Anda di halaman 1dari 13

Agama dan Media: Diskursus LGBT 105

AGAMA DAN MEDIA


DISKURSUS LGBT DALAM OPINI SKH REPUBLIKA

Suranto1, Dyna Herlina S2, Benni Setiawan3


Universitas Negeri Yogyakarta
Email : 1suranto@uny.ac.id, 2dynaherlina@uny.ac.id, 3benisetiawan@uny.ac.id

ABSTRAK
SKH Republika menurunkan banyak tulisan mengenai isu lesbian, gay, biseksual dan
transgender (LGBT) selama kurun waktu 24 Januari – 31 Maret 2016. Pertanyaan penelitian
yang diajukan : (1) bagaimana representasi ideologi dan (2) seksualitas dalam pemberitaan
SKH Republika? Metode Penelitian yang dipilih adalah analisis wacana Van Dijk dengan
pendekatan intensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum SKH Republika
menawarkan wacana anti LGBT melalui pemilihan narasumber dan pendapat mereka yang
dikutip. Representasi ideologi yang ditampilkan bahwa LGBT bersandar pada ideologi
liberalisme dan universalisme yang bertentangan dengan nilai, norma, dan hukum nasional
Indonesia. Sedangkan wacana seksualitas direpresentasikan melalui kuasa pengetahuan
bersumber dari psikolog islam dan institusi otoritatif yaitu agama, negara dan pendidikan.
Semua narasumber islam di tiga institusi tersebut menolak LGBT sedangkan narasumber
negara non-islam bersifat moderat dengan membatasi penampilan mereka di ruang
publik, selanjutnya peneliti sekuler menerima praktik LGBT sebagai salah satu jalan masuk
membentuk pengetahuan dan kesetaraan hukum.

Kata kunci : Republika, wacana, LGBT, kuasa, seksualitas, pengetahuan

ABSTRACT
The Republika Daily published abundant articles about lesbian, gay, bisexual and
transgender (LGBT) during the period January 24 to March 31, 2016. The research question:
(1) how do the representation of ideology and (2) sexuality in the news SKH Republika? The Van
Dijk’s discourse analysis with intentional approach was employed. In general The Republika
Daily offers anti-LGBT discourse through the selection of speakers and their opinions are
cited. According to The Republika Daily, ideology representation that is based on liberalism
and universalism is against values, norms, and Indonesian national law. While the discourse
of sexuality is represented by the power of knowledge comes from psychologists Islam and
authoritative institution that is religion, state and education. All sources of Islam in the three
institutions while the informant refused LGBT non-Islamic countries are moderate by limiting
their appearance in the public space, the next secular researchers accept LGBT practices as
one way in shaping the knowledge and legal equality.

Keywords: Republika, discourse, LGBT, power, sexuality, knowledge

A. PENDAHULUAN LGBT. Televisi pun seakan menemukan


Pro dan kontra lesbian, gay, biseks, dan momentum untuk menaikan rating dengan
transgender (LGBT), akhir Januari hingga menayangkan dan menyajikan berita terkait
pertengahan Maret menjadi perbincangan LGBT. Sebuah stasiun televisi bahwa secara
menarik. Media, baik televisi (elektronik) khusus mengangkat tema LGBT.Konon
dan Koran (cetak) memuat berita terkait rating tayangan itu cukup tinggi.
106 Komuniti, Vol. 9, No. 2, September 2017 p-ISSN: 2087-085X, e-ISSN: 2549-5623

Seakan tidak mau kalah dengan televisi, Berdasarkan fenomena di atas,


media cetak, dalam hal ini koran juga penelitian ini hendak mengajukan dua
menyajikan serangkaian berita terkait LGBT. pertanyaan penting. Pertama, bagaimana
Koran berskala nasional dan lokal pun representasi ideologi yang ditampilkan oleh
berebut space (ruang) dalam menyajikan SKH Republika dalam publikasi mengenai
sejumlah berita Salah satunya adalah Surat LGBT? Kedua, bagaimana representasi
Kabar Harian Republika. seksualitas yang ditampilkan oleh SKH
Menarik untuk disimak, meski Republika dalam publikasi mengenai LGBT?
membicarakan isu yang sama yaitu LGBT
namun tiap surat kabar memiliki sudut B. METODE
pandang yang berbeda. Satu berita yang
Studi ini menggunakan pendekatan
diturunkan oleh SKH Republika berjudul
analisis wacana krisis (critical discourse
“LGBT Ancaman Serius”, terbit pada Ahad,
analysis) dengan metode analisis wacana
24 Januari 2016 menegaskan diri sebagai
Van Dijk. Menurut Van Dijk (2001: 352)
media yang menolak LGBT di Indonesia.
analisis wacana kritis (CDA) adalah jenis
Sikap tegas ini berbeda dengan media
penelitian wacana analitik yang terutama
nasional besar seperti Kompas. Menurut
mengkaji tentang cara bagaimana
Ignatius Haryanto, pada acara Klinik Hukum
penyalahgunaan kekuasaan sosial,
Media di Universitas Atmajaya, Sabtu, 19
dominasi, dan ketidaksetaraan yang
Maret 2015, media yang didirikan oleh
berlaku, direproduksi, dan dilawan dengan
PK Oejong dan Jacob Oetama ini tidak
teks dan pembicaraan dalam konteks sosial
menyatakan sikap terhadap LGBT.
dan politik. Dengan penelitian ini, analisis
Pada hari-hari selanjutnya SKH Republika wacana kritis mengambil posisi eksplisit,
secara konsisten nampaknya menolak LGBT dan dengan demikian ingin memahami,
melalui artikel-artikel opini dan berita yang mengekspos, dan akhirnya melawan
dipublikasikannya. Pertarungan wacana ketimpangan sosial.
seakan membenarkan apa yang disebut
Tahapan analisis wacana yang dilakukan
oleh Fairclough. Fairclough (1989) dalam
dalam penelitian ini meliputi tiga tahap
perspektif teori discourse dan ideologi,
sebagai berikut (Eriyanto, 2001: 225-227).
bahwa discourse media kental berbalut
kepentingan dan ideologi. Hal tersebut 1. Teks: dibagi menjadi tiga bagian yang
paralel dengan pendapat Althusser (1984) saling mendukung. Pertama, struktur
yang mengatakan bahwa media adalah makro yaitu makna global dari suatu
bagian dari ideological state apparatus. teks yang dapat diamati dari topik/
tema yang diangkat dari suatu teks.
Sebagai sebuah “pengemban” ideologi
Kedua, superstruktur yaitu kerangka
tertentu, media memainkan peran ganti.
suatu teks seperti bagian pendahuluan,
Yaitu, sebagai penyebar berita berdasarkan
isi, penutup dan kesimpulan. Hal
prinsip-prinsip jurnalisme dan juga sebagai
yang diamati adalah skematik yaitu
media pengembang ideologi yang diyakini
bagaimana bagian dan urutan berita
oleh pemilik media.
diskemakan dalam teks berita utuh.
Kajian ini tentu menarik untuk diteliti. Elemen yang diperhatikan adalah
Pasalnya, media sebagai salah satu pilar skema. Ketiga, struktur mikro adalah
demokrasi kini terfragmentasi dalam makna wacana yang dapat diamati
kelompok-kelompok kepentingan. dari bagian kecil dari suatu teks dari
Masukkan pemilik media ke gelangan kata, kalimat, proposisi, anak kalimat,
politik menjadikan “ideologi” media seakan paraphrase dan gambar. Hal yang
terus menggempur alam bawah sadar diamati adalah sematik aspek yaitu
masyarakat untuk menyatakan pendapat makna yang ingin ditekankan dalam teks
dan bersikap terhadap sebuah pokok berita. Elemen yang diamati latar, detail,
masalah. maksud, praanggapan, nominalisasi.
Agama dan Media: Diskursus LGBT 107

