Anda di halaman 1dari 35

Kasus di Duga Keracunan Gas pada Sepasang Suami Istri

Herlin Indah Bangalino


102014022 / D1
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6, Jakarta 11510
Alamat korespondensi email: herlin.2014fk022@civitas.ukrida.ic.id

Skenario

Suatu hari Anda didatangi penyidik dan diminta untuk membantu mereka dalam
memeriksa suatu tempat kejadian perkara (TKP). Menurut penyidik, TKP adalah sebuah rumah
yang cukup besar milik seorang pengusaha perkayuan yang terlihat sukses. Tadi pagi si
pengusaha dan isterinya ditemukan meninggal dunia di dalam kamarnya yang terkunci di
dalam. Anaknya yang pertama kali mencurigai hal itu (pukul 08.00) karena si ayah yang
biasanya bangun untuk lari pagi, hari ini belum keluar dari kamarnya. Ia bersama dengan pak
ketua RT melaporkannya ke polisi.

Penyidik telah membuka kamar tersebut dan menemukan kedua orang tersebut tiduran
di tempat tidurnya dan dalam keadaan mati. Tidak ada tanda-tanda perkelahian di ruang
tersebut, segalanya masih tertata rapi sebagaimana biasanya, tutur anaknya. Dari pengamatan
sementara tidak ditemukan luka-luka pada kedua mayat dan tidak ada barang yang hilang.
Salah seorang penyidik ditelpon oleh petugas asuransi bahwa ia telah dihubungi oleh anak si
pengusaha berkaitan dengan kemungkinan klaim asuransi jiwa pengusaha tersebut.

Rumusan Masalah

Sepasang suami-istri ditemukan meninggal di dalam kamarnya yang terkunci dari


dalam.

Aspek Hukum

 Pasal 338 KUHP


Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena
pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
 Pasal 339 KUHP
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang
dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya,
atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal
tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya
secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama
waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.
 Pasal 340 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang
lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana
penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.
 Pasal 351 KUHP
1. Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan
bulan atau pidana denda paling banyak 4500 rupiah.
2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan
pidana penjara paling lama 5 tahun.
3. Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh
tahun.
4. Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
5. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
 Pasal 352 KUHP
1. Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak
menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau
pencarian, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling
lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan itu
terhadap orang yang bekerja padanya atau menjadi bawahannya.
2. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
 Pasal 353 KUHP
1. Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan pidana penjara
paling lama 4 tahun.
2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana
penjara paling lama tujuh tahun.
3. Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian yang bersalah diancam dengan
pidana penjara paling lama 9 tahun.
 Pasal 354 KUHP
1. Barang siapa sengaja melukai berat orang lain, diancam, karena melakukan
penganiayaan berat, dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan
pidana penjara paling lama sepuluh tahun.
 Pasal 355 KUHP
1. Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu, diancam
dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
2. Jika perbuatan mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam pidana penjara
paling lama 15 tahun.
 Pasal 356 KUHP
Pidana yang ditentukan dalam pasal 351, 353, 354 dan 355 dapat ditambah dengan
sepertiga:
1. Bagi yang melakukan kejahatan itu terhadap ibunya, bapaknya, menurut
undang-undang, isterinya atau anaknya;
2. Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang pejabat ketika atau karena men
jalankan tugasnya yang sah
3. Jika kejahatan dilakukan dengan memberikan bahan yang berbahaya bagi
nyawa atau kesehatan untuk dimakan atau diminum.1

Medikolegal

Dalam membantu proses penyelidikan suatu kasus kadang kala diperlukan bantuan dari
tenaga ahli di antaranya adalah dokter. Dokter diminta untuk membantu dalam pemeriksaan
kedokteran forensik oleh penyidik dan diharapkan dapat menemukan kelainan yang terjadi
pada tubuh korban, menjelaskan penyebab kematian, memperkirakan saat kematian dan
perkiraan cara kematian. Kewajiban dokter untuk membuat keterangan ahli telah diatur dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yaitu :

 Pasal 133
1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban
baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang
merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan
ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah
sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap
mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan
diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan
mayat.
 Pasal 134
1. Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat
tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu
kepada keluarga korban.
2. Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan
sejelasjelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan
tersebut.
3. Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau
pihak yang diberi tahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.

Penjelasan Pasal 133 KUHAP- Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran
kehakiman disebut keterangan ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan
ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan.

 Pasal 179
1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2. Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang
sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.

Bentuk Bantuan Dokter Bagi Peradilan Dan Manfaatnya

 Pasal 183
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu
tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.
 Pasal 184
1. Alat bukti yang sah ialah:
 Keterangan saksi;
 Keterangan ahli;
 Surat;
 Petunjuk;
 Keterangan terdakwa.
2. Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
 Pasal 185
1. Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang
pengadilan.
2. Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa
bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya.
3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku apabila disertai
dengan suatu alat bukti yang sah lainnya.
4. Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau
keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan saksi
itu ada hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa, sehingga dapat
membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu.
5. Baik pendapat maupun rekaan, yang diperoleh dari hasil pemikiran saja, bukan
merupakan keterangan saksi
6. Dalam menilai kebenaran keterangan seorang saksi, hakim harus dengan sungguh-
sungguh memperhatikan
a. Persesuaian antara keterangan saksi satu dengan yang lain;
b. Persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain;
c. Alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberi keterangan
yang tertentu;
d. Cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya
dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya.
7. Keterangan dari saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan yang lain
tidak merupakan alat bukti namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan
dari saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang
lain.
 Pasal 186
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
 Pasal 187
Surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan
atau dikuatkan dengan sumpah, adalah:
1. Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang
berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang
kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai
dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu;
2. Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat
yang dibuat oleh pejabat mengenal hal yang termasuk dalam tata laksana yang
menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal
atau sesuatu keadaan;
3. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya
mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dan padanya;
4. Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat
pembuktian yang lain.

Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter

 Pasal 216
1. Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu,
atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk
mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan
sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna
menjalankan ketentuan undang- undang yang dilakukan oleh salah seorang pejabat
tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau
pidana denda puling banyak sembilan ribu rupiah.
2. Disamakan dengan pejahat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas
menjalankan jabatan umum.
3. Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya
pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka
pidananya dapat ditambah sepertiga.
 Pasal 222
Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat forensik, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan
bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
 Pasal 224
Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang
dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus
dipenuhinya, diancam:
1. Dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan;
2. Dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama enam bulan.
 Pasal 522
Barang siapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa,
tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak
sembilan ratus rupiah.1

Prosedur medikolegal :
1. Penemuan dan pelaporan
 Dilakukan oleh warga masyarakat yang melihat, mengetahui, atau
mengalami suatu kejadian yang diduga merupakan suatu tindakan
pidana.
 Pelaporan dilakukan ke pihak yang berwajib, dalam hal ini
kepolisian RI.
2. Penyelidikan
 Dilakukan oleh penyidik
 Penyelidik adalah setiap pejabat polisi negara RI (pasal 4 KUHAP)
 Menindak-lanjuti suatu pelaporan, untuk mengetahui apakah benar
ada kejadian seperti yang dilaporkan.
3. Penyidikan
 Dilakukan oleh penyidik
 Penyidik adalah (pasal 6 KUHAP)
o Pejabat polisi negara RI
o Pejabat pegawai negri sipil tertentu yang diberi wewenang
khusus oleh undang-undang.
 Tindak lanjut setelah diketahui benar-benar telah terjadi suatu
kejadian.
o Penyidik dapat meminta bantuan seorang ahli
o Dalam hal mengenai kejadian mengenai tubuh manusia,
maka penyidik dapat meminta bantuan dokter untuk
dilakukan penanganan secara kedokteran forensik.
4. Pemberkasan perkara
 Dilakukan oleh penyidik, menghimpun semua hasil penyidikannya,
termasuk hasil pemeriksaan kedokteran forensik yang dimintakan
kepada dokter.
 Hasil berkas perkara ini diteruskan ke penuntut umum.
5. Penuntutan
 Dilakukan oleh penuntut umum disidang pengadilan setelah berkas
perkara lengkap diajukan ke pengadilan
6. Persidangan
 Pengadilan dipimpin oleh hakim atau majelis hakim
 Dilakukan pemeriksaan terhadap terdakwa, para saksi dan para ahli,
disini dokter dapat dihadirkan di persidangan pengadilan untuk
bertindak selaku saksi ahli atau selaku dokter pemeriksa.
7. Putusan pengadilan
 Vonis ditentukan oleh hakim dengan ketentuan :
o Keyakinan pada diri hakim bahwa memang telah terjadi
suatu tindak pidana dan bahwa terdakwa telah bersalah
melakukan tindak pidana tersebut
o Keyakinan hakim harus ditunjang oleh sekurang-kurangnya
dua alat bukti yang sah.2

Tanatologi
Berdasarkan pemeriksaan ditemukan korban mati somatic (mati klinis) dengan ciri
terhentinya fungsi ketiga system penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, system
kardiovaskuler, dan system pernapasan, yang menetap. Secara klinis tidak ditemukan
reflexrefleks, EEG mendatar, nadi tidak teraba, denyut tidak terdengar, tidak ada gerak
pernapasan dan suara napas tidak terdengar pada auskultasi.

