Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

Papiloma laring merupakan tumor jinak laring yang disebabkan oleh

Human Papilloma Virus (HPV).1 Tumor ini merupakan suatu tumor jinak pada

laring yang jarang terjadi yang disebabkan oleh HPV tipe 6 dan 11. Virus sebagai

etiologi papiloma laring pertama kali dibuktikan oleh Ullman pada tahun 1923

dan human papilloma virus (HPV) dideteksi pada tumor ini pada tahun 1982.2

Papiloma laring dapat berkembang pada semua umur, tetapi lebih sering

terjadi pada anak. Pada anak, kejadian papiloma laring hampir sama di antara laki-

laki dan perempuan. Pada dewasa, kejadian ini lebih sering terjadi pada laki-laki

dibandingkan pada perempuan.2 Penyakit ini juga dapat terjadi pada masa remaja

awal, hal ini menyebabkan perlunya dilakukan pemeriksaan laring pada setiap

pasien remaja dengan suara serak yang berlangsung selama lebih dari beberapa

minggu.3

Berdasarkan onsetnya, Papiloma Laring dibagi menjadi dua, yaitu

juvenile dan dewasa. Onset pada Juvenile papiloma laring muncul pada anak-anak

berusia kurang dari 5 tahun. Pada orang dewasa, biasanya muncul pada dekade

keempat. Papiloma laring tipe juvenile lebih sering dan pertumbuhannya lebih

agresif dari pada milik orang dewasa.1

Diagnosis papilomatosis laring ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala

klinik, pemeriksaan fisik THT lengkap meliputi laringoskopi indirek dengan kaca

laring, laringoskopi kaku dan serat optik, pemeriksaan mikrolaringoskopi dan

biopsi serta pemeriksaan patologi anatomik.2.4

1
Penatalaksanaan papiloma laring tidaklah mudah, meskipun merupakan

tumor jinak, papiloma mempunyai kecenderungan untuk residif, sekalipun

reseksinya tampak sudah sempurna dikerjakan.5 kadang-kadang dalam seminggu

sudah tampak papiloma yang tumbuh lagi.4 Papilomatosis laring memiliki tingkat

rekurensi yang tinggi, yaitu sekitar 70%.2

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. ANATOMI LARING

Laring merupakan bagian yang terbawah dari saluran napas bagian

atas. Bentuknya menyerupai limas segitiga terpancung, dengan bagian atas

lebih besar daripada bagian bawah.4

Laring terletak di dalam aspek anterior leher, di anterior sampai ke

bagian inferior faring dan bagian superior trakea. Fungsi utamanya adalah

untuk melindungi jalan napas bagian bawah dengan cara menutup saat ada

stimulasi mekanis, sehingga menghentikan proses respirasi dan mencegah

masuknya benda asing ke jalan napas. Fungsi lain dari laring adalah

memproduksi suara (fonasi), batuk, manuver valsava, dan kontrol ventilasi,

serta berperan sebagai organ sensorik.6

Batas atas laring adalah aditus laring, sedangkan batas bawahnya ialah

batas kaudal kartilago krikoid.4 Untuk tujuan deskriptif, laring dibagi menjadi

tiga bagian, yaitu glottis, supraglottis, dan subglottis.7 Glotis melibatkan pita

sura sampai 5-7 mm di bawah ligamentum vokal, sedangkan subglotis dari

bagian inferior glotis ke pinggir inferior kartilago krikoid, supraglottis

memanjang dari apex ventrikel laryngeal ke hyoid. Makanan dan saliva

dicegah masuk ke saluran pernapasan bagian bawah dengan gerakan

sphincterik dari pita suara asli dan pita suara palsu.7

3
Struktur kerangka laring terdiri dari satu tulang dan beberapa kartilago

yang berpasangan ataupun tidak, yaitu 3 kartilago besar yang tidak

berpasangan yakni krikoid, tiroid, dan epiglottis, 3 pasang kartilago yang lebih

kecil yaitu aritenoid, kornikulata, dan kuneiformis, serta terdiri dari otot-otot

