Anda di halaman 1dari 31

UTS

ASPEK HUKUM DAN ETIKA RS

Dosen : Fresley Hutapea SH MH MARS

Oleh :

dr Fanni Fathihah

NPM : 166080027

Kelas XXV A

PROGRAM PASCASARJANA MARS

UNIVERSITAS RESPATI INDONESIA

JAKARTA

2017
1. Diketahui kota A berpenduduk 10 juta jiwa. Fasilitas kesehatan yang ada :
- 1 RS Pemerintah kelas A
- 7 RS yayasan
- 15 RS swasta kelas B dan C
- 25 Puskesmas

Kota A adalah kota yang pendapatannya meningkat dan merupakan daerah kunjungan
pariwisata.

Rencana akan didirikan RS baru kelas A, sebanyak 400TT dan dengan unggulan
Pelayanan Jantung Terpadu.

Jika merujuk pada standar WHO bahwa jumlah penduduk sakit 1,5% dari total jumlah
penduduk, maka diperkirakan kota A jumlah penduduk sakitnya 1,5% x 10 juta =
150.000 jiwa.

Ketentuan WHO mengatakan ratio setiap 500 penduduk adalah 1 TT. Penduduk kota A
jumlahnya 10 juta, maka jumlah TT yang dibutuhkan 10 juta / 500 = 20.000

Diperkirakan RS Pemerintah tipe A ada 400 TT. Kemudian RS swasta total 22 RS


dengan rata-rata 200 TT maka didapatkan total 22x200 TT = 4400 TT.

Total TT RS di kota A adalah 400 + 4400 = 4800 TT

Dari perbandingan diatas, didapat kesimpulan bahwa kota A masih memerlukan 20.000 –
4800 = 15.200 TT lagi untuk memenuhi standar WHO. Artinya masih sangat
memungkinkan untuk mendirikan RS Swasta tipe A dengan 400TT.
2. Prosedur dan tahap-tahap pendirian rumah sakit meliputi :

Tahap 1. Ide atau konsep

Pemilik mempunyai keinginan untuk mendirikan suatu rumah sakit dengan maksud dan
tujuan yang telah ditentukan sebelumnya, dengan demikian visi dan misi dari rumah sakit
tersebut secara umum harus sudah ada terlebih dahulu untuk dilanjutkan kedalam bentuk studi,
apakah keinginan tersebut layak atau tidak.

Dalam hal ini ini ada investor dari luar negeri yang berminat membuka bisnis di bidang
perumahsakitan. Rencana akan dibangun RS Kelas A dengan jumlah 400 TT. Layanan
unggulannya adalah Pelayanan Jantung Terpadu.

Tahap 2. Studi Kelayakan

Keinginan pemilik ditindak lanjuti bersama dengan end user dan planners untuk
dituangkan dalam bentuk studi, disebut dengan Studi Kelayakan (Feasibility Study) yang ditinjau
dari berbagai aspek seperti kependudukan, sosial ekonomi, morbiditas dan mortalitas, fasilitas
pelayanan, serta seberapa besar biaya investasi yang dibutuhkan, apakah investasi tersebut layak
atau tidak.

Tahap 3a. Rencana Operasional

Mengacu dari hasil studi kelayakan, Organisasi/Operator bersama dengan end user serta
planners menyusun rencana operasional rumah sakit yang biasanya dibuat untuk kurun waktu 5
tahun, yang mencakup peralatan medik dan non medik, SDM, keuangan, dan strategi
pencapaian.

Tahap 3b. Master Plan dan Detail Desain

Bersamaan dengan rencana operasional, dibuat Master Plan fisik dan Detail Desain dari
rumah sakit, pada tahapan ini team yang terlibat juga adalah organisasi/operator, end user dan
arsitek serta ahli teknik lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan pembangunan fisik rumah
sakit.
Tahap 4a. Pra-Operasional

Pada tahap ini merupakan tindak lanjut dari persiapan operasional rumah sakit yang telah
dibuat bersama oleh organisasi/operator, end user dan planners dalam hal sistem dan prosedur
serta persiapan sumber daya manusia (SDM), berupa rekrutmen, diklat, dan lain-lain.

Tahap 4b. Konstruksi Fisik

Pada tahap pembangunan fisik oleh kontraktor dan masa pemeliharaan ini berkaitan erat
dengan kegiatan pra-operasi, karena pada waktu selesainya konstruksi bangunan akan diadakan
serah terima bangunan ke pemilik yang diwakili oleh organisasi/operator untuk digunakan dalam
pelaksanaan kegiatannya.

Tahap 5. Pembukaan dan Peresmian

Merupakan tahap akhir dari keseluruhan proses pembangunan rumah sakit untuk
diteruskan dalam kegiatan layanan kesehatan sesuai dengan maksud dan tujuan awal pendirian
rumah sakit yang akan dijalankan oleh Organisasi/Operator pelayanan kesehatan dalam hal ini
adalah pengelola rumah sakit.

Sedangkan dalam hal aspek legal dan perizinan, pedoman pendirian rumah sakit harus
mengikuti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit serta
Peraturan Menteri Kesehatan yaitu Permenkes No. 147/Menkes/Per/I/2010 tentang Perizinan
Rumah Sakit.

