Anda di halaman 1dari 7

Nama : Novita Eka Putri Anggraeni

Kelas : Akfar-3D
NIM : AKF16125
Kelompok :4

Wedang Ronde dan Ekstraksi Herba Pegagan

A. Pengkajian Jamu
Jamu merupakan ramuan obat yang berasal dari tanaman yang diproses secara
sederhana. Khasiat jamu masih berdasarkan pengalaman dari nenek moyang dan belum
didukung oleh data ilmiah (Mursito, 2012). Jamu adalah obat tradisional Indonesia yang
dibuat dari tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan saria (galenik) atau campuran
dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan
berdasarkan pengalaman. Bahan-bahan yang digunakan tidak menggunakan bahan kimia
sintetik. Jamu menggunakan bermacam-macam tumbuhan yang diambil langsung dari
alam dan efek sampingnya relatif lebih kecil dibanding obat medis (Harmanto & Subroto,
2007).
Menurut World Healt Organization (WHO) pengobatan tradisional adalah jumlah total
pengetahuan, ketrampilan, dan praktek-praktek yang berdasarkan pada teori-teori,
keyakinan, dan pengalaman masyarakat yang mempunyai adat budaya yang berbeda, baik
dijelaskan atau tidak, digunakan dalam pemeliharaan kesehatan serta pencegahan,
diagnosa, perbaikan, atau pengobatan penyakit secara fisik dan juga mental.
Berbagai macam penyakit dan keluhan ringan maupun berat dapat diobati dengan
memanfaatkan ramuan dari tumbuh-tumbuhan tertentu yang mudah didapat disekitar
pekarangan rumah. Kelebihan dari pengobatan dengan menggunakan ramuan tumbuhan
secara tradisional ialah tidak adanya efek samping yang ditimbulkan seperti yang sering
terjadi pada pengobatan kimiawi (A.N.S., 2007).
Salah satu contoh ramuan tradisional yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh adalah
ramuan wedang ronde. Wedang ronde merupakan minuman khas asli dari pulau jawa
selain jamu dan dawet. Pada tahun 1930, wedang ronde sudah populer di kota Boyolali,
Solo, Salatiga dan Ambarawa. Wedang merupakan bahasa jawa yang berarti minuman
hangat. Wedang ronde telah menjadi minuman yang banyak digemari oleh sebagian besar
masyarakat Indonesia. Wedang ronde merupakan minuman hangat yang terbuat dari
campuran rempah bahan alam yang menyehatkan, masyarakat biasanya mengkonsumsi
wedang ronde untuk menghangatkan tubuh ketika cuaca sedang dingin dan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh setelah beraktifitas. Selain itu kuah dari wedang ronde
juga bermanfaat untuk mencegah masuk angin. Komposisi utama dalam wedang jahe
adalah rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc.) dan serai (Cymbopogon nardus (L.)
Rendle) (Putri, 2014).
Adapun ramuan untuk membuat wedang ronde adalah sebagai berikut.

Bahan untuk ronde :


1. Air hangat 135 mL
2. Tepung ketan 150 gram
3. Garam ¼ sendok teh
4. Pewarna makanan secukupnya
Bahan untuk isi ronde :
1. Kacang tanah 100 gram
2. Gula pasir 25 gram
3. Garam 1/8 sendok teh
Bahan sirup jahe :
1. Jahe 400 gram 200
2. Serai 6 batang 3
3. Gula merah 400 gram 200
4. Daun pandan 4 lembar 2
5. Garam 1 sendok the 1/2
6. Air 2000 mL
7. 1 L

