Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

A. ANATOMI & FISIOLOGI


Sistem hematologi tersusun atas darah dan tempat darah diproduksi, termasuk sumsum tulang
dan nodus limpa. Darah adalah organ khusus yang berbeda dengan organ lainkarena
berbentuk cairan.Darah merupakan medium transport tubuh, volume darah manusia sekitar
7% - 10% berat badan normal dan berjumlah sekitar 5 liter. Keadaan jumlah darah pada tiap-
tiap orangtidak sama, bergantung pada usia, pekerjaan, serta keadaan jantung atau pembuluh
darah. Darah terdiri atas 2 komponen utama, yaitu sebagai berikut :

a) Plasma darah, bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit, dan protein
darah.
b) Butir-butir darah (blood corpuscles), yang terdiri atas komponen-komponen berikut ini.
- Eritrosit : sel darah merah (SDM ± red blood cell).
- Leukosit : sel darah putih (SDP± white blood cell).
- Trombosit : butir pembeku darah ± platelet.1.
1. Sel Darah Merah (Eritrosit)
Sel darah merah merupakan cairan bikonkaf dengan diameter sekitar 7 mikron.
Bikonkavitas memungkinkan gerakan oksigen masuk dan keluar sel secara cepatdengan
jarak yang pendek antara membran dan inti sel. Warna kuning kemerahan-merahan,
karena di dalamnya mengandung suatu zat yang dsebut Hemoglobin. Komponen eritrosit
adalah membrane eritrosit, sistem enzim; enzim G6PD ( Glucose6-
Phosphatedehydrogenase) dan hemoglobin yang terdiri atas heme dan globin.Jumlah
eritrosit normal pada orang dewasa kira-kira 11,5-15 gr dalam 100 cc darah. Normal Hb
wanita 11,5 mg% dan Hb laki-laki 13,0 mg%. Antigen sel darah merah. Sel darah merah
memiliki bermacam antigen :
- Antigen A, B dan O
- Antigen Rh

Proses penghacuran sel darah merah terjadi karena proses penuaan dan proses
patologis. Hemolisis yang tejadi pada eritrosit akan mengakibatkan terurainyakomponen
hemoglobin yaitu komponen protein dan komponen heme.
2. Sel Darah Putih (Leukosit)
Bentuknya dapat berubah-ubah dan dapat bergerak dengan perantaraan kaki
kapsul(pseudopodia). Mempunyai macam-macam inti sel, sehingga ia dapat dibedakan
menurut inti selnya serta warna bening (tidak berwarna). Sel darah putih dibentuk di
sumsum tulang dari sel-sel bakal. Jenis jenis dari golongan sel ini adalah golongan yang
tidak bergranula, yaitu limfosit T dan B ; monosit dan makrofag; serta golongan yang
bergranula yaitu :
- Eosinofil
- Basofil
- Neutrofil

Fungsi sel darah putih :Sebagai serdadu tubuh, yaitu membunuh kuman dan memakan
bibit penyakit, bakteri yang masuk ke dalam tubuh jaringan RES (sistem retikulo
endotel). Sebagai pengangkut, yaitu mengangkut/ membawa zat lemak dari dinding
ususmealui limpa terus ke pembuluh darah.

