Anda di halaman 1dari 23

1

Laporan Kasus dan Telaah Jurnal Prognosis

Dermatitis Eksfoliatif dengan Underlying


Disease Dermatitis Seboroik

Oleh:
Aini Mutmainah
Orintya Putri Adiyusika

Pembimbing:
Fitria Salim

BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
RSUD dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini.
Shalawat beserta salam kita ucapkan kepada Nabi Muhammad SAW yang
telah membawa kita dari zaman jahiliyah ke zaman islamiyah, serta kepada
sahabat dan keluarga beliau.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dr. Fitria Salim,M.Sc,
Sp.KK yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing penulis
dalam penyusunan laporan kasus yang berjudul “Dermatitis Eksfoliatif dengan
Underlying Disease Dermatitis Seboroik”, serta para dokter di bagian/SMF Ilmu
Kesehatan Kulit dan Kelamin yang telah memberikan arahan serta bimbingan
hingga terselesaikannya laporan kasus ini.
Tidak ada kata sempurna dalam pembuatan sebuah laporan kasus.
Keterbatasan dalam penulisan maupun kajian yang dibahas merupakan beberapa
penyebabnya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan masukan terhadap
laporan kasus ini demi perbaikan di masa yang akan datang.

Banda Aceh, 23 Agustus 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... iv
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... v
PENDAHULUAN .............................................................................................. 1

LAPORAN KASUS ........................................................................................... 3


Identitas Pasien ............................................................................................ 3
Anamnesis ................................................................................................... 3
Pemeriksaan Fisik Kulit............................................................................... 4
Diagnosis Banding ....................................................................................... 6
Pemeriksaan Penunjang ............................................................................... 6
Resume ........................................................................................................ 8
Diagnosa Klinis ........................................................................................... 8
Tatalaksana .................................................................................................. 8
Edukasi ....................................................................................................... 9
Prognosis ..................................................................................................... 9

ANALISA KASUS ............................................................................................ 10


DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 15
LAMPIRAN ....................................................................................................... 16

iii
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Regio thorakalis anterior . ......................................................................4


Gambar 2. Regio thorakalis posterior . ....................................................................4
Gambar 3. Regio brachialis dextra . ........................................................................5
Gambar 4. Regio brachialis sinistra . .......................................................................5
Gambar 5. Regio cruris dextra et sinistra . ...............................................................5
Gambar 6. Regio femoris sinistra . ..........................................................................5
Gambar 7. Regio fascialis . .....................................................................................5
Gambar 8. Regio palmar ........................................................................................6
Gambar 9. Regio plantar ........................................................................................6

v
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Foto Klinis Pasien setelah 6 Hari Rawatan di Rumah Sakit . ..................16

