Anda di halaman 1dari 49

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Suatu kelainan yang dibawa sejak lahir merupakan hal yang tidak ketahui
sebelumnya oleh siapapun. Kelainan-kelainan yang terjadi terutama pada alat
kelamin merupakan salah satu masalah yang memerlukan perhatian khusus.
Kelainan pada alat genitalia terutama pada penis seperti hipospadia yang
merupakan kelainan kongenital pada anak. Secara fisiologis organ genitalia, yaitu
penis memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai saluran pembuangan urin, selain itu
juga berfungsi sebagai organ seksual. Berdasarkan survey yang telah dilakukan
kelainan kongenital ini banyak terjadi pada laki-laki.
Hipospadia merupakan suatu kelainan bawaan dimana meatus uretra eksternus
(lubang kencing) terletak di bagian bawah dari penis dan letaknya lebih kearah
pangkal penis dibandingkan normal. Sehingga lubang penis sebagai saluran
kencing yang seharusnya letaknya lurus tetapi terletak dibawah. Faktor genetic,
hormon dan lingkungan merupakan faktor penyebab yang mempengaruhi
terjadinya hipospadia.
Angka kejadian diperkirakan 1 diantara 500 bayi baru lahir. Berdasarkan data
yang dicatat oleh Metropolitan Atlanta Congenital Defect Program (MACDP) dan
Birth Defect Monitoring Program (BDMP) menyatakan bahwa insidensi
hipospadia mengalami dua kali lipat peningkatan antara 1970-1990. Prevalensi
dilaporkan antara 0,3% menjadi 0,8% sejak tahun 1970an.

1.2.Rumusan Masalah
1.2.1. Apa anatomi dan fisiologi dari uretra?
1.2.2. Apa definisi dari hipospadia?
1.2.3. Apa klasifikasi dari hipospadia?
1.2.4. Apa etiologi dari hipospadia?
1.2.5. Apa manifestasi klinis dari hipospadia?
1.2.6. Bagaimana patofisiologi dari hipospadia?
1.2.7. Apa komplikasi dari hipospadia?
1.2.8. Apa saja pemeriksaan penunjang dari hipospadia?
2

1.2.9. Bagaimana penatalaksanaan medis dari hipospadia?


1.2.10. Bagaimana management asuhan keperawatan dari hipospadia?

1.3.Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi dari uretra.
1.3.2. Untuk mengetahui definisi dari hipospadia.
1.3.3. Untuk mengetahui klasifikasi dari hipospadia.
1.3.4. Untuk mengetahui etiologi dari hipospadia.
1.3.5. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari hipospadia.
1.3.6. Untuk mengetahui patofisiologi dari hipospadia.
1.3.7. Untuk mengetahui komplikasi dari hipospadia.
1.3.8. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari hipospadia.
1.3.9. Untuk mengetahui penatalaksanaan medis dari hipospadia.
1.3.10. Untuk mengetahui management asuhan keperawatan dari hipospadia.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi Dan Fisiologi Uretra
Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urine ke luar dari buli-buli
melalui proses miksi. Pada pria organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan
cairan sperma. Uretra diperlengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak
pada perbatasan buli-buli dan uretra, dan sfingter uretra eksterna yang terletak
pada perbatasan uretra anterior dan posterior. Secara anatomis uretra dibagi
menjadi dua bagian yaitu:
 Uretra pars anterior, yaitu uretra yang dibungkus oleh korpus spongiosum
penis, terdiri dari: pars bulbosa, pars pendularis, fossa navikulare, dan
meatus uretra eksterna.
 Uretra pars posterior, terdiri dari uretra pars prostatika, yaitu bagian uretra
yang dilengkapi oleh kelenjar prostat, dan uretra pars membranasea.
Uretra merupakan sebuah saluran yang berjalan dari leher kandung
kencing ke lubang luar, dilapisi membran mukosa yang bersambung
dengan membran yang melapisi kandung kencing. Meatus urinarius terdiri
atas serabut otot lingkar yang membentuk sfingter uretra (Pearce, 2006).
Uretra mengalirkan urin dari kandung kencing ke bagian eksterior tubuh.
Uretra laki-laki panjangnya mencapai 20 cm dan melalui kalenjar prostat
dan penis. Ada tiga bagian uretra (Sloane, 2003), yaitu
 Uretra prostatik
Dikelilingi oleh kalenjar prostat. Uretra ini menerima dua duktus
ejakulator yang masing-masing terbentuk dari penyatuan duktus
deferen dan duktus kalenjar vesikel seminal, serta menjadi tempat
bermuaranya sejumlah duktus dari kalenjar prostat.
 Uretra membranosa
Bagian yang terpendek (1 cm sampai 2 cm). Bagian ini berdinding
tipis dan dikelilingi oleh otot rangka sfingter uretra eksternal.
 Uretra kavernous (penile, bersepons)
Merupakan bagian yang terpanjang. Bagian ini menerima duktus
kalenjar bulbouretra dan merentang sampai orifisium uretra
4

eksternal pada ujung penis. Tepat sebelum mulut penis, uretra


membesar untuk membentuk suatu dilatasi kecil, fosa navicularis.
Uretra kavernous dikelilingi korpus spongiosum, yaitu suatu
kerangka ruang vena yang besar. Uretra terbentuk dari penyatuan
lipatan uretra sepanjang permukaan ventral penis. Glandula uretra
terbentuk dari kanalisasi funikulus ektoderm yang tumbuh melalui
glands untuk menyatu dengan lipatan uretra yang menyatu.
Hipospadia terjadi bila penyatuan di garis tengah lipatan uretra
tidak lengkap sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral
penis. Ada beberapa derajat kelainan pada glandular (letak meatus
yang salah pada glands), korona (pada sulkus korona), penis (di
sepanjang batang penis), penoskrotal (pada pertemuan ventral
penis dan skrotum), dan perineal (pada perineum).

2.2. Definisi
Hipospadia berasal dari dua kata yaitu “hypo” yang berarti “dibawah” dan
“spadon” yang berarti keratan yang panjang. Hipospadia merupakan suatu
kelainan bawaan dimana meatus uretra eksternus (lubang kencing) terletak di
bagian bawah dari penis dan letaknya lebih kearah pangkal penis dibandingkan
normal. Menurut Corwin (2009), Hipospadia adalah kelainan kongenital berupa
kelainan letak lubang uretra pada pria dari ujung penis ke sisi ventral.
Hipospadia merupakan kelainan kelamin sejak lahir. Keadaan ini dapat
ringan atau ekstrem. Pada kasus paling ringan, meatus uretra bermuara pada
bagian ventral glans penis, terdapat berbagai derajat malformasi glans dan kulup
zakar tidak sempurna pada sisi ventral dengan penampilan suatu kerudung dosal.
5

Dengan bertambahnya tingkat keparahan, penis berbelok kearah ventral (chordee)


dan uretra penis lebih pendek secara progresif, tetapi jarak antara meatus dan
glans tidak dapat bertambah secara signifikan sampai chordee dikoreksi.
Karenanya, klasifikasi hipospadia semata-mata didasarkan atas dasar meatus.
Pada beberapa kasus, meatus terletak pada sambungan penoskrotal. Pada
kasus ekstrem, uretra bermuara pada perineum, skrotum bifida dan kadang-kadang
meluas ke basis dorsal penis (transposisi skrotum) dan chordee (pita jaringan
fibrosa). Pada 10 % anak laki-laki dengan hipospadia testis tidak turun.

2.3. Klasifikasi
Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/ meatus :
2.3.1. Tipe sederhana/ Tipe anterior
Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. Pada tipe
ini, meatus terletak pada pangkal glands penis. Secara klinis, kelainan ini bersifat
asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit dapat
dilakukan dilatasi atau meatotomi.
2.3.2. Tipe penil/ Tipe Middle
Terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-escrotal. Pada tipe
ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Biasanya disertai dengan
kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga
penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis menjadi pipih. Pada
kelainan tipe ini, diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat
kulit di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak
dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan
bedah selanjutnya.
2.3.3. Tipe Posterior
6

Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini,
umumnya pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan skrotum
bifida, meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun.