ekstrinsik dan intrinsik.6

Kartilago krikoid melekat pada kartilago tiroidea lewat ligamentum

krikotiroideum. Tidak seperti struktur penyokong lainnya dari jalan

pernapasan, kartilago krikoidea berbentuk lingkaran penuh dan tak mampu

mengembang. Permukaan posterior atau lamina krikoidea cukup lebar,

sehingga kartilago ini tampak seperti signet ring.4,8

Terdapat 2 buah (sepasang) kartilago aritenoid yang terletak dekat

permukaan belakang laring, dan membentuk sendi dengan kartilago krikoid,

disebut artikulasi krikoaritenoid. Sepasang kartilago kornikulata (kiri dan

kanan) melekat pada kartilago aritenoid di daerah apeks, sedangkan sepasang

kartilago kuneiformis terdapat didalam lipatan ariepiglotik, dan kartilago

tritisea terletak di dalam ligamentum hiotiroid lateral.4

4
Gambar 1,2. Anatomi Laring

5
Otot-otot laring dapat dibagi dalam dua kelompok. Otot ekstrinsik

yang terutama bekerja pada laring secara keseluruhan, dan otot instrinsik yang

menyebabkan gerakan antara berbagai struktur-struktur laring sendiri yang

berhubungan dengan gerakan pita suara.4,8 Otot ekstrinsik dapat digolongkan

menurut fungsinya. Otot depressor atau otot-otot leher (omohioideus,

sternotiroideus, sternohioideus) berasal dari bagian inferior. Otot elevator

(milohioideus, geniohioideus, genioglosus, hioglosus, digastrikus dan

stilohioideus) meluas dari os hioideum ke mandibula, lidah dan prosesus

stiloideus pada kranium.8

Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus, yaitu nervus

laringis superior dan inferior. Kedua saraf merupakan campuran motorik dan

sensorik. Nervus laringis rekuren, cabang nervus vagus mempersarafi semua

otot laring, kecuali m.krikotiroideus, Nervus laringis superior mempersarafi

m.krikotiroid, sehingga memberikan sensasi pada mukosa laring di bawah pita

suara. Nervus laringis inferior merupakan lanjutan dari n.rekuren. Nervus

rekuren merupakan cabang dari nervus vagus.4

Nervus rekuren kanan akan menyilang a.subklavia kanan di bawahnya,

sedangkan n.rekuren kiri akan menyilang arkus aorta. Nervus laringis inferior

berjalan di antara cabang-cabang a.tiroid inferior, dan melalui permukaan

mediodorsal kelenjar tiroid akan sampai pada permukaan medial

m.krikofaring.4

6
Gambar 3. Sistem persarafan pada laring

Perdarahan untuk laring terdiri dari dua cabang, yaitu arteri laringis

superior dan arteri laringis inferior. Arteri laringis inferior cabang arteri tiroid

inferior. Arteri laringis superior merupakan cabang dari a.tiroid superior.

Arteri laringis superior berjalan agak mendatar melewati bagian belakang

membran tirohioid bersama-sama dengan cabang internus dari n.laringis

superior kemudian menembus membrane ini untuk berjalan ke bawah di

submukosa dari dinding lateral dan lantai dari sinus piriformis, untuk

memperdarahi mukosa dan otot-otot laring.4

Arteri laringis inferior merupakan cabang dari a.tiroid inferior dan

bersama-sama dengan n.laringis inferior berjalan ke belakang sendi

krikotiroid, masuk ke laring melalui daerah pinggir bawah dari m.konstriktor

faring inferior. Di dalam laring, arteri itu bercabang-cabang, memperdarahi

mukosa dan otot serta beranastomosis dengan a.laringis superior.4

7
Gambar 4. sistem pembuluh darah pada laring

Vena laringis superior dan vena laringis inferior letaknya sejajar dengan

a.laringis superior dan inferior dan kemudian bergabung dengan vena tiroid

superior dan inferior.4

B. HISTOLOGI LARING

Laring merupakan bagian yang menghubungkan faring dengan trakea.

