Anda di halaman 1dari 30

TEKNIK PERSILANGAN BUATAN PADA TANAMAN

KEDELAI (Makalah Pemuliaan Tanaman)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kedelai merupakan bahan baku makanan yang bergizi seperti tahu dan tempe. Hampir semua lapisan
masyarakat menyukai makanan yang terbuat dari kedelai tersebut. Bagi petani, tanaman ini penting untuk
menambah pendapatan karena dapat segera dijual dan harganya tinggi. Kedelai
merupakan terna dikotil semusim dengan percabangan sedikit, sistem perakaran akar tunggang dan batang
berkambium.

Kedelai dapat berubah penampilan menjadi tumbuhan setengah merambat dalam keadaan pencahayaan
rendah. Kedelai, khususnya kedelai putih dari daerah subtropik, juga merupakan tanaman hari-
pendek dengan waktu kritis rata-rata 13 jam. Ia akan segera berbunga apabila pada masa siap berbunga
panjang hari kurang dari 13 jam. Ini menjelaskan rendahnya produksi di daerah tropika, karena tanaman
terlalu dini berbunga.

Tanaman kacang-kacangan, termasuk tanaman kedelai, mempunyai dua stadia tumbuh, yaitu stadia
vegetatif dan stadia reproduktif. Stadia vegetatif mulai dari tanaman berkecambah sampai saat berbunga,
sedangkan stadia reproduktif mulai dari pembentukan bunga sampai pemasakan biji. Tanaman kedelai di
Indonesia yang mempunyai panjang hari rata-rata sekitar 12 jam dan suhu udara yang tinggi (>30° C),
sebagian besar mulai berbunga pada umur antara 5-7 minggu. Tanaman kedelai termasuk peka terhadap
perbedaan panjang hari, khususnya saat pembentukan bunga.

Bunga kedelai menyerupai kupu-kupu. Tangkai bunga umumnya tumbuh dari ketiak tangkai daun yang
diberi nama rasim. Jumlah bunga pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 2-25 bunga ,
tergantung kondisi lingkungan tumbuh dan varietas kedelai. Bunga pertama yang terbentuk umumnya pada
buku kelima, keenam, atau pada buku yang lebih tinggi. Pembentukan bunga juga dipengaruhi oleh suhu
dan kelembaban. Pada suhu tinggi dan kelembaban rendah, jumlah sinar matahari yang jatuh pada ketiak
tangkai daun lebih banyak. Hal ini akan merangsang pembentukan bunga. Setiap ketiak tangkai daun yang
mempunyai kuncup bunga dan dapat berkembang menjadi polong disebut sebagai buku subur. Tidak setiap
kuncup bunga dapat tumbuh menjadi polong, hanya berkisar 20-80%. Jumlah bunga yang rontok tidak
dapat membentuk polong yang cukupbesar. Rontoknya bunga ini dapat terjadi pada setiap posisi buku pada
1-10 hari setelah mulai terbentuk bunga. Periode berbunga pada tanaman kedelai cukup lama yaitu 3-5
minggu untuk daerah subtropik dan 2-3 minggu di daerah tropik, seperti di Indonesia. Jumlah bunga pada
tipe batang determinate umumnya lebih sedikit dibandingkan pada batang tipe indeterminate. Warna bunga
yang umum pada berbagai varietas kedelai hanya dua, yaitu putih dan ungu.
Hibridisasi (persilangan) adalah penyerbukan silang antara tetua yang berbeda susunan genetiknya. Pada
tanaman menyerbuk sendiri hibridisasi merupakan langkah awal pada program pemuliaan setelah
dilakukan pemilihan tetua. Umumnya program pemuliaan tanaman menyerbuk sendiri dimulai dengan
menyilangkan dua tetua homozigot yang berbeda genotipenya. Pada tanaman menyerbuk silang, hibridisasi
biasanya digunakan untuk menguji potensi tetua atau pengujian ketegaran hibrida dalam rangka
pembentukan varietas hibrida. Selain itu, hibridisasi juga dimaksugkan untuk memperluas keragaman.

Tujuan utama melakukan persilangan adalah (1) Menggabungkan semua sifat baik ke dalam satu genotipe
baru; (2) Memperluas keragaman genetik; (3). Memanfaatkan vigor hibrida; atau (4) Menguji potensi tetua
(uji turunan). Dari keempat tujuan utama ini dapat disimpulkan bahwa hibridisasi memiliki peranan
penting dalam pemuliaan tanaman, terutama dalam hal memperluas keragaman dan mendapatkan varietas
unggul yang diinginkan. Seleksi akan efektif apabila populasi yang diseleksi mempunyai keragaman
genetik yang luas.
Varietas unggul baru dari tanaman menyerbuk sendiri biasanya merupakan hasil seleksi pada populasi
keturunan hasil persilangan. Sebaliknya, pembentukan hibrida unggul pada tanaman menyerbuk silang
harus diawali dengan menyerbuk sendiri secara buatan. Keberhasilan penyerbukan buatan sangat
tergantung pada faktor internal (tanaman) dan faktor eksternal (cuaca). Faktor internal yang terpenting
adalah saat masaknya kelamin. Penyerbukan buatan sebaiknya dilakukan pada saat serbuk sari (pollen)
sudah masak tetapi belum mati dan putik siap untuk dibuahi (reseptif). Cuaca yang cerah dan tidak ada
angin akan mendukung keberhasilan penyerbukan.

1.2 Tujuan

Penyusunan makalah ini bertujuan untuk menjabarkan cara-cara persilangan buatan pada tanaman kedelai
serta manfaat persilangan itu sendiri.

II. TEKNIK PERSILANGAN BUATAN PADA TANAMAN KEDELAI

Kedelai merupakan tanaman semusim yang sering dibudidayakan petani selain tanaman padi. Seperti
tanaman pada umumnya kedelai akan berbunga ketika memasuki masa generatifnya (kira-kira 40 HST).
Bunga akan muncul pada ketiak daun secara bergerombol hingga 3-5 bunga. Dalam satu gerombol ini
bunga mekar tidak serempak.

Tanaman kedelai ini merupakan tanaman menyerbuk sendiri (autogami) yang memiliki bunga sempurna
(hermaprhodit/banci) karena putik dan benangsari terletak dalam satu bunga. Bunga kedelai berbentuk
kupu-kupu dengan 3 mahkota yang menutupi alat kelamin secara sempurna (oleh sebab itu dinyatakan
bahwa tanaman kedelai merupakan penyerbuk sendiri). Bunga kedelai berukuran sekitar 5-8mm ketika
membuka penuh. Warna mahkota bervariasi ada yang ungu ataupun putih tergantung dari varietas yang
ditanam. Putik bunga sangat kecil berukuran sekitar 3 mm dan berbentuk menyerupai calon polong.
Setelah pembuahan terjadi putik tidak akan gugur dan berkembang menjadi polong kedelai. Benangsari
bunga kedelai juga berukuran sangat kecil. Tangkai benangsari menyatu dan membentuk suatu selaput
tipis yang menutupi/mengelilingi putik. Selaput ini mendukung benangsari diatasnya.

Bunga ini akan mulai membuka pada pukul 05.00 pagi. Penyerbukan alami akan terjadi pada saat serbuk
sari matang yaitu pada saat bunga mekar sempurna (06.00-10.00). Pada saat itulah hendaknya
penyerbukan/persilangan tanaman dilakukan. Letak anther pada bunga kedelai lebih panjang daripada
stigma (disebut juga dengan heteromorfik). Namun demikian, bunga kedelai anther (benangsari) dan
stigma (putik) memiliki panjang yang berbeda (heteromorfik). Letak kelopak bunga dan benangsari sejajar
sehingga terkadang menjadi penghalang persilangan yang akan dilakukan.

Persilangan
Alat yang harus dipersiapkan untuk menyilangkan bunga adalah pinset, benang plastik penutup putik dan
label. Secara umum proses persilangan bunga kedelai sama dengan teknik persilangan biasa.

1. Pemilihan Bunga Sebagai Induk Betina


Satu hal yang harus diketahui bersama adalah tanaman kedelai merupakan tanaman menyerbuk sendiri
sehigga tanpa penyerbukan bantuan, secara alami bunga akan terserbuki. Bunga yang dipilih pada adalah
bunga yag masih kuncup sehingga dapat diyakini putik bunga belum terserbuki.

2. Kastrasi
Kastrasi dilakukan untuk menghindari penyerbukan sendiri (selfing). Kastrasi dilakukan dengan
mengambil seluruh perhiasan bunga dan tentu saja alat kelamin jantan (benangsari). Kastrasi pada bunga
kedelai cukup sulit dilakukan karena bunga berukuran kecil (sekitar 5-7mm ketika mekar sempurna) juga
karena tangkai benangsari yang saling melekat dan membentuk seludang (selaput) menutupi putik.

Untuk membuka seludang benangsari gunakanlah pinset dan goyangkan perlahan2 hingga seludang
terbuka, kemudian cabutlah seludang tersebut maka benagsari akan tercabut. Pada proses ini lakukanlah
dengan hati-hati karena dikhawatirkan putik akan terluka dan akhirnya tidak fertile lagi.

3. Penyerbukan
Untuk mempermudah penyerbukan maka ambillah sekuntum bunga dari varietas lain, periksa
benangsarinya apakah masih dalam keadaan segar. kemudian oleskan pada bunga yang sudah dikastrasi.

4. Pembuangan bunga
Dalam satu dompol terdapat cukup banyak bunga. untuk mempermudah pengamatan maka bunga dalam
dompol yang sama segera dibuang dengan cara menggunting bunga tersebut. hal ini dilakukan untuk
menghindari kesalahan dalam pengamatan polong.
5. Pelabelan
Jangan lupa melakukan pelabelan agar persilangan mudah diamati.
Jika persilangan berhasil maka setelah tiga hari putik akan membentuk polong.

III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan penjabaran diatas, dapat disimpulkan bahwa teknik persilangan buatan pada tanaman kedelai
sama dengan teknik persilangan tanaman pada umumnya. Teknik persilangan tanaman kedelai ini dibagi
menjadi beberapa tahap, yaitu pemilihan bunga sebagai induk betina, kastrasi, penyerbukan, pembuangan
bunga dan pelabelan.

