Anda di halaman 1dari 41

“ANALISA HOLE PROBLEM (STUCK PIPE) BERDASARKAN

PARAMETER MUD LOGGING UNIT

PADA SUMUR X LAPANGAN Y”

PT. MUSTIKA PETROTECH INDONESIA

PROPOSAL TUGAS AKHIR

Disusun oleh :

ARIF EDI WICHAKSONO

14010350

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN

AKADEMI MINYAK DAN GAS BALONGAN

INDRAMAYU

2017
“ANALISA HOLE PROBLEM (STUCK PIPE) BERDASARKAN

PARAMETER MUD LOGGING UNIT

PADA SUMUR X LAPANGAN Y”

PT. MUSTIKA PETROTECH INDONESIA

PROPOSAL TUGAS AKHIR

Disusun oleh :

ARIF EDI WICHAKSONO

14010350

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Penulisan Laporan Tugas Akhir Untuk

Meraih Gelar Diploma III Pada Program Studi Teknik Perminyakan

Akademi Minyak Dan Gas Balongan Indramayu

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN

AKADEMI MINYAK DAN GAS BALONGAN

INDRAMAYU

2017

i
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
BIODATA

Nama : Arif Edi Wichaksono


Tempat, Tanggal Lahir : Bogor, 03 juli 1997
Alamat : Perum Bumi Mekar Perdana Blok
D1/10 Nanggewer mekar
Cibinong Bogor
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Kebangsaan : Indonesia
Nomor Handphone : +6287886745268
E-mail : arifwichaksono404@yahoo.com

PENDIDIKAN

 2015 – sekarang
Akademi Minyak dan Gas Balongan Indramayu
Program Studi Teknik Perminyakan
Mempelajari mengenai Minyak dan Gas seperti Exploration and
Exploitation Activity, Resevoir Technique, Drilling Operation,
Production Operation, Refinery Technique, Natural Gas Exploration
Technique, Field Management dan Health Safety Environment (HSE).
 2012 – 2015
SMK MIGAS Cibinong , Bogor
Jurusan Teknik Pemboran

ORGANISASI
 2013 – 2014
Ketua Divisi Olahraga di SMK MIGAS Cibinong

HOBI
 Olahraga, seperti Futsal dan Bulutangkis.
 Travelling

iv
KOMPETENSI

 Mampu mengoperasikan Microsoft Office seperti Word, Excel and


Power Point
 Mempunyai motivasi dan loyalitas tinggi.
 Dalam keadaan sehat jiwa dan raga.
 Dapat bekerja bersama tim maupun independen.
TRAINING , SEMINAR DAN FIELD TRIP
 2017
 Field trip PPSDM Cepu
 Seminar Dan Training “ BASIC TRAINING FIRE RESCUE”
 2016
 Seminar International “ SAFETY PROCESS ”
 Guest Lecture “ PETROLEUM ENGINEERING CAREER,
OPPORTUNITIES AND CHALLENGES ”
 Inspriring Talk “ SELF PREPARATION TO GET INVOLVED
IN OIL AND GAS INDUSTRY “
 Inspiring Talk “ GETTING CAREER IN OIL AND GAS
INDUSTRY “
 Seminar Energi Terbarukan “ Kementrian ESDM”
 2014
 Pt Antam (aneka tambang) for examination geology
 Musium widyaparta – TMII
 Field Trip Pusdiklat Migas Cepu

v
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang mengatur segala alam dan mencurahkan
segala rahmat-Nya untuk semua makhluk-Nya. Atas hidayah dan inayah-Nya pula
penulis dapat menyusun proposal Tugas Akhir ini dengan judul “Analisa Hole
Problem (Stuck Pipe) Berdasarkan Parameter Mud Logging Unit Pada
Sumur X Lapangan Y”.
Perwujudan proposal ini adalah berkat bantuan dari berbagai

pihaksehingga proposal ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, pada kesempatan

kali ini perkenankanlah penulis untuk mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Ir.Hj.Hanifah Handayani, M.T, selaku ketua yayasan Bina islami Bapak

Drs. H. Nahdudin Islamy M.Si, selaku Direktur Akamigas Balongan,

Indramayu

2. Bapak Ismanu Yudiantoro,M.T selaku Kepala Program Studi Teknik

Perminyakan.

3. Bapak Arief Rahman M.Si selaku Dosen Pembimbing I dalam Tugas Akhir.

4. Orang Tua penulis yang selalu penulis cintai dan tak pernah lelah membimbing

penulis.

Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi penulisan

selanjutnya yang lebih baik.

