Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pernyataan Masalah


Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari reaksi
transesterifikasi dan esterifikasi minyak atau lemak dan metanol dengan bantuan
kalis asam atau basa. Biodiesel biasanya digunakan untuk mengantikan bahan
bakar solar atau diesel. Pada pembuatan biodiesel selain rasio mol variasi suhu
juga sangat mempengaruhi produk yang dihasilkan. Perubahan suhu
menyebabkan gerakan molekul menjadi lebih cepat dimana tumbukan atara
molekul pereaksi meningkat atau energi yang dimiliki molekul bisa mengatasi
energi aktivasi. Selain proses pembuatan biodiesel, kadar asam lemak bebas juga
harus diketahui, dimana untuk mengetahui kadar ALB minyak goreng sebelum
digunakan harus dititrasi terlebih dahulu dengan larutan standar KOH. Larutan
standar KOH yang digunakan harus baru tidak boleh larutan standar yamg sudah
lama disimpan, dikhawatirkan larutan telah terkontaminasi oleh udara sekitar
yang nantinya akan mempengaruhi jumlah ALB yng diperoleh.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh rasio mol
antara minyak dan metanol pada proses pembuatan metil ester asam lemak serta yield
yang dihasilkan.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Biodiesel
Menurut Hikmah dan Zuliyana (2010), biodiesel merupakan monoalkil ester
dari asam-asam lemak rantai panjang yang terkandung dalam minyak nabati atau
lemak hewani untuk digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel. Biodiesel dapat
diperoleh melalui reaksi transesterikasi trigliserida dan atau reaksi esterifikasi
asam lemak bebas tergantung dari kualitas minyak nabati yang digunakan sebagai
bahan baku. Berdasarkan kandungan FFA dalam minyak nabati maka proses
pembuatan biodiesel secara komersial dibedakan menjadi 2 yaitu esterifikasi dan
transesterifikasi

2.1.1 Esterifikasi
Esterifikasi adalah konversi dari asam lemak bebas menjadi ester.
Esterifikasi mereaksikan minyak lemak dengan alkohol. Katalis-katalis yang
cocok adalah zat berkarakter asam kuat merupakan katalis-katalis yang biasa
dipakai dalam industri. Reaktan metanol harus ditambahkan dalam jumlah yang
sangat berlebih dan air sebagai produk samping reaksi disingkirkan dari fasa
reaksi, yaitu fasa minyak. Melalui kombinasi-kombinasi yang tepat dari kondisi-
kondisi reaksi dan metode penyingkiran air, konversi sempurna asam-asam lemak
ke ester metilnya membutuhkan dalam waktu 1 jam (Listiadi dan Putra, 2013).
Reaksi esterifikasi terlihat pada Gambar 1.

Asam Lemak Alkohol Ester Air

Gambar 2.1 Reaksi Esterifikasi


2.1.2 Transesterifikasi
Methyl ester (biodiesel) dari minyak dapat dihasilkan melalui proses
transesterifikasi, yaitu dengan cara gliserin dikeluarkan dari minyak dan asam
lemak bebas direaksikan dengan alkohol (misalnya methanol) menjadi alkohol
ester (Fatty Acid Methyl Ester/FAME), atau biodiesel. Methanol lebih umum
digunakan untuk proses transesterifikasi karena harganya lebih murah dan lebih
mudah untuk di recovery. Transesterifikasi merupakan suatu reaksi
kesetimbangan. Reaksi didorong supaya bergerak ke kanan sehingga dihasilkan
methyl ester (biodiesel) maka perlu digunakan alkohol dalam jumlah berlebih atau
salah satu produk yang dihasilkan harus dipisahkan (Yuniwati dan Karim, 2009).
Transesterifikasi (reaksi alkoholis) adalah lemak atau minyak nabati direaksikan
dengan alkohol yang akan menghasilkan ester dan gliserol sebagai produk
samping dengan bantuan katalis basa. Katalis digunakan untuk meningkatkan laju
reaksi dan jumlah produk (Listiadi dan Putra, 2013). Metanol ataupun etanol
merupakan alkohol yang umumnya digunakan. Reaksi ini cenderung lebih cepat
menghasilkan metil ester daripada reaksi esterifikasi dengan bantuan katalis asam.
Namun, penggunaan bahan baku pada reaksi transesterifikasi harus mempunyai
angka asam lemak bebas yang kecil (< 2%) untuk menghindari pembentukan
sabun (Pristiyani, 2015). Reaksi transesterifikasi terlihat pada Gambar 2.2