Pembagian tipe hipospadia yang lain :


1. Digland disebut hipospadia glander
2. Di daerah korona disebut hipospadia penilis
3. Di daerah scromm disebut hipoepadia scrolalis
4. Di daeah perineal disebtu hipospadia penenalis

2.4. Etiologi
Menurut Muttaqin (2011;240) faktor yang menyebabkan hipospadia
sampai saat ini masih belum diketahui tetapi ada beberapa faktor yang dapat
menyebabkan hipospadia adalah faktor genetik, endokrin dan lingkungan.
1. Faktor genetik
Sebuah kecenderungan genetik telah disarankan oleh peningkatan 8 kali
lipat dalam kejadian hipospadia antara kembar monozigot dibandingkan
dengan tunggal.
2. Faktor endokrin
Penurunan androgen atau ketidakmampuan untuk menggunakan
androgen dapat mengakibatkan hipospadia. Dalam sebuah laporan tahun
1997 oleh Aeronson dkk, 66% dari anak laki-laki dengan hipospadia
ringan dan 40% dengan hipospadia berat ditemukan memiliki cacat
dalam biosentesis testosteron testis.
7

Mutasi alfa reductase enzim-5, yang mengubah testosteron (T) menjadi


dihidrotestosteron (DHT), secara signifikan telah dihubungkan dengan
kondisi hipospadia.
3. Faktor lingkungan
Gangguan endokrin oleh agen lingkungan adalah mendapatkan
popularitas sebagai etiologi mungkin untuk hipospadia dan sebagai
penjelasan atas kejadian yang semakin meningkat.
Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang
belum diketahui penyebab pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa
faktor yang oleh para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain :
1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormon. Hormon yang dimaksud di
sini adalah hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin
(pria). Atau bisa juga karena reseptor hormon androgennya sendiri di
dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormon
androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya
tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya.
Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormon androgen tidak
mencukupi pun akan berdampak sama.
2. Genetika. Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya
terjadi karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut
sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi.
3. Lingkungan. Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah
polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan
mutasi.
4. Prematuritas. Peningkatan insiden hipospadia ditemukan di antara bayi
yang lahir dari ibu dengan terapi estrogen selama kehamilan.
Prematuritas juga lebih sering dikaitkan dengan hipospadia.

2.5. Manifestasi Klinis


Menurut Suriardi (2006;142) Manisfestasi klinis dari hipospadia
adalah
1. Terbuka uretral pada saat lahir, posisi ventral atau dorsal.
8

2. Adanya chordee (penis melengkung ke bawah ) dengan atau tanpa


ereksi.
3. Adanya lekukan pada ujung penis.
4. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di
bagian bawah penis yan6g menyerupai meatus uretra eksternus.
5. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian
punggung penis.
6. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan
membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan
sekitar.
7. Kulit penis bagian bawah sangat tipis.Tunika dartos, fasia Buch dan
korpus spongiosum tidak ada.
8. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans
penis.
9. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung
skrotum).
10. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.
11. Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, biasanya kebawah,
menyebar, mengalir melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok
pada saat BAK.
12. Pada Hipospadia grandular/ koronal anak dapat BAK dengan berdiri
dengan mengangkat penis keatas.
13. Pada Hipospadia peniscrotal/ perineal anak berkemih dengan jongkok.
14. Penis akan melengkung kebawah pada saat ereksi.
Pada kebanyakan penderita terdapat penis yang melengkung ke arah bawah
yang akan tampak lebih jelas pada saat ereksi. Hal ini disebabkan oleh adanya
chordee yaitu suatu jaringan fibrosa yang menyebar mulai dari meatus yang
letaknya abnormal ke glands penis. Jaringan fibrosa ini adalah bentuk rudimeter
dari uretra, korpus spongiosum dan tunika dartos. Walaupun adanya chordee
adalah salah satu ciri khas untuk mencurigai suatu hipospadia, perlu diingat
bahwa tidak semua hipospadia memiliki chordee.
9

2.6. Patofisiologi
Perkembangan uretra in utero dimulai sekitar usia 8 mingu dan selesai
dalam 15 minggu. Uretra terbentuk dari penyatuan lipatan uretra sepanjang
permukaan ventral penis. Glandula uretra terbentuk dari kanalisasi funikulus
ektoderm yang tumbuh melalui glands untuk menyatu dengan lipatan uretra yang
menyatu. Hipospadia terjadi dikarenakan fusi (penyatuan) dari garis tengah dari
lipatan uretra tidak lengkap terjadi sehingga meatus uretra terbuka pada sisi
ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan letak meatus ini, dari yang ringan
yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian disepanjang batang penis, hingga
akhirnya di perineum. Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topi
yang menutup sisi dorsal dari glans. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai
chordee, pada sisi ventral menyebabkan kurvatura (lengkungan) ventral dari penis.
Tidak ada masalah fisik yang berhubungan dengan hipospadia pada bayi baru
lahir atau pada anak-anak remaja. Namun pada orang dewasa dapat menghalangi
hubungan seksual.

2.7. Komplikasi
Menurut Suriardi (2006;142) Komplikasi dari hipospadia adalah
1. Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin
dalam 1 jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri sexsual tertentu )
2. Infertility
3. Resiko hernia inguinalis
4. Gangguan psikologis dan psikososial
5. Kesukaran saat berhubungan sexsual, bila tidak segera dioperasi saat
dewasa.
Komplikasi paska operasi yang terjadi :
1. Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya
dapat bervariasi, juga terbentuknya hematom / kumpulan darah dibawah
kulit, yang biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari
paska operasi.
2. Striktur, pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh
angulasi dari anastomosis.
10

3. Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing


berulang atau pembentukan batu saat pubertas.
4. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan
sebagai parameter untuyk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur
satu tahap saat ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10 %.
5. Residual chordee/rekuren chordee, akibat dari rilis korde yang tidak
sempurna, dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau
pembentukan skar yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat
jarang.
6. Divertikulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar,
atau adanya stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut.

2.8. Pemeriksaan Penunjang


Untuk menunjang diagnosa hipospadia tidak diperlukan pemeriksaan
penunjang. Tetapi karena penanganan pada hipospadia adalah operasi, maka
diperlukan pemeriksaan penunjang yaitu :
1. Rotgen thorax
2. Laborat darah rutin dan kimia (lengkap)
3. USG abdomen

2.9. Penatalaksanaan Medis


Menurut Muttaqin (2011;243), tujuan utama dari penatalaksanaan
bedah hipospadia adalah merekomendasikan penis menjadi lurus dengan
meatus uretra di tempat yang normal atau dekat normal sehingga arah aliran
urine ke depan melakukan koitus dengan normal. Operasi harus dilakukan
sejak dini dan sebelum operasi dilakukan, bayi atau anak tidak boleh
disirkumsisi karena kulit depan penis digunakan untuk pembedahan nanti.
Dikenal banyak tehnik operai hipospadia, yang umumnya terdiri dari
beberapa tahap yaitu :
1) Operasi pelepasan chordee dan tunneling
Dilakukan pada usia 1,5-2 tahun. Pada tahap ini dilakukan operasi eksisi
chordee dari muara uretra sampai ke glands penis. Setelah eksisi chordee
11

maka penis akan menjadi lurus tetapi meatus uretra masih terletak
abnormal. Untuk melihat keberhasilan eksisi dilakukan tes ereksi buatan
intraoperatif dengan menyuntikkan NaCL 0,9% kedalan korpus
kavernosum.
2) Operasi uretroplasty.
Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat dari
kulit penis bagian ventral yang di insisi secara longitudinal pararel di
kedua sisi.
Tujuan pembedahan :
(1) Membuat normal fungsi perkemihan dan fungsi sosial, serta
(2) Perbaikan untuk kosmetik pada penis.

