Anda di halaman 1dari 4

Nafsiyyah Fikriyyah : Buah Syariat Qurban

Rate This

Nafsiyyah Fikriyyah : Buah Syariat Qurban

Musim haji akan segera mencapai puncaknya. Kita akan menyambut datangnya hari raya haji atau hari
raya kurban atau Iedul Adha pada tanggal 10 Dzul Hijjah, yakni sehari setelah para jamaah haji wuquf di
padang Arafah (9 Dzul Hijjah).

Pada hari raya ini kaum muslimin disunnahkan menyembelih hewan qurban pada tanggal 10 (hari nahar)
maupun pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah atau dikenal dengan hari tasyriq.

Apa makna qurban, bagaimana hakikat syariat ini, dan apa pelajaran yang mesti dipetik oleh kaum
muslimin dalam ajaran ini? Tulisan ini mencoba menguraikannya.

Syariat Qurban

Syariat qurban terkait dengan syariat ibadah haji. Dalam surat Al Hajj Allah SWT menyebut hikmah
ibadah haji sebagai mendapatkan berbagai manfaat perdagangan maupun saling mengenal antara kaum
muslimin yang datang dari berbagai penjuru dunia di dalam haji disamping untuk mengingat Allah dalam
memenuhi syiar-syiar haji. Allah SWT berfirman:

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfa`at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah
pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang
ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang
yang sengsara lagi fakir”. (QS. Al Haj 28).
Hari-hari yang ditentukan (ayyam ma’ luumaat) dalam ayat di atas maksudnya adalah tanggal 10, 11, 12,
dan 13 Dzulhijjah, yaitu hari nahar dan hari tasyriq (lihat Al Quran dan Terjemahannya hal 516). Hari
nahar adalah hari penyembelihan qurban, demikian juga hari tasyriq selama tiga hari berikutnya.
Diriwayatkan dari Jabir r.a. yang mengatakan:

Rasulullah saw. melempar jumrah (aqabah) pada hari raya qurban (yaumun nahr) pada waktu dluha,
sedangkan sesudahnya, dilakukannya bila matahari tergelincir (HR. Al Khamsah).

Diriwayatkan bahwa sahabat Anas r.a. menyatakan:

“Bahwa Nabi saw. tiba di Mina dan mendatangi jumrah lalu melemparinya, kemudian kembali ke tempat
tinggalnya di Mina dan menyembelih kurbannya” (HR. Al Khamsah).

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:

“Segala hari tasyriq (11,12,13 Dzul hijjah) adalah hari menyembelih” (HR. Ahmad).

Dari perbuatan (fiil) Rasulullah saw. maupun ucapan (qaul) beliau saw. dalam riwayat-riwayat hadits di
atas jelas bahwa qurban merupakan salah satu dari ajaran syariat Islam. Perbuatan maupun pernyataan
Rasulullah saw. itu adalah jawaban atas perintah Allah SWT dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena
Tuhanmu dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar 1-2).

Juga firman-Nya:

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama
Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan
Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-
orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”, (QS. Al Hajj 34).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa dalam ayat tersebut Allah SWT mengabarkan bahwa
menyembelih korban dan menumpahkan darah dengan nama Allah adalah disyariatkan pada semua
agama. As Shobuni dalam Shafwatut Tafaasir Juz II/265 mengatakan bahwa Allah memerintahkan
penyembelihan korban sebagai rasa syukur kepada Allah atas rezki yang dikaruniakan Allah, berupa
ternak seperti unta, sapi, dan kambing dan agar mereka menyebut asma-Nya dan menyembelih korban
untuk mencari keridloan-Nya karena Dialah Sang Pencipta dan Pemberi rizki, bukan seperti orang-orang
musyrik yang berkorban demi patung-patung berhala.

Hakikat Berkurban

“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya,
ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua
(Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata
Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.(QS. Al Maidah
27).

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi
ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk
kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar
gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al Hajj 37).

Korban dilakukan dengan memberikan yang terbaik dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT
dan untuk mendapatkan keridloan-Nya. Ash Shobuni (idem) mengatakan bahwa prinsip korban ini adalah
sikap taqwa dari kaum muslimin dengan tunduknya kaum muslimin mengikuti perintah-perintah Allah dan
sikap mencari ridlo Allah dalam pelaksanaan perintah-perintah itu.

Sikap Jiwa ber-Qurban

Seorang muslim yang telah terbudaya dengan melaksanakan syariat Qurban akan terbentuk dalam
dirinya untuk senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah SWT dan menggapai keridloan-Nya, dengan
melaksanakan segala perintah-perintah-Nya yang wajib-wajib maupun yang sunnah-sunnah, sekalipun
untuk itu dia harus mengorbankan apa saja yang dimilikinya, baik harta maupun nyawanya.

Dia memahami bahwa segala aktivitasnya, adalah didasari kesadaran bahwa itu adalah perintah agama-
Nya, perintah Allah dan rasul-Nya. Ia sadar betul bahwa bilamana dia mengerjakan suatu kebajikan,
tanpa didasari oleh motivasi agama, maka akan percuma baginya. Dia paham, jika suatu perbuatan
dilakukan tanpa motivasi agama, hanya sekedar kemanusiaan, mungkin saja orang akan
membanggakan dan memujinya, mungkin negara memberikan piagam penghargaan kepadanya, tapi
kalau di hadapan Allah, semua perbuatan yang tidak dilakukan dengan ikhlas lilahi ta’ ala dan tidak
dilakukan dengan cara-cara yang disunnah Rasul-Nya tidak akan Dia SWT terima. Jadi kalau dia
menyembelih korban, dia laksanakan sesuai tuntunan Rasulullah saw, yakni menyembelih onta, sapi,
atau kambing. Tidak dia ganti dengan ayam, bebek, atau hewan lainnya yang tidak disyariatkan. Sebab,
dia sadar bahwa yang diterima oleh Allah SWT adalah aktivitas yang disyariatkan oleh-Nya.

Oleh karena itu, buah dari syariat Qurban adalah tercetaknya jiwa-jiwa muslim yang rela berkorban dan
mengorbankan segala yang dimilikinya untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan menjalankan
perintah-perintah-Nya sebagaimana yang dijelaskan dan dicontohkan oleh rasul-Nya.

Maka, jika dia menyembelih hewan qurban dan dengan-Nya memberi maka orang-orang fakir, yang
meminta maupun yang tidak meminta, bukanlah agar dia mendapat predikat dermawan. Atau kalau dia
kirim hewan korban-Nya ke daerah bencana dan dia membantu orang-orang yang terkena musibah,
bukanlah untuk mendapatkan sebutan orang bermoral dan berperikemanusiaan. Tapi semua itu dia
lakukan dalam rangka ketaqwaan-Nya kepada Allah Sang Pencipta dan kesukaannya mendapatkan
Ridlo-Nya.

Anda mungkin juga menyukai