tubuh. Konsumsi Co pedet perlakuan inokulasi lebih banyak dibandingkan pedet
kontrol, namun kadar Co darah sama antar perlakuan. Hal ini dapat disebabkan oleh
inokulasi bakteri pencerna serat lebih banyak mensintesis Co menjadi vitamin B 12.
Tabel 3. Konsumsi Co Pakan dan Kandungan Co Darah Pedet Prasapih tanpa atau
dengan Inokulasi Isolat Bakteri Pencerna Serat
Pengukuran Kontrol (P1) Inokulasi (P2)
Konsumsi Co (mg/ekor/hari) 1,03 ± 0,95 2,22 ± 0,67
Kandungan Co Darah (ppm) 0.1487 ± 0,0078 0,1452 ± 0,0421

Profil Darah Pedet Percobaan


Darah adalah cairan dalam pembuluh darah yang beredar ke seluruh tubuh
mulai dari jantung dan segera kembali ke jantung. Darah tersusun atas cairan plasma
dan sel darah (eritrosit, leukosit, dan trombosit), yang masing-masing memiliki
fungsi yang berbeda (Isnaeni, 2006). Darah memiliki peranan dalam tubuh ternak,
antara lain membawa nutrien, mengangkut oksigen, dan karbon dioksida, serta
berperan dalam pengaturan suhu tubuh (Frandson, 1992).
Nilai profil darah pedet percobaan tanpa atau dengan inokulasi isolat bakteri
tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (Tabel 4). Butir darah merah (BDM),
hematokrit (PCV), dan hemoglobin (Hb) menunjukkan hasil yang tidak berbeda
nyata antar perlakuan. Namun jumlah BDM (15%), PCV (28%) dan Hb (23%) pada
pedet perlakuan inokulasi lebih tinggi daripada pedet kontrol. Hal ini menunjukan
bahwa inokulasi bakteri pencerna serat pada pedet dapat merangsang pembentukan
BDM, PCV, dan hemoglobin walaupun peningkatan tersebut tidak menyebabkan
perbedaan nyata antar perlakuan.

Tabel 4. Nilai Rataan Profil Darah Pedet Prasapih tanpa atau dengan Inokulasi Isolat
Bakteri Pencerna Serat
Perlakuan
Peubah Choliq (1992)
Kontrol (P1) Inokulasi (P2)
BDM (juta/mm3) 6,47 ± 1,54 7,46 ± 1,62 5,85-7,00
PCV (%) 22,00 ± 7,18 28,19 ± 5,81 26,79-27,30
Hb (g/100ml) 7,18 ± 2,19 8,85 ± 1,57 7,10-8,24