Jenis sel darah putih

1) Agranulosit
Memiliki granula kecil di dalam protoplasmanya, memiliki diameter 10-12mikron.
Dibagi menjadi 3 jenis berdasarkan pewarnaannya:
a) Neutrofil
Granula yang tidak berwarna mempunyai inti sel yang terangkai, kadangseperti
terpisah pisah, protoplasmanya banyak berbintik-bintik halus/granula, serta
banyaknya sekitar 60-70%.
b) Eusinofil
Granula berwarna merah, banyaknya kira-kira 24%.
c) Basofil
Granula berwarna biru dengan pewarnaan basa, sel ini lebih kecil
daripadaeosinofil, tetapi mempunyai inti yang bentuknya teratur.
Eusinofil, neutrofil dan basofil berfungsi sebagai fagosit dalam mencerna dan
menghancurkan mikroorganisme dan sisa-sisa sel.
2) Granulosita
a) Limfosit
Limfosit memiliki nucleus bear bulat dengan menempati sebagian besar sel
limfosit berkembang dalam jaringan limfe.
Limfosit T
Limfosit T meninggalkan sumsum tulang dan berkembang lama,kemudian
bermigrasi menuju timus. Setelah meninggalkan timus, sel-sel ini beredar dalam
darah sampai mereka bertemu dengan antigen dimana mereka telah di program
untuk mengenalinya. Setelah dirangsang oleh antigennya, sel-sel ini menghasilkan
bahan-bahankimia yang menghancurkan mikrooranisme dan memberitahu sel
darah putih lainnya bahwa telah terjadi infeksi.
Limfosit B
Terbentuk di sumsum tulang lalu bersirkulasi dalam darah sampaimenjumpai
antigen dimana mereka telah diprogram untuk mengenalinya. Pada tahap ini
limfosit B mengalami pematangan lebih lanjut dan menjadi el plasma serta
menghasilkan antibodi.
b) Monosit
Monosit dibentuk dalam bentuk imatur dan mengalami proses
pematanganmenjadi makrofag setelah msuk ke jaringan. Fungsinya sebagai
fagosit. Jumlahnya 34% dari total komponen yang ada di sel darah putih.
3. Keping Darah (Trombosit)
Trombosit adalah bagian dari beberapa sel-sel besar dalam sumsum tulang yang
terbentuk cakram bulat, oval, bikonveks, tidak berinti, dan hidup sekitar 10 hari.
Trombosit berperan penting dalam pembentukan bekuan darah. Fungsi lain dalam
trombosit yaitu untuk mengubah bentuk dan kualitas setelah berikatan dengan pembuluh
darah yang cedera.
4. Plasma darah
Bagian darah yang encer tanpa sel-sel darah, warnanya bening kekuning-kuningan.
Hampir 90% plasma terdiri atas air. Plasma diperoleh dengan memutar sel darah, plasma
diberikan secara intravenauntuk: mengembalikan volume darah, menyediakan substansi
yang hilang dari darahklien.
5. Limpa
Limpa merupakan organ ungu lunak kurang lebih berukuran satu kepalan
tangan.Limpa terletak pada pojok atas kiri abdomen dibawah kostae. Limpa memiliki
permukaan luar konveks yang berhadapan dengan diafragma dan permukaan medialyang
konkaf serta berhadapan dengan lambung, fleksura, linealis kolon dan ginjalkiri.Limpa
terdiri atas kapsula jaringan fibroelastin, folikel limpa (masa jaringan limpa),dan pilpa
merah ( jaringan ikat, sel eritrost, sel leukosit). Suplai darah oleh arterilinealis yang
keluar dari arteri coeliaca.
Fungsi limpa :
- Pembentukan sel eritrosit (hanya pada janin).
- Destruksi sel eritrosit tua.
- Penyimpanan zat besi dari sel-sel yang dihancurkan.
- Produksi bilirubin dari eritrosit.
- Pembentukan limfosit dalam folikel limpa.
- Pembentukan immunoglobulin.
- Pembuangan partikel asing dari darah.
B. Fisiologi Sistem Hematologia.
Sebagai alat pengangkut yaitu :
- Mengambil O2/zat pembakaran dari paru-paru untuk diedarkan keseluruh jaringan
tubuh.
- Mengangkat CO2 dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paru-paru.
- Mengambil zat-zat makanan dari usus halus untuk diedarkan dan dibagikankeseluruh
jaringan/alat tubuh.
- Mengangkat/mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh untuk dikeluarkan
melalui kulit dan ginjal.
- Mengatur keseimbangan cairan tubuh,
- Mengatur panas tubuh.
- Berperan serta dala, mengatur pH cairan tubuh.
- Mempertahankan tubuh dari serangan penyakit infeksi.
- Mencegah perdarahan.(Handayani, 2008:1)
B. PENGERTIAN
Anemia adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin (Hb) atau sel
darah merah (eritrosit) sehingga menyebabkan penurunan kapasitas sel darah merah dalam
membawa oksigen (Badan POM, 2011)
Anemia adalah penurunan, kadar hemoglobin, hematocrit atau jumlah eritrosit.
Berakibat pada penurunan kapasitas pengangkutan oksigen oleh darah. Tetapi harus diingat
terdapat keadaan tertentu dimana ketiga parameter tersebut tidak sejalan dengan massa
eritrosit, seperti pada dehidrasi, perdarahan akut, dan kehamilan. Oleh karena itu dalam
diagnose anemia tidak cukup hanya sampai kepada label anemia tetapi harus dapat ditetapkan
penyakit dasar yang menyebabkan anemia tersebut (Nurarif & Kusuma).
Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar Hb sampai di
bawah rentang nilai yang berlaku untuk orang sehat. Anemia adalah gejala dari kondisi yang
mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tidak adekuat atau kurang nutrisi
yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas
pengangkut oksigen darah dan ada banyak tipe anemia dengan beragam penyebabnya.
(Marilyn E, Doenges, Jakarta, 2002)
Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin
turun dibawah normal.(Wong, 2003).

