Anda di halaman 1dari 1

MAZHAB HAMBALI

Keempat: Ulama Hanabilah (Hambali)


Mereka berpendapat bahwa disyari’atkan qunut dalam witir. Tidak
disyariatkan qunut pada shalat lainnya kecuali jika ada musibah yang besar
selain musibah penyakit. Pada kondisi ini imam atau yang mewakilinya
berqunut pada shalat lima waktu selain shalat Jum’at.
Sedangkan Imam Ahmad sendiri berpendapat, tidak ada dalil yang
menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan
qunut witir sebelum atau sesudah ruku’.

Imam Ahmad bin Hanbal Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa qunut itu merupakan
amaliyah sunnah yang dikerjakan pada shalat witir yaitu dikerjakan setelah ruku. Sedangkan qunut
pada shalat subuh tidak dianggap sunnah oleh beliau.

Madzab Hambali
Disunnatkan Qunut pada shalat witir dan tempatnya sesudah ruku . Adapun Qunut subuh tidak
disunnahkan.Sedangkan Qunut nazilah disunatkan dan dilakukan diwaktu subuh saja.

Ulama’ madzhab Hambali berpendapat seperti imam Abu Hanifah, bahwa dianjurkan
qunut dalam shalat witir saja dan tidak dianjurkan dalam shalat lainnya selain qunut nazilah
dalam shalat jahriiyah (bacaan keras) pada waktu tertentu. Bila imam membaca qunut,
makmum dianjurkan mengamininya sambil mengangkat kedua tangannya, setelah selesai
agar menyapukan kedua tapak tangannya pada wajahnya. {Al-Mughni I/151-155. Kasy-Syaaf
al-Qona’ I/490-494}