Pada lamina propria laring terdapat tulang rawan hialin dan elastin yang

berfungsi sebagai katup yang mencegah masuknya makanan dan sebagai alat

penghasil suara pada fungsi fonasi. Epiglotis merupakan juluran dari tepian

laring, meluas ke faring dan memiliki permukaan lingual dan laringeal. Bagian

lingual dan apikal epiglotis ditutupi oleh epitel gepeng berlapis, sedangkan

permukaan laringeal ditutupi oleh epitel respirasi bertingkat bersilindris

bersilia. Di bawah epitel terdapat kelenjar campuran mukosa dan serosa.

Di bawah epiglotis, mukosanya membentuk dua lipatan yang meluas ke dalam

lumen laring: pasangan lipatan atas membentuk pita suara palsu (plika

8
vestibularis) yang terdiri dari epitel respirasi dan kelenjar serosa, serta di

lipatan bawah membentuk pita suara sejati yang terdiri dari epitel berlapis

gepeng, ligamentum vokalis (serat elastin) dan muskulus vokalis (otot

rangka).

Plika vokalis tersusun atas epitel skuamosa berlapis, membran basalis,

lamina propia dan otot tiroaritenoid. Lamina propia terdiri dari tiga lapisan

yaitu lapisan superfisial, lapisan intermedia dan lapisan profunda. Lapisan

superfisial lamina propia dikenal juga dengan ruang Reinke yang tersusun atas

jaringan ikat longgar sehingga menyebabkan lapisan ini lebih fleksibel dan

mudah bergerak. Lapisan intermedia dan profunda lamina propia bersama-

sama membentuk ligamen vokal.2

Gambar 5. Histologi Laring

9
C. FISIOLOGI LARING

Laring mempunyai bermacam-macam fungsi. Fungsi terpenting ialah

fungsi sfingter. Saluran napas yang terletak lebih rendah dilindungi oleh tiga

lipatan yang berhimpitan, yaitu epiglottis dengan plika ariepiglotika, pita suara

palsu, dan pita suara asli, sehingga menutup laring ketika menelan. Dengan

demikian, dapat dihindari terjadinya tersedak (aspirasi). Fungsi kedua ialah

menutup glotis, tekanan intratorakal dan intra-abdominal menjadi meningkat

pada waktu batuk, mengedan, dan kerja berat. Fungsi ketiga adalah fonasi.

Pada waktu fonasi, pita suara mendekat satu sama lain, tegang, dan bergetar

secara pasif oleh aliran udara ekspirasi, hal ini menghasilkan suara desah.

Kenyaringan suara tergantung pada kekuatan getaran pita suara. Peningkatan

kekuatan ekspirasi udara yang diekspirasikan dan kekuatan penutupan glotis

menghasilkan suara yang lebih nyaring. Tinggi nada suara ditentukan oleh

frekuensi getaran pita suara yang tergantung pada panjang, massa, dan

kekuatan. Pita suara yang panjang menghasilkan suara yang rendah.5

Fungsi laring dalam membantu proses menelan ialah dengan 3

mekanisme, yaitu gerakan laring bawah ke atas, menutup aditus laring dan

mendorong bolus makanan turun ke hipofaring dan tidak mungkin masuk ke

dalam laring. Laring juga mempunyai fungsi untuk mengekspresikan emosi,

seperti berteriak, mengeluh, menangis, dan lain-lain.4

D. DEFINISI DAN KLASIFIKASI

10
Papiloma laring atau yang biasa disebut Recurrent respiratory

papillomatosis (RRP) merupakan tumor jinak pada laring yang jarang terjadi.