Gambar 2.2 Reaksi Transesterifikasi


Reaksi transesterifikasi sebenarnya berlangsung dalam 3 tahap yaitu sebagai
berikut:
1) Pada tahap pertama, penyerangan ikatan karbonil pada trigliserida oleh
anion dari alkohol dan membentuk zat antara tetrahedral.
2) Pada tahap kedua, zat antara tetrahedral bereaksi dengan alkohol dan
terbentuk anion dari alkohol.
3) Pada tahap akhir, zat antara tetrahedral mengalami transfer proton
sehingga terbentuk ester dan alkohol. Pada reaksi transesterifikasi yang
menggunakan katalis - katalis alkali, bilangan asam dari minyak nabati
yang digunakan harus kurang dari satu. Jika bilangan asamnya lebih dari
satu, maka minyak nabati yang harus dinetralisir terlebih dahulu dengan
menambahkan jumlah alkali sehingga basa yang digunakan dapat
berfungsi sebagai katalis dan penetralisir asam. Bilangan asam yang
tinggi disebabkan oleh adanya kandungan asam lemak bebas pada
minyak nabati (Susilowati, 2006).
2.2 Spesifikasi Biodiesel
Spesifikasi biodiesel yang akan dicampur harus sesuai dengan standar yang
telah ditatapkan karena standar tersebut dapat memastikan bahwa biodiesel yang
dihasilkan dari reaksi pemrosesan bahan baku minyak nabati sempurna yaitu
bebas gliserol, katalis, alkohol, dan asam lemak bebas (Boedoyo, 2006).
Berdasarkan Badan Standarisasi Nasional (BSN, 2015) melalui Standar Nasional
Indonesia syarat mutu biodiesel seperti terlihat pada Tabel 2.1
Tabel 2.1 Syarat mutu biodiesel
No Parameter uji Satuan, min/maks Persyaratan
1 Massa jenis pada 40 °C kg/m3 850 – 890
2 Viskositas kinematik pada 40 °C mm2/s (cSt) 2,3 – 6,0
3 Angka setana min 51
4 Titik nyala (mangkok tertutup) °C, min 100
5 Titik kabut °C, maks 18
8 Air dan sedimen %-volume, maks 0,05
9 Temperatur distilasi 90% °C, maks 360
10 Abu tersulfatkan %-massa, maks 0,02
11 Belerang mg/kg, maks 50
12 Fosfor mg/kg, maks 4
13 Angka asam mg-KOH/g, maks 0,5
14 Gliserol bebas %-massa, maks 0,02
15 Gliserol total %-massa, maks 0,24
(Sumber : SNI 7182:2015 syarat mutu biodiesel)
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Reaksi Pembuatan Biodiesel
Tahapan reaksi transesterifikasi pembuatan biodiesel selalu menginginkan
agar didapatkan produk biodiesel dengan jumlah yang maksimum. Beberapa
kondisi reaksi yang mempengaruhi konversi serta perolehan biodiesel melalui
transesterifikasi adalah sebagai berikut (Freedman et al, 1984 ):
1. Pengaruh air dan asam lemak bebas
Minyak nabati yang akan ditransesterifikasi harus memiliki angka asam yang
lebih kecil dari 1. Banyak peneliti yang menyarankan agar kandungan asam lemak
bebas lebih kecil dari 0.5% (<0.5%). Selain itu, semua bahan yang akan
digunakan harus bebas dari air. Karena air akan bereaksi dengan katalis, sehingga
jumlah katalis menjadi berkurang. Katalis harus terhindar dari kontak dengan
udara agar tidak mengalami reaksi dengan uap air dan karbon dioksida.
2. Pengaruh perbandingan molar alkohol dengan bahan mentah
Secara stoikiometri, jumlah alkohol yang dibutuhkan untuk reaksi adalah 3
mol untuk setiap 1 mol trigliserida untuk memperoleh 3 mol alkil ester dan 1 mol
gliserol. Perbandingan alkohol dengan minyak nabati 4,8:1 dapat menghasilkan
konversi 98% (Burt and Meuly, 1944). Secara umum ditunjukkan bahwa semakin
banyak jumlah alkohol yang digunakan, maka konversi yang diperoleh juga akan
semakin bertambah. Pada rasio molar 6:1, setelah 1 jam konversi yang dihasilkan
adalah 98-99%, sedangkan pada 3:1 adalah 74 – 89%. Nilai perbandingan yang
terbaik adalah 6:1 karena dapat memberikan konversi yang maksimum (Encinar et
al., 2005).
3. Pengaruh jenis alkohol
Pada rasio 6:1, metanol akan memberikan perolehan ester yang tertinggi
dibandingkan dengaan menggunakan etanol atau butanol.
4. Pengaruh jenis katalis
Alkali katalis (katalis basa) akan mempercepat reaksi transesterifikasi bila
