Anda di halaman 1dari 2

Kesimpulan

Inilah pendapat para imam madzhab. Namun pendapat yang lebih kuat,
tidak disyari’atkan qunut pada shalat fardhu kecuali pada saat nawazil
(kaum muslimin tertimpa musibah). Adapun qunut witir tidak ada satu
hadits shahih pun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
menunjukkan beliau melakukan qunut witir. Jika seseorang melakukan
qunut witir, maka itu baik. Jika meninggalkannya, juga baik.

Adapun mengenai qunut shubuh secara lebih spesifik, Syaikh Muhammad bin Sholih
Al Utsaimin menjelaskan dalam fatwa lainnya. Beliau pernah ditanya: “Apakah
disyari’atkan do’a qunut witir (Allahummah diini fiiman hadayt …) dibaca pada
raka’at terakhir shalat shubuh?”

Beliau rahimahullah menjelaskan: “Qunut shubuh dengan do’a selain do’a ini (selain
do’a “Allahummah diini fiiman hadayt …”), maka di situ ada perselisihan di antara
para ulama. Pendapat yang lebih tepat adalah tidak ada qunut dalam shalat shubuh
kecuali jika di sana terdapat sebab yang berkaitan dengan kaum muslimin secara
umum. Sebagaimana apabila kaum muslimin tertimpa musibah -selain musibah
wabah penyakit-, maka pada saat ini mereka membaca qunut pada setiap shalat
fardhu. Tujuannya agar dengan do’a qunut tersebut, Allah membebaskan musibah
yang ada.”

Namun yang dimaksud qunut yang ditinggalkan Nabi SAW adalah qunut nazilah,
bukan qunut subuh, sesuai pendapat yang rojih.
Sejumlah hadits tersebut menerangkan tentang qunut nazilah dan bukan qunut subuh.
Anjuran membaca qunut dalam shalat subuh terdapat hadits yang menerangkannya, bukan
hadits di atas. Nabi SAW qunut nazilah selama satu bulan kemudian beliau tinggalkan,
setelah mendapat teguran dari Allah. Nabi SAW juga qunut nazilah pada setiap waktu
termasuk dalam shalat subuh dan maghrib seperti disebutkan dalam hadits diatas. Hadits
berikut ini menguatkan bahwa yang ditinggalkan Nabi SAW adalah qunut nazilah bukan
qunut subuh. Nabi SAW meninggalkan qunut nazilah setelah mendapat teguran dari Allah,
seperti disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah ra, ia berkata:
‫ي صلّى هللا عليه وسلّم يقول حين يفرغ من صالة الفجر من القراءة ويكبّر‬ ّ ‫ كان النّب‬: ‫عن أبي هريرة رضي هللا عنه قال‬
ّ
‫ وسلمة ابن هشام وعياش‬،‫ الله ّم انج الوليد ابن الوليد‬: ‫ويرفع رأسه "سمع هللا لمن حمده ربّنا ولك الحمد" ث ّم يقول وهو قائم‬
‫ اللّه ّم العن‬.‫مضر واجعل عليهم كسني يوسف‬
ّ ‫ اللّه ّم اشدد وطأتك على‬: ‫ والمستضعفين من المسلمين والمؤمنين‬،‫ابن ربيعة‬
‫لحيان ورعالن وذكوان وعصيّة عصت هللا ورسوله" ث ّم بلغنا أنّه ترك ذلك ل ّما نزل قوله تعالى "ليس لك من األمر شيئ أو‬
)177-176 ‫ ص‬5 ‫يتوب عليهم أو يعذّبهم فإنّهم ظالمون" رواه مسلم (صحيح مسلم ج‬
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Adalah Nabi SAW berdo’a ketika selesai membaca
ayat al-qur’an dan takbir serta bangun dari ruku’ membaca “sami’allahu liman hamidah”
pada shalat subuh kemudian membaca do’a sambil berdiri “Ya Allah bebaskanlah Al-Walid
bin Walid dan Salamah bin Hisyam, Ilyas ibnu Abi Rab’iah dan orang-orang yang lemah dari
kaum muslimin. Ya Allah berikanlah hukuman yang berat kepada Mudhar, jadikanlah tahun
mereka seperti tahun-tahun Nabi Yusuf. Ya Allah laknatlah Lihyan, Ri’lan, Dzakwan dan
Ushaiyyah yang telah durhaka kepada Allah dan rasul-Nya”. Kemudian sampai kepada kami
berita yang mengatakan bahwa Nabi SAW telah meninggalkan qunut nazilah setelah turun
surat {Ali imran:128} “Tidak ada hak bagimu Muhammad dalam urusan mereka itu, atau
Allah menerima taubat mereka atau menghukumnya, karena sesungguhnya mereka itu adalah
orang-orang yang dhalim” HR. Muslim {Shahih Muslim IV/176-177}
Berdasarkan hadits tersebut, sangat jelas bahwa qunut yang ditinggalkan Nabi SAW
yang pernah dilakukan selama satu bulan dalam sejumlah waktu shalat, termasuk dalam
shalat subuh, kemudian beliau tinggalkan adalah qunut nazilah bukan qunut subuh. Qunut
subuh tidak dinaskh (dihapus) dengan hadits manapun dan hukumnya sunnah.