1. Tanda kematian tidak pasti: 3,4


 Pernafasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi).
 Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba.
 Kulit pucat, tetapi bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya, karena mungkin
terjadi spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan.
 Tonus otot menghilang dan relaksasi. Relaksasi dan otot-otot wajah menyebabkan kulit
menimbul sehingga kadang-kadang membuat orang menjadi tampak lebih muda.
Kelemasan otot sesaat setelah kematian disebut relaksasi primer. Hal ini
mengakibatkan pendataran daerah-daerah yang tartekan, misalnya daerah belikat dan
bokong pada mayat yang terlentang.
 Pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa menit setelah kematian.
Segmensegmen tersebut bergerak ke arah tepi retina dan kemudian menetap.
 Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat
dihilangkan dengan meneteskan air.
2. Tanda pasti kematian:
 Lebam mayat (livor mortis)

Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya
gravitasi, mengisi vena dan venula membentuk bercak darah berwarna ungu (livide) pada
bagian terbawah tubuh kecuali bagian tubuh yang tertekan alas keras. Darah tetap cair karena
adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal dari endotel pembuluh darah. Lebam mayat biasanya
mulai tampak pada 20-30 menit pascamati, makin lama intensitasnya bertambah dan menjadi
lengkap dan menetap setelah 8-12 jam. Sebelum waktu ini, lebam mayat masih hilang
(memucat) pada penekanan dan dapat berpindah jika posisinya diubah. Memucatnya lebam
mayat akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila penekanan atau perubahan posisi tubuh
tersebut dilakukan dalam 6 jam pertama setelah mati klinis. Tetapi walaupun setelah 24 jam,
darah masih tetap cukup cair sehingga sejumlah darah masih dapat mengalir dan membentuk
lebam mayat di tempat terendah yang baru. Kadang dijumpai bercak perdarahan berwarna biru
kehitaman akibat pecahnya pembuluh darah. Menetap nya lebam disebabkan oleh
bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi. Selain
itu kekauan otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit perpindahan tersebut. Lebam
mayat dapat digunakan untuk tanda pasti kematian ; memperkirakan sebab kematian, misalnya
lebam berwar namerah terang pada keracunan CO atau CN, warna kecoklatan pada keracunan
anililn, nitrit, nitrat, sulfonal ; mengetahui perubahan posisi mayat yang dilakukan setelah
terjadi lebam mayat yang menetap ; dan memperkirakan saat kematian. Apabila pada mayat
terlentang yang telah timbul lebam mayat belum menetap dilakukan perubahan posisi menjadi
telungkup, maka setelah beberapa saat akan terbentuk lebam mayat baru di daerah perut dan
dada. Lebam mayat yang belum menetap atau masih hilang pada penekanan menunjukkan saat
kematian kurang dari 8-12 jam sebelum saat pemeriksaan. Mengingat pada lebam mayat darah
terdapat didalam pembuluh darah, maka keadaan ini digunakan untuk membedakannya dengan
resapan darah akibat trauma (ekstravasi). Bila pada daerah tersebut dilakukan irisan dan
kemudian disiram dengan air, maka warna merah darah akan hilang atau pudar pada lebam
mayat, sedangkan resapan darah tidak menghilang.

 Kaku Mayat (rigor mortis).

Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena metabolisme tingkat


seluler masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasikan energi.
Energi ini digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP maka
serabut aktin dan miosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis, maka energi
tidak terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku. Kaku mayat
dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai tampak kira-kira 2 jam setelah
mati kilnis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) kearah dalam (sentripetal). Teori
lama menyebutkan bahwa kaku mayat ini menjalar kraniokaudal. Setelahmatiklinis 12 jam
kaku mayat menjadi lengkap, dipertahankan selama 12 jam dan kemudian menghilang dalam
urutan yang sama. Kaku mayat umumnya tidak disertai pemendekan serabut otot, tetapi jika
sebelum terjadi kaku mayat otot berada dalam posisi teregang, maka saat kaku mayat terbentuk
akan terjadi pemendekan otot.

Faktor-faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktivtas fisik sebelum
mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-otot kecil dan suhu lingkungan
tinggi. Kaku mayat dapat dipergunakan untuk menunjukkan tanda pasti kematian dan
memperkirakan saat kematian. Hal-hal yang perlu dibedakan dengan rigor mortis atau kaku
jenazah adalah:

 Cadaveric Spasmus, yaitu kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap
sesudah kematian akibat hilangnya ATP lokal saat mati karena kelelahan atau emosi
yang hebat sesaat sebelum mati.
 Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein karena panas sehingga
serabut otot memendek dan terjadi fleksii sendi. Misalnya pada mayat yang tersimpan
dalam ruangan dengan pemanas ruangan dalam waktu yang lama.
 Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan yang dingin sehingga terjadi
pembekuan cairan tubuh dan pemadatan jaringan lemak subkutan sampai otot.

 Penurunan Suhu Tubuh (algor mortis)

Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu benda ke
benda yang lebih dingin, melalul cara radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi. Grafik
penurunan suhu tubuh ini hampir berbentuk kurva sigmoid atau seperti huruf S. Kecepatan
penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran dan kelembaban udara, bentuk tubuh,
posisi tubuh, pakaian. Selain itu suhu saat mati perlu diketahul untuk perhitungan perkiraan
saat kematian. Penurunan suhu tubuh akan lebih cepat pada suhu keliling yang rendah,
lingkungan berangin dengan kelembaban rendah, tubuh yang kurus, posisi terlentang, tidak
berpakaian atau berpakaian tipis, dan pada umumnya orang tua serta anak kecil. Tanda
kematian pasti yang dapat digunakan untuk menentukan saat kematian.

Pemeriksaan Medis
Dalam kasus ini dapat kita lakukan beberapa pemeriksaan seperti pemeriksaan luar jenasah,
dalam jenasah, maupun pemeriksaan laboratorium untuk membantu proses penyelidikan.

