Anda di halaman 1dari 21

[DOCUMENT TITLE]

[Document subtitle]

[DATE]
[COMPANY NAME]
[Company address]
HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN
Permasalahan Permukiman Sepanjang Sempadan Rel Kereta Api
Kawasan Stasiun Sidotopo

OLEH:

1. Rizki Nur Thoyibah 3613100004


2. Farida Puspita R. 3613100009
3. Ajeng Dearista W. 3613100017
4. Rizky Ade Pratama 3613100019
5. Lailatul Jumatin J. 3614100013
6. Oky Dwi Ariyanti 3614100014
7. Zaqiyah Salsabila B. 3614100083

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

i
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa berkat rahmat dan karunia-
Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Permasalahan Permukiman
Sepanjang Sempadan Rel Kereta Api Kawasan Stasiun Sidotopo” dengan tepat waktu.

Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Ir. Heru Purwadio, MSP. dan
Ibu Rulli Pratiwi, S. ST. MSc. atas bimbingannya selaku dosen mata kuliah Hukum dan
Administrasi Perencanaan. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu dan
memberikan masukan-masukan kepada kami dalam menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini mungkin masih terdapat kekurangan. Oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan
demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca,
terutama kami sebagai mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

Surabaya, Mei 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR .......................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................ iv
DAFTAR TABEL ................................................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................... 1
1.1 Latar belakang ............................................................................................. 1
1.2 Tujuan .......................................................................................................... 2
1.3 Sistematika Penulisan .................................................................................. 2
BAB II GAMBARAN WILAYAH ......................................................................................... 3
BAB III EVALUASI KEBIJAKAN........................................................................................ 7
3.1 Fungsi Kawasan ........................................................................................... 8
3.2 Sempadan Rel Kereta Api ............................................................................ 11
3.3 Status Penempatan Permukiman ................................................................. 12
3.4 Infrastruktur .................................................................................................. 13
BAB V PENUTUP ............................................................................................................. 14
4.1 Kesimpulan .................................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 15

iii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Papan bukti kepemilikan tanah PT. KAI .......................................................... 3
Gambar 2.2 Permukiman di sempadan rel kereta api ......................................................... 4
Gambar 2.3 Infrastruktur Perkeretaapian............................................................................ 4
Gambar 2.4 Infrastruktur permukiman di wilayah studi ....................................................... 5
Gambar 3.1 Ilustrasi Lebar Minimal Jalur Kereta Api 1 Jalur .............................................. 12
Gambar 3.2 Ilustrasi Jalur Kereta Api Dua Jalur ................................................................. 12

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Evaluasi Kebijakan Studi Kasus Permasalahan Permukiman Sepanjang Sempadan
Rel Kereta Api Kawasan Stasiun Sidotopo .......................................................... 7

iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kurangnya pembangunan di desa akibat sentralisasi pembangunan di kota serta
daya tarik ekonomi, menyebabkan urbanisasi menjadi berkembang pesat. Hal tersebut
terjadi di Kota Surabaya, dimana penduduk berasal dari Pulau Madura menuju Kota
Surabaya untuk mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Namun,
tingginya urbanisasi ini menyebabkan timbulnya berbagai permasalahan di Kota
Surabaya. Masyarakat yang berpindah ke Surabaya pada umumnya tidak memiliki
modal yang cukup untuk tinggal di kota, sehingga mengakibatkan pembangunan
permukiman liar. Masyarakat tersebut membangun tempat tinggal ditempat-tempat
yang sebenarnya merupakan kawasan illegal yang tidak boleh ada bangunan yang
berdiri diatas tanah tersebut (Khomarudin,1997).
Permukiman liar identik dengan permukiman ilegal (squatter). Permukiman liar
adalah hunian yang terletak di lokasi yang peruntukan lahannya tidak untuk bangunan.
Di Surabaya utara banyak ditemui permukiman di tepi rel kereta api. Salah satu
permukiman liar yang terletak di sempadan kereta api di Surabaya Utara adalah
permukiman di wilayah Stasiun Sidotopo.
Secara langsung maupun tidak langsung, kehidupan manusia selalu
dipengaruhi oleh peraturan-peraturan hidup bersama yang membatasi dan mengatur
hubungan antar manusia. Peraturan-peraturan tersebut memberikan batasan
perbuatan mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus dihindari. Peraturan
hidup kemasyarakatan yang bersifat mengatur dan memaksa untuk menjamin tata
tertib dalam masyarakat, dinamakan kaidah hukum.
Permukiman kumuh illegal (squatter) perlu ditangani karena mengganggu citra
penampilan suatu kota sehingga terkesan kumuh dan untuk mengembalikan fungsi
lahan aslinya. Pemerintah juga harus melakukan pencegahan pembangunan
permukiman kumuh ilgeal baru. Sehingga permukiman kumuh illegal perlu ditangani.
Penanganan biasanya dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan relokasi
permukiman, pembangunan rumah susun dan sebagainya.
Segala bentuk penanganan permasalahan kota bertujuan untuk mewujudkan
tata kehidupan yang teratur. Hukum yang mengatur berbagai hal, tidak terlepas
dengan peraturan yang berkaitan dengan pembangunan dan perencanaan wilayah
yang menyeluruh dan harmonis.

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 1


1.2 TUJUAN
Tujuan dari penyusunan laporan ini adalah:
1. Mengidentifikasi pelanggaran permukiman kumuh di sempadan rel stasiun
Sidotopo
2. Menganalisa permasalahan dengan peraturan perundangan terkait

1.3 SISTEMATIKA PENULISAN


BAB I PENDAHULUAN
Berisi bab pendahuluan yang menjelaskan latar belakang perlunya evaluasi
terhadap permasalahan yang diangkat, tujuan serta sistematika penulisan
makalah
BAB II GAMBARAN WILAYAH
Berisi gambaran lokasi wilayah studi, gambaran permukiman dan infrastruktur
pada sempadan rel kereta Sidotopo
BAB III EVALUASI
Berisi pembahasan permasalahan yang dikaitkan dengan pelanggaran peraturan
perundang-undangan yang terkait
BAB IV PENUTUP
Merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dari pembahasan yang telah
dilakukan

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 2


BAB II
GAMBARAN WILAYAH
Lokasi yang menjadi wilayah studi adalah permukiman yang berada pada sepanjang
sempadan rel kereta api di kawasan Stasiun Sidotopo atau lebih tepatnya berada di RW IX
Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Simokerto, Surabaya Utara. Adapun batas-batas wilayah
studi sebagai berikut:
 Batas Utara : Jalan Kenjeran
 Batas Selatan : Jalan Tambak Adi
 Batas Timur : Jalan Donorejo Wetan
 Batas Barat : Jalan Donorejo Gang III
Permukiman yang berada di sepanjang sempadan rel kereta api di kawasan Stasiun
Sidotopo ini merupakan pemukiman yang berdiri di atas tanah milik PT. KAI. Oleh karena itu
permukiman ini dapat dikatakan sebagai permukiman illegal yang tidak memerhatikan
peraturan-peraturan pendirian bangunan permukiman khususnya di kawasan rel kereta api.
Permukiman yang ada dapat dikatakan berstatus illegal sebab mereka menggunakan tanah
milik PT. KAI tanpa adanya sewa pada pihak PT. KAI dan permukiman ini sudah ada sejak
lama. Sementara berdasarkan RDTRK, daerah sempadan rel kereta api yang digunakan
sebagai permukiman tersebut sebenarnya diarahkan pada jalur hijau bukan sebagai
permukiman sehingga keberadaannya dapat dikatakan menyalahi rencana tata ruang.