Indramayu, Desember 2017

Penyusun

vi
DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL .................................................................................................................... i

ABSTRAK ............................................................................................................. ii

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. iii

CURRICULUM VITAE ...................................................................................... iv

KATA PENGANTAR .......................................................................................... vi

DAFTAR ISI ........................................................................................................ vii

DAFTAR GAMBAR ..............................................................................................x

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1

1.1 Latar Belakang ......................................................................................1

1.2 Tema Tugas Akhir .................................................................................2

1.3 Tujuan....................................................................................................2

1.3.1 Tujuan Umum............................................................................2

1.3.2 Tujuan Khusus ...........................................................................3

1.4 Manfaat..................................................................................................3

1.4.1 Manfaat Bagi Perusahaan ......................................................... 3

1.4.2 Manfaat Bagi Program D3 Jurusan Teknik Perminyakan

Akamigas Balongan ................................................................. 4

1.4.3 Manfaat Bagi Mahasiswa ......................................................... 4

BAB II DASAR TEORI .........................................................................................5

2.1 Mud Logging Unit ................................................................................5

2.2 Sensor ....................................................................................................7

vii
2.2.1 Digital sensor ............................................................................7

2.2.2 Analog sensor ............................................................................8

2.3 Monitor ................................................................................................13

2.4 MonitorMud logging Unit untuk mengetahui hole problem ...............13

2.4.1 Pipa terjepit(pipe stuck)...........................................................14

BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN .....................................................28

3.1 Pengambilan Data ...............................................................................28

3.2 Peralatan ..............................................................................................28

3.3 Pengolahan Data dan Bahan................................................................30

3.3.1 Perhitungan Pipe stuck ............................................................30

3.4 Analisis hasil .......................................................................................33

3.5 Flowchart ............................................................................................34

BAB IV RENCANA KEGIATAN ......................................................................35

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

viii
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Kabin mud logging ............................................................................. 6

Gambar 2.2 Differential pipe sticking………………………………………........15

Gambar 2.3 Mechanical pipe sticking…………………………………………....17

Gambar 2.4 Key Seating……………………………………………………….…21

ix
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kegiatan pemboran minyak,gas dan panas bumi merupakan

pekerjaan yang membutuhkan perencanaan dan persiapan yang teliti.

Perencanaan dan persiapan perlu dilakukan secara sistematis untuk

meminimalkan masalah yang mungkin timbul saat proses pemboran

Beberapa aspek yang perlu dijadikan pertimbangan dalam

perencanaan program pemboran adalah safety (keamanan), biaya yang

minimum, dan usable hole. Keamanan merupakan aspek terpenting diantara

yang lain. Keamanan bagi personil yang bekerja dalam proyek pemboran

merupakan prioritas utama dalam suatu perencanaan program pemboran.

Karena itu, hal yang membahayakan personal saat proses pemboran

berlangsung, seperti blow-out ataupun masalah lainnya yang menyebabkan

kerusakan dan cedera harus diminimalkan. Kemudian, biaya yang minimum

bukan berarti dilakukan perencanaan seadanya. Tetapi, perlu dilakukan

alokasi pendanaan yang tepat, sehingga rencana dibuat dengan teliti dan

program terlaksana dengan aman. Hasil akhir dari suatu proses pemboran

adalah sumur yang sesuai dengan konfigurasi perencanaan dan dapat

diproduksikan (usable hole).

1
2

Salah satu komponen yang penting untuk diperhatikan dalam operasi

pemboran yaitu Mud Logging Unit. Dimana Mud Logging Unit berfungsi

didalam mencatat data pemboran dan memonitor proses pemboran agar bisa

menjamin operasi pemboran berjalan dengan aman serta dapat mengetahui

kemungkinan kemungkina hole problema yang terjadi selama pemboran dan

mencari solusi mengatasinya.

1.2 Tema Tugas Akhir

Tema yang diambil dalam Tugas Akhir ini adalah “Mud Logging

Unit”. Serta judul yang diambil dalam Tugas Akhir ini adalah “Analisa Hole

Problem (Stuck Pipe) Berdasarkan Parameter Mud Logging Unit PT.

MUSTIKA PETROTECH INDONESIA

1.3. Tujuan Tugas Akhir

1.3.1. Tujuan Umum

1. Mengetahui informasi mengenai gambaran pelaksanaan pekerjaan

perusahaan atau di institusi tempat tugas akhir berlangsung.

2. Menerapkan ilmu pengetahuan yang di dapat dari bangku

perkuliahan.

3. Untuk meningkatkan daya kreatifitas, dan keahlian.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui standar operasional dan instrument mud logging unit.

2. Memahami parameter yang didapati pada mud logging unit.


3

3. Memahami prosedure dan perhitungan dalam penyelesaian pipe

stuck.

4. Mengetahui perbandingan drilling parameter sebelum terjadi stuck

dengan sesudah stuck.

5. Mengetahui cara penanggulangan hole problem (pipe stuck).

1.4. Manfaat

Adapun manfaat yang di peroleh dalam pelaksanaan tugas akhir

ini adalah sebagai berikut :

1.4.1 Bagi Perusahaan

1. Perusahaan dapat memanfaatkan tenaga mahasiswa yang

melaksanakan ugas akhir dalam membantu menyelesaikan

tugas-tugas untuk kebutuhan di unit-unit kerja yang relevan.

2. Dapat diperoleh informasi mengenai tugas akhir dan dapat

dipergunakan untuk pengambilan langkah selanjutnya.

3. Perusahaan mendapatkan alternatif calon karyawan pada

spesialis yang ada pada perusahaan.

4. Menciptakan kerjasama yang saling menguntungkan dan

bermanfaat antara perusahaan tugas akhir dengan jurusan teknik

peminyakan AKAMIGAS BALONGAN.


4

1.4.2 Bagi Program D3 Jurusan Teknik Perminyakan Akamigas Balongan

1. Sebagai sarana pemantapan keilmuan bagi mahasiswa dengan

mempraktekkan di dunia kerja.

2. Sebagai sarana untuk membina network dan kerjasama dengan

perusahaan di bidang perminyakan.

