Anda di halaman 1dari 1

EROSI KORNEA

Erosi Kornea adalah defek pada epithel kornea (lapisan terluar dari kornea), dapat disebakan oleh trauma mekanik, kekeringan
pada kornea, kornea neurotropik, pasca bedah, ataupun berbagai etiologi lainnya. Defek epithel kornea paling sering
didapatkan pada bola mata yanga berasal dari populasi manapun.Dapat terjadi rekuren Erosi Kornea ketika perlangsungan
sudah kronik ataupun muncul kembali yang disebabkan rusaknya epitel kornea. Kondisi ini diakibatkan oleh karena penyakit
yang diabaikan sehingga muncul pertanda nyeri, air mata berlebih dan silau pada mata. Perlangsungannya dapat terjadi mulai
dari hitungan jam sampai 5 hari, sehingga faktor profilaksis dipertimbangkan untuk infeksi kornea. Pengobatan konservativ
sampai tingkat pembedahan tergantung tingkat keparahan maupun melihat kondisi akut atau kronik penyakit tersebut.

ETIOLOGI
Trauma mekanik : (misalnya goresan, lensa kontak berlebihan, benda asing di forniks, trichiasis / distichiasis, paparan bahan
kimia). Paparan : (misalnya penyakit neurotropik menyebabkan menutup mata tidak rapat (umumnya palsy saraf kranial
ketujuh), penyakit kelopak mata, proptosis, penurunan kesadaran, blepharoplasty, lagophthalmos). Ultraviolet luka bakar
(misalnya pengelasan, lama paparan sinar matahari dari permukaan reflektif). Kekeringan kornea lokal dan gangguan sistemik
yang mengarah kepada kekeringan kornea (sindrom mata kering misalnya, tiroid penyakit mata, sindrom Sjogren, kekurangan
vitaminA). Kekurangan sel induk limbal (kegagalan untuk meregenerasi sel-sel epitel, terjadi dari berbagai penyebab misalnya
luka bakar kimia, pasca operasi mata, degenerasi autoimun okular). 12

GEJALA
Injeksi konjungtiva sering muncul di sisi ipsilateral dari defek kornea. Kulit atau lipatannya daerah sekitar periorbital yang
bervariasi akibat etiologi defekasi (misalnya kulit terbakar membuat mata terekspose dengan bahan kimia, trauma periorbital
akibat kecelekaan lalulintas, penutupan mata yang tidak sempurna sehingga menyebabkan mata menjadi terexpose. 12,13,14
Gejalanya meliputi nyeri, dan sensasi benda asing dari mata yang terkena (kecuali pada keratopati neurotropik) yang umumnya
diatasi dengan berangsur-angsur dari anestesi topikal. Juga dapat disertai dengan fotofobia, nyeri dengan berkedip dan nyeri
dengan gerakan mata.

DIAGNOSIS
Ketika terjadi defek pengelihatan pada kornea tes flourescein tetes atau melalui flourescein kertas strip yang
dicampur dengan anestesi lokal, digunakan sebagai pemeriksaan dengan menggunakan visualisasi kobalt blue filter
yang menyebabkan epitel berwarna hijau terang sebagai pertanda adanya erosi pada kornea. Distribusi, bentuk dan
ukuran pada kornea akan bervariasi, tergantung pada etiologinya. 12,13,14

MANAJEMEN PENATALAKSANAAN
Beberapa teknik mengenai pengelolaan defek pada kornea tergantung pada sejauh mana tingkat kedalaman luka, kepatuhan
pasien terhadap pengobatan, dan ketersediaan obat yang baik. Untuk defek yang kecil observasi dapat dilakukan dengan tanpa
antibiotic atau penambahan antibiotic untuk mencegah infeksi dan tergantung dari perkembangan penyakitnya. Untuk luka
yang besar dapat diberikan bandage kontak lensa dan tekanan patching untuk memfiksasi bola mata dan untuk kenyamanan
pasien sehingga dapat mencegah infeksi dan dapat membuat regenerasi epithel kornea