Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gula merupakan bahan material yang memiliki bentuk bulat, megkilat seperti

kristal. Berbagai macam jenis gula yang telah diproduksi di Indonesia karena sumber

daya alam begitu melimpah ruah. Penggunaan bahan material ini tergantung sesuai

kebutuhan konsumen, makanya ukuran gula ini bermacam-macam.

Pengayakkan merupakan sebuah cara pengelompokan butiran, yang akan

dipisahkan menjadi satu atau beberapa kelompok, dengan demikian dapat dipisahkan

antara partikel lolos ayakan (butiran halus) dan yang tertinggal di ayakan (butiran

kasar). Ukuran butiran tertentu yang masih dapat melintasi ayakan dinyatakan sebagai

menghasilkan butiran yang dipilih seperti untuk memplaster dinding, taman, dan

keperluan lainnya (Handra, 2016: 20).

Saat ini, beberapa pekerjaan dan peralatan masih dilakukan secara manual.

Untuk melakukan pengayakan, biasanya membutuhkan satu atau dua orang tenaga

untuk mengayak. Ayakan yang digunakan juga ada yang sangat sederhana dan

modern. Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan percobaan grind size ini.

1
2

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana memisahkan dan menganalisa campuran partikel padatan melalui

proses pengayakan berdasarkan ukuran mesh kawat?

2. Berapa nilai mean aparatur (Ma), standar deviasi (SD) dan koefisien varian

(CV) dari gula?

C. Tujuan Percobaan

Tujuan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk memisahkan dan menganalisa campuran partikel padatan melalui

proses pengayakan berdasarkan ukuran mesh kawat.

2. Untuk mengetahui nilai mean aparatur (Ma), standar deviasi (SD) dan

koefisien varian (CV) dari gula.


3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gula
Dalam kehidupan sehari-hari orang telah mengenal gula sebagai bahan

makanan pokok, baik untuk minuman ataupun makanan. Sebagai sumerr utama dari

gula adalah dari berbagai macam tanaman, yang dapat digolongkan sebagai penghasil

gula antara lain : tebu, kelapa aren ( enau ). Daerah tropis tebu merupakan tanaman

utama sebagai penghasil gula, dismping kelapa dan enau. Tebu mengandung

hidrokarbon yang terjadi dalam tanaman karena proses fotosintesa.

Karbohidrat-karbohidrat ini terdiri dari monosakarida (glukosa, fruktosa), disakarida

(sakharosa), dan polisakharida (selulosa) (Santoso, 2000: 1).

Gula kristal putih (GKP) merupakan bahan pemanis alami dari bahan baku

tebu atau bit yang digunakan untuk keperluan konsumsi rumah tangga maupun untuk

bahan baku industri pangan. Manfaat gula disamping sebagai sumber kalori, yang

dapat menjadi alternatif sumber energi dan di sisi lainnya gula juga dapat berfungsi

sebagai bahan pengawet dan tidak membahayakan kesehatan konsumen (Hartanto,

2014: 215).

Oleh sebab itu gula menjadi salah satu kebutuhan pokok yang cukup strategis

bagi masyarakat Indonesia. Kebutuhannya gula dari tahun ke tahun akan semakin

meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan adanya pertumbuhan industri

yang membutuhkan gula. Seiring dengan pertambahan populasi penduduk, pada

tahun-tahun mendatang kebutuhan gula dalam negeri diperkirakan akan terus

meningkat. Pada tahun 2009 dengan populasi penduduk Indonesia mencapai 225 juta

jiwa dengan rata-rata konsumsi gula 12 kg per kapita, kebutuhan gula untuk

3
4

konsumsi langsung mencapai 2,7 juta ton dan konsumsi tidak langsung 1,1 juta ton.

Tingkat konsumsi gula saat ini masih jauh di bawah tingkat kebutuhan yang

umumnya dicapai negara-negara maju (30-55 kg/kapita/tahun). Pada tahun 2010

kebutuhan gula Indonesia mencapai 4,15 juta ton atau naik rata-rata 3,87 % per tahun

(Anonim, 2011). Industri gula di Indonesia umumnya merupakan industri yang

berdiri dan beroperasi sejak pemerintahan Belanda, saat ini jumlah pabrik gula kristal

putih mencapai 59 pabrik dan jumlah industri gula rafinasi sebanyak 8 pabrik
(Departemen Perindustrian, 2009). Keberadaan pabrik gula rafinasi merupakan pabrik

yang berdiri dan beroperasi relatif baru, dibandingkan dengan pabrik gula kristal

putih. Dari 59 pabrik GKP yang ada di Indonesia sebagian besar menggunakan

teknologi proses pemurnian nira menggunakan teknologi sulfitasi, hanya sebagian

kecil yang menggunakan teknologi karbonatasi (Hartanto, 2014: 215).

