Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

FARMAKOGNOSI – II

KROMATOGRAFI KOLOM

OLEH :

KELOMPOK III

SRI WAHYUNI F.15.130


STACYA ELEONORA F.15.131
STEVIANA FRINCES E. P. F.15.132
SUCI F.15.133
SUCI RAHMAWATI F.15.134
SULHIJA WATI F.15.136
SURIA F.15.137
SURYANI F.15.138
SYAFRIZAL F.15.139
SYAMSINAR S F.15.140
ULFAYANI F.15.142
VIRA VEBRIYANTI F.15.143

DIPLOMA – III AKADEMI FARMASI BINA HUSADA


KENDARI
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas

limpahan rahmat dan karuniaNya, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah

Praktikum Farmakognosi yang membahas tentang “KROMATOGRAFI

KOLOM” tepat pada waktunya.

Makalah ini disusun untuk didiskusikan agar praktikum yang dilakukan

sejalan dengan teorinya yang dapat diterapkan pada proses praktikum. Kami

menyadari dalam penulisan dan penyusan makalah ini masih banyak kekurangan,

oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan

untuk memperbaiki makalah ini.

Demikian, semoga makalah ini dapat memberikan kita pengetahuan dan

manfaat, atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.

Kendari, 22 Desember 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................

DAFTAR ISI..............................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................
A. Latar Belakang....................................................................................................
B. Rumusan Masalah...............................................................................................
C. Tujuan penulisan.................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................

A. Pengertian Kromatgografi...................................................................................

B. Pengertian Kromatografi Kolom.........................................................................

C. Prinsip Kerja.......................................................................................................

D. Tehnik Pemisahan...............................................................................................

E. Metode Kromatografi Kolom..............................................................................

F. Keuntungan.........................................................................................................

G. Kerugian..............................................................................................................

BAB III PENUTUP..................................................................................................


A. Kesimpulan.........................................................................................................
B. Saran...................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kromatografi digunakan sebagai untuk memisahkan substansi

campuran menjadi komponen-komponennya, misalnya senyawa Flavonoida

dan isoflavonoida yang terdapat pada tahu, tempe, bubuk kedelai dan tauco

serta Scoparia dulcis, Lindernia anagalis, dan Torenia violacea. Yang pada

senyawa isoflavon memiliki banyak manfaat. Beberapa kelebihan senyawa

isoflavon yang potensial bagi kesehatan manusia, di antaranya adalah sebagai

antioksidan, antitumor/antikanker, antikolesterol , antivirus, antialergi, dan

dapat mencegah osteoporosis. Dan semua kromatografi bekerja berdasarkan

metode kromatografi.

Kromatografi juga merupakan pemisahan camuran senyawa menjadi

senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya. Untuk itu, kemurnian bahan

atau komposisi campuran dengan kandungan yang berbeda dapat dianalisis

dengan benar. Tidak hanya kontrol kualitas, analisis bahan makanan dan

lingkungan, tetapi juga kontrol dan optimasi reaksi kimia dan proses

berdasarkan penentuan analitik dari kuantitas material. Teknologi yang

penting untuk analisis dan pemisahan preparatif pada campuran bahan adalah

prinsip dasar kromatografi.

Pemisahan senyawa biasanya menggunakan beberapa tekhnik

kromatografi. Pemilihan teknik kromatografi sebagian besar bergantung pada

sifat kelarutan senyawa yang akan dipisahkan.


Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau

kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak

mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang

terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada

laju yang berbeda.

Dan dalam makalah ini kami akan membahas mengenai kromatografi

lapis tipis. Penjelasan tentang kromatografi lapis tipis mempunyai banyak

kesamaan dengan kromatografi kertas yang mungkin lebih dikenal

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan kromatografi kolom ?

2. Bagaiman prinsip kerja kormatografi kolom ?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kromatografi kolom.

2. Untuk mengetahui bagaiman prinsip kerja kormatografi kolom.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kromatografi

Kromatografi merupakan metode analisis campuran atau larutan

senyawa kimia dengan absorpsi memilih pada zat penyerap, zat cair dibiarkan

mengalir melalui kolom zat penyerap, misalnya kapur, alumina dan

semacamnya sehingga penyusunnya terpisah menurut bobot molekulnya,

mula-mula memang fraksi-fraksi dicirikan oleh warna-warnanya (Puspasari,

2010, hal: 159).

