Anda di halaman 1dari 9

Apa perbedaan antara Promosi dan Mutasi?

Kalau Promosi adalah perpindahan Hakim ke jabatan yang lebih tinggi atau perpindahan ke
pengadilan dengan kelas atau kualifikasi atau type yang lebih tinggi.
Sedangkan Mutasi (alih tempat) adalah perpindahan tugas seorang Hakim atau pimpinan
pengadilan dari suatu tempat ke tempat tugas baru dalam posisi jabatan yang tetap sebagai
Hakim, Wakil Ketua atau Ketua Pengadilan
Jadi bedanya ada pada tingkat jabatannya kalau Promosi menjadi lebih tinggi dari jabatan
sebelumnya sedangkan kalao Mutasi tetap sama pada jabatan sebelum hakim dipindah tugaskan.

Pada Mutasi karena kepentingan pribadi, disebutkan alasanya salah satunya karena ada
urusan keluarga yang mendesak, seperti apa contohnya?
Misalanya seperti suami dari hakim yang bersangkutan pindah dinas didaerah yang jauh dari
tempat hakim tersebut bertugas.

Mengapa para calon hakim sebagai hakim harus terlebih dahulu ditempatkan diluar jawa
dan jauh dari ibu kota propinsi?
karena untuk mengisi formasi pengadilan - pengadilan yang letaknya jauh dan juga sebagai ajang
untuk menambah pengalaman bagi calon hakim itu sendiri

Menurut saudara sendiri apakah Mutasi seperti ini perlu dilakukan?


Tentu Mutasi sangat diperlukan seperti yang sudah saya katakana dalam makalah saya, bahwa
mutasi itu bertujuan untuk

 Mengisi kekosongan formasi suatu pengadilan.


 Penyegaran dan menambah wawasan kebangsaan bagi hakim yang bersangkutan agar
proses pelaksanaan tugas pokok dalam memberikan pelayanan hokum dan keadilan
kepada masyarakat dapat berjalan dengan optimal.
 Meminimalisir terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme di lingkungan peradilan.
 Memberikan pengalaman regional dan nasional dengan melakukan Mutasi secara
bertahap ke Pengadilan Tingkat Pertama maupun Banding yang lebih besar.
 Mewujudkan proses pembinaan karier hakim yang terencana, bertahap, terarah, objektif,
dan berkeadlian sehingga akan berimplikasi positif terhadap peningkatan motivasi dan
kinerja hakim.
 Sebagai bentuk penerapan prinsip reward and punishment.
Oleh sebab itu Mutasi sangat perlu dilakukan.
MAKALAH
ETIKA PROFESI HAKIM
TENTANG MUTASI ATAU ALIH TEMPAT HAKIM

Disususun Oleh:

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pola promosi dan mutasi Hakim pada 4 (empat) lingkungan peradilan diatur dalam
Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor 48/KMA/SK/II/2017, ini merupakan pengaturan
yang telah disempurnakan dengan maksud untuk memperbaruhu pedoman yang sudah ada
sebelumnya agar selaras dengan perubahan keadaan/formasi hakim dilapangan dalam
optimalisasi pelayanan public di pengadilan maupun tuntutan adanya peningkatan kualitas
sumber daya manusia sejlan dengan kebijakan dicanangkanya zona integritas di Mahkamah
Agung.
Selanjutnya kebijakan dalam pola tersebut akan dipergunakan sebagai pedoman untuk
memperoleh kesamaan pola piker, sikap, dan tindakan bagi tim promosi dan mutasi Mahkamah
Agung dalam mengambil keputusan penempatan Hakim yang merupakan salah satu bentuk
pembinaan Hakim pada 4 (empat) lingkungan peradilan agar terlaksana secara terencana, terarah,
objektif, transparan, terukur dan berkeadilan sebagai pelaksanaan sebagai misi Mahkamah
Agung sehingga visi Mahkamah Agung terwujud.
Evaluasi Pola Promosi dan Mutasi Hakim ditujukan untuk menyempurnakan pedoman
pelaksanaan Promosi dan Mutasi untuk peningkatan standar kualifikasi Hakim maupun pimpinan
pengadilan serta untuk mengatasi keadaan yang timbul dari rasio beban kerja dengan jumlah
Hakim yang tidak seimbang pada 4 (empat) lingkungan peradilan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dan Tujuan dari Promosi dan Mutasi Hakim?
2. Bagaimana pola Mutasi Hakim Karier?
3. Apa saja jenis Mutasi Hakim?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Promosi dan Mutasi


1. Promosi
Adalah perpindahan Hakim ke jabatan yang lebih tinggi atau perpindahan ke pengadilan
dengan kelas atau kualifikasi atau type yang lebih tinggi.
2. Mutasi (alih tempat)
Adalah perpindahan tugas seorang Hakim atau pimpinan pengadilan dari suatu tempat ke
tempat tugas baru dalam posisi jabatan yang tetap sebagai Hakim, Wakil Ketua atau
Ketua Pengadilan1.