3.2 Saran

Untuk melakukan teknik persilangan buatan pada tanaman kedelai ini dibutuhkan ketelitian dan keseriusan
agar mendapatkan hasil yang maksimal. Selain itu, penggunaan multimedia elektronik dapat
mempermudah pemahaman teknik tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Hartati, Sri dan Sudarmo, hadi. 2007. Melakukan Persilangan pada Tanaman
Jarak Pagar. Info Teknologi Jarak Pagar, 2 (10): 37-40.
Ihsan, Farihul dan Sukarmin. 2008. Teknik Persilangan Untuk Perakitan Varietas
Unggul Baru. Buletin Teknik Pertanian, 13 (1): 33-36.

Lukman, Wawan. 2002. Teknik Kastrasi Pada Persilangan Buatan Tanaman


Secara Konvensional. Buletin Teknik Pertanian, 7 (2) : 62-64.

Sunarko. 2007. Petunjuk Praktis Budi Daya Dan Pengolahan Kelapa Sawit.
Agromedia Pustaka. Jakarta.

Zulfikar, Ahmad. 2009. Penyerbukan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya.


http://www.gudangmateri.com/2009/03/penyerbukan-dan-pembuahan-
bunga.html. Diakses tanggal 26 Maret 2013.

LAPORAN PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN TEKHNIK


PERSILANGAN PADA TANAMAN MENYERBUK SENDIRI DAN
MENYERBUK SILANG
I. PENDAHULUAN
I.1. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum pada acara ini adalah:
a. Mempelajari taknik persilangan pada tanamann menyerbuk sendiri dan tanaman menyerbuk silang.
b. Menhitung persentasi keberhasilan persilangan.
I.2. Latar Belakang
Salah satu upaya yang perli kita lakukan untuk meningkatkan hasil pertanian adalah dengan penggunaan bibit
unggul. Sifat bibit unggul pada tanaman dapat timbul secara alami karena adanya seleksi alam dan dapat juga
timbul karena adanya campur tangan manusia melalui kegiatan pemuliaan tanaman.
Pemuliaan tanaman pada dasarnya adalah kegiatan memilih atau menyeleksi dari suatu populasi untuk
mendapatkan genotipe tanaman yang memiliki sifat-sifat unggul yang selanjutnya akan dikembangkan dan
diperbanyak sebagai benih atau bibit unggul. Namun demikian, kegiatan seleksi tersebut seringkali tidak dapat
langsung diterapkan, karena sifat-sifat keunggulan yang dimaksud tidak seluruhnya terdapat pada satu genotipe
saja, melainkan terpisah pada genotipe yang lainnya. Misalnya, suatu genotipe mempunyai daya hasil yang
tinggi tapi rentan terhadap penyakit, sedangkan genotipe lainnya memiliki sifat-sifat lainnya (sebaliknya). Jika
seleksi diterapkan secara langsung maka kedua sifat unggul tersebut akan selalu terpisah pada genotipe yang
berbeda. Oleh sebab itu untuk mendapatkan genotipe yang baru yang memiliki kedua sifat unggul tersebut perlu
dilakukan penggabungan melalui rekombinasi gen.
Persilangan merupakan salah satu cara untuk menghasilkan rekombinasi gen. Secara teknis, persilangan
dilakukan dengan cara memindahklan tepung sari kekepala putik pada tanaman yang diinginkan sebagai tetua,
baik pada tanaman yang menyerbuk sendiri (self polination crop) maupun pada tanaman yang menmyerbuk
silang (cross polination crop).
Keberhasilan persilangan sangat ditentukan oleh pemulia tanaman mengenai tehnik persilangan itu sendiri
maupun pada pengetahuan akan bunga, misalnya:
*. Stuktur bunga.
*. Waktu berbunga.
*. Saat bunga mekar.
*. Kapan bunga betina siap menerima bunga jantan (tepung sari).
*. Tipe penyerbukan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Reproduksi merupakan kemampuan mahluk hidup untuk memperbanyak diri. Reproduksi dapat dibedakan
menjadi dua macam, yaitu reproduksi seksual (reproduksi melalui peleburan gamet tetua) dan reproduksi
aseksual (reproduksi tanpa peleburan gamet tetua).
Penyerbukan adalah jatuhnya serbuk sari kekepala putik. Sedangkan pembuahan adalah bergabungnya gamet
jantan dan gamet betina. (Anonim, …). Kriteria klasifikasi yang dipergunakan hanya berdasarkan tingkat
penyerbkan sendiri dan penyerbukan silang. Polonasi sendiri sudah barang tentu hanya merupakan salah satu
system perbanyakan tanaman dan hanya sebagai salah satu jalan dimana populasi dapat dikawinkan. Didalam
group penyerbukan silang jumlah persilangan dari luar adalah sangat penting karena ia memepengaruhi dalam
kontaminasi stok pemuliaan. Ada perbedaan yang besar antara jumlah persilangan dengan luar didalam species
dari suatu kelompok. Jumlah persilangan dari varietas yang diberikan juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan
yang berubah. (R.W. Allard, 1992)
Penyerbukan dapat dibedan atas dua cara yaitu:
1. Penyerbukan sendiri
Penyerbukan sendiri adalah jatuhnya serbuk sari dari anter ke stigma pada bunga yang sama atau stigma dari
bunga yang lain pada tanaman yang sama atau klon yang sama. Prinsipyang memungkinkan terjadinya
penyerbukan penyerbukan sendiri adalah kleistogami yaitu pada waktu terjadi penyerbukan bunga yang belum
mekar atau tidak terbuka, misalnya pada kedelai, padi, tembakau dan lain-lain. Jumlah penyerbukan silang yang
munkin terjadi pada 5tanaman-tanaman tersebut berkisar antara 0% sampai 4 atau 5%.
Terjadinya penyerbukan sendiri disababkan oleh :
a. Bunga tidak membuka.
b. Serbuk sari sudah matang dan jatuh sebelum bunga terbuka.
c. Stigma dan stamen tersembunyi oleh organ bung yang sudah terbuka.
d. Stigma memanjang melalui tabung staminal segera sesudah anter membuka.
e. Bunga matang serempak.
Penyerbukan diawali oleh pembungaan proses ini disebut anthesis.(Anonim, ...)
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada kegiatan persilangan buatan, yaitu:
1. Periode bunga tertua jantan dan betina
Pengaturan waktu tanam yang perlu dilakukan sedemikian rupa sehingga saat keluarnya bunga hampir serentak
antara kedua tetua yang disilangkan.

2. Waktu emaskulasi dan persilangan. (M. Nasir, 2001)


Metode pemuliaan yang terbukti telah berhasil terhadap species perbanyakan sendiri berada pada kategori
sebagai berikut :
1. Seleksi galur murni
Seleksi ini digunakan untk memilih varietas baru dari varietas yang dahulu telah melewati petani dari generasi ke
generasi. Sebagian besar tanaman diseleksi dari varietas tersebut dan dapat diharapkan bersifat homozigot dan
inilah titik awal dari perkembangan pemuliaan.
2. Seleksi massal
Seleksi ini berbeda dengan seleksi galur murni dalanjumlah tanaman dimana tidak hanya sebatang yang
diseleksi untuk mendapatkan varietas baru. Varietas yang dikembangkan dengan cara ini mencakup beberapa
genotipe yang lebih banyak dibandingkan populasi induknya.

3. Metode hibridisasi, dengan pemisahan secara :


3a. Metode catatan terhadap galur asal usul
Metode silsilah digunakan secara luas oleh pemuliaan tanaman saat ini. Ia menurunkan namanya dari catatan
yang disimpan oleh pendahulunya. Seleksi ini keungulanya didasarkan pada keadaan fisik dan sifat yang lain
dari individu.
3.b. Metode curah
Metode ini digunakan jika seleksi buatan dilakukan selama perbanyakan massal, pemilihan iini biasanya
didasarkan atas tabiat dari individu tanaman.
3.c. Metode persilangan kembali
Dalam metode ini diulang manjadi induk yang dikehendaki selama seleksi di kerjakan terhadap sifat karakteristik
yang sedangdipindahkan dari dari satu donor induknya.(R.W. Allard, 1992)

2. Penyerbukan silang
Penyerbukan silang adalah jatuhnya serbuk sari dari anter ke stigma bunga yang berbeda. Contoh dari
persilangan ini adalah ubi kayu, alfalfa, jagung, padi liar ,dan lain-lain.
Terjadinya penyerbukan silang disebabkan oleh:
a. Gangguan mekanis terhadap penyerbukan sendiri.
b. Perbedaan periode matang sebuk sari dan kepala putik.
c. Sterilitas dan inkompatibilitas
d. Adanya bunga monocious dan diocious.
Jagung adalah tipe monocious, staminate terdapat diujung batang dan pistilate pada batang. Serbuk sari mudah
diterbangkan angin sehingga penyerbukan lebih dominan meskipun penyerbukan sendiri bisa terjadi 5% atau
lebih. (Anonim,...)
Ada perbedaan besar dalam hal penyerbukan pengontrolan polinasi silang dan juga kemudahan pengontrolan
polinasi silang oleh pemulia tanaman. Beberapa species mempunyai sifat tidak serasi dan dapat dikawinkan
tanpa adanya kesulitan terhadap sifat yang tidak cocok.

Metode penting yang sesuai dengan penyerbukan silang antara lain:


1. Seleksi massal
Seleksi ini merupakan cara yang penting dalam pengembanan macam-macamvarietas yang disilangkan.Dalam
seleksi ini jumlah yang dipilih banyak untuk memperbanyak generasi berikutnya .
2. Pemuliaan persilangan kembali
Metode ini digunakan dengan species persilangan luar yang nilainya sama baiknya dengan species yang
berpolinasi sendiri.
3. Hibridisasi dari galur yang dikawinkan
Varietas hibrida tergantung dari keunggulan keragamanyang mencirikan hibrid F1 diantara genotipe tertentu.Tipe
genotipe yantg disilangkan melahirkan galur-galur, klon, strain, dan varietas.
4. Seleksi berulang
Seleksi yang diulang, genotip[e yang diinginkan dipilih dari genotipe ini atau turunan sejenisnya disilangkan
dengan luar semua kombinasi yang menghasilkan populasi untuk disilangkan.
5. Pengembangan varietas buatan. (R. W. Allard, 1992).