Ada banyak variasi teknik, yang populer adalah tunneling Sidiq-


Chaula, Teknik Horton dan Devine.
1) Teknik tunneling Sidiq-Chaula dilakukan operasi 2 tahap:
(1) Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan
terowongan yang berepitel pada glans penis. Dilakukan pada usia 1
½ -2 tahun. Penis diharapkan lurus, tapi meatus masih pada tempat
yang abnormal. Penutupan luka operasi menggunakan preputium
bagian dorsal dan kulit penis.
(2) Tahap kedua dilakukan uretroplasti, 6 bulan pasca operasi, saat parut
sudah lunak. Dibuat insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran
kemih) sampai ke glans, lalu dibuat pipa dari kulit dibagian tengah.
Setelah uretra terbentuk, luka ditutup dengan flap dari kulit
preputium dibagian sisi yang ditarik ke bawah dan dipertemukan
pada garis tengah. Dikerjakan 6 bulan setelah tahap pertama dengan
harapan bekas luka operasi pertama telah matang.
2) Teknik Horton dan Devine, dilakukan 1 tahap, dilakukan pada anak lebih
besar dengan penis yang sudah cukup besar dan dengan kelainan
hipospadi jenis distal (yang letaknya lebih ke ujung penis). Uretra dibuat
dari flap mukosa dan kulit bagian punggung dan ujung penis dengan
pedikel (kaki) kemudian dipindah ke bawah. Mengingat pentingnya
12

preputium untuk bahan dasar perbaikan hipospadia, maka sebaiknya


tindakan penyunatan ditunda dan dilakukan berbarengan dengan operasi
hipospadi.
Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat dari
kulit penis bagian ventral yang di insisi secara longitudional paralel di kedua
sisi. Beberapa tahun terakhir, sudah mulai diterapkan operasi yang
dilakukan hanya satu tahap akan tetapi operasi hanya dapat dilakukan pada
hipospadia tipe distal dengan ukuran penis yang cukup besar. Operasi
hipospadia ini sebaiknya sudah selesai dilakukan seluruhnya sebelum si
anak masuk sekolah, karena dikhawatiran akan timbul rasa malu pada anak
akibat merasa berbeda dengan teman-temannya. (Mansjoer, 2000:375). Bayi
yang menderita hipospadia sebaiknya tidak disunat. Kulit depan penis
dibiarkan untuk digunakan pada pembedahan. Rangkaian pembedahan
biasanya telah selesai dilakukan sebelum anak mulai sekolah. Pada saat ini
perbaikan hipospadia dianjurkan sebelum anak berumur 18 bulan.
Jika tidak diobati, mungkin akan terjadi kesulitan dalam pelatihan
buang air pada anak dan pada saat dewasa, mungkin akan terjadi gangguan
dalam melakukan hubungan seksual. (Muslihatum, 2010:164)
Terapi untuk hipospadia adalah dengan pembedahan, untuk
mengembalikan penampilan dan fungsi normal penis. Pembedahan biasanya
tidak dijadwalkan sampai bayi berusia 1 sampai 2 tahun, ketika ukuran
penis menyetakan sebagai ukuran yang layak dioperasi. (Speer,2007:168)
Koreksi dengan pembedahan dilakukan pada usia 2 tahun sehingga
meatus uretra berada pada ujung penis, ereksi dapat lurus, dan penis terlihat
normal. Pada sebagian besar kasus hipospadia yang hanya mengenai glans
penis, pembedahan tidak diperlukan kecuali kadang-kadang untuk alasan
kosmetik. (Lissauer,2008:125)
Penatalaksanan medis yaitu dengan tindakan pembedahan yang
berfokus pada rekontruksi leher pada bledder, dimana dilakukan dalam 2
tahap yaitu : tahap 1: chordec eksisi (Jaringan Fibrosa), tujuannya adalah
untuk meluruskan penis, tahap II yaitu : Urethroplasty, tujuannya untuk
membuat saluran uretra agar ove verada dipuncak penis sehingga pancaran
13

urine menjadi normal. Selain itu penatalaksanaan medis lainnya adalah


dengan pemasangan kateter, tujuan pembedahan membuat normal
perkemihan, fungsi seksual dan perbaikan untuk hosmetik pada penis, serta
infus dengan cairan Nacl 0,9 % 30 tetes/menit. Penatalaksanaan
keperawatan yaitu perawatan luka dengan cairan Nacl 0,9 % dengan
campuran garamicin 80 mg, dan betadine 10 %, serta perawatan kateter dan
infus dengan cairan Nacl 0,9 % betadine 10 %.
Untuk penatalaksanaan hipospadia pada bayi dan anak biasanya
dilakukan dengan prosedur pembedahan. Tujuaan utama pembedahan ini
adalah untuk merekontruksi penis menjadi lurus dengan meatus uretra di
tempat yang normal atau dekat normal sehingga pancaran kencing arahnya
kedepan. Keberhasilan pembedahan atau operasi dipengaruhi oleh tipe
hipospadia dan besar penis. Semakin kecil penis dan semakin ke proksimal
tipe hipospadia semakin sukar tehnik dan keberhasilan operasinya.
Langkah – Langkah Pada Operasi Hipospadia
1) Koreksi meatus
2) Koreksi chordee bila ada
3) Rekonstruksi uretra
4) Pengalihan kulit dorsal penis yang berlebihan ke ventral
5) Koreksi malformasi – malformasi yg berhubungan Teknik operasi
Teknik Operasi Secara Garis Besar
1) Perbaikan multi tahap; Perbaikan ini ada dua tahap yaitu :
(1) Tahap I: Chordectomy, Chordectomy dgn memotong uretra plat
distal, meluruskan penis sehingga meatus tertarik lebih proksimal
(2) Tahap II: Urethroplasty, Penutupan kulit bagian, ventral dilakukan
dengan memindahkan prepusium dorsal dan kulit penis
mengelilingi bagian ventral dalam tahap uretroplasti
2) Perbaikan satu tahap; Akhir tahun 1950, pelepasan korde kendala
utama, tetapi dapat dihilangkan sejak ditemukan teknik ereksi buatan).
(1) Teknik Y-V Modifikasi Mathieu
(2) Teknik Lateral Based (LB) Flap
14

Perawatan Pasca Operasi


Suatu tekanan ringan dan elastis dari perban dipakai untuk
memberikan kompres post operatif bagi reparasi hipospadia, untuk
mengatasi oedema dan untuk mencegah pendarahan setelah operasi.
Dressing harus segera dihentikan bila terlihat keadaan sudah membiru di
sekitar daerah tersebut, dan bila terjadi hematoma harus segera diatasi.
Setiap kelebihan tekanan yang terjadi karena hematoma akan bisa
menyebabkan nekrosis. Oleh karena efek tekanan pada penyembuhan,
maka pemakaian kateter yang dipergunakan harus kecil, dan juga steril, dan
terbuat dari plastik dan dipergunakan kateter dari kateter yang lunak. Dalam
keadaan dimana terjadi luka yang memburuk sebagai akibat edema pada
luka, ereksi atau hematoma, maka sebaiknya dikompres dengan
mempergunakan bantalan saline steril yang hangat. Diversi urine terus
dilanjutkan sampai daerah yang luka itu sembuh. Bila jaringan tersebut
telah sembuh, maka masalahnya bisa direparasi dalam operasi yang kedua 6
– 12 bulan yang akan datang.
15

2.10. Management Asuhan Keperawatan


2.10.1. Pengkajian
1. Identitas
 Nama : tergantung pada pasien
 Umur : biasanya terjadi pada bayi baru lahir
 Jenis kelamin : pada umumnya terjadi pada laki-laki
 Pendidikan: orang tua yang biasanya rendah
 Pekerjaan: pada orang tua yang tergolong berpenghasilan rendah
 Diagnosa medis: Hipospadia.
2. Keluhan Utama
Pada umumnya orang tua pasien mengeluh dan ketakutan dengan
kondisi anaknya karena penis yang melengkung kebawah dan adanya
lubang kencing yang tidak pada tempatnya.
3. Riwayat Kesehatan.
 Riwayat Penyakit Sekarang.
Pada umumnya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya lubang
kencing yang tidak pada tempatnya sejak lahir dan tidak diketahui
dengan pasti penyebabnya.
 Riwayat Penyakit Dahulu
Adanya riwayat ibu pada saat kehamilan, misalnya adanya gangguan
atau ketidakseimbangan hormone dan factor lingkungan. Pada saat
kehamilan ibu sering terpapar dengan zat atau polutan yang bersifat
tertogenik yang menyebabkan terjadinya mutasi gen yang dapat
menyebabkan pembentukan penis yang tidak sempurna.
 Riwayat Kesehatan Keluarga.
Adanya riwayat keturunan atau genetic dari orang tua atau saudara-
saudara kandung dari pasien yang pernah mengalami hipospadia.
 Pola-pola fungsi kesehatan
a. Pola nyeri/kenyamanan
Pada umumnya pasien tidak mengalami gangguan kenyamanan
dan tidak mengalami nyeri.
b. Pola nutrisi dan metabolisme
16