C. KLASIFIKASI ANEMIA
Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologis:
1. Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh
defek produksi sel darah merah, meliputi:
a. Anemia aplastik
Penyebab:
 agen neoplastik/sitoplastik
 terapi radiasi
 antibiotic tertentu
 obat antu konvulsan, tyroid, senyawa emas, fenilbutason
 benzene
 infeksi virus (khususnya hepatitis).
Etiologi

Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk) di sumsum tulang
Kelainan sel induk (gangguan pembelahan, replikasi, deferensiasi)
Hambatan humoral/seluler

Gangguan sel induk di sumsum tulang

Jumlah sel darah merah yang dihasilkan tak memadai

Pansitopenia

Anemia aplastik
Gejala-gejala:
§ Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)
§ Defisiensi trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran cerna,
perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat.
§ Morfologis: anemia normositik normokromik
b. Anemia pada penyakit ginjal
Gejala-gejala:
§ Nitrogen urea darah (BUN) lebih dari 10 mg/dl
§ Hematokrit turun 20-30%
§ Sel darah merah tampak normal pada apusan darah tepi
Penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun
defisiensi eritopoitin
c. Anemia pada penyakit kronis
Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis
normositik normokromik (sel darah merah dengan ukuran dan warna yang normal).
Kelainan ini meliputi artristis rematoid, abses paru, osteomilitis, tuberkolosis dan
berbagai keganasan
d. Anemia defisiensi besi
Penyebab:
 Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan meningkat selama hamil, menstruasi
 Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
 Kehilangan darah yang menetap (neoplasma, polip, gastritis, varises oesophagus,
hemoroid, dll.).

Etiologi

gangguan eritropoesis

Absorbsi besi dari usus kurang

sel darah merah sedikit (jumlah kurang)
sel darah merah miskin hemoglobin

Anemia defisiensi besi

Gejala-gejalanya:
 Atropi papilla lidah
 Lidah pucat, merah, meradang
 Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut
 Morfologi: anemia mikrositik hipokromik
e. Anemia megaloblastik
Penyebab:
 Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat
 Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor
 Infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen kemoterapeutik, infeksi cacing
pita, makan ikan segar yang terinfeksi, pecandu alkohol.
Etiologi

Sintesis DNA terganggu

Gangguan maturasi inti sel darah merah

Megaloblas (eritroblas yang besar)

Eritrosit immatur dan hipofungsi

2. Anemia hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh
destruksi sel darah merah:
 Pengaruh obat-obatan tertentu
 Penyakit Hookin, limfosarkoma, mieloma multiple, leukemia limfositik kronik
 Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase
 Proses autoimun
 Reaksi transfusi
 Malaria

