Anda di halaman 1dari 96
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN CANCER MAMMAE DI RUANG MAWAR RSUP Dr. MOHAMMAD HOESIN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN CANCER MAMMAE DI RUANG MAWAR RSUP Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2014

LAPORAN TUGAS AKHIR

NAMA

: FANNY ARISTA AGNESIA

NIM

: PO.71.20.1.11.023

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG

JURUSAN KEPERAWATAN PALEMBANG

2014

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN CANCER MAMMAE DI RUANG MAWAR RSUP Dr. MOHAMMAD HOESIN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN CANCER MAMMAE DI RUANG MAWAR RSUP Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2014

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan

NAMA

: FANNY ARISTA AGNESIA

NIM

: PO.71.20.1.11.023

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG

JURUSAN KEPERAWATAN PALEMBANG

2014

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Laporan Tugas Akhir ini adalah hasil karya sendiri,

dan sumber baik yang dikutip maupun dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar.

Nama

: FANNY ARISTA AGNESIA

NIM

: PO.71.20.1.11.023

Tanda Tangan

:

Tanggal

: Juli 2014

iii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

LAPORAN TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINNGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Politeknik Kesehatan Kemenkes Jurusan Keperawatan Palembang, saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Fanny Arista Agnesia

NIM : PO.71.20.1.11.023

Departemen : Keperawatan Maternitas

Jenis Karya : Laporan Tugas Akhir

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Politeknik Kesehatan Kemenkes Jurusan Keperawatan Palembang Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty-free right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

“ Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Cancer Mammae di Ruang Mawar RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2014”

Beserta perangkat yang ada. Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Politeknik Kesehatan Kemenkes Jurusan Keperawatan Palembang berhak menyimpan, mengalihmedia/ formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya sebagai penulis/ pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di

: Palembang

Tanggal

: Juli 2014

Yang menyatakan

(Fanny Arista Agnesia)

vi

MOTTOMOTTOMOTTOMOTTO DANDANDANDAN PERSEMBAHANPERSEMBAHANPERSEMBAHANPERSEMBAHAN

MOTTOMOTTOMOTTOMOTTO

“Do everything that you want, and you’ll get the result”

“ Never lose hope to get and do the right thing”

PERSEMBAHANPERSEMBAHANPERSEMBAHANPERSEMBAHAN

right thing” PERSEMBAHANPERSEMBAHANPERSEMBAHANPERSEMBAHAN Dengan Nabi Muhammad SAW, dengan ketulusan hati, Laporan

Dengan

Nabi Muhammad SAW, dengan ketulusan hati, Laporan Tugas Akhir ini kupersembahkan untuk :

penuh

rasa

syukur

kepada

Allah

SWT

serta

salawat

yang

selalu

teriring

atas

Kedua orang-tuaku, my everything in my life, ayahku (Darwin Eka Putra) dan

Ibuku (Rosyidah) yang tak henti-hentinya memberikan doa, motivasi, nasehat, pengorbanan

yang tak akan pernah bisa terbalaskan dengan apapun sepanjang masa.

Adik-adikku tersayang, “ Tiara Dwi Putri, Tri Sintia Bella, dan Luthfia Gita Sabrina” yang

selalu ku-usili dan memberiku dukungan, motivasi, dan kasih sayang. Uhibbukum fillah.

Nenekku

(Afifah)

hingga saat ini.

yang

selalu

menyayangi

dan

memberiku

semangat

serta

nasihat

For my special one “ Afif Dwi Pasana ”, who have been giving me any supports, any loves, and

face my behaviour patiently.

Islahul

dukungan, dan kasih sayang buat Fanny. Thank you for have been my bestiest sister.

Buat

Kak

Bed

tersayang,

Kak

Marhamah

yang

selalu

memberi

semangat,

For my close friends, Novi, Icha, Uum, Emmi, Lisa, Etak, Nyak (Nia), dan Prili, thanks for

heve listened my stories. Every laugh, cry, and eat together. All of your words will always

remembered by me.

Buat Adek Nanda, Adek Yuni, Dek Ben, dan Adek Putri Sari, Adek Erha makasih buat

support dan nasehatnya. Maaf sudah jadi kakak yang cuek.

Angkatan 44 terkhusus tingkat 3A, terima kasih atas semua kenangan yang pernah kita lalui

selama tiga tahun ini.

Adik-adik angkatan 45 dan 46, tetap semangat dan harumkan nama almamater kita,

Almamaterku tercinta, semoga ilmu yang saya dapat selama ini berguna bagi orang dan

kehidupanku kelak,, Amin.

vii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

IDENTITAS DIRI

Nama Lengkap

Tempat/Tanggal Lahir

: Fanny Arista Agnesia

: Palembang/ 18 Juli 1993

Jenis Kelamin

: Perempuan

 

Agama

: Islam

Alamat

: Jalan Sersan Sani nomor 1417 Palembang

Orang Tua

:

Ayah

: Darwin Eka Putra

 

Ibu

: Rosyidah

RIWAYAT PENDIDIKAN

Tahun 1997-1998

Tahun 1998-2004

Tahun 2004-2007

Tahun 2007-2010

Tahun 2011-2014

: TK Harapan Bangsa Palembang

: SD Negeri 272 Palembang

: SMP Negeri 26 Palembang

: SMA Negeri 6 Palembang

: Poltekkes Kemenkes Palembang Jurusan Keperawatan

viii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan nikmat serta karunia-Nya, sehingga Laporan Tugas Akhir yang berjudul “ Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Cancer Mammae di Ruang

Mawar RSUP. Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2014 “ ini dapat diselesaikan tepat waktu. Penyusunan Laporan Tugas Akhir ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Ahli Madya Keperawatan pada Poltekkes Kemenkes Jurusan Keperawatan Palembang Tahun 2014. Penyusunan Laporan Tugas Akhir ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini izinkan penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

1. Drg. Nur Adiba Hanun, M.Kes selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang

2. Pihak RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang yang telah banyak membantu dalam usaha memperoleh data yang penulis butuhkan untuk menyusun Laporan Tugas Akhir ini.

3. H. Ridwan Ikob, S.Pd, SKM., M. Kes selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang.

4. Hj. Prahardian Putri, S.Kp, M.Kes selaku pembimbing utama yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing, mendidik dan mengarahkan, serta memotivasi, semangat dan dorongan kepada penulis selama penyusunan Laporan Tugas Akhir ini.

5. Hj. Ismar Agustin, S.Kp, M.Kep selaku pembimbing pendamping yang penuh kesabaran, keikhlasan, dan ketulusan hati dalam membimbing, memotivasi, dan memberikan masukan selama proses penyusunan Laporan Tugas Akhir ini.

6. Rosnani, M.Kep, Sp.Mat selaku penguji pertama yang dengan tulusnya membimbing serta memberi masukan dan saran selama revisi Laporan Tugas Akhir ini.

ix

7.

Hj.Maliha Amin, SKM, M.Kes selaku penguji kedua yang dengan sabarnya telah memberi masukan selama revisi Laporan Tugas Akhir ini.

8. Dosen Pembimbing Akademikku Hj. Devi Mediarti, S.Pd terima kasih banyak bu atas bimbingan selama 3 tahun ini.

9. Semua staf dosen jurusan keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang.

10. Kedua orang tua, kakak, dan adik yang selalu memberikan doa dan dorongan serta semangat tanpa hentinya.

11. Teman-teman Sakura dan Dahlia, “ Imah, Nia, Puri, Yuyun, Rini, Meta, Riska, dan Tina, Imas, Emmi, April, Fatimah, Afrida, Tika, Rani, Kimeng, Ovina, Damai, Melia, Intan, Yunita, dan Elgha “, thanks for every moment we have.

12. Teman-teman dinas di Prabumulih, Afif, Jun, Kak Aldino, Kak Zaedi, Fatimah, Afrida, Putri, Ferawati, Melvi, Novika, Septisa, Imas, Karoline, dan Asselole.

13. Teman-teman PKL, Tandri, Fatimah, Afrida, April, Selvia, Winda, Puteri, kelompok 1 dan 2.

14. Rekan-rekan satu bimbingan Yerista Indah Wardani dan Debi Putra, akhirnya LTA kita selesai.

15. Kepada teman-teman angkatan 44 dan adik-adik angkatan 45-46 yang telah

memberikan dukungan, semangat dan doa. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Laporan tugas akhir ini masih banyak terdapat kekurangan baik isi maupun cara penyusunannya. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan di masa yang akan datang. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat serta karunianya kepada kita semua. Semoga Laporan Tugas Akhir ini berguna bagi penulis dan pengembangan ilmu keperawatan.

Palembang, Juli 2014

x

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL

i

HALAMAN JUDUL

ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

iii

PERNYATAAN PERSETUJUAN SEMINAR

iv

HALAMAN PENGESAHAN

v

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

vii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

viii

KATA PENGANTAR

ix

DAFTAR ISI

xi

DAFTAR TABEL

xiv

DAFTAR GAMBAR

xv

DAFTAR BAGAN

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

xvii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Rumusan Masalah

2

1.3 Tujuan

3

1.3.1

Tujuan Umum

3

1.3.2

Tujuan Khusus

3

1.4 Manfaat Penulisan

3

1.4.1 Bagi Penulis

3

1.4.2 Bagi Institusi Penidikan

3

1.5 Metode Penulisan

4

1.5.1 Teknik Pengumpulan Data

4

1.5.2 Sistematika Penulisan

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Penyakit

6

2.1.1 Anatomi Payudara

6

2.1.2 Fisiologi Payudara

7

2.1.3 Definisi Cancer Mammae

8

2.1.4 Etiologi

8

2.1.5 Faktor Resiko Cancer Mammae

8

2.1.6 Manifestasi Klinis

11

2.1.7 Pathway

12

2.1.8 Jenis Cancer Mammae

13

2.1.9 Stadium Cancer Mammae

14

2.1.10 Prognosis Cancer Mammae

18

2.1.11 Penatalaksanaan Cancer Mammae

18

2.1.12 Proses Deteksi Cancer Mammae

25

2.1.13 Pencegahan Cancer Mammae

30

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan pada Cancer Mammae

31

2.2.1 Pengkajian

31

2.2.2 Perumusan Diagnosis Keperawatan

33

2.2.3 Perencanaan

34

2.2.4 Implementasi

43

2.2.5 Evaluasi

39

BAB III TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian

40

3.2 Analisa Data

49

3.3 Diagnosa Keperawatan

50

3.4 Intervensi Keperawatan

51

3.5 Implementasi Keperawatan

59

3.6 Catatan Perkembangan

61

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang

4.1.1 Profil RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang

72

4.1.2 Visi, Misi Dan Motto RS

73

4.1.3 Pelayanan Unggulan

73

4.1.4 Gambaran Umum IRNA G

74

4.2 Pembahasan Asuhan Keperawatan

4.2.1 Pengkajian

74

4.2.2 Diagnosa Keperawatan

78

4.2.3 Intervensi Keperawatan

80

4.2.4 Implementasi Keperawatan

85

4.2.5 Evaluasi Keperawatan

86

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

87

5.2 Saran

88

LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR PUSTAKA

Tabel 1.1

DAFTAR TABEL

: Stadium Cancer Mammae

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1

: Anatomi Payudara

DAFTAR BAGAN

Bagan 1

: Pathway Cancer Mammae

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

: Surat Izin Pengambilan Data

Lampiran 2

: Surat Izin Penelitian

Lampiran 3

: Lembar Konsultasi

Lampiran 4

: Lembar Pengajuan Judul

Lampiran 5

: Format Asuhan Keperawatan Sistem Reproduksi

Lampiran 6

: Surat Keterangan Selesai Penelitian

Lampiran 7

: Inform Consent

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Cancer merupakan penyakit yang dapat menjadi penyebab kematian. Cancer mammae merupakan salah satu penyakit yang ditakuti dan menyerang kaum perempuan. Penyakit ini merupakan penyebab kematian yang paling besar bagi perempuan berusia 18 hingga 54 tahun, dan perempuan yang berusia 45 tahun memiliki resiko terjangkit cancer mammae berjumlah 25 % lebih tinggi dibanding perempuan yang lebih tua. (Lee, 2008). Menurut World Health Organization (WHO), 8-9 % perempuan akan mengalami cancer mammae. Setiap tahun, lebih dari 250.000 kasus cancer mammae terdiagnosis di Eropa dan kurang lebih 175.000 di Amerika Serikat, sedangkan pada tahun 2000 diperkirakan 1,2 juta perempuan terdiagnosis cancer mammae dan lebih dari 700.000 meninggal karena cancer mammae. (Mulyani & Nuryani, 2013). Menurut data The American Cancer Society (2008), dijelaskan bahwa sekitar 178.000 perempuan Amerika didiagnosis cancer mammae setiap tahun. Cancer mammae merupakan penyebab utama kematian perempuan setelah kanker paru-paru. (Santoso, 2009). Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Nasional tahun 2007, kejadian cancer mammae sebanyak 8.227 kasus atau 16,85 % dari kanker leher Rahim 5.786 kasus atau 11, 78 %. (Bambang, 2010). Menurut data Yayasan Kanker Indonesia (YKI) tahun 2012 menyatakan bahwa cancer mammae menempati posisi pertama di Indonesia dengan kasus terbanyak, sedangkan kejadian cancer mammae di Sumatera Selatn menduduki urutan kelima. Berdasarkan data dari Medical Record Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang, jumlah pasien cancer mammae tahun 2011 sebanyak 872. Kemudian meningkat 14,7 % menjadi 1000 orang. Kemudian pada tahun 2012 menurun 16,4 % menjadi 846 orang.

2

Cancer mammae di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Moehammad Hoesin Palembang menduduki peringkat pertama setelah kanker serviks. (RSUP. Dr. Mohammad Hoesin Palembang, 2014). Cancer mammae memerlukan beberapa terapi dalam pelaksanaannya, seperti lumpektomi, mastektomi, radiasi, terapi hormon, dan kemoterapi. Terapi tersebut dapat menghambat pertumbuhan sel kanker, namun berdampak pula pada fisik dan psikologis pasien. Pasien akan kehilangan payudaranya, kulit akan menghitam, rambut rontok, dan tubuh menjadi kurus. Pasien akan malu dan sedih dengan keadaannya. Pada kondisi seperti itu, pasien memerlukan asuhan keperawatan yang holistik untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, yaitu kebutuhan biologis, psikologis, sosial, kultural, dan spiritual. Kebutuhan biologis seperti nutrisi, cairan, dan pakaian. Kebutuhan psikologis meliputi perhatian dan dukungan dari keluarga dan orang sekitarnya. Kebutuhan sosial yang meliputi interaksi dengan keluarga, teman, dan masyarakat. Kebutuhan kultural yang meliputi kebiasaan dan budaya yang dianut oleh pasien. Dan kebutuhan spiritual meliputi kebutuhan pasien terhadap kepercayaan yang dianut, serta hubungannya dengan Tuhan. Pasien cancer mammae memerlukan asuhan keperawatan yang holistik (menyeluruh), sehingga kebutuhan pasien dapat terpenuhi. Maka dari itu, penulis tertarik untuk memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan cancer mammae di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang sebagai laporan tugas akhir (LTA).

1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang akan dibahas pada Laporan Tugas Akhir (LTA) ini adalah :

1. Bagaimana konsep penyakit cancer mammae?

2. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada cancer mammae?

3. Bagaimana profil tempat pengambilan kasus cancer mammae?

4. Apakah ada kesenjangan antara asuhan keperawatan cancer mammae secara teori dengan asuhan keperawatan yang diberikan di lapangan?

Poltekkes Kemenkes Palembang

3

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum Tujuan umum penulisan laporan tugas akhir (LTA) ini adalah untuk menerapkan asuhan keperawatan pada pasien dengan

cancer mammae dengan menggunakan proses keperawatan.

1.3.2 Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penyusunan laporan tugas akhir (LTA) ini adalah :

1.