Pada umumnya pasien hipospadia nutrisi cairan dan elektrolit


dalam tubuhnya tidak mengalami gangguan.
c. Pola aktivitas
Aktifitas pasien hipospadia tidak ada masalah.
d. Pola eliminasi
Pada saat BAK ibu mengatakan anak harus jongkok karena
pancaran kencing pada saat BAK tidak lurus dan biasanya kearah
bawah, menyebar dan mengalir melalui batang penis.\
e. Pola tidur dan istirahat
Pada umumnya pasien dengan hipospadia tidak mengalami
gangguan atau tiaak ada masalah dalam istirahat dan tidurnya.
f. Pola sensori dan kognitif
Secara fisik daya penciuman, perasa, peraba dan daya penglihatan
pada pasien hipospadia adalan normal, secara mental kemungkinan
tidak ditemukan adanya gangguan.
g. Pola persepsi diri
Adanya rasa malu pada orang tua kalau anaknya mempunyai
kelainan. Pada pasien sendiri apabila sudah dewasa juga akan merasa
malu dan kurang percaya diri atas kondisi kelainan yang dialaminya.
h. Pola hubungan dan peran
Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan
interpersonal dan peraen serta megnalami tmbahan dalam
menjalankan perannya selama sakit.
i. Pola seksual
Adanya kelainan pada alat kelamin terutama pada penis pasien
akan membuat pasien mengalami gangguan pada saat berhubungan
seksual karena penis yang tidak bisa ereksi.
j. Pola penanggulangan stress
Biasanya orang tua pasien akan mengalami stress pada kondisi
anaknya yang mengalami kelainan.
k. Pola higiene.
Pada umumnya pola hygiene pasien tidak ada masalah.
17

2.10.2. Diagnosa Keperawatan


Menurut Muttaqin (2011;243) diagnosa keperawatan yang muncul
pada orang dengan hipospadia adalah.
1. Gangguan pemenuhan eliminasi urine berhubungan dengan retensi
urine, obstruksi mekanik.
2. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan pascabedah
3. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan port de entree luka
pascabedah, insersi kateter.
4. Pemenuhan informasi berhubungan dengan rencana pembedahan,
prognosis penyakit.
5. Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan operasi.6
2.10.3. Rencana Keperawatan
Menurut Muttaqin (2011;243), tujuan dari rencana intervensi
praoperatif adalah mengadaptasikan keluhan nyeri, pemenuhan eliminasi
urine, penurunan kecemasan, dan terpenuhinya kebutuhan informasi tentang
asuhan perioperatif.
Untuk intervensi pada masalah keperawatan gangguan pemecahan
eliminasi urine, intervensi dapat disesuaikan dengan masalah yang sama
pada pasien striktur uretra. Untuk intervensi pada masalah keperawatan
nyeri, risiko tinggi infeksi, pemenuhan informasi, dan kecemasan intervensi
dapat disesuaikan dengan masalah yang sama pada pasien batu ginjal.

1. Gangguan pemenuhan eliminasi urine berhubungan dengan retensi urine,


obstruksi mekanik.
Tujuan : dalam waktu 5x24 jam pola eliminasi sesuai kondisi klien.
Kriteria evaluasi :
- Eliminasi urine tanpa keluhan subjektif seperti nyeri dan urgensi
- Eliminasi urine tanpa menggunakan kateter
- Pascabedah tanpa ada komplikasi
- Frekuensi miksi dalam batas 5-8/24 jam

Intervensi Rasional
18

berkemih dan catat produksi urine pengaruh iritasi kandung kemih


tiap 6 jam. dengan frekuensi miksi.
keluhan subjektif pada saat dalam mengevaluasi intervensi
melakukan eliminasi urine. yang telah dilaksanakan.
- Pelebaran uretra baik secara - Intervensi bedah dilakukan
uretrotomi internal atau untuk mengatasi masalah
pemasangan stent uretra. gangguan eliminasi urine
- Bedah rekontruksi.

2. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan pascabedah


Tujuan : dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang/hilang atau teradaptasi
Kriteria evaluasi :
- Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi.
Skala nyeri 0-1 (0-4)
- Dapat mengidentifikasikan aktivitas yang meningkatkan atau
menurunkan nyeri.
- Ekspresi pasien rileks.
19

Intervensi Rasional
pasien dengan tindakan nyeri menggunakan relaksasi dan
nonfarmakologi dan noninvasif. nonfarmakologi lainnya telah
menunjukkan keefektifan dalam
mengurangi nyeri.
nyeri keperawatan : - Istirahat akan menurunkan
- Istirahatkan pasien. kebutuhan oksigen jaringan
- Manajemen lingkungan perifer sehingga akan
tenang dan batasi meningkatkan suplai darah
pengunjung. ke jaringan.
- Beri kompres hangat. - Lingkungan tenang akan
- Lakukan teknik stimulasi per menurunkan stimulus nyeri
kutaneus. eksternal dan menganjurkan
- Lakukan masase sekitar pasien untuk beristirahat dan
nyeri. pembatasan pengunjung
- Dekatkan orang terdekat. akan membantu
- Ajarkan teknik relaksasi meningkatkan kondisi
pernapasa dalam. oksigen ruangan yang akan
- Ajarkan teknik distraksi pada bekurang apabila banyak
saat nyeri. pengunjung yang berada di
- Tingkatkan pengetahuan ruangan dan menjaga privasi
tentang : sebab-sebab nyeri, pasien.
dan menghubungkan berapa - Vasoliditasi dapat
lama nyeri akan berlangsung. menurunkan spasme otot
sehingga menurunkan
spasme nyeri.
- Salah satu metode distraksi
untuk menstimulasi
pengeluaran endorfin
enkefalin yang berguna
sebagai analgetik internal
untuk memblok rasa nyeri.
20

- Meningkatkan kelancaran
suplai darah untuk
menurunkan iskemia.
- Eksplorasi stimulus
eksternal untuk menurunkan
stimulus nyeri.
- Meningkatkan asupan
oksigen sehingga akan
menurunkan nyeri sekunder.
- Distraksi dapat menurunkan
stimulus internal dengan
mekanisme peningkatan
produksi endorfin dan
enkefalin yang dapat
memblok reseptor nyeri
untuk tidak di kirimkan ke
korteks serebri sehingga
menurunkan persepsi nyeri.
- Pengetahuan yang akan di
rasakan membantu
mengurangi nyeri dan dapat
membantu mengembangkan
kepatuhan pasien terhadap
rencana terapeutik.
dokter untuk pemberian analgetik lintasan nyeri sehingga nyeri
akan berkurang.

3. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan port de entree luka


pascabedah, insersi kateter.
Tujuan : dalam waktu 12x24 jam idak terjadi infeksi, terjadi perbaikan
integritas jaringan lunak.
Kriteria evaluasi :
21

- Jahitan dilepa pada hari ke-12 tanpa adanya tanda-tanda infeksi dan
peradangan pada area luka pembedahan.
- Leukosit dalam batas normal, TTV dalam batas normal.

Intervensi Rasional
pembedahan, hari pembedahan dan kemajuan atau penyimpangan dari
apakah adanya order khusus dari tujuan yang diharapkan.
tim bedah dalam melakukan
perawatan luka.
- Lakukan perawatan luka steril - Perawatan luka sebaiknya tidak
pada hari ke-3 operasi dan di setiap hari untuk menurunkan
ulang setiap 2 hari sekali. kontak tindakan dengan luka
- Bersihkan luka dengan cairan yang dalam kondisi steril
antiseptik jenis iodine sehingga mencegah
providium dengan cara kontaminisasi kuman ke luka
swabbing dari arah dalam ke bedah
luar - Pembersihan debris(sisa
- Bersihkan bekas sisa iodine fagositosis, jaringan mati) dan
providium dengan alkohol kuman sekitar luka dengan
70% atau normal salin dengan mengoptimalkan kelebihan dari
cara swabbing dari arah dalam iodine providium sebagai
ke luar antiseptik dan dengan arah dari
- Tutup luka dengan kasa steril dalam keluar agar dapat
dan tutup dengan plester mencegah kontaminasi kuman ke
adhesif yang menyeluruh jaringan luka.
menutupi kasa. - Antiseptik iodine providium
mempunyai kelemahan dalam
menurunkan proses epitelisasi
jaringan sehingga memperlambat
pertumbuhan luka, maka harus
dibersihkan dengan alkohol yang
normal salin.
22

Penutupan secara menyeluruh


dapat menghindari kontaminasi
dari benda yang bersentuhan
dengan luka bedah.
tanda-tanda infeksi dan peradangan operasi memberikan manisfestasi
di sekitar luka operasi. adanya tanda-tanda peradangan
disekitar luka seperti kemerahan,
bengkak, panas lokal, dan nyeri.
Tanda-tanda infeksi seperti
keluarnya pus pada permukaan
luka operasi, peningkatan suhu
tubuh, dan nilai laboratorium
didapatkan leukositosis yang
menjadi parameter penting bagi
perawat dalam memonitor kondisi
luka operasi.
setiap 2x24 jam melakukan perawat utama dalam memelihara
perawatan luka. tujuan 12x24 jam jahitan
pascabedah dapat dilepas yang
berarti penyembuhan luka operasi
sudah sesuai.

