Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

ABORTUS

DISUSUN OLEH :

NAMA : RESKY AULIA NURZEHA S.KEP

NIM : 113063J117037

PROGRAM PROFESI NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


SUAKA INSAN BANJARMASIN
2017
A. DEFINISI ABORTUS

Perkembangan janin
Abortus adalah berakhirnya kehamilan dengan pengeluaran hasil
konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan dengan usia gestasi
kurang dari 20 minggu dan berat badan janin kurang dari 500 gram (Murray,
2009).
Abortus adalah ancaman atau hasil pengeluaran konsepsi pada usia
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram,
sebelum janin mampu hidup di luar kandungan (Nugroho, 2010)
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup di luar kandungan, sedangkan abortus inkomplit adalah sebagian
hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang tertinggal
(Manuaba, 2009).
Berdasarkan pengertian dari beberapa ahli diatas dapat disimpulkan
bahwa abortus adalah keluarnya janin/berakhirnya kehamilan yang ditandai
dengan keluarnya hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20
minggusebelum mencapai viabilitasdan beratnya kurang dari 500gr.
B. KLASIFIKASI
1. Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa tindakan)

a. Abortus imminens adalah Peristiwa terjadinya perdarahan dari


uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi
masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasiserviks.
Tanda dan Gejala Abortus Imminiens, meliputi:
1) Perdarahan sedikit/bercak
2) Kadang disertai rasa mules/kontraksi.
3) Periksa dalam belum ada pembukaan.
4) Palpasi: tinggi fundus uteri sesui usia kehamilan.
5) Hasil test kehamilan (+)/positif.
b. Abortus insipiens adalah Peristiwa perdarahan uterus pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi
serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam
uterus.
Tanda dan gejala:
1) Perdarahan banyak disertai bekuan
2) Mulas hebat (kontraksi makin lama makin dan makin sering)
3) Ostium uteri sternum mulai terbuka (serviks terbuka
4) Pada palpasi: tinggi fundus uteri sesuai usia kehamilan
c. Inkompletus adalah Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal
dalam uterus.
Tanda dan gejala:
1) Perdarahan bisa sedikit atau banyak dan bisa terdapat bekuan
dara
2) Rasa mulas (kontraksi) tambah hebat
3) Ostium uteri sternum atau serviks terbuka
4) Pada pemeriksaan vaginal, jaringan dapat diraba dalam kavum
uteri atau kadang kadang sudah menonjol dari eksternum atau
sebagian jaringan
5) Perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa janin dikeluarkan
dapat menyebabkan syok
d. Abortus kompletus adalah Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.
Tanda dan gejala:
1) Perdarahan banya
2) Mulas sedikit atau tidak (kontraksi uterus)
3) Osteo uteri telah menutup
4) Uterus sudah mengecil ada keluar jaringan, sehingga tidak ada
sisa dalam uterus
5) Diagnosis komplit ditegakan bila jaringan yang keluar juga
diperiksa kelengkapannya
e. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat)
Menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar
tubuh ibu. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup
diluar kandungan apabila kehamilan belum mencapai umur 28
minggu, atau berat badanbayi belum 1000 gram, walaupun terdapat
kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup.(James L.
Lindsey, MD, 2009)

C. ETIOLOGI
Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu :
1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasanya menyebabkan abortus
pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan
kelainan ini adalah :
a. Kelainan kromosom, terutama trimosoma dan monosoma X
b. Lingkungan sekitar tempat impaltasi kurang sempurna
c. Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan temabakau dan
alcohol
2. Kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena
hipertensi menahun
3. Faktor maternal seperti pneumonia, typus, anemia berat, keracunan dan
toksoplasmosis.
4. Kelainan traktus genetalia, seperti inkompetensi serviks (untuk abortus
pada trimester kedua), retroversi uteri, mioma uteri dan kelainan bawaan
uterus.
Penyebab secara umum:
a. Infeksi akut
1) virus, misalnya cacar, rubella, hepatitis.
2) Infeksi bakteri, misalnya streptokokus.
3) Parasit, misalnya malaria.
b. Infeksi kronis
1) Sifilis, biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua.
2) Tuberkulosis paru aktif.
3) Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah, air raksa, dll.
4) Penyakit kronis, misalnya :
a) Hipertensi
b) Nephritis
c) Diabetes
d) Anemia Berat
e) Penyakit Jantung
f) Toxemia Gravidarum
5) Gangguan fisiologis, misalnya Syok, ketakutan, dll.
6) Trauma fisik.
Penyebab yang bersifat lokal:
a. Fibroid, inkompetensia serviks.
b. Radang pelvis kronis, endometrtis.
c. Retroversi kronis.
d. Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil, sehingga
e. menyebabkan hiperemia dan abortus
Penyebab dari segi Janin
a. Kematian janin akibat kelainan bawaan.
b. Mola hidatidosa.
c. Penyakit plasenta dan desidua, misalnya inflamasi dan degenerasi
(Mitayani, 2009)