Gambar 2.1. Gula Pasir


Sumber: (http://asosiasigulaindonesia.org/produksi-gula-2013-lesu/)
5

B. Pengayakan

Pengayakan adalah sebuah cara pengelompokan butiran, yang akan

dipisahkan menjadi satu atau beberapa kelompok. Dengan demikian dapat dipisahkan

antara partikel lolos ayakan (butiran halus) dan yang tertinggal di ayakan (butiran

kasar). Ukuran butiran tertentu yang masih dapat melintasi ayakan dinyatakan sebagai

butiran batas. Proses pengayakan biasanya masih dilakukan secara manual

menggunakan alat konvensional dengan 2 orang atau secara bergantian sebagai


operator, hal ini tentu akan membutuhkan biaya dan waktu yang lebih untuk

membuat suatu proses pekerjaan, oleh karena itu dicoba dibuat alat pengayak pasir

yang dapat meningkatkan produktifitas kerja operator dengan tujuan agar proses

pengayakan mengalami peningkatan terhadap hasil pengayakan pasir serta dengan

operator yang seminim mungkin (Handra, 2016: 20).

Hal ini dilakukan untuk meminimalisir biaya yang dikeluarkan dalam suatu

pekerjaan bagi para pekerja bangunan, proses pengayakan merupakan suatu pekerjaan

yang dilakukan untuk menghasilkan butiran yang dipilih seperti untuk memplaster

dinding, taman dan keperluan lainnya. Saat ini, beberapa pekerjaan dan peralatan

masih dilakukan secara manual. Untuk melakukan pengayakan, biasanya


membutuhkan satu atau dua orang tenaga untuk mengayak. Ayakan yang digunakan

juga sangat sederhana dan biasanya digunakan untuk beberapa kali pemakaian saja.

Pergerakkan pengayakan seperti ini adalah gerakan secara horizontal atau maju

mundur. Proses ini kurang efisien baik dari segi waktu, kondisi lapangan maupun

kondisi cuaca, sehingga akan mengalami kendala secara tidak langsung, jumlah

ayakan yang dihasilkan terbatas dan pekerjaan dilakukan pada kondisi tertentu saja

(Handra, 2016: 20).


6

Sebuah struktur yang mempunyai massa dan elastisitas yang mampu bergerak

secara relatif dan terjadi secara berulang-ulang dalam interval waktu tertentu disebut

getaran. Efek dari getaran dapat menimbulkan bunyi, merusak bagian mesin,

memindahkan gaya yang tidak diinginkan, dan menggerakkan benda yang

didekatnya. Getaran terjadi karena adanya eksitasi baik yang berasal dari dalam

maupun dari luar sistem, akan tetapi efek getaran yang ditimbulkan sangat tergantung

dari frekuensi eksitasi dan elemen-elemen dari sistem getaran itu sendiri (Yanto,
2013: 18).

Eksitasi getaran secara praktis tidak mungkin dapat dihilangkan sama sekali,

namun upaya yang dilakukan hanya bisa meminimalkan efek gaya-gaya eksitasi yang

terjadi terhadap sistem. Pada umumnya getaran tidak diinginkan karena dapat

menimbulkan kerusakan. Namun demikian tidak semua getaran yang dihasilkan

menyebabkan efek yang tidak dikehendaki atau merugikan, tetapi ada juga efek

getaran yang dapa dimanfaatkan seperti pada sistem pengayak getar. Pengayak getar

merupakan suatu peralatan mekanik yang memanfaatkan gaya-gaya eksitasi yang

terjadi guna memisahkan material berdasarkan ukuran butir material yang

dikehendaki (Yanto, 2013: 18).


Menurut Hendra, (2016: 19) Beberapa jenis mesin pengayak antara lain :

1. Grizzly screen, merupakan jenis ayakan statis, dimana material yang akan diayak

mengikuti aliran pada posisi kemiringan tertentu.