Pedet pada penelitian ini memiliki eritrosit atau butir darah merah (BDM)
yang normal, karena pedet yang berumur 0-8 minggu memiliki sel darah merah 5,85-
7,00 juta/ml (Choliq, 1992). Jumlah eritrosit pada pedet percobaan sangat bervariasi.
Hal ini dapat dipengaruhi umur, status gizi, jenis kelamin, dan faktor-faktor iklim.
Nilai eritrosit dibawah normal mengindikasikan adanya anemia pada ternak
(Hallberg, 1988). Kondisi pedet percobaan tanpa maupun dengan inokulasi tidak
mengalami anemia. Hal ini berarti bahwa konsumsi nutrien telah memenuhi
kebutuhan khususnya protein dan unsur Fe serta vitamin B12 telah terpenuhi,
demikian juga sintesis darah merah berjalan dengan normal.
Menurut Piliang & Djojosoebagio (2006), pembentukan eritrosit memerlukan
nutrien yang essensial antara lain vitamin B12 (cyanokobalamin) yang molekulnya
mengandung atom kobalt. Vitamin B12 (cyanokobalamin) berfungsi dalam proses
pendewasaan eritrosit. Apabila vitamin tersebut defisien, maka dapat mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan eritrosit.
Pedet pada penelitian ini memiliki hemoglobin (Hb) yang normal, karena
anak sapi berumur 0-8 minggu memiliki hemoglobin 7,10-8,24 g/100ml (Choliq,
1992). Hemoglobin sangat bermanfaat dalam mengikat oksigen dalam darah.
Peningkatan kadar hemoglobin pada tubuh ternak dapat menyebabkan peningkatan
efisiensi pertukaran oksigen dan karbon dioksida, sedangkan jika terjadi penurunan
kadar hemoglobin dapat menghambat metabolisme.
Nilai hematokrit merupakan persentase dari darah, yang terdiri dari sel-sel
darah merah. Pedet perlakuan inokulasi memiliki hematokrit yang normal,
sedangkan pedet kontrol memiliki nilai hematokrit dibawah normal. Menurut Choliq
(1992), anak sapi berumur 0-8 minggu memiliki hematokrit 26,79-27,30 %.
Peningkatan nilai hematokrit mengindikasikan dehidrasi pada pedet, sedangkan nilai
hematokrit yang rendah dapat menggambarkan status nutrisi yang kurang memadai.
Hal ini berarti bahwa pedet kelompok kontrol kurang mendapatkan nutrien yang
optimum. Performa produksi kelompok pedet tersebut masih dapat ditingkatkan.
Inokulasi bakteri pencerna serat dapat memperbaiki status nutrisi dengan
meningkatkan selera makan pedet.

Denyut Jantung, Respirasi, dan Suhu Rektal


Menurut Isnaeni (2006), perubahan kondisi tubuh dapat dipengaruhi oleh dua
hal, yaitu adanya perubahan aktivitas sel tubuh dan perubahan lingkungan eksternal
yang berlangsung terus-menerus. Aktivitas sel dalam tubuh ternak selalu
memerlukan pasokan berbagai bahan dari lingkungan luar secara konstan, misalnya
oksigen dan nutrien. Apabila aktivitas sel berubah, pengambilan nutrien dan oksigen
dari lingkungan eksternal juga berubah.
Menurut Parakkasi (1999), temperatur lingkungan mempengaruhi efisiensi
penggunaan pakan. Pada temperatur lingkungan dibawah suhu kritis batas bawah,
efisiensi pemanfaatan nutrien menurun karena nutrien digunakan untuk
mempertahankan temperatur tubuh yang normal. Pada temperatur lingkungan diatas
suhu kritis batas atas, hewan akan menurunkan tingkat konsumsi untuk mengurangi
temperatur tubuh.

Tabel 5. Rataan Denyut Jantung, Respirasi, dan Suhu Rektal Pedet tanpa atau dengan
Inokulasi Isolat Bakteri Pencerna Serat
Perlakuan Choliq
Peubah Waktu
Kontrol (P1) Inokulasi (P2) (1992)
Pagi 75,68 ± 3,45 73,85 ± 3,77
Denyut Jantung (kali/menit) 85-112
Sore 82,48 ± 1,69 79,80 ± 1,90
Pagi 50,60 ± 6,72a 41,70 ± 1,89b
Respirasi (kali/menit) 48-64
Sore 58,88 ± 5,43a 48,05 ± 3,59b
Pagi 39,40 ± 0,23a 39,02 ± 0,21b
Suhu Rektal (°C) 38,9-39,6
Sore 39,71 ± 0,31 39,46 ± 0,25
Keterangan: Superskrip pada baris yang sama, menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05)