B. Pengertian Kromatografi Kolom

Kromatografi kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom

sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Alat

tersebut berupa pipa gelas yang dilengkapi suatu kran di bagian bawah kolom

untuk mengendalikan aliran zat cair (Yazid, 2005, hal: 198).

Kromatografi Kolom adalah proses pemisahan yang tergantung pada

perbedaan distribusi campuran komponen antara fase gerak dan fase diam.

Fase diam dapat berupa pembentukan kolom dimana fase gerak dibiarkan

untuk mengalir (kromatografi kolom) atau berupa pembentukan lapis tipis

dimana fase gerak dibiarkan untuk naik berdasarkan kapilaritas (kromatografi

lapis tipis). Perlu diperhatikan bahwa senyawa yang berbeda memiliki

koefisien partisi yang berbeda antara fase gerak dan diam. Senyawa yang

berinteraksi lemah dengan fase diam akan bergerak lebih cepat melalui sistem
kromatografi. Senyawa dengan interaksi yang kuat dengan fase diam akan

bergerak sangat lambat (Christian, 1994; Skoog, 1993).

C. Prinsip Kerja
Didasarkan pada absorbsi komponen-komponen campuran dengan

afinitas berbeda terhadap permukaan fase diam. Absorben bertindak sebagai

fase diamdan fase geraknya adalah cairan yang mengalir membawa

komponen campuran sepanjang kolom. Sampel yang mempunyai afinitas

besar terhadap absorben akan secara selektif bertahan dan afinitasnya paling

kecil akan mengikuti aliran pelarut.

D. Tehnik Pemisahan Kromatografi Kolom

Pemisahan kromatografi kolom adsorpsi didasarkan pada adsorpsi

komponen-komponen campuran dengan afinitas berbeda-beda terhadap

permukaan fase diam. Kromatografi kolom adsorpsi termasuk pada cara

pemisahan cair-padat. Substrat padat (adsorben) bertindak sebagai fase diam

yang sifatnya tidak larut dalam fase cair. Fase bergeraknya adalah cairan

(pelarut) yang mengalir membawa komponen campuran sepanjang kolom.

Pemisahan tergantung pada kesetimbangan yang terbentuk pada bidang

antarmuka di antara butiranbutiran adsorben dan fase bergerak serta kelarutan

relatif komponen pada fase bergeraknya. Antara molekul-molekul komponen

dan pelarut terjadi kompetisi untuk teradsorpsi pada permukaan adsorben

sehingga menimbulkan proses dinamis. Keduanya secara bergantian tertahan

beberapa saat di permukaan adsorben dan masuk kembali pada fase bergerak.
Pada saat teradsorpsi komponen dipaksa untuk berpindah oleh aliran fase

bergerak yang ditambahkan secara kontinyu. Akibatnya hanya komponen

yang mempunyai afinitas lebih besar terhadap adsorben akan secara selektif

tertahan. Komponen dengan afinitas paling kecil akan bergerak lebih cepat

mengikuti aliran pelarut (Yazid, 2005, hal: 199).

Teknik pemisahan kromatografi kolom dalam memisahkan campuran,

kolom yang telah dipilih sesuai ukuran diisi dengan bahan penyerap

(adsorben) seperti alumina dalam keadaan kering atau dibuat seperti bubur

dengan pelarut. Pengisian dilakukan dengan bantuan batang pemanpat

(pengaduk) untuk memanpatkan adsorben dengan gelas wool pada dasar

kolom. Pengisian harus dilakukan secara hati-hati dan sepadat mungkin agar

rata sehingga terhindar dari gelembung-gelembung udara. Untuk membantu

homogenitas pengepakan biasanya kolom setelah diisi divibrasi, diketok-

ketok atau dijatuhkan lemah pada pelat kayu. Sejumlah cuplikan dilarutkan

dalam sedikit pelarut, dituangkan melalui sebelah atas kolom dan dibiarkan

mengalir ke dalam adsorben. Komponen-komponen dalam campuran

diadsorpsi dari larutan secara kuantitatif oleh bahan penyerap berupa pita

sempit pada permukaan atas kolom, dengan penambahan pelarut (eluen)