Pada bab II Perizinan Rumah Sakit bagian kesatu pasal 2 menyatakan :

(1) Setiap Rumah Sakit harus memiliki izin

(2) Izin rumah sakit terdiri dari izin mendirikan rumah sakit serta izin operasional sementara
dan izin operasional tetap

Pasal 3 menyatakan, (1) Permohonan izin mendirikan dan izin operasional diajukan
menurut klasifikasi rumah sakit.
(2) Izin mendirikan dan izin operasional Rumah Sakit kelas A dan Rumah Sakit penanaman
modal asing atau penanaman modal dalam negeri diberikan oleh Menteri setelah mendapatkan
rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Provinsi.
(3) Izin mendirikan dan izin operasional Rumah Sakit kelas B diberikan oleh Pemerintah
Daerah Provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang
kesehatan pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
(4) Izin mendirikan dan izin operasional Rumah Sakit kelas C dan kelas D diberikan oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang
di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
(5) Tata cara pemberian izin mendirikan dan izin operasional Rumah Sakit sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Bab II tentang Perizinan Rumah Sakit bagian kedua pasal 4 mengatakan bahwa untuk
memperoleh izin mendirikan rumah sakit harus memenuhi persyaratan yang meliputi :

a. Studi kelayakan

b. Master plan

c. Status kepemilikan

d. Rekomendasi izin mendirikan rumah sakit

e. Izin Undang-Undang Gangguan (HO)

f. Persyaratan pengolahan limbah

g. Luas tanah dan sertifikat

h. Penamaan

i. Izin Mendirikan Bangunan (IMB)

j. Izin Penggunaan Bangunan (IPB

k. Surat Izin Tempat Usaha (SITU).


Studi kelayakan Rumah sakit adalah awal kegiatan perencanaan pendirian suatu rumah sakit
secara fisik dan non fisik, yang mencakup :

- Kajian kebutuhan pelayanan rumah sakit

- Kajian kebutuhan sarana/fasilitas dan peralatan medik/non medik, dana serta tenaga
yang dibutuhkan untuk pelayanan yang akan diberikan

- Kajian kemampuan pembiayaan

Master plan adalah 
 strategi pengembangan aset untuk sekurang-kurangnya sepuluh tahun

kedepan dalam pemberian pelayanan kesehatan secara optimal yang meliputi identifikasi proyek
perencanaan, demografis, tren masa depan, fasilitas yang ada, modal dan pembiayaan.

Luas tanah untuk bangunan rumah sakit tidak bertingkat, minimal satu setengah kali luas
bangunannya, sedangkan untuk rumah sakit bertingkat minimal dua kali luas bangunan lantai
dasar.

Penamaan rumah sakit harus menggunakan bahasa Indonesia, bukan nama orang yang masih
hidup, tidak menggunakan kata ‘International’ ‘world class’ atau kata lain yang dapat
menyesatkan penafsiran masyarakat.

Pasal 6 ayat 1 mengatakan bahwa untuk mendapatkan izin operasional, rumah sakit harus
memenuhi persyaratan :

- Sarana dan prasarana

- Peralatan

- SDM

- Administrasi dan Manajemen

Sarana dan prasarana:


Tersedia dan berfungsinya sarana dan prasarana pada rawat jalan, rawat inap, gawat darurat,
operasi/bedah, tenaga kesehatan, radiologi, ruang laboratorium, ruang sterilisasi, ruang farmasi,
ruang pendidikan dan latihan, ruang kantor dan administrasi, ruang ibadah, ruang tunggu, ruang
penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit; ruang menyusui, ruang mekanik, ruang dapur,
laundry, kamar jenazah, taman, pengolahan sampah, dan pelataran parkir yang mencukupi sesuai
dengan jenis dan klasifikasinya.
• Peralatan: tersedia dan berfungsinya peralatan/perlengkapan medik dan non medik untuk
penyelenggaraan pelayanan yang memenuhi standar pelayanan, persyaratan mutu,
keamanan, keselamatan dan laik pakai sesuai dengan jenis dan klasifikasinya.
• Memiliki izin pemanfaatan dari instansi berwenang sesuai ketentuan yang berlaku untuk
peralatan tertentu, misalnya; penggunaan peralatan radiologi harus mendapatkan izin dari
Bapeten.
• Sumber daya manusia :Tersedianya tenaga medis, dan keperawatan yang purna waktu, tenaga
kesehatan lain dan tenaga non kesehatan telah terpenuhi sesuai dengan jumlah, jenis dan
klasifikasinya.

• Administrasi dan manajemen:
 Memiliki organisasi paling sedikit terdiri atas Kepala

Rumah Sakit atau Direktur Rumah Sakit, unsur pelayanan medis, unsur keperawatan,
unsur penunjang medis, komite medis, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi

umum dan keuangan.
 1) Kepala Rumah Sakit harus seorang tenaga medis yang

mempunyai kemampuan dan keahlian di bidang perumahsakitan.
 2) Tenaga struktural

yang menduduki jabatan sebagai pimpinan harus berkewarganegaraan Indonesia.
 3)

Pemilik Rumah Sakit tidak boleh merangkap menjadi kepala Rumah Sakit.

Pasal 7 menyatakan bahwa izin operasional sementara berlaku untuk jangka waktu satu tahun.

Sedangkan pasal 8 mengatakan :

(1) Rumah sakit yang telah memiliki izin operasional sementara harus mengajukan surat
permohonan penetapan kelas rumah sakit kepada Menteri Kesehatan.

(2) Permohonan izin operasional tetap harus melampirkan:


- Rekomendasi Dinas Kesehatan Kabupaten dan Dinas Kesehatan Provinsi

- Profil dan data rumah sakit

- Isian Instrumen Self Assessment penetapan kelas

(3) Dalam penetapan kelas rumah sakit, Menteri membentuk Tim Penilai Klasifikasi
Rumah Sakit

(4) Berdasarkan hasil penilaian Tim, Menteri menetapkan klasifikasi rumah sakit.

Selanjutnya pada pasal 9 dikatakan bahwa ;

(1) Rumah sakit yang telah memiliki izin operasional sementara dan mendapatkan
penetapan kelas, akan diberikan izin operasional tetap

(2) Izin operasional tetap berlaku selama 5 tahun dan dapat diperpanjang kembali selama
memenuhi persyaratan.