2. Kognisi sosial: proses produksi teks Sedangkan perspektif yang digunakan


berita yang melibatkan kognisi individu dalam pembahasan LGBT sangat bervariasi
wartawan. sebagai berikut: agama, hukum, kesehatan,
3. Analisis sosial: menganalisa kondisi anak/remaja/perempuan, keluarga,
sosial yang mendasari kemunculan pemerintah, sosial budaya, teknologi
suatu teks dan dampak pemberitaan komunikasi, pendidikan/keilmua, moral
tersebut terhadap masyarakat. dan HAM. Sehingga dapat dikatakan
Struktur yang diamati adalah struktur SKH Republika mengulas topik LGBT dari
makro. Hal yang diamati adalah tema/ berbagai sudut pandang.
topik/tematik yang dikedepankan Berdasarkan hasil identifikasi tema, ada
dalam suatu berita. Elemen yang dua tema besar yang disampaikan yaitu
diamati adalah topik. Elemen tematik soal ideologi dan seksualitas.SKH Republika
menunjuuk pada gambara umum dengan sengaja melakukan serangkaian
dari suatu teks, ini dapat pula disebut pemilihan penulis dalam kolom opini dan
gagasan inti, ringkasan atau hal tama narasumber dalam kolom pemberitaan
dalam teks. yang secara konsisten menyampaikan suatu
gagasan serupa yang serupa mengenai
ideologi dan seksualitas. Para aktor itu
C. HASIL DAN PEMBAHASAN membahas ideologi dari berbagai sudut
Studi pendahuluan telah dilakukan pandang yaitu islam dan nasionalisme.
melalui pengumpulan berita dan opini yang Sedangkan pembahasan mengenai
termuat dalam SKH Republika yang terbit seksualitas dimasukan dalam diskursus
pada 24 Januari hingga 31 Maret 2016. kesehatan, hukum, islam, dan sejarah. Bab
Selama rentang waktu tersebut ditemukan ini akan dibagi menjadi dua bagian yaitu:
29 artikel terdiri dari 16 artikel opini dan representasi ideologi dan representasi
12 artikel reportase mengenai LGBT yang seksualitas.
dipublikasikan oleh SKH Republika. Jumlah
ini tentu cukup banyak dalam rentang waktu Representasi Ideologi
kurang lebih dua bulan.Pemuatan yang
1. Ideologi Liberalisme vs Konservatif
banyak ini pun menjadi sebuah penanda,
bahwa SKH Republikasangat memberi Dalam tulisannya mengenai LGBT,
perhatian pada isu LGBT. SKH Republika serigkali mengguakan
Berdasarkan jumlah publikasi tersebut istilah “liberal” untuk menunjukkan
ada 70 narasumber yang digunakan baik kecenderungan ideologis para pelaku
sebagai penulis artikel maupun narasumber LGBT. Kaum liberal, menurut para ahli yang
reportase. Dari sejumlah itu 16 narasumber menulis opini menghormati hak individu
berafiliasi dengan organisasi islam non oleh karena itu cenderung yang berbeda
pemerintah, 32 narasumber dari organisasi seperti homoseksualitas juga dihargai.
pemerintah, 1 pakar hukum, 3 peneliti, 6 Sebagaimana disampaikan berikut ini.
ahli medis, 1 tokoh agama selain islam, Bahrun Mubarok, Kandidat Doktor
6 aktivis organisasi kemasyarakatan, 1 Psikologi Islam UIN Syarif Hidayatullah,
orang pengamat sosial dan 1 artikel tanpa Dai Ambasador Dompet Dhuafa,
narasumber. Sedang Menulis Disertasi Tentang LGBT
Dari 70 narasumber yang dapat “Bagi kaum liberal, perilaku
diidentifikasi 5 menyatakan pro terhadap homoseksual adalah bukan mental
LGBT, 10 bernegosiasi dan sisanya yaitu 55 illness, melainkan bagian dari hak setiap
narasumber anti terhadap LGBT.Jumlah ini individu yang harus dihormati. Justru
menunjukan bahwa secara SKH Republika yang dianggap patologi oleh mereka
mengarusutamakan penolakan terhadap saat ini adalah pandangan bahwa
LGBT. manusia semestinya heteroseksual.”
108 Komuniti, Vol. 9, No. 2, September 2017 p-ISSN: 2087-085X, e-ISSN: 2549-5623