Gambar 2.1 Papan bukti kepemilikan tanah PT. KAI


Sumber: Survey Primer, Mei 2016

Bangunan rumah bersifat semi permanen dan permanen dengan jarak bangunan
terhadap rel kereta api sangat dekat yaitu sekitar 1-1.5 meter. Ketebalan bangunan rumah
yang ada sekitar 4-5 meter. Keberadaan permukiman tersebut sangat membahayakan baik
bagi penghuni maupun bagi keselamatan perjalanan kereta api karena terdapat beberapa

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 3


rumah yang sangat dekat dengan rel serta adanya rongsokan milik penghuni yang diletakkan
di sempadan rel kereta api, meskipun telah diberikan garis pembatas oleh PT. KAI.
Infrastruktur perkeretaapian yang ada di kawasan ini adalah tiang-tiang, kabel-kabel,
penanda, dan jalan inspeksi. Kondisi infrastruktur pereretaapian masih baik dan tidak ada
kerusakan hanya saja kabel-kabel yang berada di atas sedikit terganggu oleh adanya rumah.

Gambar 1.2 Permukiman di sempadan rel kereta api


Sumber: Survey Primer, Mei 2016

Gambar 2.3 Infrastruktur Perkeretaapian


Sumber: Survey Primer, Mei 2016

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 4


Selain itu, kondisi permukiman dapat dikategorikan sebagai permukiman kumuh yang
tidak dilengkapi dengan infrastruktur yang memadai sebagai kawasan permukiman yang
layak huni. Infrastruktur yang ada berupa musholla, prasarana listrik dan MCK komunal yang
diperoleh dari bantuan YAPSI dan UN-WFP. Kebutuhan air bersih permukiman tersebut
didapat dengan cara membeli air bersih dengan dirigen. Selain itu, tempat pembuangan
sampah yang ada terbilang minim hanya ada dua tempat pembuangan sampah komunal yang
kapasitas penampungan sampahnya terbatas sehingga banyak terdapat sampah yang
berserakan dan dibuang sembarangan. Dari segi estetika perkotaan keberadaan permukiman
tersebut juga mengganggu keindahan dan kenyamanan kota.

Gambar 2.4 Infrastruktur permukiman di wilayah studi


Sumber: Survey Primer, Mei 2016

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 5


HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 6
BAB III
EVALUASI KEBIJAKAN
Tabel 3.1 Evaluasi Kebijakan Studi Kasus Permasalahan Permukiman Sepanjang
Sempadan Rel Kereta Api Kawasan Stasiun Sidotopo

No Pelanggaran Regulasi Keterangan


1. FUNGSI KAWASAN
Pemanfaatan fungsi daerah RTRW Kota Surabaya Fungsi kawasan sempadan
sempadan rel kereta api yang 2010-2030 rel Kereta Api dengan
digunakan sebagai permukiman menetapkan jarak sempadan
tersebut sebenarnya diarahkan dan pengembangan fungsi
pada jalur hijau bukan sebagai lindung untuk kepentingan
permukiman sehingga keamanan Kereta Api
keberadaannya dapat dikatakan Peraturan Menteri RTH/jalur hijau sempadan rel
menyalahi rencana tata ruang. Pekerjaan Umum kereta api dapat
Nomor : 05/Prt/M/2008 dimanfaatkan sebagai
Tentang Pedoman pengamanan terhadap jalur
Penyediaan Dan lalu lintas kereta api. Untuk
Pemanfaatan Ruang menjaga keselamatan lalu
Terbuka Hijau Di lintas kereta api maupun
Kawasan Perkotaan masyarakat di sekitarnya,
maka jenis aktivitas yang
perlu dilakukan berkaitan
dengan peranan RTH
sepanjang rel kereta api
2. SEMPADAN REL KERETA API
Terdapat permukiman di kanan Dokumen penjelas UU  Ayat (1) Batas ruang
kiri rel kereta api dengan material no. 23 tahun 2007 milik jalur kereta api
rumah semi permanen dan tentang Perkertaapian merupakan ruang di sisi
permanen dengan jarak rumah pasal 42 kiri dan kanan ruang
dengan rel sekitar 0-1,5 meter manfaat jalur kereta api
yang lebarnya paling
rendah 6 (enam) meter.
 Ayat (2) Yang dimaksud
dengan “untuk keperluan
lain” adalah kepentingan
di luar kereta api, antara
lain kepentingan pipa