1.4.3 Bagi Mahasiswa

1. Dapat mengenal secara dekat dan nyata kondisi lingkungan kerja

yang sebenarnya.

2. Dapat mengaplikasikan keilmuan mengenai teknik perminyakan

yang diperoleh dibangku kuliah dalam praktek dan kondisi kerja

yang sebenarnya.

3. Dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap perusahaan

tempat mahasiswa melaksanakan tugas akhir.

1.5 Rencana Kegiatan

1.5.1. Aktifitas

Hal-hal yang dilakukan selama proses tugas akhir ialah hal-hal

yang berkaitan dengan monitoring parameter mud logging unit.


5

BAB II

DASAR TEORI

2.1 Mud Logging Unit

Mud logging unit merupakan suatu instrument yang digunakan didaerah

pemboran, yang berfungsi didalam mencatat data pemboran dan ,monitoring

proses pemboran. Mud logging instrumen merupakan produksi baru dengan

teknologi tinggi yang mengandung macam teknik seperti pengeboran minyak,

geologi , teknologi penginderaan, teknik microelectric, teknologi komputer,

mesin precisition, analisis kromatografi, teknologi kontainer manufaktur,

distribusi yang kuat. (Pixier, 1961)

Lumpur logging instrumen dapat memonitor secara terus-menerus,

menunjukkan minyak dan gas bumi selama periode pengeboran dan

memberikan penjelasan dan evaluasi untuk menunjukkan, dengan cara

mengumpulkan dan menganalisa sampel batuan, itu menetapkan lapisan

batuan secara real-time.

Mud logging unit adalah unit dalam pemboran yang berfungsi didalam

mencatat data pemboran dan monitoring proses pemboran yang diketahui

melalui cutting dan sensor-sensor yang terpasang pada peralatan pemboran.

Pada pemboran sumur, Mud Logging Unit merupakan mitra aktif wellsite

geologist dalam pengumpulan data secara maksimal. Beberapa tujuan umum

dari Mud Logging Unit adalah sebagai berikut :


6

a Pengoptimalan efisiensi pemboran

b Evaluasi formasi lengkap

c Peningkatan keamanan well site

Gambar 2.1 Kabin Mud Logging Unit ( Rubiandini, 2012 )

Mud logging Unit bertanggung jawab dalam mengambil cutting dan

menganalisanya, mengamati dan mengukur kadar gas yang terkandung dalam

lumpur, mencatat semua parameter pemboran, sebagai peringatan awal

terhadap hole problem, membuat data teknis dan evaluasi selama pemboran.

Mud logging unit dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori utama,

tergantung pada metode, yaitu :

 Off-line mud logging unit.

 On-line mud logging unit.

Perbedaan diantara keduanya yaitu off-line mud logging unit mencakup


sejumlah panel yang terpisah. Setiap panel bekerja secara independen dan
bertanggung jawab untuk mengukur parameter yang pasti. Tidak ada
komunikasi antara panel ini. Tidak ada perhitungan otomatis yang bisa
dilakukan dan tidak ada penyimpanan data. Semua kalibrasi panel yang
7

dilakukan secara manual. Pada on-line mud logging unit Operasi, kalibrasi dan
pengolahan data dimulai pada titik penginderaan dan berjalan sampai hasil
akhir yang dihasilkan, sehingga lebih banyak waktu untuk interpretasi dan
monitoring, menghasilkan data yang lebih akurat, pengolahan data yang lebih
cepat, dan meningkatkan keamanan well site.

Pada mud logging unit terdapat sensor dan monitor.

2.2 Sensor

Di dalam mud logging unit terdapat beberapa klasifikasi sensor, bisa

berdasarkan pengukuran, output rate dan prinsip operasinya. Klasifikasi dapat

ditentukan berdasarkan alasan yang pasti dan tujuan yang diinginkan.

Berdasarkan prinsip kerjanya sensor dapat dibagi menjadi :

2.2.1 Digital Sensor

 Rotation Per Minute (RPM) Sensor

Sensor dan target dipasang di motor pengerak rantai pemutar Kelly

terletak didepan drilling console. Dekat dengan drawworks. Sistem

Kecepatan Rotary menggunakan sensor untuk menghitung setiap

Rotary Table, dan sistem akuisi data menghitung kecepatan putar

(RPM) dan putaran bit total. Audio dan Visual Alarm kemampuan

pada sensor dan nilai yang dihitung.

 Stroke Per Minute (SPM) Sensor

SPM berfungsi Untuk mengetahui jumlah stroke per menit dari

pompa lumpur, sensor pompa dipasang diatas liner pompa rig atau

pada putaran yang menggerakan pompa. Sensor yang dioperasikan

oleh tuas penggerak memindahkan poros ke belakang dan ke


8

depan, menyebabkan kontak pada saklar batas untuk membuka dan

menutup. Dengan cara mendorong untuk membuat setiap gerakan

yang ada pada poros pompa lumpur. mendorong dari sakelar batas

dikirim melalui kotak penghalang. Parameter yang diambil dari

sensor ini adalah Jumlah stroke pompa,Pompa tingkat stroke (SPM

/ Strokes Per Menit)

 Depth dan ROP Sensor

Sensor ini dipasang di drawwork yaitu diletakan diporos dari

drawwork itu sendiri. Sensor ini digunakan untuk pelacakan bit

penuh yaitu untuk melacak keduanya saat pengeboran, koneksi dan

perjalanan. Adapun parameter yang dihasilkan yaitu: depth, Bit

Depth, ROP dan Hook position.

