Anda di halaman 1dari 5

NOMA (STOMATITIS GANGRENOSA)

Penyakit mulut ini merupakan salah satu komplikasi MEP berat yang memerlukan
penanganan segera, karena sifatnya sangat destruktif dan akut. Kerusakan dapat
terjadi pada jaringan lunak maupun jaringan tulang sekitar rongga mulut.

Etiologi

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Spirillum, Fusiform, dan Diphtheroid yang
pada anak sehat bersifat saporatif dan tidak patogen. Patogenesis bakteri ini
berubah pada anak MEP dengan daya tahan tubuh yang menurun.

Gejala klinis

Gejala yang khas adalah bau busuk yang sangat keras. Luka bermula dengan
bintik hitam berbau di selaput mulut. Pada tahap berikutnya bintik ini akan
mendestruksi jaringan lunak sekitarnya dan lebih mendalam, sehingga dari luar
akan terlihat lubang kecil. Kemudian lubang kecil ini akan berbentuk luka kecil
berbau busuk, berwarna merah kebiruan. Beberapa hari kemudian luka kecil ini
melebar, warnanya berubah menjadi biru kehitaman. Selain itu gigi geligi dapat
terlepas dan jaringan tulang sekitarnya menjadi nekrotik. Pada tahap ini dari luar
akan nampak luka besar pada daerah mulut yang berwarna biru kehitaman, terdiri
dari jaringan nekrotik yang akan terlepas dari jaringan sekitarnya dengan
meninggalkan lubang besar, sehingga terjadi hubungan langsung antara rongga
mulut dan dunia luar. Noma dapat terjadi pada berbagai bagian mulut, seperti
kedua ujung bibir, bibir bawah, bibir atas, pipi, dagu, bahkan dapat mengenai
sebagian besar muka penderita.

Diagnosis

Terdapat luka yang berbau busuk di daerah rongga mulut pada seorang penderita
MEP berat. Diagnosis dini sangat diperlukan, yang dapat ditegakkan seandainya
pada penderita MEP terdapat bintik hitam berbau khas pada rongga mulutnya.

Pengobatan
Segera diberi pengobatan penisilin atau derivatnya, baik secara sistemik maupun
secara infiltrasi setempat. Untuk pemberian infiltrasi di jaringan sekitar luka,
daipakai larutan penisilin atau derivatnya dalam akua. Pengobatan infiltrasi
dilanjutkan selama beberapa hari sampai tepi luka menjadi tenang. Selanjutnya
perlu tindakan bedah plastik untuk memperbaiki wajah penderita, di samping
pengobatan terhadap susunan gigi geligi.

Prognosis

Meskipun penyakit ini tidak fatal, tetapi pada kasus dengan kerusakan jaringan
yang luas akan terdapat cacat muka dengan berbagai dampak psikologiknya yang
bersifat negatif. Pada kerusakan yang luas peran bedah plastik pun terbatas.

DEFISIENSI MINERAL

Natrium

Masukan mineral ini biasanya bersama-sama dengan klorida. Mudah diabsorpsi


oleh usus dan hampir seluruhnya (98%) dieksresikan melalui air kemih, eksresi
oleh ginjal dikelola oleh hormon korteks adrenal. Natrium merupakan kation
utama dalam ruang ekstraselular, hanya sebagian kecil terdapat dalam jaringan
otot dan tulang rawan. Kadar normal dalam serum adalah 135-145 mEq/L.
Keadaan patologik yang sering dijumpai adalah defisiensi natrium akibat muntah
dan diare.

Kalium

Merupakan kation utama intrasel. Absorpsi kalium terjadi di usus. Sebanyak 80%
dieksresi melalui ginjal, sebagian kecil melalui keringat atau tinja, 8% dipakai
untuk pertumbuhan anak. Kadar normal kalium dalam serum adalah 4,0-5,0
mEq/L. Keadaan patologik yang sering dijumpai berupa meteriorisme akibat
hipokalemia disebabkan oleh diare atau muntah. Defisiensi kalium sering pula
ditemukan pada MEP berat atau pengobatan kortikosteroid dalam waktu lama.

Kalsium
Hampir seluruh mineral kalsium (90%) dan sebagian besar fosfor (70-80%) dalam
tubuh terdapat dalam tulang, sehingga tulang merupakan depot utama kedua jenis
mineral tersebut. Absorpsi kalium terjadi pada usus halus bagian atas, yang
dipermudah oleh vitamin C, vitamin D, laktosa, lingkungan asam, dan
perbandingan kalsium dan fosfor dalam makanan yang optimal (2:1). Absorpsi
dihambat oleh kelebihan asam oksalat, asam fitat, lemak, serat, fosfat, EDTA, dan
besi. Setelah diabsorpsi, kalsium disimpan dalam trabekula tulang, keseimbangan
dinamik dengan jaringan tubuh terjadi karena aktivitas hormon paratiroid dan
tirokalsitonin. Ekskresi kalsium 70% melalui tinja dan 10% melalui air kemih,
sedangkan 15-25% ditahan oleh tubuh. Kadar kalsium dalam serum adalah 9-11
mg/dl, di antaranya 60% dalam bentuk ion.