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 7


gas, pipa minyak, dan
kabel telepon.
 Pasal 45 Batas ruang
pengawasan jalur kereta
api merupakan ruang di sisi
kiri dan kanan ruang milik
jalur kereta api yang
lebarnya paling rendah 9
(sembilan) meter
3. STATUS PENEMPATAN PERMUKIMAN
Permukiman illegal yang tidak RTRW Kota Surabaya Status tanah di sepanjang rel
memerhatikan peraturan- 2010-2030 kereta api stasiun Sidotopo
peraturan pendirian bangunan merupakan tanah milik PT
permukiman khususnya di KAI Daop VIII Surabaya.
kawasan rel kereta api. Status kepemilikan tanah
Permukiman yang ada dapat yang memiliki jarak sekitar
dikatakan berstatus illegal sebab 20-23 meter dari titik tengah
mereka menggunakan tanah milik rel kereta api merupakan
PT. KAI tanpa adanya sewa pada milik PT. KAI.
pihak PT. KAI yang termasuk ke
dalam kondisi squatter.
4. INFRASTRUKTUR
Kondisi infrastruktur perkertapian RDTRK UP Tanjung Pemanfaatan sempadan rel
seperti kabel dan penanda sinyal Perak 2008-2018 KA yakni; 6 m untuk badan
serta telegrap yang sangat dekat jalan rel KA, 3 m untuk untuk
dengan permukiman warga. taman dan pembatas, 3,5 m
Selain itu ruang untuk jalur untuk jalan inspeksi, dan 2 m
inspeksi yang cukup sempit yang untuk sistem dan drainase.
tidak sesuai dengan regulasi.
Sumber: Analisa, 2016

3.1 FUNGSI KAWASAN


Pelanggaran: Pemanfaatan fungsi daerah sempadan rel kereta api yang digunakan
sebagai permukiman tersebut sebenarnya diarahkan pada jalur hijau bukan sebagai
permukiman sehingga keberadaannya dapat dikatakan menyalahi rencana tata ruang.
 Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya tahun 2010-2030
Beberapa fungsi yang seharusnya dari perumahan dan permukiman sebagai
berikut, yaitu:
1. Fungsi keselamatan.

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 8


2. Fungsi sekunder makanan/ekonomi yang menjamin kelangsungan kebutuhan
hidup secara kolektif.
3. Fungsi perkembangan keturunan dan pendidikan.
4. Fungsi pembinaan solidaritas.
5. Fungsi pengembangan kreatifitas.
Untuk fungsi kawasan sempadan rel Kereta Api dilakukan dengan menetapkan
jarak sempadan dan pengembangan fungsi lindung untuk kepentingan keamanan
Kereta Api. Pengukuran garis sempadan rel kereta api ditetapkan sebagai berikut:
1) Garis sempadan jalan rel kereta api adalah ditetapkan dari as jalan rel terdekat
apabila jalan rel lurus;
2) Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di tanah timbunan diukur dari
kaki tanggul.
3) Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di dalam galian, diukur dari
puncak galian tanah atau atas serongan.
4) Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak pada tanah datar diukur dari as
jalan kereta api.
5) Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak pada belokan adalah lebih dari
23 meter diukur dari lengkung dalam sampai as jalan;
6) Garis sempadan jalan perlintasan sebidang antara jalan rel kereta api dengan jalan
raya adalah 30 meter dari as jalan rel kereta api pada titik perpotongan as jalan rel
kereta api pada titik perpotongan as jalan rel kereta api dengan as jalan raya dan
secara berangsur-angsur menuju pada jarak lebih dari 11 meter dari as jalan rel
kereta api pada titik 600 meter dari titik perpotongan as jalan kereta api dengan as
jalan raya.
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan rel kereta api
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf e berisi ketentuan mengenai:
1) pemanfaatan ruang di kawasan sempadan rel kereta api untuk ruang terbuka hijau
dan/atau ruang terbuka non hijau;
2) penyediaan prasarana dan sarana penunjang perkeretaapian;
3) pembatasan kegiatan di kawasan sempadan rel kereta api yang dapat
membahayakan penggunanya; dan
4) pemanfaatan ruang di sekitar kawasan sempadan rel kereta api dengan intensitas
sesuai peruntukan dan berdasarkan ketentuan yang berlaku. memantapkan fungsi
kawasan sempadan rel Kereta Api dengan menetapkan jarak sempadan dan
pengembangan fungsi lindung untuk kepentingan keamanan Kereta Api.

