Anda di halaman 1dari 12

PRAKTIKUM V

PERKOLASI

A. TUJUAN
Mahasiswa dapat menjelaskan dan melakukan ekstraksi simplisia tanaman
gelinggang bahan alam dengan metode perkolasi, maserasi dan cair-cair
B. PENDAHULUAN

Perkolasi adalah cara penyairan dengan mengalirkan penyari melalui serbuk


simplisia yang telah dibasahi. Prinsip ekstraksi dengan perkolasi adalah serbuk simplisia
ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan
penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampel dalam
keadaan jenuh. Gerakan kebawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan
tekanan penyari dari cairan di atasnya, kurangi dengan gaya kapiler yang cenderung untuk
menahan gerakan ke bawah (Ditjen POM, 1986). Cara perkolasi lebih baik dibandingkan
dengan cara maserasi karena, aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan
yang konsentrasinya lebih rendah sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi.
Ruangan diantara butir-butir serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan
penyari. Karena kecilnya saluran kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut cukup untuk
mengurangi lapisan batas, sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi. Alat yang
digunakan untuk perkolasi adalah disebuk perkolator, cairan yang digunakan untuk menyari
atau menstrum, larutan zat aktif yang keluar dari perkolator disebut sari atau perkolat,
sedangkan sisa setelah dilakukannya penyarian disebut ampas atau sisa perkolasi (Ditjen
POM, 1986).

Ekstrak adalah sediaan yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia
nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau
hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian
hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Ekstraksi adalah proses penarikan komponen
atau zat aktif suatu simplisia dengan menggunakan pelarut tertentu. Pemilihan metode
ekstraksi senyawa kimia didasarkan atas beberapa faktor yaitu sifat jaringan tumbuhan, sifat
kandungan aktif serta kelarutan dalam pelarut yang digunakan. Prinsip ekstraksi adalah
melarutkan senyawa polar dalam pelarut polar dan senyawa non polar dalam senyawa non
polar.

Maserasi merupakan proses perendaman sampel menggunakan pelarut organik pada


temperatur ruang. Proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan alam
karena dengan perendaman sampel tumbuhan akan terjadi pemecahan dinding dan membran
sel akibat perbedaan tekanan udara di dalam dan di luar sel. Metabolit sekunder yang ada
dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi senyawa akan sempurna
karena dapat diatur dalam perendaman yang dilakukan. Pemilihan pelarut untuk proses
maserasi akan memberikan efektivitas yang tinggi dengan memperhatikan kelarutan
senyawa bahan alam dalam pelarut tersebut. Secara umum methanol merupakan pelarut
yang banyak digunakan untuk proses ekstraksi senyawa organik bahan alam karena
melarutkan seluruh golongan metabolit sekunder.
Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana, yang dilakukan dengan
cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur
kamar terlindung dari cahaya (Adrian 2000).
Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komponen
kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, tiraks dan lilin
(Adrian 2000).
Maserasi umumnya dilakukan dengan cara, memasukkan simplisia yang sudah
diserbukkan dengan derajat halus tertentu sebanyak 10 bagian ke dalam bejana maserasi
yang dilengkapi pengaduk mekanik, kemudian ditambahkan 75 bagian cairan penyari
ditutup dan dibiarkan selama 3 hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya sambil
berulang-ulang diaduk. Setelah 3 hari, disaring kedalam bejana penampung, kemudian
ampasnya diperas dan ditambah cairan penyari lagi secukupnya dan diaduk kemudian
disaring lagi hingga diperoleh sari 100 bagian. Sari yang diperoleh ditutup dan disimpan
pada tempat yang terlindung dari cahaya selama 2 hari, endapan yang terbentuk dipisahkan
dan filtratnya dipekatkan (Adrian 2000).
Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pekerjaan dan peralatan
yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan, sedangkan kerugian cara penyarian
maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna (Adrian 2000).
Jenis ekstraksi bahan alam yang sering digunakan biasanya adalah (Tobo, 2001) :
1. Secara panas seperti refluks dan destilasi uap air karena sampai langsung dipanaskan
dengan pelarut, dimana umumnya digunakan untuk sampel yang mempunyai bentuk dan
dinding sel yang tebal.
2. Secara dingin misalnya maserasi, perkolasi, dan soxhlet. Dimana untuk maserasi
dilakukan dengan cara merendam simplisia, sedangkan soxhlet dengan cara cairan
penyari dipanaskan dan uap cairan penyari naik ke kondensor kemudian terjadi
kondensasi dan turun menyari simplisia.
Ekstraksi cair-cair adalah pemisahan komponen dari suatu campuran cair dengan cara
pengontakkan dengan cairan lain (anonim, 2011). Ekstraksi cair-cair sangat berguna untuk
memisahkan analit yang dituju dari penganggu dengan cara melakukan partisi sampel antara
dua pelarut yang tidak saling campur. Salah satu fasenya seringkali berupa air dan fase yang
lainnya adalah pelarut organik. Senyawa-senyawa yang bersifat polar akan ditemukan di
dalam fase air, sementara senyaea-senyawa yang bersifat hidrofobik akan masuk pada
pelarut organik. Analit yang terekstraksi kedalam pelarut organik akan mudah diperoleh
kembali dengan cara menguapkan pelarut, sementara analit yang masuk kedalam fase air
seringkali diinjeksikan secara langsung kedalam kolom disamping itu, ekstraksi pelarut juga
digunakan untuk memekatkan analit yang ada dalam sampel dengan jumlah kecil sehingga
tidak memungkinkan atau menyulitkan untuk deteksi atau kuantifikasinya (anonim, 2011).