Rataan denyut jantung, laju respirasi, dan suhu rektal dapat dilihat pada Tabel
5. Jantung dan pembuluh darah merupakan organ penting untuk mengalirkan darah
ke berbagai jaringan. Jantung berfungsi sebagai pompa penggerak cairan
bersirkulasi, sedangkan pembuluh darah berfungsi sebagai jalan aliran darah
(Isnaeni, 2006).
Hasil penelitian Choliq (1992) menunjukan bahwa pedet yang berumur 0-8
minggu mempunyai frekuensi denyut jantung 85-112 kali/menit. Nilai denyut
jantung tidak berbeda nyata antar perlakuan dan berada sedikit di bawah normal. Hal
ini menunjukkan bahwa pedet berada dalam kondisi lingkungan normal dan
didukung oleh kondisi fisiologis yang normal. Kadar BDM dan hemoglobin dalam
kondisi normal (Tabel 4), sehingga sirkulasi darah dan pertukaran oksigen dengan
karbon dioksida berada dalam kondisi normal.
Sistem respirasi berfungsi untuk menyediakan oksigen (O 2) untuk darah dan
membuang karbondioksida (CO2) dari dalam darah. Saat laju metabolisme
meningkat, kebutuhan oksigen dan pembentukan karbondioksida juga meningkat
(Isnaeni, 2006). Fungsi sistem respirasi lainnya adalah membantu dalam
pengendalian suhu (Frandson, 1992).
Ternak dapat mengurangi panas dalam tubuh akibat pengaruh dari lingkungan
dengan cara melakukan evaporasi. Evaporasi dapat terjadi pada ternak dengan
peningkatan laju respirasi. Apabila suhu lingkungan meningkat, maka hewan harus
mengeluarkan panas dalam tubuh dengan cara evaporasi yang dilakukan dengan
meningkatkan laju respirasi. Menurut Parakkasi (1999), pada daerah yang kering
dengan kelembaban rendah, respirasi ternak terjadi lebih cepat.
Laju respirasi pada pedet berbeda (P<0,05) antar perlakuan. Laju respirasi
pada pedet perlakuan inokulasi lebih rendah dibandingkan pedet kontrol. Hal ini
dapat disebabkan oleh pengaruh inokulasi bakteri pencerna serat yang
memungkinkan darah pedet tersebut mempunyai kadar BDM dan hemoglobin yang
lebih tinggi dibandingkan perlakuan kontrol, sehingga respirasi diperkirakan lebih
efisien. Menurut Choliq (1992), anak sapi berumur 0-8 minggu mempunyai frekuensi
nafas 48-64 kali/menit dan suhu rektal 38,9-39,6 0C.
Suhu dan kelembaban lingkungan dalam kandang pedet selama penelitian
dapat dilihat pada Gambar 6. Rataan suhu di dalam kandang pada pagi hari sebesar
25,22±1,00 °C dan sore hari sebesar 28,75±2,18 °C. Kelembaban di dalam kandang
pada pagi hari sebesar 94,18±3,96 % dan sore hari sebesar 74,55±10,69 %.
Suhu rektal dapat dijadikan indikator panas tubuh dan juga merupakan
indikator kondisi fisiologis tubuh dan respon ternak terhadap suhu lingkungan. Suhu
tubuh ternak dapat dipengaruhi oleh suhu lingkungannya. Apabila suhu tubuh terlalu
tinggi, ternak akan melepaskan kelebihan panas tubuh, sedangkan apabila suhu tubuh
terlalu rendah, ternak akan meningkatkannya (Isnaeni, 2006). Meningkatnya suhu
lingkungan akan meningkatkan suhu rektal (Tabel 5), yang menunjukkan bahwa
suhu rektal pada sore hari (39,46-39,71 °C) lebih tinggi dibandingkan suhu rektal
pada pagi hari (39,02-39,40 °C).
34 100

32 90
Suhu Lingkungan ( 0C)
80

Kelembaban (%)
30
70
28 Pagi hari Pagi hari
60
26 Sore hari Sore hari
50
24
40
22 30
20 20
1 6 11 16 21 26 31 1 6 11 16 21 26 31
Hari Pemeliharaan ke- Hari Pemeliharaan ke-

(a) (b)
Gambar 6. Suhu dan Kelembaban Lingkungan dalam Kandang Pedet Selama
Penelitian