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 9


 Regulasi Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/Prt/M/2008 Tentang
Pedoman Penyediaan Dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan
Perkotaan
RTH Fungsi Tertentu
a. Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api
RTH/jalur hijau sempadan rel kereta api dapat dimanfaatkan sebagai
pengamanan terhadap jalur lalu lintas kereta api. Untuk menjaga keselamatan lalu
lintas kereta api maupun masyarakat di sekitarnya, maka jenis aktivitas yang perlu
dilakukan berkaitan dengan peranan RTH sepanjang rel kereta api adalah sebagai
berikut:
1) Memperkuat pohon melalui perawatan dari dalam, sehingga jaringan kayu
dapat tumbuh lebih banyak yang akan menjadi pohon lebih kuat;
2) Menghilangkan sumber penularan hama dan penyakit serta menghilangkan
tempat persembunyian ular dan binatang berbahaya lainnya;
3) Memperbaiki citra/penampilan pohon secara keseluruhan;
4) Membuat saluran drainase.
Penyediaan RTH pada garis sempadan jalan rel kereta api merupakan RTH
yang memiliki fungsi utama untuk membatasi interaksi antara kegiatan masyarakat
dengan jalan rel kereta api. Berkaitan dengan hal tersebut perlu dengan tegas
menentukan lebar garis sempadan jalan kereta api di kawasan perkotaan.
Kriteria garis sempadan jalan kereta api yang dapat digunakan untuk RTH
adalah sebagai berikut:
1) Garis sempadan jalan rel kereta api adalah ditetapkan dari as jalan rel terdekat
apabila jalan rel kereta api itu lurus;
2) Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di tanah timbunan diukur dari
kaki tanggul;
3) Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di dalam galian, diukur dari
puncak galian tanah atau atas serongan;
4) Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak pada tanah datar diukur dari
as jalan rel kereta api;
5) Garis sempadan jalan rel kereta api pada belokan adalah lebih dari 23 m diukur
dari lengkung dalam sampai as jalan. Dalam peralihan jalan lurus ke jalan
lengkung diluar as jalan harus ada jalur tanah yang bebas, yang secara
berangsur–angsur melebar dari jarak lebih dari 11 sampai lebih dari 23 m.
Pelebaran tersebut dimulai dalam jarak 20 m di muka lengkungan untuk
selanjutnya menyempit lagi sampai jarak lebih dari 11 m;

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 10


a) Garis sempadan jalan rel kereta api sebagaimana dimaksud pada butir 1)
tidak berlaku apabila jalan rel kereta api terletak di tanah galian yang
dalamnya 3,5 m;
b) Garis sempadan jalan perlintasan sebidang antara jalan rel kereta api
dengan jalan raya adalah 30 m dari as jalan rel kereta api pada titik
perpotongan as jalan rel kereta api dengan as jalan raya dan secara
berangsur–angsur menuju pada jarak lebih dari 11 m dari as jalan rel kereta
api pada titik 600 m dari titik perpotongan as jalan kereta api dengan as jalan
raya.