Pemeriksaan Luar
Pada pemeriksaan luar dapat meliputi pemeriksaan label, benda-benda disamping mayat,
pakaian, ciri-ciri identitas fisik, ciri-ciri tanatologis, perlukaan yang terjadi pada mayat, serta
ada tidaknya patah tulang. Berikut sistematika pemeriksaannya adalah:
1) Label mayat
Sehelai karton yang diikatkan pada ibu jari kaki serta penyegelan pada tali pengikat
untuk menjaga keaslian barang bukti. Serta untuk menjaga agar mayat tidak
tertukar saat diambil oleh keluarga.
2) Tutup mayat dan bungkus mayat
Mayat sering kali dibawa dalam keadaan ditutupi atau terbungkus. Penutup mayat
atau bungkusan harus dicatat jenis dan bahannya, warna corak serta bahan yang
melekat atau yang mengotori.
3) Pakaian
Pakaian yang dipakai harus dicatat dengan teliti dari bagian tubh sebelah atas
hingga kebawah. Pencatatan meliputi bahan, warna dasar corak dari tekstil, bentuk
dan model pakaian, ukuran, merk, cap binatu, bila terdapat pengotoran atau
robekan pada pakaian maka harus dicatat ukuran dan letaknya.
4) Perhiasan
Semua perhiasan yang dipakai oleh korban harus dicatat, warna bentuk, ukuran
merk sebagai barang bukti.
5) Benda disamping mayat
Kadang-kadang mayat dikirim berserta barang yang adda disampingnya, semua
barang yang ada dicatat dengan teliti dan lengkap
6) Tanda kematian
Tanda kematian diperiksa berdasarkan perubahan Tanatologi (dibahas terpisah)
7) Identifikasi umum
Meliputi jenis kelamin, ras, umur, warna kulit, tinggi dan berat badan, keadaan
kelamin yang di sikumsisi dan adany strie pada dinding perut
8) Identifikasi khusus
Meliputi adanya tanda-tanda khusus dari korban seperti tattoo, jaringan parut,
kapalan (callus), kelainan pada kulit dan anomaly dan cacat pada tubuh lainnya.
9) Pemeriksaan rambut
Diantara jaringan-jaringan tubuh yang mungkin ditemukan dan merupakn bukti
penting dalam kasus kejahatan, rambut mempunyai peranan yang cukup menonjol.
Disamping jaringan keras seperti tulang, gigi, dan kuku, rambut juga bersifat sangat
stabil terhadap temperatur lingkungan dan pembusukan. Nilai bukti dari rambut
akan bertambah pada asus yang tidak ditemukan bukti-bukti lain atau bukti-bukti
lainnya telah rusak. Pemeriksaan rambut berguna dalam bidang forensik utnuk
membantu penentuan identitas seseorang, menunjukan keterkaitan antara
seseorang yang dicurigai dengan suatu peristiwa kejahatan tertentu, antara korban
dengan senjata atau antara korban dengan kendaraan yang dicurigai. Pemeriksaan
laboratorium terhadap rambut meliputi pemeriksaan makroskopis dan
mikroskopik.
10) Pemeriksaan mata
Periksa kelopak apakah tertutup atau terbuka, ada tidaknya tanda-tanda kekerasan
serta kelaianan lain yang timbul oleh penyakit atau sebagainya. Pemeriksaan
kelopak mata.
11) Pemeriksaan daun telinga dan hidung
Pemeriksaan meliputi pencatatan terhadap bentuk dari daun telinga dan hidung,
terutama pada mayat dengan bentuk yang luar biasa karena hal ini mungkin dapat
membantu dalam identifikasi. Catat pula kelainan serta tanda kekerasan yang
ditemukan. Periksa apakah dari lubang telinga dan hidung keluar cairan / darah.
12) Pemeriksaan mulut dan rongga mulut
Pemeriksaan meliputi bibir, lidah, rongga mulut serta gigi geligi. Catat kelaiann
atau tanda kekerasan yang ditemukan. Periksa dengan teliti keadaan rongga mulut
akan kemungkinan terdapatnya benda asing. Terhadap gigi geligi, pencataan harus
dilakukan selengkap-lengkapnya meliputi jumlah gigi yang terdapat, gigi geligi
yang hilang/patah/mendapat tambalan/ bungkus logam, gigi palsu, kelainan letak,
pewarnaan dan sebagainya. Data gigi geligi merupakan data yang sangat berguna
untuk identifikasi bila terdapat data pembanding. Perlu diingat bahwa gigi geligi
adalah bagian tubuh yang paling keras dan tahan terhadap kerusakan.
13) Pemeriksaa alat kelamin dan anus
Pada mayat laki-laki, catat apakah alat kelamin mengalami sirkumsisi. Catat
kelainan bawaan yang mungkin ditemukan (epispadia, hypospadia phymosis),
serta kelainan yang ditimbulkan cairan dari lubang kemaluan serta kelainan yang
ditimbulkan oleh penyakit atau sebab lain.
Pada dugaan telah terjadinya suatu persetubuhan beberapa saat, dapat diambil
preparat tekan menggunakan kaca objek yang ditekankan pada daerah glans atau
corona glandis yang kemudian dapat dilakukan pemeriksaan terhadap adanya sel
epitel vagina menggunakan teknik laboratorium tertentu. Pada mayat wania periksa
keadaan selaput dara dan komisur posterior akan memungkinkan adanya tanda
kekerasan. Pada kasus persangkaan telah melakukan persetubuhan beberapa saat
sebelumnya, jangan lupa dilakuakn pemeriksaan laboratorium terhadap
cairan/sekret liang sanggama. Pada mayat yang sering mendapat perlakuan sodomi,
mungkin ditemukan anus berbentuk corong yang selaput lendirnya sebagian
berubah menjadi lapisan bertanduk dan hilang rugaenya.
14) Pemeriksaan tanda-tanda kekerasan
Pada pemeriksaan terhadap tanda kekerasan /luka, perlu dilakukan pencatatan yang
teliti dan objektif terhadap : letak luka, jenis luka, bentuk luka, arah luka, tepi luka,
sudut luka, dasar luka, sekitar luka, ukuran luka, saluran luka, pada luka lecet jenis
parut, pemeriksaan teliti terhadap permukaan luka terhadap pola penumpukan kulit
ari yang terserut dapat mengungkapkan arah kekerasan yang menyebabkan luka
tersebut.
15) Pemeriksaan kemungkinan patah tulang
Tentukan letak patah tulang yang ditemukan serta catat sifat/jenis masing-masing
patah tulang yang terdapat.
16) Pemeriksaan air liur
Dalam bidang kedokteran forensik pemeriksaan air lir penting untuk kasus-kasus
dengan jejas gigitan untuk menentukan golongan darah penggigitnya. Dalam kasus
ini harus diperiksa dulu pada mayat apakah ada bekas gigitan atau tidak jika ada
baru lakukan pemeriksaan liur pada jejas yang biasanya ditimbulkan dari gigitan
tersebut.
17) Lain-lain
Perlu diperhatikan aan kemungkinan adanya:
a. Tanda pembendungan, ikterus, warna kebiru-biruan pada kuku/ujung-ujung jari
(pada sianosis) atau adanya edema/sembab.
b. Bekas pengobatan berupa bekas kerokan, tracheotomi, suntikan pungsi lumbal, dan
lain-lain.
c. Terdapatnya bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh, kepingan atau
serpihan cat, pecahan kaca, lumuran aspal dan lain-lain.

Pemeriksaan Dalam (Organ/Alat)

Pemeriksaan organ/alat tubuh biasanya dimulai dari lidah, oesofagus, trakea dan
seterusnya sampai meliputi seluruh alat tubuh. Otak biasanya diperiksa terakhir.

1. Lidah
Pada lidah, perhatikan permukaan lidah, adakah kelainan bekas gigitan, baik yang
baru maupun yang lama. Bekas gigitan yang berulang dapat ditemukan pada
penderita epilepsy. Bekas gigitan ini dapat pula terlihat pada penampang lidah.
Pengirisan lidah sebaiknya tidak sampai teriris putus, agar setelah selesai autopsy,
mayat masih tampak berlidah utuh.

2. Tonsil
Perhatikan permukaan maupun penampang tonsil, adakah selaput, gambaran
infeksi, nanah dan sebagainya. Ditemukannya tonsilektomi kadang-kadang
membantu dalam identifikasi.

3. Kelenjar Gondok
Untuk melihat kelenjar gondok dengan baik, otot-otot leher terlebih dahulu
dilepaskan dari perlekatannya disebelah belakang. Dengan pinset bergigi pada
tangan kiri, ujung bawah otot-otot leher dijepit dan sedikit diangkat, dengan gunting
pada tangan kanan, otot leher dibebaskan dari bagian posterior. Setelah otot leher
ini terangkat, maka kelenjar gondok akan tampak jelas dan dapat dilepaskan dari
perlekatannya dari rawan gondok dan trakea. Perhatikan ukuran dan beratnya.
Periksa apakah permukaannya rata, catat warnanya, adakah perdarahan berbintik
atau resapan darah. Lakukan pengirisan dibagian lateral pada kedua bagian kelenjar
gondok dan catat perangai penampang kelenjar ini.

4. Kerongkongan (Oesophagus)
Oesophagus dibuka dengan jalan menggunting sepanjang dinding belakang.
Perhatikan adanya benda benda asing, keadaan selaput lender serta kelainan yang
mungkin ditemukan (misalnya striktura atau varises).

5. Batang tenggorok (Trachea)


Pemeriksaan dimulai pada mulut atas batang tenggorok, dimulai pada epiglottis.
Perhatikan adakah edema, benda asing, perdarahan dan kelainan lain. Perhatikan
pula pita suara dan kotak suara. Pembukaan trakea dilakukan dengan melakukan
pengguntingan dinding belakang (bagian jaringan ikat pada cincin trakea) sampai
mencapai cabang bronkus kanan dan kiri. Perhatikan adanya benda asing, busa,
darah, serta keadaan selaput lendirnya.
6. Tulang Lidah (Os hyoid), Rawan Gondok (Cartilago thyroidea) dan Rawan Cincin
(Cartilago cricoidea)

Tulang lidah kadang ditemukan patah unilateral pada kasus pencekikan. Tulang
lidah terlebih dahulu dilepaskan dari jaringan sekitarnya dengan menggunakan
pinset dan gunting. Perhatikan adanya patah tulang, resapan darah. Rawan gondok
dan rawan cincin sering kali juga menunjukan resapan darah pada kasus dengan
kekerasan pada daerah leher (pencekikan, penjeratan, gantung).