v
PENDAHULUAN

Dermatitis eksfoliatif (DE) didefinisikan sebagai eritema difus dan


pengelupasan kulit yang melibatkan lebih dari 90% luas permukaan kulit di
seluruh tubuh. Penyebab umum yang mendasari dermatitis eksfoliatif adalah
psoriasis, dermatitis atopik dan penyakit kulit lainnya, reaksi hipersensitivitas
obat, dan limfoma sel T kutaneous. Penyebab terjadinya dermatitis eksfoliatif
masih belum diketahui (idiopatik) pada 20% kasus.(1)
Beberapa penelitian telah melaporkan kejadian dermatitis eksfoliatif yang
bervariasi mulai dari 0,9 sampai 71,0 per 100.000 pasien rawat jalan, dengan rasio
laki-laki terhadap perempuan sekitar 2 : 1 sampai 4 : 1. Setiap kelompok usia
dapat terpengaruh dan usia rata-rata onset penyakit bervariasi mulai dari usia 41
sampai 61 tahun. Dari penggabungan 18 penelitian yang sudah dipublikasikan
dari berbagai negara menunjukkan bahwa dermatosis yang sudah ada sebelumnya
merupakan penyebab yang paling banyak pada orang dewasa (52% dari kasus DE,
dengan rentang 27% – 68%) disusul dengan reaksi hipersensitivitas obat (15%),
dan limfoma sel T kutaneous atau Sindrom Serazy (5%).(1)
Secara klinis, dermatitis eksfoliatif ditandai dengan peradangan yang
melibatkan seluruh atau sebagian besar (> 90%) tubuh, dengan atau tanpa
pengelupasan kulit.(2) Kulit memiliki fungsi untuk mengendalikan suhu tubuh,
mempertahankan cairan, dan bertindak sebagai penghalang infeksi. Penderita
dermatitis eksfoliatif mengalami kerusakan kulit dan kehilangan fungsi penting
ini.(3) Gejalanya dapat disertai demam, menggigil, malaise, limfadenopati,
distrofi kuku, alopesia, dan gagal jantung kongestif.(2)
Penatalaksanaan dermatitis eksfoliatif meliputi gabungan antara pengobatan
gejala dan menangani etiologi yang mendasari serta komplikasi sitemik yang
dapat timbul. Rawat inap diperlukan pada kasus akut. Manajemen awal terhadap
pasien dengan DE melibatkan penggantian cairan dan elektrolit, dan perbaikan
nutrisi. Ketika penyebab yang mendasari DE tidak diketahui, terapi empirik
dengan agen sistemik, seperti metotreksat, siklosporin, asitretin, mikofenolat
mofetil, dan kortikosteroid sistemik dapat digunakan.(1)

1
2

Dermatitis eksfoliatif dapat menyebabkan serangkaian komplikasi


metabolik dan fisiologis, termasuk ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, gagal
jantung, sindrom gangguan pernafasan akut, dan infeksi sekunder. Banyak faktor
yang mempengaruhi gejala klinis dan prognosis, termasuk usia pasien, etiologi
yang mendasari, kondisi medis yang menyertai, kecepatan onset eritroderma, dan
waktu dimulainya terapi. Terapi suportif dan diagnosis dini penting untuk
memperbaiki penyebab yang mendasarinya dan memperbaiki tingkat morbiditas
dan mortalitas. Tingkat mortalitas telah dilaporkan berkisar antara 3,73% sampai
64%, tergantung pada populasi pasien yang diteliti. Kemajuan diagnosis dan
pengobatan yang lebih lanjut dapat mengurangi tingkat mortalitas.(4)
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama : BM
Umur : 65 tahun
JenisKelamin : laki-laki
Suku : Aceh
Agama : Islam
Pekerjaan : Tidak bekerja
Alamat : Bireun
Tanggal Pemeriksaan : 11 Agustus 2017
Nomor CM : 1-13-83-44

ANAMNESIS

Keluhan Utama
Kulit terkelupas.

Keluhan Tambahan
Kaki bengkak.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan kulit terkelupas diseluruh badan sejak dua
bulan yang lalu. Pasien mengeluh awalnya di dada muncul seperti merah-merah
tebal dan menjadi luka dan krusta, kemudian luka tersebut menyebar ke area lain.
Pada bulan april 2017, Pasien dirawat di RS Bireun dengan keluhan yang sama.
Keluhan berkurang ketika pasien menggunakan obat dari rumah sakit. Namun,
keluhan tersebut muncul kembali setelah satu bulan pasien tidak menggunakan
obat yang diberikan. Pasien sekarang merasakan kulit di seluruh tubuhnya kering
dan terkelupas, ketika kulit kering pasien merasakan perih. Pasien juga
mengeluhkan sulit berjalan karena kedua kakinya bengkak sejak 20 hari yang lalu.
Pasien dengan riwayat demam yang disertai menggigil dan lebih nyaman

3
4

menggunakan selimut. Pasien juga mengeluhkan nyeri ketika BAK dan sering
sakit pinggang.

Riwayat penyakit dahulu


Pasien pernah didiagnosa dengan batu ginjal dan sudah dilakukan
pembedahan pada tahun 2011. Pasien memiliki riwayat nyeri sendi sejak 2 tahun
yang lalu.

Riwayat penyakit keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama seperti
pasien.

