Anda di halaman 1dari 22

BAB – 1

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Negara Republik Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau yang tersebar
memanjang disekitar garis khalutistiwa dengan luas lautan hampir 70%
dari seluruh wilayah Transportasi Indonesia. Hal ini merupakan potensi
yang sangat besar untuk pengembangan Negara Republik Indonesia
sebagai Negara maritime yang besar, strategis dan mempunyai prospek
untuk menggerakan dan meningkatan perekonomian nasional yang pada
akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Masalah tersebut hanya dapat di wujudkan dengan meningkatan sistem


Transportasi Nasional yang handal agar dapat memberikan kepuasan,
keyakinan dan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan jasa
transportasi laut. Untuk menunjang system jasa tranportasi yang baik
dan tertata, tidak hanya ditentukan oleh sarana dan prasarana yang
canggih dan modern tetapi, lebih ditentukan oleh Sumber Daya Manusia
(SDM) yang mempunyai keahlian dan keterampilan dalam bidang
transportasi sebagai mekanisme dari system transportasi laut.

Permasalahan saat ini yang dihadapi sector perhubungan khususnya jasa


transportasi laut, adalah kelangkaan Sumber Daya Manusia di bidang
kepelautan yang terampil dan professional, seiring dengan perkembangan
Teknologi dan globalisasi dibidang transportasi laut.
Angka sumber daya pelaut nasional dari tahun 2005 sampai saat ini jauh
dibawah standar international menurut IMO. Untuk tingkat perwira
tahun 2009 dibutuhkan 34.000 orang, dan tahun 2012 harus mencapai
83.900 orang. Sementara jumlah lembaga pendidikan dan pelatihan
negeri maupun swasta yang tersedia dan memenuhi standar minimum
QSS di Indonesia jauh dibawah rasio ideal kelulusan yang dihasilkan.
Sedangkan kebutuhan pasar tenaga kerja perwira pelaut nasional maupun
international sekitar 3.000 s/d 6.000 orang pertahun.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga atau sumber daya manusia kepelautan


baik secara Nasional maupun Internasional. Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Perhubungan Laut Departemen Perhubungan mempunyai tugas
dan kewajiban untuk memenuhi quota serta menetapkan standar
kompentensi sumber daya manusia dibidang transportasi laut yang
professional dan berstandar Internasional.
Standar kompetensi Sumber Daya Manusia di subsektor Pendidikan dan
Pelatihan Perhubungan Laut meliputi :
1. Standar kompetensi internasional yang sesuai dengan STCW 78
Amandemen 1995
2. Standar kompetensi Nasional bidang pendidikan dan pelatihan
perhubungan laut serta melaksanakan Konsensus Nasional untuk
menuju system perkembangan sertifikasi dan standar profesi.

Seiring dengan urgensi kebutuhan tenaga perwira pelaut dan


perkembangan teknologi kemaritiman, Pendidikan dan Pelatihan Pelayaran
perlu disesuaikan dengan perkembangan jaman sesuai dengan Konvensi
Internasional yang dikeluarkan oleh IMO.
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perhubungan Laut sebagai penyusun
rencana dan program pendidikan dan pelatihan, perlu ditunjang dengan
sarana dan prasarana yang memadai dengan standar procedure
internasional.

1.2. PERMASALAHAN
1. Secara umum masalah kritis transportasi laut disebabkan oleh adanya
arah pembangunan transportasi nasional yang kurang mengantisipasi
kebutuhan (demand), organisasi kementrian perhubungan selama ini
terkesan lamban menjadi kurang dan efisien sehingga aspek
keselamatan transportasi dan keselamatan kerja umumnya kurang
mendapat prioritas, sehingga berbagai penyebab kecelakaan nyaris
serupa, khususnya peningkatan profesionalisme dan kompetensi
sumber daya manusia transportasi laut/kepelautan

2. Secara teknis operasional, masalah kritis transportasi khususnya di


sub sektor transportasi laut disebabkan masih sering terjadinya
kecelakaan kapal laut, kebijakan pengadaaan sarana dan prasarana ,
penurunan spesifikasi teknis belum diberlakukannya sertifikat uji,
pengembangan SDM belum memadai, tidak mengindahkan aspek
keselamatan , penegakan disiplin oleh aparat kurang tegas, penanganan
pemeriksaan bagi penumpang dan barang/kargo belum ditangani
secara serius serta prosedur yang kurang memadai dan belum
terawasi sesuai dengan standar prosedur internasional

3. Pengembangan diklat pelayaran/kepelautan khususnya sarana dan


prasarana, seperti simulator, laboratorium, gedung dan bangunan,
asrama, model penunjang diklat, baik yang bersifat phisik maupun
software, dan alat Bantu belajar mengajar, penyelenggaraan diklat di
subsektor transportasi laut yang efektif dan efisiensi khususnya
diklat pelayaran yang dikelola swasta belum memadai.

