Anda di halaman 1dari 65

ADAPTASI FISIOLOGI

DAN PSIKOLOGI
MASA POST PARTUM
Mira Trisyani
Pendahuluan

• Periode PP adalah masa enam minggu sejak bayi lahir


sampai organ-organ reproduksi kembali pada keadaan
normal sampai sebelum hamil.
• Disebut masa puerperium atau trimester keempat
kehamilan.
Periode Masa Post Partum

• Menurut Rubin (1977):


• Immediate Post partum ( masa satu jam pertama)
• Early Post partum ( minggu pertama PP)
• Late Post Partum (minggu ke-2 sampai ke-6 PP)
Tujuan Pengawasan Post Partum
• Meningkatkan pemulihan fungsi tubuh
• Meningkatkan istirahat dan kenyamanan klien
• Meningkatkan hubungan bagi orang tua
• Memberi kesempatan kepada ortu untuk memelihara
bayinya
• Klien dapat self care dan merawat bayinya secara efektif
Physical Changes cardiac & respiratory
1. Volume Darah
• Terjadi perpindahan normal cairan tubuh menyebabkan volume
darah menurun dengan lambat.
• Penyesuaian pembuluh darah maternal pasca persalinan
mengalami perubahan drastis dan cepat
• Hilangnya sirkulasi uteroplasenta yang mengurangi ukuran
pembuluh darah maternal 10%-15%
• Hilangnya fungsi endokrin plasenta yang menghilangkan stimulus
vasodilatasi
• Terjadinya mobilisasi air ekstravaskuler yang disimpan selama
hamil. Shg syok hipovolemik tidak terjadi pada kehilangan darah
normal
Physical Changes cardiac & respiratory

2. Curah jantung
• Segera setelah bersalin keadaan ini akan meningkat
selama 30-60 menit, karena darah yang biasanya
melintasi sirkuit uteroplasenta tiba-tiba kembali ke
sirkulasi umum.
• Tekanan darah biasanya mengalami ortostatik (48 jam
pertama)
• Akibat kompensasi cardiovaskuler terhadap
penurunan tekanan vaskuler pada panggul, diuresis
dan diaphoresis.
Physical Changes cardiac & respiratory

3. Pernafasan harus berada pada rentang normal sebelum


melahirkan ( 16-24x/mnt)
4. Nadi menjadi bradikardi pada 24-48 jam pertama ( 40-50
kali per menit)
Physiological Changes &
Reproductive System
• Urinarius
• Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah
melahirkan
• Diperlukan sekitar 2-8 minggu untuk kembalinya otot-otot pelvis
ginjal kembali ke keadaan sebelum hamil (cunningham, dkk 1993)
• Dalam 12 jam pasca persalinan, ibu mulai membuang kelebihan
cairan yang tertimbun di jaringan selama kehamilan.
Physiological Changes &
Reproductive System
• Mekanisme untuk mengurangi cairan yang ter retensi
selama kehamilan dengan diuresis/diaforesis luas
terutama pada malam hari.
• Dinding kandung kemih dapat mengalami hemorargi
ringan.
• Penurunan sensasi dalam berkemih dapat menimbulkan
distensi kandung kemih.
• Dengan mengosongkan kandung kemih secara adekuat,
tonus kandung kemih akan pulih dalam 5-7 hari pasca
bersalin.
Physiological Changes &
Reproductive System

1. Uterus
• Involusio uteri : proses kembalinya uterus ke keadaan
sebelum hamil pasca persalinan
• 1 jam Post partum TFU setinggi pusat
• Setelah 12 jam PP TFU 1 cm dibawah pusat
• Setelah 2 hari dst mengecil 1 cm setiap hari sampai 2
minggu hingga uterus tidak teraba di atas simpisis pubis
• 5-6 minggu, uterus sebesar ukuran sebelum hamil.
Fundus uteri
Physiological Changes &
Reproductive System

• Keadaan dimana uterus tidak dapat kembali pada kondisi


semula seperti tidak hamil (subinvolusio uteri)
• Selama 1-2 jam pertama PP, intensitas kontraksi uterus
bisa berkurang dan menjadi tidak teratur.
• After pains umumnya terjadi pada multipara
Measurement of descent of fundus for the woman with
vaginal birth.
Physiological Changes &
Reproductive System