D. PATOFISIOLOGI
Pada awal abortus terjadi dalam desidua basalis, diikuti nekrosis
jaringan yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda
asing dalam uterus.Sehingga menyebabkan uterus berkonsentrasi untuk
mengeluarkan benda asing tersebut.Apabila pada kehamilan kurang dari 8
minggu, nilai khorialis belum menembus desidua serta mendalam sehingga
hasil konsempsi dapat dikeluarkan seluruhnya.Apabila kehamilan 8 sampai
4 minggu villi khorialis sudah menembus terlalu dalam sehingga plasenta
tidak dapat dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak pendarahdan
daripada plasenta.Perdarahan tidak banyak jika plasenta tidak
lengkap.Peristiwa ini menyerupai persalinan dalam bentuk miniature.
Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk,
adakalanya kantung amnion kosong atau tampak didalamnya benda kecil
tanpa bentuk yang jelas (missed aborted). Apabila mudigah yang mati tidak
dikelurakan dalam waktu singkat, maka ia dapat diliputi oleh lapisan bekuan
darah. Ini uterus dinamakan mola krenta.Bentuk ini menjadi mola karnosa
apabila pigmen darah telah diserap dalam sisinya terjadi organisasi,
sehingga semuanya tampak seperti daging. Bentuk lain adalah mola
tuberose dalam hal ini amnion tampak berbenjol-benjol karena terjadi
hematoma antara amnion dan khorion.
Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi
proses modifikasi janin mengering dan karena cairan amnion menjadi
kurang oleh sebab diserap. Ia menjadi agak gepeng (fetus kompresus).
Dalam tingkat lebih lanjut ia menjadi tipis seperti kertas pigmenperkamen.
Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak lekas dikeluarkan ialah
terjadinya maserasi, kulterklapas, tengkorak menjadi lembek, perut
membesar karena terasa cairan dan seluruh janin berwarna kemerah-
merahan.
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan
nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan
dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk
mengeluarkan benda asing tersebut(prawirohardjo,20010).

E. MANIFESTASI KLINIS
1. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu
2. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran
menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau
cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat
3. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil
konsepsi
4. Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang
akibat kontraksi uterus
5. Pemeriksaan ginekologi :
a. Inspeksi Vulva :
Perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi,
tercium bau busuk dari vulva
b. Inspekulo :
Perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau sudah
tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak
cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.
c. Colok vagina
Porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan
dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia
kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada
perabaan adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri
(Menurut Mansjoer, 2009)

F. KOMPLIKASI
1. Perdarahan (haemorrogrie)
2. Perforasi
3. Infeksi dan tetanus
4. Payah ginjal akut
5. Syok, yang disebabkan oleh syok hemoreagrie (perdarahan yang banyak)
dan syok septik atau endoseptik (infeksi berat atau septis)
6. Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi
kelainan pembekuan darah( Rustam mochtar, 2009).