1.3. MAKSUD DAN TUJUAN


Pekerjaan Feasibility Study Dan Master Plan Pembangunan Diklat
Pelayaran di Jawa Timur, adalah untuk mengetahui kemungkinan
dibangunnya sarana dan prasarana Pembangunan Diklat di lokasi studi
berdasarkan aspek teknis, tata ruang, lingkungan, amdal, social, ekonomi
dan financial. Mengkaji kondisi lahan baik teknis maupun geografis,
membuat alternative bentuk maupun metode pembangunan yang dapat
diterapkan berkaitan dengan kondisi demografi masyarakat Jawa Timur.

1.4. LINGKUP PEKERJAAN


Cakupan Feasibility Studi dan Master Plan dalam rangka Pembangunan
Diklat Pelayaran di lokasi Jawa Timur, meliputi hal-hal sebagai berikut :

1) Study Kelayakan :
Layak tidaknya pembangunan diklat pelayaran di Jawa Timur, ditinjau
dari aspek teknis maupun non teknis, meliputi hal-hal sebagai berikut :
- Pendataan hinterlad (potensi wilayah belakang-sekitar),
forecasting dan potensi hinterland.
- Analisis teknis serta wilayah yang akan dibangun, mencakup
penaksiran volume dan lokasi pembangunan
- Kajian kondisi lahan baik teknis maupun geografis
- Kajian bentuk maupun metode pembangunan yang dapat diterapkan
berkaitan dengan kondisi demografi masyarakat Jawa Timur
- Kajian Master Plan dengan perencanaan jangka, pendek, menengah
dan jangka panjang untuk pembangunan diklat pelayaran ditinjau
dari sisi potensi di wilayah Jawa Timur
- Analisis kelayakan ekonomi terhadap wilayah studi
- Analisis kelayakan financial terhadap wilayah studi
- Analisis kelayakan lingkungan terhadap wilayah studi
- Analisis kelayakan terhadap pendidikan yang ada disekitar wilayah
studi
- Dan Pengumpulan data-data sekunder meliputi data-data, rencana
tata ruang, RT/RW, akses jalan, berkaitan dengan transportasi
laut

2) Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL)


- Kajian terhadap aspek lingkungan, daerah dan akses ke lokasi
studi
- Analisis Amdal sehubungan dengan rencana pembangunan Diklat
pelayaran diseitar lokasi studi

3) Pengukuran Situasi dan Topografi


- Luas pengukuran topografi di lokasi studi adalah 15 Ha
- Penggambaran dan pemetaan dilokasi studi

1.5. WAKTU PELAKSANAAN


Pelaksanaan pekerjaan Feasibility Studi dan Masterplan Pembangunan
Diklat Pelayaran di lokasi Jawa Timur akan dilaksanakan selama 4 (empat)
bulan.

1.6 SUMBER DANA


Sumber dana dibebankan pada DIPA Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Perhubungan Laut Tahun Anggaran 2010.
BAB 3
PEMAHAMAN TERHADAP KAK

3.1. PEMAHAMAN TERHADAP KAK

Adalah penting pula adalah pemahaman atas kerangka acuan kerja yang
memberikan arahan dan batasan dalam kegiatan pelaksanaan pekerjaan.

Secara umum konsultan menilai bahwa ketentuan-ketentuan yang ada


dalam kerangka acuan kerja maupun yang tertuang dalam risalah
penjelasan, sudah jelas dan lengkap dan dapat dipedomani untuk
menyelesaikan pekerjaan sesuai maksud dan tujuan, lingkup pekerjaan,
criteria prencanaan dan jangka waktu yang ditetapkan.

Dalam kerangka acuan kerja (KAK) “ Feasibility Studi dan Masterplan


Diklat Pelayaran” menyebutkan, bahwa: pekerjaan mencakup pengumpulan
data sekunder dan data primer, analisis studi, analisa kelayakan ekonomi
terhadap wilayah studi, analisis kelayakan financial terhadap wilayah
studi, analisis kelayakan teknis terhadap wilayah studi, dan analisis
kelayakan lingkungan terhadap wilayah studi.
Berdasarkan pada pemahaman dan kedalaman kajian konsultan tentang
maksud dan tujuan, sasaran dan lingkup pekerjaan yang terkait dengan
hal tersebut diatas, maka konsultan menilai semua uraian yang rinci.
Namun demikian, untuk metode pelaksanaan KAK tidak memberi arahan
metodologi pendekatan dan alat-alat analisis yang akan digunakan, karena
itu uraian dan penjelasan metodologi dan alat-alat analisis tersebut perlu
ditambahkan dengan alat-alat analisis lainya yang sesuai untuk melengkapi
metode analisis yang ada dan juga dimaksudkan untuk mencapai target
dan sasaran pekerjaan yang diharapkan.