Dapat melakukan pengkajian pada klien dengan cancer mammae.

2.

Dapat merumuskan diagnose keperawatan pada klien dengan cancer mammae.

3.

Dapat membuat rencana keperawatan pada klien dengan cancer mammae.

4.

Dapat melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan cancer mammae.

5.

Dapat mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada klien dengan cancer mammae.

6.

Dapat mengetahui kesulitan dan hambatan yang dihadapi dalam melaksanakan asuhan keperawatan dan mengupayakan pemecahan masalah.

7.

Dapat membandingkan asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien dengan asuhan keperawatan secara teori yang ada.

1.4 Manfaat Penulisan Adapun manfaat penulisan laporan tugas akhir (LTA) ini adalah :

1.4.1 Bagi Penulis Laporan tugas akhir (LTA) ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan berharga bagi penulis mengenai cancer mammae, sehingga dapat menerapkan pengalaman yang diperoleh untuk pada masyarakat luas.

Poltekkes Kemenkes Palembang

4

1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan Laporan tugas akhir (LTA) diharapkan dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran, khusunya pada keperawatan maternitas yang mempelajari kesehatan reproduksi dengan cancer mammae, sehingga dapat membantu dalam mengaplikasikannya di praktik keperawatan klinik.

1.5 Metode Penulisan

1.5.1 Teknik Pengumpulan Data

1. Wawancara/ Anamnesa Teknik pengumpulan data dengan wawancara adalah dengan melakukan anamnesa atau wawancara secara langsung kepada pasien dan keluarga untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan keadaan pasien cancer mammae.

2. Pemeriksaan Fisik Teknik pengumpulan data dengan cara pemeriksaan fisik adalah memeriksa seluruh bagian tubuh dengan metode head to toe dengan tujuan mencari kelainan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.

3. Penelusuran Data Sekunder Teknik pengumpulan data dengan cara pengumpulan data adalah dengan melihat catatan yang diperoleh langsung dari medical record RSUP. Dr. Mohammad Hoesin Palembang, Yayasan Kanker Indonesia, antara news, dan lainnya tentang angka kejadian cancer mammae.

Poltekkes Kemenkes Palembang

5

1.5.2 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan yang penulis gunakan terdiri dari 5 bab yang terdiri dari :

BAB I

Pendahuluan

BAB II

Pendahuluan terdiri dari latar belakang, ruang lingkup penulisan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, serta metode penulisan. Tinjauan Pustaka

BAB III

Tinjauan pustaka terdiri dari konsep penyakit yang meliputi anatomi, definisi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, factor-faktor resiko, klasifikasi, komplikasi, proses deteksi dini, stadium, prognosis, pengobatan, pencegahan dan konsep asuhan keperawatan maternitas dengan cancer rmammae yang meliputi pengkajian, perumusan masalah, perencanaan keperawatan, implementasi, serta evaluasi. Tinjauan Kasus

BAB IV

Tinjauan kasus merupakan laporan pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah diberikan kepada klien dengan cancer mammae. Pembahasan

BAB V

Pembahasan merupakan perbandingan atau kesenjangan yang terjadi antara asuhan keperawatan secara teori dengan asuhan keperawatan yang telah diberikan di lapangan sertaa upaya pemecahannya. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan dirumuskan untuk menjawab tujuan penulisan. Sedangkan saran merupakan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi.

Poltekkes Kemenkes Palembang

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Cancer Mammae 2.1.1 Anatomi Payudara Kata payudara berasal dari bahasa Sansekerta payau yang artinya air dan dara yang artinya perempuan. Dalam bahasa Latin, payudara disebut glandhula mammae. Salah satu fungsi payudara adalah untuk menyusui. (Suryaningsih & Sukaca, 2009). Kelenjar mama atau payudara adalah perlengkapan pada organ reproduksi perempuan yang mengeluarkan air susu. Payudara terletak di dalam fasia superfisialis di daerah pektoral antara sternum dan aksila dan melebar dari kira-kira iga kedua atau ketiga sampai iga keenam atau iga ketujuh. Berat dan ukuran payudara berlain-lainan, pada masa pubertas membesar, dan bertambah besar selama hamil dan sesudah melahirkan, dan menjadi atrofik pada usia lanjut. Bentuk payudara cembung ke depan dengan puting di tengahnya, yang terdiri atas kulit dan jaringan erektil dan berwarna tua. Puting ini dilingkari daerah yang berwarna cokelat yang disebut areola. Dekat dasar puting terdapat kelenjar sebaseus, yaitu kelenjar Montgomery, yang mengeluarkan zat lemak supaya puting tetap lemas. Puting berlubang-lubang 15-20 buah, yang merupakan saluran dari kelenjar susu. Payudara terdiri atas bahan kelenjar susu atau jaringan aleolar, tersusun atas lobus-lobus yang saling terpisah oleh jaringan ikat dan jaringan lemak. Setiap lobulus terdiri atas sekelompok aleolus yang bermuara ke dalam duktus laktiferus (saluaran air susu) yang bergabung dengan duktus-duktus lainnya untuk membentuk saluran yang lebih besar dan berakhir dalam saluran sekretorik. Ketika saluran-saluran ini mendekat puting, membesar untuk membentuk wadah penampungan air

7

susu, yang disebut sinus laktiferus, kemudian saluran itu menyempit lagi dan menembus puting dan bermuara di atas permukaannya. Sejumlah besar lemak ada di dalam jaringan pada permukaan payudara, dan juga di antara lobulus. Saluran limfe banyak dijumpai. Saluran limfe mulai sebagai pleksus halus dalam ruang interlobuler jaringan kelenjar, bergabung dan membentuk saluran lebih besar, yang berjalan ke arah kelompok pektoral kelenjar aksiler, yaitu kelenjar mammae bagian dalam dan kelenjar supraklaikuler. Persediaan darah diambil dari cabang arteria aksilaris, interkostalis, dan mama interna, dan pelayanan persarafan dari saraf-saraf kutan dada. (Pearce, 2011).

persarafan dari saraf-saraf kutan dada. (Pearce, 2011). Gambar 2.1 Anatomi Payudara 2.1.2 Fisiologi Payudara Organ

Gambar 2.1 Anatomi Payudara

2.1.2 Fisiologi Payudara Organ payudara merupakan bagian dari organ reproduksi yang fungsi utamanya menyekresi susu untuk nutrisi bayi yang dimulai pada minggu keenam belas. Sesudah bayi lahir, dari payudara akan keluar sekret yang berupa cairan bening yang disebut kolostrum yang kaya protein, dan dikeluarkan selama 2-3 hari pertama; kemudian air susu mengalir lebih lancar dan menjadi air susu sempurna. Sebuah hormon dari lobus anterior kelenjar hipofisis, yaitu prolaktin penting dalam merangsang pembentukan air susu. (Pearce, 2011).

Poltekkes Kemenkes Palembang

8

2.1.3 Definisi Cancer mammae Cancer mammae disebut juga dengan Carcinoma Mammae adalah sebuah tumor ganas yang tumbuh dalam jaringan payudara. Tumor ini dapat tumbuh dalam susu, jaringan lemak, maupun pada jaringan ikat payudara. (Suryaningsih & Sukaca 2009). Cancer mammae adalah keganasan yang berasal dari kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kullit payudara. (Romauli & indari, 2009). Cancer mammae adalah pertumbuhan sel yang tidak terkontrol lantaran perubahan abnormal dari gen yang bertanggung-jawab atas pengaturan pertumbuhan sel. Secara normal, sel payudara yang tua akan mati, lalu digantikan oleh sel baru yang lebih ampuh. Regenerasi sel seperti ini berguna untuk mempertahankan fungsi payudara, gen yang bertanggung-jawab terhadap pengaturan pertumbuhan sel termutasi. Kondisi itulah yang disebut cancer mammae. (Satmoko, 2008). Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa cancer mammae adalah suatu keadaan dimana terjadi pertumbuhan sel yang tidak terkendali pada payudara, sehingga menyebabkan terjadinya benjolan atau kanker yang ganas.

2.1.4 Etiologi Penyebab cancer mammae masih belum diketahui secara pasti, faktor genetik dan faktor hormonal dapat berperan pada cancer mammae. (Black & Matassarin, 1997).

2.1.5 Faktor Resiko Cancer Mammae Menurut Mulyani & Nuryani (2013), Sukaca & Suryaningsih (2009) terdapat beberapa faktor yang mempunyai pengaruh terhadap terjadinya cancer mammae, diantaranya:

1. Gender Perempuan memiliki risiko terkena cancer mammae lebih besar dibanding pria. Perbandingannya seratus banding satu perempuan yang terkena cancer mammae dibandingkan pria.

Poltekkes Kemenkes Palembang

9

2. Pemakaian hormon Laporan dari Harvard School of Public Health menyatakan bahwa terdapat peningkatan bermakna pada pengguna terapi Estrogen Replacement. Suatu metaanalisis menyatakan bahwa walaupun tidak terdapat risiko cancer mammae pada pengguna kontrasepsi oral, perempuan yang menggunakan obat ini untuk mengalami kanker ini sebelum menopause. Oleh sebab itu jika kita bisa menghindari adanya penggunaan hormon ini secara berlebihan maka akan lebih aman.

3. Kegemukan (obesitas) setelah menopause Seorang perempuan yang mengalami obesitas setelah menopause akan beresiko 1,5 kali lebih besar untuk terkena cancer mammae dibandingkan dengan perempuan yang berat badannya normal.

4. Radiasi payudara yang lebih dini Sebelum usia 30 tahun, seorang perempuan yang harus menjalani terapi radiasi di dada (termasuk payudara) akan memiliki kenaikan risiko terkena cancer mammae. Semakin muda ketika menerima pengobatan radiasi, semakin tinggi risiko untuk terkena cancer mammae di kemudian hari.

5. Riwayat cancer mammae Seorang perempuan yang mengalami cancer mammae pada satu payudaranya mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menderita kanker baru pada payudara lainnya atau pada bagian lain dari payudara yang sama. Tingkat risikonyo bisa tiga sampai empat kali lipat.

6. Riwayat keluarga Risiko dapat berlipat ganda jika ada lebih dari satu anggota keluarga inti yang terkena cancer mammae dan semakin mudah ada anggota keluarga yang terkena kanker maka akan semakin besar penyakit tersebut menurun.

Poltekkes Kemenkes Palembang

10

7. Periode menstruasi Perempuan yang mulai mempunyai periode awal (sebelum usia 12 tahun) atau yang telah melalui perubahan kehidupan (fase menopause) setelah usia 55 tahun mempunyai risiko terkena cancer mammae yang sedikit lebih tinggi. Mereka yang mempunyai periode menstruasi yang lebih sehingga lebih banyak hormon estrogen dan progesteron.

8. Umur atau usia Sebagian besar perempuan penderita cancer mammae berusia 50 tahun ke atas. Resiko terkena cancer mammae meningkat seiring bertambahnya usia.

9. Ras

Cancer mammae lebih umum terjadi pada perempuan berkulit putih. Kemungkinan terbesar karena makanan yangmereka makan banyak mengandung lemak. Ras seperti Asia mempunyai bahan pokok yang tidak banyak mengandung lemak yang berlebih.

10. Perubahan payudara Jika seorang perempuan memiliki perubahan jaringan payudara yang dikenal sebagai hiperplasia atipikal (sesuai hasil biopsi), maka seorang perempuan memiliki peningkatan risiko cancer mammae.

11. Aktivitas fisik Penelitian terbaru dari Women’s Health Initiative menemukan bahwa aktivitas fisik pada perempuan menopause yang berjalan sekitar 30 menit per hari dikaitkan dengan penurunan 20 persen resiko cancer mammae. Namun, pengurangan risiko terbesar adalah pada perempuan dengan berat badan normal. Dampak aktivitas fisikk tidak ditemukan pada perempuan dengan obesitas. Jika aktivitas fisik dikombinasikan dengan diet dapat menurunkan berat badan sehingga menurunkan risiko cancer mammae dan berbagai macam penyakit.

Poltekkes Kemenkes Palembang

11

12. Konsumsi alkohol Perempuan yang sering mengkonsumsi alkohol akan beresiko terkena cancer mammae karena alkohol menyebabkan perlemakan hati, sehingga hati bekerja lebih keras sehingga sulit memproses estrogen agar keluar dari tubuh dan jumlahnya akan meningkat.

13. Merokok Merokok dapat meningkatkan resiko berkembangnya cancer mammae, apalagi bagi perempuan yang memiliki riwayat keluarga yang mengidap cancer mammae.

2.1.6 Manifestasi Klinis Romauli & Vindari (2011) menyebutkan bahwa pada tahap awal

tidak terdapat tanda dan gejala yang khas. Tanda dan gejala dapat terlihat pada tahap lanjut antara lain :

1. Adanya benjolan di payudara,

2. Adanya borok atau luka yang tidak sembuh,

3. Keluar cairan abnormal dari puting susu, cairan dapat berupa nanah, darah, cairan encer atau keluar air susu pada perempuan yang tidak hamil dan menyusui.

4. Perubahan bentuk dan besarnya payudara,

5. Kulit puting susu dan areola melekuk ke dalam atau berkerut.

6. Nyeri di payudara. Menurut Mulyani & Nuryani (2013), jika metastase (penyebaran)

luas, maka tanda dan gejala yang biasa muncul adalah:

1. Pembesaran kelenjar getah bening supraklavikula dan servikal.

2. Hasil rontgen toraks abnormal dengan atau tanpa efusi pleura.

3. Gejala penyebaran yang terjadi di paru-paru ditandai dengan batuk

yang sulit untuk sembuh, terdapat penimbunan cairan antara paru- paru dengan dinding dada sehingga akan menimbulkan kesulitan dalam bernafas.

4. Nyeri tulang dengan penyebaran ke tulang.

5. Fungsi hati abnormal.

Poltekkes Kemenkes Palembang

12

2.1.7 Pathway

Pathway Cancer Mammae

Faktor predisposisi dan resiko tinggi hiperplasi pada sel mammae Mendesak jaringan sekitar Mendesak sel syaraf
Faktor predisposisi dan
resiko tinggi hiperplasi pada
sel mammae
Mendesak jaringan
sekitar
Mendesak sel syaraf
Mendesak pembuluh
darah
Menekan jaringan
Interupsi sel syaraf
Aliran darah terhambat
pada mammae
Peningkatan
konsistensi mammae
Nyeri
Hipoksia
Nekrosis jaringan
Mammae
Ukuran mammae
membengkak
abnormal
Bakteri patogen
Massa tumor
mendesak ke jaringan
luar
Resiko infeksi
Mammae asimetrik
Defisiensi
Perfusi jaringan
anxietas
terganggu
Infiltrasi pleura
Ulkus
Ekspansi paru menurun

Kerusakan integritas kulit/ jaringan

Ekspansi paru menurun Kerusakan integritas kulit/ jaringan Ketidakefektifan pola nafas Ketidakseimbangan nutrisi kurang
Ekspansi paru menurun Kerusakan integritas kulit/ jaringan Ketidakefektifan pola nafas Ketidakseimbangan nutrisi kurang

Ketidakefektifan pola nafas

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Mensuplai nutrisi ke jaringan Ca

kurang dari kebutuhan tubuh Mensuplai nutrisi ke jaringan Ca Hipermetabolisme ke jaringan Hipermetabolisme jaringan lain

Hipermetabolisme ke jaringan

nutrisi ke jaringan Ca Hipermetabolisme ke jaringan Hipermetabolisme jaringan lain menurun Berat badan turun

Hipermetabolisme jaringan lain menurun

ke jaringan Hipermetabolisme jaringan lain menurun Berat badan turun Bagan 1. Pathway Cancer Mammae Sumber :

Berat badan turun

Hipermetabolisme jaringan lain menurun Berat badan turun Bagan 1. Pathway Cancer Mammae Sumber : Nurarif, A.H

Bagan 1. Pathway Cancer Mammae Sumber : Nurarif, A.H & Kusuma, H (2013)

Poltekkes Kemenkes Palembang

13

2.1.8 Jenis Cancer mammae Mulyani & Nuryani (2013); Suryaningsih & Sukaca (2009); Santoso (2009) menjelaskan bahwa terdapat beberapa jenis cancer mammae yang sering terjadi :

1. Ductul Carcinoma In Situ (DCIS) DCIS merupakan tipe cancer mammae noninvasif yang sering terjadi. DCIS terdeteksi pada mamogram sebagai microcalsifications (tumpukan kalsium dalam jumlah kecil). DCIS muncul dari ductal epithelium dan masuk ke duktus.