3.2 SEMPADAN REL KERETA API


Pelanggaran: Terdapat permukiman di kanan kiri rel kereta api dengan material rumah
semi permanen dan permanen dengan jarak rumah dengan rel sekitar 0-1,5 meter.
 Undang- undang no. 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian
Pasal 42
1. Ruang milik jalur kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf b
adalah bidang tanah di kiri dan di kanan ruang manfaat jalur kereta api yang
digunakan untuk pengamanan konstruksi jalan rel.
2. Ruang milik jalur kereta api di luar ruang manfaat jalur kereta api dapat
digunakan untuk keperluan lain atas izin dari pemilik jalur dengan ketentuan
tidak membahayakan konstruksi jalan rel dan fasilitas operasi kereta api.

 Dokumen penjelas Undang- undang no. 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian


Pasal 42
Ayat (1)
Batas ruang milik jalur kereta api merupakan ruang di sisi kiri dan kanan ruang
manfaat jalur kereta api yang lebarnya paling rendah 6 (enam) meter.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “untuk keperluan lain” adalah kepentingan di luar kereta
api, antara lain kepentingan pipa gas, pipa minyak, dan kabel telepon.
Pasal 45
Batas ruang pengawasan jalur kereta api merupakan ruang di sisi kiri dan kanan
ruang milik jalur kereta api yang lebarnya paling rendah 9 (sembilan) meter. Untuk
sempadan satu jalur kereta api, dapat dilihat pada ilustrasi berikut:

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 11


Gambar 3.1 Ilustrasi Lebar Minimal Jalur Kereta Api 1 Jalur
Sumber: Analisa regulasi, 2016

Gambar 3.2 Ilustrasi Jalur Kereta Api 2 Jalur


Sumber: Mrauschiha, 2016

3.3 STATUS PENEMPATAN PERMUKIMAN


Pelanggaran: Permukiman illegal yang tidak memerhatikan peraturan-peraturan
pendirian bangunan permukiman khususnya di kawasan rel kereta api. Permukiman yang
ada dapat dikatakan berstatus illegal sebab mereka menggunakan tanah milik PT. KAI
tanpa adanya sewa pada pihak PT. KAI yang termasuk ke dalam kondisi squatter.
 Regulasi Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya tahun 2010-2030
Status tanah di sepanjang rel kereta api stasiun Sidotopo merupakan tanah milik PT
KAI Daop VIII Surabaya. Status kepemilikan tanah yang memiliki jarak sekitar 20-23
meter dari titik tengah rel kereta api merupakan milik PT. KAI. Terdapat garis batas

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 12


kepemilikan tanah yang berada di bawah kewenangan PT KAI yaitu sebesar 20-23
meter.
Sehingga jika permukiman berada di dalam lingkup kawasan rel kereta api maka akan
dilakukan penertiban dikarenakan merupakan permukiman illegal. Penertiban tersebut
dilakukan untuk mengamankan aset negara yang dikelola PT KA Indonesia,
kelancaran operasional kereta dan keselamatan warga yang ada di sekitar rel.

3.4 INFRASTRUKTUR.
Pelanggaran: Kondisi infrastruktur perkertapian seperti kabel dan penanda sinyal serta
telegrap yang sangat dekat dengan permukiman warga. Selain itu ruang untuk jalur
inspeksi yang cukup sempit yang tidak sesuai dengan regulasi.
 Regulasi Rencana Detail Tata Ruang Kota UP Tanjung Perak tahun 2008-2018
Pemanfaatan sempadan rel KA yakni; 6 m untuk badan jalan rel KA, 3 m untuk untuk
taman dan pembatas, 3,5 m untuk jalan inspeksi, dan 2 m untuk sistem dan drainase.
Sempadan rel kereta api merupakan kawasan perlindungan setempat. Pada
kenyataannya kawasan yang seharusnya dilindungi dari bahaya kecelakaan serta
radiasi listrik yang dapat terjadi kini beralih fungsi sebagai kawasan terbangun.
Kawasan terbangun melanggar pemanfaatan ruang yang salah satunya dimanfaatkan
untuk pendukung sistem transportasi berupa alat-alat perlengkapan untuk kelancaran
transportasi perkeretaapian, berupa; perlindungan badan rel, kabel signal, telegrap,
kabel telepon, kabel listrik, yang membutuhkan lahan 6 m dari poros rel.
Arahan terhadap permukiman illegal yang terdapat di sempadan rel kereta api
adalah melakukan penertiban terhadap permukiman liar tersebut. Merelokasi kawasan
permukiman yang melanggar pemanfaatan sempadan rel kereta api khususnya untuk
jalan inspeksi dan sistem penanda perkeretaapian ke Rumah Susun Sewa yang
disediakan pemerintah yaitu ke Rumah Susun Tambaksari.