• Lochea : karakteristik warna, jumlah


• Rubra (1-3 hari)
• Serosa (3-10 hari)
• Alba (hari ke-10)
• Serviks menjadi lunak segera setelah bersalin
• Ukuran mulut serviks sekitar dua jari kemungkinan masih
bisa dimasukkan hingga hari ke-4 sampai ke-6 PP
• Mulut serviks akan terlihat seperti mulut ikan berbeda
pada saat sebelum melahirkan.
Physiological Changes &
Reproductive System
• Vagina dan Perineum:
• Penurunan estrogen berperan dalam penipisan mukosa vagina dan
hilangnya rugae
• Ukuran vagina kembali kesemula pada minggu ke-8 PP
• Kekurangan estrogen menyebabkan penurunan jumlah pelumas
vagina dan penipisan mukosa vagina
• Introitus mengalami eritematosa dan edematosa, terutama pada
daerah episiotomi atau jahitan laserasi
• Hemorroid (varises anus)
Perubahan Fisik
• Sistem Pencernaan
• Terjadi penurunan kadar progesteron
• Namun, faal usus kembali normal 2-3 hari PP
• Kelebihan analgesia dan anestesi dapat memperlambat
pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal
• Ibu merasa lapar
• Konstipasi: penurunan tonus otot, hemmoroid, imobilitas, nyeri,
takut, dehidrasi
Perubahan Fisik
• Sistem Muskuloskeletal
• Penurunan hormon relaxin, ligamen panggul dan sendi kembali ke
sebelum hamil
• Kekuatan dinding perut dan otot perut berkurang setelah
kehamilan
• Beberapa orang memiliki pemisahan antara otot dinding perut,
disebut diastasis rectus abdominis
• Mobilisasi dini dilakukan segera pasca bersalin, untuk
mencegah komplikasi dan mempercepat involusio uteri.
Perubahan Fisik
• Sistem Integumen
• Cloasma gravidarum menghilang saat kehamilan berakhir
• Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang
seluruhnya setelah bayi lahir
• Kulit yang meregang pada payudara, abdomen, paha, dan panggul
mungkin memudar, tetapi tidak hilang seluruhnya.
• Pada beberapa wanita, spider nevi menetap.
Perubahan Fisik
• Sistem Endokrin
• Penurunan hormon Human Placental Lactogen (hPL), estrogen,
progesteron dan kortisol, serta plasental enzyme insulinase
membalik efek diabetogenik kehamilan.
• Kadar estrogen dan progesteron menurun secara drastis setelah
plasenta lahir, kadar terendah dicapai sekitar satu minggu PP
• Pada wanita tidak menyusui, kadar estrogen mulai meningkat pada
minggu ke-2 PP dan lebih tinggi daripada wanita yang menyusui
pada hari ke-17 PP
Perubahan Fisik
• Pada wanita tidak menyusui, ovulasi terjadi dini dalam 27
hari setelah melahirkan, dengan waktu rata-rata 70-75
hari
• Pada wanita menyusui, waktu rata-rata terjadinya ovulasi
sekitar 190 hari (Bowes, 1991).
Perubahan Fisik
• Sistem Neurologi
• Rasa baal dan kesemutan (tingling) pada jari yang dialami 5%
wanita hamil, biasanya hilang setelah anak lahir.
• Nyeri kepala memerlukan pemeriksaan yang cermat, bisa
diakibatkan karena PIH, stress dan kebocoran cairan
serebrospinalis ke dalam ruang ekstradural selama jarum epidural
diletakan di tulang punggung saat anestesi.
Perubahan Fisik
• Komponen darah
• Faktor-faktor pembekuan darah dan fibrinogen biasanya meningkat
selama masa hamil dan tetap meningkat pada awal puerperium.
• Thrombophlebitis merupakan infeksi pada endothel pembuluh
darah akibat sumbatan yang menempel pada dindingpembuluh
darah. Biasanya area yang terkena adalah femoral, popliteal, vena
safena
Kebutuhan Psikososial
• Promoting bonding
• Rubin’s Phases
Taking in – wants to be
taken care of