Perubahan suhu rektal menggambarkan termoregulasi tubuh ternak dalam


mengatur pelepasan energi berlebih. Termoregulasi adalah proses yang terjadi pada
ternak untuk mengatur suhu tubuh supaya tetap konstan atau berada dalam kisaran
yang memungkinkan metabolisme optimum. Mekanisme termoregulasi yang
dilakukan ternak adalah mengatur keseimbangan antara perolehan dan kehilangan
atau pelepasan panas.
Suhu rektal pada pedet perlakuan inokulasi lebih rendah dibandingkan pedet
perlakuan kontrol. Suhu rektal pada pagi hari berbeda nyata (P<0,05), sedangkan
suhu rektal pada sore hari tidak berbeda nyata antar perlakuan. Hal tersebut
menunjukkan bahwa inokulasi bakteri pencerna serat berpotensi membantu pedet
dalam termoregulasi sehingga dapat meningkatkan kemampuannya beradaptasi
terhadap lingkungan dengan baik.

Suhu rektal pedet kontrol dan inokulasi bakteri pencerna serat pada pagi hari
berbanding lurus dengan suhu lingkungan pada pagi hari. Suhu rektal pedet dan suhu
lingkungan pada pagi hari mempunyai hubungan yang erat. Hal ini dapat dilihat pada
Gambar 7. Suhu rektal pedet perlakuan kontrol pada sore hari berbanding terbalik
dengan suhu lingkungan pada sore hari, namun suhu rektal pedet perlakuan inokulasi
pada sore hari berbanding lurus dengan suhu lingkungan pada sore hari. Suhu rektal
pedet dan suhu lingkungan pada sore hari mempunyai hubungan yang lebih rendah
seperti dapat dilihat pada Gambar 8. Perbedaan tersebut menggambarkan bahwa pada
sore hari pedet cenderung mempertahankan suhu tubuhnya dibandingkan dengan
suhu rektal pagi hari.
Gambar 7. Korelasi Suhu Rektal dan Suhu Lingkungan pada Pagi Hari

Gambar 8. Korelasi Suhu Rektal dan Suhu Lingkungan pada Sore Hari

Pertambahan Bobot Badan (PBB) Pedet


Menurut Parakkasi (1999), ukuran tubuh atau bobot badan ternak dapat
dipengaruhi oleh penggunaan nutrien atau konsumsi ransum. Rataan bobot badan
(BB) dan pertambahan bobot badan (PBB) pedet dapat dilihat pada Tabel 6. Rataan
bobot badan awal dan PBB antar perlakuan tidak berbeda nyata, namun bobot badan
akhir nyata (P<0,05) lebih besar pada pedet yang mendapat inokulasi bakteri
pencerna serat. Bobot badan awal pedet perlakuan kontrol sebesar 35,20 kg dan
perlakuan inokulasi sebesar 40,00 kg. Bobot badan akhir pedet perlakuan kontrol
sebesar 39,00 kg dan perlakuan inokulasi sebesar 48,25 kg.
Tabel 6. Rataan Bobot Badan (BB) dan Pertambahan Bobot Badan (PBB)
Perlakuan
Peubah
Kontrol (P1) Inokulasi (P2)
BB Awal (kg) 35,20±5,07 40,00±4,97
BB Akhir (kg) 39,00±5,15a 48,25±6,08b
PBB (g/ekor/hari) 108,57±107,67 235,71±58,90
Keterangan: Superskrip pada baris yang sama, menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05)