2. Lobular Carcinoma In Situ (LCIS)

LCIS merupakan kanker yang tidak menyebar. Pada LCIS, pertumbuhan jumlah sel terlihat jelas dan berada di dalam kelenjar susu (lobulus).

3. Invasive (infiltrating) Ductal Carcinoma (IDC) IDC terjadi di dalam saluran susu payudara lalu menjebol dinding saluran dan menyerang jaringan lemak payudara. Bila dipalpasi akan terasa benjolan yang keras. Biasanya terjadi metastasis ke nodus lympha aksila.

4. Invasive (Infiltrating) Lobular Carcinoma (ILC) ILC mulai terjadi di dalam lobulus (kelenjar) payudara, tetapi sering mengalami metastase (penyebaran) ke bagian tubuh yang lain. Berikut adalah beberapa jenis cancer mammae yang jarang terjadi :

a. Medullary Carcinoma Medullary carcinoma ialah jenis cancer mammae inasif yang membentuk satu batas yang tidak lazim antara jaringan tumor dan jaringan normal.

b. Mucinous Carcinoma Mucinous Carcinoma terbentuk oleh sel kanker yang memiliki mukus (lendir) dan biasanya mucul bersama tipe kanker lainnya. Pertumbuhannya lambat, namun lama-lama dapat meluas.

Poltekkes Kemenkes Palembang

14

c.

Tubular Carcinoma Tubular carcinoma adalah tipe khusus dari cancer mammae invasif.

d.

Inflammatory Breast Cancer (IBC) Inflammatory breast cancer ialah kondisi payudara yang terlihat meradang (merah dan hangat) dengan cekungan dan pinggiran tebal yang disebabkan oleh sel kanker yang menyumbat pembuluh limfe kulit pembungkus payudara. Pertumbuhannya cepat.

e.

Paget’s Disease of The Nipple Paget’s disease of the nipple ialah jenis cancer mammae yang berawal dari saluran susu, lalu menyebar ke areola dan puting payudara. Gejala yang tampak seperti kulit payudara akan pecah-pecah, memerah, timbul borok, dan mengeluarkan cairan.

f.

Phylloides Tumor Phylloides tumor ialah jenis kanker yang dapat bersifat jinak ataupun ganas dan berkembang di dalam jaringan konektif payudara yang dapat ditangani dengan operasi pengangkatan.

2.1.9 Stadium Cancer mammae

Stadium dalam kanker adalah untuk menggambarkan kondisi kanker, yaitu letaknya, sampai dimana penyebarannya, sejauh mana pengaruhnuya terhadap organ tubuh lain. Dengan mengetahui stadium kanker ini merupakan salah satu cara untuk membantu dokter untuk menentukan pengobatan apa yang sesuai untuk pasien. (Mulyani & Nuryani, 2013).

Poltekkes Kemenkes Palembang

15

Sistem TNM menggunakan tiga kriteria untuk menentukan stadium kanker, yaitu:

1. (T, Tumor), tumor itu sendiri. Seberapa besar ukuran tumornya dan dimana lokasinya.

2. (N, Node), kelenjar getah bening di sekitar tumor. Apakah tumor telah menyebar ke kelenjar getah bening sekitarnya.

3. (M, Metastasis), kemungkinan tumor telah menjalar ke organ lain.

Stadium cancer mammae berdasarkan penilaian TNM sebagai berkut:

T (Tumor Size), ukuran tumor

T0 : Tidak diketemukan tumor primer. T1 : Ukuran tumor diameter 2 cm atau kurang. T2 : Ukuran tumor diameter antara 2-5 cm. T3 : Ukuran tumor diameter > 5cm. T4 : Ukuran tumor berapa saja tetapi sudah ada penyebaran ke kulit atau dinding dada atau pada keduanya. Dapat berupa borok, edema atau bengkak, kulit payudara kemerahan atau ada benjolan kecil di kulit tumor utama.

N

(Node), kelenjar getah bening regionak (kgb)

N

0 : Tidak terdapat metasis pada kgb regional di ketiak/akslla.

N

1 : Ada metasis ke kgb aksilla yang masih dapat digerakkan.

N

2 : Ada metasis ke kgb aksilla yang sulit digerakkan.

N

3 : Ada metasis ke kgb di atas tulang selangka (supraclavicula) atau kgb di mammary interna di dekat tulang sternum.

M

(Metasis), penyebaran jauh

M

X : Metasis jauh belum dapat dinilai

M

0 : Tidak terdapat metasis jauh

M 1 : Terdapat metasis jauh

Poltekkes Kemenkes Palembang

16

Setelah masing masing faktor T, N, M diperoleh, kemudian ketiga

faktor tersebut digabung dan didapatkan stadium kanker sebagai berikut :

Stadium 0

: T0 N0 M0.

Stadium 1

: T1 N0 M0.

Stadium II A : T0 N2 M0/T4 N1 M0 / T4 N2 M0.

Stadium III B : T4 N0 M0 / T4 N1 M0 / T4 N2 M0.

Stadium III C : Tiap T N3 M0.

Stadium IV

: Tiap T-Tiap N-M1.

Dengan diketahuinya stadium kanker bermanfaat untuk:

1. Dapat mengetahui keadaan sejauh mana tingkat pertumbuhan kanker

dan penyebaran kanker ketika pertama kali didiagnosis, apakah

merupakan stadium diri atau stadium lanjut.

2. Untuk menentukan perkiraan prognosis atau tingkat harapan

kesembuhan dan harapan hidup seberapa besar. Selain itu juga dapat

memperkirakan bebas dari kekambuhan penyakit bila setelah diobati.

3. Untuk menentukan jenis pengobatan atau tindakan terbaik

berdasarkan stadiumnya, karena masing-masing stadium berbeda cara

penanganannya.

Stadium cancer mammae :

Stadium

Keterangan

0

Cancer mammae non-invasif. Ada 2 tipe, yaitu DCIS (ductal carcinoma in situ) dan LCIS (lobular carcinoma in situ).

I

Kanker invasif kecil, ukuran tumor kurang dari 2 cm dan tidak menyerang kelenjar getah bening.

II

Kanker invasif, ukuran tumor 2-5 cm dan sudah menyerang kelenjar getah bening.

III

Kanker invasif besar, ukuran tumor lebih dari 5 cm dan benjolan sudah menonjol ke permukaan kulit, pecah, berdarah, dan bernanah.

IV

Sel kanker sudah bermetastasis atau menyebar ke organ lain, seperti paru-paru, hati, tulang, atau otak.

Tabel 2.1 Stadium Cancer Mammae

Poltekkes Kemenkes Palembang

17

Dijelaskan lebih rinci tentang stadium cancer mammae, yaitu :

Stadium 0 Disebut Ductal Carcinoma In Situ atau Noninvasive Cancer yaitu kanker yang tidak menyebar keluar dari pembuluh/ saluran payudara dan kelenjar-kelenjar (lobulus) susu pada payudara.

Stadium 1 Tumor masih sangat kecil dan tidak menyebar serta tidak ada titik pada pembuluh getah bening.

Stadium IIA Diameter tumor lebih kecil atau sama dengan 2 cm dan telah ditemukan pada titik-titik saluran getah bening di ketiak.

Stadium IIB Diameter tumor lebih lebar dari 2 cm tetapi tidak melebihi 5 cm, telah menyebar pada titik-titik di pembuluh getah bening ketiak, dan diameter tumor lebih lebar dari 5 cm tapi belum menyebar.

Stadium IIIA Diameter tumor lebih kecil dari 5 cm dan telah menyebar pada titik- titik di pembuluh getah bening ketiak.

Stadium IIIB Tumor telah menyebar ke dinding dada atau menyebabkan pembengkakan bisa juga luka bernanah di payudara dapat didiagnosis sebagai infalammatory breast cancer. Dapat juga sudah atau bisa juga belum menyebar ke titik-titik pada pembuluh getah bening di ketiak dan lengan atas, tetapi tidak menyebar ke bagian lain dari organ tubuh.

Stadium IIIC Seperti stadium IIIB, tetapi telah menyebar ke titik-titik pada pembuluh getah bening dalam group N3.

Stadium IV Ukuran tumor dapat berapa saja, tetapi telah menyebar pada lokasi yang jauh, seperti tulang, paru-paru, liver atau tulang rusuk.

Poltekkes Kemenkes Palembang

18

2.1.10 Prognosis Cancer mammae Mulyani, N.S & Nuryani (2013) menyebutkan bahwa prognosis

cancer mammae berdasarkan stadiumnya dibagi menjadi lima, yaitu :

1. Stadium I

: 90%-80%

2. Stadium II

: 70%-50%

3. Stadium III

: 20%-11%

4. Stadium IV

: 0%

5. Stadium Ca in situ

: 96%

2.1.11 Penatalaksanaan Cancer mammae Mulyani & Nuryani (2013); Suryaningsih & Sukaca (2009) menjelaskan bahwa penatalaksanaan cancer mammae tergantung tipe dan stadium yang dialami penderita. Macam-macam penatalaksanaan cancer mammae :

1.

Lumpectomy

Pasien yang boleh menjalani lumpectomy adalah :

a. Mempunyai cukup jaringan normal. Hal ini diharapkan agar pengangkatan tidak menghilangkan payudara,

b. Mempunyai tumor tunggal.

Pasien yang tidak boleh menjalani lumpectomy adalah :

a. Mempunyai tumor banyak (jamak) dalam satu payudara,

b. Menjalani terapi radiasi payudara untuk penanganan awal cancer mammae,

c. Sedang hamil sehingga harus menghindari terapi radiasi.

Tahap-tahap pembedahan lumpectomy :

a. Persiapan operasi, kemudian berikan anastesi local ataupun total dan membutuhkan waktu antara satu sampai dua jam.

b. Penjepit metalik kecil akan dimasukkan untuk memberi tanda area serta mempermudah terapis melakukan perawatan.

Poltekkes Kemenkes Palembang

19

c. Simpul limfe (getah bening) juga akan diperiksa saat itu juga, saat jaringan payudara diangkat.

d. Irisan akan dilakukan di bawah ketiak atau dengan membuat irisan terpisah di bawah lengan.

e. Melihat kanker seberapa besar dan seberapa parahnya. Memisahkan kanker dengan jaringan lainnya.

f. Melakukan pengangkatan kanker.

g. Menjahit bagian yang telah diangkat tadi. Ada beberapa jenis pembedahan pada cancer mammae,

yaitu:

a. Radical Mastectomy Radical mastectomy merupakan operasi pengangkatan sebagian payudara (lumpectomy) dan operasi ini selalu diikuti dengan pemberian radioterapi. Lumpectomy ini biasanya direkomendasikan pada pasien yang besar tumornya kurangdari 2 cm dan letaknya di pinggir payudara.

b. Total Mastektomy

Total mastectomy merupakan operasi pengangkatan seluruh payudara saja bukan kelenjar ketiak/ axila.

c. Modified Radikal Mastektomy Modified Radikal Mastektomy merupakan operasi pengangkatan seluruh payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka, dan tulang iga serta benjolan di sekitar ketiak.

2. Terapi radiasi Terapi radiasi adalah cara pengobatan yang sangat efektif dan sangat menuju sasaran untuk menghancurkan sel kanker yang mungkin masih tertinggal setelah operasi. Radiasi dalam pengobatan kanker disebut ionizing radiation. Radiasi ini dapa mengurangi resiko kekambuhan kanker. Biasanya terapi radiasi menggunakan x-ray berenergi tinggi atau partikel lain untuk membunuh sel kanker. Terapi ini

Poltekkes Kemenkes Palembang

20

dilakukan secara regular per minggu (5 hari) selama 6 minggu tergantung ukuran, lokasi, jenis kanker, kesehatan penderita secara umum, dan pengobatan lainnya. Cara kerja terapi radiasi :

Untuk mengetahui bagaimana radiasi bekerja untuk pengobatan, pertama-tama kita harus mengetahui siklus hidup sel normal dalam tubuh. Siklus sel terdiri daari 5 fase yaitu :

a. Fase G0 (Resting Stage) Sel belum mulai membelah. Langkah ini dapat berlangsung beberapa jam hingga bertahun-tahun. Hal itu tergantung pada tipe sel. Ketika sel mendapat kode untuk menggandakan maka kemudian dia akan menuju fase G0.

b. Fase G1 Sel mulai membuat lebih banyak protein. Gunanya persiapan untuk membelah. Fase ini berlangsung antara 18 hingga 30 jam.

c. Fase S Fase ini menandakan bahwa kromosom yang berisi kode genetik (DNA) dapat digandakan. Sehingga kedua sel yang baru terbentuk itu akan mempunyai jumlah DNA yang sama. Fase ini berlangsung antara 18 hingga 20 jam.

d. Fase G2 Sel akan membelah menjadi 2 sel yang berlansung 2 hingga 20 jam.

e. Fase M Sel membelah menjadi 2 sel yang berlansung 30 atau 60 menit.

Efek samping radioterapi berbeda-beda tergantung pada area tubuh yang diterapi, yang paling umum adalah rasa lemah tak bertenaga, yang biasanya muncul beberapa minggu setelah radioterapi dimulai. Banyak yang menjadi penyebabnya,

Poltekkes Kemenkes Palembang

21

diantaranya karena kurang darah, stres, kurang tidur, nyeri, kurang nafsu makan, atau lelah karena setiap hari harus ke rumah sakit.

Perawatan pasien dengan terapi radiasi adalah :

1. Perawatan sebelum radiasi Sebaiknya lakukan terlebih dahulu pemikiran pasien sebelum radioterapi, sehingga pasien mengerti radioterapi, menghindari stres, ketakutan, dan setelah itu untuk memperbaiki keadaan umum, memperhatikan nutrisi tubuh, memperbaiki situasi lokal, untuk menghindari infeksi lokal. Misalnya, NPC pasien sebelum radioterapi baiknya untuk mencuci nasofaring, pasien kanker esofagus sebelum radioterapi harus menghindari makan-makanan keras dan makanan pedas.

2. Perawatan selama radiasi Pasien kanker selama radioterapi sering merasa nyeri, perdarahan, infeksi, pusing, kehilangan nafsu makan dan gejala lain, pengobatan simtomatik harus tepat waktu. Pertama, dokter harus memperhatikan menyesuaikan pengobatan dan dosis, sejauh mungkin untuk melindungi bagian-bagian tidak perlu di radiasi, sambil memberi obat penenang, vitamin B. Kedua, kita harus memberikan asupan air kepada pasien yang cukup banyak, agar mencapai tujuan untuk mengurangi reaksi sistemik dan menghindari cedera radiasi lokal. Selama radioterapi, dokter harus memperhatikan perubahan sering diamati dalam darah, seperti sel-sel darah putih kurang dari 3,0x109/L, trombosit kurang dari 8,0×109/L, harus mengetahui alasan atau penangguhan radioterapi, diberikan pengobatan yang sesuai.