4. Pemenuhan informasi berhubungan dengan rencana pembedahan,


prognosis penyakit.
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam terpenuhinya pengetahuan pasien dan
keluarga tentang pembedahan.
23

Kriteria evaluasi :
- Pasien dan keluarga mengetahui jadwal pembedahan.
- Pasien dan keluarga kooperatif pada setiap intervensi keperawatan.
- Pasien dan keluarga secara subjektif menyatakan bersedia dan
termotivasi untuk melakukan aturan atau prosedur prabedah yang telah
dijelaskan.
- Pasien dan keluarga memahami tahap-tahap intraoperatif dan
pascaanastesi.
- Pasien dan keluarga mampu mengulang kembali secara narasi
intervensi prosedur pascaanastesi atau perencanaan pasien pulang.
- Pasien dan keluarga dapat memahami respons pembedahan secara
fisiologis dan psikologis.
- Secara subjektif pasien merasakan rasa nyaman dan relaksasi
emosional.

Intervensi Rasional
pengetahuan, sumber informasi dasar untuk memberikan
yang telah di terima. pendidikan kesehatan dan
mengklarifikasi sumber yang tidak
jelas.
kesehatan preoperatif. si preoperatif telah di kenal sejak
lama. Setiap pasien diajarkan
sebagai seorang individu dengan
mempertimbangkan segala
keunikan ansietas, kebutuhan dan
harapan-harapannya.
pembedahan, meliputi : - Pembersihan dengan enema
- Persiapan intestinal. atau laksatif mungkin di
- Persiapan kulit ulang jika tidak efektif.
- Pencukuran area operasi Pembersihan ini adalah
- Persiapan istirahat dan tidur untuk mencegah defekasi
selama anestesi tau untuk
24

mencegah trauma yang tidak


diinginkan.
- Tujuan dari persiapan kulit
preoperatif adalah untuk
mengurangi sumber bakteri
tanpa mencederai kulit.
- Pencukuran area operasi
dilakukan apabila ahli bedah
mengharuskan kulit untuk
dicukur, pasien
diberitahukan tentang
prosedur mencukur,
dibaringkan dalam posisi
yang nyaman, dan tidak
memajan bagian yang tidak
perlu.
- Istirahat merupakan hala
yang penting untuk
penyembuhan normal.
Kecemasan tentang
pembedahan dapat dengan
mudah mengganggu
kemampuan untuk
beristirahat atau tidur.
pada postoperasi, meliputi : diafragmatik mengacu pada
- Latihan napas diafragma pendataran kubah diafragma selam
inspirasi dengan desakan udara
masuk.

5. Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan operasi.


Tujuan : dalam waktu 1x24 jam tingkat kecemasan pasien berkurang atau
hilang.
25

Kriteria evaluasi :
- Pasien menyatakan kecemasan berkurang, mengenal perasaannya,
dapat mengidentifikasi penyebab atau faktor yang mempengaruhinya,
kooperatif terhadap tindakan dan wajah rileks.
Intervensi Rasional
Bantu pasien mengekspresikan Cemas berkelanjutan memberikan
perasaan marah, dan takut. dampak serangan jantung
selanjutnya.
Beri dukungan prabedah. Hubungan emosional yang baik
antara perawat dan pasien akan
memengaruhi penerimaan pasien
dengan pembedahan.
26

Hindari konfrontasi. Konfrontasi dapat meningkatkan rasa


marah, menurunkan kerja sama, dan
mungkin memperlambat
penyembuhan.
Beri lingkungan yang tenang Mengurangi rangsangan internal yang
dan suasana penuh istirahat. tidak perlu.
Beri kesempatan kepada pasien Dapat menghilangkan ketegangan
untuk mengungkapkan terhadap kekakhawatiran yang tidak
ansietasnya. diekspresikan.
Berikan privasi untuk pasien Memberi waktu untuk
dan orang terdekat. mengekspresikan perasaan,
menghilangkan cemas, dan perilaku
adaptasi.
Kolaborasi Berikan anticemas Meningkatkan relaksasi dan
sesuai indikasi, contohnya menurunkan kecemasan.
diazefam.

2.10.4. Implementasi
Implementasi merupakan komponen dari proses perawatan, dimana
tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan
dari asuhan keperawatan, Implementasi sifatnya berkesinambungan dan
interaktif dengan komponen lain dari proses keperawatan, komponen
implementasi dari proses keperawatan mempunyai 5 tahap ; mengkaji ulang,
menelaah dan memodifikasi rencana asuhan keperawatan yang sudah ada,
mengidentifikasikan area bantuan, mengimplementasikan intervensi
keperawatan, dan mengkomunikasikan intervensi, implementasi dari asuhan
keperawatan memerlukan keterampilan, pengetahuan tambahan dan
keterampilan interpersonal. Metode dalam implementasi dapat berubah
membantu dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Penyuluhan kesehatan
digunakan untuk menyajikan prinsip, teknik dan prosedur yang tepat dari
perawat kepada klien dan menginformasikan status. Kesehatan mereka.
Metode konseling digunakan untuk membantu klien. Menggunakan proses
27

pemecahan masalah untuk mengenali dan menangani stress dan


memfasilitasi hubungan interpersonal antara klien, keluarga dan tim
keperawatan, tindakan keperawatan untuk mencapai tujuan yang teraupetik
mencangkup kompensasi terhadap reaksi tindakan preventif, teknik yang
tepat untuk prosedur tindakan menyelamatkan lingkungan yang kondusif,
memberikan perawatan untuk menyesuaikan kebutuhan klien dan
menstimulasi serta memotivasi klien. (Potter and Patricia, 2005).
Implementasi yang dilakukan pada masalah hipospadia dilakukan
sesuai dengan rencana yang telang ditentukan pada rencana keperawatan
sebelumnya pada setiap diagnosa yang didapat pada pasien hipospadia.

2.10.5. Evaluasi
Evaluasi merupakan proses keperawatan yang mengukur respon klien
terhadap tindakan keperawatan dan kemajuan kearah pencapaian tujuan.
Perawat mengevaluasi apakah perilaku /respon klien mencerminkan suatu
kemunduran /kemajuan dalam diagnosa keperawatan /pemeliharaan status
kesehatan. Selama evaluasi perawat memutuskan apakah proses
keperawatan sebelumnya telah efektif dan menelaah respon klien dan
membandingkan dengan perilaku yang disebutkan dalam hasil yang
diharapkan selama evaluasi secara kontinue mengarahkan kembali asuhan
keperawatan kearah terbaik untuk memenuhi kebtuhan klien. Setelah
perawat menentukan bahwa hasil yang diharapkan dan tujuan telah tercapai,
perawat mengklarifikasikan evaluasi dengan klien jika perawat dan klien
setuju. Bahwa hasil yang diharapkan telah dipenuhi, perawat menghentikan
rencana asuhan keperawatan tersebut dan asuhan keperawatan dapat
didokumentasikan tetapi ketika tujuan asuhan keperawatan tidak tercapai
maka perawat mengidentifikasikan variabel/faktor-faktor yang mengganggu
pencapaian tujuan, biasanya perubahan dalam kondisi, kebutuhan dan
kemampuan klien memerlukan perubahan intervensi, sehingga perawat
menggunakan intervensi baru dan merevisi hasil untuk memenuhi tujuan
asuhan.
28

Menurut Muttaqin (2011;243) Hasil yang diharapkan intervensi


adalah sebagai berikut.
1. Gangguan pemenuhan eliminasi urine teratasi.
2. Penurunan skala nyeri.
3. Tidak terjadi infeksi luka pascabedah.
4. Penurunan tingkat kecemasan.
5. Informasi kesehatan terpenuhi.
29