Persyaratan administrasi untuk melengkapi permohonan izin mendirikan rumah sakit yaitu :

1. Surat permohonan Izin Mendirikan Rumah Sakit kepada Kepala Dinas Kesehatan
Propinsi.

2. Salinan Akta Notaris Pendirian Badan Hukum Pemilik Rumah Sakit.

3. Salinan Pengesahan Badan Hukum dari Departemen Kehakiman.

4. Salinan Tanda Daftar Yayasan dari Dinas Sosial.

5. Salinan Sertifikat Tanah atas nama Badan Hukum Pemilik Rumah Sakit atau Surat
Pernyataan Persetujuan dari Pemilik Tanah ( bila Sertifikat Tanah bukan atas nama Badan
Hukum Pemilik Rumah Sakit ).

6. Salinan Keterangan Rencana Kota atau Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah (SIPPT)
dari Gubernur untuk disyaratkan dan Rencana tataletak Bangunan dari Dinas Tata Kota

7. Izin UUG ( Undang Undang Gangguan ).


8. Dokumen Studi Kelayakan

9. Gambar Master Plan Gedung / Fisik Rumah Sakit Umum

10. Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan :

a. Rumah Sakit setara Rumah Sakit Umum Pemerintah Kelas C

- Dokumen UPL (Upaya Pemantauan Lingkungan) dan UKL (Upaya Kelola Lingkungan)
yang telah mendapat rekomendasi dari Kanwil Departemen Kesehatan Provinsi.

b. Rumah Sakit setara Rumah Sakit Umum Pemerintah Kelas B atau Kelas A

- Dokumen AMDAL ( Analisa Dampak Lingkungan ) yang telah mendapat pengesahan dari
Komisi Amdal Departemen Kesehatan.

11. Denah Lokasi Rumah Sakit.


3. Menurut Permenkes No 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perijinan Rumah Sakit,
pada pasal 58 disebutkan :

(1) Rumah Sakit Umum kelas D pratama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat 2 huruf b,
didirikan dan diselenggarakan untuk menjamin ketersediaan dan meningkatkan aksesibilitas
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tingkat kedua.

(2) Rumah Sakit Umum kelas D pratama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
didirikan dan diselenggarakan di daerah tertinggal, perbatasan, atau kepulauan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3) Selain pada daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Rumah Sakit Umum kelas D
pratama dapat juga didirikan di kabupaten/kota, apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. belum tersedia Rumah Sakit di kabupaten/kota yang bersangkutan;

b. Rumah Sakit yang telah beroperasi di kabupaten/kota yang bersangkutan kapasitasnya belum
mencukupi; atau

c. lokasi Rumah Sakit yang telah beroperasi sulit dijangkau secara geografis oleh sebagian
penduduk di kabupaten/kota yang bersangkutan.

Berdasarkan kriteria di atas, kota A sama sekali tidak memenuhi persyaratan untuk
mendirikan RS Klas D Pratama, karena berada di kota besar, mudah dijangkau secara geografis,
RS yang tersedia pun banyak meskipun rasio tempat tidur dengan jumlah penduduk belum ideal.
Hal ini bisa diatasi dengan mendirikan RS kelas C ke atas, bukan dengan pendirian RS Klas D
Pratama. Jadi tidak diperlukan pendirian RS Klas D Pratama.

Tata cara pendirian RS Klas D Pratama berdasarkan Permenkes No 24 Tahun 2014 tentang RS
Kelas D Pratama :
Persyaratan

Pasal 12
(1) : Setiap penyelenggaraan Rumah Sakit Kelas D Pratama harus memenuhi persyaratan.
(2) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi lokasi, bangunan, peralatan,
sumber daya manusia, kefarmasian, dan prasarana penunjang lainnya.
(3) Rincian persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebagaimana tercantum dalam
Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Perizinan

Pasal 13
(1) Setiap Rumah Sakit Kelas D Pratama harus memiliki izin.
(2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari izin mendirikan
dan izin operasional.
(4) Izin mendirikan dan izin operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi dari pejabat yang
berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

Pasal 14
(1) Untuk mendapatkan izin mendirikan dan izin operasional sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 13 ayat (2), harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota setempat.
(2) Permohonan izin mendirikan rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan
dengan melampirkan dokumen:
a. fotokopi akta pendirian badan hukum yang sah sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan, kecuali instansi Pemerintah danPemerintah Daerah ;
b. studi kelayakan;
c. master plan ;
d. rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota;
e. izin undang-undang gangguan (Hinder Ordonantie/HO) dan/atau surat izin tempat
usaha (SITU);
f. fotokopi sertifikat tanah atau bukti kepemilikan tanah

g. izin-izin lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

(3) Permohonan izin operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan dengan
melampirkan dokumen:
a. upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL) dan/atau
sertifikat analisis dampak lingkungan (AMDAL);
b. izin Mendirikan Bangunan (IMB); dan
c. ‘as built drawing’ (gambar arsitektur, struktur, mekanikal, elektrikal dan seluruh fasilitasnya)
dan foto bangunan, berikut sarana dan prasarana pendukung;
d. daftar sumber daya manusia disertai kelengkapan berkasnya;
e. daftar peralatan medis dan non medis;
f. daftar sediaan farmasi dan alat kesehatan;
g. struktur organisasi rumah sakit;
h. peraturan internal rumah sakit (hospital bylaws); dan
i. sertifikat laik fungsi.