Pelaksanaan pekerjaan feasibility dalam rangka pembangunan diklat


pelayaran di jawa timur akan dilaksanakan selama 120 (seratus dua puluh)
hari kalender. Durasi pelaksanaan pekerjaan ini relative cukup memadai,
dan konsultan memandang bahwa durasi pelaksanaan tersebut dapat
dilaksanakan dengan baik, mengingat tenaga ahli dan personil yang
terlibat relatif memadai dalam memberikan layanan keahliaanya, dan
didukung fasilitas penunjang di lapangan dan di kantor. Selain didukung
peralatan perangkat keras, dalam pelaksanaan ini ditunjang dengan
perangkat lunak untuk melakukan analisis dan finalisasi hasil pekerjaan.
3.2. TANGGAPAN TERHADAP KAK

Setelah mempelajari dengan seksama terhadap isi Kerangka Acuan


Kerja yang telah disusun, telah dapat diperoleh gambaran yang
cukup jelas dalam memberikan arahan kerja serta lingkup dan
materi pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh konsultan. Secara
umum Kerangka Acuan Kerja ini telah cukup spesifik dan memenuhi
syarat untuk dipakai sebagai pedoman kerja.

Hal-hal yang perlu kami sampaikan sehubungan dengan pelaksanaan


pekerjaan yang berkaitan dengan Kerangka Acuan Kerja adalah :

A. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai


kondisi objek studi yang berkaitan dengan penyusunan
rencan kerja yang akan disusun oleh konsultan, akan lebih
baik apabila di dalam KAK disebutkan ketersediaan data dan
fasilitas yang ada pada proyek atau instasi pemberi kerja,
sehingga dengan demikian dalam penyusunan rencana kerja
dapat ditentukan dengan jelas dan pasti. Hal lain yang perlu
kami ketahui adalah ketersediaan data saat ini, apabila
mudah untuk melakukan pengumpulan data, serta
aksesibilitas lainnya. Pengetahuaan kondisi ini akan
berpengaruh pada rencana pelaksanaan kerja dan penentuan
peralatan yang akan dipakai dalam pelaksanaan nantinya.

B. Tenaga ahli yang dibutuhkan dan waktu yang disediakan


relatif cukup memadai dan diharapkan dapat bekerja dengan
baik dan berhasil guna untuk mendapatkan hasil yang optimal
pada pekerjaan ini, Konsultan akan menyusun team kerja
yang terkoordinasi dan dengan suatu rencana kerja yang
terarah, dengan harapan pekerjaan ini dapat diselesaikan
tepat pada waktunya.

C. Sistem pelaporan dilakukan sebagai salah satu bentuk


komunikasi antara konsultan dengan pemberi tugas. Namun
demikian, konsultan memandang penting perlunya konsultasi
dan diskusi yang intensif. Diskusi merupakan bentuk dari
komunikasi antara konsultan dengan pemberi tugas. Di dalam
diskusi dibahas masalah-masalah kendala (hambatan) serta
masukan dari pemberi tugas atau pihak lain yang terkait
untuk perbaikan dan kelancaran pekerjaan ini. Diskusi
pertama (Kick off Meeting) dilaksanakan di awal pekerjaan,
segera setelah ditanda tanganinya surat perjanjian
(Kontrak). Diskusi ini dimaksudkan agar konsultan
mendapatkan masukan gambaran lokasi pekerjaan dan
rencana pengembangan pembangunan secara lebih jelas
sebelum dilakukannya survey pendahuluan (kunjungan
lapangan) dan pengumpulan data sekunder. Selanjutnya
diskusi lainnya selama proses pelaksanaan studi disesuaikan
dengan tahapan pencapaian hasil studi.
BAB 4
METODOLOGI PELAKSANAAN STUDI

Bab ini menjelaskan metode dan tahapan penyelesain studi sesuai dengan
Term Of Reference, dengan penjelasan sebagai berikut :

4.1. MASALAH PENELITIAN

4.1.1 Kebutuhan Penelitian

Mendasari permasalahan yang ada, maka terdapat tiga hal penting dalam
kebutuhan penelitian yang terkait dengan perlunya studi Pembangunan
Masterplan Diklat Pelayaran di Jawa Timur sebagai berikut :

A .Pertama : Kebutuhan akan Pembangunan Masterplan Diklat


Pelayaran di Jawa Timur

B. Kedua, adanya keinginan dari beberapa kabupaten/kota


terhadap Pembangunan Masterplan Diklat Pelayaran dimaksud
karena di Jawa Timur terdiri dari beberapa kabupaten/kota
yang memiliki potensi dan keinginan sama terhadap
pembangunan Diklat Pelayaran tersebut.

C. Ketiga, Keperluan akan Pembangunan Diklat Pelayaran tersebut


didasarkan atas aspek teknis, ekonomis dan keuangan serta
diharapkan sebagai titik sentral bagi pengembangan tatanan
Pembangunan Diklat Pelayaran bagi kawasan tersebut.

4.1.2. Fokus Penelitian

Konsultan melihat bahwa ketiga isu tersebut dapat dijelaskan dalam


suatu focus penelitian yaitu perlunya membangun suatu “ model dalam
penentuan Pembangunan Masterplan Diklat Pelayaran di Jawa Timur
serta perancangan system transportasi laut”.