2. Vibrating screen, ayakan dinamis dengan permukaan horizontal dan miring

digerakkan pada frekuensi 1000 sampai 7000 Hz. Ayakan jenis ini mempunyai

kapasitas tinggi, dengan efisiensi pemisahan yang baik, yang digunakan untuk

range yang luas dari ukuran partikel.


7

3. Oscillating screen, ayakan dinamis pada frekuensi yang lebih rendah dari

vibrating screen (100-400 Hz) dengan waktu yang lebih lama.

4. Reciprocating screen, ayakan dinamis dengan gerakan menggoyang, pukulan

yang panjang (20-200 Hz). Digunakan untuk pemindahan dengan pemisahan

ukuran.

5. Shifting screen, ayakan dinamis dioprasikan dengan gerakan memutar dalam

bidang permukaan ayakan. Gerakan aktual dapat berupa putaran, atau getaran
memutar. Digunakan untuk pengayakan material basah atau kering.

6. Revolving screen, ayakan dinamis dengan posisi miring, berotasi pada kecepatan

rendah (10-20 rpm). Digunakan untuk pengayakan basah dari material-material

yang relatif kasar, tetapi memiliki pemindahan yang besar dengan vibrating

screen.

Pengecilan ukuran merupakan salah satu proses dalam industri pengolahan

bahan pertanian. Operasi ini merupakan salah satu proses dalam industri yang sangat

penting. Operasi pengecilan ini bertujuan untuk mempermudah proses selanjutnya,

sehingga akan lebih efektif dalam penanganan pasca panen komoditas pertanian.

Operasi ini merupakan pengembangan dari operasi empiris yang biasanya hanya
dilakukan tanpa menggunakan mesin. Namun seiring dengan berkembangnya ilmu

pengetahuan dan teknologi, maka operasi pengecilan ukuran pun dilakukan dengan

bantuan mesin. Dalam dunia industri, pengecilan dapat dibedakan menjadi pengecilan

yang ekstrim dan pengecilan yang relatif masih berukuran besar misalnya hanya

dengan pemotongan yang menghasilkan bentuk khusus. Pengecilan biasanya

dilakukan dengan dua operasi yaitu operasi basah dan operasi kering. Terdapat tiga

gaya yang digunakan dalam operasi pengecilan yaitu dengan penekanan, pukulan,
8

dan sobekan atau potongan. Ketiga cara tersebut dilakukan sesuai dengan

karakteristik bahan yang akan direduksi.

Penggunaan alat pengecil ukuran bertujuan untuk mendapatkan efektifitas

dalam operasi reduksi sehingga nantinya akan didapatkan hasil yang maksimal.

Permasalahan yang sering dihadapi dalam penggunaan mesin pengecil ukuran ini

adalah penentuan diameter bahan yang diinginkan, sehingga sering dilakukan operasi

pengecilan antara lain yaitu hummer mill, disc mill, multi mill, dan slicer. Mesin
tersebut memiliki karakteristik, kelemahan, dan kelebihan tersendiri. Oleh karena itu

diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai mesin pengecil ukuran dan

karakteristiknya. Pengecilan ukuran (size reduction) artinya membagi suatu bahan

padat menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dengan menggunakan gaya mekanis

atau menekan. Size reduction merupakan salah satu operasi dalam dunia industri

dimana komoditi pertanian dikecilkan ukurannya untuk menghasilkan suatu produk

yang memiliki nilai mutu dan nilai tambah yang tinggi. Operasi pengecilan ukuran

terbagi menjadi dua kategori yaitu untuk bahan padatan dan untuk cairan (elisa, 2000:

5).

Secara umum tujuan dari size reduction yaitu untuk menghasilkan padatan
dengan ukuran maupun spesifik permukaan tertentu dan memecahkan bagian dari

mineral atau kristal dari persenyawaan kimia yang terpaut pada padatan tertentu.

Selain itu menurut Brennan et.al. (1974), pengecilan ukuran bertujuan untuk

membantu proses ekstraksi, memperkecil bahan sampai dengan ukuran tertentu

dengan maksud tertentu, memperbesar luas permukaan bahan untuk proses lebih

lanjut, dan membantu proses pencampuran. Dalam dunia industri. Menurut

Henderson dan Perry (1982), dikenal dua macam pengecilan. Pengecilan ini pada
9

prinsipnya yaitu diklasifikasikan berdasarkan pada produk akhir yang dihasilkan yang

dibagi menjadi dua yaitu pengecilan ekstrim dan pengecilan yang relatif masih

berukuran besar (elisa, 2000: 6).