Dari ramuan diatas, wedang jahe dapat dibuat dengan cara sebagai berikut. Untuk
pembuatan isi wedang ronde adalah, pertama kacang tanah yang telah di pisahkan dari
kulitnya disangrai sampai matang kemudian diblender atau di ulek kasar sebagian dari
kacang tanah saat masih hangat. Setelah diblender kasar kemudian ditambahkan gula dan
garam, dicampur sampai menjadi butiran kecil kecil tidak terlalu halus, setelah itu
ditambahkan sedikit air untuk membentuk menjadi bulatan kecil kecil. Cara untuk
membuat ronde adalah sebagai berikut. Pertama, dicampurkan tepung ketan dan garam,
diaduk hingga rata. Setelah rata, dituang air hangat sedikit demi sedikit dan diuleni sampai
adonan kalis. Setelah adonan kalis, adonan dibagi menjadi beberapa bagian kemudian
diberi pewarna makanan. Setelah itu diambil sedikit adonan, dipipihkan untuk diberi isian
ronde, kemudian dibentuk menjadi bulatan. Setelah itu diletakkan di piring atau loyang
yang telah ditaburi tepung agar tidak lengket. Dimasak air hingga mendidih, kemudian
dimasukkan bola ronde kedalam air mendidih, direbus hingga ronde mengapung setelah
itu ditiriskan. Cara untuk membuat sirup jahe adalah sebagai berikut. Dimasukkan air
kedalam panci, ditambahkan gula merah, daun pandan. Di geprek jahe dan serai kemudian
dimasukkan kedalam panci, direbus semua bahan dengan api kecil sampai mendidih
(Ouyun, 2012).
Pengkajian aktivitas farmakologis komponen utama wedang ronde.
1. Jahe
Jahe (Zingiber officinale) merupakan tanaman rimpang yang termasuk dalam
familia Zingiberaceae, sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Jahe
sering digunakan sebagai bumbu masakan dan untuk menghangatkan tubuh.
Kandungan jahe sangan bermanfaat bagi kesehatan tubuh, karena dalam jahe terdapat
kandungan senyawa fenol yang terbukti memiliki efek anti radang dan diketahui dapat
mengobati penyakit sendi dan ketegangan otot (Yani, 2014). Bahan aktif dalam
rimpang jahe terdiri atas minyak atsiri, zingiberin, kamfen, lamonene, borneol, sineol,
zingiberal, linalool, gingerin, kavikol, zingiberen, zingiberol, gingerol, shogaol,
minyak damar, pati, asam malat, dan asam oksalat. Komponen utama dari jahe segar
adalah senyawa homolog fenolik keton (gingerol). Gingerol merupakan komponen
dari jahe yang menyebabkan terjadinya rasa panas saat mengkonsumsi jahe. Senyawa
gingerol inilah yang akan memblok serotomin dalam tubuh yaitu senyawa kimia yang
yang dapat menyebabkan perut berkontraksi sehingga menimbulkan rasa mual dalam
perjalanan. Rasa hangat yang ditimbulkan oleh gingerol juga dapat membuat lambung
menjadi nyaman, meringankan kram perut dan membantu mengeluarkan angin
sehingga dapat meredakan masuk angin (Hernani & Winarti, 2010).
Hasil penelitian terhadap tikus hamil yang diberikan ekstrak jahe secara oral tidak
mempengaruhi kehamilan dan tidak menyebabkan toksisitas sampai konsentrasi 1000
mg/kg. walaupun dilaporkan juga beberapa efek samping minor akibat mengkonsumsi
jahe seperti diare ringan atau reaksi alergi ringan. Efek samping terjadi terutama bila
mengkonsumsi jahe mentah (Hernani & Winarti, 2010).
2. Serai
Tanaman serai (Cymbopogon nardus L. Rendle) merupakan tanaman yang tumbuh
di tempat yang berada di dekat air dengan tanah yang gembur. Tanaman serai
mengandung 0,4% minyak atsiri dengan komponen yang terdiri dari 32-45%
sitronellal, 12-18% Geraniol, 12-15% sitronellol, 3-8% geraniol asetat, 2-4% sitronellil
asetat, 2-5% L-limonene, 2-5% elenol dan seskwiterpen lain. (Ketaren, 1985). Selain
minyak atsiri, serai secara umum juga mengandung kariofilen yang bersifat antibakteri,
antifungi, antiinflamasi dan juga dapat digunakan sebagai obat bius. Sitral yang
bersifat antihistamin dan antiseptik. Sitronelal yang bersifat antiseptik dan
antimikroba. Sitronelal yang dapat digunakan untuk mengeluarkan angin dari perut
dan usus serta mengobati peradangan usus. Geraniol bersifat antibakteri dan antifungi.
Mircen yang berfungsi sebagai antimutagenik dan nerol dapat digunakan sebagai
antipasma (Chooi, 2008).
Secara empiris akar serai berkhasiat sebagai peluruh air seni, peluruh keringat,
peluruh dahak atau obat batuk, bahan untuk kumur dan penghangat badan. Untuk
menghangatkan badan dapat digunakan 5 gram akar serai segar yang telah dicuci
kemudian direbus dengan satu gelas air selama 15 menit dan diminum 2 kali sehari
masing-masing ½ gelas pagi dan sore hari (Aulia, Suwendar, & Fitrianingsih, 2015).
B. Pengkajian Ekstraksi
Herba pegagan (Centella asiatica L.) merupakan salah satu tanaman suku Apiaceae
atau Umbelliferae yang banyak digunakan dalam industri obat alami, baik sebagai
penyusun ramuan maupun sebagai bahan baku ekstrak. Tanaman pegagan menyukai
tanah yang agak lembab dengan pencahayaan matahari yang cukup, tumbuh baik di
dataran rendah pada ketinggian sekitar 700 meter sampai 2500 meter diatas permukaan
laut (Pramono & Pujiastuti, 2004).
Pegagan merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki beragam manfaat untuk
mengobati berbagai masalah kesehatan. Pegagan memiliki kandungan asiaticoside,
thankuniside, isothankuniside, madecassoside, brahmoside, brahmic acid,
brahminoside, medasiatic acid, meso-inositol, centelloside, cerotenoid, hydrocotylin,
vellarine, tanin. Glikosida triterpenoid yang disebut asiaticoside merupakan antilepra
dan penyembuh luka yang sangat baik. Zat vellariane yang ada memberikan rasa pahit
(Anggraeni, 2013). Kandungan triterpenoid dalam pegagan dapat merevitalisasi
pembuluh darah sehingga peredaran darah ke otak menjadi lancar, memberikan efek
menenangkan dan meningkatkan fungsi mental menjadi lebih baik. Kandungan
asioticoside berfungsi meningkatkan perbaikan dan penguatan sel-sel kulit, stimulasi
pertumbuhan kuku, rambut, jaringan ikat, menstimulasi sel darah dan sistem imun serta
merupakan salah satu jenis antibiotik alami (Amalia, 2009).
Dalam setiap 100 gram pegagan terdapat sebanyak 409 mg kandungan kalium.
Karena adanya kandungan kalium maka pemberian ekstrak pegagan 22,5% pada tikus
putih dapat meningkatkan produksi urin hingga tiga kali lipat dibandingkan tikus yang
tidak diberi ekstrak pegagan. kalium dalam peagan berperan dalam meluruhkan batu
ginjal yang berasal dari kristalisasi kalsium fosfat serta mencegah terjadinya endapan
kalsium dan zat sampah lainnya sehingga dapat menurunkan resiko terbentuknya batu
ginjal (Trihardjana, 2007).
Sebelum diuji, pegagan terlebih dahulu di ekstraksi. Ekstraksi adalah proses
penarikan komponen aktif yang terkandung dalam tanaman menggunakan bahan
pelarut yang sesuai dengan kelarutan komponen zat aktifnya (Yuliani & Satuhu, 2012).
Ada berbagai macam metode ekstraksi, salah satunya adalah maserasi. Herba pegagan
dapat di ekstraksi menggunakan metode maserasi. Maserasi adalah proses
pengekstraksian simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali
pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (Anggraeni, 2013).
Pembuatan ekstrak dilakukan dengan cara maserasi dingin menggunakan etanol
70%. Ditimbang 600 gram serbuk herba pegagan, kemudian dimasukkan kedalam
wadah dan diberi pelarut etanol 70% sebanyak 2,5 liter hingga seluruh simplisia
terendam (±2,5 cm dari batas atas simplisia) dalam wadah tertutup rapat selama 72 jam
(3 hari) sambil seekali dilakukan pengocokan untuk mencegah terjadinya kejenuhan.
Setelah 3 hari, hasil ekstraksi disaring menggunakan kertas saring sehingga diperoleh
filtrat dan residu. Residu dari maserasi pertama ditambahkan kembali dengan etanol
70% secukupnya dan proses ekstraksi dilakukan ulang sampai hasil larutan maserasi
mendekati tidak berwarna. Hasil maserasi disaring dengan kertas saring. Filtrat yang
didapat dari maserasi pertama dan selanjutnya kemudian dijadikan satu dan dipekatkan
menggunakan rotary evaporator dengan suhu 40º - 60º C dengan kecepatan 50 rpm
sampai didapat ekstrak kental. Kemudian dihitung rendemennya dengan rumus
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 (𝑔𝑟𝑎𝑚)
𝑥 100% (Anggraeni, 2013).
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 (𝑔𝑟𝑎𝑚)

