Anda di halaman 1dari 7

amis , 21 December 2017, 23:00 WIB

Damaskus, Gerbang Kejayaan


Peradaban Islam
Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nasih Nasrullah
insidearab.com

Masjid Agung Umayyah di Damaskus, Suriah, merupakan salah satu peninggalan Dinasti Umayyah terus bertahan hingga kini.

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam sejarah Islam, Damaskus merupakan kota pusat pemerintahan


pertama di luar Jazirah Arab. Pendiri Dinasti Umayyah, Mu’awiyah bin Abu Sufyan,
memindahkan ibu kota dari Madinah ke Damaskus pada 661. Namun, Damaskus sesungguhnya
sudah jatuh ke tangan Islam sebelumnya, yakni sejak era Khalifah Umar bin Khathab pada 635
M.
Sebagai kelanjutan dari masa khulafaur rasyidin, Dinasti Umayyah menjadikan Damaskus
sebagai cermin pencapaian peradaban umat Islam. Pada 707, di kota tersebut berdiri rumah sakit
sekaligus pusat studi kedokteran pertama atas perintah Khalifah Walid bin Abdul Malik.

Sampai abad ke-13, menurut sejarawan Thomas Goldstein, sebagaimana dikutip Husain
Heriyanto (2011), ada 30 rumah sakit di Damaskus sampai abad ke-13. Sebelumnya,
perpustakaan publik pertama juga berdiri di Damaskus pada 704. Inisiatornya adalah Khalifah
Khalid bin Yazid, yang tidak lain merupakan cucu pendiri Dinasti Umayyah.

Di perpustakaan inilah mula-mula pusat kegiatan intelektual berlangsung. Di antaranya ada


aktivitas filologi kesusastraan Arab serta kajian-kajian ilmu hadiyts, fiqih, kalam, dan sejarah.

Masa keemasan meliputi Damaskus begitu Sultan Nuruddin berkuasa pada 1154. Pada eranya,
banyak masjid, madrasah, dan pusat kesehatan publik dibangun untuk menunjukkan pencapaian
peradaban Islam. Demikian pula dengan peningkatan kekuatan militer negara.

Adapun aktivitas intelektual di Damaskus pada zaman itu berkembang pesat, antara lain, lantaran
kontribusi dari dua suku, yakni Bani Asakir dan Bani Qudama.

Sultan Nuruddin mendirikan pusat studi hadits pertama, Dar al-Hadits di Damaskus. Madrasah
yang khusus bagi mazhab Maliki, al-Shalahiyyah, juga dibina. Begitu pula dengan madrasah al-
‘Adiliyyah pada 1171, yang kini menjadi Arab Academy.

Salah satu pemikir yang unggul di Damaskus dalam masa keemasan Islam adalah Ibnu Taimiyah
(1263-1328). Orang tuanya membawanya hijrah dari Harran, yang diserbut tentara Mongol pada
1269, ke Damaskus ketika Ibnu Taymiyyah masih berusia tujuh tahun.

Di Damaskus, ayahnya ditunjuk menjadi kepala madrasah Sukkariyyah. Dia sempat mengajar di
madrasah yang sama mengenai ilmu hadits. Di Masjid Umayyah, Ibnu Taimiyyah juga mengajar
di zawiyah.

Ahad , 17 December 2017, 02:00 WIB


Seputar Kuil Sulaiman (2)

Mitos Membangun Kuil Ketiga


Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agus Yulianto
muhammad subarkah
Masjidil Aqsa di Yerusalem.

REPUBLIKA.CO.ID, Sejak awal abad ke-20, kalangan ultranasionalis atau ortodoks Yahudi
mengusung ideologi mesianisme. Hal ini dipaparkan Gershom Gorenberg di dalam bukunya, The
End of Days: Fundamentalism and the Struggle for the Temple Mount. Menurut jurnalis tersebut,
kalangan ini menilai Israel berdiri untuk mewujudkan nubuat Kerajaan Yahudi Ketiga. Mereka
bahkan mengklaim tahu rencana Tuhan sehingga merasa berhak untuk menghalalkan segala cara,
termasuk penjajahan atas Palestina.

Sebagai contoh, pada pertengahan 1980-an, sekelompok ekstremis dari kalangan mereka
melakukan aksi terorisme terhadap warga Palestina. Mereka juga berencana menghancurkan
Qubbat ash-Shakhrah, meskipun akhirnya gagal. Sebab, bagi mereka, lokasi pendirian Kuil
Ketiga tidak lain adalah kawasan yang di atasnya kini berdiri Qubbat ash-Shakhrah dan Masjid
al-Aqsha. Dengan perkataan lain, mereka memandang unsur Islam harus enyah dari Yerusalem.