III. BAHAN DAN METODE.


III.1. BAHAN DAN ALAT
Adapun bahan yang kami gunakan pada acara praktikum ini adalah:

a. Benih kedelai
b. Benih cabai
c. Pupuk jagung
d. Pupuk kandang
e. Pupuk NPK
f. Pestisida

Adapun alat yang kami gunakan selama praktikum ini adalah:

a. Pinset
b. Gunting
c. Kaca pembesar
d. Kertas label
e. Benang
f. Spidol permanen
g. Kantong kertas 40 x 50
h. Klip
i. Staples

III.2. METODE PELAKSANAAN


A. Tanaman Menyerbuk Sendiri (Kedelai)
A.1. Pelaksanaan Tanam
1. Menyiapkan lahan petakan ukuran 1,6 x 2 m untuk setiap mahasiswa.
2. Memberi pupuk kandang pada lahan sekitar 5 kg untuk setiap petakan
3. Membuat jarak tanam kedelai 40 x 20 cm, sehingga setiap petak terdapat 4 baris, 10 tanaman per baris, 2
baris tanaman ditengah untuk pengamatan keragaman genotipe, 2 baris tanaman pinggir untuk persilangan.
4. Menugal tanah yang telah disiapkan dengan jkarak tanam tersebut. Benih dimasukkan 2 biji perlubang dan
diberi furadan 3 G +/- 10 butir sebelumnya.
5. Lebih kurang 5 cn dari lubang tanam, buat alur pupul urea, SP 36,dan KCl.
6. Memberikan urea 2 gr/tanaman, SP 36 3 gr/tanaman, dan KCl 3 gr/ tanaman, pemupukan urea diulang pada
saat 4 mst dengan dosis 2 gr/ tanaman.
7. Jika ada gejala serangan hama dan penyakit lakukan pengendalian.
8. Melakuakn penyiraman setiap hari, jika tidak turun hujan.
A.2. Pelaksanaan Persilangan
Setelah berumur 4 minggu setelah tanam sudah mulai berbunga, penyilangan dapat dil;akukan setiap hari pada
pukul 07.30 – 10.00 WIB.
1. Memilih bunga yang diperkirakan mekar esok harinya dengan ciri-ciri kuncup bunga membengkak dan corolla
mulai kelihatan muncul sedikit pada kelopaknya. Kelopak bunga dibuang dengan pinset. Kemudian buang bunga
mahkota dengan cara menarik perlahan – lahan mahkota (sepal). Sampai kelima sepal habis.
2. Membuang seluruh stamen dengan menggunakan pinset sehingga hanya tertinggal kepala putik.
3. Memilih bunga yang mekar sebagai sumber serbuk sari (pejantan), lalu buka mahkotanya dan ambil anter
yang sudah siap untuk diserbukkan kekepala putik atau stigma.
4. Melakukan pemindahan serbuk sari kekepala putik.
5. Setelah menyilangkan diberi label yang neggantung pada tangkai atau cabang bunga tersebut dengan
menulis tetua yang disilangkan (betina dan jantan), tanggal persilangan, nama penyilang (pemulia).
6. Apabila kira-kira satu minggu bunga yang disilangkan masih segar dan hijau berarti hibridisasi berhasil.

B. TANAMAN MENYERBUK SILANG (JAGUNG)


A.1. PELAKSANAAN TANAM
1. Menyiapkan lahan petakan ukuran 1,6 x 2 m untuk setiap mahasiswa.
2. Memberi pupuk kandang pada lahan sekitar 5 kg untuk setiap petakan.
3. Jarak tanam jagung 80 x 20 cm, sehingga setiap petakan terdapat 2 baris, setiap baris 10 tanaman, masing-
masing baris dengan varietas berbeda.
4. Menugal tanah yang telah disiapkan dengan jarak tanam tersebut. Benih dimasukkan 2 biji per lubang dan
diberi furadan 3 G +/- 10 butir sebelumnya.
5. Lebih kurang 5 cn dari lubang tanam, buat alur pupul urea, SP 36,dan KCl.
6. Memberikan urea 2 gr/tanaman, SP 36 3 gr/tanaman, dan KCl 3 gr/ tanaman, pemupukan urea diulang pada
saat 4 mst dengan dosis 2 gr/ tanaman.
7. Jika ada gejala serangan hama dan penyakit lakukan pengendalian.
8. Melakuakn penyiraman setiap hari, jika tidak turun hujan.

B.2. PELAKSANAAN PERSILANGAN JAGUNG


Setelah berumur 5 mst,bunga jantan mulai keluar, penutupan bunga yang dilakukan setiap hari.
1. Memilih bunga betina (tongkol) yang akan diserbuki sebelum rambut pada ujung tongkol keluar, dibungkus
dengan kantong kertas yang sudah disiapkan.
2. Memilih tanaman yang akan dipakai sebagai pejantan (sumber serbuk sari) dengan tanda-tanda bunga jantan
sudah mekar, kemudian bungkus bunga jantan tersebut sampai rapatdengan kantong kertas, jangan sampai
serbuk sari jatuh beterbangan
3. Setelah satu atau dua hari bunga jantan tersebut telah siap untuk disilangkan. Untuk memastikan dipeolehnya
tepung sari yang cukup, maka tepuklah bunga jantan yang terbungkus tersebut.
4. Ap[abila bunga betina yang dipilih telah siap diserbuki, yaitu pada tongkolyang telah keluar rambut diujungnya,
maka persilangan telah siap dilaksanakan.
5. Persilangan dilakukan dengan cara memindahkanbunga jantan (serbuk sari) ke bunga betina(putik) dengan
meletakkan serbuk sari pada rambut tongkol.
6. Menutup kembali tongkol yang telah disebuki. Tulis dan gantungkan label persilangan pada tongkol tersebut.

C. PENGAMATAN
Pengamatan dilakukan pada saat panen, pada kedelai ditandai dengan perubahan warna polong dari hijau
menjadi kecoklatan, peubah yang diamati sebagai berikut:
1. Persentase keberhasilan persilangan dihitung dengan: jumlah bunga yang berhasil disilangkan dibagi jumlah
polong bunga yang disilangkan dikali 100%.
2. Jumlah biji per polong
Pengamatan tanaman jagung dilakukan saat panen meliputi:
1. Jumlah tongkol yang jadi (buah)
2. Panjang tongkol (cm), diukur setelah tongkol dikupas.
3. Diameter tongkol (cm), diukur pada bagian tengah tongkol.
4. Jumlah biji per tongkol

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


IV. 1. HASIL PERCOBAAN
A. Tingkat Keberhasilan Persilangan Tanaman Jagung
No Tetua Persilangan Jml bunga yg disilangkan Jml persilangan yg menghasilakan polong Persentase
keberhasilan
1 Bisi2xpioner 5 4 80%
Pioner x bisi 2 4 2 50%

B. Tingkat Keberhasilan Persilangan Kanaman Kedelai


No. Tetua Persilangan Jml bunga yg disilangkan Jml persilangan yg menghasilakan polong Persentase
keberhasilan Jml biji per polong
1 Var.Kipas putih x Kipas putih 6 4 66,6%
22 Var.Kipas putih x Var.Unib 5 2 40%
3 Var. Unibx Var. Kipas putih 3 1 33%

V.2. Pembahasan
Pada pembahasan ini kami akan menguraikan hasil percobaan kami menjadi dua (2) bagian yaitu:
1. persilangan kedelai (persilangan sendiri)
Dari hasil persilangan yang kami lakukan pada tanaman kedelai, ternyata persen keberhasilan yang didapat
adalah sebesar nilai yang tertera dalam tabel, dimana, untuk persilangan antara kedelai varietas kipas putih
dengan kedelai varietas kipas putih didapatkan persentase keberhasilan sebesar 66,6% dimana jumlah biji
perpolong antara 1-2 biji kedelai. Untuk persilangan antara kedelai varietas Kipas Putih dengan kedelai varietas
Unib, didapatkan persentase keberhasilan sebesar 40% dimana jumlah biji perpolong juga antara 1-2 biji kedelai.
untuk persilangan antara kedelai varietas Unib dengan kedelai varietas Kipas putih didapatkan persentase
keberhasilan sebesar 33% dimana jumlah biji perpolong juga antara 1-2 biji kedelai.
Hasil persilangan tersebut kemungkinan tidak 100% dihasilkan dari persilangan silang. Hal ini disebabkan oleh
adanya kesalahan penerimaan informasi, yaitu bunga yang kami silangkan ternyata telah hampir mekar sehingga
kemungkinan ada serbuk sari yang sudah jatuh pada stigma dan telah terjadi pembuahan. Namun tidak semua
hasil silang tersebut berasal dari bunga yang hampir mekar, namun ada juga bunga yang disilangkan tersebut
berasal dari bunga yang disilangkan sewaktu kuncup dan hampir mekar.
Sebenarnya cukup banyak bunga yang kami silangkan yaitu sekitar 14 bunga. Namun dari sebanyak itu hanya 7
bunga yang jadi dan sisanya tidak jadi, atau tingkat keberhasilan adalah sekitar 50% , memang pada awalnya
bunga itu telah hampir jadi pentil/buah polong. Namun setelah beberapa hari kemudian bakal polong tersebut
tidak berhasil menjadi polong melainkan gugur. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi lingkungan yang
tidak mendukung misalnya pada saat persilangan ada banyak turun hujan, akibatnya banyak pentil/polong
kedelai yang gugur karena kadar air yang banyak, kemungkinan ada juga pengaruh penyakit, sebab pada saat
persilangan ada juga miselia-miselia jamur. Namun kondisi itu tidak berlangsung lama, karena pada saat itu
kondisi cuaca mudah berubah-ubah.
Mungkin juga bisa disebabkan karena tiap varietas kedelai juga memiliki tingkat jadinya penyerbukan yang
berbeda-beda, dan kecocokan dalam persilangan, hal ini terlihat ada Ada kegagalan yang begitu besar dari
penyerbukan silang ini, mungkin lebih disebabkan oleh pengaruh tingkat ketelitian oleh pemulia sendiri, sebab
struktur bunga yang begitu kecil dan kondisi lingkungan yang tidak stabil serta adanya faktor dalam misalnya
perbedaan tingkat persilangan antara varietas yang berbeda.