BAB 3
TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian
Tanggal pengkajian : Selasa, 18 November 2014
Waktu : 08.30 WIB
Tempat : Bangsal Cendana 4 RSUP Dr. Sardjito
Sumber Data : Pasien, Keluarga Pasien, Perawat ruangan dan
Status Pasien
Metode : Observasi, Pemeriksaan Fisik, Anamnesa, dan
Studi Dokumen
1. Identitas
No RM : 01706272
Nama : An. A
Tempat/tanggal lahir : Sleman, 31 Oktober 2013
Jenis kelamin : Laki-laki
Nama ayah/ibu : Tn.K /Ny. I
Pekerjaan ayah : Buruh
Pendidikan ayah : SLTA
Pekerjaan ibu : Ibu Rumah Tangga (IRT)
Pendidikan ibu : SMA
Agama : Islam
Alamat : Ngabean, Tanjungsari, Windusari, Magelang
Tanggal Masuk : 17 November 2014
Diagnosa Medis : Hipospadia
2. Keluhan utama
Ibu pasien mengatakan sejak lahir saluran pipisnya diatas skrotum.
3. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
a. Prenatal
1) Ibu rutin memeriksakan kehamilan sebulan sekali di Bidan dan
dokter
2) Selama pemerikaan kehamilan, saat umur kehamilan 5 bulan hasil
USG menyatakan bayinya berjenis kelamin perempuan.
30

b. Natal
1) Status kehamilan : G1P1A0H1
2) Umur kehamilan : 40 minggu
3) Komplikasi persalinan : tidak ada
4) Cara persalinan : Spontan per Vaginam
5) Tempat melahirkan : RS Tidar
6) Penolong persalinan : Bidan dan Dokter
c. Postnatal
1) BB : 1800 gram
2) PB : 43 cm
3) LD : 26 cm.
4) APGAR skor :

APGAR 1 menit 5 menit

Frekuensi Jantung 2 2

Usaha Nafas 1 2

Tonus Otot 1 1

Iritabilitasi reflek 1 1

Warna kulit 1 2

Jumlah 6 8

5) Interaksi orangtua dan pasien : ada


6) Trauma lahir : tidak ada
7) Gerakan : Aktif
8) BAB / BAK :+ /+
9) Menetek : iya
4. Riwayat Kesehatan Sekarang
Saat dilakukan pengkajian, kondisi pasien hiperaktif. OUE pasien berada
di bawah skrotum dan terdapat chordae.
31

5. Riwayat Kesehatan keluarga


Keluarga pasien tidak ada yang mempunyai penyakit yang sama. Tidak
ada riwayat hipertensi maupun diabetes mellitus.
6. Genogram

KETERANGAN :
: Perempuan : Anak
: Laki-laki : Tinggal serumah
: Meninggal : Pasien
: Menikah

7. Riwayat Sosial
Hubungan anak dengan ibu baik-baik saja. Ibu selalu mendampingi pasien.
8. Keadaan Psikologis Orang Tua
Keluarga pasien megatakan merasa cemas dengan keadaan pasien karena
ibu belum mengetahui kapan akan dioperasi.
9. Pola Kebiasaan Pasien
A. Aspek Fisik – Biologis
1. Pola Nutrisi
1) Sebelum sakit
32

Keluarga pasien mengatakan, sebelum sakit pasien makan 3-4


kali bubur bayi. Tidak ada alergi pada makanan dan tidak ada
makanna pantangan.
Keluarga pasien mengatakan pasien minum susu formula 4-5
botol sehari (500cc) dan ASI tidak terlalu sering.
2) Selama sakit
Pasien makan 3 kali sehari dengan bubur sumsum dari rumah
sakit dan hanya dihabiskan ½ porsi. Tidak ada pantangan
makanan pantangan.
Pasien minum susu formula 4-5 botol sehari (500cc) dan pasien
juga minum teh 1 botol (100cc) dan terkadang minum ASI.
2. Pola Eliminasi
1) Sebelum sakit
Keluarga pasien mengatakan BAB sekali dalam sehari. Pasien
tidak menggunakan obat pencahar.
Pasien BAK lancar 4-5 kali. BAK merembes, tidak ada darah,
dan berwarna kekuningan jernih.
2) Selama sakit
Pasien menggunakan pampers. Keluarga mengatakan pasien
BAB sekali sehari tanpa obat pencahar. BAK pasien
tertampung di pampers.
3. Pola Aktifitas
a. Sebelum Sakit
Pasien melakukan aktivitasnya sendiri.
Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4
Makan/minum √
Mandi √
Toileting √
Berpakaian √
Mobilitas di tempat tidur √
Berpindah √
Ambulasi/ROM √
33

b. SelamaSakit
Pasien melakukan aktivitasnya sendiri.
Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4
Makan/minum √
Mandi √
Toileting √
Berpakaian √
Mobilitas di tempat tidur √
Berpindah √
Ambulasi/ROM √
Keterangan :
0 : Mandiri 3 : Dibantu orang lain dan alat
1 : Alat bantu 4 : Tergantung total
2 : Dibantu orang lain
4. Pola istirahat dan tidur
a. Sebelum sakit
Keluarga pasien mengatakan, pasien biasa tidur sewaktu-waktu
dan terkadang tidur siang. Tidak ada kebiasaan sebelum tidur.
Kebiasaan saat tidur, pasien suka merokok.
b. Selama sakit
Keluarga pasien mengatakan selama sakit pasien tidur jam
19.00-05.00 dan tidur siang 2 jam.
5. Pola Kebersihan Diri
1) Kebersihan kulit
Pasien dimandikan 1 kali sehari menggunakan air hangat dan
washlap.
2) Rambut
Rambut belum dicuci sejak masuk rumah sakit. Keluarga
mengatakan, pasien keramas 3 hari sekali.
3) Telinga
Telinga belum pernah dibersihkan sejak masuk rumah sakit.
34

4) Mulut
Pasien dibersihkan mulutnya setiap hari dan setiap kali ngeces.
Aspek Mental – Intelektual – Sosial - Spiritual
a. Konsep diri
1) Identitas : tidak terkaji
2) Gambaran diri : tidak terkaji
3) Peran diri : tidak terkaji
4) Ideal diri : tidak terkaji
5) Harga diri : tidak terkaji
b. Intelektual
Keluarga pasien mengatakan tidak mengetahui tentang pengobatan
yang akan dilakukan di rumah sakit.
c. Hubungan interpersonal
Keluarga pasien mengatakan hubungan anak dengan ayah maupun
keluarga baik-baik saja.
d. Mekanisme Koping
Keluarga pasien menerima dengan ikhlas dan berharap diberi
kesembuhan oleh Tuhan.
e. Support Sistem
Keluarga sangat mendukung untuk kesembuhan pasien.
f. Aspek Mental/ Emosional
Pasien adalah anak yang aktif dan sedang berlatih untuk berjalan
g. Aspek Spiritual
Pasien belum bisa menjalankan sholat.
10. Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) Tanda vital :Nadi : 110x/menit Suhu : 36 oC
RR : 24 x/menit TD :-
Saat lahir 18 November 2014
Berat badan 1800 gram 9 kg
Panjang badan 43 cm 72 cm
35

Lingkar kepala Tidak terkaji 44 cm


Lingkar Dada 26 cm 46 cm
Lingkar perut Tidak terkaji 47 cm
Lingkar lengan atas 8 cm 15 cm

d) Kepala
Fontanel anterior lunak, sutura sagitalis tepat, gambaran wajah
simetris, bentuk kepala mesocepal, rambut berwarna hitam, tidak ada
luka, tidak sianosis.
e) Mata
Bersih, tidak ada penumpukan sekret. Konjungtiva tidak anemis, sklera
putih, kornea jernih, tidak ada kelainan. Pasien dapat melirik kanan kiri
secara normal.
f) Hidung
Normal, tidak terjadi epitaksis, tidak ada sekret atau cairan yang keluar
dari hidung.
g) Telinga
Normal, simetris antara telinga kiri dan kanan. Tidak ada cairan
abnormal yang keluar dari telinga.
h) Leher
Tidak ada luka, tidak ada peningkatan JVP, tidak ada pembesaran
kelenjar tiroid.
i) Mulut
Tidak ada pernafasan mulut, mukosa bibir lembab.
j) Dada
Inspeksi : tidak ada lesi, simetris, tidak ada retraksi dinding dada,
persebaran kulit merata.
Palpasi : tidak ada nyeri dada, tidak teraba massa/benjolan. Paru
simetris antara kanan dan kiri saat mengembang.
Perkusi : interkosta 1-5 kanan dan interkosta 1-3 kiri sonor.
Auskultasi : seluruh lapang dada vesikuler.
k) Abdomen
36

Inspeksi : tidak ada spidermennevi


Auskultasi : bising usus 7x/menit
Palpasi : tidak teraba masa, lunak
Perkusi : thympani
l) Ekstermitas : Tidak ada kelainan, normal.
m) Genital dan Anus :
Pada genital OUE terletak dibawah skrotum terdapat chordae. Anus
ada, normal tidak ada kelainan.
n) Kulit : kulit lembab, tidak kering dan tidak mengelupas.
o) Reflek : reflek moro ada, menghisap kuat.
11. Terapi Medis
Pasien belum mendapatkan terapi apapun.
12. Hasil Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium (11 November 2014)
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai normal
Albumin 3,92 3,97 – 4,94
SGOT/AST 34 <= 40
SGPT 29 <=41
BUN 6,60 6,00-20,00
CREATININ 0,30 0,70 – 1,20
Glukosa sewaktu 104 80 -140
Natrium 136 136-145
Kalium 4,30 3,50-5,10
Klorida 102 98-107
PPT 13,7 12,3-15,3
INR 0,99 0,90-1,10
Kontrol PPT 14,2 -
APPT 63,7 27.7-37
Kontrol APTT 32,5
HbsAg NON
REAKTIF
Eritrosit 5,82 4,10-5,30
37