B. Tujuan Promosi dan Mutasi


1. Mengisi kekosongan formasi suatu pengadilan.
2. Penyegaran dan menambah wawasan kebangsaan bagi hakim yang bersangkutan agar
proses pelaksanaan tugas pokok dalam memberikan pelayanan hokum dan keadilan
kepada masyarakat dapat berjalan dengan optimal.
3. Meminimalisir terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme di lingkungan peradilan.
4. Memberikan pengalaman regional dan nasional dengan melakukan Mutasi secara
bertahap ke Pengadilan Tingkat Pertama maupun Banding yang lebih besar.
5. Mewujudkan proses pembinaan karier hakim yang terencana, bertahap, terarah, objektif,
dan berkeadlian sehingga akan berimplikasi positif terhadap peningkatan motivasi dan
kinerja hakim.
6. Sebagai bentuk penerapan prinsip reward and punishment.

1
Tasrif, S. "Kemandirian Kekuasaan Kehakiman" dalam Kemandirian Kekuasaan Kehakiman. Editor Paul S. Baut
dan Luhut M.P. Pangaribuan. Jakarta: Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, 1989.
C. Pola Mutasi Hakim
1. Mutasi untuk kepentingan dinas
a. Mutasi bagi hakim tingkat pertama dilakukan apabila hakim yang bersangkutan telah
menjalankan tugasnya selama minimal 3 tahun dan maksimal 5 tahun, kecuali dalam
hal promosi sebagai pimpinan pengadilan dan atau untuk kebutuhan organisasi.
b. Mutasi bagi hakim tingkat banding dilakukan apabila hakim yang bersangkutan telah
menjalankan tugasnya selama minimal 3 tahun dan maksimal 4 tahun, kecuali dalam
hal promosi sebagai pimpinan pengadilan, sebagai hakim yustisial mahkamah agung
dan atau untuk kebutuhan organisasi.
c. Hakim yang berada dalam kondisi terancam keselamatannya saat melaksanakan
tugas, berdasarkan rekomendasi Ketua Pengadilan Tinggi dan evaluasi fakta oleh
Direktur Jendral Badan Peradilan Umum, dapat dimutasi tanpa perlu
mempertimbangkan minimal masa pelaksanaan tugas2.
2. Mutasi untuk kepentingan pribadi
a. Mutasi untuk kepentingan pribadi hanya dapat dilakukan oleh hakim yang telah
bertugas pada suatu pengadilan minimal 2 tahun atas permintaan sendiri melalui
Ketua Pengadilan Tingkat Pertama/Ketua Pengadilan Tingkat Bnading dengan
pertimbangan alasan kemanusiaan antara lain:
- Urusan keluarga yang mendesak.
- Yang bersangkutan atau istri atau suami atau anak dari yang bersangkutan sedang
sakit berdasarkan surat keterangan dokter dan rekam medic, dan ditempatnya
bertugas tidak ada dokter atau rumah sakit yang dapat menanganinya.
b. Mutasi untuk kepentingan pribadi hanya dapat dilakukan untuk memutasi ke
pengadilan yang sekelas dan klasifikasi yang sama dengan pengadilan terakhir tempat
hakim tersebut bertugas.

2
Kamil, Iskandar. "Kode Etik Profesi Hakim" dalam Pedoman Perilaku Hakim (Code of Conduct), Kode Etik Hakim
dan Makalah Berkaitan. Jakarta: Mahkamah Agung RI, 2006.
D. Jenis Mutasi Hakim
1. Penempatan calon hakim sebagai hakim
Calon hakim yang telah memenuhi ketentuan pasa 14 ayat (1) dan (2) UU No.49
Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas UU No.2 Tahun 1986 tentang Peradilan
Umum, ditempatkan pertama kali sebagai hakim pada pengadilan tingkat pertama
kelas II diluar Jawa dengan memperhatikan kebutuhan organisasi dan pemerataan
jumlah hakim dipengadilan tingkat pertama kelas II di seluruh wilayah Indonesia.
Penempatan pertama ini diutamakan untuk mengisi formasi pengadilan – pengadilan
yang berlokasi jauh dari ibu kota propinsi, dan disesuaikan dengan tempat, wilayah
pengadilan tinggi dimana penerimaan/pelaksanaan tes calon hakim yang
bersangkutan dilaksanakan.
Bagi calon hakim dengan peringkat 10 besar dalam pendidikan dan pelatihan calon
hakim menjadi hakim, penempatannya dapat dipertimbangkan untuk ditempatkan
pada pengadilan negri kelas II klasifikasi A diluar Jawa.