3. Setelah perawatan radiasi Para pasien setelah diiradiasi kulit lokal harus tetap bersih untuk menghindari rangsangan fisik dan kimia, tidak dapat membiarkan kulit lokal berlebihan tergesek. Pakaian pasien

Poltekkes Kemenkes Palembang

22

harus lembut, kerah jangan terlalu kaku. Organ setelah diradiasi, karena cedera radiasi, mengurangi resistensi terhadap infeksi sekunder, sehingga harus menggunakan radioterapi yang berbeda untuk meningkatkan perlindungan. Untuk radioterapi lokal yang spesifik, seperti esophagus setelah radioterapi harus mengkonsunsumsi makanan lunak, rektum setelah radioterapi harus mencoba untuk menghindari BAB kering. Radiasi dari situs tumor primer tidak dapat dengan mudah biopsi, jika tidak maka dapat menimbulkan luka yang tak tersembuhkan dan berkepanjangan.

4. Terapi hormon Terapi hormon ini dapat menghambat pertumbuhan tumor yang peka hormon dan dapat dipakai sebagai terapi pendamping setelah pembedahan atau pada stadium akhir. Hal ini dikenal therapy anti-estrogen untuk memblok kemampuan hormon estrogen yang ada dalam menstimulus perkembangan cancer mammae. Hormon estrogen merupakan hormon yang berfungsi membentuk dan mematangkan organ kelamin perempuan, salah satunya payudara selama waktu pubertas serta memicu pertumbuhan dan pematangan sel di organ perempuan yang disebut sel duct, yang akan membelah secara normal. Dimana saat terjadi pematangan sel duct merupakan saat yang paling rentan terkena mutasi. Jika ada satu sel yang mengalami mutasi akibat factor keturunan, radiasi, radikal bebas, dll. Maka sel tersebut dapat membelah secara berlebihan yang akan berkembang menjadi kanker. Sehingga tujuan terapi hormon ini untuk mencegah estrogen dalam mempengaruhi sel kanker yang berada dalam tubuh. Contoh terapi hormon adalah tamoxifen, anastrozole (arimidex), letrozole (femara), dan exemestane (aromasin).

Poltekkes Kemenkes Palembang

23

5.

Kemoterapi Kemoterapi merupakan proses pemberian obat-obatan anti

kanker yang dapat diberikan secara oral atau intervenous. Cara pemberian obat :

a. Secara oral Diberikan secara berseri (biasanya diminum selama 2 minggu, istirahat 1 minggu).

b. Secara intravenous Diberikan dalam 6 kali kemo yang berjarak 3 minggu untuk yang full dosis.

Kemoterapi adjuvant, diberikan setelah operasi pembedahan untuk jenis cancer mammae yang belum menyebar dengan tujuan mengurangi risiko timbulnya kembali cancer mammae. Sel-sel kanker dapat melepaskan diri dari tumor payudara asal dan menyebar melalui aliran darah. Sel-sel ini tidak menyebabkan gejala dan tidak muncul pada sinar-x serta tidak dapat dirasakan pada pemeriksaan fisik. Namun memiliki peluang untuk tumbuh dan membentuk tumor baru di tempat lain di tubuh. Kemoterapi adjuvant ini dapat diberikan untuk mencari dan membunuh sel-sel ini. Neoadjuvant kemoterapi merupakan kemoterapi yang diberikan sebelum operasi dan bermanfaat mengecilkan kanker yang berukuran besar sehingga cukup kecil untuk melakukan

lumpectomy.

Efek samping yang umunya dirasakan adalah :

a. Rambut rontok.

b. Kuku dan kulit menghitam dan kering.

c. Mual dan muntah.

d. Anoreksia.

e. Perubahan siklus menstruasi.

f. Mudah lelah.

Poltekkes Kemenkes Palembang

24

Obat-obat kemoterapi yang biasa digunakan pada cancer mammae adalah :

a. Cyclophosphamid (cytoxan, neosar).

b. Methotrexate.

c. Fluorouracil (5-Fu, Adrucil).

d. Paclitaxel (Taxol).

e. Docetaxel (Taxotere).

f. Vinorelbine (Navelbine).

g. Gemcitabine (Gemzar), dll. Contoh kombinasi obat :

a. CMF (cyclophosphamide, methotrexate, dan 5-Fu).

b. FAC (5-Fu, doxorubicin, cyclophosphamide).

c. TAC (docetaxel, doxorubicin, cyclophosphamide).

d. GT (gemcitabine dan paclitaxel), dll.

Perawatan Pasien Dengan Post Kemoterapi :

1. Anoreksia Penanganan yang bisa dilakukan adalah dengan mengajarkan kepada pasien cara mengatur makanan: Kebutuhan karbohidrat, sebagai sumber energi harus dikonsumsi secara teratur, bisa diperoleh dari tepung, sereal, pasta dan roti, tetapi hindari yang terlalu manis seperti permen dan kue-kue basah. Kebutuhan protein, penting karena banyak mengandung vitamin dan mineral. Bisa dengan mengkonsumsi suplemen nutrisi seperti ensure, sustacal, resource, bisa juga dengan osmolit, isocal, isosource. Untuk menambah masukan protein bisa juga dengan makan telur rebus, daging, yoghurt.

2. Perubahan Indra Pengecap Hindari makanan yang pahit, makanan lunak berprotein ( susu, ikan, ayam ), pertahankan rasa manis, konsumsi makanan tambahan, lakukan tes pengecapan, karbohidrat pada pasien yang tidak suka manis, dan gunakan tambahan bumbu.

Poltekkes Kemenkes Palembang

25

3. Mual Dan Muntah

Untuk mencegah atau meminimalkan mual dan muntah :

a. Makan makanan yang dingin atau yang disajikan dengan suhu ruangan karena makanan panas meningkatkan sensasi mual.

b. Minum segelas jus apel, lemon, gelatin, teh atau cola untuk meredakan mual.

c. Hindari makanan yang terlalu manis, berlemak dan telalu pedas.

d. Hindari makan dan minum 1-2 jam sebelum dan setelah kemoterapi.

e. Gunakan teknik distraksi ( musik,radio,televisi )

f. Gunakan untuk tidur saat terasa mual

4. Diare

Hindari makanan yang mengiritasi lambung, seperti :

sereal, roti dari tepung, kacang, biji-bijian, coklat, buah segar atau yang dikeringkan, jus buah (pisang, avocado, apel dan anggur diperbolehkan), sayur mentah, makanan yang banyak mengandung gas, makanan dan minuman yang mengandung

kafein.

2.1.12 Proses Deteksi Cancer mammae

Menurut Mulyani & Nuryani (2013); Suryaningsih & Sukaca

(2009) terdapat beberapa proses deteksi cancer mammae, yaitu :

1. Periksa Payudara Sendiri (SADARI) :

Cara pemeriksaan:

a. Berdirilah di depan cermin dan perhatikan apakah ada kelainan pada payudara. Biasanya payudara tidak sama, putingnya juga tidak terletak pada ketinggian yang sama. Perhatikan apakah

Poltekkes Kemenkes Palembang

26

terdapat keriput, lekukan, atau puting susu tertarik ke dalam. Bila terdapat kelainan atau keluar cairan atau darah dari puting susu, segeralah pergi ke dokter.

b. Letakkan kedua lengan di atas kepala dan perhatikan kembali kedua payudara. Kemudian bungkukkan badan hingga payudara tergantung ke bawah dan periksa lagi.

c. Berbaringlah di tempat tidur dan letakkan tangan kiri di belakang kepala, dan sebuah bantal di bahu kiri. Rabalah payudara kiri dengan telapak jari-jari kanan. Periksalah apakah ada benjolan pada payudara. Kemudian periksa juga apakah ada benjolan atau pembengkakan pada ketiak kiri.

d. Periksa dan rabalah puting susu dan sekitarnya. Pada umumnya kelenjar susu bila diraba dengan telapak jari-jari tangan akan terasa kenyal dan mudah digerakkan. Bila ada tumor, maka akan terasa keras dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat dipindahkan dari tempatnya). Bila terasa ada sebuah benjolan sebesar 1 cm atau lebih, segeralah ke dokter. Makin dini penanganan, semakin besar kemungkinan untuk sembuh secara sempurna.

2. Thermografi Payudara Thermografi payudara adalah suatu prosedur diagnosis yang

menggambarkan payudara sebagai langkah deteksi dini cancer mammae. Prosesnya akan menghasilkan peningkatan suhu di dalam payudara. Thermografi payudara dapat dilakukan dengan :

a. Kamera inframerah ultra sensitif (ultra-sensitive infrared cameras),

b. Komputer. Cara penggunaan :

a. Pasien berdiri di depan kamera dengan melepas pakaian dari pinggang ke atas.

Poltekkes Kemenkes Palembang

27

3.

b. Posisi berdiri tegak dengan mengangkat kedua telapak tangan di belakang kepala. Hasil dengan thermografi payudara :

a. Citra inframerah yang abnormal merupakan tanda penting adanya resiko tinggi terjadinya cancer mammae.

b. Ketidaknormalan yang tetap tertangkap pada pemeriksaan thermografi berikutnya menandakan risiko terkena cancer mammae di masa mendatang 22 kali lipat lebih tinggi.

c. Ketika perempuan dengan ketidaknormalan tersebut menjalani perawatan kesehatan payudara, maka tingkat bertahan hidupnya naik sekitar 61 %.

Mamografi Mamografi adalah suatu metode pendeskripsian dengan menggunakan sinar X berkadar rendah. Tes dalam mamografi disebut mammogram. Cara menggunakan mammogram :

Tahap 1

a. Pasien diminta menanggalkan pakaian dari pinggang ke atas dan diganti pakaian rumah sakit.

b. Berdiri di depan mesin mamografi.

c. Penyinaran dilakukan satu per satu pada payudara dengan meletakkannya di atas penjepit lembar film dari plastik atau metal.

d. Tekan payudara sedatar mungkin di antara penjepit film dan kotak plastik yang disebut paddle, yang menekan payudara dari atas ke bawah.

e. Pancarkan sinar x beberapa detik.

Tahap 2

a. Berposisi di samping mesin mamografi.

b. Penjepit film akan dinaikkan sehingga sisinya persis dengan posisi luar payudara, sedangkan sudutnya menyentuh ketiak.

Poltekkes Kemenkes Palembang

28

c. Melakukan oblique position, yaitu menekan kembali paddle beberapa detik saat sinar x dipancarkan. Prosedur ini akan diulang pada payudara satunya.

d. Totalnya empat sinar x, dua untuk masing-masing payudara.

4. Ductography Ductography merupakan bagian dari mamografi.

Fungsi ductography adalah :

a. Memperlihatkan saluran air susu yang ada di dalam payudara.

b. Membantu dalam mendiagnosis penyebab keluarnya cairan abnormal pada putting.

Cara melakukan mamografi :

a. Membersihkan dan mensterilkan payudara dengan alkohol untuk membersihkan sisa cairan yang kering dan menempel pada puting.

b. Pijat payudara untuk mendapatkan cairan.

c. Tempatkan satu jarum pada putting sementara pasien memegang putting dengan telunjuk dan ibu jarinya.

d. Puting diarahkan ke bawah agar kanula dapat masuk saluran air susu pasien.

e. Cairan radiopaque disuntikkan ke dalam payudara melalui suntikan yang telah disambungkan dengan canula.

f. Payudara kemudian dicitrakan ke mamografi.

g. Tempelkan puting plester untuk menghindari keluarnya cairan

ke pakaian pasien.

5. Biopsi payudara Biopsi payudara adalah sebuah tindakan untuk mengambil contoh jaringan payudara dengan lensa mikroskop. Dengan begitu maka dapat diketahui adanya sel cancer mammae yang bersarang.

Poltekkes Kemenkes Palembang

29

6.

Cara penggunaan biopsi payudara :

a. Fine-Needle Aspiration Biopsy (FNA) Alat : menggunakan jarum kecil Cara : Jarum kecil dimasukkan dalam payudara. Dari ujung jarum tersebut, contoh jaringan diambil untuk kemudian diperiksa.

b. Core Needle Biopsy Alat : menggunakan jarum berbentuk khusus dan lebih besar. Cara : Jarum dimasukkan hingga menembus kulit sampai ke benjolan.

c. Open biopsy Alat : menggunakan jarum atau kabel khusus. Cara : Mengiris kulit dan mengambil sebagian atau seluruh benjolan. Jika tidak ada benjolan, jarum atau kabel khusus akan dimasukkan ke daerah yang dicurigai saat mammogram sebelum pembedahan dilakukan. Gambar jarum atau kabel tersebut akan membantu menentukan daerah benjolan dan menentukan lokasi sayatan.

USG USG merupakan kelanjutan pemeriksaan mamography atau uji klinis payudara. USG sering digunakan untuk memerksa abnormalitas payudara.

Cara pemeriksaan :

a. Pasien berbaring pada tempat khusus.

b. Olesi payudara dengan gel.

c. Geser transduser pada payudara.

d. Bentuk dan intensitas pantulan bergantung pada kepadatan jaringan payudara.

e. Jika sebuah kista, hampir seluruh gelombang suara akan melewati kista serta menghasilkan pantulan yang lemah.

Poltekkes Kemenkes Palembang

30

f. Jika tumor payudara, gelombang suara akan memantul dari benda padat tersebut. Sehingga diterjemahkan komputer menjadi gambar yang diindikasikan sebagai massa.

g. USG tidak menggunakan radiasi dan bebas rasa sakit.

2.2.13 Pencegahan Cancer Mammae Menurut Mulyani & Nuryani (2013); Suryaningsih & Sukaca , (2009) terdapat beberapa cara mencegah cancer mammae, yaitu :

a. Strategi Pencegahan

1. Pencegahan Primer

Merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan karena dilakukan pada orang yang sehat untuk menghindarkan diri dari keterpaparan pada berbagai resiko. Pencegahan primer dapat berupa deteksi dini dan melakukan pola hidup sehat untuk mencegah cancer mammae.

2. Pencegahan Sekunder Pencegahan ini dilakukan terhadap individu yang memiliki risiko untuk terkena cancer mammae. Pada setiap perempuan yang normal serta memiliki siklus haid normal merupakan populasi at risk cancer mammae. Pencegahan ini dilakukan dengan melakukan deteksi dini berupa skrining melalui mammografi yang memiliki akurasi 90% tetapi paparan yang terus-menerus dapat menjadi risiko cancer mammae.

3. Pencegahan Tertier Pencegahan ini diarahkan pada individu yang telah positif menderita cancer mammae. Dengan penanganan yang tepat dapat mengurangi kecacatan dan memperpanjang harapan hidup.

b. Terapkan pola hidup sehat

1. Menjaga berat badan ideal;

2. Pemberian ASI;

3. Konsumsi sayuran, buah, dan kacang-kacangan;

Poltekkes Kemenkes Palembang

31

4. Mengurangi konsumsi makanan dan gula yang diproses;

5. Kurangi konsumsi daging merah kurang dari 3 ons per hari;

6. Menghindari gorengan serta makanan yang banyak mengandung lemak;

7. Hindari makanan yang terkontaminasi jamur;

8. Menyimpan makanan yang cepat rusak dalam lemari es;

9. Mengurangi makanan yang diasap;

10. Metode memasak dengan suhu rendah;

11. Menghentikan konsumai alkohol;

12. Olahraga yang teratur;

13. Hindari merokok;

14. Menghindari stress.

c. Konsumsi makanan pencegah cancer Terdapat beberapa jenis makanan yang diteliti ahli dapat mencegah cancer mammae, yaitu tomat, alpukat, blueberry, kunyit, teh hijau, brokoli, kembang kol, bawang putih, bayam, buah delima, rumput laut, sayuran, gandum, ikan salmon dan tuna, yoghurt, olahan kedelai, dan jus jeruk.

d. Makanan Penderita Cancer Mammae Makanan yang dianjurkan untuk penderita cancer mammae adalah sayuran seperti wortel, lobak, pisang raja, belimbimg manis, seledri, kubis, apel, bawang, susu kedelai, dan tempe.

