Anda di halaman 1dari 9

 Search

PKMTREA
The greatest WordPress.com site in all the land!

MATERI
PENYULUHAN
PENYAKIT
DIFTERI
JULY 21, 2013ANNEKEKHONGLEAVE A COMMENT
12.00

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE
MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

 Pengertian Difteri

Difteri adalah infeksi bakteri yang bersumber dari Corynebacterium diphtheriae, yang

biasanya mempengaruhi selaput lendir dan tenggorokan. Difteri umumnya menyebabkan

sakit tenggorokan, demam, kelenjar tonsil (amandel) bengkak, dan lemas. Dalam tahap lanjut,
difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal dan sistem saraf. Kondisi seperti itu

pada akhirnya bisa berakibat sangat fatal dan berujung pada kematian. karena bakteri

mengeluarkan racun yang mengganggu fungsi organ-organ yang mengalami kerusakan

tersebut. manusia yang kurang memilki sistem kekebalan tubuh terutama yang tidak

mendapatkan suntikan imunisasi lengkap saat masih kecil atau kanak-kanak mudah terserang

bakteri ini.

 Tanda dan gejala

Tanda dan gejala difteri meliputi, sakit tenggorokan dan suara serak, nyeri saat menelan,

pembengkakan kelenjar (kelenjar getah bening membesar) di leher, dan terbentuknya sebuah

membran tebal abu-abu menutupi tenggorokan dan amandel, sulit bernapas atau napas cepat,

demam, dan menggigil.

Tanda dan gejala biasanya mulai muncul 2-5 hari setelah seseorang menjadi terinfeksi. Orang

yang terinfeksi C. Diphtheria seringkali tidak merasakan sesuatu atau tidak ada tanda-tanda

dan gejala sama sekali.

Orang yang terinfeksi namun tidak menyadarinya dikenal sebagai carier (pembawa) difteri.

Sumber penularan penyakit difteri ini adalah manusia, baik sebagai penderita maupun sebagai

carier.
Tipe kedua dari difteri dapat mempengaruhi kulit, menyebabkan nyeri kemerahan, dan bengkak

yang khas terkait dengan infeksi bakteri kulit lainnya. Sementara itu pada kasus yang jarang,

infeksi difteri juga mempengaruhi mata.

 Cara Penularan

Bakteri C.diphtheriae dapat menyebar melalui tiga rute:

* Bersin: Ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk, mereka akan melepaskan uap air yang

terkontaminasi dan memungkinkan orang di sekitarnya terpapar bakteri tersebut.

* Kontaminasi barang pribadi: Penularan difteri bisa berasal dari barang-barang pribadi seperti

gelas yang belum dicuci.

* Barang rumah tangga: Dalam kasus yang jarang, difteri menyebar melalui barang-barang

rumah tangga yang biasanya dipakai secara bersamaan, seperti handuk atau mainan.

Selain itu, Anda juga dapat terkontaminasi bakteri berbahaya tersebut apabila menyentuh luka

orang yang sudah terinfeksi. Orang yang telah terinfeksi bakteri difteri dan belum diobati dapat

menginfeksi orang nonimmunized selama enam minggu – bahkan jika mereka tidak

menunjukkan gejala apapun.

 Faktor risiko

Orang-orang yang berada pada risiko tertular difteri meliputi:

 Anak-anak dan orang dewasa yang tidak mendapatkan imunisasi terbaru

 Orang yang hidup dalam kondisi tempat tingal penuh sesak atau tidak sehat

 Orang yang memiliki gangguan sistem kekebalan.


 Siapapun yang bepergian ke tempat atau daerah endemik difteri

Difteri jarang terjadi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa, karena telah

mewajibkan imunisasi pada anak-anak selama beberapa dekade. Namun, difteri masih sering

ditemukan pada negara-negara berkembang di mana tingkat imunisasinya masih rendah seperti

halnya yang saat ini terjadi di Jawa timur.

 Komplikasi

Jika tidak diobati, difteri dapat menyebabkan:

* Gangguan pernapasan

C. Diphtheriae dapat menghasilkan racun yang menginfeksi jaringan di daerah hidung dan

tenggorokan. Infeksi tersebut menghasilkan membaran putih keabu-abuan (psedomembrane)

terdiri dari membran sel-sel mati, bakteri dan zat lainnya. Membran ini dapat menghambat

pernapasan.

* Kerusakan jantung

Toksin (racun) difteri dapat menyebar melalui aliran darah dan merusak jaringan lain dalam

tubuh Anda, seperti otot jantung, sehingga menyebabkan komplikasi seperti radang pada otot

jantung (miokarditis). Kerusakan jantung akibat miokarditis muncul sebagai kelainan ringan

pada elektrokardiogram yang menyebabkan gagal jantung kongestif dan kematian mendadak.

* Kerusakan saraf

Toksin juga dapat menyebabkan kerusakan saraf khususnya pada tenggorokan, di mana

konduksi saraf yang buruk dapat menyebabkan kesulitan menelan. Bahkan saraf pada lengan
dan kaki juga bisa meradang yang menyebabkan otot menjadi lemah. Jika racun ini merusak

otot-otot kontrol yang digunakan untuk bernapas, maka otot-otot ini dapat menjadi lumpuh.