Penyakit ini disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) tipe 6 dan 11,

jarang disebabkan oleh HPV tipe 16 ataupun 18. Virus ini biasanya didapatkan

melalui infeksi dari serviks ibu. Pasien dewasa yang menderita penyakit ini

umumnya menunjukkan gejala selama beberapa bulan atau lebih lama

sebelum penyakit ini terdeteksi. 7,9

Tumor ini dapat digolongkan dalam 2 jenis, yaitu:2,4

a. Juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis (JORRP) atau

Papiloma laring juvenile merupakan tumor jinak laring yang paling umum

terjadi pada anak. Diperkirakan bahwa anak-anak yang menderita penyakit

ini sejak lahir ditularkan oleh ibu yang mengalami infeksi HPV. Papiloma

Juvenil biasanya berupa lesi multipel dan mudah kambuh sehingga

membutuhkan eksisi yang berulang. Namun, papilomatosis tipe ini dapat

regresi secara spontan pada usia pubertas, bila tidak terdapat regresi dan

rekurensinya agresif maka dapat dicurigai terdapat perubahan lesi menjadi

ganas.

11
Gambar 6. Gambaran Papiloma laring Juvenile

b. Adult onset respiratory papillomatosis (AORRP) atau Papiloma laring

pada dewasa biasanya berbentuk tunggal dengan tingkat rekurensi yang

rendah, tetapi merupakan risiko prekanker.

12
Gambar 7. Gambaran Papiloma laring pada Dewasa

Secara histologis, papiloma laring tampak sebagai gambaran jaringan yang


berbentuk papil dengan jaringan ikat fibrovaskular dan epitel skuamosa
hiperplastik yang mengalami parakeratosis, akantosis dan koilositosis.2