2.2.2 Analog Sensor

 Pit Volume Sensor

Alat ini adalah sensor yang terpasang secara vertikal, di mana

pelampung apung yang mengandung magnet permanen

mengaktifkan serangkaian saklar buluh yang terdapat di dalam

rakitan batang baja stainless. Tingkat lumpur sebanding dengan

sinyal listrik yang dihasilkan oleh status sakelar buluh magnetik.

Memiliki kemampuan untuk merasakan perubahan satu bbl dalam

volume lumpur. Pit sensor yaitu Untuk mengetahui banyaknya

lumpur dipermukaan (dalam tangki, baik tangki aktif maupun trip


9

tank), diukur dengan jenis sensor out put tegangan 0-5 volt dan

dimonitor di dalam kabin melalui monitor.

 Casing Pressure Sensor

Sensor Casing Pressure dipasang pada manifold tersedak melalui

puting 2 "atau baut pada flens yang kontak langsung dengan cairan

pengeboran yang beredar melalui tersedak dari anulus sumur.

Bacaan sensor dipantau dalam jarak dekat dari Baik untuk

mengendalikan tendangan. Sensor dihubungkan melalui

penghalang aman untuk keamanan intrinsik. Untuk mengetahui

tekanan pada casing, bila annular lubang bor ditutup, dideteksi

dengan sensor Tranducer jenis output 4 – 20mA, dimonitor

didalam kabin melalui monitor, recorder dan DPM. Data ini

digunakan terutama untuk menghitung Mud Weight kill well bila

terjadi gas kick/blow out.

 Mud Density Sensor

Sensor ini digunakan untuk memantau kerapatan cairan

pengeboran. Biasanya ada dua sensor, satu di shaker (untuk berat

lumpur keluar) dan satu lagi di pompa (untuk berat lumpur masuk)

Kerapatan cairan pengeboran digunakan untuk mendeteksi titik

terang pada fluida, yang mengindikasikan pemotongan gas dari

cairan atau intrusi air. Ini dihubungkan melalui penghalang aman

untuk keamanan intrinsik. Parameter yang diambil dari sensor ini

ialah Densitas Cairan Pengeboran. Sensor ini ada dua buah


10

terpasang di possumbelly untuk MW out dan di pit aktif untuk MW

in. Cara kerja sensor ini berdasarkan pengaruh lumpur terhadap

membrane yang terpasang disensor dan diproses kedalam bentuk

satuan arus listrik (mA). Adapun parameter yang dihasilkan yaitu

MW out dan in.

 Mud Temperature Sensor

Dua sensor konduktivitas digunakan untuk mengukur perbedaan

dan perubahan konduktivitas lumpur pemboran masuk ke dalam

sumur, dan konduktivitas lumpur pemboran kembali dari sumur.

Parameter yang diambil dari sensor ini adalah Resistivitas atau

konduktivitas cairan pengeboran. Perubahan ini biasanya

menunjukkan variasi komposisi fluida formasi, Misalnya, arus

masuk yang besar:

 Hook Load Sensor

Sensor dipasang di stand pipe pressure, prinsip kerjanya sama

dengan pressure tranducer yang mendapat tekanan saat

pemompaan melewati stand pipe. Parameter yang dihasilkan yaitu

stand pipe pressure (SSP). Parameter yang diambil dari sensor ini

adalah Hook load,Berat pada Bit.

 Torque Sensor

Rotary Torque adalah salah satu alat sensor yang digunakan untuk

mendeteksi tekanan pada torsi hidrolika yang berada di rig. Sensor

ini mempunyai cara kerja yaitu dengan meletakkan Sebuah


11

pemancar tekanan yang dipasang pada lantai bor yang digabungkan

untuk mengetuk-ngetuk di kepala di meja transmisi mekanik putar.

Tekanan fluida diubah menjadi sinyal analog, yang merupakan

umpan balik ke unit logging.

 Flow Sensor

Sensor ini diletakkan terbenam dalam aliran lumpur di flow line.

Sensor ini menggunakan prinsip kerja potensiometer yang

bertujuan untuk mengukur level fluida di flow line.

 Gas Chromatograph (FID)

Fungsi Gas Chromatograph untuk mengidentifikasi persen

komponen gas yang terbawa ke dalam sistem lumpur bor, sehingga

dapat diketahui persentasi gas Methane (C1), Gas Ethane (C2), Gas

Propane (C3), Gas Iso Butane (i-C4), dan Gas Normal Butane (n-

C4).

Hasil pengukuran ini dapat direkam pada Chromatografik .

Fungsi Gas Chromatograph untuk mengukur kuantitas dan kualitas

ekstrak gas yang terikut ke dalam sistem lumpur bor.

 Junction Box (J-Box)

Junction Box adalah terminal semua sensor yang dipakai. Kini J-

Box digunakan di tiga lokasi yaitu: rig floor, flow out, dan flow in.

yang nantinya akan di sampaikan ke output monitor di unit.