Pengecilan ekstrim maksudnya yaitu pengecilan ini menghasilkan produk

dengan ukuran yang jauh lebih kecil daripada sebelum dikecilkan. Sedangkan

pengecilan yang kedua yaitu pengecilan relatif dimana produk yang dihasilkan masih

berdimensi besar atau produk akhir dengan awalnya tidak terlalu signifikan. Contoh
pengecilan ektrim adalah pengecilan ukuran dengan mesin penggiling dimana hasil

produk gilingan adalah bahan dengan ukuran yang relatif sangat kecil, misalnya

tepung. Sedangkan contoh opererasi yang kedua yaitu pemotongan dimana operasi ini

menghasilkan bahan dengan ukuran yang relatif besar (elisa, 2000: 6).

Tipe mesin Size reduction (pengecilan ukuran) terbagi menjadi empat tipe

yaitu cutter (pemotongan), Crusher (penghancuran), grinder dan milling

(penggilingan). Operasi pemotongan biasanya dilakukan pada buah dan sayur yaitu

untuk canning, penghancuran yaitu diaplikasikan pada proses choping pada batang

jagung untuk pakan ternak, grinding untuk batu kapur dan bebijian dan milling untuk

menghasilkan tepung (Raharjo, 1976). Tipe mesin size reduction yang pertama adalah
Crusher. Crusher merupakan alat size reduction yang memecahkan bongkahan

padatan besar menjadi bongkahan‐bongkahan yang lebih kecil, dimana ukurannya

sampai batas beberapa inch. Crusher terbagi menjadi dua yaitu primary crusher dan

secondary crusher. primary crusher mampu beroperasi untuk segala ukuran feed.

Produk yang dihasilkan mempunyai ukuran 6‐10 inch. Sedangkan secondary crusher

mampu beroperasi dengan ukuran feed, seperti pada produk primary crusher dengan

ukuran 4 inch (elisa, 2000: 7).


10

BAB III

METODE PERCOBAAN

A. Waktu dan Tempat


Percobaan ini dilakukan pada hari Senin, 27 November 2017 pukul

07.30- 12.00 WITA, di Laboratorium Kimia Anorganik, Laboratorium Analitik,

Laboratorium Biokimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar.

B. Alat dan Bahan


1. Alat

Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah sieve shaker, neraca analitik,

oven, gelas kimia 1000 mL, batang pengaduk, spatula, gegep dan kuas pembersih.

2. Bahan

Bahan yang digunakan pada percobaan ini ialah air (H2O), gula pasir

(C6H12O6) dan tissu.

C. Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam percobaan ini adalah membersihkan pan sieve, dioven,
lalu ditimbang setiap pan sieve pada neraca analitik, kemudian disusun dari ukuran

mesh kawat paling besar yaitu 425 µm ke ukuran mesh paling kecil yaitu

63 µm . Setelah itu ditimbaang gula pasir sebanyak 800 gram lalu dimasukkan gula

pasir ke dalam sieve shaker, dipasang pengaitnya dengan kuat dan diatur amplitudo

dan waktunya kemudian dinyalakan sieve shaker dan menunggu hasil pengayakan

sieve shaker selesai. Ditimbang setiap pan sieve dan ditentukan bobot padatan pada

setiap pan sieve yang berhasil diayak.

10
11

BAB IV

HASIL PENGAMATAN

A. Hasil Pengamatan

1. Tabel pengamatan

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan


Bobot sampel + Bobot
No. Ukuran pan sieve Faktor (d) Bobot kosong
pan sieve sampel
425 967 295,7 1065,9 770,2
1.
150 287,5 241,6 268,7 27,1
2.
90 120 246,7 249,3 2,6
3.
63 70,5 234,3 234,4 0,1
4.
Base pan 66 359,5 359,5 0
5.