Dosis ekstrak herba pegagan yang digunakan pada uji antinefrolitiasis mengacu
pada dosis aktivitas diuretik ekstrak etanol pegagan yaitu 500 mg/kg BB, maka dibuat
sediaan uji sebagai berikut.
1. Sediaan ekstrak etanol herba pegagan dosis rendah 250 mg/kgBB
2. Sediaan ekstrak etanol herba pegagan dosis sedang 500 mg/kgBB
3. Sediaan ekstrak etanol herba pegagan dosis tinggi 1000 mg/kgBB
Volume ekstrak herba pegagan yang diberikan pada tikus adalah 1 mL/ 200 gramBB
yang diberikan secara per oral.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sekar Anggraeni didapatkan hasil sebagai
berikut. Pemberian dosis rendah pada tikus putih didapatkan persentase penghambatan
batu ginjal sebesar 16,75%. Pemberian dosis sedang pada tikus putih didapatkan
persentase penghambatan batu ginjal sebesar 31,25%. Pemberian dosis tinggi pada
tikus putih didapatkan persentase penghambatan batu ginjal sebesar 29%. Dari
penelitian tersebut di ketahui dosis terbaik untuk penghambatan batu ginjal adalah pada
dosis sedang yaitu 500 mg/kgBB (Anggraeni, 2013).
Daftar Pustaka