Riwayat pemakaian obat


Obat-obatan yang diberikan dari dokter kulit di RS Bireun, namun pasien
tidak ingat nama obat tersebut. Dan obat untuk nyeri sendi yang dibeli di depo
obat tanpa resep dokter.

Riwayat kebiasaan sosial yang terkait


Pasien adalah seorang tukang becak barang yang sering terpapar sinar
matahari.

PEMERIKSAAN FISIK KULIT


Status Dermatologis
Tanggal (11 Agustus 2017)

Gambar 1 Regio thorakalis anterior Gambar 2 Regio thorakalis posterior


5

Gambar 3 Regio brachialis sinistra Gambar 4 Regio brachialis dextra

Gambar 5 Regio cruris dextra et sinistra Gambar 6 Regio femoris sinistra

Gambar 7 Regio fascialis


6

Regio : Thorakalis anterior et posterior, brachii dextra et sinistra,


antebrachii dextra et sinistra, femoris dextra et sinistra,
cruris dextra et sinistra, dan fascialis.
Deskripsi lesi : Tampak patch eritematous, batas tidak tegas, tepi ireguler,
dengan permukaan ditutupi skuama berwarna kuning,
jumlah multipel, distribusi universal.

Gambar 8 Regio palmar Gambar 9 Regio plantar

Regio : Regio palmar dan plantar


Deskripsi lesi : Tampak deskuamasi

DIAGNOSIS BANDING

Dermatitis eksfoliatif ec dd/


1. Dermatitis seboroik
2. Drugs Eruption
3. Eritroderma idiopatik

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium
Tabel 1. Hasil pemeriksaan laboratorium darah
7

JENIS PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN SATUAN


HEMATOLOGI

Darah Rutin :

Hemoglobin 10,7 12,0-15,0 g/dL

Hematokrit 32 37-47 %

Eritrosit 3,7 4,2-5,4 106/mm3

Leukosit 15,4 4,5-10,5 103/mm3

Trombosit 202 150-450 103/mm3

MCV 88 80-100 fL

MCH 29 27-31 Pg

MCHC 33 32-36 %

RDW 19,0 11,5-14,5 %

MPV 7,8 7,2-11,1 fL

Hitung Jenis:

Eosinofil 3 0-6 %

Basofil 0 0-2 %

Netrofil Batang 0 2-6 %

Netrofil Segmen 87 50-70 %

Limfosit 6 20-40 %

Monosit 4 2-8 %

KIMIA KLINIK

DIABETES

Glukosa Darah Sewaktu 103 < 200 Mg/dL

GINJAL-HIPERTENSI

Ureum 18 13-43 mg/dL

Kreatinin 0,90 0,51-0,95 mg/dL

KIMIA KLINIK
8

Hati & Empedu

Bilirubin total 0,40 0,3-1,2 mg/dl

Bilirubin direct 0,20 0,52 mg/dl

Bilirubin indirect 0,20

SGOT 27 < 31 U/L

SGPT 76 < 31 U/L

Protein total 5,78 6,4-8,3 g/dl

Albumin 2,94 3,5-5,2 g/dl

Globulin 2,81 g/dl

RESUME
Seorang laki-laki dengan inisial BM berumur 65 tahun datang dengan keluhan
kulit terkelupas diseluruh badan sejak 2 bulan yang lalu. Pasien mengeluh
awalnya di dada muncul seperti merah-merah tebal dan menjadi luka dan krusta,
kemudian luka tersebut menyebar ke area lain. Pasien sekarang merasakan kulit di
seluruh tubuhnya kering dan terkelupas, ketika kulit kering pasien merasakan
perih. Pasien juga mengeluh sulit berjalan karena kedua kaki bengkak sejak 20
hari yang lalu. Dari hasil pemeriksaan fisik, pada regio fascialis, thorakalis anterior
dan posterior ditemukan patch eritematous dengan batas tegas tepi iregular dengan
permukaan skuama tebal dan ekskoriasi, ukuran lentikuler sampai numular, jumlah
multipel, distribusi regional. Pada regio fascialis, thorakalis anterior dan posterior,
cruris, femur, ante brachii, dan brachii tampak patch eritematous dengan batas tegas,
tepi reguler, dengan permukaan skuama halus dan kering, jumlah multipel, dan distribusi
universal.