12

 . Mud Density Sensor

Mud Density Sensor adalah Sensor ini ada dua buah terpasang

di possum belly untuk MW out dan di pit aktif untuk MW in. cara

kerja sensor ini berdasarkan pengaruh lumpur terhadap membrane

yang terpasang disensor dan diproses kedalam bentuk satuan arus

listrik(mA). Adapun parameter yang dihasilkan yaitu: MW

out dan in.

 Stand pipe pressure Sensor

Sensor dipasang di stand pipe pressure, Prinsip kerjanya sama

dengan pressure Tranduceryang mendapat tekanan saat

pemompaan melewati stand pipe. Parameter yang dihasilkan

yaitu stand pipe pressure (SSP).

 Gas Trap

Degasser dipasang di possum belly. Prinsip kerjanya ini pada

dasarnya mengaduk lumpur dengan agitator agar gas dalam lumpur

keluar dan dihisap oleh vacuum pump untuk dianalisa oleh total gas

Analyserchomatograph maupun co2 detector.

 Mud Conductivity Sensor

Nilai konduktivitas listrik yang terkandung dalam lumpur yang

akan direkam dengan menggunakan mud conductivity sensor ini

dengan melihat tingkat kelistrikan yang ada


13

2.3 Monitor

 Drilling Monitor

Monitor yang digunakan untuk memonitoring atau mengawasi

proses selama drilling berlangsung

 Pressure Monitor

Monitor pengawasan untuk mendeteksi ataupun melihat berapa

besar tekanan yang ada

 Cementing Monitor

Memonitoring proses cementing berlangsung atau pun hasil

cementing

 Gain Loss monitor

Monitor yang di gunakan untuk pengawasan butiran butiran yang

terdapat pada sumur

2.4 Monitoring Mud Logging Unit Untuk Mengetahui Hole Problem

Masalah-masalah yang paling sering terjadi pada saat operasi

pemboran berlangsung. Sebagian besar materi ini diambil dari beberapa

artikel maupun literatur terbaru yang pada saat ini banyak digunakan dalam

industri perminyakan.

Masalah pemboran (hole problems) secara umum dapat

diklasifikasikan menjadi 3, yaitu : Pipa Terjepit (Pipe Stuck) Sloughing

Shale, dan Hilang sirkulasi (Lost Circulation).


14

2.4.1 Pipa Terjepit (Pipe Stuck)

Proses pemboran tidak selalu berjalan dengan lancar dan aman,

seringkali terjadi hambatan yang dapat mengakibatkan kerugian yang cukup

besar. Yang dimaksud dengan hambatan disini adalah hambatan yang

terjadi didalam lubang bor (downhole problem). Hambatan yang terjadi

diatas permukaan tanah dikategorikan sebagai problem mekanis.

Pipa terjepit adalah keadaan dimana sebagian dari pipa bor atau stang

bor (drill collar) terjepit (stuck) didalam lubang bor. Jika hal ini terjadi,

maka gerakan pipa akan terhambat dan pada gilirannya dapat mengganggu

kelancaran operasi pemboran.

Dalam prakteknya masalah pipa terjepit ini dapat diklasifikasikan

menjadi tiga kelompok, yaitu :

1. Differential pipe sticking.

2. Mechanical pipe sticking (jepitan mekanis).

3. Key seating.
15

1. Differential Pipe Sticking

Gambar 2.14 Skema Differential Pipe Sticking (Rubiandin


(Rubiandini, 2012)

Differential pipe sticking terjadi jika perbedaan antara tekanan

hidrostatik lumpur pemboran dan tekanan formasi menjadi sangat

besar, keadaan seperti ini terjadi apabila :

 Menembus formasi yang porous dan permeabel.

 Lumpur terlalu berat sehingga tekanan hidrostatis lumpur jauh

melebihi tekanan formasi.

 Lumpur yang kurang stabil (water


( loss tinggi, mud cake tebal).

a. Tanda-tanda
tanda Differential Pipe Sticking

Tanda terjadinya differential pipe sticking ini adalah tidak

mungkinnya pipe digerakkan ke atas maupun ke bawah sementara

sirkulasi masih dilakukan 100%, dimana hal ini diakibatkan karena

hanya satu sisi pipa yang menempel di dinding lubang bor. Pada

keadaan jepitan yang lengkap (hal ini terjadi le


lebih dari satu

mekanisme) sirkulasi maupun gerakkan pipa sudah tidak bisa lagi

dilakukan.
16

Besarnya gaya differential sangat sensitif untuk berubah

dalam hal besarnya perbedaan tekanan (Hs – Pf). Dalam operasi

pemboran yang normal diusahakan terdapat overbalance pressure

antara 100 – 200 psi (6,8 – 13,6 bar). Kenaikan overbalance

pressure yang tinggi dapat ditimbulkan oleh hal-hal sebagai berikut :

 Kenaikan tiba-tiba di berat lumpur pemboran akan meningkatkan

tekanan hidrostatik lumpur dan pada akhirnya akan meningkatkan

besarnya overbalance pressure.

 Pemboran yang melalui resevoir yang terdeplesi dan adanya

regresi tekanan.