A.N.S., T. (2007). Tanaman Obat Tradisional 2. Yogyakarta: Kanisius.


Amalia, R. (2009). Pengaruh Ekatrak Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) terhadap Efek
Sedasi pada Mencit BALB/C. Karya Tulis Ilmiah.
Anggraeni, S. (2013). Uji Aktivitas Penghambatan Pembentukan Batu Ginjal (Anti
Nefrolitiasis) Ekstrak Etanol dari Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) pada
Tikus Putih Jantan. Skripsi.
Aulia, D. N., Suwendar, & Fitrianingsih, S. P. (2015). Uji Aktivitas Diuretik Ekstrak Etanol
Akar Sereh Wangi (Cymbopogon Nardus L. Rendle) pada Tikus Wistar Jantan. Jurnal
Penelitian.
Chooi, O. H. (2008). Rempah-ratus Khasiat Makanan dan Ubatan. Kuala Lumpur: PRIN-AD
SDN.BHD.
Harmanto, N., & Subroto, M. A. (2007). Pilih Jamu dan Herbal tanpa Efek Samping. Jakarta:
Gramedia.
Hernani, & Winarti, C. (2010). Kandungan Bahan Aktif Jahe dan Pemanfaatannya dalam
Bidang Kesehatan. Jurnal.
Ketaren, S. (1985). Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Jakarta: Balai Pustaka.
Mursito, B. (2012). Ramuan Tradisional untuk Pelangsing Tubuh. Jakarta: Penebar Swadaya.
Ouyun, W. E. (2012, April 9). Retrieved from Cookpad: http://www.cookpad.com
Pramono, & Pujiastuti, D. (2004). Standarisasi Ekatrak Herba Pegagan (Centella asiatica (L.)
Urban) berdasarkan Kadar Asia-Tikosida secara KLT-Densitometri. Jurnal Penelitian.
Putri, S. I. (2014). Wedang Ronde sebagai Pangan Fungsional. Makalah.
Trihardjana. (2007). Kajian Potensi Diuretika dari Beberapa Jenis Tanaman di Sekitar Rumah.
Artikel.
Yani, E. (2014). Jahe (Zingiber officinale) dan Manfaatnya. Artikel.
Yuliani, S., & Satuhu, S. (2012). Panduan Lengkap Minyak Atsiri. Jakarta: Niaga Swadaya.