G. PENATALAKSANAAN
1. Non Medis
a. Tirah baring sedikitnya 2 – 3 hari (sebaiknya rawat inap)
b. Pantang senggama
c. Setelah tirah baring 3 hari, evaluasi ulang diagnosis, bila masih
abortus imminens tirah baring di lanjutkan
d. Mobilisasi bertahap (duduk – berdiri – berjalan) dimulai apabila
diyakini tidak ada perdarahan pervaginam 24 jam
e. Pasien dirujuk setelah tanda vital dalam batas normal ke
Puskesmas Perawatan atau RS
f. Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C
g. Bersihkan vulva minimal dua kali sehari dengan cairan antiseptik
untuk mencegah infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan
coklat. (Arif Manjoer dkk Jakarta : 2009).
2. Medis
a. Bila mungkin lakukan stabilisasi keadaan umum dengan pembebasan
jalan nafas, pemberian oksigenasi (O2 2 – 4 liter per menit),
pemasangan cairan intravena kristaloid (Ringer Laktat / Ringer Asetat
/ NaCl 0,9 %) sesuai pedoman resusitasi.
b. Antibiotika profilaksis : Ampisilin i.v sebelum tindakan kuretase.
c. Perlu segera dilakukan pengeluaran hasil konsepsi dan pengosongan
kavum uteri. Dapat dilakukan dengan abortus tang, sendok kuret, dan
kuret hisap
d. Uterotonika : Oksitosin 10 IU i.m
e. Tes kehamilan dapat dilakuka. Bila hasil negatif mungkin janin sudah
mati. Pemeriksaan USG untuk menentukan apakah janin masih hidup.
f. Berikan obat penenang, biasanya fenobarbiotal 3 x 30 mg, Berikan
preparat hematinik misalnya sulfas ferosus 600 – 1.000 mg
g. Oksigenisasi 2 – 4 liter/menit
h. Pemberian cairan i.v kristaloid (NaCl 0,9%, Ringer Laktat,
Ringer Asetat)
i. Transfusi bila Hb kurang dari ‘ 3d 8 g/dl
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes Kehamilan
a. Positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus
b. Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin
masih hidup
c. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion
2. Evaluasi hematologi rutin (hemoglobin, hematokrit, leukosit,
trombosit) dan uji hemostasis (fibrinogen, waktu perdarahan, waktu
pembekuan).

I. KONSEP ASUHAN KEPERWATAN


Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan
keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis,
menentukan cara pemecahannya, melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil
tindakan yang telah dilaksanakan.
Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk
menetapkan, merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam
rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya
seoptimal mungkin. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara
berurutan, terus menerus, saling berkaitan dan dinamis.
1. Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan
menganalisanyasehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan
perawatan bagi klien
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
a. Biodata :
Mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama,
umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status
perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat
b. Keluhan utama :
Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan
pervaginam berulang
c. Riwayat kesehatan , yang terdiri atas :
1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi
ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan
pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari
usia kehamilan.
2) Riwayat kesehatan masa lalu
d. Riwayat pembedahan :
Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis
pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut
berlangsung
e. Riwayat penyakit yang pernah dialami :
Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM ,
jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin
, dan penyakit-penyakit lainnya.
f. Riwayat kesehatan keluarga :
Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut
dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular
yang terdapat dalam keluarga.
g. Riwayat kesehatan reproduksi
Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya,
sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan
menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya
h. Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas :
Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan
hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.
i. Riwayat seksual :
Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang
digunakan serta keluahn yang menyertainya.
j. Riwayat pemakaian obat :
Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat digitalis
dan jenis obat lainnya
k. Pola aktivitas sehari-hari :
Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan
BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan
saat sakit.
2. Pemeriksaan fisik, meliputi :
Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya
terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan
penghidung.
Hal yang diinspeksi antara lain :
mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi
terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan,
bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya
keterbatasan fifik, dan seterusnya
Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan
jari.
Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat
kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan
kontraksi uterus.
Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema,
memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk
mengamati turgor.
Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri
yang abnormal
Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung
pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang
organ atau jaringan yang ada dibawahnya.
Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan
bunyi yang menunjukkan ada
tidaknya cairan , massa atau
konsolidasi.
Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya
refleks/gerakan pada kaki bawah,
memeriksa refleks kulit perut apakah
ada kontraksi dinding perut atau tidak
Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan
stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang
terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan
darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau
denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005 : 39)
3. Pemeriksaan laboratorium :
Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG,
biopsi, pap smear.
Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB,
apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan
menggunakan KB jenis apa.
Data lain-lain :
Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama
dirawat di RS.Data psikososial.
Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam
keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping
yang digunakan.
Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien
Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan
kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.
Diagnosa Keperwatan
1. Devisit Volume Cairan berhubungan dengan perdarahan
2. Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan
sirkulasi
3. Gangguan rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan kerusakan
jaringan intrauteri
4. Resiko tinggi Infeksi berhubungan dengan perdarahan, kondisi
vulva lembab
5. Cemas s.d kurang pengetahuan
Intervensi Keperwatan
1. Devisit Volume Cairan s.d Perdarahan
Tujuan :
Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara
intake dan output baik jumlah maupun kualitas.
Intervensi :
1) Kaji kondisi status hemodinamika
Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat
abortus memiliki karekteristik bervarias
2) Ukur pengeluaran harian
Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah
kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang
hilang pervaginal
3) Berikan sejumlah cairan pengganti harian
Rasional : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi
perdarahan massif
4) Evaluasi status hemodinamika
Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian
melalui pemeriksaan fisik.
2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi
Tujuan :
Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi
Intervensi :
1) Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas
Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan
berarti, tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai untuk
menccegah kondisi klien lebih buruk
2) Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi
uterus/kandungan
Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan
vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi
3) Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas
sehari-hari
Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal
4) Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan
kemampuan/kondisi klien
Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus
imminens, istirahat mutlak sangat diperlukan
5) Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan
aktivitas
Rasional : Menilai kondisi umum klien
3. Gangguan rasa nyaman : Nyeri s.d Kerusakan jaringan
intrauteri
Tujuan :
Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami
Intervensi :
1) Kaji kondisi nyeri yang dialami klien
Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat
dilakukan dengan skala maupun dsekripsi.
2) Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
Rasional : Meningkatkan koping klien dalam
melakukan guidance mengatasi nyeri
3) Kolaborasi pemberian analgetika
Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat
dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun
sistemik dalam spectrum luas/spesifik
4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab
Tujuan :
Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan
Intervensi :
1) Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah,
warna, dan bau
Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji
setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih
gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda
infeksi
2) Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva
selama masa perdarahan
Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya
kebersihan genital yang lebih luar
3) Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart
Rasional : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui
dischart
4) Lakukan perawatan vulva
Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang
relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.
5) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda
inveksi
Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi
tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa
nyeri mungkin merupakan gejala infeksi
6) Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan
senggama se;ama masa perdarahan
Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting
artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi
perdarahan dapat memperburuk kondisi system
reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko
infeksi pada pasangan.
5. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan
Tujuan :
Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga
terhadap penyakit meningkat
Intervensi :
1) Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga
terhadap penyakit
Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar
peningkatan rasa cemas
2) Kaji derajat kecemasan yang dialami klien
Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan
penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit
3) Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan
keperawatan merupakan support yang mungkin berguna
bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien
4) Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama
Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah
berkontibusi menurunkan kecemasan
5) Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui
oleh klien dan keluarga
Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi
klien untuk meningkatkan pengetahuan dan
membangun support system keluarga; untuk
mengurangi kecemasan klien dan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA

Arif Manjoer, Kuspuji Triyanti, Rakhmi Savitri, Wahyu Ika Wardhani, Wiwiek
Setiowulan, Kapita Selekta Kedokteran, Fakultas Kedokteran UI, Media
Aesculapius, Jakarta : 2009

Carpenito, Lynda, (2011), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku


KedokteranEGC, Jakarta

FKUNPAD, Obstetri Patologi.Bagian Obstetri dan Ginekologi FKUNPAD


Bandung 2009

Hamilton, C. Mary, 2009, Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6, EGC,


Jakarta

Ida bagus gde manuaba. Ilmu kebidanan,penyakit kandungan dan KB untuk


pendidikan kebidanan.EGC Jakarta 2009

Linda Wheeler.Buku Saku Perawatan prenatal & Pasca Partum.EGC. Jakarta


2009.

Mansjoer, Arif, dkk. 2010. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media


Aesculapius. Jakarta

Manuaba, Ida Bagus, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan ,dan KB.
Jakarta : EGC

Prawirohardjo. S ( 2010). Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan


Neonatal.Jakarta : Bina Pustaka.

Pearce, Evelin C. 2009. .Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta :


Gramedia

Wylie, Linda.2011 Esensial Anatomi & Fisiologi dalam Asuhan Maternitas.


Jakarta : EGC

Sarwono prawiroharjo.Ilmu kebidanan.Editor, Hanifa wiknjosastro. Ed.3 Yayasan


Bina Pustaka Jakarta 2010

Sarwono prawiroharjo. Ilmu Kandungan. Editor, Hanifa wiknjosastro. Ed.3


Yayasan Bina Pustaka Jakarta 2010

Varney, H. Buku Saku Bidan. Editor, Alfrina Hany EGC Jakarta 2011

Doenges, M.Rencana maternal/bayi; Pedoman untuk Perencanaan dan


Dokumentasi Perawatan Klien.ed.2 EGC Jakarta 2011
Mansjoer,Arif,dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga, jilid I, Media
Aesculapius Jakarta 2009.

Wylie, Linda.2011 Esensial Anatomi & Fisiologi dalam Asuhan Maternitas.


Jakarta : EGC