dibandingkan dengan katalis asam. Katalis basa yang paling populer untuk reaksi
transesterifikasi adalah natrium hidroksida (NaOH), kalium hidroksida (KOH),
natrium metoksida (NaOCH3), dan kalium metoksida (KOCH3). Katalis sejati
bagi reaksi sebenarnya adalah ion metilat (metoksida). Reaksi transesterifikasi
akan menghasilkan konversi yang maksimum dengan jumlah katalis 0,5-1,5%-b
minyak nabati. Jumlah katalis yang efektif untuk reaksi adalah 0,5%-b minyak
nabati untuk natrium metoksida dan 1%-b minyak nabati untuk natrium
hidroksida.
5. Jenis minyak nabati
Perolehan metil ester akan lebih tinggi jika menggunakan minyak nabati
murni (refined) dibandingkan minyak kasar (crude). Namun apabila produk metil
ester akan digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel, cukup digunakan bahan
baku berupa minyak yang telah dihilangkan getahnya dan disaring.
6. Pengaruh temperatur
Reaksi transesterifikasi dapat dilakukan pada temperatur 30 - 65° C (titik
didih metanol sekitar 65° C). Semakin tinggi temperatur, konversi yang diperoleh
akan semakin tinggi untuk waktu yang lebih singkat.
7. Pengadukan
Pengadukan akan menambah frekuensi tumbukan antara molekul zat pereaksi
dengan zat yang bereaksi. Hal tersebut dapat mempercepat reaksi dan reaksi
terjadi secara sempurna. Semakin besar tumbukan maka semakin besar pula harga
konstanta laju reaksi. Dalam hal ini pengadukan sangat penting mengingat larutan
minyak-katalis metanol merupakan larutan yang immiscible. Sesuai dengan
persamaan Archenius :
k = A e(-Ea/RT)...................................................................................... (1)
dimana, :
T = Suhu absolut ( ºC)
R = Konstanta gas umum (cal/gmol ºK)
E = Tenaga aktivasi (cal/gmol)
A = Faktor tumbukan (t-1)
k = Konstanta laju reaksi (t-1)
8. Waktu Reaksi
Semakin lama waktu reaksi maka kemungkinan kontak antar zat semakin
besar sehingga akan menghasilkan konversi yang besar. Jika kesetimbangan
reaksi sudah tercapai maka dengan bertambahnya waktu reaksi tidak akan
menguntungkan karena tidak memperbesar hasil.
2.4 Metanol
Metanol juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau spiritus,
adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Metanol merupakan bentuk
alkohol paling sederhana. Pada keadaan atmosfer, metanol berbentuk cairan yang
ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan
bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). Metanol digunakan sebagai
bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan additif bagi
etanol industri. Metanol diproduksi secara alami oleh metabolisme anaerobik oleh
bakteri. Hasil proses tersebut adalah uap metanol (dalam jumlah kecil) di udara.
Setelah beberapa hari, uap metanol tersebut akan teroksidasi oleh oksigen dengan
bantuan sinar matahari menjadi karbondioksida dan air. Api dari metanol biasanya
tidak berwarna. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati bila berada dekat metanol
yang terbakar untuk mencegah cedera akibat api yang tak terlihat. Karena sifatnya
yang beracun, metanol sering digunakan sebagai bahan additif bagi pembuatan
alkohol untuk penggunaan industri. Penambahan racun ini akan menghindarkan
industri dari pajak yang dapat dikenakan karena etanol merupakan bahan utama
untuk minuman keras (minuman beralkohol). Metanol kadang juga disebut
sebagai wood alcohol karena ia dahulu merupakan produk samping dari distilasi
kayu. Saat ini metanol dihasilkan melului proses multi tahap. Secara singkat, gas
alam dan uap air dibakar dalam tungku untuk membentuk gas hidrogen dan
karbon monoksida, kemudian, gas hidrogen dan karbon monoksida ini bereaksi
dalam tekanan tinggi dengan bantuan katalis untuk menghasilkan metanol. Tahap
pembentukannya adalah endotermik dan tahap sintesisnya adalah eksotermik
(Hikmah, 2010)