Dalam melakukan studi ini terdapat beberapa aspek teknis, ekonomis dan
keuangan serta bagaimana menyusun system kepelabuhan di kawasan
tersebut serta system transportasi wilayah pada kawasan tersebut.
Secara spesifik pertanyaan tersebut dapat dijabarkan dalam beberapa
pertanyaan yang lebih detail sebagai berikut :

a. apa dan bagaimana cara dalam menentukan Lokasi Pembangunan pada


kawasan studi ?

b. Bagaimana bentuk pemikiran dari pengambil keputusan dalam


menetapkan Lokasi Pembangunan terpilih tersebut secara agregat

c. unsur-unsur apa saja yang berinteraksi dan dipertimbangkan dalam


penentuan Lokasi terpilih tersebut ?

d. unsur-unsur apa yang dominant dalam penetapan penentuan Lokasi


terpilih tersebut ?

e. variable – variable apa dalam unsur yang dipertimbangkan dalam


penentuan Lokasi terpilih tersebut ?

f. Bagaimana merancang system transportasi hirarki, peran dan fungsi


wilayah di kawasan tersebut ?

4.1.3 Struktur Permasalahan

Dalam melakukan jawaban terhadap pertanyaan penelitian di atas,


konsultan memandang perlunya dilakukanpenjelasan terhadap “ Struktur
Permasalahan “ yaitu bagaimana merancang system Kawasan Masterplan
Diklat Pelayaran dengan menentukan stu lokasi terpilih di Jawa Timur.

4.1.4. Hipotesis

Berdasarkan strutur masalah dapat disusun 3 (tiga) hipotesis analisa


kebutuhan penelitian dengan penjelasan sebagai berikut :

4.2. KERANGKA PENELITIAN

Pada prinsipnya kerangka penelitian pada studi ini adalah menggambarkan


sebagaimana tujuan dan lingkup kerja yang tertera dam TOR.

4.3. PROSES PENGUMPULAN DATA


Pada tahap awal tim konsultan akan melakukan proses pengumpulan data
dengan menggunakan teknik yang sesuai dengan ruang lingkup TOR,
melalui teknik observasi langsung maupun tak langsung, teknik observasi
langsung adalh melakukan wawancara terhadap pejabat publicyang
berkepentingan dalam pemerintahan propinsi Jawa Timur, selain itu
digunakan metode kuesioner serta teknik studi dokumentasi termasuk di
dalamnya studi literature dan kebijakan yang relevan dengan tujuan
studi.

Penelitian survai adalah suatu proses untuk mentransformasukan lima


komponen informasi ilmiah yaitu teori, hipotesis, observasi, generalisasi,
empiris dan penerimaan atau penolakan hipotesis

a. Teknik Observasi Langsung

Teknik observasi langsung adalah untuk melihat objek penelitian


yaitu kawasan Jawa timur. Pada observasi awal konsultan akan
melakukan pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan
gejala-gejalaan teknis yang tampak secara langsung di kawasan
Jawa Timur.

b. Teknik Studi Dokumentasi

Konsultan menggunakan teknik studi dokumentasi untuk


mengumpulkan data dengan kategorisasi dan klarifikasi bahan-
bahan tulisan yang berhubungan dengan imformasi dan kebijakan
yang berhubungan dengan kawasan tersebut, Dokumentasi
(institusi) seperti kebijakan –kebijakan nasional dan wilayah
tentang tata ruang dan transportasi, buku literature dan lain-lain.
Maksud pengumpulan data dengan teknik dokumentasi adalah untuk
meneliti dan menganlisis dokumen kebijakan yaitu bagaimana
kebijakan bagi pengembangan kawasan tersebut. Dokumen yang
dihimpun untuk dilakukan analisa adalah rencana strategi, konsep
pengembangan kaasan, peraturan daerah dan lain-lain.

4.4. PROSES ANALISIS DATA

Berkaitan dengan pekerjaan studi ini, maka konsultan dalam analisis data
merencanakan menerapkan analisis terhadap isi dokumen, analisis regresi
linier dan analisis hirarkhi proses. Gabungan dari analisis data ini
menggunakan teknik deskriptif kualitatif dan didukung dengan teknik
kuantitatif melalui pengolahan data kualitatif dan kuntitatif.
1). Analisis Transportasi Wilayah

Adalah digunakan untuk melihat kondisi system transportasi wilayah yang


ada sekarang, baik moda darat, laut maupun udara serta keterpaduan
dalam penyelenggaraan system transportasi wilayah.

Disamping itu analisis ini digunakan untuk melihat keunggulan moda mana
yang paling cocok dalam pengembangan kawasan tersebut.

2. Analisis Identifikasi Hinterland

Analisis itu ditujukan untuk melihat pola aliran barang dari sentra
produksi menuju ke pelabuhan di kawasan tersebut. Selanjutnya
identifikasi hinterland adalah melihat jenis komoditi yang keluar masuk
pelabuhan dan pola distribusinya baik kedalam maupun keluar.

Selanjutnya dapat dianalisis lebih lanjut keterkaitan kawasan pada


beberapa komoditi tertentu atau adanya duplikasi hinterland ataupun
kepemilikan sendiri pada pelabuhan-pelabuhan pada kawasan tersebut.

3. Analisis Sosial-Ekonomi

Analisis sosio ekonomi ditujukan untuk dapat melihat bangkitan dan


tarikan pada sector produksi di sepanjang kawasan Jawa Timur.