Regresi tekanan terjadi apabila operasi pemboran pada saat

gradien tekanan menurun sementara tekanan lumpur pemboran tetap,

untuk menahan tekanan formasi pada formasi buatan yang berada

diatasnya.

b. Pencegahan Differential Sticking

Berdasarkan faktor-faktor yang menyebabkannya differential

sticking dapat dicegah yaitu dengan :

1. Mengurangi perbedaan tekanan.

2. Mengurangi daerah kontak.

3. Menjaga rangkaian bor agar tidak statis.

4. Mengurangi faktor gesekan.

Prosedur dan perhitungan dalam penyelesaian pipe stuck dengan


Differential Sticking rumus yang digunakan,yaitu :
17

Fstick = Acontact x (Pmud - Preservoir) x Cf ………………….(2.1)


Keterangan :
Fstick = Sticking Force
Acontact = Contact Area of stuck pipe
PMud – Preservoir = Differential pressure
Cf = Coefficient of Friction = 0.4 – 0.8
.8 for WBM & 0.15 – 0.20
for OBM

2. Mechanical Sticking

Gambar 2.15 Mechanical Sticking (Rubiandini, 2012)

Pipa terjepit secara mekanis ini dapat dibedakan menjadi dua,

yaitu pipa terjepit karena runtuhan dan pipa terjepit karena lubang

bor mengecil.

A. Pipa Terjepit Karena Runtuhan

Pipa terjepit jenis ini karena dinding lubang bor yang runtuh ((caving)

yang mengisi annulus antara pipa dan dinding lubang..


18

 Penyebab Dinding Lubang Runtuh

1. Formasi yang kurang kompak dan rapuh (pasir lepas, batu

bara, barrite shale).

2. Tekanan hidrostatik lumpur yang terlalu kecil.

3. Shale yang sensitif air.

Runtuhan dari dinding ini akan berkumpul di annulus dan

memegang rangkaian bor, sehingga mengakibatkan rangkaian bor

terjepit.

 Tanda Pipa Terjepit Karena Runtuhan

Tanda telah terjadi runtuhan saat melakukan pemboran adalah

sebagai berikut :

1. Cutting yang keluar bertambah banyak.

2. Cutting yang keluar besar-besaran dan bentuknya pipih.

3. Tekanan pompa lumpur naik.

4. Torsi naik.

Sebagai tanda telah terjadi pipa terjepit karena runtuhan dinding

lubang adalah sebagai berikut :

1. Rangkaian tidak bisa digerakkan, diputar dan diangkat.

2. Tekanan pompa naik secara mendadak

 Pencegahan Dinding Lubang Runtuh

Mencegah runtuhnya dinding lubang bor dapat dilakukan hal-hal

sebagai berikut
19

1. Naikkan tekanan hidrostatik lumpur, supaya dapat menahan

dinding lubang supaya jangan runtuh.

2. Kecepatan aliran di annulus diusahakan jangan terlalu tinggi.

3. Jenis aliran di annulus harus laminer.

4. Menggunakan lumpur dengan water loss yang kecil saat

menembus formasi shale.

5. WOB diperkecil diwaktu menembus batu bara, dan sering

dilakukan reaming.

B . Pipa Terjepit Karena Lubang Bor Mengecil

Pipa terjepit dapat disebabkan karena lubang bor mengecil. kejadian

ini biasanya terjadi pada formasi shale.

 Penyebab Penyempitan Lubang

Shale yang sensitif air adalah shale yang mempunyai mineral clay

jenis natrium monmorillonite. Mineral ini akan menghisap air tawar,

sehingga ikatan antar partikel menjadi lemah dan mengembang.

Karena tekanan overburden batuan yang terdapat diatasnya maka

lapisan shale akan bergerak ke arah lubang bor dan menyebabkan

terjadi sumbat cincin. Sumbat cincin adalah dinding lubang

memegang keliling pipa, sehingga pipa tidak dapat diangkat dan

diturunkan.

 Tanda-Tanda Penyempitan Lubang

Tanda pipa terjepit lubang bor adalah sebagai berikut :


20

1. Torsi naik, torsi naik karena terjadi gesekan dengan dinding

lubang.

2. Tekanan pompa naik, tekanan pompa naik disebabkan aliran

lumpur di annulus sudah tertutup.

3. Rangkaian tidak bisa diangkat, rangkaian mungkin bisa diangkat

untuk panjang tertentu, tetapi selanjutnya akan terjepit karena

tool joint drill pipe atau drill collar tersebut

 Pencegahan Penyempitan Lubang

Mencegah terjadinya penyempitan lubang adalah mencegah

mengembangnya formasi. Caranya yaitu sebagai berikut :

1. Menggunakan lumpur dengan water loss kecil, kalau bisa

menggunakan lumpur yang tidak memiliki water loss. Sehingga

tidak ada reaksi mineral clay dengan air dan supaya

mengembang.

2. Memakai lumpur calcium lignosulfonate atau lumpur polimer.

Prinsipnya disini adalah mengurangi aktifitas unsur natrium dari

clay.

3. Menggunakan lumpur minyak.

Prosedur dan perhitungan dalam menyelesaikan pipe stuck deengan


key seat rumus yang digunakan yaitu :

....................(1)

where Fl is the lateral force, T is the tension in the drillstring just above the
key-seat area, and ϴdl is the abrupt change in hole angle (commonly referred
to as dogleg angle).
21

C. Key Seating

Gambar 2.16 Key Seating (Rubiandini, 2012)

Pipa terjepit karena key seat terjadi pada saat mencabut

rangkaian. Tool joint drill pipe akan menyangkut pada lubang key

seat sehingga rangkaian tidak bisa dicabut.