2.4.1 Sifat - Sifat Metanol


Sifat – sifat fisik dan kimia metanol ditunjukkan pada tabel 2.2 berikut :
Tabel 2.2 Sifat – Sifat Fisika dan Kimia Metanol
Parameter Nilai
Massa molar 32.04 g/mol
Wujud cairan tidak berwarna
Specific gravity 0.7918
Titik leleh –97 °C, -142.9 °F (176 K)
Titik didih 64.7 °C, 148.4 °F (337.8 K)
Kelarutan dalam air sangat larut
Keasaman (pKa) ~ 15.5
Sumber : Perry, 1984

2.4.2 Kegunaan Metanol


Metanol digunakan secara terbatas dalam mesin pembakaran dalam,
dikarenakan metanol tidak mudah terbakar dibandingkan dengan bensin. Metanol
campuran merupakan bahan bakar dalam model radio kontrol. Salah satu
kelemahan metanol sebagai bahan bakar adalah sifat korosi terhadap beberapa
logam, termasuk aluminium. Ketika diproduksi dari kayu atau bahan oganik
lainnya, metanol organik tersebut merupakan bahan bakar terbarui yang dapat
menggantikan hidrokarbon. Namun mobil modern pun masih tidak bisa
menggunakan BA100 (100% bioalkohol) sebagai bahan bakar tanpa modifikasi.
Metanol juga digunakan sebagai solvent dan sebagai antifreeze, dan fluida
pencuci kaca depan mobil. Penggunaan metanol terbanyak adalah sebagai bahan
pembuat bahan kimia lainnya. Sekitar 40% metanol diubah menjadi
formaldehyde, dan kemudian dapat diturunkan menjadi berbagai macam produk
seperti plastik, polywood, cat, peledak, dan tekstil. Dalam beberapa pabrik
pengolahan air limbah, sejumlah kecil metanol digunakan ke air limbah sebagai
bahan makanan karbon untuk denitrifikasi bakteri, yang mengubah nitrat menjadi
nitrogen. Bahan bakar direct- methanol unik karena suhunya yang rendah dan
beroperasi pada tekanan atmosfer, ditambah lagi dengan penyimpanan dan
penanganan yang mudah dan aman (Hikmah, 2010)

2.5 NaOH
Natrium hidroksida (NaOH) juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium
hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium hidroksida terbentuk dari
oksida basa Natrium Oksida dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk
larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Natrium hidroksida
digunakan di berbagai macam bidang industri, kebanyakan digunakan sebagai
basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan
deterjen. Natrium hidroksida adalah basa yang paling umum digunakan dalam
laboratorium kimia. Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia
dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Natrium
hidroksida bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari
udara bebas. Natrium hidroksida sangat larut dalam air dan akan melepaskan
panas ketika dilarutkan. Natrium hidroksida juga larut dalam etanol dan metanol,
walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutan
KOH. Natrium hidroksida tidak larut dalam dietil eter dan pelarut nonpolar
lainnya. Larutan natrium hidroksida akan meninggalkan noda kuning pada kain
dan kertas (Hikmah, 2010). Sifat – sifat fisika dan kimia Natrium hidroksida
(NaOH) ditunjukkan pada tabel 2.3 berikut :
Tabel 2.3 Sifat – Sifat Fisika dan Kimia Metanol
Parameter Nilai
Massa molar 40 g/mol 32.04 g/mol
Wujud Zat padat putih tidak berwarna
Specific gravity 2,130 0.7918
Tiitik leleh 318,4 °C (591 K) –97 °C, -142.9 °F (176 K)
Titik didih 1390 °C (1663 K) 64.7 °C, 148.4 °F (337.8 K)
Kelarutan dalam air 111 g/100 ml (20 dalam air sangat larut
°C)
Kebasaan (pKb) -2,43 (pKa) ~ 15.5
Sumber : Perry, 1984
BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan – Bahan yang Digunakan


1. Minyak Goreng
2. Metanol
3. KOH Padat
4. Etanol 96%
5. Indikator PP
6. Vaselin
7. Akuades

1.2 Alat – Alat yang Digunakan


1. Reaktor Berpengaduk
2. Kondensor
3. Hot Plate
4. Statif dan Klep
5. Corong
6. Buret
7. Erlenmeyer
8. Gelas Kimia
9. Timbangan
10. Pipet tetes
11. Corong Pisah
12. Gelas Ukur
13. piknometer