Hemoglobin 11,5 11,3-14,1


Hematokrit 35,6 33,0-41,0
MCH 19,8 27-32
MCV 61,2 80-99
MCHC 32,3 32-36
RDW-SD 33,7 35-45
RDW-CV 16,2 11,5-14,5
NRBC# 0,00,00 -
LEUKOSIT 8,75 6,00

b. Pemeriksaan Radiologi (13 November 2014)


1) Foto Thorax AP Anak
Uraian : foto thorax proyeksi AP, posisi supine, asimetris,
inspirasi, dan kondisi cukup, hasil:
- Tampak apasitas in homogen di perihiler dan paracardial
belateral, batas tak tegas, air broncchogram (+)
- Tampak ruang pleura bilateral licin dan tak mendatar
- Cor, CTR: 0,45
- Tampak sistema tulang yang tervisualisasi intak
Kesan:
- Infiltrat di perihiler dan paracardial bilateral
- Besar dan konfigurasi cor normal
2) USG Abdomen Upper
Uraian Hasil: hepar ukuran dan echostrukture normal,
permukaan licin, sistema billier dan vaskuler intra hepatal tak
prominen, tak tampak massa/nodul, hasil:
- Vesika felea: ukuran normal, dinding tak tampak menebal,
tak tampak massa/ nodul, hilus linealis tak prominen
- Pancreas: sulit tervisualisasi karena udara usus sangat
prominani
38

- Ren dextra: ukuran dan echostrukture normal, batas cortex


dan modulla tegas, SPC tak melebar, tak tampak
massa/batu
- Ren sinistra: ukuran dan echostrukture normal, batas kortex
dan modulla tegas, SPC tak melebar, tak tampak
massa/batu
- Vesica Urinaria: terisi cairan minimal, dinding tampak
reguler tak menebal, tak tampak batu maupun massa
- Umfonodi paraartici tak prominen
Kesan :
- Tak tampak kelainan pada hepar, vesica felea, lien, kedua
ren, vesica urinaria
- Pancreas sulit tervisualisasi karena udara usus sangan
prominent
3) USG Abdomen Lower
Uraian Hasil: telah dilakukan USG testis, pada pasien dengan
klinis, hasil:
- Scrotum dextra: tak tampak gambaran testis, tampak testis
dextra di canalis inguinalis dextra, ukuran lk. 1,20 cm x
0,57 cm, echostrukture normal, vascularisasi baik, testis
dikelilingi cairan minimal
- Scrotum sinistra: tak tampak gambaran testis, tampak testis
sinistra di canalis inguinalis sinistra, ukuran lk. 1,13 cm x
0,6 cm, echostrukture normal, vasularisasi baik, testis
dikelilingi cairan minimal
Kesan:
- UDT bilateral, testis dextra et sinistra berada di canalis
inguinalis dextra et sinistra
39

A. Analisa Data
No Data Masalah Penyebab
1 DS: Ansietas orangtua Pre operasi
- Keluarga pasien megatakan merasa uretroplasty
cemas dengan keadaan pasien karena ibu
belum mengetahui kapan akan dioperasi
DO:
- Ibu pasien tampak bertanya tentang
tindakan operasi dan kapan akan
dilakuakan
- Ibu pasien tampak gelisah
2 DS: Ibu pasien mengatakan Gangguan pola Obstruksi anatomik
- Pipis anaknya seperti anak perempuan berkemih
- Air kencing merembes
DO:
- Tampak anak menggunakan pampers
- UDT bilateral, testis dextra et sinistra
berada di canalis inguinalis dextra et
sinistra
3 DS : Ibu anak mengatakan : Risiko gangguan Kelainan
- sejak lahir lubang kencingnya ada tumbuh kembang kongenital:
dibawah skrotum hipospadia
- Saat lahir berat badan anak hanya 1800
atau prematur
- Anak hanya minum ASI sedikit dan
lebih sering minum susu formula
DO:
- Tampak OUE dibawah skrotum
- Pasien minum susu formula
40

C. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan pola berkemih berhubungan dengan obstruksi anatomis yang
ditandai dengan:
DS: Ibu pasien mengatakan
- Pipis anaknya seperti anak perempuan
- Air kencing merembes
DO:
- Tampak anak menggunakan pampers
- UDT bilateral, testis dextra et sinistra berada di canalis inguinalis
dextra et sinistra
2. Risiko gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan kelainan
kongenital yang ditandai dengan:
DS : Ibu anak mengatakan :
- sejak lahir lubang kencingnya ada dibawah skrotum
- Saat lahir berat badan anak hanya 1800 atau prematur
- Anak hanya minum ASI sedikit dan lebih sering minum susu
formula
DO:
- Tampak OUE dibawah skrotum
- Pasien minum susu formula

3. Ansietas orang tua berhubungan dengan pre operasi ditandai dengan:


DS:
- Keluarga pasien megatakan merasa cemas dengan keadaan pasien
karena ibu belum mengetahui kapan akan dioperasi
DO:
- Ibu pasien tampak bertanya tentang tindakan operasi dan kapan
akan dilakuakan
- Ibu pasien tampak gelisah
41

D. Intervensi
Intervensi
No Diagnosa Keperawatan Tujuan
Tindakan Rasional
1 Gangguan pola berkemih Setelah dilakukan 1. Kaji pola berkemih pasien 1. Mengetahui pola berkemih
berhubungan dengan obstruksi tindakan keperawatan 2. Kaji cara berkemih pasien pasien guna menentukan
anatomik selama 5x24 jam pasien 3. Pantau distensi kandung intervensi yang sesuai untuk
dapat mengeluarkan kemih pasien.
urine, dengan kriteria 4. Monitor intake & output 2. Cara berkemih mentukan
hasil: 5. Gunakan perlak dan stick tingkat kerusakan saluran
- Tidak ada ditensi dikasur OUE.
kandung kemih 6. Kolaborasi dengan dokter 3. Mencegah terjadinya overload
- Balance cairan untuk penjadwalan operasi kapasitas kandung kemih
seimbang pasien 4. Mengetahui balance cairan
5. Menyerap air kencing pasien
ketika pasien pipis sehingga
mencegah basah pada daerah
sekitar linen.
6. Sebagai langkah
penyembuhan penyakit pasien
42

2 Risiko gangguan tumbuh Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji tumbuh kembang pasien 1. Mengetahui keadaan umum
kembang berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 2. Lakukan penilaian DDST tumbuh kembang pasien.
kelainan kongenital. jam, kecemasan keluarga 3. Anjurkan ibu untuk 2. Mengetahui adanya gangguan
berkurang dengan kriteria memantau tumbuh kembang tumbuh kembang atau tidak.
hasil: pasien. 3. Ibu berperan penting dalam
- Pasien aktif. 4. Berikan penkes tentang tumbuh kembang pasien.
- Pasien makan makanan tumbuh kembang usia 1 tahun 4. Menambah pengetahuan
yang bergizi 5. Kolaborasi dengan dokter keluarga.
- Tidak ada kelainan untuk pemeriksaan tumbuh 5. Menilai tumbuh kembang
dalam tumbuh kembang anak. pasien dengan lebih akurat
kembang sesuai dengan ahlinya.
3 Ansietas Orang tua berhubungan Setelah dilakukan asuhan 1. Bina hubungan saling percaya 1. Hubungan saling percaya
dengan pre operasi keperawatan selama 3x24 2. Kaji tingkat kecemasan sebagai dasar komunikasi
jam, kecemasan keluarga 3. Identifikasi penyebab terapeutik kepada pasien dan
berkurang dengan kriteria kecemasan keluarga keluarga
hasil: 4. Identifikasi cara-cara yang 2. Mengetahui tingkat
- keluarga mampu efektif untuk mengurangi kecemasan pada keluarga
mengidentifikasi kecemasan untuk menentukan intervensi
penyebab dan cara 5. Motivasi keluarga untuk selanjutnya
dalam mengurangi mengungkapkan perasaan, 3. Menghindari penyebab yang
43

kecemasan ketakutan dan persepsi membuat kecemasan dapat


- Ekspresi wajah 6. Jelaskan semua prosedur yang mengurangi kecemasan
keluarga tidak tegang akan dilakukan untuk 4. Mengetahui kebiasaan
- Keluarga mengerti kesembuhan pasien keluarga dalam mengatasi
tentang tindakan yang 7. Ciptakan suasana yang tenang kecemasan
akan dilakukan pada 8. Dengarkan setiap 5. Dengan mengungkapkan
pasien pembicaraan keluarga dengan perasaan dan ketakutan,
penuh perhatian keluarga lebih tenang
6. Menambah pengetahuan
keluarga dan keluarga lebih
tenang menghadapi
kemungkinan yang terjadi
7. Suasana tenang mendukung
untuk menenangkan dalam
berfikir
8. Mendengarkan pasien
menandakan perawat seorang
yang caring
44