Hasian Sidabutar, Anggota Initiatives disampaikan oleh dua penulis kolom opini
of Change (IofC) Indonesia, Alumnus berikut.
Universitas Negeri Medan Bahrun Mubarok, Kandidat Doktor Psikologi
“Tidak dapat dimungkiri maraknya Islam UIN Syarif Hidayatullah, Dai Ambasador
fenomena LGBT sangat terkait dengan Dompet Dhuafa, Sedang Menulis Disertasi
tren negara-negara liberal yang Tentang LGBT
memberikan pengakuan dan tempat Sejujurnya, penulis banyak belajar
bagi penyandang LGBT di masyarakat. dan sering mengutip hasil-hasil riset
LGBT dianggap sebagai bagian life style yang mereka lakukan. Penulis hanya
masyarakat modern yang menganggap ingin mengungkapkan bahwa literatur
pandangan heteroseksualitas sebagai tentang LGBT masih lebih didominasi
konservatif dan tidak berlaku bagi hasil-hasil penelitian para peneliti yang
semua orang.” berideologi liberal, bahkan aktivis
Bagi kedua di atas, kelompok liberal gerakan LGBT. Ada kesan penolakan
justru menganggap perilaku heteroseksual terhadap LGBT tidak memiliki landasan
sebagai tindakan yang konservatif dan ilmiah.
patologis. Pada titik ini, para penulis H. Fahmi Salim, Lc, M.A, Lulusan S-2 Ilmu
mempertentangkan ideologi liberal dengan Tafsir, Universitas al-Azhar Kairo
konservatif; dan ideologi liberal dengan
Tujuannya liberalisasi kisah Luth adalah
patologi (penyakit). Ketiga kata kunci
satu, yaitu membiarkan dan melegalkan
tersebut menunjukkan definisi para penulis
perkawinan sejenis atau perkawinan
mengenai liberal yaitu bukan konservatif
homoseksual.Dibuatlah analisis, seolah-
dan bukan penyakit.
olah, umat Nabi Luth bukan diazab
Penulis yang lain juga menggunakan sebab mereka homoseks, tapi karena
istilah liberal untuk menjelaskan perilaku mereka mengingkari kerasulan dan
seksualitas sebagaimana berikut. tidak sopan pada para tamunya.Karena
Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist itu, perilaku homoseksual boleh-boleh
Merdeka Sirait saja.Sejatinya, tafsir demikian pada kisah
“Saat ini remaja di Indonesia sudah Luth bahkan sudah lama menjadi narasi
sangat liberal. Mereka sudah berani yang digaungkan di penyuluhan yang
berciuman saat pacaran. Bahkan saat mengampanyekan hak seksual kaum
saya tanya apakah ada yang tak pernah LGBT dengan topeng edukasi HIV/AIDS.
lihat film porno, mereka tidak ada yang Pembahasan penelitian LGBT dan tafsir
berani tunjuk tangan.” Al-Qur’an digunakan untuk mendudukan
Merujuk pada fenomena tersebut, pengetahuan ideologi liberal. Menurut
jelas Arist, kalau gerakan LGBT didukung Bahrun Mubarok, para peneliti tentang
dan dilegalkan, anak-anak muda akan LGBT mendasarkan penelitiannya dalam
semakin liberal lagi dalam hal pemahaman sudut pandang liberal, sedangkan H. Fahmi
seksualitas. Makanya jangan sampai LGBT Salim menempatkan liberal sebagai salah
ini didukung dan dilegalkan, katanya. satu metode tafsir umat Nabi Luth.
Narasumber dalam berita itu, Representasi ideologi digunakan SKH
menyamakan kecenderungan seksual LGBT Republika untuk menjelaskan LGBT adalah
dengan gaya pacaran yang mengarah ideologi liberal. “Liberal” diartikan bukan
pada hubungan seksual, keduanya adalah konservatif, bukan patologi, perilaku seksual
kecenderungan liberal. Kata “liberal” bebas dan sudut pandang pengetahuan.
mengacu pada perilaku yang bebas Ideologi liberalisme seringkali
secara seksual. Liberal disamakan dengan digunakan sebagai wacana untuk
kebebasan seks. memberi perhatian terhadap seks dan
Istilah “liberal” juga dikaitkan dengan orientasi seksual ini berada di belakang
arah ilmu pengetahuan sebagaimana keterusterangan dan sikap para LGBT
Agama dan Media: Diskursus LGBT 109