Karena ekstraksi merupakan proses kesetimbangan dengan efesiensi terbatas, maka


sejumlah tertentu analit akan tertahan di kedua fase. Kesetimbangan kimia yang melibatkan
perubahan pH, kompleksasi, pasangan ion, dan sebagainya dapat digunakan untuk
meningkatkan perolehan kembali analit dan atau menghilangkan penggangu (anonim,
2011).

C. ALAT DAN BAHAN


ALAT
1. Cawan porselin
2. Beaker gelas
3. Gelas ukur
4. Batang pengaduk
5. Alat perkolasi
6. Waterbath
7. Toples kaca
8. Corong
9. Corong pisah
10. Botol penyemprot
BAHAN
1. Simplisia gelinggang (ketepeng cina)
2. Etanol 96%
3. N-heksana
4. N-butanol
5. Aquadest
D. CARA KERJA
Cara kerja metode perkolasi:
Timbang simplisia 300 gram

Masukkan simplisia kedalam perkolator

Tambahkan pelarut etanol sampai simplisia terendam

Tutup alat perkolator

Ambil ekstrak pada 24 jam hari pertama, kedua dan ketiga
Cara kerja metode maserasi:
Menimbang simplisia 300 gram

Memasukkan simplisia kedalam toples kaca

Tambahkan pelarut etanol 96% sampai simplisia terendam

Tutup toples dengan rapat

Ambil ekstrak cair pada 24 jam pertama, kedua, dan ketiga
Cara kerja metode ekstraksi cair-cair:
Timbang simplisia kental 1 gram

Tambahkan 15 mL air panas (jika perlu)

Masukkan kedalam corong pisah
+ 30 mL N-heksana

Kocok dan diamkan

Fase air fase N-heksana


Masukkan kedalam beaker gelas


Masukkan kedalam
Corong pisah
+ 30 mL N-heksana

Kocok dan diamkan
(pisahkan fase air dan fase N-heksana)

Fase air Fase N-heksana


↓ Masukkan kedalam beaker gelas
Lakukan hal yang sama ↓
Untuk larutan N-butanol Uapkan diatas waterbath
Sebanyak 3kali ↓
Timbang berat yang didapat
E. HASIL PENGAMATAN

1). Hasil pengamatan metode perkolasi:


1. Berat simplisia = 300 gram
+ etanol = 2. 500 mL
a. Ekstrak cair pertama = 270 mL
+ etanol = 500 mL
b. Ekstrak cair kedua = 200 mL
+ etanol = 400 mL
c. Ekstrak cair ketiga = 770 mL
2. Bobot tetap ekstrak kental
Penimbangan pertama
a) 15 menit penguapan = 76, 5816 gram
b) 15 menit penguapan = 76, 5463 gram
c) 15 menit penguapan = 76, 5227 gram
d) 15 menit penguapan = 76, 5226 gram
3. Bobot cawan kosong = 46, 6562 gram
4. Berat ekstrak kental = berat bobot tetap ekstrak kental – bobot cawan kosong
= 76, 5226 – 46, 6562
= 29, 8664 gram
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑘𝑒𝑛𝑡𝑎𝑙
% rendemen = x 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎
29,8664
= x 100% = 0, 0995%
300

2). Hasil pengamatan metode maserasi:


1. Berat simplisia = 300 gram
+ etanol = 2200 mL
2. Ekstrak cair yang pertama = 1130 mL
+ etanol = 1.300 mL
3. Ekstrak cair yang kedua = 1.130 mL
+ etanol =-
4. Ekstrak cair yang ketiga = -
+ etanol =-
 Berat cawan kosong = 57, 2632 gram
 Berat ekstrak kental = berat bobot tetap ekstrak kental – berat cawan kosong
= 87, 591 – 57, 263
= 30, 328
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑘𝑒𝑛𝑡𝑎𝑙
 % rendemen = x 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎
30,328
= x 100%
300