Etiologi

Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel eritrosit

Antigesn pada eritrosit berubah

Dianggap benda asing oleh tubuh

sel darah merah dihancurkan oleh limposit

Anemia hemolisis
Pembagian derajat anemia menurut WHO dan NCI (National Cancer Institute)
DERAJAT WHO NCI
Derajat 0 (nilai normal) >11.0 g/dL Perempuan 12.0 - 16.0 g/dL
Laki-laki 14.0 - 18.0 g/dL
Derajat 1 (ringan) 9.5 - 10.9 g/dL 10.0 g/dL - nilai normal
Derajat 2 (sedang) 8.0 - 9.4 g/dL 8.0 - 10.0 g/dL
Derajat 3 (berat) 6.5 - 7.9 g/dL 6.5 - 7.9 g/dL
Derajat 4 (mengancam jiwa) < 6.5 g/dL < 6.5 g/dL

D. ETIOLOGI:
1. Hemolisis (eritrosit mudah pecah).
2. Perdarahan.
3. Penekanan sumsum tulang (misalnya oleh kanker).
4. Defisiensi nutrient (nutrisional anemia), meliputi defisiensi besi, folic acid, piridoksin,
vitamin C dan copper.
Menurut Badan POM (2011), Penyebab anemia yaitu:
1. Kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12, asam folat,
vitamin C, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
2. Darah menstruasi yang berlebihan. Wanita yang sedang menstruasi rawan terkena anemia
karena kekurangan zat besi bila darah menstruasinya banyak dan dia tidak memiliki
cukup persediaan zat besi.
3. Kehamilan. Wanita yang hamil rawan terkena anemia karena janin menyerap zat besi dan
vitamin untuk pertumbuhannya.
4. 4. Penyakit tertentu. Penyakit yang menyebabkan perdarahan terus-menerus di saluran
pencernaan seperti gastritis dan radang usus buntu dapat menyebabkan anemia.
5. Obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat dapat menyebabkan perdarahan lambung
(aspirin, anti infl amasi, dll). Obat lainnya dapat menyebabkan masalah dalam
penyerapan zat besi dan vitamin (antasid, pil KB, antiarthritis, dll).
6. Operasi pengambilan sebagian atau seluruh lambung (gastrektomi). Ini dapat
menyebabkan anemia karena tubuh kurang menyerap zat besi dan vitamin B12.
7. Penyakit radang kronis seperti lupus, arthritis rematik, penyakit ginjal, masalah pada
kelenjar tiroid, beberapa jenis kanker dan penyakit lainnya dapat menyebabkan anemia
karena mempengaruhi proses pembentukan sel darah merah.
8. Pada anak-anak, anemia dapat terjadi karena infeksi cacing tambang, malaria, atau
disentri yang menyebabkan kekurangan darah yang parah.

E. PATOFISIOLOGI
Adanya suatu anemia mencerminkan adanya suatu kegagalan sumsum atau
kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum (misalnya
berkurangnya eritropoesis) dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi
tumor atau penyebab lain yang belum diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui
perdarahan atau hemolisis (destruksi).
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam
system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping proses ini adalah
bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah
(hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤
1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada kelainan
hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila
konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk
hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus
ginjal dan kedalam urin (hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh
penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi biasanya
dapat diperoleh dengan dasar:1. hitung retikulosit dalam sirkulasi darah; 2. derajat proliferasi
sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat
dalam biopsi; dan ada tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.
PATHWAY ANEMIA (Patrick Davey, 2002

Pathway Anemia
F. TANDA DAN GEJALA
1. Lemah, letih, lesu dan lelah.
2. Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang.
3. Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan menjadi pucat.
Pucat oleh karena kekurangan volume darah dan Hb, vasokontriksi.
4. Takikardi dan bising jantung (peningkatan kecepatan aliran darah) Angina (sakit dada).
5. Dispnea, nafas pendek, cepat capek saat aktifitas (pengiriman O2 berkurang).
6. Sakit kepala, kelemahan, tinitus (telinga berdengung) menggambarkan berkurangnya
oksigenasi pada SSP.
7. Anemia berat gangguan GI dan CHF (anoreksia, nausea, konstipasi atau diare)
G. KEMUNGKINAN KOMPLIKASI YANG MUNCUL
Komplikasi umum akibat anemia adalah:
1. Gagal jantung,
2. Kejang.
3. Daya konsentrasi menurun.
4. Kemampuan mengolah informasi yang didengar menurun.

