Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejak zaman dahulu masyarakat indonesia mengenal dan memakai tanaman


berkhasiat obat menjadi salah satu obat upaya dalam penanggulangan masalah
kesehatan yang dihadapi. Salah satu tumbuhan berkhasiat obat adalah Rimpang dari
tumbuhan jahe merah (zingiber officinale roscoe) merupakan salah satu dari temu -
temuan suku zingiberaceae yang biasa digunkan sebagai obat, masuk angin, gangguan
pencernaan, sebagai analgesik, antipiretik, antiinflamasi,menurunkan kadar kolesterol,
mencegah depresi, impotensi, dan lain – lain (Hapsoh,dkk.,2010).

Rimpang jahe merah sudah digunakan sebagai obat secara turun – temurun
karena mempunyai komponen valatile ( minyak atsiri) dan non valatile (oleoresin)
paling tinggi jika dibandingkan dengan jenis jahe yang lain, yaitu kandungan minyak
atsiri sekitar 2,58 – 3,90% dan oleoresin 3% (Hapsoh,dkk.,2010). Sedangkan minyak
atsiri dan oleoresin yang terkandung daklam jahe merah adalah kandungan yang aktif
sebagai antiinflamasi (Hapsoh,dkk.,2010).

Hasil sebuah penelitian di tahun 2009 menunjukkan bahwa ekstrak rimpang


jahe merah 4% pada sediaan topikal memberikan efek antiinflamasi yang hampir
sama dengan NSAID terhadap mencit (Saida, 2009). Pada penelitian Septiana, dkk.
(2002) menunjukkan bahwa ekstrak air rimpang jahe mempunyai aktivitas
antioksidan, dan beberapa penelitian lain juga menunjukkan kemampuan jahe untuk
mencegah kanker (Unnikrishnan dan Kuttan, 1988).

Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung tidak
kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakaian luar. Tipe krim ada dua yaitu
krim tipe air minyak (A/M) dan krim minyak air (M/A). untuk membuat krim
digunakan zat pengemulsi. Umumnya berupa surfaktan-surfaktan anionik, kationik,
dan nonionik (Anief, 2000).

Menurut (Ditjen POM,1995) krim adalah bentuk sediaan setengah padat


mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar
yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah
padat yang mempunyai konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air dalam
minyak atau minyak dalam air. Sekarang ini batasan tersebut lebih diarahkan untuk
produk yang terdiri dari emulsi minyak dalam air atau disperse mikrokristal asam-
asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan
lebih ditujukan untuk penggunaan kosmetika dan estetika. Krim dapat digunakan
untuk pemberian obat melalui vaginal.

Krim disebut juga salep yang banyak mengandung air, sehingga memberikan
perasaan sejuk bila dioleskan pada kulit. Sebagai vehikulum dapat dipakai emulsi
kental berupa emulsi M/A atau emulsi A/M. Krim lebih mudah dibersihkan dari kulit
dari pada salep yang menggunakan vaseline sebagai vehikulum (Joenoes, 1990).

Pada masyarakat ini, masyarakat belum begitu tahu tentang manfaat apa saja
yang kita peroleh dari tanaman herbal untuk kesehatan,itu dikarenakan masyarakat
lebih mengenal obat – obatan dari bahan kimia, baik dari anjuran resep dokter yang
lebih sering memberikan resep untuk membeli obat – obatan kimia diapotek atau pun
karena mudah didapatkan di toko atau warung terdekat, sehingga membuat
masyarakat kurang mengetahui kelebihan tersendiri yang dimiliki tanman herbal
ketimbang obat – obatan kimia yang biasa mereka konsumsi, bahkan terkadang
masyarakat saat memberi obat tidak begitu tahu kandungan obat yang diresepkan pleh
dokter. Oleh karena itu kami mencoba mengenalkan obat yang mengandung bahan –
bahan dari tanaman herbal, seperti sediaan krim anti inflamasi yang kami buat dengan
bahan aktif berasal dari Ekstrak Jahe Merah (zingiber officinale roscoe) .

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana formulasi dalam pembuatan sediaan krim anti inflamasi dari


ekstrak jahe merah?

1.3 Tujuan

Untuk mengetahui formulasi dalam pembuatan sediaan krim anti jerawat dari
ekstrak jahe merah.