Objek wilayah adalah propinsi Jawa Timur dengan kekayaan alam dapat
dilihat dari potensi dari masing-masing sector peruntukan sector
didasarkan pada karakteristik produksi pada sector tersebut, meliputi
sector industri, pertanian, perdagangan, perkebunan, kehutanan dan lain-
lain.
BAB 5
RENCANA KERJA & PELAPORAN

5.1. RENCANA KERJA

Bab ini menjelaskan rencana kerja yang dibangun dalam menyelesaikan


pekerjaan ini dengan penjelasan sebagai berikut :

Kebutuhan penelitian dalam kegiatan “ Pembangunan Masterplan Diklat


Pelayaran Di Jawa Timur” terdiri dari :

 Tahap Persiapan
 Pengumpulan Data Sekunder Dan Primer
 Kompilasi dan Evaluasi data
 Analisis dan interpretasi data
 Analisis Substansial Pengembangan Pembangunan dan Kawasn
 Perumusan dan Penyusunan Pembangunan

A. Persiapan Pelaksanaan Kegiatan

Persiapan yang dilakukan antara lain menyangkut hal-hal sebagai berikut :

 Persiapan Adminitrasi ; masalah adminitrasi yang harus diselesaikan


terutama meliputi adminitrasi kontrak dan legalitas personil yang akan
ditugaskan untuk melaksanakan pekerjaan ini, baik legalitas di lingkungan
intern konsultan maupun legalitas yang diperlukan untuk berhubungan
dengan pihak lain yang terkait.
 Persiapan Personil; penyusunan tim pelaksana yang mampu menangani
pekerjaan ini yang meliputi kualifikasi (Kompetensi) dan jumlah tenaga.
Setelah tim terbentuk, langkah selanjutnya adalah menyusun jadwal
pelaksanaan pekerjaan, dengan mendasarkan pada alokasi waktu yang telah
realistis dan optimum, baik secara keseluruhan maupun secara parsial sesuai
dengan tugas masing-masing tenaga ahli dalam melaksanakan pekerjaan.
 Persiapan peralatan; seluruh peralatan, baik untuk keperluan kantor maupun
untuk survey lapangan, disiapkan dengan teliti agar dapat segera digunakan
pada saat diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan.
Selain persiapan ketiga hal tersebut, adalah penting untuk mengadakan
penyusunan data dan informasi yang diperlukan guna menunjang pekerjaan,
dengan membedakan atas jenis-jenis data/informasi mana yang tersedia dan
yang belum tersedia serta data/informasi mana harus di usahakan
ketersediaanya. Dilakukan pula inventarisasi informasi yang diperlukan untuk
peninjauan lapangan (Survey pendahuluan / reconnaissance survey) menuju
lokasi rencana Pembangunan.

B. Pengumpulan Data

Tahap ini bertujuan untuk dapat mengidentifikasi data awal lokasi dan wilayah
sekitarnya dan kecenderungan perkembangannya, yang disesuaikan dengan
rencana pengembangan ( business plan) yang dimiliki oleh perusahaan. Secara
garis besar data dan informasi yang dikumpulkan dapat diklasifikasikan
berdasar sumber data itu sendiri ( data sekunder dan data primer).

Pengumpulan Data Sekunder

Kegiatanpengumpulan data sekunder meliputi pengumpulan data-data dari studi


terkait berupa pengumpulan data angka, kebijakn strategi rencana
pengembangan wilayah. Berikut data sekunder secara menyeluruh yang
didasarkan pada masing-masing kajian.
 Data dan informasi mengenai kebijakan pemerintah :
1. Arah kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah,
2. Kebijakan Pemerintah tentang arahan tatanan Pembangunan
3. Arah kebijakan lainnya yang berpengaruh pada tatanan
Pembangunan
4. Peraturan daerah kota/kabupaten dan peraturan daerah provinsi
yangterkait
 Data dan informasi mengenai penggunaan lahan dan perairan di wilayah
rencana Pembangunan dan wilayah sekitarnya yang terakomodasi dalam
laporan rencana program pengembanggan Wilayah serta Rencana Umum
Tata Ruang (RUTR) yang antara lain meliputi :
(1) Pola pemenfaatan lahan
(2) Potensi pemanfaatan lahan dan perairan di sekitar rencana
Pembangunan
(3) Data mengenai pemanfaatn lahan pemukiman penduduk yang
terkena rencana pengembangan Pembangunan
(4) Pengumpulan data system jaringan transportasi di wilayah sekitar
rencan pembangunan
 Data dan informasi mengenai kondisi teknis lokasi pengembangan
pembangunan :
(1) Data kondisi alam dan lingkungan, seperti iklim (suhu, curah hujan,
angin), topografi, hidraulik sungai (arus, pasang surut,
sendimentasi), hidrologi (debit, muka air kering/kemarau dan muka
air banjir), geologi, dan lingkungan (kualitas air dan udara).
(2) Profil lokasi eksiting rencana Pembangunan Masterplan sesuai
dengan kegiatan yang akan ditinjau; seperti kawasan Pembangunan
berupa kondisi dan kegiatan.
(3) Batasan kondisi dan kendala pengembangan sesuai dengan kegiatan
yang akan ditinjau
(4) keterkaitan dengan moda transportasi lainnya (untuk kegiatan
Pembangunan).
(5) Kondisi lalulintas dan jalan akses.
(6) Prasarana Komunikasi.
(7) Prasarana jaringan drainase, air bersih, listrik, dan prasarana
pendukung lainnya.
(8) Status adminitrasi wilayah yang bersangkutan,