Kalau sudah seperti itu, maka diperlukan alat bantu napas.

Dengan pengobatan, kebanyakan orang dengan difteri dapat bertahan dari komplikasi ini,

namun pemulihannya akan berjalan lama.

 Penanganan

Difteri adalah penyakit yang serius. Para ahli di Mayo Clinic, memaparkan, ada

beberapa upaya pengobatan yang dapat dilakukan diantaranya:

* Pemberian antitoksin: Setelah dokter memastikan diagnosa awal difteri, anak yang terinfeksi

atau orang dewasa harus menerima suatu antitoksin. Antitoksin itu disuntikkan ke pembuluh

darah atau otot untuk menetralkan toksin difteri yang sudah terkontaminasi dalam tubuh.

Sebelum memberikan antitoksin, dokter mungkin melakukan tes alergi kulit untuk memastikan

bahwa orang yang terinfeksi tidak memiliki alergi terhadap antitoksin. Dokter awalnya akan

memberikan dosis kecil dari antitoksin dan kemudian secara bertahap meningkatkan dosisnya.

* Antibiotik: Difteri juga dapat diobati dengan antibiotik, seperti penisilin atau eritromisin.

Antibiotik membantu membunuh bakteri di dalam tubuh dan membersihkan infeksi. Anak-

anak dan orang dewasa yang telah terinfeksi difteri dianjurkan untuk menjalani perawatan di

rumah sakit untuk perawatan.

Mereka mungkin akan diisolasi di unit perawatan intensif karena difteri dapat menyebar

dengan mudah ke orang sekitar terutama yang tidak mendapatkan imunisasi penyakit ini.
 Pencegahan

Jika Anda telah terpapar orang yang terinfeksi difteri, segeralah pergi ke dokter untuk

mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan. Dokter mungkin akan memberi Anda resep

antibiotik untuk mencegah infeksi penyakit itu.

Di samping juga pemberian vaksin difteri dengan dosis yang lebih banyak. Pemberian

antibiotik juga diperlukan bagi mereka yang diketahui sebagai carrier (pembawa) difteri.

Difteri adalah penyakit yang umum pada anak-anak. Penyakit ini tidak hanya dapat diobati

tetapi juga dapat dicegah dengan vaksin. Vaksin difteri biasanya dikombinasikan dengan

vaksin untuk tetanus dan pertusis, yang dikenal sebagai vaksin difteri, tetanus dan pertusis

(DTP).Versi terbaru dari vaksin ini dikenal sebagai vaksin DTP untuk anak-anak dan vaksin

Tdap untuk remaja dan dewasa. Pemberian vaksinasi sudah dapat dilakukan saat masih bayi

dengan lima tahapan yakni, 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 12-18 bulan dan 4-6 tahun.

Vaksin difteri sangat efektif untuk mencegah difteri. Tapi pada beberapa anak mungkin akan

mengalami efek samping seperti demam, rewel, mengantuk atau nyeri pasca pemberian vaksin.

Pemberian vaksin DTP pada anak jarang menyebabkan komplikasi serius, seperti reaksi alergi

(gatal-gatal atau ruam berkembang hanya dalam beberapa menit pasca injeksi), kejang atau

shock. Untuk beberapa anak dengan gangguan otak progresif – tidak dapat menerima vaksin

DTP.

Imunisasi DPT adalah upaya untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit Diferi,

Pertusis, Tetanus dengan cara memasukkan kuman difteri, pertusis, tetanus yang telah
dilemahkan dan dimatikan kedalam tubuh sehingga tubuh dapat menghasilkan zat anti yang

pada saatnya nanti digunakan tubuh untuk melawan kuman atau bibit ketiga penyakit tersebut.

 Manfaat Imunisasi DPT Dasar

Salah satu upaya agar anak-anak jangan sampai menderita suatu penyakit adalah dengan

jalan memberikan imunisasi. Dengan imunisasi ini tubuh akan membuat zat anti dalam jumlah

banyak, sehingga anak tersebut kebal terhadap penyakit. Jadi tujuan imunisasi DPT adalah

membuat anak kebal terhadap penyakit Difteri, Pertusis, Tetanus.

Selain itu manfaat pemberian imunisasi DPT adalah :

a. Untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteri,

pertusis (batuk rejan), tetanus.

b. Apabila terjadi penyakit tersebut, akan jauh lebih ringan dibanding terkena penyakit secara

alami.

b. Evaluasi :

 Evaluasi Struktur : Diharapkan penyuluhan berjalan sesuai dengan struktur yang telah dibuat.

 Evaluasi proses : Diharapkan peserta sasaran mengikuti sampai kegiatan selesai

dilaksanakan.

 Evaluasi Hasil : Diharapkan sasaran mengerti tentang penanganan dan pencegahan difteri

Report this ad

Report this ad
SHARE THIS:

 Twitter
 Facebook
 Google

Related
MATERI PENYULUHAN RABIES
MATERI PENYULUHAN FLU BURUNG
MATERI PENYULUHAN DEMAM BERDARAH DENGUE

Standard
Post navigation
→ MATERI PENYULUHAN POLIO

← MATERI PENYULUHAN HEPATITIS

Leave a Reply

Create a free website or blog at WordPress.com.


 Follow

Anda mungkin juga menyukai