Pertambahan bobot badan pedet perlakuan kontrol dan perlakuan inokulasi


adalah 109 dan 236 (g/hari). Tidak terdapat perbedaan pertambahan bobot badan
yang nyata antara pedet yang diinokulasi dengan pedet kontrol. Variasi pertumbuhan
pedet kontrol sangat tinggi dan variasi pertambahan bobot badan menurun pada
kelompok pedet dengan inokulasi bakteri pencerna serat. Kondisi tersebut
menunjukkan bahwa inokulasi bakteri pencerna serat berpotensi meningkatkan dan
menyeragamkan pertambahan bobot badan pedet. Perkembangan bobot badan pedet
selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Perkembangan Bobot Badan Pedet tanpa atau dengan Inokulasi Isolat
Bakteri Pencerna Serat Selama Penelitian

Ukuran Tubuh Pedet


Pertumbuhan adalah pertambahan bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh
sesuai dengan bertambahnya umur (Rakhmanto, 2009). Pada minggu pertama setelah
kelahiran, pedet memerlukan penyesuaian diri dalam fungsi faali, sehingga perlu
perhatian peternak supaya dapat hidup dan tumbuh sempurna. Ukuran tubuh
merupakan indikator pertumbuhan dan dapat dijadikan kriteria dalam pemilihan
pedet calon induk. Jika pedet tersebut mempunyai performa pertumbuhan yang baik,
maka dapat dijadikan bibit pengganti induk (replacement stock).
Lingkar dada merupakan ukuran tubuh yang sering digunakan untuk
menduga bobot badan ternak (Diwyanto, 1982). Lingkar perut merupakan salah satu
komponen ukuran tubuh yang dapat digunakan untuk mengetahui pertumbuhan
ternak. Pengukuran lingkar perut dilakukan sebelum pemberian pakan atau minum,
sehingga perut pedet berada pada kondisi sebenarnya.

Tabel 7. Rataan Ukuran Tubuh Pedet tanpa atau dengan Inokulasi Isolat Bakteri
Pencerna Serat
Perlakuan
Peubah
Kontrol (P1) Inokulasi (P2)
Lingkar Dada (cm) 82,60 ± 4,20 85,50 ± 3,39
Pertambahan (cm/minggu) 0,70 ± 1,36 1,50 ± 0,61
a
Lingkar Perut (cm) 85,80 ± 3,55 92,19 ± 3,68b
Pertambahan (cm/minggu) 0,90 ± 1,35a 3,16 ± 0,76b
Panjang Badan (cm) 58,70 ± 3,71 60,50 ± 2,48
Pertambahan (cm/minggu) 1,55 ± 0,50 1,50 ±0,20
Tinggi Badan (cm) 75,65 ± 3,27 78,38 ± 1,84
Pertambahan (cm/minggu) 1,43 ± 0,23 1,06 ± 0,63
Dalam Dada (cm) 31,90 ± 3,15 33,50 ± 1,68
Pertambahan (cm/minggu) 1,05 ± 0,82 1,25 ± 0,61
Lebar Dada (cm) 18,90 ± 1,39 19,25 ± 1,26
Pertambahan (cm/minggu) -0,05 ± 0,21 0,00 ± 0,00
Keterangan: Superskrip pada baris yang sama, menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05)

Rataan ukuran tubuh pedet dapat dilihat pada Tabel 7. Ukuran tubuh antar
perlakuan tidak menunjukan perbedaan yang nyata, namun pada lingkar perut pedet
yang mendapat inokulasi bakteri pencerna serat lebih besar dibandingkan kelompok
pedet kontrol. Hal tersebut diduga terkait dengan konsumsi bahan kering yang
cenderung lebih tinggi pada pedet yang mendapat inokulasi bakteri pencerna serat.
Ukuran tubuh pedet yang meliputi lingkar dada, lingkar perut, panjang badan, tinggi
badan, dalam dada, dan lebar dada pada pedet perlakuan inokulasi secara umum
cenderung lebih tinggi dibandingkan pedet kontrol. Hal ini terkait dengan
pertambahan bobot badan yang cenderung lebih besar pada kelompok pedet yang
mendapat inokulasi bakteri pencerna serat dibandingkan dengan kelompok pedet
kontrol. Hal tersebut juga mengindikasikan bahwa inokulasi bakteri pencerna serat
dapat meningkatkan ukuran tubuh pedet.
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Inokulasi bakteri pencerna serat yang berasal dari rumen kerbau berpotensi
memperbaiki kondisi fisiologis dan mendorong peningkatan konsumsi nutrien,
pertambahan bobot badan, ukuran tubuh, dan peningkatan kemampuan pedet
beradaptasi dengan lingkungan.