untuk menunjukkan dirinya (coming out) yang dipertentangkan dengan nilai


dan menurunkan minat untuk berubah universalisme. Menurut para penulis,
dan mencari bantuan untuk memperbaiki aktivis LGBT bertopeng dibalik Hak Asasi
abnormalitas ini. Melalui konsep liberalisme Manusia yang merupakan nilai universal
dan hak asasi manusia, masyarakat diminta dunia, namun dalam beberapa hal nilai-nilai
untuk menerima abnormalitas sebagai tersebut justru bertentangan dengan nilai
bagian dari seksualitas manusia dan nasionalisme Indonesia.
organisasi dan aktivis juga membantu Pendapat tersebut dapat dipahami dari
mempromosikan ideologi ini atas nama beberapa pernyataan berikut ini.
kebebasan (Owoyemi dan Sabri, 2013:110).
Maneger Nasution, Komisioner Komnas
Dalam hal ini wacana yang
HAM, Perspektif HAM dalam Pernikahan
dikembangkan SKH Republika
Sesama Jenis
mengidentikkan LGBT dengan liberal
sesuatu yang seringkali digunakan oleh Pasal-pasal dalam DUHAM itu ada yang
media lain sebagaimana dijelaskan oleh ketat, ada pula yang longgar. Contoh,
Owoyemi dan Sabri (2013). Pasal 16 DUHAM tentang hak untuk
menikah dan berkeluarga. Dalam pasal
Jika ditelaah lebih lanjut, liberalisme
itu , tidak ada indikasi dibolehkannya
sebenarnya tidak sesederhana kebebasan
pernikahan sejenis. Oleh karena
individu. Ideologi ini memiliki setidaknya
beberapa sifatnya yang longgar, negara
tiga lapisan yaitu: emansipasi, kesetaraan
pihak menolak, seperti Indonesia, tidak
dan agama.
secara otomatis seluruhnya mengikuti
Pada ranah emansipasi, kebebasan yang isi setiap setiap pasal dari DUHAM PBB,
dimaksud adalah kebebasan berpartisipasi walaupun Indonesia telah meratifikasi
politik dan hukum. Setiap individu setara DUHAM PBB. Semua isi pasal harus
di depan hukum dan politik. Pada soal disesuaikan dengan hukum nasional
kesetaraan, liberalisme mendorong setiap dan kondisi Indonesia.
orang memiliki hubungan yang setara di
Perangkat hukum yang paling mengikat
depan hukum. Terakhir, dalam hal agama
adalah hukum nasional. Untuk isu di
liberalisme memisahkan hubungan
antara rumah ibadah dan negara dengan wilayah abu-abu (belum ada kesepakatan
menempatkan agama sebagai urusan universal tentangnya) yang digunakan
pribadi sedangkan urusan negara di ruang adalah hukum nasional. Contoh, pasal
publik ( Alexander, 2014:6 ). 16 tentang hak untuk menikah dan
berkeluarga yang berhubungan dengan
Jika kita menggunakan definisi
isu pernikahan sesama jenis sampai saat
liberalisme di atas maka ada beberapa
ini masih termasuk wilayah abu-abu
pendapat para narasumber di SKH Repbulika
DUHAM PBB.
yang kurang tepat. Liberalisme memang
bisa diartikan sebagai kebebasan individu Jazuli Juwaini (PKS)
untuk menentukan hal-hal privat seperti “Dalam menjalankan hak dan
agama dan seksualitas namun kebebasan kebebasannya, setiap orang wajib
itu dibatasi oleh hak politik dan hak hukum tunduk kepada pembatasan yang
orang lain. Sehingga jika menempatkan ditetapkan dengan undang-undang
LGBT sebagai kelompok yang bebas tanpa dengan maksud semata-mata
syarat dengan menyingkirkan kelompok untuk menjamin pengakuan serta
lain seperti heteroseksual; bukanlah penghormatan atas hak dan kebebasan
pemadanan diskursus yang tepat. orang lain dan untuk memenuhi
2. Ideologi Nasionalisme tuntutan yang adil sesuai dengan
Selain liberalisme, ideologi lain yang pertimbangan moral, nilai-nilai agama,
digunakan sebagai retorika oleh penulis keamanan, dan ketertiban umum dalam
SKH Republika adalah nasionalisme suatu masyarakat demokratis.”
110 Komuniti, Vol. 9, No. 2, September 2017 p-ISSN: 2087-085X, e-ISSN: 2549-5623

Hepi Wahyuningsih. Ahli Psikologi Keluarga sejarah kelompok homoseksual di seluruh


Universitas Islam Indonesia (UII) dunia tidaklah sama. Ada banyak budaya
Di samping itu, dukungan dari pihak dan sejarah yang membuat penerimaan
luar dan beberapa perusahaan homoseksual yang tidak berlaku universal.
multinasional yang terusmengalir juga Secara intensional, redaksi SKH
turut memperkuat perjuangan mereka. Republika menyusun argumen, melalui para
Tentu sebagai orang tua yang masih narasumber, bahwa dalam kasus Indonesia,
memegang nilai-nilai luhur bangsa, kita ada hukum nasional, nilai nasionalisme,
tidak bisa tinggal diam membiarkan untuk menentang penerimaan universal
anak-anak kita dipengaruhi oleh gerakan terhadap praktik LGBT. Pemenuhan hak
LGBT. Lalu, apa yang harus kita lakukan? universal dibatasi oleh hukum nasional yang
mengikat setiap warga negaranya.
Intan Mahabah Nabila, Mahasiswa Fakultas
Argumen nasionalisme sepenuhnya
Hukum UI, Relawan pada Pusat Advokasi
dapat diterima karena memang warga
Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM)
negara Indonesia terikat dengan aturan
Indonesia Cabang DKI
hukum nasional sebagaimana disampaikan
Indonesia pun sebagai negara berdaulat oleh para penulis diatas. Namun, disisi lain
dan memiliki hukum sendiri sudah berdasarkan Human Right Watch World
jelas tertera di Pasal 1 UU No 1 Tahun Report 2013 ditemukan bahwa budaya/
1974 mengenai Perkawinan bahwa: lokalitas/nasionalisme seringkali justru
Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara menciptakan diskriminasi HAM terhadap
seorang pria dengan seorang wanita pelaku LGBT. Kemungkinan hukum nasional
sebagai suami istri dengan tujuan membatasi atau bahkan meniadakan HAM
membentuk keluarga (rumah tangga) pelaku LGBT absen dari pembahasan SKH
yang bahagia dan kekal berdasarkan Republika (https://www.hrw.org/world-
Ketuhanan Yang Maha Esa. report/2013).
Para penulis tersebut mengakui bahwa
Representasi Seksualitas
Indonesia merupakan bagian dari warga
dunia yang meratifikasi Hak Asasi Manusia Selain diskursus ideologi, wacana lain
melalui keikutsertaan dalam Persatuan yang muncul dalam publikasi SKH Republika
Bangsa-Bangsa. Hukum universal itu mengenai LGBT adalah seksualitas. Isu ini
mengakui hak setiap identitas seseorang tentu saja tidak dapat dihindarkan ketika
termasuk di dalamnya adalah identitas membicarakan orientasi seksual. Mengikuti
seksual. analisis Foucoult tentang seksualitas,
bagian ini akan mengupas topik-topik
Meskipun demikian, ada dua argumen
yang digunakan para narasumber untuk
yang membuat para penulis menolak
membahas seksualitas.
universalisme identitas seksual. Pertama,
pengaturan detail mengenai hal itu belum 1. Pengetahuan LGBT
diatur. Kedua, menurut para penulis hukum Perbincangan tentang LGBT membawa
yang lebih mengikat adalah hukum nasional pengetahuan baru mengenai orientasi
yang dengan jelas menyebutkan bahwa ada seksual non heteroseksual. Ada banyak
2 orientasi seksual yaitu perempuan dan pengetahuan mengenai hal ini yang telah
laki-laki mengikuti UU Perkawinan. ditelaah berdasarkan sudut pandang
Diskursus mengenai hal itu juga ilmu kesehatan jiwa dan fisik. Redaksi SKH
dijelaskan oleh Altman D(2001): masalah Republika secara intensional memilihkan
utama berkaitan dengan globalisasi definisi beberapa pengetahuan tersebut untuk
homoseksual adalah generalisasi. Identitas pembacanya seperti dibawah ini.
adalah konstruksi sosial, sebuah mitos, yang
Ihsan Gumilar, Peneliti Psikologi Saraf (
dibentuk berkaitan dengan sejarah, budaya
Neuropsycology), Struktur Otak LGBT
dan karakter yang dibagi. Budaya dan
Agama dan Media: Diskursus LGBT 111