Gambar 8. Proyeksi pada papiloma laring

13
Papiloma laring paling sering terjadi pada regio supraglotis dan glottis dari

laring, tapi juga dapat mengena region subglotis.4

Gambar 9. Papiloma Laring di regio supraglottis

Gambar 10. Papiloma Laring di regio glottis

14
Gambar 11. Papiloma Laring di regio subglottis

E. ETIOLOGI

Human papillomavirus (HPV) merupakan penyebab papiloma laring atau

yang biasa disebut Recurrent respiratory papillomatosis. Tujuh puluh tipe

HPV telah diidentifikasi, HPV tipe 6 dan 11 merupakan penyebab tumor ini

dan juga bertanggung jawab pada penyakit kutil genital. Human

papillomavirus (HPV) tipe 16 dan 18 lebih sering dikaitkan dengan kanker

pada area genital dan traktus aerodigestif atas pada anak-anak maupun

dewasa. Pada 20% kasus papiloma laring ditemukan HPV pada mukosa yang

normal.10

F. PATOLOGI

Transmisi dari Human papilloma virus (HPV) tidaklah jelas. Sebagian

besar penelitian menunjukkan bahwa pemaparan HPV pada Papiloma laring

juvenile terjadi selama proses persalinan normal oleh ibu dengan infeksi

genital HPV. Tetapi bagaimanapun, hal ini belum sepenuhnya dimengerti

karena tumor ini hanya terjadi pada beberapa kasus dengan persalinan ibu

dengan infeksi genital HPV.10

Untuk papilloma laring dewasa, kontak oro-anal ataupun orogenital

dianggap berperan dalam transmisi HPV. 10% laki-laki dan wanita yang aktif

secara seksual dan tidak terbukti secara klinis menderita penyakit infeksi

HPV, diidentifikasi di penis ataupun serviks dengan analisis hibridisasi

sothernblot, menunjukkan adanya infeksi laten.10

15
Mekanisme Virus

Begitu ditransmisikan ke jalan nafas, HPV akan terbentuk di lapisan basal

mukosa, di mana DNA virus memasuki sel dan menghasilkan asam

ribonukleat (RNA) untuk menghasilkan protein virus, serupa dengan

mekanisme replikasi virus lain. Tindakan ini memicu transformasi mukosa

menjadi papiloma.10

G. GEJALA DAN TANDA

Temuan klinis dari papiloma laring biasanya tidak spesifik, namun

perubahan pada suara bisa menjadi tanda.9 Papilomatosis laring memiliki

manifestasi klinis berupa suara serak yang progresif, stridor dan distress

respirasi. Dari penelitian yang dilakukan oleh Poenaru M, et al, gambaran

klinis yang sering ditemukan pada papilomatosis laring adalah suara serak

(95,65%), sensasi mengganjal di tenggorok (78,26%), batuk kronis (65,21%),

stridor (56,52%) dan dispnea (47,82%).2

Pasien dengan papiloma laring juvenille biasanya datang dengan tangisan

yang lemah, episode tersedak, suara serak, ataupun obstruksi jalan nafas.

Kebanyakan pasien datang dengan obstruksi jalan nafas dan sering salah

diagnosis sebagai asma, bronkitis kronis atau laringotrakeobronkitis.

Gambaran yang ditemukan berupa lesi multiple. Papiloma dapat menyebar ke

saluran pernapasan atas, hidung, dan nasofaring serta orofaring, dan

mengalami regresi pada waktu dewasa, bila tidak terdapat regresi pada waktu

16
dewasa dan rekurensinya agresif maka dapat dicurigai terpada perubahan lesi

jinak menjadi ganas.1,2,9

Sedangkan pada pasien papiloma laring dewasa, pasien datang dengan

keluhan suara serak, stridor, perubahan pada suara, sesak nafas, ataupun rasa

sensasi benda asing pada tenggorokan, biasanya terdapat hanya satu tumor

dengan ukuran yang lebih kecil, tidak agresif dan tidak muncul lagi setelah

pembedahan. Umumnya terjadi pada laki-laki (2:1) pada usia 30-50 tahun dan

biasanya timbul dari ½ anterior pita suara atau komissura anterior.9,11

H. DIAGNOSIS

Penegakan diagnosis papiloma berdasarkan anamnesis, gejala klinik,

pemeriksaan fisik THT lengkap, meliputi laringoskopi indirek dengan kaca

laring, laringoskop direct, analisis suara, biopsi serta pemeriksaan patologi

anatomik. Pemeriksaan penunjang lain dengan identifikasi HPV dapat

dilakukan dengan pemeriksaan imunohistokimia, isolasi DNA virus, teknik

hibridisasi in situ dan polymerase chain reaction (PCR).1,2,4

I. DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding untuk papilomatosis laring adalah lesi jinak lainnya

pada laring seperti nodul pita suara, polip, kista, inflamasi pada laring seperti

laringitis tuberkulosis dan karsinoma laring stadium awal.2

1. Nodul Pita Suara (vocal chord nodule).4

17
Kelainan ini biasanya disebabkan oleh penyalahgunaan suara dalam waktu

lama, seperti pada seorang guru, penyanyi dan sebagainya. Kelainan ini

juga disebut “singer’s node”.

Terdapat suara parau, kadang-kadang disertai batuk. Pada pemeriksaan

terdapat nodul di pita suara sebesar kacang hijau atau lebih kecil, berwarna

keputihan. Predileksi nodul terletak di sepertiga anterior pita suara dan

sepertiga medial. Nodul biasanya bilateral banyak dijumpai pada wanita

dewasa muda. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan laring tak

langsung/langsung.

Gambar 12. Nodul Pita suara

Untuk penanggulangan awal adalah istirahat bicara dan terapi suara (voice

Therapy). Tindakan bedah mikro laring dilakukan apabila ada kecurigaan

keganasan, atau lesi fibrotik.

