Anda di halaman 1dari 2

Hasil penelitian selajalan dengan penelitian Yana (2016) menunjukkan bahwa ada

hubungan antara obesitas dengan kejadian hipertensi di Puskesmas Touluaan. Hasil uji
stastistika menunjukan nilai p = 0,000 (p < 0,05) dengan nilai OR 3,48. Black dan Izzo (2008)
juga menyatakan bahwa dari 60% penderita hipertensi, 50% diantaranya mempunyai berat
badan berlebih. Penurunan berat badan sebesar 5% dapat menurunkan tekanan darah.
Penurunan berat badan sebesar 9,2 kg dapat menurunkan tekanan darah baik sistole dan
diastole sebesar 6,3 dan 3,1 mmHg. Penelitian Syahrini (2013) juga menyatakan bahwa pasien
hipertensi lebih banyak terdapat pada pasien obesitas.50,51,52

50. Yana, Iva. Hubungan obesitas dengan penyakit hipertensi pada pasien poliklinik Puskesmas
Touluaan. (Skripsi). Sulawesi Utara: Universitas Sam Ratulangi; 2016.

51. Black, H. R., J. L. Izzo., Sica, and A. Domenic. 2008. Primary Hypertension : The essentials of blood
high pressure, basic science, population and clinical management. 4th Edition. Lippincott Williams and
Willkins. USA.

52. Syahrini, E. N., H. S. Susanto, dan A. Udiyono. Faktor-faktor Resiko Hipertensi Primer di Puskesmas
Telogosari Kulon Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat 1 (2): 315-325; 2012.

5Fauci AS, Braunwald E, Kasper DL, Huaser S, Jameson J, Loscalzo J. Harrison’s principles
of internal medicine. 17th ed. New York: McGraw-Hill Companies, Inc; 2008. p. 462-8.

Obesitas merupakan salah satu faktor risiko terjadinya hipertensi. Studi klinis dan
penelitian pada hewan percobaan telah mengonfirmasi adanya hubungan yang kuat antara
kedua hal tersebut. Angka prevalensi hipertensi pada pria obesitas (IMT ≥30) adalah sebesar
42%, lebih tinggi jika dibandingkan dengan prevalensi hipertensi pada pria dengan indeks
massa tubuh (IMT <25) mempunyai angka prevalensi hipertensi lebih kecil, yaitu 15%.

Obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan jumlah kalori yang masuk lewat makanan dan
minuman lebih besar dari pada jumlah kalori yang dikeluarkan untuk tumbuh kembang,
metabolisme maupun beraktivitas. Ketidakseimbangan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor
antara lain faktor perilaku. Obesitas berkaitan dengan kegemaran mengkonsumsi makanan
tinggi lemak serta meningkatkan risiko terjadinya hipertensi akibat faktor lain. Makin besar
massa tubuh, makin meningkat volume darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan
makanan ke jaringan tubuh. Dinding arteri mendapatkan tekanan yang lebih besar. Sehinggga
jantung akan bekerja ekstra keras pula, sehingga tekanan darah meningkat.
Pada orang yang obesitas terjadi peningkatan kerja pada jantung untuk memompa darah.
Berat badan berlebihan menyebabkan bertambahnya volume darah dan perluasan sistem
sirkulasi. Makin besar massa tubuh, makin banyak pula suplai darah yang dibutuhkan untuk
memasok oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh Hal ini mengakibatkan volume darah yang
beredar melalui pembuluh darah akan meningkat sehingga tekanan pada dinding arteri menjadi
lebih besar.

51. Fauci AS, Braunwald E, Kasper DL, Huaser S, Jameson J, Loscalzo J. Harrison’s principles
of internal medicine. 17th ed. New York: McGraw-Hill Companies, Inc; 2008. p. 462-8.

Black, H. R., J. L. Izzo., Sica, and A. Domenic. 2008. Primary Hypertension : The essentials of blood high
pressure, basic science, population and clinical management. 4th Edition. Lippincott Williams and
Willkins. USA.