Saran
Inokulasi isolat bakteri pencerna serat pada dosis yang lebih tinggi
diperkirakan dapat memperbaiki status fisiologis pedet periode prasapih.
UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillahirabbil’aalamiin.
Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala
nikmat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan
penulisan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi
Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya hingga akhir
zaman.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada Prof. Dr. Ir. Toto Toharmat, MAgrSc. sebagai pembimbing utama
dan pembimbing akademik serta Dr. Ir. Dwierra Evvyernie Amirroenas, MS., MSc.
sebagai pembimbing anggota yang telah meluangkan banyak waktu untuk
memberikan masukan, pengarahan, bimbingan, saran, nasihat dan semangat selama
penulis menuntut ilmu di Fakultas Peternakan IPB.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada kedua orang tua
tercinta yaitu Ayahanda A. H. Hidayat (alm.) dan Ibunda Sri Hayati atas perhatian,
kasih sayang, doa, dan dukungan, baik secara spiritual maupun material yang telah
diberikan kepada penulis selama ini. Semoga penulis dapat memenuhi harapan, bisa
dibanggakan, memberikan yang terbaik, dan selalu berbakti kepada kedua orang tua.
Serta kakak ku Hayatun, Aryanto, dan Yusron Ni’am atas segala bentuk dukungan
dan kasih sayang yang telah diberikan.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Iwan Prihantoro, S.Pt,
M.Si. dan Ibu Dian Anggraeni yang telah banyak membantu dalam proses penelitian,
memberikan pengetahuan selama penulis melakukan penelitian, membantu penulis
dalam melakukan analisis di laboratorium dan penyelesaian tugas akhir ini. Penulis
mengucapkan terima kasih kepada Kak Ristia, Kak Arif, dan Kak Fahmul yang telah
membantu dalam penelitian.
Terima kasih kepada TEMPE (Team Pedet), yaitu: Desra Chairunisa
Sihombing, Ayu Puspitasari, Nurlita Rahayu, dan Ninuk Sri Yunitasari atas bantuan
kerjasama, pengertian, dan telah bersedia melakukan penelitian bersama di kandang
sebagai satu tim yang solid, serta telah membantu penulis dalam menyelesaikan
tugas akhir ini.
Terima kasih kepada Rizkinia Gunarsih dan Ina Winaningsih yang telah
membantu penelitian dalam menumbuhkan bakteri untuk pembuatan probiotik.
Terima kasih kepada Rolis Perdhanayuda dan Muhamad Lukmannulhakim yang
telah membantu, memberikan saran-saran, senasib sepenanggungan dalam suka
duka, dan membangkitkan motivasi. Terima kasih kepada Ari Sukma Kinanti yang
telah mengajarkan keceriaan, kesabaran, dan sifat tulus ikhlas, jasa kalian sangat
berarti.
Terima kasih kepada pemilik dan pengelola kosan yang telah mengajarkan
keluar dari “zona nyaman”, kesabaran, keikhlasan, dan telah mengizinkan untuk
menetap di kosan tersebut. Semoga diberikan hidayah dan amal kebaikan beliau
mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Amiin.
Terima kasih kepada seluruh keluarga IKC IPB, personil INTP 43, teman
kosan Al Izzah B, dan dosen serta civitas akademika Fapet IPB yang tidak dapat
disebutkan satu persatu karena kebersamaannya, persaudaraan, bimbingan, nasihat,
dan ilmu yang diberikan. Semoga sukses bahagia dunia akhirat. Amiin.
Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan pembaca umumnya.