2. Polip Pita Suara 4

Polip pita suara biasanya bertangkai. Lesi biasa terletak di sepertiga

anterior, sepertiga tengah bahkan seluruh pita suara. Lesi biasanya

unilateral, dapat terjadi pada segala usia umumnya orang dewasa.

Gejalanya sama seperti pada nodul yaitu suara parau.

18
Terdapat 2 jenis polip yaitu mukoid dan angiomatosa. Polip terjadi akibat

proses peradangan menahun dari lapisan subepitel. Faktor merokok dan

penggunaan suara berlebihan di duga turut berperan. Polip mukoid

berwarna keabu-abuan dan jernih sedangkan polip angiomatosa berwarna

merah tua karena perbedaan tingkat vaskularisasinya. Penatalaksanaan

standar adalah tindakan bedah mikro laring dan pemeriksaan patologi

anatomi.

Gambar 13. Polip pita suara

3. Kista Pita Suara 4

Kista pita suara pada umumnya termasuk kista retensi kelenjar liur

minor laring, terbentuk akibat tersumbantnya kelenjar tersebut. Faktor

iritasi kronis, refluks gastrointestinal dan infeksi di duga berperan

sebagai faktor predisposisi. Kista terletak didalam lamina propria

superfisialis, menempel pada membrane basal epitel atau ligamentum

vokalis. Ukurannya biasanya tidak besar sehingga jarang menyebabkan

19
sumbatan jalan napas atas. Gejala utama adalah suara parau.

Pengobatannya dengan tindakan bedah mikro laring.

Gambar 14. Kista Pita suara

4. Laringitis Tuberkulosis 4

Penyakit ini hampir selalu sebagai akibat tuberkulosis. Hal ini terjadi

karena struktur mukosa laring yang sangat lekat pada kartilago serta

vaskularisasi yang tidak sebaik paru, sehingga bila infeksi sudah

mengenai kartilago, pengobatannya lebih lama.

Tuberkulosis dapat menimbulkan gangguan sirkulasi. Edema dapat

timbul di fossa interraitenoid kemudian ke aritenoid, plika vokalis, plika

ventrikularis, epiglotis, serta terakhir ialah subglotik. Secara klinis

laringitis tuberkulosis terdiri dari 4 stadium yaitu: stadium infiltrasi,

stadium ulserasi,

stadium perikondritis

dan stadium pembentukan

tumor. Terapi untuk

laringitis tuberkulosis

ialah obat anti tuberkulosis primer dan sekunder serta istirahat suara.

20
Gambar 15. Laringitis TB, stadium ulserasi

5. Karsinoma Laring 5

Karsinoma sel skuamosa ialah tumor ganas laring yang paling banyak

terdapat. Karsinoma menyebar di permukaan selaput lendir maupun

menembus ke dalam. Ulserasi banyak terdapat. Pertumbuhan jaringan

tumor kedalam menyebabkan fiksasi pita suara. Kerangka tulang rawan

laring juga dapat terkena. Gejala terpenting pada karsinoma laring ialah

suara parau dan perubahan suara. Gejala klinik lain yang tampil

terlambat adalah rasa nyeri, terutama waktu menelan, akibat ulserasi di

epiglotis, rasa nyeri yang menyebar ke telinga karena kerusakan N.

laryngeus superior, nyeri setempat di laring akibat pertumbuhan tumor

masuk ke tulang rawan dan stridor akibat penyempitan lumen.

Penatalaksanaan tumor ganas laring biasanya ialah radioterapi atau

pembedahan. Pemilihannya di tentukan dari perluasan tumor,

aksesibilitas dari akibat penatalaksanaan, usia dan keadaan kesehatan

pasien.