Tabel 4.2 Hasil pengamatan


Bobot sampel
No. Fxd (Ma – d)2 F (Ma – d)2 % sampel
(f)
770,2 744783,4 669,77 515856,85 96,275
1.
27,1 7791,25 427219,1 11577637,61 3,3875
2.
2,6 312 674238,05 1753018,93 0,325
3.
0,1 7,05 757979,18 75797,92 0,0125
4.
0 0 765835,01 0 0
5.
800 752893,7 2625941,11 13922311,31 100
=5

11
12

2. Analisis data

a. Mead aparatur
∑(𝑓 𝑥𝑑)
Ma = ∑𝑓

752893,7
= 800

= 941,12

b. Standar deviasion
∑ 𝑓 (𝑀𝑎−𝑑)2
SD =√ ∑𝑓

13922311,31
=√ 800

= 17402,89

c. Koefisien variant
𝑆𝐷
CV = 𝑀𝑎 x 100%

17402,89
= 941,12

= 1849,17 %

B. Pembahasan

Percobaan grind size bertujuan untuk memperkecil ukuran dan memperluas

rasio permukaan pada sampel serta memisahkan partikel-partikel berdasarkan ukuran

mesh dari kecpatan getaran. Pertama dilakukan dengan memastikan pan sieve dalam

keadaan bersih bebas dari zat pengotor agar tidak mempengaruhi hasil dari proses

pengayakan. Kemudian penimbangan pan sieve dilakukan untuk mengetahui bobot

kosong dimana berfungsi untuk mengetahui bobot sampel yang nanti kan
13

dikurangkan setelah proses pengayakan. Setelah didapatkan bobot sampel pada setiap

pan sieve adapun hasil persen sampel yang didapatkan yaitu semakin besar ukuran

mesh nya maka persen sampel pun semakin besar. Pada percobaan menghasilkan

100% sampel. namun pada ukuran mesh yang terakhir sampel tidak lolos karena

ukuran partikel terlalu besar.

Koefisien variasi merupakan suatu ukuran variansi yang dapat digunakan

untuk membandingkan suatu distribusi data yang mempunyai satuan yang berbeda.

Kalau kita membandingkan berbagai variansi atau dua variabel yang mempunyai

satuan yang berbeda maka tidak dapat dilakukan dengan menghitung ukuran

penyebaran yang sifatnya absolute. Koefisien variasi adalah suatu perbandingan

antara simpangan baku dengan nilai rata-rata dan dinyatakan dengan persentasi

Hasil yang didapatkan pada percobaan untuk koefisien variansi yakni 1849,

17 nilai yang didapatkan sangat besar Besarnya koefisien variasi akan berpengaruh

terhadap kualitas sebaran data. Jadi jika koefisien variasi semakin kecil maka datanya

semakin homogen dan jika koefisien korelasi semakin besar maka datanya semakin

heterogen karena sampel memiliki ukuran partikel terlalu besar.


14

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan pada percobaan ini sebagai berikut:

1. teknik memisahkan campuran yaitu dengan berdasarkan ukuran mesh dant

kecepatan getaran yang berbanding lurus dengan kadar sampel.

2. Nilai mean aparatur (Ma) ialah 941,12, standar deviasi (SD) ialah

17402,89 dan koefisien varian (CV) ialah 1849,17 % pada sampe gula.

B. Saran

Adapun saran yang dapat di diberikan yaitu sebaiknya menggunakan sampel

pasir untuk mengetahui tingkat pemisahan partikelnya.

14
15

DAFTAR PUSTAKA

Handra, Nofriady. “Mesin Pengayak Pasir Otomatis dengan Tiga Saringan Automatic
Sand Sieving Machine with Three Sieves” Teknik Mesin Institut Teknologi
Padang 6, no. 1 (2016) h: 19-23.
Elisa. “Pengecilan Ukuran”.Universitas Gajah Mada. 2000.Skripsi
Yanto, Asmara. “Analisa Unjuk Kerja Pengayak Getar Sebagai Sistem Getaran Dua
Derajat Kebebasan Terhadap Pengayakan Abu Sekam Padi” Momentum 15, no.2
(2013) h: 126-129.
Santoso, Budi. “Proses Pembuatan Gula Dari Tebu Pada Pg X”, Universitas
Gunadarma. 2000
Hartono, Sato Eddy. “Peningkatan Mutu Produk Gula Kristal Putih Melalui
Teknologi Defekasi Remelt Karbonatasi “ Standarisasi Volume 16, no.3
(2014) h: 215-222)