DIAGNOSIS KLINIS
Dermatitis eksfoliatif ec dermatitis seboroik

TATALAKSANA
a. Terapi Sistemik :
- IVFD NaCl 0,9% 20 gtt/i
- Inj. Metilprednisolon 62,5 mg/12 jam
9

- Inj. Ranitidin 1 gr/12 jam


- Inj. Ceftriaxon 1 gr/12 jam
- Cetirizin 10 mg tab 2x1
b. Terapi Topikal:
- Asam salisilat 3% + vaselin Album 30 gr 3x1 (1 jam sebelum mandi)
- Asam salisilat 3% + momethason cr 2x1 (pagi dan sore dibagian wajah)
- Asam salisilat 3% + Desoximethason cr 2x1 (pagi dan sore dibagian kaki)
- Tyamisin 1% + Diflucortolon valerat cr 2x1 (pagi dan sore dibagian
badan)

EDUKASI
- Menjelaskan tentang penyakit pendahulu tentang pemicu dermatitis
eksfoliatif yang dapat memperberat penyakit.
- Mengurangi garukan pada lesi kulit.
- Menggunakan pelembap untuk seluruh badan yang kering supaya lesi
tidak terkelupas.
- Memberikan makan-makanan yang bernutrisi, khususnya yang tinggi
protein.

PROGNOSIS
Quo ad vitam : Dubia ad Bonam
Quo ad fungtionam : Dubia ad Bonam
Quo ad sanactionam : Dubia ad Bonam
ANALISA KASUS

Telah dilakukan pemeriksaan pada pasien laki-laki umur 65 tahun di


poliklinik kulit dan kelamin RSUD dr. Zainoel Abidin. Pasien datang dengan
keluhan kulit terkelupas di seluruh badan sejak 2 bulan yang lalu yang awalnya
berupa bercak merah tebal dan menjadi luka dan krusta. Pasien didiagnosa dengan
dermatitis eksfoliatif. Sebelumnya pasien sudah pernah dirawat di RS Bireun
dengan keluhan yang sama pada bulan April 2017. Pasien juga sering
mengeluhkan nyeri sendi sejak dua tahun yang lalu. Nyeri sendi yang dirasakan
diatasi pasien dengan membeli obat ke apotek tanpa resep dokter.
Berdasarkan teori, dermatitis eksfoliatif merupakan eritema difus dan
pengelupasan kulit yang melibatkan lebih dari 90% luas permukaan kulit di
seluruh tubuh. Dermatitis eksfoliatif lebih banyak diderita laki-laki dibandingkan
perempuan dengan usia rata-rata 41 sampai 61 tahun.(1) Dermatitis eksfoliatif
pada orang dewasa dapat disebabkan oleh dermatitis atopik, psoriasis, limfoma
sel T kutaneus, dan reaksi obat. Penyebab lain yang jarang terjadi adalah
dermatosis bulosa, pityriasis rubra pilaris, papuloeritroderma ofuji, dan penyakit
jaringan ikat.(5)
Dari anamnesis, pasien mengeluhkan kulit kering disertai gatal diseluruh
tubuh. Terasa perih ketika kulit terkelupas. Pasien memiliki riwayat demam yang
disertai menggigil dan lebih nyaman menggunakan selimut. Pasien juga
mengeluhkan kaki bengkak yang menyebabkan pasien sulit berjalan sejak 20
hari yang lalu. Berdasarkan teori, dermatitis eksfoliatif ditandai dengan patch
eritematous yang meluas secara cepat dalam waktu 12 – 48 jam dan dapat disertai
dengan demam, menggigil, dan lemas. Intensitas eritema dapat berfluktuasi
selama beberapa hari atau bahkan beberapa jam. Umumnya pasien mengeluh
merasa kedinginan terutama pada saat eritema meluas. Pengelupasan kulit muncul
setelah 2 sampai 6 hari tergantung derajat dan karakter dari kasus ke kasus. Pada
tahap ini kulit berwarna merah terang, panas dan kering, dan menebal.(6)
Eritema berarti terjadi pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan aliran
darah ke kulit meningkat sehingga kehilangan panas bertambah. Akibatnya pasien
merasa dingin dan menggigil. Hipotermi terjadi akibat peningkatan perfusi kulit.

