Anda di halaman 1dari 3

BAB 2 PEMAHAMAN &

TANGGAPAN KAK

2.1 PEMAHAMAN KAK

Adalah penting pula adalah pemahaman atas kerangka acuan kerja yang memberikan
arahan dan batasan dalam kegiatan pelaksanaan pekerjaan.

Secara umum konsultan menilai bahwa ketentuan-ketentuan yang ada dalam


kerangka acuan kerja maupun yang tertuang dalam risalah penjelasan, sudah jelas
dan lengkap dan dapat dipedomani untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai maksud
dan tujuan, lingkup pekerjaan, criteria prencanaan dan jangka waktu yang ditetapkan.

Dalam kerangka acuan kerja (KAK) “ Feasibility Studi dan Masterplan Diklat Pelayaran”
menyebutkan, bahwa: pekerjaan mencakup pengumpulan data sekunder dan data
primer, analisis studi, analisa kelayakan ekonomi terhadap wilayah studi, analisis
kelayakan financial terhadap wilayah studi, analisis kelayakan teknis terhadap wilayah
studi, dan analisis kelayakan lingkungan terhadap wilayah studi.
Berdasarkan pada pemahaman dan kedalaman kajian konsultan tentang maksud dan
tujuan, sasaran dan lingkup pekerjaan yang terkait dengan hal tersebut diatas, maka
konsultan menilai semua uraian yang rinci. Namun demikian, untuk metode
pelaksanaan KAK tidak memberi arahan metodologi pendekatan dan alat-alat analisis
yang akan digunakan, karena itu uraian dan penjelasan metodologi dan alat-alat
analisis tersebut perlu ditambahkan dengan alat-alat analisis lainya yang sesuai untuk
melengkapi metode analisis yang ada dan juga dimaksudkan untuk mencapai target
dan sasaran pekerjaan yang diharapkan.

Pelaksanaan pekerjaan feasibility dalam rangka pembangunan diklat pelayaran di jawa


timur akan dilaksanakan selama 120 (seratus dua puluh) hari kalender. Durasi
pelaksanaan pekerjaan ini relative cukup memadai, dan konsultan memandang bahwa
durasi pelaksanaan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, mengingat tenaga ahli
dan personil yang terlibat relatif memadai dalam memberikan layanan keahliaanya,
dan didukung fasilitas penunjang di lapangan dan di kantor. Selain didukung peralatan
perangkat keras, dalam pelaksanaan ini ditunjang dengan perangkat lunak untuk
melakukan analisis dan finalisasi hasil pekerjaan.

PEKERJAAN FEASIBILITY STUDY DAN 2-1


MASTER PLAN PEMBANGUNAN DIKLAT PELAYARAN DI JAWA TIMUR
2.2 TANGGAPAN TERHADAP KAK

Setelah mempelajari dengan seksama terhadap isi Kerangka Acuan Kerja yang telah
disusun, telah dapat diperoleh gambaran yang cukup jelas dalam memberikan arahan
kerja serta lingkup dan materi pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh konsultan.
Secara umum Kerangka Acuan Kerja ini telah cukup spesifik dan memenuhi syarat
untuk dipakai sebagai pedoman kerja.

Hal-hal yang perlu kami sampaikan sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan yang
berkaitan dengan Kerangka Acuan Kerja adalah :

A. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi objek studi
yang berkaitan dengan penyusunan rencan kerja yang akan disusun oleh konsultan,
akan lebih baik apabila di dalam KAK disebutkan ketersediaan data dan fasilitas yang
ada pada proyek atau instasi pemberi kerja, sehingga dengan demikian dalam
penyusunan rencana kerja dapat ditentukan dengan jelas dan pasti. Hal lain yang
perlu kami ketahui adalah ketersediaan data saat ini, apabila mudah untuk melakukan
pengumpulan data, serta aksesibilitas lainnya. Pengetahuaan kondisi ini akan
berpengaruh pada rencana pelaksanaan kerja dan penentuan peralatan yang akan
dipakai dalam pelaksanaan nantinya.

B. Tenaga ahli yang dibutuhkan dan waktu yang disediakan relatif cukup memadai
dan diharapkan dapat bekerja dengan baik dan berhasil guna untuk mendapatkan
hasil yang optimal pada pekerjaan ini, Konsultan akan menyusun team kerja yang
terkoordinasi dan dengan suatu rencana kerja yang terarah, dengan harapan
pekerjaan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

C. Sistem pelaporan dilakukan sebagai salah satu bentuk komunikasi antara


konsultan dengan pemberi tugas. Namun demikian, konsultan memandang penting
perlunya konsultasi dan diskusi yang intensif. Diskusi merupakan bentuk dari
komunikasi antara konsultan dengan pemberi tugas. Di dalam diskusi dibahas
masalah-masalah kendala (hambatan) serta masukan dari pemberi tugas atau pihak
lain yang terkait untuk perbaikan dan kelancaran pekerjaan ini. Diskusi pertama (Kick
off Meeting) dilaksanakan di awal pekerjaan, segera setelah ditanda tanganinya
surat perjanjian (Kontrak). Diskusi ini dimaksudkan agar konsultan mendapatkan
masukan gambaran lokasi pekerjaan dan rencana pengembangan pembangunan
secara lebih jelas sebelum dilakukannya survey pendahuluan (kunjungan lapangan)

PEKERJAAN FEASIBILITY STUDY DAN 2-2


MASTER PLAN PEMBANGUNAN DIKLAT PELAYARAN DI JAWA TIMUR
dan pengumpulan data sekunder. Selanjutnya diskusi lainnya selama proses
pelaksanaan studi disesuaikan dengan tahapan pencapaian hasil studi.

PEKERJAAN FEASIBILITY STUDY DAN 2-3


MASTER PLAN PEMBANGUNAN DIKLAT PELAYARAN DI JAWA TIMUR