3.3 Prosedur Praktikum


3.3.1 Menentukan Kadar ALB Bahan Baku
1. Minyak ditimbang sebanyak 3 gram. Kemudian dilarutkan dengan Etanol
96%.
2. Minyak yang dilarutkan dengan Etanol 96% kemudian dipanaskan dengan
menggunakan hot plate sampai mendidih.
3. Campuran diteteskan dengan indikator PP dan dititrasi dengan KOH
sampai terjadi perubahan warna merah muda.
4. Kadar ALB dihitung dengan menggunakan persamaan
𝑀𝑟 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 x 𝑁𝐾𝑂𝐻 x 𝑉 𝐾𝑂𝐻
% 𝐴𝐿𝐵 = x 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 x 1000

3.3.2 Proses Transesterifikasi


1. Reaktor tangki berpengaduk dirangkai.
2. 100 gram minyak dimasukkan kedalam reaktor tangki berpengaduk.
3. Pengaduk dihidupkan bersamaan dengan kondesor dan pemanasnnya.
4. Sebanyak 1gram KOH ditimbang dan dilarutkan dengan 50 ml Metanol.
5. Setelah suhu mencapai 70°C, campuran Metanol dengan Katalis
dimasukkan kedalam reaktor tangki berpengaduk dan secara bersamaan
stopwatch dihidupkan.
6. Suhu proses dijaga konstan pada suhu 70°C selama 60 menit.
7. Setelah proses selesai, hasil yang diperoleh dimasukkan kedalam corong
pemisah.
8. Hasil didiamkan sampai terbentuknya Gliserol dan Metil Ester.
9. Gliserol yang berada dilapisan bawah dipisahkan dari metil ester dan
dimasukkan kedalam erlenmeyer.
10. Gliserol yang diperoleh ditimbang.
11. Metil ester dicuci dengan akuades untuk menghilangkan pengotor
12. Metil ester yang telah dipisahkan dengan pengotornya ditimbang dan
hitung yield produk dengan menggunakan persamaan
𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘
% 𝑦𝑖𝑒𝑙𝑑 = x 100%
𝑟𝑒𝑎𝑘𝑡𝑎𝑛
13. Kadar ALB pada Metil ester tersebut dihitung.
14. Lakukan percobaan yang sama dengan variasi mol 1:5, 1:6, 1:7
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diperoleh hasil berupa data
yield dan kadar ALB untuk masing-masing rasio mol minyak terhadap metanol
yang dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Data Hasil Percobaan Reaksi Transesterifikasi dengan Variasi Rasio
Mol Minyak Terhadap Metanol
No Rasio mol Massa Massa ALB (%) Yield (%)
minyak:metanol Gliserol (gr) FAME (gr)
1 1:5 16,26 87,17 0,4886 37,872
2 1:6 12,16 88,12 0,3527 22,125
3 1:7 7,5 95,13 0,3665 16,331
Catatan : Suhu reaksi adalah 70°C dan waktu reaksi selama 1 jam
Berdasarkan perhitungan neraca massa yang telah dilakukan, didapatkan
hasil berupa data berat sisa reaktan dan katalis setelah reaksi berlangsung yang
dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Data Hasil Perhitungan Komponen Reaktan Sisa
Trigliserida (gr) Metanol (gr) Katalis KOH (gr)
Rasio mol Awal Sisa Awal Sisa Awal Sisa
No
minyak:metanol setelah setelah setelah
reaksi reaksi reaksi
1 1:5 100 34,2772 19,424 6,661 1 1
2 1:6 100 48,5207 23,3184 11,3147 1 1
3 1:7 100 57,6675 27,2 15,69 1 1