10
11

Penguapan cairan yang makin meningkat dapat menyebabkan dehidrasi. Bila suhu
badan meningkat, kehilangan panas juga meningkat. Pengaturan suhu terganggu.
Kehilangan panas menyebabkan hipermetabolisme dan peningkatan laju
metabolisme basal.(7)
Kehilangan skuama pada dermatitis eksfoliatif dapat mencapai 9 gram/m2
permukaan kulit atau lebih per hari sehingga menyebabkan kehilangan protein.
Hipoproteinemia dengan berkurang albumin dan peningkatan relatif globulin
terutama globulin γ merupakan kelainan yang khas. Edema sering terjadi,
kemungkinan disebabkan oleh pergeseran cairan ke ruang ekstravaskuler.(7)
Meskipun beragam penyebabnya, dermatitis eksfoliatif memiliki beberapa
ciri klinis yang umum. Pruritus, keluhan yang paling sering diamati pada 90%
pasien. Gejala ini bervariasi sesuai dengan penyebab utamanya, paling sering
terjadi pasien dengan dermatitis atau sindrom serazy. Selain gatal, kulit bisa
menjadi menebal dan area likenifikasi terlihat pada sepertiga kasus. Pada kasus
eritroderma kronis, pasien mengalami dispigmentasi, dengan hiperpigmentasi
lebih sering terjadi dibandingkan hipopigmentaasi atau depigmentasi.
Keratoderma palmoplantar terjadi pada 30% kasus, dan ini sering merupakan
tanda awal pada pityriasis rubra pilaris. Keratoderma dengan krusta bisa
menunjukkan crusted scabies, sedangkan keratoderma yang perih dan terdapat
fisura dapat terjadi pada sindrom serazy.(8)
Pada pemeriksaan fisik pada kasus dermatitis eksfoliatif dari etiologi apapun
dapat ditemukan :
- Takikardi, akibat meningkatnya aliran darah ke kulit dan kehilangan cairan
akibat gangguan epidermal yang terganggu.
- Gagal jantung dengan output tinggi jarang dilaporkan terjadi pada kasus
dermatitis eksfoliatif
- Gangguan termoregulator dapat menyebabkan hipotermi atau hipertermi.
Namun, kebanyakan pasien mengeluh merasa kedinginan
- Limfadenopati generalisata terjadi pada lebih dari sepertiga pasien
- Hepatomegali dapat terjadi pada sekitar spertiga pasien dan lebih sering
terjadi pada dermatitis eksfoliatif yang disebabkan oleh obat
12