2. Persilangan pada jagung


Pada tanaman jagung keberhasilan persilangan keseluruhan didapatkan sebesar 66.67% dari 9 kali persilangan
yang dilakukan. Yaitu bpada ntanaman jagung bisi 2 yang disilangkan dengan pioner menghasilkan sekitar 80 %
tingkat keberhasilan dari 5 kali persilangan. Dan pada tanaman pioner yang disilangkan dengan bisi 2
menghasilkan sekitar 66.67% dari 6 kali persilangan.

Hasil persilangan jagung terlihat jumlah biji yang dihasilkan tidak rata atau tongkol yang bernas sedikit, hal ini
menunjukkan serbuk sari pejantannya sedikit yang berhasil membuahi putik. Hal ini disebabkan oleh kesalahan
pemulia dan faktor lingkungan yang mempengaruhi.
Dan dari yang praktikan ketahui tentang persilangan jagung dengan varietas berbeda maka biasanya tongkolnya
tidak akan berbentuk atau berbiji sempurna Mengapa tongkol yang disilangkan tidak berbiji sempurna dan
mengapa tongkol tumbuh tidak besar dan panjang? praktikan kira ada beberapa hal yang berpengaruh terhadap
perbedaan tersebut, antara lain:
a. Akibat dari persilangan, artinya akibat adanya persilangan maka tongkol tidak dapat menghasilkan biji dengan
sempurna. Hal ini terjadi karena pada saat penyerbukan belum semua rambut jagung (stigma) keluar sehingga
sewaktu penyerbukan ada stigma yang tidak kena tepung sari.
b. Pengaruh organisme hidup, hal ini bisa terjadi karena pada saat penyerbukan banyak sekali semut yang
bersarang pada tongkol dan anter yang dibngkus oleh penutup.
c. Pengaruh iklin , sebab pada saat penyerbukan, kondisi cuaca tidak baik (ada hujan dan angin) sehingga ada
kemungkinan tepung sari jatuh dan tidak sampai ke ovule karena tebawa air atau angin.
d. Kurangnya unsur hara, hal ini terjadi sebab kondisi yang kurang baik, mungkin tanaman ini kekurangan unsur
Phosfor untuk pengisian biji jagung.

V. KESIMPULAN
Ada beberapa hal yang perlu kami simpulkan disini antara lain:
1. Setiap tumbuhan memiliki tehnik persilangan yang tidak sama.
2. Tehnik persilangan menyerbuk sendiri dilakukan pada tanaman yang dapat melakukan penyerbukan dalam
satu bunga.
3. Tehnik persilangan menyerbuk sendiri dilakukan pada tanaman yang dapat melakukan penyerbukan pada
bunga lain.
4. Banyak hal yang mempengaruhi pada tanaman menyerbuk sendiri antara lain kondisi lingkungan, stuktur
bunga, jenis varietas dan ketelitian si pemulia.
5. Demikian pula pada tanaman yang menyerbuk silang, ada beberapa faktor yang juga berpengaruh pada
persilangannya, antara lain pengaruh organisme hidup, iklim dan keterampilan pemulia.
6. Persilangan pada tanaman menyerbuk silang lebih mudah dilakukan dari tanaman yang menyerbuk sendiri.
7. Tingkat keberhasilan pada tanaman yang menyerbuk silang ternyata lebih besar dari tanaman yang
menyerbuk sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011. Penuntun Praktikum Pemuliaan Tanaman. Prodi Agroekoteknologi .FAPERTA UNIB.
Allard, R. W, 1992. Pemuliaan Tanaman. Rineka Cipta. Jakarta
Nasir. M, 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Depatemen Pendidikan Nasional. Jakarta.
Syamsuri, Istamar, 2000. Biologi 2000. Erlangga. Jakarta

 Beranda
About Me

Juwita Noventina Hutajulu


Lihat profil lengkapku

Followers
Blog Archive
 ▼ 2013 (5)
o ▼ Mei (5)
 LAPORAN PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN Struktur Bunga...
 LAPORAN PRAKTIKUM TEKBEN ACARA II UNIB
 LAPORAN PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN
 Laporan praktikum Pemuliaan tanaman 2011 UNIB
 LAPORAN PRAKTIKUM IRIGASI DAN DRAINASE 2011 UNIB
 ► 2012 (1)
Kamis, 23 Mei 2013
LAPORAN PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Bibit unggul merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan hasil pertanian. Bibit yang
unggul dapat timbul secara alami dan secara campur tangan manusia. Pemuliaan tanaman
pada dasarnya adalah kegiatan memilih atau menyeleksi dari suatu populasi untuk mendapatkan
genotipe tanaman yang memiliki sifat-sifat unggul yang selanjutnya akan dikembangkan dan
diperbanyak sebagai benih atau bibit unggul. Namun demikian, kegiatan seleksi tersebut
seringkali tidak dapat langsung diterapkan, karena sifat-sifat keunggulan yang dimaksud tidak
seluruhnya terdapat pada satu genotipe saja, melainkan terpisah pada genotipe yang lainnya.
Misalnya, suatu genotipe mempunyai daya hasil yang tinggi tapi rentan terhadap penyakit,
sedangkan genotipe lainnya memiliki sifat-sifat lainnya (sebaliknya). Jika seleksi diterapkan
secara langsung maka kedua sifat unggul tersebut akan selalu terpisah pada genotipe yang
berbeda. Oleh sebab itu untuk mendapatkan genotipe yang baru yang memiliki kedua sifat
unggul tersebut perlu dilakukan penggabungan melalui rekombinasi gen.

Persilangan merupakan salah satu cara untuk menghasilkan rekombinasi gen. Secara
teknis, persilangan dilakukan dengan cara memindahklan tepung sari kekepala putik pada
tanaman yang diinginkan sebagai tetua, baik pada tanaman yang menyerbuk sendiri (self
polination crop) maupun pada tanaman yang menmyerbuk silang (cross polination crop).

I.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan praktikum pada acara ini adalah:

a.Mempelajari taknik persilanganpada tanamann menyerbuk sendiri dan tanaman


menyerbuk silang.
b.Menhitung persentasi keberhasilan persilangan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Reproduksi merupakan kemampuan mahluk hidup untuk memperbanyak diri. Reproduksi


dapat dibedakan menjadi dua, yaitu reproduksi seksual (reproduksi melalui peleburan gamet
tetua) dan reproduksi aseksual (reproduksi tanpa peleburan gamet tetua).

Penyerbukan adalah jatuhnya serbuk sari kekepala putik. Sedangkan pembuahan adalah
bergabungnya gamet jantan dan gamet betina. (Anonim). Kriteria klasifikasi yang dipergunakan
hanya berdasarkan tingkat penyerbkan sendiri dan penyerbukan silang. Polonasi sendiri sudah
barang tentu hanya merupakan salah satu system perbanyakan tanaman dan hanya sebagai
salah satu jalan dimana populasi dapat dikawinkan. Didalam group penyerbukan silang jumlah
persilangan dari luar adalah sangat penting karena ia memepengaruhi dalam kontaminasi stok
pemuliaan. Ada perbedaan yang besar antara jumlah persilangan dengan luar didalam species
dari suatu kelompok. Jumlah persilangan dari varietas yang diberikan juga dipengaruhi oleh
keadaan lingkungan yang berubah. (R.W. Allard, 1992)

Penyerbukan dapat dibedakan atas dua cara yaitu:

1. Penyerbukan sendiri
Penyerbukan sendiri adalah jatuhnya serbuk sari dari anter ke stigma pada bunga yang
sama atau stigma dari bunga yang lain pada tanaman yang sama atau klon yang sama.
Prinsipyang memungkinkan terjadinya penyerbukan penyerbukan sendiri adalah kleistogami
yaitu pada waktu terjadi penyerbukan bunga yang belum mekar atau tidak terbuka, misalnya
pada kedelai, padi, tembakau dan lain-lain. Jumlah penyerbukan silang yang munkin terjadi pada
5 tanaman-tanaman tersebut berkisar antara 0% - 4 atau 5%.
Terjadinya penyerbukan sendiri disababkan oleh :

a. Bunga tidak membuka.


b. Serbuk sari sudah matang dan jatuh sebelum bunga terbuka.
c. Stigma dan stamen tersembunyi oleh organ bung yang sudah terbuka.
d. Stigma memanjang melalui tabung staminal segera sesudah anter membuka.
e. Bunga matang serempak.
Penyerbukan diawali oleh pembungaan proses ini disebut anthesis.(Anonim)
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada kegiatan persilangan buatan, yaitu:

1. Periode bunga tertua jantan dan betina


Pengaturan waktu tanam yang perlu dilakukan sedemikian rupa sehingga saat
keluarnya bunga hampir serentak antara kedua tetua yang disilangkan.
2. Waktu emaskulasi dan persilangan. (M. Nasir, 2001)
Metode pemuliaan yang terbukti telah berhasil terhadap species perbanyakan sendiri
berada pada kategori sebagai berikut :
1. Seleksi galur murni
Seleksi ini digunakan untk memilih varietas baru dari varietas yang dahulu telah melewati
petani dari generasi ke generasi. Sebagian besar tanaman diseleksi dari varietas tersebut dan
dapat diharapkan bersifat homozigot dan inilah titik awal dari perkembangan pemuliaan.
2. Seleksi massal
Seleksi ini berbeda dengan seleksi galur murni dalanjumlah tanaman dimana tidak hanya
sebatang yang diseleksi untuk mendapatkan varietas baru. Varietas yang dikembangkan dengan
cara ini mencakup beberapa genotipe yang lebih banyak dibandingkan populasi induknya.
3. Metode hibridisasi, dengan pemisahan secara :
a. Metode catatan terhadap galur asal usul
Metode silsilah digunakan secara luas oleh pemuliaan tanaman saat ini.
menurunkan namanya dari catatan yang disimpan oleh pendahulunya. Seleksi ini keunggulanya
didasarkan pada keadaan fisik dan sifat yang lain dari individu.