7. Arteria Carotis Interna


Arteria carotis communis dan interna biasanya tertinggal melekat pada permukaan
depan ruas tulang leher. Perhatikan adanya tanda kekerasan pada sekitar arteria ini.
Buka pula arteria ini dengan menggunting dinding depannya dan perhatikan
keadaan intima. Bila kekerasan daerah leher mengenai arterian ini, kadang-kadang
dapat ditemukan kerusakan pada intima disamping terdapatnya resapan darah.

8. Kelenjar Kacangan (Thymus)


Thymus biasanya telah berganti menjadi thymic fat body pada orang dewasa, namun
kadang-kadang masih dapat ditemukan (pada status thymicolymphaticus). Kelenjar
kacangan terdapat melekat disebelah atas kandung jantung. Pada permukaannya
perhatikan akan adanya perdarahan berbintik serta kemungkinan adanya kelainan
lain.

9. Paru-paru
Kedua paru masing-masing diperiksa tersendiri. Tentukan permukaan paru-paru.
Pada paru yang mengalami emfisema, dapat ditemukan cekungan bekas penekanan
iga. Perhatikan warnanya, serta bintik perdarahan, bercak perdarahan, akibat
aspirasi darah kedalam alveoli (tampak pada permukaan paru sebagai bercak
berwarna merah-hitam dangan batas tegas), resapan darah, luka, bulla dan
sebagainya. Perabaan paru yang normal terasa seperti meraba spons/ karet busa.
Pada paru dengan proses peradangan perabaan dapat menjadi padat atau keras.
Penampang paru diperiksa setelah melakukan pengirisan paru yang dimulai dari
apex sampai ke basal, dengan tangan kiri memegang paru pada daerah hilus. Pada
penampang paru ditentukan warnanya serta dicatat kelainan yang mungkin
ditemukan.
10. Jantung
Jantung dilepaskan dari pembuluh darah besar yang keluar/masuk ke jantung
dengan jalan memegang apex jantung dan mengangkatnya serta menggunting
pembuluh tadi sejauh mungkin dari jantung. Perhatikan besarnya jantung,
bandingkan dengan kepala tinju kanan mayat. Perhatikan akan adanya resapan
darah, luka atau bintik-bintik perdarahan. Pada autopsi jantung, ikuti sistematika
pemotongan dinding jantung yang dilakukan dengan mengikuti aliran darah di
dalam jantung: pengguntingan dinding belakang vena cava, irisan kearah lateral
bilik kanan, penguntingan dinding depan bilik kanan kearah a. pulmonalis,
pembukaan vv. pulmonalis, irisan kearah lateral bilik kiri dan pengguntingan
dinding depan bilik kiri kearah aorta.
Septum jantung dibelah untuk melihat kelainan otot, baik kelainan yang bersifat
degenerative maupun kelainan bawaan. Nilai pengukuran pada jantung normal
orang dewasa adalah sebagai berikut. Ukuran jantung sebesar kepalan tangan kanan
mayat, berat sekitar 300gr, ukuran lingkaran katup serambi bilik kanan sekitar 11
cm, kiri 9,5 cm, lingkar katup pulmonal sekitar 7 cm, dan aorta 6.5 cm. tebal otot
bilik kanan 3-5 mm sedangkan yang kiri 14 mm.

11. Aorta thoracalis


Pengguntingan pada dinding belakang aorta thoracalis dapat memperlihatkan
permukaan dalam aorta. Perhatikan kemungkinan terdapatnya deposit kapur,
ateroma atau pembentukan aneurisma. Kadang-kadang pada aorta dapat ditemukan
tanda-tanda kekerasan merupakan resapan darah atau luka. Pada kasus kematian
bunuh diri dengan jalan menjatuhkan diri dari tempat tinggi. Bila korban mendarat
dengan kedua kaki terlebih dahulu. Seringkali ditemukan robekan melintang pada
aorta thoracalis.

12. Aorta abdominalis


Bloc organ perut dan panggul diletakkan diatas meja potong dengan permukaan
belakang menghadap ke atas. Aorta abdominalis digunting dinding belakangnya
mulai dari tempat pemotongan aa.iliaca communis kanan dan kiri. Perhatikan
dinding aorta terhadap adanya penimbunan, pekapuran, atau atheroma. Perhatikan
pula muara dari pembuluh nadi yang keluar dari aorta abdominalis ini, terutama
muara aa.renalis kanan dan kiri dibuka sampai memasuki ginjal. Perhatikan apakah
terdapat kelainan pada dinding pembuluh darah yang mungkin merupakan dasar
dideritanya hipertensi renal bagi yang bersangkutan.

13. Anak Ginjal (Glandula suprarenalis)

Kedua anak ginjal harus dicari terlebih dahulu sebelum dilakukan pemeriksaan
lanjut pada blok alat rongga perut dan panggul. Hal ini perlu diperhatikan karena
bila telah dilakukan pemeriksaan atau telah dilakukan pemisahan alat rongga perut
dan panggul, anak ginjal sulit untuk ditemukan.

Anak ginjal kanan terletak dibagian mediokranial dari kutub atas ginjal kanan,
tertutup oleh jaringan lemak, berada antara permukaan belakang hati dan
permukaan bawah diafragma. Anak ginjal kemudian dibebaskan dari jaringan
sekitarnya dan diperiksa terhadap kemungkinan adanya kelainan ukuran, resapan
darah dan sebagainya. Anak ginjal kiri terletak dibagian medio-kranial kiri kutub
atas ginjal kiri, juga tertutup dalam jaringan lemak, terletak antara ekor kelenjar liur
perut (pankreas) dan diafragma. Pada anak ginjal yang normal, pengguntingan anak
ginjal akan memberikan penampang dengan bagian korteks dan medula yang
tampak jelas.

14. Ginjal, Ureter dan Kandung Kencing

Adanya trauma yang mengenai daerah ginjal seringkali menyebabkan resapan


darah pada capsula. Dengan melakukan pengirisan di bagian lateral kapsula, ginjal
dapat dilepaskan. Pada ginjal yang mengalami peradangan, simpai ginjal mungkin
akan melekat erat dan sulit dilepaskan. Setelah simpai ginjal dilepaskan, lakukan
terlebih dahulu pemeriksaan terhadap permukaan ginjal. Adakah kelainan berupa
resapan darah, luka-luka ataupun kista-kista retensi. Pada penampang ginjal,
perhatikan gambaran korteks dan medula spinalis. Juga perhatikan pelvis renalis
akan kemungkinan terdapatnya batu ginjal, tanda peradangan, nanah dan
sebagainya. Ureter dibuka dengan meneruskan pembukaan pada pelvis renalis,
terus mencapai vesika urinaria. Perhatikan kemungkinan terdapatnya batu, ukuran
penampang, isi saluran serta keadaan mukosa. Kandung kencing dibuka dengan
jalan menggunting dinding depannya mengikuti bentuk huruf T. Perhatikan isi serta
selaput lendirnya.

15. Hati dan Kandung Empedu

Pemeriksaan dilakukan terhadap permukaan hati, yang pada keadaan biasa


menunjukkan permukaan yang rata dan licin, berwarna merah-coklat. Kadangkala
pada permukaan hati dapat ditemukan kelainan berupa jaringan ikat, kista kecil,
permukaan yang berbenjol-benjol, bahkan abses. Pada perabaan, hati normal
memberikan perabaan yang kenyal. Tepi hati biasanya tajam. Hati yang normal
menunjukkan penampang yang jelas gambaran hatinya. Padahati yang telah lama
mengalami perbendungan dapat ditemukan gambaran hati pula.Kandung empedu
diperiksa ukurannya serta dirabaakan kemungkinan terdapatnya batu empedu.
Untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan pada saluran empedu, dapat dilakukan
pemeriksaan dengan jalan menekan kandung empedu ini sambil memperhatikan
muaranya pada duodenum (papilla vateri). Bila tampak cairan coklat-hijau keluar
dari muara tersebut, ini menandakan saluran empedu tidak tersumbat.

16. Limpa dan Kelenjar Getah Bening

Limpa dilepaskan dari sekitarnya. Limpa yang normal menunjukkan permukaan


yang berkeriput, berwarna ungu dengan perabaan lunak kenyal. Buatlah irisan
penampang limpa, limpa normal mempunyai gambaran limpa yang jelas, berwarna
coklat-merah dan bila dikikis dengan punggung pisau, akan ikut jaringan
penampang limpa. Jangan lupa mencatat ukuran dan berat limpa.Catat pula bila
ditemukan kelenjar getah bening regional yang membesar.