Pasal 15
(1) Setiap Rumah Sakit Kelas D Pratama harus memiliki struktur organisasi dan tata kerja.
(2) Organisasi dan tata kerja Rumah Sakit Kelas D Pratama disusun berdasarkan prinsip
organisasi yang hemat struktur dan kaya fungsi serta menggambarkan kewenangan,
tanggung jawab, dan hubungan kerja dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan
administrasi manajemen sesuai kebutuhan penyelenggaraan pelayanan kesehatan.
(3) Organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri atas kepala rumah
sakit atau direktur rumah sakit, unsur pelayanan medis, unsur keperawatan, unsur
penunjang medis, komite medik, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi umum
dan keuangan.
(4) Pembentukan organisasi dan tata kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

4.
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Studi kelayakan ini menggambarkan perkembangan demand masyarakat serta fasilitas
kesehatan yang tersedia di suatu wilayah baru yang merupakan pemekaran kabupaten, tuntutan
masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih baik, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi kesehatan. Peningkatan tingkat pendidikan masyarakat dan kemudahan mendapatkan
informasi sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran mendukung adanya pelayanan rumah
sakit yang lebih baik.

Berdasarkan hasil studi kelayakan ini, pembangunan fasilitas kesehatan, khususnya rumah
sakit di daerah pemekaran kabupaten mempunyai prospek yang sangat baik di masa depan,
karena pada wilayah baru ini belum ada rumah sakit, sedangkan rumah sakit di kabupaten yang
lama berjarak cukup jauh. Keberhasilan rumah sakit ini juga memerlukan keterlibatan dan
kesungguhan berbagai pihak meliputi perencanaan rumah sakit, pelaksana pembangunan, dan
penyandang dana. Dalam era teknologi canggih, komunikasi serba cepat maka pelayanan
kesehatan pun dituntut seirama dengan perkembangan jaman baik dari segi layanan medis,
kemudahan dan kecepatan administrasi, lingkungan yang asri dan suasana yang nyaman.

B. Tujuan

Tujuan dari penyusunan studi kelayakan ini adalah :

a. Menetapkan misi dan tujuan rumah sakit


b. Menggambarkan pelayanan kesehatan di wilayah kabupaten sebelumnya, sesuai dengan
rencana pendirian rumah sakit di wilayah kabupaten pemekaran.
c. Studi kelayakanan yang disusun akan dievaluasi dan dianalisa untuk diputuskan apakah
proyek tersebut layak atau tidak dengan memperhatikan berbagai aspek sebagai bahan
pertimbangan seperti:
 Aspek sosial ekonomi
 Aspek kesehatan
 Aspek teknis
 Aspek pemasaran
 Aspek pengorganisasian
 Aspek keuangan
d. Secara khusus menyusun analisa keuangan bagi PT (Pemilik) yang berkaitan dengan
rencana pembangunan rumah sakit baru ini.

C. Ruang lingkup

Studi kelayakan ini mempunyai ruang lingkup pemahaman dan kajian meliputi:

a. Kajian kebutuhan pelayanan rumah sakit, meliputi:

1) Demografi, yang mempertimbangkan luas wilayah dan kepadatan penduduk, serta


karakteristik penduduk yang meliputi umur, jenis kelamin dan status perkawinan.
2) Sosio-ekonomi, yang mempertimbangkan kultur/kebudayaan, tingkat pendidikan,
angkatan kerja, lapangan pekerjaan, pendapatan domestik rata-rata bruto.
3) Morbiditas dan mortalitas, yang mempertimbangkan 10 penyakit utama (Puskesmas,
Rumah Sakit baik di Rawat jalan dan Rawat inap), angka kematian (GDR, NDR), angka
persalinan, dan lain-lain.
4) Sarana dan prasarana kesehatan yang mempertimbangkan jumlah, jenis dan kinerja
layanan kesehatan , jumlah spesialisasi dan kualifikasi tenaga kesehatan, jumlah dan jenis
layanan penunjang (apakah yang canggih, yang sederhana, atau yang lainnya).
5) Peraturan perundang-undangan yang mempertimbangkan kebijakan pengembangan
wilayah pembangunan sektor non kesehatan, kebijakan sektor kesehatan dan perumah
sakitan.
b. Kajian kebutuhan sarana/fasilitas dan peralatan medik/non medik, dana dan tenaga yang
dibutuhkan untuk layanan yang akan diberikan, meliputi:

1) Sarana dan fasilitas fisik yang mempertimbangkan rencana cakupan, jenis layanan dan
fasilitas lain dengan mengacu dari kajian kebutuhan dan permintaan (program fungsi dan
pogram ruang).
2) Peralatan medik dan non medik yang mempertimbangkan perkiraan peralatan yang akan
digunakan dalam kegiatan layanan.
3) Tenaga / sumber daya manusia yang mempertimbangkan perkiraan kebutuhan tenaga dan
kualifikasinya.
4) Pendanaan yang mempertimbangkan perkiraan kebutuhan dana investasi.
c. Kajian kemampuan pembiayaan yang meliputi:

1) Prakiraan pendapatan yang mempertimbangkan proyeksi pendapatan yang mengacu dari


perkiraan jumlah kunjungan dan pengisian tempat tidur.
2) Prakiraan biaya yang mempertimbangkan proyeksi biaya tetap dan biaya tidak tetap
dengan mengacu pada perkiraan sumber daya manusia.
3) Proyeksi Arus Kas (5 -10 tahun).
4) Proyeksi Laba/Rugi (5 – 10 tahun).