Taking hold – takes charge

Letting go – more realistic


Fase-fase Pada Masa Post Partum
Secara Klasik tahun 1977, tingkah laku ibu, menurut Reva
Rubin:
1. Fase taking-in/fase menerima terjadi pada hari ke-1
atau ke-2
• Hasil penelitian Ament (1990), mendukung pernyataan Rubin,
kecuali bahwa sekarang berpindah lebih cepat dari fase
menerima.
Fase-fase Pada Masa Post Partum
2. Fase Taking-hold (tingkah laku mandiri dan
ketergantungan) terjadi hari ke-3 sampai dengan 10 hari
• Masa ini tepat untuk memberikan pend kes.
• Ibu PP yang memerlukan dukungan tambahan seperti:
primipara yang belum berpengalaman dalam mengasuh anak;
wanita karir
• Ibu PP tidak memiliki cukup teman atau keluarga
• Ibu PP usia remaja
• Wnita tidak bersuami
Fase-fase Pada Masa Post Partum
3. Fase Letting-go (kemandirian, peran baru) terjadi diatas
10 hari
• Masa ini akan terus berlangsung selama tahun-tahun mendatang.
Post Partum Blues
Is normal, mild, transient condition affects 50-70% of
women
Begins 3-4 days after childbirth, peaks on the 4-5 day and
resolves within 2 wks
Symptoms: insomnia, fatigue, tearfulness, mood instability,
anxiety
Nursing care: encouraged to rest, take care of self, discuss
feelings, it is self-limiting
Komplikasi PP
• Pada masa postpartum, komplikasi dapat terjadi.
• Kebanyakan komplikasi PP menunjukan tanda gejala
• Komplikasi PP dapat terjadi secara lambat atau cepat
Perdarahan Post partum
• Kehilangan darah pada masa PP akibat dari atonia uteri,
laserasi, atau tertinggalnya produk hasil konsepsi.

• Kehilangan 1% atau lebih dari BB hrs dipertimbangkan


sebagai hal yang membahayakan.
34
35
Manual compression of the uterus and massage with the
abdominal hand usually will effectively control
hemorrhage from uterine atony.
Manual removal of placenta.
Performed only by the medical clinician.
Nursing Care of PP hemorrhage
• Inspect placenta for missing parts
• Administer oxytocin
• Maintain IV line
• Apply ice to perineum
• Keep bladder empty
• Massage fundus if boggy
• Monitor lochia with amount and type
• Discharge teaching: report if return to rubra, fever over
100.4, foul smelling lochia, flu-like symptoms
Terapeutic Management

• Dilatasi dan Kuretase sesuai indikasi


• Perbaikan laserasi
• Ketat dalam intake dan output
• Pengeluaran plasenta secara manual
• Infus oksitosin sesuai indikasi
• Therapi oksigen sesuai indikasi
• Histerektomi
Infeksi Postpartum

• Definisi:
• Infeksi postpartum (sepsis puerpuralis) adalah infeksi klinis yang
terjadi dalam 28 hari setelah abortus atau persalinan.
Penyebab
• Infeksi bisa timbul akibat bakteria yang seringkali
ditemukan didalam vagina (endogenus) atau akibat
pemaparan dari luar vagina (eksogenus)

• Episiotomi atau laserasi pada vagina/serviks dapat


membuka jalan timbulnya sepsis
Penyebab

• Organisme yang paling sering menginfeksi adalah


streptokokus dan bakteri anaerobik.

• Infeksi staphylococcus aureus, gonokokus, koliformis, dan


kolistridia lebih jarang terjadi, tetapi merupakan
organisme patogen serius sebagai penyebab infeksi
postpartum
Mastitis

• Adalah infeksi yang melalui luka pada putting susu atau


melalui peredaran darah
• Penyebab : bakteri staphylococcus aureus
• Tanda/gejala : demam, nyeri, kulit disekitar payudara
merah dan bengkak, ibu mengeluh merasa lesu dan tidak
nafsu makan
• Bisa menyebabkan abses
Mastitis. Erythema and swelling are present in the
upper outer quadrant of the breast.
Axillary lymph nodes are enlarged and tender.
Pencegahan Mastitis
• Bersihkan payudara setiap kali akan disusui atau setelah
disusui
• Posisi menyusui yang benar ( seluruh areola masuk ke
mulut bayi)
• Bila ada luka sebaiknya tidak menyusui dahulu
• ASI dikeluarkan dengan pijatan
• Tidak dilakukan Breast Care
• Kolaborasi pemberian obat antibiotik
Infeksi Saluran Kemih
Deskripsi :
1. ISK diindikasikan dengan terdapat lebih dari 100.000 koloni
bakteri/mL urine
2. Ada 2 macam ISK
• Sistitis (inflamasi pada kandung kemih dan pielonefritis)
• Inflamasi pada pelvik ginjal
3. ISK terjadi pada 5% wanita PP, dan 15% dengan kateterisasi
PP
Etiologi
1. Infeksi bakteri yang naik bertanggung jawab atas
sebagian besar ISK
2. Penyebab lain ISK adalah retensi dan urine residu
karena distensi berlebihan dan pengosongan kandung
kemih yang inkomplet ( penurunan hasrat berkemih,
statis urine sebagai media pertumbuhan bakteri)
Manifestasi Sistitis
1. Manifestasi Sistitis meliputi peningkatan frekuensi
berkemih, keinginan kuat untuk berkemih yang tidak
dapat ditahan
2. Manifestasi pielonefritis meliputi demam tinggi,
menggigil, nyeri pinggang, mual, dan muntah
Penatalaksanaan
1. Tentukan jika timbul gejala sulit berkemih setelah
bersalin
2. Analisa hasil lab. Urine untuk pemberian antibiotik dan
obat-obatan yang sesuai
3. Jelaskan perawatan mandiri berhubungan dengan
pengosongan kandung kemih secara teratur, vulva
hygiene, adekuat intake cairan
4. Masukkan kateter intermiten atau permanen sesuai
kebutuhan
5. Observasi dan catat respons terhadap pengobatan
Gejala Infeksi Puerpuralis
• Suhu tubuh 38°C atau lebih selama dua hari berturut-turut
tidak terjadi 24 jam pertama setelah kelahiran, ditetapkan
sebagai penyebab infeksi Postpartum
• Ibu menunjukkan gejala keletihan dan letargi, kurang
nafsu makan, dan menggigil
• Nyeri perineum atau distress di abdomen bawah, mual,
dan muntah
Gejala Infeksi Puerpuralis