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan pada Cancer Mammae

2.2.1

Pengkajian Pengkajian merupakan tahap pengumpulan data yang berhubungan dengan pasien secara sistematis. (Doenges, Moorhouse, & Burley, 2000). Menurut Wijaya & Putri (2013), data yang dikaji pada pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui riwayat kesehatan, pengkajian fisik, pemeriksaan laboraturium dan diagnostik, serta review catatan sebelumnya. Langkah-langkah

Poltekkes Kemenkes Palembang

32

pengkajian yang sistematik adalah pengumpulan data, sumber data, klasifikasi data, anaisa data dan diagnose keperawatan.

a. Identitas Meliputi data pasien dan data penanggung-jawab, seperti nama, umur (50 tahun ke atas), alamat, agama, pendidikan, pekerjaan, nomor medical record.

b. Keluhan utama adanya benjolan pada payudara, sejak kapan, riwayat penyakit (perjalanan penyakit, pengobatan yang telah diberikan), faktor etiologi/ resiko.

c. Konsep diri mengalami perubahan pada sebagian besar klien dengan cancer mammae.

d. Pemeriksaan klinis Mencari benjolan karena organ payudara dipengaruhi oleh factor hormon antara lain estrogen dan progesteron, maka sebaiknya pemeriksaan ini dilakukan saat pengaruh hormonal ini seminimal mungkin/ setelah menstruasi ± 1 minggu dari hari akhir menstruasi. Klien duduk dengan tangan jatuh ke samping dan pemeriksa berdiri didepan dalam posisi yang sama tinggi.

e. Inspeksi

1. Simetri (sama antara payudara kiri dan kanan.

2. Kelainan papilla. Letak dan bentuk, adakah putting susu, kelainan kulit, tanda radang, peaue d’ orange, dimpling, ulserasi, dan lain-lain.

f. Palpasi

1. Klien berbaring dan diusahakan agar payudara tersebar rata

atas lapangan dada, jika perlu punggung diganjal bantal kecil.

2. Konsistensi, banyak, lokasi, infiltrasi, besar, batas dan operabilitas.

3. Pembesaran kelenjar getah bening (kelenjar aksila).

4. Adanya metastase nodus (regional) atau organ jauh,

Poltekkes Kemenkes Palembang

33

5. Stadium kanker (system TNM UICC)

g. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang klinis

a. Pemeriksaan radiologist

1. Mammografi/ USG Mamma

2. X-foto thoraks

3. Kalau perlu galktografi, tulang-tulang, USG abdomen, bone scan, CT scan.

b. Pemeriksaan laboraturium

1. Darah lengkap, urin

2. Gula darah puasa dan 2 jpp

3. Enxym alkali sposphate, LDH

4. CEA, MCA, AFP

5. Hormon reseptor ER, PR

6. Aktivitas estrogen/ vaginal smear.

c. Pemeriksaan sitologis

1. FNA dari tumor.

2. Cairan kista dan efusi pleura.

3. Sekret puting susu, ditemukannya cairan abnormal seperti darah atau nanah.

2.2.2 Perumusan Diagnosis Keperawatan Diagnosa keperawatan merupakan suatu tahap perumusan

masalah yang didapat dari data pengkajian yang telah dianalisa. (Doenges, Moorhouse, & Burley, 2000). Menurut Nurarif & Kusuma (2013), diagnosa yang mungkin muncul pada pasien cancer mammae adalah :

a. Nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor.

b. Cemas berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh.

c. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.

Poltekkes Kemenkes Palembang

34

d. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta pengobatan penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.

e. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan mastektomi.

f. Gangguan gambaran tubuh berhubungan dengan mastektomi.

g. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan hipermetabolisme ke jaringan.

2.2.3

Perencanaan Perencanaan merupakan bagian proses keperawatan yang mengidentifikasi masalah/ kebutuhan pasien, tujuan/ hasil

perawatan, dan intervensi untuk mencapai hasil yang diharapkan dan menangani masalah/ kebutuhan pasien. (Doenges, Moorhouse, & Burley, 2000). Menurut Nurarif & Kusuma (2013); Geissler, Doenges & Moorhouse (1999); Wijaya & Putri (2013) menjelaskan bahwa perencanaan yang dapat diberikan pada pasien dengan cancer mammae adalah :

a. Diagnosa 1 nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor Tujuan :

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri berkurang atau dapat mentolerir nyeri. Kriteria hasil :

1. Klien mampu mengontrol rasa nyeri.

2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri.

3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi, dan tanda nyeri).

4. Menyatakan merasa nyaman setelah nyeri berkurang

Poltekkes Kemenkes Palembang

35

Intervensi

Intervensi 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, maupun
1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, maupun kualitas.

1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, maupun kualitas.

2. Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan music atau menonton TV.

2. Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan music atau menonton TV.

3. Evaluasi keefektifan control nyeri.

3. Evaluasi keefektifan control nyeri.

4. Kolaborasi pemberian analgetik.

dalam

Rasional

1. Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan/ keefektifan intervensi.

2. Memungkinkan pasien untuk berpartisipasi secara aktif dan meningkatkan rasa control.

3. Evaluasi dilakukan setelah mengajarkan teknik pengalihan, sehingga mengetahui kebutuhan klien.

4. Nyeri adalah komplikasi sering dari kanker, meskipun respons individual berbeda. Saat perubahan penyakit/ pengobatan terjadi, penilaian dosis dan pemberian akan diperlukan.

Poltekkes Kemenkes Palembang

36

b. Diagnosa 2 Cemas berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh

Tujuan :

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan cemas berkurang. Kriteria hasil :

1. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas.

2. Mengidentifikasi, mengungkapkan, dan menunjukkan teknik mengontrol cemas.

3. Vital sign dalam batas normal.

4. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan.

 

Intervensi

 

Rasional

1. Gunakan

pendekatan

yang

1. Pasien yang cemas memerlukan teman dan ketenangan dalam mengungkapkan kecemasannya.

menenangkan.

 

2. Jelaskan

semua

prosedur

2. Prosedur, dampak dan segala yang berkaitan dengan terapi diberikan. Hal ini membuat pasien tahu mengenai dampaknya, dan dapat mengambil keputusan yang tepat.

dan

apa

yang

dirasakan

selama prosedur.

3. Dorong

pasien

untuk

3. Memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut realistis serta kesalahan konsep tentang diagnosis.

mengungkapkan perasaan,

ketakutan, persepsi.

Poltekkes Kemenkes Palembang

37

4. Bantu pasien/ orang terdekat dalam mengenali dan mengklarifikasi rasa takut untuk memulai mengembangkan strategi koping untuk menghadapi rasa takut.

4. Keterampilan koping sering rusak setelah diagnosis dan selama fase pengobatan yang berbeda. Dukungan dan konseling sangat diperlukan untuk individu mengenal dan menghadapi rasa takut.

5. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur.

5. Memungkinkan pasien membuat keputusan sesuai realita.

c. Diagnosa 3 resiko infeksi nosokomial berhubungan dengan lingkungan operasi Tujuan :

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan infeksi tidak terjadi. Kriteria hasil :

1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi.

2. Jumlah leukosit berada pada batas normal.

3. Klien mampu mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan pencegahan infeksi.

Intervensi

 

Rasional

1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.

1. Lingkungan yang bersih

 

meminimalkan jumlah bakteri.

2. Cuci tangan sebelum melakukan tindakan. Pengunjung juga dianjurkan melakukan hal yang sama.

2.

Lindungi pasien dari sumber-sumber infeksi, seperti pengunjung dan staf yang mengalami ISK.

Poltekkes Kemenkes Palembang

38

3. Monitor temperatur.

3. Peningkatan suhu terjadi karena berbagai faktor, misalnya efek samping kemoterapi, proses penyakit, atau infeksi.

4. Tingkatkan istirahat adekuat/ periode latihan.

4. Membatasi keletihan, mendorong gerakan yang cukup untuk mencegah komplikasi.

5. Kolaborasi pemberian antibiotik.

dalam

5. Diberikan secara profilaktik pada pasien dengan imunosupresi.

d. Diagnosa 4 Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. Tujuan :

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan pasien dapat mengetahui tentang penyakitnya. Kriteria hasil :

1. Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan.

2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar.

3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/ tim kesehatan lainnya.

 

Intervensi

 

Rasional

1.

Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik.

1.

Memvalidasi tingkat pemahaman saat ini, dan memberikan dasar pengetahuan diamana pasien membuat keputusan berdasarkan informasi.

Poltekkes Kemenkes Palembang

39

2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan hubungannya dengan anatomi fisiologi dengan cara yang tepat.

2. Informasi akurat

dan

mendetil dapat membantu menghilangkan ansietas dan mebmbuat keputusan.

3. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang.

3. Gaya hidup member pengaruh yang penting

dalam

mencegah

komplikasi.

4. Minta pasien untuk umpan balik verbal, dan perbaiki kesalahan konsep tentang tipe kanker dan pengobatan.

4. Kesalahan konsep tentang kanker lebih mengganggu dari kenyataan dan mempengaruhi pengobatan.

e. Diagnosa 5 Kerusakan integritas Kulit berhubungan dengan pengangkatan bedah kulit/ jaringan. Tujuan :

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam waktu penyembuhan kulit meningkat. Kriteria hasil :

1. Perfusi jaringan baik.

2. Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjdinya cedera berulang.

3. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawaatan alami.

Poltekkes Kemenkes Palembang

40

Intervensi

 

Rasional

1. Kaji balutan/ luka untuk karakteristik drainase. Monitor jumlah edema, kemerahan, dan nyeri pada insisi dan lengan, serta suhu.

2. Tempatkan pada posisi semifowler.

1.

Penggunaan balutan

tergantung luas pembedahan dan penutupan luka. Drainase terjadi ketika trauma prosedur dan manipulasi banyak pembuluh darah dan limfatik pada area tersebut. Pengenalan dini terjadi ketika infeksi dapat memampukan pengobatan dengan cepat. 2. Membantu drainase cairan

melalui gravitasi.

3. Jangan melakuka pengukuran TD, injeksi obat, atau memasukkan IV pada lengan ynag sakit.

3. Meningkatkan potensial konstriksi , infeksi, dan limfedema pada posisi yang sakit.

4. Anjurkan untuk memakai pakaian yang tidak sempit/ ketat, perhiasan atau jam tangan pada tangan yang sakit.

4. Menurunkan tekanan pada jaringan yang terkena, yang dapat memperebaiki sirkulasi/ penyembuhan.

Poltekkes Kemenkes Palembang

41

f.

Diagnosa 6 Gangguan gambaran tubuh berhubungan dengan mastektomi

Tujuan :

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam citra tubuh kembali efektif. Kriteria hasil :

1. Gambaran tubuh positif.

 

2. Mampu mengidentifikasi kekuatan personal.

3. Mendiskripsikan secara factual perubahan fungsi tubuh.

4. Mempertahankan interaksi sosial.

 

Intervensi

 

Rasional

1.

Kaji secara verbal dan non-

1. Dapat menyatakan bagaimana pandangan diri pasien pada perubahan.

verbal respon klien terhadap tubuhnya.

2.

Jelaskan

tentang

2. Dapat menyatakan masalh penyakit sehingga membantu dalam mengambil keputusan.

pengobatan, perawatan,

kemajuan

dan

prognosis

penyakit.

3.

Dorong

klien

3. Kehilangan bagian tubuh, menerima kehilanga hasrat seksual sehingga pasien membuat rencana untuk masa depan.

mengungkapkna

perasaannya.

4.

Fasilitasi

kontak

dengan

4. Memberikan tempat untuk pertukaran masalah dan perasaan dengan orang lain yang mengalami pengalaman dan

yang sama

individu

lain

dalam

kelompok keci.

 

mengidentifikasi cara orang terdekat dapat memudahkan penyembuhan pasien.

Poltekkes Kemenkes Palembang

42

g. Diagnosa 7 ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

tubuh berhubungan dengan hipermetabolisme pada jaringan

Tujuan :

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selam 3 x 24 jam,

diharapkan nutrisi terpenuhi atau adekuat.

Kriteria hasil :

1.

2. Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari

Tidak ada tanda-tanda malnutrisi.

3.

menelan.

Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti.

Intervensi

 

Rasional

1. Pantau masukan makanan seiap hari.

1. Mengidentifikasi kekuatan/ defisiensi nutrisi.

2. Ukur tinggi badan, berat badan, dan ketebalan lipatan kulit trisep.

2. Membantu dalam identifikasi malnutrisi protein-kalori, khususnya bila berat badan dan hasil antropometrik kurang dari normal.

3. Ciptakan

suasana

makan

3. Membuat waktu makan lebih menyenangkan, yang dapat meningkatkan masukan.

yang menyenangkan.

4. Dorong komunikasi terbuka mengenai masalah anoreksia.

4. Sering sebagai distress emosi, khususnya untuk orang terdekat yang menginginkan member makan pasien dengan sering.

5. Kolaborsi denga ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.

5. Memberikan rencana diet khusus untuk memenuhi kebutuhan individu dan menurunkan masalah berkenaan dengan malnutrisi protein/ kalori dan defisiensi mikronutrien.

Poltekkes Kemenkes Palembang

43

2.2.4 Implementasi Implementasi merupakan tahap keempat dari proses perawatan diamana rencana perawatan dilaksanakan, melaksanakan intervensi/ aktivitas yang telah ditentukan. (Doenges, Moorhouse, & Burley, 2000).

2.2.5 Evaluasi Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan, yakni proses yang dilakukan secara terus-menerus dan penting untuk menjamin kualitas serta ketepatan perawatan yang diberikan dan dilakukan dengan meninjau respon untuk menentukan keefektifan rencana perawatan dalam memenuhi kebutuhan pasien. (Doenges, Moorhouse, & Burley, 2000).

Poltekkes Kemenkes Palembang

BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian

A.

Identitas

Nama

:

Ny. R

Umur

: 46 tahun

Agama

: Islam

Pendidikan

: SLTA

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Jalan Mayor Ruslan nomor 1580 RT. 21 RW. 05

Suku/ Bangsa Status Marital Tanggal Masuk RS Tanggal Pengkajian No. Register No. Medrec

Kelurahan 20 Ilir 1Kecamatan Ilir Timur 1 Palembang : Madura/ Indonesia : Menikah : 12 Juni 2014 : 14 Juni 2014, pukul 10.00 WIB : RI 14015940 : 0000755095

Nama suami/ PJ

:

Tn. S

Umur Agama Pendidikan Pekerjaan

: 50 Tahun : Islam : SMP : Pedagang

 

Alamat

: Jalan Mayor Ruslan nomor 1580 RT. 21 RW. 05

Kelurahan

20

Ilir

1Kecamatan

Ilir

Timur

1

Suku/ Bangsa

:

Palembang Madura/ Indonesia

 

41

B. Riwayat Kesehatan

1. Alasan Masuk Rumah Sakit

: Pasien mengatakan terdapat benjolan pada payudara dekstra,

dan mengeluarkan nanah.

2. Keluhan saat pengkajian : Pasien mengatakan bahwa terdapat luka yang belum sembuh dan nodul yang mengeluarkan nanah pada payudara dekstra, serta nyeri bila tertekan.

: 8 tahun yang lalu, pasien mengalami tumor pada axila dekstra, namun pasien hanya berobat ke pengobatan alternatif dan tumor bermetastase ke payudara dekstra. 1 bulan yang lalu, pasien berobat ke YK Madira, namun tidak mengalami perkembangan dan dirujuk ke RSMH Palembang. Setelah dirawat di RSMH, pasien pernah menjalani simple mastektomi dan kemoterapi. : Pasien mengatakan tidak pernah menderita penyakit yang parah sebelumnya. : Pasien mengatakan tidak memiliki keluarga yang mengalami kanker.

3. Riwayat perjalanan penyakit

4. Riwayat penyakit dahulu

5. Riwayat Penyakit Keluarga

Poltekkes Kemenkes Palembang

42

C. Riwayat sosial

1. Hubungan dengan anggota keluarga

Pasien mengatakan hubungan dengan anggota keluarga baik. Suami

dan anaknya sering datang dan membawakan makanan yang sehat,

serta memberikan dukungan untuk Ny. R.