D. Analisa Proyek
1. Kekuatan (Strenght)
- Lokasi rumah sakit berada di kabupaten pemekaran yang berkembang pesat baik dari aspek
pertumbuhan penduduk dan aspek sosial ekonomi, tentu memerlukan sarana pelayanan
kesehatan berupa rumah sakit.
- Rumah sakit yang sudah ada di kabupaten sebelumnya memiliki jarak cukup jauh dengan
rumah sakit yang akan dibangun ini.
- Rumah sakit ini direncanakan memiliki fasilitas dan peralatan medis yang sesuai dengan
perkembangan teknologi sehingga dapat melayani masyarakat secara maksimal.
- Rumah sakit ini akan dikelola dengan sistem manajemen modern dan dengan pelayanan
prima.
2. Kelemahan
- Sebagai rumah sakit yang baru berdiri, yang belum memiliki image yang kuat di masyarakat,
sehingga perlu mendekatkan diri pada masyarakat yang dilayani dengan strategi manajemen dan
pelayanan yang prima.

3. Peluang
- Sebagai satu-satunya rumah sakit yang ada di wilayah kabupaten pemekaran, menjadi satu-
satunya rumah sakit pilihan masyarakat.
- Peluang untuk menarik pelanggan/pasien di luar wilayah sebagai rumah sakit pilihan.
- Peluang untuk dapat bekerjasama dengan asuransi kesehatan/perusahaan di sekitar wilayah
tersebut.

4. Ancaman
- Ketersediaan sarana dan prasarana umum belum lengkap karena merupakan wilayah baru
pemekaran kabupaten.
Ruang lingkup penanggung jawab proyek adalah mewujudkan proyek rumah sakit serta
mempersiapkan perangkat keras dan perangkat lunak dan ketenagaan (SDM) sebelum diserahkan
kepada pemilik.
Rencana ruang lingkup rumah sakit meliputi :
a. Poli rawat jalan
b. Pelayanan rawat inap dengan 400 tempat tidur, dengan perincian :
Kelas Utama dan VIP 10 % , Kelas 1 : 10%, Kelas 2 : 30%, Kelas 3 : 50%
c. Kamar operasi 10 unit
d. Kamar PCI 2 unit
e. CSSD
f. ICU,ICCU, NICU, dan ruang observasi dengan kapasitas 20 tempat tidur
g. Farmasi/apotik
h. Laboratorium
i. Medical Check-Up
j. Radiologi
k. Instalasi Gawat Darurat dengan kapasitas 20 tempat tidur
l. Kamar bersalin dengan kapasitas 10 ruang
m. Rehabilitasi Medik
n. Dapur/gizi
o. Laundry dan Linen
p. Ruang jenazah.
q.
BAB II

ASPEK UMUM

2. 1. Perseroan Terbatas

2.1.1. Nama dan Alamat perseroan Terbatas

2.1.2. Nama dan Struktur PT : meliputi Komisaris Utama, Komisaris, dan

Direktur

2.2. Permodalan

2.2.1. Besarnya modal berdasarkan akte modal Perseroan Terbatas

2.2.2. Modal Investor/Kreditur : berdasarkan kebutuhan rumah sakit

BAB III

ASPEK KHUSUS

3.1. Investasi Rumah Sakit

Investasi Rumah Sakit dengan rincian sebagai berikut :

a. Biaya tanah
Dengan jumlah tempat tidur 400, maka luas bangunan minimal adalah
400 x 75 m2 = 30.000 m2. Direncanakan gedung rumah sakit akan dibuat bertingkat 3
lantai. Luas lantai dengan KDB (Koefisien Dasar Bangunan) sebesar 30%, maka luas
tanah yang diperlukan adalah 40.000 m2. Bila asumsi harga tanah sesuai NJOP di daerah
tersebut sebesar Rp. 500.000 / m2 maka biaya harga tanah = Rp.20.000.000.000,-

b. Biaya konstruksi : 30.000 x Rp. 3.500.000 / m2 = Rp. 105.000.000.000,-

c. Biaya peralatan medis dan non medis = Rp. 105.000.000.000,- (asumsi 100% dari biaya
konstruksi)

d. Biaya perijinan =Rp. 1.000.000.000,- (asumsi kabupaten tingkat I)

e. Biaya operasional 1 tahun pertama = Rp 20,000.000.000,- (SDM+Energi+lain-lain)

Total biaya investasi rumah sakit adalah Rp. 251.000.000.000,- (dua ratus lima puluh satu
milyar rupiah)

Kebutuhan Investasi tersebut dipenuhi investor dari luar negeri yang bekerjasama dengan
perusahaan swasta melalui penanaman modal asing (PMA).

3.2. Investasi Proyek Rumah Sakit

Investasi rumah sakit memang bukan bisnis murni (profit oriented), akan tetapi
mempunyai aspek sosialnya juga. Meskipun demikian tetap memerlukan perhitungan-
perhitungan financial dan pendekatan aspek ekonomis-medis dalam sistem kesehatan nasional.

BAB IV

ASPEK PEMASARAN

Pemerintah wajib menjamin kesehatan seluruh masyarakat dengan menyediakan sarana


pelayanan kesehatan berupa puskesmas, rumah sakit, dan sarana kesehatan lain. Mengingat
pertumbuhan jumlah penduduk yang demikian besar, maka pihak swastapun dilibatkan untuk
ikut dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Peranan pihak swasta dalam menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan merupakan


bagian dari jaringan pelayanan kesehatan dan secara langsung dapat dirasakan kehadirannya di
tengah masyarakat, khususnya pendirian rumah sakit di daerah pemekaran.

Pada saat ini rasio antara kebutuhan dan ketersediaan fasilitas kesehatan masih belum
mencukupi. Hal ini tercermin dari ketersediaan tempat tidur rumah sakit yang ada dibandingkan
dengan jumlah penduduk yang akan dilayani. Ketentuan WHO mengatakan ratio setiap 500
penduduk adalah 1 TT. Penduduk kota A jumlahnya 10 juta, maka jumlah TT yang dibutuhkan
10 juta / 500 = 20.000. Diperkirakan RS Pemerintah tipe A ada 400 TT. Kemudian RS swasta
total 22 RS dengan rata-rata 200 TT maka didapatkan total 22x200 TT = 4400 TT.