H. PEMERIKSAAN KHUSUS DAN PENUNJANG


1. Kadar Hb, hematokrit, indek sel darah merah, penelitian sel darah putih, kadar Fe,
pengukuran kapasitas ikatan besi, kadar folat, vitamin B12, hitung trombosit, waktu
perdarahan, waktu protrombin, dan waktu tromboplastin parsial.
2. Aspirasi dan biopsy sumsum tulang. Unsaturated iron-binding capacity serum
3. Pemeriksaan diagnostic untuk menentukan adanya penyakit akut dan kronis serta sumber
kehilangan darah kronis.

I. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang
hilang:
1. Anemia aplastik:
§ Transplantasi sumsum tulang
§ Pemberian terapi imunosupresif dengan globolin antitimosit(ATG)
2. Anemia pada penyakit ginjal:
§ Pada paien dialisis harus ditangani denganpemberian besi dan asam folat
§ Ketersediaan eritropoetin rekombinan
3. Anemia pada penyakit kronis
Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak memerlukan penanganan untuk
aneminya, dengan keberhasilan penanganan kelainan yang mendasarinya, besi sumsum
tulang dipergunakan untuk membuat darah, sehingga Hb meningkat.
4. Anemia pada defisiensi besi
§ Dicari penyebab defisiensi besi
§ Menggunakan preparat besi oral: sulfat feros, glukonat ferosus dan fumarat ferosus
5. Anemia megaloblastik
a) Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian vitamin B12, bila difisiensi
disebabkan oleh defekabsorbsi atau tidak tersedianya faktor intrinsik dapat diberikan
vitamin B12 dengan injeksi IM.
b) Untuk mencegah kekambuhan anemia terapi vitamin B12 harus diteruskan selama
hidup pasien yang menderita anemia pernisiosa atau malabsorbsi yang tidak dapat
dikoreksi.
c) Anemia defisiensi asam folat penanganannya dengan diet dan penambahan asam
folat 1 mg/hari, secara IM pada pasien dengan gangguan absorbsi.

J. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Lakukan pengkajian fisik
2. Dapatkan riwayat kesehatan, termasuk riwayat diet
3. Observasi adanya manifestasi anemia
a. Manifestasi umum
 Kelemahan otot
 Mudah lelah
 Kulit pucat
b. Manifestasi system saraf pusat
 Sakit kepala
 Kunang-kunang
 Peka rangsang
 Proses berpikir lambat
 Penurunan lapang pandang
 Apatis
 Depresi
c. Syok (anemia kehilangan darah)
 Perfusi perifer buruh
 Kulit lembab dan dingin
 Tekanan darah rendah dan tekanan darah setral
 Peningkatan frekwensi jantung.
K. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN MASALAH KOLABORASI YANG MUNGKIN
MUNCUL

1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d inadekuat intake makanan.
2. Defisit perawatan diri b.d kelemahan
3. Resiko infeksi b.d pertahanan sekunder tidak adekuat (penurunan Hb)
4. Ketidakefektifan pola nafas b.d keletihan
5. Keletihan b.d anemia

L. PERENCANAAN KEPERAWATAN

Diagnos 1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d inadekuat intake
makanan.