Adanya konsep neuroplasticity ini maka mereka berpendapat bahwa perilaku


menyampaikan bahwa perbedaan LGBT dapat disembuhkan jika mendapatkan
struktur otak tidak serta merta stimulus lingkungan yang baik.
menyebabkan seseorang mempunyai Lebih jauh lagi, redaksi menyebutkan
orientasi seksual LGBT. Akan tetapi, bahwa perilaku LGBT merupakan penderita
kebiasaan, pengalaman, dan gaya hidup kesehatan jiwa yang perlu mendapatkan
yang dibangunlah yang bisa mengubah pertolongan medis sebagai hak penderita
struktur dan fungsi otak, sehingga gangguan jiwa. Pertolongan medis
menghasilkan orientasi dan perasaan yang diperlukan adalah konsultasi dan
intim terhadap sesama jenis. pendampingan dari psikolog. Selanjutnya
LGBT merupakan penyakit psikologi adalah bimbingan spiritual. Pendapat
yang sangat berpotensi mendatangkan tersebut dalam kutipan berikut.
penyakit-penyakit lainnya.
Dr Danardi Sosrosumihardjo SpKJ(K),
Prof Subandi, Asosiasi Psikologi Islam, Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter
Himpunan Psikologi Indonesia (API-Himpsi), Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP
LGBT Berhak mendapat Layanan Kesehatan PDSKJI), LGBT Berhak Layanan Kesehatan
Jiwa Jiwa
“Temuan ilmiah terkini menunjukkan “Orang dengan homo – seksual, yakni
bahwa perilaku LGBT dipengaruhi oleh gay, dan lesbian, serta biseksual
lingkungan dan orientasi seksual bersifat masuk dalam kategori Orang Dengan
cair yang memungkinkan perilaku ini Masalah Kejiwaan (ODMK). Sedangkan,
dapat di ubah.” transeksualisme dinyatakan masuk
dalam kategori Orang Dengan
Aliah BP Hasan, Bidang Kajian Ilmiah Asosiasi
Gangguan Jiwa (ODGJ). PDSKJI
Psikologi Islam
mendukung upaya pemenuhan hak
Perilaku homoseksual bukan hasil dan kewajiban bagi ODMK dan ODGJ
pengaruh genetika karena mereka yang melalui upaya kesehatan jiwa dengan
homoseksual tidak dapat meneruskan memberi pelayanan kesehatan jiwa
gennya kepada keturunannya. Faktor berdasarkan hak asasi manusia (HAM),”
nongenetiklah yang menyebabkan gen
organisme mengekspresikan dirinya Subandi, Asosiasi Psikolog Islam
secara berbeda. LGBT merupakan suatu penyakit
Secara ringkas, berbagai penelitian psikologis yang perlu ditangani.Dalam
menunjukkan bagaimana kecairan menangani kasus psikologis bagi para
identitas, perilaku, dan orientasi seksual. LGBT perlu adanya pendampingan,
Pertama, heteroseksual hingga kini bukan hanya pendampingan
merupakan identitas orientasi seksual psikologis semata namun perlu
terbanyak dan paling tidak banyak pendampingansecara spiritual dan
berubah sepanjang waktu (Kinnish, rohaniah. Dalam perspektif psikologi
Strassberg, & Turner, 2005). Islam sebuah transformasi kehidupan
menjadi lebih baik jika ada sebuah
Diskursus orientasi seksual tersebut penyesalan yang nantinya akan
dikaitkan dengan pembentukan identitas membawa seseorang untuk taubat dan
seksual yang lebih banyak dipengaruhi kembali ke jalan Allah SWT.
oleh lingkungan sosial bukan bawaan
genetik. Atas argumen itu, para penulis Michael Foucault (1977) menjelaskan
di atas menyatakan bahwa perubahan bahwa pembentukan pengetahuan adalah
orientasi seksual yang natural yaitu dari praktik kekuasaan. Pihak yang berkuasa
heteroseksual menjadi homoseksual dalam hal ini adalah psikolog islam dan
merupakan akibat interaksi lingkungan yang redaksi SKH Republika membentuk
salah. Berdasarkan argumen yang sama, pengetahuan baru mengenai LGBT yang
112 Komuniti, Vol. 9, No. 2, September 2017 p-ISSN: 2087-085X, e-ISSN: 2549-5623