2. Mutasi hakim pada pengadilan kelas II


Mutasi/penempatan hakim pada pengadilan negri kelas II adalah:
- Hakim dengan golongan III/a dalam jabatan hakim pratama sampai dengan III/d
dalam jabatan hakim pratama utama.
- Penempatan kedua tetap ditempatkan di pengadilan tingkat pertama kelas II di
luar Jawa.

3. Mutasi hakim pada pengadilan negri kelas IB


- Hakim yang dapat ditempatkan pada pengadilan kelas IB di Jawa minimal
golongan III/d dalam jabatan hakim pratama utama.
- Hakim golongan III/c dalam jabatan hakim pratama madya dapat ditempatkan di
pengadilan negri kelas IB di luar Jawa.
- Hakim yang dapat ditempatkan di pengadilan negri kelas IB di luar Jawa dengan
jumlah beban perkara diatas 800 perkara (kecuali tilang dan tindak pidana ringan)
minimal golongan III/d dalam jabatan hakim pratama utama.
4. Mutasi hakim pada pengadilan negri kelas IA
- Hakim yang ditempatkan pada pengadilan kelas IA diutamakan bagi hakim
golongan IV/a dalam jabatan hakim madya pratama sampai dengan IV/d dalam
jabatan hakim utama muda.
- Pengadilan megri kelas IA dengan jumlah beban perkara dibawah 1000 maupun
yang memiliki kondisi tertentu dapat ditempatkan hakim yang berasal dari kelas
IB golongan III/d dalam jabatan hakim pratama utama 2 tahun atau hakim yang
berasal dari kelas II bersertifikat pengadilan hubungan industry PHI atau tindak
pidana korupsi golongan III/d jabatan hakim pratama utama 2 tahun.

5. Mutasi hakim yang ditempatkan pada pengadilan negri kelas IA kusus dengan
mempertimbangkan jumlah beban perkara yaitu pengadilan negri Denpasar,
Banjarmasin, pekanbaru, tanjung karang, dan samarinda3.

3
Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 48/KMK/SK/II/2017 tentang Pola Promosi dan
Mutasi Hakim dalam empat lingkungan peradilan
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Penempatan atau mutasi Hakim telah diatur dalam Keputusan Ketua Mahkamah Agung
Republik Indonesia Nomor 48/KMK/SK/II/2017 tentang Pola Promosi dan Mutasi Hakim dalam
empat lingkungan peradilan.
Pengertian Promosi sendiri yaitu adalah perpindahan Hakim ke jabatan yang lebih tinggi
atau perpindahan ke pengadilan dengan kelas atau kualifikasi atau type yang lebih tinggi.
Sedangkan pengertian Mutasi (alih tempat) adalah perpindahan tugas seorang Hakim atau
pimpinan pengadilan dari suatu tempat ke tempat tugas baru dalam posisi jabatan yang tetap
sebagai Hakim, Wakil Ketua atau Ketua Pengadilan.
Pola Mutasi atau alih tempat Hakim memiliki dua pola, yaitu:
1. Mutasi karena kepentingan dinas,
2. Mutasi karena kepentingan pribadi.
Dalam prakteknya Mutasi atau alih tempat hakim memiliki berbagai macam jenis yaitu:
1. Penempatan calon hakim sebagai hakim
2. Mutasi hakim pada pengadilan kelas II
3. Mutasi hakim pada pengadilan negri kelas IB
4. Mutasi hakim pada pengadilan negri kelas IA
5. Mutasi hakim yang ditempatkan pada pengadilan negri kelas IA kusus dengan
mempertimbangkan jumlah beban perkara
DAFTAR PUSTAKA
- Kamil, Iskandar. "Kode Etik Profesi Hakim" dalam Pedoman Perilaku Hakim (Code of
Conduct), Kode Etik Hakim dan Makalah Berkaitan. Jakarta: Mahkamah Agung RI, 2006.
- Tasrif, S. "Kemandirian Kekuasaan Kehakiman" dalam Kemandirian Kekuasaan
Kehakiman. Editor Paul S. Baut dan Luhut M.P. Pangaribuan. Jakarta: Yayasan Lembaga
Bantuan Hukum Indonesia, 1989.
- Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 48/KMK/SK/II/2017 tentang
Pola Promosi dan Mutasi Hakim dalam empat lingkungan peradilan