21
Gambar 16. Karsinoma Laring

J. PENATALAKSANAAN

Tujuan terapi pada papilomatosis laring adalah untuk mempertahankan

jalan nafas dan kualitas suara. Namun, tidak ada terapi yang memuaskan

dalam pengobatan papilomatosis laring. Terapi papilomatosis laring meliputi

terapi operasi dan medikamentosa sebagai terapi adjuvan.2

Terapi operasi berupa ekstirpasi lesi dengan teknik mikrolaringoskopi

menggunakan forsep dan laser. Eksisi yang berulang direkomendasikan untuk

menghindari tindakan trakeotomi dan mempertahankan struktur dan fungsi

pita suara. Laser dapat membantu dalam mendestruksi jaringan secara tepat

dan menjaga hemostasis selama operasi serta dapat memperpanjang periode

bebas penyakit pada beberapa kasus. Burns, et al meneliti penggunaan laser

lainnya dengan menggunakan potassium-titanil-fosfat pada gelombang 532

nm sebagai terapi yang aman dan efektif untuk papilomatosis laring.2

22
Sehubungan dengan trakeostomi, literatur menunjukkan bahwa pada

pasien dapat meningkatkan terjadinya penyebaran saluran udara distal (yaitu

distal ke laring) papiloma. Kajian yang lebih baru menunjukkan bahwa pasien

yang memerlukan trakeostomi cenderung terjadi pada usia lebih muda dengan

penyakit yang lebih parah yang telah melibatkan jalan napas lebih distal.12

Setelah perawatan laser dan antivirus selama periode bertahun-tahun,

trakeostomi sering dapat disingkirkan dengan sukses, Oleh karena itu,

trakeostomi adalah pilihan yang wajar jika diperlukan karena penyumbatan

jalan nafas yang signifikan. Kebutuhan akan trakeostomi mungkin adalah

penanda penyakit yang lebih parah daripada penyebab distal yang

independen.12

Terapi adjuvan pada papilomatosis laring meliputi interferon, asam retinoat,

estrogen, indole-3-carbinol, terapi fotodinamik, cidofovir dan asiklovir.

Cidofovir intralesi adalah anti virus yang sering digunakan. Namun,

penggunaan cidofovir berpotensi dalam transformasi keganasan. Terapi

adjuvan diberikan bila pasien telah menjalani operasi lebih dari empat kali

dalam satu tahun, terdapat penyebaran penyakit ke lokasi yang lebih distal dan

atau pertumbuhan kembali lesi yang cepat disertai dengan gangguan pada

jalan nafas.2

Bentuk terapi lain seperti kemoterapi dan terapi hormonal belum dapat

dibuktikan tingkat keberhasilannya.2

K. PENCEGAHAN

23
Pencegahan infeksi HPV pada laring sulit dilakukan karena transmisi virus

yang belum diketahui secara pasti. Namun, vaksin dapat diberikan untuk

mencegah angka kekambuhan pada papilomatosis laring.2

L. PROGNOSIS

Sifat paling khas dari tumor ini adalah dapat tumbuh berulang setelah

pengangkatan. Anak- anak dengan papiloma laring sering mengalami remisi

setelah beberapa tahun, yang mungkin terkait dengan masa pubertas. 3-5%

pasien berkembang menjadi karsinoma sel skuamosa.1,12

M. KOMPLIKASI

Komplikasi penyakit ini meliputi penyumbatan jalan nafas dan

transformasi ganas.12

Degenerasi ganas lesi papilomatosa pada karsinoma sel skuamosa terjadi

pada 3-5% pasien. Saluran napas distal papilloma seringkali merupakan

peringatan dini adanya degenerasi ganas. Degenerasi ganas lebih sering terjadi

pada penyakit yang disebabkan oleh HPV-11 dan HPV-16. Merokok dan

pengobatan radiasi di daerah yang terlibat juga meningkatkan risiko

degenerasi ganas pada papillomatosis respirasi rekuren.12

BAB III

24
PENUTUP

1. Papiloma laring merupakan tumor jinak pada laring yang jarang terjadi dan

disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) tipe 6 dan 11. Papiloma Laring

dibagi menjadi dua tipe, yaitu juvenile dan dewasa.

