Anda di halaman 1dari 4

Rekomendasi Komite Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Rumah

Sakit Islam Pati Terkait Kasus Positif Infeksi Nosokomial/Healthcare


Associated Infections (Hais) Yaitu Infeksi Luka Operasi Pada Kasus
Bedah Kebidanan
di Rumah Sakit Islam Pati

Ringkasan Eksekutif

Infeksi luka operasi merupakan salah satu dari infeksi yang terjadi di Rumah Sakit (dulu disebut
infeksi nosokomial, sekarang disebut Healthcare Associated Infections/HAIs), terutama yang
memiliki pelayanan perawatan dan tindakan pembedahan yang kurang atau belum memadai.
Terjadinya infeksi ini terutama dapat berasal dari internal penderita sendiri, namun dapat juga
berasal dari eksternal seperti peralatan medis dan petugas kesehatan. Akibat infeksi
nosokomial ini menyebabkan biaya perawatan dan masa inap di Rumah Sakit akan bertambah.
Rekomendasi ini berawal dari ditemukannya kasus dugaan infeksi luka operasi pada kasus post
sectio caesaria yang dikonfirmasi dengan hasil kultur kuman positif Psudomonas aeruginosa
pada pasien post sectio caesaria atas indikasi Partus Macet dengan Ketuban Pecah Dini.
Harapan kedepan dilakukan secara rutin pemeriksaan konfirmatif dengan kultur kuman apabila
dicurigai terdapat tanda-tanda yang mengarah dugaan infeksi Luka Operasi pada pasien kasus
bedah di Rumah Sakit Islam Pati. Kultur kuman ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri
penyebab infeksi luka operasi nosokomial pada kasus bedah. Jenis bakteri penyebab infeksi
dapat digunakan sebagai rujukan dalam mengobati infeksi luka operasi nosokomial di Rumah
Sakit Islam Pati. Metode pengambilan kultur dengan cara sampling cairan luka berupa pus
(nanah) atau darah bercampur pus yang dilakukan oleh petugas laboratorium Rumah Sakit
Islam Pati kemudian sample dikirim ke laboratorium rujukan dengan biaya kurang lebih 400.000
rupiah. Identifikasi bakteri dilakukan dengan kultur, pewarnaan Gram dan uji biokimiawi. Hasil
untuk kasus pasien post sectio caesaria atas indikasi partus macet dan Ketuban Pecah Dini
tersebut didapatkan Pseudomonas aeruginosa.

Kata kunci : Infeksi Nosokomial, Infeksi Luka Operasi (ILO), Bakteri penyebab ILO
Pendahuluan

Infeksi nosokomial/HAIs adalah infeksi yang didapat oleh penderita rawat inap di rumah sakit
dalam waktu 3 kali 24 jam, dan penyebab utamanya adalah bakteri. Jenis infeksi nosokomial
yang terbanyak adalah infeksi luka operasi (ILO), saluran kemih (ISK) dan pneumonia
nosokomial. Infeksi nosokomial dapat terjadi akibat bakteri yang berada baik dalam tubuh
penderita sendiri (endogen) maupun dari luar penderita (eksogen), seperti lingkungan rumah
sakit, udara ruang operasi, peralatan kesehatan, bahan cairan atau petugas rumah sakit yang
kurang menerapkan cara sterilisasi yang baik dan benar sehingga terjadilah suatu infeksi. Akibat
dari infeksi nosokomial ini, dapat menyebabkan biaya perawatan dan masa inap di RS akan
bertambah.
Diagnosis Infeksi luka operasi (ILO) sebagai salah satu infeksi nosokomial ditegakkan atas dasar
adanya nanah, rasa nyeri, serta kemerahan pada luka bekas operasi, dan pada biakan dari pus
tersebut didapatkan berbagai bakteri sebagai penyebab infeksi, baik bakteri Gram positip
maupun Gram negatip. Beberapa peneliti telah melaporkan angka kejadian ILO dengan 3 jenis
bakteri penyebab infeksi terbanyak, misalnya di RS Bangladesh bakteri teridentifikasi adalah
Pseudomonas sp., Staphylococcus epidermidis dan Escherichia coli (Alsaimari dan Mezaal,
2009). Di RS M. Djamil Padang didapatkan Klebsiella sp., Staphylococcus aureus, dan
Enterobacter aglomerans, sedangkan di RS Moewardi Surakarta didapatkan bakteri
penyebabnya adalah Enterobacter sp., Pseudomonas sp., dan Proteus sp. (Raihana, 201).

Metodologi

Pengambilan sampel dilakukan pada pasien post operasi di ruang rawat inap Kebidanan Rumah
Sakit Islam Pati. Pemeriksaan mikrobiologi dilakukan di laboratorium IBL, pada Tanggal 15
Desember 2016. Sampel kemudian diperiksa secara mikroskopik dengan pengecatan Gram,
baru dilakukan kultur pada media yang sesuai dengan hasil pengecatan Gram, setelah itu
diidentifikasi dengan reaksi biokimia untuk masing-masing bakteri yang sesuai sampai
didapatkan genus dan spesies dari bakteri tsb.

nyebabnya adalah Enterobacter sp., Pseudomonas sp., dan Proteus sp. (Raihana, 201).