• Biasanya ditemukan lockea dalam jumlah besar dan bau


• Biakan bakteri intrauterin atau intraservikal harus
menunjukkan agens patogen penyebab dalam 36 sampai
48 jam.
Penanganan Infeksi PP
• Paling efektif adalah upaya pencegahan
• Mengajarkan klien selama hamil mengkonsumsi nutrisi
yang baik
• Hygiene perineal klien yang benar
• Semua tenaga kesehatan memperhatikan teknik aseptik
pada masa intranatal dan postpartum
• Keseimbangan cairan dan elektrolit
• Pemberian antibiotik spektrum luas
Tromboplebitis dan trombosis

Deskripsi

• Troboplebitis adalah inflamasi endotelium vaskular dengan


pembentukan bekuan pada dinding pembuluh darah

• Trombus terbentuk bila komponen-komponen darah


bergabung untuk membentuk aggregate body (bekuan)
Penanganan

1. Rawat inap, penderita tirah baring untuk pemantauan


gejala penyakitnya dan mencegah terjadinya emboli
pulmonal.
2. Therapi medik, pemberian antibiotika atau pemberian
heparin jika terdapat tanda-tanda atau dugaan adanya
emboli pulmonal
Penatalaksanaan

3. Mencegah perkembangan embolus


• Kaji TTV
• Kaji tanda-tanda inflamasi
• Berikan terapi koagulan sesuai program dan observasi tanda-
tanda perdarahan dan reaksi alergi
• Jangan berikan estrogen untuk supresi laktasi karena dapat
meningkatkan pembekuan darah
• Periksa lab.
Infant Care
• Cord care
• Diapering
• feeding
• Stools
• Urine
• Baths
• How to take temp
Pengkajian
• Subjective data:
• Kontraksi uterus
• Nyeri episiotomi
• Nyeri hemmoroids
• Perdarahan berat
• Kelelahan
• Emotional labil
• Hunger
• Konstipasi
• Sensasi nyeri payudara
Pengkajian
• Objective data:
• Kulit: topeng kehamilan
• Striae
• Payudara: colostrum, ASI
• Abdomen: involusio uteri dipalpasi sejak 1 jam pertama
Continue
• Midline: 1 sampai 2 jari dibawah umbilikus dan menurun
• Relaksasi otot abdominal
• Genitalia dan anus:
• Perineum: episiotomi bersih (REEDA signs),
• Hemorroids
BUBBLEHE Assessment
• Breasts – Soft, filling, firm, Nipples
• Uterus – consistency, position, height, C/S
• Bladder – voiding pattern
• Bowels – bowel sounds, hemorrhoids, BM
• Lochia – type, amt, clots, odor
• Episiotomy – laceration, bruising, swelling
• Homan sign – present or not
• Emotional status – bonding, blues
REEDA Scale for Incisions
• Redness
• Edema
• Ecchymosis
• Discharge
• Approximation
Pengkajian
• Respon Psychoemotional terhadap persalinan
• Post Partum blues
Patient Problem Nx. Dx.
• Resiko terjadi defisit vol. cairan s.d perdarahan PP
• Kaji setiap 15 menit sampai 4-8 jam: fundus uteri, BP, T,P
• Lochea
• Kondisi episiotomi
• Nyeri s.d. episiotomi, afterbirths, ketidaknyamanan
payudara
Patient Problem Nx. Dx.
• Resiko infeksi s.d. insisi/laserasi
• Retensi urine s.d trauma dan edema akibat proses
bersalin
• Konstipasi s.d. nyeri akibat episiotomi dan hemoroids
sekunder terhadap proses persalinan
• Resiko penurunan parenting s.d. transisi perubahan
peran orang tua.
Sekian