seturut dengan ideologi mereka yaitu Kokoh Hadapi Pengaruh Negatif, Fuad
menolak praktik LGBT. Nashori, Dewan Pakar Asosiasi Psikologi
Islam
2. Pihak Otoritatif
“Homoseksual yang awalnya
Dalam pembahasan mengenai tabu menjadi semakin bisa
seksualitas, menurut Foucoult, selalu saja diterima ketika banyak orang yang
melibatkan pihak-pihak yang dianggap mempropagandakan dengan
berwenang membicarakannya. Dalam masif. Adanya gerakan dari
penelitian ini, dapat diidentifikasi setidaknya negara lain yang mendukung
3 pihak yaitu: institusi agama, negara, dan gerakan tuntutan kesetaraan para
pendidikan. Satu persatu akan dibahas LGBT membahayakan anak-anak.
berikut ini. Kekuatan yang paling ampuh
a. Institusi Agama melawan LGBT yakni iman kepada
Berdasarkan institusi agama yang Tuhan Yang Maha Esa. Karena jelas
memberikan argumennya di ruang di Alqur’an bahwa homoseksual
pemberitaan SKH Republika, hanya dilarang. Selain itu, lingkungan
ada satu orang yang mewakili institusi keluarga dan lingkungan sekitar
agama non Islam, sedangkan sisanya (pertemanan sosial) juga memiliki
didominasi oleh pemimpin agama pengaruh yang penting untuk
Islam. Hal ini tentu saja selaras dengan melindungi diri dari pengaruh
kecenderungan SKH Republika LGBT.”
yang didirikan oleh kelompok Islam. Semua pemimpin islam yang dikutip
Beberapa pernyataan narasumber diatas memberikan satu pandangan
yang mewakili institusi agama sebagai yang sama mengenai praktik LGBT.
berikut. Mereka semua menolak karena LGBT
Romo Paulus Christian Siswantoko, bertentangan dengan nilai-nilai Islam
Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yang telah diatur dalam kitab suci Al-
Majelis Agama Tolak LGBT Qur’an. Meskipun ada kelompok yang
“Aktivitas LGBT bertentangan memberikan tafsiran baru untuk kisah
dengan ajaran Katolik. Ia menolak Kaum Nabi Luth yang mempraktikan
keras apabila komunitas LGBT homoseksual namun tafsir baru itu
menuntut untuk dilegalkan”. dengan tegas ditolak.
Ustadz Erick Yusuf, Tokoh Agama, LGBT Soal lain yang muncul dalam
Ancaman Serius wacana LGBT dalam pandangan
pemimpin Islam adalah pendekatan
“Semestinya orang-orang yang
agama dapat menjadi solusi bagi
mempunyai orientasi seks yang
para pelaku LGBT untuk keluar dari
salah tersebut diberi penyuluhan.
lingkungan yang menyesatkan mereka.
Baik lewat agama maupun lewat
HAM dan demokrasi dianggap sebagai
kejiwaan dengan intensif,”
dalih kelompok LGBT untuk melupakan
Nazamudin Ramli, MUI, Majelis Agama aturan agama.
Tolak LGBT
Di semua artikel yang menempatkan
“Aktivitas LGBT sudah sangat para pemimpin agama sebagai
meresahkan masyarakat dan narasumber utama, SKH Republika
berdampak negatif terhadap tidak pernah melibatkan narasumber
tatanan sosial bangsa Indonesia,” umat sebagai pembanding. Sehingga,
“Waspadai pula gerakan atau harian ini dengan sengaja, intentional,
intervensi dari pihak mana pun yang menempatkan institusi agama sebagai
berdalih HAM dan demokrasi untuk lmbaga sosial yang paling otoritatif
mendukung perkembangan LGBT,” membicarakan seksualitas.
Agama dan Media: Diskursus LGBT 113

b. Institusi Negara Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur


Selain institusi agama, pihak yang DKI Jakarta, Polisi Minta Pro-LGBT tak
mendapat otoritas membicarakan LGBT Berkampanye
dalam publikasi SKH Republika adalah Kamu kalau mau gerakan, jangan
negara. Beberapa artikel menempatkan kampanye enggak-enggak. Kalau
anggota DPR, polisi, menteri dan masuk ranah publik, ada aturannya.
pemimpin daerah berikut ini.
Ada dua narasumber yang dikutip
Deding Ishak, Komisi VIII DPR, LGBT diatas yaitu Kapolri dan Pemimpin
Berhak Layanan Kesehatan Jiwa Daerah, keduanya merupakan
Dalam Pancasila dan UUD 1945 representasi negara. Hal yang
jelas bahwa pelaksanaan HAM menarik, argumen mereka berkaitan
tidak boleh bertentangan dengan dengan kehadiran LGBT di ruang
norma, adar, dan nilai-nilai agama. publik. Keduanya tidak menampik
Jika masalah LGBT ini telah kenyataan bahwa kelompok LGBT
bersinggungan dengan norma ada dan berkembang di Indonesia.
agama, harus dibahas mendalam. Namun kehadiran kelompok tersebut
sebaiknya dibatasi di ruang publik untuk
Lukman Hakim Saifuddin, Menteri menghindari keresahan di masyarakat.
Agama, Polisi Minta Pro-LGBT tak
Dapat dikatakan, kedua narasumber
Berkampanye
bersikap moderat dengan kelompok
LGBT juga menjadi ancaman LGBT, mengakui keberadaannya tetapi
potensial bagi sistem hukum membatasi penampilannya di ruan
perkawinan di Indonesia yang tidak gpublik. Sikap ini cukup berbeda
membenarkan perkawinan sesama dengan para pemimpin agama dan
jenis. Meski demikian, bukan berarti politik yang dibahas sebelumnya.
kita membenarkan dan membiarkan Kapolri dan Pemimpin Daerah memiliki
gerakan LGBT menggeser nilai-nilai kecenderungan untuk mempertahankan
agama dan kepribadian bangsa. keamanan dan stabilitas ruang publik.
Kedua narasumber di atas Dalam artikel yang dimuat SKH
memberikan perhatian terhadap nilai Republika, penempatan narasumber
moral bangsa. Keduanya mewakili negara tidak pernah dilengkapi dengan
negara karena jabatan publik yang sudut pandang lain yaitu rakyat.
diembannya. Keduanya menekankan Sehingga dapat disimpulkansurat
bahwa penerapan HAM tidak boleh kabar ini secara intensional
bertentangan dengan nilai-nilai menganggap bahwa negara lebih
agama, norma dan adat yang berlaku berhak membicarakan seksualitas
di Indonesia. Sebagaimana dijelaskan dibandingkan rakyat terlebih pelaku
pada bagian atas tulisan ini, nilai LGBT.
nasionalisme dianggap lebih penting
c. Institusi Pendidikan
daripada universalisme.
Selain institusi agama dan negara,
Irjen Tito Karnavian, Kapolri, Polisi Minta lembaga pendidikan dalam hal
Pro-LGBT tak Berkampanye ini sekolah, kampus dan keluarga
Kami mengimbau para LGBT dianggap menjadi pihak yang
tidak memprovokasi orang lain berwenang membicarakan seksualitas.
ikut kalangan mereka yang justru Para narasumber yang terdiri dari
membuat orang tua resah. menteri (Menteri Pendidikan, Menteri
Karena itu, perlindungan pada Pemuda dan Olahraga), pemimpin
mereka (LGBT) kita berikan. Mereka organisasi kemasyarakatan, dan peneliti
tidak boleh jadi korban kekerasan. di universitas.
114 Komuniti, Vol. 9, No. 2, September 2017 p-ISSN: 2087-085X, e-ISSN: 2549-5623