Total TT RS di kota A adalah 400 + 4400 = 4800 TT. Dari perbandingan diatas, didapat
kesimpulan bahwa kota A masih memerlukan 20.000 – 4800 = 15.200 TT lagi untuk memenuhi
standar WHO. Artinya masih sangat memungkinkan untuk mendirikan RS Swasta tipe A dengan
400TT.

Dalam hal persaingan usaha untuk sementara ini tidak ada saingan karena masih
merupakan satu-satunya rumah sakit yang akan berdiri di wilayah pemekaran kabupaten ini.
Meskipun demikian, kualitas pelayanan kepada masyarakat harus terus ditingkatkan, dengan cara
menambah keunggulan-keunggulan tertentu seperti :

1. Penyediaan peralatan yang lengkap, keluaran terbaru, dari produk ternama, dan
moderen serta dioperasionalkan oleh tenaga-tenaga ahli dan berpengalaman.

2. Dalam hal SDM, rumah sakit ini akan dikelola oleh orang-orang yang benar-benar
ahli di bidangnya, sedangkan dalam bidang pelayanan medis, semua ditangani
oleh dokter spesialis yang profesional yang didukung oleh sistem pelayanan
rumah sakit yang paripurna.

3. Rawat jalan dikelola secara profesional, dalam arti akan dilayani dalam bentuk
pelayanan individual profesi berdasar pada kelainan organ sistem dan bentuk
klinik yang integral yaitu bentuk klinik terpadu berdasar pada keluhan penderita
dan gejala klinis penderita.

4. Tersedianya fasilitas mobilitas bagi pengguna pelayanan rumah sakit agar


berjalan lancar yaitu dengan penggunaan sarana lift.

5. Tersedia UPS dan generator listrik sehingga tidak berpengaruh dengan adanya
gangguan listrik dari PLN.

6. Sistem sterilisasi kamar operasi dan ICU/ICCU/NICU sudah terpasang jaringan


pipa dengan memakai gas, sehingga memberikan jaminan lingkungan yang steril
dan penghematan terhadap waktu berkaitan dengan kesiapan kamar operasi.

7. Nuansa rumah sakit tidak dirasakan oleh pasien dan keluarga maupun pengunjung
terutama di daerah publik, karena desain arsitektur rumah sakit dibuat senyaman
mungkin.

8. Disiapkan pula one day care symtem dan home care system sehingga pasien yang
tidak dapat pergi ke rumah sakit akan dilayani di rumah oleh petugas dan dokter
dengan pelayanan sesuai standar pelayanan.

BAB V

ASPEK TEKNIS

5.1. Status Proyek

Proyek yang akan dibangun adalah rumah sakit swasta dengan bentuk badan hukum
Perseroan Terbatas.

Proyek ini dibangun dengan modal dari pendanaan pinjaman dan akan dikelola dengan
manajemen modern, dimana pemegang saham tidak terlibat secara dominan, terutama pada
aspek birokrasi, manajemen umum, keuangan, personalia, dan pemasaran. Akan tetapi dalam hal
standarisasi pelayanan medis dan rencana anggaran pendapatan dan belanja rumah sakit,
pemegang saham masih ikut memegang kendali.
Investor atau kreditur hanya sebagai penyedia dana dan tidak ikut serta dalam
penyelenggaraan manajemen rumah sakit, kecuali dalam keadaan tertentu, dimungkinkan untuk
dimusyawarahkan pada saat RUPS atau RUPS Luar Biasa atas permintaan Direktur Utama dan
atau Komisaris Utama.

5.2. Gedung/Bangunan

5.2.1. Umum

Gedung direncanakan berlantai 3, dengan total luas lantai 30.000 m2, dengan asumsi 10.000 m2
untuk luas tiap lantai. Sisa lahan akan digunakan untuk parkir dan taman.

5.2.2. Pembagian Utilitas Gedung

Gedung berlantai 3 dengan pembagian ruang-ruang tiap lantai maupun antar lantai berdasarkan
berbagai aspek, yaitu aspek manfaat, efisiensi, kemudahan dalam pencapaian, keamanan dan
kenyamanan. Penghubung antar lantai menggunakan fasilitas lift untuk pasien dan lift barang,
juga tersedia tangga kebakaran.

5.3. Kebutuhan Peralatan Medis

Ketersediaan peralatan medis dan peralatan penunjang sesuai dengan standar yang berlaku, yaitu
pada :

a. Ruang Emergency

b. Rawat Jalan/Poli

c. Hemodialisis

d. Rawat Inap

e. CSSD

f. ICU/NICU/ICCU/Observasi
g. ESWL

h. Catc Lab

5.4. Kebutuhan Peralatan Non Medis

a. Transportasi

Mobil ambulance

Mobil Medical Check-Up dengan peralatannya

b. Audio-Visual

c. Furniture

d. Perlengkapan Elektronik

e. Komunikasi

5.5. Kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM)

Jumlah dan jenis ketenagaan di rumah sakit ini secara garis besar dikelompokkan atas 6
kelompok, yaitu

1. Kelompok Eksekutif

2. Tenaga Administrasi

3. Tenaga Medis

4. Keperawatan

5. Tenaga Gizi

6. Keuangan

7. Tenaga Informasi

8. Tenaga Penunjang pelayanan medis yang meliputi tenaga laboratorium, farmasi,


radiologi, anesthesi, dan fisioterapi.
9. Tenaga IPSRS (Instalasi Pemeliharaan Sarana / Prasarana Rumah Sakit).

