Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator status
kesehatan masyarakat yang terkait dengan berbagai indikator kesehatan dan
indikator pembangunan lainnya. AKB juga berhubungan dengan angka
pendapatan daerah, pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, pendidikan ibu
dan keadaan gizi keluarga. AKB memiliki keterkaitan dengan faktor
pembangunan umum, sehingga pengukuran dan analisa kematian bayi merupakan
cara strategis dalam menilai pencapaian kinerja bidang kesehatan dan
pembangunan umum lainnya di suatu daerah.1,2
AKB di Indonesia telah mengalami penurunan yang cukup signifikan
sejalan dengan keberhasilan laju pembangunan nasional sejak tahun delapan
puluhan. Penurunan tersebut lambat laun akan semakin sulit dicapai. Penelitian
yang dilakukan United Nations Children's Fund (UNICEF) menjelaskan bahwa
setiap tiga menit terdapat satu anak balita meninggal. Berdasarkan data Survei
Demografi dan Kependudukan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKB di Indonesia
dalam periode lima tahun (2007-2012) sebesar 32 per seribu kelahiran hidup.1,2,3
AKB di Jawa Timur yang diperoleh dari laporan rutin relatif sangat kecil.
AKB Provinsi Jawa Timur tahun 2013 sebesar 27,23 per 1.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan data AKB Provinsi Jawa Timur tahun 2014, AKB tersebut masih di
bawah target Rencana Strategi (Renstra), namun berada di atas target Sustainable
Development Goals (SDGs) yang ditetapkan.3,4
AKB di Malang selama tahun 2014 mencapai 15,75 per 1.000 kelahiran
hidup. AKB di kecamatan Ampelgading berdasarkan hasil laporan Puskesmas
Ampelgading selama lima tahun menunjukkan pada tahun 2012 sebanyak 11
orang, tahun 2013 sebanyak 4 orang, tahun 2014 sebanyak 10 orang, tahun 2015
terjadi peningkatan yaitu sebanyak 13 orang serta tahun 2016 (Januari-September)
sebanyak 12 orang. AKB tertinggi pada Desa Tirtomarto dan terendah pada Desa
Wirotaman, Tamanasri, Tamansari dan Tawangagung.5,6
Di kecamatan Ampelgading penyebab kematian pada bayi selama lima
tahun terakhir yaitu intrauteri fetal death (IUFD) 26%, kelainan kongenital 18%,

1
2

aspirasi 18%, asfiksia 14%, infeksi paru 6%, intrauteri growth restriction (IUGR)
6%, lahir premature 4%, trauma lahir 4%, letak sungsang 2% dan stomatitis 2%.
Hasil penelitian sebelumnya oleh Fiddin dkk tahun 2016 mengenai
perilaku sehat, perilaku sakit, dan perilaku peran sakit masyarakat Desa
Tawangagung dan Desa Tirtomarto mempengaruhi AKB di kedua desa. Perilaku
sehat, sakit dan peran sakit masyarakat di Desa Tawangagung lebih tinggi
dibanding masyarakat Desa Tirtomarto sehingga AKB di Desa Tawangagung
rendah dan AKB di Desa Tirtomarto tinggi.
Seperti di negara berkembang lainnya, AKB di Indonesia karena infeksi
dan penyakit anak-anak lainnya telah mengalami penurunan, akan tetapi, dalam
beberapa tahun terakhir, penurunan AKB tampaknya terhenti. Jika tren ini
berlanjut, Indonesia mungkin tidak dapat mencapai target SDGs pada tahun
berikutnya, meskipun Indonesia berada dalam arah yang tepat pada tahun-tahun
sebelumnya.7,8
Berdasarkan teori H. L. Blum mengenai paradigma health and well being,
ada 4 faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan dan merupakan faktor
determinan tidak langsung yang berinteraksi menimbulkan kematian bayi, yaitu
pelayanan kesehatan, perilaku kesehatan, lingkungan, dan genetik. Di Indonesia,
faktor perilaku kesehatan merupakan faktor yang paling sulit ditanggulangi,
diikuti faktor lingkungan, pelayanan kesehatan, dan genetika.9
Perilaku kesehatan adalah semua aktivitas seseorang yang berkaitan
dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan baik yang dapat diamati
(observable) maupun yang tidak dapat diamati (unobservable). Perilaku manusia
terkait kesehatan (health related behavior) menurut Becker dalam penelitian
Sulistiawati (2009) dibagi menjadi tiga, yaitu, perilaku sehat (health behavior),
perilaku sakit (illness behavior), dan perilaku peran sakit (sick role behavior).9,19
Perilaku masyarakat terkait kesehatan sangat mempengaruhi AKB, secara
khusus perilaku ibu dalam menjamin kesehatan kehamilan, kelahiran, dan
perawatan bayi yang lebih sehat. Tantangan yang dihadapi adalah sulitnya
memperbaiki perilaku ibu yang masih terpengaruh oleh budaya masyarakat
setempat dan rendahnya pengetahuan mengenai kesehatan, terutama perilaku
hidup bersih dan sehat, termasuk upaya mencari pelayanan kesehatan;
memperbaiki akses; memperkuat mutu manajemen terpadu penyakit bayi;
3

memperbaiki kesehatan lingkungan; pengendalian penyakit menular; dan


pemenuhan gizi yang cukup.9
Berdasarkan latar belakang diatas, perlu dilakukan penelitian mengenai
perilaku kesehatan ibu di Desa Tirtomarto yang memiliki AKB tinggi
dibandingkan dengan Desa Tawangagung yang memiliki AKB rendah. Pemilihan
kedua desa tersebut dikarenakan letak geografis yang sama dan paling dekat
dengan Puskesmas Ampelgading.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah yang dapat diajukan
adalah:
1. Apakah ada perbedaan perilaku sehat ibu di Desa Tirtomarto dan Desa
Tawangagung?
2. Apakah ada perbedaan perilaku sakit ibu di Desa Tirtomarto dan Desa
Tawangagung?
3. Apakah ada perbedaan perilaku peran sakit ibu di Desa Tirtomarto dan Desa
Tawangagung?

1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perilaku kesehatan ibu di
Desa Tirtomarto dan Desa Tawangagung.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah :
1. Mengetahui perbedaan perilaku sehat ibu di Desa Tirtomarto dan Desa
Tawangagung.
2. Mengetahui perbedaan perilaku sakit ibu di Desa Tirtomarto dan Desa
Tawangagung.
3. Mengetahui perbedaan perilaku peran sakit ibu di Desa Tirtomarto dan Desa
Tawangagung.
4

1.4 Manfaat
1. Bagi Peneliti
Peneliti dapat memahami dan mengaplikasikan ilmu kedokteran pada
masyarakat.
2 Bagi Puskesmas
Sebagai tambahan informasi dan data tambahan AKB di Puskesmas
Ampelgading.
3 Bagi Akademik
Memberikan wawasan di bidang keilmuan kesehatan masyarakat.