2. Pembawaan secara umum

Pasien tampak tenang dan jarang berinteraksi dengan teman

sekamarnya.

3. Lingkungan rumah

Pasien mengatakan rumahnya berada di pinggir jalan dan terdapat

banyak asap kendaraan.

D. Pemenuhan Kebutuhan Dasar

No.

Kebutuhan Dasar

Sebelum Sakit

Saat Sakit

1.

Nutrisi Makan

   

Frekuensi

5x/ hari

3x/ hari Sayur-sayuran dan buah, ikan Tidak ada

Madekstra yang disukai

Sate, jeroan, dan daging-dagingan

Madekstra pantangan Minum

Tidak ada

Frekuensi

7x/ hari

5x/ hari

Jumlah

3 Liter

3 Liter

Jenis minuman

Air es

Air mineral

2.

Eliminasi

   

BAK

Frekuensi

4-5x/ hari

4-5x/ hari

Warna

Kuning jernih

Kuning jernih

Keluhan

Tidak ada

Tidak ada

BAB

Frekuensi

1x/ hari

1x/ hari

Warna

Kuning kecoklatan

Keluhan

Tidak ada

Kuning kecoklatan Tidak ada

Poltekkes Kemenkes Palembang

43

E.

 

3.

Istirahat

   

Lama

tidur

 

8

jam

 

12 jam

malam

   

Lama

tidur

 

3

jam

 

5 jam

siang

   

Kebiasaan

 

Menonton televisi

 

Tidak ada

sebelum tidur

   

Keluhan

 

Sering terjaga di malam hari

 

Tidak ada

waktu tidur

 

4.

Kebersihan diri

   

Frekuensi

 

2x/ hari

 

2x/ hari

mandi

   

Frekuensi

 

2x/ hari

 

2x/ hari

sikat gigi

   

Frekuensi

 

2x/ hari

 

2x/ hari

mengganti

   

pakaian

Pemeriksaan Fisik

 

Tanda-tanda vital

Tekanan darah

: 130/80 mmHg

 

TB

: 154 cm

Denyut nadi

: 80 x/ menit

Suhu

: 36,3º C

Pernafasan

: 20 x/ menit

BB sekarang

: 60,5 kg

Wajah

 

Hidung

Bentuk

 

: Simetris

 

- Bentuk

: Simetris

Oedema

: Tidak ada

 

- Perdarahan

: Tidak ada

Mata

 

- Polip

: Tidak ada

Bentuk

: Simetris

 

- Sinusitis

: Tidak ada

Oedema

: Tidak ada

 

Mulut

Conjungtiva

: Anemis

 

- Bentuk

: Simetris

Sclera

: Putih

- Warna

: Merah

- Kelembaban : Lembab

Leher

Pembesaran kelenjar tyroid : Tidak ada

Peningkatan JVP

: Tidak ada

Poltekkes Kemenkes Palembang

44

Thorak Payudara

Bentuk payudara

Puting susu

Hiperpigmentasi

Kebersihan

Benjolan abnormal

Lain-lain

: Asimetris, payudara dekstra telah dilakukan mastektomi dan terdapat nodul- nodul yang bernanah. Bentuk payudara sinistra cembung ke depan.

: Puting susu sinistra keluar dan puting susu dekstra sudah tidak ada puting.

: Areola dan puting payudara sinistra mengalami hiperpigmentasi, dan payudara dekstra sudah dilakukan mastektomi.

: Payudara sinistra tampak bersih, namun payudara dekstra mengeluarkan nanah yang keluar dari nodul-nodul.

: Terdapat nodul-nodul yang mengeluarkan nanah pada payudara dekstra. Pada payudara sinistra tidak terdapat benjolan abnormal.

: Terdapat nyeri tekan pada payudara dekstra, dengan skala nyeri 4. Pada payudara sinistra tidak terdapat gangguan lainnya.

Paru-paru

Inspeksi (inspirasi/ ekspirasi)

Palpasi

Perkusi

Auskultasi

: Pengembangan dinding dada kiri = kanan : Fremitus raba normal : Sonor : Vesikuler normal

Poltekkes Kemenkes Palembang

45

Jantung

Inspeksi

Palpasi

Perkusi

Auskultasi

Abdomen Inspeksi

: Ictus Cordis tidak terlihat : Tidak terdapat pembesaran jantung : Redup : Bunyi jantung I dan II (regular)

Bekas luka operasi

: Tidak ada

Striae

: Tidak ada

Aasites Palpasi

: Tidak ada

Massa

: Massa tidak teraba

Nyeri Tekan

: Tidak terdapat nyeri tekan

Perkusi

Bunyi Normal Abdomen Auskultasi

Bising usus

Hepar

Palpasi

Perkusi

Limpha

Palpasi

Perkusi

Genitalia Vulva dan vagina

Varises

Luka

Kemerahan

Nyeri

Kebersihan

: Timpani

: Terdapat bising usus (10 x/ menit)

: Tidak terdapat pembesaran hati : Timpani

: Limpha tidak teraba : Timpani

: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Bersih

Poltekkes Kemenkes Palembang

46

Perineum

Periksa Dalam (data sekunder)

Serviks

Vagina

Luka parut

Lain-lain

Ekstremitas Aksila

: Tidak ada : Tidak ada

: Tidak terdapat kelainan : Tidak terdapat kelainan

Pembesaran Kelenjar

: Tidak ada

Ekstremitas Atas

Oedema tangan/ jari

: Tidak ada

Ekstremitas Bawah

Oedema kaki

: Tidak ada

Varises

: Tidak ada

Pembengkakan kelenjar

: Tidak ada

F. Pengkajian Faktor Predisposisi

Obesitas

Status pernikahan

Usia ketika melahirkan anak pertama

Pemberian ASI

Jumlah anak

Penggunaan KB

: Pasien mengalami obesitas, BB = 60,5 kg, dan TB = 154 cm : Menikah

:

: 17 tahun

5 orang

: Pasien mengatakan menyusui 5 orang anaknya sampai usia ± 2 tahun pada kedua payudara : Pasien mengatakan menggunakan KB suntik setiap 3 bulan sejak anak pertama sampai sekarang

Poltekkes Kemenkes Palembang

47

Konsumsi rokok

Riwayat tumor

Riwayat keluarga penderita kanker

G. Pengkajian Psikososial

: Pasien mengatakan tidak mengkonsumsi rokok

: Pasien mengatakan pernah memiliki tumor sebesar biji kacang hijau pada bagian aksila dekstra 8 tahun yang lalu : Pasien mengatakan tidak memiliki anggota keluarga yang menderita kanker

1. Konsep Diri Pasien mengatakan bahwa ia merasa malu dengan keadaannya, terutama karena payudara telah dilakukan mastektomi. Ia merasa ada yang hilang dari tubuhnya.

2. Kognitif Pasien mengatakan belum tahu penyebab cancer mammae dan faktor- faktor yang dapat memicu cancer mammae.

3. Behavior Pasien tampak tenang dan malu untuk berinteraksi dengan teman sekamarnya.

4. Mekanisme koping Pasien mengatakan bahwa ia berdoa dan bercerita kepada keluarga setiap mendapat masalah.

5. Peran Pasien mengatakan bahwa perannya sebagai istri dan orang-tua berkurang karena ia dirawat di rumah sakit.

6. Support sistem Pasien mengatakan bahwa suami dan anak-anaknya mendukung untuk kesembuhan dirinya.

Poltekkes Kemenkes Palembang

48

H. Pemeriksaan Diagnostik

No.

Pemeriksaan

 

Hasil

 

Nilai normal

1.

Darah Rutin

   

Eritrosit

3,8 x 10 6

4,0 – 5,0 x 10 6 (P) 4,5 – 5,5 x 10 6 (L)

Leukosit

15,0 x 10 3

5,0 – 10,0 x 10 3

Hematokrit

32

%

40

– 50 % (P)

45

– 55 % (L)

Trombosit

321

x 10 3 gr/mm 3

150 – 400 x 10 3 gr/mm 3

Haemoglobin

10,7 gr/ dL

12,0 – 14,0 g/ dL (P) 13,0 – 16,0 g/dL (L)

14

mm/ jam

< 15 mm/ jam

LED

< 10 mm/ jam

Glukosa

111

mg/ dL

70

-115 mg/ dL

2.

Kimia Darah

   

Natrium

141

mmol/L

135 – 145 mmol/ L

Kalium

3,7 mmol/L

3,5 – 5,0 mmol/ L

3.

Urinalisa

: Tidak diperiksa

 

4.

USG

: Tidak diperika

5.

Rontgen

: Masih terdapat nodul pada payudara yang telah

 

dilakukan mastektomi

 

6.

Terapi

: - Amoxicillin oral 500 mg 3 x 1 hari

- Ultracet oral 500 mg 3 x 1 hari

Poltekkes Kemenkes Palembang

49

3.2 Analisa Data

No.

DATA

ETIOLOGI

PROBLEM

1.

Ds : Pasien mengatakan nyeri pada nodul-nodul di payudara dekstra. Do : Terdapat nyeri tekan pada nodul-nodul pada payudara dekstra. Skala nyeri 4.

Nodul-nodul pada payudara

Mendesak sel syaraf

Menekan sel syaraf

Nyeri

Nyeri

2.

Ds : Pasien mengatakan luka operasinya terbuka dan terdapat nanah. Do : Terdapat nanah Pada nodul-nodul di payudara dekstra.

Nodul-nodul yang membengkak

Mendesak jaringan

Ulkus

Kerusakan integritas

kulit

Kerusakan

Integritas Kulit

3.

Ds :

Pasien mengatakan luka operasinya yang robek

dan

terbuka mengeluarkan nanah. Do : Luka tampak merah,

mengeluarkan nanah. Suhu = 36,3

Leukosit = 15 x 10 3

Nodul-nodul mendesak pembuluh darah

Aliran darah

terhambat

Hipoksia

Nekrosis jaringan

Media mikroorganisme patogen berkembang

Infeksi

Infeksi Luka Post Operasi

Poltekkes Kemenkes Palembang

50

4.

Ds : Pasien mengatakan

bahwa ia merasa malu

dengan keadaannya,

terutama karena

payudara telah dilakukan

mastektomi. Ia merasa

ada yang hilang dari

tubuhnya.

Do : Pasien tampak jarang

bersosialisasi

teman sekamarnya.

dengan

Kanker pada

payudara

Mastektomi

Hilangnya bagian tubuh

Timbul rasa malu

Gangguan body

image

Gangguan Body

Image

3.3 Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan pendesakan oleh nodul dan luka post operasi

2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka mastektomi.

3. Infeksi luka post operasi berhubungan dengan menurunnya sistem imun.

4. Gangguan body image berhubungan dengan hilangnya salah satu anggota

tubuh; payudara.

Poltekkes Kemenkes Palembang

BAB IV

PEMBAHASAN

Setelah memberikan asuhan keperawatan pada Ny. R dengan cancer mammae ( dari tanggal 14 Juni 2014 – 19 Juni 2014 ) di Ruang Mawar Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang, maka pada bab ini penulis mengemukakan pembahasannya.

Pada bab ini penulis akan membahas kesenjangan antara asuhan keperawatan cancer mammae secara teori dengan asuhan keperawatan pada pasien dengan cancer mammae yang dirawat di Ruang Mawar Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Selain membahas kesenjangan diatas, penulis juga akan mengemukakan beberapa masalah selama melaksanakan asuhan keperawatan serta pemecahannya

akan

mengemukakan pembahasan mulai dari pengkajian, penentuan diagnosa

perawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

Sesuai

dengan

tahapan

proses

keperawatan,

maka

penulis

4.1 Gambaran Umum RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang 4.1.1 Profil RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang

Nama Rumah Sakit

: Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang

Alamat : Jalan Jenderal Sudirman KM 3,5 Palembang, 30126

Tipe Rumah Sakit

: Rumah Sakit Umum Pusat tipe A Pendidikan

Kapasitas Tempat Tidur : 661 tempat tidur

Akreditasi

JCI 2014 e-mail : rsmhplg@yahoo.com

: Terakreditasi 16 Pelayanan Medis, menuju

71

Telepon

: (0711) - 351318

Website

: www.rsmh.co.id

4.1.2 Visi, Misi Dan Motto RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang Berdasarkan SK menteri Kesehatan RI No.1243/Menkes/SK/VIII/2005 tanggal 11 Agustus 2005 tentang

penetapan 13 eks RS Perjan menjadi Unit pelaksana Teknis Depkes RI dengan menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Sedangkan mengenai struktur organisasinya diatur berdasarkan SK Menteri Kesehatan RI No. 1680/Menkes/PER/XII/2005 tanggal 27 Desember 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang mempunyai layanan unggulan yaitu di bidang Cardiologi dan Rawat Darurat.

a.

Visi “Menjadi Rumah Sakit Pusat Pelayanan Kesehatan, Pendidikan dan Penelitian dan bermutu se-Sumatera”

b.

Misi

1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang komprehensif dan berkualitas tinggi.

2. Menyelenggarakan jasa pendidikan dan penelitian dalam bidang kedokteran dan kesehatan.

3. Menyelenggarakan promosi kesehatan.

c.

Motto “Kesembuhan dan Kepuasan Anda merupakan Kebahagiaan Kami”.

4.1.3 Pelayanan Unggulan RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang merupakan rumah sakit pendidikan bagi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dan institusi pendidikan lainnya, baik dari dalam maupun dari luar Sumatera Bagian Selatan, sehingga mempunyai peranan yang cukup besar dalam menunjang pelayanan kesehatan dengan pelayanan unggulan dibidang cardiovaskuler dan kegawatdaruratan.

Poltekkes Kemenkes Palembang

72

4.1.5 Gambaran Umum IRNA G Ruang Instalasi Rawat Inap G merupakan bagian dari Instalasi Rawat Inap yang menjadi tempat perawatan bagi pasien selama sakit. Dalam pelayanannya Instalasi Rawat Inap Non Bedah Saraf-B melayani semua pasien dengan kasus penyakit ginekologi, bedah, dan non-bedah. Klasifikasi ketenagaan perawat di ruang Instalasi Rawat Inap E RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang diketuai oleh satu orang Kepala Ruangan, dengan staf keperawatan yang terbagi menjadi 3 TIM yaitu TIM 1, TIM 2, dan TIM 3. Jadwal dinas perawat dibagi dalam 3 shift yaitu shift pagi, sore dan malam. Ruang Instalasi Rawat Inap E Ruang Mawar mempunyai 6 ruang rawat inap dimana tiap ruangan memiliki 10 tempat tidur, sehingga jumlah tempat tidur berjumlah 60 tempat tidur. (Medical Record RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang, 2013).

4.2 Pembahasan Asuhan Keperawatan 4.2.1 Pengkajian Pengkajian merupakan tahap pengumpulan data yang berhubungan dengan pasien secara sistematis. (Doenges, Moorhouse, & Burley,

2000).