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 13


BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Permasalahan permukiman di sepanjang sempadan rel kereta api kawasan Stasiun
Sidotopo terbukti tidak sesuai dengan regulasi, peraturan, dan rencana tata ruang yang
sedang berlaku. Pada kenyataannya, permukiman yang mayoritas dihuni oleh migran
etnis Madura ini tidak sesuai dengan peraturan RTRW Kota Surabaya 2010-2030 dan
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/Prt/M/2008 tentang fungsi kawasan dan
status penempatan permukiman, Dokumen penjelas UU no. 23 tahun 2007 tentang
sempadan rel kereta api, dan RDTRK UP Tanjung Perak 2008-2018 tentang infrastruktur.
Daerah yang seharusnya menjadi RTH dan daerah pengawasan perkeretaapian
dialihfungsikan menjadi kawasan terbangun permukiman yang illegal dan melanggar
rencana tata ruang. Permukiman illegal tersebut berdiri diatas tanah milik PT. KAI tanpa
hak sewa dan telah berlangsung turun-temurun. Hal tersebut tentunya mengganggu
aktivitas perkeretaapian, mulai dari infrastruktur, penyediaan RTH sebagai daerah
pengamanan lalu lintas kereta api, dan menyalahi fungsi perumahan dan permukiman
sebenarnya.
Melakukan penertiban terhadap permukiman liar di sepanjang sempadan rel kereta
api kawasan Stasiun Sidotopo dan merelokasi penduduknya ke rumah susun sewa
Tambaksari milik pemerintah adalah salah satu solusi yang dapat ditawarkan. Dengan
begitu, diharapkan daerah sempadan rel kereta api yang mengalami alih fungsi lahan
dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan penduduk kawasan sempadan rel kereta api
dapat memeroleh tempat tinggal yang layak dan sesuai dengan fungsi perumahan dan
permukiman yang sesungguhnya.

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 14


TINJAUAN PUSTAKA

MRAA-UCHIHA Official Website. 2014. Lokomotif Indonesia. http://mraa-


uchiha.weebly.com/gta-sa-mod/lokomotif-indonesia-indonesian-locomotive-gta-san-
andreas (26,5,2016)
Stezen, Adrenal. 2012. Efektivitas Pasal 178 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang
Lararangan Mendirikan Permukiman Liar di Sempadan Rel Kereta Api (Studi Di Pt
Kereta Api Indonesia Kota Malang). Tidak Dipublikasikan
Wirotomo, Paulus. 1996. Analisis dan Evaluasi Hukum tertulis tentang Tata Cara Pemugaran
Permukiman Kumuh/Perkotaan. Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen
Kehakiman RI: Jakarta.

Peraturan Perundang-undangan:
Dokumen penjelas UU no. 23 tahun 2007 tentang Perkertaapian pasal 42
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/Prt/M/2008 Tentang Pedoman Penyediaan
Dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan Perkotaan
Rencana Detail Tata Ruang Kawasan UP Tanjung Perak 2008-2018
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya tahun 2010-2030
Undang-undang Nomor 23 tahun 2007 Tentang Perkeretaapian
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 15


HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN 16