Terdapat dua sudut pandang Sudut pandang kedua mengenai


yang berbeda diantara mereka. otoritas lembaga pendidikan terhadap
Kelompok pertama: Menteri dan isu LGBT diwakili oleh organisasi
Cendikiawan Islam berpendapat bahwa hukum dan universitas. Ada dua poin
pendidikan seksualitas ditujukan utama yang disampaikan. Pertama,
untuk menghindarkan diri anak dan kedua institusi ini memandang bahwa
remaja dari perilaku LGBT. Perilaku ini fenomena LGBT adalah perubahan
dianggap merupakan akibat pergaulan jaman yang natural dan tidak dapat
sosial bukan genetik. Sebagaimana dihindarkan karena perubahan orientasi
dijelaskan berikut ini. seksual ini. Jika isu ini tidak diteliti justru
kontra produktif, berikut kutipannya.
Andi Yulia Fariz, ICMI, ICMI : Jangan
Kucilkan LGBT Yasmin, YLBHI, Bentengi Anak dan
Pemuda
Insya Allah pada kepengurusan ini
ICMI akan mempunyai program Homoseksualitas adalah sebuah
konseling dan pendidikan bagi fenomena yang natural, senatural
calon pengantin. Sebab, keluarga orang kidal dan tidak kidal. Untuk
itu ketahanan utama suatu bangsa. masyarakat dengan pendidikan
yang lebih maju, kata dia, perbedaan
Anies Baswedan, Menteri Pendidikan orientasi seksual bukan lagi sesuatu
dan Kebudayaan, Polisi Minta Pro-LGBT yang membingungkan.
tak Berkampanye
LGBT tak Boleh Masuk Kampus, Sari
Selama ini tidak ada temuan
Damar Ratri, Peneliti Pusat Kajian Gender
propaganda atau kampanye LGBT
dan Seksualitas FISIP UI
di lingkungan sekolah. Menurut
dia, kampanye melalui buku yang Dengan melarang isu seksualitas
isinya kurang patut atau mesum untuk dikaji dan diteliti, Menristek
juga belum ditemukan. Biasanya telah menutup peluang adanya
kalau yang ada seperti itu langsung pengembangan ilmu pengetahuan
ditarik. dan pemanfaatan hasil kajian
bagi kehidupan sosial masyarakat
Imam Nahrawi, Menpora, Bentengi Anak
Indonesia yang plural dan
dan Pemuda
multikultural.
Dari keluarga saya kira.
Irwan Hidayana, Peneliti Pusat Kajian
Membentenginya adalah
Gender dan Seksualitas FISIP UI,
bagaimana peran orang tua itu harus
Program Lain Juga Didanai Asing
aktif, ujar Imam di Jakarta, Jum’at
(5/2) malam. Menurut Imam, orang Pendidikan seksual penting bagi
tua perlu berperan untuk membina anak-anak agar mereka tahu –selain
anak dalam menyeleksi pergaulan, hanya perbedaan fisik laki-laki dan
baik di lingkungan masyarakat perempuan- juga peranan mereka
maupun pendidikan. berdasarkan gender sesuai norma
sosial masyarakat. Dana asing
Ada dua poin yang menarik. yang masuk di Indonesia bukan
Pertama, institusi pendidikan hanya terkait LGBT, namun banyak
merupakan ranah publik oleh karena itu program pemerintah yang juga
ruang itu harus steril dari pembicaraan didanai dari asing, tujuannya untuk
mengenai LGBT. Kedua, keluarga adalah kesejahteraan dan peningkatan
institusi pendidikan dalam pengertian pengetahuan.
ini adalah pengasuhan yang penting.
Keluarga dapat dijadikan benteng Dari seluruh narasumber yang
untuk menghindarkan anak-anak dan digunakan SKH Republika tentang
remaja dari perilaku LGBT. isu LGBT hanya kelompok peneliti
Agama dan Media: Diskursus LGBT 115