Bogor, Januari 2011

Penulis
DAFTAR PUSTAKA

Amin, M. 1997. Pengaruh penggunaan probiotik Saccharomyces cerevisiae dan


Aspergillus oryzae dalam ransum pada populasi mikroba, aktivitas fermentasi
rumen, kecernaan, dan pertumbuhan sapi perah dara. Tesis. Sekolah
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Arora, S. P. 1989. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Terjemahan : Retno


Muwarni. Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

Astuti, R. 2010. Isolasi dan seleksi bakteri pencerna serat asal rumen kerbau
berdasarkan pertumbuhannya pada berbagai pakan sumber serat. Skripsi.
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Choliq, C. 1992. Studi gambaran kimia darah dan hemogram sederhana dari anak
sapi penderita diare. Tesis. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor,
Bogor.

Cullison, A. E., R. S. Lowrey, & T. W. Perry. 2003. Feeds and Feeding. 6th ed.
Pearson Education, Inc. Upper Saddle River, New York.

Diwyanto, K. 1982. Pengamatan fenotip domba priangan serta hubungan antara


beberapa ukuran tubuh dengan bobot badan. Tesis. Sekolah Pascasarjana,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Terjemahan: B. Srigandono &


K. Praseno. Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

Gayatri, I. 2010. Kemampuan isolat bakteri asal rumen kerbau dalam mencerna
komponen serat. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor,
Bogor.

Hallberg, L. 1988. Besi. Dalam: R. E. Olson (Editor). Pengetahuan Gizi Mutakhir


Mineral. Terjemahan: Present knowledge in Nutrition. Gramedia, Jakarta.

Isnaeni, W. 2006. Fisiologi Hewan. Kanisius, Yogyakarta.

Jones, C. M. & A. J. Heinrichs. 2007. Early Weaning Strategies. The Pennsylvania


State University, Pennsylvania. http://www.das.psu.edu/research-
extension/dairy/nutrition/pdf/earlywean07117.pdf/?searchterm=early%20wea
ning%20strategies. [8 Oktober 2010].

Lawrence, T. L. J. & V. R. Fowler. 2002. Growth of Farm Animals. 2 nd ed. CABI


Publishing. CABI International, Wallingford, Oxon Ox 10 8de, UK.

National Research Council. 2001. Nutrient Requirements of Dairy Cattle: 7th Revised
Edition National Academy Press, Washington.

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Universitas


Indonesia Press, Jakarta.
Piliang, W. G. & S. Djojosoebagio. 2006. Fisiologi Nutrisi, Volume II. Institut
Pertanian Bogor Press, Bogor.

Rakhmanto, F. 2009. Pertambahan ukuran tubuh dan bobot badan pedet sapi FH
jantan lepas sapih yang diberi ransum bersuplemen biomineral cairan rumen.
Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Restz, L. L., Smith W. H., & Plumlee M. P. 1960. A simple wet oxidation procedure
for biological material. Animal Science Departement, Purdue University,
West La Fayeetee. Animal Chemistry Vol 32:1728.

Roy, J. H. B. 1980. The Calf, Studies in Agriculture and Food Science. 4 th ed.
Butterworths, London.

Sakinah, D. 2005. Kajian suplementasi probiotik bermineral terhadap produksi VFA,


NH3 dan kecernaan zat makanan pada domba. Skripsi. Fakultas Peternakan,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Salisbury, G. W. & N. L. Van Demark. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi


Buatan pada Sapi. Terjemahan: R. Djanuar. Universitas Gadjah Mada Press,
Yogyakarta.

Siti, N. W. 1996. Pengaruh ragi tape sebagai sumber probiotik pada kecernaan
ransum, aktivitas fermentasi dan populasi mikroba rumen kerbau. Tesis.
Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Smith, J. B. & S. Mangkoewidjojo. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan, dan


Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Universitas Indonesia Press,
Jakarta.