Jumlah tenaga yang direncanakan apabila rumah sakit telah beroperasi adalah 300 orang.
Perhitungan lebih rinci akan diperhitungkan kembali berdasarkan lay-out, kebutuhan minimal
dan beban kerja, sehingga pemenuhannya juga secara bertahap.

BAB VI

ASPEK KEUANGAN

Proposal ini dibuat untuk menilai feasibilitas atas sebuah investasi pembangunan dan
pengelolaan rumah sakit di wilayah baru pemekaran kabupaten, dengan nilai investasi sebesar :
Rp 251.000.000.000,- Sedangkan permodalan dengan perincian sebagai berikut :

PMA : Rp 251.000.000,-

Dana tersebut akan digunakan untuk biaya pembangunan sarana dan prasarana sebesar Rp.
231.000.000.000,- , dan modal kerja operasional sebesar Rp. 20.000.000.000,-

Analisis yang akan dilakukan terhadap prediksi kegiatan operasional yang berhubungan dengan
pengelolaan keuangan berupa data proyeksi pemasukan dan pengeluaran uang (cash flow) dan
rencana kegiatan. Analisis keuangan dilakukan pada dua aspek yaitu Penilaian Feasibilitas
investasi dan penilaian kinerja keuangan organisasi ketika kegiatan sudah berjalan.

Analisa Cash Flow 6 Tahun kedepan


Perhitungan Cash Flow Investasi asumsi 6 Tahun
Kedepan

Awal 2,012 2,013 2,014 2,015

Pendapatan

Modal Awal 251,000,000,000 44,874,000,000

Pendapatan R
Inap 5,000,000,000 10,000,000,000 17,000,000,000.0 27,200,000,000.0

Pendapatan R.
Jalan 3,000,000,000 6,000,000,000 10,200,000,000.0 16,320,000,000.0

Pendapatan
Penunjang 2,000,000,000 4,000,000,000 6,800,000,000.0 10,880,000,000.0

Pendapatan
Farmasi 3,000,000,000 6,000,000,000 10,200,000,000.0 16,320,000,000.0

Bank - -

Cash In 251,000,000,000 107,874,000,000 26,000,000,000 44,200,000,000 70,720,000,000

Biaya-biaya
Pembelian
Tanah 7,500,000,000 7,500,000,000

Biaya
Pembangunan 45,937,500,000 45,937,500,000

Biaya Alkes 45,937,500,000 45,937,500,000

Biaya Izin 500,000,000 500,000,000

Biaya
Operasional 2,500,000,000 3,000,000,000 3,600,000,000.0 4,320,000,000.0

Biaya Pegawai 2,500,000,000 3,000,000,000 3,600,000,000.0 4,320,000,000.0

Biaya Jasa
Pelayanan 500,000,000 600,000,000 720,000,000.0 864,000,000.0

Biaya Bahan 500,000,000 600,000,000 720,000,000.0 864,000,000.0

Biaya
Kntr/Pemasaran 500,000,000 600,000,000 720,000,000.0 864,000,000.0

Biaya
Pemeliharaan 150,000,000 180,000,000 216,000,000.0 259,200,000.0

Biaya Sarana 150,000,000 180,000,000 216,000,000.0 259,200,000.0

Biaya
Penyusutan
Gdg 200,000,000 240,000,000 288,000,000.0 345,600,000.0

aiaya
Penyusutan
Alkes 200,000,000 240,000,000 288,000,000.0 345,600,000.0

Biaya
Penyusutan Izin 200,000,000 240,000,000 288,000,000.0 345,600,000.0

Biaya Bunga
Bank 2,000,000,000 2,000,000,000.0 2,000,000,000.0

Pembayaran
Pokok 10,000,000,000 10,000,000,000 10,000,000,000
Cash Out 99,875,000,000 107,275,000,000 20,880,000,000 22,656,000,000 24,787,200,000

Laba Usaha 10,000,000,000 599,000,000 5,120,000,000 21,544,000,000 45,932,800,000

Cash Flow 10,000,000,000 10,599,000,000 15,719,000,000 37,263,000,000 83,195,800,000

Proyeksi Laporan Rugi Laba

Rumah sakit ini memproyeksikan laba kotor yang akan dicapai mulai tahun pertama
beroperasi, yaitu sebesar Rp. 599.000.000,- kemudian mengalami peningkatan pada tahun kedua
sebesar Rp. 5.120.000.000,-Sedangkan pada tahun ketiga beroperasi, laba perusahaan meningkat
hingga Rp. 21.544.000.000,- dan pada tahun ke-6 laba perusahaan menjadi Rp.
157.192.832.000,-

Proyeksi Penerimaan (Sales Projection)

Proyeksi atas penerimaan (sales) rumah sakit pada tahun pertama operasional adalah
sebesar Rp. 13.000.000.000,- dan pada tahun ke-6 penerimaan menjadi Rp. 188.006.400.000,-

Proyeksi Biaya Variabel dan Biaya Tetap

Yang termasuk kategori biaya variable adalah biaya upah paramedis dan non medis,
biaya bahan baku, obat-obatan, biaya pemeliharaan, serta biaya administrasi umum. Sedangkan
yang termasuk biaya tetap adalah biaya gaji direksi dan staff, biaya gaji dokter umum dan
spesialis, biaya penyusutan dan amortisasi.