Pengumpulan Data Primer

Data primer yang dikumpulkan menjadi masukan utama dalam Pembangunan


Masterplan ini. Data serta informasi primer yang dikumpulkan difokuskan
kepada kondisi dan perkembangan kegiatan Pembangunan disamping itu data
primer juga didapatkan pada saat kegiatan peninjauan lapangan (Survey
Pendahuluan). Pada peninjaun lapangan ini dilakukan pengambilan foto
dokumentasi lokasi rencana pembangunan. Dengan foto ini diharapkan dapat
memberikan gambaran kondisi yang sebenarnya yang ada di lapangan.

C. Analisis

Setelah semua data/informasi (primer dan sekunder) dikumpulkan, langkah


selanjutnya dilakukan evaluasi dan analisis atas data-data tersebut untuk
mendapatkan input dan parameter-parameter teknis yang akan digunakan dalam
analisis kelayakan Pembangunan.
Dalam studi pembangunan masterplan dilakukan evaluasi dan analisis data antara
lain meliputi :
a. Analisis Kajian teknis terhadap kebutuhan prasarana Pembangunan untuk
mendapatkan hasil rancang bangun yang optimal dan analisis perkiraan
kebutuhan fasilitas.
b. Analisis terhadap tataruang wilayah studi
c. Analisis keselamatan pelayaran terhadap wilayah studi
d. Analisa kelayakan ekonomi terhadap wilayah studi
e. Analisis kelayakan financial terhadap wilayah studi
f. Analisis kelayakan teknis terhadap wilayah studi
g. Dan analisis kelayakan lingkungan terhadap wilayah studi

D. Perumusan Dan Penyusunan Kelayakan

Prinsip dasar dalam perumusan kebijakan pengembangan Pembangunan termasuk


kelayakan pengembangan adalah dengan didasarkan atas analisis/kajian secara
lengkap telah menguraikan aspek tinjauan yang meliputi aspek teknis,
operasional, aspek financial, aspek ekonomi dan aspek lingkungan. Selain kelima
aspek tersebut, konsultan memandang penting untuk mengadakan kajian
mengenai aspek legal/institusional yangberkaitan dengan penyelenggaraan
Pembangunan Masterplan saaat ini dan prospeknya di masa mendatang.

Dengan demikian konsultan akan lebih mempertajam dalan evaluasi dan analisa
secara komprehensif terhadap aspek legal, teknis, operasional, financial dan
ekonomi dan aspek lingkungan dalam pekerjaan studi ini, yaitu :
1) Aspek legal, berkaitan dengan peran Pembangunan Masterplan dan
prospeknya, serta hirarki peran dan fungsi
2) Aspek teknis, dengan menerapkan standar teknis dalam perencanaan dan
Pembangunan Masterplan Diklat Pelayaran yang lazim dipakai di
Indonesia, dan jugasecara internasional apabila relevan
3) Aspek financial, dengan mengadakan analisis kelayakan financial
terhadap rencana pengembangan jangka pendek
4) Aspek ekonomi, dengan mengadakan analisis kelayakan ekonomi terhadap
rencana pengembangan jangka pendek
5) Aspek lingkungan, dengan menemukenali rona lingkungan awal, dampak
pentingdari kegiatan pengembangan Pembangunan Masterplan dan usulan
menimasi dampaknya, atas rencana pengembangan jangka pendek.

Berdasarkan hal-hal tersebut, konsultan akan merekomondasikan secara


lengkap kebijakan, arah dan strategi pengembangan pembangunan yang di tinjau
dalam menyikapi perkembangan Pembangunan Masterplan di masa mendatang.

Konsultan memandang jangka waktu yang ada akan dimanfaatkan secara optimal,
mengingat pekerjaan ini adalah kegiatan perencanaan (planning) yang di dahului
data, dan diakhiri dengan kegiatan perumusan kelayakan pengembangan
pembangunan Masterplan Diklat Pelayaran di Jawa Timur.
Untuk dapat mengoptimalkan waktu yang ada maka konsultan akan melakukan
beberapa kegiatan yang dapat mendukung kelancaran pekerjaan ini, antara lain :