Steel, R. G. D. & J. H. Torrie. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika. Suatu


Pendekatan Biometrik. Terjemahan: B. Sumantri. Gramedia, Jakarta.

Swenson, M. J. & W. O. Reece. 1993. Dukes’ Physiology of Domestic Animals, 11 th


ed. Comstock Publishing Associates a Division of Cornell University Press,
Ithaca and London.

Underwood, E. J. & N. F. Suttle. 1999. The Mineral Nutrition of Livestock 3 rd ed.


CABI Publishing, New York.

Ungerer, T. 1985. Study faal tentang produktivitas sapi perah dalam kondisi
lingkungan panas. Laporan Penelitian. Direktorat Pembinaan Penelitian dan
Pengabdian pada Masyarakat. Dirjen Pendidikan Tinggi, Jakarta.

Williamson, F. G. & W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis.


Terjemahan: S. D. Darmadja. Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil Uji-t Konsumsi Susu dan Calf Starter
Peubah thitung t0,05 t0,01 Kesimpulan
Konsumsi Starter (BS) 2,07 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Konsumsi Susu (BS) 0 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Konsumsi Total (BS) 2,11 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Konsumsi Starter (BK) 2,11 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Konsumsi Susu (BK) 0 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Konsumsi Total (BK) 2,11 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata

Lampiran 2. Hasil Uji-t Konsumsi Co Pakan dan Kandungan Co Darah


Peubah thitung t0,05 t0,01 Kesimpulan
Konsumsi Co Pakan 2,11 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Kandungan Co Darah 0,19 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata

Lampiran 3. Hasil Uji-t Nilai Profil Darah Pedet


Peubah thitung t0,05 t0,01 Kesimpulan
BDM 0,93 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Hematokrit 1,39 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Hemoglobin 1,28 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata

Lampiran 4. Hasil Uji-t Denyut Jantung, Respirasi, dan Suhu Rektal Pedet
Peubah thitung t0,05 t0,01 Kesimpulan

Denyut Jantung Pagi 0,76 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata

Denyut Jantung Sore 2,24 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata

Respirasi Pagi 2,54 2,36 3,50 Beda Nyata


Respirasi Sore 3,41 2,36 3,50 Beda Nyata
Suhu Rektal Pagi 2,52 2,36 3,50 Beda Nyata
Suhu Rektal Sore 1,32 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Lampiran 5. Hasil Uji-t Bobot Badan (BB) dan Pertambahan Bobot Badan (PBB)
Peubah thitung t0,05 t0,01 Kesimpulan
BB Awal 1,42 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
BB Akhir 2,48 2,36 3,50 Beda Nyata
PBB 2,10 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata

Lampiran 6. Hasil Uji-t Ukuran Tubuh Pedet


Peubah thitung t0,05 t0,01 Kesimpulan
Lingkar Dada 1,12 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Pertambahan 1,08 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Lingkar Perut 2,64 2,36 3,50 Beda Nyata
Pertambahan 2,96 2,36 3,50 Beda Nyata
Panjang Badan 0,83 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Pertambahan 0,18 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Tinggi Badan 1,48 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Pertambahan 1,22 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Dalam Dada 0,91 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Pertambahan 0,40 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Lebar Dada 0,39 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata
Pertambahan 0,47 2,36 3,50 Tidak Beda Nyata

Keterangan: thitung = nilai t yang diperoleh dari hasil pengolahan data


t0,05 = hasil pengolahan data dengan taraf kesalahan sebesar
5%(α=0,05)
t0,01 = hasil pengolahan data dengan taraf kesalahan sebesar
1%(α=0,01)
t hitung > t tabel baik pada taraf nyata 5% maupun 1%, sehingga
terdapat perbedaaan yang nyata antara pedet yang diberi
inokulasi dengan kontrol