b. Metode curah

Metode ini digunakan jika seleksi buatan dilakukan selama perbanyakan massal,
pemilihan iini biasanya didasarkan atas tabiat dari individu tanaman.

c. Metode persilangan kembali

Dalam metode ini diulang manjadi induk yang dikehendaki selama seleksi di kerjakan
terhadap sifat karakteristik yang sedangdipindahkan dari dari satu donor induknya.(R.W. Allard,
1992)

2. Penyerbukan silang
Penyerbukan silang adalah jatuhnya serbuk sari dari anter ke stigma bunga yang berbeda.
Contoh dari persilangan ini adalah ubi kayu, alfalfa, jagung, padi liar ,dan lain-lain.
Terjadinya penyerbukan silang disebabkan oleh:
a. Gangguan mekanis terhadap penyerbukan sendiri.

b. Perbedaan periode matang sebuk sari dan kepala putik.

a. Sterilitas dan inkompatibilitas


b. Adanya bunga monocious dan diocious.
Jagung adalah tipe monocious, staminate terdapat diujung batang dan pistilate pada batang.
Serbuk sari mudah diterbangkan angin sehingga penyerbukan lebih dominan meskipun
penyerbukan sendiri bisa terjadi 5% atau lebih. (Anonim,...)
Ada perbedaan besar dalam hal penyerbukan pengontrolan polinasi silang dan juga kemudahan
pengontrolan polinasi silang oleh pemulia tanaman. Beberapa species mempunyai sifat tidak
serasi dan dapat dikawinkan tanpa adanya kesulitan terhadap sifat yang tidak cocok.

Metode penting yang sesuai dengan penyerbukan silang antara lain:

1. Seleksi massal
Seleksi ini merupakan cara yang penting dalam pengembanan macam-macamvarietas yang
disilangkan.Dalam seleksi ini jumlah yang dipilih banyak untuk memperbanyak generasi
berikutnya .
2. Pemuliaan persilangan kembali
Metode ini digunakan dengan species persilangan luar yang nilainya sama baiknya dengan
species yang berpolinasi sendiri.
3. Hibridisasi dari galur yang dikawinkan
Varietas hibrida tergantung dari keunggulan keragamanyang mencirikan hibrid F1 diantara
genotipe tertentu.Tipe genotipe yantg disilangkan melahirkan galur-galur, klon, strain, dan
varietas.
4. Seleksi berulang
Seleksi yang diulang, genotip[e yang diinginkan dipilih dari genotipe ini atau turunan
sejenisnya disilangkan dengan luar semua kombinasi yang menghasilkan populasi untuk
disilangkan.
5. Pengembangan varietas buatan. (R. W. Allard, 1992)
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 BAHAN
Adapun bahan yang kami gunakan pada acara praktikum ini adalah:

Benih kedelai, Benih jagung, Pupuk kandang,Pupuk NPK, pestisida

3.2 ALAT

Pinset, Gunting, Kaca pembesar, Kertas label kecil untuk label persilangan, Benang, spidol
permanen, kantong kertas 40 x 50 cm untuk menutupi bunga jantan jagung, Kantong kertas
minyak 10 x 20 cm untuk menutupi bunga betina, Klip dan staples.
3.3 METODE PELAKSANAAN
A. Tanaman Menyerbuk Sendiri (Kedelai)

Pelaksanaan Persilangan:

Setelah berumur 4 minggu setelah tanam sudah mulai berbunga, penyilangan dapat
dilakukan setiap hari pada pukul 07.30 – 10.00 WIB.

1. Memilih bunga yang diperkirakan mekar esok harinya dengan ciri-ciri kuncup bunga
membengkak dan corolla mulai kelihatan muncul sedikit pada kelopaknya. Kelopak bunga
dibuang dengan pinset. Kemudian buang bunga mahkota dengan cara menarik perlahan – lahan
mahkota (sepal). Sampai kelima sepal habis.

2. Membuang seluruh stamen dengan menggunakan pinset sehingga hanya tertinggal kepala
putik.

3. Memilih bunga yang mekar sebagai sumber serbuk sari (pejantan), lalu buka mahkotanya dan
ambil anter yang sudah siap untuk diserbukkan kekepala putik atau stigma.

4. Melakukan pemindahan serbuk sari kekepala putik.

5. Setelah menyilangkan diberi label yang neggantung pada tangkai atau cabang bunga tersebut
dengan menulis tetua yang disilangkan (betina dan jantan), tanggal persilangan, nama penyilang
(pemulia).

6. Apabila kira-kira satu minggu bunga yang disilangkan masih segar dan hijau berarti hibridisasi
berhasil.

B. Tanaman menyerbuk silang (Jagung)


Pelaksanaan persilangan:
Setelah berumur 5 minggu,bunga jantan mulai keluar, penutupan bunga yang dilakukan
setiap hari.

1. Memilih bunga betina (tongkol) yang akan diserbuki sebelum rambut pada ujung
tongkol keluar, dibungkus dengan kantong kertas yang sudah disiapkan.
2. Memilih tanaman yang akan dipakai sebagai pejantan (sumber serbuk sari)
dengan tanda-tanda bunga jantan sudah mekar, kemudian bungkus bunga jantan
tersebut sampai rapatdengan kantong kertas, jangan sampai serbuk sari jatuh
beterbangan
3. Setelah satu atau dua hari bunga jantan tersebut telah siap untuk disilangkan.
Untuk memastikan dipeolehnya tepung sari yang cukup, maka tepuklah bunga jantan
yang terbungkus tersebut.
4. Apabila bunga betina yang dipilih telah siap diserbuki, yaitu pada tongkolyang
telah keluar rambut diujungnya, maka persilangan telah siap dilaksanakan.
5. Persilangan dilakukan dengan cara memindahkanbunga jantan (serbuk sari) ke
bunga betina(putik) dengan meletakkan serbuk sari pada rambut tongkol.
6. Menutup kembali tongkol yang telah disebuki. Tulis dan gantungkan label
persilangan pada tongkol tersebut.

C. PENGAMATAN

Pengamatan dilakukan pada saat panen, pada kedelai ditandai dengan perubahan warna
polong dari hijau menjadi kecoklatan, peubah yang diamati sebagai berikut:

1. Persentase keberhasilan persilangan dihitung dengan: jumlah bunga yang berhasil disilangkan
dibagi jumlah polong bunga yang disilangkan dikali 100%.

2. Jumlah biji per polong

Pengamatan tanaman jagung dilakukan saat panen meliputi:

1. Jumlah tongkol yang jadi (buah)


2. Panjang tongkol (cm), diukur setelah tongkol dikupas.
3. Diameter tongkol (cm), diukur pada bagian tengah tongkol.
4. Jumlah biji per tongkol
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Tingkat Keberhasilan Persilangan tanaman Jagung

No Tetua Persilangan Jml bunga yg Jml persilangan yg Persentase


disilangkan menghasilakan polong keberhasilan

1 0 0 0

Tingkat Keberhasilan Persilangan Tanaman Kedelai

No Tetua Jml bunga Jml persilangan yg Persentase Jml biji per


Persilangan ygdisilangkan menghasilkan polong keberhasilan polong

1 Var A x Var B 1 1 100% 50

2 Var A x Var B 1 1 100% 20


4.2 Pembahasan

Pada pembahasan ini kami akan menguraikan hasil percobaan kami menjadi dua (2) bagian
yaitu:

1. persilangan kedelai (persilangan sendiri)


Dari hasil persilangan yang kami lakukan pada tanaman kedelai, ternyata persen
keberhasilan cukup besar yaitu sekitar 25%. Hal ini didapatkan setelah panen tanaman kedelai
dilakukan. Sebenarnya untuk mencapai keberhasilan demikian besar cukup sulit dalam
melakukan penyerbukan sebab tanaman kedelai memiliki struktur bunga yang kecil. Sehingga
untuk melakukan penyerbukan sangat dibutuhkan tingkat ketelitian yang cukup tinggi.
Hasil persilangan tersebut kemungkinan tidak 100% dihasilkan dari persilangan silang. Hal
ini disebabkan oleh adanya kesalahan penerimaan informasi, yaitu bunga yang kami silangkan
ternyata telah hampir mekar sehingga kemungkinan ada serbuk sari yang sudah jatuh pada
stigma dan telah terjadi pembuahan. Namun tidak semua hasil silang tersebut berasal dari
bunga yang hampir mekar, namun ada juga bunga yang disilangkan tersebut berasal dari bunga
yang disilangkan sewaktu kuncup dan hampir mekar.

Sebenarnya cukup banyak bunga yang kami silangkan yaitu 35 bunga. Namun dari
sebanyak itu hanya 9 bunga yang jadi dan sisanya tidak jadi, memang pada awalnya bunga itu
telah hampir jadi pentil/buah polong. Namun setelah beberapa hari kemudian bakal polong
tersebut tidak berhasil menjadi polong melainkan gugur. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh
kondisi lingkungan yang tidak mendukung misalnya pada saat persilangan ada banyak turun
hujan, akibatnya banyak pentil/polong kedelai yang gugur karena kadar air yang banyak,
kemungkinan ada juga pengaruh penyakit, sebab pada saat persilangan ada juga miselia-miselia
jamur. Namun kondisi itu tidak berlangsung lama, karena pada saat itu kondisi cuaca mudah
berubah-ubah.

Ada kegagalan yang begitu besar dari penyerbukan silang ini, mungkin lebih disebabkan
oleh pengaruh tingkat ketelitian oleh pemulia sendiri, sebab struktur bunga yang begitu kecil dan
kondisi lingkungan yang tidak stabil serta adanya faktor dalam misalnya perbedaan tingkat
persilangan antara varietas yang berbeda.