= 10, 1093 %
3). Hasil pengamatan metode ekstraksi cair-cair:
1. Bobot cawan I = Sebelum di oven = 31, 9530 gram
Oven 1 jam = 31, 6623 gram
Oven 30 menit = 31, 6623 gram
2. Bobot cawan II = sebelum dioven = 36, 1613 gram
Oven 1 jam = 36, 1612 gram
3. Bobot ekstrak = 1, 024 gram
4. Bobot N-heksana = 31, 9530 gram
Penguapan I = 31, 9430 gram
Penguapan II =31, 9476 gram
Penguapan III =31, 9472 gram
Penguapan IV =31, 9468 gram
Penguapan V =31, 9467 gram
5. Bobot N-butanol = 36, 8779 gram
Penguapan I = 36, 8463 gram
Penguapan II = 36, 7828 gram
Penguapan III = 36, 6780 gram
Penguapan IV = 36, 6505 gram
Penguapan V = 36, 6504 gram
𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑁−ℎ𝑒𝑘𝑠𝑎𝑛𝑎
6. Perhitungan rendemen ekstrak % = x 100%
𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑎𝑤𝑎𝑙
Cawan I (N-heksana)
31,9467−31,6623
= x 100%
1,024 𝑔𝑟𝑎𝑚
0,284 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 1,024 𝑔𝑟𝑎𝑚 x 100%

= 27, 73%
𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑁−𝑏𝑢𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙
7. Perhitungan rendemen ekstrak % = x 100%
𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑎𝑤𝑎𝑙

Cawan II (N-butanol)
36,6504−36,1612
= x 100%
1,024 𝑔𝑟𝑎𝑚
0,409 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 1,024 𝑔𝑟𝑎𝑚 x 100%

= 47, 75%
F. PEMBAHASAN
 Nama Simplisia : Cassia folium
 Tanaman Asal : Cassia Alata L
 Bagian yang digunakan daun atau folium
 Sortasi Basah

Berat awal : -

Jenis pencemar : -

 Pencucian

Berat awal : -

Berat sudah dicuci : -

Masalah yang dihadapi : Saat pengeringan cuaca berubah-ubah

 Perajangan

Jenis alat : -

Tebal : -

 Pengeringan

Jenis pengeringan : Sinar matahari langsung

Bobot basah : -

Lama pengeringan : 5 hari

Bobot kering : -

Penyimpanan : Toples

 Nomor merk ayakan yang digunakan : -


Pada praktikum kali ini tentang ekstraksi dengan metode perkolasi, simplisia yang
kami gunakan adalah cassia alata L (gelingggang), bagian tanaman yang kami gunakan
adalah bagian daun yang dipercaya dapat mengatasi penyakit kulit yang disebabkan oleh
jamur. Kandungan kimia yang terkandung didalam daun ketepeng cina (gelinggang)
adalah flavonoid, saponin, tannin, alkaloid, dan senyawa antrakuinon.
Perkolasi adalah cara penyairan dengan mengalirkan penyari melalui serbuk
simplisia yang telah dibasahi. Prinsip ekstraksi dengan perkolasi adalah serbuk simplisia
ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori,
cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampel
dalam keadaan jenuh. Gerakan kebawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri
dan tekanan penyari dari cairan di atasnya, kurangi dengan gaya kapiler yang cenderung
untuk menahan gerakan ke bawah (Ditjen POM, 1986). Cara perkolasi lebih baik
dibanding dengan cara maserasi karena, aliran cairan penyari menyebabkan adanya
pergantian pelarut yang terjadi dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah, sehinga
meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi. Ruangan diantara serbuk-serbuk simplisia
membentuk saluran tempat mengalir cairan penyari. Karena kecilnya saluran kapiler
tersebut, maka kecepatan pelarut cukup untuk mengurangi lapisan batas, sehingga dapat
meningkatkan perbedaan konsentrasi.
Kelebihan metode maserasi adalah tidak terjadi kejenuhan, pengaliran
meningkatkan difusi (dengan dialiri cairan penyari sehingga zat seperti terdorong untuk
keluar dari sel). Kekurangan metode perkolasi adalah, cairan penyari lebih banayak, resiko
cemaran mikroba untuk penyari air karena dilakukan secara terbuka (Arief TQ,
Mochammad., 2004).
Prinsip kerja perkolasi adalah, penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara
serbuk simplisia dimaserasi selama 3 jam, kemudian simplisia dipindahkan ke dalam
bejana silinder yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari
atas ke bawah melalui simplisia tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam
sel-sel simplisia yang dilalui sampai keadaan jenuh. Garakan ke bawah disebabkan oleh
karena gravitasi, kohesi, dan berat cairan di atas dikurangi gaya kapiler yang menahan
gerakan ke bawah. Perkolat yang diperoleh dikumpulkan, lalu dipekatkan.keuntungan
metode ini adalah digunakan untuk mengekstraksi sampel-sampel yang mempunyai
tekstur kasar dan tahan pemanasan langsung, sedangkan kerugian metode ini adalah
membutuhkan volume total pelarut yang besar dan sejumlah manipulasi dari operator.

Anda mungkin juga menyukai