17. Lambung, Usus Halus dan Usus Besar

Lambung dibuka dengan gunting curvatura mayor. Perhatikan isi lambung dan
simpan dalam botol atau kantong plastik bersih bila isi lambung ingin diperlukan
untuk pemeriksaan toksikologik atau pemeriksaan laboratorik lainnya. Selaput
lendir lambung diperiksa terhadap kemungkinan adanya erosi, ulserasi,
perdarahan/resapan darah.Usus diperiksa akan kemungkinan terdapat darah dalam
lumen serta kemungkinan terdapat darah dalam lumen serta kemungkinan
terdapatnya kelainan bersifat ulseratif, polip dan lain-lain.

18. Kelenjar Liur Perut (Pancreas)

Pertama-tama lepaskan lebih dahulu kelenjar liur perut ini dari sekitarnya. Kelenjar
liur perut yang normal menunjukkan warna kelabu agak kekuningan, dengan
permukaan yang berbelah-belah dan perabaan yang kenyal. Perhatikan ukuran dan
beratnya. Cata bila ada kelainan.

19. Otak Besar, Otak kecil dan Batang Otak

Perhatikan permukaan luar dari otak dan cacat kelainan yang ditemukan. Adakah
perdarahan subdural, perdarahan subarakhnoid, kontusio jaringan otak atau
kadangkala bahkan sampai terjadi laserasi. Pada oedema cerebri, gyrus otak akan
tampak mendasar dan sulkus tampak menyempit. Perhatikan pula kemungkinan
terdapatnya tanda penekanan yang menyebabkan sebagian permukaan otak menjadi
datar. Pada daerah ventrak otak, perhatikan keadaan sirkulus Willisi. Nilai keadaan
pembuluh darah pada sirkulus, adakah penebalan dinding akibat kelainan ateroma,
adakah penipisan dinding akibat aneurysma, adakah perdarahan. Bila terdapat
perdarahan hebat, usahakan agar dapat ditemukan sumber perdarahan tersebut.
Perhatikan pula bentuk serebelum. Pada keadaan peningkatan tekanan intrakranial
akibat edema serebri misalnya, dapat terjadi herniasi serebellum ke arah foramen
magnum, sehingga bagian bawah serebellum tampak menonjol. Pisahkan otak kecil
dan otak besar dengan melakukan pemotongan pada pedunculus serebri kanan dan
kiri. Otak kecil ini kemudian dipisahkan juga dari batang otak dengan melakukan
pemotongan pada pedunculus serebelli. Otak besar diletakkan dengan bagian
ventral menghadap pemeriksa. Lakukan pemotongan otak besar secara
koronal/melintang, perhatikan penampang irisan.

20. Alat kelamin dalam (Genitalia Interna)

Pada mayat laki-laki, testis dapat dikeluarkan dari scrotum melalui rongga perut..
Perhatikan pula bentuk dan ukuran epididimis. Kelenjar prostat diperhatikan ukuran
dan konsistensinya. Pada mayat wanita, perhatikan bentuk serta ukuran kedua
indung telur, saluran telur dan uterus sendiri. Pada uterus diperhatikan
kemungkinan terdapatnya perdarahan, resapan darah ataupun luka akibat tindakan
abortus provokatus. Uterus dibuka dengan membuat irisan berbentuk huruf T pada
dinding depan melalui saluran serviks serta muara kedua saluran telur pada fundus
uteri. Perhatikan keadaan selaput lendir uterus, tebal dinding, isi rongga rahim serta
kemungkinan terdapatnya kelainan lain.

21. Timbang dan Catatlah Berat Masing-masing Alat/Organ

Sebelum mengembalikan organ-organ (yang telah diperiksa secara


makroskopis)kembali ke dalam tubuh mayat, pertimbangkan terlebih dahulu
kemungkinan diperlukannya organ guna pemeriksaan histopatologik.Potongan
jaringan untuk pemeriksaan histopatologik diambil dengan dengan tebal maksimal
5 mm. Usahakan mengambil bagian organ di daerah perbatasan antara bagian yang
normal dan yang mengalami kelainan.Potongan ini kemudian dimasukkan ke dalam
botol yang berisi cairan fiksasi yang dapat merupakan larutan formalin 10% (larutan
formaldehida 4%) atau alkohol 90-96%, dengan jumlah cairan fiksasi sekitar 20-30
kali volume potongan jaringan yanng diambil.Jumlah organ yang perlu diambil
untuk pemeriksaan toksikologi disesuaikan dengan kasus yang dihadapi serta
ketentuan laboratorium pemeriksa. Sedapat mungkin setiap jenis organ ditaruh
dalam botol tersendiri. Bila diperlukan pengawetan, agar digunakan alkohol 90%.
Pada pengiriman bahan untuk pemeriksaan toksikologik, contoh bahan pengawet
agar juga turut dikirimkan di samping keterangan klinik dan hasil sementera autopsi
atas kasus tersebut.5

Toksikologi

Toksikologi ialah ilmu yang mempelajari sumber, sifat, serta khasiat racun, gejala-
gejala dan pengobatan pada keracunan, serta kelainan yang didapatkan pada korban yang
meninggal. Racun ialah zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan dan fisiologik yang
dalam dosis toksik akan menyebabkan gangguan kesehatan atau mengakibatkan kematian.

Berdasarkan sumber, dapat dibagi menjadi racun yang berasal dari tumbuh-tumbuhan:
opium (dari papaver somniferum), kokain, kurare, aflatoksin (dari aspergilus niger), berasal
dari hewan: bisa/toksin ular/laba-laba/hewan laut, mineral: arsen, timah hitam, atau sintetik:
heroin. Berdasarkan tempat dimana racun berada, dapat dibagi menjadi racun yang terdapat di
alam bebas, misalnya gas racun di alam, racun yang terdapat di rumah tangga; misalnya
deterjen, desinfektan, insektisida, herbisida, pestisida. Racun yang digunakan dalam industri
dan laboratorium, misalnya asam dan basa kuat, logam berat. Racun yang terdapat dalam
makanan, misalnya CN dalam singkong, toksin botulinus, bahan pengawet, zat aditif serta
‘racun’ dalam bentuk obat, misalnya hipnotik, sedatif, dll.

Dapat pula pembagian racun berdasarkan organ tubuh yang dipengaruhi, misalnya racun
yang bersifat hepatotoksik, nefrotoksik. Berdasarkan mekanisme kerja, dikenal racun yang
mengikat gugus sulfhidril (-SH) misalnya Pb, yang berpengaruh pada ATP-ase, yang
membentuk methemoglobin misalnya nitrat dan nitrit. (Nitrat dalam usus oleh flora usus diubah
menjadi nitrit). Pembagian lain didasarkan atas cara kerja/efek yang ditimbulkan. Ada racun
yang bekerja lokal dan menimbulkan beberapa reaksi misalnya perangsangan, peradangan atau
korosif. Keadaan ini dapat menimbulkan rasa nyeri yang hebat dan dapat menyebabkan
kematian akibat syok neurogenik. Contoh racun korosif adalah asam dan basa kuat: H2SO4,
HNO3, NaOH, KOH; golongan halogen seperti fenol, lisol, dan senyawa logam.

Racun yang bekerja sistemik dan mempunyai afinitas terhadap salah satu sistem misalnya
barbiturate, alkohol, morfin terhadap susunan saraf pusat, digitalis, oksalat terhadap jantung,
CO terhadap hemoglobin darah. Terdapat pula racun yang mempunyai efek lokal dan sistemik
sekaligus misalnya asam karbol menyebabkan erosi lambung dan sebagian yang diabsorpsi
akan menimbulkan depresi susunan saraf pusat. Tetra-etil lead yang masih terdapat dalam
campuran bensin selain mempunyai efek iritasi, jika diserap dapat menimbulkan hemolisis
akut.