(a) komunikasi dan koordinasi secara intensif dengan berbagai pihak terkait,
utamanya dengan pemberi tugas. Baik dengan team counterpart pemberi
tugas yang di tunjuk maupun pejabat/petugas lainnya,
(b) Pembahasan secara intensif dan segera , terutama yang menyangkut
‘keputusan-keputusan’ penting
(c) Pengumpulan data dan survey dimulai segera yang diawali dengan desk
studi sehingga pada diskusi pembahasanlaporan pendahuluan, tidak saja
membahas rencana kerja konsultan, tetapi juga sudah membahas hal-hal
strategis dalam pengembangan Pembangunan Masterplan
(d) Tahapan kegiatan pekerjaan dilakukan secara bersamaan ( overlapping)
bilamana itu mungkin dan memberikan penyingkatan waktu, sekalipun tetap
memperhatikan kesinambungan dan keberurutan tahapan pelaksaan
pekerjaan. Misalnya kegiatan perencanaan (planning) sudah di mulai tanpa
menunggu selesainya kegiatan survey pengumpulan data
(e) Strategi Pelaksanaan studi kelayakan akan mengutamakan ‘konseptual’
daripada ‘etail’ pada awal pekerjaan, sehingga konsep pengembangan
dapat segera diajukan dan dipresentasikan. Bila tidak, maka kegiatan
pelaksanaan studi akan terjebak pada hal-hal detail yang tidak
konseptual. Sekalipun demikian, pada ouput final nantinya, konsepsi yang
benar harus didukung oleh ‘detail’ yang akurat.

5.2 Pelaporan

Sistem pelaporan dilakukan sebagai salah satu bentuk komunikasi antara


konsultan dengan pemberi tugas. Laporan pekerjaan studi kelayakan
dalam rangka Pembangunan Masterplan Diklat Pelayaran di Jawa Timur
dilaporkan secara tertulis kepada pemberi tugas yang merupakan buku
yang di jilid dengan baik, di susun secara sistematis

a. Laporan pendahuluan (Inception Report) dibuat sebanyak 10


(sepuluh) buku
Isi laporan meliputi :
- Rencana survey/studi
- Rencana pengumpulan data primer dan sekunder, peta dan
gambar lokasi;
- Questioner;
- Tanggapan terhadap KAK termasuk lingkup pekerjaan dikaitkan
dengan melaksanakan hasil suervey/studi.
b. Laporan antara (Interim Report) sebanyak 10 (sepuluh) buku isi
laporan meliputi :
- Data hasil questioner;
- Hasilsurvey data primer dan sekunder
- Berita acara pelaksanaan survey/studi;
- Evaluasi dan rekomendasi sementara dari hasil survey/studi.
c. Laporan akhir (final Report) sebanyak 10 (sepuluh) buku, laporan
ringkas (Executve Summary) sebanyah 10 (sepuluh) buku.
Merupakan penyempurnaan laporan semi rampung (Draft Final
Report) yang meliputi :
- Penjelasan hasil-hasil studi berdasarkan analisis teknis, tata
ruang, social, ekonomi, dan financial dan lingkungan hidup
- Tanggapan terhadaphasil-hasil analisis
- Rekomendasi layak atau tidaknya Pembangunan di wilayah studi
- Laporan ringkas berisikan ringkasan hasil studi.
d. Gambar Sebanyak 10 (sepuluh) buku dan softcopy berupa flashdisk
yang meliputi :
- Kalkir
- Blueprint Ukuran A1 sebanyak 10(sepuluh) buku
- Gambar ukuran A3 sebanyak 10(sepuluh) buku
- Maket dengan skala 1 : 2500
BAB 6
ORGANISASI PELAKSANA PEKERJAAN

6.1 PELAKSANAAN PEKERJAAN

Sesuai dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan dan keterbatasan waktu,


maka konsultan merancang kebutuhan man-mont untuk pelaksanaan
pekerjaan. Perhitungan didasarkan pada tingkat prosentase dari
keterlibatan tenaga ahli yang dikorelasikan dengan bobot pekerjaan yang
ada dengan sebagai berikut :

Tabel 6.1
Kebutuhan Tenaga Ahli

No Tenaga Ahli Jumlah Jumlah


OB
1 Ketua Tim 1 Orang 4
2 Ahli Ekonomi 1 Orang 4
3 Ahli Pendidikan 1 Orang 4
4 Ahli Geodesi 1 Orang 4
5 Ahli Mekanika Tanah 1 Orang 4
6 Ahli Struktur Kontruksi 1 Orang 4
7 Ahli Mekanikal Elektrikal 1 Orang 3.5
8 Ahli Desain Arsitektur 1 Orang 4
9 Ahli Nautika 1 Orang 3.5
10 Ahli Lingkungan 1 Orang 3.5

Kualifikasi minimal dari personil inti yang disyaratkan untuk masing-


masing jenis pekerjaan adalah :

a. Pimpinan Tim:
Pasca sarjana (S2) Teknik sipil dengan pengalaman 5(lima) tahun
atau sarjana (S1) teknil sipil dengan pengalaman minimal
10(sepuluh) tahun di bidangnya.

b. Tim Ahli
1. Pasca sarjana (S2) Ekonomi dengan pengalaman 2 (dua) tahun
atau sarjana (S1) Ekonomi dengan pengalaman minimal 5 (lima)
tahun di bidangnya;