2. Persilangan pada jagung


Pada persilangan jagung ini kami tidak melakukan sama sekali karena disebabkan benih
jagung yang kami tanam tidak tumbuh. Penanaman jagung kami lakukan lagi dan hasilnya sama
seperti semula oleh sebab itulah kami tidak dapat melakukan persilangan pada tanaman jagung.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Ada beberapa hal yang perlu kami simpulkan disini antara lain:

1. Persilangan merupakan cara untuk meningkatkan produksi pertanian melalui bibit yang unggul.

2. Setiap tumbuhan memiliki tehnik persilangan yang tidak sama.

3. Tehnik persilangan menyerbuk sendiri dilakukan pada tanaman yang dapat melakukan
penyerbukan dalam satu bunga

4. Banyak hal yang mempengaruhi pada tanaman menyerbuk sendiri antara lain kondisi
lingkungan, stuktur bunga, jenis varietas dan ketelitian si pemulia.

5. Demikian pula pada tanaman yang menyerbuk silang, ada beberapa faktor yang juga
berpengaruh pada persilangannya, antara lain pengaruh organisme hidup, iklim dan
keterampilan pemulia.

6. Persilangan pada tanaman menyerbuk silang lebih mudah dilakukan dari tanaman yang
menyerbuk sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2013. Penuntun Praktikum Pemuliaan Tanaman. Prodi


Agronomi.FAPERTA UNIB.

Allard, R. W, 1992. Pemuliaan Tanaman. Rineka Cipta. Jakarta

Nasir. M, 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Depatemen Pendidikan


Nasional. Jakarta.

Syamsuri, Istamar, 2000. Biologi 2000. Erlangga. Jakarta.

LAPORAN PEMULIAAN TANAMAN TEKNIK PERSILANGAN BUATAN PADA PADI

LAPORAN PEMULIAAN TANAMAN

TEKNIK PERSILANGAN BUATAN PADA PADI


NAMA : LIONEL RUBBY GINTING

BP : 1010212008

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2011

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangbiakan tanaman secara generatif adalah melalui prosesperkawinan /


penyerbukan. Pembuahan sel telur dan perkembangannya hanyaakan terjadi jika butir serbuk sari
sampai kepada stigma. Penyerbukan berbedadengan pembuahan, penyerbukan adalah peleburan
gamet jantan dan gametbetina. Penyerbukan ada dua macam, yaitu penyerbukan sendiri dan
penyerbukansilang. Penyerbukan sendiri adalah proses penyerbukan kepala
putik oleh serbuk sari yang berasal dari bunga itu sendiri atau dari bunga lain pada tumbuhan
yangsama.Alat reproduksi tanaman adalah bunga dan pada bunga pada umumnyaterdapat struktur
jantan (serbuk sari) dan betina (putik).

Pada saat bertemunya serbuk sari ke kepala putik maka terjadilah proses penyerbukan yang
nantinya akan menghasilkan buah dan terdapat biji didalamnya untuk meneruskanketurunannya.
Pola variasi genetik di alam sangat ditentukan oleh mekanismepenyerbukan pada tanaman. Dalam
proses penyerbukan terdapat dua macampenyerbukan, yaitu penyerbukan terbuka (kasmogami) dan
penyerbukan tertutup (kleistogami). Penyerbukan silang ialah proses perpindahan serbuk
sari dari anther bungatumbuhan ke stigma bunga tumbuhan lain yang sama atau species
yangberkerabat. Penyerbukan dapat dibantu oleh angin dan serangga, burung, keong,dan binatang
kecil lain. Contoh tanaman yang menyerbuk sendiri adalah gandum,padi, kedelai dan lain-lain.
Penyerbukan silang lebih umum terjadi dibandingdengan penyerbukan sendiri. Penyerbukan silang
menghasilkan kombinasi satuanketurunan yang lebih beragam dari keduanya. Pengaruh langsung
daripenyerbukan silang adalah banyaknya spesies dari produksi biji yang dihasilkandan bersifat lebih
kuat dari turunannya.

Secara garis besar Teknik penyerbukan silang buatan:

1. Persiapan

· Pengamatan bunga : pembungaan, benang sari, putik

· Mengumpulkan informasi mengenai : asal usul dan sifat tanaman, waktupenyerbukan yang
baik

· Pemilihan induk jantan dan betina

· Pemilihan bunga-bunga yang akan disilangkan

2.Kastrasi/emaskulasi

· Membuang semua benang sari dari sebuah kuncup bunga yang akandijadikan induk betina
dalam penyerbukan silang

· Dimaksudkan untuk menghindarkan penyerbukan sendiri

· Dilakukan sebelum bunga mekar (putik dan benang sari belum masak)

3. Isolasi

4. Pengumpulan dan penyimpanan serbuk sari

5. Melakukan penyerbukan silang

6. Pelabelan

7. Pendeteksian Keberhasilan Persilangan Buatan


BAB II

.TINJAUAN PUSTAKA

Bunga merupakan fase penting dalam proses pembentukan biji. Padadasarnya bunga terdiri dari
beberapa organ, namun hanya dua organ saja yangterlibat dalam pembentukan biji, yaitu benang
sari (stamen) dan putik (pistil).

Benang sari menghasilkan serbuk sari yang masing-masing membentuk gametjantan.


Sedangkan putik akan membentuk bakal biji (ovulum) yang mengandungtelur. Pada waktu proses
penyerbukan, yaitu jatuhnya serbuk sari pada kepalaputik, terbentuklah tabung serbuk sari,
kemudian berlangsung pembuahan antarasperma dengan telur. Proses akhir dari pembuahan ini
adalah terbentuknya biji ( Hanum,
2008).
Agar persilangan berhasil perlu diketahui tujuan dan prioritas persilangan serta sifat sifat
penting varietas atau spesies tetua yang akan disilangkan, terutamabiologi bunga dan teknik
persilangan. Terdapat perbedaan karakter morfologibiologi bunga dalam hal arah tandan, bentuk
dan posisi bunga hermaprodit,panjang tangkai, panjang tandan, serta waktu dan lamanya berbunga
(Rudi, 1996).
Persiapan untuk melakukan kastrasi dan penyerbukan silang meliputi penyediaan alat-alat
antara lain : pisau kecil yang tajam, gunting kecil, pinset dengan ujung yang runcing, jarum yang
panjang dan lurus, alkohol (75-85%) atau spiritus dalam botol kecil untuk mensterilkan alat-alat
tersebut, wadah untuk tempat benang sari, sikat kecil untuk mengeluarkan serbuk sari dari benang
sari, kuas untuk meletakkan serbuk sari di atas kepala putik dan kaca pembesar untuk memeriksa
kebersihan kepala putik. Penutupan bunga sebelum dan sesudah penyerbukan dapat menggunakan
kantong dari kain, kelambu, kantong plastik yang telah diberi lubang-lubang kecil untuk pernafasan
(peredaran udara) atau isolatif, sesuai dengan ukuran bunga.

Perlengkapan lain yang perlu disediakan yakni label dari kertas yang tahan air, selanjutnya label
tersebut diberi nomor urut. Untuk keperluan penyerbukan silang antara jenis-jenis tertentu
sebaiknya kertas label mempunyai warna tertentu, misalnya untuk persilangan A X B warna labelnya
merah, untuk A X C warna labelnya putih, untuk D X B warnanya hijau dan seterusnya dengan warna
lain. Kastrasi adalah kegiatan membersihkan bagian tanaman yang ada
di sekitar bunga yang akan diemaskulasi dari kotoran, serangga, kuncup-kuncup bunga yang tidak
dipakai serta organ tanaman lain yang mengganggu kegiatan persilangan. Membuang mahkota dan
kelopak juga termasuk kegiatan kastrasi. Kastrasi umumnya menggunakan gunting, pisau atau
pinset.
Munculnya bunga jantan padatandan bunga berkisar antara 6-12 hari. Kastrasi dilakukan setiap
hari sesuai dengan kemunculan bunga jantan tersebut. Ada beberapa cara untuk melakukankastrasi,
yaitu: (1) menggunakan pompa pengisap, (2) dengan perlakuan alkohol,dan (3) secara manual
dengan pinset. Kastrasi sebaiknya dilakukan pada pagi hari setelah persilangan pada saatbunga
jantan mulai muncul tetapi belum pecah, biasanya 1-2 kali setelah persilangan. Hal ini dimaksudkan
untuk mengurangi kerusakan mekanis tandanbunga. (Wawan, 2002).

Emaskulasi adalah kegiatan membuang alat kelamin jantan (stamen) pada tetua betina,
sebelum bunga mekar atau sebelum terjadi penyerbukan sendiri. Emaskulasi terutama dilakukan
pada tanaman berumah satu yang hermaprodit dan fertil. Cara emaskulasi tergantung pada
morfologi bunganya. Beberapa metode emaskulasi yang umum digunakan adalah :

1. Metode Kliping atau Pinset

Pada umumnya kuncup bunga dibuka dengan pinset atau dipotong dengan gunting, kemudian
anter atau stamen dibuang dengan pinset. Cara ini mudah dilakukan pada tanaman yang bunganya
relatif besar, misalnya cabai, kedelai, tomat dan tembakau. Cara emaskulasi ini praktis, murah dan
mudah dilakukan, namun kemungkinan rusaknya putik dan pecahnya anter sangat besar, sehingga
terjadinya penyerbukan sendiri sangat besar.

Adapun cara melakukan emaskulasi menggunakan metode ini adalah sebagai berikut :

a. Setelah dipilih bunga yang akan digunakan sebagai betina, bagian ujung kuncup bunga dipotong
dengan pisau silet atau gunting, sehingga kepala putiknya kelihatan jelas dari atas. Pekerjaan ini
harus dilakukan dengan hati-hati jangan sampai putiknya turut terpotong atau rusak.

b. Mahkota dari kuncup bunga dibuka perlahan-lahan satu per satu dengan menggunakan pinset
sampai semua benang sari terlihat jelas dari luar. Bila perlu semua mahkota dibuang.

c. Benang sari dapat dibuang satu per satu sampai habis dengan sebuah pinset.

d. Baik pinset, maupun gunting kecil dan alat lain yang dipakai untuk emaskulasi bunga harus steril.
Setiap kali hendak di pakai, alat tersebut perlu dicelupkan ke dalam spiritus atau alkohol 75-85% dan
kemudian dilap sampai kering dan bersih.

e. Setelah melakukan emaskulasi, pada tangkai bunga segera digantungkan sebuah label yang telah
diberi nomor.