2. Gambaran yang ditemukan pada Papiloma laring Juvenile berupa lesi multiple

yang dapat menyebar pada sistem pernapasan. Papiloma dapat mengalami

regresi pada waktu dewasa, bila tidak terdapat regresi dan rekurensinya agresif

maka dapat dicurigai terdapat perubahan lesi menjadi ganas. Sedangkan pada

pasien papiloma laring dewasa, biasanya terdapat satu tumor dengan ukuran

yang lebih kecil, tidak agresif dan tidak muncul lagi setelah pembedahan.
3.
Terapi papilomatosis laring meliputi terapi operasi dan medikamentosa

sebagai terapi adjuvan. Terapi operasi berupa ekstirpasi lesi dengan teknik

mikrolaringoskopi. Terapi adjuvan pada papilomatosis laring meliputi

interferon, asam retinoat, estrogen, indole-3-carbinol, terapi fotodinamik,

cidofovir dan asiklovir, terapi adjuvan diberikan bila pasien telah menjalani

operasi lebih dari empat kali dalam satu tahun, terdapat penyebaran penyakit

ke lokasi yang lebih distal dan/atau pertumbuhan kembali lesi yang cepat

disertai dengan gangguan pada jalan nafas.

DAFTAR PUSTAKA

25
1. Klarisa C, Fardizza F. 2014. Kanker Laring. Dalam : Kapita Selekta
Kedokteran Jilid 2. Editor Chris Tanto, dkk. Edisi Keempat. Jakarta: Media
Aesculapius. Hal. 1060.
2. Novialdi, Rosalinda, R. 2010. Diagnosis dan Penatalaksanaan Papilomatosis
Laring pada Dewasa. Padang : Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah
Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/ RSUP Dr. M.
Djamil Padang. Hal. 1-4
3. Goldsmith, A J. 2011. THT Remaja. Dalam : Ilmu THT Esensial. Editor
Lucente, F E, Har G. Edisi Kelima. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC.
Hal. 579.
4. Hermani B, Abdurrachman H. 2012. Tumor Laring. Dalam : Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Editor Soepardi
E.A, dkk. Edisi ketujuh. Jakarta : Badan Penerbit FKUI. 2012. Hal 176-178;
209-212; 219-220.
5. Broek V.D, dkk. 2010. Buku Saku Ilmu Kesehatan Tenggorok, Hidung, dan
Telinga. Editor Iskandar N. Edisi Keduabelas. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Hal. 135 ; 151-154.
6. Vashishta, R. 2017. Larinx Anatomy. (Accessed December 12, 2017 at
https://emedicine.medscape.com/article/1949369-overview).
7. East, C.A, Dhillon, R.S. 2013. Ear, Nose, and Throat and Head and Neck
Surgery 4th Edition. Elsevier
8. Cohen J.I. 1997. Anatomi dan Fisiologi Laring. Dalam : BOIES Buku Ajar
Penyakit THT. Editor Effendi, H, Santoso, K. Edisi Keenam. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal. 370.
9. Harman, E.M. 2015. Recurrent Respiratory Papillomatosis Clinical
Presentation. (Accessed December 12, 2017 at
https://emedicine.medscape.com/article/302648-clinical).
10. McClay, J.E. 2016. Recurrent Respiratory Papillomatosis Surgery.
(Accessed December 12, 2017 at
https://emedicine.medscape.com/article/865758-overview#a9).

26
11. Dhingra, S. 2014. Diseases of Ear, Nose and Throat & Head and Neck
Surgery. ELSEVIER A division of Reed Elsevier India Private Limited.
Hal.306.
12. Harman, E.M. 2015. Recurrent Respiratory Papillomatosis Follow-up
(Accessed December 12, 2017 at
https://emedicine.medscape.com/article/302648-followup#e5).

27