2. Pasca sarjana (S2) Pendidikan dengan pengalaman 2 (dua) tahun


atau sarjana (S1) Pendidikan dengan pengalaman minimal 5
(lima) Tahun pendidikan

3. Pasca Sarjana (S2) Geodesi dengan pengalaman 2 (dua) tahun


atau sarjana (S1) geodesi dengan pengalaman minimal 5 (lima)
tahun di bidang Geodesi

4. Pasca Sarjana (S2) Mekanika Tanah dengan pengalaman 2 (dua)


tahun atau sarjana (S1) geodesi dengan pengalaman minimal 5
(lima) tahun di bidang Mekanika Tanah

5. Pasca Sarjana (S2) Struktur kontruksi dengan pengalaman 2


(dua) tahun atau sarjana (S1) struktur kontruksi dengan
pengalaman minimal 5 (lima) tahun di bidang struktur kontruksi

6. Pasca Sarjana (S2) Elektrikal mekanikal dengan pengalaman 2


(dua) tahun atau sarjana (S1) Elektrikal mekanikal dengan
pengalaman minimal 5 (lima) tahun di bidang leketrikal
mekanikal

7. Pasca Sarjana (S2) Desain arsitektur dengan pengalaman 2


(dua) tahun atau sarjana (S1) desain arsiktektur dengan
pengalaman minimal 5 (lima) tahun di bidang Desain Arsitektur

8. Pasca Sarjana (S2) Nautika dengan pengalaman 2 (dua) tahun


atau sarjana (S1) nautika dengan pengalaman minimal 5 (lima)
tahun di bidang nautika
9. Pasca Sarjana (S2) Lingkungan dengan pengalaman 2 (dua) tahun
atau sarjana (S1) lingkungan dengan pengalaman minimal 5
(lima) tahun di bidang lingkungan.

6.2 Team Leader;

a. Team leader;
Sebagai tim leader bertanggung jawab terhadap keberhasilan
pekerjaan dan memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut :

1. Bertanggung jawab terhadap seluruh hasil pekerjaan sesuai


dengan kontrak baik teknis maupun adminitrasi
2. memberikan jaminan terhadap kelancaran pelaksanaan
pekerjaan
3. melakukan konsultasi dan diskusi dengan pihak direksi
pekerjaan
4. memimpin koordinasi terhadap personil, baik personil lapangan,
personil perencanaan di kantor dan peralata yang diperlukan
5. memberikan tanggung jawab terhadap pelaksanaan pekerjaan
pengumpulan data primer dn sekunder
6. melakukan diskusi mendalam dengan direksi pekerjaan dan
tenaga ahli lainnya, untuk menentukan lokasi rencana
pembangunan
7. memberikan konsep dan criteria perencanaan sesuai dengan
spesifikasi teknik dalam kontrak dan disetujui direksi
pekerjaan
8. membuat kerangka pikir penyelesaian studi
9. menyusun laporan pekerjaan yang di Bantu staf

b. Ahli ekonomi
Tugas dan bertanggung jawab yang diberikan kepadanya adalah :

c. Ahli Pendidikan
Tugas dan bertanggung jawab yang diberikan kepadanya adalah :

d. Ahli Geodesi
Tugas dan bertanggung jawab yang diberikan kepadanya adalah :

e. Ahli Mekanika Tanah


Tugas dan bertanggung jawab yang diberikan kepadanya adalah :

f. Ahli Struktur Konstruksi


Tugas dan bertanggung jawab yang diberikan kepadanya adalah :
1. Penanggug jawab teknis perhitungan struktur
2. melakukan perhitungan struktur bangunan atas dan memeriksa
gambar detail penulangan
3. Bersama-sama ream leader mengadakan diskusi dengan direksi
pekerjaan
4. Bersama-sama dengan team leader menyusun bahan pembuatan
laporan

g. Ahli Elektrikal mekanikal


Tugas dan bertanggung jawab yang diberikan kepadanya adalah :

h. Ahli Desain struktur


Tugas dan bertanggung jawab yang diberikan kepadanya adalah :

i. Ahli Nautika
Tugas dan bertanggung jawab yang diperlukan kepadanya adalah :

j. Ahli lingkungan
Tugas dan bertanggung jawab yang diberikan kepadanya adalah :
1. Sebagai penanggung jawab dan pelaksana pekerjaan yang
berkaitan dengan maslah lingkungan dengan rencana
pembangunan masterplan diklat pelayaran di jawa timur sesuai
dengan kontrak baik teknik maupun adminitrasi
2. mengumpulkan data primer dan sekunder yang berhubungan
dengan lingkungan akibat akan dilaksanakannya rencana
pembangunan masterplan diklat pelayaran
3. melakukan analisis atas berbagai kemungkinan terjadinya
perubahan mutu lingkungan yang diakibatkan oleh pembangunan
masterplan diklat pelayaran.
4. Memberikan rekomendasikan hasil analisis, berupa saran dan
tindakan yang dilakukan yang diakibatkan oleh rencana
pembangunan masterplan diklat pelayaran
5. Menyusun laporan, terutama bagian lingkungan, beserta ketua
tim dan tenaga ahli lainnya.