 Penyebab Key
ey Seat

Pipa terjepit karena key seat disebabkan karena adanya dog leg.

Dog leg adalah lubang bor membelok secara mendadak atau

dengan kata lain terjadi perubahan sudut kemiringan lubang dan

sudut arah lubang secara mendadak. Drill pipe akan mengikis

lubangg yang bengkok secara mendadak tersebut, sehingga

terbentuk lubang yang penampangnya seperti lubang kunci ((key

seat).

Penyebab dog leg bisa diakibatkan karena WOB yang terlalu

tinggi, faktor formasi (perubahan kekerasan, kemiringan lubang

yang ditembus dan


da formasi bergoa-goa).
22

 Tanda-Tanda Key Seat

Sebagai tanda telah terjadi pipa terjepit karena adanya key seat

adalah sebagai berikut :

1. Rangkaian tidak bisa diangkat.

2. Tekanan pompa normal.

3. Rangkaian masih bisa diputar.

Selama pemboran drill pipe selalu dijaga dalam keadaan tension

(tarik) dan pada saat memasuki bagian dog leg drill pipe berusaha

untuk menjadi lurus, sehingga menimbulkan gaya lateral seperti

yang ditunjukkan pada gambar. Gaya lateral ini mengakibatkan

sambungan sambungan drill pipe (tool joint) menggerus formasi

yang berada pada busur dog leg, dan menimbulkan lubang baru

sebagai akibat diputarnya rangakaian pemboran. Lubang baru itu

disebut “Key Seat”.

 Pencegahan Key Seating

Apabila terjadi kenaikan torsi disaat sedang member, karena

gesekan-gesekan drill pipe ke dinding lubang, hentikanlah segera

pemboran. Angkat string dan pasang string remer atau key seat

wiper. Kemudian lakukan reaming pada kedalaman yang mengalami

dog leg.
23

String reameri atau seat wiper dipasang pada drill pipe.

Ukuran string reamer atau key seat wiper harus lebih besar dari tool

joint drill pipe dan lebih kecil dari diameter drill collar.

Kalau pipa sudah terjepit karena masalah key seat, rangkaian

diputar pelan-pelan dengan tension yang minimum. Hal ini dilakukan

terus menerus sampai rangkaian bisa dicabut.


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Dalam melaksanakan tugas akhir, mahasiswa diharapkan mampu

melakukan studi kasus, yaitu mengangkat suatu kasus yang dijumpai ditempat

tugas akhir menjadi suatu kajian sesuai dengan bidang keahlian yang ada,

ataupun melakukan pengamatan terhadap kerja suatu proses atau alat untuk

kemudian dikaji sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki.

Untuk mendukung tugas akhir dan kajian yang akan dilakukan, maka
dapat dilakukan beberapa metode pelaksanaan, antara lain :

3.1 Pengambilan Data

Dimana data yang di peroleh dari penelitian secara langsung tentang analisa

hole problem (stuck pipe) berdasarkan parameter mud logging unit.

Bedasarkan penelitian itulah penulis mendapatkan data - data yang akan

menjadi sumber data dalam pembuatan laporan.

Bahan – Bahan :

- Cutting

- Lumpur

3.2 Peralatan

1. Digital sensor
Digital sensor merupan suatu alat dalam mud logging unit

yang berguna untuk memonitoring kegiatan pemboran berbentuk

digital, beberapa digital sensor yaitu :

28
29

a) RPM Sensor

b) SPM Sensor

c) Depth dan ROP Sensor

2. Analog Sensor

Analog sensor merupakan salah satu jenis sensor yang ada pada

mud logging unit ,beberapa jenis sensor analog yaitu :

a) Pit Sensor

b) Casing Pressure Sensor

c) Mud Density Sensor

d) Mud Temperature Sensor

e) Mud Conductivity Sensor

f) Hook Load Sensor

g) Stand Pipe Pressure Sensor

h) Torque Sensor

i) Flow Out Sensor

j) Gas Trap,

k) Gas Chromatograph (FID)

l) Total Gas (FID)

3. Monitor

Drilling Monitor

Trip Monitor

Pressure Monitor
30

Gain Loss Monitor

3.3 Pengolahan Data dan Bahan

3.3.1 Perhitungan Pipe Stuck

1.Prosedur dan perhitungan dalam penyelesaian pipe stuck dengan


Differential Sticking rumus yang digunakan,yaitu :

Luas kontak pipa dengan mud cake adalah :


AC = R x L
Dimana :
AC : Luas kontak pipa dengan mud cake (inch2)
R : Lebar kontak pipa dengan mud cake (inch)
L : Panjang kontak pipa dengan mudcake (inch)
Tekanan differential yang menyebabkan differential sticking adalah :
P = Ph – Pf
Dimana :
P : Tekanan differential yang menyebabkan differential sticking (psi)
Ph : Tekanan hidrostatik lumpur (psi)
Pf : Tekanan Formal (psi)
Gaya yang dilakukan mudcake untuk menjepit pipa adalah :
Fs = P x Ac
Gaya yang diperlukan untuk melepaskan differential sticking adalah :
Fp = Fs x Cf
Dimana :
Fs : Gaya yang dilakukan mudcake untuk menjepit pipa (lb)
Fp : Gaya yang diperlukan untuk melepaskan diferential sticking (lb)
Cf : Koefisien gesekan
Gaya yang digunakan untuk melepaskan differential sticking adalah :
Fp : R x L x (Ph-Pf) x Cf
31