- Splenomegali juga jarang dilaporkan, dan paling sering dikaitkan dengan


limfoma
- Edema tungkai dapat terjadi pada 54% pasien dermatitis eksfoliatif dan
edema wajah dapat terjadi pada kasus dermatitis eksfoliatif karena reaksi
obat namun jarang terjadi.(1)
Pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan pada pasien berupa
pemeriksaan laboratorium dan didapatkan hasil anemia, hematokrit menurun,
leukositosis, SGPT meningkat, dan hipoalbumin. Berdasarkan teori, pemeriksaan
laboratorium pada dermatitis eksfoliatif tidak spesifik untuk menegakkan
diagnosa. Kelainan laboratorium yang sering ditemukan pada pasien dermatitis
eksfoliatif meliputi anemia, leukositosis, limfositosis, eosinofilia, peningkatan
IgE, penurunan albumin serum dan LED meningkat. Kehilangan cairan dapat
menyebabkan gangguan elektrolit dan fungsi ginjal (kreatinin meningkat).(1)
Diagnosis banding penyebab pada kasus ini meliputi dermatitis seboroik,
alergi obat dan eritroderma idiopatik. Berdasarkan anamnesis, pasien sudah
pernah menderita penyakit kulit yang lesi nya berupa bercak kemerahan yang
permukaannya terdapat skuama tebal dan ekskoriasi yang terletak di wajah dan
dada. Sesuai dengan predileksi lesi dermatitis seboroik secara khas ditemukan di
daerah tubuh dengan folikel sebaceous dengan konsentrasi tinggi dan kelenjar
sebaceous aktif termasuk wajah, kulit kepala, telinga, dada, dan daerah lipatan
tubuh (inguinal, sela-sela payudara, dan aksila).(1)
Diagnosis banding kedua pada pasien ini adalah alergi obat. Berdasarkan
riwayat penyakit dahulu, pasien memiliki riwayat sakit nyeri sendi yang diobati
dengan minum obat-obatan yang tidak berdasarkan resep obat. Obat yang
diminum hanya untuk menghilangkan rasa nyeri. Obat tersebut diminum sudah
dua tahun yang lalu. Alergi obat juga sering menyebabkan dermatitis eksfoliatif,
terhitung sampai 20% kasus. Obat yang paling sering terlibat adalah
karbamazepin, penisilin, dan allopurinol.(9) Gambaran klinis dermatitis eksfoliatif
akibat alergi obat berupa eritema universal dan skuama akan timbul di stadium
penyembuhan.(7)
Diagnosa banding ketiga pada pasien ini adalah eritroderma idiopatik. Pada
sekitar sepertiga pasien dermatitis eksfoliatif, tidak ada penyakit yang mendasari
13

yang dapat dideteksi. Kelompok ini terutama terdiri dari pria lanjut usia dengan
riwayat eritroderma pruritic yang kambuh sehubungan dengan limfadenopati
dermatopati dan keratoderma palmoplantar yang luas. Ketika kelompok ini
dibandingkan dengan keseluruhan kelompok pasien dermatitis eksfoliatif,
limfadenopati dan edema perifer ternyata lebih sering ditemukan dibandingkan
pada penyebab lainnya, dan hipotermia lebih sering terjadi daripada
hipertermia.(8)
Pada pasien ini diberikan obat antihistamin berupa cetirizin 10 mg diminum
dua kali sehari dan antibiotik berupa seftriakson yang diberikan melalui intravena
per 12 jam. Antihistamin berguna karena bisa mengurangi gatal saat kambuh.(4)
Antihistamin dapat diberikan untuk efek sedasi dan antipruritik. Antibiotik
sistemik diperlukan untuk pasien dengan bukti infeksi sekunder lokal dan
sistemik. Septikemia sekunder akibat infeksi Staphylococcus seringkali
merupakan komplikasi dermatitis eksfoliatif dan memerlukan penanganan
antibiotik dan suportif yang agresif. Bahkan pasien tanpa bukti infeksi sekunder
dapat mengambil manfaat dari terapi antibiotik sistemik karena kolonisasi bakteri
dapat memperburuk keluhan.(1)
Pasien kemudian diberikan keratolitik yang dicampur dengan pelembab
berupa asam salisilat 3% dicampur dengan vaselin album 60 gram yang diberikan
pagi, sore, dan malam hari sebelum mandi dan diberikan antibiotik topikal berupa
Tyamisin 1% dicampur diflucortolon valerate cream 2x1 yang diberikan sesudah
mandi. Asam salisilat digunakan secara topikal untuk sifat keratolitik,
bakteriostatik, fungisida, dan fotoprotektifnya. Aplikasi topikal telah ditunjukkan
untuk mengurangi tingkat proliferasi keratinosit. Ini juga menghambat kolesterol
sulfotransferase, sebuah enzim yang bertanggung jawab untuk pembentukan
kolesterol sulfat dalam keratinosit. Asam salisilat secara langsung melarutkan
stratum korneum dengan melarutkan semen interselular. Melalui mekanisme ini,
asam salisilat meningkatkan eliminasi skuama dari stratum korneum.(10)
Pemberian kortikosteroid pada pasien ini diberikan secara topikal berupa
momethason cream dicampur dengan asam salisilat 3% dua kali sehari diberikan
di bagian wajah dan desoximethason dicampur dengan asam salisilat 3% dua kali
sehari yang diberikan sesudah mandi di bagian kaki. Pasien juga diberikan
14

kortikosteroid sistemik berupa injeksi metilprednisolon 62,5 gram per 12 jam.