Menurut Wijaya & Putri (2013), data yang dikaji pada pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui riwayat kesehatan, pengkajian fisik, pemeriksaan laboraturium dan diagnostic, serta review catatan sebelumnya. Langkah-langkah pengkajian yang sistematik adalah pengumpulan data, sumber data, klasifikasi data, analisa data dan diagnosa keperawatan. Dalam teori asuhan keperawatan, hal-hal yang dikaji terdiri dari data umum yang berupa pengkajian fisik, pengkajian factor predisposisi, pemeriksaan laboraturium dan diagnostik, serta review catatan sebelumnya. Pengkajian yang dilakukan penulis pada Ny. R dengan cancer mammae berupa pengumpulan data umum, riwayat kesehatan

Poltekkes Kemenkes Palembang

73

pemeriksaan fisik, pengkajian predisposisi, pengkajian psikososial, dan pemeriksaan diagnostik. Pengkajian dilakukan penulis pada tanggal 14 Juni 2014. Pada kepala ditemukan bahwa rambut pasien baru tumbuh karena pernah menjalani kemoterapi 1 bulan yang lalu dan tidak sesuai dengan pendokumentasian hasil/ data sekunder ruangan, dimana kondisi rambut pasien tidak terdokumentasi. Menurut Mulyani & Nuryani (2013); Suryaningsih & Sukaca (2009), salah satu efek samping kemoterapi adalah rambut rontok. Obat dari kemoterapi akan membunuh sel-sel abnormal dan normal pasien, sehingga rambut pasien rontok sebagai efek dari kemoterapi. Pada pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa pasien dengan cancer mammae mengalami regenerasi pada rambutnya, yang ditandai dengan rambut yang baru tumbuh sedikit demi sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesamaan antara teori dengan kenyataan bahwa pasien dengan cancer mammae yang telah menjalani kemoterapi mengalami rambut rontok dan regenerasi. Kondisi mata pasien, yakni konjungtiva tampak anemis, kadar eritrosit pasien 3,8 x 10 6 , kadar haemoglobin 10,7 gr/ dL dan sesuai dengan pendokumentasian bahwa konjungtiva pasien tampak anemis dan kadar eritrosit di bawah normal, yaitu 3,8 x 10 6 serta kadar haemoglobin 10,7 gr/ dL. Pada pemeriksaan darah hemoglobin dan eritrosit biasanya menurun. Menurut Warda (2012), pasien dengan cancer mammae akan mengalami penurunan kadar hemoglobin dan eritrosit dalam darah, sehingga menyebabkan anemis pada konjungtiva yang ditunjang oleh pemeriksaan laboraturium. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesamaan antara teori dengan kenyataan bahwa pasien dengan cancer mammae mengalami penurunan kadar hemoglobin dan eritrosit. Pada pemeriksaan payudara, didapatkan bahwa pasien merasa nyeri pada payudara dekstra, terdapat luka terbuka dan nodul yang bernanah. Bentuk payudara asimetris, dimana payudara dekstra telah dilakukan mastektomi. Puting susu sebelah sinistra keluar, sebelah

Poltekkes Kemenkes Palembang

74

dekstra sudah tidak ada puting. Areola dan puting payudara sinistra mengalami hiperpigmentasi dan sesuai dengan pendokumentasian ruangan bahwa telah payudara dekstra telah dilakukan mastektomi, terdapat nodul dan luka yang terinfeksi, bentuk payudara asimetris Menurut Romauli dan Vindari (2011), bahwa tanda dan gejala cancer mammae adalah adanya benjolan di payudara, adanya borok atau luka yang tidak sembuh, dan nyeri di payudara. Pasien dengan cancer mammae mengalami nyeri pada payudara yang terkena cancer, terdapat benjolan/ nodul, serta luka yang tidak sembuh (terinfeksi) sehingga muncul masalah nyeri, kerusakan integritas kulit, dan infeksi luka post operasi yang didukung hasil pemeriksaan rontgen. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesamaan antara teori dengan kenyataan bahwa pasien dengan cancer mammae ditemukan adanya benjolan di payudara, adanya nodul yang bernanah, borok atau luka yang tidak sembuh, dan nyeri. Pada pengkajian, ditemukan bahwa hepar tidak teraba dan sesuai dengan dokumentasi ruangan dimana hepar dan limpha tidak teraba. Cancer mammae dapat bermetastase ke organ lain di sekitarnya, misalnya hepar, yang ditandai dengan pembesaran hepar. Pada pemeriksaan fisik thorak pada pasien dengan cancer mammae tidak ditemukan metastase ke hepar yang didukung dengan pemeriksaan rontgen dan hasil perkusi serta palpasi. Menurut Mulyani & Nuryani (2013), cancer mammae yang parah dapat bermetastase ke organ , salah satunya hepar. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesamaan antara teori dengan kenyataan bahwa pasien dengan cancer mammae yang tidak terlalu parah tidak mengalami metastase. Penulis juga melakukan pengkajian faktor predisposisi cancer mammae dimana pada kenyataannya, faktor predisposisi tidak dikaji. Pasien mengatakan bahwa 8 tahun yang lalu pasien memiliki tumor sebesar biji kacang hijau pada bagian aksila. Pasien takut untuk berkunjung ke rumah sakit dan lebih memilih metode alternatif. pasien kemudian merasakan nyeri dan adanya benjolan pada payudaranya dan tidak sesuai dengan dokumentasi ruangan/ data sekunder, dimana tidak

Poltekkes Kemenkes Palembang

75

terdapat riwayat penyakit terdahulu. Menurut Sukaca & Suryaningsih, (2009), seorang perempuan yang mengalami tumor/ cancer mammae pada satu payudaranya mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menderita kanker baru pada payudara lainnya atau pada bagian lain dari payudara yang sama. Tingkat risikonyo bisa tiga sampai empat kali lipat. Pasien dengan cancer mammae memiliki riwayat tumor pada aksila dekstra yang didukung oleh hasil rontgen yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesamaan antara teori dengan kenyataan bahwa pasien dengan cancer mammae yang memiliki riwayat tumor beresiko untuk terkena cancer mammae. Pada pengkajian berat badan, didapatkan bahwa pasien mengalami obesitas, dengan TB = 154 cm dan BB = 60,5 kg. Menurut Sukaca & Suryaningsih (2009), seorang perempuan yang mengalami obesitas akan beresiko 1,5 kali lebih besar untuk terkena cancer mammae dibandingkan dengan perempuan yang berat badannya normal. Dari hasil pengkajian, didapatkan bahwa faktor predisposisi pasien terkena cancer mammae adalah faktor obesitas, dimana berat badan lebih dari ideal. Pasien berstatus menikah dan memiliki 5 orang anak. Pasien melahirkan anak pertama kali pada usia 17 tahun dan menyusui kelima anaknya dengan kedua payudara. Pasien juga menggunakan KB suntik setiap 3 bulan dimana sesuai dengan dokumentasi ruangan bahwa status pasien menikah, namun tidak ditemukan bahwa pasien memiliki 5 orang anak dan menyusuinya dengan kedua payudara. Menurut Glasier & Gebbie (2005), dalam suatu analisis terhadap data epidemiologis dari seluruh dunia mengenai hubungan antara risiko kanker payudara dan pemakaian kontrasepsi hormone (Collaborative Group on Hormonal Factorsin Breast Cancer, 1996), terdapat beberapa bukti adanya risiko di antara perempuan yang sedang memakai PP dan wanita yang pernah memakai kontrasepsi dalam 5 tahun terakhir. Dari hasil pengkajian didapatkan bahwa pasien menggunakan Kontrasepsi hormonal dalam waktu yang lama memiliki pengaruh untuk terkena cancer mammae sebelum menopaus.

Poltekkes Kemenkes Palembang

76

Dari hasil pengkajian fisik, ditemukan bahwa pasien mengeluh nyeri pada luka dan nodul pada payudara dekstra, mengalami obesitas, penurunan kadar hemoglobin dan eritrosit dalam darah, memiliki riwayat tumor pada aksila dekstra yang bermetastase ke payudara dekstra, menggunakan kontrasepsi hormonal dalam waktu yang lama, serta tidak ditemukan metastase ke organ lain yang didukung oleh pemeriksaan laboraturium dan hasil rontgen.

4.2.2 Diagnosa Keperawatan Setelah melakukan pengkajian pada Ny. R, maka penulis menemukan 4 diagnosa keperawatan yang muncul, yaitu:

1. Nyeri berhubungan dengan penedesakan oleh nodul dan luka post operasi

2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka mastektomi.

3. Infeksi luka post operasi berhubungan dengan menurunnya sistem imun.

4. Gangguan body image berhubungan dengan hilangnya salah satu anggota tubuh; payudara. Pada dokumentasi ruangan, penulis hanya menemukan 1 diagnosa

keperawatan yang muncul, yaitu “Infeksi luka post operasi berhubungan dengan kurang pengetahuan.” Kenyataannya, perawat ruangan menemukan masalah lain, namun tidak terdokumentasi dengan baik. Secara teori, pasien dengan cancer mammae memiliki berbagai masalah keperawatan, yaitu :

a. Nyeri berhubungan dengan adanya penedekstra massa tumor.

b. Cemas berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh.

c. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.

d. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta pengobatan penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.

e. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan mastektomi.

f. Gangguan gambaran tubuh berhubungan dengan mastektomi.

Poltekkes Kemenkes Palembang

77

g.

Ketidakseimbangan

berhubungan dengan hipermetabolisme ke jaringan.

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

Penulis tidak memasukkan diagnosa “Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan hipermetabolisme ke jaringan” karena nutrisi pasien terpenuhi, yang ditandai dengan berat badan 60,5 kg dengan TB = 154 cm. Pada kenyataannya, penulis juga tidak menemukan masalah tersebut dalam dokumentasi ruangan. Menurut Nurarif & Kusuma (2013), tanda dari nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah berat badan dibawah normal, anoreksia, dan lemas. Hal ini menunjukkan bahwa cancer mammae tidak mempengaruhi berat badan pasien secara signifikan. Pasien memiliki banyak cadangan jaringan, walaupun pasien mengalami anoreksia sebagai efek obat-obatan, pasien tetap memakan makanannya, namun porsi sedikit sehingga tidak mengalami penurunan berat badan yang berarti. Penulis juga tidak menambahkan diagnosa Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi” karena pasien telah menunjukkan tanda-tanda infeksi pada lukanya, seperti merah, mengeluarkan nanah, kadar leukosit 15 x 10 3 , dan sesuai dengan dokumentasi ruangan dimana tidak ditemukannya diagnosa tersebut. Menurut Nurarif & Kusuma (2013), tanda-tanda infeksi adalah dolor, rubor, kalor, dan functio laesa dan pasien dengan cancer mammae beresiko untuk mengalami infeksi akibat sistem imun dan perawatan luka yang tidak adekuat. Hal ini menunjukkan bahwa pasien telah mengalami infeksi. Dimana kadar leukosit yang tinggi merupakan bentuk kompenasi tubuh untuk membunuh mikroorganisme patogen penyebab infeksi, sehingga kadarnya meningkat. Luka pasien juga mengeluarkan nanah, yang berarti pasien sudah mengalami nfeksi sehingga diagnosa resiko tidak penulis angkat. Diagnosa “ Cemas berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh” tidak penulis masukkan pada kasus karena pasien tidak menunjukkan tanda-tanda cemas. Pasien juga tampak tenang dan berdoa untuk

Poltekkes Kemenkes Palembang

78

kesembuhannya dimana sesuai dengan dokumentasi ruangan yang tidak memasukkan diagnosa tersebut. Menurut Townsend (1998), gejala-gejala cemas adalah gugup, khawatir, dan gelisah. Hal ini menununjukkan bahwa pasien tahu mengenai keadaan dan terapi yang akan dijalani, sehingga pasien bersikap tenang dan tidak menunjukkan gejala-gejala cemas, seperti gugup, khawatir, ataupun gelisah. Diagnosa “ Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta pengobatan penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi” juga tidak penulis masukkan pada kasus karena pasien telah lama mengalami penyakit ini. Pasien telah banyak mendapatkan informasi mengenai keadaan dan terapi yang akan dijalani, dimana pada dokumentasi ruangan tidak ditemukan diagnosa tersebut. Menurut Kim, Farland & Mclane (1995), kurang pengetahuan merupakan suatu keadaan dimana informasi-informasi khusus sangat kurang. Hal ini menunjukkan bahwa pasien telah mendapatkan banyak informasi khusus mengenai keadaan dan terapi yang akan dijalani karena lamanya penyakit yang telah diderita, sehingga pengetahuan pasien cukup baik.

4.2.3 Intervensi Keperawatan Intervensi merupakan bagian dari proses keperawatan yang mengidentifikasi masalah/ kebutuhan pasien, tujuan/ hasil perawatan, dan intervensi untuk mencapai hasil yang diharapkan dan menangani masalah/ kebutuhan pasien. (Doenges, Moorhouse, & Burley, 2000). Setelah menemukan diagnosa keperawatan, maka selanjutnya adalah menyusun rencana tindakan keperawatan untuk menanggulangi masalah- masalah keperawatan yang dihadapi pasien. Perencanaan tindakan disusun berdasarkan teori yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi agar rencana tindakan keperawatan yang telah disusun dapat dilaksanakan dengan baik serta dapat memperoleh hasil sesuai tujuan yang ingin dicapai dan kriteria hasil yang ditentukan. Adapun perencanaan keperawatan tersebut adalah :

Poltekkes Kemenkes Palembang

79

1. Nyeri berhubungan dengan pendesakan oleh nodul dan luka post

operasi

Penulis menyusun rencana keperawatan yang disesuaikan dengan

diagnosa tersebut yaitu :

a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.

b. Ajarkan teknik relaksasi.

c. Kolaborasi dalam pemberian analgetik; ulttracet oral 500 mg

3 x 1 hari.

Penulis tidak memberikan intervensi “Evaluasi keefektifan

kontrol nyeri” karena evaluasi kontrol nyeri merupakan bagian dari

prosedur tetap keperawatan, sesuai dengan dokumentasi ruangan

yang tidak memberi intervensi ini pada pasien. Menurut Nurarif &

Kusuma (2013); Geissler, Doenges & Moorhouse (1999); Wijaya &

Putri (2013), evaluasi dilakukan setelah mengajarkan teknik

pengalihan, sehingga mengetahui kebutuhan pasien. Hal ini

menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan antara teori dan kenyataan

bahwa evaluasi merupakan bagian dari prosedur tetap perawatan,

sehingga bukan termasuk intervensi.

2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan mastektomi.

Penulis menyusun rencana keperawatan yang disesuaikan dengan

diagnosa tersebut yaitu :

a. Kaji balutan/ luka Monitor kemerahan, dan nyeri pada insisi, serta

suhu tubuh;

b. Tempatkan pada posisi semifowler.

c. Anjurkan untuk memakai pakaian yang tidak sempit/ ketat pada

area luka.

Tidak semua intervensi dapat direncanakan. Penulis tidak

memberikan posisi semifowler pada pasien karena luka pasien tidak

memerlukan drainase dimana sesuai dengan dokumentasi ruangan

yang tidak memberikan intervensi ini karena luka pasien tidak

memerlukan gravitasi untuk mengurangi cairan. Menurut Nurarif &

Kusuma (2013); Geissler, Doenges & Moorhouse (1999); Wijaya &

Poltekkes Kemenkes Palembang

80

Putri (2013), posisi semifowler membantu drainase cairan melalui gravitasi. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan antara teori dengan kenyataan, dimana luka pasien tidak memerlukan drainase cairan, pasien dapat beristirahat dengan posisi supine ataupun sim kiri dan kanan. “Anjurkan untuk memakai pakaian yang tidak sempit/ ketat pada area luka” tidak dilakukan karena pasien sudah memakai pakaian yang longgar dimana sesuai dengan dokumentasi ruangan yang tidak memberikan intervensi ini, dikarenakan pakaian yang ketat dapat menekan luka, sehingga sirkulasi tidak baik. Menurut Nurarif & Kusuma (2013); Geissler, Doenges & Moorhouse (1999); Wijaya & Putri (2013), pakaian longgar berfungsi menurunkan tekanan pada jaringan yang luka dan membantu memperbaiki sirkulasi/ penyembuhan. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan antara teori dengan kenyataan, dimana pasien telah memakai pakaian yang longgar agar tidak terjadi penekanan pada luka. “Jangan melakukan pengukuran TD, injeksi obat, atau memasukkan IV pada lengan yang sakit.” Penulis tidak menyusun intervensi tersebut karena keadaan lengan pasien berada dalam keadaan tidak sakit. Lengan pasien tidak mengalami gangguan sehingga penulis dapat melakukan pengukuran tekanan darah, sesuai dengan dokumentasi ruangan dimana pasien tidak diberi rencana tersebut. Menurut Nurarif & Kusuma (2013); Geissler, Doenges & Moorhouse (1999); Wijaya & Putri (2013), lengan yang sakit sebagai akibat dari pemasangan infus misalnya, tidak boleh dilakukan pemeriksaan tekanan darah karena dapat menyebabkan terjadinya injuri. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan antara teori dengan kenyataan, dimana pasien tidak mengalami sakit pada lengan sehingga dapat dilakukan pengukuran tekanan darah.