Pergerakan kaum ultranasionalis dan ortodoks Yahudi ini sudah berlangsung jauh sebelum Israel
berdiri. Pada 1940, Lohamei Herut Israel (Lehi) terbentuk. Organisasi paramiliter ini secara
harfiah berarti Pejuang untuk Kebebasan Israel. Pada faktanya, Lehi adalah sempalan grup
bersenjata, Irgun, yang semakin radikal melawan Inggris Raya serta mendukung fasisme Italia
dan nazisme Jerman semasa Perang Dunia II.

Tujuannya adalah merebut Yerusalem dengan jalan kekerasan. Israel Eldad (meninggal 1996),
seorang yang percaya nubuat Negara Yahudi, merupakan perumus ideologi Lehi. Dalam sebuah
edisi koran The Underground, Lehi membuat pernyataan resmi, antara lain, bahwa membangun
Kuil Ketiga adalah simbol kebangkitan era Kerajaan Ketiga. Kelak, salah satu pimpinan Lehi
menduduki jabatan perdana menteri Israel, Yitzhak Shamir (meninggal 2012).

Dengan mengklaim diri membawa suara Tuhan, kalangan Yahudi garis keras ini sesungguhnya
tidak menginginkan hadirnya kedamaian dan keberagaman di Yerusalem. Sama sekali bertolak
belakang, khususnya, dengan visi Khalifah Umar dan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Dan,
tendensi kalangan tersebut kian menemukan kesempatan pada era kepemimpinan perdana
menteri Israel saat ini, Benjamin Netanyahu.

Mengutip analisis Allison Kaplan Sommer dari media Haaretz, 25 Juni 2017, sejak awal
pemerintahannya Netanyahu mengandalkan simpati dari kalangan ultra-ortodoks Yahudi,
khususnya kelompok Haredi. Beberapa kebijakan Netanyahu sejak 2015, menurut Sommer, kian
memupuskan visi rakyat yang menghendaki Israel menjadi negara yang merayakan keberagaman
dan kedamaian.

Rentannya Yerusalem

Pada 21 Agustus 1969, umat Islam sedunia marah. Penyebabnya tidak lain ulah seorang Kristen
fanatik asal Australia, Denis Michael Rohan, yang membakar suatu bagian Masjid al-Aqsha di
Kota Tua Yerusalem. Insiden ini tidak sekadar mempersoalkan pelaku yang diduga sakit jiwa itu.
Bagaikan gunung es, endapan masalah yang sebenarnya adalah fakta betapa rentannya
Yerusalem dari ancaman para pembenci Islam sejak pertengahan abad ke-20.

Yerusalem Timur dicaplok militer Israel sejak 28 Juni 1967. Itu setelah kekalahan negara-negara
Arab dalam Perang Enam Hari melawan tentara Zionis. Sampai saat ini, Yerusalem tidak lepas
dari bayang-bayang prahara. Berulang kali aparat militer Israel mengganggu kedamaian di lokasi
kiblat pertama umat Islam itu. Setiap kecaman dari dunia internasional dijawab Israel dengan
kepongahan. Israel bersikap jumawa antara lain karena merasa dilindungi salah satu negara
adidaya, Amerika Serikat (AS).

Ulah terbaru juga dilakukan presiden AS ke-45, Donald Trump. Seolah tidak belajar dari
pembakaran Masjid al-Aqsa 48 tahun silam, politikus Partai Republik itu mengklaim Yerusalem
sebagai ibu kota Israel. Trump berdalih hanya melaksanakan regulasi Jerusalem Embassy Act,
yang dibuat pada 1995 silam. Artinya, baru kali ini sejak era Bill Clinton hingga Barack Obama
seorang presiden AS lancang memindahkan kedubes AS untuk Israel dari Tel Aviv ke
Yerusalem. Aturan ini sarat kontroversi karena mengabaikan resolusi PBB mengenai status
internasional kota tersebut.

Kali ini, kecaman tidak hanya datang dari Dunia Islam, melainkan juga negara-negara Barat
yang menjadi sekutu AS. Hanya Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan para
pendukungnya yang bersorak gembira. Bagi Palestina dan Dunia Islam pada umumnya,
Yerusalem merupakan ibu kota Palestina di masa depan. Pihak-pihak non-Muslim yang
berseberangan dengan Trump, semisal Uni Eropa, menginginkan jalan tengah.

Perundingan damai harus dilakukan sebelum menentukan status permanen Yerusalem. Palestina
pun tidak jarang menyetujui langkah ini. Namun, pengakuan sepihak AS itu kemudian memupus
harapan terwujudnya perundingan damai solusi dua-negara, Palestina dan Israel, sebagai negara
yang sama-sama berdaulat.