1.4 Manfaat
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori


a. Krim
Krim tipe M/A memiliki daya menyebar yang lebih baik daripada krim tipe
A/M (Voigt, 1984). Semakin besar penyebarannya maka absorbsi obat akan
menjadi semakin maksimal (Ansel, 2005). Sebagai komponen dan bahan aktif
sediaan krim, ekstrak etanol akan terdispersi dalam basis krim sehingga akan
mengurangi perasaan kurang nyaman.
Kelebihan krim dibandingkan dengan salep yaitu krim mudah dalam
pemakaian (mudah dioleskan) (Voigt, 1984). Semakin besar viskositas krim
menyebabkan daya menyebar krim akan semakin kecil, daya melekat akan naik
dan daya antioksidan juga berkurang. Penambahan cera alba pada krim tipe A/M
dapat menyebabkan krim menjadi lebih keras sehingga viskositasnya semakin
tinggi (Joenoes, 1998).
Pada krim tipe M/A adanya asam stearat dapat menyebabkan krim menjadi
lebih lunak sehingga viskositasnya semakin rendah. Jenis basis yang mempunyai
viskositas tinggi akan 9 menyebabkan koefisien difusi suatu obat dalam basis
menjadi rendah, sehingga pelepasan obat dari basis akan kecil (Lachman et al.,
1989). Berdasarkan hal di atas maka dengan adanya perbedaan tipe basis krim
M/A dan A/M akan mempengaruhi sifat fisik krim.
b. Kulit

Kulit merupakan organ tubuh terbesar yang menutupi permukaan kulit


lebih dari 20.000 cm2 pada orang dewasa dan terletak paling luar (Lachman dkk,
1994). Kulit adalah organ yang paling essential dan vital serta merupakan cermin
kesehatan dan kehidupan. Berat kulit kira-kira 15% berat badan yang mempunyai
sifat elastis, sensitive, sangat komplek dan bervariasi pada keadaan iklim, umur,
seks, ras, dan juga bergantung pada lokasi tubuh (Djuanda dkk, 1999).

Anatomi fisiologi kulit Kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan
utama, yaitu: lapisan epidermis, dermis, dan subkutis. Tidak ada garis tegas yang
memisahkannya, ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan adanya sel dan
jaringan lemak.

1). Epidermis

Epidermis merupakan lapisan terluar kulit, yang mempunyai fungsi


sebagai sawar pelindung terhadap bakteri, iritasi kimia, alergi, dan
lain-lain. Lapisan ini mempunyai tebal 0,16 mm pada pelupuk mata,
dan 0,8 mm pada telapak tangan dan kaki. Lapisan epidermis terdiri
atas stratum korneum, stratum lucidum, stratum granulosum, stratum
spinosum dan stratum basale. Stratum korneum adalah lapisan paling
luar dan terdiri atas beberapa lapis sel gepeng yang mati. Lapisan ini
merupakan membran yang 5% bagiannya merupakan elemen
pelindung yang paling efektif. Sel ini mampu menahan air yang berasal
dari keringat dan lingkungan luar (Aiache, 1982). Stratum lucidum
terdapat langsung dibawah lapisan korneum. Lapisan tersebut tampak
lebih jelas ditelapak tangan dan kaki (Djuanda dkk, 1999).

2). Dermis

Lapisan dermis jauh lebih tebal dari epidermis. Tersusun atas


pembuluh darah dan pembuluh getah bening. Peranan utamanya adalah
pemberi nutrisi pada epidermis. Pembuluh darah (pars papilare) yaitu
bagian yang menonjol ke epidermis berisi ujung serabut dan pembuluh
darah. Pars retikulare bagian dibawahnya yang menonjol ke subkutan
terdiri atas serabut-serabut penunjang seperti kolagen, elastin dan
retikulin (Djuanda dkk, 1999).

3). Jaringan subkutan lemak

Terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak yang berfungsi
sebagai cadangan makanan juga sebagai pemberi perlindungan
terhadap dingin. Kulit mempunyai organ-organ pelengkap yaitu
kelenjar lemak, kelenjar keringat, kelenjar bau, rambut dan kuku
(Djuanda dkk, 1999).
2.2 Tinjauan Bahan
a. Klasifikasi dan Morfologi Jahe Merah (bahan aktif)
Tanaman Jahe merah merupakan tanaman obat berupa tumbuhan
rumpun berbatang semu. Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari
India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai
bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan
minuman, bumbu masak danobat-obatan tradisional.