Poltekkes Kemenkes Palembang

81

3. Infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem imun. Penulis menyusun rencana keperawatan yang disesuaikan dengan diagnosa tersebut, yaitu :

a. Beri lingkungan yang bersih.

b. Cuci tangan sebelum melakukan tindakan. Pengunjung juga dianjurkan melakukan hal yang sama.

c. Monitor temperatur

d. Monitor kadar leukosit.

e. Tingkatkan istirahat adekuat/ periode latihan.

f. Kolaborasi dalam pemberian antibiotik; Amoxicillin oral 500 mg 3 x 1 hari.

g. Kolaborasi dengan tim medis dalam perencanaan debridement.

Intervensi yang disusun sama dengan intervensi “Resiko infeksi” untuk mengurangi infeksi yang berkelanjutan, namun penulis menambahkan “Berikan perawatan lukauntuk mengurangi infeksi yang berkelanjutan dan “Monitor kadar leukosit” sebagai indikator keadaan sistem imun pasien. Pada dokumentasi ruangan, didapatkan bahwa semua intervensi yang disusun penulis terdokumentasi dalam dokumentasi ruangan. Menurut Warda (2012), leukosit merupakan sel darah yang membantu melawan infeksi, sehingga menentukan keadaan imunitas. Menurut Siregar (2011), perawatan luka berfungsi untuk mengurangi infeksi agar tidak berkelanjtan. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan antara teori dengan kenyataan dimana pasien telah mengalami infeksi yang didukung dengan kadar leukosit yang tinggi (15 x 10 3 ) dan luka yang masih bernanah, sehingga perawatan luka biasa tidak dapat membantu kesembuhan luka, dan pasien direncanakan untuk terapi debridement oleh tim medis guna mengangkat jaringan nekrotik.

Poltekkes Kemenkes Palembang

82

4. Gangguan body image berhubungan dengan mastektomi. Penulis menyusun rencana keperawatan yang disesuaikan dengan

diagnosa tersebut.

a. Kaji secara verbal dan non-verbal respon klien terhadap tubuhnya.

b. Jelaskan tentang pengobatan, perawatan, kemajuan dan prognosis penyakit.

c. Dorong klien mengungkapkna perasaannya.

d. Fasilitasi kontak dengan individu lain dalam kelompok keci.

Penulis tidak memberikan intervensi “Jelaskan tentang pengobatan, perawatan, kemajauan dan prognosis penyakit” karena pasien sudah tahu dengan perawatan pasien dengan cancer mammae., sesuai dengan dokumentasi ruangan dimana penulis tidak menemukan intervensi ini dikarenakan pada dokumentasi ruangan tidak menemukan diagnosa ganggauan body image. Hal ini dikarenakan tidak dilakukannya pengkajian terhadap psikososial pasien secara mendalam. Pasien termasuk tipe introvert, yaitu sebuah sifat dan karakter yang cenderung menyendiri, sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih untuk menggali informasi psikososialnya. Menurut Menurut Nurarif & Kusuma (2013); Geissler, Doenges & Moorhouse (1999); Wijaya & Putri (2013), penjelasan mengenai pengobatan, perawatan, kemajuan, dan prognosis memberi informasi penting karena dapat memberikan gambaran perawatan pasien dengan cancer mammae, sehingga rasa sedih pasien dapat berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan antara teori dengan kenyataan, dimana pasien telah mendapat banyak informasi mengenai keadaan dan perawatannya karena pasien telah 8 tahun menderita penyakit ini.

Poltekkes Kemenkes Palembang

83

4.2.4 Implementasi Keperawatan Implementasi merupakan tahap keempat dari proses perawatan dimana rencana perawatan dilaksanakan, melaksanakan intervensi/ aktivitas yang telah ditentukan. (Doenges, Moorhouse, & Burley, 2000). Pada proses implementasi penulis melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan cancer mammae yang telah direncanakan sebelumnya. Pelaksanaan asuhan keperawatan ini dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan situasi serta menggunakan sarana yang tersedia diruangan, penulis mengikuti perkembangan pasien dengan melihat dari catatan perawatan selain itu juga penulis melihat dari catatan perkembangan dokter yang menangani pasien, serrta sesuai dengan teori yang telah dikemukakan oleh Nurarif & Kusuma (2013); Geissler, Doenges & Moorhouse (1999); Wijaya & Putri (2013). Selama melakukan asuhan keperawatan pada klien, penulis menemukan hambatan, hambatan itu antara lain penulis merasa kesulitan dalam melakukan tindakan keperawatan yang optimal pada klien dikarenakan penulis sedang menjalankan Praktek Komunitas dan terkadang terbentur dengan jadwal dinas yang ada. Penulis tidak dapat mengawasi klien dalam 3 x 24 jam karena keterbatasan waktu yang dimiliki penulis. Penulis hanya bisa melakukan tindakan keperawatan pada pagi dan siang hari sehingga penulis tidak dapat memonitor keadaan klien pada setiap jam dan pada malam hari. Pada saat pengkajian, penulis juga mengalami hambatan dalam mengkaji psikososial pasien, karena pasien sangat tertutup, sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih untuk mendapatkan data psikososialnya. Agar perencanaan tindakan keperawatan yang telah disusun dapat dilaksanakan, maka penulis mencari solusinya dengan cara mendiskusikan dengan perawat ruangan, bekerjasama dengan tim kesehatan lain untuk merawat klien, mempertahankan kontak dengan klien dan keluarga klien dalam melaksanakan tindakan keperawatan.

Poltekkes Kemenkes Palembang

84

4.2.5 Evaluasi Keperawatan Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan, yakni proses yang dilakukan secara terus-menerus dan penting untuk menjamin kualitas serta ketepatan perawatan yang diberikan dan dilakukan dengan meninjau respon untuk menentukan keefektifan rencana perawatan dalam memenuhi kebutuhan pasien. (Doenges, Moorhouse, & Burley, 2000). Pada tahap evaluasi ini, penulis melaksanakan implementasi berdasarkan kriteria hasil yang telah ditetapkan. Dalam melaksanakan evaluasi, penulis mengalami hambatan karena ada beberapa masalah yang belum teratasi. Evaluasi akhir pada pasien adalah terdapat empat masalah yang belum teratasi yaitu nyeri, kerusakan integritas kulit, infeksi luka post operasi, dan gangguan body image. Evaluasi hari terakhir perawatan pada tanggal 18 Juni 2014 adalah nyeri pada luka post operasi dan nodul belum hilang, nyeri dirasakan hilang timbul namun pasien dapat mengontrolnya dengan teknik relaksasi, yaitu tarik nafas dalam. Keadaan kulit agak bersih, namun masih mengeluarkan nanah dan baunya tidak menyengat, serta masih menunggu jadwal debridement. Pasien juga tampak masih agak malu dengan keadaannya dan jarang berinteraksi dengan teman sekamarnya. Sebelum mengakhiri masa perawatan, penulis memberikan penyuluhan kesehatan mengenai makanan yang baik untuk keadaan pasien dan cara merawat luka agar infeksi tidak terulang kembali, serta manfaat dari berinteraksi dengan teman sekamar.

Poltekkes Kemenkes Palembang

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Setelah penulis melaksanakan asuhan keperawatan pada Ny. R dengan cancer mammae post simple mastektomi, kemoterapi di IRNA G ruang mawar RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang selama 5 hari (dari tanggal 14 juni 2014 - 18 juni 2014), maka penulis berkesimpulan bahwa :

1. Pengkajian Dari pengkajian, penulis mendapatkan data bahwa pasien dengan cancer mammae mengalami nyeri pada nodul-nodul dan luka post operasi yang tidak sembuh-sembuh. Faktor predisposisi juga memiiliki resiko untuk terkena cancer mammae, yaitu obesitas, penggunaan kontrasepsi hormon, serta riwayat tumor sebelumnya. Pasien telah menjalani mastektomi dan kemoterapi. Pada dokumentasi ruangan juga didapatkan hasil yang sama, namun tidak dilakukan pengkajian faktor predisposisi.

2. Diagnosa keperawatan Tidak semua diagnosa keperawatan muncul pada kasus ini. Kasus dengan cancer mammae ini terdiri dari 4 diagnosa aktual, yaitu nyeri, kerusakan integritas kulit, infeksi luka post operasi, dan gangguan body image, sedangkan pada dokumentasi ruangan hanya ditemukan 1 diagnosa aktual, yaitu infeksi luka post operasi. Diagnosa secara teori yang tidak muncul pada kasus ini ada 4, yaitu ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, resiko infeksi, cemas, dan kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta pengobatan penyakitnya.

3. Intervensi Intervensi yang disusun disesuaikan dengan tinjauan teori dan tinjauan kasus di lapangan, namun tidak semua intervensi keperawatan secara teori dapat disusun untuk pasien, karena harus disesuaikan dengan kondisi pasien serta sarana-prasarana ruangan.

86

4. Implementasi Pada saat implementasi, penulis mengikutsertakan pasien, keluarga, perawat ruangan, dan petugas kesehatan lain. Tidak seluruh rencana tindakan keperawatan dapat penulis laksanakan karena disesuaikan dengan kondisi pasien, sarana prasarana ruangan, serta waktu yang dimiliki penulis hanya pagi dan siang saja.

5. Evaluasi Evaluasi atas tindakan keperawatan telah penulis lakukan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Hasil evaluasi didapatkan empat masalah belum teratasi. Pada evaluasi secara operasional, maka dapat disimpulkan bahwa semua masalah keperawatan belum bisa dicapai sesuai tujuan dan respon pasien dikarenakan banyaknya rencana kolaborasi seperti obat- obatan dan pembedahan yang belum bisa dilakukan selama proses perawatan. Sebelum mengakhiri masa perawatan, penulis memberikan penyuluhan kesehatan mengenai makanan yang baik untuk keadaan pasien dan cara merawat luka agar infeksi tidak terulang kembali, serta manfaat dari berinteraksi dengan teman sekamar.

5.2

Saran 1. Bagi Rumah Sakit

a. Pengkajian Bagi perawat ruangan, diharapkan agar pengkajian dapat terdokumentasi dengan baik dan faktor predisposisi pada pasien dengan cancer mammae dikaji, karena faktor predisposisi dapat mengindikasikan penyebab dari cancer mammae. Perawat ruangan dapat melakukan pendekatan kepada pasien, sehingga semua data dapat diperoleh secara komprehensif.

b. Diagnosa Keperawatan Pada tahap perumusan diagnosa, diharapkan agar perawat ruangan lebih teliti dalam menganalisa masalah keperawatan yang akan ditegakkan sesuai dengan kondisi pasien dan masalah keperawatan dapat diprioritaskan berdasarkan kebutuhan dasar manusia serta

Poltekkes Kemenkes Palembang

87

dapat terdokumentasi dengan baik. Perawat ruangan dapat melakukan pendekatan yang komprehensif dan komunikasi terapeutik sehingga masalah yang dialami pasien dapat diketahui.

c. Intervensi Keperawatan Pada tahap intervensi keperawatan, diharapkan agar perawat ruangan dapat menyesuaikan intervensi berdasarkan kondisi pasien, fasilitas dan sarana yang ada, serta hendaknya mengikutsertakan pasien dan keluarga dalam perencanaan keperawatan. Bagi kepala ruangan, hendaknya dapat memberi masukan mengenai intervensi yang akan diberikan pada pasien dengan mendiskusikan keadaan pasien dengan cancer mammae bersama tim perawatan guna menghasilkan intervensi yang adekuat.

d. Implementasi Keperawatan

Pada tahap implementasi keperawatan, diharapkan agar perawat ruangan dapat melanjutkan intervensi yang belum tercapai oleh penulis dengan melakukan perawatan luka, mendorong pasien untuk berinteraksi dengan teman sekamar. Perawat ruangan juga dapat bekerja-sama dengan tim medis dan petugas kesehatan lainnya dalam memberikan asuhan keperawatan yang holistik.

e. Evaluasi Keperawatan Pada tahap evaluasi keperawatan, sebaiknya dilaksanakan setiap hari oleh perawat ruangan setelah tindakan keperawatan sehingga setiap perkembangan yang terjadi pada pasien dapat diamati dan didokumentasikan dengan tepat dan akurat.

2. Bagi Institusi Pendidikan Bagi Institusi Pendidikan hendaknya Laporan Tugas Akhir (LTA) ini dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran, khusunya pada tahap evaluasi keperawatan maternitas yang mempelajari kesehatan reproduksi dengan cancer mammae, sehingga dapat membantu dalam mengaplikasikannya di praktik keperawatan klinik.

Poltekkes Kemenkes Palembang

88

3. Bagi Penulis Bagi penulis, hendaknya Laporan Tugas Akhir (LTA) ini dapat dijadikan sebagai media untuk menerapkan teori-teori keperawatan mengenai cancer mammae yang telah didapatkan untuk diberikan pada pasien dengan cancer mammae di lapangan.

Poltekkes Kemenkes Palembang

DAFTAR PUSTAKA

Bambang. 2010. Kejadian Cancer mammae Masih Tertinggi. Antara News, A4.

Black, Joyce M. Matassarin & Esther. 1997. Medical Surgical Nursing. USA :

W.B Saunders Company.

Depkes.

2013.

Angka

Kejadian

Kanker

Payudara

Masih

Tinggi.

http://www.depkes.go.id/index.php?vw=2&id=2233. 2013. Jakarta.

Doenges, Marilynn E, dkk. 2000. Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Doenges, Marilynn E. Moorhouse, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.

Glasier, Anna & Gebbie, Alisa. 2005. Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta:EGC.

Kim, Mi Ja. 1995. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Lee.

2008.

Cancer

Mammae.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19173/5/Chapter%20I.pdf,

2013, chap. 1.

Nurarif, Amin Huda & Kusuma, Hardhi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan Diagnosis Medis & NANDA. Yogyakarta : Medi Action Publishing.

Mulyani,

Nina

Siti

&

Nuryani.

2013.

Kanker

Payudara

Kehamilan. Yogyakarta : Nuha Medika.

dan

PMS

pada

Pearce, Evelyne C. 2011. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Romauli, Suryati & Vindari, Anna Vida. 2011. Kesehatan Reproduksi untuk Mahasiswi Kebidanan. Yogyakarta : Nugroho Medika.

Santoso, Satmoko Budi. 2009. Buku Pintar Kanker. Yogyakarta : Power Books Ihdina.

Suryaningsih, Endang Koni & Sukaca, Bertiani Eka. 2009. Kupas Tunytas Kanker Payudara. Yogyakarta : Paradigma Indonesia.

Townsend, Marry C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Psikiatri. Jakarta: EGC.

Poltekkes Kemenkes Palembang

Wijaya, Andra Saferi & Putri, Yessie Mariza. 2013. Keperawatan Medikal Bedah. Bengkulu : Nuha Medika.

Warda. 2012. file:///D:/My.%20Doc/warda-tik.pdf. Medan: Unimus.

Wiknjosastro. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

YKI.

Indonesia.

2012.

Jakarta

Race.

April

3,

2014.

Yayasan

Kanker

http://yayasankankerindonesia.org/2012/yki-jakarta-race/

Siregar,

C.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27630/4/Chapter%20II.pdf.

Medan : Universitas Sumatera Utara.

2011.

Poltekkes Kemenkes Palembang