Anda di halaman 1dari 3

Saat Umar Bin Khattab Masuk

Yerusalem
Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Agus Yulianto
Muqata.com/ca

Menara Masjid Umar bin Khatab (kiri) di Yerusalem, Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, Kesultanan Utsmaniyah telah menjadi penjaga tiga situs suci umat Islam
sejak berabad-abad lalu. Kondisi Makkah, Madinah, dan Yerusalem dulu menjadi bukti bahwa
mereka adalah pelayan Islam yang sebenarnya.

Mekah dan Madinah adalah dua kota yang pertama kali mengecap indahnya Islam. Sementara
Yerusalem dirangkul penuh selama periode kekhalifahan kedua setelah Nabi Muhammad SAW
wafat.

Khalifah Umar bin Khattab menjadi orang yang dipercaya memegang kunci Yerusalem. Di
bawah kekuasaannya, penduduk kota suci tersebut hidup dalam perdamaian.

Ini berawal saat pasukan Muslim dibawah komando Abu Ubayda mengepung Yerusalem setelah
mengambil alih Damaskus dalam Perang Yarmuk. Saat itu, Yerusalem didominasi oleh umat
Kristiani.

Patriark kota Yerusalem saat itu, Sophronius dengan tegas mengatakan, ia hanya ingin
bernegosiasi dengan Khalifah Umar. Tidak ada yang boleh masuk Yerusalem siapa pun sebelum
ia bertemu Khalifah Umar.

Mengetahui hal ini, Umar pun pergi ke Yerusalem ditemani oleh seorang asisten. Menempuh
perjalanan ke Yerusalem, Umar mengendarai satu unta. Secara bergantian, ia dan asistennya naik
unta tersebut.

Saat hendak mencapai Yerusalem, Umar berjalan kaki karena saat itu giliran sang asisten naik
unta. Sang pelayan khalifah ini pun memaksa Umar saja yang naik unta. Dengan tegas ia
menolak.

Saat itu, seluruh penduduk Yerusalem melihat Umar datang dengan unta yang ditunggangi
pelayannya. Semua orang takjub. Patriark Sophronius pun terkaget-kaget dengan pemandangan
itu.

Ia tidak menyangka pria dengan pakaian sangat sederhana dan membiarkan untanya ditunggangi
pelayannya adalah panglima pasukan yang menaklukan kota. Umat Kristiani yang menonton dari
dinding-dinding Yerusalem pun terkesima.

Negosiasi antara Umar dan Sophronius pun dilangsungkan dan terkenal dengan sebutan
Umariyya Covenant. Hingga kini, kesepakatan itu masih disimpan di Gereja Suci Sepulchre di
Yerusalem.
Dalam kesepakatan, umat Kristen meminta Yahudi dilarang masuk Yerusalem dan Umar
menyanggupinya. Umar pun menjamin keamanan dan keselamatan seluruh umat di Yerusalem,
apa pun kepercayaan mereka.

Semua tempat suci umat Kristen dijaga dan tidak boleh dihancurkan. Setelah kesepakatan, kunci
kota Yerusalem resmi diserahkan pada 637 SM. Gerbang Yerusalem pun terbuka dan Khalifah
Umar dijamu di Gereja Suci Sepulchre.

Saat di dalam, Patriark menawarkan jika Umar ingin berdoa. Umar menolak dengan alasan ia
khawatir umat Islam nanti akan mengikutinya. Alih-alih, ia shalat di area selatan gereja yang
kemudian menjadi Masjid Umar di Yerusalem.

Saat itu, Umar sedang menunjukkan arti toleransi dan kemenangan yang sesungguhnya.
Kebesaran Islam menerangi jiwa kepemimpinan Umar hingga direfleksikan dari caranya
memperlakukan wilayah jajahan.

Sumber : Living Islam

Anda mungkin juga menyukai