Faktor mempengaruhi terjadinya keracunan, antara lain cara masuk, umur, kondisi tubuh,
kebiasaan, alergi, takaran, dan waktu pemberian. Keracunan paling cepat terjadi jika masuknya
racun secara inhalasi. Cara masuk lain, berturut-turut ialah intravena, intramuscular,
intraperitoneal, subkutan, peroral, dan paling lambat ialah melalui kulit yang sehat. Untuk
beberapa jenis racun tertentu, orang tua dan anak-anak lebih sensitif misalnya pada barbiturat.
Bayi premature lebih rentan terhadap obat karena ekskresi melalui ginjal belum sempurna dan
aktifitas mikrosom dalam hati belum cukup. Penderita penyakit ginjal umumnya lebih mudah
mengalami keracunan. Pada penderita demam dan penyakit lambung, absorpsi dapat terjadi
dengan lambat. Bentuk fisik dan kondisi fisik, misalnya lambung berisi atau kosong. 3

Kriteria Diagnostik

Diagnosa keracunan didasarkan atas adanya tanda dan gejala yang sesuai dengan racun
penyebab. Dengan analisis kimiawi dapat dibuktikan adanya racun pada sisa barang bukti.
Yang terpenting pada penegakan diagnosis keracunan adalah dapat ditemukan racun/sisa racun
dalam tubuh/cairan tubuh korban, jika racun menjalar secara sistemik serta terdapatnya
kelainan pada tubuh korban, baik makroskopik maupun mikroskopik yang sesuai dengan racun
penyebab. Disamping itu perlu pula dipastikan bahwa korban tersebut benar-benar kontak
dengan racun.

Yang perlu diperhatikan untuk pemeriksaan korban keracunan ialah: keterangan


tentang racun apa kira-kira yang merupakan penyebabnya, dengan demikian pemeriksaan
dapat dilakukan dengan lebih terarah dan dapat menghemat waktu, tenaga, dan biaya. 6

Berbagai Macam Zat Penyebab Keracunan

Keracunan Karbon Monoksida

Karbon monoksida (CO) merupakan racun yang tertua dalam sejarah manusia. Sejak
dikenal cara membuat api, manusia senantiasa terancam oleh asap yang mengandung CO. Gas
CO adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak merangsang selaput lendir, dan bersifat
sedikit lebih ringan dari udara sehingga mudah menyebar. Sumber gas CO berasal dari hasil
pembakaran tidak sempurna dari karbon dan bahan-bahan organik yang mengandung karbon.
Sumber terpenting adalah motor yang menggunakanm bensin sebagai bahan bakar, karena
campuran bahan yang terbakar mengandung bahan bakar lebih banyak dari udara sehingga gas
yang dikeluarkan mengandung 3-7% CO. Sumber lain gas CO adalah gas arang batu yang
mengandung sekitar 5% CO, alat pemanas berbahan bakar gas, lemari es gas dan cerobong
asap yang bekerja tidak baik. Gas alam jarang sekali mengandung CO, akan tetapi pembakaran
yang tidak sempurna tetap akan menghasilkan CO. Pada kebakaran juga dapat terbentuk gas
CO.

Farmakokinetik

CO hanya diserap ,melalui paru dan sebagian besar diikat oleh hemoglobin (Hb) secara
reversibel, membentuk karboksi-hemoglobin. Selebihnya mengikat diri dengan mioglobin dan
beberapa protein heme ekstravaskuler lain. CO bukan merupakan racun yang kumulatif dan
ikatannya dengan Hb tidaklah tetap (reversibel). Setelah CO dilepaskan oleh Hb, sel darah
merah tidak mengalami kerusakan. Absorpsi atau ekskresi CO ditentukan oleh kadar CO dalam
udara lingkungan, kadar COHb sebelum pemaparan, lamanya pemaparan dan ventilasi paru. 6
Farmakodinamik

CO bereaksi dengan Fe dari porfirin dan karena itu CO bersaing dengan O2 dalam
mengikat protein heme yaitu Hb, mioglobin, sitokrom oksidase (sitokrom a, a3) dan sitokrom
P-450, peroksidase, dan katalase. Yang terpenting adalah reaksi CO dengan Hb dan sitokrom
a3. Dengan diikatnya Hb, menjadi COHb mengakibatkan Hb menjadi inaktif sehingga darah
berkurang kemampuannya untuk mengangkut O2 dan mengakibatkan terhambatnya disosiasi
Oksi-Hb. Dengan demikian jaringan akan mengalami hipoksia. Konsentrasi CO dalam udara
lingkungan dan lamanya inhalasi menentukan kecepatan timbulnya gejala-gejala ataru
kematian.

Tanda dan Gejala Keracunan

Gejala keracunan CO berkaitan dengan kadar COHb dalam darah. Berikut adalah tabel
yang menunjukkan kadar COHb beserta dengan gejala-gejala yang ditimbulkan.3

Tanda dan Gejala Saturasi


COHb
Tidak ada 0-10
Rasa kencang pada dahi, mungkin sakit kepala yng ringan, pelebaran pembuluh 10-20
darah perifer
Sakit kepala, berdenyut pada pelipis 20-30
Sakit kepala hebat, penglihatan kabur, lemah, pusing, mual, muntah, kolaps. 30-40
s.d.a dengan kemungkinan lebih besar untuk terjadi kolaps atau sinkop, nadi 40-50
dan pernafasan cepat.
Sinkop, pernafasan cepat, nadi cepat, koma-dengan serangan konvulsi 50-60
intermiten, pernafasan chyne stoke
Koma dan konvulsi intermiten, kerja jantung tertekan, pernafasan tertekan dan 60-70
mungkin terjadi kematian.
Nadi lemah, pernafasan dangkal, kegagalan pernafasan dan kematian. 70-80

Keracunan Sianida

Sianida (CN) merupakan racun yang sangat toksik karena garam sianida dalam takaran
kecil sudah cukup untuk menimbulkan kematian pada seseorang dengan cepat seperti bunuh
diri yang dilakukan oleh beberapa tokoh nazi. Kematian akibat CN biasanya terjadi pada kasus
bunuh diri dan pembunuhan. Akan tetapi, dapat juga terjadi pada kecelakaan di laboratorium,
pada fumigasi pertanian dan gudang-gudang kapal. Sumber CN dapat berupa hidrogen sianida
(HCN) merupakan cairan jernih yang bersifat asam, larut dalam air, alkohol, dan eter. Garam
sianida yang dipakai dalam pengerasan besi dan baja, dalam proses penyepuhan emas dan
perak serta dalam fotografi. Sianida juga didapat dari biji tumbuh-tumbuhan genus Prunus,
singkong liar, umbi-umbian liar, temulawak, cherry liar, plum, aprikot, amigdalin liar, jetberry
bush, dan sebagainya.

Farmakokinetik
Garam sianida cepat diabsorpsi melalui saluran pencernaan. Sianogen dan uap HCN
diabsorpsi melalui pernafasan. HCN cair akan cepat diabsorpsi melalui kulit tetapi gas HCN
lambat. CN dapat masuk ke dalam tubuh melalui mulut, inhalasi dan kulit. Setelah diabsorbsi,
masuk ke dalam sirkulasi darah sebagai CN bebas dan tidak berikatan dengan hemoglobin,
kecuali dalam bentuk methemoglobin akan terbentuk sianmethemoglobin. CN dalam tubuh
menginaktifkan beberapa enzim oksidatif jaringan, terutama sitokrom oksidase dengan
mengikat bagian ferric-heme group dan oksigen yang dibawa oleh darah.
Selain itu CN juga secara refleks merangsang pernapasan dengan bekerja pada ujung
saraf sensorik sinus (kemoreseptor) sehingga pernapasan bertambah cepat dan menyebabkan
gas racun yang diinhalasi makin banyak. Dengan demikian proses oksidasi-reduksi dalam sel
tidak dapat berlangsung dan oksi-Hb tidak dapat berdisosiasi melepaskan O2 ke dalam
jaringan sehingga timbul anoksia jaringan. Takaran toksik peroral adalah 60-90 mg sedangkan
takaran toksik untuk KCN atau NaCN adalah 200 mg. Kadar gas CN dalam udara lingkungan
dan lama inhalasi menentukan kecepatan timbul gejala keracunan dan kematian.

Tanda dan Gejala Keracunan


Gas CN cepat menyebabkan kegagalan pernafasan dan kematian dapat timbul dalam
beberapa menit. Korban mengeluh terasa terbakar pada kerongkongan dan lidah, sesak nafas,
hipersalivasi, mual, muntah, sakit kepala, vertigo, fotofobia, tinitus, pusing dan kelelahan.
Dapat pula ditemukan sianosis pada muka, busa keluar dari mulut, nadi cepat dan lemah,
pernafasan cepat dan kadang-kadang tidak teratur, pupil dilatasi, dan refleks melambat.
Kemudian mayat berwarna merah terang dan bau amandel. 3

Keracunan Arsen
Arsen dahulu sering digunakan sebagai racun untuk membunuh orang lain, dan tidaklah
mustahil dapat ditemukan kasus peracunan dengan arsen di masa sekarang ini. Disamping itu
keracunan arsen kadang-kadang dapat terjadi karena kecelakaan dalam industri dan pertanian
akibat memakan/meminum makanan/minuman yang terkontaminasi dengan arsen. Sumber
arsen dapat ditemukan pada industri dan pertanian terdapat dalam bahan yang digunakan
untuk penyemprotan buah-buahan, insektisida, fungisida, rodentisida, pembasmi tanaman liar,
dan pembunuhan lalat. Kadang-kadang juga didapatkan dalam cat dan kosmetika. Arsen juga
terdapat dalam tanah, air minum yang terkontaminasi, bir, kerang, tembakau, dan obat-obatan.