2. Metode Pompa Isap (Sucking Method)

Teknik ini mudah dilakukan pada padi. Pada tahap awal metode ini relatif mahal, karena
diperlukan biaya untuk pengadaan alat. Keuntungan menggunakan metode ono adalah
kemungkinan rusaknya kepala putik (stigma) dan pecahnya anter dan penyerbukan sendiri sangat
kecil. Teknik pengerjaannya adalah ujung bunga dibuka dengan gunting, kemudian anter dihisap
keluar dengan alat pompa hisap.

3. Metode Pencelupan dengan Air Panas, Air Dingin atau Alkohol


Untuk tanaman yang bunganya kecil-kecil, seperti sorghum, rumput-rumputan dan pakan,
pembuangan stamen dengan menggunakan pinset atau gunting sangat sulit. Cara emaskulasi untuk
jenis bunga ini adalah dengan mencelupkan bunga ke dalam air hangat yang mempunyai temperatur
tertentu, biasanya antara 43-53 0C selama 1-10 menit. Cara ini mahal dan tidak praktis. Hal yang
sama bisa dilakukan pada air dingin atau alkohol.

4. Metode Kimia

Beberapa bahan kimia dapat mendorong terbentuknya mandul jantan (male sterile) pada
tanaman. Bahan kimia tersebut diantaranya adalah GA3, sodium dichloroasetat, ethrel, GA4/7, 2,4
D, NAA. Caranya bahan tersebut disemprotkan pada bunga yang sedang kuncup dengan konsentrasi
tertentu.

5. Metode Jantan Mandul

Pada beberapa tanaman menyerbuk sendiri seperti barley, sorghum, atau padi pelaksanaan
emaskulasinya sukar, maka bisa memanfaatkan tanaman mandul jantan yaitu yang anternya steril
dan tidak menghasilkan polen yang viabel. Sifat mandul jantan ini bisa dikendalikan secara genetik
maupun sitoplasmik.

Isolasi dilakukan agar bunga yang telah diemaskulasi tidak terserbuki oleh serbuk sari asing.
Dengan demikian baik bunga jantan maupun betina harus dikerudungi dengan kantung. Kantung
bisa terbuat dari kertas tahan air, kain, plastik, selotipe dan lain-lain. Ukuran kantung disesuaikan
dengan ukuran bunga tanaman yang bersangkutan. Kantong tersebut harus memenuhi syarat-syarat
berikut :

1. Kuat dan tahan hujan lebat dan panas terik matahari.

2. Tidak mengganggu pernafasan bunga yang dibungkus

3. Bila terkena air hujan dapat lekas kering, airnya dapat lekas menguap

4. Bahan yang dipakai untuk kantong tidak enak rasanya, agar tidak dimakan oleh serangga atau
binatang-binatang lainnya.

5. Kantongnya cukup besar, sehingga bila ada hujan turun, bunganya tidak akan menempel pada
kantong. Kantong tersebut dapat berbentuk silinder, yang diperkuat dengan kerangka dari kawat
atau bambu. Bila bunga yang dibungkus itu kecil, cukuplah bunga itu ditutup dengan sebuah tudung
plastik berukuran kecil.

Pengumpulan serbuk sari dari pohon tetua jantan dapat dimulai beberapa jam sebelum
kuncup-kuncup bunga itu mekar. Bila letak pohon tetua betina jauh dari pohon tetua jantan, maka
pengangkutan kuncup-kuncup bunga dari tetua jantan ke tetua betina akan memakan waktu yang
lama. Agar kuncup bunga itu tidak lekas layu dan tahan lama dalam keadaan segar, hendaknya
kuncup bunga itu dipetik dan diangkut pada pagi hari sebelum matahari terbit atau pada sore hari
setelah matahari terbenam.

Serbuk sari adalah mahluk hidup, yang mempunyai umur terbatas dan kemudian mati. Mutu
serbuk sari dapat dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain :
1. Kelembaban udara, pada kelembaban udara relatif yang tinggi serbuk sari tidak tahan disimpan
lama. Penyimpanan serbuk sari di tempat lembab akan berakibat buruk, karena berpeluang
berjangkit cendawan dan bakteri yang dapat menyebabkan serbuk sari lekas mati.

2. Umur serbuk sari, makin tua umur serbuk sari, makin lamban akan perkecambahannya dan
tabung sari yang terbentuk akan lebih pendek. Selain itu persentase butir-butir serbuk sari yang
hidup akan terus menurun sampai pada suatu saat tidak ada serbuk sari lagi yang dapat
berkecambah.

3. Suhu udara, pada tempat yang udaranya kering dan pada suhu rendah, serbuk sari dapat
disimpan sampai beberapa minggu dalam keadaan tertutup.

Di laboratorium, serbuk sari biasanya disimpan pada suhu antara 2-8 OC dan pada kelembaban
udara antara 10% sampai 50%. Penyimpanannya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
terlebih dahulu serbuk sarinya dimasukkan ke dalam tabung gelas. Kemudian tabungnya diletakkan
dalam exsicator (desiccator) yang telah diisi dengan CaCl2 atau dengan larutan H2SO4 pada
konsentrasi tertentu, misalnya antara 10-70%. Maksudnya agar dapat menyerap uap air dari udara
cukup banyak. Untuk menyimpan serbuk sari bunga karet dari jenis No. PR 107 biasanya dipakai
konsentrasi 27% H2SO4 dan untuk serbuk sari dari jenis karet No. AV 157 dipakai konsentrasi 35%
H2SO4.

Pengumpulan Tepung Sari Tepung sari dikumpulkan dengan dua cara, yaitu: 1.Mengambil
kotak sari yang belum pecah dengan pinset, dikumpulkan pada suatu tempat (petridish), kemudian
digerus sampai halus dan diberi air steril. Setelah itu, tepung sari siap digunakan untuk persilangan
dengan cara mengoleskan gerusan tersebut ke bunga betina yang sudah dipilih dan masihreseptif. 2.
Tepung sari ditampung dalam botol kecil berdiameter 1,50 cm dan panjang 6cm. Botol digantung
atau dikaitkan pada tangkai batang atau tangkai tandan dengan menggunakan perekat, kemudian
bagian ujung botol ditutup dengan alumenium foil .

Keesokan harinya botol tersebut dikumpulkan. Sebelum dikumpulkan, botol-botol tersebut


diketuk-ketuk dengan jari telunjuk agar tepung sari barjatuhan ke dalam botol. Tepung sari yang
sudah tertampung siap digunakan sebagai bahan untuk persilangan dengan menambahkan air + 2
ml,kemudian diaduk dengan kuas dan dioleskan ke tandan bunga betina yangsudah dipilih (Hamid,
1989).

Penyerbukan buatan dilakukan antara tanaman yang berbeda genetiknya. Pelaksanaannya


terdiri dari pengumpulan polen (serbuk sari) yang viabel atau anter dari tanaman tetua jantan yang
sehat, kemudian menyerbukannya ke stigma tetua betina yang telah dilakukan emaskulasi.

Saat yang paling baik untuk melakukan persilangan buatan adalah padasaat bunga betina
telah mekar ½ sampai 3/4 bagian dan kepala putik berwarnaputih. Pada saat itu, bunga jantan
(benang sari) pada tandan tersebut belum masak atau pecah.

Beberapa cara penyerbukan buatan yang bisa dilakukan adalah:

1. Tandan bunga yang telah dikastrasi diserbuki tepung sari dengan menggunakan kuas.
Tepung sari bisa dalam keadaan kering atau basah (dilarutkan dalam + 2ml air steril), kemudian
dioleskan pada kepala putik. Persilangan dilakukan 2-3kali sampai bunga betina tidak reseptif lagi.

2. Tandan bunga betina yang telah reseptif ditempelkan pada tandan bunga jantan yang telah mekar
dan tepung sarinya telah pecah.

3. Tandan bunga betina yang masih reseptif tetapi belum pecah kotak sarinya diolesi bunga jantan
yang kotak sarinya telah pecah. Persilangan diulang 2-3kali pada hari berikutnya. Kastrasi dilakukan
1-2 hari setelah persilangansampai seluruh bunga jantan dalam satu tandan habis (Paristiyani, 2008).

Ukuran dan bentuk label berbeda-beda. Pada dasarnya label terbuat dari kertas keras tahan
air, atau plastik. Pada label antara lain tertulis informasi tentang: (1) Nomor yang berhubungan
dengan lapangan, (2) Waktu emaskulasi, (3) waktu penyerbukan, (4) Nama tetua jantan dan betina,
(5) Kode pemulia/penyilang.

Pendeteksian Keberhasilan Persilangan Buatan ,keberhasilan suatu persilangan buatan dapat


dilihat kira-kira satu minggu setelah dilakukan penyerbukan (Gambar 6). Jika calon buah mulai
membesar dan tidak rontok maka kemungkinan telah terjadi pembuahan. Sebaliknya, jika calon
buah tidak membesar atau rontok maka kemungkinan telah terjadi kegagalan pembuahan.
Keberhasilan penyerbukan buatan yang kemudian diikuti oleh pembuahan dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya adalah kompatibilitas tetua, ketepatan waktu reseptif betina dan
antesis jantan, kesuburan tanaman serta faktor lingkungan.

Kompatibilitas tetua terkait dengan gen-gen yang terkandung pada tetua jantan dan betina.
Waktu reseptif betina dan antesis jantan dapat dilihat ciri morfologi bunga. Bunga yang terbaik
adalah bunga yang akan mekar pada hari tersebut. Sementara itu, faktor lingkungan yang
berpengaruh pada keberhasilan persilangan buatan adalah curah hujan, cahaya mahatari,
kelembaban dan suhu. Curah hujan dan suhu tinggi akan menyebabkan rendahnya keberhasilan
persilangan buatan.