2. Tekanan hidrostatik yang di berikan oleh fluida di annulus

− 0,052
2=
0,052 ( 2 − )

Dimana :

Ph = Tekanan hidrostatik yang diberikan oleh fluida di annulus


(psi)

PF = Tekanan formasi (psi)

BJ2 = Berat jenis minyak (ppg)

X2 = Tinggi kolom minyak di annulus (ft)

Bjm = Berat jenis lumpur (ppg)

D = Kedalaman pipa terjepit (ft)

Tinggi kolom lumpur di annulus adalah :

Y2 = D – X2

Dimana :

Y2 : tinggi kolom lumpur di annulus (ft)

Tinggi kolom udara di dalam rangkaian dapat dihitung dengan


persamaan

− 0,052
=
0,052 ( − )

Dimana :

Hu : Tinggi udara dalam string (ft)

Tinggi kolom lumpur di dalam string adalah :

Hm = D-Hu

Volume minyak yang diperlukan untuk mendapatkan tinggi kolom


minyak (X2) adalah :

V = (Hcl x Ccl ) + (X2-Hcl) x Can


32

Dimana :

V : Volume minyak yang di perlukan untuk mendapatkan tinggi


kolom minyak (bbl)

Hcl : Tinggi choke line (ft)

Ccl : Kapasitas choke line ( )

X2 : Tinggi kolom minyak atau head dari kolom minyak (ft)

Hcl : Tinggi dari kill line (ft)

Can : Kapasitas annulus drill pipe dengan casing ( )

Volume udara dalam string adalah :

Vu = Hu x Cdp

Dimana :

Vu : Volume udara dalam string (bbl)

Hu : Tinggi udara dalam string (ft)

Cdp : Kapasitas dalam drill pipe ( )

Volume total minyak yang dipompakan adalah :

Vt = V + Vu

Tekanan formasi pada puncak permeable zone adalah :

Pft = Pf – H x Gf

Dimana :

Pht : Tekanan hidrostatik pada puncak permeable zone (psi)

Dt : Kedalaman dari pada puncak permeable zone (psi)

Tinggi kolom minyak di annulus sebelum terjadi aliran balik adalah

1= 2+
33

Tinggi kolom lumpur di annulus sebelum terjadi aliran balik :

Y1= D – X1

Tekanan pada choke sebelum tekanan pada choke di buang :

Ph = 0,052 x D x BJm

Tekanan di dasar lubang akibar fluida yang ada di dalam annulus

Ph = Pchoke + 0,052 x BJ2 x X1 + 0,052 x BJm x Y1 (2-17)

3.4 Analisis Hasil

 Menganalisa Data – Data mud logging

 Menganalisa Well Profile

 Pembacaan Parameter drilling

 Analisa cutting Pemboran


34

4.3 FLOW CHART

Study Literature

Data Sumur : Data Lumpur : Data Pemboran:


Tekanan, Suhu, Volume, Densitas, Drilling Paramater,
Struktur Lapisan Viskositas, Rheology, Sensor, Monitoring,
Formasi Filtrasi, Mud Cake, Sand Cutting
Content

Analisa Parameter Pemboran

untuk Mengidentifikasi Stuck

Berdasarkan MLU Teoritis Berdasarkan MLU Operasional

Analisa Perubahan Drilling Perbandingan Drilling Paramater

Paramater Ketika Terjadi Stuck sebelum terjadi Stuck dengan

sesudah Stuck

Hasil
1. Mengetahui kedalaman
titik terjepit
2. Menentukan jenis stuck
pipe berdasarkan
parameter MLU

Gambar 3.1 Diagram alir


RENCANA KEGIATAN

Rencana kegiatan untuk pelaksanaan kegiatan tugas akhir dijelaskan dalam


tabel berikut :
Berikut rincian kegiatan selama Tugas Akhir di laksanakan :

Pengenalan lingkungan Tugas Akhir dan mendalami teori


Minggu Pertama tentang Mud Logging Unit terutama yang berkaitan dengan Hole
Problem (Stuck Pipe)

Pengenalan alat atau parameter yang dibutuhkan untuk


Minggu Kedua operasi Mud Logging Unit dan prinsip kerjanya serta mengumpulkan
data-data yang berkaitan dengan operasinya.

Menganalisa permasalahan yang terjadi dilapangan dengan


Minggu Ketiga melihat data-data yang ada untuk dapat dijadikan sebagai
bahan laporan tugas akhir.

Membahas ulang mengenai permasalahan-permasalahan pada


minggu-minggu sebelumnya sehingga dapat menyatukan
Minggu Keempat permasalahan tersebut dan mendapatkan kesimpulan
mengenai tugas akhir ini. Kemudian mempersiapkan untuk
pembuatan laporan tugas akhir.

35
DAFTAR PUSTAKA

Rubiandini, Rudi. 2012. Teknik Operasi Pemboran. Bandung : Institut

Teknologi Bandung

Pixler, B.O. 1961. Mud Analysis Logging. Houston : Society of Petroleum

Engineers AIME

Santos, Helio. 2000. Differential Stuck Pipe: Early Diagnostic And

Solution. Lousiana : Petrobras