E. Implementasi dan Evaluasi


1. DIAGNOSA KEPERAWATAN : Gangguan pola berkemih berhubungan
dengan obstruksi anatomik
Implementasi Evaluasi
Selasa, 18 November 2014 Selasa, 18 November 2014
Pukul 10.00 WIB Pukul 14.00 WIB
1. Mengkaji pola berkemih pasien
2. Memonitor intake & output S : Ibu pasien mengatakan pasien sering
3. Memasang perlak dan stick dikasur BAK.hari ini pasien sudah ganti pampers 2x.
Ibu pasien mengatakan hari ini baru minum
susu formula 250cc dan air teh sebanyak 100cc.
O:
1. Terpasang perlak dan stick bersih diatas
tempat tidur pasien
2. Intake : ±400cc ouput :± 250cc.
3. Pasien aktif
A : Gangguan pola berkemih berhubungan
dengan obstruksi anatomik teratasi sebagian
P:
- Monitor intake dan ouput pasien
- Kaji TTV pasien.

Rabu, 19 November 2014 Rabu, 19 November 2014


Pukul 19.00 Pukul 20.00
1. Memantau distensi kandung kemih S : ibu pasien mengatakan pasien b.a.k di
2. Memonitor intake & output pampers dan pampersnya sudah ganti 3x. Ibu
3. Menggunakan perlak dan stick dikasur pasien mengatakan pasien minum susu habis ±
400cc
O:
1. Terpasang perlak dan stick bersih diatas
tempat tidur pasien
2. Intake : ±400cc ouput :± 300cc.
45

A : Gangguan pola berkemih berhubungan


dengan obstruksi anatomik teratasi sebagian
P:
- Monitor intake dan ouput pasien
- Kaji TTV pasien.

2. DIAGNOSA KEPRAWATAN : Risiko gangguan tumbuh kembang


berhubungan dengan kelainan kongenital
Implementasi Evaluasi
Selasa, 18 November 2014 Selasa, 18 November 2014
Pukul 10:00 WIB Pukul 10:20 WIB
1. Mengkaji tumbuh kembang pasien S : ibu pasien mengatakan BBL pasien
2. Menganjurkan ibu untuk memantau 1800gram, sedangkan BBS pasien 9000gram.
tumbuh kembang pasien. TB pasien saat lahir 43 cm.
O : TBS : 72 cm
LK : 44 cm
LD : 46 cm
LP : 47 cm
LLA : 15 cm
A : Risiko gangguan tumbuh kembang
berhubungan dengan kelainan kongenital
tercapai sebagian
P:
1. Lakukan penilaian DDST
2. Berikan penkes tentang tumbuh kembang
usia 1 tahun
46

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN : Ansietas Orang tua berhubungan dengan


pre operasi
Implementasi Evaluasi
Selasa, 18 November 2014 Selasa, 11 November 2014
Pukul 10.30 WIB Pukul 112.00 WIB
1. Membina hubungan saling percaya S : Ibu pasien mengatakan cemas karena belum
2. Mengidentifikasi penyebab ada pemberitahuan kapan akan dilakukan
kecemasan keluarga operasi. Ibu pasien mengatakan mengerti dengan
3. Menjelaskan semua prosedur yang apa yang sudah dijelaskan oleh praktikan
akan dilakukan untuk kesembuhan O :
pasien - Ibu pasien mampu mngulang kembali
apa yang sudah dijelaskan oleh praktikan.
- Ibu pasien tampak tenang.
- Ibu pasien kooperatif
A: Ansietas Orang tua berhubungan dengan pre
operasi teratasi sebagian
P : Kaji tingkat kecemasan

Rabu, 19 Nopember 2014 Rabu, 19 Nopember 2014


Pukul 15.00 WIB Pukul 15.30 WIB
1. Mengidentifikasi cara-cara yang S: ibu pasien mengatakan biasanya untuk
efektif untuk mengurangi kecemasan mengurangi kecemasan dengan cara bermain
2. Memotivasi keluarga untuk dengan anaknya
mengungkapkan perasaan, ketakutan O: ibu pasien tampak tersenyum
dan persepsi A: Ansietas Orang tua berhubungan dengan pre
3. Menciptakan suasana yang tenang operasi teratasi sebagian
4. Mendengarkan setiap pembicaraan P:
keluarga dengan penuh perhatian 1. Motivasi keluarga untuk mengungkapkan
perasaan, ketakutan dan persepsiJelaskan
semua prosedur yang akan dilakukan untuk
kesembuhan pasien
47

2. Ciptakan suasana yang tenang


3. Dengarkan setiap pembicaraan keluarga
dengan penuh perhatian
48

BAB 4
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Menurut Mansjoer (2000;274), hipospadia berasal dari dua kata yaitu “hypo”
yang berarti “di bawah” dan “spadon“ yang berarti keratan yang panjang.
Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan congenital dimana meatus uretra
externa terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya
yang normal (ujung glans penis).
Menurut Muttaqin (2011;240), hipospadia adalah kelainan kongenital berupa
muara uretra yang terletak di sebelah ventral penis dan sebelah proksimal ujung
penis. Hipospadia terjadi pada 1 sampai 3 per 1000 kelahiran dan merupakan
anomali penis yang paling sering.
Menurut Suriadi (2006;141), hipospadia adalah merupakan kongenital
manomali yang mana uretra bermuara pada sisi bawah penis atau perineum.
Secara klinis hypospadia dibagi menjadi 3 bagian antara lain:
1. Anterior hypospadia
2. Middle hypospadia
3. Posterior hypospadia
Penatalaksanaan hypospadia dilakukan 2 tahap :
1. Chordectomi: melepas chordae untuk memperbaiki fungsi dan
memperbaiki penampilan phallus (penis).
2. Urethroplasty: membuat Osteum Urethra Externa diujung gland penis
sehingga pancaran urin dan semen bisa lurus ke depan.

4.2. Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan untuk mahasiswa keperawatan dapat
digunakan dengan baik. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta untuk
melakukan asuhan keperawatan kepada pasien hiospadia dengan baik, serta tepat
untuk menegakkan diagnosis keperawatan
49

Daftar Pustaka

Lissauer,Tom.2006.At a Glance Neonatologi. Jakarta: Penerbit Erlangga


Mansjoer, Arif, dkk.2000.Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2, Jakarta : Media
Aesculapius.
Muttaqin Arif, dan Kumala Sari.2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.
Markum, A H.1991.Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Muscari, Mary E. 2005. Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC
Muslihatum, Wafi Nur .2010.Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta:
Penerbit Fitramaya.
Ngastiyah.2005. Perawatan Anak Sakit, Edisi 2. Jakarta : EGC.
Purnomo, B Basuki.2003. Dasar – Dasar Urologi. Jakarta : Infomedika
Speer, Kathleen Morgan.2007.Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik. Jakarta:
EGC
Suriadi dan Rita Juliani.2006..Asuhan Keperawatan Pada Anak, edisi II. Jakarta:
Sagung Seto.
Diah. 2011. http://id.scribd.com/doc/132430534/Pathway-Hipospadia. (diakses
tanggal 27 April 2017)
Tania Tresna Delima.2012. http://id.scribd.com/doc/99555610/LP-Hipospadia (di
akses tanggal 27 April 2017)
Husna Sugiarto.http://id.scribd.com/doc/98191150/LAPORAN
PENDAHULUAN. (diakses tanggal 27 April 2017)
Echa Septia Wahyuni. http://www.scribd.com/doc/144114585/WOC-
hypospadia#download. (di akses tanggal 1 Mei 2017)
Ariani. http://arinariany.blogspot.com/2013/04/asuhan-keperawatan-
hipospadia.html. (di akses tanggal 1 Mei 2017)