Pada persilangan buatan tanaman hermaprodit atau juga tanaman lainnya, biji yang
dihasilkan belum tentu merupakan hasil persilangan buatan. Bisa jadi biji tersebut merupakan hasil
selfing (untuk bunga hermaprodit) atau hasil persilangan tanaman lain (karena proses isolasi yang
tidak sempurna). Hal tersebut dapat dideteksi dengan bantuan penanda, baik berupa penanda
morfologi maupun penanda molekuler.

Sifat kualitatif tanaman dapat digunakan sebagai penanda morfologi. Sebagai contoh buah
muda cabai ada yang berwana hijau tua, hijau muda, kuning atau atau ungu. Buah muda cabai dapat
digunakan sebagai penanda morfologi. Jika cabai dengan buah berwarna hijau tua disilangkan
dengan cabai dengan buah berwarna ungu maka akan menghasilkan F1 dengan buah berwarna
ungu. Jika buah F1 yang dihasilkan tidak berwarna ungu maka kemungkinan terjadi selfing atau
penyerbukan dari serbuk sari cabai lain. Hal yang sama dapat digunakan untuk penanda molekuler.

Pada biji tanaman yang ada pengaruh metaxenia seperti jagung, keberhasilan persilangan
buatan sudah dapat dideteksi tanpa menanam F1. Jagung yang seharusnya mempunyai warna biji
putih jika diserbuki dengan serbuk sari jagung dengan warna biji kuning akan berwarna kuning.
Contoh lain adalah jagung manis jika diserbuki oleh jagung tidak manis akan menghasilkan biji-biji
yang tidak manis. Pada pengamatan morfologi bunga, yang digunakan sebagai
objek pengamatan adalah bunga tembakau. Bunga tembakau termasuk bunga dalam golongan
jenis tercampur, berumah dua (hermafrodit) memiliki rumus bunga , , K 5, C 5, A5,
G1. Bila dillihat dari bentuk bunganya
yang kecil dan letak putik dan benang sari saling berdekatan dan selalu menempel, bunga cabai
termasuk melakukan penyerbukan sendiri
(autogami). Teknik hibridisasi atau penyerbukan
silang buatan adalah teknik yangdimaksudkan untuk menggabungkan sifat-sifat baik yang dimiliki
oleh induk jantan dan induk betina, dengan harapan akan diperoleh keturunan yang
memilikigabungan dari sifat-sifat baik tersebut. Sebelum melakukan hibridisasi dilakukan langkah
kastrasi yaitu pengebirian organ kelamin jantan yang mendekati matang.
Teknik tersebut dilakukan sebelum bunga mekar (putik dan benang sari belummasak). Langkah
kastrasi dlakukan untuk mencegah terjadinya penyerbukan sendiri secara alami yang tidak
diinginkan, sehingga bila tidak dilakukan kastrasimaka bunga tersebut akan melakukan penyerbukan
sendiri secara alami danapabila telah terjadi penyerbukan maka teknik hibridisasi tidak akan
bisadilakukan.
Teknik kastrasi biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum bunga mekar dan benang sari yang
belum matang masih dalam keadaan bagus. Dan teknik hibridisasi dilakukan pada sore atau pagi
hari. Teknik kastrasi dan hibridisasi yangmemperhitungkan waktu dimaksudkan untuk mencegah
terjadinya kegagalandalam kastrasi dan hibridisasi. Pada teknik kastrasi, pada pagi hari
dilakukansebelum bunga mekar dan belum melakukan penyerbukan, hal itu dikarenakanbunga pada
umumnya mekar sempurna dan masih dalam keadaan segar padapukul 06.00 hingga 08.00. apabila
dilakukan kastrasi lewat pagi hari dan sesudahbunga mekar, maka serbuk sari akan terlebih dahulu
menyerbuki bunga betina danteknik hibridisasi akan gagal dan tidak dapat
dilakukan.
Teknik hibridisasi dilakukan pada pagi atau sore hari bertujuan untuk menambah kemungkinan
berhasil karena pada pagi hari atau sore hari bungamekar sempurna dan dalam keadaan segar. Pada
saat matang, putik akan menghasilkan suatu cairan pelekat yang digunakan untuk melekatkan
benang sari.Pada siang hari cairan tersebut akan kering dan jika dilakukan hibridisasi
makakemungkinan besar benang sari tidak akan menempel pada kepala putik dankeberhasilan
hibridisasi akan berkurang.
Benang sari yang disimpan terlalu lama setelah kastrasi juga tidak baik karena akan menurunkan
kualtitas sel spermajantan. Setelah melakukan kastrasi maka perlakuan hibridisasi diharapkan
dilakukan pada hari yang sama yaitu kastrasi pada pagi hari sebelum matahari terbit dan hibridisasi
pada sore harinnya pada hari yang sama.Pada bunga, terkadang terjadi inkompatibilitas.
Inkompatibilitas adalah gejala kegagalan tanaman dengan tepung sari dan bakal biji yang normal
untuk membuat biji sebagai akibat penghalang fisiologis, sehingga tidak terjadi pembuahan. Pada
bunga yang mengalami inkompatibilitas tidak akan dapatmelakukan penyerbukan secara alami dan
harus dilakukan perlakuan penyerbukansecara buatan. Ada beberapa teknik dalam cara mengatasi
penyerbukan bungayang inkompatibel yaitu dengan cara Suhu tinggi. Pistil yg diekspos sampai suhu
60 oC, untuk merangsang kesuburan. Cara lain yaitu Irradiasi. Pada Solanaceae, X-ray atau gamma
ray untuk menginduksi kesuburan sementara. Dengan cara yang lebih sederhana yaitu Polinasi
berganda, Polinasi kuncup (bud pollination): polinasi biasanya dilakukan 1 ± 2 hari sebelum bunga
mekar/anthesism, Surgicaltechnique : potong/hilangkan stigma dan pollen diletakkan pada
potongan style.
BAB III

BAHAN DAN METODA

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang pada
hari rabu tanggal 2 november 2011 pada pukul 10.30 WIB sampai selesai

3.2 Bahan dan alat

Bahan yang diperlukan pada praktikum ini adalah , Bunga tanaman padi (jantan & betina) beda
varietas , Kertas sampul, Kertas label . Sedangkan alat yang diperlukan adalah Pollen bag, Ear tube,
dan Pinset.

3.3 Cara Kerja

Pertama tama dilakukan Persiapan yaitu Pengamatan bunga : pembungaan, benang sari,
putik , selanjutnya mengumpulkan informasi mengenai asal usul dan sifat tanaman,
waktu penyerbukan yang baik , pemilihan induk jantan dan betina, pemilihan bunga-bunga yang
akan disilangkan. Langkah selanjutnya adalah Kastrasi/emaskulasi yaitu membuang semua benang
sari dari sebuah kuncup bunga yang akan dijadikan induk betina dalam penyerbukan silang
dimaksudkan untuk menghindarkan penyerbukan sendiri ,dilakukan sebelum bunga mekar (putik
dan benang sari belum masak)

Kemudian dilakukan Isolasi , langkah selanjutnya adalah pengumpulan dan penyimpanan


serbuk sarikemudian melakukan penyerbukan silang selanjutnya dilakukan Pelabelan dan langkah
terakhir adalah pendeteksian Keberhasilan Persilangan Buatan.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Tanaman Padi termasuk bunga hermafrodit karena organ kelamin jantan dan organ kelamin
betina terletak pada satu bunga yang sama. Jika dilihat dari bentuk bunga, organ kelamin jantan dan
organ kelamin betina yang letaknya berdekatan maka bunga tersebut melakukan penyerbukan
secara autogami (penyerbukan sendiri). Alasan dilakukan kastrasi pada pagi hari sebelum matahari
terbit dan sebelum bunga mekar adalah untuk mencegah penyerbukan secara alami pada saat bunga
sudah mekar dan pada teknik hibridisasi dilakukan pada pagi atau sorehari karena putik dapat
menagkap serbuk sari dengan sempurna pada saat keadaan putik masih segar.

4.2 Saran

Saran saya pada praktikum berikutnya adalah agar para praktikan dapat melakukan
persilangan buatan ini harus melakukannya dengan sungguh sungguh dan teliti khususnya dalam
pencabutan alat kelamin jantan. Dan agar lebih terlatih lagi sebaiknya teknik persilangan ini
dilakukan berkali kali.

DAFTAR PUSTAKA
Hamid, 1989. Pemuliaan pada Tanaman Lada. Makalah pada LatihanTeknik Pemuliaan Tanaman dan
Hibrida di Balittro dan Balittan Sukamandi. 8hlm.

Hanum, Chairani. 2008. Teknik Budidaya Tanaman. Direktorat Pembinaa


Kejuruan Pertanian.Bandung.

Kasim, 1990. Pengendalian penyakit busuk pangkal batang lada secara terpadu.Buletin Tanaman
Industri I: 16-20.

Nurwardani, Paristiyanti. 2008.Teknik Pembibitan Tanaman dan Produksi. Beni Jilid 1. Direktorat
Pembinaan Kejuruan Pertanian.Bandung.

Rudi, 1996. Peningkatan Resistensi Tanaman Lada Melalui Hibridisasi. Laporan Teknis Penelitian,
Bagian Proyek Tanaman Rempah Dan Obat. II: 113-134. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan
Obat, B o g o r...

Wawan, 2002. Teknik Kastrasi Pada Persilangan Buatan Tanaman Lada Secara Konvensional. Buletin
Teknik Pertanian.7

Sujiprihati, S., M. Syukur, dan R. Yunianti. 2010. Teknik Persilangan Buatan.

http:// muhsyukur.staff.ipb.ac.id/files/2010/12/TEKNIK-ERSILANGAN- BUATAN.pdf[27 Februari


2011]

[Anonim]. 2011. http://www.scribd.com/doc/45675663/Acara-3x [27 Februari 2001]

[Anonim]. 2011. http://biologicalsciencesukarno.blogspot.com/2010_04_02_ archive.html


[27 Februari 2011]