Farmakokinetik
Arsen dapat masuk ke dalam tubuh melalui mulut, inhalasi dan melalui kulit. Setelah
diabsorpsi melalui mukosa usus, arsen kemudian ditimbun dalam hati, ginjal, kulit, dan tulang.
Ekskresi terjadi dengan lambat melalui feses dan urin sehingga dapat terakumulasi di dalam
tubuh.

Farmakodinamik
Arsen menghambat sistim enzim sulfhidiril dalam sel sehingga metabolisme sel
dihambat. Pada orang dewasa kadar normal dalam urin 100 ug/L, rambut 0,5 mg/kg, dan kuku
0,5 mg/kg. Kadar dalam rambut pada keracunan 0,75 mg/kg dan pada kuku 1 mg/kg atau
lebih.3

Pemeriksaan Kedokteran Forensik

Korban mati akibat keracunan umumnya dapat dibagi menjadi 2 golongan, yang sejak
semula sudah dicurigai kematian diakibatkan oleh keracunan dan kasus yang sampai saat
sebelum autopsi dilakukan, belum ada kecurigaan terhadap kemungkinan keracunan.

Harus dipikirkan kemungkinan kematian akibat keracunan bila pada pemeriksaan


setempat (scene investigation) terdapat kecurigaan akan keracunan, bila pada autopsi
ditemukan kelainan yang lazim ditemukan pada keracunan dengan zat tertentu, misalnya lebam
mayat yang tidak biasa (cherry pink colour pada keracunan CO; merah terang pada keracunan
CN; kecoklatan pada keracunan nitrit, nitrat, anilin, fenasetin dan kina); luka bekas suntikan
sepanjang bena dan keluarnya buih dari mulut dan hidung (keracunan morfin); bau amandel
(keracunan CN) atau bau kutu busuk (keracunan malation) serta bila pada autopsi tak
ditemukan penyebab kematian (negative autopsy). 6
Tempat Kejadian Perkara (TKP )

Tempat kejadian perkara ( TKP ) adalah tempat ditemukannya benda bukti dan/atau
tempat terjadinya peristiwa kejahatan atau yang diduga kejahatan menurut suatu kesaksian.
Meskipun kelak terbukti bahwa di tempat tersebut tidak pernah terjadi suatu tindak pidana,
tempat tersebut tetap disebut sebagai TKP yang berhubungan dengan manusia sebagai korban,
seperti kasus penganiayaan, pembunuhan dan kasus kematian mendadak ( dengan kecurigaan).
Dasar pemeriksaan adalah hexameter, yaitu menjawab 6 pertanyaan : apa yang terjadi, siapa
yang tersangkut, dimana dan kapan terjadi, bagaimana terjadinya dan dengan apa
melakukannya, serta kenapa terjadi peristiwa tersebut ? Pemeriksaan kedokteran forensik di
TKP harus mengikuti ketentuan yang berlaku umum pada penyidikan di TKP, yaitu menjaga
agar tidak mengubah TKP. Semua benda bukti yang ditemukan agar dikirim ke laboratorium
setelah sebelumnya diamankan sesuai dengan prosedur. Bila korban masih hidup maka
tindakan yang paling utama dan pertama bagi dokter adalah menyelamatkan koban dengan
tetap menjaga keutuhan TKP. Pada kasus yang terjadi, korban didapatkan dalam keadaan telah
mati, maka tugas dokter adalah menegakkan diagnosis kematian, memperkirakan saat
kematian, memperkirakan sebab kematian, memperkirakan cara kematian, menemukan dan
mengamankan benda bukti biologis dan medis. Bila perlu dokter dapat melakukan anamnesa
dengan saksi-saksi untuk mendapatkan gambaran riwayat medis korban. Pada kasus ini, kedua
mayat ditemukan berbaring di atas tempat tidurnya dengan posisi terlentang. Tidak ada tanda-
tanda perkelahian berupa luka dan segala sesuatu yang berada di dalam ruangan tersebut masih
tertata rapi seberti biasanya. Kedua korban ditemukan dengan kamar terkunci dari dalam, yang
menunjukan bahwa perkara kematian yang terjadi berlangsung ketika kedua korban sudah
berniat untuk beristirahat didalam kamar.3

Interpretasi Temuan

Interpretasi Hasil Temuan


Berdasarkan kasus yang dibahas di atas ditemukan pasutri meninggal dalam ruangan
tertutup dan terkunci dan tidak ada tanda perlawanan. Semua tampak rapi menurut keterangan
anak korban dan ketua RT yang menemukan jenazah kedua korban. Dari pemeriksaan awal
tidak ditemukan tanda-tanda memar pada korban dan diketahui bahwa korban merupakan
orang yang cukup sukses. Diketahui bahwa anak korban telah menghubungi pihak asuransi
terkait kejadian tersebut.
Informasi yang didapatkan pada kasus diatas belum dapat membantu untuk menentukan
waktu kematian, penyebab kematian, dan kurangnya informasi dari TKP.
Dengan informasi yang didapat dapat disimpulkan 2 jenis kemungkinan penyebab
kematian korban yakni keracunan dan sudden death. Oleh karena itu pemeriksaan fisik dan
informasi dari TKP sangat diperlukan seperti identitas korban, pekerjaan, riwayat sosial
(apakah ada masalah), keadaan finansial korban, apakah ada masalah dengan keluarga, teman,
ataupun rekan bisnis, riwayat penyakit korban dan gaya hidup korban. Pemeriksaan jenazah
korban pada TKP sangat diperlukan untuk mengetahui perkiraan waktu kematian korban,
pengecekan ciri fisik yang muncul pada jenazah pasien seperti tanda-tanda kekerasan, lebam
mayat, perubahan pupil, warna kulit seperti bibir, dan pengecekan sampel darah, rambut, kuku,
air liur, urin dan bila ada feses. Benda-benda disekitar pasien seperti gelas minum, obat-obatan,
insektisida dan tidak menutup kemungkinan apabila ini pembunuhan berencana yang sangat
rapi, meracuni dengan gas CO sangatlah mungkin baik menggunakan kompresor AC yang
selalu diletakkan di luar rumah sehingga apabila diletakkan genset di samping kompresor AC
udara CO dapat masuk ke dalam ruangan dan dapat meracuni. Tetapi tidak menutup
kemungkinan adanya kesalahan dari korban di mana pada saat sebelum tidur terjadi
pemadaman sehingga korban menghidupkan genset dan diletakkan di dalam rumah (akibat
berbagai pertimbangan korban, hujan, takut dicuri, dll) dengan berbagai pertimbangan dan
udara CO dapat masuk ke kamar korban dan meracuninya.

Anak korban yang telah menghubungi pihak asuransi membuat 2 asumsi yakni anak
korban memiliki niat untuk membereskan semua hutang-hutang orang tuanya apabila ada atau
memiliki niat membunuh. Anak korban sangat dekat dengan ayahnya yang terlihat pada saat
keterangan yang diberikan bahwa ayahnya biasa lari pagi tetapi pada suatu pagi tidak
melakukan kegiatannya. Pada kasus ini, kemungkinan disebabkan oleh karena terjadi sudden
death, hanya saja kejadian sudden death yang dialami oleh dua orang akibat penyakit secara
bersamaan sangatlah jarang ditemukan. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk kasus ini
dapat juga disebabkan oleh keracunan. Apabila kasus ini adalah keracunan, sang anak memiliki
kesempatan yang sangat besar untuk meletakkan racun baik dalam bentuk sianida di minuman
korban atau bisa juga dalam bentuk obat-obatan yang diberikan.