Aktivitas mineralisasi tulang kerangka janin sangat menngkat pada masa akhir
kehamilan. Karena itu pada prematuritas dapat terjadi kekurangan depot kalsium,
sehingga mempermudah terjadinya rakitis. Selain itu rakitis pada prematuritas
disebabkan pula oleh masukan makanan yang jumlahnya sedikit. Pada rakitis
infantil, kadar kalsium biasanya merendah. Gejala tetani dapat timbul bila kadar
kalsium kurang dari 7 mg/dl atau bila kadar fosfor meningkat. Jumlah kalsium
dalam cairan tubuh tidak banyak, tetapi penting dalam mengatur iritabilitas
jaringan.

Besi

Elemen bio-inorganik ini merupakan bagian dari hemoglobin, mioglobinm dan


enzim oksidatif. Absorpsi terjadi di usus dalam bentuk fero, dan bergantung
kepada kebutuhan. Absorpsi dipermudah oleh asam lambung atau vitamin C, dan
dihambat oleh asam fitat, serat, teh, kopi, susu, atau telur. Besi hem berasal dari
protein hewan lebih mudah diserap daripada besi nonhem. Dalam bentuk senyawa
feri, besi ditransportasi oleh transferin plasma ke depot di hati, limpa, sumsum
tulang, dan ginjal, kemudian tersimpan sebagai feritin atau hemosiderin. Ekskresi
besi sangat sedikit, yaitu melalui keringat dan air kemih. Lebih kurang 90% dari
masukan besi dikeluarkan lagi melalui tinja.
Keadaan klinis yang sering dijumpai adalah anemia mikrositik hipokromik karena
defisiensi besi, dan hemokromatosis atau hemosiderosis akibat kelebihan besi.

Fosfor

Selain untuk pembentukan tulang dan jaringan lunak, fosfor merupakan bagian
esensial fosfolipid jaringan saraf dan protein inti sel. Sebanyak 70% masukan
fosfor diabsropsi sebagai fosfat bebas melalui usus. Absorpsi ini dan retensi di
ginjal dipengaruhi oleh vitamin D dan paratormon. Eksresi terjadi melalui tinja
dan air kemih. Dalam darah fosfor terikat sebagai fosfolipid, ester organik, dan
senyawa fosfat inorganik. Kadar normal fosfat inorganik dalam serum berkisar 4-
7 mg/dl. Dalam darah perbandingan fosfat inorganik dengan organik adalah 1:20.

Meskipun jarang, keadaan patologik yang mungkin dijumpai adalah rakitis pada
BBLR dengan masukan kalsium dan fosfor yang rendah. Diet yang mengandung
banyak protein harus disertai dengan masukan fosfor yang memadai.

Magnesium

Seperti halnya dengan fosfor, mineral ini diperlukan untuk pembentukan tulang
dan gigi. Magnesium merupakan kation penting intrasel dan esensial untuk proses
metabolisme. Absorpsinya melalui usus dan eksresi melalui ginjal. Mineral ini
dapat bekerja antagonistik dengan kalsium, tetapi dapat pula saling menggantikan.

Dalam klinik mungkin dijumpai tetani akibat defisiensi magnesium, yang


biasnaya terjadi bersama-sama dengan hipokalsemia. Kecukupan magnesium
belum diketahui, tetapi ASI diduga mengandung cukup elemen ini.

Sulfur

Elemen ini merupakan komponen dari semua jenis protein sel, koenzim (gugusan
SH), hormon, dan berbagai jaringan tubuh. Absorpsi hanya terjadi dalam bentuk
senyawa metionin atau sistin, senyawa inorganiknya tidak diserap. Eksresi
melalui empedu dan air kemih dalam bentuk sulfat inorganik dan ester. Belum
diketahui dengan pasti keadaan patologik yang berkaitan dengan mineral sulfur.

Fluorida
Dalam tubuh terutama terdapat dalam tulang dan gigi. Elemen ini akan disimpan
dalam jaringan bila masukan melebihi 0,6 mg/hari. Eksresi terjadi melalui air
kemih dan keringat. Keadaan patologik yang sering dijumpai adalah karies dentis
akibat kekurangan fluorida, dan fluorosis (mottled enamel) akibat masukan yang
melebihi 4-8 mg/hari.

Klorida

Elemen ini menempati 2/3 dari seluruh anion plasma, 88% terdapat dalam cairan
ekstraselular. Masukan klorida biasanya sebagai NaCl dalam makanan, masukan
dan keluaran klorida biasanya berjalan paralel dengan natrium. Klorida mudah
diabsorpsi, sebanyak 92% akan dieksresi terutama melalui air kemih, sebagian
kecil melalui keringat dan tinja. Nilai normal dalam darah adalah 99-106 mEq/L.
Di klinik keadaan yang sering dijumpai adalah alkalosis hipokloremik yang
disebabkan karena muntah yang sering, prespirasi yang sangat, pemberian
glukoasa perenteral tanpa salin, dan pengobatan kortikosteroid dalam jangka
waktu lama.

Yodium

Diperlukan untuk kelancaran fungsi kelenjar tiroid. Sangat mudah diabsorpsi oleh
usus, kemudian dalam bentuk senyawa organik dan inorganik akan diserap oleh
kelenjar tiroid dan diubah menjadi senyawa tiroglobulin. Oleh enzim proteolitik
kompleks tiroglobulin akan dipecah menjadi T3 dan T4 yang terdapat bebas
dalam sirkulasi. Eksresi yodium terutama terjadi melalui air kemih.

Defisiensi yodium akan mengakibatkan hipotiroidisme. Di Indonesia khususnya


berupa kretin endemik dengan angka kejadian yang tinggi di daerah tertentu. Di
daerah tersebut umumnya kadar yodium dalam air minum, tanah, dan bahan
makanan lainnya sangat rendah.