Untuk efek samping dari kortikosteroid tersebut diberikan ranitidin secara
intravena per 12 jam. Berdasarkan teori, pasien dermatitis eksfoliatif harus
dirawat di tempat yang hangat (30°C - 32°C) dan lingkungan lembab untuk
kenyamanan dan kelembaban kulit, serta untuk mencegah hipotermia. Perawatan
kulit lokal yang lembut, termasuk mandi oatmeal dan dressing basah pada lesi
yang basah atau krusta, pemberian emolien, dan steroid topikal dengan potensi
rendah harus dimulai.(1) Pada dermatitis eksfoliatif akibat perluasan penyakit
kulit juga diberikan kortikosteroid sistemik. Jika setelah beberapa hari tidak
tampak perbaikan dosis dapat dinaikkan. Setelah tampak perbaikan, dosis
diturunkan perlahan-lahan. Pada pengobatan dengan kortikosteroid jangka
panjang (long term), yakni jika melebihi 1 bulan lebih baik digunakan
metilprednisolon daripada prednison dengan dosis ekuivalen karena efeknya lebih
sedikit.(7)
DAFTAR PUSTAKA

1. Grant-Kels JM, Fedeles F, Rothe MJ. Exfoliative Dermatitis. In: Goldsmith


LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ, Wolff K, editors.
Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine (Volume 1). 8th ed. United
States: McGraw Hill Companies; 2012. p. 266–79.
2. Egeberg A, Thyssen JP, Gislason GH, Skov L. Prognosis after
Hospitalization for Erythroderma. Acta Derm Venereol. 2016;96(7):959–62.
3. Dobson JS, Levell NJ. Erythroderma. Medicine (Baltimore).
2017;45(7):417–21.
4. Mistry N, Gupta A, Alavi A, Sibbald G. A Review of the Diagnosis and
Management of Erythroderma ( Generalized Red Skin ). Adv Skin Wound
Care. 2015;28(5):228–36.
5. Thomson MA, Berth-Jones J. Erythroderma and Exfoliative Dermatitis. In:
Revuz J, Roujeau J-C, Kerdel FA, Valeyrie-Allanore L, editors. Life-
Threatening Dermatoses and Emergencies in Dermatology. Berlin: Springer
Berlin Heidelberg; 2009. p. 79–87.
6. Berth-Jones J. Eczema, Lichenification, Prurigo, and Erythroderma. In:
Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, editors. Rook’s Textbook of
Dermatology. 8th ed. United Kingdom: Blackwell publishing; 2010. p.
23.46-23.50.
7. Juanda A. Eritroderma. In: Menaldi SLS, Bramono K, Indriatmi W, editors.
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 7th ed. Jakarta: FK UI; 2015. p. 228–31.
8. Sterry W, Steinhoff M. Papulosquamous and Eczematous Dermatoses. In:
Bolognia JL, Jorizzo JL, Schaffer J V, editors. Dermatology. 3rd ed. United
States: Elsevier Ltd; 2012. p. 171–82.
9. Rowe CJ, Robertson I, James D, McMeniman E. Warfarin-induced
erythroderma. Australas J Dermatol. 2015;56(1):e15–7.
10. Madan RK, Levitt J. A review of toxicity from topical salicylic acid
preparations. J Am Acad Dermatol.2014;70(4):788–92.

15
Lampiran 1. Foto Klinis Pasien setelah 6 Hari Rawatan di Rumah Sakit

Gambar 1. Regio fascialis Gambar 2. Regio Thorakalis Ant

Gambar 3. Regio Thorakalis post Gambar 4. Regio Brachii sinistra

Gambar 5. Regio dorsum manus Gambar 6. Regio brachii


16
dekstra
17

Gambar 8. Regio cruris dan dorsum palmar Gambar 9. Regio ante brachii sin

Gambar 10. Regio femur Gambar 11. Regio antebrachii dex


18