Visum et Repertum

Didasarkan pada penyelidikan suatu kasus harus disertai pula dengan pelaporan dari
berbagai pihak. Salah satunya ada laporan pemeriksaan yang dilakukan oleh seorang dokter
yang memeriksa keadaan mayat yang sedang diselidiki. Laporan tersebut dituangkan berupa
Visum et Repertum.
Visum et Repertum (VeR) adalah keterangan tertulis yangdibuat oleh dokter, berisi
temuan dan pendapat berdasarkan keilmuannya tentang hasil pemeriksaan medis terhadap
manusia atau bagian dari tubuh manusia, baik hidup maupun mati, atas permintaan tertulis
(resmi) dari penyidik yang berwenang (atau hakim untuk Visum et Repertum Psikiarik) yang
dibuat atas sumpah atau dikuatkan dengan sumpah, untuk kepentingan peradilan.6
Visum et Repertum adalah alat bukti yang sah berupa surat (pasal 184 dan pasal 187
butir c KUHAP).
Ketentuan umum perbuatan Visum et Repertum adalah:
1. Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa.
2. Bernomor, bertanggal dan d bagian kiri atasnya dicantukmkan kata “ Pro
Justitia”.
3. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tanpa singkatan dan tidak
menggunakan istilah asing.
4. Ditanda tangani dan diberi nama jelas pembuatnya serta dibubuhi stempel
instansi tersebut.

Pada umumnya Visum et Repertum dibuat mengikuti struktur (anatomi) sebagai


berikut:
1. Pro Justitia
Yang berarti untuk kepentingan peradilan.
2. Pendahuluan
Bagian ini sebenarnya tidak diberi judul “Pendahuluan”, melainkan langsung
merupakan uraian tentang identitas dokter pemeriksa, instansi pemeriksa,
tempat dan waktu yang dilakukannya pemeriksaan, instansi peminta VeR,
nomor dan tanggal surat permintaan, serta identitas yang diperiksa sesuai
dengan yang tercantum di dalam surat permintaan Visum et Repetum tersebut.
Dicantumkan juga ada/tidaknya label identifikasi dari pihak penyidik, bentuk
dan bahan label serta isi label identifikasi yang dilekatkan pada “benda bukti”,
biasanya pada ibu jari kaki kanan mayat.
3. Pemberitaan
Bagian ini diberi judul “Hasil Pemeriksaan”. Memuat semua hasil pemeriksaan
terhadap “barang bukti” yang dituliskan secara sistematik, jelas dan dapat
dimengerti oleh orang yang tidak berlatar belakang pendidikan kedokteran.
Pada pemeriksaan jenazah, bagian ini terbagi tiga bagian, yaitu:
a. Pemeriksaan Luar.
b. Pemeriksaan Dalam (bedah jenazah).
c. Pemeriksaan Laboratorium dan pemeriksaan pendukung lainnya.
4. Kesimpulan
Diberi judul “Kesimpulan”. Dalam bagian ini dituliskan kesimpulan
pemeriksaan atas seluruh hasil pemeriksaan dengan berdasarkan keilmuannya
atau keahliannya. Pada pemeriksaan jenazah, bagian ini berisikan setidak-
tidaknya jenis perlukaan atau cedera, kelainan yang ditemukan, penyebabnya,
serta sebab kematiannya.
Apabila memungkinkan, tuliskan juga saat kematian dari petunjuk penting
tentang kekerasan atau pelakunya.
5. Penutup
Bagian ini tanpa judul, melainkan langsung berupa uraian kalimat penutup yang
menyatakan bahwa Visum et Repertum ini dibuat dengan sebenarnya,
berdasarkan keilmuan serta mengingat sumpah dan sesuai dengan KUHAP.7
Visum et Repertum dibuat sesegera mungkin dan diberikan kepada (instansi) penyidik
pemintanya, dengan memperhatikan ketentuan tentang rahasia jabatan bagi dokter serta
ketentuan kearsipan.5
Contoh Visum et Repertum pada Korban I (Suami):

Bagian Ilmu Kedokteran Forensik


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510

Nomor : 78910-SK.III/2345/2-96 Jakarta, 14 Desember 2017

Lamp : Satu sampul tersegel

Perihal : Hasil Pemeriksaan Pembedahan

Atas jenazah Tn.A

PROJUSTITIA

Visum Et Repertum

Yang bertanda tangan di bawah ini, Abel Cantika, dokter ahli kedokteran forensik pada Bagian
Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kedokteran Ukrida Jakarta, menerangkan
bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Polisi Jakarta Selatan No.Pol :
B/456/VR/XII/96/Serse tertanggal 12 Desember 2017, maka pada tanggal empat belas Desember tahun
dua ribu tujuh belas, pukul delapan lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di
ruang bedah jenazah Bagian Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana telah
melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut adalah :

Nama : Tn.A

Jenis kelamin : Laki-laki

Umur :

Kebangsaan :

Agama :

Pekerjaan : Pengusaha Perkayuan

Alamat :
Mayat telah diidentifikasi dengan sehelai label berwarna merah muda, dengan materai lak
merah, terikat pada ibu jari kaki kanan.

Hasil Pemeriksaan :

1. Si pengusaha dan isterinya ditemukan tiduran di tempat tidurnya dan dalam keadaan mati
di dalam kamar yang terkunci di dalam.
2. Tidak ada tanda-tanda perkelahian di ruangan tersebut.
3. Tidak ditemukan luka-luka
4. Tidak ada barang yang hilang

Kesimpulan
Pada mayat laki-laki ini tidak ditemukan adanya tanda-tanda perkelahian, dan tidak ditemukan
adanya luka. Karena data temuan hasil dari kasus tersebut tidak ada, maka untuk interpretasinya dapat
digolongkan dalam kematian mendadak.
Demikian saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaik-
baiknya mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP.

Dokter yang memeriksa,

dr.Abel Cantika, SpF


Contoh Visum et Repertum pada Korban II (Istri):

Bagian Ilmu Kedokteran Forensik


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510

Nomor : 78910-SK.III/2345/2-96 Jakarta, 14 Desember 2017

Lamp : Satu sampul tersegel

Perihal : Hasil Pemeriksaan Pembedahan

Atas jenazah Ny.A

PROJUSTITIA

Visum Et Repertum

Yang bertanda tangan di bawah ini, Abel Cantika, dokter ahli kedokteran forensik pada Bagian
Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kedokteran Ukrida Jakarta, menerangkan
bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Polisi Jakarta Selatan No.Pol :
B/456/VR/XII/96/Serse tertanggal 12 Desember 2016, maka pada tanggal empat belas Desember tahun
dua ribu tujuh belas, pukul sembilan Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di ruang bedah jenazah
Bagian Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana telah melakukan pemeriksaan
atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut adalah :

Nama : Ny.A

Jenis kelamin : Perempuan

Umur :

Kebangsaan :

Agama :

Pekerjaan :

Alamat :

Mayat telah diidentifikasi dengan sehelai label berwarna merah muda, dengan materai lak
merah, terikat pada ibu jari kaki kanan.
Hasil Pemeriksaan :

1. Si isteri dan suaminya ditemukan tiduran di tempat tidurnya dan dalam keadaan mati di
dalam kamar yang terkunci di dalam.
2. Tidak ada tanda-tanda perkelahian di ruangan tersebut.
3. Tidak ditemukan luka-luka
4. Tidak ada barang yang hilang

Kesimpulan
Pada mayat perempuan ini tidak ditemukan adanya tanda-tanda perkelahian, dan tidak
ditemukan adanya luka. Karena data temuan hasil dari kasus tersebut tidak ada, maka untuk
interpretasinya dapat digolongkan dalam kematian mendadak.
Demikian saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaik-
baiknya mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP.

Dokter yang memeriksa,

dr.Abel Cantika, SpF


Daftar Pustaka

1. Kompilasi peraturan perundang-undangan terkait praktik kedokteran. Jakarta:


Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2014: h.14-25.
2. Prosedur medikolegal. Peraturan Perundangan-Undangan Bidang Kedokteran. Edisi ke
I. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FK Universitas Indonesia; 1994: h.11-20.
3. Budiyanto.A, Widiaktama.W, Sudionoa.S, Hertian.S, Sempurna.B, et al. Ilmu
Kedokteran Forensik. Edisi Pertama cetakan kedua. Jakarta: Bagian Kedokteran
Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997: h.26-94,203-6.
4. Achmad, Djumadi. Bagian Ilmu kedokteran forensik dan medikolegal. Makassar:
Penerbit Buku FK Unhas; 2010.
5. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Teknik autopsi forensik. Cetakan ke-4. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2000.h.7, 12-20, 32-43, 56, 62-3.
6. Budi S. Indonesian Journal Legal and Forensic Sciences. Peran ilmu forensik dalam
kasus-kasus asuransi. 1st ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2008.p.17-20.