Analisis Investasi

Tujuan dari analisis ini adalah untuk melihat feasibilitas ekonomi dari sebuah investasi.
a. Analisis Net Present Value (NPV)

Analisis ini untuk melihat nilai waktu dari uang. Uang yang alkan diterima pada masa yang
akan datang berupa cash flow bersih, dikonversikan ke nilai uang sekarang dengan menggunakan
software aplikasi excel diperoleh Net Present Value yang positif sebesar Rp.162.079.837.000,- .
Karena hasil yang diperoleh bernilai positif, maka berarti investasi mampu menghasilkan nilai
lebih atas nilai modalnya serta investasi mampu memberi nilai positif terhadap pemilik modal.

b. Internal Rate of Return (IRR)

IRR merupakan indikator tingkat efisiensi dari suatu investasi. Suatu proyek/investasi dapat
dilakukan apabila laju pengembaliannya lebih besar daripada laju pengembalian apabila
melakukan investasi di tempat lain Bunga deposito, reksadana, dan lain-lain). IRR bertujuan
untuk menghitung tingkat pengembalian internal (tingkat bunga) dari sebuah arus kas (Cash
Flow) secara periodik. Dengan menggunakan data cash flow dan program excel, nilai IRR
didapat sebesar 110,9 %, ini sangat baik sekali.

c. Pay Back Period (PBP)

Pay Back Period adalah kemampuan peminjam dalam mengembalikan pinjamannya atau lama
kembalinya modal diukur dalam satuan waktu. Perhitungan dilakukan dengan cara membagi
nilai modal/investasi dengan nilai kas masuk netto. Atas dasar perhitungan didapat pay back
period selama 4 tahun setelah beroperasi, walaupun pengembalian modal pinjaman bank selama
6 tahun.

d. Break Event Point (BEP)

Untuk mengetahui kapasitas atau omset penjualan berapa perusahaan tidak menderita kerugian
maupun tidak mendapatkan laba. Dari hasil analisis BEP Rumah Sakit berada pada tingkat
penjualan Rp. 26.000.0000.000,- yang dicapai pada tahun kedua dengan tingkat penjualan
sebesar 53 %.

Berdasarkan analisis diatas maka kesimpulan dari analisis pengeluaran modal (capital
budgeting) dihasilkan NPP yang potitif dan pengembalian (PBP) modal yang relative cepat serta
BEP yang berada di atas kapasitas normal, serta IRR berada jauh diatas deposito perbankan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa rencana pengelolaan Rumah Sakit ini baik secara
operasional maupun financial sangat memadai

Analisis Kinerja Organisasi

Pengelolaan keuangan di rumah sakit, memegang peranan yang sangat penting, karena dengan
pengelolaan yang baik akan mampu menghasilkan laba yang memadai. Untuk menilai kinerja
operasional suatu organisasi, diperlukan analisis data laporan laba rugi dan neraca rumah sakit.
Pada saat ini kami hanya membatasi pada Studi Kelayakan Capital Budgeting saja melalui
parameter, IRR, NPV, Pay back Period dan BEP Analisis. Mengingat dengan tools tersebut
sudah dapat mencerminkan rencana investasi sangat feasibel.

KESIMPULAN

Dari analisis di atas menunjukkan bahwa rencana investasi dengan menggunakan


penanaman modal asing untuk pengelolaan Rumah Sakit ini sangat feasible secara ekonomis
yang dibuktikan dengan hasil analisis yang dihitung secara cermat dengan menggunakan paket
aplikasi excel. Dari analisis investasi (Capital Budgeting) yang terdiri dari analisis Net Present
Value, IRR, Pay Back Period dan BEP, semua menunjukkan ke arah yang positif untuk
menerima proyek ini.
5. Standar – standar yang diperlukan :

1. Tugas Pokok Dan Fungsi ( Tupoksi ), meliputi :

- DIREKTUR
- KOMITE MEDIK
- SATUAN PENGAWAS INTERNAL
- MANAJER SDM DAN ADUM
- MANAJER PEMASARAN
- MANAJER KEUANGAN DAN AKUNTANSI
- MANAJER MEDIS
- KEPALA BAGIAN PELAYANAN MEDIS
- KEPALA BAGIAN PENUNJANG MEDIK
- KEPALA BIDANG AKUNTANSI
- KEPALA UNIT RAWAT INAP
- KEPALA UNIT RAWAT JALAN
- KEPALA UNIT GAWAT DARURAT
- KEPALA UNIT RADIOLOGI
- KEPALA UNIT INSTALASI FARMASI DAN PERBEKALAN MEDIS
- KEPALA UNIT INSTALASI GIZI
- KEPALA UNIT LABORATORIUM

2. Peraturan Rumah Sakit, meliputi :


- Hospital By Laws
- Medical Staf By Laws
- Non Medical Staf By Laws

3. SOP/SPO, meliputi :
- SOP IGD
- SOP Perawat
- SOP Nutrisi
- SOP Laboratorium
- SOP Perbekalan dan Farmasi
- SOP Radiologi
- SOP Rekam Medis
- SOP IPRS (Instalasi Penunjang Rumah Sakit)

4. Clinical Pathaway

5. SIMRS (Sistem Informasi dan Manajemen Rumah Sakit)

6. Dalam persiapan akreditasi, maka diperlukan :

- Hak Pasien dan Keluarga


- Manajemen Informasi dan Rekam Medik
- Manajemen Komunikasi dan Edukasi
- Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
- Sasaran Keselamatan Pasien
- Standar Integrasi Pendidikan Kesehatan dalam Pelayanan RS
- Kompetensi dan Kewenangan Staf
- Manajemen Fasilitas dan Keselamatan
- Pelayanan Kefarmasian dan Penggunaan Obat
- Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
- Tata Kelola RS
- Akses ke RS dan Kontinuitas Pelayanan
- Asesmen Pasien
- Pelayanan dan Asuhan Pasien
- Pelayanan Anestesi dan Bedah
- Pelaksanaan Program Nasional meliputi :
 Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi serta Peningkatan Kesehatan Ibu dan Bayi
 Penurunan Angka Kesakitan HIV/AIDS
 Penurunan Angka Kesakitan TBC
 Pelayanan Geriatri

Anda mungkin juga menyukai