Ada pernyataan menarik dari Netanyahu dalam lawatannya ke Paris, Prancis, Ahad (10/12) lalu.
Kunjungan ini terlaksana hanya beberapa hari setelah pengumuman Trump soal Yerusalem.
Dalam jumpa pers, perdana menteri Israel empat periode itu mengklaim, Yerusalem telah
menjadi ibu kota Israel tiga ribu tahun lamanya. Di satu sisi, Netanyahu sangat mengherankan
karena pada faktanya penjajahan Israel atas Palestina baru dideklarasikan pada 1948. Namun, di
sisi lain klaimnya ini masuk akal bila dihubungkan dengan watak ideologi Zionisme.

Sejarawan Prancis, Roger Garaudy (1913-2012), menjelaskan di dalam bukunya, The Case of
Israel, genealogi ideologi Zionisme sehubungan dengan klaim kekuasaan atas Yerusalem.
Sebelumnya, Garaudy menegaskan perbedaan antara zionisme sebelum dan sesudah gerakan
yang diinisiasi Theodor Herzl (meninggal 1904). Sejak berabad-abad lamanya, para mistikus
Yahudi menyakini adanya harapan besar tentang Juru Selamat pada akhir zaman di Bukit Zion,
Yerusalem. Zionisme keagamaan ini memunculkan suatu tradisi ziarah ke Yerusalem tanpa
berintensi untuk menduduki kota suci tersebut.

Namun, Herzl menyusun suatu ideologi politik yang mengatasnamakan kerinduan zionisme
keagamaan akan datangnya Juru Selamat. Sejak 1882, mantan jurnalis itu telah menyebarkan
gagasannya di Wina, Austria, serta kepada para tokoh Yahudi di Eropa. Empat belas tahun
kemudian, dia menerbitkan buku Der Judenstaat, yang menjadi rujukan ideologis dalam Kongres
Zionis Sedunia yang pertama di Basel, Swiss, pada 1897. Menurut Garaudy, Zionisme gagasan
Herzl ini sama sekali berbeda daripada kerinduan mistikus Yahudi. Sebab, ideologi ini
menegaskan perlunya pendirian Negara Yahudi di atas sebuah daerah kosong, yakni Palestina
yang berpusat pada Yerusalem.

Dua hal kunci dapat ditarik dari gagasan Herzl. Pertama, nasionalisme yang anti-keberagaman.
Herzl membangkitkan kesadaran ultra-nasionalis kaum Yahudi yang hidup tersebar di penjur
dunia. Baginya, mereka hidup dalam ketidakpastian karena tidak punya tanah air. Herzl juga
menolak asimilasi Yahudi dengan masyarakat tempatan (non-Yahudi) dan lebih menyukai
gagasan Negara Yahudi.

Kedua, kolonialisme. Herzl memandang tanah Yerusalem dan sekitarnya sebagai daerah yang
kosong, meskipun pada faktanya orang-orang Palestina telah lama menghuni daerah tersebut
secara legal. Pandangan ini merupakan ciri khas penjajahan yang melihat masyarakat tempatan
sebagai bukan-manusia sehingga pantas diusir. Dengan demikian, ucapan Netanyahu di Paris itu
merupakan klaim seorang zionis pengikut tulen Herzl. Begitu pula dengan para pendukung dan
penajanya, termasuk rezim AS kini di bawah Donald Trump.
Selain Ibnu Taimiyah, ada pula Ibnu al-Syatir (wafat 1375), seorang Muslim astronom sekaligus
pakar matematika. Pria kelahiran Damaskus ini pada setahun lamanya belajar di al-Iskandariah,
Mesir. Karyanya yang paling dikenang adalah Zij al-Jadid, Taliq al-Arsaddan Nihayat al-Sul.

Dia juga meletakkan dasar-dasar teori peredaran planet-planet serta merancang pelbagai
instrumen untuk mendukung kajian astronomi secara presisi.Pada 1337, dia menciptakan dua alat
pengukur jarak benda-benda langit (astrolabe).

Pada 1371, dia membuat jam matahari raksasa untuk Masjid Damaskus. Sebagai astronom,
rumus-rumusnya mendahului para astronom Eropa abad pencerahan, misalnya Copernicus yang
menggegerkan Gereja dengan teori matahari-sentris.

Bahkan, beberapa riwayat menyebut, perhitungan Copernicus sama persis dengan al-Syatir.
Apalagi, al-Syatir merupakan pengoreksi teori astronomi Yunani Kuno, Ptolemy, yang banyak
dipakai Gereja untuk dalih “bumi sebagai pusat semesta.”

Anda mungkin juga menyukai