Tujuan : nutrisi pasien tercukupi


Patien outcome :
 pasien mampu menghabisi porsi makanan yang disiapkan
 pasien tidak mengalami penurunan BB yang berarti
Intervensi:
1. anjurkan pasien makan sedikit tapi sering
R. makan sedikit tapi sering dapat membantu dalam pemenuhan intake makan
2. anjurkan keluarga membawakan makanan yang disukai pasien
R. makanan yang disukai dapat membantu dalam pemenuhan nutrisi pasien
3. timbang berat badan 1 minggu sekali
R. dengan menimbang berat badan dapat membantu dalam mengetahui apakah pasien
mengalami penurunan berat badan yang berarti atau tidak
4. kolaborasi dengan ahli gizi
R. kolaborasi dengan ahli gizi dapat membantu dalam memperbaiki status nutrisi
pasien
5. kolaborasi dengan dokter pemberian obat (vitamin)
R. pemberian vitamin dapat membantu dalam menambah atau merangsang nafsu
makan pasien.

Diagnosa 2. Defisit perawatan diri b.d kelemahan


Tujuan : klien dapat beraktivitas mandiri dalam pemenuhan ADL
Patien outcome :
- pasien dapat beraktivitas mandiri
- kebutuhan ADL tercukupi
Intervensi :
1. kaji kemampuan ADL pasien
R. mengetahui kemampuan adal pasien dapat membantu dalam melakukan intervensi
selanjutnya.
2. bantu ADL pasien
R. dengan membantu ADL pasien dapat membantu dalam mengurangi aktivitas yang
berlebihan.
3. dekatkan barang-barang yang dibutuhkan pasien
R. dengan mendekatkan barang-barang yang diperlukan pasien dapat menurangi
aktivitas yang berlebihan.
4. anjurkan kepada keluarga dalam membantu ADL pasien
R. dengan melibatkan keluarga dalam pemenuhan ADL pasien dapat mebantu dalam
pemenuhan ADL pasien di rumah sakit atau dirumah nanti.

Diagnosa 3. Resiko infeksi b.d pertahanan sekunder tidak adekuat (penurunan Hb)
Tujuan : resiko infeksi tidak terjadi
Patient outcome : pasien tidak jatuh pada taap infeksi.
Intervensi ;
1. kaji tanda-tanda infeksi
R. mengkaji tanda-tanda infeksi salah satu tindakan keperawatan dalam waspada terhadap
terjadinya infeksi.
2. Anjurkan kepada keluarga untuk membawakan makanan yang dapat membantu
dalam menaikan HB pasien
R. makanan yang bergizi dapat membantu dalam menaikan HB pasien
3. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian tranfusi darah
R. pemberian tranfusi darah membantu dalam mebaiki HB pasien.

Diagnosa 4. Ketidakefektifan pola nafas b.d keletihan


Tujuan : pasien tidak mengeluh sesak napas
Patient outcome :
 Pasien mengatakan sesak sudah mulai berkurang
 Pasien tidak cemas
 Pasien mampu beraktivitas yang ringan tanpa ada sesak.
Intervensi
1. Kaji tanda-tanda vital
R. untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada pasien
2. Kaji saturasi O2 pasien
R. mengkaji saturasi O2 dapat membantu dalam pemberian intervensi selanjutnya.
3. Berikan posisi fowler/ semi fowler
R. pemberian posisi membantu dalam menurunkan ekspansi paru yang meningkat.
4. Kolaborasi pemberian o2
R. pemberian o2 dapat membantu dalam menurunkan kerja otot pernapasan
5. Kolaborasi pemberian obat dengan dokter
R. pemberian obat dapat membantu dalam menurunkan sesak napas.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth.2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol 3. Jakarta: EGC

Marlyn E. Doenges, 2002. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC.

Nanda International Inc. diagnosis keperawatan: definisi & klasifikasi 2015-2017 / editor,T.
Heather Herdman dan Shigemi Kamitsuru; alih Bahasa, Budi Anna Keliat (et al);
editor penyelaras, Monica Ester, Ed. 10. Jakarta: EGC, 2015.

NANDA International. 2012. Nursing Diagnosis: Definition and Dassfication 2012-2014.

Oxford: Wiley-Blackwell.

Nuratif, Amin Huda. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan NANDA NIC-NOC. Jakarta: Medi

Action Publishing.

Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika.

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC : Jakarta.