Jahe Merah (zingiber officinale roscoe)

Berdasarkan penelitian jahe merah ini dapat diklasifikasikan dan


morfologi berdasarkan tingkatan diantaranya sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Musales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Species : Officinale

Tanaman jahe merah (Zingiber officinale Roscoe) termasuk keluarga


Zingiberaceae yaitu suatu tanaman rumput-rumputan tegak dengan
ketinggian 30-100 cm, namun kadang-kadang tingginya dapat mencapai 120
cm daunnya sempit, berwarna hijau bunganya kuning kehijauan dengan bibir
bunga ungu gelap berbintik-bintik putih kekuningan dan kepala sarinya
berwarna ungu. Akarnya yang bercabang-cabang dan berbau harum,
berwarna kuning atau jingga dan berserat.
Kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman
jahe terutama golongan flavonoida, fenolik, terpenoida, dan minyak atsiri
(Benjelalai, 1984). Senyawa fenol jahe merupakan bagian dari komponen
oleoresin, yang berpengaruh dalam sifat pedas jahe (Kesumaningati, 2009),
sedangkan senyawa terpenoida adalah merupakan komponen-komponen
tumbuhan yang mempunyai bau, dapat diisolasi dari bahan nabati dengan
penyulingan minyak atsiri. Monoterpenoid merupakan biosintesa senyawa
terpenoida, disebut juga senyawa “essence” dan memiliki bau spesifik.
Senyawa monoterpenoid banyak dimanfaatkan sebagai antiseptik,
ekspektoran, spasmolitik, sedative, dan bahan pemberi aroma makanan dan
parfum. Menurut Nursal, 2006 senyawa-senyawa metabolit sekunder golongan
fenolik, flavanoiada, terpenoida dan minyak atsiri yang terdapat pada ekstrak
jahe diduga merupakan golongan senyawa bioaktif yang dapat menghambat
pertumbuhan bakeri.

b. Acid Stearin / Asam stearat (FI III hal, 57)


Rumus molekul : C18 H36 O2
Pemerian : Zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan
hablur, putih atau kuning pucat, mirip lemak lilin.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 20 bagian
etanol (95%)P, dalam 2 bagian kloroform P dan dalam
3bian eter P.
Khasiat : Emulgator.
Konsenterasi : 1 - 20%
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

c. Triethanolamin (FI III hal,612)


Rumus molekul : (C2H4OH)3N
Pemerian : Berupa cairan tidak berwarna atau berwarna kuning pucat,
jernih, tidak berbau/hampir tidak berbau, higroskopis.
Kelarutan : Dapat cempur dengan air dan etanol (95%)P, sukar larut
dalam eter.
Khasiat : Zat tambahan
Konsenterasi :
Penyimpanan :
d. Vaselin Album
Rumus molekul :
Pemerian :
Kelarutan :
Khasiat :
Konsenterasi :
Penyimpanan :

e. Cera Flava
Rumus molekul :
Pemerian :
Kelarutan :
Khasiat :
Konsenterasi :
Penyimpanan :

f. Aquadest (FI III hal, 96)


Rumus molekul :
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa.
Kelarutan :
Khasiat : Zat tambahan
Konsenterasi :
Penyimpanan :

2.3 Alasan Penggunaan Bahan

2.4 Evaluasi
Evaluasi sediaan yang dilakukan adalah evaluasi organoleptis, evaluasi
pH, evaluasi daya sebar, evaluasi homogenitas dan evaluasi daya lekat.

Evaluasi yang pertama adalah uji organoleptis menggunakan panca indera


yang meliputi, bau, warna, tekstur, dan bentuk sediaan yang dibuat. Konsistensi
pelaksaannya menggunakan subjek respoden (dengan kriteria tertentu)dengan
menerapkan kritrieranya pengujian, persentase masing – masing kriteria yang
diperoleh dan pengambilan keputusan dengan analisa statistik.

Evaluasi kedua adalah Uji Ph, uji pH menggunakan pH ukur untuk


mengetahui pH pada sediaan, dengan cara mengambil 500mg sediaan dan di
tambah dengan 5ml aquadest kemudian di aduk. Masukkan alat pengatur Ph ke
dalam campuran sediaan tersebut dan lihat pH yang terbentuk.

Evaluasi ketiga adalah uji homogenitas . uji ini dilakukan untuk


mengetahui homogenitas sediaan yang ditaruh diatas kaca transparan lalu diamati
permukaan kaca transparan apakah susunan partikel yang tersebar merata tanpa
adanya butir – butir kasar.

Evaluasi ke empat adalah uji daya sebar. Uji ini dilakukan untuk
mengetahui daya sebar salep atau sediaan sebanyak 500 mg kemudian letakkan
sediaan ditengah – tengah lempeng kaca bersakla yang ditutup dengan tutup
lempeng kaca. Pemberian beban ditambah setelah 5 menit dengan beban antara
lain 50 gram, 100 gram , dan 150 gram.

Evaluasi ke lima adalah uji daya lekat , uji ini dilakukan untuk