dari YLBHI dan Peneliti Pusat Kajian Mayoritas aktor dalam publikasi SKH
Gender dan Seksualitas FISIP UI Republika adalah subyek heteroseksual
yang menyatakan diri pro terhadap yang memiliki afiliasi dengan kelompok
kelompok LGBT. Sikap pro ini dalam Islam konservatif dan moderat. Mereka
pengertian bahwa institusi pendidikan memiliki intensi yang serupa dengan
perlu mempelajari fenomena baru ini redaksi SKH Republika yaitu menganggap
lalu membangun pengetahuan yang LGBT adalah penyimpangan agama, hukum,
ilmiah untuk memahaminya. psikologis.
Oleh redaksi para peneliti Konsep Marxist mengenai ideologi
ditempatkan sebagai perwakilan dari menyebutkan bahwa kelompok yag
kelompok LGBT. Metode ini sebenarnya memiliki alat produksi akan melakukan
mengandung bias, karena para peneliti kontrol terhadap produksi dan sirkulasi
itu bukanlah pelaku LGBT. Mereka adalah pemaknaan ide-ide di dalam masyarakat.
para peneliti yang keberadaannya Melalui kepemilikan media, para pemilik
mewakili, memperantarai kelompok media sebagai kelas dominan akan
LGBT eksis artinya merupakan menawarkan ideologinya yang membuat
kenyataan. Kelompok peneliti ini tidak dominasi dan penindasan sosial terlihat
dapat sepenuhnya mewakili kelompok natural dan menyembunyikan kondisi
LGBT karena memiliki kepentingan yang sebenarnya. Hal ini disebut dominasi
politik pengetahuan yang tidak dimiliki/ ideologi (Hall, 1997: 348).
disadari oleh pelaku LGBT. Mereka punya SKH Republika melakukan dominasi
sudut pandang yang bisa jadi berbeda ideologi dalam pemberitaannya. Mereka
dengan pelaku LGBT. Disamping itu, dengan sengaja memilih aktor yang
mereka juga memiliki kepentingan berafiliasi dengan organisasi yang serupa
ekonomi politik yang berbeda dengan dengan ideologi mereka untuk menguasai
kelompok yang diteliti, LGBT. ruang publik yaitu kolom publikasi di
Di Indonesia ketiga institusi diatas : SKH Republika. Sementara itu, kelompok
agama, negara dan pendidikan, adalah marjinal yang mereka serang dalam hal ini
institusi yang sangat berkuasa menentukan adalah kelompok LGBT tidak mendapatkan
pendisiplinan tubuh dalam hal ini adalah ruang baik dalam bentuk narasumber berita
seksualitas. Kecenderungan ini persis maupun penulis opini.
sebagaimana dijelaskan oleh Michael Ada dua representasi ideologi yang
Foucault (1977) mengenai kuasa dan dimuat SKH Republika berkaitan dengan
seksualitas. Institusi tersebut mengatur isu LGBT. Pertama, praktik LGBT dianggap
bagaimana seksualitas ditampilkan bersumber dari ideologi liberalisme.
yaitu urusan privat yang harus diatur Ideologi ini harus ditolak di Indonesia karena
penampilannya di ranah publik. Seks adalah bertentangan dengan nilai-nilai tradisi dan
kenikmatan individu yang diatur oleh agama. Kedua, praktik LGBT menyandarkan
institusi publik. dirinya pada ideologi universalisme yang
tidak dapat sepenuhnya diterima dalam
konteks Indonesia karena ada banyak norma
D. SIMPULAN dan peraturan nasional yang bertentangan
SKH Republika mengunakan dengan nilai universal tersebut.
pendekatan representasi intentional. Selanjutnya, representasi seksualitas
Redaksi telah memiliki intensi dalam yang sengaja (intentional) ditempatkan SKH
pemberitaan LGBT yaitu menolak Republika. Ada dua representasi seksualitas
kecenderungan seksual non heteroseksual. yaitu pengetahuan dan institusi otoritatif.
Intensi ini ditunjukan oleh pemilihan
Pertama, pengetahuan mengenai LGBT
narasumber yang diwawancarai dalam
dipilih oleh redaksi mengikuti pengetahuan
berita dan penulis kolom opini.
bahwa LGBT terjadi karena pergaulan
116 Komuniti, Vol. 9, No. 2, September 2017 p-ISSN: 2087-085X, e-ISSN: 2549-5623

sosial bukan genetika. Kedua paham itu Birokrat pendidikan (Menteri Pendidikan
sebenarnya diperbincangkan di wilayah dan Menteri Pemuda dan Olah Raga,
akademis dengan sangat mendalam keduanya berasal dari kelompok islam) dan
tetapi pembaca dipilihkan salah satu sudut peneliti dari kelompok islam juga memiliki
pandang pengetahuan. sikap yang sama menolak LGBT.
Kedua, lembaga otoritatif yang boleh Institusi Pendidikan yang dianggap
memperbincangkan LGBT adalah institusi mendorong pengetahuan tentang LGBT
agama, negara, dan pendidikan. Ketiga adalah peneliti dari kampus sekuler dan
institusi ini merupakan institusi publik yang advokat hukum Kebijakan redaksi dengan
dianggap boleh memberikan penilaian jelas menunjukan bahwa institusi islam
terhadap praktik LGBT. baik dari pemimpin, birokrat dan peneliti
Institusi agama islam dipilihkan dengan tegas menolak praktik LGBT.
kelompok yang sepenuhnya menentang. Redaksi tidak memberikan celah penafsiran
Sikap ini sejalan dengan para aktor negara baru terhadap praktik LGBT dengan tidak
yang berafiliasi dengan Islam yaitu Menteri menempatkan pelaku LGBT dalam diskusi
Agama dan anggota DPR dari Partai Islam. mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Alexander, J. (2015). The major ideologies of liberalism, socialism and conservatism. Political
Studies, 63(5), 980-994.
Altman, D. 2001. “The Globalization of Sexual Identities.” Global Sex. Chicago and London
: University of Chicago Press.
David T. Hill. 2010. Journalism and Politics in Indonesia: A Critical Biography of Mochtar
Lubis (1922-2004) as Editor and Author. London: Routledge.
Dijk. Teun Van. 2001. Critical Discourse Analysis, dalam Deborah Schiffrin, Deborah Tannen,
dan Heidi E. Hamilton (ed). The Handbook of Discourse Analysis.BlackwelPublisher
Edkin, J. & William, N.V., (ed.). 2009. Critical Theories and International Relation, Oxon:
Routledge, diterjemahkan Teguh Wahyu Utomo. 2013, Teori-teoriKritis: Menantang
Pandangan Utama Studi Politik Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Esack, Farid. 1997. Qur’an, Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligius
Solidarity Against Oppression. Oxford: Oneworld.
Fahmi, Muhammad, Irwan Abdullah, Ratna Noviani, Wening Udasmoro. 2015. “Diskursus
Islam Dalam Konstruksi Media (Analisis Wacana Kritis Berita Kasus Charlie Hebdo Di
Media Surakarta)” LiNGUA Vol. 10, No. 2, Desember. Hal. 55-64.
Fairlough, N. 1989. Language and Power. London: Longman.
Foucault, Michael. 1997. Seks dan Kuasa: Sejarah Seksualitas. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama.
Gramsci, Antonio. 1971. Selections from the Prison Notebooks. International Publishers.
Mills, Sara. 2003. Michel Foucault. London: Routledge.
Sipayung, Bambang A. 2009. “Teori Kritis Versus Hermeneutika: Debat Habermas dan
Gadamer,” Majalah Filsafat Driyarkara, Tahun XXIII No 1.
Supena, Ilyas. 2012. “Mujahid Versus Teroris”.Walisongo, Volume 20, Nomor 1, Mei 2012.
hal.165-192.
Agama dan Media: Diskursus LGBT 117

Owoyemi, M. Y., & Sabri, A.Z.S.A. (2013). LGBT:nature or ideology: The view of a former
LGBT Practitioner in Malaysia. Research Journal of Biological Sciences, 8(4), 104-111.
Republika, Ahad, 24 Januari 2016.
Republika, Sabtu, 13 Februari 2016.
Republika, Kamis, 3 Maret 2016.
http://www.mahakamedia.com/about_us
https://www.hrw.org/world-report/2013