4.2 Pembahasan
Pada percobaan ini diamati pengaruh rasio mol minyak terhadap metanol
pada massa gliserol, massa FAME (biodiesel), kadar ALB dan yield yang
diperoleh. Sebelum pelaksanaan reaksi, dilakukan pengujian kadar asam lemak
bebas bahan baku yaitu minyak goreng kelapa sawit untuk mengetahui jenis
reaksi yang akan digunakan. Setelah dilakukan pengujian diperoleh kadar asam
lemak bebas minyak goreng kelapa sawit yaitu sebesar 0,289%. Maka reaksi yang
dilakukan yaitu reaksi transesterifikasi. Reaksi berlangsung selama 1 jam pada
suhu tetap yaitu 70 °C dan katalis KOH sebanyak 1 gram dengan variasi rasio mol
minyak terhadap metanol.
Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa semakin bertambahnya mol
metanol semakin menurun pula persen yield. Dari tabel 4.1 dapat dilihat jumlah
yield tertinggi terjadi pada percobaan dengan rasio mol minyak terhadap metanol
1:5 yaitu sebesar 37,873%. Hubungan rasio mol minyak terhadap metanol dengan
yield Gambar 4.1.
40

35

30

25
Yield (%)

20

15 y = -10.771x + 46.984
R² = 0.9336
10

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Rasio Mol Minyak terhadap Metanol

Gambar 4.1 Grafik Hubungan Rasio Mol Minyak terhadap Metanol dengan
Yield
Pada tabel 4.1 juga dapat dilihat bahwa semakin besar rasio mol minyak
terhadap metanol maka semakin banyak pula massa FAME yang dihasilkan. Hal
itu disebabkan reaksi transesterifikasi merupakan reaksi kesetimbangan, maka
dengan penggunaan mol metanol yang lebih besar dari stoikiometri dapat
menggeser kesetimbangan ke arah kanan yang berarti memperbesar konversi
biodiesel (Encinar et al, 2002). Peningkatan jumlah biodiesel yang diperoleh
menyebabkan penurunan jumlah gliserol. Massa gliserol semakin menurun seiring
dengan bertambahnya mol metanol. Hubungan rasio mol minyak terhadap
metanol dengan massa gliserol yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 4.2.
18
16

Massa Gliserol (gram)


14
12
10
8
y = -4.38x + 20.733
6 R² = 0.9986
4
2
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Rasio Mol Minyak terhadap Metanol

Gambar 4.2 Grafik Hubungan Rasio Mol Minyak terhadap Metanol dengan
Massa Gliserol
Pada tabel 4.1 juga dapat dilihat kadar asam lemak bebas biodiesel yang
diperoleh, dimana terjadi penurunan kadar ALB pada rasio mol minyak terhadap
metanol 1:6 yaitu dari 0,4886 % menjadi 0,3527 %. Namun kadar ALB
meningkat kembali pada rasio mol minyak terhadap metanol 1:7 yaitu menjadi
0,3665%. Perubahan yang tidak teratur tersebut menunjukkan bahwa variasi rasio
mol minyak terhadap metanol tidak berpengaruh terhadap kadar ALB yang
dihasilkan. Asam lemak bebas akan meningkat karena adanya proses hidrolisis,
dimana proses hidrolisis terjadi karena adanya air. Perubahan kadar ALB
biodiesel yang tidak teratur disebabkan karena proses pemisahan dan pencucian
biodiesel yang tidak sempurna. Hubungan rasio mol minyak terhadap metanol
dengan kadar asam lemak bebas dapat dilihat pada Gambar 4.2.

0.6
Kadar Asam Lemak Bebas

0.5
0.4
0.3
0.2 y = -0.0611x + 0.5247
R² = 0.6662
0.1
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Rasio Mol Minyak terhadap Metanol

Gambar 4.3 Grafik Hubungan Rasio Mol Minyak terhadap Metanol


dengan Kadar ALB
Pada tabel 4.2 dapat dilihat bahwa setelah reaksi selesai, masih terdapat
reaktan dan katalis yang bersisa. Jumlah reaktan yang bersisa yaitu trigliserida dan
metanol meningkat seiring dengan meningkatnya rasio mol minyak terhadap
metanol. Sedangkan katalis masih memiliki jumlah yang sama dengan jumlah
sebelum reaksi karena fungsi katalis hanya mempercepat keberlangsungan reaksi
namun tidak ikut bereaksi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Biodiesel dihasilkan dari hasil sintesis minyak goreng dan metanol dengan
bantuan katalis basa KOH melalui reaksi transesterifikasi.
2. Yield biodiesel menurun seiring dengan meningkatnya rasio mol minyak
terhadap metanol.
3. Yield terbesar diperoleh pada rasio mol minyak terhadap metanol 1:5 yaitu
sebesar 37,872 %.

5.2 Saran
1. Agar praktikan dapat menjaga suhu supaya tetap konstan.
2. Agar praktikan dapat melakukan pencucian biodiesel secara baik dan benar.