Hasil dan Pembahasan

Isolat mengandung hanya 1 jenis bakteri, yang menandakan jelas bakteri tersebut sebagai
penyebab infeksi, bukan suatu kontaminasi. Bakteri yang ditemukan adalah Pseudomonas sp.
Pseudomonas sp. merupakan suatu flora normal pada usus dan kulit manusia. Dari hasil
pemeriksaan ini ternyata sesuai dengan hasil penelitian oleh Alsaimary I.E. dan Mezaal T.J. di
RSU Bangladesh dan Masaadeh dkk. di FK Universitas Jordan yang menyatakan bahwa bakteri
penyebab ILO adalah Pseudomonas sp. (75.86% dan 27.8%), Selain itu Pseudomonas sp.
tumbuh subur pada air bak, juga pada larutan desinfektans, sehingga bakteri ini dengan sangat
mudah untuk menyebar dengan cepat pada pasien dan pada lingkungan di rumah sakit (Ducel,
2002; Alsaimary I.E. dan Mezaal T.J., 2009; Masaadeh dkk. 2009). Pada penelitian di RS
Moewardi Surakarta didapatkan bahwa Pseudomonas sp. merupakan bakteri terbanyak kedua
sebagai penyebab ILO Nosokomial yang terkait dengan sarana, prasarana, lingkungan, , serta
sterilitas ruang operasi.
Bakteri ini akan berubah jadi pathogen dan menyebabkan infeksi bila berada diluar habitat
normalnya (diluar usus) seperti misalnya pada kulit luka operasi. Kontaminasi ini dapat terjadi
bila operasi laparoskopi ataupun konyak langsung dari lingkungan rumah sakit, personal
hygiene pasien sendiri ataupun dari petugas kesehatan yang merawat luka operasi tersebut.
Diketahui bahwa penyebab infeksi nosokomial secara umum, termasuk ILO Nosokomial adalah
berasal dari autoinfeksi (endogen, self inection) yaitu suatu bakteri yang memang sudah ada di
tubuh manusia dan berpindah ke tempat lain di tubuh kita dan berasal dari eksogen (cross
infection) yang berasal dari lingkungan rumah sakit seperti udara ruang operasi, udara ruang
rawat inap, peralatan yang tidak steril, maupun petugas rumah sakit yang kurang menerapkan
perilaku aseptic dan antiseptic. Agar tidak terjadi infeksi nosokomial, ruang operasi setiap akan
digunakan wajib disterilkan terlebih udaranya dan sebagai standar angka kuman pada udara
ruang operasi adalah sekitar 10 CFU/m3, sehingga angka kuman lebih besar dari 10 dapat
berpeluang menyebabkan infeksi luka operasi nosokomial. Selain itu udara ruang rawat inap di
rumah sakit sebaiknya mempunyai ventilasi yang baik, udara keluar masuk bebas, lantai disapu
dan dipel setiap hari, serta sprei tempat tidur diganti setiap hari. Peralatan yang steril dan
petugas yang bekerja secara aseptic seperti misalnya sterilitas semua peralatan yang dipakai
baik diruang operasi, diruangan rawat inap, tindakan cuci tangan, pemakaian sarung tangan,
dan pemakaian masker sangat berperan dalam mencegah terjadinya infeksi nosokomial seperti
Infeksi Luka Operasi.
Terjadinya infeksi luka operasi nosokomial di Rumah Sakit Islam Pati dapat terjadi kemungkinan
disebabkan oleh beberapa hal seperti misalnya perilaku tidak cuci tangan, tidak memakai
sarung tangan steril, tidak menggunakan masker saat mengganti balutan oleh petugas
kesehatan. Di Rumah Sakit Islam Pati penggunaan masker saat penggantian balutan luka mayor
belum rutin dilakukan sehingga ILO terjadi karena transmisi bakteri sulit dicegah dari mulut dan
lubang hidung petugas. Satu set alat ganti balut sebaiknya digunakan untuk satu pasien, namun
karena keterbatasan alat dan bahan yang tersedia (kadang-kadang digunakan untuk luka kotor)
sehingga alat ganti dipakai lagi dengan hanya disterilkan dengan merendamnya pada cairan
desinfektan. Ruang operasi juga dapat meningkatkan resiko ILO terutama pada ruang operasi
yang padat jadwalnya. Ruang operasi di Rumah Sakit Islam Pati belum memiliki alat sterilisasi
ruang operasi yang terstandar yaitu sterilisasi dengan alat HEPA Filter, selama ini upaya
sterilisasi minimalis dilakukan dengan metode ozonisasi yang sudah tidak direkomendasikan
lagi oleh CDC ataupun WHO. Proses pembersihan rutin seminggu sekali juga belum dilakukan
secara maksimal. Sesuai standar, ruang operasi disterilkan dalam waktu 2 jam sebelum operasi
dilaksanakan. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah bakteri penyebab ILO umumnya
bersifat resisten terhadap antibiotika sehingga sulit dieliminasi, hal ini dikarenakan dilingkungan
rumah sakit sangat banyak dipergunakan antibiotika untuk menanggulangi penyakit infeksi,
sehingga bakteri sering terpapar dengan antibiotika dan kondisi ini menyebabkan terjadi mutasi
pada gen menjadikan bakteri resistensi terhadap antibiotika yang biasa digunakan.
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

Ditemukan spesies bakteri hasil identifikasi dari luka operasi kebidanan di ruang rawat inap
kebidanan yaitu Pseudomonas sp. Rekomendasi untuk dilakukan pemeriksaan kultur kuman
dengan sampel cairan terinfeksi dari bekas luka insisi pasien post operasi di Rumah Sakit Islam
Pati apabila ditemukan tanda-tanda dan gejala yang mengarah ke infeksi nosokomial luka
operasi, diharapkan semua pihak di unit pelayanan dapat bekerja sama lebih intensif lagi dalam
upaya pencegahan dan pengendalian infeksi di Rumah Sakit Islam Pati dan menggunakan hasil
identifikasi bakteri untuk tindakan terapi antibiotik terhadap bakteri penyebab infeksi
nosokomial.