secara terus-menerus, masing-masing komponen akan bergerak turun melalui

kolom dan pada bagian atas kolom akan terjadi kesetimbangan baru antara

bahan penyerap, komponen campuran dan eluen. Kesetimbangan dikatakan

tetap bila suatu komponen yang satu dengan lainnya bergerak ke bagian

bawah kolom dengan waktu atau kecepatan berbeda-beda sehingga terjadi


pemisahan. Jika kolom cukup panjang dan semua parameter pemisahan betul-

betul terpilih seperti diameter kolom, adsorben, pelarut dan kecepatan

alirannya, maka akan terbentuk pita-pita (zona-zona) yang setiap zona berisi

satu macam komponen. Setiap zona yang keluar dari kolom dapat ditampung

dengan sempurna sebelum zona yang lain keluar dari kolom. Komponen

(eluat) yang diperoleh dapat diteruskan untuk ditetapkan kadarnya, misalnya

dengan cara titrasi atau spektofotometri (Yazid, 2005, hal: 200 – 201).

Pemisahan komponen campuran melalui kromatografi adsorpsi

tergantung pada kesetimbangan adsorpsi-desorpsi antara senyawa yang

teradsorb pada permukaan dari fase diam padatan dan pelarut dalam fase cair.

Tingkat adsorpsi komponen tergantung pada polaritas molekul, aktivitas

adsorben, dan polaritas fase gerak cair. Umumnya, senyawa dengan gugus

fungsional lebih polar akan teradsorb lebih kuat pada permukaan fase

padatan. Aktivitas adsorben tergantung komposisi kimianya, ukuran partikel,

dan pori-pori partikel (Braithwaite and Smith, 1995).

E. Metode Kromatografi Kolom

Metode kromatografi kolom terbagi atas dua yaitu :

1. Metode kering

Pada metode kering kolom diisi dengan fase diam kering, diikuti

dengan penambahan fase gerak yang disiramkan pada kolom sampai

benar-benar basah (Rahayu, 2014).


2. Metode basah

Pada metode basah bubur (slurry) disiapkan dengan mencampurkan

eluen pada serbuk fase diam dan dimasukkan hati-hati pada kolom. Dalam

langkah ini harus benar-benar hati-hati agar tidak ada gelembung udara.

Larutan senyawa organik dipipet dibagian atas fase diam, kemudian eluen

dituangkan pelan-pelan melewati kolom (Rahayu, 2014).

F. Keuntungan

Keuntungan kromatografi kolom yaitu dapat digunakan untuk analisis

dan aplikasi preparatif, digunakan untuk menentukan jumlah komponen

campuran, digunakan untuk memisahkan daan purifikasi substansi (Rahman,

2009).

G. Kerugian

Kerugian kromatografi kolom yaitu untuk mempersiapkan kolom

dibutuhkan kemampuan tehnik dan manual, merode ini sangat membutuhkan

waktu yang lama (Time consuming) (Rahman, 2009).


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimulkan bahwa :

1. Kromatografi kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom

sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran.

Kromatografi Kolom adalah proses pemisahan yang tergantung pada

perbedaan distribusi campuran komponen antara fase gerak dan fase diam.

2. Didasarkan pada absorbsi komponen-komponen campuran dengan afinitas

berbeda terhadap permukaan fase diam. Absorben bertindak sebagai fase

diamdan fase geraknya adalah cairan yang mengalir membawa komponen

campuran sepanjang kolom. Sampel yang mempunyai afinitas besar

terhadap absorben akan secara selektif bertahan dan afinitasnya paling

kecil akan mengikuti aliran pelarut.

B. Saran

Diharapkan untuk mahasiswa agar lebih memahami materi tentang

kromatografi kolom agar dalam penerapannya tidak terdapat masalah ataupun

kendala yang dapat menghambat.


DAFTAR PUSTAKA

Rahman, A., 2009. Kromatografi Untuk Analisis Obat. Yogyakarta : Graha Ilmu

Sastrohamidjojo, H., 1991. Kromatografi. Yogyakarta : Liberty.

S. Syukri. 1999. Kimia Dasar. Bandung : ITB.

Anda mungkin juga menyukai